Lovely Wife – Chapter 3 (Malam yang panjang)

Comments 3 Standard

Lovely wife

 

Chapter 3

-Malam yang panjang-

 

Sekarang…

Nadine menatap bayangan di hadapannya dengan lesu. Wajahnya memang terhias hingga terlihat begitu cantik, tapi ekspresinya sangat sendu, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis, dan suasana hatinya, jangan di tanya lagi.

Hari ini adalah hari pernikahan Darren, tapi bukan ia yang menjadi pengantin wanitanya, melainkan sahabatnya yang bernama Karina. Bisa di bayangkan bagaimana hancurnya perasaan Nadine saat ini. Kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendiri, sedangkan dirinya, mau tidak mau harus turut menghadiri pesta pernikahan tersebut.

Nadine tahu, meski dulu ia hanya iseng-iseng menerima cinta Darren karena tidak enak menolak cinta lelaki tersebut, tapi semakin kesini perasaannya pada Darren semakin nyata, ia benar-benar telah jatuh hati pada lelaki tersebut, bahkan ia sudah menerima lamaran Darren sebelum akhirnya lelaki itu di paksa menikah dengan Karina, sahabatnya sendiri. Kenapa takdir seakan mempermainkannya? Kenapa dulu ia harus dekat dengan Darren jika akhirnya mereka tidak berakhir bersama seperti saat ini?

Nadine kembali terisak, lalu cepat-cepat ia menghapus air matanya. Saat ini ia masih berada di dalam sebuah toilet di hotel tepat di mana acara pesta pernikahan Darren dan Karina di gelar. Meski hatinya terasa sakit, tapi Nadine tidak ingin terlihat sperti orang bodoh yang menangisi kekasihnya saat di pesta tersebut.

Setelah memperbaiki riasannya, Nadine kembali keluar dari dalam toilet. Batinnya akan kembali berperang ketika melihat Karina dan Darren yang berdiri di atas pelaminan. Ingin rasanya ia pulang, tapi tidak bisa, orang tuanya yang juga hadir di pesta tersebut pasti mencari dirinya.

Nadine masuk kembali dalam pesta dan berbaur dengan tamu lainnya seakan-akan tak terjadi sesuatu apapun padanya. Saat melihat beberapa pelayan berlalu lalang membawa beberapa minuman, dengan santai Nadine meraih minuman tersebut dan menegaknya hingga tandas.

Rasa membakar seketika terasa di tenggorokannya, itu minuman beralkohol, tapi Nadine tak peduli, meski ini pertama kalinya ia meminum-minuman seperti itu, nyatanya minuman tersebut dapat sedikit memperbaiki perasaannya yang sedang kacau balau. Dan Nadine memutuskan mengambil sebuah minuman lagi dan lagi. Ya, sepertinya banyak minum bukan masalah, mungkin akan bagus jika ia tiba-tiba teler dan tak ingat apapun termasuk Darren. Ya, ia ingin segera melupakan lelaki tersebut.

***

Dirga benar-benar sangat muak dengan acara-acara keluarga seperti saat ini. Di paksa berdiri dengan memasang senyuman manis hingga membuat banyak wanita yang ada di sana terpesona padanya. Oh yang benar saja, belum lagi beberapa teman orang tuanya yang secara terang-terangan menjajakan anak perempuan mereka pada dirinya.

Sesekali Dirga mengumpat dalam hati, dalam acara seperti ini, seharusnya ia datang dengan pasangannya, setidaknya pasangannya tersebut akan menjauhkan dirinya dari parasit bermuka dua seperti teman orang tuanya yang berniat menjodohkan dirinya dengan puteri mereka. Tapi, mau dengan siapa? Dirga sendiri sama sekali tidak pernah berniat mengajak wanita pulang ke rumahnya untuk di kenalkan kepada orang tuanya, ia hanya akan mengajak wanita tersebut pulang untuk di tidurinya ketika orang tuanya sedang ke luar kota.

Sesekali mata Dirga teralih pada saudara kembarnya, di sana ada Davit, yang berdiri dengan wajah bahagianya, bersama dengan Sherly, istri dari saudara kembarnya tersebut dengan bayi mereka. Melihat Davit yang tampak begitu bahagia dengan keluarga kecil mereka membuat Dirga dilanda rasa iri. Kenapa hanya Davit? Kenapa dirinya tidak merasakan kebahagiaan yang sama?

Kemudian mata Dirga teralih pada Karina, adiknya yang kini berada di atas pelaminan dengan suami barunya, Darren Pramudya. Lelaki yang katanya begitu di cintai oleh Karin, tapi Dirga cukup tahu jika lelaki itu tidak memiliki perasaan yang sama dengan adiknya karena lelaki itu nyatanya memiliki kekasih yang tak lain adalah Nadine, sekertaris pribadinya.

Bicara tentang Nadine, mata Dirga segera menelusuri segala penjuru ruangan, mencari-cari sosok itu. Di mana Nadine? Apa wanita itu tidak hadir dalam pesta pernikahan ini? Sepertinya tidak mungkin. Karena tadi Dirga juga sempat melihat bayangan kedua orang tua Nadine yang juga ikut hadir dalam pesta pernikahan Darren dan Karina, jadi kemungkinan besar Nadine juga hadir dalam pesta ini.

Pada saat bersamaan, tatapan mata Dirga jatuh pada sosok yang tengan menegak sebuah minuman yang telah di sediakan oleh pramusaji, Dirga mengerutkan keningnya saat menyadari jika Nadine saat itu tengah minum seperti orang gila. Apa wanita itu sudah terbiasa meminum minuman beralkohol? Mungkin saja, lagi pula apa urusannya?

Dirga kemudian melirik ke arah wanita di sebelahnya, wanita yang tampak modis dengan gaun malamnya, rambut yang di sanggul dengan begitu seksi serta make up tebal yang entah kenapa membuat Dirga tidak nafsu untuk mengajak wanita itu naik ke atas ranjangnya. Wanita itu mendesak ke arahnya, menempel seperti parasit, padahal Dirga tidak yakin jika dirinya mengingat nama wanita yang tadi baru saja di kenalkan oleh orang tuanya.

“Maaf, siapa nama kamu tadi?” tanya Dirga pada wanita tersebut.

“Astaga, masa iya kamu melupakan namaku? Padahal baru tadi kita berkenalan.”

Dirga tersenyum miring. “Maaf sayang, di dalam kepalaku terlalu banyak nama wanita, hingga mengingatnya satu persatu saja aku sulit.” Dengan begitu kurang ajarnya Dirga mengatakan kalimat tersebut.

Si wanita itu mendengus sebal, kesal dengan sikap dan juga perkataan yang terlontar dari bibir Dirga. “Marsha, namaku Marsha, teman kencan kamu malam ini.”

“Oh, maaf, Marsha, sepertinya tadi aku belum sempat mengatakan padamu jika aku sudah memiliki teman kencan malam ini.”

“Apa?” Marsha tampak merah padam, malu bercampur dengan kesal.

“Ya, itu, teman kencanku sedang berada di sana.” Dirga menunjuk ke arah Nadine, wanita itu tampak menghabiskan minumannya lagi, lalu meraih gelas lainnya yang berisi minuman yang sama.

“Apa? Wanita itu? Tampaknya dia  bukan selevel kita, lihat saja, gaunnya lusuh, dan dia terlihat bar bar dengan cara minumnya.” Wanita itu berujar sinis.

Ya, Nadine memang tampak sederhana dengan gaun malam sederhananya, tak ada yang special dengan wanita itu, tapi entah kenapa melihatnya saja membuat Dirga menegang.

Dirga tertawa lebar, bibirnya lalu mendekat ke arah telinga Marsha lalu berbisik pelan di sana. “Nyatanya, dia mampu membuatku bergairah dengan gaun lusuhnya.” Setelah membisikkan kalimat tersebut, Dirga lantas pergi begitu saja menuju ke arah Nadine, sedangkan Marsha hanya dapat berdiri di sana dengan ekspresi kesalnya.

***

“Apa yang kamu lakukan?” Dirga bertanya dengan suara yang ia buat setenang mungkin.

Nadine membalikkan tubuhnya, lalu ia mendapati sosok yang selama ini begitu menyebalkan untuknya, itu Dirga, atasannya.

“Oh, Pak Dirga di sini ternyata.”

Dirga mengerutkan keningnya. Sepertinya Nadine sudah mulai mabuk. Wanita itu tidak bisa berdiri tegak, cara bicaranya juga aneh, biasanya Nadine hanya akan memanggilnya dengan panggilan ‘Pak Dirga’ itu ketika di kantor saja, sedangkan saat di luar jam kerja, wanita itu akan memanggilnya ‘Kak Dirga’, dan sekarang, wanita itu juga sedang senyum-senyum tidak jelas.

Oke, dia memang mabuk.

“Kamu mabuk, ayo, ikut aku.”

“Aku nggak mau! Aku mau di sini, melihat pacarku nikah sama sahabatku.” Nadine menunjuk ke arah Karina dan Darren yang berdiri di atas pelaminan. “Mereka terlihat aneh, harusnya aku yang berada di sana. Lihat, Darren sudah memberiku ini, tapi kenapa Karin merebutnya?” Nadine menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.

“Mungkin dia bukan jodohmu.” Dirga menjawab dengan wajah datarnya.

“Bapak tahu apa tentang jodoh? Bukannya yang Pak Dirga tahu hanya tentang ukuran payudara wanita saja?”

Mata Dirga membulat seketika, sesekali ia memperhatikan orang-orang di sekitar mereka yang mungkin saja mendengar ucapan vulgar Nadine.

“Kamu ngomong apa sih?”

“Saya tahu semuanya, Pak, Bapak kerap kali bercinta bahkan dengan klien wanita, dan di ruang kerja Pak Dirga, saya juga tahu kalau-” Secepat kilat Dirga membungkam bibir Nadine, kemudian menarik tubuh wanita tersebut untuk menjauh dari keramaian pesta.

“Emmppptt.” Nadine meronta. Akhirnya Dirga melepaskan bungkaman tangannya ketika mereka berada di tempat yang lebih sepi. “Lepasin! Lepasin!” seru Nadine ketika Dirga tak juga melepaskan cekalannya pada lengan Nadine.

“Kamu mabuk, ayo, ku antar pulang.”

“Aku nggak mau pulang! Aku nggak mau pulang dan menangis sendiri di rumah! Aku nggak mau pulang!” Nadine berteriak dan mulai terisak. “Aku benci Karina, aku benci Darren, aku benci mereka semua! Mereka mengkhianatiku!”

Dirga melepaskan cekalannya pada lengan Nadine, kemudian terpaku melihat wanita itu. Dari luar, Nadine tampak begitu tegar, tapi ternyata wanita ini sangat rapuh.

“Aku benci ketika semua ini harus terjadi, aku ben-” Nadine tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika ia merasakan bibirnya di bungkam dengan sesuatu yang lembut dan panas.

Itu bibir Dirga.

Tubuhnya kemudian di dorong hingga punggungnya menempel pada dinding, Dirga sedikit mengangkat tubuh Nadine supaya sejajar dengan tubuhnya yang lebih tinggi, hingga wanita itu sedikit melayang di udara sembari merasakan pagutan panas dari bibir Dirga.

Dirga tak bisa berhenti, ia melumat bibir Nadine dengan begitu panas, menuntut supaya ciuman tersebut tak berakhir, hingga kemudian, ia melepaskan tautan bibirnya saat merasakan napas Nadine sudah hampir habis.

“Demi Tuhan, aku menginginkanmu.” bisik Dirga parau ketika bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Nadine.

Nadine tak bereaksi, ia hanya menatap bibir Dirga yang begitu menggoda. Lengannya kini bahkan sudah melingkari leher Dirga, kemudian dengan begitu berani, Nadine menempelkan bibirnya pada bibir Dirga, melumatnya dengan lembut seakan menggoda Dirga untuk membalas ciumannya.

Dirga tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, diraupnya bibir Nadine, seakan itu adalah miliknya, haknya untuk di sentuh, lalu tanpa banyak bicara lagi, Dirga mengangkat tubuh Nadine menuju ke arah kamar hotelnya tanpa melepaskan tautan panas dari bibir mereka.

***

Di dalam kamar….

Dirga sudah melucuti satu persatu pakaian yang menempel pada tubuh Nadine hingga kini wanita tersebut sudah terbaring tanpa sehelai benangpun. Wajah wanita itu merah padam, mungkin karena efek anggur yang memabukkan, tatapan mata Nadine berkabut, entah karena gairah, atau lagi-lagi efek dari anggur. Dirga tidak peduli.

Setelah melucuti pakaian Nadine, Dirga lantas melucuti pakaiannya sendiri, kemudian kembali menindih tubuh Nadine yang kini sudah berada di bawahnya.

“Kamu sangat indah.”

Nadine tersenyum, entah wanita itu mengerti apa yang di katakan Dirga atau tidak. Jemari Nadine kemudian terulur meraba pipi Dirga hingga membuat Dirga membatu menatapnya.

“Aku mencintaimu, Darren, kamu mengajariku untuk mencintaimu, tapi ketika aku benar-benar mencintaimu, kenapa kamu meninggalkanku?”

Lagi-lagi, pernyataan Nadine membuat Dirga tercenung. Nadine mengingatkannya pada seseorang yang dulu pernah ia sia-siakan, yang dulu hanya ia mainkan, hingga kemudian yang ia dapatkan saat ini hanya sebuah penyesalan….

“Jadi kamu jalan bareng lagi sama Ana?” terdengar suara yang bernada marah dari seorang wanita, itu Sherly, kekasih yang di pacarinya sejak tiga bulan yang lalu.

“Ya, kenapa?” tanya Dirga dengan santai, ia bahkan tidak memperhatikan ke arah Sherly, malah dengan santai memainkan ponselnya.

“Dirga, aku tanya sama kamu! Kamu jalan lagi sama wanita itu?”

“Aku kan sudah jawab ‘Ya’.”

“Kamu selingkuhin aku?”

Dirga mengalihkan pandangannya ke arah Sherly. “Oke Sher, aku sudah capek. Kamu terlalu cerewet, terlalu banyak ngatur, dan terlalu posesif, aku nggak suka, aku merasa kamu mencekik leherku karena aku tidak bisa lagi bebas sejak berpacaran denganmu.”

“Lalu kamu mau apa? Kamu mau aku memberi kebebasan? Dirga, kita pacaran, dan kamu bersikap seolah-olah kamu masih sendiri, kamu kayak anak kecil!”

“Oke cukup! Aku paling muak jika ada yang bilang aku kayak anak kecil. Kamu hanya pacarku, bukan istriku, aku bebas melakukan apapun yang ku mau. Lagian, aku jalan sama dia karena mencari apa yang tidak bisa kamu berikan padaku.”

Mata wanita itu berkaca-kaca seketika. “Apa salah jika aku mepertahankan kehormatanku? apa salah jika aku menolak keinginanmu ketika status kita hanya sepasang kekasih bukan sepasang suami istri? Apa salah jika aku menuntut lebih? Aku hanya mencintaimu, aku tidak ingin kamu bersama wanita lain, aku cemburu melihatnya.”

“Dan aku tidak suka dengan wanita pencemburu atau wanita yang masih memegang teguh adat orang kuno! Sudahlah, lupakan saja, mending kita jalan sendiri-sendiri saja dulu, dan setelah kamu menyadari kesalahanmu, kamu bisa kembali lagi padaku.” Setelah itu Dirga bangkit dan meninggalkan Sherly begitu saja.

Enam bulan setelahnya, Sherly memang kembali padanya, tapi bukan sebagai kekasihnya, melainkan sebagai wanita yang akan di nikahi oleh Davit, kakak kembarnya. Oh jangan di tanya lagi bagaimana perasaan Dirga saat itu. Meski dulu ia tidak terlalu suka dengan Sherly, tapi tetap saja, Sherly adalah mantan kekasihnya, bagaimana mungkin Davit menikahi wanita itu? Hingga kemudian, Dirga baru merasa menyesal ketika melihat bagaimana keistimewaan Sherly ketika wanita itu resmi menjadi istri saudaraa kembarnya.

                                                  

Sial! Dirga mengumpat dalam hati saat mengingat penggalan-penggalan kenangan dari masa lalunya. Ia kemudian memfokuskan pandangannya pada Nadine, wanita ini pasti mabuk berat hingga menyangka jika dirinya adalah Darren, apa ia harus melanjutkan aksinya?

Oh sial! Tentu saja. Ia sudah menegang, rasanya begitu nyeri ketika harus menahannya, dan Dirga tidak ingin menahannya lagi.

Dirga mendaratkan bibirnya pada bibir Nadine, melumatnya kembali dengan begitu lembut hingga membuat Nadine mengerang dengan sesekali menggeliat di bawah tindihannya.

“Hemm, Darren benar-benar bodoh! Bisa-bisanya di lepasin kamu hanya karena saham sialan itu.” Dirga meracau sambil mengecupi permukaan leher Nadine. “Katakan padaku, sudah berapa kali bajingan itu menyentuhmu?” lagi-lagi Dirga meracau. “Setelah ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh tubuhmu, kecuali aku.”

Dirga lalu menatap payudara ranum yang terpampang jelas di hadapannya, menggodanya sebentar lalu mendaratkan bibirnya di sana. Nadine mengerang dengan kenikmatan yang di ciptakan oleh bibir Dirga. Sedangkan Dirga seakan tidak ingin berhenti menggoda, jemarinya kini bahkan sudah turun, membelai pusat diri Nadine, hingga membuat Nadine semakin jauh dari kewarasannya.

“Oh, kamu benar-benar sangat nikmat.” bisik Dirga sebelum turun menatap pusat diri Nadine, lalu mendaratkan bibirnya di sana, membelai lembut, hingga membuat Nadine tak kuasa menjerit nikmat.

Setelah puas menggoda tubuh Nadine, Dirga kembali ke atas, menatap Nadine yang kini sudah berkabut karena badai gairah yang baru saja menghantamnya. Dirga tersenyum menatap pemandangan di bawahnya. Nadine tampak begitu cantik, amat sangat cantik ketika wanita itu terbaring tanpa sehelai benangpun dengan ekspresi berkabut seperti saat ini.

Oh sial! Sudah berapa kali Darren melihat ekspresi ini? Entah kenapa dalam hati Dirga tidak rela saat membayangkan jika Nadine mungkin saja sering melakukan hal intim seperti ini dengan kekasih-kekasihnya yang dulu.

“Aku akan memulainya.” Suara Dirga benar-benar sangat serak. Ia memposisikan dirinya untuk menyatu dengan tubuh Nadine. “Kamu beruntung karena kamu adalah wanita pertama yang akan kumasuki tanpa pengaman, bukan karena aku sengaja ingin menjebakmu dan membuatmu mengandung janinku, tapi karena alat pengamanku habis.” Dirga sedikit tersenyum mengingat hal itu.

Nadine tersenyum mendengar kalimat Dirga. Entah wanita itu mendengar apa yang di katakan Dirga atau tidak, nyatanya mata Nadine terlihat berkabut, seperti antara sadar dan tidak sadar.

Dirga tak ingin membuang-buang waktu lagi, ia mulai memasuki diri Nadine, mendesak dan berharap dapat menyatu sepenuhnya, tapi ketika ia menemukan suatu penghalang di sana, matanya membulat seketika ke arah Nadine.

“Ka –kamu perawan?” Dirga benar-benar terkejut dengan kenyataan itu.

Selama ini ia berpikir jika Nadine adalah wanita gampangan, bukan hanya Nadine, tapi semua wanita yang ia kenal –kecuali  Karina dan ibunya tentunya, apalagi yang ia tahu bahwa sejak SMA Nadine memang sering bergonta-ganti kekasih.

Nadine tidak menjawab, wanita itu malah menggeliat kesana kemari, menggoda tubuh Dirga yang setengah menyatu dengan tubuhnya, dan itu membuat Dirga tidak dapat lagi berpikir secara logis. Jemari Dirga kemudian terulur menuruni sepanjang pinggang Nadine, berhenti pada pinggul wanita tersebut dan menahannya di sana.

“Maaf, ini akan sedikit sakit dan akan terasa sedikit merobekmu. Tapi setelah ini, aku akan memberimu kenikmatan yang belum pernah di berikan laki-laki lain padamu.” Dirga berkata dengan senyum yang penuh dengan kebanggaan. Ya, ia bangga karena dirinya adalah laki-laki pertama untuk wanita ini, dan entahlah, itu mebuat Dirga semakin menginginkan diri Nadine.

Dirga mendaratkan bibirnya pada bibir Nadine, melumatnya dengan panas, pada saat bersamaan, ia menghentak dengan keras hingga menyatu sepenuhnya pada tubuh Nadine.

Wanita itu terlihat ingin berteriak kesakitan, tapi bibirnya telah di bungkam oleh bibir Dirga, hingga tak lama, Nadine kembali mengerang sesekali mendesah penuh dengan kenikmatan.

Dirga menghela napas panjang, menahan diri supaya tidak lepas kendali. Ini adalah pengalaman pertama untuk Nadine, meski wanita itu kini sedang mabuk dan Dirga sangat yakin jika Nadine tidak ingat hal ini besok pagi, namun Dirga tetap menginginkan jika percintaannya kali ini dengan Nadine adalah percintaan yang panas, intim, dan penuh dengan kelembutan.

Dirga mulai bergerak, pelan, amat sangat pelan, hingga dirinya sendiri mengerang dan meracau tidak jelas karena kenikmatan yang tercipta. Tubuh Nadine membalutnya begitu pas, mencengkeramnya begitu erat, seakan-akan tubuh wanita tersebut memang tercipta hanya untuknya.

“Brengsek! Kamu terlalu rapat, Sayang, Sialan!” racau Dirga, sedangkan Nadine sendiri sudah tidak sadar lagi dengan apa yang ia lakukan. Wanita itu hanya bisa mendesah, mengerang, sesekali meracau tak jelas ketika kenikmatan berbalut dengan gairah tanpa ampun menghantamnya lagi dan lagi.

Dirga lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya saat ritme permainan mereka mulai meningkat, hingga ketika gelombang kenikmatan itu datang menghantamnya, yang bisa Dirga lakukan hanyalah memeluk erat-erat tubuh yang berada di bawahnya itu.

Dirga tersungkur lemas saat setelah ledakan kenikmatan yang ia alami, dan Dirga merasa menjadi seorang bajingan ketika ia merasa menegang kembali hanya karena sentuhan dari kulit Nadine yang begitu lembut terhadap kulitnya.

“Sial!” umpat Dirga keras-keras. Ia menatap ke arah Nadine, wanita itu sudah menutup matanya, mungkin karena kelelahan, kesakitan, atau entahlah, yang jelas Dirga cukup tahu diri dan tidak akan membangunkan Nadine untuk meminta jatah kembali, atau dengan brengseknya ia memaksakan kehendaknya dan memperkosa wanita tersebut saat sedang tidak sadar seperti saat ini.

Sial! Itu benar-benar bukan dirinya.

Akhirnya Dirga bangkit, menyelimuti tubuh polos Nadine, lalu menatap wanita tersebut sebentar. Sial! Ini akan menjadi malam yang panjang untuknya, mengingat ia kembali menegang dan begitu mendamba tubuh wanita tersebut. Tapi ia harus mengalah, ia akan sabar, hingga tiba waktunya dirinya kembali memiliki tubuh Nadine. Ya, ia akan mendapatkannya kembali, bagaimanapun caranya.

Dirga lalu pergi, meninggalkan Nadine untuk masuk ke dalam kamar mandi. Ya, malam ini ia harus puas dengan satu sesi, dan di tutup dengan mandi air dingin, supaya dapat memadamkan gairahnya yang seakan membara di dalam tubuhnya.

-TBC-

Advertisements

Lovely Wife – Chapter 2 (Membawamu ke atas ranjangku)

Comments 3 Standard

Lovely Wife

 

Chapter 2

-Membawamu ke atas ranjangku-

 

Satu tahun setelahnya….

Dirga tidak berhenti menatap sepasang kaki jenjang yang mengenakan hak tinggi itu, melangkah ke sana kemari mencari-cari berkas di area lemari tinggi di ujung ruangannya. Oh, kaki itu tampak jenjang, dan menggoda tentunya. Sejak tadi Dirga bahkan tidak memungkiri jika dirinya sudah menegang karena kaki-kaki jenjang tersebut.

“Pak, dokumennya tidak ketemu.” Suara itu terdengar begitu lembut di telinganya. Suara Nadine, si pemilik kaki jenjang tersebut.

“Kamu.” Dirga berdehem sejenak karena merasakan suaranya tiba-tiba serak. “Kamu yakin tidak bisa menemukannya?” tanya Dirga yang kini sudah berdiri dan menuju ke tempat Nadine berdiri.

“Ya Pak, saya sudah mencari di-” Nadine tak dapat melanjutkan kalimatnya karena ia merasakan seseorang berdiri tepat di belakangnya, punggungnya menempel pada sebuah dada bidang yang ia yakini adalah milik dari atasannya. Oh, apa yang di lakukan Dirga di belakangnya? Astaga, Nadine bahkan tidak berani menggerakkan tubuhnya lagi karena kedekatan mereka yang benar-benar mempengaruhinya.

Sudah setahun lamanya ia menjadi sekertaris pribadi Dirga, dan dalam jangka waktu itu, banyak sekali yang terjadi di antara mereka. Mulai dari Nadine yang mengetahui semua sikap buruk dari atasannya tersebut.

Ya, jika dulu Nadine mengenal Dirga hanya sebatas kakak dari Karina sahabatnya yang sangat perhatian,maka kini semua sikap buruk lelaki itu seakan di umbar dengan begitu jelas di hadapannya.

Lelaki itu memiliki banyak kekasih, hobby menggoda wanita, suka sekali melakukan seks di manapun tempatnya,suka seenaknya sendiri, mengintimidasi, kasar, dan juga pemarah. Oh, jangan di tanya bagaimana frustasinya Nadine ketika berada di dekat Dirga.

Jemari Dirga terulur pada rak paling atas lemarinya, kemudian ia mengambil sebuah dokumen di sana.

“Ini dokumennya, bagaimana mungkin kamu tidak dapat menemukannya?”

“Uum, itu terlalu tinggi untuk saya gapai, Pak.”

“Oh ya? Lalu apa gunanya kamu mengenakan hak tinggi? Apa untuk menggoda lawan jenis.”

“Maaf?” Nadine tidak mengerti.

“Lupakan saja.” Dirga menjauh. “Kamu boleh keluar.”

“Baik, Pak.” Nadine akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan Dirga, tapi kemudian langkahnya kembali terhenti saat Dirga kembali memanggil namanya.

“Nadine, kita akan makan siang bersama.”

“Uum, maaf pak, tapi saya ada janji.”

“Janji? Dengan siapa? Pacar kamu?”

Nadine tak mampu menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya. Tentu saja ia tidak enak menolak permintaan atasannya tersebut, tapi di sisi lain, Nadine cukup hapal apa yang akan di lakukan Dirga jika mereka makan siang bersama. Biasanya lelaki itu juga akan mengajak salah satu kekasihnya, lalu berakhir dengan Nadine pulang sendirian dan Dirga entah kemana dengan kekasihnya tersebut. Nadine tentu tidak ingin hal itu terulang lagi dan lagi.

“Baiklah, kamu boleh keluar, tapi nanti tidak boleh menolak ajakanku lagi.”

Nadine mengangguk patuh, lalu dia pergi keluar dari ruang kerja Dirga. Sedikit kesal karena nyatanya Dirga selalu bersikap seenaknya sendiri. Lelaki itu melakukan apapun yang di inginkannya, dan Nadine mau tidak mau menuruti perintah dari lelaki tersebut.

***

Dirga mengepalkan kedua belah telapak tangannya saat melihat pemandangan di hadapannya. Tampak Nadine sedang di jemput oleh seseorang, dan Dirga cukup kenal dengan orang tersebut. Itu Darren, yang juga merupakan sahabat dari Karina, adiknya. Tampaknya Darren dan Nadine bukan hanya bersahabat, keduanya tampak sangat intim dengan tatapan mata masing-masing. Sial! Apa hubungan mereka?

Dirga menggeram dalam hati, sudah cukup lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Perasaan seperti ada yang memukul-mukul rongga dadanya hingga terasa nyeri. Perasaan yang sudah bertahun-tahun lamanya ia lupakan.

Sial! Memangnya perasaan apa?

Dirga mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut. Ia tidak ingin kembali jatuh dalam kubangan yang sama. Kubangan menyakitkan hingga membuat dirinya memungkas semua indera perasanya hingga ia tak mampu lagi merasakan perasaan-perasaan menggelikan seperti yang kini ia rasakan.

Brengsek!

Ia harus pergi, pergi mencari pengganti untuk menghilangkan sikap lembeknya yang seakan ingin tumbuh lagi dari dalam dirinya.

Dirga lalu merogoh ponselnya, menghubungi teman yang biasanya selalu setia menuruti permintaannya.

“Halo.” Panggilannya di jawab pada deringan pertama.

“Carikan gue perempuan, siang ini juga.”

“Lo gila?”

“Ya, gue sudah mulai gila.” Dan setelah jawabannya tersebut, Dirga memutus panggilan tersebut begitu saja tanpa mempedulikan suara di seberang yang tidak berhenti mengumpatinya. Sial! Ia butuh wanita, ia butuk seks, ia butuh pelepasan siang ini juga.

***

Nadine menatap Darren yang tampak lahap dengamn makan siangnya, ah, sengan sekali melihat lelaki di hadpannya ini lagi. Perasaannya pada Darren kini semakin tumbuh membesar. Meski dulu awalnya ia hanya terpaksa menerima Darren, namun kini cinta itu tumbuh karena terbiasa.

Ya, dirinya benar-benar mencintai Darren, dan semoga saja hubungan mereka tidak akan menghadapi cobaan yang serius.

“Ada apa?” suara Darren membuat Nadine tersadar, ternyata lelaki itu sudah menatapnya dengan tatapan bingungnya. “Ada yang salah dengan cara makanku?”

Nadine tersenyum dan meggelengkan kepalanya. “Enggak, nggak ada yang salah. Kamu hanya seperti orang goa yang kelaparan.”

Darren tertawa lebar. “Sejujurnya tadi pagi aku tidak sarapan, jadi siang ini aku makan dobel.”

“Kenapa nggak sarapan?”

“Aku kesiangan. Kamu lupa bangunin aku.”

“Ah ya, aku minta maaf, tadi pagi ada rapat mendadak. Jadi aku lupa membangunkanmu.”

“Rapat lagi? Aku bingung dengan bossmu itu, dia suka sekali mengadakan rapat, pagi-pagi, malam-malam, dan lain sebagainya.”

Nadine hanya diam. Ia ingin menjawab tapi tak yakin jika ia dapat menjelaskan perkataannya secara gamblang. Ya, Dirga memang suka seenaknya sendiri. Pagi-pagi buta, lelaki itu sudah meneleponnya, berkata jika mereka ada rapat mendadak, nyatanya, saat sampai di kantor, tak ada rapat apapun. Malampun demikian, tak jarang Dirga tiba-tib meneleponnya, meminta untuk menemui Dirga saat itu juga karena ada hal penting, tapi nyatanya, lelaki itu malah tengah asik di tempat hiburan dengan beberapa wanita di sebelahnya, ya, meskipun alasan kerja juga sedikit masuk akal karena ia berada di tempat tersebut bersama dengan beberapa kliennya.

“Nadine?”

Lagi-lagi nadine tersadar jika dirinya baru saja melamunkan lelaki lain saat bersama dengan Darren, kekasihnya. Ah, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

“Maaf.”

“Kamu terlihat banyak pikiran.”

“Ya, aku memang banyak kerjaan.”

Darren meminum jus di hadapannya. “Begini saja, keluar saja kamu dari tempat kerjamu, dan kamu bisa kerja di tempatku.”

Nadine mengerutkan keningnya. “Memangnya bisa seperti itu?”

“Bisa, beri saja dia alasan yang masuk akal, misalnya, kita mau nikah dan kamu memilih bekerja dengan calon suamimu.” Darren berkata dengan begitu santai.

Nadine tersenyum. “Kamu curang, kita nggak akan nikah.”

“Please, apa lagi yang kamu tunggu?”

“Aku belum siap Darren, dan kita sudah membahas masalah ini sebelum-sebelumnya, bahwa aku belum ingin menikah.”

Fine. Tapi aku mau kamu segera pindah ke kantorku.”

Nadine berpikir sebentar, “Aku akan memikirkannya nanti.”

“Ayolah.” Darren memohon.

“Darren, bagaimanapun juga aku tidak enak dengan keluarga Karina, dulu mereka mau menerimaku padahal aku belum memiliki pengalaman kerja apapun.”

“Oke.” Darren mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipi Nadine. “kamu memang seperti malaikat.” Nadine tersenyum lembut.

“Kamu berlebihan.”

“Ya, terserah apa katamu. Sekarang, cepat habiskan makananmu sebelum boss sialanmu kembali menghubungimu sebelum jam makan siangmu habis.”

Nadine hanya mengangguk patuh tanpa menghilangkan senyumannya. Ia bahagia memiliki Darren, lelaki yang begitu pengertian dan perhatian padanya.

***

“Oh sia! Sial! Sial!.” Dirga tak berhenti mengumpat keras ketika ia mendapatkan pelepasannya. Ia menggeram, sesekali menepuk pinggul wanita yang kini masih berposisi membelakanginya. Wanita tersebut berteriak keras dan entah kenapa itu menggoda untuk Dirga.

Dirga menarik dirinya, lalu membuang alat pengaman ke sembarang tempat, dan memasangnya kembali yang baru ketika pangkal pahanya tak berhenti menegang. Ia menyatukan dirinya kembali dengan begitu panas hinga membuat wanita tersebut mengerang nikmat.

“Ohh, apa yang kamu lakukan?” Wanita itu menoleh ke belakang, ketika mendapati Dirga kembali menyatu dengan tubuhnya.

“Apa lagi? Tentu saja memasukimu.”

“Sial! Aku mau tarifku di tambah.”

“Kamu akan mendapatkannya, sayang.” Dirga lalu kembali bergerak, menarik untaian r4ambut wanita tersebut sambil bergerak seirama. Keduanya bahkan sama-sama mengerang, tak peduli jika mungkin saja suara mereka terdengar orang lain.

Saat Dirga masih tengah asik dengan pergerakannya, ponselnya berbunyi, ia tidak menghiraukan panggilan tersebut dan membiarkannya mati sendiri, tapi setelah bunyi panggilan itu mati, ternyata ponselnya kembali berbunyi. Sial! Siapa lagi yang sedang mengganggunya?

“Ambilkan ponselku.” Ucap Dirga tanpa menghentikan pergerakannya.

What? Kamu mau ngangkat telepon saat masih menyatu denganku?”

“Kamu keberatan?”

Wanita itu berpikir sejenak. “Tidak.”

Well, kalau begitu tolong ambilkan ponselku.”

Akhirnya  wanita tersebut menggapai ponsel Dirga yang memang terletak di meja kecil dekat dengan kepala ranjang. Setelah menerima ponselnya dari wanita di depannya, Dirga melirik sekilas, ternyata yang memanggilnya adalah nomor kantor. Siapa? Jangan bilang ayahnya.

“Halo.” Dirga mengangkat panggilan tersebut sambil sedikit menggeram.

***

Nadine menjauhkan gagang telepon tersebut dari telinganya saat mendengar sapaan dari seberang. Suara Dirga terdengar seperti sebuah geraman, kenapa? Apa karena ia sedang mengganggu waktu dari lelaki tersebut?

Setelah makan siang dengan Darren, Nadine sedikit kebingungan mencari keberadaan Dirga, karena jadwalnya nanti jam dua siang akan ada klien yang datang menemui lelaki tersebut, tapi hingga kini –jam setengah dua siang, lelaki itu belum juga menampakan batang hidungnya. Kemana dia? Atau jangan-jangan Dirga lupa dengan jadwalnya?

“Maaf, pak, ini saya.”

“Uuh, Nadine, ada apa? Shit!”

Nadine kembali menjauhkan gagang telepon tersebut sambil menatapnya. Sebenarnya Dirga sedang apa? Kenapa suaranya terdengar seperti orang yang sedang mendesah-desah?

“Uum, itu pak, ada jadwal bertemu klien jam dua siang nanti.”

“Bangsat!”

“Maaf?” Nadine benar-benar tak mengerti kenapa Dirga mengumpatinya.

“Sorry, bukan kamu. Oh sial! Apa kamu bisa berhenti bergoyang?”

Nadine mengerutkan keningnya. “Bergoyang?” tanyanya bingung.

“Oke, Nadine, aku akan segera-”

“Apa kamu tidak bisa lebih cepat? Oh, aku akan sampai, aku akan sampai.”

Nadine ternganga mendengar suara tersebut.Terdengar suara wanita yang tengah memotong kalimat Dirga, dan suaranyapun di iringi dengan napas yang sersenggal-senggal. Astaga, jangan bilang kalau mereka sedang…..

“Pak, Pak Dirga sedang-”

“Demi Tuhan, matikan telepon sialan itu! Oohh..” terdengar lagi seorang wanita berseru, sedangkan Dirga sendiri tidak berhenti mengeluarkan erangan-erangan yang entah kenapa membuat bulu kuduk Nadine meremang seketika.

Dengan spontan Nadine menutup sambungan telepon tersebut. Dadanya berdebar tak karuan, pipinya merah padam, entah kenapa ia merasa jika tadi ia baru saja melihat sepasang kekasih yang tengah memadu kasih dengan begitu panasnya. Nadine menggelengkan kepalanya seketika, astaga, apa yang sedang ia bayangkan??

***

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul tiga sore, tapi Dirga belum juga sampai di kantornya. Ingin rasanya Nadine kembali menghubungi lelaki itu karena kini kliennnya sudah menunggu di ruangan lelaki tersebut, tapi nyatanya, Nadine masih takut, jika nanti dirinya mengganggu aktifitas bossnya tersebut.

Ketika Nadine gelisah dengan sesekali melirik ke arah jam tangannya, orang yang ia tunggu-tunggu tersebut akhirnya tiba juga.

Dirga masih mengenakan kemeja yang sama dengan tadi pagi, tatanan rambutnya sedikit berantakan, tak ada lagi dasi yang bertengger di lehernya, lengan panjangnya yang sudah di gulung, dan yang paling ia rasakan perbedaanya adalah aroma lelaki tersebut yang biasanya beraroma citrus kini berubah menjadi aroma yang di yakini Nadine seperti parfume wanita.

Dengan gugup Nadine berdiri menyambut kedatangan atasannya tersebut.

“Apa dia.” Dirga terlihat sedang mengendalikan sesuatu di dalam dirinya. “Maksud saya, apa ada tamu untuk saya?”

“Ya pak, sudah menunggu di dalam.”

“Oke.” Hanya itu. Dirga lalu masuk dan Nadine berakhir menghela napas panjang. Astaga, kenapa juga ia menjadi gugup saat berhadapan dengan Dirga? Apa ini tandanya jika dirinya memang sudah tidak bisa bekerja dengan lelaki itu lagi?

***

Pertemuan yang di lakukan Dirga dan kliennya bersangsung cukup lama, hingga jam lima sore, kliennya tersebut baru keluar dari dalam ruangan Dirga. Entah apa yang mereka bahas, Nadine sendiri tak tahu, nyatanya Dirga tidak memanggilnya untuk ikut masuk ke dalam ruangan lelaki tersebut.

Setelah mengetahui hanya ada Dirga di ruangannya, Nadine memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Dirga untuk membicarakan perihal dirinya yang ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini. Ah, semoga saja Dirga tidak mempersulitnya.

Nadine mengetuk pintu ruangan tersebut sedikit lebih keras, hingga kemudian iaa mendengar kata “Masuk” yang di ucapka oleh Dirga.

Nadine masuk dengan dada yang sudah berdebar tak karuan. Entah kenapa setiap kali berhadpan dengan Dirga, perasaannya selalu tidak enak. Lelaki itu seakan-akan selalu menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, dan itu benar-benar membuat Nadine tidak nyaman.

Dirga menatap kedatangannya dengan mengangkat sebelah alisnya. “Ada apa?” tanyanya secara langsung.

Nadine menelan ludahnya dengan susah payah, “Begini pak.” Ia lalu duduk di kursi di depan meja Dirga, dan mulai menyuarakan isi hatinya. “Saya, saya mau mengundurkan diri dari perusahaan bapak.”

“Apa?” mata Dirga membulat seketika. Nadine sebenarnya sedikit terkejut dengan reaksi Dirga yang baginya sedikit berlebihan itu. Apa pengunduran dirinya ini bermasalah dengan Dirga? Sepertinya tidak, jadi seharusnya Dirga tidak menampilkan ekspresi seperti saat ini.

“Uum, saya mendapat pekerjaan baru.” Nadine berkata sambil menundukkan kepalanya.

“Pekerjaan baru?” ulang Dirga. Tampang lelaki itu menggelap seketika. “Pekerjaan baru apa? Apa kamu tidak tahu kalau kamu terikat kontrak dengan perusahaan ini?”

“Maaf pak, tapi nanti saya akan berusaha untuk mengganti rugi-”

“Dengan apa?” Dirga memotong kalimat Nadine. Lelaki itu kini bahkan sudah berdiri, mencondongkan tubuhnya tepat di hadapan Nadine hingga membuat Nadine hanya menunduk dan tak berani menghadap ke arahnya. “Dengar, kamu tidak bisa keluar begitu saja dari dalam perusahaan ini sebelum saya mampu membawamu ke atas ranjangku.”

Dengan spontan Nadine mendongakkan wajahnya ke arah Dirga, matanya bertemu tapat pada mata Dirga yang entah kenapa terlihat membara, apa lelaki ini sedang marah? Pikir Nadine, tapi kenapa marah? Bukankah seharusnya ia yang kesal karena ucapan Dirga barusan?

“Keluar dari ruangan saya.” Kalimat itu di ucapkan dengan nada begitu dingin hingga Nadine tak mampu membantahnya lagi.

Akhirnya Nadine memilih bangkit lalu keluar dari dalam ruangan tersebut meski dengan hati kecewanya. Ya, tentu saja ia sangat kecewa karena sikap Dirga yang di nilainya sedikit berlebihan, dan kurang ajar mengingat lelaki itu mengucapkan keinginannya untuk membawa dirinya ke atas ranjang lelaki tersebut, oh, yang benar saja.

-TBC-

Lovely Wife – Chapter 1 (Wanita menggoda)

Comments 7 Standard

Lovely Wife

 

Akhirnyaa rilis juga bang Dirganya yaa,,, wakakkaka semoga suka,…

 

Chapter 1

-Wanita yang menggoda-

 

Dua tahun yang lalu…

Pagi itu, nadine sedang sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil mereka. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, jika sebelum-sebelumnya Nadine sarapan dengan santai, maka hari ini ia sedikit terburu-buru.

Ya, hari ini adalah hari pertamanya kerja di salah satu perusahaan besar meilik keluarga dari sahabatnya sendiri. Meski si pemilik perusahaan sangat baik terhadap dirinya dan keluarganya, tapi tetap saja Nadine harus profesional. Ia tidak ingin di terima dalam perusahaan tersebut hanya karena kenal dan dekat dengan si pemiliknya, tapi karena potensinya berada di dalam perusahaan tersebut.

“Nadine, ini bekal untuk kamu, sayang.” Nadine melirik ke arah kotak bekal yang di siapkan sang ibu. Sederhana tapi Nadine suka.

“Terimakasih, Bu.”

“Apa Karin juga ikut kerja di perusahaan ayahnya?”

“Sepertinya tidak.”

Sang ibu hanya menganggukkan kepalanya. Nadine melirik ke arah jam tangannya, waktu menunjukkan jika hari sudah semakin siang, akhirnya ia menyambar tasnya dengan membawa sepotong roti tawar yang sudah di olesi dengan selai cokelat, lalu berpamitan dengan sang ibu untuk segera berangkat.

“Kamu yakin hanya sarapan itu?”

“Ya, Bu. Kan aku sudah bawa bekal.”

“Baiklah, hati-hati di jalan, sayang.” Nadine menganggukkan kepalanya dengan pesan sang ibu, ia mengecup lembut punggung tangan sang ibu tak lupa juga ia berpamitan dengan ayahnya lalu segera berangkat menuju ke tempat kerja barunya.

***

Saat Nadine sibuk menunggu Bus di sebuah halte tak jauh dari gang rumahnya, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Nadine tersenyum saat mendapati siapa pemilik dari mobil tersebut. Itu Darren Pramudya, lelaki yang sudah resmi menjadi kekasihnya sejak beberapa minggu yang lalu.

Darren membuka kaca mobilnya lalu melonggokkan kepalanya ke arah Nadine. “Ayo masuk.”

“Uum, kamu mau ngantar aku? Kamu nggak sibuk?” tanya Nadine masih berdiri tepat di sebelah mobil Darrenh.

Ya, setahu Nadine, Darren adalah orang yang sibuk. Lelaki itu juga sibuk dengan perusahaan keluarganya, jadi Nadine tidak enak jika harus merepotkan Darren untuk mengantarnya kerja.

“Untuk kamu, aku nggak akan pernah sibuk. Ayo, masuklah.” Nadine tersenyum lembut. Ah, lelaki ini gampang sekali membuatnya berbunga-bunga.

Nadine akhirnya masuk ke dalam mobil Darren, setelah duduk di sebelah lelaki itu, Nadine sedikit mengerutkan keningnya saat mendapati ada yang berbeda dengan tampilan mobil Darren. Pada Dashboar mobil Darren, dulu terdapat sebuah bingkai mungil yang di dalamnya ada foto Darren, Karina dan dirinya, tapi kini bingkai tersebut hanya berisikan foto dirinya saja. Oh, jangan di tanya bagaimana terkejutnya Nadine saat ini. Pipinya bahkan sudah merona-rona.

“Kenapa?” Darren bertanya sambil mulai mengemudikan mobilnya.

“Fotonya, apa yang terjadi dengan fotonya? Kenapa ganti?”

Darren sedikit tersenyum. “Apa yang terjadi? aku hanya memasang foto wanita yang sedang menjadi kekasihku.”

“Aissh, aku nggak enak sama Karin kalau kamu hanya memasang fotoku di sini.”

“Karin? Kenapa dengan dia? Dia pasti mengerti. Dia adalah sahabat terbaik kita, jadi dia tidak akan mempermasalahkan foto ini.”

“Ya tapi dia belum tahu tentang hubungan kita.”

“Nanti aku yang akan memberi tahunya. Oke?” dan Nadine hanya mampu menghela napas panjang.

Ya, ia Karina dan Darren memang sahabatnya sejak kecil karena orang tua mereka memang bersahabat sejak remaja. Sebenarnya Nadine sedikit tidak enak, ketika tiba-tiba Darren mengungkapkan perasaan lelaki tersebut padanya. Baginya, Darren adalah seorang yang istimewa, sama dengan Karina, tapi hanya itu, tidak lebih. Nadine melihat Darren sebagai sahabat yang ia sayangi, hingga kemudian beberapa minggu yang lalu saat lelaki itu mengungkapkan perasaannya, Nadine jadi galau tak menentu.

Ia ingin menolak, tapi tidak enak, takut jika hubungannya dengan Darren akan merenggang, atau lelaki itu akan menghindarinya. Akhirnya, Nadine mencoba hubungan tersebut dengan Darren, meski sebenarnya tanpa cinta. Saat itu Nadine sedang sendiri karena ia baru putus dengan kekasihnya, dan dengan hadirnya Darren, ia mau mencoba menjalin kasih kembali dengan seorang pria. Setidaknya, ia mengenal Darren, lelaki itu adalah lelaki baik, jadi tidak ada salahnya mencoba dengan Darren.

“Jadi, apa nanti mau makan siang bersamaku?” Nadine menolehkan kepalanya pada Darren.

“Ah, maaf, aku bawa bekal.”

“Aku bisa ke tempat kerjamu dan makan di kantin kantormu nanti.” Darren menjawab lagi.

“Darren, itu nanti akan sangat merepotkan kamu. Lagian aku baru di sana, jadi aku harus banyak bergaul dengan pegawai lainnya-”

“Dari pada makan siang bersamaku?” potong Darren.

Nadine tersenyum. “Bukan begitu maksudku.”

“Oke Princess, aku mengerti. Kalau ada yang jahat sama kamu, lapor saja sama aku.”

Nadine terkikik geli. “Baik Boss.”  Keduanya lalu melanjutkan percakapan ringan mereka dengan sesekali bercanda gurau bersama.

***

“ASTAGAAAAAAAA!!!!”

Suara teriakan tersebut seketika menghentikan pergerakan Dirga, membuat Dirga dan Amel, wanita yang kini masih menyatu dengannya menolehkan kepalanya ke arah wanita yang berteriak tersebut.

“Ada apa?” seorang lelaki datang menghampiri wanita yang sedang berteriak tersebut, wanita itu menutup matanya karena melihat pemandangan yang menurutnya amat sangat vulgar. Dan lelaki itu segera menatap pemandangan di hadapannya.  Tampak seorang lelaki yang kembar identik dengannya sedang bersenggama dengan seorang wanita dalam posisi yang begitu panas dan berani.

“Brengsek lo Ga! Apa yang lo lakuin di sini?!” Seru lelaki itu lantang. Dia Davit, saudara kembar Dirga yang kini tinggal di Bandung.

Dirga mengumpat dalam hati. Bagaimana tidak, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya, tapi di ganggu oleh Davit dan juga Sherly, istri dari kembarannya tersebut. Ah sial! Apa juga yang di lakukan Davit di sini? Bukankah mereka seharusnya berada di Bandung?

Dirga menarik dirinya dari penyatuan terhadap tubuh Amel, dan tanpa mempedulikan ketelanjangannya, ia bertanya balik pada Davit.

“Lo sendiri ngapain di sini?”

“Ini apartemen gue, jadi terserah gue mau ke sini atau enggak.”

Sial! Tentu saja. Harusnya Dirga sadar diri karena apartemen yang ia jadikan sebagai  basecamp untuk bercinta dengan para wanitanya adalah apartemen milik Davit.

“Setidaknya lo bisa ketuk pintu sebelum masuk.” gerutu Dirga sambil menyambar kimono tidurnya. Ia melirik ke arah Amel, wanita itu tampak sangat malu karena kini menutupi sekujur tubuh telanjangnya dengan selimut tebal mereka.

“Ketuk pintu? Ngapain gue ketuk pintu kalau kue punya kuncinya? Lo benar-benar sialan.”

Slow man, lo kayak nggak kenal gue, keluar dulu sana, lo mau seharian di situ dan lihat gue telanjang?”

Davit menggelengkan kepalanya. “Sinting lo!” lalu ia mengajak istrinya pergi meninggalkan kamar yang masih di tempati Dirga tersebut.

Dirga menyambar baju wanita teman kencannya yang berserahkan di lantai, dan melemparkannya begitu saja pada wanita itu. “Pakai bajumu, kita akan pergi dari sini.”

“Kita nggak lanjutin tadi?”

“Kamu bercanda? Aku sudah tidak bergairah. Cepat pakai.” Dirga lalu melirik ke arah jam tangannya dan mendapati jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. “Sial! Kita ada rapat jam satu siang.”

“Kamu kan bisa batalin rapatnya.” Wanita itu berkata sambil mengenakan pakaiannya satu persatu.

“Membatalkan? Meski aku brengsek, aku tidak pernah mangkir dari pekerjaanku.” Dirga memakai kembali kemejanya. “Brengsek! Ngapain juga si Davit ke sini.”

Setelah memakai pakaiannya, Dirga keluar menghampiri kakak kembarnya. “Lo ngapain ke sini? Bukannya harusnya lo ada di Bandung?”

“Gue lagi ada kerjaan di sini. Sialan! Bukannya wanita itu sekertaris pribadi lo? Lo kencan sama dia?”

Dirga meraih sebotol air mineral di dalam lemari pendingin lalu meminumnya. “Dia suka godain gue di kantor, jadi gue kencani aja.” Jawab Dirga dengan datar.

“Bener-bener sinting lo. Lo nggak akan bisa profesional sama dia nantinya, Ga.”

Well, setelah gue selesai sama dia, gue akan pindah tugaskan dia ke bagian lain.”

“Dan lo akan cari sekertaris pribadi baru gitu? Seperti sebelum-sebelumnya?”

“Tepat sekali.”

“Lo benar-benar gila.”

“Jadi kamu mau memecatku?” terdengar suara Amel yang baru saja keluar dari kamar.

Dirga menghampiri wanita tersebut. “Oh, aku tidak sekejam itu sayang, kamu hanya akan di pindah tugaskan ke tempat lain.”

“Kenapa? Supaya kamu tidak ada yang menggoda?”

“Tepat sekali.” Dirga menjawab santai.

Wanita itu akan menjawab lagi, tapi suaranya tercekat di tenggorokan ketika seorang wanita lainnya menuju ke arah dapur melewati dirinya dan juga Dirga. Itu wanita tadi yang memergoki mereka saat sedang asik menyatu dan bergerak seirama, itu Sherly, istri Davit.

Dirga melirik sekilas ke arah istri Davit, lalu menyapanya dengan suara menggoda. “Pagi, Kak.”

Sherly  hanya melirik sekilas ke arah Dirga, lalu melanjutkan langkahnya mendekat ke arah suaminya tanpa menghiraukan Dirga. Dirga tampak kesal dengan istri dari kembarannya itu, ia hanya bisa berakhir dengan mendengus sebal.

“Gue cabut.” Dirga berkata dengan wajah yang sudah masam.

“Lo nggak mandi? Badan lo masih bau seks.”

“Nggak.” Hanya itu jawaban Dirga sambil bergegas pergi menuju pintu keluar apartemen Davit.

Sialan! Sherly benar-benar mampu membuat moodnya memburuk.

***

“Jadi kamu benar-benar memecatku?!” Amel, sekertaris pribadi Dirga akhirnya tak kuasa menahan amarahnya saat Dirga memberika surat pernyataan jika dirinya di pindah tugaskan ke bagian lain saat setelah mereka sampai di kantor. Astaga, padahal baru beberapa jam yang lalu Dirga bercinta dengannya, bagaimana mungkin lelaki ini melakukan hal sekejam ini padanya?

“Jangan berlebihan, aku tidak memecat, kamu hanya di pindah tugaskan ke tempat lain.”

“Ya, dan artinya aku nggak akan bisa berhubungan lagi denganmu.”

“Sayangnya, memang seperti itu tujuannya. Maaf.” Dengan begitu menjengkelkan, Dirga mengucapkan kalimat tersebut dengan senyuman miringnya.

“Kamu benar-benar keterlaluan, baru beberapa jam yang lalu kamu memasukiku, dan sekarang-”

“Sekali lagi, jangan berlebihan. Aku belum klimaks.” Dirga memotong kalimat Amel lagi-lagi dengan begitu menjengkelkan.

“Brengsek!” setelah mengumpat keras,  Amel keluar dari ruangan Dirga. Dan Dirga hanya menatapnya dengan tersenyum penuh kemenangan. Ia bahkan tidak menghiraukan Amel yang membanting keras-keras pintu ruangannya.

Dirga kembali duduk di kursi kebesarannya, tapi baru beberapa detik ia duduk, pintunya kembali di ketuk oleh seseorang. Siapa lagi ini? Pikirnya.

“Masuk.” Dengan malas Dirga mengucapkan perintah tersebut.

Pintu di buka, Dirga mengangkat wajahnya dan mendapati sosok cantik berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Sosok yang tidak asing baginya, karena dulu, ia sering sekali bertemu dengan sosok tersebut, tapi kini, entah apa yang membuat Dirga ternganga mendapati penampilan sosok tersebut yang baginya cukup berbeda.

Itu Nadine, sahabat dari Karina, adiknya.

Kenapa Nadine di sini?

Dirga mengangkat sebelah alisnya, menatap penampilan Nadine dari ujung rambut sampai ujung kaki wanita tersebut.

Rambutnya tergerai indah, dia mengenakan kemeja dan juga rok yang menurut Dirga terlihat begitu seksi saat di kenakannya, belum lagi sepatu hak yang membuat kaki jenjang wanita itu terlihat begitu menggoda untuk Dirga.

What the F*ck!

Sejak kapan Nadine menjadi wanita menggoda seperti saat ini? Sejak kapan ia menegang seutuhnya hanya karena melihat teman dari adiknya itu berdiri dengan pakaian lengkapnya?

Dirga menelan ludahnya susah payah. Ia mulai tidak nyaman dalam duduknya, dan entah mengapa dahinya mulai berkeringat.

Sial! Ia kepanasan.

“Siang Pak, saya di suruh megantar dokumen ini pada Pak Dirga.” Nadine berkata seformal mungkin. Meski sebelumnya ia sudah mengenal Dirga, tapi tetap saja saat ini Dirga adalah atasannya.

Dengan gerakan pelan tapi mengintimidasi, Dirga melangkah menuju ke arah Nadine. Jemarinya dengan spontan melonggarkan ikatan dasinya yang entah kenapa terasa mencekiknya.

“Nadine, kamu, kerja di sini?”

“Uum, iya pak, ini hari pertama saya kerja di sini.”

“Di bagian apa?” tanyanya lagi.

“Bagian administrasi.”

“Bereskan barang-barang kamu, mulai hari ini kamu jadi sekertaris pribadi saya.” Dengan arogan Dirga mengucapkan kalimat tersebut.

“Apa?” Nadine tampak shock dengan ucapan Dirga.

“Ya, saya lagi butuh seorang sekertaris, dan saya rasa, kamu orang yang paling cocok menggantikan sekertaris saya yang baru saja saya pecat.”

“Tapi pak-.”

“Bersikap biasa saja seperti sebelum-sebelumnya.”

“Maaf?”

“Sekarang, kembali ke ruanganmu, dan bereskan barang-barangmu. Sisanya, aku yang akan mengurus semuanya.” Nadine hanya mengangguk patuh lalu ia membalikkan badannya dan mulai pergi meninggalkan ruangan Dirga.

Dirga sendiri menghela napas panjang setelah Nadine keluar dari ruangannya. Sial! Bagaimana mungkin Nadine mampu menciptakan ketegangan seksual di dalam dirinya hanya karena melihat penampilan wanita itu?

***

Cukup lama Nadine membereskan meja kerjanya, meski ini hari pertamanya menempati ruangan mungilnya tersebut, tapi tetap saja banyak yang di bereskan, mengingat ia membawa banyak barang di atas mejanya.

Sedikit risih karena beberapa rekan kerjanya menatap ke arahnya dengan sesekali berbisik pada yang lainnya, seakan dirinya kini menjadi bahan gosip. Tentu saja, siapa yang tidak menggosipkan tentang dirinya dalam keadaan seperti ini? Sangat aneh jika ada seorang pegawai biasa baru yang langsung naik pangkat menjadi sekertaris pribadi wakil direktur utama perusahaan besar tersebut.

Seorang rekan kerja Nadine datang menghampirinya. “Jadi, kiamu benar-benar akan menjadi sekertaris pribadi pak Dirga?” tanya salah satu  rekan kerja wanita Nadine.

“Ya, sepertinya begitu.”

“Wahh, sepertinya Pak Dirga sedang membidik mangsa baru.”

Nadine mengerutkan keningnya. “Membidik mangsa baru?”

“Lihat saja, posisi kamu di sana tidak akan lama. Paling lama juga mungkin dua bulan. Pak Dirga selalu bergonta-ganti sekertaris pribadi setelah dia berhasil mendapatkannya.”

“Mendapatkannya? Maksud kamu, mendapatkan apa?” Nadine benar-benar tidak mengerti.

“Mendapatkannya di ranjang.”

“Apa?” dengan spontan Nadin membulatkan matanya seketika.

“Tenang, itu sudah menjadi rahasia umum, jika atasan kita yang satu itu memang seperti itu. meski begitu, banyak yang mengidamkan menjadi sekertaris pribadi pak Dirga meski nanti ia akan menjadi kekasih semalam pak Dirga dan berakhir di campakan.”

Nadine merasa mual dengan kenyataan tersebut. Tidak! Kak Dirga tidak akan memperlakukannya seperti itu, mereka sudah kenal lama, keluarga mereka sudah saling mengenal dengan baik, tidak mugkin lelaki itu akan memperlakukannya seperti memeperlakukan sekertarisnya yang dulu-dulu.

-TBC-

 

 

Evelyn – Chapter 6 (Amora Austin)

Comments 4 Standard

Evelyn

 

jangan lupa putar trailernya yaa.. wkakakakakkakak

 

“Karena aku akan menemanimu.”

Eva tersenyum mendengar pernyataan Fandy. “Benarkah? Uum, apa aku boleh minta sesuatu darimu, di sini?”

“Silahkan.”

“Aku ingin menciummu.”

Fandy sempat membulatkan matanya saat mendengar permintaan Eva yang begitu terang-terangan. “Tidak.”

“Fandy.” Rengek Eva.

“Karena kali ini, aku yang akan menciummu.” Eva terperangah dengan ucapan Fandy, dan ketika bibirnya masih terbuka karena tercengang, Eva merasakan jika bibir Fandy sudah mulai menyambar bibirnya yang masih terbuka, melumatnya dengan lembut seakan lelaki itu begitu menginginkannya. Apa benar Fandy menginginkannya?

***

Chapter 6

-Amora Austin-

 

Eva memejamkan matanya, merasakan sapuhan lembut dari bibir Fandy pada bibirnya. Astaga, apa yang terjadi dengan lelaki ini? Kenapa lelaki ini bisa menciumnya dengan lembut seperti saat ini?

Eva masih memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut dari bibir Fandy, hingga ketika Fandy melepaskan tautan bibir mereka, mata Eva tetap memejam, menikmati sisa-sisa dari bibir panas itu yang tadi telah menyentuhnya.

“Nona, nona Evelyn.” Panggilan Fandy bahkan tidak mampu menyadarkan Eva dari angannya.

Eva masih memejamkan matanya, mencoba menikmati kembali apa yang tadi ia rasakan dengan Fandy.

“Nona, Nona Evelyn tidak apa-apa, kan?” Lagi, Fandy memanggilnya, tapi Eva tidak ingin mengakhiri mimpi indahnya.

Mimpi?

“Eva? Eva?” Eva merasakan pipinya di tepuk-tepuk oleh seseorang, dan seketika itu juga ia membuka matanya. Ternyata Fandy menatapnya dengan ekspresi khawatir dari lelaki tersebut.

“Apa yang terjadi dengan anda?” tanya Fandy dengan wajah bingungnya.

Eva mempalingkan wajahnya seketika.

Sial! Ternyata tadi dia cuma berangan-angan.

Bagaimana mungkin ia membayangkan Fandy akan melakukan hal tersebut hanya karena lelaki itu mau mengajaknya ke tempat menakjubkan seperti sekarang ini? Oh, Eva merasa kini pipinya pasti sudah merah padam seperti orang tolol.

“Saya menyebutnya ‘tempat rahasia’. Ini tempat di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri. Tempat yang tidak pernah saya tunjukkkan pada orang lain.”

Eva menatap Fandy seketika, perkataan Fandy sangat mirip dengan apa yang ia bayangkan tadi. Apa mungkin…. kejadian itu nanti akan menjadi kenyataan?

“Ta –tapi kamu menunjukkannya padaku.” Eva menatap Fandy dengan tatapan anehnya, ia menjawab pernyataan Fandy tersebut sama seperti apa yang ia bayangkan tadi, oh semoga saja apa yang ia bayangkan tadi menjadi kenyataan.

“Karena saya pikir, Nona Evelyn membutuhkan tempat ini.”

Eva bersorak dalam hati karena jawaban Fandy sama persis dengan apa yang ia bayangkan tadi. Oh, apa Fandy akan benar-benar menciumnya?

Eva mengulurkan jemarinya, berharap ia bisa mengusap lembut pipi Fandy seperti apa yang tadi ia bayangkan. Tapi di luar dugaannya, Fandy malah mencengkeram erat pergelangan tangannya, seakan tidak membiarkan dirinya untuk menyentuh wajah lelaki itu.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Eva dengan sedikit kesal.

“Anda mau apa?” Fandy berbalik bertanya.

“Aku?” Eva bingung mau menjawab apa. Apa iya dia harus menjawab kalau dia akan memngusap lembut pipi lelaki itu? oh yang benar saja. “Ada nyamuk di pipimu, aku mau menepuknya.”

Fandy lalu menepuk pipinya sendiri, melihat telapak tangannya dan tidak ada apa-apa di sana. Ia kemudian memicingkan matanya ke arah Eva.

“Jangan main-main. Ayo kembali, ini sudah malam.” ajak Fandy.

“Apa? Kembali? Kenapa cepat sekali?” Eva tampak kesal dengan sikap Fandy yang kembali datar-datar saja, tidak seperti apa yang ia bayangkan tadi.

“Ini sudah malam, lagi pula, perasaan Nona Evelyn sepertinya sudah membaik.”

“Belum! Aku belum membaik!” rengek Eva sedikit kesal. “aku nggak mau pulang sebelum kamu menciumku di sini!”

Fandy benar-benar tercengang dengan apa yang di katakan Eva. “Apa?”

Sedangkan Eva, memerah seketika saat sadar jika ia mengucapkan kalimat tersebut di hadapan Fandy. Oh apa yang terjadi dengannya? Padahal sebelumnya ia tidak pernah malu-malu di hadapan orang, kenapa dengan Fandy ia merasa tak karuan seperti ini?

“Ahh! Lupakan! Kita pulang saja.” Seru Eva dengan kesal sambil meninggalkan Fandy dan berjalan lebih dulu memasuki apartemen Fandy.

***

Hingga sampai di rumah Eva, Fandy dan Eva saling berdiam diril Eva memang sudah melupakan kesedihannya karena sang mama, tapi ia sangat kesal dengan sikap Fandy. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sikap lelaki tersebut, hanya saja Eva kesal, karena kenapa hanya dirinya yang merasa gugup tak menentu seperti saat ini? Kenapa Fandy seakan sama sekali tidak terpengaruh dengan kedekatan mereka?

“Sudah sampai, Nona.”

Eva mendengus sebal. Tanpa banyak bicara dia keluar dari mobilnya lalu masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Fandy yang bingung dengan sikap Eva hanya mampu mengikuti gadis tersebut dari belakang.

Fandy masih berdiri tepat di depan kamar Eva ketika Eva baru masuk ke dalam kamarnya dan akan menutup pintu kamarnya.

“Ngapain kamu masih di sini?” tanya Eva dengan ketus.

“Bukannya biasanya-”

“Nggak ada biasanya, sana pergi, aku lagi muak sama kamu.” Eva membanting keras-keras pintu kamarnya tepat di hadapan Fandy.

Sial! Apa yang terjadi dengan gadis manja itu? pikir Fandy.

***

Esonya, Eva bangun kesiangan. Sama seperti hari kemarin, kalau biasanya Eva akan segera bangun dan mencari keberadaan Fandy, maka berbeda dengan hari ini, ia masih kesal dengan sikap Fandy yang tidak sesuai dengan angannya.

Eva menutup tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di ujung kakinya. Ia tidak mempedulikan beberapa pelayan yang sudah berlalu-lalang untuk mempersiapkan dirinya.

“Nona, air hangatnya sudah siap.” Seorang pelayan akhirnya memberitahunya, seakan memerintahkan dirinya supaya segera bangun.

“Tinggalkan saja kamar ini, aku malas bangun.” Eva masih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.

“Tapi Nona, nyonya besar sudah menunggu Nona Evelyn di ruang makan untuk sarapan bersama.”

“Astaga, bilang saja kalau aku malas makan.” Eva benar-benar sangat kesal. Ia masih malas keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Fandy. Ah, lelaki itu masih membuatnya kesal karena mengingat kejadian semalam.

Para pelayan akhirnya pergi meninggalkan Eva, sedangkan Eva memilih kembali memejamkan matanya, mencoba tidur kembali dan melupakan bayang-bayang tentang Fandy.

***

Cukup lama Eva tertidur, hingga ia merasakan tidur nyenyaknya terganggu ketika ia meraskan tubuhnya di guncang-guncang.

“Evelyn, Evelyn.” Suara lembut itu memanggil-manggil namanya. Apa itu suara mamanya? Seketika itu juga Eva membuka matanya, dan mendapati sang Nenek yang telah membangungkannya.

“Nenek, ada apa?”

“Sudah siang. Ini bahkan sudah masuk waktu makan siang, dan kamu belum bangun?”

Eva memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. “Aku malas bangun.” Ia bersikap seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Kenapa? Apa karena hari ini bukan Fandy yang mengawalmu?”

Eva mengerutkan keningnya, secepat kilat ia bangkit dari posisi tidurnya. “Bukan Fandy? Dia kemana? Kenapa dia tidak mau mengawalku lagi?” tanya Eva cepat. Astaga, Fandy tidak boleh mengundurkan diri dari mengawal dirinya. Ia belum bisa menakhlukkan hati lelaki itu jadi Fandy tidak boleh berhenti mengawalnya.

Sang Nenek malah tersenyum lembut melihat tingkah yang di tampilkan oleh Eva. “Ini minggu, waktunya Fandy pulang.”

“Apa? Nggak asik banget.” gerutu Eva.

“Kamu benar-benar menyukainya?” Sang Nenek tergoda untuk bertanya.

“Tidak tahu lah Nek, aku suka saja menggodanya, tapi kadang dia menyebalkan, aku masih kesal dengannya.”

Sang Nenek masih tersenyum lembut melihat sikap manja yang di tampilkan Eva padanya. “Sudah-sudah, sekarang bangun, mandi, dan mari kita makan siang bersama.”

Eva menganggukkan kepalanya lalu mulai berdiri dan menuju ke kamar mandinya. Hari ini ia tidak akan bertemu dengan Fandy, tapi… entah kenapa ada sebuah rasa aneh yang menggelitik hatinya? Kenapa?

***

Dengan bosan Eva memainkan bandul-bandul mungil yang ada di hadapannya. Fandy tidak mengawalnya hari ini, dan itu membuat Eva semakin bosan, apalagi mengingat pengawal yang menggantikan Fandy saat ini adalah pengawal yang sudah setengah tua dengan kepala botaknya dan juga wajah sangarnya. Oh, jangan di tanya bagaimana perasaaan Eva saat ini.

Sekarang, dirinya sedang menjaga toko aksesorisnya yang berada di salah satu pusat perbelanjaan, berharap jika harinya tidak akan semembosankan ini, tapi nyatanya, sial! Ia benar-benar bosan.

“Apa seharian kamu akan seperti itu terus? Astaga, membosankan sekali.” Suara itu membuat Eva mengangkat wajahnya dan mendapati Icha, sahabatnya berdiri tepat di hadapannya.

“Hai, untung kamu ke sini, setidaknya tokoku tidak akan sepi seperti kuburan.”

“Bagaimana nggak sepi kalau yang jaga manyun gitu.”

“Bukan sepi pembeli, tapi sepi karena nggak ada yang berisik.”

“Sial! Jadi menurutmu aku berisik gitu? Ya sudah, aku pulang saja.”

“Eiitss, apaan sih, tukang ngambek. Aku sedang dalam mood buruk, please, di sini saja.”

Sambil mengunyah permen karetnya, Icha duduk di kursi sebelah Eva. Mata Icha tertuju pada seorang yang berdiri tegap tepat di sebelah pintu toko Eva.

“Yang mau belanja ke sini pasti kabur duluan karena lihat ada agen FBI di sini.” gerutu Icha sambil menunjuk pengawal Eva.

Eva mendengus sebal. “Lama-lama aku bosan, aku nggak bisa bebas kayak dulu lagi dengan pengawal seperti itu.”

“Ngomong-ngomong, si Fandy mana? Kenapa bukan dia yang ngawal kamu?”

“Libur.”

“Libur? Kayak anak sekolahan aja pakek libur.”

Eva menyentil kening Icha. “Jangan bahas dia lagi, aku sedang muak. Mending kita main.”

“Main? Main ke mana? Kamu kan harus jaga toko.”

“Di tutup aja tokonya.” Eva bangkit dan menyiapkan barang-barangnya.

“Ciyee, yang sekarang jadi princess milyader…” Icha menggoda. “Mau dong di teraktir.”

Eva mendengus sebal karena kecerewetan sahabatnya tersebut. “Ayo ikut aku, nanti ku teraktir bakso di pinggir jalan sampek perutmu kembung.”

“Bakso? Buat apa?” Eva tidak menghiraukan pertanyaan Icha, ia malah menyibukkan diri untuk segera menutup tokonya dan segera pergi dari sana.

***

Fandy keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecilnya. Rasanya segar, dan juga sedikit lega mengingat ia bisa terbebas sepenuhnya dari sosok manja bernama Evelyn Mayers, Nona yang harus ia jaga. Ya, walaupun hanya sehari, tapi Fandy akan menikmati kesendiriannya hari ini.

Belum juga ia duduk santai di atas pinggiran ranjangnya, tiba-tiba ia mendengar bell pintu apartemennya berbunyi. Siapa yang datang bertamu? Sambil mengeringkan rambutnya, Fandy berjalan menuju ke arah pintu apartemennya. Dan setelah membuka pintu apartemennya, Fandy di kagetkan dengan sebuah pelukan yang ia dapatkan dari seorang gadis muda.

“Amora.” Suara yang setengah menggeram itu datang dari belakang gadis yang kini masih memeluk tubuh Fandy. Gadis yang bernama Amora itu segera melepaskan pelukannya pada tubuh Fandy ketika sang ayah setengah menggeram padanya.

“Boss.” Fandy berkata dengan penuh hormat. Ya, itu adalah sang Boss yang memperkerjakan Fandy.

“Boleh masuk?” sang Boss bertanya dengan wajah datar tanpa ekspresinya.

“Silahkan.” Meski sedikit bingung, tapi Fandy tetap mempersilahkan atasannya itu masuk beserta puteri manjanya. Ya, selama ini Bossnya itu tidak pernah datang ke apartemennya, jika kini bossnya itu datang kemari, berarti ada hal penting.

Fandy mempersilahkan sang Boss duduk di ruang tengah, sedangkan dirinya segera bergegas menuju ke arah dapur untuk membuatkan minuman untuk Bossnya.

“Aku kangen sama kamu.” Tiba-tiba Fandy merasakan tubuhnya di peluk dari belakang oleh seorang gadis manja.

Itu Amora Austin. Puteri dari Bossnya.

“Maaf Nona, jangan seperti ini.”

Amora mengerucutkan bibirnya. “Kamu berbeda. Ada apa? Kamu sudah punya adik baru di luar sana? Papa bilang kamu harus mengawal seorang nenek-nenek beberapa bulan kedepan, apa nenek itu sudah mengalihkan perhatianmu padaku?” Amora bertanya dengan nada sedikit merajuk.

Fandy sedikit tersenyum. Ah, gadis ini benar-benar menggemaskan. Fandy mengenal Amora sejak gadis itu masih kecil, ketika ia baru di masukkan ke dalam pelatihan sebuah agensi yang letaknya memang di rumah Amora. Gadis itu sangat menggemaskan dan lucu, tapi sayang, dia tidak punya teman. Ibunya entah pergi ke mana, dan Amora hanya memiliki seorang ayah, yaitu Bossnya saat ini.

Karena merasakan apa yang di rasakan Amora, secara alamiah Fandy dapat dengan cepat dekat dengan gadis itu. Amora sudah seperti adiknya sendiri, dan gadis itupun sudah menganggapnya sebagai kakaknya sendiri.

“Kamu tetap yang paling istimewa untukku.” Fandy menghilangkan nada formalnya, dan itu membuat Amora kembali tersenyum. “Tapi, ku mohon, jangan seperti ini di depan Boss.”

“Oke tuan.” Amora memberi hormat pada Fandy dan itu membuat Fandy tersenyum sesekali mengusap lembut puncak kepala Amora.

Amora kembali menuju ke arah ayahnya, duduk di sana sambil meraih sebuah majala yang berada di atas meja Fandy. Sesekali ia membacanya, sedangkan sang ayah masih duduk tegap penuh dengan kewaspadaan, ah, ayahnya itu sangat membosankan, hampir mirip dengan Fandy yang selalu datar tak berekspresi. Tak lama Fandy datang dan membawa minuman untuk mereka bertiga.

“Ada yang penting hingga Boss datang kemari?” tanya Fandy secara langsung.

“Saya cuma mengantar Amora, dia ingin bertemu denganmu.”

Fandy mengerutkan keningnya. Biasanya, jika Amora ingin pergi keluar atau ingin menemuinya, gadis itu akan di antar oleh anak buah Bossnya, bukan Bossnya secara langsung.

“Bagaimana pekerjaanmu? Apa gadis itu menyulitkanmu?” pertanyaan si Boss seketika membuat Fandy mengangkat sebelah alisnya. Gadis itu? bagaimana bossnya tahu kalau kini ia di tugaskan menjaga seorang gadis?

“Gadis? Bukannya papa bilang kalau Fandy harus mengawal seorang nenek?” Amora yang bertanya.

“Ya, sedikit menyulitkan.” Fandy menjawab pertanyaan Bossnya tanpa menghiraukan pertanyaan Amora.

“Jadi Fandy benar-benar mengawal seorang gadis?” Amora kembali bertanya.

“Dia cucu dari nenek yang harus ku jaga, Amora.” Fandy menjawab.

“Tetap saja, papa bohong tentang ini.”

“Amora!” sang ayah berseru keras. “Fandy hanya menjalankan tugasnya, entah itu seorang nenek atau bukan, itu bukan urusan kamu.”

Amora diam seketika karena seruan keras yang ayah. Ayahnya tidak pernah sekasar ini padanya, kenapa reaksi ayahnya berlebihan seperti ini?

“Lebih baik kita pulang.” Lelaki tinggi besar itu segera berdiri, mengajak puterinya pergi dari apartemen Fandy.

“Enggak, aku mau di sini dengan Fandy.”

“Amora!”

“Boss, biarkan saja Amora di sini, saya yang akan mengantarnya nanti.” Fandy menyahut.

“Dia terlalu banyak di manja.” Setelah kalimatnya tersebut, lelaki itu pergi meninggalkan Fandy dan juga Amora.

Setelah ayahnya pergi, Amora menangis seketika. ia benci ketika melihat ayahnya bersikap seperti itu padanya. Seharusnya sang ayah dapat membedakan mana anak buahnya mana puterinya, tapi ayahnya itu seakan selalu melihat semua orang sama. Amora tidak suka dengan hal itu.

Yang dapat Fandy lakukan hanyalah memeluk Amora, ya, bagaimanapun juga gadis itu sudah seperti adik kandungnya sendiri, ia mengenal Amora sejak keci, dan ia tidak bisa menghilangkan rasa sayangnya pada gadis itu.

***

Eva tidak berhenti menggerutu kesal. Meski ada Icha yang setia menemani di sebelahnya, tapi entah kenapa rasa bosan seakan tidak ingin meninggalkannya. Kakinya terus melangkah, menyusuri ke segala penjuru pusat perbelanjaan, lalu berhenti ketika matanya menemukan sesuatu yang menarik baginya, kemudian membelinya begitu saja tanpa pikir panjang. Selalu seperti itu hingga tangan seorang pengawal yang berjalan di belakangnya saat ini penuh dengan barang-barang belanjaannya.

Icha tidak berhenti bercerita tentang Kevin, kekasihnya yang juga sekaligus teman Eva, namun Eva seakan enggan mendengar cerita dari Icha, entahlah, ia hanya sedang dalam mood  buruk. Dan ia tahu jika ini ada hubungannya dengan Fandy?  karena jika Fandy berada di sini, mungkin saat ini ia sedang asik menggoda lelaki itu.

Eva memutuskan untuk menghubungi Ramon, meminta lelaki itu untuk menyusulnya ke tempat dimana dia berada hingga ia mampu menghilangkan mood buruknya yang sejak semalam ia rasakan. Tapi lelaki itu belum juga sampai di hadapannya saat ini.

Ahhh, Ramon sama  menjengkelkannya seperti Fandy.

“Va, kamu mau ke mana lagi? Aku capek ngikutin kamu terus.”

“Entahlah. Aku juga bingung.”

“Astaga, kamu kenapa sih? Hari ini nggak asik banget.” Eva hanya mengangkat kedua bahunya. “Apa ada hubungannya dengan Fandy?” tanya Icha lagi.

“Fandy? Kenapa dengan dia?”

“Mungkin kamu lagi kangen sama dia.”

“Enak saja, aku lagi muak sama dia, mana mungkin aku kangen sama dia.” Kaki Eva terus saja melangkah hingga kemudian ia menghentikan langkahnya ketika pandangannya tertuju pada sesuatu.

Itu adalah lelaki yang sejak tadi mengganggu pikirannya dan membuat moodnya memburuk. Fandy, lelaki itu tidak sendiri melainkan dengan seorang gadis yang bergelayut manja pada lengannya.

Siapa dia? Apa itu… wanita yang di cintai Fandy seperti yang pernah lelaki itu ucapkan?

Tidak mungkin!

“Va, kenapa?” Icha bertanya saat Eva menghentikan langkahnya dan menatap sesuatu dengan bibir yang ternganga. Icha mengikuti arah pandang Eva dan mendapati Fandy sedang asik dengan seorang gadis yang terlihat lebih muda dari mereka. “Itu Fandy? Sama siapa? Pacarnya?” Icha juga mulai bertanya-tanya.

Icha lalu menatap ke arah Eva, sahabatnya itu tampak shock dengan pemandangan di hadapan mereka. Dan itu membuat Icha tertawa lebar melihat ekspresi bodoh yang di tampilkan oleh Eva.

Eva melihat ke arah Icha yang tampak tertawa lebar. “Kamu gila?”

“Kamu terlihat bodoh.” jawab Icha masih dengan tawa lebarnya.

“Bodoh? Mari kita tunjukkan, bagaimana ‘Bodoh’ itu.” Eva menjawab sambil berjalan menuju ke arah Fandy.

“Eh, kamu mau ngapain?”

“Kita akan menghampiri mereka, kita cari tahu apa hubungan mereka.”

“Kamu gila? Enggak ah, malu-maluin aja ganggu orang pacaran.”

“Kita nggak ganggu, kita hanya akan ke sana dan bertanya baik-baik. Apa itu salah?”

“Kalau mereka beneran pacaran gimana? Apa kamu nggak malu tanya secara terang-terangan pada mereka?”

“Nggak. Pokoknya aku mau ke sana dan bertanya secara langsung pada Fandy dan gadis itu.” Eva tidak bisa di ganggu gugat. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ke arah Fandy. Tak lupa ia merogoh ponselnya, lalu kembali menghubungi Ramon, menanyakan keberadaan lelaki itu yang tak juga kunjung sampai.

Sial! Ia membutuhkan Ramon, ia membutuhkan lelaki itu untuk menguatkan hatinya saat menghadapi Fandy.

-TBC-

Lovely Wife – Prolog

Comments 6 Standard

Lovely wife

 

Haiii cerita baru nih dear…. kenalan aama abang baru yuukkkk happy reading.. muacchhh

 

Prolog

 

-Nadine-

 

Aku Nadine Citra, seorang istri dari lelaki yang biasa ku panggil Boss. Ya, aku menikah dengan atasanku sendiri, kakak dari sahabatku. Oh, aku merasa hidupku seperti sebuah novel yang pernah ku baca sebelumnya. Please stay with me, kisah tentang sorang Andhara yang jatuh cinta dengan Revano, kakak dari sahabatnya sendiri hingga kemudian keduanya berakhir menikah. Bedanya dengan Dara, aku sama sekali tidak mencintai dia, kakak dari sahabatku, lelaki yang kini menjadi suamiku. Pernikahan kami hanya sebuah nama, hanya sebuah status tanpa ada kisah di dalamnya. Aku selalu menghormati dia sebagai suamiku, meski aku tidak pernah memiliki cinta untuknya, tapi ketika rasa itu mulai tumbuh, sebuah kenyataan menghancurkan anganku, meremukkan hatiku hingga menjadi butiran debu yang terbang tertiup angin.

Dia mengkhianatiku dengan rencana kejamnya, dia membuatku terlihat bodoh karena suatu hal yang dengan begitu mudah ia sembunyikan dariku, dia membuatku terlihat lemah karena rasa yang mulai tumbuh untuknya.

Haruskah aku memaafkannya, atau meninggalkannya dan berusaha menghapus cinta yang mulai tumbuh untuknya?

 

-Dirga-

 

Tak kenal rasa, tak tahu cinta, dan sama sekali tidak peka dengan hal-hal di sekitarku, itulah aku, Dirga Prasetya. Aku berjalan di atas keyaakinanku, aku melakukan apapun yang ku inginkan sesuai dengan rencanaku, tapi ketika dia datang dan mulai mempengaruhiku, semuanya berubah.

Nadine, wanita yang ku nikahi hanya karena rencana sialanku dan juga nafsu bejatku. Ya, jangan di tanya lagi apa alasan sebenarnya aku menikahinya, tentu saja karena aku tergoda dengan dia. Dia adalah puteri dari sahabat ayahku, dan aku tidak mungkin memperlakukannya dengan kurang ajar  seperti aku memperlakukan teman kencan semalamku. Di tambah lagi, Nadine adalah kekasih dari Darren, suami adikku. Dan ku pikir, satu-satunya jalan tengah untuk membuat semuanya membaik adalah dengan cara aku menikahinya. Aku bisa memilikinya sekaligus memperkecil kemungkinan Nadine kembali dengan Darren dan akan mengakibatkan adikku sakit hati.

Ya, semuanya tampak berjalan sempurna sesuai dengan yang ku rencanakan, tapi ketika rasa aneh itu mulai sering datang menghampiriku, semuanya hancur berantakan.

Aku tahu jika aku bukan hanya tertarik dengan Nadine, dia sudah mengajariku tentang suatu rasa yang dulu bagiku sangat menggelikan. Dia menunjukkan padaku suatu kebahagiaan lain selain kebahagiaan yang ku dapatkan dari keluargaku. Dan tanpa ku sadari, dia sudah menjadi canduku.

Bagaimana mungkin Nadine bisa melakukan semua ini terhadapku? bagaimana mungkin dia dapat memberiku efek paling buruk yang sejak dulu sangat kutakuti?

-TBC-

Dirga Prasetya

Nadine Citra