Evelyn – Chapter 5 (Tempat Rahasia)

Comments 8 Standard

Evelyn

 

Trailer Novel Evelyn dera, di tonton yakk.. hehehehheheh

 

Dengan sigap Fandy mulai sedikit mengangkat tubuh Eva, membawa Eva ke atas ranjang gadis tersebut tanpa melepaskan tautan bibirnya. Oh, Eva merasakan jika kini Fandy adalah lelaki terpanas yang pernah ia temui, ia tidak pernah menginginkan seorang lelaki evelyseperti ia menginginkan Fandy, haruskah ia memberikan kehormatannya pada seorang Fandy?

Sedangkan Fandy sendiri sudah tidak bisa berhenti, tubuhnya menegang seutuhnya ketika gairah primitif tengah menguasainya. Ia menginginkan gadis ini, gadis yang kini masih bertautan bibir dengannya. Haruskah ia melanjutkan apa yang ia inginkan?

***

Chapter 5

-Tempat rahasia-

 

Fandy terus melumat bibir mungil tersebut, ciumannya semakin panas ketika ia merasakan balasan dari Eva. Fandy sudah menindih Eva, sedangkan tangannya sudah memenjarakan kedua pergelangan tangan gadis di bawahnya ini.

Yang di bawah sana sudah menegang seketika. Oh, Fandy tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Ia selalu bisa menahan diri, ia selalu bisa mengendalikan hawa nafsunya, tapi dengan Eva, entah kenapa semua berbeda. Eva seakan dapat  menyentuhnya, merobohkan dinding-dinding kewaspadaannya.

Cumbuan Fandy turun ke rahang Eva, ketika tautan bibir mereka terlepas, Eva mengeluarkan erangan-erangan yang membuat Fandy semakin tergoda. Ah, gadis ini sungguh menggemaskan, menggemaskan sekaligus menggairahkan, berbeda ketika ia mengagumi sosok Sienna dulu, Sienna yang manja dan menggemaskan.

Sienna?

Fandy menghentikan aksinya seketika saat bayangan gadis itu muncul dalam benaknya. Sial! Kenapa bayangan Sienna masih menghantuinya?

Fandy bangkit, lalu membenarkan penampilannya sesekali melirik ke arah Eva yang tampak berantakan di atas ranjangnya.

“Kenapa nggak di teruskan?” Eva malah menayakan pertanyaan tersebut pada Fandy.

“Sudah malam, saya akan tidur.” Fandy berbalik, dan bersiap pergi meninggalkan Eva,tapi baru dua langkah, Eva menghambur memeluk tubuhnya dari belakang.

“Kenapa? Apa aku kurang menarik untukmu? Apa kamu punya wanita lain yang kamu cintai sampai-sampai kamu tidak tertarik denganku?” Oh, jangan tanya bagaimana frustasinya Eva saat ini, ia tidak pernah gagal dalam merayu lelaki, dengan senyumannya dan juga sikap centilnya saja, ia bisa menggaet lelaki yang ia kehendaki. Tapi Fandy, ah, lelaki ini benar-benar, Eva bahkan sudah menggoda Fandy, tapi lelaki itu seakan tidak tertarik dengaan dirinya.

“Ya, sudah ada wanita yang ku cintai.” Tanpa di duga, Fandy mengucapkan kalimat tersebut.

Dengan spontan Eva melepaskan pelukannya, lalu ia memaksa tubuh Fandy untuk menghadap tepat ke arahnya. “Siapa wanita itu? apa kelebihan dia di bandingkan aku?”

“Anda tidak perlu tahu, Nona.”

“Persetan dengan omong kosongmu! Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku dan melupakan wanita sialan itu.”

“Maaf, itu tidak mungkin.”

“Kita lihat saja nanti.”

“Baiklah, saya akan keluar.”

“Fandy.” Eva meraih pergelangan tangan Fandy, membuat lelaki itu menghentikan langkahnya. “tidur di sini saja.” ucap Eva sambil bergelayut manja di lengan Fandy.

Fandy melepas paksa pelukan Eva pada lengannya, lalu berkata lembut pada gadis tersebut. “Maaf, saya tidak tidur dengan perempuan yang belum menjadi istri saya.” Fandy mengucapkan kalimat tersebut dengan di iringi oleh senyuman lembutnya, lalu ia meninggalkan Eva begitu saja.

Eva sendiri hanya ternganga dengan kepergian Fandy. Oh, lelaki itu benar-benar membuatnya terpesona, karena senyumnya, karena perkataannya, dan karena semua yang ada dalam diri lelaki tersebut.

Fandy, aku akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya, aku akan mendapatkanmu. Sumpah Eva dalam hati.

***

Paginya…

Fandy benar-benar terkejut ketika ia keluar dari dalam kamar mandinya dan mendapati Eva sudah duduk di pinggiran ranjangnya. Gadis itu masih mengenakan piyama tidurnya, terlihat sekali jika gadis itu baru bangun tidur.

“Pagi, sayang.” Sapa Eva dengan manja.

Fandy hanya mengangkat sebelah alisnya. “Ada apa anda ke sini pagi buta seperti ini?”

Eva malah bangkit dan berjalan menuju ke arah Fandy. “Entah berapa kali ku bilang, bisakah kamu menghilangkan cara bicaramu yang formal dan menyebalkan itu?”

Fandy hanya diam, ia mentap Eva yang tampak menantangnya. Saat ini Fandy masih bertelanjang dada dengan sebuah handuk yang melingkari pinggangnya. Eva sedikitpun tidak tampak canggung dengan ketelanjangan Fandy, begitupun dengan Fandy yang dapat mengendalikan kegugupan yang entah sejak kapan sedang melandanya.

“Bisakah kamu keluar sebentar? Aku mau mengganti pakaian.”

“Tidak mau.”

Fandy menghela napas panjang. Ia kemudian melangkah menuju lemari pakaiannya, memilih kemeja yang akan ia kenakan tanpa mempedulikan Eva yang sudah mengikuti tepat di belakangnya.

“Membosankan sekali, pakaianmu semua warnanya senada, kemeja putih dengan setelan hitam, hidupmu terlihat membosankan.” Eva memberi komentar setelah ia melihat isi lemari Fandy yang hanya ada beberapa potong baju yang di gunakan untuk bekerja.

“Memang seperti ini hidupku.”

“Bersamaku, kamu tidak perlu hidup membosankan seperti ini.”

“Maksudnya?”

“Oke, pakai saja kemejamu, aku akan mandi sebentar, dan kita akan pergi.”

“Tapi Nona-”

“Aku tidak ingin di bantah.” ucap Eva sambil pergi meninggalkan Fandy. Sedangkan Fandy hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tubuh gadis itu keluar dari dalam kamarnya.

Dasar gadis manja yang suka seenaknya sendiri. Gumamnya dalam hati.

***

 

Cukup lama Fandy menunggu Eva di luar kamar gadis tersebut. Beberapa pelayan rumah keluar masuk dari kamar Eva sesekali melirik ke arah Fandy. Ya, Fandy tentu mendengar gosip di dalam rumah ini, gosip tentang kedekatan dirinya dengan Eva.

Sedikit risih, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi pekerjaannya, dan semua ini adalah permintaan Eva. Fandy tentu tak dapat menolak berdekatan dengan Eva hanya karena alasan gosip sialan itu.

“Anda di suruh masuk Nona Evelyn.” Seorang pelayan berkata padanya. Fandy mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Eva.

Di dalam kamar, ternyata semua pelayan sudah keluar, hanya terlihat Eva yang masih sibuk memilih sepatu yang akan ia kenakan.

Fandy menatap Eva dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis tersebut. Eva tampak santai mengenakan T-shirt ketatnya, dengan di padukan celana yang super pendek. Oh, Fandy bahkan dapat melihat betapa putih mulusnya kaki jenjang itu. tanpa sadar Fandy menelan ludahnya dengan susah payah, gairahnya terbangun begitu saja, apa yang terjadi dengannya?

“Hai, kamu sudah di sini?” sapa Eva yaang kini sudah menatap ke arahnya, tapi gadis itu masih sibuk memilih sepatu yang akan ia kenakan.

“Itu saja.” Tanpa sadar Fandy berkomentar ketika ia melihat Eva mencoba sepatu flat berwarna merah muda, sangat cocok dengan kulit pucat gadis tersebut.

Eva memiringkan kepalanya, ia lalu berjalan menuju ke arah Fandy. “Kamu memperhatikan aku? Kamu ingin aku pakai sepatu ini?” tanyanya sambil mendekat ke arah Fandy.

“Maksudku,” Fandy berdehem ketika ia rasa jika suaranya tiba-tiba serak. “Kamu cocok pakai sepatu itu.”

“Oh ya?” Eva menatap kakinya sendiri. “Apa aku terlihat cantik? Terlihat menakjubkan? Atau aku terlihat menggairahkan dengan sepatu ini?”

Fandy memutar bola matanya ke arah lain ketika penyakit Eva yang super percaya diri itu kambuh. “itu hanya terlihat cocok, tidak lebih.” Fandy bergumam datar.

“Ahh kamu nggak asik. Lagian apaan ini, buka saja.” Eva akan membuka setelan yang di kenakan Fandy tapi kemudian Fandy mencengkeram pergelangan tangannya.

“Aku tidak sukah di sentuh.”

“Hadeh, siapa yang mau nyentuh kamu, Pede sekali. Aku cuma mau membuka setelanmu. Kita akan belanja ke mall, dan aku tidak suka di temani dengan lelaki yang super rapi dan membosankan kayak kamu.”

“Kalau begitu, Nona Evelyn bisa meminta pengawal lain untuk menemani Nona.”

“Enak saja, aku ingin di temani sama kamu. Ayo cepat buka.”

Fandy mendengus sebal. Mau tidak mau dia menuruti kemauan Eva. Ketika Eva melucuti senjatanya, Fandy kembali menjegal tangan Eva.

“Tidak ada senjata hari ini.”

“Tapi Nona-”

“Panggil Eva.”

“Eva.” Akhirnya mau tidak mau Fandy memanggil Eva dengan panggilan tersebut meski ia merasa sedikit aneh. “Ini sudah pekerjaanku.”

“Dan hari ini kamu di bebaskan dari tugas dan pekerjaanmu, ayolah, turuti mauku sekali ini saja.”

Fandy menghela napas panjang dan menuruti permintaan Eva. Kini, Fandy hanya berdiri dengan mengenakan kemeja putiknya. Eva tampak asik mengamati tubuh Fandy dengan sesekali mengusap dada bidang Fandy.

“Nah kalau seperti ini kan kamu kelihatan lebih muda. Berapa umurmu?”

“Aku tidak tahu.”

“Tidak tahu? Kamu aneh.”

“Aku besar di panti asuhan, jadi untuk pastinya usiaku, tidak ada yang tahu.”

Eva tercenung sebentar. “Di panti asuhan? Lalu, bagaimana kamu bisa menjadi pengawal profesional seperti sekarang ini?”

“Mungkin sudah takdirku.”

Eva mendengus sebal. “Kamu tahu nggak, kamu adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah ku kenal. Apa kamu bisa hilangkan sikap datarmu itu sedikit saja saat berhadapan denganku?”

Fandy hanya mengangkat sebelah alisnya, ia tak menanggapi pernyataan Eva tersebut.

“Jadi kira-kira, berapa usiamu?”

“Dua puluh enam, mungkin.”

Eva membulatkan matanya seketika. “Kamu yakin? Kamu terlihat seperti om-om dengan usia tiga puluhan.”

“Aku tidak peduli dengan penampilanku.”

“Tapi aku peduli, sekarang, ayo ikut aku, kita akan merubah penampilanmu.”

“Merubah?” Fandy tampak bingung dengan yang di maksud Eva, tapi gadis itu hanya tersenyum sambil menyeret lengan Fandy keluar dari kamarnya.

***

Ini benar-benar gila.

Eva benar-benar menuruti hasratnya untuk mengubah penampilan Fandy. Gadis itu kini sedang sibuk memilih pakaian-pakaian keren untuk Fandy, sedangkan Fandy sendiri merasa tidak nyaman dengan apa yang di lakukan gadis tersebut.

“Nona, ini berlebihan.”  Fandy berkata pada Eva, tapi Eva seakan tidak mendengarkannya. Gadis itu masih terlihat asik memilihkan T-shirt untuknya.

“Coba ini.”

“Tidak.”

“Fandy, ayo coba.”

“Ini sudah berlebihan, kamu sudah banyak membelikanku pakaian, sedangkan aku tidak ingin mengenakannya.” Fandy mengangkat beberapa tas belanjaan yang semua isinya adalah pakaian-pakaian yang di belikan Eva tadi untuknya.

“Ini nggak seberapa.”

“Aku tahu kamu kaya, tapi aku tetap tidak ingin kamu memperlakukanku seperti ini.”

Eva menyipitkan matanya pada Fandy. “Aku hanya ingin merubahmu supaya kamu tidak terlalu kaku.”

“Aku memang sudah kaku dari sananya, jadi kamu tidak perlu merubahku.”

Eva mendengus sebal. Ah, Fandy benar-benar keras kepala. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Eva merogoh ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.

“Halo.”

“Evelyn.”

“Mama! Mama di mana? Astaga.”

“Mama di tempat yang aman, bagaimana kabar kamu sayang? Mama kangen kamu.”

“Eva juga kangen Mama, Mama kenapa pergi?” mata Eva sudah berkaca-kaca, ia bahkan tidak menghiraukan Fandy yang kini sedang memperhatikannya.

“Mama sama Papa ada sedikit masalah. Ev, kamu masih mau ketemu Mama, bukan?”

“Tentu saja, Ma. Di mana? Kapan?”

“Di tempat kita biasa makan siang dulu. Siang ini, Mama benar-benar kangen sama kamu.”

“Oke, Eva akan ke sana. Apa Mama ingin Eva mengajak Papa?”

“Jangan.” Eva sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari sang mama. “Maksud mama, hubungan papa dan mama belum membaik, jadi biarkan kami saling menyendiri dulu.”

“Tapi sampai kapan, Ma?” Eva benar-benar sangat sedih mengingat hubungan kedua orang tuanya. Ia tentu berharap jika keluarga mereka akan kembali utuh seperti dulu.

“Mama juga nggak tahu, Ev, sudah dulu ya, mama tunggu kamu di restoran biasa nanti siang.”

“Ma-” belum sempat Eva melanjutkan kalimatnya, sang mama sudah memutus sambungantelepon mereka. Eva menghela napas panjang, ia menundukkan kepalanya, rasanya ingin menangis, tapi kemudian ia sadar jika mungkin saja kini Fandy sedang memparhatikannya.

Eva menoleh ke arah Fandy, dan benar saja, ternyata lelaki itu sedang memperhatikannya. Eva tampak salah tingkah, apa ia terlihat cengeng dan menggelikan? Oh yang benar saja, Eva tidak ingin terlihat seperti itu di mata siapapun apalagi Fandy.

“Ayo kita pergi dari sini.” Ajak Eva sambil berjalan meninggalkan Fandy yang masih terpaku menatap ke arahnya.

Fandy akhirnya menyusul Eva, Eva tampak berbeda ketika sedang berbicara dengan mamanya tadi. Fandy tahu jika gadis itu mungkin saja sedang merasa kesepihan, dan itu sama seperti dirinya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Fandy ketika dirinya sudah berada tepat di sebelah Eva. Eva berjalan cepat seakan ingin menghindari kontak mata darinya, Fandy tentu tahu itu karena gadis itu terlihat seperti ingin menangis, mungkin Eva tidak ingin terlihat seperti itu di depan orang lain.

“Aku akan ketemu Mama, akhirnya dia menghubungiku.” Eva terlihat seperti orang yang kegirangan, padahal Fandy dapat menangkap dari mata gadis itu, jika gadis itu kini sedang bersedih.

“Kamu terlihat sedih.”

“Sedih? Kamu gila? Aku mau ketemu mama, mana mungkin aku sedih?”

“Mungkin sedih karena hal lain.”

“Kamu sok tahu, ayo ikut saja.”  Dan yang bisa Fandy lakukan hanya mengikuti kemanapun kaki Eva melangkah ketika gadis itu dengan manjanya mengapit lengannya dan berjalan dengan mesra bersamanya layaknya sepasang kekasih.

***

Mereka menunggu di sebuah restoran cukup lama, Fandy bahkan sudah sesekali melirik ke arah jam tangannya, tanda jika ia dan Eva sudah sangat lama menunggu, apa mama Eva benar-benar akan menemui puterinya?

“Nona, apa tidak sebaiknya nona makan dulu, kita sudah menunggu lebih dari dua jam, ini sudah lewat waktu makan siang.”

“Aku mau nunggu mama, aku mau makan siang bareng mama.”

“Tapi Nona-”

“Fan, please, kalau kamu bosan di sini, kamu bisa keluar jalan-jalan dan temui aku lagi di sini setelah rasa bosanmu hilang, tapi aku tetap akan di sini, menunggu mama dan makan siang bareng sama dia nanti. Jangan paksa aku.”

“Saya tidak akan meninggalkan Nona Evelyn.”

Eva menghela napas panjang. Meski Fandy lagi-lagi berkata formal padanya, tapi ia tidak ingin meralat ucapan Fandy seperti sebelum-sebelumnya, entahlah, ia merasa lelah, perasaannya sedih bercampur aduk menjadi satu. Ia merindukan sang mama, ia ingin sang mama benar-benar menemuinya siang ini, tapi nyatanya, ia juga lelah menunggu sang mama, apa benar mamanya akan datang?

***

Di lain tempat

“Ini tidak benar Mark, Evelyn akan membenciku jika aku tidak datang menepati janjiku untuk menemuinya siang ini.” Maria sedikit khawatir ketika Mark, kekasihnya melarangnya untuk menemui Eva, puterinya.

“Dia tidak akan membencimu, ini hanya sebuah cara supaya Evelyn semakin merindukanmu.”

“Tapi bagaimana jika nanti dia membenciku?”

“Tidak mungkin. Kamu seharusnya percaya dengan pengalamanku, instingku selalu tajam, dan instingku mengatakan jika kamu harus menarik ulur puterimu tersebut hingga dia semakin menginginkan untuk bertemu denganmu.”

“Tapi jika kebalikannya?”

“Maria.” Lelaki yang bernama Mark tersebut menangkup kedua pipi Maria. “Percaya padaku, Evelyn akan jatuh ke tangan kamu, jika tidak, kamu tenang saja, aku masih memiliki rencana B buat kamu.”

Maria mengerutkan kieningnya. “Rencana B?”

Mark hanya tersenyum miring. Senyuman misterius yang entah sejak kapan membuat Maria semakin jatuh terpuruk dalam pesona kekasihnya itu hingga ia memilih meninggalkan suami dan anaknya demi lelaki di hadapannya tersebut.

***

Malam semakin larut, tapi Eva sedikitpun tidak ingin bergegas dari tempat duduknya. Entah sudah berapa gelas minuman yang ia pesan sejak siang tadi untuk menunggu mamanya, tapi sang mama tak juga kunjung datang.

Fandy hanya menatap iba Nonanya yang biasanya tampak ceria tapi kini gadis itu terlihat sendu. Fandy yang tadinya memang berdiri agak jauh dari tempat duduk Eva, kini sudah melangkah mendekati gadis tersebut.

“Sudah malam, apa nggak sebaiknya kita pulang?”

“Aku mau nunggu Mama.”

“Restorannya mau tutup, kalau Nona mau, kita bisa menunggu di dalam mobil.” Dan tanpa banyak bicara, Eva bangkit meninggalkan tempat duduknya tadi.

Fandy menghela napas panjang. Perasaan Eva saat ini pasti sangat sedih, sedih dan hancur, tapi bagaimana lagi, ia juga tidak dapat menghibur gadis tersebut, karena ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghibur seseorang.

Fandy membayar tagihan Eva, tak lupa ia juga memesankan makanan untuk gadis itu karena setahunya, Eva belum memakan apapun sesiang ini selain beberapa gelas jus yang ia pesan.

Fandy segera menuju ke arah mobilnya, dan ketika ia masuk ke dalam mobilnya, ia tercenung menatap Eva yang sudah lebih dulu berada di sana. Gadis itu duduk memeluk kedua lututnya dengan wajah yang di tenggelamkan pada lututnya.  Dan gadis itu sedang terisak.

Yang bisa Fandy lakukan hanya diam dan menatap Eva. Ia membiarkan Eva tenggelam dalam kesedihannya tanpa ingin mengusiknya. Jemarinya seakan ingin terulur, mengusap lembut rambut gadis tersebut, tapi ia masih dapat mengendalikan dirinya. Akhirnya Fandy memutuskan untuk hanya menatap Eva yang menangis sesenggukan.

Setelah cukup lama Eva menangis dan menenggelamkan wajahnya, gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya. Yang pertama kali Fandy lihat adalah mata Eva yang basah dengan sisa-sisa air mata di sana. Ingin rasanya ia mengusap airmata itu, tapi sekali lagi ia dapat menahan dirinya hingga tidak berbuat terlalu jauh.

“Kita pulang saja.” Suara yang biasanya terdengar centil dan ceria, kini terdengar serak dan sendu oleh telinga Fandy.

“Nona Evelyn tidak ingin keluar? ke tempat lain, mungkin? Saya akan menemani.”

“Enggak, aku mau pulang.”

“Kita tidak bisa pulang saat Nona Evelyn dalam keadaan seperti ini. Saya harus menjawab apa ketika Nenek atau Papa Nona nanti bertanya.”

“Kalau begitu bawa aku pergi dari sini! Aku nggak mau di sini, aku mau pergi dari sini!”

Fandy akhirnya mulai menyalakan mesin mobilnya ketika Eva kembali menangis. Ah, gadis ini benar-benar membuatnya bingung, harus ia bawa kemana gadis ini hingga perasaannya bisa membaik?

***

“Kita sudah sampai.”

Eva mengangkat wajahnya saat mendengar kalimat itu. ia tampak asing dengan pemandangan di hadapannya, ini seperti di sebuah basement, tapi Eva tidak tahu di mana tepatnya karena sejak tadi ia memilih menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya.

“Ini di mana?”

“Yang pasti bukan di rumah Nona Evelyn.” Jawab Fandy dengan wajah datarnya.

“Aku tahu ini bukan di rumahku. Jadi sekarang cepat katakan, di mana ini atau aku nggak mau keluar dari dalam mobil.”

“Oke, kalau begitu saya saja yang kaluar sendiri.” Fandy keluar dari dalam mobil sedangkan Eva akhirnya mau tidak mau mengikuti Fandy tepat di belakang lelaki tersebut.

“Sebenarnya kita akan ke mana?”

Fandy tidak menjawab, ia masuk ke dalam sebuah lift, dan yang bisa Eva lakukan hanya mengikuti kemanapun langkah lelaki di hadapannya tersebut. Lift menuju pada lantai paling atas, Eva sesekali melirik ke arah Fandy karena lelaki itu tampak sedikit misterius. Tak di pungkiri jika kini dirinya sedikit takut dengan sosok yang berdiri di sebelahnya tersebut.

Lift terbuka, dan di depan sebuah lift tersebut hanya ada sebuah pintu.

“Ini apartemen saya.”

“Apa?” Eva tampak terkejut dengan ucapan Fandy.

“Ayo masuk.”

Akhirnya Eva mengikuti Fandy masuk ke dalam apartemennya. Apartemen yang sangat luas, tapi tak ada pernak-pernik yang menghiasi interiornya, tak ada bingkai foto, vas bunga, atau pajangan-pajangan berharga lainnya, semuanya tampak datar di mata Eva. Datar tapi cukup mewah.

“Jadi, kamu tinggal di sini?” Eva bertanya masih dengan menatap sekelilingnya.

“Ya, jika tidak bertugas.”

“Ini milik kamu sendiri, atau kamu menyewanya?”

Fandy memberikan sebuah minuman kaleng yang baru di ambilnya dari dalam lemari pendingin pada Eva. Sedikit tersenyum dia bertanya, “Kenapa? Ada yang aneh?”

“Aku hanya penasaran, berapa banyak gajih yang kamu dapat  dengan pekerjaanmu hingga kamu memiliki aset mewah seperti apartemen ini?”

Fandy tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Ayo ikut saya.”

“Kemana lagi?”

“Akan saya tunjukkan pada Nona tempat saya menghabiskan waktu ketika merindukan seseorang.”

Eva menyipitkan matanya pada Fandy, tapi ia tetap mengikuti kemanapun lelaki itu pergi. Mereka menuju ke sebuah lorong yang berujung pada sebuah anak tangga kecil. Fandy menaikinya, dan Eva tetap mengikutinya hingga Eva sadar jika kini dirinya sudah berada pada atap dari gedung yang ia pijaki saat ini.

“Astaga… ini gila!” Eva sedikit berlari menuju pinggiran atap gedung tersebut. Ia menatap jauh ke segala penjuru. Pemandangan yang sangat indah, lampu-lampu jalanan beserta gedung-gedung tinggi lainnya entah kenapa membuat perasaannya tenang dan damai.

“Bagaimana mungkin ada tempat seperti ini? Ini menakjubkan sekali.” Eva benar-benar terlihat senang ketika berada di sana.

“Saya menyebutnya ‘tempat rahasia’. Ini tempat di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri. Tempat yang tidak pernah saya tunjukkkan pada orang lain.”

“Tapi kamu menunjukkannya padaku.” Eva menatap Fandy dengan lembut.

Fandypun menatap Eva dengan tatapan lembutnya, “Karena saya pikir, Nona Evelyn membutuhkan tempat ini.”

Eva mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipi Fandy. “Jangan bersikap formal padaku, bukannya di sini kamu bisa menjadi dirimu sendiri? Jadi lupakan saja status kita.”

Fandy tidak menjawab pernyataan Eva, ia memilih menatap Eva dengan tatapan penuh kekaguman. Gadis di hadapannya tersebut benar-benar terlihat indah di matanya, indah dan menggoda.

Tanpa sadar, Fandy sudah mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi Eva. “Jangan sedih lagi, jangan menangis lagi, aku tidak suka melihat perempuan menangis.”

“Aku hanya merasa kesepian.” Lirih Eva.

“Kamu tidak akan kesepihan lagi.”

“Kenapa?”

“Karena aku akan menemanimu.”

Eva tersenyum mendengar pernyataan Fandy. “Benarkah? Uum, apa aku boleh minta sesuatu darimu, di sini?”

“Silahkan.”

“Aku ingin menciummu.”

Fandy sempat membulatkan matanya saat mendengar permintaan Eva yang begitu terang-terangan. “Tidak.”

“Fandy.” Rengen Eva.

“Karena kali ini, aku yang akan menciummu.” Eva terperangah dengan ucapan Fandy, dan ketika bibirnya masih terbuka karena tercengang, Eva merasakan jika bibir Fandy sudah mulai menyambar bibirnya yang masih terbuka, melumatnya dengan lembut seakan lelaki itu begitu menginginkannya. Apa benar Fandy menginginkannya?

-TBC-

Evelyn – Chapter 4 (Pelindung)

Comments 8 Standard

Evelyn

“Fan, aku curiga jika kamu menyalahgunakan pekerjaanmu untuk mengekangku.”

“Maaf?” Fandy tampak tak mengerti.

Eva tertawa mengejek. “Begini, akui saja kalau kamu tidak suka melihat kedekatanku dengan kekasihku.”

“Apa?” Fandy tampak terkejut dengan tuduhan yang di tunjukkan Eva padanya. “Maaf Nona Evelyn, anda berpikir terlalu jauh.”

Eva tampak kesal dengan jawaban yang di berikan Fandy. “Kalau begitu tinggalkan aku, aku akan berkencan dengan kekasihku sendiri tanpa kamu mengawalku.”

“Maaf, saya tidak bisa.”

“Fandy.”

“Sudah, tinggalkan saja dia.” Secepat kilat Ramon meraih pergelangan tangan Eva kemudian menariknya pergi dari hadapan Fandy, tapi baru beberapa langkah, Fandy menyusul, dan dalam sekejap mata Fandy sudah memisahkan Eva dari Ramon.

“Saya tidak akan membiarkan anda mengajak Nona Evelyn pergi tanpa saya.” Ekspresi Fandy masih tetap datar-datar saja, tapi perkataan itu di ucapkan dengan penuh penekanan.

Entah kenapa Fandy merasakan jika lelaki di hadapannya itu bukanlah lelaki yang baik, instingnya mengatakan jika ia tidak boleh meninggalkan Eva hanya berdua dengan lelaki itu. Tapi di sisi lain Fandy ragu, apa itu hanya instingnya yang terlalu tajam, atau ini ada campur tangan dari sebuah rasa aneh yang sejak tadi sedikit menggelitiknya?

 

Chapter 4

Pelindung

 

“Saya tidak akan membiarkan anda mengajak Nona Evelyn pergi tanpa saya.” Ekspresi Fandy masih tetap datar-datar saja, tapi perkataan itu di ucapkan dengan penuh penekanan.

Dengan sengaja Ramon mendekat ke arah Fandy, lalu tangannya melayang, berharap mampu meninggalkan pukulan di wajah tampan Fandy, tapi Ramon salah. Dengan cekatan Fandy menangkis pukulan dari Ramon, kemudian memutar tangan Ramon dan menguncinya di belakang tubuh lelaki tersebut.

“Brengsek! Apa yang lo lakuin, sialan!” Ramon tidak berhenti mengumpati Fandy, sedangkan Fandy sendiri masih santai mengunci kedua tangan Ramon di belakang tubuh lelaki tersebut

“Lepasin Fan! Kamu berlebihan!”

“Dia bukan lelaki yang baik untuk anda, Nona.”

“Baik atau tidaknya itu bukan urusan kamu!”

“Maaf, tapi itu urusan saya, saya bukan sekedar pengawal anda, saya adalah pelindung anda.” Eva hanya ternganga dengan jawaban yang di berikan oleh Fandy. Pelindung? Oh yang benar saja.

“Oke, oke. Sekarang lepaskan dia, aku tidak akan keluar dengan dia tanpa kamu.” Fandy masih tidak mau melepaskan kuncian tangan Ramon. “Fandy, Please.” Eva memohon. Akhirnya Fandy mau melepaskan kuncian tangan Ramon.

“Brengsek!” Ramon mengumpat keras-keras.

Ramon akan menyerang Fandy tapi dengan cepat Eva menghadangnya. “Ramon, sudah. Astaga, aku malu di lihat banyak orang.”

“Lain kali kalau jalan, jangan ajak dia.”

Eva menghela napas panjang. Ahh, rencananya benar-benar berantyakan. Bagaimana mungkin dua lelaki ini selalu ingin adu jotos? Padahal niat Eva kan hanya untuk memancing reaksi Fandy. Dan Fandy, astaga, lelaki itu masih datar-datar saja. Memang Fandy sempat terlihat emosi, tapi bagi Eva itu wajar, mengingat Fandy ingin melindunginya sebagai pengawal.

“Ya sudah, kita jalan, oke.” Dengan sigap Eva merangkul lengan Ramon dan mengajak Ramon berjalan lebih dulu. Sedangkan Fandy hanya mampu mengikutri keduanya dari belakang.

Di sisi lain, sepasang mata memperhatikan ketiganya dengan seksama. Sepasang mata itu mengikuti kemanapun ketiganya berjalan, sesekali menghubungi seseorang untuk melaporkan situasi yang sedang ia lihat.

***

Eva tidak berhenti memanyunkan bibirnya ketika berada di dalam mobil. Bukan tanpa alasan, ia hanya merasa jika semuia rencananya gagal total.

Sial Fandy! Sebenarnya lelaki ini terbuat dari apa sih? Eva sangat sulit menerka-nerka apa yang di rasakan lelaki ini.

Tadi, ketika di Dufan. Fandy tidak berhenti mengekori Eva dan Ramon. Sedikit senang karena hal itu membuat Fandy melihat betapa mesranya Eva dan Ramon. Tapi yang bikin kesal adalah lelaki itu sama sekali tidak bereaksi. Fandy baru akan bereaksi ketika Ramon dengan mesumnya akan mencoba menyentuh Eva. Tentu saja itu tidak cukup. Semua pengawal akan melindungi Nonanya seperti yang di lakukan Fandy pada Eva tadi, Eva hanya ingin Fandy melakukan lebih. Misalnya, melarang Ramon berdekatan dengan Eva, atau melarang jemari keduanya bersentuhan seperti tadi. Tapi sepertinya itu hanyalah mimpi, Fandy tidak mungkin seposesif itu.

“Kita ke Mall.” Perintah Eva dengan nada ketus.

“Maaf Nona, anda harus ke kampus.”

“Kamu apaan sih? Kamu hanya pengawalku, nggak berhak ngatur kemanapun aku mau!” Eva benar-benar tampak kesal.

“Baik.” Fandy menjawab dengan formal.

“Aku benci kamu, tahu nggak?”

Fandy hanya diam, dan itu membuat Eva semakin kesal.

“Fandy! Aku ngomong sama kamu, tahu!”

“Ya, Nona.”

“Ah! Lupakan! Pokoknya aku mau ke mall saat ini juga. Mending aku buka toko aksesorisku kembali dari pada ngampus.” Fandy tidak menjawab, ia memilih menuruti apa yang di perintahkan Eva. Meski sebenarnya dalam hati Fandy juga merasa sedikit kesal.

Kesal? Entahlah! Fandy sendiri bahkan tidak mengerti ia kesal karena apa.

***

“Jadi, apa yang kamu dapat?” seorang wanita bertanya pada seorang lelaki yang berpakaian hitam-hitam seperti seorang mata-mata.

“Ini, Nyonya. Nona Evelyn menjalankan aktifitasnya seperti sebelum-sebelumnya, hanya saja, sekarang ini dia selalu bersama dengan seseorang.” Si lelaki itu menyodorkan beberapa foto-gfoto hasil dari memata-matai seorang targetnya.

Si wanita mengamati dengan  teliti foto-foto tersebut. “Pengawal? Dia ada yang ngawal?”

“Ya, sepertinya begitu, nyonya.”

“Brengsek! Ini pasti rencana Nick agar aku tidak bisa dekat dengan Evelyn. Sialan!” Wanita itu mengumpat keras-keras.

“Ada apa, sayang?” sebuah suara lainnya datang dari ruangan berbeda. Seorang lelaki tinggi besar datang menghampiri wanita tersebut. Dengan manja si wanita bergelayut mesra di lengan lelaki tersebut.

“Nick, dia brengsek! Dia memberi pengawal pada Evelyn. Aku tahu dia melakukan itu karena tidak ingin aku dekat dengan Evelyn. Bagaimanapun juga, Evelyn adalah puteriku.” Si wanita menyodorkan foto-foto tersebut pada si lelaki.

Si lelaki hanya tersenyum miring. “Tenang sayang, kamu bisa mendapatkan Evelyn beserta aset-aset dari suami bodohmu itu. kita hanya menunggu waktunya saja.” Si wanita tersenyum puas.

Nick, aku akan mendapatkan semuanya, Evelyn dan juga semua yang kamu punya. Itu sumpahku…

***

Eva kesal. Sangat kesal.

Bagaimana tidak, sat ini Fandy sedang berdiri tegap khas pengawal-pengawal pada umumnya, lelaki itu berdiri tepat di sebelah pintu masuk toko aksesoris milik Eva dengan wajah sangarnya. Astaga, bagaimana ada orang yang mau mampir ke tokonya jika tokonya tersebut di jaga oleh Fandy?

Dengan kesal Eva menghampiri Fandy. “Fan, apa kamu nggak bisa masuk dan duduk saja di sana?”

“Tidak Nona, saya akan tetap di sini.”

“Kamu gila, ya? Mana ada yang mau mampir ke tokoku kalau tokoku di jaga ketat olehmu?”

“Saya tidak menjaga ketat.”

“Ya, tapi ini,” Eva mengusap kening Fandy yang berkerut. “Ini.” Usapan Eva turun pada mata Fandy. “Dan ini.” Kali ini Eva mengusap bibir Fandy. “Menegaskan jika kamu sedang menjaga toko ini dengan sangat ketat. Seakan ada sesuatu berharga di dalamnya.”

“Maksud Nona Evelyn?”

Eva menghela napas panjang. “Maksudku, kamu seperti sedang menjaga sebuah berlian. Nggak usah terlalu serius. Santai saja.”

“Saya memang sedang menjaga sebuah berlian.”

Eva tampak tidak mengerti. Tapi kemudian ia berpikir kalo mungkin saja Fandy menganggapnya sebagai sebuah berlian yang sangat berharga. Pipi Eva merona merah saat mendapati pemikiran tersebut.

“Berlian bagi keluarga Mayers.” Dan setelah Fandy melanjutkan kalimatnya, Eva kembali cemberut.

“Aish! Kamu nggak asik.” Eva memukul lengan Fandy dengan kesal, lalu ia kembali masuk ke dalam toko aksesorisnya sambil tak berhenti menggerutu kesal.

Ahh!! Fandy benar-benar menyebalkan. Pikirnya.

Sedangkan Fandy sendiri hanya menatap Eva dengan bingung. Gadis aneh! Memangnya dia salah bicara? Atau memang gadis itu selalu aneh seperti ini sikapnya? Dasar gadis manja! Pikir Fandy.

***

Elisabeth Mayers memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat puteranya yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya. Elisabeth tersenyum saat menyadari jika puteranya tersebuk kini sudah menjadi lelaki dewasa dengan seorang puteri cantiknya. Ah.. rasanya baru kemarin ia memiliki bayi mungil.

“Apa aku mengganggu?” suara Elisabeth membuat Nick mengangkat wajahnya.

Nick tersenyum kepada sang ibu. “Tidak Bu, masuk saja.”

Sang ibu akhirnya masuk dan duduk di sofa yang berada di ruang kerja puteranya. “Kamu masih sama dengan dulu Nick, pekerja keras.”

Nick tersenyum. “Menurun dari ayah.” Jawabnya.

Elisabeth tertawa lebar. “Nick, sebenarnya aku khawatir dengan Evelyn. Kenapa kita tidak memboyongnya ke negara kita saja? Di sini ibu khawatir jika mungkin saja tiba-tiba Maria berbuat nekat.”

“Ibu.” Nikck berjalan menuju ke arah ibunya, berjongkok di hadapan ibunya lalu menggenggam erat kedua telapak tangan ibunya yang sudah renta. “Maria tidak akan melakukan hal nekat. Bagaimanapun juga, Evelyn adalah puterinya ia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak.”

“Tetap saja ibu tidak tenang. Evelyn cucuku satu-satunya, dia pewaris semua aset keluarga kita. Akan banyak sekali orang yang ingin menjatuhkannya, termasuk istrimu yang licik itu.”

Nick tersenyum. “Maria tidak akan bisa menyentuh Evelyn. Evelyn sudah di jaga dengan baik oleh pengawalnya.”

“Sejujurnya, ibu masih sangsi. Evelyn hanya ingin di jaga oleh seorang pengawal, bagi ibu itu tidak cukup.”

“Ibu, ini Jakarta. Evelyn hidup di sini dari kecil, pergaulannya akan terganggu jika banyak seorang yang mengawalnya. Lelaki itu sudah cukup untuk mengawalnya. Nick percaya.”

“Tapi kalau istrimu kembali?”

“Saya sendiri yang akan menghadapinya, Bu.”  Nick berdiri, kemudian menatap jauh ke arah luar jendelanya.

Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa, Maria, tidak aku, Evelyn, atau bahkan hartaku yang selama ini kamu incar.

***

“Kamu benar-benar menyebalkan! Pokoknya mulai besok, ganti style kamu.”

“Saya tidak mengerti apa maksud anda Nona.” Fandy masih setia mengikuti langkah Eva masuk ke dalam rumahnya. Hari sudah malam, dan Eva baru pulang dari toko aksesorisnya. Sebenarnya tadi Eva meminta di antar di sebuah kelab malam, tapi Fandy menolak dengan keras. Tempat seperti itu sangat rawan kekerasan, jadi Fandy akan menjaga Eva sebisa mungkin menjauhkan Nonanya itu dari tempat yang menurutnya membahayakan.

Eva menghentikan langkahnya seketika dan itu membuat Fandy tidak sengaja menubruknya dari belakang.

“Dengar! Aku benci dengan kekakuanmu,dengan baju seragamu ini, dan juga dengan sikapmu yang seenaknya sendiri. Besok aku akan merubahmu.” Eva berkata dengan tegas sembari menunjuk-nunjuk dada Fandy.

“Tapi Nona.”

“Pokoknya kamu harus berubah. Untuk aku.” Eva merajuk manja.

“Ada apa ini?” suara yang terdengar berwibawah itu membuat Eva dan Fandy menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Di sana tampak Nick Mayers, ayah dari Eva.

“Papa.” Eva menghambur memeluk ayahnya.

“Ada apa sayang? Kenapa kamu tampak marah-marah?”

“Pa, aku mau dia berubah. Aku nggak suka melihatnya kaku begitu. Aku ingin dia mengawalku kemanapun aku pergi, tapi tidak dengan pakaiannya yang kaku dan membosankan seperti itu.”

Sang ayah tersenyum melihat tingkah manja puterinya. “Baiklah, sekarang, masuk saja ke dalam kamarmu, papa mau bicara berdua dengan dia.”

Eva mengecup lembut pipi sang Papa. “Ingat Fan, besok kita akan perbaiki penampilan kamu.” Eva tertawa lebar sambil meninggalkan fandy dan ayahnya.

“Ikut ke ruangan saya.” Ucap Nick pada Fandy. Dan Fandy akhirnya menuruti perintah atasannya tersebut.

***

Nick membuka berkas di hadapannya sesekali menatap ke arah Fandy yang masih setia berdiri tegap di hadapannya.

“Jadi, kamu Fandy, 27 tahun, dengan keahlian menembak dan memainkan pisau?” Nick melirik sekilas ke arah Fandy. “Yatim piatu, besar di sebuah panti asuhan?”

“Saya, Tuan.”

Nick tersenyum kemudian menuju ke arah Fandy dan menepuk bahu lelaki tersebut. “Jangan terlalu serius. Saya hanya ingin mengenal seorang yang saya percaya untuk menjaga puteri saya.”

Fandy menganggukkan kepalanya.

“Evelyn besar sebagai puteri tunggal. Dia pasti akan sangat menyebalkan dengan sikapnya. Kehidupan sosialnya tidak susah karena dia dapat dengan mudah berteman dengan siapapun, dan itu menjadikannya sosok yang seperti saat ini. Ceria, agresif tapi sedikit nakal.”

Fandy mendengar dengan seksama meski sebenarnya dia tidak tahu apa yang di maksud ayah Eva mengatakan semua ini padanya.

“Kamu mungkin bertanya-tanya, untuk apa Evelyn di kawal ketat. Jawabannya adalah karena di luar sana akan banyak sekali orang yang menginginkan puteri saya itu.” Ayah Eva menghela napas panjang. “Jadi Fandy, maukah kamu dengan bersungguh-sungguh menjaga Evelyn untuk saya?”

Fandy mengangguk dengan patuh. “Itu sudah menjadi pekerjaan saya, Tuan.”

“Bukan hanya sebagai pengawal, tapi juga pelindung, teman, atau bahkan sahabat, apa kamu mampu?”

“Saya pikir tugas saya hanya mengawal Nona Evelyn.”

“Saya akan membayar kamu berapapun, asal kamu selalu ada untuk dia.”

“Saya akan berusaha yang terbaik, Tuan.”

Ayah Eva kembali menepuk bahu Fandy. “Dia bukan hanya membutuhkan seorang pengawal, dia juga butuh teman, dia kesepihan, jika dulu dia bisa bercerita dengan ibunya, maka kini dia tidak memiliki ibu lagi. Maukah kamu mengisi kekosongan itu?”

Fandy mengangguk patuh.

“Bersahabatlah dengan dia. Saya tidak bisa selalu bersamanya, karena itu saya ingin kamu selalu setia di sisinya.”

Fandy kembali mengangguk patuh.

“Oke, hanya itu saja. Ingat, saya percaya dengan kamu. Kamu yang paling baik di antara yang terbaik. Kamu boleh pergi.”

“Baik, Tuan.” Fandy akhirnya berbvalik dan akan pergi meninggalkan Nick, tapi kemudian panggilan Nick menghentikan langkahnya. “Fan, kamar kamu sudah di pindahkan tepat di sebelah kamar Evelyn.”

Fandy hanya mengangguk, meski dalam hati Fandy sedikit kesal karena harus selalu berdekatan dengan Eva meski dalam hal kamar tidur.

***

Fandy berjalan menuju ke kamar barunya yang letaknya bersebelahan dengan kamar Eva. Ketika Fandy berjalan dengan tenang, tiba-tiba sebuah lengan merengkuhnya. Dengan gerakan reflek Fandy memutar lengan tersebut dan menguncinya.

“Fan! Kamu apa-apaan sih? Lepasin!”

Astaga. Itu Eva.

Dengan cepat Fandy melepaskan kunciannya. Eva mengaduk sesekali mengusap lengannya sendiri.

“Astaga, kamu menakutkan. Ini naku, kamu pikir siapa?”

“Maaf Nona, saya hanya reflek.”

Eva mendengus sebal. “Ayo masuk.”

“Masuk? Kemana?”

“Ke kamarku, memangnya kemana lagi?”

“Maaf, Nona. Ini sudah malam. Silahkan istirahat. Saya akan berjaga di sini.”

“Menyebalkan.” Eva dengan sekuat tenaga menarik lengan Fandy untuk masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya mau tidak mau Fandy mengikuti kemauan Eva.

Ketika sudah berada di dalam kamar Eva, dengan berani Eva membuka setelah yang di kenakan Fandy.

“Kamu mau apa?”

“Mau apa lagi? Kita akan tidur bersama.”

Fandy menggenggam erat pergelanga tangan Eva. “Jangan macam-macam.”

Eva mendengus sebal. “Aku nggak macam-macam, tahu!” Eva melanjutkan membuka rompi yang di kenakan Fandy, kemudian membuka kancing-kancing kemeja Fandy.

“Berhenti!”

“Aku nggak mau berhenti.”

“Berhenti atau aku akan-”

“Akan apa? Akan apa?” dengan berani, Eva malah merangkulkan lengannya pada leher Fandy seakan menantang lelaki tersebut.

Oh, jangan di tanya lagi apa yang kini Fandy rasakan. Ia adalah lelaki dewasa yang tentunya dapat tergoda jika di goda seperti saat ini. Eva tidak berhenti menempelnya, menggesekkan tubuhnya yang menggoda itu pada tubuh Fandy, dan Fandy merasa jika dirinya tak dapat menahan diri lagi. Secepat kilat Fandy menangkup kedua pipi Eva kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir ranum gadis tersebut. Melumatnya dengan panas hingga Fandy merasa lupa diri.

Eva terkejut, sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Fandy terhadapnya. Ia hanya berusaha menggoda Fandy, dan Eva tidak menyangka jika Fandy akan terpancing begitu saja dengan godaan yang ia berikan.

Dengan sigap Fandy mulai sedikit mengangkat tubuh Eva, membawa Eva ke atas ranjang gadis tersebut tanpa melepaskan tautan bibirnya. Oh, Eva merasakan jika kini Fandy adalah lelaki terpanas yang pernah ia temui, ia tidak pernah menginginkan seorang lelaki seperti ia menginginkan Fandy, haruskah ia memberikan kehormatannya pada seorang Fandy?

Sedangkan Fandy sendiri sudah tidak bisa berhenti, tubuhnya menegang seutuhnya ketika gairah primitif tengah menguasainya. Ia menginginkan gadis ini, gadis yang kini masih bertautan bibir dengannya. Haruskah ia melanjutkan apa yang ia inginkan?

-TBC-

Unwanted Wife – Chapter 10 (Benarkah?)

Comments 3 Standard

 

di atas adalah Trailer Novel Unwanted wife. di puter yakk.. kyaaaaa Darren keren banget tauukk.. huaaaaaa

 

Chapter 10

Benarkah?

 

Darren masih tidak bisa menutup matanya. Matanya seakan menolak untuk tertutup ketika di hadapannya tampak wanita rapuh yang tidak berhenti meneteskan air matanya.

Tadi, setelah memuaskan diri berkali-kali, menghukum Karina dengan sentuhan kasarnya, wanita itu berakhir pingsan dalam gendongannya. Astaga, Darren tidak  mengerti entah apa yang salah dengan dirinya, ia seakan tidak bisa berhenti menyentuh wanita itu, wanita yang entah sejak kapan kembali mengusik hidupnya.

Kini, Karina sudah tertidur dengan posisi miring menghadap ke arah Aleta. Pun dengan Darren yang ikut tidur miring menghadap ke arah Aleta yang berada di tengah-tengah mereka. Wanita itu memejamkan matanya, tapi Darren dapat melihat dengan jelas jika ada bulir air mata yang jatuh dari sudut mata wanita di hadapannya tersebut.

“Kamu sudah bangun?” suara Darren terdengar serak. Oh, Darren seakan ingin mengumpat pada kejantanannya yang tidak berhenti menegang hanya karena menatap kulit mulus dan pucat dari wajah Karina. Sial! Kenapa seperti ini? Bahkan dengan Nadine saja ia tidak seperti ini. Ia selalu dapat menahan diri.

Bulu mata Karina bergerak, kemudian wanita itu membuka matanya seketika. Menatap Darren dengan tatapan sendunya. Darren merasa seperti seorang bajingan jika Karina sedang menatapnya dengan tatapan menyedihkan seperti saat ini.

“Kenapa nggak tidur?” tanya Darren lagi.

“Aku lapar.” Dua kata itu entah kenapa membuat Darren tersenyum.

“Bukannya tadi kamu sudah makan malam bersama dengan Evan?”

Karina menggeleng pelan. “Aku nggak bisa makan, aku sudah bilang kalau badanku tidak  enak.”

Darren bangkit seketika. “Mau makan apa?”

Karina terkejut dengan perubahan yang di tampilkan oleh Darren. Sebenarnya apa yang di inginkan lelaki ini? Kadang Karina melihat sisi Darren yang penyayang, yang perhatian padanya, tapi di sisi lain, Darren terlihat seperti orang jahat, orang yang tega menyakiti hatinya lagi dan lagi.

“Apa saja asal makan.”

“Oke.”  Darren menuju ke arah lemari pakaiannya, mengambil sebuah T-shirt lalu mengenakannya. Pada saat bersamaan, sebuah lengan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Lengan rapuh dari istri yang tidak pernah ia inginkan.

Darren membatu seketika, merasakan tubuh kurus itu memeluknya dari belakang. Pipi tirus itu terasa menempel pada punggungnya yang kekar, ada apa dengan Karina? Kenapa wanita ini begitu berani memeluknya?

“Ada apa?”

“Aku takut tidak bisa berhenti mencintaimu, ketika kamu bersikap baik seperti ini kepadaku.”

“Maka jangan berhenti.” Dengan spontan Darren menjawab seperti itu.

“Tapi aku tahu jika rasa cintaku menyakitimu. Aku tidak bisa melihatmu tersakiti.”

“Dan aku sudah tersakiti, lalu apa? Berhenti mencintaiku tidak akan menyembuhkan lukaku, itu juga tidak akan mengembalikan Nadine padaku.”

“Aku minta maaf.”

“Entah sudah berapa kali aku mendengar maaf darimu. Tapi rasanya tetap sama, aku merasa benci, benci sekaligus….” Darren tidak dapat melanjutkan kalimatnya. “Sudahlah, lupakan saja.”

Darren melepas paksa pelukan Karina. “Aku cari makan dulu.” Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Karina yang masih terpaku menatap kepergianya.

***

Paginya…

Karina demam. Ia bahkan tidak bisa bangkit dari ranjangnya. Makanan yang tadi malam di bawakan oleh Darren, pagi ini ia muntahkan kembali

Darren khawatir, tapi di sisi lain ia tidak ingin memperlihatkan kekhawatirannya. Darren akhirnya membawa Aleta keluar dan memberikan bocah itu pada Mamanya. Ia tahu jika Karina tidak mungkin bisa mengasuh Aleta hari ini.

Sampai di ruang makan, di sana sudah ada Evan. Darren benar-benar enggan menyapa Evan. Entahlah, ia merasa kesal dengan sosok Evan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya?

“Karin mana?” pertanyaan Evan membuat Darren menolehkan wajahnya ke arah lelaki tersebut.

“Kenapa nyariin dia?”

“Kenapa dia nggak ikut turun dan sarapan bareng?”

“Gue pikir itu bukan urusan lo.”

Evan tersenyum mengejek. “Gue hanya mencoba perhatian sama dia, karena gue pikir suaminya tidak pernah memperhatikannya.”

Darren mengepalkan tangannya lalu berdiri seketika.

“Apa yang kalian lakukan? Sejak kemarin kelakuan kalian kayak kucing dan tikus. Kalian seperti anak kecil yang berebut mainan.” Mama Darren akhirnya melerai ketika melihat ketegangan di antara kedua puteranya.

Tanpa banyak bicara, Darren menyiapkan makanan untuk dirinya dan juga untuk Karina. Ia tidak akan membantah mamanya, dan ia juga terlalu malas berurusan dengan Evan. Sialan! Kakaknya itu kini makin berani menampakkan perasaannya pada Karina.

***

Darren masuk ke dalam kamarnya, dan mendapati ranjangnya kosong, di mana wanita itu? Darren menaruh nampan yang berisi sarapan mereka di meja di ujung ruangan, kemudian mencari Karina, mungkin wanita itu ada di dalam kamar mandi, dan benar saja ketika Darren masuk ke dalam kamar mandi, ternyata di sana sudah ada Karina yang terduduk lemas tak bertenaga.

“Ada apa?”

“Aku muntah.”

“Mau ke dokter?”

Karina menggelen pelan. “nggak usah. Mungkin aku cuma capek dan masuk angin.”

“Ayo balik, aku bawakan kamu sarapan.”

Karina mengangguk. Ia berdiri dengan bantuan Darren, tapi ketika akan melangkahkan kalinya, hampir saja Karina tersungkur. Tanpa banyak berkata, Darren menggendong Karina menuju ke arah ranjang mereka.

“Nanti siang aku panggilkan dokter keluarga, biar dia memeriksamu di sini.”

“Jangan, nggak perlu.”

“Aku tidak meminta ijin darimu. Aku melakukannya karena aku tidak ingin keluargamu berpikir jika keluargaku tidak merawatmu dengan baik.”

“Uum, keluargaku tidak akan mungkin berpikir seperti itu.”

“Jangan banyak bicara, sekarang, makan saja sarapanmu.” Dan Karina akhirnya menuruti apa yang di perintahkan Darren.

***

Saat di kantor, entah kenapa pikiran Darren tidak tenang, meski tadi ia sudah menelepon Tante Iva, dokter keluarganya, tapi tetap saja ia mengkhawatirkan Karina. Apa sakitnya Karina ada hubungannya dengan penyiksaan seksual yang selama ini ia berikan? Apa ini ada hubungannya dengan penyiksaan batin yang ia berikan setiap kali bertemu dengan wanita tersebut? entah kenapa Darren merasa bersalah. Ia takut, bukan takut di salahkan atas sakitnya Karina, tapi ia takut kehilangan wanita tersebut karena ulah bodohnya sendiri.

Ah sial! Apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya?

Tak lama pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang. Darren sedikit heran karena hari ini ia tidak ada jadwal bertemu atau rapat dengan siapapun.

“Masuk.” Akhirnya ia memerintahkan siapapun itu yang sedang mengetuk pintu ruang kerjanya.

Ketika pintu di buka, Darren berdiri seketika saat mendapati Om Roy, ayah Karina yang ternyata sudah berdiri di sana. Ada apa lagi sekarang? Kenapa tua bangka itu menghampirinya lagi?

Darren sudah memasang wajah sangarnya ketika akan menghadapi ayah mertuanya yang menurutnya sangat licik itu.

“Ada apa lagi Om? Saya pikir kita tidak memiliki urusan lagi.”

Laki-laki paruh baya itu tertawa dengan kalimat sapaan Darren yang sangat tidak bersahabat. “Kamu salah Darren, kita masih berurusan, dan akan selalu berurusan.”

“Langsung saja Om, saya tidak suka basa-basi.”

“Oke, langsung saja. Saya ke sini hanya untuk mengingatkan kamu, kalau semua saham keluarga kamu masih atas nama saya, jadi jangan macam-macam.”

Darren tersenyum mengejek. “Om Roy mau megancam saya?”

“Darren, saya nggak main-main. Di Bali, saya melihat kamu tidak memperlakukan puteri saya dengan baik, jadi saya ke sini untuk mengingatkan kamu kalau-”

“Seharusnya saya yang mengingatkan Om Roy!” Darren memotong kalimat mertuanya itu dengan tegas. “Puteri Om sangat tergila-gila dengan saya, bahkan dia rela menjadi budak saya, jadi Om Roy jangan macam-macam.  Saya bisa dengan mudah menghancurkan hati puteri Om kalau saya mau.”

“Tapi kamu tidak melakukannya. Kenapa?”

Darren membatu. Rahangnya mengeras, ia tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana tersebut.

“Kenapa kamu tidak melakukannya? Kenapa kamu tidak meninggalkan dia? Kenapa kamu menuruti mau kami untuk menikahinya? Apa Kkrena perusahaan? Karena saham? Darren, saya tahu kamu bisa saja pergi jauh tanpa mempedulikan permintaan saya untuk menikahi puteri saya. Tapi kenapa kamu tetap melakukannya walau dengan terpaksa?”

Darren membalikan tubuhnya seketika. “Urusan kita sudah selesai, Om. Silahkan keluar.”

“Kamu tidak bisa menjawab? Apa perlu saya yang menjawab?”

“Dengar!” tanpa tahu sopan santun Darren berkata keras di hadapan lelaki paruh baya tersebut. “Jangan terlalu jauh mencampuri urusan saya. Silahkan pergi atau saya akan melakukan hal yang nekat.”

Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum melihat reaksi dari Darren. “Terimakasih. Setidaknya saya tahu jika puteri saya jatuh di tangan orang yang tepat.” Setelah kalimat tersebut, ayah Karina berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Darren yang mematung di tengah-tengah ruang kerjanya.

***

Karina masih duduk termenung di atas ranjangnya. Ia masih bingung dan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Yang ia rasakan saat ini adalah tubuhnya yang terasa lemah seperti orang sakit, tapi penjelasan dari dokter yang tadi memeriksanya benar-benar membuatnya shock.

Ia hamil, dan ia masih tidak percaya dengan kenyataan itu.

Benarkah?

Nyatakah?

Tadi siang…

“Karin, kamu harus jaga diri, jangan kelelahan, dan harus banyak makan.” Tante Iva, dokter keluarga yang telah memeriksa Karina memberi nasehat pada Karina.

“Saya susah makan akhir-akhir ini, tante.”

“Tidak peduli susah atau tidak. Kamu harus makan, sedikit tapi sering. Supaya bayi yang kamu kandung punya nutrisi.”

“Apa? Bayi?”

“Ya, menurut pemeriksaan tante, kamu hamil.”

Karina tercengang dengan kabar tersebut. “Tante nggak salah, kan?”

“Menurut gejala yang kamu katakan, tante sudah mendiagnosa kalau kamu hamil, di tambah lagi tes urin yang tadi baru saja kamu lakukan memperkuat diagnosa tante. Hasilnya positif.”

Karina masih ternganga, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, haruskah ia senang atau malah sebaliknya, karena jujur saja, ia takut, takut kalau Darren akan marah ketika mengetahui kabar ini.

“Kamu harus memberi tahu Darren dan keluarganya, suapaya mereka ikut menjaga kamu.”

Tidak! Mereka tidak boleh tahu. Darren pasti akan sangat marah jika tahu keadaannya yang kini tengah mengandung anak dari lelaki tersebut.

“Uum, tante, biar saya sendiri nanti yang memberi tahu Darren dan keluarga kami, tolong tante jangan bilang siapa-siapa tentang keadaan saya.”

“Baiklah, tapi ingat, harus jaga diri dan makan sesering mungkin.” Karina mengangguk patuh.

 

Itu seperti sebuah mimpi. Mengandung bayi Darren tentu tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak Karina. Ya, meski Darren memang hampir setiap saat menyentuhnya, tapi tetap saja, Karina masih tidak percaya kenyataan ini.

Bagaimana jika Darren tahu? Bagaimana jika lelaki itu marah? Bagaimana jika lelaki itu menolak keras kehamilannya atau bahkan menyuruhnya untuk menggugurkan bayi tersebut? dengan spontan Karina memeluk perutnya sendiri. Tidak! Darren tidak boleh tahu. Sedalam apapun cintanya untuk Darren, ia tidak akan sanggup untuk menuruti kemauan lelaki itu untuk menggugurkan bayinya.

Ya, Darren tidak boleh tahu.

Ketika Karina sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu kamarnya terbuka dan terlihat sosok Darren yang sedang menggendong Aleta. Karina benar-benar terkejut saat mendapati Darren yang sudah berada di rumah jam segini.

Darren menurunkan Aleta di atas ranjang, seketika itu juga Aleta menghambur memeluk tubuh Karina erat-erat.

“Tante Karin sakit?  Kata Om Darren, tante sakit, padahal Aleta mau ikut sekolah lagi.”

“Kata mama, dia cari kamu terus. Mama mau mengajak ke sini, tapi takut ganggu kamu yang sedang istirahat.” Darren mengucapkan kalimat tersebut dengan datar, bahkan kini lelaki itu sibuk membuka dasinya tanpa memperhatikan Karina yang sudah gugup karena kedatangangnya.

Karina hanya diam, ia tidak tahu harus menanggapi apa kalimat Darren tersebut ia bingung, ia takut, dan masih banyak lagi perasaan yang sedang di rasakannya saat ini.

“Bagaimana keadaanmu?” pertanyaan Darren membuat Karina menatap pada sosok tampan di hadapannya yang kini sudah bertelanjang dada.

“Baik.” Hanya itu jawaban dari Karina.

“Apa tante Iva benar-benar ke sini tadi? Apa yang di bilang tante Iva?”

“Uum,” Karina tidak tahu harus menjawab apa.

“Uum? Maksudnya?”

“Aku, aku hanya capek, masuk angin karena telat makan.”

“Mulai sekarang, jangan sampai telat makan, apa kamu tahu kalau papamu tadi ke kantorku?”

“Papa? Kenapa?”

Darren tersenyum mengejek. “Mengancam. Oh yang benar saja, keluargamu benar-benar licik.”

“Aku nggak ngerti apa yang kamu bilang, Darren.”

“Dia mengancam, katanya kamu terlihat tidak baik saat bersamaku, jadi dia mengancam tidak akan mengembalikan saham perusaan keluarga kami jika aku menyakitimu. Yang benar saja.”

“Papa nggak mungkin seperti itu, dia selalu menepati janjinya.”

Well, nyatanya sampai saat ini dia belum menepati janjinya. Kenapa? Karena dia takut aku menceraikanmu? Bilang saja sama orang tuamu kalau aku tidak akan pernah menceraikanmu.”

Karina tidak dapat menjawab lagi ketika Darren mulai berkata dengan nada sinis terhadapnya. Bagaimanapun juga, lelaki itu tersakiti karena ulahnya dan juga keluarganya, jadi mau tidak mau Karina harus mengalah.

“Jadi, apa kamu sudah makan?”

Karina menggelengkan kepalanya, ia memang tidak nafsu makan seharian ini. Apa saja makanan yang masuk ke dalam mulutnya selalu di keluarkannya kembali hingga Karina merasa lelah.

“Ada yang ingin kamu makan?”

Karina menggelengkan kepalanya kembali.

Darren menghela napas panjang. “Cepat ganti bajumu, ayo temani aku.”

“Kemana? Aku nggak enak badan, Darren.”

“Aku nggak peduli. Ayo cepat ganti baju.”

“Aleta boleh ikut, Om?”

“Tentu saja kamu ikut.” Darren mengusap lembut puncak kepala Aleta, sedangkan Aleta sendiri hanya bersorak gembira karena akan berjalan-jalan dengan Karina dan Darren.

***

Mobil Darren berhenti pada sebuah parkiran rumah makan yang tidak asing untuk Karina. Tentu saja, dulu, saat masih kuliah, Karina sangat sering makan di tempat ini bersama dengan Darren dan Nadine. Bahkan ketika sakit, Karina hanya ingin memakan makanan dari rumah makan tersebut.

Karina hanya ternganga menatap rumah makan di hadapannya. Apa Darren mengajaknya kesana karena ingat kenangan mereka? Atau Darren mengajaknya ke sana karena ingin mengenang tentang Nadine?

“Kenapa? Kamu nggak mau masuk?”

“Kenapa kita ke sini?”

“Karena kamu nggak nafsu makan, dulu bukannya kamu minta di bawakan makanan dari rumah makan ini saat kamu sakit?”

Karina menganggukkan kepalanya.

“Sekarang, ayo kita turun.” Akhirnya Karina menuruti apa yang di katakan Darren.

Mereka turun dan masuk ke dalam rumah makan tersebut. sekarang baru jam lima sore, jadi rumah makan tersebut masih cukup sepi. Darren memberikan Karina daftar menu untuk memesan menu yang di inginkan Karina.

Semua makanan di sana enak, tapi yang selalu menjadi kesukaan Karina adalah Bakso dengan tulang sumsum yang sangat nikmat di santap saat hangat.

“Aku ini saja.”

Darren tersenyum miring. “Jadi selalu ini menu favoritmu?”

Karina tersenyum malu. “Aku suka sumsumnya.”

“Oke, aku akan memesan dua porsi untuk kamu.”

“Hei. Satu porsi sudah cukup.”

“Lihat, badanmu kurus kering. Kamu harus banyak makan jadi keluargamu tidak berpikir macam-macam padaku.”

Karina menganggukkan kepalanya pasrah.

“Aleta mau apa?”

“Apa saja yang penting enak.” Darren tertawa lebar mendengar jawaban polos yang di berikan Aleta. Akhirnya Darren memesankan makanan yang akan mereka makan bersama sore itu.

***

Ketiganya akhirnya makan bersama. Karina tampak lahap memakan makanan di hadapannya, tidak ada rasa mual sedikitpun seperti kemarin atau tadi pagi. Semuanya tampak nikmat menggugah selera hingga tak terasa Karina menghabiskan porsi pertama makanannya.

“Apa begitu yang namanya orang tidak nafsu makan?” sindir Darren.

“Ini memang selalu enak, dan aku tidak merasa mual sedikitpun.”

Darren mengerutkan keningnya. “Mual? Memangnya sejak tadi kamu masih mual-mual?”

“Uum, sedikit.”

“Tante Iva sudah memberimu obat?”

“Sudah.”

“Baguslah.” Hanya itu jawaban Darren.

“Darren.” Karina tampak ragu akan membicarakan sesuatu pada Darren.

“Ada apa?”

“Uum, minggu nanti, kamu mau menemaniku menghadiri resepsi pernikahan Mas Dirga, kan?”

Darren mendengus sebal. “Mau bagaimana lagi? Mau tidak mau aku harus ke sana. Menyedihkan bukan? Menghadiri pernikahan orang yang begitu kucintai?”

“Aku minta maaf.”

“Cukup! Jangan bahas ini lagi. Aku terlalu muak. Yang penting minggu nanti aku akan ke sana, denganmu. Oke?”

Karina menganggukkan kepalanya. Meski sebenarnya ada rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tentu ia merasakan kesakitan yang di rasakan oleh Darren. Ahh, entah berpa kali ia minta maaf, Darren pasti tidak akan memaafkannya. Apa lagi jika nanti lelaki itu mengetahui keadaannya saat ini yang tengah mengandung bayi dari lelaki tersebut.

Dengan spontan Karina mengusap lembut perut datarnya. Seberapa lama ia akan menyembunyikan kenyataan tersebut? Karina tidak sadar jika pergerakannya di lihat oleh Darren.

“Ada apa?”

Karina benar-benar terkejut saat sadar jika Darren sejak tadi sudahmengamati gerak-geriknya. “Uum, aku nggak apa-apa.”

“Kamu sakit perut? Kenapa sejak tadi meraba perutmu sendiri?”

Ohh, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia berkata pada Darren tentang keadaanya saat ini? Tidak! Itu tidak mungkin. Tapi bagaimana jika nanti Darren tahu sendiri dari orang lain? Bukan tidak mungkin lelaki itu akan semakin marah padanya. Ahhh, entahlah. Karina tidak ingin memikirkan sesuatu yang membuatnya semakin pusing.