Samantha – Bab 9

Comments 4 Standard

Samantha

 

Bab 9

 

Nick tidak datang. Bahkan hingga kini, dan bodohnya aku masih menunggunya setelah tadi malam dia mengingkari janjinya. Aku masih berharap dia datang lalu menjelaskan padaku kenapa tadi malam dia tidak menepati janjinya. Kupikir, dia memang sedang sibuk, atau mungkin lupa dengan janjinya, tapi bukankah seharusnya dia menghubungiku? Ya, hingga sore ini Nick tidak menghubungiku, dan aku juga tidak ingin menghubunginya.

Aku kesal, tentu saja. Aku benar-benar berharap Nick datang, makan malam bersamaku kemudian kami menghabiskan malam bersama seperti malam itu, tapi ternyata…

Saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, aku mendengar pintu depan di buka oleh seseorang. Aku berdiri seketika saat sadar jika Nick baru saja datang. Dia menatapku, dan wajahnya benar-benar terlihat lelah, belum lagi ada beberapa memar di ujung bibir dan alisnya.

Memar?

Seketika aku menghampirinya, melupakan rasa kesalku padanya karena rasa khawatir ternyata lebih menguasaiku. Oh Nick. Apa yang terjadi denganmu?

“Nick.” Aku berdiri tepat di hadapannya, wajahku mendongak menatap ke arah wajahnya yang memang lebih tinggi dari pada aku. Ternyata lukanya sedikit parah, memarnya benar-benar tampak terlihat jelas ketika di lihat dari jarak yang lebih dekat.

“Kau, kau kenapa?” tanyaku sambil mengulurkan jemariku untuk mengusap luka di ujung bibirnya.

Nick memalingkan wajahnya. “Bukan masalah.” jawabnya dengan dingin.

“Tapi kau terluka. Kau, ada masalah?” Nick tidak menjawab, dia memilih melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa lalu melemparkan diri di sana.

Aku menuju ke arah dapur, mengmbilkan sebuah minuman untuknya. Dia tampak sangat lelah, dan aku tidak ingin membuatnya semakin lelah karena kecerewetanku yang bertanya tentang apa yang terjadi.

“Minumlah, kau tampak kacau.” Aku mengulurkan sebotol air mineral padanya.

Dia menatapku cukup lama dengan tatapan lembutnya. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya sembari meraih botol minuman yang kuberikan.

Aku mengerutkan kening, tidak biasanya Nick bertanya tentang kabarku. Ada apa dengannya?

“Baik.” jawabku singkat. “Kecuali kemarin malam, aku melewatkan makan malamku karena menunggu seseorang.” sindirku. Aku tidak tahu apa aku sudah tidak punya malu lagi atau bagaimana. Entah kenapa aku bisa menyindir Nick dengan kalimat seperti itu?

“Kau, menungguku?”

“Tentu saja. Kau berjanji akan datang, maka aku menunggumu, tapi ternyata…”

“Ethan pulang.” Nick memotong kalimatku, dan aku diam seketika saat sadar dengan apa yang ia katakan. Ethan? Pulang? Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Aku ternganga, bibirku seakan tak dapat menutup karena terlalu terkejut dengan informasi itu. bagaimana jika Ethan tahu tentang hubungan kami? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bisakah Ethan menerima hubungan kami? Menerima Andrea di antara keluarganya?

Dengan spontan aku mengusap perut buncitku. Aku takut, jika ada orang yang berusaha melukai Andrea, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

“Ada yang sakit?” pertanyaan Nick membuatku tersadar dari lamunan. Rupanya sejak tadi Nick memperhatikan gerakanku yang mengsap lembut perutku.

“Tidak.” jawabku cepat. “Ba- bagaimana mungkin Ethan bisa pulang?”

“Bagaimana mungkin? Bukankah seharusnya kau senang saat tahu jika Ethan sudah sembuh dan pulang?”

Senang? Ya, seharusnya aku merasa senang. Tapi sungguh, bukan itu yang saat ini kurasakan. Aku bahkan merasa ketakutan. Takut jika waktuku dengan Nick akan segera berakhir, takut jika Nick mendorongku untuk kembali dengan Ethan.

Aku menggeleng pelan. “Aku tidak tahu apa yang kuinginkan.”

“Sam.” Nick akan berbicara, tapi dia tampak ragu. “Aku, aku sudah mengatakan tentang hubungan kita padanya.”

Meski tercengang dengan apa yang di katakan Nick, tapi aku sedikit lega, seulas senyum akhirnya terukir di wajahku karena sadar, jika Nick sudah memberitahukan tentang hubungan kami pada Ethan, itu tandanya Nick ingin mempertahankan aku sebagai istrinya.

“Aku sudah mengatakan padanya tentang aku yang harus menikah denganmu saat itu, tapi aku tidak bisa mengatakan tentang Andrea.”

Aku mengerutkan keningku. “A- apa maksudmu?”

“Kita kembali pada rencana awal. Kau melahirkan Andrea secara diam-diam, setelah itu kita cari orang tua asuh untuknya, dan terakhir, aku akan mengembalikanmu pada Ethan.”

Mataku membulat seketika, cairan bening jatuh begitu saja dari pelupuk mataku. “Kau, kau melanjutkan apa yang sudah kau rencanakan?”

“Sam.”

“Aku bukan barang yang bisa kau kembalikan seenaknya pada Ethan, Nick! Dan aku bukan miliknya, tidak seharusnya kau mengembalikan aku padanya!” seruku lantang. Aku membalikkan tubuhku, dan akan segera pergi meninggalkan Nick yang kembali menyebalkan, tapi secepat kilat Nick meraih pergelangan tanganku kemudian menarik tubuhku hingga aku jatuh dalam pelukannya.

Jantungku memompa lebih cepat lagi dari sebelumnya, rasa kesal yang tadi kurasakan, hilang seketika di gantikan dengan rasa nyaman karena pelukannya. Oh Nick, dia benar-benar memberiku efek yang luar biasa.

“Aku, aku terlalu bingung dengan apa yang akan kulakukan, Sam. Aku tidak ingin menyakitinya lagi.”

“Tapi kau menyakitiku, Nick! Kau menyakitiku dan aku yakin jika Andrea juga tersakiti dengan keputusan yang akan kau ambil.”

“Aku tidak bisa mempertahankanmu, Sam. Aku tidak bisa mempertahankan kalian di hadapan Ethan.”

“Maka jangan pertahankan.” jawabku cepat. Aku menghela napas panjang. “Biarkan aku pergi, aku tidak akan mengganggu hidup keluarga kalian lagi.”

Nick melepaskan pelukannya kemudian menatapku dengan tatapan tajam membunuhnya. “Aku tidak akan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi, Sam.”

“Lalu apa yang kau inginkan?” aku mulai menangis. Air mata sialan!

Nick kembali memmelukku. “Aku tidak tahu.”cukup lama kami berpelukan. Bahkan aku dapat merasakan dada Nick naik turun karena menahan emosi di dalam dirinya, degupan jantungnya yang juga sama besarnya dengan degupan jantungku. Oh, Nick, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Apa yang saat ini kau rasakan?

Aku memberanikan diri melepaskan pelukan kami. Nick menunduk menatapku, matanya tampak sendu, seakan aku dapat merasakan kesedihan yang ia rasakan. Ya, dia tampak sangat sedih. Apa yang membuatnya sesedih itu? apa karena ia merasa bersalah dengan Ethan? Astaga, ini bukan hanya salahnya, aku juga bersalah, dan aku ingin Nick juga tahu hal itu.

Kuulurkan jemariku mengusap rahang kokohnya, kemudian aku berjinjit untuk menggapai bibirnya. “Sentuh aku, aku merindukanmu.” Entah darimana aku mendapatkan keberanian mengatakan kalimat tersebut, yang kutahu, jika sudah saatnya aku emnunjukkan apa yang kurasakan pada Nick. Ya, dia harus tahu jika aku menginginkannya, menginginkan hubungan kami segera membaik, aku ingin kami bahagia bersama dengan Andrea. Aku ingin Nick tahu hal itu.

“Sam.” Nick tampak ragu.

“Kumohon.” Dan setelah permohonanku tersebut, Nick segera menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya untuk segera bisa menggapai bibirku. Dia menciumku dengan lembut, menarik tubuhku supaya semakin rapat dengan tubuhnya, kemudian membawa tubuhku untuk terbaring pada sofa panjang yang tadi ia duduki.

Nick menindihku tanpa mengghentikan cumbuannya, jemarinya mulai melucuti sweater yang kukenakan. Hingga tak lama, tubuhku sudah polos di bawah tindihannya. Nick menghentikan cumbuannya, ia melucuti pakaiannya sendiri, kemudian mulai menindihku kembali saat dia sudah polos tanpa sehelai benangpun.

“Apa tidak apa-apa dengan posisi ini?” tanynya lembut sambil melirik ke arah perutku.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. “Lanjutkan saja.”

Nick mulai menyatukan diri, aku mendesah panjang saat penyatuan tersebut terjadi. oh, kami bercinta lagi, di atas sofe, di ruang tengah, dengan sadar sepenuhnya, dengan pencahayaan yang terang, saling mencumbu satu sama lain, saling menyentuh satu sama lain, seakan tak ada masalah apapun yang terjadi di antara kami.

Nick mulai bergerak, sedangkan matanya menolak bergerak untuk meningalkan mataku. Dia menatapku tanpa ingin meninggalkan pandangannya, sedangkan aku sendiri memilih melawannya dengan tatapan mata yang ku miliki. Kuulurkan jemariku, mengusap lembut bekas luka di ujung bibirnya hingga dia menghentikan pergerakannya seketika.

“Apa sakit?” tanyaku tanpa bisa kutahan.

Nick menggelengkan kepalanya. “Aku pantas mendapatkan yang lebih dari ini.” Jawabnya serak.

“Apa Ethan yang melakukannya?”

Nick tidak menjawab, dia hanya menatapku dengan penuh penyesalan. Seakan dia menyesal terhadap semua yang terjadi, seakan dia menyesali hubungan kami, seakan dia menyesali memiliki aku dan juga Andrea di sisinya. Aku tidak suka tatapan itu, aku membencinya.

Lalu aku mengalungkan lenganku pada lehernya, kutarik saja wajahnya hingga menyardar pada lekukan leherku.

“Jangan pernah menyesali keberadaanku atau Andrea.” Bisikku lirih. Ya, aku tidak ingin dia menyesalinya lalu mencoba menghapus keberadaan kami.

“Tidak.” Jawabnya cepat. “Kau dan Andrea adalah hal terindah yang pernah kumiliki. Aku hanya menyesal, kenapa aku baru menyadari hal itu saat ini?”

Tubuhku kaku seketika saat mendengar pernyataannya. Nick menjauhkan diri dari leherku lalu mengecup lembut bibirku saat aku masih tercengang dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Maafkan aku.”

Lagi, ucapanya kembali membuatku membatu. Benarkah ini Nick? Nick Alexander?

Nick menggerakkan tubuhnya lagi, menghujamku hingga membuatku terpanggil kembali pada dunia nyata yang kini begitu indah saat menyadari jika tubuhku masih menyatu dengannya.

Ia membungkukkan tubuhnya, mencari perutku dan mendaratkan kecupan lembut di sana. Oh Nick, dia tidak lagi mengingkari keberadaan Andrea, dia tampak menginginkan Andrea, kasih sayangnya tampak sebesar rasa sayangku terhadap Andrea dan itu membuatku terisak melihatnya.

Aku menangis saat sadar jika ternyata Nick juga menginginkan Andrea meski dia tak pernah mengungkapkannya. Mataku basah saat melihat sikap lembutnya pada Andrea.

Nick menghentikan aksinya saat mendengarku terisak. Ia mengangkat wajahnya lalu menatapku lekat-lekat.

“Ada apa?” tanyanya yang terdengar sedikit khawatir.

Tapi air mataku semakin deras jatuh menuruni pelipisku. Nick mengulurkan jemarinya, mengusap air mataku yang jatuh di sana.

“Aku senang.”

“Senang? Kenapa?”

“Kau terlihat sangat menyayangi Andrea, aku senang melihatnya.”

Nick kembali memposisikan wajahnya hingga sejajar dengan wajahku. “Aku menyayangi kalian berdua, jadi berhentilah menangis.” Setelah bisikan lembutnya tersebut, Nick kembali bergerak, bibirnya meraih kembali bibirku seakan tidak membiarkan aku untuk menjawab kalimatnya.

Pergerakan Nick semakin intens, iramanya meningkat hingga membuatku tak mampu menguasai diri lagi untuk tidak mengerang karena kenikmatan yang ia berikan. Gerakan bibirnya menggodaku, membuaiku dalam balutan gairah yang menggelora. Oh Nick, ia benar-benar mahir dengan permainan ini, ia mendorongku pada puncak kenikmatan hingga erangan panjang lolos begitu saja dari bibirku.

***

Setelah puas bercinta, Nick tak lantas mengajakku bangkit dari sofa. Ia malah bangkit sendiri mengabaikan ketelanjangannya menuju ke kamarku, mengambil sebuah selimut tebal, lalu kembali lagi ke sofa dan memosisikan dirinya terbaring miring di belakangku dan memeluk tubuhku dari belakang.

Tak lupa dia menyelimuti tubuh telanjang kami dengan selimut tebal yang tadi ia bawa dari kamarku. Jemarinya mencari-cari keberadaan Andrea, mengusapnya lembut, sedangkan bibirnya tak berhenti mengecup lembut permukaan pundakku. Nick seperti orang lain, atau, apa memang seperti ini sisi lain dari dirinya?

Kadang aku takut, jika Nick bersikap lembut seperti ini padaku, aku takut jika dia akan segera pergi meninggalkanku. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi.

Nick mengeratkan pelukannya padaku, dan mau tidak mau aku menolehkan kepalaku ke arahnya.

“Nick, ada apa?” tanyaku lembut. Nick tidak menjawab,ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku. “Kau berbeda.” Desahku.

“Berbeda kenapa?”

“Entahlah, kupikir, kau berubah terlalu banyak.” Nick hanya diam, dan aku kembali menanyakan pertanyaan yang sealalu menari dalam kepalaku. “Bagaimana kelanjutan hubungan kita?”

Setelah pertanyaan tesebut, Nick melonggarkan pelukannya. “Jangan bertanya tentang masa depan.”

“Tapi kita tidak mungkin hanya seperti ini, Nick.”

“Aku tidak mau membahas masa depan.”

“Kau hanya takut, dan aku bingung, apa yang membuatmu takut dengan masa depan?”

“Tidak ada.”

“Nick.”

“Sam, tidak bisakah kau hanya menjalaninya seperti ini tanpa banyak bertanya tentang apa yang akan aku lakukan selanjutnya?”

“Aku hanya butuh kepastian.”

“Yang pasti, aku tidak akan membiarkanmu pergi.” Kalimat Nick sudah telak, seakan tak dapat di ganggu gugat. Lalu, apakah dia akan mengembalikanku pada Ethan? Oh Nick, aku lelah jika harus menebak-nebak apa yang akan terjadi dengan hubungan kita.

“Nick.” Panggilku lagi.

“Hemm.” Jawabnya dengan sedikit malas.

“Apa kau,” aku ragu akan menanyakan pertanyaan ini padanya, tapi bagaimana lagi, aku harus menanyakannya. Sejauh ini, aku tidak banyak mengenal Nick, aku juga tidak bisa membaca isi hatinya, dan itu benar-benar membuatku bingung.

“Apa?” tanyanya.

“Uumm, apa kau, uum, kau memiliki perasaan lebih padaku?”

Setelah pertanyaanku tersebut, semuanya hening. Nick tidak menjawab, dan aku merasakan perbedaan dari tubuhnya. Dia menegang, tubuhnya terasa kaku, aku bahkan merasakan jika Nick kini sedang menahan napasnya. Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaanku?

***

Dini hari, aku terbangun sendiri di atas sofa. Merasa kehilangan? Tentu saja. Nick pasti sudah pulang, pulang tanpa pamit, dan aku benar-benar merasa kehilangan.

Tidak bisakah dia membangunkan aku sebentar lalu berpamitan pulang? Ah, mungkin dia takut aku merengek memintanya untuk tetap tinggal. Tapi sungguh, aku sangat kesal saat menyadari jika kini aku hanya sendiri di apartemen ini, di tinggalkan setelah kami bercinta dengan panas di atas sofa.

Setelah pertanyaanku tadi, Nick hanya diam, tak ada kata lagi yang keluar dari bibirnya. Dan akupun tidak berani lagi mengeluarkan pertanyaan lainnya. Aku cukup tahu, jika Nick tidak bisa menjawab “Ya”, karena nyatanya, dia juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. Mungkin dia bersikap manis terhadapku hanya karena kasihan dengan keadaanku, tapi sungguh, aku tidak butuh rasa kasihannya.

Aku bangkit dari tidurku, membenarkan letak selimut tebal yang membalut tubuh polosku. Dan aku sempat berjingkat saat melihat seseorang berdiri tepat di hadapanku.

Dia Nick, dan dia masih di sini, dia tidak meninggalkanku.

“Kau, kau masih di sini?”

“Ya, ini untukmu.” Jawabnya dengan ekspresi datar, dia memberiku secangkir cokelat panas. Dan aku segera menerimanya.

“Kupikir kau sudah pulang.”

“Ya, aku memang akan pulang, tapi setelah memindahkanmu ke dalam kamar. Tapi ternyata, kau sudah bangun.”

Aku menunduk menatap cokelat hangat yang masih mengepul di dalam cangkir yang kugenggam. Wajahku berubah sendu, hatiku kembali sedih mengingat dia akan pergi. Oh, aku benci perasaan ini.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku mengangkat wajahku, menatap ke arahnya dan berkata pelan padanya. “Bisakah kau tetap tinggal di sini?”

Nick maju satu langkah ke arahku, jemarinya terulur mengusap lembut pipiku. “Maaf.” Hanya satu kata tapi aku tahu pasti apa artinya.

Dia tidak bisa tinggal.

“Baiklah.” desahku.

Kakiku mencoba melangkah menjauhinya, meski hati ini berkata untuk mendekat dan memeluk tubuhnya.

“Sam.”

Panggilannya menghentikan langkahku, aku berdiri kaku membelakanginya.

“Maafkan aku.”

Aku membalikkan tubuhku dan kembali menghadapnya. “Untuk apa?”

“Karena belum bisa memilihmu.”

Tatapannya sendu, dia terlihat sakit, dan itu membuatku tersakiti. Jika memilihku membuatnya tersakiti, maka aku rela jika keputusan yang dia ambil adalah melepaskanku. Tapi, apa dia mau melepaskanku?

-TBC-

Advertisements

Lovely Wife – Chapter 7 (Pengantin Baru)

Comments 4 Standard

Lovely Wife

 

Nadine menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana caranya membuktikan pada Dirga kalau kini hubungannya dengan Darren memang sudah selesai kemarin. Perasaannya memang masih ada untuk Darren, tapi tak sebesar dulu. Nadine juga tidak lagi berharap untuk bisa bersatu kembali dengan Darren, sungguh, ia tak lagi mengharapkan hal itu, tapi bagaimana cara dirinya meyakinkan Dirga tentang hal itu?

“Kamu menerima laranganku?”

Nadine tidak menjawab, tapi dia mengangguk dengan patuh. Dirga tersenyum, dengan lembut ia mengusap pipi Nadine, jemarinya lalu mengusap bibir bawah Nadine yang tampak menggoda untuknya. Warnanya merah seperti ceri, padahal Dirga yakin jika Nadine tidak sedang mengenakan lipstik saat ini.

“Bibirmu benar-benar menggodaku.” ucapnya masih dengan mengusap lembut bibir Nadine, lalu sedikit demi sedikit Dirga mendekatkan wajahnya dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik istrinya tersebut. Dirga mulai mencumbunya dengan lembut, sedangkan jemarinya sudah merayap ke arah tengkuk Nadine, menahannya supaya wanita itu tidak melepaskan tautan bibir mereka berdua.

Dan yang bisa di lakukan Nadine saat ini hanya pasrah, membalas apa yang sudah di lakukan Dirga padanya, mencari kenikmatan yang sejak dua hari terakhir tidak di berikan Dirga padanya. Akahkah ia mendapatkannya? Apakah kali ini Dirga hanya sekedar melakukan seks? Atau kembali bercinta padanya seperti malam pengantinya saat itu?

***

Chapter 7

-Pengantin baru-

 

Suara lumatan menggema di ruangan mungil tersebut, Dirga begitu menikmati bibir Nadine yang ternyata juga menyambutnya, lidahnya ikut menari dengan Dirga hingga membuat Dirga seakan tak dapat menahan dirinya lagi.

Dirga menarik tubuh Nadine supaya wanita itu ikut kaik ke atas ranjang, ketika Nadine sudah berada di atas tubuhnya, dengan sigap Dirga membalik posisi mereka hingga Nadine berada di bawahnya. Suara berisik  dari ranjang Nadine sempat menghentikan cumbuan keduanya.

“Ranjangmu, tidak akan roboh saat kita bermain sebentar di sini, kan?”

Nadine tersenyum mendengar pertanyaan Dirga yang entah kenapa terdengar lucu di telinganya. Dia tidak menjawab tapi hanya menggelengkan kepalanya pelan. Oh, Dirga benar-benar sudah kembali menjadi lembut seperti saat itu, saat malam pengantin mereka.

“Baiklah.” Dirga kembali mencumbu bibir Nadine sedangkan sebelah tangannya sudah masuk ke dalam pakaian yang di kenakan Nadine. Mencari-cari apa yang sudah menjadi miliknya, sedangkan lidahnya tak berhenti menari dengan Nadine.

Ketika keduanya tengah asyik mencumbu mesra, suara ketukan pintu membuat Dirga menghentikan aksinya.

“Nadine, makan malam sudah siap, Nak.”

Nadine dan Dirga saling pandang, mereka berdua tidak menyangka jika Ibu Nadine akan mengetuk pintu dan mengajak makan malam bersama.

Sial! Dirga mengumpat dalam hati, lagi pula ini jam berapa? Kenapa sudah tiba waktunya makan malam?

“Uum, sebentar, Bu.”

“Ayah sudah menunggu.”

Oh, itu kode jika mereka di minta segera keluar. “Baik, Bu.” Lalu tak ada suara lagi. Mungkin Ibunya sudah meninggalkan kamarnya.

“Jadi, kita makan malam?” tanya Dirga dengan suara yang sudah sedikit tertahan.

“Um, ya, sepertinya begitu.”

“Aku bisa melakukannya kurang dari dua menit.” tawar Dirga.

Nadine tersenyum. “Kita harus keluar, sekarang.”

Dirga menghela napas panjang. Sial! Apa yang terjadi dengannya? Bahkan menahan diri untuk tidak menyentuh Nadine sebentar saja ia tak sanggup. Apa yang terjadi dengnnya?

Dirga bangkit seketika, “Oke, kita selesaikan makan malam secepatnya.”

Nadine sempat ternganga dengan apa yang di katakan Dirga. Jadi lelaki itu benar-benar ingin bercinta dengannya?

***

Dirga sama sekali tidak canggung, meski ini pertama kalinya ia makan bersama dengan keluarga Nadine yang kini sudah berstatus sebagai mertuanya. Ia makan dengan lahap tanpa sungkan sedikitpun, sedangkan kedua orang tua Nadine hanya sesekali menatapnya dengan tatapan aneh masing-masing.

“Nak Dirga mau tambah?” tawar ibu Nadine.

“Boleh, Bu. Ini enak.” Dirga menjawab sambil menyodorkan piringnya.

“Biar aku saja.” Nadine meraih piring Dirga dan menambah nasi untuk suaminya. “Kak Dirga suka makanan rumahan?”

Dirga mengangguk dengan pasti. “Mama selalu nyempetin masak buat aku, dan tiga hari ini, aku nggak makan masakan rumah sama sekali.”

“Wah, sayang sekali, padahal Nadine nggak bisa masak.” Ibu Nadine yang berkata.

Dirga menatap ke arah Nadine, wanita itu tidak membantah, hanya menunduk dan tersenyum malu, pipinya memerah, dan itu membuat jantung Dirga berdebar. Dirga menelan ludahnya dengan susah payah.

Apa yang terjadi denganmu, sialan! Umpatnya pada dirinya sendiri.

“Mama akan mengajarimu masak nanti.” Meski di ucapkan dengan nada sedatar mungkin, tapi itu mampu membuat Nadine mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dirga. Lelaki itu juga sedang menatap ke arahnya dengan ekspresi yang sulit di artikan oleh Nadine.

Secepat kilat Nadine kembali menunduk, ia tidak suka dengan tatapan itu, tatapan yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang, membuat perutnya terasa melilit, serta membuat pipinya tak berhenti memanas. Oh, bagaimana mungkin Dirga dapat dengan mudah mempengaruhinya seperti itu?

***

Nadine masih terisak saat masuk ke dalam mobil yang menjemputnya, sedangkan Dirga tidak tahu harus berbuat apa di sebelahnya. Ia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Meski ia sering sekali menyakiti wanita, tapi Dirga sangat malas melihat wanita menangis di hadapannya.

Tadi, setelah makan malam, mereka berdua segera berpamitan pergi dari rumah Nadine. Nadine tak dapat menahan tangisnya saat sang ibu memeluk tubuhnya lalu mengucapkan nasihat-nasihat supaya menjadi istri yang baik kedepannya. Pun dengan ayahnya yang juga sempat memeluknya erat-erat. Ini pertama kalinya Nadine meninggalkan kedua orang tuanya, meski rumah Dirga masih satu kota, tapi tetap saja, rasanya sesak untuk Nadine.

“Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya.” ucapan Dirga yang tiba-tiba itu membuat Nadine mengangkat wajahnya menatap ke arah Dirga. “Aku paling muak melihat perempuan menangis.” Lanjutnya lagi.

“Maaf.” Hanya itu yang dapat di ucapkan Nadine

“Nggak perlu, aku hanya bingung bagaimana caranya menenangkan orang yang sedang menangis.”

“Aku, aku nggak pernah meninggalkan mereka sebelumnya, rasanya sangat aneh, dadaku sesak, air mataku jatuh dengan sendirinya.”

“Kamu bisa mengunjungi mereka semaumu, aku tidak melarang.”

Nadine lagi-lagi menatap ke arah Dirga. Lelaki itu masih menampakkan ekspresi datarnya, tapi entah kenapa perkataannya mampu menyentuh hati Nadine. “Terimakasih.” Akhirnya Nadine mengucapkan kata tersebut.

“Untuk apa?” Dirga bertanya sambil menatap bingung ke arah Nadine.

“Untuk semuanya.” Jawab Nadine dengan tersenyum lembut. Pipinya kembali memanas hingga membuat Nadine memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Oh, ia tidak boleh terus-terusan salah tingkah di hadapan Dirga. Tapi tiba-tiba Dirga meraih dagunya untuk menghadap ke arah lelaki tersebut dan tanpa aba-aba, Dirga mengecup singkat bibir Nadine.

“Sama-sama.” jawabnya singkat.

Jangan di tanya bagaimana wajah Nadine saat ini. Yang bisa di lakukan Nadine hanya kembali  memalingkan wajahnya ke arah lain, agar Dirga tidak melihat bagaimana merah padamnya wajahnya saat ini.

Sisa perjalanan menuju ke rumah Dirga berakhir dengan saling diam. Dirga tidak berbicara lagi karena sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Nadine sendiri memilih mengatur debaran jantungnya yang semakin menggila karena sikap yang di tunjukkan Dirga padanya.

***

Sampai di rumah Dirga, Nadine di sambut dengan antusias oleh Mama Dirga. Mertuanya itu bahkan sudah memasak banyak sekali makanan untuk Nadine, tapi sayang, Nadine memang sudah makan malam di rumahnya sendiri tadi bersama dengan Dirga dan kedua orang tuanya.

“Tidak apa-apa tante, nanti Nadine akan makan lagi masakan tante.” Nadine mencoba menenangkan mertuanya yang sudah menampilkan ekspresi kecewanya.

“Tante? Panggil Mama, Sayang.”

Nadine tersenyum lalu melirik sebentar ke arah Dirga. “Ya, Ma.”

“Baik Ma. Kami akan ke atas dulu.” Dirga sudah tampak tidak sabar untuk segera menuju ke kamarnya.

“Oh ya, kalian pasti ingin segera istirahat. Baiklah.” Tanpa di duga Mama Dirga tiba-tiba memeluk erat tubuh Nadine. “Mama seneng kamu menjadi menantu di rumah ini. Selamat datang.” Sambut Mama Dirga dengan ramah hingga membuat Nadine berkaca-kaca karena terharu. Ia memang baru meninggalkan keluarganya, tapi baru satu menit di sini, membuat Nadine merasa memiliki keluarga baru. Ia bahagia, tentu saja.

Setelah meninggalkan Mama Dirga di ruang tengah, Nadine mengikuti Dirga menaiki tangga. Sampai di lantai dua, mereka terus saja berjalan hingga menuju pintu paling ujung. Dirga berhenti di depan pintu tersebut, lalu membukanya.

“Ini kamarku, kamar kita.” Ucapnya penuh arti.

Nadine masuk dan ternganga mendapati isinya. Ruangan itu sangat luas. Amat sangat luas. Mungkin seluas seluruh isi rumah orang tuanya, dan yang membuat Nadine tak juga menutup bibirnya adalah isi dalam ruangan tersebut yang benar-benar berantakan.

Dirga ikut masuk lalu mengunci pintu kamarnya, dan tanpa di duga, ia memeluk tubuh Nadine dari belakang. “Selamat datang di kamar kita.”

Nadine merinding mendengar kalimat Dirga yang diucapkan tepat di tengkuk leher bagian belakangnya.

“Uum, sudah berapa hari kamar ini tidak di rapikan?”

“Dua minggu.” Dirga menjawab dengan pasti.

“Apa?”

Dirga tertawa lebar. Ia berjalan menuju ke arah ranjang, membuka pakaiannya sendiri kemudian membuangnya sembarangan lalu melemparkan tubuhnya di atas ranjang yang ekstra besar itu.

“Kamar ini sudah seperti rumah pribadiku sendiri. Jika Davit memilih membeli apartemen pribadi, maka aku memilih menyatukan beberapa ruangan di dalam rumah ini untuk menjadi apartemen pribadiku. Aku tidak ingin jauh dari orang tua.” Meski di ucapkan dengan penuh kearoganan, tapi Nadine menghangat mendengarnya. Dirga memang sayang dengan keluarganya.

Nadine berjalan menyusuri seluruh penjuru ruangan. Kamar Dirga memang sangat lengkap dan bisa di sebut sebagai rumah pribadi. Di sana terdapat bar mini dengan sebuah lemari yang penuh dengan anggur. Apa Dirga meminum semua itu? ada juga beberapa alat kebugaran yang berada di ujung ruangan. Sekarang Nadine tahu kenapa Dirga bisa memiliki bentuk tubuh ideal seperti yang kemarin ia lihat. Lalu ada satu set drumb dengan beberapa gitar, apa Dirga suka bermain musik? Dan terakhir, di ujung ruangan satunya terdapat sebuah lemari besar yang menyatu dengan dinding. Dalam lemari tersebut terdapat sebuah Tv besar dengan layar datarnya. Di depannya terdapat sebuah karpet  tebal dengan banyak sekali kepingan DVD serta majalah-majalah berserahkan di sana.

Nadine menghampirinya, berjongkok di sana dan mencoba merapikan kepingan DVD dan juga majalah-majalah tersebut, tapi saat melihat lebih dekat, ia berteriak.

“Astaga..”

Dirga terduduk seketika menatap ke arah Nadine. “Ada apa?” tanyanya sedikit khawatir.

“Kak Dirga ngapain nonton film kayak gini?”

Nadine benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin Dirga tanpa malu membiarkan koleksi DVD serta majalah dewasanya berserahkan seperti itu. Apa Karina melihat semua ini? Bagaimana reaksinya?

“Kamu berlebihan. Semua pria dewasa pasti memilikinya dan hobby nonton yang seperti itu.” Dirga menjawab dengan santai.

“Ya tapi nggak terang-terangan seperti ini juga. Kak Dirga nggak malu?”

Dirga tertawa lebar melihat reaksi Nadine. Ia lalu bangkit dan menuju ke arah Nadine, duduk berjongkok di hadapan wanita tersebut kemudian mengangkat dagu Nadine untuk menghadap ke arahnya.

“Kenapa juga aku harus malu? Ini kamarku, hanya aku yang tahu jika ada barang-barang seperti ini di kamarku. Jika kamu melihatnya, itu berarti aku membiarkanmu melihatnya, karena kamu milikku, istriku, jadi aku tidak perlu malu walau kamu juga melihat semua keburukanku.”

Oh, Nadine merasa jika kini dirinya meleleh seketika. bagaimana mungkin Dirga menunjukkan kepemilikannya dengan begitu tegas tanpa canggung sedikitpun?

“Ta, tapi..”

“Tapi apa? Ada waktunya nanti aku akan mengajakmu menonton film-film ini bersama.”

“Apa?” Nadine membulatkan matanya seketika.

“Kenapa?”

“Enggak, aku nggak mau.”

Dirga kembali tertawa. “Oh ya? Baiklah, kupikir kamu ingin menontonnya sekarang, aku akan memutarkannya untukmu.” Dirga berdiri dan menuju ke arah pemutar DVD miliknya. Memasukkan sebuah keping DVD panas ke dalamnya, kemudian memutarnya.

Nadine berdiri seketika, menjerit saat layar lebar di hadapannya mulai menampakkan gambarnya.

“Kak… Kak Dirga apaan sih??” Nadine mencoba merebut remote yang berada dalam genggaman tangan Dirga,  Dirga segera menjauhkannya dengan mengangkat tinggi-tinggi remote tersebut.

“Apaan apanya? Kita bisa nonton bareng.” Dirga menggoda.

“Aku nggak mau.” Nadine masih mencoba meraih remote tersebut tapi ia tidak cukup tinnggi untuk merebutnya. Akhirnya dengan cekatan, Dirga meraih tubuh Nadine dengan sebelah tangannya, menempelkan tubuh tersebut pada tubuhnya hingga membuat Nadine terpaku menatap ke arah Dirga.

Dirga juga menatap Nadine dengan tatapan intensnya, ia kemudian mengusap lembut  bibir Nadine, lalu menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya pada balutan lembut bibir Nadine. Oh, bibir yang benar-benar menggoda untuknya.

Nadine sendiri tidak menolak, ia juga menerima bahkan membalas cumbuan lembut dari Dirga. Lidahnya ikut menari dengan lidah suaminya, tubuhnya bereaksi sama dengan apa yang di inginkan Dirga hingga ia tak sadar jika kini jemari Dirga sudah mulai membuka kancing-kancing baju yang ia kenakan.

Nadine mendesah pelan saat tautan bibir mereka terputus, rupanya Dirga sibuk melucuti pakaiannya dengan sesekali menatap tubuhnya dengan tatapan nakalnya. Nadine membiarkan hal itu terjadi, toh, semuanya sudah menjadi milik Dirga, yang harus ia lakukan hanya membiasakan diri di tatap seperti itu oleh Dirga.

Ketika Dirga sudah selesai meloloskan pakaiannya hingga kini ia berdiridi hadapan lelaki itu tanpa sehelai benangpun, Dirga kembali menyambar bibirnya, jemari lelaki itu menggoda puncak payudaranya hingga membuat Nadine kewalahan dengan gairah yang di berikan oleh lelaki tersebut.

Jari-jari mungil Nadine mendarat pada tubuh lelaki yang sudah telanjang di hadapannya tersebut. Tubuh padatnya, otot kerasnya, membuat Nadine ingin segera di lingkupi oleh tubuh kekar di hadapannya tersebut.

Dirga mengerang di antara ciuman mereka. Jemari Nadine yang menyentuh dada bidangnya memberi efek luar biasa yang dapat meningkatkan gairahnya seketika. Sedangkan Nadine sendiri juga tak kuasa menahan erangannya saat jemari Dirga tak berhenti mengoda puncak payudaranya.

Suara berisik dari DVD yang masih terputar itupun menambah panas suasana di antara mereka. Sesekali Nadine melirik ke arah Tv di hadapan mereka. Penasaran? Tentu saja, ini adalah pertama kalinya ia melihat film vulgar tersebut, dan ia tidak menyangka jika dirinya melihat film tersebut sembari melakukan hubungan seintim ini dengan seorang lelaki.

Dirga meraih dagu Nadine, menghadapkan wajah wanita tersebut ke arahnya, lalu berkat serak di sana.

“Mau mencoba dengan gaya apa?”

Pipi Nadine memanas mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak menjawab karena rasa malu menyerbu begitu saja dalam pikirannya. Bagaimana mungkin Dirga bertanya tentang gaya yang akan mereka lakukan?

Dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Nadine, Dirga membawa tubuh wanita tersebut untuk terbaring di atas karpet tebal yang di pijaknya, ia juga mengikuti Nadine untuk terbaring di sana.

Nadine menatap Dirga yang mulai menindihnya. Lelaki itu tampak menyunggingkan senyuman miringnya, sedangkan yang bisa di lakukan Nadine hanya membalas senyuman tersebut dengan senyuman lembutnya.

“Kamu suka sekali dengan gaya seperti ini?” Dirga bertanya ketika ia akan menyatukan diri.

Nadine menggeleng pelan. “Aku tidak tahu apa yang ku suka dan apa yang tidak ku sukai jika itu tentang seks.”

“Seks? Kita bercinta.” Dirga mengeram pelan.

Nadine ingin meraih pipi Dirga dengan jemarinya, mengusap lembut pipi tersebut, tapi secepat kilat Dirga meraih pergelangan tangannya kemudian memenkan tangannya di sisi kepalanya.

“Kita, kita tidak saling mencintai, bagaimana mungkin ini di sebut dengan bercinta?”

“Jika kamu merasakan kenikmatan yang sama dengan yang kurasakan, maka sebut saja itu dengan bercinta, tapi jika tidak, sebut itu sebagai hukuman dariku.” Dirga mengatakan kalimat tersebut dengan mata menyala-nyala.

“Kak Dirga tidak menyesal setelah menghukumku?”

“Tidak.” Dirga menjawab dengan cepat dan pasti. “Karena kamu pantas untuk di hukum.”

“Tapi jika nanti Kak Dirga yang berbuat salah, apa aku boleh memberi hukuman?”

Dirga tertawa mengejek. “Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa memberiku hukuman kecuali orang tua atau saudara kandungku.”

“Apa, apa aku ada artinya di mata Kak Dirga?”

“Ya, untuk saat ini kamu sangat berarti.” Dirga menyatukan diri seketika hingga membuat Nadine mengeluarkan desahan panjangnya saat tubuh mereka sudah menyatu dengan begitu sempurna.

“Kamu sangat berarti karena kamu sudah seperti canduku.” Dirga bergerak menghujam lebih dalam lagi pada tubuh Nadine.

“Ha- hanya candu?” Nadine seakan tidak ingin mengakhiri percakapan mereka meski kini dirinya mulai di kuasai oleh gairah yang semakin meningkat.

“Ya, hanya itu.” jawaban Dirga membuat hati Nadine perih. Ia kini hanya di lihat sebagai cangkang yang mampu memuaskan lelaki di atasnya tersebut. Hanya itu, tidak lebih.

Mata Nadine memejam, seakan mencoba menahan butiran bening yang sudah hampir keluar dari pelupuk matanya. Ia ingin menangis, tapi untuk apa? Hatinya terasa perih, tapi kenapa? Satu-satunya hal yang menjadi alasannya karena ia ingin Dirga menganggapnya lebih.

Tapi kenapa?

“Buka matamu.” Itu perintah yang harus Nadine turuti, hingga Nadine akhirnya membuka mata karena perintah tersebut.

Bayangan Dirga tampak samar karena matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak suka Dirga memperlakukannya hanya sebagai tubuh yang dapat memuaskan lelaki itu. ia ingin lebih. Dirga menghentikan pergerakannya saat ia merasakan ada yang berbeda dengan Nadine.

“Kenapa menangis?” tanyanya dengan nada tajam. Oh, ia benar-benar muak melihat orang yang menangis di hadapannya.

“Aku nggak nangis.”

“Baguslah, kita bisa melanjutkan acara bersenang-senang kita.” Jawab Dirga sambil kembali menggerakkan tubuhnya tanpa menghiraukan Nadine yang tersakiti karena ucapannya.

Dirga bergerak lebih cepat, iramanya meningkat hingga membuat Nadine melupakan rasa sakit hatinya. Nadine ikut hanyut kembali dalam pusaran gairah yang di bangun oleh Dirga. Lelaki itu seakan menarik ulur perasaannya hingga membuat Nadine sadar, jika dirinya kini jatuh semakin jauh dalam pesona suaminya sendiri.

Oh, apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Bagaimana jika nanti lelaki ini mulai bosan terhadapnya?

“Ohhh, Sial! Kamu benar-benar nikmat.” Racauan Dirga mau tidak mau membuat Nadine tersenyum.

Nikmat? Sekarang. Bagaimana dengan nanti?

Nadine tak dapat melanjutkan pemikirannya saat tiba-tiba Dirga menarik dirinya lalu membalik tubuh Nadine hingga membelakanginya, Dirga kembali menyatukan diri sedangkan Nadine hanya memekik karena gerakan tiba-tiba tersebut.

“Oouuhh.” Nadine mengerang karena penyatuan kedua mereka. Dirga senang mendengar erangan Nadine.

Dirga kemudian membungkukkan tubuhnya lalu mengecupi area punggung Nadine, kecupan-kecuman lembut itu mempu membuatnya kembali merasakan sensasi aneh yang membuat gairahnya semakin membumbung tinggi. Hingga ketika Nadine berteriak menyebut namanya karena pelepasan, Dirga tak menahan diri lagi untuk bergerak lebih cepat dari sebelumnya, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri lalu berakhir dengan meneriakkan nama Nadine sekencang mungkin.

***

Setelah percintaan yang begitu panas, keduanya saling melingkupi tubuh telanjang masing-masing. Masih tergeletak lemah di atas karpet tebal di depan televisi yang bahkan masih menyala memutar film panas yang kembali menyulut sesuatu di dalam diri Dirga.

Dirga menegang kembali, tapi Nadine sudah menutup matanya karena terlalu lelah. Yang bisa Dirga lakukan hanya memeluk erat tubuh wanita di hadapannya tersebut.

Nadine Citra, hingga kini Dirga masih tidak menyangka jika dirinya sudah menikahi wanita ini. Oh, bukan hanya itu, Dirga bahkan tidak menyangka jika dirinya akan menikah. Selama ini ia tidak pernah memikirkan tentang pernikahan, yang ada dalam otaknya hanyalah bersenang-senang.

Pernikahan atau ikatan apapun pasti akan sangat menyulitkannya, membuatnya merasa di timpali oleh beban berat menjadi seorang suami atau bahkan seorang ayah.

Seorang ayah?

Oh, Dirga bahkan tidak pernah memikirkan akan memiliki seorang anak nantinya.

Tapi dengan Nadine, mau tak mau ia harus menjalani ikatan ini. Ikatan suci yang biasa di sebut dengan pernikahan. Kenapa? Karena tubuhnya?

Tentu saja, bodoh!

Tidak ada alasan lain untuk mempertahankan Nadine selain karena ia tertarik dengan tubuhnya, dan juga karena ia tidak ingin Nadine mengganggu hubungan Karina, adiknya dengan Darren.

Ya, itu adalah alasan utama ia menikahi Nadine, tapi bagaimana jika alasan itu nanti berubah? Oh, tidak mungkin! Dirga akan memagari dirinya dengan dinding setinggi mungkin hingga Nadine tak akan mampu untuk menggapainya.

Dan ketika saatnya nanti tiba, saat dimana Karina sudah benar-benar bahagia dengan Darren, saat dimana ia sudah mulai bosan dengan tubuh Nadine, ia akan melepaskan wanita ini dari cengkeramannya. Tapi, sebelum hal itu terjadi, ia akan memerankan perannya sebagai suami, menikmati permainan yang ia buat sebelum ia bosan dan mencari penggantinya.

Gerakan tubuh Nadine yang menggeliat dalam pelukannya benar-benar membuat Dirga frustasi. Ia mengerang pelan, menahan diri untuk tidak membangunkan Nadine, tapi gambar-gambar panas pada layar televisi di hadpannya memperburuk suasana. Membuat gairahnya menanjak seketika saat membayangkan jika yang berada di dalam gambar tersebut adalah ia dengan Nadine.

“Hei, bangun.” akhirnya Dirga tak sanggup menahan diri untuk tidak mengguncang tubuh Nadine, dan membangunkan wanita tersebut.

“Hemm.” Nadine membuka matanya sedikit demi sedikit. Ia lelah, tentu saja. Siang tadi ia baru pulang dari Bali, membereskan pakaiannya di rumahnya, lalu segera pindah ke rumah Dirga, dan sampai di rumah lelaki ini, ia di hajar lagi dengan kenikmatan yang di berikan oleh lelaki tersebut.

“Aku mau lagi.”

Nadine meleberkan matanya seketika saat mendengar pernyataan tersebut. oh, bagaimana mungkin Dirga memiliki gairah yang seakan tak pernah bisa di padamkan?

“A- aku capek.” Nadine mencoba menolak permintaan Dirga.

Dirga menghela napas panjang. “Baiklah, tapi kamu harus mandi sebelum tidur.” Saran Dirga.

Nadine berpikir sebentar. Ya, benar juga, ia tidak mungkin tidur dalam keadaan seperti ini, di atas karpet dengan tubuh lengketnya karena keringat. Akhirnya Nadine mencoba bangkit dan manuju ke arah kamar mandi, tapi ia sedikit bingung saat Dirga juga mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi.

“Kak Dirga mau mandi juga?”

“Ya, kita mandi bareng.”

“Apa?” Nadine sempat terkejut dengan apa yang di katakan Dirga. Bukan tanpa alasan, karena Nadine yakin, jika mereka berada dalam ruangan yang sama dengan sama-sama tanpa busana, pasti yang akan mereka lakukan bukan hanya mandi. Apalagi saat melirik ke arah bukti gairah Dirga yang sudah menegang. Oh, lelaki ini menginginkannya, Nadine yakin sekali akan hal itu.

“Ha- hanya mandi, kan?” tanya Nadine terpatah-patah, karena ia belum juga mengalihkan pandangnnya dari pusat gairah Dirga.

Dirga tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Nadine. “Sayangnya bukan hanya itu.” Secepat kilat Dirga menghimpit tubuh Nadine di antara dinding, lalu dia menyalakan air pancuran hingga membasahi tubuh mereka berdua.

Nadine sempat memekik terkejut saat tubuhnya di guyur secara tiba-tiba oleh air shower, di tambah lagi tiba-tiba bibir Dirga yang mulai menyerang bibirnya dengan cumbuan panasnya. Walau terkejut, tapi Nadine masih sanggup membalas cumbuan panas tersebut. gairahnya terbangun seketika, ia yang tadi menolak saat Dirga meminta haknya, kini malah memohon supaya Dirga segera mengambil haknya.

Akhirnya Dirga tak menunggu lama lagi, ia mengangkat sebelah kaki Nadine lalu menenggelamkan diri dalam balutan lembut dari tubuh istrinya tersebut.

“Ohhh…” Nadine mendesah panjang. Pun dengan Dirga yang seakan tak dapat jauh-jauh dari racauannya berupa umpatan-umpatan khas yang keluar begitu saja dari bibirnya secara spontan.

Dirga meraih kedua tangan Nadine, memenjarakan kedua tangan itu ke atas kepala, sedangkan yang di bawah sana tak berhenti bergerak menghujam, mencari kenikmatan untuk diri mereka berdua. Bibir Dirga mencumbu sepanjang rahang Nadine, turun ke leher Nadine, sedangkan kedua tangannya seakan tak ingin melepaskan kedua tangan Nadine yang ia penjarakan di atas kepala wanita tersebut.

Dirga menggeram dalam cumbuannya, ia merasakan Nadine semakin rapat membungkusnya saat wanita itu berada pada puncak kenikmatan, hingga membuat Dirga tak mampu menahan diri lagi untuk mencapai pelepasannya.

Keduanya terengah karena sensasi orgasme yang baru saja melanda. Dirga menunduk, menempelkan keningnya pada kening Nadine, kemudian mencumbu singkat bibir istrinya tersebut yang masih terbuka, terengah karena ulahnya.

“Kamu, luar biasa.” Bisiknya sebelum meraih sabun dan membaluri tubuh Nadine dan juga tubuhnya sendiri dengan busa sabun tersebut.

“Apa- apa setelah ini, lagi?” tanya Nadine dengan wajah polosnya.

Dirga menatap Nadine sebentar, lalu tertawa lebar. “Aku bukan maniak seks, aku akan memberimu waktu istirahat, tenang saja.”

Nadine sedikit tersenyum. Bukan maniak seks? Sejauh ini yang ia kenal dari Dirga hanya bahwa Dirga tidak bisa jauh-jauh dari seks, apa namanya jika bukan maniak seks?

“Aku hanya capek, ingin cepat tidur.”

“Oke, aku akan membirkanmu tidur nyenyak malam ini, tenang saja.” Mendengar itu, Nadine kembali tersenyum. Dan mereka kemudiaan melanjutkan mandi bersamanya tanpa saling memancing gairah satu dengan yang lainnya.

***

Nadine bangun kesiangan, dan itu karena Dirga yan tadi pagi sempat membangunkannya untuk melakukan satu sesi kilat sebelum mereka kembali tertidur pulas lagi. Oh, Nadine benar-benar tak mengerti, sebesar itukah gairah seorang Dirga pada dirinya?

Saat Nadine menanyakan hal tersebut pada Dirga, dengan santai Dirga menjawab jika mereka adalah pengantin baru, jadi sangat wajar jika mereka melakukan hal tersebut kapanpun dimanapun tempatnya.

Oh, jawaban apa itu?

Nadine menggelengkan kepalanya, tersenyum saat melihat Dirga yang masih tertidur pulas dengan wajah polosnya. Lelaki itu tampak seperti bocah kecil dengan tampang polosnya saat sedang tidur seperti saat ini, dan itu membuat jantung Nadine kembali memacu lebih cepat lagi dari sebelumnya.

Nadine akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan Dirga, jika tidak, ia tak akan bisa menahan jemarinya untuk mengusap lembut wajah suaminya tersebut.

Nadine berjalan menuju ke arah dapur, semoga saja ada yang bisa di lakukan di sana, ia tidak mungkin hanya duduk-duduk santai sambil menunggu Dirga bangun, membersihkan kamar Dirga yang berantakanpun tidak mungkin di lakukan saat ini, karena ia tidak mau membangunkan Dirga dan membuat lelaki itu ingin menyentuhnya lagi. Akhirnya Nadine memilih menuju ke arah dapur dan berdoa jika ada pekerjaan yang dapat ia kerjakan di sana.

Sampai di dapur, Nadine di sambut dengan hangat oleh mama Dirga, orang yang kini sudah menjadi ibu mertuanya. Dan ia sedikit terkejut saat mendapati lelaki yang memiliki wajah kembar identik dengan Dirga sedang duduk di salah satu kursi di meja makan.

“Siang, Nadine, masih ingat aku?” sapa lelaki itu dengan lembut,

Ah ya, tentu saja ia ingat. Itu adalah Davit, saudara kembar Dirga yang sudah menikah dan tinggal di Bandung dengan keluarga kecilnya. Sejak kapan Davit berada di sini?

“Siang, Kak.” Nadine menjawab sapaan Davit sambil mengangguk dan dengan sedikit canggung. Entahlah, saat menatap Davit, ia juga merasa jika dirinya sedang menatap Dirga.

“Sayang, kemarilah, ini Nadine, istrinya Dirga.” Davit memanggil seseorang, dan datanglah seorang wanita cantik yang sedang menggendong seorang balita.

Itu pasti istri Davit. Pikir Nadine. Wanita itu datang menghampiri Nadine, menatap diri Nadine dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum dan mengulurkan jemarinya.

“Sherly.” Ucap wanita tersebut dengan lembut.

Nadine menyambut uluran tangan tersebut. “Nadine.” Jawabnya dengan menyunggingkan senyuman lembutnya juga.

“Mereka akan tinggal di sini sampai acara resepsi kalian di laksanakan akhir minggu ini, Sayang, semoga kamu bisa berteman baik dengan kakak-kakak iparmu.” Ucap ibu Dirga pada Nadine. Nadine hanya tersenyum dan mengangguk lembut.

“Apa?! Kenapa lama sekali?!” seruan keras itu seketika membuat semua orang menatap ke arah sumber suara yang berada pada anak tangga paling atas. Ternyata itu Dirga, lelaki itu sudah berdiri di sana dengan ekspresi kesalnya. Kenapa?

-TBC-

Samantha – Bab 8 (Nick Story)

Comments 7 Standard

Samantha

 

Bab  8 (Nick Story)

 

Lima tahun yang lalu…

 

Ethan sibuk, dan itu benar-benar merepotkan aku. Mau tidak mau aku harus mengantar jemput tunangannya, Tiff, yang memiliki sikap sedikit manja. Bukannya tidak mau, tapi aku juga sibuk dengan pekerjaanku sendiri.

Hari ini aku di minta untuk menemani Tiff pergi ke bioskop, menonton film kesukaan gadis itu yang memang sudah lama ia tunggu, dan astaga, menonton benar-benar bukan hobbyku. Alasannya karena aku tidak suka dengan keramaian, yang kedua adalah karena itu adalah film romantis, sungguh, aku tidak suka.

Tiff sendiri sudah seperti adikku, meski sebenarnya usia kami sebaya, dan seharusnya aku mulai membiasakan diri jika dia adalah calon kakak iparku. Tapi tentu saja sikapnya yang manja membuatku selali berpikir jika dia adikku dan aku…..

Cukup!

Aku keluar dari dalam mobil saat mobilku memasuki pelataran rumahnya. Tiff yang tadi sudah berdiri di ambang pintu segera berlari menuju ke arahku dan mengecup lembut pipiku.

“Senang kau bersedia menemaniku.”

Aku mendengus sebal. “Aku sudah menolak, tapi Ethan memohon. Dia ada rapat sialan yang mengharuskan aku menggantikannya untuk menemanimu nonton malam ini.”

“Ayolah, setidaknya kau akan dapat hiburan malam ini.”

“Hiburan? Aku benci nonton.”

“Mulai malam ini, aku akan membuatmun menyukai hal itu. ayo, sebelum telat.”

Dengan ceria Tiff menggandeng lenganku, mengajakku segera masuk ke dalam mobil dan kami segera berangkat menuju ke tempat pertama yang akan kami tuju.

***  

Membosankan. Itulah kesan pertama saat aku keluar dari dalam bioskop. Aku bahkan memilih tidur di dalam sana, sedangkan Tiff sangat menikmati film yang di putar tadi.

“Kau benar-benar bosan di dalam sana tadi?”

“Ya, Tiff, sangat bosan. Ini adalah pertama kalinya aku menonton di bioskop, dan ini benar-benar membosankan.”

“Ayolah, kau tidak perlu berlebihan. Filmnya tadi bagus, kau saja yang tidak menikmatinya.”

“Aku memilih tidur dari pada melihat film menggelikan itu.”

“Hei, itu tidak menggelikan. Itu adalah film romantis,dan semua orang yang sedang jatuh cinta pasti sangat menyukai film tersebut.”

“tapi aku tidak sedang jatuh cinta, Tiff. Jangan samakan aku dengan Ethan.”

“Well, benar sekali. Kau memang berbeda dengan Ethan. Ethan lebih perhatian, penyayang, dan tentunya lebih menghargai perempuan di bandingkan dirimu.”

Aku sedikit kesal. Tentu saja. “Kau hanya belum mengenalku, Tiff.”

“Sudah, aku sudah mengenalmu. Dan kau menyebalkan.”

“Apa maksudmu dengan menyebalkan?”

“Kau menyebalkan karena kau tidak peka terhadap orang yang mungkin saja menaruh hati padamu, dan aku membenci hal itu.”

“Apa? Maksudmu?”

“Lupakan!” Tiff tampak kesal, ia berjalan menjauh, tapi secepat kilat aku meraih pergelangan tangannya, menariknya hingga dia menghentikan langkahnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku dengan menatap mata Tiffany yang entah kenapa kini sudah tampak berkaca-kaca.

“Aku membencimu Nick! Aku membencimu karena kau tidak peka dengan apa yang kurasakan.”

“Apa? Memangnya apa yang kau rasakan?”

“Aku menyukaimu! Apa kau puas?” dua kata itu mampu membuatku membulatkan mata seketika.

Tiffany menyukaiku? Bagaimana mungkin? Tidak! Seharusnya dia tidak boleh mengatakan hal itu, seharusnya dia pendam saja perasaan sialannya itu tanpa mengungkapkannya padaku seperti apa yang sudah kulakukan selama ini.

Dia milik Ethan, dan apapun yang terjadi, aku tidak boleh menyentuhnya.

-TBC-

Samantha – Bab 7 (Ethan story)

Comments 6 Standard

Samantha

 

Bab 7 (Ethan story)

 

Rasa bosan benar-benar membunuhku. Ini entah sudah berapa hari sejak aku tersadar dari koma. Dan semuanya terasa sangat membosankan. Aku hanya dibolehkan untuk berjalan-jalan keluar sebentar, kemudian kembali ke atas ranjangku lagi.

Dokter berkata jika aku tidak di perbolehkan melakukan aktivitas berat apapun, bermain ponsel, maupun menonton televisi, kupikir dokter berlebihan, aku sudah sadar, dan aku sudah sembuh. Aku ingin pulang dan bertemu dengan Samantha, kekasihku. Tapi nyatanya, aku seakan terpenjara di sini.

Tentang Sam, ah ya, wanita itu, aku benar-benar sangat merindukannya. Sam datang di hari pertama aku sadar, tapi setelah itu, dia tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Ada apa? Apa yang terjadi dengannya?

Aku tidak bisa mnenghubunginya, karena dokter saja tidak mengizinkanku untuk menggunakan ponsel. Saat Nick datang mengunjungiku, dan aku meminta untuk menghubunginya, Nick menolak. Entahlah, aku juga bingung dengan Nick, dia tampak berbeda,

Aku dan Nick memang sangat dekat, hubungan kami semakin dekat setelah aku kehilangan Tiffany sekitar empat tahun yang lalu.

Tiff adalah kekasihku, tunanganku sejak aku berusia lima belas tahun. Aku mengenalnya sejak kecil karena dia puteri dari sahabat keluargaku, kemudian kami di jodohkan, dan aku menerimanya. Ya, aku juga menginginkan Tiff menjadi milikku. Tapi sebuah inseden membuat semuanya berakhir.

Nick masuk ke dalam hubungan kami, dan aku tidak sengaja mengetahui hal itu. Aku memutuskan untuk putus dari Tiff, tapi dia tidak ingin. Nick juga memohon padaku untuk memaafkan mereka dan kembali melanjutkan hidup bersama dengan Tiff, tapi bagiku, ini tidak sesederhana itu. mereka sudah berhianat di belakangku, terlebih lagi Nick, dia adikku, dan dia tahu jika Tiff adalah milikku, tapi kenapa dia bermain-main dengannya?

Aku tetap memutuskan hubungan kami, dan Tiff masih tidak terima hingga dia memilih mengakhiri hidupnya.

Terluka? Tentu saja. Bukan hanya aku, tapi Nick juga. Nick bahkan lebih merasa bersalah, karena dialah sumber dari permasalahan kami. Akhirnya aku memilih melupakan semuanya, kembali menjadi kakak yang baik untuk Nick, melupakan Tiffany dan mencoba berjalan ke depan.

Nick sendiri berubah menjadi lebih perhatian terhadapku. Aku tahu jika dia masih merasa bersalah padaku. Dia bahkan rela melakukan apapun demi aku. Demi supaya aku mendapatkan kebahagiaan baru setelah ia menghancurkan kebahagiaan lamaku.

Kadang aku tersenyum melihat Nick, dia sekarang elbih sibuk memikirkanku dari pada dirinya sendiri. Pernah beberapa kali dia mengenalkanku dengan wanita yang jelas-jelas tertarik dengannya, tapi tentu saja aku tidak tertarik dengan wanita-wanita sejenis itu. tipe wanita yang kucari adalah seperti Tiffany, sederhana dan apa adanya.

Lalu aku bertemu dengan Sam, saat aku tak sengaja mampir di cafe tempatnya bekerja. Aku tertarik saat pertama kali aku melihat senyumnya, mata cokelatnya yang menawan, serta kelemah lembutannya. Aku terpana sejak pertama kali kami bertemu, hingga aku memutuskan untuk mengejarnya.

Semuanya terjadi cepat, aku memutuskan bertunangan kembali dengan seorang wanita, aku yakin jika Sam tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu di buat oleh Tiff, aku yakin jika dia tidak akan menghianatiku dengan Nick maupun dengan lelaki lain. Nick bahkan terlihat enggan mengenal Sam saat pertama kali aku mengenalkannya dengan Sam, jadi aku hampir yakin, jika mereka tidak akan menjalin hubungan apapun di belakangku.

Mengingat tentang Sam, lagi-lagi rasa rinduku padanya seakan tak dapat terbendung lagi, astaga, apa yang terjadi dengannya? Terakhir kali aku melihatnya tidak berhenti menangis di kursi sebelah ranjang yang ku tempati. Oh ya, tentu saja dia menangis. Aku sudah meninggalkannya selama dua tahun terakhir, menunda pernikahan kami yang sudah berada di depan mata, Sam pasti sangat sedih akan hal itu. Aku bahkan tidak bisa berpikir bagaimana dia melalui waktu dua tahun terakhir.

Aku menghela napas panjang saat memikirkan tentang Sam. Kenapa dia tidak datang mengunjungiku lagi? Apa dia memiliki kesibukan? Saat pikiranku penuh dengan Sam, aku melihat pintu ruang inapku di buka dari luar. Itu Nick, yang datang mengunjungiku.

“Hai, kau datang?” sapaku pada adik yang usianya hanya berbead tiga tahun dariku.

“Ya.” Hanya itu jawabannya. Aku sedikit mengerutkan keningku. Nick memang terlalu banyak diam sejak setelah aku sadar dari koma, apa ini hanya perasaanku saja? Aku melihat Nick duduk di kursi sebelah ranjangku. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

“Baik, kau sendiri?”

“Aku juga baik, dokter berkata jika lusa kau sudah boleh pulang.”

“Aku ingin pulang besok.” Jawabku cepat.

“Ethan.”

“Nick, aku merasa jika aku di penjara saat berada di sini, aku tidak di perbolehkan membaca majalah, menonton televisi, bahkan menggunakan ponsel saja aku tidak di perbolehkan.”

“Demi kesembuhanmu.”

“Aku sudah sembuh total. Aku hanya ingin pulang dan bertemu dengan Sam.” Aku melihat ekspresi Nick mengeras seketika saat aku menyebut nama Sam. Ada apa? “Ada yang salah, Nick?”

“Tidak.” Jawabnya cepat. “Lebih baik kau fokus dengan kesembuhanmu.”

“Aku yakin jika aku akan segera sembuh jika Sam yang merawatku.” Lagi-lagi Nick terdiam saat aku mengutarakan maksud hatiku. “Ada yang kau sembunyikan dariku, Nick?” tanyaku penuh selidik. Nick berar-benar terlihat aneh, dia seperti sedang menyimpan sesuatu di belakangku.

“Tidak.” Nick kemudian melirik ke arah jam tangannya sebelum ia berdiri dan berpamitan padaku. “Aku kembali dulu, setengah jam lagi ada shooting.”

“Oke.” Lalu aku kembali memanggilnya. “Nick.”

Nick menolehkan kepalanya ke arahku. “ya?”

“Apakah kau bisa menyampaikan salamku pada Samantha? Aku ingin dia menjemputku saat  aku pulang besok.”

Nick terdiam cukup lama sebelum dia mengangguk lalu pergi meninggalkanku. Apa yang terjadi dengannya?

***

Esoknya…

Waktu pulang akhirnya tiba juga, tapi tak ada sedikitpun tanda-tanda jika Sam akan datang menjemputku. Kemana dia? Apa Nick menyampaikan pesanku padanya? Saat ku tanya, Nick hanya diam, seakan ia tidak ingin membahas masalah ini denganku. Ada apa dengannya?

Nick menjemputku sendiri, setelah mengurus semuanya, akhirnya dia mengajakku pulang. Baiklah, jika Sam tidak ingin atau mungkin berhalangan datang menjemputku, maka aku yang akan datang kepadanya.

“Nick, bisakah kau mengantarku ke alamat Sam?”

Nick menolehkan kepalanya kepadaku sebelum kemudian menyalakan mesin mobilnya. “Kau harus banyak istirahat, kita akan pulang.”

“Sialan kau Nick! Aku hanya ingin bertemu dengan Sam. Kau terlihat sedang menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Dia sudah pergi meninggalkanmu.” Nick berkata dengan dingin.

“Apa?!” Nick melajukan mobilnya. “Antar aku ke tempat Sam!” aku menggeram kesal. Nick tidak menjawab, tapi aku tahu jika dia menuruti apa mauku.

***

Kami tiba di rumah Sam. Rumahnya tampak sepi. Apa Sam di rumah? Aku mengetuk pintunya berkali-kali tapi tak ada jawaban. Sam tidak di rumah, aku tahu itu.

Nick berdiri di belakangku dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya, wajahnya tampak mengeras. Ada apa?

“Kita ke tempat kerjanya.”

“Ethan, aku sudah berkata jika Sam sudah pergi.”

“Pergi? Kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu? Beberapa hari yang lalu dia menampakkan dirinya di hadapanku, dan sekarang dia sudah hilang seperti di telan bumi. Kau pikir aku bisa tenang?”

“Dia tidak hilang, dia pergi.”

“Apa maksudmu dengan pergi?”

Wajah Nick kembali mengeras. “Dia sudah meninggalkanmu dengan pria lain.” Secepat kilat aku melayangkan pukulanku pada wajahnya. Meski aku tahu pukulanku lebih lemah dari biasanya, aku tidak peduli. Tidak ada yang bisa menilai Sam seperti itu. apa yang Nick tahu tentang Sam?

“Berengsek kau Nick!” Umpatku keras, sambil kembali meukulnya, lagi dan lagi hingga tubuh Nick terjengkang ke belakang. Nick tidak membalas, dia membiarkan aku memukulinya. Kenapa?

Aku menghentikan aksiku memukuli Nick. Napasku terputus-putus tapi tatapan mataku tak berhenti menajam padanya.

“Kenapa? Kenapa kau tidak membalas pukulanku?”

“Kau masih sakit, aku tidak mungkin membalas pukulanmu.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, aku tahu bukan karena itu.”

“Kau tidak tahu apa-apa, Ethan.”

Secepat kilat aku mencengkeram kerah kemeja yang di kenakan Nick. “Karena aku tidak tahu, maka sekarang, beri tahu aku apa yang kau sembunyikan dariku.” Aku menggeram kesal.

Nick diam, seakan-akan dia mengunci bibirnya agar tidak mengucapkan sepatah katapun di hadapanku.

“Kau tidak akan bicara?” aku mengeratkan cengkeraman tanganku. “Katakan padaku Nick! Apa yang kau tahu!” seruku lagi.

“Lupakan dia, dia meninggalkanmu.” Lagi-lagi Nick mengucapkan kalimat sialan itu hingga membuatku kembali memukulinya.

“Brengsek kau! Katakan padaku yang sebenarnya sialan!” Nick hanya diam ketika aku memukulinya lagi dan lagi. Sial! Aku tahu Nick menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku berharap jika apa yang terlintas dalam pikiranku bukan sebuah kenyataan. Tidak! Nick tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang dulu pernah ia lakukan kepadaku.

***

Kami tiba di rumah dan segera di sambut oleh ibu, dan ibu tampak terkejut dengan apa yang ia lihat. Wajah Nick babak belur dan beberapa bagian masih mengeluarkan darah, aku yakin jika itu yang membuat Ibu terkejut.

“Astaga, apa yang terjadi?” Ibu menghampiri Nick, seakan khawatir dengan keadaan Nick.

“Aku tidak apa-apa Bu.”

“Aku yang memukulinya.” Sahutku.

“Apa? Apa yang kau lakukan, Ethan?”

“Dia menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku tahu jika itu berhubungan dengan Samantha.”

Aku menatap ibu, menilai apa yang tersirat dalam ekspresinya, dan benar saja, ibu juga tampak terkejut dengan apa yang kuucapkan tadi. Ya, aku tahu, mereka menyembunyikan sesuatu dariku, Ibu juga.

“Ethan, kau masih harus banyak istirahat.”

“Aku akan istirahat jika Sam berada di sisiku.”

Ibu kembali menatap ke arah Nick, sedangkan Nick sendiri masih diam dengan ekspresi kerasnya. Sial! Apa yang mereka sembunyikan?

“Bu, tolong, katakan padaku apa yang terjadi?” aku memohon.

“Nick?” Ibu bertanya sambil menatap ke arah Nick, seakan ibu bingung dengan apa yang akan ia jawab.

“Ada apa, Bu?” desakku lagi.

Ibu menatapku dengan tatapan sendunya. “Ethan, Sam-”

“Aku sudah menikahinya.” Nick memotong kalimat ibu, dan jawabannya benar-benar membuatku membulatkan mata seketika.

Aku ternganga mendengar kalimat tersebut, jantungku memacu lebih cepat lagi, emosiku tiba-tiba memuncak. Apa Nick bercanda? Tapi melihat wajahnya sama sekali tidak menunjukkan jika dia sedang bercanda, dan aku tahu, Nick bukan orang yang suka bercanda. Tapi, tapi kenapa dia menikahi Sam? Kenapa dia kembali menghianatiku?

Tidak! Aku tidak boleh kehilangan Sam. Samantha hanya milikku, dan Nick tidak boleh merebutnya!

-TBC-

Samantha – Bab 6

Comments 3 Standard

Samantha

 

Bab 6

 

Aku terbangun saat merasakan hawa dingin menerpa pundak telanjangku. Sebuah lengan masih setia memelukku dari belakang, berada tepat di bawah dadaku. Itu lengan Nick. Dia masih tertidur pulas, napasnya terasa hangat pada tengkuk leherku, dan dadanya terasa panas, menghangatkan tubuhku.

Aku menggeliat, hingga membuatnya mengeratkan pelukan. Kucari telapak tangan Nick, kemudian kubawa telapak tangan besar itu pada perutku. Kuusapkan di sana, dan rasanya sangat nyaman.

Ini adalah pertama kalinya Nick menyentuh perutku, menyentuh bayi kami, meski aku yang menyentuhkannya. Dia tidak pernah ingin mengakui keberadaan bayi kami. Bahkan tadi malam, saat kami bercinta, dia seakan mengingkari keberadaannya. Sebegitu beratnyakah mengakui keberadaannya?

“Apa yang kau lakukan?” suara serak Nick menghentikan pergerakanku.

“Kau sudah bangun?”

“Ya, sejak tadi.”

“Uum, maaf.” Hanya itu yang kuucapkan, entah aku meminta maaf untuk apa, aku sendiri tidak tahu. “Uum, aku, aku hanya ingin kau menyentuhnya.” Tambahku lagi dengan nada lirih.

Ya, aku hanya ingin Nick menyentuhnya, agar dia tahu bahwa dia juga di inginkan, bahwa aku sangat menginginkan melahirkannya dan merawatnya hingga tumbuh besar.

“Siapa?”

“Apa?” aku tidak mengerti apa yang di tanyakan oleh Nick.

“Namanya, apa kau sudah memberi nama?”

Aku menggeleng pelan. “Aku bahkan belum mengetahui jenis kelaminnya, jadi, aku belum bisa menamainya.”

“Kau tidak memeriksakannya?”

Aku hanya menggeleng. “Aku tidak sempat.” Hanya itu jawabanku.

Nick terdiam cukup lama, seakan tidak ingin menanggapi pernyataanku.

“Apa aku boleh menamainya?”

Aku menolehkan kepalaku pada Nick seketika. Apa dia sedang bercanda? Dia sudah bangun sepenuhnya dari tidurnya, kan? Kenapa dia memperlakukanku seperti ini?

“Kalau tidak boleh, bukan masalah, aku hanya-”

“Aku senang jika kau yang menamainya.” potongku cepat.

“Andrea, panggil saja dengan nama itu.”

“Kenapa Andrea?”

“Namanya bisa di gunakan laki-laki atau perempuan, bukankah kau belum mengetahui jenis kelaminya?”

Aku menganggukan kepalaku. “Uum, apa aku boleh menambahkan nama Alexander di belakangnya?”

“Terserah kau saja.”

Aku sedih karena Nick tampak tidak suka dengan apa yang kuinginkan. Dan aku memilih mengakhiri percakapan kami. Kupikir, aku akan menambahkan nama belakangku saja pada nama bayiku nanti. Setidaknya, nama depannya adalah nama pemberian ayahnya. Mengingat itu aku kembali tersenyum.

“Kau tidak ingin bangun?”

Aku menggeleng pelan. “Aku masih lelah.”

“Baiklah, tidur saja lagi, aku akan bangun dan mencarikan sarapan untukmu.”

“Uum, boleh aku meminta sesuatu?”

“Apa?”

“Aku ingin makanan kaleng yang kau masak seperti malam itu.”

“Apa?” Nick tampak terkejut dengan keinginanku. “Kau tidak salah?”

“Apa yang salah? Aku hanya ingin makan itu.”

Nick menghela napas panjang. “Baiklah, akan kubangunkan saat semuanya sudah siap.”

Nick bangkit, mengenakan celananya, lalu pergi menuju ke arah kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti saat aku kembali memanggil namanya.

“Nick.” Nick menolehkan kepalanya padaku. “Terimakasih.” Hanya itu yang mampu kuucapkan.

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya.”  Nick hanya mengangkat sebelah ujung bibirnya, lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkanku. Oh Nick, apa yang terjadi denganmu pagi ini? Sebenarnya apa yang sedang kau rasakan?

***

Nick benar-benar membangunkanku ketika semuanya sudah selesai. Kami lalu sarapan bersama, sarapan dalam diam. Aku juga tidak mempermasalahkan hal itu, karena aku lebih memilih menyantap hidangan nikmat di hadapanku, hidangan yang entah kenapa begitu menggoda selera sejak Nick memasakkannya untukku malam itu.

Nick sendiri hanya membuat secangkir kopi dengan dua sepotong roti isi, dia menyantapnya dengan sesekali melirik ke arahku, sedangkan aku seakan sudah tidak peduli dengan tatapannya. Entah dia menilaiku rakus atau apa, aku tidak peduli.

“Kau suka sekali dengan masakan itu.”

“Aku juga tidak mengerti, yang dalam pikiranku hanya makanan ini yang membuatku berselera dan tidak kembali muntah saat aku memakannya.”

“Muntah?”

Aku menatap Nick sambil menganggukkan kepala. “Sejak hamil, aku kesulitan untuk makan.”

Nick mengangkat sebelah alisnya. “Sulit?” tanyanya.

Aku mengangguk lagi. “Mual muntah seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya, padahal aku selalu merasa lapar, tapi aku selalu tak berselera dan mual saat melihat makanan. Andrea benar-benar nakal.” ucapku sambil mengusap lembut perutku.

“Lalu, kenapa kau masih mempertahankannya?”

Pertanyaan Nick membuatku mengangkat wajah dan menatapnya seketika. apa maksudnya dengan pertanyaan itu? apa dia ingin aku menyerah dan tidak mempertahankan kehamilanku?

“Kau, kau ingin aku membuangnya?”

Nick mengusap rambutnya dengan kasar. “Aku bahkan tidak tahu apa yang kuinginkan saat ini.”

“Nick, kau bertanya kenapa aku masih mempertahankannya, seakan-akan kau ingin aku menyerah dan membuangnya. Apa itu yang kau inginkan?”

“Sam, aku juga bingung dengan apa yang kuinginkan. Kau membuat semuanya menjadi semakin rumit.”

“Aku? Kenapa denganku?”

“Kau memaksaku memilih antara kalian atau kakakku.” Aku ternganga dengan apa yang dikatakan Nick. Dia melimpahkan semua kesahan padaku. Ya, aku tahu, aku memang bersalah.

“Nick, kau bisa melepaskanku, aku akan pergi dengan Andrea tanpa ada yang bisa menemukan keberadaanku lagi, aku tidak akan mengganggumu, kakakmu, atau keluargamu. Kau tidak perlu bertanggung jawab dengan semua ini jika itu membuatmu tertekan dan frustrasi.”

“Kau pikir dengan pergi bisa menyelesaikan masalah? Bagaimana dengan Ethan? Kau pikir dia akan diam saja saat tahu jika kau pergi meninggalkannya?”

“Aku tidak peduli dengannya.”

“Tapi aku peduli!” Nick berseru keras.

Aku menghela napas panjang. Mataku mulai berkaca-kaca, tapi aku mencoba untuk menahan buliran itu keluar dari dalam pelupuk mataku. Kenapa ini terjadi lagi? Pertengkaran ini, rasa sakit ini, kenapa terjadi lagi?

“Kalau begitu, kau bisa memilih kakakmu, kita akan mengikuti rencanamu, aku akan kembali pada kakakmu setelah melahirkan Andrea.” Setelah kalimatku tersebut, aku bangkit dari tempat dudukku kemudian berlari menuju ke kamar. Menagis adalah satu-stunya hal yang ingin kulakukan saat ini. Ya, menangis hingga lelah.

***

Aku baru keluar dari kamar saat sore menjelang. Ternyata Nick sudah tidak ada di apartemen ini, dia kembali meninggalkanku sendiri. Memangnya apa yang ku harapkan? Dia adalah orang yang sibuk, aku tidak bisa mengharapkan dia selalu berada di sisiku saat ini, meski sebenarnya hatiku ingin.

Tentang perselisihan kami tadi, aku bahkan sudah melupakannya, membenci Nick adalah hal terakhir yang kulakukan saat ini. Aku sendiri tidak tahu, jika boleh memilih, aku akan memilih untuk membencinya, tapi nyatanya, aku tidak bisa. Apa ini ada hubungannya dengan kehamilanku?

Kuusap lembut perutku sembari berjalan menuju ke arah dapur, aku lapar. Kubuka lemari pendingin, dan hanya ada biskuit di sana.

“Baiklah Andrea, kita akan memakan biskuit ini sambil menunggu Daddy pulang.” Aku tersenyum saat sadar apa yang sudah aku katakan. Daddy? Pulang? Oh, sadarlah Sam. Nick tidak akan ingin di panggil Daddy oleh Andrea, dan lelaki itu tidak akan pulang kemari.

Aku mengenyahkan semua pikiran-pikiran buruk di kepalaku yang membuat suasana hatiku memburuk. Lebih baik aku duduk di depan televisi dan menonton film atau serial romantis.

Akhirnya aku memencet tombol on pada remote televisi, dan pada saat bersamaan, wajah Nick terpampang jelas pada layar datar di hadapanku.

Astaga, aku bahkan lupa jika Nick juga membintangi sebuah serial Tv yang tayang pada sore hari seperti saat ini, dan ini adalah waktu dimana serial televisi itu di putar. Mataku terpaku menatap sosok itu, sosok tampan yang kini membuat jantungku tak berhenti berdegup kencang hanya karena melihatnya.

Jika boleh jujur, jauh sebelum aku mengenal Ethan, aku sudah mengidolakan sosok Nick. Saat itu, dia masih sebagai model pria  papan atas, lalu karirnya mulai menanjak ketika dia membintangi berbagai macam film yang sukses di pasaran. Tampangnya yang rupawan serta bentuk tubuhnya yang proposional membuat namanya semakin semakin melambung dan memiliki banyak sekali penggemar di kalangan wanita. Nick menjadi aktor New York yang paling di inginkan saat itu, dan aku sangat menggemari semua film maupun serial tv yang ia bintangi.

Lalu aku mengenal Ethan, aku tidak tahu apa yang dia lihat dariku, berawal ketika dia menjadi pelanggan setia di cafe tempatku bekerja, kemudian kami berkenalan ketika aku cukup lama menunggu taksi melintas di depan cafe tempatku bekerja. Kami semakin dekat dan kami memutuskan menjalin hubungan yang lebih serius lagi. Sejak saat itu, Ethan mengenalkanku dengan Nick. Sungguh, sedikit terkejut saat tahu jika Nick yang saat itu menjadi idolaku adalah adik dari Ethan.

Sikapnya saat itu kurang menyenangkan. Ya, aku cukup tahu, dia aktor papan atas yang tentunya harus menjaga imagenya. Rasa kagumku pada Nick akhirnya luntur sedikit demi sedikit saat aku mengetahui sikap buruknya, seperti bergonta-ganti pasangan, enggan menyapa atau bahkan senyum, dia sombong, dan banyak lagi sikapnya yang menyebalkan yang membuatku berhenti mengidolakannya.

Tapi kini, semuanya seakan kembali seperti dulu, aku kembali mengidolakannya meski aku tahu betapa banyak dia menyakitiku. Aku menginginkannya, meski aku sadar jika dia sama sekali tidak menginginkanku berada di sisinya.

Aku tidak berhenti menatap lacar kaca di hadapanku tersebut, adegan demi adegan di mainkan oleh Nick dengan begitu baik dan sempurna, hingga tiba saatnya Nick beradegan mesra dengan lawan mainnya, dan aku merasa tesakiti.

Nick mencium wanita itu seakan penuh dengan perasaan, seakan itu sangat natural, bukan hanya akting. Apa mereka ada hubungan di belakang layar? Astaga, apa yang sedang kupikirkan? Nick tidak akan menjadi seperti sekarang ini jika aktingnya tidak memukau seperti itu, jika aktingnya tidak terlihat real seperti itu. harusnya aku mengerti, tapi, entah ini pengaruh hormon atau apa, aku cemburu melihat adegan itu.

Aku memilih mematikan layar tersebut, karena nyatanya hatiku tidak sanggup melihat kemesraan Nick dengan wanita lain meski itu hanya di dalam layar televisi. Dengan spontan, aku meraih telepon, dan entah kenapa ingin sekali rasanya aku menghubungi Nick, menanyakan keberadaan lelaki itu sekarang, menanyakan sedang di mana, dengan siapa, dan lain sebagainya.

Telepon di angkat setelah deringan kedua, dan itu adalah perempuan, suaranya sama dengan kemarin. Apa hubungan wanita itu dengan Nick?

“Dimana Nick?”

“Ini siapa?” wanita itu berbalik bertanya.

“Harusnya aku yang bertanya, kau siapa? Kenapa selalu kau yang mengangkat telepon suamiku?”

“Sam? Jadi ini kau, Sam?”

“Berikan teleponnya pada Nick.”

“Dia sibuk.”

“Aku tidak peduli! Aku hanya ingin mendengar suaranya!” seruku sedikit lantang. Oh, aku benar-benar membenci wanita ini.

Cukup lama aku tidak mendengar balasan dari ucapanku, tapi aku sedikit mendengar percakapan seseorang yang ku yakini adalah Nick dengan perempuan tersebut.

“Halo.” Itu Nick, dan jantungku kembali berdegup kencang hanya karena mendengar suaranya. Apa yang terjadi denganku?

“Nick, kau di mana?”

“Aku kerja, apa yang terjadi? Ana berkata jika kau terdengar marah.”

“Ana?”

“Ya, Ana, dia managerku yang tadi mengangkat telepon darimu.”

“Ohh.” Sungguh, aku merasa menjadi orang yang bodoh karena marah-marah tidak jelas. Astaga apa yang sudah kulakukan?

“Ada apa Sam?”

“Aku, uum, aku lapar.” Lagi-lagi aku merasa bodoh. Lapar? Apa yang sedang kukatakan?

“Lapar? Sam, kau bisa menelepon makanan cepat saji, atau memasak sesuatu.”

“Uum, aku ingin kau yang memasakkanku.”

“Apa?” Nick terdengar terkejut dengan apa yang kukatakan. “Sam, aku kerja, aku tidak bisa pulang pergi sesuka hatiku.”

“Baiklah.” desahku. Aku tidak suka jika Nick mementingkan hal lain dari pada aku, dan dari mana datangnya sikap manja ini? Oh, ini gila.

“Kau bisa memesan makanan dahulu, jam delapan aku pulang.”

Senyumku mengembang seketika saat mendengar ucapan Nick. “Kau pulang ke sini?”

“Ya, tunggu saja.”

Aku tersenyum lebar, sebelum kemudian menutup sambungan telepon kami. Nick akan ke sini, Nick akan datang kembali padaku. Dan aku tak bisa mencegah rasa bahagia yang membuncah di hatiku.

***

Sepanjang sore, aku menghabiskan waktuku di dalam dapur, memasak aneka masakan yang akan menjadi menu makan malamku bersama Nick nanti malam. Ya, meski sesekali aku mual saat mencium aroma bawang, tapi aku tetap senang, mengingat Nick akan pulang lagi ke apartemen ini malam ini.

Semuanya sudah siap, aku tidak menghiraukan rasa lelah yang kurasakan karena berkutat di dapur sesore ini, yang kupikirkan hanya bagaimana caranya membuat Nick betah tinggal di apartemen ini denganku.

Setelah selesai, aku lekas membersihkan diri dan berdandan secantik mungkin. Ya, ingin terlihat cantik di matanya, meski sebenarnya aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan teman-teman modelnya, atau teman-teman kencannya. Aku tidak peduli, nyatanya, Nick adalah milikku, ayah dari bayi yang sedang kukandung.

Kuusap lembut perutku sambil tersenyum mengingat kebersamaanku dengan Nick kemarin malam. Apa, nanti malam kami akan melakukannya lagi? Astaga, pipiku memanas hanya karena membayangkannya. Apa ini? Kenapa aku berpikir terlalu jauh? Nick bermalam di apartemen ini saja, aku sudah sangat senang, apa lagi jika dia menyentuhku kembali seperti kemarin.

Kubuka lemari pakaianku, lalu mencari-cari pakaian yang menurutku cukup menarik, dan pilihanku jatuh pada gaun berwarna biru tua dengan pundah yang sedikit terbuka. Apa aku berlebihan jika mengenakan gaun ini? Sepertinya tidak.

Akhirnya aku mulai mengenakannya, dan bersyukur sekali karena gaun ini masih muat kukenakan meski perut, dada dan pinggulku lebih besar dari ukuran normalku karena kehamilan yang sedang kualami.

Aku melirik ke arah jam di nakas, menunjukkan pukul tujuh, kemudian aku memutuskan segera merias diri secantik mungkin. Aku ingin Nick terkesan dengan malam ini, dan aku ingin hubungan kami membaik.

Setelah kurasa sudah cukup cantik, aku memilih keluar dari kamar dan menyiapkan apa yang kumasak tadi sembari menunggu kedatangan Nick. Bukan makanan special, dan aku juga tidak yakin jika masakan ini adalah makanan kesukaan Nick. Aku tidak cukup mengenalnya, dan aku tidak tahu apa yang dia suka atau apa yang dia tidak suka. Semoga saja Nick menyukainya.

Melirik kembali ke arah jam dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul delapan, jantungku kembali berdebar-debar, memompa lebih cepat dari sebelumnya, jemariku terasa dingin, dan perutku sedikit mulas. Aku merasakan perasaan seperti orang yang akan melakukan kencan pertama, oh, padahal kami tidak akan kencan. Terlebih lagi, Nick hanya akan ke sini, kami tidak akan kemanapun.

Akhirnya aku memilih duduk di sofa depan televisi, menyalakan televisi sambil kembali menunggu Nick untuk datang.

Satu jam, dua jam, hingga entah sudah berapa jam aku menunggunya, kulirik jam di dinding, dan ternyata sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Nick terlambat, atau bahkan mungkin dia tidak menepati janjinya untuk pulang ke apartemen ini. Apa yang terjadi? kenapa dia membuat janji jika dia tidak dapat menepatinya?

Mataku berkaca-kaca seketika, hatiku terasa sakit, aku sangat kecewa. Seperti di terbangkan ke awan kemudian di hempaskan begitu saja ke tanah, bagaimana mungkin Nick melakukan ini terhadapku?

-TBC-

Lovely Wife – Chapter 6 (Seks atau Bercinta?)

Comments 4 Standard

Lovely Wife

 

Chapter 6

-Seks atau bercinta?-

 

Dirga duduk di pinggiran ranjang dengan dengan jemari yang sudah mengepal. Ia memang marah karena Darren memukulnya, tapi ia lebih marah lagi saat melihat Darren mengajak Nadine pergi lalu mencium habis-habisan wanita itu.

Sial!

Tadi, setelah mengendalikan emosinya, ia menyusul kemana perginya Darren dan juga Nadine, lalu ia melihat Karina yang tampak mematung menatap sebuah pemandangan, dan pada saat itu pulalah ia juga melihat pemandangan tersebut.

Nadine dan Darren saling berciuman, seperti mereka berdua tengah melepas kerinduan, seperti mereka berdua terlihat tidak dapat terpisahkan dengan apapun. Sedalam itukah perasaan keduanya?

Lamunan Dirga buyar saat mendapati pintu kamarnya yang di buka kemudian di tutup kembali oleh seseorang. Itu Nadine yang baru kembali masuk ke dalam kamarnya. Dirga mengangkat wajahnya seketika dan mendapati Nadine yang sudah berdiri tak jauh dari pintu kamar mereka. Mata wanita itu masih basah, seperti orang yang baru saja menangis.

Menangisi Darren? Sial! Tentu saja.

Dirga berdiri seketika, sorot matanya menajam, seakan mampu membunuh siapapun yang tengah menatapnya. Dengan spontan Nadine menundukkan keplanya, meremas kedua belah telapak tangannya saat Dirga berjalan pelan menuju ke arahnya.

“Kak, aku minta maaf.” Entah kenapa Nadine tiba-tiba mengucapkan kalimat itu.

“Maaf? Untuk apa? Karena sudah berciuman dengan si berengsek Darren?”

Nadine mengangkat wajahnya seketika. Dirga berdiri tepat di hadapannya dengan ekspresi mengerikan, lelaki itu tampak sangat marah, secara spontan Nadine melangkah mundur, tapi hanya dua langkah, punggungnya sudah menempel pada pintu di belakangnya.

Tanpa di duga, Dirga malah melangkah mendekat, memenjarakan tubuh Nadine di antara kedua tangannya.

“Kak.”

“Kamu sudah membuat Karina menangis.” Dirga menggeram dalam ucapannya.

“Apa?” Nadine bingung dengan ucapan Dirga.

Dirga mencengkeram dagu Nadine, mendongakkan wajah wanita tersebut ke atas, lalu kembali menggeram di sana “Dengar, aku akan menghukummu setiap kali kamu membuat adikku tersakiti.”

“Aku nggak ngerti-”

Belum juga Nadine selesai dengan kalimatnya, kalimat tersebut di potong oleh bibir Dirga yang menyambar bibirnya dengan begitu kasar. Nadine mencoba mendorong Dirga, tapi tidak bisa, tubuh lelaki itu terlalu besar dan terlalu kuat untuk ia dorong, akhirnya dengan spontan, Nadine menginjak keras-keras kaki Dirga hingga membuat Dirga melepaskan pagutan bibir mereka seketika.

Dirga terpincang-pincang sambil mengaduh, mundur, menjauh dari Nadine. “Bangsat! Perempuan sialan!” Dirga benar-benar tampak marah. Matanya memerah seakan membara dengan kemarahan yang sudah menguasai dirinya, wajahnya mengeras, serta ekspresinya benar-benar tampak mengerikan untuk Nadine.

Dengan spontan, Nadine mencoba membuka pintu di belakangnya, tapi belum juga pintu tersebut di buka, Dirga sudah meraih pinggangnya, lalu ia merasakan tubuhnya melayang di udara. Dirga membanting keras-keras tubuh Nadine di atas ranjang, dan Nadine merasakan punggungnya yang terasa sakit karena bantingan keras dari Dirga.

“Mau bermain-main? Mari kutunjukkan bagaimana permainan yang kusukai.”                Secepat kilat Dirga menjatuhkan diri di atas tubuh Nadine lalu mencumbu bibir Nadine dengan begitu kasar. Nadine meronta dengan cumbuan yang di berikan oleh Dirga, tapi ia tak dapat berbuat banyak.

Dirga semakin menjadi, ia merobek paksa pakaian yang di kenakan Nadine hingga tampaklah kulit pundak Nadine yang putih mulus di hadapannya, tanpa banyak bicara lagi, Dirga mendaratkan bibirnya di sana. Bukannya mengecup lembut, atau mencumbu dengan penuh gairah, melainkan menggigit kasar di sana.

Nadine mengerang kesakitan, tidak suka dengan apa yang di lakukan Dirga, itu menyakitinya.

“Jangan.” Nadine meronta tapi Dirga seakan tidak mempedulikan kesakitan yang di rasakan oleh Nadine. Ia melanjutkan aksinya, melucuti pakaian Nadine dengan kasar, dan ketika tubuh mereka berdua sudah sama-sama polos, Dirga melakukan penyatuan sesuka hatinya tanpa mempedulikan Nadine yang belum siap menerimanya.

Nadine menangis, tapi Dirga tidak peduli. Sesekali jemarinya mencakar dada Dirga, mencoba melawan lelaki tersebut, tapi dengan cekatan Dirga meraih pergelangan tangan Nadine, memenjarakannya tanpa menghentikan pergerakannya.

Dirga akhirnya mencapai pelepasan pertamanya, tapi tak berhenti sampai di situ saja, ia kemudian meraih pakaian Nadine yang tadi di robeknya, membalik tubuh Nadine hingga memunggunginya, lalu mengikat pergelangan tangan Nadine di belakang tubuh wanita tersebut. Nadine sendiri sudah tidak mampu melawan lagi, Dirga begitu kuat dan kasar, yang bisa Nadine lakukan hanya pasrah.

Dirga kembali melakukan penyatuan dengan posisi Nadine yang membelakanginya hingga membuat Nadine kembali mengerang karena penyatuan yang tiba-tiba tersebut. Lelaki itu bergerak dengan cepat, dengan kasar, sedangkan tangannya tak berhenti menarik ikatan tangan yang mengikat kedua pergelangan tangan Nadine.

Nadine mengerang, meronta. Ia merasa tersiksa dengan apa yang di lakukan Dirga, ia merasa jika kini dirinya menjadi budak seks dari lelaki tersebut. Ini bukan bercinta, ini adalah sebuah seks, seks yang sama sekali tidak memberinya kenikmatan seperti yang kemarin ia rasakan. Bagaimana mungkin Dirga tega melakukan hal ini padanya? Memperlakukannya seperti seorang pelacur yang hanya berfungsi memuaskan hasrat leleki tersebut di atas ranjang?

***

Entah sudah berapa kali Dirga mengalami pelepasannya, entah berapa kali juga Nadine memohon pengampunan pada lelaki tersebut, hingga Dirga merasa sudah cukup lalu pergi begitu saja meninggalkan Nadine sendirian di kamarnya.

Kini, meski sudah hampir tengah malam, lelaki itu belum juga kembali ke kamar mereka, Nadine juga belum dapat memejamkan matanya karena masih sibuk menangisi apa yang terjadi dengannya.

Dirga sudah seperti memiliki dua sisi yang berbeda. Sisi yang begitu lembut seperti kemarin dan tadi pagi, tapi satu sisi lain, lelaki itu tampak begitu mengerikan hingga membuat Nadine takut. Tapi Nadine tidak ingin takut, jika ia takut, maka Dirga akan selalu menginjak-injak harga dirinya.

Akhirnya Nadine mencoba bangkit, tubuhnya benar-benar terasa remuk, dan bukan hanya tubuhnya, tapi entah kenapa hatinya juga, ia tidak suka dengan apa yang sudah di lakukan Dirga padanya tadi.

Dengan langkah tertatih, Nadine menuju ke arah kamar mandi, membersihkan diri, mengganti pakaiannya, lalu mencoba mencari Dirga. Ya, ia akan mencari lelaki tersebut, ia tidak akan membiarkan Dirga meninggalkannya dalam keadaan marah seperti tadi. Apa yang akan di lakukan lelaki itu di luar sana dalam keadaan marah?

Nadine takut jika Dirga melakukan hal nekat. Bagaimanapun juga, Nadine sudah mengenal Dirga sejak lama. Nadine ingat jika dulu Dirga dan beberapa temannya bahkan sempat di penjara karena melakukan pengeroyokan pada anak orang hingga babak belur karena anak tersebut mencoba menggoda pacar Dirga. Dan Nadine tidak ingin hal yang terjadi saat Dirga masih remaja itu terulang lagi saat ini.

Setelah mandi, mengganti pakaian, serta merapikan penampilannya, Nadine lantas keluar dari kamarnya. Ia mengesampingkan rasa sakit di tubuhnya, ia mencoba menghilangkan rasa sedih di hatinya, bagaimanapun juga, Nadine merasa bersalah karena tadi sempat berciuman dengan Darren padahal kini ia sudah bersuami.

Perasaannya pada Darren memang belum sepenuhnya menghilang, tapi Nadine akan berusaha melupakan lelaki itu. Darren harus bahagia bersama dengan Karina, begitupun dengan Karina. Mungkin ini memang menjadi jalan terbaik untuk mereka semua. Sedangkan dirinya kini akan berusaha menerima status barunya sebagai istri dari seorang Dirga Prasetya. Bisakah?

Tak terasa, kaki Nadine sudah berhenti pada lobi hotel. Ia bingung harus mencari Dirga kemana. Apa lelaki itu keluar? Atau masih berada dalah hotel ini? Akhirnya Nadine memilih mencari Dirga di dalam hotel, mungkin di restoran atau di kafe hotel. Jika masih tidak ketemu, Nadine akan mencarinya keluar.

Setelah mencari di dalam restoran, dan tidak mendapati Dirga di sana, Nadine melangkahkan kakinya menuju ke arah kafe hotel yang letaknya tepat di sebelah restoran tersebut. Kafe itu khusus untuk minum-minum, dan bersenang-senang. Suasananya lebih mirip seperti kelab malam, sedikit remang-remang, dan penuh dengan perempuan berpakaian minim. Hanya saja, kafe ini lebih tenang.

Nadine masuk ke dalam kafe tersebut, mengedarkan seluruh pandangannya, mana tahu dia bertemu dengan Dirga. Dan benar saja, tak lama, pandangannya tertuju pada seseorang yang tengah asik meminum minuman keras di bar dengan dua orang wanita di sisi kanan dan kirinya.

Itu Dirga, dan lelaki itu sesekali mencumbu wanita yang berada di sebelahnya. Nadine meraba dadanya yang tiba-tiba terasa sesak saat melihat pemandangan tersebut. Apa ia cemburu? Mungkin saja.

Dan astaga, apa ini tandanya jika Dirga sudah bosan terhadapnya hingga lelaki itu mencari wanita lain sebagai pelampiasannya? Secepat inikah Dirga bosan padanya? Dengan langkah pasti Nadine menghampiri Dirga dan kedua wanita tersebut.

Nadine sempat menghentikan langkahnya dan terpaku di belakang Dirga saat mendengar ocehan yang keluar dari suaminya tersebut.

“Aku akan membayar kalian berapapun, berapapun yang kalian inginkan jika kalian mampu membuatku tegang bergairah.”

“Apa? Lalu kenapa kamu memanggil kami ke sini jika kamu belum tegang dan bergairah?” tanya seorang wanita yang berada di sisi kanan Dirga.

“Sialan! Perempuan itu yang mematikan gairahku pada wanita lain selain dirinya!” Dirga berseru keras. Lelaki itu benar-benar tampak sangat mabuk dan tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Oh, entah sudah berapa lama Dirga berada di sana, dan entah sudah berapa banyak botol minuman yang di habiskan lelaki tersebut.

“Perempuan? Perempuan siapa?” tanya wanita itu lagi.

“Perempuan sialan yang kunikahi kemarin. Bangsat!” Dirga kembali menegak minumannya. Meski Dirga tak berhenti mengumpat dan menyebutnya sialan, tapi Nadine sedikit tersenyum mendengar pernyataan Dirga tadi.

Nadine melanjutkan langkahnya dan kini berhenti tepat di sebelah Dirga, lalu mencoba menggeser wanita yang duduk di sebelah kanan Dirga.

“Hei, apa yang kamu lakukan? Kamu siapa?” si wanita itu tampak kesal dengan Nadine yang tiba-tiba mengeser tempat duduknya.

Nadine malah menyunggingkan senyumannya untuk wanita tersebut. “Saya istrinya, perempuan sialan yang baru saja dia ucapkan.” Mata si wanita itu membulat seketika. “Kita balik, Kak.” Nadine mencoba mengajak Dirga untuk kembali ke kamar mereka.

“Tidak bisa begitu, suami kamu sudah menghubungi kami untuk memuaskannya malam ini.”

Nadine tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dadanya terasa sesak saat mendengar ucapan wanita tersebut. Dirga mencari kepuasan dari wanita lain, itu tandanya ia tidak mampu memuaskan suaminya tersebut. Oh, jika Nadine memiliki uang, maka saat ini juga ia akan membayar kedua wanita itu hingga keduanya mau angkat kaki dari hadapan mereka, tapi sayangnya…

Nadine akhirnya memberanikan diri morogoh saku belakang celana Dirga, mencari-cari dompet lelaki tersebut.

“Apa yang kamu lakukan?!” Dirga menggeram setengah sadar. Tapi Nadine tidak menjawab. Ia menemukan apa yang ia cari. Membuka dompet tersebut dan mengeluarkan semua uang tunai yang ada di dalamnya.

“Terima ini, suami saya tidak butuh kepuasan dari wanita lain.”

“Apa? Hei, kamu siapa berani bayar kami? Lagi pula bukan segini tarif kami semalam.” Si wanita di sebelah kanan tampak sangat tidak terima.

“Saya tidak punya uang tunai lagi, jika kalian ingin lebih, silahkan datang ke kamar kami besok pagi. Kamar 305.” Setelah mengucapkan kalimat yang di buatnya seketus mungkin itu, Nadine meraih lengan Dirga, mengajak lelaki itu berdiri dan memapahnya keluar dari dalam kafe tersebut.

Oh, Nadine bahkan mengenyahkan tubuhnya yang gemetaran. Ia tidak pernah melakukan hal seperti tadi. Dulu, ia pernah memergoki Garry, pacar pertamanya yang beselingkuh dengan gadis lain, tapi ia cukup meninggalkan lelaki itu, tidak perlu membahasnya atau bahkan bertatap muka secara langsung seperti tadi dengan wanita perebut kekasihnya itu. tapi tadi, entah kekuatan apa yang menguasai dirinya hingga memiliki keberanian seperti tadi, menampilkan kesombongannya yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya.

Sibuk dengan pikiran dan perasaannya sendiri, tanpa terasa sampailah mereka pada kamar hotel mereka. Nadine masih memapah tubuh Dirga yang terasa sangat berat. Lelaki itu sudah meracau tak karuan. Suaranya seperti sebuah geraman hingga membuat Nadine tidak mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan lelaki tersebut.

Nadine merebahkan tubuh Dirga di atas ranjang, membuka sepatu lelaki tersebut, lalu membuka baju yang di kenakan Dirga, tapi ketika jemarinya baru menyentuh kancing baju Dirga, pergelangan tangannya di cekal erat oleh tangan Dirga.

“Apa yang kamu lakukan?” Dirga menggeram, matanya memerah seakan membara karena kemarahan yang sedang merayapi dirinya.

“Kamu harus ganti baju, aku nggak suka bau parfum wanita itu menempel di baju Kak Dirga.”

“Kenapa kamu mengusir mereka, Hah?!”

“Aku nggak suka.” Nadine menjawab dengan tenang dan  datar. Kemudian secepat kilat tubuhnya di tarik dirga hingga ia jatuh ke atas pelukan lelaki tersebut.

“Kalau kamu nggak suka, maka kamu harus menggantikan mereka untuk memuaskanku.”

Hanya kepuasan? “Aku akan menggantikan mereka.” Nadine masih menjawab dengan tenang tanpa Emosi. Dan secepat kilat Dirga menyambar bibir Nadine yang memang sudah berada sangat dekat dengan bibirnya. Ciuman yang sangat kasar, sama seperti apa yang di lakukan Dirga tadi sore padanya. Oh, apa Dirga akan menyakitinya lagi? Seperti tadi sore? Apa ia masih bisa bertahan setelahnya?

***

Dua hari kemudian, mereka kembali ke Jakarta. Setelah malam itu berakhir, semuanya kembali seperti semula, kecuali sikap Dirga yang semakin acuh tak acuh pada Nadine, seakan lelaki itu tak lagi memikirkan apa yang terjadi dengan Nadine. Nadine sempat berpikir jika Dirga masih marah padanya karena ia berciuman dengan Darren dan membuat Karina menangis, apa sedalam itukah rasa sayang Dirga pada adiknya? Padahal lebih dari itu, Nadine ingin Dirga marah karena memang tidak suka melihat hubungannya dengan Darren, bukan karena Karina.

Mereka tetap melakukan seks di hari-hari terakhir di Bali, tapi hanya seks, bukan bercinta seperti malam pengantin mereka saat itu. dan entah kenapa Nadine kecewa dengan hal itu. Dirga juga bersikap tidak menyenangkan padanya, lelaki itu tidak melemparinya dengan tatapan-tatapan menggoda seperti biasanya, seaka lelakin itu sudah bosan dengan hubungan mereka. Secepat itukah? Oh tidak! Nadine tidak akan membiarkan Dirga bosan secepat ini.

“Kak, apa aku boleh pulang dulu? Aku mau membereskan pakaianku.” Nadine bertanya saat setelah mereka keluar dari bandara dan masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput keduanya.

Keluarga Nadine dan kedua orang tua Dirga sudah pulang lebih dulu sehari sebelumnya, hingga kini hanya menyisakan Dirga dan Nadine yang baru pulang dari Bali.

“Ya, aku akan mengantarmu pulang dulu.” Hanya itu jawaban Dirga.

Nadine tidak ingin mengakhiri percakapan mereka. “Uum, apa aku masih boleh bekerja di kantor?”

Dirga menolehkan kepalanya pada Nadine dan mengangkat sebelah alisnya. “Untuk apa? Aku akan memberimu uang belanja, jadi kamu tidak perlu lagi kerja di kantor.”

Oh, ternyata sikap arogan lelaki ini sudah kembali muncul, tapi Nadine suka, setidaknya Dirga tidak menanggapi perkataannya secuek tadi.

“Bukan tentang uang, tapi aku akan bosan di dalam rumah terus tanpa melakukan pekerjan apapun.”

Dirga sedikit menyunggingkan senyuman miringnya. “Kamu nggak akan bosan, lagi pula, akan banyak pekerjaan yang akan menantimu.” Nadine sedikit mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang di katakan Dirga, tapi di sisi lain ia senang melihat Dirga yang sepertinya sudah kembali seperti sebelumnya.

***

Sampai di rumah Nadine, Dirga masuk ke dalam rumah sederhana tersebut dan di sambut oleh keluarga barunya. Keluarga Nadine sederhana dan sangat ramah padanya. Ini adalah pertama kalinya ia bertandang ke rumah Nadine. Dulu meski keluarga mereka kenal dekat, tapi hanya Nadine yang sering bermain ke rumahnya untuk bertemu dengan Karina, sedangkan ia sama sekali tidak pernah berkunjung ke rumah Nadine. Bahkan saat melamar Nadine saja dan memberitahukan jika ia akan menikahi Nadine, Dirga menghubungi keluarga Nadine hanya lewat telepon saja.

Nadine mengajak Dirga masuk ke dalam kamarnya, kamar yang tidak seberapa besar, tapi cukup bersih dan rapi. Dirga menatap ke segala penjuru ruangan tersebut, dan untuk pertama kalinya ia merasa nyaman di tempat asing, padahal itu bukan kamarnya sendiri.

Dengan santai Dirga berjalan mendului Nadine dan melemparkan dirinya di atas ranjang Nadine. Nadine menatapnya dengan sedikit gugup karena ini pertama kalinya ia melihat lelaki yang melemparkan diri ke atas ranjangnya.

“Kamarmu nyaman.” Dirga berkomentar. Ya, tentu saja. Dirga mengingat kamarnya sendiri yang kini mungkin sudah menjadi sarang laba-laba. Ia adalah sosok yang pemalas, tidak pernah sekalipun mebersihkan kamarnya sendiri, dan suka seenaknya sendiri menaruh barang-barangnya. Ia juga tidak suka jika ada orang asing yang membereskan kamarnya, kecuali Karina, sedangkan kini, Karina sudah menikah dan tinggal dengan Darren selama lebih dari dua minggu terakhir, bisa di bayangkan bagaimana berantakannya kamar Dirga saat ini.

“Kalau kak Dirga mau, kak Dirga bisa istirahat di sini sebentar selama aku membereskan pakaianku.”

Dirga menghela napas panjang lalu mengangkat kakinya ke atas ranjang Nadine. “Oke, aku tidur sebentar.” Dirga melipat kedua tangannya di bawah kepalanya, lalu mulai memejamkan mata, sedangkan Nadine hanya bisa tersenyum menatap ke arah Dirga dan memilih membereskan barang-barang yang akan ia bawa ke rumah Dirga.

Cukup lama Nadine membereskan apa yang ia perlukan hingga semuanya sudah selesai dan siap, tak terasa hari juga sudah mulai sore, tapi Dirga seakan belum ingin bangun dari tidur nyenyaknya. Nadine akhirnya memilih menghamnpiri Dirga dan mencoba membangunkan lelaki itu, tapi saat ia menghampirinya, Nadine hanya mampu mengamati Dirga yang masih tampak pulas dan tak bergerak.

Jemari Nadine terulur begitu saja mengusap alis Dirga yang tampak sangat tebal dan membuat lelaki itu tampak begitu menawan, kemudian jemarinya turun, mengusap pipi Dirga yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus, apa lelaki ini lupa bercukur tadi pagi? Kemudian tanpa sadar jemarinya merayap menuju ke arah bibir Dirga, bibir yang malam itu tak berhenti mencumbunya dengan sangat mesra.

Pada saat bersamaan, Nadine merasakan pergelangan tangannya di cekal oleh Dirga, lalu mata lelaki itu membuka seketika.

“Uum, aku, aku sudah selesai.” Nadine berkata dengan gugup. Tak menyangka jika Dirga akan terbangun saat ia memandangi lelaki tersebut dengan tatapan kagumnya.

“Kenapa tidak membangunkanku?”

“Uum, aku, aku-”

Dirga sedikit tersenyum miring, “Terlalu sibuk memandangiku?”

Pipi Nadine merona seketika. Dirga benar-benar sangat terang-terangan dengan apa yang ia pikirkan, dan Nadine suka saat Dirga sudah kembali bersikap seperti ini padanya, bersikap menggoda, membuatnya memerah, bukan seperti dua hari terakhir yang hanya cuek dan acuh tak acuh padanya.

“Uum, ibu memasak makan malam untuk kita, jadi sebelum kita pergi, kuharap kita makan malam di sini bersama ibu dan ayah sebentar.” Nadine tidak menjawab pertanyaan Dirga malah berbicara tentang hal lain agar kegugupan segera menghilang darinya dan pipinya berhenti merona-rona.

Jemari Dirga terulur mengusap lembut pipi Nadine. “Pipimu merah, membuatku gemas ingin menggigitnya.” Dirga berkata dengan suara seraknya, dan Nadine tahu, jika lelaki itu sudah mengeluarkan suara seraknya, berarti lelaki itu menginginkan sesuatu darinya.

Apakah seks? Atau bercinta?

“Kita tidak bisa melakukannya di sini?”

“Kenapa?”

“Aku akan menjerit karena kekasaranmu.” Nadine berkata terang-terangan mengingat dua hari terakhir mereka hanya melakukan seks yang kasar hingga membuat Nadine menjerit kesakitan setiap kali Dirga melakukannya.

“Aku tidak akan kasar.”

Nadine tidak menjawab, matanya terpaku pada mata Dirga yang menatapnya dengan tatapan mendamba.

“Hukumanmu sudah berakhir, sekarang kita akan mulai lagi dari awal.” Lanjut Dirga lagi.

“Hukuman?” Nadine tidak mengerti apa yang di katakan Dirga.

“Ya, setiap kali kamu melakukan kesalahan, aku akan menghukummu seperti dua hari terakhir. Aku akan menampilkan sisi burukku padamu seperti kemarin.”

Nadine bergidik mendengar pernyataan Dirga. Oh, ia bahkan masih merasakan bagaimana kasarnya Dirga memperlakukannya, beberapa bagian tubuhnya bahkan mungkin masih membiru bekas dari gigitan-gigitan menyakitkan yang di tinggalkan oleh Dirga. Itukah yang di sebut Dirga sebagai hukuman?

“Bagaimana jika aku berhenti melakukan kesalahan?”

“Maka aku akan menyayangimu sebagai istriku. Bukan sekedar wanita yang memuaskanku di atas ranjang.”

Nadine menelan ludahnya dengan susah payah, entah kenapa janji Dirga membuatnya tergoda untuk tetap tidak melakukan kesalahan di depan lelaki tersebut. “Jadi, uum, menurut kak Dirga, apa yang membuatku terlihat salah? Apa yang terlarang untukku hingga aku bisa di hukum seperti kemarin?”

Wajah Dirga mengeras seketika. “Jauhi Darren.” geramnya. “Jika kamu menjauhinya, maka aku akan bersikap baik padamu.” Entah kenapa ucapan Dirga terdengar bukan seperti janji, tapi seperti sebuah ancaman.

Nadine menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana caranya membuktikan pada Dirga kalau kini hubungannya dengan Darren memang sudah selesai kemarin. Perasaannya memang masih ada untuk Darren, tapi tak sebesar dulu. Nadine juga tidak lagi berharap untuk bisa bersatu kembali dengan Darren, sungguh, ia tak lagi mengharapkan hal itu, tapi bagaimana cara dirinya meyakinkan Dirga tentang hal itu?

“Kamu menerima laranganku?”

Nadine tidak menjawab, tapi dia mengangguk dengan patuh. Dirga tersenyum, dengan lembut ia mengusap pipi Nadine, jemarinya lalu mengusap bibir bawah Nadine yang tampak menggoda untuknya. Warnanya merah seperti ceri, padahal Dirga yakin jika Nadine tidak sedang mengenakan lipstik saat ini.

“Bibirmu benar-benar menggodaku.” ucapnya masih dengan mengusap lembut bibir Nadine, lalu sedikit demi sedikit Dirga mendekatkan wajahnya dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik istrinya tersebut. Dirga mulai mencumbunya dengan lembut, sedangkan jemarinya sudah merayap ke arah tengkuk Nadine, menahannya supaya wanita itu tidak melepaskan tautan bibir mereka berdua.

Dan yang bisa di lakukan Nadine saat ini hanya pasrah, membalas apa yang sudah di lakukan Dirga padanya, mencari kenikmatan yang sejak dua hari terakhir tidak di berikan Dirga padanya. Akahkah ia mendapatkannya? Apakah kali ini Dirga hanya sekedar melakukan seks? Atau kembali bercinta padanya seperti malam pengantinya saat itu?

-TBC-

Samantha – Bab 5

Comments 5 Standard

Samantha

 

Bab 5

 

Aku masih menunggu, meski sudah hampir setengah jam berlalu, dan Nick belum juga datang. Apa yang terjadi dengannya? Apa batal menjemputku? Kurapatkan kembali mantel tebal yang kukenakan, hawa dingin semakin menusuk ke dalam kulitku, bahkan aku mulai merasakan telapak tanganku yang mulai membeku. Berapa lama lagi aku harus menunggunya? Menunggu Nick menjemputku?

Ketika aku sibuk dengan pikiranku sendiri, sepasang kaki berhenti tepat di hadapanku. Aku mengangkat wajahku dan mendapati Nick yang sudah berdiri di sana.

“Nick?” aku berdiri seketika. Dia benar-benar menjemputku.

Tanpa banyak bicara, Nick memakaikan sebuah mantel lagi pada tubuhku kemudian dia juga memakaikan syal pada leherku hingga tubuhku kembali menghangat.

“Jalanan di tutup, jadi  aku hanya bisa berjalan kaki ke sini.”

“Kau, jalan kaki?”

Dia tidak menjawab, tapi malah memakaikan sarung tangan pada telapak tanganku. “Ayo kita pergi, di sini dingin sekali.” Ucapnya sambil menarik tanganku dan mulai berjalan pergi meninggalkan stasiun bawah tanah.

Aku mentap jenarinya yang menggenggam telapak tanganku, rasanya benar-benar hangat, aku senang sekali saat Nick memberikan perhatiannya padaku seperti saat ini. Ya, meski aku tahu perhatiannya hanya karena ingin menjagaku dan mengembalikanku pada Ethan tanpa kekurangan apapun.

Aku melihat ke sekitar kami. Banyak orang yang ternyata menyadari kehadiran Nick, hingga mengabadikan foto kami. Tapi Nick seakan tidak risih dengan hal itu. Dia masih terus berjalan sembari menarik tanganku, dan entah kenapa aku merasa terlindungi karenanya.

Ya, semenjak menikah denganku, Nick sama sekali tidak ingin hubungan rumah tangga kami menjadi konsumsi publik. Dia akan membungkam semua media yang akan memberitakan tentang rumah tangga kami. Itu sebabnya, banyak sekali wartawan yang secara diam-diam mencari kabar tentangku saat aku sedang bekerja di tempat kerjaku dulu.

Nick juga tidak pernah sekalipun mengajakku ke acara-acara formal yang harus ia datangi. Ia memilih datang sendiri, maka tidak heran jika banyak sekali orang di luar sana yang mencari kabar tentang hubungan rumah tangga kami. Pada intinya, Nick tidak ingin menunjukkanku pada publik, dia memilih menyembunyikanku meski sebenarnya hampir seluruh warga New York tahu jika dia sudah menikahiku.

Nick membelokkan langkahnya menuju ke arah lain, memasuki sebuah restoran mewah, dan yang bisa kulakukan hanya mengikutinya. Dia memesan tempat duduk di ruang privat, dan tempatnya benar-benar sangat hangat meski aku sudah membuka dua mantel yang ku kenakan.

“Ada yang ingin anda pesan, Sir?” tanya seorang pelayan yang datang menghampiri meja kami.

“Kopi, dan cokelat hangat.” Ucapnya dengan penuh kearoganan. “Ada yang ingin kau makan?” kali ini Nick bertanya padaku, dan yang bisa kulakukan hanya menggelengkan kepalaku.

Ya, tak ada yang ingin kumakan, kecuali… makanan kaleng yang di masak oleh tangan Nick sendiri. Entahlah, aku menginginkan makanan itu, dan aku tidak mungkin meminta Nick untuk membuatkanku masakan itu lagi.

“Kau sudah makan?”

“Ya, tadi aku makan di rumah Natalie.” Aku berbohong.

“Baiklah.” Hanya itu yang dia ucapkan. Kemudian sang pelayan pergi meninggalkan kami dan aku kembali gugup karena kedekatanku dengan Nick.

“Kau masih kedinginan?” tanyanya lagi.

Aku hanya menganggukkan kepalaku. Ya, aku masih kedinginan, meski tidak semenggigil tadi.

“Apa yang kau pikirkan saat keluar dengan mengenakan mantel tipis tadi? Kau bisa mati kedinginan di jalan.” Gerutunya.

“Mantelku cukup tebal.”

“Cukup tebal jika tidak hujan salju selebat ini.” Jawabnya cepat. Dan aku hanya tersenyum. “Ethan tidak akan memaafkanku jika tahu bahwa aku membiarkan tunangannya kedinginan di luar sana.”

Senyumku hilang seketika. jadi Nick perhatian padaku hanya karena dia mencoba bertanggung jawab pada Ethan?

“Jadi, kau perhatian padaku hanya karena Ethan?”

“Ya, memangnya karena apa lagi?” Setelah jawabannya tersebut, aku berdiri seketika. “Kau mau apa?” tanyanya dengan wajah heran.

“Aku akan pulang.” Jawabku singkat bsambil kembali mengenakan mantelku, tanpa mengenakan mantel yang di bawakan Nick dan juga sarung tangannya, aku melangkahkan kakiku meninggalkannya.

Entahlah, kupikir, mati kedinginan tidak begitu buruk di bandingkan dengan melihatnya melakukan semua ini hanya karena keterpaksaan. Aku tidak suka itu, aku ingin Nick melakukan semua ini karena dia benar-benar perhatian padaku dan juga pada bayi kami. Tapi ternyata…

Aku melangkahkan kakiku keluar dari dalam restoran mewah tersebut. Tidak mempedulikan salju yang masih saja turun seakan tidak bosan menyelimuti jalanan kota New York. Kukenakan tundung mantelku, sedangkan telapak tanganku yang mulai mati rasa karena kedinginan kembali kumasukkan kedalam saku mantelku.

Astaga, ini benar-benar dingin. Tapi aku tidak bisa kembali pada Nick, aku sangat kesal dengannya. Jarak antara restoran dengan apartemen Nick cukup jauh, dan aku sangsi bisa sampai ke sana tanpa pingsan.

Mataku mulai berkaca-kaca. Hormon kehamilan memperburuk suasana hingga membuatku ingin menangis. Oh, rasanya aku ingin berteriak frustasi. Bqagaimana mungkin Nick begiku tega mengacak-acak perasaanku saat ini?

“Kau mau kemana?” sebuah tangan mencengkeram lenganku hingga membuatku menghentikan langkahku.

Aku menatap si pemilik tangan tersebut, rupanya itu Nick.

“Pulang.” jawabku sambil mencoba melepaskan diri.

“Pulang? Kau salah arah.” Dan aku baru sadar jika aku berjalan kembali menuju ke arah stasiun bawah tanah. “Apa yang terjadi denganmu? Apa kau tidak melihat jika saat ini salju turun lebat?”

“Persetan dengan saljunya, Nick! Aku membencimu!” seruku lantang sambil melepaskan diri kemudian berlari meninggalkan Nick. Tapi baru bebebrapa langkah, kakiku tersandung dan aku terjatuh pada tumpukan salju. Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis.

Aku melihat Nick duduk berjongkok di hadapanku. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan sedikit mendesis.

“Aku membencimu, aku sangat membencimu, Nick.” Ucapku sambil menangis. Astaga, apa yang terjadi denganku? Ini benar-benar bukan diriku. Aku tidak pernah secengeng dan semanja ini.

Tanpa kuduga, Nick malah memakaikan mantel yang tadi dia bawakan untukku pada tubuhku. Kemudian ia kembali berjongkok memunggungiku.

“Naiklah.” ucapnya pendek.

Apa maksudnya? Aku hanya membatu menatap ke arah punggungnya. Nick menolehkan kepalanya ke arahku.

“Naiklah, aku akan menggendongmu pulang.”

Aku benar-benar ternganga dengan apa yang ia katakan. Dia akan menggendongku? Kenapa? Apa karemna kasihan melihat keadaanku? Ketika aku masih ternganga dengan ucapannya, Nick malah menarik lenganku supaya berada di atas pundaknya, lalu tanpa sadar, tubuhku sudah mengambang di udara. Nick menggendongku di atas punggung belakangnya.

“Kau, baik-baik saja?” tanyanya sedikit ragu. Aku diam karena tidak mengerti apa yang ia tanyakan. “Maksudku, perutmu.”

Astaga, aku baru sadar jika kini perut buncitku sudah menempel sempurna pada punggungnya, dan aku baik-baik saja. Aku masih tidak menjawab, tapi aku memilih menganggukkan kepalaku, menandakan jika aku baik-baik saja.

Nick kemudian mulai melangkahkan kakinya, berjalan sambil menggendongku. Tiba-tiba kurasakan bayiku menendang keras hingga membuat Nick menghentikan langkahnya seketika. wajahnya menoleh ke arahku, seakan bingung dengan apa yang ia rasakan tadi.

“Kau, kau benar-benar tidak apa-apa?” tanyanya lagi.

“Aku baik-baik saja.”

“Tapi aku merasakan sesuatu bergerak dari perutmu.”

“Dia hanya menendang, seperti biasa.”

“Seperti biasa? Apa itu sakit?”

Aku tersenyum kemudian menghela napas panjang. “Tidak, itu rasanya sangat membahagiakan.”

Nick membatu cukup lama dengan jawabanku, lalu bayiku kembali menendang lagi, dan aku yakin jika Nick masih merasakan tendangannya seperti tadi.

Nick mulai melangkahkan kakinya lagi, meski sesekali ia berhenti saat merasakan bayiku menendang. Ekspresinya sangat kaku, seakan ini adalah hal baru untuknya. Tanpa peduli lagi, kusandarkan wajahku pada punggungnya. Rasanya sangat nyaman, hingga kesadaranku mulai menghilang.

***

Aku terbangun saat Nick menurunkanku di atas ranjang kamarku. Astaga, bagaimana mungkin aku tertidur di atas gendongannya tadi?

“Istirahat dulu saja, aku akan menyiapkan air hangat untukmu.” Ucapnya dengan datar. Lalu dia pergimasuk ke dalam kamar mandi.

Aku bangkit lalu membuka mantel tebal yang kukenakan. Aku tidak sadar jika rambutku basah karena salju, meski tadi aku mengenakan tundung mantelku. Kulepaskan sepatu booth yang kukenakan, rasanya sangat melelahkan, dan aku benar-benar kedinginan.

Nick keluar dari kamar mandi, dia tampak terpaku menatap keadaanku yang mungkin terlihat sangat menyedihkan baginya. Sungguh, aku tidak ingin di kasihani, tapi di sisi lain, aku ingin Nick melihat sisi lemahku, sisi rapuhku yang entah kenapa akhir-akhir ini selalu muncul ke permukaan karena hormon kehamilanku.

“Airnya sudah siap, kau bisa mandi sendiri, bukan?” tanyanya.

Tentu saja aku bisa, tapi aku tidak ingin. Aku ingin Nick lebih lama bersamaku. Kutuklah aku jika saat ini aku menginginkan Nick untuk memandikanku, karena memang itulah yang ku inginkan hingga aku menjawab pertanyaan Nick dengan sebuah gelengan kepala.

“Maksudmu, kau ingin aku membantumu mandi?”

“Tubuhku lemas, aku menggigil.”

Nick menghela napas panjang. “Kemarilah, aku akan membantumu.” Dan aku tersenyum mendengar pernyataannya tersebut.

Aku berdiri, Nick segera meraih tanganku dan menuntunku masuk ke dalam kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, tanpa canggung, aku mulai membuka pakaianku sendiri satu-persatu hingga kini aku berdiri dengan polos tanpa sehelai benangpun.

Nick terpaku menatapku dengan tatapan anehnya, sedangkan yang bisa kulakukan hanya menunduk. Malu, tentu saja. Aku seperti sedang menggoda lelaki yang bahkan tidak tertarik sama sekali denganku. Apa yang sedang kupikirkan? Kenapa aku begitu bodoh dan memalukan seperti saat ini?

Aku membalikkan tubuhku seketika, kemudian dengan sedikit tercekat, aku berkata “Pergilah, aku bisa mandi sendiri.”

Nick tidak pergi, karena aku tidak mendengar langkah kakinya menjauh, atau suara pintu kamar mandi yang di buka dan ditutup kembali.

“Apa yang kau inginkan, Nick?” aku bertanya dengan suara serak. Air mataku kembali menetes. Oh sial! Aku benar-benar berubah menjadi wanita yang super cengeng.

“Kenapa kau masih di sini? Apa yang kau inginkan?” tanyaku lagi.

“Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau inginkan?”

Aku membalikkan tubuhku seketika pada Nick. “Aku? Kau bertanya apa keinginanku? Yang kuinginkan adalah, supaya kau berhenti menatapku dengan tatapan menjijikkan seperti itu. supaya kau memperlakukanku sebagai istrimu, bukan calon istri kakakmu.”

“Aku tidak bisa, Sam. Kau tahu jika ini sulit, hubungan kita sangat rumit.”

“Kau yang membuatnya rumit, Nick!” seruku. “Kau memutuskan sendiri apa yang kau inginkan tanpa bertanya apa yang kuinginkan. Kau memilihkan aku jalan hidup yang seharusnya kupilih sendiri, ini tidak adil untukku, Nick!”

“Lalu apa yang kau inginkan?” tanyanya.

“Aku ingin kau! Aku tidak ingin kembali pada Ethan, aku ingin kau tetap bersamaku dan bayi kita, aku tidak ingin kembali pada Ethan!”

Dan tanpa kuduga, secepat kilat Nick meraih wajahku, lalu menyambar bibirku dengan bibirnya, dia mencumbuku dengan begitu panas hingga membuatku terengah karena rasa aneh yang mulai menggelitikku.

Tak lama, Nick melepaskan cumbuannya, dengan serak dia berbisik tepat pada bibirku. “Bercintalah denganku.”

Dan yang bisa kulakukan hanya mengalungkan lenganku pada lehernya, kemudian kembali menempelkan bibirku pada bibirnya, menciumnya dengan lembut penuh gairah hingga yang kurasakan saat itu hanya ingin supaya Nick segera menyentuhku, memilikiku sekali lagi dengan kesadaran sepenuhnnya.

***

Nick mengangkat tubuhku tanpa melepaskan tautan bibir kami, menurunkanku kembali di atas ranjang, setelah meloloskan pakaiannya sendiri, ia kembali kepadaku, menindihku dan menautkan bibir kami kembali.

Jemarinya berjalan dengan pasti menyentuh titik-titik sensitifku hingga membuatku tak dapat menahan erangan yang keluar begitu saja dari bibirku. Nick bermain-main dengan kedua payudaraku, seakan menegaskan jika itu miliknya, dan ya, itu memang miliknya.

Semua yang kupunya adalah miliknya, aku menyerahkan semuanya padanya, dan aku berharap dia mau menerimanya dengan senang hati.

Tiba saatnya ketika Nick akan menyatukan diri denganku, matanya menatap tajam tepat pada mataku, sedangkan bibirnya tak berhenti menggumam, entah menggumam apa, aku sendiri tidak mengerti. Dalam satu kali dorongan, tubuhnya menyatu sepenuhnya pada tubuhku. Nick mengerang panjang, seakan menikmati penyatuan tubuh kami, pun denganku yang juga tidak ingin berhenti mendesah seakan tak kuasa menahan kenikmatan yang kurasakan karena penyatuan kami.

Tatapan mata Nick melembut, seiring dengan pergerakannya yang seirama, membuatku mendesah, membuka bibirku hingga Nick kembali meraupnya. Nick mencumbuku kembali, dan aku kembali merasakan gairahku meningkat karena cumbuannya.

Oh Nick, dia memperlakukanku dengan begitu lembut, seakan takut jika melukaiku, cumbuannya sekan tak ingin berhenti, pergerakannya seakan mampu membunuhku dengan kenikmatan yang datang menghantam lagi dan lagi. Nick benar-benar membuatku jatuh semakin dalam untuk mencintainya, untuk menginginkannya selalu berada di sisiku. Mampukah aku mendapatkan apa yang kuinginkan? Mempertahankan Nick agar selalu berada di sisiku?

-TBC-