My Handsome Devil – Chapter 1 (Awal Mula)

Comments 2 Standard

My Handsome Devil

Haiii sebelumnya aku mau kasih pencerahan. iya, sebenernya ini adalah cerita lamaku yang hanya terdiri dari 3 Chapter. tapiii karena saat itu banyak sekali yang mengeluh karena ceritanya bagus dan kurang panjang, makanya sekarang aku sudah merombak ulang ceritanya menjadi cerita panjang berchapter seperti biasanya. jadi, ceritanya pasti akan sangat berbeda dengan cerita sebelumnya, akan ada banyak konflik dan adegan tambahan yang pastinya membuat kalian geram + jengkel2 gimana gitu sama si iblis Justi, jadi…… simak terus kelanjutan ceritanya, okey.. hehheheheh

Chapter 1

-Awal mula-

 

Caroline-

Memiliki seorang suami tampan pastinya menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang wanita biasa sepertiku, Ya… Aku sangat bangga memiliki suami yang sangat tampan seperti Justin Andreas. Wajahnya terlihat tegas dengan garis kokoh seorang lelaki sejati, aku sangat bangga memiliki suami yang bagaikan malaikat tersebut. tapi tak ada yang tahu jika dia seperti iblis. Iblis bertubuh malaikat.

Aku Caroline Jhonson, tiga bulan yang lalu aku masih menjadi wanita biasa dengan seragam putih bersih dan berjalan di lorong-lorong rumah sakit. Ya, aku hanya seorang perawat. Tapi semuanya berubah ketika aku bertemu dengannya. Justin Andreas.

Tiba-tiba dia datang ke rumah, melamar, dan seminggu kemudian menikahiku. Tentu saja semua ini terasa sangat membingungkan untukku. Justin bukanlah lelaki biasa seperti Evan, kekasihku. Justin, tentu saja, melebihinya, dia lelaki kaya dengan ketampanan di atas rata-rata. Saat itu aku berpikir, kenapa dia mencariku dan menikahiku begitu saja? Jawabannya ada pada kalung yang sedang kukenakan saat ini.

Kalung berbentuk separuh hati, yang separuhnya lagi ada pada Justin. Bagaimana bisa? aku juga tidak tahu dan tak mengerti bagaimana persisnya. Ibu hanya bercerita padaku jika dulu saat masih bayi, aku dan Justin sudah dijodohkan. Kami dulu memang tinggal di Kanada, lalu saat aku berusia tujuh tahun, Ayah mengajakku dan Ibu pindah ke New York, karena Ayah memang dipindahtugaskan ke kota ini, dan kami tinggal disini hingga saat ini.

Datangnya Justin tiga bulan yang lalu, membuat orang tuaku mengingat janji-janji mereka saat aku masih bayi dulu. Janji akan menikahkan aku dengan salah seorang keluarga Andreas yang tak lain adalah Justin Andreas, Si iblis tampan bertubuh malaikat.

Kenapa aku menjulukinya seperti itu? Sungguh, Justin memang seperti  seorang iblis, iblis berwajah tampan. Dia dikenal sebagai pengusaha muda berdarah dingin. Siapapun yang menentangnya akan digilas begitu saja. Memiliki banyak kekasih, dan bahkan dia tak segan-segan mengajak kekasihnya tersebut menginap di rumah kami. Sikapnya kasar, sering meledak-ledak, pemaksa, dan juga pemarah.

Tapi aku menyukainya…

Suka? Astaga… Ya, aku suka. Entah sejak kapan, aku sendiri tak tahu. Justin mempengaruhiku. Mungkin sejak malam itu… Malam dimana aku menjadi istri sesungguhnya untuknya….

Beberapa minggu yang lalu…

Aku mendengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Mungkin sebuah ketukan kurang sesuai, itu lebih mirip dengan sebuah gedoran. Ku lirik jam di nakas yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Siapa yang menggedor pintu kamarku seperti itu? Apa itu Justin? Ahhh… Mana mungkin dia ke kamarku, bukankah dia memiliki kamar sendiri?

Walau kami sudah menikah, tetapi tentu saja kami tak tidur sekamar. Dia memilih tidur di kamar tidur pribadinya yang ekstra besar itu, daripada harus tidur denganku. Sambil sesekali menguap, aku membuka pintu kamarku, dan sontak aku terkejut saat bibir itu mendarat mulus di bibirku.

Dia menciumku….

Astaga… sangat panas. Ciuman yang aku sendiri tak tahu kenapa bisa begitu mempengaruhiku. Dia mendorongku, lalu merangkul pinggangku, dan menendang pintu di belakangnya hingga tertutup rapat.

Ciumannya semakin intens, dia mengajak lidahku menari dengan lidahnya, membuat perutku seakan dihinggapi ribuan kupu-kupu. Ada apa dengan lelaki ini? Ada apa denganku?

Justin melepaskan pagutannya dan menatapku dengan mata berkabutnya. Dia mabuk. Aku tahu itu. Aku mendorongnya menjauh tapi dia kembali lagi ke sisiku, memelukku erat.

“Aku ingin menyatu denganmu, Care…” ucapnya sensual tepat di telingaku, membuat bulu kudukku meremang.

Lalu kurasakan bibir basahnya menyentuh permukaan leherku, menghisapnya di sana. di sekitarnya, lalu turun ke pundakku. Please… Jika aku harus melakukan ini, kumohon jangan pada saat dia mabuk seperti ini. Aku memohon dalam hati.

“Just. Kau mabuk.”

“Aku tak peduli, Care. Aku menginginkanmu.”

Lalu Justin mendorongku hingga telentang di atas ranjang. Menindihku dan kembali mencumbuku.

Ya Tuhan… Sampai kapan siksaan ini berakhir?

Justin mulai membuka satu per satu kancing piyama yang kukenakan. Matanya berkilau saat melihat gundukan di dadaku. Aku malu, sungguh sangat malu. Ini pertama kalinya aku melakukan hal ini di depan lelaki, tubuhku terekspos tepat di hadapan seorang lelaki. Aku memalingkan wajahku ke samping, tapi kemudian Justin meraih wajahku, seakan menyuruhku untuk menatap mata indahnya.

“Kau, malu Care?”

Aku tak menjawab. Tentu saja aku sangat malu. Ini adalah hal yang paling intim yang pernah kulakukan dengan seorang lelaki.  

“Jangan malu dan jangan takut. Setelah ini aku akan mengajarimu untuk menyentuhku.” Lalu Justin mendaratkan bibir basahnya tepat di ujung payudaraku, memainkannya, membuatku merintih nikmat. Astaga, kenapa seperti ini? Atau apa memang seperti ini rasanya?

Justin masih saja memainkannya secara bergantian. Ya Tuhan. rasanya benar-benar aneh, aku seperti terbang melayang, aku bahkan berani mengacak-acak rambut cokelat milik Justin. Ini terasa nikmat, dan menyenangkan

Cumbuan Justin kini bergeser menuruni puncak payudaraku, aku bahkan merasakan tangannya mulai menurunkan celana piyama yang kukenakan.

“A- Apa yang kau lakukan Just?”

“Ssshh… Aku akan membuat ini indah untuk kita.”

Lalu tak ada yang dapat kulakukan lagi selain merintih nikmat saat jari-jemari itu mulai memainkan pusatku. Astaga, lelaki ini begitu ahli. Pantas saja jika ia memiliki banyak kekasih, ternyata cara dia bercinta sepanas ini..

“Just. Kumohon hentikan, aku, aku…”

Aku sedikit melihat justin sedikit menyeringai. “Belum sayang, ini belum seberapa.” Lalu dia mendaratkan bibirnya pada pusatku dan lagi-lagi bermain-main di sana. Astaga… Aku tak dapat berkata-kata lagi. Dia begitu ahli bagaikan seorang dewa Seks. Saat aku hampir menjerit karena pelepasan, tiba-tiba Justin menghentikan aksinya, ia menatapku dan tersenyum. Aku sedikit mengerang sebagai bentuk protes karena dia menghentikan aksinya yang membuatku nikmat.

“Belum saatnya, Sayang, gunakan aku untuk mencapai puncak itu.”

Lalu aku melihatnya berdiri, membuka seluruh pakaian yang ia kenakan termasuk celananya. Tubuhnya terlihat kokoh dan penuh dengan tato-tato yang aku sendiri tak mengerti apa artinya. Dia terlihat sangat gagah, tampan dan tentunya… Panas. Dan  dia suamiku. Astaga, aku masih tak dapat mempercayainya.

Dia kembali menindihku, lalu memposisikan dirinya di antara kedua pahaku. Astaga… Aku terkesiap saat dia mulai menyentuhkan kejantanannya pada pusatku. Mendesak masuk.  Yang kurasakan saat ini adalah sakit dan sedikit perih. Aku memejamkan mataku, bahkan menggigit bibirku.

“Kau siap Care?” tanyanya dengan napas terengah. Dan aku hanya dapat menganggukkan kepala lemah. Justin menghentak keras masuk ke dalam hingga kami menyatu seutuhnya. Yang kurasakan saat ini adalah perih, seperti di robek oleh sesuatu, dan aku menangis.

Justin mengarahkan wajahku hingga kami saling menatap. “Maafkan aku, Care…” Lalu dia mulai melumat bibirku, menari-nari lagi dengan lidahku, membuatku kembali terengah, merasakan kenikmatan yang tadi sempat hilang karena rasa sakit yang melandaku.

Dia mulai menggerakkan dirinya, tak menghentikan cumbuannya pada tubuhku. Justin benar-benar menjadi sosok yang berbeda dari biasanya. Apa yang membuatnya seperti ini?

“Aaahhh…” Aku mengerang. Sungguh, Justin kembali membuatku gila. Dia juga mengerang, sesekali meracau tak jelas.

“Kau, sungguh menakjubkan.” racaunya masih dengan mencumbuku.

“Sial! Aku akan sampai, Care.” lalu dia mempercepat lajunya. Membuatku semakin terengah, napasku semakin pendek, dan aku tak dapat merasakan apa-apa lagi ketika kepalaku mulai berputar, mataku berkabut, dan semua otot-ototku menegang karena kenikmatan dahsyat yang kurasakan dari Justin. Tak lama kemudian aku merasakan ia mengerang panjang, menandai jika ia juga mencapai pelepasanya.

Justin kembali menciumku lembut. Sesekali berkata “Thanks Care.” dan aku tak tahu apa yang dikatakannya lagi ketika rasa kantuk mulai melandaku.

***

Aku mendengar pintu depan terbuka dengan keras. Siapa lagi jika bukan lelaki itu, Sang iblis penghuni rumah ini. Aku sedikit mendengar Justin berteriak marah kepada pegawainya. Apa yang terjadi? Tapi sudahlah… Bukankah setiap hari Justin memang selalu berteriak seperti itu? Aku sudah tidak heran lagi, dia memang pemarah dan suka meledak-ledak.

Aku melanjutkan kegiatan memasak dengan para pelayannya. Ya, aku memang suka memasak, di sela-sela pekerjaanku sebagai seorang perawat, saat di rumah aku selalu menyempatkan diri untuk memasak dengan ibuku.

‘Ehhheemmm’

Aku mendengar suara berdehem tepat di belakangku. Membalikkan tubuhku dan sangat terkejut saat tubuh tegap itu tepat berdiri di belakangku. Tubuh Justin.

“Ada apa?” tanyaku sedikit gugup. Sejak malam itu kami memang tak pernah berbicara lagi, kecuali jika ada hal yang penting untuk dibahas. Hubungan kami masih sama datarnya seperti sebelumnya, tetapi tentu saja Justin selalu mempengaruhiku. Bayangan akan kelembutan yang dia berikan malam itu seakan selalu menari-nari di dalam kepalaku.

“Kita makan malam di luar.” ucapnya datar.

“Aku sudah masak, Just.”

“Aku ada janji dengan teman, dan aku ingin kau menemaniku.”

“Tapi aku…”

“Ahhhh lupakan! Aku akan keluar dengan kekasihku yang lain saja.” ucapnya dingin lalu meninggalkanku. Ya, seperti itulah Justin, dia selalu bersikap dingin dan menyebalkan ketika kemauannya tidak di turuti. Dan aku menyesal karena tak menuruti kemauannya.

***

Aku berakhir dengan makan malam sendirian. Ya, Justin pergi tanpa aku. Mungkin dia tersinggung karena aku sempat menolak ajakannya. Dan aku benar-benar menyesal karenanya.

Aku belum sempat menghabiskan makan malamku saat kepala pelayan datang menghampiriku. Dia Maria, sosok yang kupikir cukup di hormati Justin.

Ya, Justin besar di bawah asuhannya, hingga kini, lelaki itu tampak menghormati Maria meski status Maria hanya sebagai kepala pelayan di rumah ini.

“Dia pergi?” tanya Maria. Wanita paruh baya itu tampak cantik di usianya yang sudah tak lagi muda. Maria tampak rapi dengaan baju sergam putih hitam seperti biasanya.

Aku mengangguk lemah. “Seperti biasa.” Hanya itu jawabanku.

“Dia tampak kacau, apa terjadi sesuatu dengan hubungan kalian?” tanyanya lagi.

Ya, meski hanya sebagai kepala pelayan, Maria sudah seperti orang tua kami. Tak jarang Maria terang-terangan membelaku saat Justi keterlaluan membentakku di depan bawahannya. Sedangkan aku sendiri, aku sudah cukup terbiasa dengan perlakuan iblis itu.

“Tidak.” Aku menggeleng pelan.

“Care, kau harus tetap bertahan dengannya. Justin adalah pria yang baik, dia hanya belum tahu apa yang terbaik untuknya.”

Tentu saja aku akan bertahan. Aku bukan tipe orang yang suka membangkang. Apapun yang di katakan orang tuaku akan kulaksanakan. Baklan ketika aku di minta menikahi pria asing hanya karena sebuah janji yang terikat dalam kalung yang kini masih kukenakan.

Aku mengangguk lembut. “Ya, aku tak punya pilihan lain.”

Maria menepuk lembut bahuku. “Suatu saat, dia akan sadar jika selama ini ada berlian yang tersembunyi di hadapannya.”

Aku melirik ke arah Maria. “Apa maksudmu?”

Matia tersenyum lembut. “Aku mengenal Justin. Aku tahu semua tentangnya karena selama ini dia hidup bersamaku. Aku tahu mana saja orang yang pernah dekat dengannya, dan kupikir, hanya kau, satu-satunya orang yang tak akan pernah memanfaatkan dirinya.”

“Memanfaatkan?” tanyaku bingung.

Bukannya menjawab, Maria malah berjalan menjauh. “Lanjutkan makan malammu. Aku akan kembali memeriksa yang lainnnya.” Lalu dia pergi menghilang di balik dinding penyekat ruang makan. Apa maksudnya?

***

Setelah makan malam dalam kesendirian, aku kembali masuk ke dalam kamar. Mengganti pakaianku dengan piyama tidur. Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang, kemudian jemariku meraih sebuah kalung yang masih kukenakan. Kalung yang menuntunku pada Justin.

Bayangan beberapa bulan yang lalu menyeruak dalam ingatanku. Bayangan saat pertama kali aku bertemu dengan Justin. Saat itu….

“Jadi, kau Caroline Jhonson?” pria itu bertanya padaku dengan nada lembutnya. Pria tampan yang katanya adalah calon suamiku. Oh, aku masih tidak percaya jika aku akan memiliki calon suami seperti Justin.

“Ya.” Aku menjawab singkat. Wajahku masih menunduk, karena jujur saja, aku tidak berani menatap ke arah Justin. Dia benar-benar mempengaruhiku.

“Kau, tampak kuraang nyaman denganku.”

Oh ya, tentu saja. Saat ini ibu dan ayah seakan sengaja meninggalkanku hanya berdua dengan Justin di ruang tamu. Dan aku benar-benar masih terkejut dengan perkataan Ayah tadi, jika pria yang saat ini duduk di seberang meja adalah calon suamiku.

Oh, jika saja Justin tidak tampak menakjubkan seperti ini, mungkin reaksiku tak akan berlebihan seperti sekarang ini. Belum lagi sikapnya yang sangat lembut padaku, membuatku luluh seketika seakan menerima begitu saja perjodohan konyol ini tanpa pikir panjang lagi.

“Uum, aku, aku hanya belum mengenalmu, dan aku cukup terkejut dengan kabar tadi.”

“Well, saat aku tahu jika aku sudah di jodohkan, aku juga cukup terkejut, tapi aku mencoba memahami keinginan orang tuaku. Dan kini, aku tahu apa maksudnya.”

Aku mengangkat wajah ke arah Justin. “Maksudmu?” tanyaku dengan sedikit bingung dengan pernyataannya.

Justin bangkit dari tempat duduknya, kemudian duduk tepat di sebelahku. Ia mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipiku. Aku merasakan sengatan listrik saat jemarinya yang kuat itu mengusap pipiku dengan begitu lembut. Jantungku berdebar tak keruan. Oh, apa ini?

“Aku tahu jika mereka menyiapkan seseorang yang begitu menakjubkan untukku.”

Pujian Justin membuat pipiku merah padam. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhku. Justin bagaikan paket lengkap  yang di inginkan banyak wanita untuk menjadi kekasihnya. Dia tampan, mapan, lemah lembut, gagah, dan panas. Astaga, apa yang sudah kupikirkan? Bagaimana mungkin aku jatuh pada seorang lelaki saat pertama kali kami bertemu?

“Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan, Just.”

“Aku senang kau memanggilku dengan panggilan itu, Care.” Justin kembali menampakkan senyuamannya. Senyuman miring yang entah kenapa membuatku menyalakan alarm antisipasi. Ya, ada yang aneh dengan senyumannya, seperti ia tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi, lebih dari itu, aku tak peduli. Nyatanya dia benar-benar membuatku terpesona hingga nyaris membuatku lupa jika aku saat itu sebenarnya sudah tidak sendiri lagi.

Aku kembali duduk saat bayang pertama aku berkomunikasi secara langsung dengan Justin menyeruak dalam benakku.

Ya, saat itu Justin tampak sangat berbeda dengan saat ini. Dia lembut, seakan memang sengaja bersikap seperti itu agar aku mau menikah dengannya, tapi setelah kami menikah, semuanya berubah seratus delapanpuluh derajat.

Aku menghela napas panjang, mencoba melupakan tentang Justin, aku memilih meraih ponselku dan menghubungi Andrew, kekasihku.

Ya, aku masih memiliki kekasih. Namanya Andrew Hunt.  Dia kekasihku sejak sebelum aku mengenal Justin, dan kami masih berhubungan meski aku sudah menjadi istri Justin. Awalnya aku ingin memutuskan hubungan kami, tapi kemudian, sikap Justin yang secara terang-terangan kasar padaku membuatku sadar, jika pernikahanku dengan Justin tidak lebih dari pernikahan di atas kertas. Aku tidak tahu apa yang dicari Justin saat menikah denganku, yang kutahu, bahwa pernikahan ini tidak akan berlangsung lama. Hingga kemudian, aku memutuskan untuk tetap mempertahankan hubunganku bersama dengan Andrew.

Andrew sendiri mengerti apa yang kumaksud, dia mengerti apa yang kuinginkan. Dia tahu jika aku mencintainya, tapi dia tidak tahu jika perasaan ini sudah mulai berubah.

Ya, semuanya terusik karena kehadiran Justin. Kejadian malam itu membuatku semakin jauh dengan Andrew. Meski aku tahu jika Andrew tidak tahu apa yang terjadi antara aku dan Justin malam itu, tapi hatiku tidak bisa di pungkiri, jika sedikit demi sedikit aku mulai menghindari Andrew.

Aku menggelengkan kepala seketika, saat sadar jika aku kembali melamunkan Justin. Secepat kilat kutekan nomor ponsel Andrew, berharap jika dia segera mengangkat teleponku. Dan ya, teleponku di angkat pada deringan kedua oleh dia.

“Care, ada apa?”

“Hei.” Sapaku. “Aku hanya ingin menyapamu saja. Apa kau sudah tidur.”

“Tidak, tentu aku belum tidur. Kau ada masalah?” tanyanya lembut penuh perhatian. Sangat berbeda sekali dengan Justin yang suka marah-marah tak jelas.

Aku berpikir sebentar. Sebenarnya aku memiliki sedikit masalah. Besok adalah waktuku untuk ke New Jersey, ke rumah Elena, sepupuku yang akan menikah akhir minggu ini. Aku ingi sekali mengajak Justin kesana. Tentu saja aku tidak mungkin kesana sendiri. Tapi, mengingat sikap Justin padaku, aku mulai sangsi, dan berubah ingin mengajak Andrew untuk menemaniku ke rumah Elena.

Astaga, apa yang harus kulakukan?

“Ah tidak. Aku tidak memiliki masalah apapun.” Akhirnya aku memilih diam.

Ya, mungkin nanti malam aku akan mencoba mengajak Justin. Siapa tahu dia mau menemaniku. Tidak ada salahnya mencoba, bukan?

“Baiklah, jika ada masalah, hubungi saja aku, aku akan sip membantumu.”

“Ya, terimakasih, Andrew.”

“Sudah malam, kau, tidak tidur?”

“Ah ya, baiklah, aku tidur dulu.”

“Well, selamat malam, dan semoga mimpi indah.”

“Ya, kau juga.” Setelah itu panggilan terputus. Aku menghela napas panjang. Rasanya sealalu aneh saat aku menghubungi Andrew. Tak ada rasa berbunga-bunga seperti dulu, tak ada debar-debar aneh seperti dulu. Sepertinya, perasaanku pada Andrew sudah berubah. Dan aku tahu, semua itu karena kehadiran Justin.

Aku melemparkan kembali tubuhku di atas ranjang. Mataku menatap ke arah langit-langit kamar. Oh, hidupku benar-benar seperti seorang cinderella yang tiba-tiba saja menikah dengan pria tampan nan kaya raya. Aku bagaikan seorang puteri, tapi tak ada yang tahu jika aku merasa terkungkung di sini.

Andai saja, Justin bisa bersikap lebih baik padaku. Andai saja, pernikahan kami bukan hanya karena liontin yang sedang kukenakan, tapi karena cinta, mungkin cerita cinderella benar-benar terjadi padaku. Tapi sudahlah, aku tidak ingin berharap lebih, bagaimanapun juga, Justin memiliki kehidupannya sendiri, pun denganku yang juga memiliki kehidupanku sendiri.

Semua akan membaik saat setelah Justin melepaskanku dan kami akan hidup sendiri-sendiri seperti sebelumnya. Tapi benarkah ia akan melepaskanku? Mampukah aku bertahan tanpanya?

-TBC-

Nahhhhh cukup beda kan? wakakka nantikan kelanjutannya.

Advertisements

My Handsome Devil – Prolog

Comments 3 Standard

My Handsome Devil

 

Tittle : My Handsome Devil

CAST : Justin Andreas & Caroline Johnson

Genre :Roman dewasa

 

Prolog

 

-Justin-

Aku mengetuk pintu sebuah rumah sederhana yang kini sedang kudatangi. Lama aku mengetuk pintu itu hingga kemudian pintu tersebut di buka oleh seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski usianya sudah tidak lagi muda.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu padaku.

“Maaf Bibi, apa benar ini rumah keluarga Johnson?” tanyaku sesopan mungkin.

“Ya, benar. Anda siapa?”

Aku sedikit menyunggingkan senyumanku. “Saya Justin, Justin Andreas.”

Wanita itu tampak berpikir sebentar lalu kemudian membulatkan matanya ke arahku seakan tak percaya dengan siapa yang ia lihat kini. “Justin? Jadi ini.. Kau.. Kau..” ucapnya masih dengan ekspresi tak percayanya.

“Iya Bibi, ini aku, Justin dari keluarga Andreas yang datang untuk melamar puteri dari keluarga Johnson.” ucapku sambil menyunggingkan sebuah senyuman.

***

-Caroline-

Dengan tergesah aku keluar dari dalam kamar. Hari ini aku bangun kesiangan dan mungkin akan terlambat masuk kerja. Astaga, ini semua karena Elena yang semalaman meneleponku dan membuatku tidur sekitar jam empat pagi dan kini bangun hampir jam sepuluh.

Saat aku sampai di ruang tengah, sedikit terkejut ketika melihat seorang lelaki tampan duduk di sebelah Ibu dan Ayahku. Siapa lelaki itu? Dia terlihat sangat rapi dan berkelas. Untuk apa dia kemari? Aku menatapnya dengan tatapan menyelidikku, sedangkan dia sendiri menatapku dengan tatapan menilainya.

“Nak, kau baru bangun? Kemari dan duduklah.” ucap ibuku. Walau masih penuh dengan kebingungan, akhirnya aku duduk tepat di sebelah ibu.

“Ada apa, Bu? Dia siapa?” bisikku pada ibu.

“Care, kenalkan, dia Justin, Justin Andreas. Calon suamimu.” ucap ayah yang kemudian membuat tubuhku menegang.

Calon suami? Apa ini mimpi? Kenapa bisa aku memiliki calon suami yang terlihat sempurna seperti lelaki itu?

 

-TBC-

Bianca – Chapter 1 (Awal mula)

Comments 4 Standard

Bianca

 

Chapter 1

-Awal mula-

 

Sienna tidak berhenti mengekori kemanapun Bianca pergi sebelum ia mendapatkan apa yang ia mau. Hingga kini, Bianca merasa risih dengan apa yang dilakukan perempuan muda dengan status sebagai kakak iparnnya tersebut.

“Bee, ayolah.” rengek Sienna.

“Aku bilang enggak, Si. Lagian kamu bisa pergi sama kak Aldo.”

“Hei, kakak kamu itu kuno sekali, dia bahkan melarangku untuk pergi ke sana.”

“Kalau begitu jangan pergi.” Bianca menjawab cepat. Matanya masih menatap kepada layar smartphone yang ia pegang. Membaca Novel-novel  online dengan tema roman adult lebih menyenangkan dibandingkan mengurus kakak iparnya yang terlihat lebih cocok sebagai adiknya.

“Bee, aku ingin sekali menonton konsernya, astaga, kamu nggak akan nyesal kalau ikut nonton konser The Batman bareng sama aku.”

“Aku sama sekali nggak tertarik.” Bianca menjawab dengan cuek.

“Bee, vokalisnya ganteng tau. Aku kenal dia.”

“Aku nggak percaya.” Lagi-lagi Bianca menjawab dengan cuek.

“Namanya Jason, dia tampan dan anak konglongmerat, suaranya bagus, karirnya cemerlang, kamu akan terpesona sama dia kalau kamu menontonnya Bee. Bahkan para perempuan yang tengah menonton konsernya rela melemparinya dengan pakaian dalam mereka. Jason benar-benar sosok yang begitu diinginkan di negeri ini, dia penyanyi populer dengan banyak perempuan mengantri untuk bisa tidur di atas ranjangnya. Bagaimana Bee? Kamu yakin nggak mau nonton konsernya?” tawar Sienna lagi dengan nada menggoda.

“Aku nggak peduli dengan yang namanya Jason, dan please Si, aku nggak sedang nyari cowok sampai kamu menawariku seorang artis papan atas. Lagian dia nggak mungkin lihat kita ada di sana.”

“Bee, aku nggak mau melewatkan konsernya, please, temani aku.” Sienna masih merengek.

“Kak Aldo jelas melarang kamu, dia akan membunuhku kalau kita pergin ke tempat konser itu.”

“Kita sembunyi-sembunyi. Please, aku sudah kehilangan Alika, dan aku butuh penghiburan. Mungkin dengan menonton Jason, aku bisa terhidur dan melupakan dukaku.”

Dasar bocah sialan! Bianca memaki dalam hati.

Bianca tentu tidak dapat menolak permintan Sienna saat Sienna terang-terangan memasang wajah melasnya apalagi sampai mengungkit kejadian keguguran yang menimpa kakak iparnya tersebut beberapa saat yang lalu. Ya, Sienna saat itu memang sangat terpukul, pun dengan Aldo, kakaknya. Tapi menonton sebuah konser benar-benar bukan keinginan Bianca saat ini.

Akhirnya Bianca menghela napas panjang saat Sienna tidak berhenti menampilkan ekspresi memelasnya.

“Oke-oke. Aku akan menemanimu. Tapi bagaimna kita cari alasan sama kak Aldo? Kita nggak mungkin bilang belanja seharian.”

“Kamu tenang saja. Kak Aldo sedang dalam tugas ke luar kota saat hari itu, kita bisa pergi tanpa dia tahu.”

“Hadehhh, jadi ini benar-benar sudah kamu rencanakan?”

Sienna tidak menjawab, ia malah memperlihatkan cengiran manjanya pada Bianca. Astaga, mimpa ia hingga memiliki kakak ipar seperti Sienna. Gerutu Bianca dalam hati.

***

Di lain tempat, Jason masih sibuk berlatih untuk konsernya yang akan diselenggarakan akhir minggu nanti. konser yang disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi di negeri ini.

Jason menghela napas panjang, saat ini dirinya dan teman-teman Bandnya memang berada pada puncak karir mereka dan ia tidak akan mengacaukan semuanya hanya karena perasaannya yang kini kacau balau karena seorang wanita.

Ya, siapa lagi jika bukan Fellysia puteri Revano? Wanita yang begitu Jason cintai hingga membuat Jason tak bisa berpaling sedikitpun pada wanita lain. Wanita yang selama ini menjadi pusat dari inspirasi Jason dalam menciptakan lagu-lagunya yang booming di pasaran.

Tapi sayangnya, wanita itu kini sudah menjadi milik orang.

Jason memejamkan matanya frustasi, ketika mengingat beberapa minggu yang lalu, wanita itu berkata jika dirinya sudah menikah dengan lelaki yang begitu dicintainya. Ia patah hati seketika, hatinya remuk menjadi berkeping-keping, tapi disisi lain, ia harus di tuntut untuk selalu menghibur para penggemarnya seperti yang akan ia lakukan akhir minggu nanti.

Jika boleh jujur, Jason sudah lelah dengan dunianya menjadi anak band. Dunia yang dulu ia impikan.

Dulu, ia berpikir, jika dirinya menjadi anak Band terkenal, maka ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Wanita akan datang bertekuk lutut padanya, dan ya, itu memang terjadi. Tapi nayatanya, Jason tidak menginginkan hal itu. Ia hanya menginginkan satu wanita yang bernama Felly, nyatanya, Felly tak juga bertekuk lutut padanya meski ia merupakan penyanyi Band papan atas.

Lantas, apa lagi yang dicarinya saat ini?

Jason mendengus sebal. Ia menaruh gitar yang sejak tadi berada dalam rengkuhannya pada tempat yang di sediakan. Sial! Pikirannya benar-benar kacau.

“Jase, lo nggak balik? Udah malam.” Troy, Drumer bandnya yang kini sudah bersiap pergi akhirnya menyapanya.

“Gue bakal nginep di sini.”

“Jase, kita harus banyak istirahat sebelum pentas akhir minggu nanti.”

“Gue tahu.” Kemudian Jason memilih melemparkan dirinya pada sofa panjang yang di sediakan dalam ruang latihannya.

“Lo kelihatan kacau, ada apa sih? Lo nggak pernah cerita sama kita-kita. Lo ada masalah?”

Jason mengusap wajahnya dengan frustasi. “Gue patah hati.”

Troy sempat ternganga dengan jawaban Jason, tapi kemudian ia tertawa lebar saat melihat ekspresi Jason yang benar-benar tampak frustasi.

“Patah hati? Come on, Jase. Cewek nggak cuma satu. Kalau lo patah hati sama satu cewek, lo bisa dengan mudah cari penggantinya.”

Well, itu memang yang dilakukan Troy dan teman-temannya yang lain. Tapi itu benar-benar bukan Jason. Meski dari luar ia tampak seperti pria berandalan dengan tato dan tindik di wajahnya, tapi percayalah, dia bukan playboy maupun bad boy seperti kebanyakan anak Band.

“Gue serius, Troy, gue nggak pernah main-main sama cewek sebelumnya, lo tahu sendiri kalau selama ini gue hanya suka sama satu cewek, dan akan selalu seperti itu.”

Yes, dan cewek itu nggak pernah nganggap lo lebih dari temennya. Itu Felly, kan? Gue tahu Jase, dan sekarang waktunya lo buat Move on.”

Jason hanya diam. Baiklah, Troy benar, ia harus Move on, tapi bagaimana caranya? Mencari pelarian? Dengan siapa? Ia tidak akan mungkin mencari pelarian dengan penggemarnya. Tidak! Ia tidak bisa melakukan hal tersebut.

“Gue nggak tahu bagaimana bisa Move on.”

“Cari cewek lain, Jase.”

“Tapi gue nggak mau kalau dekatin cewek cuma buat pelarian.”

“Ya bisa jadi itu cuma awalnya aja, setelah lo jalanin, lo cocok sama dia, bisa jadi lo bakal jatuh cinta sama dia.”

“Apa bisa gitu?”

“Coba aja, Jase.”

Jason menghela napas panjang. “Tapi gue nggak tau harus nyoba sama siapa. Dan gue nggak mau nyoba sama fans.”

Troy tertawa lebar. Ia menepuk pundak Jason sembari berkata “Lo bener-bener tukang pilih. Gue yakin, dia akan datang sama lo dengan sendirinya.” Setelah ucapan Troy tersebut, Troy pergi begitu saja meninggalkan Jason sendirian di dalam ruang latihan mereka.

Fell, kenapa kamu membuatku seperti ini?

***

Bianca masih menatap layar ponsel yang ia genggam. Membaca novel online sudah menjadi kebiasaannya bahkan sejak tinggal di luar negeri, hingga ketika ia bosan seperti saat ini, novel-novel tersebut mampu menghiburnya.

Saat ini, dirinya sudah berada di dalam sebuah mobil dengan Sienna yang duduk di sebelahnya. Hari ini adalah hari dimana ia menemani Sienna menonton konser The Batman, konser yang katanya akan menjadi konser terspektakuler di tahun ini.

Dan Bianca tidak peduli. Ia bahkan tampat tidak tertarik sama sekali.

Bianca tak berhenti mendengus sebal ketika mendengar ocehan Sienna yang menceritakan tentang Jason, yang tak lain adalah vokalis Band tersebut. Sienna menuturkan jika pria itu adalah pria terpopuler senegeri ini. Banyak wanita yang mengantri padanya, namun Jason terlihat enggan memilih salah satunya.

“Mungkin saja dia Gay.” Bianca berkomentar tanpa mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya.

“Bee, jaga bicaramu. Enak saja. Jason bukan Gay. Lagian, dulu dia sempat jadi pacar Felly sebelum Felly nikah sama Raka.”

“Oh ya?” Bianca hanya menanggapi seadanya, tampak tak tertarik sama sekali dengan pembahasan tentang Jason. Baginya, tak ada sosok yang sempurna di dunia ini. Sosok sempurna itu hanya ada di dalam novel-novel yang pernah ia baca hingga membuatnya bergairah atau bahkan orgasme ketika membaca sastra-sastra erotis tersebut.

“Bee, kalau misalkan nanti aku nggak sengaja ketemu sama dia, apa kamu mau aku kenalin sama dia?”

“Hei, aku nggak suka di comblangin. Lagian apaan sih, aku nggak suka sama anak Band.”

“Terus, kamu maunya yang kayak gimana? Bukannya saat itu kamu pernah bilang kalau nggak suka sama tipe CEO yang kaku dan membosankan kayak kak Aldo dan Raka? Nggak ada salahnya, kan kalau aku nawarin anak Band?”

“Ya tapi, aku juga nggak suka sama anak Band. Lagian apaan sih, memangnya kamu kenal sama dia?”

“Kenal dong, dia kan alumni di SMAku.”

Bianca memutar bola matanya jengah. “Hanya alumni, lagian biasanya artis top nggak akan mau mengenal orang luar kecuali keluarga atau teman dekat mereka. Udahlah, nggak usah bahas dia lagi.”

“Tapi Bee, beneran deh, kayaknya seru kalau jodohin kamu sama dia.”

“Hadehhh, terserah kamu deh.” Bianca akhirnya memilih mengalah dengan kecerewetan sang kakak ipar. Ya, Sienna memang sangat cerewet dan manja seperti seorang adik, tapi Bianca dapat mengerti, mengingat kakak iparnya tersebut memiliki usia tujuh tahun lebih muda daripada dirinya.

***

Bianca cukup terkejut saat sampai di tempat konser yang mereka tuju. Konser tersebut ternyata sangat ramai dengan banyak sekali fans The Batman yang membawa aneka macam atribut untuk meramaikan konser tersebut.

Lebih terkejut lagi saat ia sadar jika dirinya diajak oleh Sienna menuju ke area VVIP yang letaknya tepat di baris depan panggung. Ia juga sempat mengernyit ketika Sienna ikut mengeluarkan berbagai macam atribut seperti poster dan lain-lain dari tas besar yang ia bawa.

“Kamu menggelikan.” Bianca berkomentar.

“Kamu apaan sih? Nggak pernah nonton konser ya?” ejek Sienna.

“Ya nggak gini juga kali Si. Lagian aku emang nggak pernah suka nonton konser, karena aku nggak terlalu fanatik dengan anak Band.”

“Kamu belum lihat aja bagaimana penampilan mereka. Astaga, aku udah nggak sabar. Kalau Kak Jason nyamperin kesini, aku akan teriakin dia nyaring-nyaring.”

“Malu-maluin kamu, Si.” Komentar Bianca.

“Yee, lihat saja nanti di sebelahmu, semuanya akan begitu.”

Bianca hanya bisa mendengus sebal saat Sienna masih kukuh dengan pernyataannya. Ia memusatkan kembali pandangannya pada layar ponsel yang ia genggam. Lebih baik ia menenggelamkan diri pada novel-novel online yang ada dalam ponselnya ketimbang ia harus ikut-ikutan gila seperti Sienna.

Tapi tak lama, setelah ia berkonsentrasi membaca novel tersebut, konsentrasinya buyar ketika ia mendengar teriakan-teriakan histeris, dengan kesal Bianca memutar bola matanya ke arah di sekitarnya. Rupanya acara baru saja dimulai karena tiba-tiba lampu-lampu di panggung di hadapannya mati seketika.

Bianca kembali mendengus sebal sembari bersiap menatap layar ponselnya kembali, tapi ketika ia baru saja menundukkan kepalanya, tubuhnya kaku saat mendengar sebuah suara merdu di iringi oleh teriakan banyak wanita di sekitarnya.

Bianca mengangkat wajahnya. Matanya terpaku pada seorang lelaki yang berada di atas panggung dengan sorot lampu terang tertuju pada lelaki tersebut. Lelaki itu bernyanyi tanpa diiringi musik, hingga suaranya terdengar menggema dan begitu merdu. Ekspresinya tampak sekali kesakitan, tapi demi Tuhan, itu tak mengurangi sedikitpun ketampanan yang terpahat sempurna di sana.

Tampan?

Ya, lelaki itu amat sangat tampan. Tampan, gagah, dan begitu panas. Oh, bahkan semua gambaran lelaki yang diinginkan Bianca seakan tertuang pada lelaki tersebut. Bianca hanya ternganga, jantungnya tak berhenti berdetak tak menentu, tubuhnya terasa panas membakar, dan mungkin kini wajahnya sudah merona-rona tak jelas.

Astaga, apa yang terjadi dengannya?

-TBC-

Bianca – Prolog

Comments 4 Standard

Bianca

 

Judul : Bianca

Seri : The bad Girls #3

Penulis : Zenny Arieffka

Genre : Romance Adult

Seri sebelumnya : Elena (The Bad Girls #1). Evelyn (The Bad Girls #2).

Cerita yang sedikit berkaitan : My Young Wife, My Beloved Man.

 

 

Prolog

 

-Bianca-

Aku melihatnya.

Vokalis itu bergaya ala penyanyi Rock dengan rambutnya yang setengah plontos, telinga yang beranting, beberapa tindik di wajahnya, dan tak lupa tato yang menghiasi lengannya. Astaga, kupikir aku tak akan menemukan lelaki seperti ini di dunia nyata. Karena lelaki ini adalah lelaki yang kubayangkan saat aku membaca novel dewasa karya salah satu penulis best seller di New York. Tapi aku melihatnya di sini? Di ndunia nyata?

Tuhan! Kupikir aku sudah mulai gila. Bagaimana mungkin aku kepanasan hanya karena melihat aksinya di atas panggung?

Sienna benar. Jason adalah penggambaran sempurna dari seorang lelaki. Dia tampan, berkarisma dan tampak panas.

Dan sialnya, aku menginginkannya.

***

 

 

-Jason-

 

Bianca tampak begitu mempesona.

Ya, tentu saja. Dia adalah salah seorang yang kukenal beberapa saat yang lalu. Mengaku menjadi penggemarku, dan aku tertarik dengannya.

Selama ini aku menutup mata, hati, dan pikiranku karena aku sudah memiliki seorang yang kucintai. Tapi ketika aku memutuskan untuk berhenti mencintai orang itu, Bianca datang. Kupikir aku sedikit beruntung, disaat aku membutuhkan orang untuk menghibur diri, aku mengenal Bianca.

Dia sedikit berbeda dengan gadis-gadis yang kukenal, sedikit polos, tapi kepolosannya kadang menggelitikku, membuatku semakin tertarik dengannya, membuatku semakin menginginkannya.

Bianca mampu dengan mudah menggodaku, dan aku tak memungkiri jika diriku mulai tergoda dengannya.

 

-TBC-

Yeaayyy kenalan dulu ama abang Jase dan non Bee..