Unwanted Wife – Chapter 9 (Kamu Milikku)

Comments 10 Standard

Unwanted Wife

Chapter 9

-Kamu milikku-

 

Karina masih sesekali melamun saat memperhatikan anak didiknya sedang asik belajar sambil bermain. Aleta juga ada di sana, bocah kecil itu tampak senang sekali karena memiliki banyak teman. Pikiran Karina kembali pada tadi pagi, ketika ia sedikit bingung dengan sikap yang di tampilkan oleh Darren, sebenarnya ada apa dengan lelaki itu?

Tadi pagi..

 

“Ya, berdiskusi tentang adik baru untuk kamu.”

Semua orang yang berada di ruang makan menatap ke arah Darren seketika, kecuali Evan.

“Darren, apa yang kamu bicarakan?” bisik Karina yang pipinya sudah merona merah.

“Adik? Jadi Aleta mau punya adik? Hore.” Aleta bersorak gembira, sedangkan Darren kembali dalam mode datarnya. Sesekali lelaki itu melirik ke arah Evan yang masih membatu dalam duduknya.

Perasaan Karina sendiri semakin tak menentu. Kenapa Darren berkata seperti itu? Akhirnya Karina melanjutkan menyuapi Aleta, kemudian ia menyiapkan bekal makan siang untuk Darren dan Evan.

Baru saja Karina selesai membuatkan bekal makan siang untuk kedua kakak beradik tersebut, dalam sudut matanya Karina melihat Evan yang sudah berdiri bersiap meninggalkan ruang makan. Secepat kilat Karina melanjutkan pekerjaannya tersebut kemudian menghampiri Evan.

“Kak, ini bekalnya.” Karina menyodorkan kotak makan siang untuk Evan.

Evan menatap kotak tersebut, lalu menatap ke arah Karina. Karina sempat tidak enak dengan tatapan Evan, lelaki itu biasanya langsung menerima kotak makan yang ia siapkan tanpa menatapnya dengan tatapan seperti ini, tapi kenapa pagi ini berbeda?

“Kupikir kamu sudah berhenti menyiapkan makan siang untukku.” Ucap Evan kemudian meraih kotak tersebut. “Terimakasih.” Dan lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Karina yang masih berdiri mematung menatapnya.

“Lalu, mana bekal makan siangku?”

Karina benar-benar berjingkat ketika mendengar suara berat tepat di belakangnya. Itu suara Darren, dan astaga, sejak kapan lelaki itu berdiri di sana?

“Oh, iya, sebentar.” Karina bergegas ke meja dapur lagi, tapi perkataan Darren selanjutnya benar-benar membuatnya tidak mengerti.

“Kamu lebih sibuk menyiapkan bekal orang lain ketimbang suamimu sendiri, hebat sekali.”

Karina menoleh ke arah Darren. “Aku nggak ngerti apa maksud kamu.”

“Lupakan saja, aku makan di luar.” Darren pergi.

Karina akan menyusulnya tapi di urungkan niatnya, Darren pasti akan menolak pemberiannya, menolak kebaikan yang ia berikan sama seperti kemarin-kemarin. Akhirnya Karina memutuskan kembali ke pada Aleta yang masih asik dengan puding sebagai makanan penutupnya.

 

Suara sorak gembira anak-anak membuat Karina tersadar dari lamunannya. Ternyata Bell menandakan jika kini sudah waktunya pulang.

“Baiklah anak-anak, ayo sekarang di bereskan buku-bukunya, dan mari berbaris.” Setelah melakukan serangkaian kegiatan, akhirnya kini waktunya pulang.

Aleta terlihat sangat bahagia ikut bersama dengan Karina, Aleta bahkan sempat bilang jika nanti dirinya akan meminta mamanya untuk pindah sekolah di mana Karina yang mengajar sebagai gurunya.

Ketika semua anak sudah keuar dari kelas dan menghambur pada orang tua masing-masing, Karina ikut keluar bersama dengan Aleta yang masih setia ia gandeng. Karina akan menuju ke ruang guru, tapi kemudian teriakan Aleta membuat Karina mengurungkan niatnya.

“Om Evan, Om Evan.” Aleta menarik-narik tangan Karina sambil menunjuk ke arah luar gerbang sekolah. Mau tidak mau Karina melihat ke arah yang di tunjuk Aleta.

Tampak di sana Evan sedang berdiri sambil tersenyum dan melambaikan telapak tangannya. Ada apa? Kenapa lelaki itu menghampirinya? Apa lelaki itu tidak kerja?

Akhirnya Karina mengajak Aleta menghampiri Evan.

“Hai, apa aku mengganggumu?”

Karina tersenyum, rupanya Evan sudah kembali seperti semula, sikap lelaki itu sudah tidak lagi aneh seperti kemarin atau tadi pagi.

“Enggak, aku sudah selesai ngajar, ini mau pulang.”

“Bagus, kalau gitu kita bisa pulang bareng.”

“Apa? Nggak perlu kak, kak Evan pasti sibuk di kantor.”

“Enggak, aku sudah pulang. Kantor membosankan.”

“Tapi-”

“Aleta mau ikut Om Evan main, kan?” Aleta tampak berpikir sebentar. “Nanti Om Evan belikan ice crem, sama kembang gula.”

“Yeay, Aleta mau. Ayo tante, kita ikut Om Evan, ayo.”

Karina menghela napas panjang. “Kak Evan curang.”

“Ya, terserah apa kata kamu, pokoknya kita akan pergi bersama.” Dengan sengaja Evan menggendong Aleta dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya hingga mau tidak mau Karina ikut serta bersama dengan Aleta.

***

Tidak tanggung-tanggung, Evan memborong semua mainan yang di inginkan oleh Aleta, setelah itu Evan mengajak Aleta dan Karina ke sebuah toko ice cream, memesan ice cream untuk Aleta.

Karina sendiri hanya mengikuti kemana langkah keduanya. Sebenarnya ia merasa sangat lelah, entahlah, mungkin karena kini ia sangat jarang berjalan-jalan seperti sekarang ini.

“Kak, kita nggak pulang? Ini sudah sore sekali.”

Evan menatap ke arah Karina. “Kamu sakit? Wajahmu pucat.”

“Aku cuma capek, kakiku pegal.” Karina sedikit tersenyum.

“Kita makan dulu ya.”

“Enggak, aku makan di rumah saja.”

“Kamu yakin?” Karina hanya menganggukkan kepalanya. “Aleta mau pulang atau makan dulu dengan Om Evan?”

“Kak, kamu curang.”

“Kok curang? Aku cuma bertanya dengan Aleta.”

“Aleta mau makan.”

“Oke, kita makan dulu.” Lagi-lagi Evan dengan sengaja mengajak Aleta masuk ke dalam sebuah restoran, sedangkan Karina sendiri mau tidak mau mengikuti kemana langkah kaki keduanya.

***

Karina benar-benar tidak nyaman dengan apa yang ia rasakan. Ia merasa mual ketika seorang pelayan menyadikan makanan pesanan mereka di meja tepat di hadapannya.

Apa ia masuk angin? Mungkin saja, mengingat hanya tadi pagi ada makanan masuk ke dalam perutnya, sedangkan tadi siang ia sibuk menyuapi Aleta sambil bermain sampai mengabaikan kalau dirinya sendiri belum makan siang.

Evan menatap ke arah Karina yang tampak tidak nyaman. “Ada apa?” tanyanya dengan spontan.

“Aku mual.”

“Mual?”

Karina membungkam mulutnya sambil menggelengkan kepalanya, kemudian ia berdiri dan bergegas masuk ke dalam toilet. Evan hanya mampu menatap Karina dengan bingung. Apa Karina sakit?

***

Karina memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya hingga tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, oh, ini pasti karena masuk angin. Karina merutuki dirinya sendiri ketika sadar jika ia sudah mengabaikan kesehatannya sendiri.

Tak lama, ponsel di dalam tasnya berbunyi, Karina merogoh ponsel di dalam tasnya dan mendapati nomor Darren sedang memanggilnya. Karina mengangkat sebelah alisnya saat sadar jika sudah lama sekali Darren tidak menghubunginya saat setelah mereka menikah.

Ya, lelaki itu memang tampak enggan mempedulikannya, dan Karina sadar semua itu karena ulahnya sendiri.

“Halo.” Karina mengangkat panggilan dari Darren.

“Kamu di mana?”

“Aku, um, di toilet.”

“Apa?”

“Itu, aku di kamar kecil sebuah restoran.”

“Di restoran? Jadi kamu makan di luar? Dengan Aleta? Apa kamu nggak tahu kalau Aleta itu nggak bisa makan sembarangan? Dia punya banyak alergi.”

“Apa? Maaf, aku nggak tahu, oke, aku akan ajak dia pulang.”

“Sebutkan di mana tempatmu, biar aku yang jemput.”

“Uum, sepertinya kami pulang sendiri saja.”

“Kenapa? Kamu sedang dengan seseorang?”

Karina terdiam sebentar, ia bingung apa ia akan memberi tahu darren jika kini dirinya sedang bersama dengan Evan. Jika Darren tahu, apa lelaki itu akan marah? Ahh tidak mungkin, kenapa juga Darren marah.

“Aku dengan kak Evan. Kami akan pulang secepatnya.”

“Katakan di mana posisimu dan aku akan menjemputmu.” Mau tidak mau, Karina menyebutkan di mana posisinya saat ini meski dalam hati ia bingung kenapa Darren terdengar seakan-akan lelaki itu marah, apa ia melakukan kesalahan lagi?

***

“Kita harus pergi dari tempat ini.” Karina berkata ketika ia sudah sampai tempat duduknya tepat di hadapan Evan. Matanya melirik ke arah Aleta yang masih asik memakan makanan di hadapannya.

“Kenapa tiba-tiba pergi? kamu nggak enak badan?”

“Enggak kak, Uum, Darren bilang Aleta nggak bisa sembarangan makan, dia punya banyak alergi.”

“Omong kosong, nyatanya dia baik-baik saja. Ayo, makan makananmu.”

“Uum, Darren sudah menjemput kami.”

“Menjemput? Dia tahu kalau kamu di sini?” Karina mengangguk pelan.

“Tadi dia menelepon aku, dan mau tidak mau aku memberi tahu di mana keberadaanku.”

Evan menghela napas panjang. “Oke, kita pergi. Tunggu Aleta selesaikan makanannya dulu.” Evan berkata dengan acuh tak acuh.

“Kak Evan nggak marah, kan?”

“Ngapain harus marah? Toh aku memang tidak berhak mengajak kalian pergi tanpa persetujuan Darren.”

“Bukan begitu, kak.”

Evan tersenyum. “Kamu nggak perlu jelasin. Sudahlah, aku nggak apa-apa.”

Meski Evan berkata seperti itu, karina merasakan jika lelaki itu tidak sedang baik-baik saja. Entah kenapa Karina merasa tidak nyaman ketika sebuah pemikiran melintasi kepalanya, pemikiran tentang Evan yang mungkin saja….

Tidak! Itu tidak mungkin! Secepat kilat Karina menepis semua pemikiran-pemikiran aneh tersebut.

***

Tidak lama setelah keluar dari restoran tersebut, Karina melihat Darren yang baru keluar dari dalam mobilnya. Lelaki itu kemudian berjalan menuju ke arahnya, seperti biasa, tatapan mata lelaki itu tampak sangar, dan entah kenapa itu mempengaruhi Karina.

Aleta yang biasanya langsung menghambur pada Darren saat bertemu dengan lelaki tersebut, kini berbeda, Aleta tampak tenang seakan ia nyaman saat jemari mungilnya di genggam oleh Evan. Entah kenapa itu membuat Darren tidak suka.

“Oh, jadi Aleta lebih memilih kencan dengan Om Evan dari pada Om Darren?” suara Darren entah kenapa terdengar seperti sebuah sindiran.

“Ya, Om Evan baik, Om Darren jahat.”

“Jahat? Om Darren tidak jahat.” Darren berjongkok tepat di hadapan Aleta. “Ayo pulang dengan Om Darren.”

“Enggak, Om Evan lebih baik. Aleta di belikan banyak mainan dan gula-gula.”

“Om Darren bisa membelikan lebih banyak lagi.”

“Benarkah?” Aleta tampak berbinar.

“Tentu saja. Ayo, pulang sama Om Darren.”

“Tante Karin gimana?”

Darren mendongakkan kepalanya, melirik ke arah Karina yang berdiri tepat di sebelah Aleta. “Tentu tante Karin ikut dengan Om Darren, tante Karin adalah istri Om Darren, Aleta tentu masih ingat dengan itu, bukan?”

Ohh, jangan bertanya bagaimana perasaan Karina saat ini. Di tatap seperti itu dan entah kenapa Karina merasa jika sejak tadi Darren menyindir dirinya, itu membuat Karina kembali mual.

Tanpa basa-basi lagi, Darren menggendong Aleta masuk ke dalam mobilnya, dan dengan canggung Karina berpamitan pada Evan.

“Terimakasih, Kak. Kami pulang dulu.”

“Jangan lupa makan, kamu belum makan.”

Mendengar perhatian dari Evan, Karina tersenyum, “Terimakasih perhatiannya.” Suara klakson mobil Darren mempertegas jika lelaki itu seakan tidak sabar menunggu Karina yang masih sibuk berpamitan dengan Evan, akhirnya Karina menuju ke arah mobil Darren dengan sedikit berjalan cepat.

***

Di dalam mobil suasana terasa berbeda. Aleta sudah tertidur pulas di kursi belakang, mungkin karena bocah itu kelelahan karena seharian bermain hingga kini tertidur begitu pulas. Sedangkan Darren sendiri hanya diam, seakan tidak ingin bertanya atau sekedar menyapa Karina. Itu membuat Karina bingung, sebenarnya apa yang di inginkan lelaki di sebelahnya ini?

“Jadi, senang karena sudah kencan dengan kakakku?”

Karina menoleh ke arah Darren seketika. “Aku nggak ngerti apa maksud kamu.”

Darren tersenyum miring. “Pura-pura polos lagi, Karin?” Darren mencengkeram erat kemudi mobilnya. “Karena keegoisanmu, aku sudah kamu miliki seutuhnya, apa kamu masih kurang hingga kini mendekati kakakku.”

Tiba-tiba Karina merasa mual dengan tuduhan yang di arahkan Darren padanya. “Aku nggak pernah bermaksud untuk mendekati kak Evan”

“Dari apa yang aku lihat, tidak begitu”

“Darren berhenti.”

“Kenapa? Mau merajuk? Aku nggak akan berhenti.”

“Aku mau muntah.”

“Apa?” dengan spontan Darren menghentikan mobilnya, setelah mobil berhenti, Karina keluar dan mulai memuntahkan isi di dalam perutnya. Darren hanya ternganga menatap wanita itu.

***

Karina masuk kembali dengan badan yang sudah lemas. Sedangkan Darren masih tidak berhenti menatap ke arahnya.

“Aku nggak enak badan, tolong biarkan aku tenang sehari ini saja.” Karina memohon.

“Jadi selama ini aku tidak pernah membuatmu tenang? Selama ini aku mengganggumu?”

“Darren, aku lelah dan pertengkaran kita.”

“Seharusnya kamu tahu kenapa kita selalu bertengkar, kenapa aku selalu menyalahkanmu, kenapa aku bersikap seperti ini padamu!”

“Ya, aku tahu karena aku salah. Aku sudah memaksamu menikah denganku, aku sudah membuatmu putus dengan wanita yang begitu kamu cintai, aku salah dan aku pantas mendapatkan hukuman darimu.” Karina mulai menangis lagi. “Aku memang wanita teregois yang pernah ada, dan aku meminta maaf karena itu, Darren.”

Darren mencengkeram erat kemudi mobilnya. “Aku akan memaafkanmu, dengan syarat.”

“Apa?”

“Jadilah Nadine untukku.”

“Aku nggak bisa.”

Darren tersenyum miring. “Kalau begitu maaf, aku tidak akan memaafkanmu.” Darren mulai menyalakan dan mengemudikan mobilnya kembali. Ia ingin segera sampai di rumah, lalu kembali memberikan Karina sebuah hukuman, hukuman karena telah menolak keinginannya, hukuman karena telah membuatnya kesal. Ya, Karina pantas mendapatkan hukuman tersebut.

***

Sampai di rumahnya, Darren lantas menggendong Aleta yang sedang tertidur pulas, ia segera menuju ke dalam kamarnya, sedangkan Karina masih mengikutinya dari belakang dengan langkah lelahnya.

Darren menidurkan Aleta di atas ranjangnya, kemudian tanpa basa-basi lagi ia  berbalik dan menarik lengan Karina masuk ke dalam kamar mandi.

“Kamu mau apa?” Darren tidak menjawab, ia hanya menarik tangan Karina untuk masuk ke dalam kamar mandi lalu mengunci diri mereka berdua di dalam kamar mandi tersebut.

Darren memaksa Karina masuk ke dalam bathub, lalu menyalakan shower yang berada tepat di atas mereka. Karina memekik ketika air shower mulai membasahi tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.

“Apa yang kamu lakukan?” suara Karina bergetar karena ia merasa kedinginan.

“Menghukummu.”

“Apa?”

Dengan kasar Darren melucuti baju Karina yang sudah basah kuyub, mendorong tubuh kurus itu hingga menempel pada dinding, Darren bahkan tidak menghiraukan tubuhnya yang juga ikut basah kuyub karena pancuran air shower. Yang ada dalam kepalanya saat ini hanyalah memuaskan hasrat primitifnya yang entah kenapa selalu terbangun begitu saja  ketika melihat tubuh kurus Karina.

Setelah melucuti pakaian Karina dan juga pakaiannya sendiri, seperti biasa, Darren mulai menyatukan diri tanpa pemanasan sedikitpun, dan itu kembali membuat Karina tersakiti.

Darren menghujam dengan cepat dan kasar, mencari-cari kepuasannya sendiri tanpa menghiraukan wanita yang sedang menahan tangis karena ulahnya. Hingga tak lama, ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

Napas Darren terengah ketika keningnya menempel dengan kening Karina. Matanya terbuka menatap wajah basah Karina yang begitu dekat dengan pandangannya. Wajah sendu, yang tampak sekali raut kesakitan di sana. Apa ia sudah menyakiti wanita ini?

Tentu saja, bodoh!

Dengan spontan Darren  mengangkat wajah Karina hingga wanita itu menatap ke arahnya.

“Kamu hanya perlu menuruti apa mauku, maka aku tidak akan menyakitimu.”

“Aku tidak bisa menjadi Nadine untukmu, aku ingin kamu menerimaku karena aku, bukan karena wanita lain.”

“Dan jika aku tidak bisa menerimamu?”

“Maka aku akan pergi.”

Rahang Darren mengeras seketika. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Karin!”  secepat kilat Darren membalik tubuh Karina hingga membelakanginya.

“Tapi Darren.”

“Tidak ada tapi, kamu milikku, hanya milikku.” Darren kembali menyatukan diri membuat Karina kembali mengerang panjang karena penyatuan yang begitu erotis yang di lakukan oleh Darren. Lelaki itu kembali bergerak, memuaskan diri seperti biasa tanpa menghiraukan rengekan Karina yang memohon pengampunan darinya.

 

-TBC-

Advertisements

Unwanted Wife – Chapter 8 (Aleta)

Comments 6 Standard

Unwanted Wife

“Seperti ini.” Darren mendaratkan bibir basahnya pada permukaan leher Karina. Membuat Karina memejamkan matanya ketika sebuah rasa aneh mulai menggelitik dirinya. “Lalu seperti ini.” Darren kembali menggoda Karina dengan mencumbu telinga Karina.

“Uum, Kak Evan, ti –tidak mungkin melihatku seperti itu.” Karina terpatah-patah, karena ia merasakan sesuatu dari dalam dirinya tersulut begitu saja, sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Tapi yang kulihat seperti itu!” Darren menggeram dengan kesal. “Nadine sudah pergi meninggalkanku, jadi sekarang, kamu harus menggantikan dia untuk menjadi milikku.”

Pengganti? Karina merasakan hatinya berdenyut nyeri ketika menyadari jika ternyata Darren hanya menganggapnya sebagai pengganti seorang Nadine. Hanya pengganti. Kenapa Darren begitu tega dengannya?

Sekuat tenaga Karina melepaskan diri dari tangan Darren. “Aku bukan pengganti siapapun!” teriak Karina sekuat tenaga.

“Kenapa? Kamu marah karena kamu hanya sebagai seorang pengganti?”

Napas Karina memburu saat Darren menarik tubuhnya hingga menempel pada tubuh lelaki tersebut. Astaga, Darren sangat bergairah, Karina dapat merasakannya.

“Puaskan aku.” Hingga kemudian bisikan sensual yang di bisikkan Darren padanya membuat Karina membulatkan matanya seketika.

“Aku nggak mau!”

“Sayangnya kamu tidak memiliki kesempatan untuk menolak.” Dalam sekejap mata Darren sudah mendaratkan bibirnya pada bibir Karina, melumatnya dengan kasar dan penuh gairah. Sedangkan Karina sendiri hanya mampu menikmati cumbuan kasar yang di berikan oleh suaminya tersebut. Ya, cumbuan seperti malam itu, sangat kasar tapi entah kenapa mampu membuat jantung Karina berdegup tak menentu.

Darren, apa yang kamu lakukan denganku? Kenapa aku begitu memujamu walau aku sadar jika kamu sudah sering kali menyakitiku?

 

 

Chapter 8

-Aleta-

 

Pagutan bibir Darren semakin melembut seiring berjalannya waktu, Karina semakin menikmati cumbuan yang di berikan suaminya tersebut padanya hingga tak terasa sesekali ia mengerang dalam hati.

Oh, beginikah rasanya di cumbu oleh orang yang di cintai? Rasanya aneh, seakan Karina merasakan tubuhnya dapat melayang di udara.

Jemari Darren mulai menggoda Karina, berjalan dengan pelan menelusuri leher jenjang wanita yang kini sedang di cumbunya.

Karina mengerang dengan rasa aneh yang merayapi dirinya. Ia merasa jika tubuhnya kini seakan hangus terbakar oleh sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti apa itu. Sedangkan Darren sendiri kini semakin berani, kini jemarinya sudah mendarat pada dada Karina, menggodanya hingga membuat Karina memekik tak nyaman.

“Kenapa?” Darren bertanya ketika tautan bibirnya terlepas karena pekikan Karina.

Karina hanya menggeleng, sedangkan pipinya tak berhenti merona karena malu. Ah, ia bahkan tidak mengerti rasa apa yang kini sedang ia rasakan.

Darren akan kembali melanjutkan apa yang tadi ia lakukan, tapi pergerakannya terhenti ketika pintu kamar mereka di ketuk oleh seseorang. Tanpa sadar keduanya saling pandang sebentar, lalu keduanya tersadarkan dengan suara panggilan dari mama Darren.

Darren mengerutu kesal, tapi ia tetap membuka pintu kamarnya dan mendapati sang mama berada di sana dengan seorang gadis mungil yang langsung menghambur ke arah Darren.

“Om Darren.”

Ah, itu Aleta, bocah centil berusia Empat tahun. Puteri dari Rara, sepupunya. Untuk apa bocah ini di sini?

“Hei, apa yang kamu lakukan di sini?” Darren bertanya pada bocah tersebut.

“Mama dan Papanya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, jadi dia di titipkan di sini.”

“Apa? Bagaimana mungkin mereka tega meninggalkan puteri mereka? Orang tua macam apa itu?”

“Darren, kamu tahu sendiri jika saat ini di eropa sedang musim salju, sedangkan Aleta tidak bisa beradaptasi dengan musim itu. Mau tidak mau Rara menitipkan dia di sini. Lagian Aleta kan dekatnya sama kamu.”

“Ya, tapi aku sedang tidak ingin dekat dengan siapapun, Ma. Mama tahu sendiri keadaanku.”

“Om Darren nggak cinta lagi sama Aleta?”

“Enggak!” dan setelah jawaban Darren tersebut, bocah itu menangis.

“Aishh, apa yang kamu lakukan?” sang mama tampak kesal dengan Darren. “Karin, kamu mau bantu mama ngurus Aleta, kan beberapa hari ke depan?”

Karina tersenyum dan mengangguk. “Ya, Ma.”

“Dia siapa?” Aleta bertanya pada mama Darren sambil menunjuk ke arah Karina.

“Tante Karin, istri Om Darren.” Darren yang menjawab, meski Darren menjawab dengan nada datar nya tapi mampu membuat pipi Karina merona merah.

“Istri? Istri itu apa?” Darren hanya tersenyum tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan gadis mungil tersebut.

“Sudah-sudah, sekarang Aleta main saja dengan Om Darren, Oma mau bikinin Aleta cemilan dulu.”

“Ma, saya ikut.” Cepat-cepat Karina berkata, entah kenapa ia tidak ingin melanjutkan apa yang tadi telah di lakukan Darren terhadapnya.

Darren sendiri seketika menatap Karina dengan tatapan tajamnya. “Kamu tetap di sini.”

“Tapi aku-”

“Ya Karin, kamu di sini saja. Temani Aleta.” Dan Karina berkhir menghela napas panjang dengan menganggukkan kepalanya. Sungguh, sebenarnya Karina ingin sedikit menghindar dari Darren, entah kenapa sikap lembut lelaki itu membuat Karina semakin salah tingkah.

***

Malamnya, Darren menggerutu kesal karena ternyata Aleta ingin tidur sekamar dengannya dan juga Karina. Ya, Aleta memang sangat dekat dengan Darren, bahkan gadis mungil itu berharap jika nanti akan menikah dengan Darren. Darren sudah seperti orang yang ia idolakan.

“Jadi dia benar-benar tidur di sini?” tiba-tiba Darren bertanya ketika Karina sibuk membereskan tempat tidur mereka.

“Ya, dia ingin tidur di sini.” Karina melirik bocah yang sudah tertidur pulas di atas ranjangnya.

Darren mendengus sebal. “Aku nggak bisa tidur dengan orang banyak.”

“Aku akan tidur di sofa. Kamu bisa tidur di sini dengan Aleta.” Karina menunjuk ranjang yang telah selesai ia bereskan.

Darren hanya menatap Karina dengan tatapan anehnya, dan itu benar-benar membuat Karina salah tingkah.

“Ada apa?”

“Urusan kita tadi sore belum selesai.”

Pipi Karina memerah. “Urusan apa?”

“Tentang kedekatanmu dengan Evan. Jadi, kalian benar-benar dekat sampai dia lebih tahu semua tentangmu dari pada aku?”

“Aku nggak tahu apa yang kamu maksud.”

“Maksudku, jika kamu sangat dekat dengannya, kenapa saat itu kamu meminta aku untuk menikahimu? Kenapa tidak meminta Evan saja?”

“Aku…”

“Kenapa?”

Karina hanya menundukkan kepalanya.

“Kamu nggak bisa jawab? Karena kamu iri dengan Nadine yang bisa selalu dekat denganku? Atau karena kamu tidak ingin melihat aku bersatu dengan Nadine?”

“Aku mencintaimu, Darren.”

Darren tertawa mengejek. “Cinta? Cinta itu tidak egois, Karin, jika kamu mencintai seseorang, kamu akan melakukan apapun supaya orang tersebut bahagia, meskipun itu menyakiti hatimu.”

“Aku hanya ingin selalu bersamamu.”

“Itu bukan cinta, itu hanya sebuah obsesi.”

Karina mulai menangis.

“Aku muak melihat tangismu.”

“Apa, apa salah jika aku menginginkan lebih? Aku, aku tidak pernah dekat dengan lelaki lain, kecuali dengan kedua kakak kembarku, kak Evan dan juga denganmu. Sedangkan Nadine sangat mudah bergaul dengan lelaki lain. Aku hanya ingin memiliki sesuatu yang aku inginkan.”

“Meski itu milik sahabatmu sendiri?”

Karina hanya diam.

“Kamu bisa meminta Evan untuk menikahimu saat itu, tapi kenapa harus aku?”

“Karena aku mencintaimu.” Karina menegaskan sekali lagi.

“Dan aku tidak! Mencintai tidak harus memiliki, seharusnya kamu mengerti istilah itu.” Darren mengacak rambutnya frustasi. “Sudahlah, lupakan saja. Toh sekarang aku sudah kehilangan semuanya, harusnya kamu puas dan bahagia dengan semua ini.”

Darren bersiap pergi tapi suara Karina menghentikan langkahnya. “Aku tidak bahagia saat melihatmu sakit.” Kalimat itu terdengar bergetar dan begitu rapuh di telinga Darren. “Tapi aku berharap suatu saat kamu akan bahagia bersamaku.”

“Jika saat itu tidak pernah terjadi?”

“Aku, aku…”

“Kenapa?”

“Aku akan meninggalkanmu.”

“Dan apa kamu pikir setelah kamu meninggalkanku, aku akan bahagia?” Darren kembali tersenyum mengejek. “Aku tidak akan pernah bahagia ketika wanita yang kucintai sudah menjadi milik orang lain.” Setelah kalimatnya tersebut, Darren pergi begitu saja meninggalkan Karina yang terpaku karena ucapannya.

Air mata Karina jatuh begitu saja, ia tahu jika lelaki itu sudah hancur. Ia telah menghancurkan lelaki yang begitu ia cintai, bagaimana mungkin ia bisa sebodoh ini? Hatinya terasa sakit saat melihat Darren yang juga tersakiti.

Inikah Neraka yang di ucapkan Darren? Karena entah kenapa Karina merasakan jika dirinya kini hidup di dalam neraka, hidup penuh dengan kesakitan karena melihat orang yang ia cintai tersakiti karena ulahnya sendiri.

“Tante Karin kenapa?” suara Aleta membuat Karina tersadar jika gadis mungil tersebut ternyata terjaga dari tidurnya.

“Kamu kok bangun?”

“Aleta dengar Om Darren marah-marah, jadi Aleta bangun.” Gadis mungil itu menjawab dengan begitu polos.

Karina tersenyum. “Om Darren nggak marah.”

“Tapi tante Karin menangis.”

Dengan spontan Karina memeluk Aleta. “Tante nggak nangis, udah ya, kita bobok lagi.”

“Om Darren jahat, nanti Aleta mau marahin Om Darren.” Karina hanya tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukannya pada gadis mungil tersebut.

***

Pagi itu, suasana canggung menyelimuti ruang makan keluarga Darren. Di sana ada Darren dan Evan yang duduk saling berdiam diri dan sibuk dengan aktifitas masing-masing tanpa saling tegur sapa. Sedangkan Karina memilih menyuapi Aleta sambil sesekali melirik ke arah Darren dan juga Evan.

Ini adalah pertama kalinya Darren dan Karina bertemu kembali dengan Evan setelah kemarin sore Darren dan Evan bersitegang. Evan tidak ikut makan malam bersama malam itu, dan kini ketiganya di hadapkan dalam situasi canggung ketika sarapan bersama.

Tidak ada bedanya dengan Darren dan Karina, setelah cekcok mereka semalam, keduanya tidak bertemu lagi hingga pagi ini. Darren bahkan memilih tidur di ruang kerjanya dari pada tidur bersama dengan Karina dan Aleta. Saat ini lelaki itu bahkan bersikap lebih dingin lagi dari sebelumnya. Karina ingin menyapa, tapi tentu saja ia mengurungkan niatnya karena ekspresi Darren yang tampak mengerikan di matanya.

“Tante, apa nanti guru di sekolahnya galak?” tanya Aleta dengan polos.

Karina yang kini sedang menyuapi Aleta akhirnya tersenyum mendengar pertanyaan polos tersebut. Karina tadi memang berniat mengajak Aleta ikut serta ke sekolah tempatnya mengajar. Ia tidak mungkin membiarkan Aleta di rumah sendiri apalagi ikut Darren ke kantor, jadi Karina berinisiatif mengajak Aleta ikut serta.

“Enggak, tante yang akan menjadi gurunya.”

“Hore kalo tante Karin yan jadi gurunya, Aleta mau sekolah, kalo Om Darren, Aleta nggak mau, Om Darren galak.”

Daren mendelik dengan apa yang di katakan Aleta. “Galak? Siapa yang bilang Om galak?” tanya Darren.

“Aleta dengan Om Darren marah-marah sama tante Karin tadi malam, Aleta nggak suka.”

Darren hanya tercengang, sedangkan Karina tampak salah tingkah. “Uum, Aleta, Om Darren nggak marahin tante Karin kok.”

Darren melirik ke arah Evan, kakaknya itu masih duduk santai, tapi terlihat jelas jika kakaknya itu sedag tegang. Kenapa? Apa karena kakaknya itu tidak suka dengan kenyataan bahwa ia telah memarahi Karina seperti yang di ucapkan Aleta?

Darren tersenyum miring. “Om nggak marah, Aleta, Om Darren cuma sedikit berdiskusi dengan tante Karin.”

“Berdiskusi?”

Darren masih tersenyum sesekali melirik ke arah kakaknya. “Ya, berdiskusi tentang adik baru untuk kamu.”

Karina membulatkan matanya seketika. Oh jangan di tanya lagi bagaimana saat ini ekspresi bodoh yang di tampilkan oleh Karina. Darren seperti orang yang sedang menggoda dan entah kenapa Karina tergoda hingga membuat pipinya memanas dan dia salah tingkah.

-TBC-

Unwanted wife – Chapter 7 (Pengganti)

Comments 8 Standard

Unwanted Wife

“Nadine, dia sudah bukan milikku lagi, dia memutuskanku, dia benar-benar meninggalkanku, kenapa kamu melakukan semua ini pada kami, Karin?”

Dan Karina sudah tak mampu lagi mendengar suara Darren yang terdengar bergetar di telinganya. Dengan spontan Karina mendekatkan diri, lengan rapuhnya begitu berani terulur memeluk tubuh kokoh suaminya tersebut dari belakang.

“Aku minta maaf.” Karina menangis. Wajahnya menyandar pada punggung Darren, air matanya kembali menetes, dan ia kembali terisak. Sungguh, melihat Darren serapuh ini, Karina benar-benar melupakan sikap kasar yang berkali-kali di berikan Darren padanya. Ia merasa bersalah, terlebih lagi hatinya terasa sakit saat mengingat jika kesedihan Darren bermula dari dirinya.

Tubuh Darren menegang, ketika merasakan lengan kurus itu memeluknya dari belakang. Oh Karina, terbuat dari apakah hatimu? Berkali-kali sudah aku menyakitimu, tapi kamu seakaan tidak lelah menempel padaku. Apa yang harus ku lakukan padamu?

Tanpa di duga, Darren membalikkan tubuhnya menghadap tubuh Karina, lengannya terulur begitu saja mengusap lembut pipi Karina, tatapan mata Darren melembut ke arah Karina, lalu dia berkata “Nadine sudah meninggalkanku, dia benar-benar meninggalkanku.”

“Maafkan aku, aku hanya-”

“Jangan tinggalkan aku seperti yang di lakukan Nadine padaku.” Darren memotong kalimat Karina dengan kalimat tersebut, lelaki itu kemudian memeluk erat tubuh Karina dengan lengan kekarnya. Sedangkan Karina sendiri hanya terpana dengan apa yang baru saja di ucapkan dan yang sedang di lakukan oleh suaminya iti.

Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Apa benar Darren tidak ingin Karin menginggalkannya?

***

Chapter 7

-Pengganti-

 

Darren merasa sangat frustasi, kenapa jalan hidupnya menjadi seperti ini? Kenapa setiap wanita yang di cintainya harus berakhir meninggalkannya? Jika dulu Karina, kenapa sekarang Nadine juga meninggalkannya? Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

Darren merasakan dadanya di dorong sekeras mungkin oleh wanita yang kini sedang ia cumbu penuh dengan kerinduan. Ketika tautan bibirnya terputus, ia melihat wanita yang begitu ia cintai menangis karena ulahnya.

“Kita sudah nggak bisa bersama lagi.”

“Aku masih ingin bersama!”

Tampak Nadine menggelengkan kepalanya pelan. “Maaf, aku nggak bisa.”

“Nadine.”

“Aku, aku sudah jadi istri orang.” Setelah kalimatnya itu, Nadine pergi begitu saja meninggalkan Darren yang tercengang menatap kepergiannya.

“Jangan pergi, jangan pergi, jangan pergi…..”

 

Darren membuka matanya seketika, dan ia baru sadar jika dirinya masih memeluk tubuh Karina, istrinya. Darren menundukkan kepalanya, menatap ke arah wanita yang kini masih dalam pelukannya, wanita itu tampak damai dalam tidurnya, dan perasaan Darren semakin di buat kacau karena pemandangan tersebut.

“Jangan tinggalkan aku seperti yang di lakukan Nadine padaku.” Darren mengingat pernyataannya tadi malam kepada Karina. Apa yang sedang ia bicarakan? Kenapa ia berkata seperti itu? Sial!

Darren menatap kembali wajah Karina, lalu bayangan Nadine ketika memutuskannya mencul begitu saja dalam kepalanya. Bayangan itu tadi sama persis seperti mimpi buruk yang baru saja ia alami. Apa ia harus mulai melupakan Nadine? Lalu menerima Karina dan belajar mencintai wanita itu lagi? Tidak! Seharusnya bukan seperti ini, seharusnya ini tidak terjadi.

Darren melepaskan pelukannya pada tubuh Karina sepelan mungkin supaya wanita itu tidak terbangun dari tidurnya, Darren lalu bangkit dan meninggalkan Karina menuju ke arah kamar mandi.

***

Karina menggeliat dalam tidurnya, matanya sedikit demi sedikit terbuka. Oh, tidurnya malam ini benar-benar sangat nyenyak, kenapa? Apa ada hubungannya dengan pernyataan Darren tadi malam? Mengingat itu Karina tersenyum malu. Apa tadi malam Darren sadar ketika mengucapkan kalimat itu? Karina masih saja tersenyum malu-malu hingga suara berat itu membuat Karina berjingkat karena terkejut.

“Sudah bangun?”

Karina menoleh ke arah suara tersebut, nyatanya itu Darren, yang kini sudah rapi dan duduk tepat di sebelah jendela kamar mereka, tatapan mata Darren tertuju pada Karina, dan entah kenapa itu membuat Karina malu, pipinya bersemu merah ketika sadar jika mungkin saja Darren sejak tadi sudah menatap ke arahnya sejak ia masih tertidur.

“Ya, uum, maaf, aku kesiangan.” Karina membenarkan letak selimut yang kini membalut tubuhnya yang masih polos.

“Nggak apa-apa, mandilah, kita akan kembali ke Jakarta.”

Karina mengerutkan keningnya mendengar kalimat Darren tersebut. Bukan tentang isi kalimat itu, tapi tentang nada bicara lelaki itu padanya. Sedikitpun Darren tidak terdengar dingin atau datar seperti biasanya, kenapa? Apa lelaki itu kini sudah berubah? Tidak mungkin.

Karina bangkit dan akan menuju ke arah kamar mandi, tapi kemudian Darren juga ikut bangkit, jemari Darren terulur, dengan spontan Karina mundur. Entahlah, Karina hanya takut, jika tiba-tiba saja Darren berlaku kasar terhadapnya.

“Aku tidak akan menyakitimu.”

Kalimat itu membuat Karina tertegun. Sebenarnya ada apa dengan Darren? Apa lelaki itu sedang mengigau? Mabuk mungkin? Oh yang benar saja.

Karina hanya menundukkan kepalanya ketika tiba-tiba jemari Darren mengusap lembut pipi kirinya.

“Mandilah.” Dengan canggung Karina mengangguk pelan. Lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Darren.

***

Setelah keluar dari dalam kamar mandi, kegugupan kembali melanda Karina karena melihat Darren yang masih berada di sana, menatapnya dengan tatapan anehnya. Oh, untung saja ia sudah mengenakan pakaian lengkapnya sejak di dalam kamar mandi.

Dengan gugup Karina menuju ke arah kopernya kemudian memasukkan berapa barang-barangnya yang masih berserahkan di dalam kamar tersebut tanpa menghiraukan Darren yang masih menatapnya.

Tiba-tiba Karina merasakan jemari Darren meraih pergelangan tangannya, sontak Karina menghentikan pergerakannya, lalu tatapan matanya menatap ke arah Darren yang kini sudah berdiri tepat di sebelahnya.

“Ada apa?”

Darren tidak menjawab, tapi ia malah membuka perban di pergelangan tangan Karina.

“Apa masih sakit?” tanyanya dengan nada lembut.

Jantung Karina berdebar lebih cepat lagi dari sebelumnya karena pertanyaan lembut yang di tanyakan Darren padanya. Karina hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Sudah di obatin?” tanya Darren sembari menatap pergelangan tangan Karina dengan seksama.

“Sudah, tadi.” Darren membalut kembali pergelangan tangan tersebut dengan hati-hati. Karina semakin salah tingkah di buatnya, sebenarnya ada apa dengan lelaki itu? Kenapa dia sangat berbeda? Apa Darren sudah berubah? Tidak mungkin!

“Oke, bereskan barang-barangmu, dan kita pergi secepatnya.” Karina mengangguk pelan.

***

Sampai di lobi, ternyata di sana Karina dan Darren bertemu dengan keluarga Karina, termasuk Dirga dan Nadine. Tubuh Karina menegang seketika saat merasakan jemari Darren menggenggam jemarinya.

Semuanya berdiri di sana dalam keadaan tegang. Karina melihat Nadine menundukkan kepalanya, lalu ia juga melihat sang kakak yang wajahnya masih babak belur sedang mengepalkan kedua belah telapak tangannya.

“Kalian akan pulang?” suara lembut sang mama membuat Karina bersyukur karena dapat memecah keheningan di antara mereka.

“Ya, Ma.” Setelah jawaban dari Karina, semuanya kembali diam. Canggung dan tegang karena suasana yang tercipta di antara mereka.

“Ayo kita pergi.” ajak Darren sembari menarik telapak tangan Karina yang telah di genggamnya dengan begitu erat. Karina hanya mengikuti Darren. Tapi baru beberapa langkah ia meninggalkan keluarganya, suara teriakan Dirga membuat Darren dan Karina menghentikan langkahnya.

“Lo akan menyesal kalo sampai lo nyakitin adek gue.”

Darren menolehkan kepalanya ke arah Dirga kemudian tersenyum miring pada lelaki tersebut, tatapan matanya kemudian teralih pada Nadine, dan Darren kembali menyunggingkan senyuman miringnya pada wanita itu. Lalu tanpa berkata lagi, Darren pergi dengan genggaman tangannya yang semakin erat pada jemari Karina.

***

Hingga sampai di rumah, Darren tidak lagi bersuara meski jemari lelaki tersebut tak pernah lepas dari menggenggam jemari Karina. Entah apa yang di pikirkan Darren, yang jelas, Karina bahkan tidak berani untuk memulai pembicaraan dengan suaminya itu.

Darren keluar dari dalam mobilnya, mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam bagasi mobil, sedangkan Karina hanya melihat tanpa tahu apa yang harus ia lakukan

“Hai, sudah balik.” Suara ramah itu membuat Darren dan Karina menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, dan mendapati Evan yang sudah berdiri tak jauh dari tempat Karina berdiri

“Hai.” Karina membalas sapaan dari Evan. “Iya, baru pulang.”

“Kok cepat, kenapa nggak tinggal lebih lama? Apa Bali membuat kalian bosan?”

“Oh enggak, Bali sangat indah, tapi kak Evan tahu sendiri, Darren harus kerja dan aku juga harus ngejar.”

“Ngajar?” Darren menatap Karina penuh tanya.

“Uum, iya, itu, aku gantiin temanku ngajar.”

“Dimana? Kenapa aku nggak tahu?” desak Darren.

“Mungkin karena lo terlalu sibuk dan Karin lupa mau kasih tahu lo.” Evan menjawab. Tapi darren tidak puas dengan jawaban kakaknya tersebut.

Darren tampak menunggu jawaban dari Karina.

“Kupikir kamu nggak mau tahu kegiatan yang aku lakuin di luar sana.”

“Apa dia tahu?” Darren menunjuk ke arah Evan dengan pertanyaan yang ia tanyakan dengan nada yang tidak enak di dengar.

Evan tertawa menanggapi dengan santai pertanyaan dari adiknya tersebut. “Lo kayak anak kecil, memangnya kalau gue tahu kenapa?”

“Gue nggak sedang bercanda sama lo.” Darren berkata penuh dengan penekanan. Oh, jangan di tanya lagi bagaimana ekspresinya saat ini.

“Darren, kak Evan tahu karena saat itu dia yang jemput aku ketika aku pulang dari ngajar.”

“Jemput?” Darren menatap Karina dan Evan secara bergantian, lalu berakhir mengumpat dalam hati. Tanpa banyak bicara lagi dia pergi begitu saja meninggalkan Karina dan juga Evan, masuk ke dalam rumahnya.

“Dia kenapa?”

Karina menghela napas panjang. “Mungkin Darren masih kesal dengan pernikahan Nadine dan Mas Dirga.”

“Apa?” Evan tampak terkejut dengan jawaban Karina.

“Kak Evan nggak tahu? Mas Dirga nikah sama Nadine, resepsinya minggu depan, kami ke Bali untuk memastikan kabar itu.”

“Kakakmu benar-benar sialan! Bisa-bisanya dia nggak ngasih tahu aku.”

“Aku saja tidak tahu kalau dia nikah.” Karina menjawab sembari menundukkan kepalanya. Evan tersenyum sambil menatap ke arah Karina, tapi kemudian senyumya hilang saat tatapan matanya teralih pada pergelangan tangan Karina yang di balut oleh sebuah perban tipis.

“Ini kenapa?” tanya Evan sambil meraih pergelangan tangan Karina dan menatapnya lekat-lekat.

“Uum, itu..” Karina tidak tahu harus menjawab apa, tidak mungkin ia menjawab jika luka itu karena ulah Darren yang mengikat erat pergelangan tangannya dengan ikat pinggang lelaki tersebut yang terbuat dari kulit saat mereka melakukan seks.

“Kenapa Karin?” Evan mendesak, tapi Karina tetap bungkam. “Apa ini karena Darren?” Karina masih tidak menjawab, tapi Evan tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.

Secepat kilat Evan meninggalkan Karina menuju ke arah kamar Darren, sedangkan Karina sendiri memilih berlari mengikuti Evan.

Evan membuka dengan kasar kamar Darren yang memang tidak terkunci, di dalam sana ia mendapati Darren yang masih duduk di pinggiran ranjangnya sambil memainkan ponselnya.

Seketika itu juga Darren berdiri ketika menatap penuh tanya wajah Evan yang tampak sangar dalam pandangannya.

“Ngapain lo?”

Secepat kilat Evan berjalan ke arah Darren, mencengkeram kerah kemeja yang di kenakan adiknya tersebut dan bertanya penuh dengan penekanan.

“Lo apain Karina?”

Darren mengangkat sebelah alisnya. “Bukan urusan lo.”

“Brengsek! Gue tanya lo apain Karina?” Evan tampak sangat emosi, dan itu menyulut emosi dalam diri Darren.

“Lo yang brengsek! Karin istri gue, milik gue, mau gue apain sesuka hati gue, itu bukan urusan lo!”

“Gue nggak akan ngebiarin lo nyakitin dia, sialan!”

“Kak!” Karina datang memisah keduanya. “Aku nggak apa-apa, sungguh.”

“Tapi tangan kamu luka.” Evan berkata penuh perhatian.

“Ini nggak apa-apa kak.” Karina menjawab setenang mungkin, berharap jika Evan tidak terlalu khawatir dengan keadaannya.

Evan menatap tajam ke arah Darren. “Kalau sampai dia kenapa-kenapa gara-gara lo, gue nggak segan-segan membalasnya.” Evan kemudian berjalan keluar.

“Lo ngancam gue? Karin milik gue, ingat itu, jadi gue berhak ngelakuin apa aja pada tubuhnya.”

Evan berdiri mematung membelakangi Darren dan Karina, tubuhnya menegang karena pernyataan yang terlontar dari bibir Darren. Ya, Karina memang milik Darren, apa haknya melarang Darren menyentuh istrinya sendiri? Tapi di sisi lain, Evan tidak tega melihat Karina yang selalu tampak kesakitan ketika bersama dengan Darren.

Masih dengan mengepalkan telapak tangannya, Evan memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar Darren begitu saja. Ia terlalu marah, marah ketika melihat keadaan wanita yang begitu ia cintai tampak rapuh di tangan adiknya sendiri, sedangkan dirinya tidak memiliki kuasa untuk menolong wanita tersebut.

***

Karina meremas kedua belah telapak tangannya, perasaannya campur aduk, ia gugup, dan juga bercampur takut saat melihat ekspresi wajah Darren yang masih mengeras meski Evan sudah cukup lama meninggalkan kamar mereka.

“Kenapa kamu tidak mengejarnya?” pertanyaan itu di tanyakan Darren dengan nada dingin seperti biasnya, bukan nada lembut seperti tadi pagi. Astaga, bagaimana mungkin lelaki ini dapat dengan cepat merubah suasana hatinya?

“Kenapa aku harus mengejarnya?”

Darren mendengus sebal. “Baru tadi pagi aku berusaha melupakan semuanya dan mencoba memulai semuanya dari awal denganmu, tapi kamu sudah mengkhianatiku seperti yang di lakukan Nadine padaku.”

Karina tersentak dengan kalimat yang di ucapkan Darren. Apa lelaki itu bilang? Mencoba memulai semuanya dari awal dengannya? Apa Darren serius? Dan astaga, mengkhianati bagaimana maksud Darren?

“Darren, aku tidak mengkhianatimu.”

“Benarkah? Kupikir kedekatanmu dengan kakakku merupakan kedekatan yang special.”

“Kak Evan sangat baik padaku, dia seperti kakakku sendiri.”

“Tapi kupikir dia tidak melihatmu seperti itu.”

“Darren, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.” Sungguh, Karina memang tidak mengerti apa yang di maksud Darren dan apa yang di inginkan lelaki itu.

Darren mendekat ke arah Karina dengan gerakan mengintimidasi, membuat Karina sedikit ngeri dengan tatapan yang di berikan lelaki itu terhadapnya.

Darren mengangkat dagu Karina, menelusuri wajah cantik itu dengan tatapan matanya. “Maksudku adalah, dia melihatmu seakan-akan ingin memilikimu.”

“Me -memiliki?”

“Seperti ini.” Darren mendaratkan bibir basahnya pada permukaan leher Karina. Membuat Karina memejamkan matanya ketika sebuah rasa aneh mulai menggelitik dirinya. “Lalu seperti ini.” Darren kembali menggoda Karina dengan mencumbu telinga Karina.

“Uum, Kak Evan, ti –tidak mungkin melihatku seperti itu.” Karina terpatah-patah, karena ia merasakan sesuatu dari dalam dirinya tersulut begitu saja, sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Tapi yang kulihat seperti itu!” Darren menggeram dengan kesal. “Nadine sudah pergi meninggalkanku, jadi sekarang, kamu harus menggantikan dia untuk menjadi milikku.”

Pengganti? Karina merasakan hatinya berdenyut nyeri ketika menyadari jika ternyata Darren hanya menganggapnya sebagai pengganti seorang Nadine. Hanya pengganti. Kenapa Darren begitu tega dengannya?

Sekuat tenaga Karina melepaskan diri dari tangan Darren. “Aku bukan pengganti siapapun!” teriak Karina sekuat tenaga.

“Kenapa? Kamu marah karena kamu hanya sebagai seorang pengganti?”

Napas Karina memburu saat Darren menarik tubuhnya hingga menempel pada tubuh lelaki tersebut. Astaga, Darren sangat bergairah, Karina dapat merasakannya.

“Puaskan aku.” Hingga kemudian bisikan sensual yang di bisikkan Darren padanya membuat Karina membulatkan matanya seketika.

“Aku nggak mau!”

“Sayangnya kamu tidak memiliki kesempatan untuk menolak.” Dalam sekejap mata Darren sudah mendaratkan bibirnya pada bibir Karina, melumatnya dengan kasar dan penuh gairah. Sedangkan Karina sendiri hanya mampu menikmati cumbuan kasar yang di berikan oleh suaminya tersebut. Ya, cumbuan seperti malam itu, sangat kasar tapi entah kenapa mampu membuat jantung Karina berdegup tak menentu.

Darren, apa yang kamu lakukan denganku? Kenapa aku begitu memujamu walau aku sadar jika kamu sudah sering kali menyakitiku?

 

-TBC-

Evelyn – Chapter 3 (Rasa Aneh)

Comments 7 Standard

Evelyn

“Apa yang anda lakukan, Nona?”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Eva, hanya panggil Eva.  Atau mungkin sayang.”

Fandy menghela napas panjang. “Apa yang kamu mau?”

Eva tersenyum ketika Fandy sudah tidak bersikap formal padanya.

“Aku mau kamu.” Eva mendongakkan wajahnya seakan menantang Fandy.

“Berhenti main-main, aku tidak suka dengan gadis kecil sepertimu.”

Eva membulatkan matanya seketika. “Gadis kecil katamu? Walau umurku belum sembilan belas tahun, tapi aku sudah bisa memuaskan laki-laki, tahu!”

“Aku tidak suka perempuan yang sudah pernah memuaskan laki-laki.”

“Uum, maksudku aku belum pernah, tapi aku bisa.”

“Lupakan, lebih baik kamu jauhi aku.”

“Tidak, aku tidak akan menjauhimu, dan kamu tidak akan bisa menjauh dariku.”

“Kenapa?”

“Karena kamu milikku.” Kalimat itu di katakan Eva dengan penuh penekanan. Eva semakin mendekatkan dirinya, kakinya bahkan sudah berjinjit untuk menggapai wajah Fandy yang memang jauh lebih tinggi darinya. “Kamu milikku, Fan. Dan kamu tidak bisa menolakku.”

***

Chapter 3

Rasa Aneh-

 

“Kamu milikku, Fan. Dan kamu tidak bisa menolakku.”

Dengan sigap Fandi meremas kedua pundak Eva dengan kedua tangannya, kemudian menjauhkan gadis tersebut dari tubuhnya.

“Berhenti menempel padaku, asal kamu tahu, aku bisa menolak apapun yang tidak aku suka.”

Eva tersenyum mengejek. “Sayangnya, aku bukan salah satu dari sesuatu yang tidak kamu suka.”

“Jangan terlalu percaya diri.”

“Oke, bagaimana dengan ini?” Eva berjinjit kemudian menggapai bibir Fandy dengan bibirnya, mengecup singkat bibir lelaki tersebut dengan bibir lembutnya.

Fandy benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan Eva, bagaimana mungkin gadis ini begitu berani menciumnya? Apa gadis ini tidak memiliki rasa malu lagi?

“Apa yang kamu lakukan?” Fandy menjauhkan Eva dari tubuhnya.

“Menciummu.”

Fandy mendengus sebal. “Dengar, tidak semua pria suka di goda bahkan di cium sembarangan oleh gadis kecil sepertimu.”

“Aku bukan gadis kecil.”

“Bagiku kamu gadis kecil.”

Dengan kesal Eva mendorong-dorong tubuh Fandy sekuat tenaganya hingga lelaki itu terjengkang di atas ranjang besar milik Eva.

“Aku akan memperlihatkan padamu jika aku bukan gadis kecil lagi.”

Dengan sigap Eva naik ke atas tubuh Fandy yang kini sudah setengah terbaring, jemari Eva dengan cepat membuka setelan yang masih di kenakan oleh Fandy. Eva tertegun menatap pakaian lelaki tersebut, sebuah rompi dengan sebuah pistol di dalamnya.

“Kenapa?” tanya Fandy saat melihat Eva diam menatap pistolnya.

“Kamu punya pistol?”

“Semua pengawal di rumah ini punya.”

“Kamu bisa menembak?”

“Aku bahkan bisa membunuh seseorang yang ku kehendaki.”

“Orang seperti apa?” Eva bertanya dengan wajah polosnya.

“Orang seperti kamu, pemaksa yang hampir memperkosa pengawalnya sendiri.” sindir Fandy.

Eva bangkit seketika. “Hei, aku bukan pemerkosa, tahu!”

Fandy ikut bangkit. “Apapun itu, aku tidak suka kamu berperilaku genit padaku.”

Eva tersenyum miring. “Tidak suka? Aku bahkan merasakan bukti gairahmu saat aku menaikimu tadi.” sindir Eva sambil tertawa lebar.

Fandy mencoba tidak menghiraukan sindiran Eva tadi. Ia memilih merapikan kembali pakaiannya.

“Kenapa aku di suruh ke sini?”

“Aku cuma mau bilang, kalau kamar kamu besok sudah pindah.”

“Pindah?”

“Ya, kamu tidak lagi tidur di paviliun belakang rumah ini, tapi akan tidur di sebelah kamarku ini.”

“Apa?!” Fandy tercengang dan Eva tertawa lebar. Oh, Fandy masih tak habis pikir, sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis di hadapannya tersebut?

“Ya, karena kamu sudah jadi pacarku, maka kamu nggak boleh jauh-jauh dariku.”

“Aku bukan pacarmu.”

“Ya, kamu pacarku!”

Dan Fandy mengalah, ia hanya bisa menghela napas panjang. “Apa ada lagi?”

“Enggak.”

Setelah jawaban Eva tersebut, Fandy bersiap keluar dari dalam kamar Eva, tapi kemudian dengan manjanya Eva bergelayut pada lengan Fandy.

“Jangan pergi.”

“Aku harus istirahat, besok harus jagain kamu lagi.”

“Kamu baru boleh pergi setelah aku sudah tidur.” Eva berucap dengan nada yang di buat manja.

“Apa?”

“Pokoknya aku mau di temani sampai aku tidur!” Eva menyeret Fandy untuk kembali duduk di atas ranjangnya, setelah itu ia melemparkan tubuhnya sendiri di atas ranjang. “Ayo, kemarilah, peluk aku.”

“Kamu gila?” Fandy masih tidak habis pikir dengan Eva. Sial! Apa gadis itu tidak bisa melihat ketegangan sialan di pangkal pahanya tadi? Apa Eva memang berniat menggodanya hingga ia tak mampu menahan diri?

“Iya, aku memang gila, sekarang cepat kemarilah, aku tidak bisa tidur kalau tidak di peluk.”

“Memangnya selama ini siapa yang peluk kamu saat kamu tidur?”

“Mama, dan sekarang mama nggak ada, jadi kamu yang harus memelukku sampai aku tertidur pulas.”

Fandy mengembuskan napas kasar. Tapi ia tetap mematuhi apa yang di perintahkan Eva. Ah sial, gadis kecil ini nyatanya mampu membuatnya menegang seutuhnya.

***

Paginya, Eva terbangun sendiri. Seperti kemarin, ia terbangun karena mendengar bisik-bisik dari para pelayan di kamarnya. Eva bangkit kemudian menatap di sekeliling kamarnya. Fandy sudah tidak ada, apa lelaki itu pergi saat ia masih tidur? Atau baru pergi pagi ini?

Eva Berdiri, kemudian seorang pelayan menghampirinya, membawakannya sebuah handuk sembari berkata “Air hangat sudah siap, Nona.”

Seperti anak kecil, Eva menuju ke arah kamar mandinya sambil sesekali mengucek matanya.

“Dimana Fandy?” tanyanya pada pelayannya tersebut.

“Fandy?” sang pelayan tampak bingung.

“Iya, Fandy, pengawalku.”

“Oh, Fandy tentu ada di paviliun belakang mansion ini, Nona.”

“Apa? Bukannya tadi malam dia tidur di sini?” tanya Eva dengan begitu polosnya.

“Tidur di sini?” sang pelayan membulatkan matanya seketika saat mengetahui fakta tersebut.

“Umm, maksudku, dia di tugaskan Nenek untuk mengawalku sampai aku tertidur pulas.”

“Oh, mungkin Fandy keluar saat anda sudah tertidur, Nona.”

Eva menggerutu kesal. “Padahal aku ingin di temani sampai pagi. Apa kalian bisa memanggilkan dia untukku?”

“Untuk apa Nona?”

“Untuk apa? Tentu saja untuk mengawalku.”

“Baik, Nona.” Dan sang pelayan akhirnya bergegas pergi meninggalkan Eva untuk mencari keberadaan Fandy.

***

Fandy mendengus sebal karena pagi-pagi sekali dirinya sudah di suruh untuk menghadap gadis manja yang bernama Evelyn. Bukan tanpa alasan, karena semalaman ia sudah tidak tidur karena di peluk oleh Eva, dan Fandy sendiri tidak mampu menghilangkan ketertarikan secara fisik terhadap gadis tersebut.

Tidak munafik, Eva adalah gadis yang sangat cantik, dan sejak tadi malam, Fandy menyadari jika gadis itu memiliki daya tarik secara fisik. Lelaki manapun akan menegang seutuhnya jika di goda oleh gadis cantik seperti Eva.

Kini, Fandy bahkan semakin kesal ketika menyadari kenyataan kalau gadis itu akan selalu menempel kepadanya mengingat ia adalah pengawal pribadi gadis tersebut.

Fandy mengetuk pintu besar di hadapannya, itu pintu kamar Eva. Entah kenapa jantungnya mulai berdegup tak menentu karena akan masuk ke dalam kamar tersebut.

“Masuk.” Suara manja itu terdengar khas di telinga Fandy, suara Eva.

Fandy akhirnya membuka pintu di hadapannya, kemudian masuk, dan berakhir mengumpati dirinya sendiri sambil menundukkan kepalanya ketika melihat Eva yang masih setengah telanjang dengan handuknya.

Tanpa tahu malu, Eva malah berlari mendekat ke arah Fandy. “Akhirnya kamu datang juga.” Ia bersorak gembira, sedangkan Fandy dengan canggung menolehkan kepalanya ke arah lain.

“Ada apa, Nona?”

Eva kesal karena Fandy kembali bersikap formal padanya. “Apaan sih? Tadi malam kita sudah sepakat kalau kamu nggak akan seformal ini lagi padaku.”

“Maaf Nona Evelyn, jika tidak ada yang penting, saya akan keluar.”

Eva menarik lengan Fandy yang sudah membalikkan tubuhnya untuk segera keluar dari kamar Eva, tapi kemudian tiba-tiba handuk yang di kenakan Eva terlepas dan jatuh di lantai.  Fandy membulatkan matanya seketika saat menatap tubuh polos gadis di hadapannya tersebut.

“Hei! Apa yang kamu lihat!” sontak Eva meraih handuknya kemudian mengenakannya kembali, sedangkan Fandy masih shock dengan apa yang baru saja ia lihat tadi.

Tubuh itu benar-benar tampak sempurna, berwarna putih pucat, sedangkan kulitnya tampak kencang dan halus, oh, jangan lupakan dua payudara mungil yang mungkin saja akan terasa pas dalam genggamannya. Fandy menggelengkan kepalanya seketika saat pikiran-pikiran jorok mulai menguasai kepalanya.

“Maaf.” Fandy membalikkan badan membelakangi Eva. “Nona Evelyn, silahkan mengenakan pakaian terlebih dahulu, saya akan keluar sebentar.” Dan tanpa menunggu lagi, Fandy keluar.

Eva hanya mampu menatap punggung Fandy yang menghilang dari balik pintu kamarnya. Ah, lelaki itu sangat manis. Pikirnya.

***

Eva keluar dari kamarnya setengah jam kemudian, ia sudah cantik dengan T-shirt ketatnya yang di padukan dengan celana jeans robek-robek ala anak muda.

Eva tersenyum saat melihat Fandy yang masih berdiri di sebelah pintu kamarnya. “Ayo.” ucapnya sambil merangkul lengan Fandy.

“Nona Evelyn, tolong jangan bersikap seperti ini pada saya.” Fandy melepas paksa rangkulan tangan Eva karena merasa sedikit risih dengan apa yang di lakukan gadis tersebut padanya.

“Tuan Fandy, tolong jangan bersikap seperti ini pada saya.” Eva mengulangi kalimat Fandy.

“Bersikap seperti apa maksud Nona?”

“Bersikap kaku, datar dan sangat formal kepadaku, aku nggak suka, tahu!”

“Ini memang sudah seharusnya, karena saya pengawal anda.”

“Kamu pacarku! Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu pacarku.”

“Nona-”

“Hai, cucu nenek sudah cantik.” Suara di belakang Fandy membuat Fandy menghentikan kalimatnya. Itu nenek Eva, dan Fandy tidak akan mendebat Eva di hadapan neneknya.

“Hai Nek.” Eva menyapa dengan riang sambil kembali merangkul lengan Fandy.

“Mau kemana? Kok sudah cantik? Berangkat kuliah?”

“Enggak Nek, aku ada kelas sore, pagi ini aku mau ajak Fandy jalan.”

Sang Nenek mengangkat sebelah alisnya sembari memperhatikan kedekatan Eva dan Fandy. “Kalian berkencan?”

“Tidak.”

“Ya.”

Eva dan Fandy menjawab secara bersamaan. Eva sempat melotot ke arah Fandy ketika lelaki itu berkata tidak.

“Nenek, tidak apa-apa bukan jika aku kencan dengan Fandy?”

Sang nenek menggelengkan kepalanya. “Bukan masalah. Asal kamu senang dan ada yang menjagamu dengan baik, maka Nenek akan menyetujui apapun pilihan kamu.”

Dengan spontan, Eva memeluk tubuh neneknya. “Terimakasih, Nek.” Setelah itu akhirnya Eva pamit pada sang nenek, sedangkan Fandy sendiri masih memasang wjah datar tak berekspresinya.

***

“Kamu terlihat tidak suka kita pergi bersama.” Eva menatap Fandy dengan tatapan penuh selidik.

“Perasaan anda saja, Nona.”

Eva mendengus sebal. Fandy kembali bersikap formal padanya. Astaga, bagaimana caranya supaya ia dapat mencairkan dinginnya hati lelaki tersebut? Kemudian Eva memiliki sebuah ide. Ah, pasti menyenangkan sekali jika ia menjalankan idenya tersebut.

Eva merogoh ponsel di dalam tasnya, lalu mulai menghubungi seseorang. Itu Ramon, kekasihnya yang entah ke berapa, Eva bahkan lupa menghitung banyaknya lelaki yang menjadi kekasihnya.

“Halo Babe.”

“Hai Babe, ketemuan yuk.” Eva mengajak dengan nada manjanya.

“Beneran kamu ngajak aku ketemuan? Kamu nggak lagi ngigau, kan?”

“Astaga, kamu mau ketemuan nggak? Mumpung aku lagi di luar.”

“Oke, baby, kita ketemu di Dufan.”

Eva mendengus sebal. Dufan? Ngapain ke sana coba? “Ya sudah.” Kemudian Eva menutup teleponnya begitu saja. “Ke Dufan.” Perintahnya pada Fandy, dan Fandy hanya mangangguk patuh.

***

Lama Eva menunggu Ramon di Dufan sambil sesekali menggerutu kesal. Ramon adalah lelaki tampan tapi sedikit brengsek. Entah apa yang membuat Eva saat itu ingin memacari lelaki itu. Ah ya, itu karena taruhan dengan Icha, sahabatnya. Dan akhirnya Eva memenangkan taruhan tersebut ketika mampu menjadikan Ramon salah satu koleksi pacarnya.

Ramon sangat agresif, entah berapa kali lelaki itu mencoba mencium Eva, bahkan mencoba mengajak Eva melakukan hal baru seperti bercinta, tapi tentu saja Eva menolaknya mentah-mentah. Ramon tak lebih dari sekedar koleksinya, ia tidak memiliki perasaan apapun, satu-satunya alasan kenapa ia mempertahankan lelaki itu adalah karena ketampanannya dan kepopulerannya di kampus mereka yang membuat Eva bangga memiliki kekasih seorang Ramon.

Kini, ia mencoba memanfaatkan kehadiran Ramon untuk memancing reaksi Fandy, apa lelaki itu akan bereaksi lain? Atau hanya akan datar-datar saja seperti biasanya?

Eva menyuapkan ice cream yang tadi ia beli ke dalam mulutnya tanpa menghiraukan jika sejak tadi sebuah mata mengawasinya.

Itu Fandy yang sedang sibuk memperhatikan tingkah Eva. Eva tampak seperti gadis manja, dan entah kenapa itu mengingatkan Fandy pada Sienna. Ah, nama itu lagi. Ketika ia sibuk memperhatikan Eva, tatapan mata Eva teralih padanya.

“Kenapa menatapku seperti itu? Kamu kagum dengan kecantikanku?” Eva bertanya penuh dengan percaya diri.

Dengan datar Fandy menjawab “Saya pengawal anda, mau tidak mau saya harus mengawasi setiap gerak-gerik anda.”

Eva tertawa lebar. “Kalau begitu antar aku ke toilet.”

“Maaf, itu pengecualian.”

“Nanti kalau ada orang yang macam-macam di toilet, bagaimana?”

Fandy menghela napas panjang. “Baiklah.”

Bukannya bangkit, Eva malah tertawa lebar menertawakan Fandy. “Kamu benar-benar lucu. Aku cuma bercanda, tahu. Jangan terlalu serius jadi orang.” Eva masih tertawa lebar, tak lama, seorang pemuda datang menuju ke arah mereka, seketika Eva berdiri menyambut kedatangan pemuda tersebut.

Pemuda itu dengan spontan memeluk tubuh Eva, sebenarnya Eva sangat risih, tapi mau bagaimana lagi, rencana dia kan untuk memancing reaksi Fandy.

“Hai, kamu udah nunggu lama?”

“Iya, lama banget, dari tempat ini baru buka sampai sudah rame gini.” Eva menjawab dengan nada yang di buat semanja mungkin.

“Maaf, kupikir ini terlalu pagi.”

“Terlalu pagi? Ini sudah siang tahu! Lagian kenapa sih ke Dufan, aku kan pengen ke tempat lain.”

“Di sini lebih romantis tahu!” Ramon mencubit gemas pipi Eva. Oh, keduanya benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, dan itu tak lepas dari pandangan Fandy.

“Romantis? Kalau mau yang lebih romantis, kita bisa ke hotel terdekat.” Eva menantang sembari melingkarkan lengannya pada leher Ramon. Oh, ini benar-benar bukan dirinya, Eva sungguh risih dengan kedekatan yang ia ciptakan bersama Ramon, tapi ia menahannya, ia hanya ingin melihat reaksi yang di tampilkan Fandy. Tapi sungguh sial, karena Fandy tampak cuek dan datar-datar saja padanya.

“Kamu yakin mau ke hotel denganku?” Ramon melepaskan pelukannya pada Eva seketika. Ia benar-benar tidak menyangka jika Eva akan berkata seperti itu padanya.

“Ya, tentu saja.” Eva masih kukuh pada pendiriannya meski hati nuraninya mengatakan jika tidak baik bermain-main dengan seorang Ramon.

“Baiklah, sepulang dari sini kita akan ke hotel.” Ramon tampak sangat bersemangat.

“Maaf, nanti Nona Evelyn harus ke kampus.” Suara datar Fandy membuat Eva dan Ramon menatap ke arahnya.

“Lo siapa?”

“Saya pengawal pribadi Nona Evelyn.”

Ramon tertawa mengejek. “Pengawal? Lo bercanda?”

“Ramon, dia memang pengawalku. Dan kamu Fan, urusan kamu hanya menjagaku, bukan mengatur hidupku.” Eva mencoba membuat Fandy kesal dengan cara membantah lelaki itu, tapi tentu saja Eva tidak akan mendapatkan keinginannya.

“Nenek anda memerintahkan saya untuk mengawal sekaligus mengawasi anda.”

“Oh ya? Jadi aku sudah seperti tawanan, gitu?”

Fandy hanya diam. Eva kemudian mendekat ke arah Fandy, menatap Fandy dengan tatapn menantangnya.

“Fan, aku curiga jika kamu menyalahgunakan pekerjaanmu untuk mengekangku.”

“Maaf?” Fandy tampak tak mengerti.

Eva tertawa mengejek. “Begini, akui saja kalau kamu tidak suka melihat kedekatanku dengan kekasihku.”

“Apa?” Fandy tampak terkejut dengan tuduhan yang di tunjukkan Eva padanya. “Maaf Nona Evelyn, anda berpikir terlalu jauh.”

Eva tampak kesal dengan jawaban yang di berikan Fandy. “Kalau begitu tinggalkan aku, aku akan berkencan dengan kekasihku sendiri tanpa kamu mengawalku.”

“Maaf, saya tidak bisa.”

“Fandy.”

“Sudah, tinggalkan saja dia.” Secepat kilat Ramon meraih pergelangan tangan Eva kemudian menariknya pergi dari hadapan Fandy, tapi baru beberapa langkah, Fandy menyusul, dan dalam sekejap mata Fandy sudah memisahkan Eva dari Ramon.

“Saya tidak akan membiarkan anda mengajak Nona Evelyn pergi tanpa saya.” Ekspresi Fandy masih tetap datar-datar saja, tapi perkataan itu di ucapkan dengan penuh penekanan.

Entah kenapa Fandy merasakan jika lelaki di hadapannya itu bukanlah lelaki yang baik, instingnya mengatakan jika ia tidak boleh meninggalkan Eva hanya berdua dengan lelaki itu. Tapi di sisi lain Fandy ragu, apa itu hanya instingnya yang terlalu tajam, atau ini ada campur tangan dari sebuah rasa aneh yang sejak tadi sedikit menggelitiknya?

-TBC-

Unwanted Wife – Chapter 6 (Sakit)

Comments 10 Standard

Unwanted wife

Seperti biasa, tanpa pemanasan sedikitpun, Darren memasuki begitu saja tubuh Karina setelah tubuh itu polos, membuat Karina memekik kesakitan karena sikap kasar yang di berikan Darren padanya.

Darren menghujam lagi dan lagi, sedangkan yang dapat di lakukan Karina hanya menangis dan menangis. Tanpa di duga, Darren kemudian menundukkan tubuhnya,mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Karina, kemudian berkata di sana.

“Sudah menikmati hukumanmu, hem?” tanyanya sambil mencengkeram erat rahang Karina. Karina hanya mampu menjawab dengan matanya yang berkaca-kaca. “Jika belum, maka dengan senang hati aku akan menambah hukumanmu.”

Secepat kilat Darren meraup bibir Karina dengan bibirnya, melumat bibir istrinya itu dengan lumatan kasarnya, sesekali menggigitnya. Oh, bagaimana mungkin melakukan seks dalam keadaan marah benar-benar membuatnya semakin bergairah?

 Sedangkan Karina sendiri merasakan tubuhnya bergetar hebat saat bibir Darren menyentuh permukaan bibirnya. Ini adalah pertama kalinya lelaki itu menciumnya, ciuman pertamanya yang di berikan oleh Darren dengan begitu kasar. Oh, bukan seperti ini yang ia inginkan, bukan kehidupan semacam ini.

 

Chapter 6

Sakit-

 

Darren terbangun dini hari ketika merasakan tubuhnya tidak nyaman karena tertidur saat dirinya penuh dengan keringat. Matanya kemudian melirik ke arah tubuh di sebelahnya yang terkulai lemah setelah apa yang ia lakukan terhadap tubuh tersebut.

Karina terbaring miring memunggunginya, sedangkan lengan wanita itu masih terikat di kepala ranjang dengan ikat pinggangnya. Darren menelusuri tubuh telanjang wanita itu dengan matanya, tampak pucat dan kurus, ada beberapa tanda merah di pundak wanita itu dan Darren tahu jika itu karena ulahnya. Selimut yang di kenakan wanita itu melorot hingga pinggangnya. Darren akan membenarkan selimut itu, tapi tangannya terpaku.

Darren memejamkan matanya frustasi, kemudian ia bangkit lalu menuju ke kamar mandi. Sepertinya mandi air dingin bukan masalah, pikirnya.

Setelah sampai di dalam kamar mandi, ia kemudian menyalakan air shower, lalu membiarkan air tersebut mengalir membasahi tubuhnya. Sesekali Darren memukul dinding di hadapannya dengan telapak tangannya sendiri.

Menyesal…

Tentu saja, melihat Karina seperti itu tadi membuatnya sangat menyesal. Apa yang sudah ia lakukan pada wanita itu? kenapa ia menyiksanya di saat ia sadar jika mungkin saja pernikahan Nadine tak ada hubungannya dengan Karina? Darren kembali memejamkan matanya frustasi.

Sebenarnya tadi ia hanya ingin meminta penjelasan pada Karina, apa wanita itu yang membuat Nadine menikah dengan kakaknya? Apa wanita itu tahu tentang masalah itu? tapi melihat Karina tadi membuat Darren seakan tak dapat menahan emosinya, kenapa? Apa yang membuatnya seemosi itu? apa karena……

Tidak! Bukan karena itu, sialan!

Darren melanjutkan mandi malamnya, sambil mencoba mengenyahkan semua pikiran tentang Karina. Sial! Bagaimana mungkin wanita itu sekarang mampu membuatnya tertarik memikirkannya?

Setelah cukup lama membersihkan diri, Darren akhirnya keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan juba mandinya.

Kaki telanjangnya melangkah begitu saja menyusuri ruangan dan berhenti tepat di hadapan Karina. Cukup lama Darren berdiri di sana, mengamati wanita itu yang kini sedang tertidur pulas, mungkin kelelahan, atau bahkan mungkin wanita itu kini telah pingsan karena apa yang baru saja ia lakukan tadi.

Oh, jangan di tanya lagi. Darren melakukannya berkali-kali tanpa mempedulikan Karina yang memohon supaya dirinya menghentikan hal menyakitkan tersebut.

Jemari Darren kemudian terulur untuk meraih selimut, dan menyelimuti tubuh polos Karina yang entah mengapa begitu menggoda untuknya. Dengan pelan, Darren kemudian melepaskan ikatannya pada pergelangan tangan Karina. Ikatan itu membekas, bahkan Darren menemukan sedikit luka lecet di sana.

Sial! Ia benar-benar keterlaluan.

Darren bangkit, lalu keluar dari kamarnya. Tak lama ia kembali dengan membawa kotak obat, kemudian dengan pelan ia mengobati pergelangan tangan Karina. Wanita itu tidak bangun, hanya sesekali menggeliat dalam tidurnya. Apa wanita itu begitu kelelahan?

Tentu saja, sialan!

Darren lalu membalut pergelangan tangan Karina dengan perban, setelahnya, ia mengecup lembut pergelangan tangan tersebut.

“Maaf.” bisiknya. Lalu ia bangkit dan meninggalkan Karina tidur sendirian di dalam kamarnya.

***

Karina membuka matanya, tubuhnya terasa remuk, dan itu mengingatkan Karina dengan sepanjang malam yang ia habiskan dengan menangis karena perlakuan kasar dari suaminya sendiri. Karina akan bangkit, tapi kemudian ia sadar jika ia terbangun sendiri.

Dimana Darren?

Karina berakhir merutuki dirinya sendiri. Lelaki itu tentu saja sudah pergi, entah kerja atau kemanapun Karina sendiri tak tahu. Karina baru sadar jika ada yang aneh, dan benar saja, pergelangan tangannya terasa sedikit pedih. Ia melihat pergelangan tangannya yang ternyata sudah di balut oleh sebuah perban. Apa ini Darren yang melakukannya?

Tidak mungkin!

Karina mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut, nyatanya tidak mungkin Darren melakukan itu, mungkin saja lelaki itu memanggil seorang pelayan untuk mengobati tanganya tadi malam, pikirnya.

Karina bangkit, dan sedikit terhuyung. Masih sama dengan hari-hari yang lalu, di mana ia bangun dengan tubuh remuk dan memar-memar di beberapa bagian tubuhnya. Ia kemudian menuju ke arah kamar mandi, berharap jika Darren sudah tidak berada di sana, dan ia berakhir menghela napas panjang saat menyadari jika lelaki itu memang sudah tak ada di dalam kamar mereka lagi.

Setelah mandi dan membersihkan diri cukup lama, Karina keluar dari dalam kamar mandi, dan alangkah terkejutnya saat mendapati Darren sudah duduk di pinggiran ranjang mereka. Ia terpaku di depan pintu kamar mandi, kakinya seakan tidak ingin bergerak kemanapun. Tatapan mata Karina penuh dengan ketakutan, Darren kini benar-benar seperti monster baginya.

Darren mengangkat wajahnya dan menatap Karina dengan tatapan tajam membunuhnya. Ia kemudian bangkit lalu berjalan pelan menuju ke arah Karina.

“Kita akan ke Bali.”

“A –apa?”

“Ya, kita akan ke sana, menyusul Nadine dan kakak sialanmu itu.”

“Darren.”

“Aku tidak ingin mendengar bantahan, Karin! Dan ingat, jika ini semua memang berhubungan denganmu, maka aku akan membuatmu menyesal karena sudah menikah denganku.”

Karina bergidik dengan apa yang baru saja di ucapkan Darren. “Aku, aku nggak enak badan.”

“Jangan banyak alasan! Pakai bajumu, dan siapkan semuanya, kita akan ke Bali siang ini juga.”

Karina tak mampu lagi menolak. Ya, sekeras apapun ia menolak, sekuat apapun ia melawan, ia tak akan mampu merubah pikiran Darren, merubah lelaki itu untuk kembali memperlakukannya seperti dulu.

***

Siang itu juga, Karina dan Darren sampai di Bali. Karina sempat menghubungi orang tuanya untuk bertanya di hotel mana keluarganya menginap, karena Darren bersikeras supaya mereka menginap di hotel yang sama, tentu saja Karina tahu jika pasti semua itu ada hubungannya dengan Nadine. Mengingat itu, Karina kembali sedih.

Kini, mobil yang di tumpangi Karina dan Darren akhirnya sampai juga di hotel yang mereka tuju. Dalam hati, Karina masih berharap jika apa yang ia dengan kemarin dari sang mama hanya sebuah kebohongan. Karina tidak ingin apa yang di pikirkan Darren menjadi kenyataan, seperti Nadine yang benar-benar menikah dengan kakaknya dan itu di karenakan oleh keluarga mereka, Karina tidak ingin itu terjadi.

Karina dan Darren keluar dari mobil, Darren sendiri seketika masuk dan menuju ke arah resepsionist, memesan kamar untuk mereka berdua, sedangkan Karina masih setia mengikuti tepat di belakangnya.

Karina sedikit lega, mengingat Darren hanya diam dan mengendalikan emosinya. Tidak meledak-ledak dan mencari keluarganya saat itu juga, setidaknya Karina ingin beristirahat sebentar sebelum peperangan batinnya kembali di mulai.

Keduanya lalu naik ke lantai Lima, tempat di mana kamar yang mereka pesan berada. Setelah sampai di dalam kamar pesanannya, Darren segera masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Karina sendiri dalam kebingungan.

Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Haruskah ia mencari keluarganya sekarang? Karina mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Ketika Karina mulai sibuk dengan pikirannya sendiri, Darren keluar dari dalam kamar mandi. Matanya kemudian menatap tajam ke arah Karina, seperti biasa, lelaki itu kembali menampilkan sikap dinginnya pada Karina.

“Mandilah, dan kita akan segera mencari keluarga kamu.” Kalimat itu di ucapkan dengan begitu dingin.

“Darren, jika semua itu benar-benar terjadi, aku minta maaf.”

Darren mendengus sebal. “Maaf? Telingaku terlalu penuh mendengar kata maaf darimu.”

“Aku, aku benar-benar tidak tahu menahu tentang hubungan Nadine dengan Mas Dirga.”

“Mereka tidak berhubungan.” Darren menggeram kesal. “Jika hal itu benar-benar terjadi, itu pasti karena rencana keluargamu, bukan karena Nadine mengkhianatiku.”

“Tapi Darren, aku-”

“Diam Karin! Sekarang mandilah, dan kita akan menemui semua keluarga sialanmu itu.” Setelah kalimatnya yang menyakitkan itu, Darren lantas menyibukkan diri membongkar koper yang berisi pakaian miliknya tanpa menghiraukan Karina yang mulai berkaca-kaca karenanya.

***

Sorenya, Karina benar-benar bertemu dengan keluarganya di restoran hotel tersebut. Darren menahan diri untuk tidak mengumpat pada sepasang lelaki dan perempuan paruh baya yang berstatus sebagai mertuanya. Jika boleh jujur, Darren benar-benar sangat marah pada mereka semua, seluruh keluarga Karina, tapi Darren mencoba menahan diri.

“Mama senang kamu menyusul kami ke sini, kalau saja kalian ke sini kemarin, mungkin kalian akan melihat wajah bahagia Dirga.” Mama Karina berujar dengan tenang, seakan mengenyahkan pikirannya pada perban yang melingkar pada pergelangan tangan puterinya.

Sedangkan Darren hanya menggerutu dalam hati. Jika ia ke sini kemarin, mungkin ia akan mengacaukan semuanya. Lagian, bukankah memang tujuan keluarga mereka mengadakan pernikahan tersebut di Bali supaya ia tidak mengacaukan semuanya? Sangat licik!

Sedangkan Karina sendiri menegang dengan ucapan sang mama, jadi memang benar kakaknya kemarin melakukan pernikahan dengan Nadine?

Ketika Darren dan Karina sibuk dengan pikiran masing-masing, orang yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Itu Dirga yang datang bersama dengan Nadine.

Darren berdiri seketika, pun dengan Karina yang semakin menegang ketika menatap kedatangan kakaknya dengan kekasih suaminya.

Dirga tampak menggenggam telapak tangan Nadine dengan mesra, dan entah kenapa itu membuat Karina tidak suka. Astaga, bukannya ia seharusnya bahagia jika memang Nadine sudah menikah dengan Dirga, kakaknya? Tapi kenapa yang ia rasakan malah sebaliknya. Karina tidak suka dengan kenyataan jika Nadine benar-benar menikah dengan kakaknya.

“Kalian ke sini?” Dirga menyapa dengan nada santainya.

Tapi kemudian secepat kilat Darren menghambur ke arah Dirga, memukuli lelaki itu dengan pukulan-pukulan kerasnya. Darren bahkan tidak berhenti mengumpati Dirga tanpa mempedulikan banyak orang yang sedang memperhatikan mereka termasuk kedua orang tua Karina.

“Darren, hentikan! Hentikan!” Karina memohon tapi Darren tidak mau menghentikan pukulan-pukulannya pada kakak iparnya yang kini ia kunci di bawahnya.

“Berhenti Darren! Darren, berhenti!” teriakan Nadine membuat Darren berhenti seketika.

Darren mengangkat wajahnya lalu mendapati Nadine yang sudah penuh dengan air mata. Ia kemudian bangkit, dan tanpa tahu sopan santun ia meraih pergelangan tangan Nadine dan mengajak wanita itu pergi dari sana.

Karina mengesampingkan perasaannya yang tersakiti dengan sikap Darren, secepat kilat ia menghampiri kakaknya dan membantu kakaknya tersebut bangkit.

***

Nadine menghempaskan cekalan tangan Darren pada pergelangan tangannya. Ia kesal, sangat kesal pada Darren, dan entah kenapa ia merasakan perasaan kesal tersebut.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu seperti orang gila tahu nggak?”

“Orang gila? Ya, aku memang gila. Kamu pikir siapa yang tidak gila ketika aku di paksa menikahi wanita yang tidak ku cintai, lalu kekasihku sendiri meninggalkanku dengan salah satu orang yang ku benci? Kamu nggak mikir gimana perasaanku?!” Darren benar-benar sudah meledakkan seluruh kekesalannya pada Nadine. “Kamu sudah berjanji akan setia denganku, kita akan tetap bersama meski aku sudah menikahi wanita sialan itu, tapi sekarang? Kamu bahkan menikah dengan laki-laki lain, apa salah jika aku marah?!”

“Maaf.” Hanya itu yang dapat di ucapkan Nadine.

“Apa? Maaf katamu? Aku mengusahakan segala cara supaya aku segera lepas dari Karina, menyiksa wanita itu melebihi batas rasa tegaku, supaya dia lekas pergi meninggalkanku dan aku bisa kembali denganmu, tapi kamu, kamu malah melakukan pernikahan sialan ini dengan lelaki lain?”

Nadine tak dapat menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya.

“Katakan, katakan kalau kamu hanya di jebak, katakan, Nadine!” Darren menangkup kedua pipi Nadine kemudian mendongakkaan wajah tersebut tepat ke arahnya.

“Maaf, tapi…” Nadine ragu mengucapkannya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan semuanya lagi. “Aku, aku sudah mengkhianatimu, maafkan aku.”

Mata Darren membulat seketia, tanpa sadar ia melepaskan tangkupan telapak tangannya pada pipi Nadine.

Nadine mengkhianatinya? Wanita itu benar-benar meninggalkannya? Tidak! Itu tidak mungkin. Secepat kilat Darren kembali menangkup kedua pipi Nadine, mendorong tubuh wanita itu hingga menempel pada dinding kemudian melumat bibirnya secara membabi buta.

Nadine meronta, ia tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan sekasar itu dari Darren, lelaki yang di cintainya. Nadine mencoba mendorong-dorong tubuh Darren, tapi Darren seakan tidak bergeming, hingga kemudian Nadine menyerah. Ia membalas setiap lumatan dari kekasihnya, kekasih yang sangat di rindukannya. Oh, semua keadaan ini membuat keduanya frustasi, bagaimana mungkin mereka di permainkan seperti ini?

Keduanya larut dalam cumbuan penuh dengan kerinduan, tanpa sadar sepasang mata menatap keduanya dengan nanar.

***

Karina duduk di pinggiran ranjang sambil meremas kedua belah tangannya. Matanya tak berhenti meneteskan bulir-bulir air mata. Kenapa mencintai bisa sesakit ini? Oh, tentu saja ia tak bisa menyalakan orang lain, semua ini salahnya, salahnya karena terlalu memaksakan keadaan.

Karina kembali teringat cumbuan Darren dengan Nadine tadi, cumbuan yang sarat akan cinta dan kerinduan, sedangkan suaminya itu tak pernah sekalipun mencumbunya seperti itu. Tadi, setelah nenolong kakaknya, Karina segera menyusul Darren, mencari lelaki itu karena takut jika Darren berbuat nekat terhadap Nadine, tapi ternyata, apa yang ia lihat benar-benar menyakiti perasaannya.

Sakit, rasanya sakit…

Tapi ini konsekuensi yang harus ia terima. Menjadi orang teregois yang pernah ada memang sangat wajar jika yang ia dapatkan hanyalah sebuah rasa sakit. Apa ia harus menyerah? Apa ia harus pergi saja dan mengakhiri semuanya? Lalu bagaimana dengan Darren? Nadine bahkan sudah menikah dengan lelaki lain, kemungkinan keduanya juga tidak akan kembali bersatu. Lalu apa ia harus bertahan saja?

Saat pikirannya penuh dengan kebimbangan, orang yang ia pikirkan itu datang juga. Darren datang dengan wajah kusutnya, wajah lelaki itu terlihat penuh dengan emosi. Apa lagi sekarang? Apa lelaki itu akan kembali melampiasakan kemarahannya pada dirinya?

Karina tidak peduli, nyatanya ia juga tersakiti dengan keadaan ini, ia sama sekali tidak tahu jika sang kakak menikah dengan kekasih Darren, suaminya. Tapi kenapa Darren seakan menyalahkan dirinya? Mengatakan seolah-olah ia yang merencanakan semua ini dan ia yang patut di hukum. Akhirnya dengan keberaniannya yang terbatas, Karina bertanya.

“Dari mana saja kamu?”

Darren tampak menghentikan pergerakannya kemudian melirik tajam ke arah Karina. “Bukan urusanmu!”

Karina berdiri seketika “Bukan urusanku? Aku istrimu Darren, aku ingin tahu kamu dari mana!” Oh Tuhan, entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk melawan Darren yang tampangnya sudah tampak sangat mengerikan. Entahlah, Karina hanya perlu mengingat ciuman yang di lakukan Darren dan Nadine tadi, dan seketika itu juga sesuatu tersulut dalam dirinya, sesuatu yang mampu membuatnya kuat melawan tatapan-tatapan membunuh dari Darren.

Darren kemudian mendekat, sedangkan Karina merasakan jika ia sudah menyesal karena sudah berusaha melawan lelaki itu.

“Istri? Kamu hanya pemuasku, tidak lebih.”

“Aku tidak ingin menjadi pemuasmu lagi!” Karina kembali melawan Darren sekuat yang ia bisa.

Dalam sekejap mata, Darren sudah mencengkeram rahangnya kemudian mendongakkan wajahnya ke arah lelaki tersebut. “Kita lihat saja, apa kamu mampu menghentikan aksiku, Karina?” ucapan Darren benar-benar terdengar seperti sebuah ancaman di telinga Karina, secepat kilat Darren menyambar bibir ranum Karina, kemudian melumatnya dengan begitu kasar, sama seperti kemarin ketika ia mencumbu wanita itu, cumbuan yang di tunjukkan sebagai sebuah hukuman.

Karina meronta sekuat tenaga, ia kesal dengan Darren, ia marah. Kenapa lelaki itu selalu memperlakukan dirinya sekasar ini? Kenapa tidak selembut seperti ketika lelaki itu dengan Nadine? Mengingat itu, sekuat tenaga Karina mendorong tubuh Darren hingga tautan bibir mereka terlepas, lalu dengan spontan Karina mendaratkan tamparan kerasnya pada pipi Darren.

Keduanya membatu seketika, Darren tidak menyangka jika Karina yang ia kenal sebagai wanita lembut dan pendiam bisa menamparnya keras-keras seperti barusan, pipinya terasa panas, dan harga dirinya sebagai lelaki terlukai.

Begitupun dengan Karina yang juga sama terkejutnya. Ia tak menyangka jika dirinya mampu melakukan hal itu, menampar lelaki yang sangat ia cintai, suaminya sendiri. Napas karina memburu karena ketegangan yang terjadi di antara keduanya.

“Darren, aku, aku-”

“Perempuan sialan!” secepat kilat Darren meraih pinggang Karina, membantingnya tepat di atas ranjang kemudian mulai menjalankan aksinya dengan begitu kasar pada Karina.

“Jangan lakukan itu, jangan lakukan itu!” Karina meronta, memohon dengan begitu menyedihkan, tapi Darren seakan menulikan telinganya, ia melanjutkan aksinya untuk memuaskan dirinya sendiri tanpa menghiraukan Karina yang memohon pengampunan darinya.

***

Jam dua dini hari, Darren masih membuka matanya, posisinya terbaring miring memunggungi Karina. Pun dengan Karina yang masih terisak dengan posisi miring memunggungi Darren.

“Apa kamu tahu kalau kamu mengacaukan semuanya?” pertanyaan itu di tanyakan Darren dengan nada tenang.

Karina menghentikan isakannya seketika karena mendengar pertanyaan tersebut. Itu adalah pertama kalinya Darren bertanya dengan nada tenangnya sejak mereka menikah beberapa minggu yang lalu.

“Aku mencintai Nadine, aku sudah melamarnya dan dia menerima lamaranku. Semuanya sangat sempurna, kami sudah membayangkan akan hidup bersama sampai menua, tapi kenapa kamu mengacaukannya?”

Karina hanya diam, ia tak mampu menjawab, karena ia memang merasa bersalah dengan keegoisannya tersebut. Air matanya turun semakin deras dengan sendirinya, hatinya tersakiti, tanpa memberi tahu seperti itu, Karina juga sadar jika ia memang bersalah, ia adalah orang ke tiga di antara hubungan Nadine dan Darren.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu, kamu adalah gadis yang dulu pernah ku kagumi, gadis pendiam dan lemah lembut, tapi aku tidak menyangka jika kamu akan bertindak sangat egois.”

Karina membalikkan tubuhnya, menatap punggung Darren yang sedikit bergetar. Kenapa? Apa lelaki itu hancur? Apa itu karenanya? Oh, tentu saja, bodoh!

“Nadine, dia sudah bukan milikku lagi, dia memutuskanku, dia benar-benar meninggalkanku, kenapa kamu melakukan semua ini pada kami, Karin?”

Dan Karina sudah tak mampu lagi mendengar suara Darren yang terdengar bergetar di telinganya. Dengan spontan Karina mendekatkan diri, lengan rapuhnya begitu berani terulur memeluk tubuh kokoh suaminya tersebut dari belakang.

“Aku minta maaf.” Karina menangis. Wajahnya menyandar pada punggung Darren, air matanya kembali menetes, dan ia kembali terisak. Sungguh, melihat Darren serapuh ini, Karina benar-benar melupakan sikap kasar yang berkali-kali di berikan Darren padanya. Ia merasa bersalah, terlebih lagi hatinya terasa sakit saat mengingat jika kesedihan Darren bermula dari dirinya.

Tubuh Darren menegang, ketika merasakan lengan kurus itu memeluknya dari belakang. Oh Karina, terbuat dari apakah hatimu? Berkali-kali sudah aku menyakitimu, tapi kamu seakaan tidak lelah menempel padaku. Apa yang harus ku lakukan padamu?

Tanpa di duga, Darren membalikkan tubuhnya menghadap tubuh Karina, lengannya terulur begitu saja mengusap lembut pipi Karina, tatapan mata Darren melembut ke arah Karina, lalu dia berkata “Nadine sudah meninggalkanku, dia benar-benar meninggalkanku.”

“Maafkan aku, aku hanya-”

“Jangan tinggalkan aku seperti yang di lakukan Nadine padaku.” Darren memotong kalimat Karina dengan kalimat tersebut, lelaki itu kemudian memeluk erat tubuh Karina dengan lengan kekarnya. Sedangkan Karina sendiri hanya terpana dengan apa yang baru saja di ucapkan dan yang sedang di lakukan oleh suaminya iti.

Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Apa benar Darren tidak ingin Karin menginggalkannya?

 

-TBC-

Unwanted Wife – Chapter 5 (Hukuman)

Comments 7 Standard

Unwanted Wife

“Lupakan dia, dia akan menikah.” Tiba-tiba Darren mendengar suara itu, suara dari laki-laki yang sangat di kenalnya, siapa lagi jika bukan Dirga, kakak dari istrinya.

“Lo, apa yang lo lakuin sama pacar gue?”

Terdengar Dirga mendengus kesal. “Pacar? Brengsek lo! Nadine calon istri gue!”

Dan setelah kalimat yang di lontarkan Dirga tersebut, Darren hanya tercengang. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tidak! Tidak mungkin Nadine akan menikah dengan laki-laki lain dan meninggalkannya. Bukankah mereka sudah janji jika akan selalu bersama? Nadine tidak mungkin meninggalkannya. Atau, apa jangan-jangan kekasihnya itu di paksa menikah dengan Dirga, sama seperti dirinya yang di paksa menikah dengan Karin? Oh ya, tentu saja, bukankah keluarga Karina memang sangat egois karena akan melakukan segala cara demi mencapai tujuannya?

Sial!

Telapak tangan Darren mengepas seketika, mungkinkah ini bagian dari rencana Karin untuk mendapatkan dirinya seutuhnya? Meminta kakaknya untuk menikahi Nadine? Oh tentu saja, semua jadi semakin masuk akal.

Darren mendengus kesal. Karina, kamu akan menyesal. Sumpahnya dalam hati dengan mengepalkan telapak tangannya.

***  

 

Chapter 5 

-Hukuman-

 

“Kak, kenapa kak Dirga bilang seperti itu sama Darren?!” Nadine benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya pada Dirga. Lelaki yang akan di nikahinya sore ini juga.

Oh, jangan di tanya betapa shocknya Nadine saat mengetahui bahwa keberangkatannya ke Bali hari ini adalah untuk pernikahannya sendiri. Nadine tidak tahu, sama sekali tidak tahu. Yang ia tahu adalah saat ia berhenti di hotel yang di pesan oleh Dirga, di sana sudah berkumpul semua keluarganya yang tampak bahagia karena akan melihat pernikahan Nadine dan Dirga sore ini.

Nadine merasa tertipu, tentu saja. Bagaimana mungkin Dirga dan keluarganya melakukan hal ini kepadanya? Nadine merasa dirinya di jebak, tapi lelaki itu seakan tidak mempedulikan perasaannya.

“Kamu harus putus dengan dia. Kita akan menikah, lagian Darren sudah menikah dengan Karin.”

“Ya, aku tahu, tapi ini bukan kita yang menginginkannya. Kamu membuat seakan-akan aku sudah mengkhianati Darren.”

“Kamu memang sudah mengkhianatinya ketika tidur denganku.”

Nadine menutup kedua telinganya seketika, sungguh, ia tidak ingin mendengar lagi tentang malam itu. Malam di mana dirinya mengkhianati Darren, lelaki yang sangat di cintainya.

***

Darren sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi ketika memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk tentang hubungannya dengan Nadine. Semua ini ada hubungannya dengan Karin, ya, pasti ada. Pikirnya.

Akhirnya Darren memutuskan pulang saat itu juga, mencari tahu apa yang Karin rencanakan, atau bahkan memberi pelajaran istrinya tersebut karena sudah merencanakan semua ini untuk membuatnya putus dengan Nadine.

Dengan gusar Darren membuka pintu rumahnya, berharap jika Karin ada di rumah. Tapi nyatanya, ketika ia mencari-cari wanita itu, ia tidak melihatnya di manapun. Akhirnya Darren bertanya pada salah satu pelayan di rumahnya.

“Karin di mana?”

“Itu tuan, tadi Nona Karin keluar sebentar.”

“Keluar? Sama siapa?”

“Sendiri, tuan.”

Darren hanya menggeram kesal. Ia akan menunggu Karin, menunggu sampai wanita itu pulang dan menjelaskan semuanya pada dirinya.

***

Karina keluar dari sebuah gerbang sekolah TK. Hari ini memang hari pertama ia mengajar di sebuah taman kanak-kanak. Bukan tanpa alasan Karina melakukan hal tersebut. Beberapa hari yang lalu, salah seorang temannya mencari seorang guru pengganti untuk menggantikan temannya itu yang kini sedang hamil tua, akhirnya Karina menawarkan diri untuk menggantikan temannya tersebut. Karina hanya ingin suasana yang baru.

Hanya di dalam rumah Darren membuatnya sesak. Sikap dingin dan cuek Darren membuat Karina menginginkan suasana baru, belum lagi rasa sepi melanda ketika para penghuni rumah tersebut sedang sibuk dengan aktifitas masing-masing.

Karina berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari sekolahan tempatnya mengajar, baru duduk sebentar di halte tersebut, ponselnya berbunyi. Karina melirik ke arah ponselnya, ternyata Evan yang sedang menghubunginya.

Karina tersenyum kemudian mengangkat teleponnya.

“Kamu di mana?” belum sempat Karina menyapa, suara Evan terlebih dahulu bertanya padanya.

“Aku, uum, di jalan.”

“Di jalan? Kebetulan sekali, aku juga akan pulang dari kantor, sebutkan tempatmu berada saat ini, aku akan menemuimu.”

“Tapi, Kak.”

“Ayolah, aku ada perlu sebentar denganmu.”

Karina menghela napas panjang, akhirnya, mau tidak mau ia menuruti apa kata Evan untuk menyebutkan di mana tempatnya berdiri saat ini.

***

Evan tersenyum saat melihat sosok itu, sosok yang sudah sejak lama sekali menggetarkan hatinya.

Karina Prasetya, adik dari sahabatnya. Sejak dulu, Evan memang sudah memendam rasa dengan Karina. Gadis pendiam tapi entah kenapa mampu membuat hatinya tertarik. Evan sempat shock, ketika mendapati kenyataan bahwa keluarga Karina menginginkan Darren menikahi gadis tersebut, kenapa bukan dirinya? Kenapa harus Darren? Dan Evan baru tahu jika ternyata Karinalah yang meminta semua itu, gadisnya itu ternyata sudah jatuh hati pada Darren, adiknya.

Kenapa semuanya jadi begitu rumit? Entah berapa kali Evan menanyakan pertanyaan tersebut. Ia mencintai Karina, sedangkan Karina mencintai Darren, dan Darren, dengan bodohnya malah mencintai wanita lain.

Takdir benar-benar tega mempermainkan mereka bertiga.

Evan menghentikan mobilnya tepat di sebuah Halte tempat di mana ia melihat sosok bertubuh kurus tersebut. Tampak Karina yang menatapnya dengan sebuah senyuman lembutnya. Ya, senyuman itu yang sudah membuatnya semakin jatuh kedalam pesona istri adiknya sendiri.

Evan keluar dari dalam mobilnya kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Karina, dengan sedikit canggung Karina memasuki mobil Evan, dan setelah itu, Evan kembali masuk ke dalam mobilnya.

“Apa yang kamu tunggu di sana?”

“Kak Evan.”

Evan tersenyum mendengar jawaban Karina. “Maksudku, sebelum aku meneleponmu, apa yang kamu lakukan di sana?”

“Uum, aku kerja.”

Evan mengerutkan keningnya. “Kerja? Kerja apa?”

“Aku menggantikan temanku menjadi guru TK di sekolahan itu.” Karina menunjuk sekolah TK yang memang terlihat dari termpat mereka duduk.

“Kenapa kamu tiba-tiba kerja? Darren tidak memberimu uang belanja?” goda Evan, dan Karina tertawa.

“Bukan tentang uang, aku hanya mencari kesibukan.”

Evan mulai menghidupkan mesin mobilnya kemudian mengemudikannya. “Memangnya kamu bisa mengajar?”

Pipi Karina memerah, dan ia menggeleng pelan. “Ini pengalaman pertamaku, lagi pula aku hanya membantu di sana, hanya menyanyi dan mengajari mewarnai beberapa gambar.”

“Wah, pasti menyenangkan sekali.”

Karina tersenyum. “Ya, sangat menyenangkan.” Ia menghela napas panjang. Ya,tentu saja sangat menyenangkan, mengingat dengan menyibukkan diri, ia bisa sedikit melupakan tentang Darren.

“Sudah makan?” tiba-tiba Evan mengalihkan topik pembicaraan.

“Oh, aku akan makan di rumah.”

Evan tersenyum “Maaf, bukan begitu rencananya.”

Karina menatap Evan penuh tanda tanya, tapi kemudian kebingungannya terjawab ketika Evan membelokkan mobilnya ke sebuah restoran.

“Kak, kenapa kita ke sini?”

“Untuk makan, masa iya numpang tidur.” Jawab Evan asal.

“Tapi kita bisa makan di rumah.”

“Ayolah, jangan menyebalkan, anggap saja ini ucapan terimakasih karena sudah membuatkanku bekal makan siang.”

“Oh, itu tak perlu terimakasih, aku juga membuatkannya untuk Darren, dan kalau papa juga ke kantor, aku pasti membuatkannya untuk papa juga.”

“Nah! Karena kamu sudah sangat baik terhadap keluargaku, maka aku akan mengajakmu makan bersama.”

“Kak.”

“Ayolah, kamu terlihat sedang membatasi diri denganku. Ada apa Karin?”

Pertanyaan Evan membuat Karina menundukkan kepalanya. “Aku, aku hanya tidak enak.”

“Apa yang membuatmu tidak enak? Ayolah, aku tetap kak Evan yang dulu, sahabat dari kakak kamu. Kamu seperti sedang menjauhiku.”

“Aku tidak menjauhimu, Kak.”

“Kalau begitu, bersikap biasa saja, ayo ikut aku masuk.” Karina menghela napas panjang, dan mau tidak mau ia menuruti kemauan Evan.

***

Entah sudah berapa jam Darren menunggu kedatangan Karina, tapi wanita sialan itu tak juga pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Kemana sebenarnya wanita itu?

Darren juga tidak berhenti menghubungi Nadine, tapi sialnya ponsel wanita tersebut tidak aktif. Apa yang Nadine lakukan? apa memang benar Nadine memiliki hubungan serius dengan Dirga sialan itu? Tidak! Kalaupun iya pasti ini ada hubungannya dengan Karina.

Ketika Darren sibuk dengan pikirannya sendiri, matanya teralih pada sorot lampu yang baru masuk ke halaman rumahnya. Darren yang memang sedang duduk di teras rumahnya, berdiri seketika saat melihat mobil kakaknya masuk ke dalam halaman rumahnya.

Mobil itu berhenti, dan tak lama rahang Darren mengeras seketika saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil tersebut.

Itu Karina, yang keluar dari dalam mobil kakaknya, apa yang di lakukan wanita itu? kenapa bisa keduanya keluar bersama? Dengan spontan jemari Darren mengepal seketika. Bagaimana mungkin wanita itu bersenang-senang ketika ia dan Nadine sedang memiliki masalah yang mungkin saja di akibatkan oleh wanita itu?

Darren melihat Karina berjalan cepat menuju ke arahnya. “Hai, kamu sudah di rumah?” tanya Karina dengan lembut. Tapi dengan tatapan membunuh, Darren melihat Karina dari ujung rambut hingga ujung kakinya, kemudian lelaki itu berbalik masuk begitu saja ke dalam rumahnya.

***

Karina tampak bingung dengan reaksi yang di tampilkan Darren padanya. Akhirnya karena perasaannya tidak enak, secepat kilat ia mengikuti Darren ke dalam kamar mereka. Tapi baru beberapa langkah, pergelangan tangannya di raih Evan.

“Ada apa?”

Karina menggelengkan kepalanya. “Nggak ada apa-apa.”

“Dia terlihat marah.”

“Ya, tapi aku tidak tahu kenapa, aku akan mencari tahu.” Karina akan beranjak lagi tapi pergelangan tangannya masih di genggam erat oleh Evan.

“Boleh aku menemanimu? Aku takut dia berbuat yang enggak-enggak padamu.”

Karina tersenyum lembut. “Darren tidak akan jahatin aku, Kak Evan nggak perlu khawatir.”

“Tapi-”

“Kak, bagaimanapun juga ini urusan rumah tangga kami, aku baik-baik saja.”

Evan menganggukkan kepalanya pelan, meski sebenarnya hatinya masih tidak tega saat membayangkan Darren berperilaku kasar terhadap Karina.

“Oke, kalau ada apa-apa teriak saja, aku akan datang.”

Dan Karina terkikik geli. “Kak Evan berbuat seolah-olah aku dan Darren akan bertengkar hebat, kami baik-baik saja.” Evan tersenyum kemudian melepaskan genggaman tanganya, dan setelah itu Karina pergi.

Karina menuju ke arah kamarnya, membuka pintu kamarnya tersebut, dan sudah mendapati Darren yang berdiri membelakangi pintu kamarnya.

“Tutup dan kunci pintunya.” Suara itu terdengar dingin di telinga Karina. Oh, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Darren bersikap seperti ini lagi?

“Ada apa? Kupikir kamu-”

Darren membalikkan tubuhnya seketika menghadap ke arah karina. “Apa yang kamu lakukan dengan Nadine.”

“Nadine? Maksud kamu?” Karina benar-benar bingung apa yang di maksud Darren.

“Telepon kakakmu dan tanya apa yang terjadi.”

“Kakak?”

“Jangan berlagak tolol. Cepat telepon dia sebelum aku semakin marah.”

Dan Karina menuruti apa yang di perintahkan Darren. Secepat kilat ia menelepon Dirga, kakaknya, ia ingin menelepon Davit, kakaknya yang satunya, tapi setelah di pikir-pikir, Nadine tidak mungkin bermasalah dengan Davit, karena Davit sendiri tinggal di luar kota dengan istrinya, jadi kemungkinannya adalah kakaknya yang bernama Dirga yang sedang bermasalah dengan Nadine.

Karina menelepon lagi dan lagi, tapi tak ada jawaban, ia mulai takut karena tatapan mata Darren benar-benar tampak mengerikan padanya.

“Te -teleponnya tidak di angkat.” Karina terpatah-patah.

“Aku tidak mau tahu, hubungi dia sampai dia memberi kabar yang jelas!”

Karina mencoba menelepon kakaknya lagi, tapi tetap saja, tak ada yang mengangkat teleponnya tersebut. Akhirnya Karina mencoba menelepon orang tuanya. Setelah berapa kali deringan, teleponpun di angkat sang mama.

“Ada apa Karin?”

“Ma, aku nggak bisa hubungin Mas Dirga.”

“Oh, Dirga, itu, uum.”

“Ada apa Ma?” Karina tampak khawatir.

“Sebelumnya maaf karena tidak memberitahumu terlebih dahulu, Dirga nikah hari ini di Bali, tapi cuma upacara pernikahannya saja, resepsinya nanti tetap di adakan di Jakarta.”

Karina tampak shock dengan kabar yang baru saja di ucapkan sang mama. “Apa? Nikah? Kok bisa?”

Meski Darren tidak dapat mendengar suara orang yang sedang di telepon Karina, tubuh Darren menegang seketika saat mendengar perkataan Karina.

“Ya, semuanya terjadi sangat cepat. Dirga menikah dengan Nadine.”

Karina membulatkan matanya seketika, ia kemudian menatap ke arah Darren dengan bibirnya yang masih ternganga. Suaminya itu kini sedang menatapnya dengan tatapan membunuhnya, oh apa yang akan di lakukan lelaki itu padanya jika mengetahui kabar tersebut? Dengan spontan Karina menutup teleponnya begitu saja, ia sedang dalam sebuah masalah, Karina tahu itu.

“Ada apa Karin?” Darren bertanya dengan penuh penekanan.

Karina menundukkan kepalanya dan hanya mampu menggelengkan kepalanya.

“Aku bertanya, ada apa?” Lagi, suara Darren terdengar begitu menakutkan di telinga Karina.

“Aku, aku nggak tahu apa yang terjadi dengan mas Dirga dan Nadine.”

Darren semakin mendekatkan tubuhnya. “Kenapa dengan mereka, katakan!”

Karina masih menggelengkan kepalanya, tapi kemudian Darren mencengkeram erat rahangnya lalu mendongakkan wajah Karina ke arahnya.

“Katakan, atau aku akan bertindak kasar.”

“Mereka, mereka sudah menikah hari ini, di Bali.” Meski sedikit terpatah-patah, Karina mampu menyelesaikan kalimatnya.

Darren tercengang dengan perkataan Karina, cengkeramannya pada leher Karina terlepas begitu saja. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Nadine meninggalkannya? Tapi kemudain secepat kilat ia menarik lengan Karina, kemudian menghempaskan tubuh kurus itu ke atas ranjangnya.

“Katakan! ini semua rencanamu, bukan?”

“Enggak! Aku benar-benar tidak tahu menahu, Darren.”

“Bohong!” Darren tentu tidak percaya. Darren lalu membuka ikat pinggangnya, sedangkan matanya masih menatap Karina dengan tatapan membunuhnya.

“Kamu, kamu mau apa?”

Darren tersenyum miring. “Mau apa? Aku akan menghukummu.” Secepat kilat Darren meraih pergelangan tangan Karina kemudian mengikatnya dengan ikat pinggang yang tadi ia kenakan, mengikatnya dengan begitu kencang dan kasar hingga Karina meringis kesakitan.

Darren kemudian mengikat ujung ikat pinggangnya yang lain pada kepala ranjang hingga kini Karina sudah dalam posisi terbaring dan terikat di atas ranjangnya sendiri.

Karina mulai menangis, karena ia tahu jika Darren akan melakukan itu lagi, memperkosanya lagi untuk kesekian kalinya, dan yang akan ia rasakan hanya sebuah kesakitan, bukan kenikmatan atau apapun itu yang tertulis dalam novel-novel yang pernah ia baca.

“Jangan lakukan ini.” Karina memohon, meski ia yakin jika Darren sangat menikmati saat melihatnya memohon seperti sekarang ini.

“Jangan lakukan ini? Apa kamu mau mendengarkanku saat aku memintamu menghentikan pernikahan sialan kita ini? Tidak bukan? Dan sekarang, aku tahu kalau pernikahan Nadine juga pasti ada hubungannya denganmu.” Darren mulai melucuti pakaiannya sendiri hingga kini dirinya sudah berdiri polos memperlihatkan pahatan-pahatan sempurna tubuhnya pada Karina.

“Aku benar-benar tidak tahu tentang pernikahan Nadine dan mas Dirga.”

“Tidak tahu? Aku tidak peduli. Hancurnya hubunganku dengan Nadine itu karenamu, jadi sudah sepantasnya aku menghukummu.”

Darren kini sudah mulai membuka pakaian yang di kenakan Karina, sedangkan Karina benar-benar tak dapat berbuat banyak. Ikatan Darren pada tangannya sangan kencang, dan itu melukainya. Karina tak dapat berbuat banyak.

Seperti biasa, tanpa pemanasan sedikitpun, Darren memasuki begitu saja tubuh Karina setelah tubuh itu polos, membuat Karina memekik kesakitan karena sikap kasar yang di berikan Darren padanya.

Darren menghujam lagi dan lagi, sedangkan yang dapat di lakukan Karina hanya menangis dan menangis. Tanpa di duga, Darren kemudian menundukkan tubuhnya,mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Karina, kemudian berkata di sana.

“Sudah menikmati hukumanmu, hem?” tanyanya sambil mencengkeram erat rahang Karina. Karina hanya mampu menjawab dengan matanya yang berkaca-kaca. “Jika belum, maka dengan senang hati aku akan menambah hukumanmu.”

Secepat kilat Darren meraup bibir Karina dengan bibirnya, melumat bibir istrinya itu dengan lumatan kasarnya, sesekali menggigitnya. Oh, bagaimana mungkin melakukan seks dalam keadaan marah benar-benar membuatnya semakin bergairah?

Sedangkan Karina sendiri merasakan tubuhnya bergetar hebat saat bibir Darren menyentuh permukaan bibirnya. Ini adalah pertama kalinya lelaki itu menciumnya, ciuman pertamanya yang di berikan oleh Darren dengan begitu kasar. Oh, bukan seperti ini yang ia inginkan, bukan kehidupan semacam ini.

-TBC-

Maaf yaa aku Update UW dulu,, wkwkwkkwk meski banyak yg minta Elena, tapi jangan sedih, aku gak PHP kok, saat ini Elena sudah masuk terlaris di Playbook no 8, nahh jika besok peringkatnya naik, maka aku akan update Elena, kalo enggak, yaa aku akan update malam minggu aja, oke.. hehheheheheh doakan yaa…

Elena – Chapter 20 (Aku mencintainya)

Comments 12 Standard

Elena

Yogie menghela napas panjang. “Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

Dan telapak tangan Yogie mengepal seketika. “Kasih tahu di mana posisimu, aku akan ke sana.”

Dan akhirnya orang pesuruhnya tersebut memberi tahu posisinya di mana saat ini, kemudian dengan cepat Yogie menyusul. Ia ingin tahu, siapa lelaki yang di temui Elena, apa lelaki itu yang membuat Elena berubah padanya? Apa lelaki itu yang membuat Elena ingin meninggalkannya lagi?

Sial! Yogie bahkan sudah tak dapat menahan emosinya legi ketika membayangkan lelaki tersebut.

 

Chapter 20

-Aku mencintainya-

 

“Terimakasih kamu mau menemaniku.” lirih Elena pada sosok lelaki di sebelahnya. Itu Aaron yang kini sedang mengemudikan mobilnya.

Tadi Elena memang berniat ke tempat dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilannya, hanya saja setelah sampai di sana, Elena sangat malu karena di sana hanya ia yang sendirian, sedangkan wanita yang periksa di sana di temani oleh suami masing-masing.

Dengan spontan Elena berbalik dan meninggalkan tempat tersebut. Ia juga ingin di temani dengan ayah dari bayi yang di kandungnya, tapi meminta Yogie untuk menemaninya, benar-benar tidak mungkin.

Yogie terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, lelaki itu sudah berubah dan hanya mementingkan kesenangannya sendiri, mana mungkin Yogie mau mengakui bahwa bayi yang di kandungnya adalah bayi dari lelaki tersebut.

Belum lagi kenyataan jika dulu Yogie juga pernah membuat dirinya kehilangan calon bayinya, ah, saat itu Yogie pasti sengaja meminta dokter untuk menggugurkan bayinya hingga lelaki itu bisa lepas dari segala tanggung jawab, seperti yang di lakukan Gilang dulu. Kini, Elena tidak akan mengulangi kebodohannya lagi. Yogie belum siap menjadi orang tua, dan ia tidak akan pernah menjadikan Yogie sebagai orang tua dari bayi yang di kandungnya.

“Elena.” Panggilan itu membuat Elena menolehkan kepalanya ke samping, di sana ada Aaron yang masih setia mengemudikan mobilnya.

Setelah keluar dari rumah sakit, Elena lantas menghubungin Aaron. Entah kenapa ia merasa hanya Aaron yang dapat membantunya. Aaron adalah sahabatnya, dulu ketika sama-sama sekolah di Harvard, Elena sering sekali membantu Aaron hingga lepas dari masalah, kini, tidak ada salahnya bukan jika ia meminta bantuan pada Aaron? Aaron pasti akan mengerti, lelaki itu memiliki pikiran yang terbuka.

“Iya.”

“Aku masih heran, kenapa kamu memintaku mengantarmu ke dokter kandungan? Maksudku, apa yang terjadi dengan ayah dari bayimu?”

“Aku hanya memintamu untuk menemaniku, Aaron, bukan berarti kamu harus tahu semuanya tentang hidupku.”

“Aku tidak ingin tahu tentang hidupmu, hanya saja ini masalah besar, Elena. Aku tahu kamu mampu menjadi ibu tunggal, tapi apa kamu tidak berpikir tentang media? Kamu pewaris tunggal dari perusahaan besar di negeri ini, dan semua tentangmu akan menjadi sorotan publik. Sedikit banyak ini akan mempengaruhi nama baik keluargamu.”

Elena terdiam sebentar. “Aku akan pergi.”

“Pergi?”

“Ya. Setelah usia kehamilanku empat bulan, mungkin.”

“Pergi bukan solusi yang baik, Elena, lalu kamu akan kembali dengan seorang bayi? Ayolah. Kamu tidak bisa menyembunyikan semuanya.”

“Aku tidak mau membahas ini, Aaron! Kepalaku sudah cukup pusing.”

Aaron menghela napas panjang. “Apa lelaki brengsek itu tidak mau bertanggung jawab? Jika iya maka bilang siapa orangnya. Aku akan memukulinya hingga babak belur dan memohon ampun padamu.”

Elena menggeleng cepat. “Dia bahkan tidak tahu aku hamil.”

“Apa?!” Aaron terkejut seketika. “Aku benar-benar nggak habis pikir denganmu. Astaga, kamu aneh!”

“Ya, aku memang aneh. Jadi diam saja dan turuti apa mauku.” Aaron hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.

 

***

Elena tidak berhenti meraba perut datarnya. Setelah memeriksakan diri dengan di temani Aaron, kini perasaan Elena semakin tenang. Ia sangat senang mendapati kehidupan lain yang kini sedang tumbuh dalam rahimnya. Dan astaga, ia tak pernah merasa sesenang ini.

Elena yakin jika ia mampu melewati semuanya nanti sendiri, tanpa Yogie ataupun yang lainnya. Ia akan melewati semuanya dengan calon bayinya yang entah sejak kapan begitu ia sayangi.

“Kamu baik-baik saja, kan?” suara Aaron memaksa Elena menolehkan kepalanya ke samping.

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Apa kamu bahagia dengan calon bayimu?”

Elena tersenyum. “Tentu saja, aku sangat bahagia.”

“Apa kamu tidak berpikir jika ayahnya juga pasti akan bahagia ketika tahu ada dia di dunia ini?”

Elena memutar bola matanya sebal ke arah Aaron. “Berhenti membahas tentang ayah bayi ini, Aaron!”

“Aku hanya mengingatkanmu, Elena.”

“Aku tidak mau di ingatkan.”

Aaron kembali menghela napas panjang. “Baiklah, sekarang kamu mau ku antar ke mana?”

“Aku mau pulang saja. Aku ingin banyak istirahat supaya tidak terjadi sesuatu dengan bayiku.”

“Oke, aku akan mengantarmu pulang.”

Dan keduanya akhirnya pergi dari rumah sakit tersebut tanpa mengetahui jika sejak tadi ada sepasang mata penuh dengan amarah sedang mengintai keduanya.

***

Dengan gusar Yogie membelokkan mobilnya ke arah apartemen Elena. Ia harus menghampiri wanita tersebut, tidak bisa di tunggu lagi.

Setelah seharian mengikuti kemana Elena pergi, ternyata wanita itu pergi ke sebuah praktek dokter spesialis kandungan. Kenapa? Apa Elena hamil? Dengan Aaron?

Brengsek! Tentu saja. Bukankah tadi Aaron yang mengantar wanita tersebut? Jika bukan Aaron yang menghamili Elena, tentu Aaron tidak mau repot-repot mengantar Elena, dan membuat salah paham istrinya mengingat lelaki itu baru saja menikah.

Yogie mencengkeram erat kemudi mobilnya, sesekali ia memukulnya. Sumpah demi apapun juga, ia ingin memukuli Aaron sampai lelaki itu babak belur. Berani-beraninya lelaki sialan itu merebut Elenanya. Apa Bella masih kurang untuk Aaron hingga Aaron mencari seorang simpanan seperti Elena? Mengingat kembali hal itu membuat emosi Yogie semakin menjadi.

Setelah memarkirkan mobilnya, Yogie masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Setelah sampai di depan pintu apartemen Elena, tanpa banyak bicara lagi Yogie menggedor pintu apartemen Elena dengan sangat keras.

“Buka, Elena!” teriaknya.

Tak lama pintu tersebut di buka. Menampilkan sosok Elena yang tampak menawan walau wanita itu hanya mengenakan pakaian santainya.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Kita harus bicara.” Yogie menyambar pergelangan tangan Elena dan menarik wanita tersebut keluar dari dalam apartemennya.

“Lepasin! Apa yang kamu lakukan? Aku sudah tidak mau bertemu denganmu lagi.”

“Kita harus bicara, Sialan!” Yogie mengumpat keras tepat di hadapan Elena.

Elena menghela napas panjang. Oh, bagaimana mungkin ia mencintai lelaki yang kekanakan seperti Yogie? Lelaki yang tidak dapat meredam emosinya dan hanya bisa mengumpat kesana kemari?

“Bicara saja di sini.”

“Tidak. Kita akan bicara di luar.”

“Aku tidak mau! Aku mau kamu bicara di sini.”

“Kalau aku bicara di sini, maka setelahnya aku akan menidurimu, memasukimu dengan sangat kasar, karena saat ini aku sedang sangat marah padamu.”

Elena merasa ngeri dengan ancaman yang di berikan oleh Yogie. Akhirnya ia mengalah. Ah, mungkin setelah menyelesaikan semuanya dengan lelaki tersebut, maka ia akan bebas, Yogie akan melepaskannya dan ia tidak akan berurusan dengan lelaki itu lagi. Pikir Elena.

“Oke, kita bicara di luar.” Dan akhirnya Elena kembali masuk ke dalam apartemennya, memngganti pakaiannya kemudian keluar bersama dengan Yogie.

***

Elena kini sudah duduk di ujung kafe milik Jihan. Telapak tangannya menangkup secangkir cokelat hangat yang mengepul di hadapannya. Sesekali ia menatap ke arah Yogie.   Yogie sendiri tampak murung dengan ekspresinya. Entah apa yang sedang di pikirkan lelaki tersebut.

“Kita lupakan saja semuanya.” Setelah cukup lama berdiam diri tanpa ada yang mau memulai pembicaraan, akhirnya Elena berucap dengan datar.

“Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?”

“Aku akan kembali ke luar negeri, jadi lupakan semuanya.”

Yogie tersenyum miring. “Benarkah? Kupikir kamu sedang berniat menggoda suami orang.” sindir Yogie.

“Jaga mulut kamu, Yogie!”

“Aku sudah tahu Elena, kamu kembali menjalin hubungan dengan Aaron, kan? Padahal kamu jelas tahu, kalau dia sudah menikah dengan Bella.”

“Bukan urusanmu.” Elena berdiri kemudian bergegas pergi, tapi kemudian tangan Yogie meraih pergelangantangan Elena.

“Kenapa Elena? Kamu takut aku memepengaruhimu makanya kamu mencari lelaki lain untuk mengalihkan perhatianmu dariku?”

Dengan gusar Elena menghempaskan tangan Yogie. “Dengar ya, hubungan kita tidak lebih dari sekedar seks, jadi lupakan semuanya, kamu sama sekali tidak berpengaruh padaku.” ucap Elena penuh penekanan.  Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Yogie yang masih menatapnya dengan tatapan kosongnya.

Yogie menghela napas panjang. Entah apa yang terjadi dengan wanita tersebut hingga terlihat sangat membencinya, dan apa juga yang terjadi dengannya hingga ia tidak dapat mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Elena.

Yogie jelas tahu, jika tujuannya berbicara dengan Elena adalah untuk meminta penjelasan tentang hubungan Elena dengan Aaron, Yogie ingin meminta penjelasan apa Elena benar-benar hamil anak dari Aaron atau tidak. Tapi entah kenapa lidahnya menjadi kelu. Yogie tidak sanggup menanyakan pertanyaan tersebut, karena ia terlalu takut jika apa yang di pikirkannya itu adalah sebuah kenyataan. Jika memang kenyataannya Elena menjadi simpanan Aaron, lalu wanita itu hamil dengan lelaki sialan tersebut, sungguh, Yogie tidak dapat menerima kenyataan tersebut.

Nyatanya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Yogie sadar jika ia ingin memiliki Elena seutuhnya. Ia tidak ingin Elena dimiliki lelaki lain, ia tidak ingin Elena meninggalkannya lagi. Tapi kenapa kenyataan seakan selalu mempermainkannya?

Yogie mengusap rambutnya dengan kasar. Ia kesal, sangat kesal. Kemudian ia merasakan seseorang duduk di hadapannya.

“Kamu butuh seseorang untuk mendengarkanmu?” suara lembut itu membuat Yogie mengangkat wajahnya dan mendapati Jihan yang sudah duduk di hadapannya dengan senyuman lembutnya.

Yogie hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu harus bercerita apa. Perasaannya tidak menentu, dan mana mungkin Jihan dapat mengerti tentangnya?

“Kamu berubah, Gie. Kamu tidak seperti Yogie yang ku kenal dulu.”

“Aku tidak akan menjadi Yogie yang dulu, Yogie yang bodoh karena hanya bisa mengejar-ngejar wanita dan di tinggalkan begitu saja oleh wanita yang di sukainya.”

Jihan tersenyum. “Tak ada yang salah dengan mengejar wanita, Gie. Sudah menjadi kodrat lelaki untuk mencari pasangannya, jika dia meninggalkanmu, maka kejarlah.”

Yogie tersenyum miring. “Jadi itu yang terjadi denganmu dulu? Kamu ingin aku mengejarmu ketika kamu pergi meninggalkanku?”

“Kita sudah sepakat tidak membahasnya lagi, Gie. Aku bahagia dengan hidupku saat ini, dan ku pikir kamu juga seharusnya bahagia dengan hidupmu yang saat ini.”

Yogie mendengus sebal. “Bagaimana mungkin hidupku bahagia jika pikiranku selalu penuh dengan perempuan sialan itu?”

Jihan mengerutkan keningnya. “Elena? Kamu selalu memikirkan Elena?”

Yogie mengangguk lemah. “Dia meninggalkanku. Sial! Dia melakukannya lagi, dia meninggalkanku lagi seperti dua tahun yang lalu. Apa yang salah denganku? Aku sudah berubah, tapi kenapa dia tetap meninggalkanku?”

Jihan menggenggam jemari Yogie yang ada di atas meja di hadapan mereka. “Perubahanmu ke arah yang salah, hingga dia memutuskan meninggalkanmu lagi.”

“Salah? Aku tidak mengerti.”

“Lihat ke dalam diri kamu, Gie. Apa kamu senang melakukan semua ini? Melakukan semua perubahan ini?”

Yogie hanya terdiam, ia mencoba menyelami beberapa waktu yang ia habiskan dengan Elena setelah wanita itu kembali dari Boston.

“Elena kembali untuk kamu, tapi aku kecewa ketika tahu kalau kamu memperlakukan dia dengan sangat kasar, kamu menginjak-injak harga dirinya, dan sangat wajar jika kini Elena menyerah dan kembali pergi meninggalkanmu.”

“Elena kembali untukku?”

“Ya, dia benar-benar kembali untukmu, untuk mencarimu, memulai semuanya dari awal denganmu.”

“Dan dari mana kamu tahu jika aku memperlakukannya dengan kasar?”

“Dia sering ke sini dan bercerita denganku, dia pikir hanya aku dan temannya yang bernama Megan yang dapat mendengarkan semua keluh kesahnya.”

“Apa dia bercerita yang lain denganmu?”

“Tidak. Dia hanya bicara jika dia kecewa dengan semua perlakuan yang kamu berikan padanya.”

Yogie menghela napas panjang. “Aku, aku berpikir jika dia hanya memanfaatkan keberadaanku seperti dulu. Dia hanya butuh tubuhku untuk memuaskan dahaganya, dan aku benci jika itu alasan dia kembali padaku.”

“Sebegitu rendahnyakah pandanganmu terhadap Elena? Apa dia terlihat seperti wanita gatal yang menjajahkan dirinya padamu? Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian sebelum dia pergi ke Boston, tapi yang kutahu, dia kembali dengan sesuatu, sesuatu yang sangat jelas terlihat di matanya.”

“Apa itu?”

“Cinta.”

Yogie menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak! Tidak mungkin. Elena pernah bilang jika dia tidak pernah percaya dengan cinta.”

“Aku bisa melihatnya.”

Yogie masih menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin.”

“Kalau dia benar-benar kembali dengan cinta untukmu, apa kamu menerimanya?” pertanyaan Jihan membuat Yogie tertegun.

Apa ia akan menerima Elena dengan cintanya? Apa ia akan kembali percaya dan berharap dengan kata yang bernama cinta? Yogie masih menggelengkan kepalanya, tapi hatinya sedikit luluh dan mencoba percaya dengan apa yang di katakan Jihan.

“Pikirkanlah sendiri, kamu yang menjalaninya, tentu kamu yang lebih tahu dan yang dapat merasakannya sendiri.” Jihan bersiap berdiri untuk meninggalkan Yogie sendiri, tapi kemudian pernyataan Yogie menghentikannya.

“Aku sudah salah.” Tanpa sadar Yogie mengucapkan kalimat tersebut.

Jihan kembali duduk karena ia berpikir jika Yogie akan mengatakan sesuatu padanya.

“Aku sudah memperlakukannya dengan tidak baik, aku bodoh karena selalu berpikiran buruk padanya. Dan kini, dia benar-benar meninggalkanku. Aku yang salah.”

“Kamu masih bisa mengejarnya, semuanya belum terlambat.”

“Bagaimana jika dia menolakku? Dia terlihat sangat membenciku.”

“Kamu belum mencoba, jika dia menolakmu, jangan menyerah. Aku tahu kamu tipe orang yang tidak gampang menyerah.”

Yogie kembali tercenung. Apa ia akan mengejar Elena? Membuat wanita itu kembali padanya? Apa ia akan menerima Elena dengan keadaan wanita itu saat ini yang mungkin saja sedang hamil dan mengandung bayi lelaki lain. Dapatkah ia menerima kenyataan itu?

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Entahlah, aku hanya… sedikit ragu.”

“Oke, sekarang pertanyaan sederhana, apa kamu mencintainya?”

Yogie terperangah dengan pertanyaan yang di lontarkan Jihan. Apa ia mencintainya? Mencintai Elena?

“Aku tidak tahu.”

“Ayolah, jangan menyebalkan. Bagaimana kamu mau mengejarnya jika kamu sendiri tidak yakin dengan perasaanmu?”

“Aku, aku-”

“Apa?”

Yogie menghela napas panjang. Tidak ada gunanya lagi membohongi dirinya sendiri, memungkiri perasaannya sendiri, jika kenyataannya ia memang tidak dapat jauh dari sosok Elena, dan semua itu di karenakan oleh perasaannya, bukan tentang kontak fisik dengan wanita tersebut, bukan juga perasaan tentang seks atau apapun itu, melainkan perasaan sesungguhnya yang entah sejak kapan sudah tumbuh di hatinya, perasaan yang di sebut dengan cinta.

“Ya, aku mencintainya.”

Jihan tersenyum lebar. “Kalau begitu, tunggu apa lagi. Kejar dia.”

Tapi….

Yogie masih ragu, tentu saja. Tak gampang untuknya mengakui jika ia memang sudah jatuh hati pada sosok Elena. Elena bukan sosok wanita sempurna, tapi entah kenapa wanita itu mampu membuatnya jatuh cinta dengan segala kekurangan wanita tersebut.

 

-TBC-

Jangan baper yaa.. Nextnya.. hahahhahaha yg penasaran boleh beli dulu Pdfnya di playbook, wakakakakakakak