Unwanted Wife – Chapter 4 (Rumit)

Comments 8 Standard

Unwanted Wife

Haii, berhubung draft Evelyn belum selesai, maka aku update UW dulu yaa.. hehehheheh besok malam akan ada Updet Elena. happy reading..

Nadine membuka matanya perlahan-lahan, yang pertama kali ia rasakan saat itu adalah rasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa ngilu dan remuk. Nadine bangkit dari tidurnya dan betapa terkejutnya ketika ia mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun, hanya selimut di ranjang tersebutlah yang membalut tubuh telanjangnya.

Sial! Apa yang terjadi? Pikirnya masih bingung. Ia sama sekali tidak dapat mengingat apapun tentang tadi malam, dan itu membuat Nadine semakin kesal.

Dan semua yang ada di dalam pikiran Nadine tersebut hilang ketika ia melihat sosok yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sosok yang bertelanjang dada, hanya berbalutkan handuk kecil di pinggulnya dan memperlihatkan perut kotak-kotaknya.

Itu Dirga, atasannya, kakak dari sahabatnya. Oh sial! Apa yang sudah mereka lakukan semalam?

***  

Chapter 4

-Rumit-

 

Keluarga Nadine, Karina dan juga Darren memang bersahabat sejak remaja. Itu sebabnya mereka bertiga juga bersahabat sejak kecil. Darren memiliki usia 2 tahun lebih tua di bandingkan Karina dan Nadine, sedangkan Kakak kembar Karina, Dirga dan Davit memiliki usia 5 tahun lebih tua dari pada Karina dan Nadine, kedua kakak kembar Karina tersebut sebaya dengan Evan, kakak Darren. Dengan begitu, mereka berenam memang saling mengenal satu sama lain sejak kecil.

Keluarga Nadine memang bukan keluarga kaya, tapi keluarga Darren dan Karina tidak pernah memandang status sosial sebagai patokan mereka bergaul. Nadine sendiri sudah sejak dua tahun yang lalu bekerja di perusahaan keluarga Karina, menjadi sekertaris pribadi salah seorang kakak Karina yang bernama Dirga.

Hubungan Dirga dan Nadine memang biasa saja karena sebelumnya keduanya memang saling mengenal sebagai teman, tapi semua itu berubah sejak saat itu, saat Nadine sadar jika telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua semalam.

“Sudah bangun?” suara berat itu membuat Nadine semakin gugup. Apa yeng terjadi dengannya.

“Ya, Uum, apa yang terjadi, Kak?”

Tanpa di duga Dirga berjalan ke arahnya kemudian mengusap puncak kepala Nadine dengan lembut. “Mulai saat ini kamu milikku.”

“Apa? Kak-”

“Nadine, aku tahu kamu masih sedih dengan pernikahan Darren dan Karin. Aku akan membantumu melupakan semuanya.”

Nadine menggelengkan kepalanya cepat. “Aku mencintai Darren, Kak.”

“Tapi aku sudah memilikimu. Kamu milikku, Nadine.” Dan Nadine tak dapat membantah lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Tuhan, bukan seperti ini kehidupan yang ia inginkan. Bukan seperti ini.

 

Nadine menggelengkan kepalanya cepat ketika bayangan pagi itu muncul dalam ingatannya. Malam itu adalah malam pesta pernikahan Darren dan Karin. Mau tidak mau, Nadine datang menghadiri pesta tersebut meski suasana hatinya benar-benar sangat buruk.

Matanya terlihat sembab, tapi ia tidak peduli, nyatanya kekasih hatinya sedang menikah dengan sahabatnya sendiri, sangat wajar jika ia sakit hati dan menangis hingga matanya bengkak.

Itu adalah malam terpanjang untuk Nadine, hingga ia memutuskan meminum banyak sekali anggur hingga tak sadarkan diri karena mabuk dan berakhir bangun di atas ranjang atasannya.

Lamunan Nadine terhenti setelah sebuah panggilan kembali masuk dalam ponselnya. Nadine melirik ke arah ponselnya dan mendapati Dirga yang sedang menghubunginya. Nadine menghela napas panjang sebelum mengangkat ponsel tersebut.

“Halo.”

“Kamu dimana?”

“Aku di rumah.”

“Kamu nggak bohong, kan?”

“Aku benar-benar di rumah, Kak.”

“Oke, aku percaya. Jangan lupa besok kita akan ke Bali.”

“Aku nggak akan lupa.”

Dirga terdiam cukup lama sebelum berkata lagi “Aku nggak suka melihat kamu masih dengan Darren.”

“Kak.”

“Aku nggak suka, Nadine!”

Dan Nadine hanya terdiam.

“Oke, tidurlah, besok kita berangkat pagi.” Dan hanya seperti itu, kemudian telepon di tutup begitu saja. Nadine hanya terpaku menatap ponsel dalam genggamannya. Kenapa semuanya jadi serumit ini?

***

Karina sudah selesai mandi ketika Darren sampai di rumah. Dengan sedikit gugup Karina melangkah menuju ke arah lemari pakaian mereka, mengambil pakaiannya dengan sesekali melirik ke arah Darren yang masih terduduk dengan tenang di pinggiran ranjang mereka.

“Darimana saja kamu tadi?” suara dingin Darren memaksa Karina menolehkan kepala ke arah suaminya tersebut.

“Uum, itu, aku cuma jalan sebentar sama Kak Evan dan Mas Dirga.”

“Oh ya? Hanya jalan?”

“Aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi kami memang hanya jalan bersama.”

Darren tersenyum mengejek. “Apa yang aku pikirkan? Aku tidak peduli mau kamu jalan dengan siapapun, asalkan kamu juga jangan mempedulikan urusanku dengan Nadine.”

“Aku tidak pernah mempedulikan hubungan kamu dengan Nadine.” Mata Karina mulai berkaca-kaca, suaranya terasa tercekat di tenggorokan. Memangnya istri mana yang rela melihat suaminya jalan dengan perempuan lain? Tentu tidak ada.

“Oh ya? Aku nggak percaya, kamu mungkin mengadu pada keluargamu, merengek pada mereka karena aku memperlakukanmu dengan tidak baik.”

Karina menggelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah melakukan itu, Darren.”

“Terserah apa katamu, aku sudah terlalu muak denganmu.” Darren berdiri dan bersiap pergi ke dalam kamar mandi.

“Tidak bisakah kamu menerimaku? Aku kurang apa di bandingkan Nadine?”

“Kurang apa? Kamu tida ada apa-apanya di bandingkan Nadine. Kamu tidak akan bisa menggantikan posisinya di hatiku.” Darren masuk begitu saja ke dalam kamar mandi lalu membanting pintu kamar mandi dengan begitu keras. Sedangkan Karina hanya bisa menangis melihat perlakuan orang yang di cintainya tersebut pada dirinya.

***

Paginya.

Karina masih menjalankan tugasnya seperti biasa. Hanya saja pagi ini tugasnya bertambah karena Darren nyatanya tidak berangkat pagi-pagi seperti biasanya. Ia mulai menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya tersebut, dasi serta sepatu yang akan di kenakan oleh Darren, sedangkan lelaki itu kini masih sibuk di dalam kamar mandi.

Pagi ini, Karina bangun lebih pagi dari sebelumnya karena semalam Darren tidak menyentuhnya. Lelaki itu tampak dingin terhadapnya, mereka bahkan tidur saling memunggungi satu sama lain. Kenapa? Apa Darren sudah mulai bosan menyentuh tubuhnya?

Karina menggelengkan kepalanya cepat. Entah kenapa pikirannya sampai ke sana. Saat Karina sibuk dengan pikirannya sendiri, Darren keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sudah segar. Rasa gugup kembali menyelimuti diri Karina.

“Hai, aku, sudah siapin pakaian buat kamu.”

“Nggak perlu repot, aku bisa siapin sendiri.” Dan Karina hanya diam tidak mempedulikan nada bicara Darren yang terdengar dingin di telinganya.

“Akan kubuatkan kopi.”

“Kubilang tidak perlu repot! Tidak perlu mengurus urusanku, urus saja dirimu sendiri!”

“Tapi aku ingin-”

“Jangan memaksaku melakukan hal yang lebih kasar padamu, Karin! Aku sudah cukup muak dengan wajah sok polosmu.”

“Baiklah.” Desah Karina yang kemudian berjalan keluar dari kamar mereka.

***

Meski selalu mendapat perlakuan seperti itu dari Darren, Karina tetap bersikap biasa-biasa saja di depan ibu mertuanya dan juga Evan, kakak iparnya. Ia masih membantu sang ibu mertua menyiapkan sarapan meski hatinya sedang sakit karena perlakuan suaminya tersebut.

Meski tidak seramah dulu, tapi sikap tante Sarah kini sudah lebih baik di bandingkan dengan awal-awal pernikahannya dengan Darren. Wanita paruh baya itu tidak lagi menjadi sosok pendiam di hadapannya. Tante Sarah bahkan sudah beberapa kali mengajak Karina belanja bersama. Hanya saja, Karina merasa masih ada yang kurang. Senyuman wanita paruh baya itu sedikit berkurang padanya, tidak seperti dulu, ketika hubungan mereka semua masih baik-baik saja.

Memangnya kenapa? Lagi pula itu salahnya sendiri karena memaksakan keadaan. Harusnya Karina lebih bersyukur karena masih di terima di dalam keluarga mereka setelah pengkhianatan yang telah di lakuan ia dan keluarganya.

“Pagi.” Suara berat yang berasal tepat di belakang Karina membuat Karina sedikit terlonjak karena terkejut karena kedatangan Evan yang di rasanya sangat tiba-tiba.

“Aww..” Tanpa sengaja jari Karina menyentuh panci di hadapannya yang memang berada di atas kompor yang sedang menyala hingga membuat Karinya merintih kesakitan.

“Maaf, aku nggak bermaksud ngagetin kamu.” Evan sedikit khawatir dengan apa yang terjadi pada Karina.

Dengan spontan Evan meraih jemari Karina dan meniup-niup jemari tersebut hingga Karina tidak merasa kesakitan lagi karena panas ketika bersentuhan dengan panci tersebut.

“Aku nggak apa-apa, kak.”

“Tapi itu panas.” Evan masih tidak berhenti meniup-niup jemari Karina.

Pada saat bersamaan, Darren yang memang menuju ke ruang makan, melihat kejadian tersebut. Tatapannya membunuh ke arah kedekatan Evan dan juga Karina, entah kenapa ia merasa sangat kesal dengan apa yang ia lihat.

“Pagi Darren.” Sapa mamanya yang kemudian membuiat Karina dan Evan menatap ke arah Darren.

Dengan spontan Karina menjauh dari Evan dan kembali melanjutkan aktifitas masaknya, sedangkan Evan sendiri hanya mampu menatap Karina dengan tatapan sendunya.

“Kenapa?” tanya Evan dengan sedikit berbisik pada Karina.

“Enggak apa-apa.” Jawab Karina dengan senyuman lembutnya.

“Kamu takut dia berpikir yang enggak-enggak tentang kita?”

Karina hanya menggelengkan kepalanya. Memangnya berpikir apa? Darren tentu tidak peduli dengan kedekatannya bersama pria manapun, apalagi dengan Evan, kakaknya sendiri.

“Dia nggak akan peduli.” Jawab Karina pelan.

“Oke, bagaimana dengan ini?” dengan sengaja Evan melingkarkan lengannya pada pinggang Karina dan itu benar-benar membuat Karina terkejut. Apa yang di lakukan lelaki itu? Kenapa kakak iparnya itu melakukan hal ini padanya?

“Aku langsung berangkat saja.” Suara Darren kembali membuat Karina dan Evan menolehkan kepala pada lelaki tersebut.

“Loh kamu nggak sarapan dulu?”

“Sarapan di luar saja.” Kemudian Darren pergi begitu saja dengan sesekali menatap Karina dan Evan dengan tatapan membunuhnya.

“Kamu lihat, dia peduli dengan kedekatan kita.” Bisik Evan pada Karina.

Karina terdiam sebentar kemudian dirinya baru ingat jika tadi ia sudah menyiapkan bekal untuk Darren. Secepat kilat ia meraih kotak makan yang sudah ia siapkan kemudian tanpa mempedulikan Evan lagi, Karina berlari menyusul Darren.

“Dasar bodoh! Kamu sudah memiliki dia Darren, bagaimana mungkin kamu menyia-nyiakannya? Apa kamu mau aku merebutnya?” lirih Evan pelan ketika melihat Karina berlari menyusul Darren.

***

“Darren, tunggu.” Karina terengah ketika sampai di halam rumah Darren, lelaki itu bareu akan masuk ke dalam mobilnya, untung saja ia tadi berlari cepat hingga tidak terlambat menyusul Darren.

“Ada apa?” suaranya terdengar begitu dingin di telinga Karina, tapi Karina seolah mengenyahkan sikap dingin suaminya tersebut.

“Ini buat kamu.” Karina menyodorkan bekal makan siang untuk Darren, makanan yang ia buat sendiri. Ia tahu jika lelaki itu sangat suka sekali dengan Omlet keju, dan tadi Karina menyempatkan diri membuat masakan tersebut untuk bekal makan siang suaminya itu.

“Nggak perlu, aku bisa makan di luar.”

“Tapi aku sengaja membuatnya untuk kamu.”

“Beri saja sama Evan. Mungkin dia akan bahagia mendapat bekal makan siang darimu.” Darren menjawab datar.

“Ini buat kamu, aku sudah menyiapkan yang lainnya untuk kak Evan, jadi tolong di bawa.”

Darren mendengus sebal. Oh, ternyata Evan juga mendapat jatah yang sama seperti dirinya? dan entah kenapa itu membuat Darren kesal.

“Buang saja.” Setelah mengucapkan dua kata itu, Darren masuk begitu saja ke dalam mobilnya, kemudian mengemudikannya tanpa memperhatikan Karina yang terpaku menatap kepergiannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

***

Siangnya…

Setelah rapat, Darren lantas mencari ponsel miliknya. Ia ingin segera menghubungi Nadine, apa kekasihnya itu sudah sampai di Bali atau belum. Tapi nyatanya, Nadine belum juga menjawab telepon darinya.

Darren mencoba lagi dan lagi, tapi tetap tidak ada jawaban, akhirnya ia menyerah. Kemudian ia memainkan ponselnya karena memang sedang suntuk. Mau melanjutkan pekerjaanpun pasti tidak akan bisa konsentrasi karena belum ada kabar tentang Nadine.

Darren mengutak-atik ponselnya, membuka foto-foto kebersamaannya bersama dengan Nadine, hingga kemudian, foto itu tak sengaja terbuka. Berbagai macam foto dalam sebuah folder yang tersembunyi di dalam ponselnya.

Lupakan!

Sisi lain dari diri Darren mengatakan seperti itu, tapi sisi lainnya memerintahkan supaya dirinya membuka folder tersembunyi tersebut. Ketika Darren akan membuka folder tersebut, pada saat bersamaan, ponsel tersebut berbunyi.

Nadine meneleponnya, dan Darren benar-benar melupakan keinginannya untuk membuka folder tersebut…

“Kamu ke mana saja? Aku meneleponmu sejak tadi.”

“Uum, aku.”

“Kenapa Nadine? Kamu sudah sampai di Bali, kan?”

“Darren, aku, aku minta maaf.”

“Maaf? Kamu kenapa? Apa yang terjadi?”

Darren hanya mendengar sebuah isakan dari Nadine. Oh, sebenarnya apa yang terjadi dengan kekasihnya itu?

“Lupakan dia, dia akan menikah.” Tiba-tiba Darren mendengar suara itu, suara dari laki-laki yang sangat di kenalnya, siapa lagi jika bukan Dirga, kakak dari istrinya.

“Lo, apa yang lo lakuin sama pacar gue?”

Terdengar Dirga mendengus kesal. “Pacar? Brengsek lo! Nadine calon istri gue!”

Dan setelah kalimat yang di lontarkan Dirga tersebut, Darren hanya tercengang. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tidak! Tidak mungkin Nadine akan menikah dengan laki-laki lain dan meninggalkannya. Bukankah mereka sudah janji jika akan selalu bersama? Nadine tidak mungkin meninggalkannya. Atau, apa jangan-jangan kekasihnya itu di paksa menikah dengan Dirga, sama seperti dirinya yang di paksa menikah dengan Karin? Oh ya, tentu saja, bukankah keluarga Karina memang sangat egois karena akan melakukan segala cara demi mencapai tujuannya?

Sial!

Telapak tangan Darren mengepas seketika, mungkinkah ini bagian dari rencana Karin untuk mendapatkan dirinya seutuhnya? Meminta kakaknya untuk menikahi Nadine? Oh tentu saja, semua jadi semakin masuk akal.

Darren mendengus kesal. Karina, kamu akan menyesal. Sumpahnya dalam hati dengan mengepalkan telapak tangannya.

 

-TBC-

Advertisements

Unwanted Wife – Chapter 3 (Mulai Mengganggu)

Comments 8 Standard

Unwanted Wife

Haiii aku Up lagi nih dear.. wahhh nggak nyangka bgt kalo pada suka ama cerita gaje ini.. wakakkakakakak padahal aku bikinnya iseng2 loh.. hahhahahaha banyak yg benci karin maupun darren, dan aku makin semangat lanjutinnya… yeaayyy.. huehheheheh happy reading dehh kalo gitu…

“Semua ini karenaku?” tanpa sadar Darren menanyakan kalimat tersebut. Karina tidak bersuara. Ia masih sibuk dengan ras sakit yang bersumber dari tubuh Darren.

Darren menghentikan pergerakannya, jemarinya menelusuri beberapa warna merah kebiruan yang ada pada pundak dan pinggang Karina.

“Aku menyayangimu, Karin, aku menyayangimu karena kamu sahabat terbaikku, tapi kenapa kamu membuatnya menjadi sulit? Aku tidak ingin menyakitimu, tapi kamu sendiri yang secara tidak langsung memaksaku menyakitimu. Dan maaf, aku tidak bisa berhenti menyakitimu.”

Darren bergerak kembali dan Karina kembali menangis. Menangis karena ia sadar jika ia sudah kehilangan sosok Darren Pramudya, sahabat yang menyayanginya dan selalu ada untuknya. Kini sosok tersebut sudah berubah, sosok tersebut sangat membencinya, dan Karina tahu, jika semua itu karena keegoisannya untuk memiliki lelaki tersebut.

***

Chapter 3

Mulai mengganggu-

 

Darren masih sibuk mengenakan pakaiannya setelah beberapa kali memuaskan hasratnya pada tubuh Karina di dalam kamar mandi tadi. Sesekali matanya melirik ke arah cermin di hadapannya, dimana di sana terdapat bayangan wanita kurus yang msih berbalut juba mandi, masih duduk dengan menundukkan kepalanya di pinggiran ranjang.

Rasa sesal, selalu ia rasakan ketika selesai melecehkan Karina. Ketika ia selesai menyakiti wanita itu. Itulah alasan kenapa dua minggu terakhir Darren selalu berangkat ke kantor pagi-pagi sekali bahkan sebelum Karina bangun dari tidurnya.

Ia tidak sanggup melihat wajah itu, melihat ekspresi kesakitan itu, melihat mata itu yang tidak berhenti berkaca-kaca karena ulah brengseknya. Kenapa? Kenapa ia tidak sanggup? Karena Darren tahu, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih sangat menyayangi Karina sebagai sahabatnya. Sebenci apapun Darren dengan Karina, wanita itu tetaplah sahabat yang sangat ia sayangi, sahabat yang selalu ada untuknya.

Darren memejamkan matanya ketika beberapa ingatan berkelebat dalam pikirannya.

 

“Kamu sudah ngerjain PR?” Darren bertanya pada Karina yang sibuk membaca buku novelnya, kegemaran gadis tersebut memang membaca novel-novel romantis dengan bumbu melankolis.

“Sudah, kenapa?”

“Mau bantu aku ngerjain PRku?”

“Hei, mana boleh seperti itu?”

“Memangnya siapa yang nggak ngebolehin?”

“Darren, kamu memang bisa sembunyi-sembunyi menyontek, atau menyalin PRku tanpa ketahuan guru, tapi suatu saat kamu akan mendapat akibatnya ketika mungkin saja kamu di suruh mengerjakan PR dengan soal yang sama oleh anakmu nanti.”

Darren mengacak poni Karina sambil tertawa lebar. “Kamu berpikir terlalu jauh, gimana? Mau bantu nggak?”

Karina menghela napas panjang. “Aku akan membantumu, tapi bukan dengan cara menyalin PRku.”

“Lalu?”

“Kamu sendiri yang harus mengerjakan PRmu dengan bantuanku.”

Darren tersenyum lebar. “Siap, Boss.” Dan akhirnya keduanya masuk ke dalam kelas untuk mengerjakan PR bersama.

 

 

 

Darren mengembuskan napasnya dengan kasar. Sesekali ia merutuki dirinya sendiri karena memperlakukan Karina dengan begitu keterlaluan.

“Aku pergi.” Ucap Darren sambil menyambar dompet, ponsel, dan kunci mobil yang berada di atas meja rias, kemudian ia pergi begitu saja tanpa menghiraukan Karina yang masih duduk mematung di pinggiran ranjangnya.

***

Bertemu dengan Nadine benar-benar menjadi pengobat untuk perasaan Darren yang kacau balau. Melihat wanita itu berlari menghambur ke dalam pelukannya benar-benar membuat Darren melupakan masalah pelik yang sedang ia hadapi saat ini.

Nadine merupakan sosok yang sempurna untuk Darren, memiliki paras cantik jelita dengan kepribadian yang asik. Wanita itu sangat pandai bergaul, memiliki selera humor yang tinggi serta selalu menjadi pendengar yang baik ketika ia memiliki masalah.

Itulah yang membuat Darren jatuh cinta lagi dan lagi terhadap sosok tersebut, Nadine memiliki banyak sekali kelebihan, sangat berbeda dengan Karina.

Karina? Kenapa juga ia memikirkan wanita itu di saat seperti sekarang ini?

“Bagaimana kabarmu?” selalu saja pertanyaan itu yang di lontarkan Nadine ketika bertemu dengannya. Apa ia terlihat menyedihkan hingga wanita itu selalu menanyakan pertanyaannya dengan penuh perhatian?

“Baik, kamu sendiri?”

“Sangat baik.” Jawab Nadine penuh dengan antusias. “Kita kemana hari ini?”

“Aku mau makan siang lalu ke tempat karaoke, kamu mau menemaniku, bukan?”

Nadine tertawa lebar. “Tentu saja, lagi pula tempat karaoke adalah tempat favorit kita saat berkencan.”

“Well, kita ke sana sekarang.” Dengan penuh semangat Darren dan Nadine menuju tempat karaoke yang dulu sering mereka kunjungi bersama, bahkan bertiga bersama dengan Karina ketika dulu hubungan ketiganya masih sangat harmonis.

***

Siang itu, Karina makan siang sendirian di ruang makan keluarga Pramudya. Tante Sarah sedang menemani Om Tony untuk chek up ke dokter, sedangkan Evan, kakak Darren, tidak tahu sedang di mana lelaki tersebut.

Tapi kemudian Karina di kejutkan oleh seseorang dari belakang, siapa lagi jika bukan Evan. Astaga, lelaki itu benar-benar hampir membuat jantungnya copot.

“Kak Evan kemana saja? Aku makan siang sendiri, maaf.”

“Hei, nggak perlu minta maaf, aku sudah makan tadi. Aku dari luar.”

“Oh.”

“Darren mana?”

“Dia keluar.”

“Sendiri?”

“Ya.” Desah Karina.

“Kamu nggak mau keluar? Jalan-jalan mungkin. Ini minggu, masa iya kamu di rumah sendirian.”

Karina menggelengkan kepalanya. Apa bedanya dulu dan sekarang? Semuanya sama saja. Jika minggu ia menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk membaca buku-buku koleksinya, ia baru akan keluar jika Nadine atau Darren menghubunginya, mengajaknya jalan atau bahkan berkaraoke bersama. Kini, siapa yang akan mengajaknya keluar? Darren dan Nadine sangat membencinya, dan itu tentu karena salahnya sendiri.

“Mau keluar sama Kak Evan?” tawar Evan.

“Kemana?”

“Kita bisa jalan-jalan kemanapun, aku juga lagi suntuk di rumah.”

Karina kembali menggelengkan kepalanya. Ia memang ingin keluar dari rumah Darren yang terasa menyesakkan, tapi tidak dengan Evan, hanya berdua dengan lelaki tersebut, sepertinya itu bukan ide yang bagus.

“Ayolah, kita tidak hanya akan berdua, kita juga akan mengajak Dirga.”

“Mas Dirga?” Karina bertanya tak percaya.

“Ya, Dirga, aku juga sudah lama nggak jalan bareng dengan dia, jadi, apa kamu mau jalan bareng sama aku dan Dirga?”

Karina tersenyum lebar. “Ya, aku mau jika Mas Dirga ikut.”

“Oke, kalau begitu kamu punya waktu tiga puluh menit untuk menyiapkan diri.”

Secepat kilat Karina bangkit dan permisi menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Ia sangat senang, tentu saja, selain ia akan jalan-jalan keluar, dirinya juga akan bertemu dengan salah seorang kakak kembarnya. Dan itu benar-benar sangat membahagiakan untuk Karina.

***

Karina benar-benar senang karena hari ini ia bisa sedikit melupakan semua masalahnya dengan Darren karena ia menghabiskan waktunya berjalan-jalan dengan Evan dan juga Dirga, kakaknya. Keduanya seakan tidak berhenti menghibur Karina, seakan keduanya tahu jika Karina memang butuh sebuah hiburan.

Ketiganya tadi baru saja menghabiskan waktu di Zona permainan yang bertempatkan di sebuah pusat perbelanjaan, tak lupa ketiganya makan bersama kemudian sedikit berbelanja, hingga tak terasa, sorepun sudah tiba.

“Oke, setelah ini kita kemana lagi?” Tanya Evan penuh semangat.

“Udah sore. Apa nggak pulang saja. Aku takut Darren sudah pulang.”

“Dia nggak mungkin pilang sore.” Jawab Evan. “Lo mau kemana, Ga?” tanya Evan pada Dirga.

“Kemana aja gue ikut.”

“Karin mau kemana?”

Karina tampak berpikir sebentar. Sebenarnya ia sedikit tidak nyaman, takut jika Darren pulang dan mencarinya, tapi sepertinya itu tidak mungkin.

“Aku, sebenarnya aku ingin ke tempat karaoke.”

“Kamu yakin? Memangnya kamu bisa nyanyi?” tanya Dirga sedikit meremehkan.

“Aku yakin Mas Dirga akan terpesona dengan suaraku nanti.” Karina sedikit terkikik geli ketika menyombongkan dirinya sendiri.

“Oke, oke, kita lihat bagaimana merdunya suara kamu nanti.” Evan menimpali.

“Aku mau cari toilet dulu, kalian duluan saja.”

“Oke.” Dan akhirnya Karina dan Evan menuju ke arah tempat karaoke yang memang masih di dalam mall tersebut.

Setelah memilih tempat, Evan dan Karina akhirnya menuju ke arah tempat tersebut tanpa menunggu Dirga. Dan ketika mereka melewati sebuah lorong yang penuh dengan pintu-pintu ruang karaoke, langkah keduanya terhenti ketika salah satu pintu ruang karaoke tersebut terbuka dan menampilkan sosok dari dalam ruangan tersebut.

Itu Darren, dengan Nadine. Karina berdiri ternganga ketika mendapati pemandangan di hadapannya tersebut. Jadi Darren keluar dengan Nadine? Suaminya itu sedang bersenang-senang dengan sahabatnya sendiri?

Pun dengan Darren yang tampak terkejut melihat kehadiran Karina dengan Evan, kakaknya. Untuk apa mereka berdua berada di tempat seperti ini? Apa mereka sedang berkencan? Yang benar saja.

“Kok lo di sini?” Evan bertanya pada Darren tanpa menghilangkan nada terkejutnya.

“Memangnya kenapa? Lo juga di sini.” Darren menjawab dengan nada cueknya.

Karina melirik ke arah tangan Darren dan Nadine yang entah sejak kapan saling bertautan. Oh, ia benar-benar merasa jika dirinya menjadi orang ketiga, penghancur dari hubungan Darren dan Nadine.

“Gue ngajak Karin jalan. Lo gila ya? Jalan sama perempuan lain dan ninggalin istri lo di rumah sendiri.”

“Itu pilihannya. Lo nggak perlu ikut campur urusan gue.”

“Sialan lo!” Evan tak kuasa mengumpat pada adiknya sendiri yang di rasa tak tahu diri.

“Apa-apaan ini?” suara di belakang Karina dan Evan memaksa semua yang ada di sana menatap ke arah suara tersebut.

Itu Dirga, yang sudah berdiri dengan tatapan membunuhnya pada Darren. Dan entah kenapa, Nadine yang ada di sana menundukkan kepalanya seketika.

“Apa yang lo lakuin di sini dengan dia?” Suara Dirga terdengar seperti sebuah geraman.

“Kita sedang berkencan” Darren menjawab dengan santai.

“Brengsek!” umpat Dirga sambil berusaha memukul Darren, tapi kemudian Evan menghalaunya.

“Ga, sabar, lo nggak perlu terpancing emosi lo.”

“Nggak perlu terpancing? Dia nyakitin hati adek gue, Van.”

“Mas, aku nggak apa-apa mas.” Karina ikut melerai. “Lebih baik kita pulang saja.” Lanjut Karina lagi sambil menyeret lengan Dirga untuk keluar dari tempat karaoke. Sedangkan Evan hanya mengikuti Karina dan Dirga yang keluar dari tempat karaoke tersebut.

***

Darren masih tidak berhenti mencengkeram erat kemudi mobilnya. Pikirannya kacau, entah karena apa ia sendiri tidak tahu. Apa karena melihat Karina berdiri di sana tadi dengan kakaknya? Sial! Tentu bukan karena itu. Tapi mengingat hal itu memberi Darren satu kenyataan, jika Karina dan kakaknya memiliki hubungan special.

Memangnya kenapa?

Evan memang memiliki perasaan khusus untuk Karina dan Darren sudah mengetahui hal tersebut sejak dulu. Bahkan ia rela memendam kekagumannya pada sosok Karina demi sang kakak.

 

“Karin hanya milikku.” Suara Evan tegas tanpa bisa di bantah.

“Milikmu? Bukannya dia sahabatku?” Darren membantah.

“Ya, tapi kamu sudah punya Nadine, jadi kamu harus memberikan Karin untukku.”

“Kalau dia tidak mau?”

“Aku akan memaksanya hingga dia mau.”

Darren menghela napas panjang. “Baiklah, Karin untukmu, dan Nadine milikku.”

“Oke, kamu memang adik terbaik.” Evan kemudian memeluk Darren erat-erat.

 

Bayangan beberapa tahun yang lalu mencuat begitu saja dalam pikiran Darren. Bayangan ketika ia masih remaja, masih sama-sama polos, saat itu Evan memintanya untuk memberikan Karina pada kakaknya tersebut, dan Darren menuruti apa mau Evan.

Ia mulai menganggap Karina sebagai milik dari kakaknya tersebut, lalu hadirlah Nadine dalam kehidupannya. Sosok yang benar-benar mampu membuat Darren berpaling dari sosok Karina. Nadine yang cantik, yang pandai bergaul dan memiliki banyak sekali pengagum, sangat berbeda sekali dengan Karina yang pendiam dan penyendiri.

Oh sial! Kenapa juga ia mengingat masalalu? Kenapa kehadiran Karina kini mulai mengganggu pikirannya?

“Darren, apa yang terjadi? Kenapa kamu hanya diam saja sejak tadi?” pertanyaan Nadine membuat Darren sadar jika dirinya baru saja menyelami masa lalunya.

“Ahh, enggak.”

“Apa kamu mikirin kejadian tadi?”

“Enggak.”

“Lalu, apa yang kamu pikirin?”

“Tidak ada, aku hanya berpikir kemana lagi kita setelah saat ini?”

“Antar aku pulang saja, aku capek.”

“Beneran? Ini masih sore.”

“Ya, besok aku harus berangkat pagi, jadi aku mau tidur cepat.”

“Tidak biasanya kamu berangkat pagi.”

“Besok aku akan ke Bali, selama dua hari.”

“Apa? Dan kamu baru memberitahuku hari ini?” Darren tampak terkejut.

“Maaf, Darren. Ini hanya perjalanan bisnis seperti biasanya, aku harap kamu mengerti.”

“Ya, aku mengerti, aku mengerti kalau kamu akan berangkat ke Bali hanya berdua dengan Boss sialanmu itu.” Darren tampak kesal.

“Dia tidak sialan, Darren, dan dia adalah kakak iparmu.”

Well, terserah apa katamu.” Setelah ucapan Darren tersebut, Keduanya sama-sama terdiam. Tidak ada pembicaraan lagi sampai mereka berpisah di rumah Nadine.

***

Sampai di dalam kamarnya, Nadine merogoh ponsel di dalam tasnya. Ia terkejut ketika mendapati puluhan Misscall dari nomer yang sama.

Boss

Atasannya yang tak lain adalah Dirga, kakak dari Karina. Untuk apa lelaki itu menghubunginya? Dan astaga, sejak kapan ia mulai terpengaruh dengan keberadaan Dirga? Apa sejak pagi itu?

Pagi itu…

Nadine membuka matanya perlahan-lahan, yang pertama kali ia rasakan saat itu adalah rasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa ngilu dan remuk. Nadine bangkit dari tidurnya dan betapa terkejutnya ketika ia mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun, hanya selimut di ranjang tersebutlah yang membalut tubuh telanjangnya.

Sial! Apa yang terjadi? Pikirnya masih bingung. Ia sama sekali tidak dapat mengingat apapun tentang tadi malam, dan itu membuat Nadine semakin kesal.

Dan semua yang ada di dalam pikiran Nadine tersebut hilang ketika ia melihat sosok yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sosok yang bertelanjang dada, hanya berbalutkan handuk kecil di pinggulnya dan memperlihatkan perut kotak-kotaknya.

Itu Dirga, atasannya, kakak dari sahabatnya. Oh sial! Apa yang sudah mereka lakukan semalam?

 

-TBC-

Unwanted Wife – Chapter 2 (Selamat datang di Neraka!)

Comments 9 Standard

Unwanted Wife

jangan Baper yaa.. eaaa.. wakakkakakakkakak

Darren tersenyum sinis. “Mengerti? Apa Om Roy mengerti apa yang saya rasakan? Apa Om Roy mengeri apa keinginan saya? Om Roy dan Karin terlalu egois dalam hal ini.”

“Maaf, Darren, saya hanya berusaha membahagiakan puteri saya.”

“Oke. Dan saya jamin, Om Roy tidak akan mendapatkan hal itu! Saya tidak akan membahagiakannya.”

Dengan kesal Darren keluar begitu saja dari dalam ruangan lelaki paruh baya tersebut kemudian membanting pintu di belakangnya keras-keras tanpa menjaga kesopanannya pada ayah mertuanya tersebut. Ia sangat kesal, teramat sangat kesal. Bagaimana mungkin di dunia ini ada orang yang sangat egois seperti Karina dan ayahnya?

***

Chapter 2

-Selamat datang di Neraka-

 

Setelah keluar dari kantor ayah mertuanya, Darren lantas menuju ke sebuah kafe untuk bertemu dengan seseoran. Siapa lagi jika bukan Nadine, kekasih hatinya. Wanita yang begitu ia cintai. Nadine datang dan seketika itu juga wanita itu menghambur dalam pelukannya.

“Bagaimana kabarmu?” pertanyaan Darren di ucapkan dengan nada penuh perhatian.

“Baik, kamu sendiri?” Nadine bertanya balik.

“Kacau.” Hanya itu jawaban Darren dan itu membuat Nadine tersenyum.

“Sudah makan siang?” tanya Nadine penuh perhatian sambil duduk berhadapan dengan Darren.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Aku baru saja menemui Om Roy.”

“Oh ya? Untuk apa?”

“Untuk menagih janjinya. Sialan! Pria tua itu banyak sekali alasannya.”

“Lalu, apa yang kamu dapat?”

Darren hanya menggelengkan kepalanya. “Aku minta maaf, aku belum bisa membuat hubungan kita menjadi nyata.” Darren menggenggam erat telapak tangan Nadine.

Nadine tersenyum lembut. “Tenang saja, aku cukup bahagia walau hanya seperti ini. Asalkan hati kamu tidak berubah.”

“Nadine, kamu hanya perlu percaya, mana mungkin hatiku berubah ketika aku sudah sangat lama memendam cinta terhadapmu?”

“Ya, aku percaya, sayang.” Nadine mengusap lembut pipi Darren. “Ayo, sekarang kita pesan makan siang.”

Darren tersenyum dan menganggukkan keplanya. Ya, begini saja sementara mungkin sudah cukup. Yang terpenting adalah tidak ada yang mengganggu hubungan antara mereka berdua. Pikir Darren dalam hati.

***

Sore itu Karina sedang sibuk menyiapkan sup untuk ayah mertuanya. Om Tony, Ayah Darren memang sudah pulang dari rumah sakit sejak sebelum ia menikah dengan Darren, tapi Om Tony masih lemah, hingga harus istirahat total di dalam kamarnya. Kini, Karina ingin membuatkan sup untuk sang ayah mertua, bukan untuk mencari muka, tapi karena memang Karina merasa memiliki kewajiban merawat ayah mertuanya tersebut.

“Sedang apa?” suara seorang wanita membuat Karina membalikkan tubuhnya. Di sana ia melihat Tante Sarah, Ibunda dari Darren, ibu mertuanya.

“Oh, ini Ma, mau bikinin papa sup ayam bawang.” Tante Sarah hanya mengangkat sebelah alisnya.

Sarah memang tidak terlihat suka dengan Karina, tapi wanita itu juga tidak terlihat membenci Karina. Keluarga mereka sebelumnya memang sangat dekat, tapi kenyataan jika ayah Karina memanfaatkan keadaan seperti ini membuat keluarga Darren sedikit menjaga jarak dengan keluarga Karina.

“Kamu bisa bikin sup?”

Karina mengangguk pelan. “Di rumah saya sering masak.”

“Benarkah? Saya tidak tahu hal itu.”

Karina hanya tersenyum lembut sembari mengaduk sup di hadapannya.

“Kenapa kamu lakukan ini, Karin?” Karina menghentikan pergerakannya ketika pertanyaan itu keluar dari bibir Sarah. “Kamu adalah gadis baik yang pernah saya kenal, tapi dengan kejadian ini, pandangan saya berubah terhadap kamu, kenapa kamu melakukan ini?”

Karina hanya menundukkan kepalanya. “Maaf.”

“Bukan kata maaf yang saya inginkan, sayang. Kamu tahu kalau apa yang kamu lakukan ini menyakiti semuanya? Kamu juga terlihat sakit karena hal ini.”

Karina masih menunduk dan hanya mampu diam. Matanya sudah berkaca-kaca, jika boleh jujur, ia memang merasakan rasa sakit. Rasa sakit ketika mendapat penolakan secara terang-terangan dari Darren. Rasa sakit saat lelaki itu tidak berhenti memohon untuk menghentikan pernikan mereka, rasa sakit saat lelaki itu kini berubah menjadi dingin dan datar padanya, inikah yang ia inginkan?

***

Karina masih tidak bisa melupakan perkataan tante Sarah meski kini dirinya sudah berada di hadapan ayah mertuanya. Om Tony juga tampak berbeda terhadapnya, jika dulu lelaki paruh baya itu selalu tersenyum ramah terhadapnya, maka kini sedikit berbeda. Lelaki itu masih tersenyum, tapi sedikit menyiratkan rasa kekecewan terhadapnya.

Karina meletakkan nampan berisi sup buatannya di meja sebelah ranjang yang di tiduri Om Tony, di susul dengan tante Sarah yang kini sudah duduk di pinggiran ranjang.

“Makan sup dulu ya, Karin yang buat supnya.” ucap Sarah dengan penuh perhatian.

“Kamu masak buat saya?” pertanyaan yang di tanyakan Om Tony tersebut terarah pada Karina.

Karina hanya mengangguk pelan. Pikirannya masih penuh dengan berbaagaimacam pikiran aneh yang sejak tadi mengganggunya.

“Terimakasih.” Om Tony mengucapkan kalimat tersebut sebelum ia memposisikan dirinya setengah duduk dan mulai menyantap sup buatan Karina dengan lahap. Karina tersenyum menatap pemandangan tersebut. Om Tony dan Tante Sarah mungkin sangat kecewa terhadap ia dan keluarganya, tapi setidaknya mereka tidak membencinya. Apa ini setimpal dengan apa yang ia dapatkan?

Tak mau mengganggu kebersamaan kedua mertuanya, Karina akhirnya memilih permisi meninggalkan keduanya. Ketika menutup pintu kamar mertuanya tersebut, Karina di kejutkan oleh kedatangan Evan, Kakak iparnya yang berediri tepat di hadapannya.

“Kak Evan membuatku kaget.”

Evan tertawa lebar. “Kaget kenapa? Kamu kayak maling mengendap-endap gitu.”

“Aku tidak mengendap-endap, aku hanya berusaha tidak bersuara.”

“Sama saja, tahu!”  Evan kemdian melirik jam tangannya. “Jam tujuh nanti aku mau ketemuan sama Dirga, kamu nggak ikut?” tanya Evan.

Karina menggelengkan kepalanya. “Aku di rumah saja, Darren belum pulang juga soalnya.”

“Oke, kalau gitu, apa kamu titip sesuatu sama Dirga? Pesan mungkin?”

Karina tersenyum lembut. “Titip salam saja, bilangin jangan lupa beresin kamarnya yang super berantakan itu.” Karina terkikik geli ketika mengingat betapa joroknya sang kakak, pun dengan Evan yang ikut tertawa mendengar pesan dari Karina untuk kakaknya.

“Oke, aku akan sampaikan.” Dengan spontan Evan mengacak poni Karina penuh dengan kelembutan. Pada saat bersamaan Darren melewati keduanya. Mata lelaki itu menyipit ke arah Karina dan juga Evan.

“Hai, sudah pulang?” sapa Karina, tapi Darren seakaan tidak mengindahkan sapaanya, lelaki itu memilih berjalan tanpa ekpresi menaiki tangga menuju ke arah kamarnya. Karina hanya menatap punggung itu yang semakin menjauh. Kemudian ia menatap ke arah Evan.

“Uum, aku ke atas dulu, ya kak?”

Evan tersenyum lembut kemudian menganggukkan kepalanya. Dan Karina memilih berjalan cepat menyusul Darren ke kamar lelaki tersebut.

***

Cukup lama Karina menunggu Darren hingga lelaki tersebut keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Karina kembali terpesona dengan ketampanan yang terpahat sempurna pada wajah lelaki tersebut.

Dengan gugup, Karina meremas kedua telapak tangannya, ia berdiri dan memberanikan diri bertanya pada Darren.

“Ada yang kamu inginkan?” tantanya lembut.

Darren kembali tidak mengindahkan pertanyaan Karina, ia memilih menyibukkan diri dengan pakaian gantinya.

“Mau kubuatkan makan malam?” Karina masih mencoba bertanya tapi Darren seakan terlalu malas menanggapi pertanyaan Karina.

Karina kemudian berdiri dan berjalan menuju ke arah Darren yang masih memunggunginya menghadap ke arah lemari pakaiannya. Jemari rapuh Karinya terulur hendak menepuk lembut pundak Darren, tapi kemudian secepat kilat pergelangan tangannya di sambar oleh Darren, Darren mencengkeramnya erat lalu menghempaskan tubuh Karina ke lemari pakaiannya dan menghimpitnya di sana.

“Jangan coba-coba menyentuhku.” geramnya.

“Aku hanya mau bertanya, ada yang bisa ku bantu?”

Darren tersenyum sinis, “Kamu mau membantu? Jika iya maka keluar dari hidupku, itu sudah sangat membantuku.”

Mata Karina berkaca-kaca. “Maaf.” Kata itu lagi yang terucap dari bibirnya.

“Maaf katamu? Kamu sudah mengacaukan semuanya dan yang kamu lakukan hanya minta maaf?!” Darren kembali berteriak penuh dengan kekesalan.

“Aku memang salah.”  Karina mulai menangis, tapi itu tidak membuat Darren iba dan mengurangi kekejamannya.

Darren mundur beberapa langkah kemudian menatap Karina dengan tatapan merendahkan.

“Buka bajumu!”perintah itu meluncur begitu saja dari bibir Darren, dan itu membuat mata Karina terbelalak seketika.

“Apa?”

“Kubilang buka bajumu.”

“Ta- tapi.”

“Buka atau aku yang akan merobeknya.” Darren menggeram sambil menggertakkan giginya.

Dengan sangat malu, Karina mulai melucuti pakaian yang di kenakannya sendiri satu persatu, ia merasa sangat malu, ia tidak pernah di lecehkan seperti ini sebelumnya, apalagi dengan lelaki yang sangat di cintainya, bagaimana mungkin Darren berubah seratus delapan puluh serajat seperti sekarang ini?

Karina baru sadar jika dirinya baru saja membuka helai terakhir kain yang di kenakannya. Kini dirinya sedang berdiri telanjang bulat di bawah tatapan melecehkan yang di lemparkan Darren padanya.

Darren kemudian menyeret tubuh Karina lalu mendorongnya hingga jatuk di atas ranjang.

“Kamu ingin bahagia? Maaf, kamu salah orang. Aku tidak akan memberikanmu kebahagiaan.”

Darren membuka juba mandi yang tadi masih ia kenakan hingga kini dirinya sudah berdiri telanjang bulat, sama dengan Karina. Bukti gairah lelaki itu terpampang jelas, hingga membuat pipi Karina memerah ketika menatapnya.

Dengan kasar Darren memposisikan dirinya untuk menyatu dengan tubuh Karina.

“Rasa sakit, aku hanya akan memberimu rasa sakit, Karin, hingga aku yakin suatu saat nanti kamu memohon supaya aku meninggalkanmu.”

Darren mulai mendesak, dan Karina mulai meringis kesakitan. Lelaki itu memaksa masuk tanpa melakukan pemanasan apapun dan itu membuat Karina merasakan sakit yang amat sangat.

“Jangan di teruskan.” Pintanya sembari mendorong tubuh Darren menjauh.

Kemudian tangan Darren menyambar kedua pergelangan tangan Karina, lalu memenjarakannya di atas kepala wanita tersebut.

“Kenapa? Sakit? Kamu tahu bahwa ini juga yang sedang kurasakan ketika aku menikahimu, aku juga sakit, sialan! Aku sakit ketika melihat wanita yang kucintai menangis melihat pernikahan sialanku!”

Darren mendesak lagi, dan Karina mulai merintih kesakitan. Bibirnya kemudian di bungkam oleh Darren, bukan dengan bibir lelaki tersebut, tadi dengan sebelah tangan lelaki tersebut, sedangkan sebelah tangannya lagi sibuk memenjarakan pergelangan tangan Karina.

Karina meronta di bawah kuasa Darren. Tubuhnya terlalu kurus dan lemah untuk melawan lelaki berotot di atasnya tersebut. Tanpa aba-aba, Darren menghujam semakin keras hingga mampu menyatu sepenuhnya dengan tubuh Karina.

Karina meronta, menangis dengan kekejaman yang di lakukan Darren terhadapnya. Ia masih tidak menyangka, Darren, sahabat yang sangat ia cintai kini berubah menjadi monster di hadapannya.

“Selamat datang di neraka!” bisik Darren sebelum menghujam lagi dan lagi untuk mencari kepuasannya sendiri tanpa menghiraukan Karina yang mulai menangis menjadi dengan menahan nyeri yang begitu terasa di tubuh dan juga hatinya.

***

Karina kembali bangun kesiangan. Kali ini bahkan sampai jam setengah sembilan, dan ia baru bangun. Tubuhnya benar-benar terasa remuk karena perlakuan Darren semalam bahkan sampai menjelang pagi.

Ini sudah lebih dari dua minggu setelah Darren merenggut apa yang di miliki Karina dengan sangat kejam. Dan sejak saat itu, lelaki itu sekan tidak mau berhenti menyentuh Karina dengan kasar. Karina tentu tahu alasannya, apa lagi jika bukan membuat Karina menyerah dan ingin berpisah dari Darren. Tapi Darren salah, sekasar apapun lelaki itu terhadapnya, Karina akan berusaha sesabar mungkin menghadapinya.

Karina bangun kemudia merasa sekujur tubuhnya ngilu, bahkan ada beberapa bagian yang terasa pedih. Ia melirik ke arah pundaknya yang di sana sudah terlihat memar-memar bekas cengkeraman keras dari Darren.

Lelaki itu benar-benar sangat kasar. Tidak pernah melakukan pemanasan hingga selalu membuat Karina kesakitan. Karina bahkan sama sekali tidak pernah merasakan kenikmatan surgawi yang tertulis di novel-novel romantis yang pernah ia baca.

Karina bangkit dan sedikit terhuyung ketika mendapati tubuhnya semakin remuk saat ia bangun. Seperti biasa, Darren sudah tidak berada di dalam kamar mereka, lelaki itu selalu berangkat pagi bahkan sebelum Karina bangun.

Akhirnya, dengan tertatih Karina menuju ke arah kamar mandi, tempat dimana dirinya bisa menangis sepuasnya. Tapi ketika ia sampai di depan pintu kamar mandi, pintu tersebut terbuka dari dalam dan menampilkan sosok tampan yang kini menjadi sosok yang menakutkan bagi Karina, ya, siapa lagi jika bukan Darren, suaminya.

Kenapa lelaki itu masih di rumah? Pikir Karina yang kemudian hanya bisa menundukkan kepalanya.

Darren sendiri hanya berdiri dengan tatapan penuh keangkuhan. Ia sudah tampak segar karena baru selesai mandi. Ini adalah hari minggu jadi dirinya tidak perlu bangun pagi untuk ke kantor. Tatapan Darren menelusuri tubuh kurus di hadapannya yang tampak sangat berantakan.

Rambut wanita itu masih berantakan, kulit pundaknya yang putih pucat terpampang jelas karena wanita itu hanya mengenakan selimut untuk membalut tubuh telanjangnya.

“Masih bertahan, Eh?” Darren bertanya dengan sinis tanpa mempedulikan ekspresi sendu pada wajah wanita di hadapannya tersebut.

“Aku mau mandi.” Lirih Karina dengan suara seraknya.

“Aku belum selesai.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Darren lantas menyambar pergelangan tangan Karina, menyeret Karina masuk ke dalam kamar mandi, mengunci diri mereka berdua di dalamnya.

Dengan kasar Darren menyambar selimut yang sejak tadi membalut tubuh ringkih di hadapannya lalu terpampang jelas di hadapannya tubuh sang istri yang lebih kurus dari sebelumnya.

“Apa aku sudah menyiksamu?”

Karina menggeleng pelan.

“Jadi kamu masih belum mau menyerah?”

Lagi-lagi Karina menggelengkan kepalanya. Secepat kilat Darren mendorong tubuh Karina, membaliknya hingga menatap ke dinding, kemudian mengangkat sebelah kali wanita tersebut, dan tanpa aba-aba ia kembali menenggelamkan diri dalam balutan sutra nan lembut dari tubuh istrinya tersebut.

Karina mengerang, seperti biasa, ia merasakan nyeri karena Darren tidak melakukan pemanasan apapun. Sedangkan Darren sendiri seperti sudah tidak peduli dengan apa yang di rasakan Karina. Ia terlalu muak dengan wanita itu, dengan wajah sok polos yang selalu di tampilkan wanita itu, padahal ia tahu jika hati wanita itu sangat licik.

Darren mengujam lagi dan lagi. Matanya menelusuri sepanjang punggung belakang Karina yang terpampang jelas di hadapannya. Wanita itu sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. Beberapa berwarna merah kebiruan yang ia yakini semua itu karena ulahnya.

“Semua ini karenaku?” tanpa sadar Darren menanyakan kalimat tersebut. Karina tidak bersuara. Ia masih sibuk dengan ras sakit yang bersumber dari tubuh Darren.

Darren menghentikan pergerakannya, jemarinya menelusuri beberapa warna merah kebiruan yang ada pada pundak dan pinggang Karina.

“Aku menyayangimu, Karin, aku menyayangimu karena kamu sahabat terbaikku, tapi kenapa kamu membuatnya menjadi sulit? Aku tidak ingin menyakitimu, tapi kamu sendiri yang secara tidak langsung memaksaku menyakitimu. Dan maaf, aku tidak bisa berhenti menyakitimu.”

Darren bergerak kembali dan Karina kembali menangis. Menangis karena ia sadar jika ia sudah kehilangan sosok Darren Pramudya, sahabat yang menyayanginya dan selalu ada untuknya. Kini sosok tersebut sudah berubah, sosok tersebut sangat membencinya, dan Karina tahu, jika semua itu karena keegoisannya untuk memiliki lelaki tersebut.

 

-TBC-

nantikan chapter 3 -Mulai mengganggu-.. ciyeee yang abis belah duren.. ciyee… wakakakkakakaak

Sang Pemilik Hati – Chapter 3 (“Kita akan berkencan”)

Comments 3 Standard

Sang Pemilik Hati

“Tapi saya punya syarat untuk kamu, untuk menjadi penutup mulut saya.” Lanjut Yoga yang seketika itu juga membuat Nana menatap Yoga dengan penuh tanya.

Syarat? Syarat apa? Kenapa lelaki yang baru di kenalnya itu mengajukan syarat padanya? Yang benar saja.

“Syarat? Syarat apa, Mas?”

Entah dari mana Nana berani memanggil lelaki itu dengan panggilan ‘Mas’, selama ini Nana hanya memanggil kakaknya dengan penggilan itu, tidak ada lagi lelaki yang di panggilnya dengan panggilan tersebut, tapi dengan Yoga, entah kenapa ia ingin memanggil lelaki itu dengan panggilan yang menurutnya lebih akrab di dengar.

“Nana.”

Lelaki itu kembali memanggil nama Nana dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya. Dan itu membuat Nana menatap penuh tanya pada lelaki tersebut.

“Jadilah kekasih saya.”

Dan tiga kata tersebut sontak membuat Nana membulatkan matanya seketika. Menjadi kekasihnya? Kekasih seorang Prayoga yang memiliki ketampanan di atas rata-rata? Kekasih Prayoga, yang ternyata kakak dari orang yang kini menjadi pacarnya? Oh apa lagi ini? Tidak cukupkah kehidupan di sekolahannya berantakan karena seorang Rino Permana? Dan kini seakan Tuhan menambah lagi sesosok Prayoga untuk kembali membuat hidupnya semakin jungkir balik karenanya. Apa ia memiliki kesalah di masa lampau hingga Tuhan menghukumnya dengan cara menggelikan seperti ini? Oke, ini berlebihan. Tapi demi Tuhan, seorang Rino saja sudah mampu membuat jantungnya jumpalitan tidak keruan, apalagi di tambah dengan seorang Prayoga?

***

Chapter 3

-“Kita akan berkencan”-

 

Nana masih membatu karena ucapan lelaki yang duduk di sebelahnya tersebut. ‘Jadilah kekasih saya’ , apa maksudnya? Pacaran?

“Kamu mendengar saya, kan, Na?” tanya Yoga lagi.

“Uum, itu, anu.”

“Apa?” tanya Yoga sambil tersenyum lembut, dan Nana semakin di buat salah tingkah dengan senyuman yang di berikan Yoga padanya.

“Mas Yoga kok ngomong gitu.”

“Ngomong apa?”

“Tadi, yang ‘jadilah kekasih saya’. Nana nggak ngerti.”

“Maksudnya, Mas pengen kamu jadi pacar Mas Yoga.”

“Tapi kan, Nana sudah punya-”

“Ya, saya tahu. Tapi apa saya nggak boleh berharap sedikit saja?” Yoga masih tersenyum ketika mengucapkan kalimat tersebut.

“Tapi-”

“Pikirkan saja dulu.” Pungkas Yoga. “Ngomong- ngomong, kamu beneran pacaran sama Rino?”

“Uum, aku nggak tahu Mas, Kak Rino memaksaku gitu aja, padahal kami tidak saling kenal dekat sebelumnya.” Nana menundukkan kepalanya.

“Tapi kamu suka sama dia, kan?”

“Uum…” Nana tidak tahu harus berkata apa. Ia memang sempat menyukai Rino dulu, tapi entah dengan sekarang.

“Tidak apa-apa. Saya tidak memaskamu untuk berhenti menyukainya. Saya bahkan senang kalau dia mendapatkan gadis seperti kamu.”

Nana tampak bingung. Lalu apa yang sebenarnya di inginkan lelaki di hadapannya tersebut? Kenapa lelaki itu menginginkan ia menjadi kekasihnya dan di sisi lain mendukungnya menjadi kekasih adiknya? Benar-benar membingungkan.

“Tapi Nana, maukah kamu menemani Mas Yoga ketika Mas ada di Jakarta saat weekend seperti sekarang ini?”

“Maksud Mas Yoga?”

“Saya tinggal di Surabaya, dan hanya ke Jakarta saat Weekend seperti ini, jadi, maukah kamu jadi kekasih saya saat saya berada di Jakarta seperti saat ini?”

“Uum.”

“Pikirkan saja, besok saya kembali main ke sini lagi.”

Pada saat bersamaan, Bian datang. “Jadi, apa saja yang kalian bicarakan?” tanya Bian yang terlihat ingin tahu.

“Gue hanya tanya tentang sekolahnya.”

“Hanya itu?” Bian kemudian tertawa lebar. “Kapan lo majunya, Ga?”

Yoga berdiri seketika, “Udah, gue mau pulang, sudah malam. Besok ke sini lagi.”

“Nggak pamitan nih, sama Nana?” goda Bian.

Yoga tersenyum kemudian menatap Nana dengan tatapan lembutnya. “Mas pulang dulu, besok ke sini lagi.” Pamitnya dengan suara lembut. Sedangkan Nana hanya mampu mengangguk tanpa menghilangkan rona merah di pipinya.

***

Malamnya, Nana sudah tidak bisa tidur lagi. Pikiran tentang Yoga menyeruak dalam ingatannya. Cara lelaki itu bicara, cara lelaki itu tersenyum, cara lelaki itu menatapnya dengan tatapan lembutnya benar-benar membuat Nana terpengaruh.

Suara lelaki itu seakan menggema di telinganya, ia tak dapat melupakan setiap kata yang terucap dari bibir lelaki tersebut.

‘Jadilah kekasih saya.’

Kata itu di ucapkan dengan begitu sopan dari bibir Yoga. Oh, apa ia harus menerima permintaan Prayoga? Menjadi kekasih lelaki tersebut saat Weekend tiba? Bisakah? Lalu bagaimana dengan Rino? Ahh, persetan dengan lelaki itu. Lelaki itu bahkan selalu memperlakukannya dengan kasar.

Nana bahkan yakin jika rasa sukanya pada Rino kini semakin terkikis karena perlakuan semena-mena dari lelaki tersebut. Berbeda sekali dengan Yoga yang selalu memperlakukannya dengan sangat lembut. Ahh, Yoga lagi.

Nana menutup wajahnya dengan sebuah bantal kemudian berguling ke sana kemari. Jantungnya masih tak berhenti berdebar kencang. Astaga, kenapa bisa seperti ini?

***

Prayoga masih tidak berhenti menyunggingkan senyuman yang membuatnya terlihat semakin tampan. Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan untuknya, akhirnya setelah sekian lama, ia dapat menyatakan perasaannya pada Nana. Menjadikan Nana sebagai kekasihnya meski hanya saat akhir minggu seperti sekarang ini.

Tapi itu bukan masalah, Yoga bahhagia, meski sebenarnya hatinya sedikit menyimpan rasa gundah. Rasa gelisah tentang hubungan Nana dengan Rino, adiknya sendiri. Ia merasa menjadi orang yang paling jahat karena sudah menusuk adiknya dari belakang. Tapi bagaimana lagi, bukankah yang namanya cinta tidak bisa memilih?

Yoga tahu benar jika dirinya memang sudah mencintai Nana jauh sebelum Rino mengenal gadis tersebut, hanya saja ia kalah langkah. Rino lebih dulu memiliki gadis itu, dan itu membuat Yoga mau tidak mau menyembunyikan perasaannya pada sosok Nana Erieska.

Yoga membelokkan mobil yang ia kendarai masuk ke dalam sebuah pelataran rumah mewah, rumah Rino. Ya, meski kini itu juga menjadi rumahnya, baginya rumah itu hanya tempat singgahnya sementara waktu. Ia ingin keluar dari rumah tersebut dan tinggal di rumahnya sendiri nantinya ketika ia sudah memiliki cukup uang. Meski uang yang ia kumpulkan berasal dari perusahaan ayah Rino, setidaknya uang tersebut adalah hasil dari kerjanya, bukan dari meminta-minta pada ayah tirinya.

Sebenarnya Yoga sangat ingin tinggal di rumah tersebut hingga tua bersama dengan keluarga Rino. Ayah Rino sangat menyayangi dirinya dan juga ibunya, begitupun dengan Kesha, adik tirinya tersebut juga sangat menyayanginya, hanya saja, Rino seakan selalu mencari alasan untuk membencinya. Bukan salah Rino, bagaimanapun juga itu salah ia dan ibunya.

Setelah menghentikan mobilnya di garasi rumahnya, Yoga keluar, dan seketika itu juga sosok manja menghambur dalam pelukannya, siapa lagi jika bukan Kesha.

“Mas Yoga dari mana saja? Nggak seru ah, masa Kesha di tinggal.” Gadis manja itu memanyunkan bibirnya.

“Dari jalan sebentar, masa mas Yoga nggak boleh jalan, sih?”

“Boleh, sih, tapi aku kan juga pengen ikut.”

“Ya sudah, nanti mas ajak kamu jalan, deh.” Dan akhirnya keduanya masuk ke dalam rumah.

“Mas, tadi aku nggak sengaja lihat pintu kamar Mas Yoga kebuka, terus aku masuk. Kupikir mas Yoga ada di dalam, tapi ternyata nggak ada. Tapi aku sempat lihat ada foto.”

Tubuh Yoga menegang seketika. “Foto apa?”

“Uum, itu, kok ada foto pacar mas Rino di sana.”

“Oh, mungkin kamu salah lihat.”

“Aku nggak mungkin salah lihat, Mas.”

Yoga menghentikan langkahnya. “Kesha, harusnya kamu tidak masuk ke dalam kamar mas, bagaimanapun juga itu melanggar privasi orang.”

“Aku kan nggak sengaja, Mas. Masa gitu aja mas Yoga marah. Saat itu aku juga nggak sengaja lihat mas Rino masuk kamar mas Yoga, tapi mas Yoga biasa saja tuh sama mas Rino.” Kesha sedikit menggerutu kesal karena Yoga terkesan marah padanya.

“Tunggu dulu, Rino? Masuk ke dalam kamarku? Kapan?”

“Nggak tahu, aku sudah lupa.”

“Kesha, kamu beneran lihat Rino masuk sana atau itu hanya karangan kamu saja?” Yoga benar-benar tampak serius dengan pertanyaannya.

“Ya, memangnya kenapa kalau gue masuk sana?” suara tersebut membuat Yoga dan Kesha menolehkan kepalanya menuju sumber suara tersebut. Di sana sudah ada Rino yang berdiri penuh dengan keangkuhan.

“Ngapain kamu ke kamarku?” Yoga bertanya dengan nada dinginnya.

“Bukan urusan lo.” Dan Rino pergi begitu saja, tapi Yoga tidak tinggal diam. Ia menyusul adiknya tersebut hingga keduanya kini berada di balkon lantai atas rumah mereka.

“Apa yang kamu lakukan di kamarku?” tanya Yoga lagi ketika keduanya sudah sampai di balkon lantai dua.

“Kenapa? Lo khawatir gue tahu kalau lo naksir cewek gue?”

Yoga hanya membatu dengan apa yang di katakan Rino. “Aku nggak bermaksud suka dengan perempuan yang kamu sukai, aku menyukai Nana sejak lama.”

“Ya, gue tahu, tapi sekarang dia sudah jadi milik gue.”

Yoga terdiam sebentar. “Tunggu dulu, kamu tahu? Jadi kamu tahu kalau aku suka dengan Nana, tapi kamu tetap menjadikan dia sebagai pacar kamu?”

Rino tidak menjawab, dia hanya tersenyum miring dengan apa yang di katakan Yoga.

“Atau jangan-jangan kamu sengaja memacarinya karena tahu aku menyukainya?”

“Bukan urusan lo.” Rino bersiap pergi meninggalkan Yoga, tapi kemudian langkahnya terhenti saat mendengar apa yang di katakan Yoga.

“Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Nana, kalau kamu benar-benar menyukainya, maka lanjutkan, tapi kalau kamu mendekati dia hanya untuk membuatku sakit hati, maka lupakan. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Nana.” Yoga memperingati Rino dengan penuh penekanan.

***

Rino membanting pintu kamarnya keras-keras. Rasa kesal selalu menyelimuti ketika ia berhadapan dengan Yoga, kakak tirinya. Dendam karena keretakan rumah tangga orang tuanya serta kematian ibunya masih menghantui dirinya. Membuat Rino tidak bisa bersikap sedikit lebih ramah pada Yoga.

Sial! Apa saja akan ia lakukan demi membuat kakaknya itu hancur.

Rino sebenarnya sudah tahu jika Yoga menyukai Nana. Saat itu, ia memang sengaja memasuki kamar Yoga ketika Yoga masih berada di Surabaya. Bukan tanpa alasan, ia memang ingin menjatuhkan kakak tirinya tersebut dengan cara apapun. Tapi ketika ia memasuki kamar lelaki tersebut, tidak ada apa-apa di sana yang bisa membuat Rino menjatuhkan Yoga.

Yoga adalah lelaki yang pintar, ia tidak pernah melakukan sedikit kesalahan karena suatu kecerobohannya, dan itu membuat Rino sulit untuk menjatuhkan kakak tirinya tersebut. Hingga kemudian, ia melihat foto itu, foto yang terpajang di meja kecil tepat di sebelah ranjang Yoga.

Itu Nana, gadis yang dulu sempat di gosipkan menyukainya. Apa Yoga menyukai gadis tersebut? Bagaimana bisa? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya saat itu.

Akhirnya Rino memutuskan menyusun rencananya sendiri, rencana untuk membuat Yoga tersakiti. Rino sangat yakin jika Nana adalah orang yang special untuk Yoga, jika tidak, maka tidak mungkin lelaki itu memasang foto Nana di kamarnya. Lalu ia memutuskan mendekati Nana, bahkan memaksa gadis itu menjadi pacarnya untuk mencari tahu, sebenarnya ada hubungan apa antara Nana dan Yoga.

Dan kini, Rino hampir mengetahui semuanya. Dari yang terlihat dalam ekspresi kakak tirinya tadi, Yoga terlihat seperti orang yang rela memberikan seluruh hidupnya untuk Nana. Apa Nana adalah gadis yang di cintai lelaki tersebut? Apa Nana adalah sumber kebahagiaan lelaki tersebut? Jika iya maka Rino akan menghancurkan semuanya, ia akan membuat Nana menderita jika itu juga dapat membuat Yoga menderita.

Rino tersenyum miring ketika berbagai macam rencana licik  menari di kepalanya. Tidak, itu terlalu mudah untuk Yoga jika ia hanya membuat Nana menderita, bagaimana jika ia bermain-main sebentar dengan gadis tersebut? Mengacaukan perasaannya mungkin, ah, pasti menyenangkan sekali melihat Yoga tidak berdaya ketika melihat gadis yang di cintai lelaki tersebut di permainkan oleh adiknya sendiri.

***

Besok sorenya…

Yoga benar-benar datang kembali ke rumah Nana. Ia masih mengenakan kemeja yang sangat rapih, dengan wajahnya yang berseri, apa karena akan bertemu lagi dengan Nana makanya ia tak berhenti berseri-seri? Mungkin saja.

Setelah cukup lama ia duduk di ruang tamu rumah Nana dengan Bian, akhirnya datang juga gadis yang di nanti-nantinya tersebut. Nana turun dari lantai dua, gadis itu tampak sangat cantik dan manis dengan jumpsuit pendek ala anak remaja pada umumnya. Rambut Nana di ikat dengan sebuah pita, tapi gadis itu juga mengenakan bandana cantiknya hingga membuat gadis itu tampak begitu imut dan manis.

Wajah gadis itu merah merona, mungkin karena tatapan yang di berikan Yoga padanya. Tapi Yoga tidak peduli, yang ia pedulikan adalah jantungnya yang berdebar semakin menggila, napasnya yang memburu begitu saja, dan juga aliran darahnya yang seakan di aliri oleh ribuan voltase listrik. Oh, bagaimana mungkin ia merasakan perasaan seperti ini hanya pada seorang Nana Erieska?

“Woi, malah bengong lagi, yuk ah, berangkat, nanti filmnya keburu mulai.” Ajak Bian. Dan Yoga baru sadar jika sejak tadi dirinya melamun sembari menatap ke arah Nana tanpa berkedip sedikitpun.

“Oke, kita berangkat sekarang.” Jawab Yoga.

Bian sudah berjalan lebih dulu, sedangkan Yoga memang berniat menunggu Nana. Malam ini mereka memang  berniat menonton bersama di bioskop. Nana dengan Yoga, sedangkan Bian dengan Friska, kekasihnya.

Nana menundukkan kepalanya ketika berada di hadapan Yoga. Ia sedikit salah tingkah ketika mendapati Yoga yang tidak berhenti menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Kamu cantik.”

Ucapan Yoga membuat Nana mengangkat wajahnya seketika. Matanya terpaku pada mata Yoga yang terlihat berbinar, senyuman lelaki tersebut benar-benar menggetarkan hati siapapun yang melihatnya. Nana terpesona dengan ketampanan yang terpahat sempurna di wajah lelaki di hadapannya tersebut.

“Terimakasih.” Hanya itu jawaban Nana sembari menundukkan kepalanya kembai.

Tanpa meminta izin pada Nana, Yoga meraih jemari Nana, menggenggamnya erat-erat, kemudian mengajak Nana berjalan menyusul Bian ke luar rumah.

“Ayo.” Ajak Yoga.

Nana terpaku melihat jemarinya yang di genggam erat oleh lelaki tersebut, kemudian dengan spontan ia bertanya, “Kita akan kemana?”

Yoga menoleh kembali ke arah Nana kemudian tersenyum lembut pada Nana sembari menjawab. “Kita akan berkencan.”

Dan setelah kalimat Yoga tersebut, debaran jantung Nana mulai menggila kembali. Berkencan? Dengan lelaki yang super sempurna ini? Apa ini hanya mimpi? Pikirnya.

 

-TBC-

Mengenangnya (With Sani)

Comments 2 Standard

Mengenangnya (With Sani)

Mengenangnya [With Sani]

 

 

Halo.. ketemu sama aku lagi. Hehehehe oke, alasan pertama kenapa aku menulis ini, karena ternyata kemaren banyak yang baca kisahku dengan Kai, bahkan nada beberapa Reader yang inbox atau chat aku tanya apa sih hadiah yang di berikan Kai untukku? tapi maafffff bgt, aku nggak bisa bilang.. wkwkwkwkkwkwk

Sebagian dari mereka juga penasaran dengan kisahku yang lainnya dengan Sani, atau bahkan Alif. So, aku akan coba bercerita seingatku ya…

ya, ini nyata, kisah nyata tapi ku ceritakan dengan bumbu drama hingga kalian bisa menikmatinya….. dan aku bercerita semampu kepalaku mengingat.

Aku lupa, tepatnya kapan aku kenal dengan Sani. Yang pasti saat itu aku masih SMA kelas 1 di sebuah sekolahan Islam menengah atas di daerah rumahku –yang di desa-. Biasanya, ketika aku berangkat sekolah atau pulang sekolah, aku mengendarai motorku dengan membonceng temanku. Kami biasanya bergantian, misalnya hari ini aku bawa motorku, maka besok temanku itu membawa motornya. Dan bukan hanya satu teman, tapi kami bergantian dengan Lima temanku lainnya.

Setiap kali aku pulang sekolah dengan temanku yang bernama Dewi, pasti aku tidak langsung pulang. Dewi selalu mengajakku mampir ke sebuah peternakan ayam yang memang tidak jauh dari sekolah kami. Untuk apa? Tentu saja untuk menemui kekasihnya.

Dewi, temanku yang satu itu terkenal dengan kecaantikannya, banyak sekali yang menyukai temanku itu, bahkan rela di jadikan yang kedua atau ketiga. Ahh mengenangnya, aku jadi merindukan sosok Dewi. Tentu saja saat ini dia sudah menikah dan sudah memiliki seorang putera yang tampan.

Balik lagi ke cerita. Dewi mengajakku ke sebuah peternakan untuk menemui seseorang. Namanya Sani. Ahh, namanya benar-benar tidak seperti orangnya.

Sani memiliki wajah yang biasa-biasa saja, rambutnya sedikit panjang, beranting, serta memiliki beberapa tato. Ketika itu aku belum mengenal lelaki sebelumnya, dan saat pertama kali melihat Sani, aku takut.

Ya, tentu saja. Dia terlihat seperti preman. Dan astaga, aku masih nggak percaya kalau aku pernah menyukainya. Ooppss…

Sekali dua kali aku bertemu dengan Sani, aku merasa biasa-biasa saja. Bahkan aku memasang wajah cuek dan jutekku seakan tidak ingin mengenal dia atau teman-temannya. Tapi ketika aku melihatnya berkali-kali, yang kurasakan adalah rasa Iba untuknya.

Sani benar-benar menyukai Dewi. Aku tahu itu. Apapun yang di inginkan Dewi, pasti di turutin oleh Sani. Dewi sendiri terlihat hanya memanfaatkan Sani, karena saat ku tanya apa hubungan mereka, Dewi hanya bilang jika mereka tak lebih dari teman. Hanya saja… Ah, Sani terlalu menuruti apa mau Dewi. Aku kasihan terhadapnya.

Suatu malam, saat aku dan teman-temanku berkumpul bersama di rumah Dewi, Sani datang dengan seseorang.

Dia terlihat tampan di mataku, dan… pendiam.

Namnya Alif. Ya, Dia Alif. Lelaki yang kini sudah sah menjadi suamiku dan ayah dari puteri kecilku.

Kembali lagi ke cerita, saat itu aku terkejut, karena tiba-tiba teman-temanku meninggalkanku hanya berdua dengan Alif. Ada apa ini? Pikirku saat itu, dan dua hari kemudian aku baru tahu jika mereka memang sengaja menjodohkanku yang masih Jomblo ini dengan seorang Alif.

Astaga, jangan di tanya bagaimana suasana pertamaku dengan Alif saat itu. Dia pendiam, super pendiam malah, dan aku benar-benar tidak tahu harus membahas apa dengannya saat itu.

Ahh lupakan!!! Aku malu kalau mengingatnya. Hahahhaha.

Dua hari kemudian, Sani menghubungiku. Aku terkejut saat mendapati dia mempunyai nomor ponselku saat itu. Dan ternyata dia memang sengaja meminta nomorku dari Dewi.

Aku tahu, Sani hanya berbasa-basi saja saat itu, karena setiap kali nomornya menghubungiku, maka yang berbicara bukanlah Sani, tapi Alif. Ya, Alif memang selalu numpang pada Sani saat meneleponku. Dia tidak memiliki Handphone saat itu.

***

Malam itu, seingatku mungkin saat itu tengah malam. Nomor Sani kembali menghubungiku. Kupikir itu adalah Alif yang meminjam Hp Sani, tapi ternyata, itu benar-benar Sani yang berbicara denganku.

“Jen, sedang apa?”

“Sedang apa lagi? Tidur lah.” jawabku ketus

“Aku mau cerita.” Aku mengerukan kening ketika mendengar suara Sani yang sedikit aneh. Ahh dia seperti orang yang…. Mabuk.

“Aku ngantuk San, besok aja.” Aku kembali menjawab dengan nada ketus.

“Kenapa semua menjauhiku?” tanyanya yang seketika itu juga membuatku tercenung.

“Semuanya? Apa maksudmu?”

“Dewi, kamu, dan semuanya tidak ada yang peduli padaku, kenapa?”

“Udah ah, aku mau tidur, kamu mabuk, aku malas ngomong sama kamu.”

“Aku hanya menyukainya, apa dia tidak bisa sedikit membalas cintaku?” aku kembali terdiam cukup lama dan membiarkan Sani berceloteh tentang kisahnya.

Satu hal yang kusadari malam itu, jika Sani ternyata sangat menderita. Cintanya tak terbalas, dia ingin melupakan Dewi, tapi nyatanya dia tidak bisa, dan itu menumbuhkan suatu rasa di dalam dadaku yang entah aku sendiri tidak tahu rasa apa itu. Hingga kini, aku benar-benar menyesalinya karena telah menumbuhkan rasa itu.

***

Malam itu bukanlah malam terakhir Sani menghubungiku, karena setelah itu, hampir tiap malam dia meneleponku hingga jam 3 dini hari.

Nenekku bahkan tidak berhenti mengomel ketika Sani meneleponku tengah malam. Tentunya Sani meneleponku tanpa sepengetahuan Alif. Aku benar-benar merasa dekat dengannya. Di balik sosoknya yang seperti preman, ternyata dia adalah orang yang penyayang.

Sani masih terus mengejar Dewi, sedangkan aku sendiri masih dalam masa pendekatan dengan Alif. Hingga suatu hari, Alif menyatakan perasaan cintanya padaku. Entah itu cinta beneran atau hanya pura-pura. Tapi yang ku lakukan saat itu hanyalah menerimanya.

Ya, akhirnya aku jadian dengan Alif.

Sosok Sani tiba-tiba menjauhiku. Dia tak pernah lagi menghubungiku. Dan akupun mulai melupakannya.

***

Waktu berlalu cepat. Alif meninggalkanku, kemudian sosok Kai hadir menemani hari-hariku.

Entah apa yg saat itu terjadi pada Alif hingga dia pergi. Dia hanya pernah bercerita jika dia memiliki masalah dengan keluarganya. Tapi saat kutanya masalah apa? sampai saat inipun dia tak pernah mau menjawabnya.

Kai hanya mampir sekejap dalam hidupku. Dia pergi dan kembali menorehkan luka di hatiku. Aku kembali patah hati, dan salah satu temanku lagi-lagi mengenalkanku dengan seseorang.

Dia Randy.

Aku biasa memanggilnya Kak Ran. Dalam waktu dekat kami sangat akrab karena saat itu dia juga sedang dalam masa patah hati dan katanya, aku adalah teman yg baik ntuk mengalihkan rasa patah hatinya. Dia lelaki yang baik, tapi bagiku, dia sedikit Psyco, dan menakutkan bagiku hingga kini.

Ketika aku dekat dengan Kak Ran, Sani kembali mengusik hidupku. Setiap malam dia tidak berhenti menghubungiku, bercerita banyak padaku, dia seakan mendekatiku dan yang paling gila, setiap kali mabuk, dia menuju ke rumahku. Oh yang benar saja. Saat itu, aku yang hanya tinggal dengan nenekku (karena ibu dan ayahku sudah lebih dulu merantau ke samarinda) benar-benar ingin menghilang dari muka bumi ini. Bisa di bayangkan, bagaimana reaksi nenek ku yang memiliki sikap kuno. Ahh, dia tidak berhenti marah dan mengomel padaku.

Aku benar-benar membenci Sani atas kejadian itu. Dia gila, dan aku juga kembali gila karenanya.

Meski saat itu aku sedang dekat dengan Kak Ran, tapi Sani mencuri kembali hatiku, aku benar-benar dibuat gila oleh para lelaki di dekatku.

Alif masih sesekali menghubungiku. Aku masih menyukainya, aku tahu itu. Tapi ketika aku bersama dengan kak Ran, pikiran tentang Alif menghilang. Sedangkan Sani, astaga, dia selalu membuat jantungku cenat-cenut ketika mengingatnya.

Suatu malam, aku masih ingat dengan jelas. Saat itu hari jum’at malam. Sani datang ke rumah temanku yang bernama Lilis. Tentunya dia datang ke sana karena ingin menemuiku yang saat itu sedang belajar kelompok di sana.

Mau tak mau aku menemuinya. Dan ketika aku bertatap muka dengannya, dua kata itu terucap dengan jelas di dari bibirnya.

“Kamu sialan!!!”

Dia mengumpat tepat ke arahku. Rahangnya mengeras, bibirnya menipis, pipinya sedikit berkedut, tatapan matanya menajam, serta tangannya mengepal. Oh apa yg terjadi? Kenapa dia memeperlakukanku seperti itu?

Dua kata itu membuatku tersentak. Aku tidak mengerti apa yg terjadi dengan Sani, kenapa dia terlihat sangat marah denganku?

“Kamu kenapa?” Tanyaku dengan wajah bingung.

Dengan spontan Sani menarik lenganku dan memaksaku menaiki motornya, akhirnya aku mengikuti apa maunya.

Sani memboncengku menuju sebuah jembatan yang cukup sepi. Dia berhenti kemudian berteriak keras di sana. Apa dia gila? Kalau iya aku mau pulang. Karena aku sangat malu saat ada orang lalu-lalang di jalan dan melihat ke arah kami.

“Sani, kamu kenapa? Ada masalah sama Dewi?”

“Dewi, dewi, dewi. ini bukan tentang Dewi, ini tentang kamu Sialan!!!”

Kenapa sama Aku?

Sani mencengkeram rahangku dengan kasar. “Kenapa kamu menyembunyikan semuanya?”

“Apa? Menyembunyikan apa?”

“KALAU KAMU PERNAH SUKA SAMA AKU!!!” Serunya dengan nada yg lantang dan benar-benar kasar.

Aku menangis, cengkraman Sani terasa sakit di kedua pipiku. Sikapnya membuatku takut, belum lagi kenyataan jika dia sedang mabuk. Aku harus bagaimana?

Astaga, dan dari siapa juga dia tahu semua ini? Apa Nana yg bercerita? Karena seingatku, aku hanya bilang sama Nana kalau aku pernah mengagumi sosok Sani.

“Kenapa kamu nggak bilang Jen? Kenapa?”

“Kenapa kamu bilang? Kamu adalah pacar Dewi, mana mungkin aku bilang kalau aku suka dengan pacar Dewi?”

“Pacar?”

“Ya, setidaknya umumnya seperti itu. Dan kamu menjodohkanku dengan Alif, lalu apa kamu pikir aku cukup tidak tahu malu kalau aku meneruskan perasaanku padamu?”

“Aku nggak mau tahu!!! Mulai malam ini kamu jadi punyaku.”

Aku terbelalak dengan ucapan Sani saat itu. “Enggak!!!!”

“Kenapa? Karena si Randy? Aku akan nyuruh teman-teman mukulin dia kalau kamu masih dekat sama dia.”

“Sani, aku nggak mau! Aku sudah nggak suka sama kamu.”

Tiba-tiba Sani melembut. Keningnya di tempelkan pada keningku. dan berkata pelan di sana.

“Aku akan membuatmu suka sama aku lagi. Aku janji.”

Dan pada detik itu aku sadar, jika aku tidak bisa menolak kemauan Sani untuk menjadikan dia sebagai kekasihku.

***

Hari-hari yang ku alami semakin berat. Tidak ada hari selain melihat pertengkaran Sani dengan Randy, mereka bahkan beberapa kali akan adun hantam. dan jika itu terjadi, aku yakin bahwa aku akan berada dalam sebuah masalah.

Alif sendiri sangat jarang menghubungiku, mungkin dia hanya seminggu sekali menghubungiku. Perasaanku padanyapun mulai terkikis. Apa Alif sudah memiliki kekasih lain? Mungkin saja.

Fokusku kini hanya untuk Sani yang semakin gila dan Randy yang memperburuknya. Hingga kemudian, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, mengakhiri hubunganku dengan para lelaki itu.

Aku memutuskan berangkat ke kalimantan, tepatnya di samarinda, dan melanjutkan Sekolah SMAku di sana.

Sani murka. Benar-benar murka!

Dia semakin gila hingga pernah menyusulku ke sekolahan dalam keadaan mabuk. Oh jangan di tanya bagaimana reaksi teman-temanku saat itu saat mendapati Sani mengomel di sana.

Teman-teman bahkan takut menyapa atau membuat masalah padaku karena aku saat itu di kenal sebagai ‘pacar preman’. Oh ya, tentu saja. Aku tidak peduli! Toh aku mau meninggalkan semuanya.

Dewi sendiri sedikit menjauhiku ketika melihat kedekatanku dengan Sani. Dan aku semakin bingung karenanya.

***

Aku ingat, malam itu hari kamis malam, karena jumat pagi aku sudah harus berangkat ke Samarinda.

Sani datang ke rumahku…. dan mau tak mau aku menemuinya. Kamu bertemu di teras rumah yang memang sepi dan sedikit remang karena terhalang pohon-pohon mangga depan rumah.

Dia tidak mabuk, dan dia hanya diam tanpa sedikitpun membuka suara. Tiba-tiba jemarinya terulur menggenggam telapak tanganku.

“Kamu benar-benar akan pergi?” Tanyanya dengan pelan.

“Sepertinya gitu.”

“Jangab pergi Dek, aku… aku sayang kamu.”

Aku mematung dengan apa yang baru saja di katakan oleh Sani. Dia memanggilku dengan panggilan ‘Dek’ seperti yang di lakukan Kai, Alif, maupun Randy. Dan dia bilang sayang?

Sayang???

Please, jangan percaya Jeni…

“Maaf, aku tetap pergi.”

“Kenapa? Karena Alif? Kamu mau ketemuan sama dia di sana?”

“Mana mungkin aku bisa ketemuan? Aku masih sekolah, dan Samarinda Bontang itu jauh. Lagian ngapain juga aku nemuin orang yang nggak benar-benar sayang sama aku.”

“Kalau gitu tetap di sini, Jen, aku sayang kamu. Jangan pergi.” Dan aku masih membatu. Sisa malam itu ku habiskan dengan Sani yang menggenggam telapak tanganku sesekali menciumi jemariku.

Oh aku masih ingat dengan jelas malam itu…

***

Di Samarinda….

Pertama kalinya aku bepergian jauh hingga membuatku langsung sakit ketika menginjak kota Samarinda. Cuacanya yang bisa di bilang ekstrim membuat daya tahan tubuhku menurun hingga aku sakit selama tiga hari saat itu sampai memegang Hppun sulit.

Ketika aku sembuh dan mulai memainkan Hpku, berbagai macam pesan masuk, yang kebanyakan dari Sani. Dia khawatir, dia marah, dia kesal, karena selama tiga hari itu aku tidak menghubunginya.

Akhirnya aku meneleponnya. Meminta maaf padanya dan betapa terkejutnya aku ketika dia bilang jika saat itu dia sudah berada di Jakarta.

‘Untuk apa aku berada di sana lagi, jika di sana sudah nggak ada kamu? Aku ke jakarta cari uang besar, biar bisa ngelamar kamu nanti saat kamu lulus sekolah, kamu mau, kan?’

Hingga kini kata-kata itu masih dapat ku ingat dengan jelas. Sani mengucapkannya, tapi kemudian dia mengkhianatiku. Dia mengingkari janjinya untuk melamarku.

Entah berapa minggu setelah aku tinggal di Samarinda, Sani sudah mulai jarang menghubungiku, begitupun dengan Alif. Ya, nyatanya Alif masih menghubungiku hingga saat itu, meski aku tidak bisa menamai apa status hubungan kami. Dia jarang –amat sangat jarang menghubungiku.

Aku ingat hari itu minggu malam, karena paginya aku tidak sekolah. Alif Meneleponku. Aku mengangkatnya dengan sangat bahagia. Ya, entah kenapa di telepon Alif merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan untukku, dan aku tidak tahu jika malam itu adalah akhir dari semuanya.

Alif meneleponku, tapi secara bersamaan, dia menambahkan panggilannya pada Sani. (Ya, aku sangat ingat. Saat itu memang sedang trend telepon menyambung seperti itu, jadi misalnya aku di Samarinda, Alif di Bontang, dan Sani di Jakarta, kami bisa teleponan dalam satu sambungan, dengan cara, Alif meneleponku, lalu dia menyambungkan juga dengan Sani. Dan akhirnya kami bertiga bisa ngobrol bersama.)

Alif masih tidak tahu jika aku ada hubungan dengan Sani. Yang dia tahu, sahabatnya itu adalah teman dekatku, penjagaku supaya aku tidak di pacarin lelaki lain. Tapi aku mengkhianatinya, aku juga menjalin kasih dengan Sani. Dan Sani mengatakan hubungan kami pada Alif saat itu.

Percakapan yang tadinya bersahabat berubah menjadi saling mengumpat, Alif tidak berhenti misuh2 (Mengumpat ala orang jawa) ketika Sani berkata jujur jika kami menjalin hubungan di belakangnya. Alif menuntut hubungan Sani dan aku segera putus, dan aku bingung. Aku memilih mengakhiri telepon sambungan tersebut karena tidak tahan dengan cara bicara Alif dan Sani yang sama-sama kasar dan saling mengumpati satu dengan yang lainnya.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Ingin menelepon salah satu di antara mereka, tapi aku tidak berani. Hingga kemudian, besok sorenya Alif menghubungiku kembali.

“Aku sudah bicara sama dia.” Suara Alif benar-benar tidak enak di dengar.

“Bicara apa, Mas?”

“Sani, Kalian sudah nggak boleh saling berhubungan lagi.”

“Kamu kok gitu? Kamu kok seenaknya sendiri? Kenapa kamu ninggalin aku kalau aku nggak boleh sama yang lainnya?”

“Kamu boleh sama siapa aja, tapi jangan sama temanku!” Alif terdengar marah.

“Aku nggak peduli, kalau aku sukanya sama Sani memangnya kenapa?”

“Kenapa? Karena kamu nggak boleh suka sama dia. Kamu cuma boleh suka sama aku!”

Tuuttt… tuuutttt… tuuuttt… telepon terputus. Entah pulsanya habis atau apa aku tidak tahu dan aku tidak peduli. Nyatanya itu adalah terakhir kalinya Alif menghubungiku, begitupun dengan Sani yang sudah tidak pernah lagi menghubungiku setelah malam itu.

***

Aku semakin gila…

Kalimat terakhir Alif malam itu seperti mantera yang mengikatku…

‘Kamu nggak boleh suka sama dia. Kamu cuma boleh suka sama aku!’

Setelah malam itu, Alif menghilang. Lost contac denganku selama dua tahun lamanya. Kenapa dia begitu tega padaku? Dia membuat Sani meninggalkanku, tapi kenapa dia juga ikut meninggalkanku? Aku benar-benar seperti orang gila.

Setiap malam aku menulis surat, membentuk surat itu menjadi perahu kecil, kemudian menghanyutkan perahu itu di sungai tepat di bawah rumah kontrakan Ibuku (Ya, rumah kontrakan ibuku di samarinda memang rumah panggung yang bawahnya adalah sungai yang mengalir, jadi kalau hujan deras kami sering kebanjiran hehheheheh) berharap jika surat itu sampai pada Alif, bukan pada Sani…

Ya… Surat itu untuk Alif….

Alifku yang selalu menyakiti hatiku…

Dia…

Kenapa dia meninggalkanku…

Kenapa dia memisahkanku dengan Sani….

Kenapa dia meninggalkanku lagi…..

***

Agustus 2014…..

 

Ini adalah pertama kalinya aku mengajak Bella, puteri kecilku yang hampir berumur satu tahun, pulang ke kampung halamanku di Lamongan, tentunya kami pulang bertiga dengan Alif, suami yang sudah hampir Empat tahun ku nikahi, suami yang sangat ku cintai tapi sepertinya dia tidak mencintaiku, huehehhehehe.

Sangat menyenangkan karena aku kembali bertemu dengan teman-teman di kampung. Aku bertemu dengan Nana, Dewi, Lilis, dan temanku lainnya yang ternyata juga sudah pada punya anak.

Kami saling bertukar cerita hingga kemudian Dewi bercerita tentang pertemuannya dengan Sani.

Sani, lelaki itu ternyata juga sudah menikah dengan seorang wanita keturunan sunda ketika lelaki itu ke Jakarta pada saat itu. Sani kini bahkan sudah memiliki seorang putera kecil, seperti itulah yang di ceritakan Dewi.

Ya, sejak saat itu, aku memang tidak tahu menahu tentang kabar Sani. Lelaki itu hilang begitu saja bak di telan bumi. Bahkan ketika aku kembali ke kampung halaman dan  menikah dengan Alif, lelaki itu tidak menampakan batang hidungnya, padahal aku sangat berharap jika lelaki itu memberikan kami ucapan selamat.

Alif sendiri sama sekali tidak ingin membahas tentang Sani. Alif selalu acuh ketika aku bertanya tentang Sani, ketika aku mengungkit tentang lelaki itu. Bahkan pernah beberapa kali, Alif marah besar hanya karena aku bilang kalo Sani orang yang perhatian.

Oh, ya, suamiku itu memang tipe orang yang pencemburu, bisa di bilang begitu. Dia cuek, tidak seposesif tokoh-tokoh yang aku ciptakan, dia juga sama sekali tak seromantis tokoh2 tersebut. tapi jika aku membahas tentang lelaki lain sedikit saja, pasti emosinya langsung tersulut. Entahlah, dia aneh.

Hari itu, Aku, Alif dan Bella berencana ke rumah orang tua Alif yang memang berbeda desa dengan desa orang tuaku, kami melewati desa tempat tinggal Sani, dan bisa di tebak, kami melihat lelaki itu.

Sani berbeda, rambutnya sudah tidak panjang lagi, dia tampak lebih bersih, bukan seperti preman yang dulu pernah ku kenal. Mungkin karena dia sudah lebih dewasa, karena sudah meiliki istri dan anak.

Jika kalian bertanya apa yang ku rasakan, maka aku jujur, sedikit berdebar, tapi bukan debar-debar asmara karena ketemu dengan sang pujaan hati, percayalah bukan karena itu. Aku hanya berdebar karena takut dengan reaksi yang akan di tampilkan Alif pada Sani.

Nyatanya, Alif tetap santai, ia bahkan terlihat tidak menghiraukan sahabatnya –atau lebih tepatnya, mantan sahabatnya itu.

Kami sampai di rumah orang tua Alif, dan setelah aku turun dari motor, Alif kembali menyalakan mesin motor yang kami tumpangi tadi.

“Loh mas, kamu mau kemana?”

“Ada urusan sebentar.”

“Kamu ke tempat Sani, ya?”

“Enggak.”

“Ayo ngaku.”

“Pokoknya aku nggak ke sana, tenang aja.”

“Aku nggak tenang kalau kamu keluar sama teman-temanmu.” Ya, tentu saja aku nggak tenang. Walau pendiam, Alif adalah tipe orang pemarah. Saat di desa, entah sudah berapa kali aku mendapati Alif pulang dengan muka babak belur karena tawuran. Ya, dia memang suka sekali tawuran-tawuran nggak jelas seperti itu.

“Sudahlah, percaya aja, aku sudah nggak kelahi-kelahi lagi kok. Kamu kan tahu sendiri, aku sudah berhenti minum sejak ada Bella, dan aku juga sudah berhenti kelahi kayak dulu.”

“Nggak percaya.”

“Oke, kalau aku pulang mabuk atau babak belur, kamu boleh nggak ngasih aku jatah seminggu.”

Kucubit hidung mancungnya. “Itu mah curang, kan aku memang lagi dapet, jadi kamu memang nggak dapat jatah seminggu.” Alif hanya tertawa lebar, tapi dia tetap menyalakan motornya.

“Aku nggak lama, nanti balik lagi kok.” Dan dia pergi begitu saja. Sungguh, aku khawatir, aku khawatir karena aku tahu bagaimana dia dan juga bagaimana Sani.

***

Malamnya…

“Dek..”

“Hemm.”

“Besok ke rumah Sani, yuk.”

Aku yang hampir tidur akhirnya bangun seketika. “Ngapain? Enggak, ah!”

“Bagaimanapun juga dia yang ngenalin kita, Dek, harusnya kita ke sana, silaturahmi, berterimakasih.”

“Bukannya kamu yang selama ini nggak pernah mau bahas tentang dia?”

“Ya, aku salah, tapi tadi siang kami sudah baikan, kok, aku sudah ke rumahnya lagi, dan kami banyak cerita.”

“Enggak, aku tetetp nggak mau, kalau mas mau ke sana, ke sana sendiri aja. Bagaimanapun juga bertemu mantan itu canggung, tahu!” Gerutuku.

“Ya sudah. Terserah kamu saja.” Dan kamipun kembali tidur.

***

Sekitar Februari 2015….

Perasaan menggebu, itulah yang kurasakan saat ini, bukan menggebu karena seks, percayalah. Seks itu sudah menjadi makananku sehari-hari dengan Alif, jadi kami tidak menggebu-nggebu seperti ketika pengantin baru dulu, wakakakkakakak. Kali ini perasaan menggebuku hadir untuk hobby baruku, yaitu menulis.

Ya, aku mulai menulis sejak tahun 2014 akhir. Hanya menulis fansfic korea yang aku share di grup-grup saja. Tapi kemudian ada rasa kurang puas. Dan aku memutuskan untuk menulis dengan suasana baru.

Menulis Novel.

Awalnya aku bingung mau menulis tentang apa. Tapi kemudian ide itu muncul begitu saja ketika aku melihat suamiku yang sedang sibuk memainkan gitarnya.

Aku ingat semua kisah yang kulalui bersamanya hingga aku memutuskan untuk menjadikan kisah kami sebagai inti dari cerita pertamaku.

Cinta dan persahabatan…. itulah temanya.

Dan itu kembali mengingatkanku dengan Sani. Aku mulai menulis, dan ketika aku menulis kisah itu, aku kembali mengingat semua kepingan demi kepingan masalaluku yang mulai sedikit terlupakan.

Dhanni, dan Renno. Dhanni sendiri benar-benar mengingatkanku dengan sosok Alif, sosok yang hingga kini masih setia menemaniku. Sedangkan Renno sendiri, ahhh… andai saja hubunganku dengan Sani bisa sebaik hubungan Nessa dan Renno, mungkin akan sangat membahagiakan, tapi namanya kenyataan pasti tak seindah di dalam novel. Heheheheh.

Tapi aku tidak sedih, meski aku tak dapat lagi mengingat wajah Sani, meski aku mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi, setidaknya dia abadi dalam tulisanku. Ya, Kak Renno tetaplah Sani untukku, aku akan selalu mengingatnya ketika membaca novel pertamaku tersebut.

Buat Alif, Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu, kamu tentu tahu itu. Tapi anggap saja ini satu titik –hanya satu titik dari sisi hatiku yang di tempati oleh lelaki lain.

Lelaki yang bernama Sani, dan juga lelaki lainnya yang pernah singgah di hatiku ketika kamu pergi meninggalkanku.

 

-The End-

 

Zenny Arieffka

16 Maret 2017

Unwanted Wife – Chapter 1 (Saya tidak akan membahagiakannya)

Comments 14 Standard

Unwanted Wife

Awalnya aku hanya iseng membuat cerita ini, cerita ini sudah ku tulis sejak lama dan sudah mendekati ending, kemarin aku iseng share prolog di sini, ternyata ada yang mau baca, so, aku mau share semuanya. bukanlah kisah yang manis, karena aku menulisnya ketika hatiku sedang dalam mood buruk. kemungkinan cerita ini akan menguras airmata, jadi yang nggak suka nangis jangan baca. wkwkkwkwkwk part ini untuk Unnie ofal yang dari kemaren gak berhenti chat aku karena penasaran ama Darren. jadi Un, jangan benci Darrenku setelah ini yaa.. hehehhe happy reading. 🙂

Chapter 1

-Saya tidak akan membahagiakannya-

 

Pernikahan itu benar-benar terjadi. Darren bahkan hanya bisa diam ketika Nadine menangis pilu kepadanya saat ia memberitahukan kabar tersebut pada Nadine. Nadine tidak berhenti memukuli dadanya, merengek supaya ia mencari cara lain, tapi yang bisa di lakukan Darren hanya diam membatu menerima semua pukulan yang di arahkan Nadine padanya.

Kini, hari pertama ia menjadi seorang suami telah di mulai. Bagaimana mungkin Karina tega melakukan hal ini. Setahu Darren, Karina adalah wanita yang baik, cenderung pendiam, tapi beberapa hari yang lalu wanita ibu benar-benar berubah menjadi sosok yang paling ia benci.

Saat itu, Darren menolak secara halus keinginan dari Om Roy, ayah dari Karina. Darren bahkan berkata jika ia mencintai wanita lain, tapi Om Roy seakan tidak ingin tahu. Lelaki paruh baya itu hanya menunjuknya sebagai seorang menantu, bukan menunjuk Evan, kakaknya atau siapapun. Dan ketika Darren bertanya apa alasannya, Om Roy berkata jika puterinya, Karina lah yang telah memintanya menjadikan Darren sebagai suaminya.

Oh, Karina, bagaimana mungkin wanita itu menjadi wanit yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal?

Darren akhirnya memutuskan menghubungi Karina, mengajak wanita itu bertemu, tapi wanita itu seakan menolak ajakannya, seakan tahu jika ia ingin menolak permintaan wanita tersebut. Bukan hanya itu, Nadinepun sudah memohon pada Karina supaya sahabatnya itu mau melepaskan kekasihnya, namun nyatanya, Karina tidak sedikitpun mengindahkan permintaan Nadine dan juga Darren.

Kini, pernikahan itu benar-benar terjadi. Darren benar-benar telah menikahi Karina, meski tanpa cinta, tanpa perasaan sedikitpun, lalu apa selanjutnya? Apa ia akan bahagia bersama dengan wanita tersebut?

“Pagi.”

Mata Darren terbuka seketika saat mendengar sapaan lembut dari wanita yang kini sudah berstatuskan sebagai istrinya.

Darren tidak menjawab, ia hanya terduduk sambil sesekali memijit pelipisnya yang sedikit nyeri.

“Kamu nggak mandi? Aku sudah sediakan sarapan.” ucap wanita itu lagi, dan itu membuat Darren semakin kesal.

Harusnya bukan dia yang menyapanya di pagi hari. Harusnya bukan wanita itu yang menyiapkan sarapan untuknya. Kenapa kini dunia begitu kejam padanya? Pada ia dan juga Nadine?

Dengan kesal Darren bangkit lalu masuk ke dalam kamar mandinya begitu saja tanpa mengindahkan keberadaan Karina yang ada di sana.

Sedangkan Karina sendiri hanya menunduk dan tersenyum menertawakan kepahitan yang ia rasakan saat ini. Inikah yang kamu mau? Di benci oleh orang yang kamu cintai? Pikirnya.

***

Sarapan pertama sebagai pasangan suami istri di lalui Karina dengan sangat tersiksa. Darren, sahabatnya yang kini sudah berstatus sebagai suaminya nyatanya tidak berhenti bersikap dingin dan cuek terhadapnya. Dan itu membuat Karina sakit.

Semuanya bermula sejak beberapa tahun yang lalu, ketika Nadine, salah seorang sahabatnya tersebut bercerita tentang kekasih pertamanya pada Karina. Nadine bercerita jika ia sangat menyukai seorang lelaki, lelaki yang tampan dengan sikap romantisnya. Namanya Garry, Garry sendiri adalah kekasih pertama Nadine dan sejak saat itu, Karina ingin merasakan perasaan cinta seperti sahabatnya tersebut.

Berbeda dengan Nadine yang sangat mudah sekali mendapatkan pendamping karena wanita itu memiliki sikap yang supel, Karina kebalikannya. Ia sangat susah sekali mengenal lelaki, satu-satunya lelaki yang ia kenal dekat adalah Darren, sahabatnya sendiri yang penuh dengan pengertian.

Tidak butuh waktu lama untuk Karina tertarik dengan Darren. Awalnya Karina hanya main-main saja, ingin merasakan perasaan cinta dan berbunga-bunga yang di rasakan oleh Nadine, sahabatnya, tapi kemudian perasaan itu tumbuh semakin besar hingga Karina sulit mengendalikannya.

Ia mulai merasakan rasa benci ketika melihat Darren dekat dengan wanita lain, ia mulai merasa malu-malu saat Darren tak sengaja menatap ke arahnya, dan banyak sekali perasaan aneh yang hingga saat ini Karina rasakan. Hingga kemudian Karina menyadari satu hal, bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada lelaki tersebut. Ia jatuh cinta pada Darren Pramudya, sahabatnya sendiri, dan ia ingin memiliki lelaki tersebut seutuhnya.

Masalah mulai datang ketika ia sadar jika Darren tidak menyambut perasaannya meski Kirana belum pernah sama sekali mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Darren. Lelaki itu jelas menunjukkan dari sikapnya, jika darren lebih perhatian pada sahabatnya, yaitu Nadine, dan Karina tidak suka dengan kenyataan tersebut. Hingga kemudian, Karina memutuskan untuk melakukan hal yang bisa di anggap curang.

Karina meminta sang ayah untuk menjadikan Darren sebagai miliknya, lalu saat itu sang ayah berpikir secara instan, ia berencana membeli saham beberapa investor Pramudya Grup dengan harga yang sangat tinggi, lalu ketika sahamnya lebih besar dari saham yang di miliki keluarga Darren, maka dengan mudah ia mampu memaksa lelaki tersebut menikahi puterinya.

Dan seperti inilah yang terjadi saat ini. Darren benar-benar menikahi Karina, meski pernikahan itu di lakukan dengan sangat terpaksa.

Tiba-tiba Darren berdiri dari tempat duduknya, dan itu membuat Karina tersadar  dari lamunannya. Karina melirik ke arah piring Darren yang ternyata sudah bersih, lelaki itu makan dengan sangat cepat, sedangkan ia melirik ke arah piringnya sendiri yang masih penuh dengan sarapannya.

“Kamu sudah selesai?” tanya Karina sambil ikut berdiri.

“Ya.” Jawaban yang sangat pendek.

Karina melihat Darren menuju ke arah lemari pakaian kemudian mengeluarkan sebuah kemeja kerja lengan panjangnya.

“Kamu mau kemana?”

“Kerja.”

“Kerja? bukannya harus cuti dulu?”

“Cuti? Perusahaan keluargaku sekarang sedang berada di tangan orang, aku tidak mungkin enak-enakan cuti.” Darren menjawab dengan nada sinisnya.

Ia mengenakan kemejanya dengan cepat, memasangan dasinya tanpa banyak bicara, kemudian keluar begitu saja dari dalam kamarnya sendiri.

Ya, setelah menikah, Karina memang tinggal di rumah keluarga Darren. Dan kini, Karina sudah di tinggalkan sendiri di kamar suaminya di hari pertamanya menjadi seorang istri.

***

Ketika Karina keluar dari kamar Darren, lelaki itu sudah tidak ada. Mungkin sudah pergi tanpa pamit, dan itu membuat Karina sedih. Ia membereskan sisa sarapannya bersama dengan Darren tadi, lalu membawa piring-piring bekas itu ke dapur.

Ketika melewati ruang makan, ia bertemu dengan Evan, Kakak Darren yang kini sudah menjadi kakak iparnya. Karina tentu mengenal baik sosok Evan, sosok yang sudah mirip sebagai kakaknya sendiri.

“Pagi kak.” Sapa Karina dengan ramah.

“Pagi.” Jawab Evan, kemudian Evan melirik ke arah piring bekas yang di bawa oleh Karina. “Darren nggak mau makan? Kok sisa makanannya masih banyak?”

Karina melirik ke arah piring bekas di tangannya. “Oh, aku yang nggak habis tadi, Kak.”

“Oh, makan yang banyak, tubuhmu semakin kurus.”

Karina tersenyum mendengar ucapan dari Evan. Ya, lelaki itu memang sering perhatian terhadapnya. Evan merupakan sosok yang sangat baik dan perhatian pada Karina. Lelaki itu juga merupakan sahabat dari Kakak kembar Karina yang bernama Davit dan Dirga  karena ketiganya memang seumuran dan sejak SD selalu satu kelas ketika sekolah.

Tidak jarang Evan membelikan Karina berbagai macam boneka, atau coklat ketika lelaki itu main ke rumah Karina untuk bertemu dengan Davit dan Dirga.

“Davit gimana kabarnya?” tiba-tiba Evan bertanya.

“Oh, Mas Davit masih di bandung sama istrinya, kalau Mas Dirga masih di rumah.”

“Ya, si Dirga kenapa nggak ikut nikah kayak si Davit?”

Karina kembali tersenyum “Kak Evan juga kenapa nggak nikah?” Karina berbalik bertanya.

“Nggak ada yang cocok.”

“Kalau begitu sama dengan Mas Dirga.” Karina terkikik geli. Ia mulai meletakkan piring bekasnya di tempat pencucian piring, lalu mulai mencuci piring-piring tersebut.

“Karin, biarkan saja itu di sana, nanti ada yang bersihin.”

Karina tersenyum. “Aku mau jadi istri yang baik, jadi aku akan mencuci piring bekas suamiku.”

Tanpa di duga, tiba-tiba Evan berjalan menuju ke arah Karina sembari membawa piring bekas tempat sarapannya.

“Kalau begitu, cuci juga punyaku.” Evan menyodorkan piring bekasnya pada Karina.

Karina menatap piring tersebut, kemudian matanya teralih menatap ke arah Evan. Lelaki itu tersenyum lembut padanya dengan mata yang sedikit menyiratkan sesuatu yang tidak bisa di tangkap oleh Karina.

“Kamu mau, kan, menjadi adik ipar yang baik, untukku?” Karina tersenyum. Ia mengangguk dengan bahagia, lalu meraih piring bekas Evan tersebut.

“Tentu saja.” jawabnya. Sedangkan Evan sendiri kemudian tersenyum dengan jawaban yang di berikan oleh Karina.

***

Darren berdiri dengan tegap ketika seorang yang telah di tunggunya telah tiba. Itu Om Roy, lelaki yang kini berstatuskan sebagai mertuanya. Ketika jam makan siang di kantornya berbunyi tadi, ia segera bangkit dan pergi ke kantor ayah Karina. Bukan tanpa alasan, kedatangan Darren ke kantor lelaki paruh baya tersebut tentunya untuk menagih janji lelaki itu untuk segera mengembalikan saham perusahaan keluarganya setelah ia menikah dengan Karina.

“Kamu sudah di sini?” sapa om Roy yang kini sudah kembali duduk di kursi kebesarannya.

“Ya Om.” Darren bahkan terlihat enggan memanggil orang di hadapannya tersebut dengan panggilan Papa.

“Sebegitu ambisinyakah kamu kepada perusahaan keluargamu hingga baru sehari menikahi puteri saya saja kamu sudah mau menagih janji saya?”

“Saya hanya takut om lupa.”

Roy tersenyum miring. “Saya tidak akan lupa, bagaimanapun juga, Papa kamu adalah sahabat saya, saya tidak mungkin menghianati kalian.”

“Tidak mungkin?” Darren mendengus sebal. “Yang Om lakukan saat ini dengan keluarga saya adalah bentuk suatu pengkhianatan.”

Roy tertawa lebar. “Darren, saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk membuat puteri saya bahagia.”

“Benarkah? Jadi menurut Om, saat ini Karin bahagia?”

“Ya, dia hidup bersama dengan orang yang dia cintai.”

Darren tercengang. “Om, om Roy salah paham, Karin tidak mencintai saya, Om, jadi saya mohon, akhiri semua kegilaan ini.”

“Maaf, Darren, saya tidak bisa mengakhirinya.”

“Apa maksud Om?”

“Saya memang berkata akan menyerahkan seluruh saham perusahaan yang saya miliki setelah kamu menikahi puteri saya, tapi saya tidak bilang kalau saya menyerahkan semua itu atas nama kamu.”

“Maksud om?”

“Saya akan menyerahkan semua itu atas nama cucu saya nanti, anak kalian berdua. Cukup adil, kan?”

Darren kembali tercengang dengan perkataan lelaki yang kini di anggapnya sebagai lelaki terlicik di dunia.

“Kenapa om lakukan semua ini? Kenapa?” Darren menggeram sembari mengepalkan kedua telapak tangannya.

“Kamu akan tahu alasannya ketika kamu memiliki seorang puteri, dan puteri kamu meminta sesuatu padamu. Saya hanya berusaha menuruti apa keinginan puteri saya, Darren. Mengertilah.”

Darren tersenyum sinis. “Mengerti? Apa Om Roy mengerti apa yang saya rasakan? Apa Om Roy mengeri apa keinginan saya? Om Roy dan Karin terlalu egois dalam hal ini.”

“Maaf, Darren, saya hanya berusaha membahagiakan puteri saya.”

“Oke. Dan saya jamin, Om Roy tidak akan mendapatkan hal itu! Saya tidak akan membahagiakannya.”

Dengan kesal Darren keluar begitu saja dari dalam ruangan lelaki paruh baya tersebut kemudian membanting pintu di belakangnya keras-keras tanpa menjaga kesopanannya pada ayah mertuanya tersebut. Ia sangat kesal, teramat sangat kesal. Bagaimana mungkin di dunia ini ada orang yang sangat egois seperti Karina dan ayahnya?

 

-TBC-

Nantikan Chapter 2 -Selamat datang di Neraka!- wkwkwkkwkwkkwkwk nanti malam akan update Elena yaa.. happy waiting….

Evelyn – Chapter 2 (Kamu milikku)

Comments 4 Standard

Evelyn

Fandy, ini beneran kamu?” sekali lagi Eva bertanya tanpa menghilangkan nada girangnya sembari terus berjalan mendekat.

“Ya, Nona.” Jawab lelaki itu penuh dengan hormat.

Oh, my God.

Tuhan benar-benar sayang padanya, Eva tahu itu. Bagaimana mungkin semuanya bisa kebetulan seperti ini? Dan Fandy, lelaki itu… Astaga, setelah lelaki itu berhenti menjadi pengawal temannya, Eva pikir ia tidak akan bertemu lagi dengan lelaki tersebut tapi nyatanya….

“Nenek, Aku mau dia.” Eva berkata dengan penuh semangat dan senyuman bahagianya.

“Apa maksud kamu, Evelyn?”

“Dia, aku mau dia yang menjadi pengawal pribadiku.” jawab Eva penuh keyakinan. Oh, pasti akan sangat menyenangkan ketika memiliki Fandy sebagai pengawal pribadinya.

***  

Chapter 2

-Kamu milikku-

 

Eva masih tidak berhenti menatap sosok yang sedang sibuk mengemudikan mobilnya tepat di sebelahnya. Bahkan Eva terlihat sengaja menatap lelaki itu secara terang-terangan seakan ingin mengetahui reaksi dari lelaki tersebut.

“Apa yang anda inginkan, Nona?” tanya lelaki tersebut dengan begitu datar tanpa menolehkan wajahnya pada Eva yang duduk di sebelahnya

Eva tersenyum sambil menjawab. “Kamu.”

“Saya?”

“Ya, kamu, kamu menjadi pacarku.”

“Maaf, itu bukan termasuk dalam pekerjaan saya.”

“Oh, memang bukan. Tapi itu perintah untuk kamu.”

“Perintah?”

Eva tersenyum menyeringai. “Ya, perintah. Kamu sudah menjadi pengawal pribadiku, yang artinya tunduk dengan perintahku, maka sekarang aku memerintahkan kamu untuk menjadi pacarku.”

Fandy mencengkeram erat kemudi mobil yang sedang ia kendarai. “Kenapa harus saya, Nona?”

“Karena aku suka.”

“Hanya karena itu?”

“Ya. Memangnya apa lagi?”

“Anda tidak bisa meminta orang asing menjadi kekasih anda hanya karena anda suka, Nona.”

“Lalu aku harus memintanya karena apa? Apa aku harus menunggu sampai dia menyukaiku?”

“Ya, begitu lebih baik.”

“Well, aku nggak perlu nunggu, karena sebentar lagi kamu akan menyukaiku.” Eva menjawab dengan penuh percaya diri. Sedangkan Fandy tidak lagi menjawab pernyataan Eva tersebut.

“Fan, aku boleh tanya nggak?” Eva tampak serius menatap Fandy.

Fandy melirik sebentar ke arah Eva kemudian menjawab “Silahkan, Nona.”

“Kamu tampan sekali. Bagaimana bisa orang setampan kamu menjadi seorang pengawal?”

“Saya tidak bisa menjawab.” Fandy berkata dengan nada yang sangat datar. Dan itu membuat Eva tertawa lebar sambil memegangi perutnya sendiri.

Astaga, Fandy benar-benar lucu. Lelaki itu bersikap sedatar mungkin padanya tapi lelaki itu tidak bisa menyembunyikan sedikit rona merah di pipinya karena malu dengan sanjungan yang di berikan oleh Eva.

“Fan, kamu benar-benar harus menjadi pacarku. Pokoknya harus.” Dan Eva kembali tertawa lebar melihat sikap Fandy yang kaku dan begitu menggemaskan di matanya. Oh, ini adalah pertama kalinya Eva bertemu dengan sosok yang memiliki karakter seperti Fandy, dan itu membuat Eva menginginkan Fandy menjadi salah satu deretan lelaki yang di pacarinya. Ia menginginkan Fandy, sangat menginginkannya.

***

Fandy menegang ketika Eva sampai di kampus tempat gadis itu menimba ilmu. Bukan tanpa alasan, karena Fandy tadi juga sempat mendengar Eva berceloteh jika gadis itu satu kampus dengan sahabatnya yang bernama Sienna, mantan atasan Fandy, dan yang kini masih di cintai oleh Fandy.

“Oke, apa kamu ikut turun?”

“Saya hanya akan mengawasi dari sini saja, Nona.”

“Benarkah? Untuk hari ini aku akan membiarkanmu berada di dalam mobil saja karena aku tidak ingin mengenalkanmu pada temanku sebagai kekasihku ketika pakaianmu masih sekaku itu.” Eva menatap setelan yang di kenakan Fandy, lelaki itu benar-benar tampak kaku tak bernyawa di matanya.

“Saya bukan kekasih anda, Nona.”

Well, sayang sekali. Yang memutuskan seperti apa hubungan kita itu bukan kamu, tapi aku. Dan mulai saat ini kamu kekasihku, kekasih yang melindungiku.”

“Terserah apa kata Nona Evelyn.”

“Ngomong-ngomong, berhenti memanggilku dengan nama itu, aku benar-benar merasa seperti seorang tuan puteri.”

“Anda memang seorang tuan puteri sekarang.”

Eva tertawa lebar. “Ya, aku mau jadi tuan puteri kalau kamu jadi pangerannya.”

Fandy mengerutkan keningnya. Apa kini gadis itu sedang merayunya? Oh yang benar saja. Darimana datangnya gadis tidak tahu malu ini?

“Oke, aku akan pergi, Icha pasti sudah menungguku. Untung Sienna sudah mulai cuti dari minggu kemarin, kalau tidak, dia pasti mengomel karena aku telat.”

Dan Fandy hanya membatu. Sienna cuti kuliahnya? Itu tandanya ia tidak perlu mengendalikan diri lagi karena tidak akan bertemu dengan wanita tersebut. Lamunan Fandy tentang Sienna terhenti ketika sesuatu basah menempel pada pipinya. Itu bibir Eva, Sial! Gadis itu mencium pipinya begitu saja tanpa aba-aba.

“Aku pergi dulu, sayang. Tungguin aku, oke?” Dengan begitu centil Eva keluar dari mobilnyakemudian meninggalkan Fandy begitu saja yang masih terpaku sesekali mengusap pipinya dimana  bekas kecupan Eva berada.

***

Eva tidak berhenti tertawa lebar hingga membuat sahabatnya, Icha, tidak berhenti menggelengkan kepalanya karena kelakuan gadis tersebut. Eva benar-benar terlihat seperti orang gila.

“Kamu kenapa sih? Kayak orang sinting.”

“Aku emang sinting. Hahahahaha.”

Dan Icha hanya menggelengkan kepalanya karena muak.

“Pokoknya, nanti sepulang dari kampus, kamu musti ikut aku.”

“Kemana? Kalau kencan dengan salah satu cowok kmu, mending enggak deh.” Ya, Eva memang kerap mengajak Icha untuk menemaninya kencan dengan salah seorang kekasihnya, dan itu benar-benar membuat Icha kesal.

“Enggak lah.”

“Terus?”

“Pokoknya ke suatu tempat yang kamu nggak akan nyangka kalo ada di sana bersama aku.”

“Apaan sih?” Icha tampak tidak sabar dengan rahasia yang di sembunyikan Eva.

“Ada deh, coba Sienna masih ngampus, mungkin bakal seru kalau dia juga ikut.”  Eva sedikit menggerutu. Ya, sahabatnya yang bernama Sienna itu memang sudah tidak ke kampus lagi karena cuti hamil. Dan itu sedikit membuat Eva bosan.

“Emang kamu nggak ke toko aksesorismu nanti?”

“Nggak. Bahkan aku sempat berpikir mau menutup toko itu.”

“Bukannya dari sana kamu dapat uang jajan tambahan?”

Eva tertawa lebar. “Uang jajan tambahan? Kamu bercanda? Aku nggak butuh lagi uang jajan tambahan.” Eva masih tertawa lebar.

“Kamu benar-benar gila.” Dengan wajah datar, akhirnya Icha memilih meninggalkan Eva yang masih tertawa lebar seperti orang gila.

***

Fandy masih duduk santai di dalam mobil Eva sembari menyalakan lagu-lagu yang di sediakan dalam mobil tersebut. Matanya terpejam, tapi ia tidak menurunkan kewaspadaannya.

Sesekali ia mengerutkan keningnya ketika menyadari sebuah bayangan yang sedikit mencurigakan tak jauh dari gerbang kampus Eva.

Siapa itu? Kenapa tampak sedikit mencurigakan? Fandy membuka matanya seketika saat rasa penasaran mulai mengetuk benaknya.

Lelaki itu mengenakan celana jeans, dengan jaket kulitnya. Ia mengenakan topi dan juga sedang merokok sembari berjalan mondar-mandir dengan kepala yang sesekali melonggok ke arah kampus Eva.

Apa ada masalah?

Yang Fandy lakukan hanya menunggu. Belum tentu juga lelaki itu memiliki masalah, kalaupun iya, belum tentu masalahnya dengan Eva, gadis yang harus ia kawal. Tapi tak lama, kewaspadaan Fandy mulai meningkat ketika mendapati Eva yang berjalan keluar dari kampusnya dengan seorang gadis lainnya, pada saat bersamaan, lelaki mencurigakan itu menghentikan Eva dan temannya.

Secepat kilat Fandy menegakkan tubuhnya kemudian keluar dari dalam mobil Eva yang memang sengaja ia parkir di seberang jalan. Fandy mengamati lelaki tersebut yang tampak bertanya-tanya pada Eva dan temannya. Apa yang di inginkan lelaki tersebut?

“Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Fandy dengan nada formalnya ketika ia sampai di hadapan Eva dan juga lelaki tersebut.

“Fandy? Kok kamu di sini?” Icha, teman Eva tersebut tampak terkejut.

Eva hanya memperlihatkan cengiran khasnya. “Nanti aku ceritain.”

“Tapi Va, harusnya dia kan udah berhenti ngawal Sienna. Lagian Sienna sudah cuti kuliah, memangnya dia mau apa di sini?”

“Siapa bilang dia ngawal Sienna?”

“Lalu?”

“Nanti aku jelasin.” Eva menjawab tanpa menghilangkan senyum geli di wajahnya.

Sedangkan Fandy sendiri tidak mempedulikan dua gadis yang tampak sangat cerewet di sebelahnya itu. Ia masih sibuk memperhatikan lelaki yang ada di hadapannya, lelaki yang benar-benar tampak mencurigakan di matanya.

Fandy besar dengan berbagai macam keahlian yang di ajarkan padanya, termasuk keahliannya dalam menilai orang. Instingnya tidak pernah salah. Ia akan mencurigai sesuatu yang bahkan tidak tampak mencurigakan bagi manusia kebanyakan.

“Apa yang anda inginkan?” tanya Fandy dengan wajah datarnya dan suara dinginnya pada lelaki tersebut tanpa mempedulikan Eva dan Icha yang kini menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Hei, kamu tidak perlu sekaku itu. Mas ini hanya bertanya tentang jalan.” Eva tampak sedikit kesal dengan sikap Fandy yang baginya terlalu berlebihan.

“Dia ngebosenin banget.” Icha ikut menyahut.

“Saya hanya tanya jalan.” Lelaki itu menjawab dengan santai. “Baik, terimakasih mau menunjukkan jalan untuk saya.” Ucap lelaki tersebut pada Eva dan Icha kemudian pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.

“Ayo.” Ajak Eva sambil menggandeng Icha, sedangkan Fandy masih menatap kepergian lelaki tersebut yang nyatanya masih sesekali menoleh ke belakang, ke arahnya.

“Fan, Ayo.” Ajak Eva lagi.

“Kamu ngajak dia?” Icha bertanya dengan wajah bingungnya dan Eva hanya menjawab dengan senyumannya.

Mereka bertiga kemudian menyebrangi jalan dan menuju ke arah sedan hitam yang terparkir di sana. Eva dan Icha masuk ke dalam sedan tersebut di susul oleh Fandy yang duduk di bangku kemudi.

“Ini mobil kamu?” Icha tampak terkejut dengan mobil yang ia tumpangi saat ini. Setahunya, Eva memang bukan orang miskin, tapi sahabatnya itu juga bukan orang kaya raya hingga memiliki mobil sedan mewah lengkap dengan supir gagahnya.

Icha menatap kesal ke arah Eva yang tidak juga menjawabnya dan malah memperlihatkan cengirannya yang seakan menertawakan kebodohan Icha.

“Va, jawab aku atau aku keluar dari mobil ini.”

Eva tertawa lebar. “Oke, oke, oke. Jawabannya adalah…. Aku sekarang sudah jadi seorang milyader.” Eva menjawab sembari tertawa lebar.

“Nggak lucu, tau!”

“Oke, kamu nggak akan percaya sebelum aku ngajak kamu ke istanaku.”

“Istana?”

Eva tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.n “Fan, kita pulang.”

“Baik, Nona.” Dan akhirnya mobil itupun melaju meninggalkan area kampus Eva.

***

Icha tidak berhenti mengumpat karena keterkejutan yang ia alami setelah Eva mengajaknya masuk ke dalam istana sahabatnya tersebut. Ya, itu benar-benar istana, dan astaga, Icha masih tidak percaya jika Eva benar-benar berubah menjadi seorang puteri tunggal dari orang asing yang memiliki perusahaan tambang emas di luar negeri sana.

“Gila, ini benar-benar gila!” Icha masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Kini dirinya sedang berada di dalam kamar Eva, kamar yang benar-benar terlihat seperti kamar seorang puteri. Aneka gaun-gaun indah tertata rapi di sebuah ruangan, rak-rak sepatu dan tas yang terisi penuh dengan barang-barang branded, lemari-lemari aksesoris dan perhiasan juga ada di sana, kamar itu benar-benar kamar untuk seorang puteri.

“Kamu masih nggak percaya apa yang aku omongin?” Eva yang terbaring di ranjangnya akhirnya menanyakan kalimat tersebut.

“Kalau Sienna kamu kasih tahu, dia juga nggak akan percaya. Ini benar-benar gila.”

Well, nyatanya ini kenyataannya. Walau kadang aku juga masih nggak percaya.”

Icha ikut melemparkan diri di atas ranjang Eva, kemudian bertanya. “Sebenarnya apa yang terjadi? Dan mama kamu gimana?”

Eva menghela napas panjang. “Aku nggak tahu, malam itu papa dan mama bertengkar hebat. Aku bahkan dengar beberapa barang pecah karena di banting. Kupikir mereka memang ada masalah. Keesokan harinya, mama sudah nggak ada, dan papa tiba-tiba ngajak aku pindah ke sini.”

“Kamu nggak mau cari tahu tentang mama kamu?”

“Kamu pikir aku bisa apa? Nenek bahkan nyiapin pengawal buat aku hingga aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Ah ya, dan masalah pengawal. Kamu benar-benar suka sama si Fandy sampai kamu minta dia jadi pengawal pribadi kamu?”

Eva tertawa lebar. “Suka sih enggak, cuma tertarik aja, aku suka godain dia.”

Icha  menggelengkan kepalanya. “Kamu benar-benar gila.”

“Nenek menyediakan banyak sekali pengawal untukku, aku nggak tahu untuk apa pengawal-pengawal tersebut. Karena kupikir, aku nggak pernah punya masalah sama orang, kecuali para cowok.” Eva kembali tertawa lebar. “Dan kebetulan, salah satu pengawal tersebut adalah Fandy, jadi aku minta dia saja yang menjadi pengawal pribadiku.”

Icha menyentil kening Eva. “Itu sih karena kamu yang kegatelan.” Dan keduanya berakhir tertawa bersama.

***

Eva tidak bisa melirik ke arah pintu masuk rumah barunya. Saat ini ia sedang duduk santai di ruang tamu rumah barunya dengan sebuah novel di tangannya. Ia sedang menunggu seseorang, siapa lagi jika bukan Fandy.

Tadi, Icha menghabiskan sorenya di rumah Eva. Bercerita, bercanda bahkan berkaraoke di ruang karaoke yang memang tersedia di rumah barunya tersebut. Setelah jam sembilan malam, Eva meminta Fandy untuk mengantarkan Icha, dan hingga kini lelaki itu belum juga kembali. Apa jam kerja Fandy memang sudah habis? Huh, sangat tidak menyenangkan jika Fandy tidak mengawalnya hingga matanya terpejam, padahal ia masih belum puas mengganggu lelaki tersebut.

“Evelyn, apa yang kamu lakukan di sana, sayang? Kamu tidak tidur?” suara sang nenek membuat Eva mengangkat wajahnya.

“Uum, aku sedang menunggu Fandy.” Eva menjawab dengan jujur.

“Sepertinya kamu dekat dengannya. Apa kamu kenal dengan dia sebelumnya? Atau jangan-jangan, kamu menyukainya?”

“Oh, tidak Nek.” Entah kenapa Eva tersipu dngan pertanyaan terakhir sang nenek. “Fandy dulu adalah pengawal sahabatku yang bernama Sienna. Sikapnya sangat kaku, dan aku suka sekali mengganggunya.”

“Oh ya? Jadi kamu suka mengganggu lelaki yang menyimpan berbagai macam senjata di balik pakaiannya?” goda neneknya.

“Senjata? Fandy bersenjata?”

Sang nenek tersenyum. “Setiap pengawal di sini harus memiliki senjata untuk melindungi kamu, sayang. Begitupun dengan dia.”

“Aku tidak pernah melihat senjatanya.”

“Dan jangan berharap kamu melihatnya.” Pesan sang nenek penuh arti.

“Nenek, apa Fandy dan pengawal di rumah ini pulang ke rumah mereka setiap harinya?”

“Tidak, di belakang mansion ini ada sebuah paviliun yang cukup besar, dan di sanalah tempat para pengawal kita menghabiskan waktu untuk beristirahat secara bergantian. Fandypun di sana.”

“Jadi dia tidak pulang?”

“Tidak. Hanya ketika libur, dia akan pulang. Dia libur setiap minggu.”

“Minggu? Kenapa harus minggu?” rengek Eva yang hanya mendapat jawaban sebuah senyuman dari neneknya. “Nek, kalau aku meminta Fandy tidur di Mansion ini bagaimana?”

“Tidak bisa sayang.”

“Kenapa tidak bisa? Ayolah, aku baru bisa merasa aman jika dia berada di dekatku.”

“Kamu menyukainya?”

“Tidak, Nenek!”

Sang nenek tertawa lebar. “Baiklah, aku akan meminta para pelayan memindahkan buku-buku yang ada di ruang baca tepat di sebelah kamar kamu. Supaya nanti Fandy bisa pindah ke sana.”

Eva benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. “Terimakasih, Nek. Oh, Nenek benar-benar nenek terbaik sedunia.” Eva memeluk neneknya, nenek yang baru di kenalnya kemarin tapi seakan mampu mencuri seluruh hatinya karena perhatian yang di berikan wanita tua tersebut.

“Apapun untukmu sayang.” Sang nenek membalas pelukannya dengan sebuah pelukan hangat, pelukan yang sangat ia rindukan dari mamanya.

***

Setelah lelah menunggu Fandy yang tak kunjung kembali, akhirnya Eva kembali ke kamarnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dan ketika ia mulai memejamkan matanya, suara ketukan pintu kamarnya membuatnya terjaga kembali. Apa itu Fandy? Mungkin saja.

Dengan semangat Eva membuka pintu kamarnya dan senyumnya terukir begitu saja ketika melihat Fandy yang sudah berdiri di sana.

“Akhirnya kamu pulang.”

“Pengawal di luar mengatakan jika anda menyuruh saya ke sini saat saya sudah kembali, ada apa Nona?”

“Berhenti bersikap kaku menyebalkan seperti itu, aku cuma heran kenapa kamu lama sekali?”

“Teman Nona Evelyn meminta saya mengantarkannya berjalan-jalan sebentar di taman kota.”

“Dan kamu menurutinya?”

“Ya.”

“Kamu kencan sama Icha?”

“Tidak.”

“Apa sebutan untuk laki-laki dan perempuan yang jalan bersama-sama di taman kota?”

“Saya tidak tahu.”

“Isshhh, kamu benar-benar menyebalkan.”

“Jika tidak ada yang penting, saya mau pamit, Nona.”

“Berhenti bersikap formal seperti itu!” Eva benar-benar mulai kesal dengan sikap kaku dan profesional yang di tampakkan Fandy padanya. Secepat kilat Eva menarik lengan Fandy hingga tubuh lelaki tersebut masuk ke dalam kamarnya, lalu ia menutup pintu kamarnya tersebut.

“Apa yang anda lakukan, Nona?”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Eva, hanya panggil Eva.  Atau mungkin sayang.”

Fandy menghela napas panjang. “Apa yang kamu mau?”

Eva tersenyum ketika Fandy sudah tidak bersikap formal padanya.

“Aku mau kamu.” Eva mendongakkan wajahnya seakan menantang Fandy.

“Berhenti main-main, aku tidak suka dengan gadis kecil sepertimu.”

Eva membulatkan matanya seketika. “Gadis kecil katamu? Walau umurku belum sembilan belas tahun, tapi aku sudah bisa memuaskan laki-laki, tahu!”

“Aku tidak suka perempuan yang sudah pernah memuaskan laki-laki.”

“Uum, maksudku aku belum pernah, tapi aku bisa.”

“Lupakan, lebih baik kamu jauhi aku.”

“Tidak, aku tidak akan menjauhimu, dan kamu tidak akan bisa menjauh dariku.”

“Kenapa?”

“Karena kamu milikku.” Kalimat itu di katakan Eva dengan penuh penekanan. Eva semakin mendekatkan dirinya, kakinya bahkan sudah berjinjit untuk menggapai wajah Fandy yang memang jauh lebih tinggi darinya. “Kamu milikku, Fan. Dan kamu tidak bisa menolakku.”

 

-TBC-