romantis

My Handsome Devil – Chapter 1 (Awal Mula)

My Handsome Devil

Haiii sebelumnya aku mau kasih pencerahan. iya, sebenernya ini adalah cerita lamaku yang hanya terdiri dari 3 Chapter. tapiii karena saat itu banyak sekali yang mengeluh karena ceritanya bagus dan kurang panjang, makanya sekarang aku sudah merombak ulang ceritanya menjadi cerita panjang berchapter seperti biasanya. jadi, ceritanya pasti akan sangat berbeda dengan cerita sebelumnya, akan ada banyak konflik dan adegan tambahan yang pastinya membuat kalian geram + jengkel2 gimana gitu sama si iblis Justi, jadi…… simak terus kelanjutan ceritanya, okey.. hehheheheh

Chapter 1

-Awal mula-

 

Caroline-

Memiliki seorang suami tampan pastinya menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang wanita biasa sepertiku, Ya… Aku sangat bangga memiliki suami yang sangat tampan seperti Justin Andreas. Wajahnya terlihat tegas dengan garis kokoh seorang lelaki sejati, aku sangat bangga memiliki suami yang bagaikan malaikat tersebut. tapi tak ada yang tahu jika dia seperti iblis. Iblis bertubuh malaikat.

Aku Caroline Jhonson, tiga bulan yang lalu aku masih menjadi wanita biasa dengan seragam putih bersih dan berjalan di lorong-lorong rumah sakit. Ya, aku hanya seorang perawat. Tapi semuanya berubah ketika aku bertemu dengannya. Justin Andreas.

Tiba-tiba dia datang ke rumah, melamar, dan seminggu kemudian menikahiku. Tentu saja semua ini terasa sangat membingungkan untukku. Justin bukanlah lelaki biasa seperti Evan, kekasihku. Justin, tentu saja, melebihinya, dia lelaki kaya dengan ketampanan di atas rata-rata. Saat itu aku berpikir, kenapa dia mencariku dan menikahiku begitu saja? Jawabannya ada pada kalung yang sedang kukenakan saat ini.

Kalung berbentuk separuh hati, yang separuhnya lagi ada pada Justin. Bagaimana bisa? aku juga tidak tahu dan tak mengerti bagaimana persisnya. Ibu hanya bercerita padaku jika dulu saat masih bayi, aku dan Justin sudah dijodohkan. Kami dulu memang tinggal di Kanada, lalu saat aku berusia tujuh tahun, Ayah mengajakku dan Ibu pindah ke New York, karena Ayah memang dipindahtugaskan ke kota ini, dan kami tinggal disini hingga saat ini.

Datangnya Justin tiga bulan yang lalu, membuat orang tuaku mengingat janji-janji mereka saat aku masih bayi dulu. Janji akan menikahkan aku dengan salah seorang keluarga Andreas yang tak lain adalah Justin Andreas, Si iblis tampan bertubuh malaikat.

Kenapa aku menjulukinya seperti itu? Sungguh, Justin memang seperti  seorang iblis, iblis berwajah tampan. Dia dikenal sebagai pengusaha muda berdarah dingin. Siapapun yang menentangnya akan digilas begitu saja. Memiliki banyak kekasih, dan bahkan dia tak segan-segan mengajak kekasihnya tersebut menginap di rumah kami. Sikapnya kasar, sering meledak-ledak, pemaksa, dan juga pemarah.

Tapi aku menyukainya…

Suka? Astaga… Ya, aku suka. Entah sejak kapan, aku sendiri tak tahu. Justin mempengaruhiku. Mungkin sejak malam itu… Malam dimana aku menjadi istri sesungguhnya untuknya….

Beberapa minggu yang lalu…

Aku mendengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Mungkin sebuah ketukan kurang sesuai, itu lebih mirip dengan sebuah gedoran. Ku lirik jam di nakas yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Siapa yang menggedor pintu kamarku seperti itu? Apa itu Justin? Ahhh… Mana mungkin dia ke kamarku, bukankah dia memiliki kamar sendiri?

Walau kami sudah menikah, tetapi tentu saja kami tak tidur sekamar. Dia memilih tidur di kamar tidur pribadinya yang ekstra besar itu, daripada harus tidur denganku. Sambil sesekali menguap, aku membuka pintu kamarku, dan sontak aku terkejut saat bibir itu mendarat mulus di bibirku.

Dia menciumku….

Astaga… sangat panas. Ciuman yang aku sendiri tak tahu kenapa bisa begitu mempengaruhiku. Dia mendorongku, lalu merangkul pinggangku, dan menendang pintu di belakangnya hingga tertutup rapat.

Ciumannya semakin intens, dia mengajak lidahku menari dengan lidahnya, membuat perutku seakan dihinggapi ribuan kupu-kupu. Ada apa dengan lelaki ini? Ada apa denganku?

Justin melepaskan pagutannya dan menatapku dengan mata berkabutnya. Dia mabuk. Aku tahu itu. Aku mendorongnya menjauh tapi dia kembali lagi ke sisiku, memelukku erat.

“Aku ingin menyatu denganmu, Care…” ucapnya sensual tepat di telingaku, membuat bulu kudukku meremang.

Lalu kurasakan bibir basahnya menyentuh permukaan leherku, menghisapnya di sana. di sekitarnya, lalu turun ke pundakku. Please… Jika aku harus melakukan ini, kumohon jangan pada saat dia mabuk seperti ini. Aku memohon dalam hati.

“Just. Kau mabuk.”

“Aku tak peduli, Care. Aku menginginkanmu.”

Lalu Justin mendorongku hingga telentang di atas ranjang. Menindihku dan kembali mencumbuku.

Ya Tuhan… Sampai kapan siksaan ini berakhir?

Justin mulai membuka satu per satu kancing piyama yang kukenakan. Matanya berkilau saat melihat gundukan di dadaku. Aku malu, sungguh sangat malu. Ini pertama kalinya aku melakukan hal ini di depan lelaki, tubuhku terekspos tepat di hadapan seorang lelaki. Aku memalingkan wajahku ke samping, tapi kemudian Justin meraih wajahku, seakan menyuruhku untuk menatap mata indahnya.

“Kau, malu Care?”

Aku tak menjawab. Tentu saja aku sangat malu. Ini adalah hal yang paling intim yang pernah kulakukan dengan seorang lelaki.  

“Jangan malu dan jangan takut. Setelah ini aku akan mengajarimu untuk menyentuhku.” Lalu Justin mendaratkan bibir basahnya tepat di ujung payudaraku, memainkannya, membuatku merintih nikmat. Astaga, kenapa seperti ini? Atau apa memang seperti ini rasanya?

Justin masih saja memainkannya secara bergantian. Ya Tuhan. rasanya benar-benar aneh, aku seperti terbang melayang, aku bahkan berani mengacak-acak rambut cokelat milik Justin. Ini terasa nikmat, dan menyenangkan

Cumbuan Justin kini bergeser menuruni puncak payudaraku, aku bahkan merasakan tangannya mulai menurunkan celana piyama yang kukenakan.

“A- Apa yang kau lakukan Just?”

“Ssshh… Aku akan membuat ini indah untuk kita.”

Lalu tak ada yang dapat kulakukan lagi selain merintih nikmat saat jari-jemari itu mulai memainkan pusatku. Astaga, lelaki ini begitu ahli. Pantas saja jika ia memiliki banyak kekasih, ternyata cara dia bercinta sepanas ini..

“Just. Kumohon hentikan, aku, aku…”

Aku sedikit melihat justin sedikit menyeringai. “Belum sayang, ini belum seberapa.” Lalu dia mendaratkan bibirnya pada pusatku dan lagi-lagi bermain-main di sana. Astaga… Aku tak dapat berkata-kata lagi. Dia begitu ahli bagaikan seorang dewa Seks. Saat aku hampir menjerit karena pelepasan, tiba-tiba Justin menghentikan aksinya, ia menatapku dan tersenyum. Aku sedikit mengerang sebagai bentuk protes karena dia menghentikan aksinya yang membuatku nikmat.

“Belum saatnya, Sayang, gunakan aku untuk mencapai puncak itu.”

Lalu aku melihatnya berdiri, membuka seluruh pakaian yang ia kenakan termasuk celananya. Tubuhnya terlihat kokoh dan penuh dengan tato-tato yang aku sendiri tak mengerti apa artinya. Dia terlihat sangat gagah, tampan dan tentunya… Panas. Dan  dia suamiku. Astaga, aku masih tak dapat mempercayainya.

Dia kembali menindihku, lalu memposisikan dirinya di antara kedua pahaku. Astaga… Aku terkesiap saat dia mulai menyentuhkan kejantanannya pada pusatku. Mendesak masuk.  Yang kurasakan saat ini adalah sakit dan sedikit perih. Aku memejamkan mataku, bahkan menggigit bibirku.

“Kau siap Care?” tanyanya dengan napas terengah. Dan aku hanya dapat menganggukkan kepala lemah. Justin menghentak keras masuk ke dalam hingga kami menyatu seutuhnya. Yang kurasakan saat ini adalah perih, seperti di robek oleh sesuatu, dan aku menangis.

Justin mengarahkan wajahku hingga kami saling menatap. “Maafkan aku, Care…” Lalu dia mulai melumat bibirku, menari-nari lagi dengan lidahku, membuatku kembali terengah, merasakan kenikmatan yang tadi sempat hilang karena rasa sakit yang melandaku.

Dia mulai menggerakkan dirinya, tak menghentikan cumbuannya pada tubuhku. Justin benar-benar menjadi sosok yang berbeda dari biasanya. Apa yang membuatnya seperti ini?

“Aaahhh…” Aku mengerang. Sungguh, Justin kembali membuatku gila. Dia juga mengerang, sesekali meracau tak jelas.

“Kau, sungguh menakjubkan.” racaunya masih dengan mencumbuku.

“Sial! Aku akan sampai, Care.” lalu dia mempercepat lajunya. Membuatku semakin terengah, napasku semakin pendek, dan aku tak dapat merasakan apa-apa lagi ketika kepalaku mulai berputar, mataku berkabut, dan semua otot-ototku menegang karena kenikmatan dahsyat yang kurasakan dari Justin. Tak lama kemudian aku merasakan ia mengerang panjang, menandai jika ia juga mencapai pelepasanya.

Justin kembali menciumku lembut. Sesekali berkata “Thanks Care.” dan aku tak tahu apa yang dikatakannya lagi ketika rasa kantuk mulai melandaku.

***

Aku mendengar pintu depan terbuka dengan keras. Siapa lagi jika bukan lelaki itu, Sang iblis penghuni rumah ini. Aku sedikit mendengar Justin berteriak marah kepada pegawainya. Apa yang terjadi? Tapi sudahlah… Bukankah setiap hari Justin memang selalu berteriak seperti itu? Aku sudah tidak heran lagi, dia memang pemarah dan suka meledak-ledak.

Aku melanjutkan kegiatan memasak dengan para pelayannya. Ya, aku memang suka memasak, di sela-sela pekerjaanku sebagai seorang perawat, saat di rumah aku selalu menyempatkan diri untuk memasak dengan ibuku.

‘Ehhheemmm’

Aku mendengar suara berdehem tepat di belakangku. Membalikkan tubuhku dan sangat terkejut saat tubuh tegap itu tepat berdiri di belakangku. Tubuh Justin.

“Ada apa?” tanyaku sedikit gugup. Sejak malam itu kami memang tak pernah berbicara lagi, kecuali jika ada hal yang penting untuk dibahas. Hubungan kami masih sama datarnya seperti sebelumnya, tetapi tentu saja Justin selalu mempengaruhiku. Bayangan akan kelembutan yang dia berikan malam itu seakan selalu menari-nari di dalam kepalaku.

“Kita makan malam di luar.” ucapnya datar.

“Aku sudah masak, Just.”

“Aku ada janji dengan teman, dan aku ingin kau menemaniku.”

“Tapi aku…”

“Ahhhh lupakan! Aku akan keluar dengan kekasihku yang lain saja.” ucapnya dingin lalu meninggalkanku. Ya, seperti itulah Justin, dia selalu bersikap dingin dan menyebalkan ketika kemauannya tidak di turuti. Dan aku menyesal karena tak menuruti kemauannya.

***

Aku berakhir dengan makan malam sendirian. Ya, Justin pergi tanpa aku. Mungkin dia tersinggung karena aku sempat menolak ajakannya. Dan aku benar-benar menyesal karenanya.

Aku belum sempat menghabiskan makan malamku saat kepala pelayan datang menghampiriku. Dia Maria, sosok yang kupikir cukup di hormati Justin.

Ya, Justin besar di bawah asuhannya, hingga kini, lelaki itu tampak menghormati Maria meski status Maria hanya sebagai kepala pelayan di rumah ini.

“Dia pergi?” tanya Maria. Wanita paruh baya itu tampak cantik di usianya yang sudah tak lagi muda. Maria tampak rapi dengaan baju sergam putih hitam seperti biasanya.

Aku mengangguk lemah. “Seperti biasa.” Hanya itu jawabanku.

“Dia tampak kacau, apa terjadi sesuatu dengan hubungan kalian?” tanyanya lagi.

Ya, meski hanya sebagai kepala pelayan, Maria sudah seperti orang tua kami. Tak jarang Maria terang-terangan membelaku saat Justi keterlaluan membentakku di depan bawahannya. Sedangkan aku sendiri, aku sudah cukup terbiasa dengan perlakuan iblis itu.

“Tidak.” Aku menggeleng pelan.

“Care, kau harus tetap bertahan dengannya. Justin adalah pria yang baik, dia hanya belum tahu apa yang terbaik untuknya.”

Tentu saja aku akan bertahan. Aku bukan tipe orang yang suka membangkang. Apapun yang di katakan orang tuaku akan kulaksanakan. Baklan ketika aku di minta menikahi pria asing hanya karena sebuah janji yang terikat dalam kalung yang kini masih kukenakan.

Aku mengangguk lembut. “Ya, aku tak punya pilihan lain.”

Maria menepuk lembut bahuku. “Suatu saat, dia akan sadar jika selama ini ada berlian yang tersembunyi di hadapannya.”

Aku melirik ke arah Maria. “Apa maksudmu?”

Matia tersenyum lembut. “Aku mengenal Justin. Aku tahu semua tentangnya karena selama ini dia hidup bersamaku. Aku tahu mana saja orang yang pernah dekat dengannya, dan kupikir, hanya kau, satu-satunya orang yang tak akan pernah memanfaatkan dirinya.”

“Memanfaatkan?” tanyaku bingung.

Bukannya menjawab, Maria malah berjalan menjauh. “Lanjutkan makan malammu. Aku akan kembali memeriksa yang lainnnya.” Lalu dia pergi menghilang di balik dinding penyekat ruang makan. Apa maksudnya?

***

Setelah makan malam dalam kesendirian, aku kembali masuk ke dalam kamar. Mengganti pakaianku dengan piyama tidur. Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang, kemudian jemariku meraih sebuah kalung yang masih kukenakan. Kalung yang menuntunku pada Justin.

Bayangan beberapa bulan yang lalu menyeruak dalam ingatanku. Bayangan saat pertama kali aku bertemu dengan Justin. Saat itu….

“Jadi, kau Caroline Jhonson?” pria itu bertanya padaku dengan nada lembutnya. Pria tampan yang katanya adalah calon suamiku. Oh, aku masih tidak percaya jika aku akan memiliki calon suami seperti Justin.

“Ya.” Aku menjawab singkat. Wajahku masih menunduk, karena jujur saja, aku tidak berani menatap ke arah Justin. Dia benar-benar mempengaruhiku.

“Kau, tampak kuraang nyaman denganku.”

Oh ya, tentu saja. Saat ini ibu dan ayah seakan sengaja meninggalkanku hanya berdua dengan Justin di ruang tamu. Dan aku benar-benar masih terkejut dengan perkataan Ayah tadi, jika pria yang saat ini duduk di seberang meja adalah calon suamiku.

Oh, jika saja Justin tidak tampak menakjubkan seperti ini, mungkin reaksiku tak akan berlebihan seperti sekarang ini. Belum lagi sikapnya yang sangat lembut padaku, membuatku luluh seketika seakan menerima begitu saja perjodohan konyol ini tanpa pikir panjang lagi.

“Uum, aku, aku hanya belum mengenalmu, dan aku cukup terkejut dengan kabar tadi.”

“Well, saat aku tahu jika aku sudah di jodohkan, aku juga cukup terkejut, tapi aku mencoba memahami keinginan orang tuaku. Dan kini, aku tahu apa maksudnya.”

Aku mengangkat wajah ke arah Justin. “Maksudmu?” tanyaku dengan sedikit bingung dengan pernyataannya.

Justin bangkit dari tempat duduknya, kemudian duduk tepat di sebelahku. Ia mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipiku. Aku merasakan sengatan listrik saat jemarinya yang kuat itu mengusap pipiku dengan begitu lembut. Jantungku berdebar tak keruan. Oh, apa ini?

“Aku tahu jika mereka menyiapkan seseorang yang begitu menakjubkan untukku.”

Pujian Justin membuat pipiku merah padam. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhku. Justin bagaikan paket lengkap  yang di inginkan banyak wanita untuk menjadi kekasihnya. Dia tampan, mapan, lemah lembut, gagah, dan panas. Astaga, apa yang sudah kupikirkan? Bagaimana mungkin aku jatuh pada seorang lelaki saat pertama kali kami bertemu?

“Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan, Just.”

“Aku senang kau memanggilku dengan panggilan itu, Care.” Justin kembali menampakkan senyuamannya. Senyuman miring yang entah kenapa membuatku menyalakan alarm antisipasi. Ya, ada yang aneh dengan senyumannya, seperti ia tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi, lebih dari itu, aku tak peduli. Nyatanya dia benar-benar membuatku terpesona hingga nyaris membuatku lupa jika aku saat itu sebenarnya sudah tidak sendiri lagi.

Aku kembali duduk saat bayang pertama aku berkomunikasi secara langsung dengan Justin menyeruak dalam benakku.

Ya, saat itu Justin tampak sangat berbeda dengan saat ini. Dia lembut, seakan memang sengaja bersikap seperti itu agar aku mau menikah dengannya, tapi setelah kami menikah, semuanya berubah seratus delapanpuluh derajat.

Aku menghela napas panjang, mencoba melupakan tentang Justin, aku memilih meraih ponselku dan menghubungi Andrew, kekasihku.

Ya, aku masih memiliki kekasih. Namanya Andrew Hunt.  Dia kekasihku sejak sebelum aku mengenal Justin, dan kami masih berhubungan meski aku sudah menjadi istri Justin. Awalnya aku ingin memutuskan hubungan kami, tapi kemudian, sikap Justin yang secara terang-terangan kasar padaku membuatku sadar, jika pernikahanku dengan Justin tidak lebih dari pernikahan di atas kertas. Aku tidak tahu apa yang dicari Justin saat menikah denganku, yang kutahu, bahwa pernikahan ini tidak akan berlangsung lama. Hingga kemudian, aku memutuskan untuk tetap mempertahankan hubunganku bersama dengan Andrew.

Andrew sendiri mengerti apa yang kumaksud, dia mengerti apa yang kuinginkan. Dia tahu jika aku mencintainya, tapi dia tidak tahu jika perasaan ini sudah mulai berubah.

Ya, semuanya terusik karena kehadiran Justin. Kejadian malam itu membuatku semakin jauh dengan Andrew. Meski aku tahu jika Andrew tidak tahu apa yang terjadi antara aku dan Justin malam itu, tapi hatiku tidak bisa di pungkiri, jika sedikit demi sedikit aku mulai menghindari Andrew.

Aku menggelengkan kepala seketika, saat sadar jika aku kembali melamunkan Justin. Secepat kilat kutekan nomor ponsel Andrew, berharap jika dia segera mengangkat teleponku. Dan ya, teleponku di angkat pada deringan kedua oleh dia.

“Care, ada apa?”

“Hei.” Sapaku. “Aku hanya ingin menyapamu saja. Apa kau sudah tidur.”

“Tidak, tentu aku belum tidur. Kau ada masalah?” tanyanya lembut penuh perhatian. Sangat berbeda sekali dengan Justin yang suka marah-marah tak jelas.

Aku berpikir sebentar. Sebenarnya aku memiliki sedikit masalah. Besok adalah waktuku untuk ke New Jersey, ke rumah Elena, sepupuku yang akan menikah akhir minggu ini. Aku ingi sekali mengajak Justin kesana. Tentu saja aku tidak mungkin kesana sendiri. Tapi, mengingat sikap Justin padaku, aku mulai sangsi, dan berubah ingin mengajak Andrew untuk menemaniku ke rumah Elena.

Astaga, apa yang harus kulakukan?

“Ah tidak. Aku tidak memiliki masalah apapun.” Akhirnya aku memilih diam.

Ya, mungkin nanti malam aku akan mencoba mengajak Justin. Siapa tahu dia mau menemaniku. Tidak ada salahnya mencoba, bukan?

“Baiklah, jika ada masalah, hubungi saja aku, aku akan sip membantumu.”

“Ya, terimakasih, Andrew.”

“Sudah malam, kau, tidak tidur?”

“Ah ya, baiklah, aku tidur dulu.”

“Well, selamat malam, dan semoga mimpi indah.”

“Ya, kau juga.” Setelah itu panggilan terputus. Aku menghela napas panjang. Rasanya sealalu aneh saat aku menghubungi Andrew. Tak ada rasa berbunga-bunga seperti dulu, tak ada debar-debar aneh seperti dulu. Sepertinya, perasaanku pada Andrew sudah berubah. Dan aku tahu, semua itu karena kehadiran Justin.

Aku melemparkan kembali tubuhku di atas ranjang. Mataku menatap ke arah langit-langit kamar. Oh, hidupku benar-benar seperti seorang cinderella yang tiba-tiba saja menikah dengan pria tampan nan kaya raya. Aku bagaikan seorang puteri, tapi tak ada yang tahu jika aku merasa terkungkung di sini.

Andai saja, Justin bisa bersikap lebih baik padaku. Andai saja, pernikahan kami bukan hanya karena liontin yang sedang kukenakan, tapi karena cinta, mungkin cerita cinderella benar-benar terjadi padaku. Tapi sudahlah, aku tidak ingin berharap lebih, bagaimanapun juga, Justin memiliki kehidupannya sendiri, pun denganku yang juga memiliki kehidupanku sendiri.

Semua akan membaik saat setelah Justin melepaskanku dan kami akan hidup sendiri-sendiri seperti sebelumnya. Tapi benarkah ia akan melepaskanku? Mampukah aku bertahan tanpanya?

-TBC-

Nahhhhh cukup beda kan? wakakka nantikan kelanjutannya.

2 thoughts on “My Handsome Devil – Chapter 1 (Awal Mula)”

  1. oohhh q salah , q pikir elena itu elena na yongi ternyta sepupu na care juga bernm elena toh …..

    q slalu suka dengan certa na ini maka na semngat bnget pas tau ql ini versi panjang dri jus ma car.

    Like

  2. Beda bangetttt.. tadix aku kira author lupaa klo ni mah udh pernah tampil dan aku udh berulang2 baca cerita ni dan gak pernah bosan…
    Semangat mombella 😘😘😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s