Unwanted Wife – Prolog

Comments 10 Standard

uw1Unwanted Wife

Prolog

 

Darren Menggenggam telapak tangan seorang wanita dengan setengah berlari sembari tersenyum lebar. Hari ini ia baru saja melamar wanita tersebut, wanita yang bernama Nadine citra, salah seorang sahabatnya dari kecil, sahabatnya yang sangat ia cintai tentunya. Dan gadis itu menerima cintanya, menerima lamarannya, oh, betapa bahagianya Darren ketika mendapati kenyataan tersebut.

Hari ini juga ia akan mengungkapkan hubungan mereka pada keluarganya. Melamar Nadine secara sah di hadapan keluarga gadis tersebut, dan secepat mungkin meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.

“Kamu yakin akan melakukan ini?” suara lembut Nadine membuat Darren mengangkat wajahnya dan menatap wanita tersebut.

“Tentu saja, apa kamu ragu?”

“Sedikit.”

“Apa yang membuatmu ragu?”

“Tidak ada, aku hanya takut kalau ini hanya mimpi.”

“Ini kenyataan sayang, semua ini adalah kenyataan.”

“Baiklah, kalau begitu kita katakan pada mereka.” ucap Nadine dengan mantab. “Bagaimana dengan Karina?” tanya Nadine lagi.

Karina sendiri adalah sahabat dari keduanya. Mereka bertiga bersahabat sejak kecil karena orang tua mereka memang berteman sejak masa sekolahnya dulu.

“Karin? Kita akan memberi tahu dia setelah aku memberitahu kedua orang tuaku.”

“Baguslah, aku sedikit tidak enak karena sampai sekarang dia belum juga memiliki kekasih.”

“Itu karena dia tidak pernah memikirkan lelaki. Ah wanita itu benar-benar. Dia lebih suka dengan tumpukan buku novelnya.”

Dan Nadine hanya tersenyum lembut. Ya, berbeda dengan mereka berdua, Karin memang lebih suka menyendiri dengan membaca berbagai macam novel romantis koleksinya. Wanita itu pendiam, dan tentunya sedikit membosankan. Tapi Darren dan Nadine tentu menyayangi sahabatnya tersebut.

Dengan semangat Darren masuk ke dalam rumahnya sendiri, ia berniat mengenalkan Nadine sebagai calon istrinya kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya pasti akan sangat setuju, mengingat kedua orang tua mereka memang saling mengenal satu sama lain. Dan ini pasti akan menjadi kabar yang sangat membahagiakan.

Tapi kemudian senyum Darren terhenti ketika ia melihat ada yang aneh di dalam rumahnya. Rumahnya tampak lebih sepi dari sebelumnya, ada apa?

“Bi, Mama sama Papa kemana?” tanya Darren pada seorang pelayan rumahnya.

“Uum, itu tuan muda, Bapak terkena serangan jantung.”

Darren membulatkan matanya seketika. “Apa? Kenapa bisa? Bukannya tadi baik-baik saja? Sekarang Papa dimana?”

“Bapak di bawah ke Rumah sakit Medika indah.”

“Kalau begitu kami ke sana.” Dan tanpa banyak bicara lagi Darren berlari menuju ke rumah sakit tersebut masih dengan menggenggam erat telapak tangan Nadine, kekasihnya.

***

Di rumah sakit…

Darren membuka pintu ruang inap sang papa, dan sedikit terkejut ketika di sana banyak sekali orang. Ada sang mama yang masih terlihat menangis, ada sang kakak, Evan yang sedikit menenangkan sang mama, lalu ada orang yang Darren kenal sebagai Om Roy, papa dari Karin, dan juga tante Irma, mama Karin. Kenapa kedunya ada di sini? Tanya  Darren dalam hati.

Darren masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa melepaskan genggaman tangannya pada telapak tangan Nadine.

“Papa nggak apa-apa, kan, Ma?” Darren bertanya dengan penuh kekhawatiran.

Sang mama hanya menggelengkan kepalanya. “Kamu harus menolongnya, sayang, kamu harus menolongnya.”

“Apa maksudnya?” Darren tampak bingung.

“Ikut gue.” Evan akhirnya mengajak Darren keluar dari ruang inap sang papa.

“Ada apa?” tanya Darren masih dengan raut bingungnya ketika mereka sudah berada di luar ruang inap sang ayah.

“Perusahaan kita bangkrut.”

“Apa?”

Evan mengangguk. “Om Roylah yang kini memiliki saham terbesar di perusahaan kita, dengan kata lain, Pramudya Group sudah menjadi milik beliau.”

“Apa? Bagaimana bisa?”

Evan mengembuskan napas panjang. “Dan satu-satunya cara supaya Om Roy mau mengembalikan saham perusahaan kita adalah, lo harus mau menikah dengan Karina.”

Darren tercengang dengan apa yang di katakan sang kakak. Menikah? Dengan Karina? Tidak! Mana mungkin ia melakukan hal tersebut?

Darren menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak! Gue tidak bisa menikah dengan dia. Sial! Gue memang akan menikah, tapi dengan Nadine, bukan dengan Karina! Kenapa bukan lo saja yang nikahin Karina?”

“Sialan! Lo pikir mereka mau? Yang mereka pilih adalah lo. Lo harus menikahi Karina atau perusahaan keluarga kita hanya tinggal nama, dan Papa, pergi dengan kekecewaan.”

Darren benar-benar tampak shock. Menikah dengan Karina? Sahabatnya sendiri? Bagaimana mungkin? Bagaimana dengan Nadine?

 

-TBC-

 

New story, akan di update secara berkala ketika cerita Bianca (The Bad Girls #3) mulai Update.

Advertisements

Evelyn – Chapter 1 (Aku mau Dia)

Comments 11 Standard

drawing-evelyn-copyEvelyn

Chapter 1

-Aku mau Dia-

 

 

Fandy keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Jemarinya yang besar itu meraih sebuah ipod yang berada di atas sebuah meja kecil tepat di sebelah ranjangnya.  Memutar lagi-lagu di dalam ipod tersebut kemudian memasang headset pada telinganya.

Same bed but it feels just a little bit bigger now

Our song on the radio but it don’t sound the same

Lagu Bruno Mars tersebut menjadi pilihan Fandy untuk di putarnya. Ia kemudian mulai meraih Hoody di dalam lemarinya, mengenakannya beserta tudung kepalanya.  Tak lupa ia juga mengenakan sepatu olah raganya.

Hmmm too young, to dumb to realize

That I should have bought you flowers and held your hand

Should have given all my hours when I had the chance

Lagu tersebut masih mengalun dengan indah namun tak seindah suasana hati orang yang kini sedang mendengarnya. Fandy mulai berjalan keluar dari apartemennya, kemudian sedikit berlari kecil menuju ke taman yang tak jauh dari kompleks apartemennya.

My pride, my ego, my needs and my selfish ways

Caused a good strong woman like you to walk out my life

Now I’ll never, never get to clean out the mess I’m in

And it haunts me every time I close my eyes.

Beberapa bulan terakhir memang inilah yang ia lakukan untuk menghabiskan waktunya. Mendengarkan lagu-lagu sambil berolahraga atau bahkan berlatih.

Tidak ada pekerjaan, karena beberapa bulan yang lalu  baru saja di pecat secara tidak hormat oleh orang yang memperkerjakannya karena alasan yang menggelikan.

Ia menyukai istri dari atasannya tersebut.

Oh, sialan!

Awalnya, Fandy di pekerjakan oleh seorang pengusaha muda bernama Osvaldo Handerson, untuk menjaga istrinya yang masih terlihat seperti anak-anak, dan sialnya, Fandy malah jatuh hati pada istri atasannya tersebut. Bagaimana mungkin dirinya benar-benar jatuh cinta pada sosok itu? Sosok yang bernama Sienna Clarissa, seorang gadis –atau bisa di sebut dengan wanita muda, yang berusia Delapan belas tahun dengan sikap manja khas anak-anak ABG pada umumnya.

Oh yang benar saja. Apa yang membuatnya jatuh hati apda sosok itu? Sikap manjanya? Wajah cantiknya? Bahkan Fandy tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.

Fandy membesarkan volume ipod yang berada di dalam genggamannya, langkahnya mulai cepat seiring dengan suara lagu yang terdengar menggema di telinganya.

Fandy ingin melupakan wanita itu, tapi di sisi lain, Fandy merindukannya. Oh, apa yang harus ia lakukan? Bagaimana mungkin ia jatuh cinta dengan istri orang??

***

Dengan wajah cemberut, Eva keluar dari dalam kamarnya. Hari ini ia kesal, masih sama kesalnya dengan kemarin malam ketika ia mendengar pertengkaran hebat kedua orang tuanya.

Eva tidak pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar seperti semalam. Sangat mengerikan. Sang Mama bahkan membanting beberapa perabotan rumah, sedangkan sang Papa tidak berhenti berucap jika mereka akan berpisah. Sebenarnya apa yang terjadi? Eva tidak tahu dan dia tidak ingin tahu.

Selama ini kehidupannya sudah sangat sempurna. Ia memiliki semuanya, tapi setelah tadi malam, ia merasa jika semuanya berubah.

Eva duduk di kursi meja makan. Di sana sudah ada sang Papa yang duduk sendirian, lalu diamana Mamanya?

“Pagi, Pa.”

“Pagi, sayang.” Sang papa kembali menyapa tapi wajahnya masih fokus dengan koran paginya.

“Uum, Pa, Mama kemana?” Eva memberanikan diri bertanya pada papanya, tapi kemudian sang papa melipat koran yang di bacanya kemudian menatap Eva dengan tatapan seriusnya.

“Evelyn.” Panggil sang papa, namanya itu memang sangat jarang di jadikan sebagai panggilannya, ia lebih suka di panggil dengan nama Eva, lebih simpel, dan lebih pribumi, meski sebenarnya panggilan Eva kurang cocok dengan dirinya yang memiliki wajah sedikit kebule-bulean yang ia dapat dari sang papa.

“Ya, Pa?”

“Setelah pulang dari kampus, bereskan semua pakaian kamu.”

“Tapi kenapa?”

“Kita akan pindah.”

“Pa, aku nggak bisa, aku bahkan baru masuk kuliah, dan aku memiliki toko yang harus aku urus, aku nggak mau pindah kemana-mana.”

Eva tahu jika semuanya tidak sedang baik-baik saja. Mungkin kedua orang tuanya kini benar-benar akan berpisah hingga sang papa mengajaknya pindah. Dan sumpah demi apapun juga, Eva tidak ingin pindah ke Paris, tempat asal dari sang Papa, jika mungkin saja papanya itu mengajaknya pindah ke sana.

“Evelyn, kita tidak akan kemana-mana, kamu tetap kuliah di kampus kamu, kamu juga masih bisa menjaga toko aksesoris milik kamu, kita hanya pindah rumah, dan itu masih di Jakarta.”

Eva menghela napas panjang. Ya, bagaimanapun juga ia masih sangat nyaman tinggal di Jakarta. Ia memiliki segalanya di sini, teman, pacar, bahkan beberapa calon pacar di kampus barunya.

“Lalu mama?”

“Jangan bertanya tentang Mama kamu lagi.”

“Pa, aku sudah besar, bagaimanapun juga aku ingin tahu apa yang terjadi dengan mama dan papa.”

“Evelyn, papa belum bisa menceritakan semuanya sama kamu, yang pasti, mama sudah tidak bersama dengan kita lagi.”

“Apa?”

“Kita harus pindah.”

“Pindah kemana, Pa? aku sudah cukup nyaman di sini.”

“Papa jamin, di tempat baru, kamu akan lebih nyaman.” Sang papa kemudian berdiri, lalu mengusap lembut puncak kepala Eva. “Papa kerja dulu.” Dan sosok itu kemudian pergi begitu saja. Eva hanya bisa menghela napas panjang. Apa yang terjadi sebenarnya?

***

Fandy berjalan menuju ke arah sebuah ruangan dengan pintu besar berwarna hitam legamnya. Itu adalah ruangan dari atasannya, bisa di bilang, orang yang menjual jasanya sebagai Bodyguard kepada orang yang membutuhkan jasanya.

Ya, ketika remaja, ia di masukkan ke dalam sebuah agensi yang menciptakan boduguard-bodyguard tangguh, ia di latih hingga memiliki banyak sekali kemampuan bela diri hingga kemudian keahliannya tersebut menjadi pekerjaannya.

Entah sudah berapa orang yang pernah ia jaga, Fandy bahkan tidak bisa menghitungnya. Banyak sekali pengalaman ketika ia menjadi seorang pengawal. Dan pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan adalah ketika ia mengawal seorang istri mungil dari atasannya yang sedang hamil muda dan ia jatuh cinta pada sosok tersebut, Sienna.

Oh sial! Kenapa juga ia mengingat wanita itu lagi?

Fandy menghela napas panjang sebelum ia masuk ke dalam ruangan dengan pintu besar berwarna hitamnya tersebut.

Tadi, setelah olah raga, si Boss –panggilan untuk si pemilik agensi yang kini sedang ia temui, menghubunginya dan mengatakan jika ada yang membutuhkan pengawalan darinya. Dengan semangat Fandy menerima tawaran tersebut bahkan sebelum tahu siapa orang yang membutuhkan pengawalannya.

Fandy berpikir, mungkin dengan ia memiliki aktifitas baru sebagai seorang pengawal, ia akan dengan mudah melupakan sosok Sienna, sosok yang selama ini membayanginya.

“Sudah datang?” sapa lelaki paruh baya tersebut yang kini masih duduk dengan santai di kursi kebesarannya.

“Ya, Boss.”

“Bagaimana liburanmu?”

“Lumayan, Boss.”

Lelaki yang di panggil Fandy sebagai Boss tersebut berjalan mendekati Fandy, lalu memberikan Fandy sebuah ampop besar yang di sana tertulis data diri dari orang yang akan di kawalnya.

“Kali ini kamu tidak boleh main-main. Klien kita adalah orang berkewarganegaraan asing, yang sudah sejak Empat tahun yang lalu menetap di sini.”

Fandy mengerutkan keningnya. “Lalu, kenapa baru kali ini dia membutuhkan jasa kita?”

Si Boss hanya mengangkat kedua bahunya. “Itu bukan urusan kita, yang jelas, kamu harus menjaganya. Dia memiliki beberapa tambang emas di luar negeri, dan kemungkinan besar dia memiliki tujuan lain ketika memilih menetap di negeri ini.”

Fandy membuka data-data orang yang akan di kawalnya tersebut.

“Wanita tua.” Gumamnya.

Si Boss tertawa lebar. “Kamu berharap apa? Apa kamu berharap itu adalah wanita muda dengan usia belianya yang bisa membuatmu jatuh cinta seperti sebelumnya?” sindir si Boss tersebut pada Fandy.

Fandy hanya membatu. Ya, si Bossnya itu tentu mengetahui apapun yang ia lakukan terhadap Sienna dan Aldo, mantan atasannya dulu sebelum dia di berhentikan secara tidak hormat. Fandy bahkan tidak bisa mengingat bagaimana marahnya si Boss saat itu. Ia di pukuli habis-habisan karena berani mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah perasaan sialannya. Terlebih lagi, si Bossnya tersebut sudah mengajarinya, mengubah hatinya menjadi batu hingga sulit sekali di sentuh, tapi nyatanya, Sienna mampu menyentuh hatinya.

Ia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada kliennya sendiri, seharusnya ia tidak melakukan itu, dan ia tidak boleh jatuh cinta.

“Dengar Fandy, saya tidak ingin kejadian kamu dengan klien kita yang kemarin terulang lagi. Ingat, tidak ada lagi yang namanya jatuh cinta. Itu akan melemahkanmu!”

“Saya mengerti, Boss.”

“Sekarang, jalankan tugas kamu. Kamu harus mengawal wanita tua itu kemanapun dia pergi. Jadilah perisainya apapun yang terjadi, keselamatan dia yang utama, hidupmpu sudah di beli olehnya.”

Fandy mengangguk. Selalu kalimat itu yang di rapalkan si Boss ketika dirinya akan menemui klien barunya. Ya, hidupnya sudah di beli, dan ia akan mati sekalipun demi melindungi klien barunya.

“Ingat, jangan sampai mengulangi hal yang sama. Buang perasaan sialanmu itu.” Si Boss menepuk-nepuk bahunya.

Fandy hanya mengangkat sebelah alisnya saat menanggapi kalimat terakhir Bossnya tersebut. Tentu saja ia tidak akan mengulangi hal yang sama. Klien barunya adalah seorang wanita dengan usia hampir tujuh puluh tahun, dan jatuh cinta pada kliennya itu sangat tidak mungkin.

***

Eva mengerutkan keningnya ketika papanya mengemudikan mobilnya masuk ke dalam sebuah gerbang besar yang hampir tidak pernah ia lihat. Sebenarnya mereka mau ke mana?  Eva melirik sang papa yang masih berkonsentrasi mengemudikan mobilnya sesekali ia terkagum-kagum ketika menatap bangunan megah yang akan mereka tuju.

“Pa, kita ada di mana?” bisik Eva.

“Maksud kamu?”

“Euum, ini masih di indonesia, kan?” tanyanya dengan polos. Sang papa tertawa lebar.

“Tentu sayang, ini masih di indonesia, dan ini masih di Jakarta.”

“Lalu ini bangunan apa?”

Sang papa tersenyum lembut. “Itu rumah baru kita.” Dan Eva hanya mampu membulatkan matanya seketika. Apa ini mimpi? Jika iya, Eva ingin di tampar saat ini juga supaya ia terbangun dari mimpinya ini.

Tapi nyatanya, ini bukanlah mimpi. Eva sadar jika ini benar-benar nyata ketika sang papa membukakan pintu mobilnya untuk Eva dan membantu Eva turun dari mobil mereka.

“Pa, Papa yakin ini rumah baru kita?” Eva masih tampak tak percaya.

Sang papa menampakkan senyum lembutnya. Ia menarik tangan Eva dan mengajak Eva menuju ke arah pintu utama yang bagi Eva sangat besar tersebut kemudian membukanya. Dan Eva ternganga ketika mendapati beberapa pelayan ala kerajaan inggris yang sudah menyambutnya.

“Evelyn.” Seorang wanita tua tiba-tiba datang menghambur ke arahnya, lalu memeluknya erat-erat.

Eva melirik ke arah sang papa, dan papanya tersebut hanya tersenyum ke arahnya sembari mengatakan ‘Welcome to my world’ tanpa mengeluarkan suara.

***

Eva masih bingung, sangat, sangat dan sangat bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin papanya menjadi seorang milyader seperti saat ini? Apa papanya itu baru saja menang taruhan? Menang kuis? Oh yang benar saja. Tentu bukan karena itu.

Eva tidak mengenal papanya, ya, hanya itu yang ia yakini saat ini. Menurut cerita dari sang mama, papanya adalah seorang warga negara asing biasa yang kemudian menetap di negeri ini kerena menikah dengan sang Mama. Tidak ada seluk beluk keluarga papanya yang pernah ia dengar. Ia hanya tahu jika papanya adalah orang Prancis, yang kini bahkan sudah hampir mirip dengan orang pribumi cara bicara, cara bersikap dan cara berpakaian papanya yang sederhana.

Dan kini? Oh astaga, Eva bahkan tidak pernah membayangkan jika hal ini akan terjadi. Kini ia sudah berdiri di sebuah ruangan yang super luas, bahkan lebih luas tiga kali lipat dari ruang tengah di rumahnya dulu, dan ruangan ini adalah kamarnya? Sekali lagi, Kamarnya??? Eva seakan ingin berteriak histeris mendapati kenyataan yang ia alami saat ini.

Di ujung ruangan terdapat sebuah ranjang besar ala-ala ranjang puteri raja lengkap dengan tiang dan juga penutup ranjang berendanya, ohh, itu adalah ranjangnya??

Eva berteriak sambil menghambur ke arah ranjang tersebut. Ia melemparkan diri di atasnya sambil berguling kesana kemari. Oh, ini benar-benar sangat nyaman, pikirnya. Eva kemudian bangkit, melihat ke segala penjuru.

Ada sebuah meja rias yang cukup besar, lemari-lemari yang menyatu dengan dinding, sebuah meja dan beberapa kursi untuk bersantai, sebuah sofa besar, kemudian ada juga sebuah pintu yang Eva yakini adalah pintu menuju ke kamar mandi, dan Eva mengerutkan keningnya ketika mendapati pintu lainnya. Karena penasaran, Eva berdiri dan menuju ke arah pintu tersebut, lalu membukanya.

Seketika itu juga Eva menutup mulutnya dengan keuda belah tangannya.

Oh my God…

Ia akan menjadi seorang puteri, Eva tahu itu. Jika ini benar-benar nyata, ia akan menjadi seorang Barbie dengan apa yang ia miliki saat ini.

***

Eva terbangun dari mimpi indahnya ketika mendengar suara berisik di sekitarnya. Ia mulai membuka matanya dan terbangun seketika saat sadar jika dirinya berada di kamar yang berbeda dengan kamarnya selama ini.

Oh, tentu saja, bukankah ia sudah pindah ke dalam istana? Ya, Eva menganggap jika rumah barunya ini adalah sebuah istana. Sangat mewah dan super megah. Eva mengerutkan keningnya saat mendapati dua orang wanita dengan seragam pelayannya sedang sibuk di dalam kamarnya.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Eva sedikit bingung.

“Oh, maaf Nona, kami hanya membantu menyiapkan air hangat untuk mandi, dan pakaian ganti untuk Nona Evelyn.”

“Apa?” Eva tampak shock. Tentu saja. Seumur hidupnya ia tidak pernah di perhatikan sampai seperti ini, apa sampai nanti ia akan di layani seperti ini? Oh, menggelikan sekali.

“Air hangatnya sudah siap, silahkan mandi, nyonya besar sudah menunggu anda di ruang makan.”

Eva bangkit menuju ke arah kamar mandi sambil bergumam. “Lain kali, kalian tidak perlu berlebihan melayaniku, aku bisa menyiapkannya sendiri.”

“Tapi Nona.”

Eva tersenyum. “Aku biasa melakukannya, kalian santai saja.” Lalu Eva masuk begitu saja ke dalam kamar mandi, mandi air hangat sesekali bersenandung ria. Oh, benarkah ini kehidupan nyatanya saat ini? Apa ia rela kehilangan sang mama dan di gantikan dengan kehidupan mewahnya saat ini? Yang benar saja.

***

Setengah jam kemudian, Eva akhirnya sudah duduk dengan manis di ruang makan bersama dengan sang papa dan wanita tua yang kini di panggilnya dengan sebuat Nenek.

Tadi malam, ketika ia masih kebingungan dengan semua yang ada di hadapannya, sang papa sedikit demi sedikit menjelaskan pada Eva jika semua ini nyata. Ternyata sang papa adalah putera tunggal dari keluarga Mayers, keluarga kaya raya dari negara Prancis. Dan kini, ibunda dari sang Papa, yang tak lain adalah neneknya, datang untuk mewariskan seluruh kekayaannya pada sang papa dan juga dirinya. Oh, jangan di tanya lagi bagaimana shocknya Eva saat itu.

Kehidupannya dulu memang sudah berada, tapi tidak semewah seperti saat ini. Bagi Eva, semua ini terlalu berlebihan, tapi di sisi lain, Eva juga menikmati perannya.

“Evelyn, apa kamu tidak menyukai makanannya?” pertanyaan penuh perhatian tersebut terlontar dari bibir sang nenek. Eva sempat heran ketika mendengar sang nenek berbicara dengan Bahasa Indonesia meski tak begitu fasih.

“Tidak, Nek, aku hanya-”

“Apa kamu tidak nyaman?”

Eva mengangguk pelan. “Aku tidak terbiasa makan dengan beberapa orang yang memperhatikanku.”

Sang Nenek tersenyum. “Maka biasakanlah mulai saat ini.” Perintah sang nenek. “Evelyn, karena kamu satu-satunya puteri dan penerus dari keluarga Mayers, maka Nenek benar-benar harus menjaga kamu.”

“Menjagaku? Menjagaku dari apa?”

“Dari apapun dan siapapun yang ingin menjatuhkan kamu.”

“Tapi kenapa ada yang ingin menjatuhkanku?” Eva tampak bingung.

Sang nenek hanya tersenyum lembut. “Ada banyak hal yang tidak perlu kamu ketahui Sweetheart. Kemarilah, Nenek akan memperlihatkan sesuatu padamu.”

Akhirnya Eva berdiri dan mengikuti kemana kaki neneknya melangkah. Mereka menuju ke arah ruang tengah, yang di sana ternyata sudah berdiri beberapa lelaki dengan setelan serba hitamnya layaknya agen mata-mata di film-film action yang pernah ia tonton.

“Evelyn, ini pengawal Nenek, Nenek akan menugaskan beberapa untuk menjaga kamu.” Jelas sang nenek.

Eva menggelengkan kepalanya, sedangkan matanya masih menatap satu persatu lelaki dengan tubuh kekar di hadapannya itu dengahn tatapan sedikit ngeri, ia tidak ingin di kawal, ia ingin bebas melakukan apapun, bukan di kekang dengan adanya seorang pengawal yang selalu mengawasinya.

“Nenek, ini tidak perlu.”

“Ini sangat di perlukan, Evelyn.”

Mata Eva kembali menatap satu demi satu lelaki tersebut hingga kemudian matanya terpaku pada sosok itu. Sosok yang lebih ramping dari yang lainnya, tapi tubuhnya sama berototnya dengan yang lainnya. Sosok yang sangat tampan dengan wajah datar tanpa ekspresinya, sosok yang sudah beberapa bulan terakhir tidak di temuinya.

“Kamu?” Eva bahkan tidak menghiraukan sang nenek yang menatap aneh ke arahnya. Yang Eva lakukan hanyalah menghampiri lelaki tersebut.

Lelaki itu masih berdiri dengan tegap dengan wajah datarnya, Eva tidak dapat membaca apa yang di pikirkan lelaki tersebut, karena mata lelaki itu tersembunyi di balik kaca mata hitam yang di kenakannya.

“Fandy, ini beneran kamu?” sekali lagi Eva bertanya tanpa menghilangkan nada girangnya sembari terus berjalan mendekat.

“Ya, Nona.” Jawab lelaki itu penuh dengan hormat.

Oh, my God.

Tuhan benar-benar sayang padanya, Eva tahu itu. Bagaimana mungkin semuanya bisa kebetulan seperti ini? Dan Fandy, lelaki itu… Astaga, setelah lelaki itu berhenti menjadi pengawal temannya, Eva pikir ia tidak akan bertemu lagi dengan lelaki tersebut tapi nyatanya….

“Nenek, Aku mau dia.” Eva berkata dengan penuh semangat dan senyuman bahagianya.

“Apa maksud kamu, Evelyn?”

“Dia, aku mau dia yang menjadi pengawal pribadiku.” jawab Eva penuh keyakinan. Oh, pasti akan sangat menyenangkan ketika memiliki Fandy sebagai pengawal pribadinya.

 

-TBC-

Sang Pemilik hati – Chapter 2 (“Jadilah kekasih saya.”)

Comments 4 Standard

sph2Sang Pemilik hati

Ketika Yoga mulai dapat mengendalikan dirinya, sosok cantik yang mengintip dari balik tubuh adikny itu membuyarkan semua pengendalian dirinya. Sosok manis yang sudah menarik perhatiannya sejak Empat tahun yang lalu. Sosok yang menjadi salah satu alasan kenapa ia masih mau pulang ke Jakarta.

Sosok itu…. Nana Erieska. Kenapa Nana di sini? Kenapa Nana bisa bersama denga Rino, adiknya? Apa hubungan keduanya?

***

Chapter 2

-“Jadilah kekasih saya.”-

 

Keempatnya masih terdiam, saling menatap dengan tatapan terkejut masing-masing, tentuya kecuali Kesha. Kesha tampak biasa-biasa saja, bahkan tampak senang karena bertemu dengan Rino. Kesha bahkan seakan tidak menyadari ketegangan di antara ketiganya.

“Mas Rino kok di sini?” pertanyaan Kesha membuat suasana sedikit mencair.

“Lagi jalan.” jawab Rino sedikit cuek, sedangkan tatapan matanya masih terpaut pada sosok Yoga.

“Mas nggak sekolah?” tanya Kesha dengan waah polosnya.

“Kamu juga nggak sekolah.” Rino kembali menjawab dengan nada cuek. Sikap Rino memang seperti itu, dan itu membuat Kesha tampak biasa-biasa saja dengan sambutan kakaknya yang tidak ramah itu.

Kesha kemudian melirik ke arah Nana yang masih berdiri di belakang Rino. Kemudian beberap pertanyaan menggelitik pikirannya.

“Mas, Mas sama siapa?” tanyanya sambil menatap Nana dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Rino menoleh sebentar ke arah Nana, kemudian menjawab dengan cuek, “Pacarku.”

“Wah, Mas Rino udah punya pacar.”

Entah apa lagi yang di ucapkan Kesha, Nana tidak tahu karena Nana hanya bisa menunduk ketika ia melihat mata memikat di hadapannya itu mulai menunjukkan sinar redupnya.

Cukup lama Kesha dengan mulut cerewetnya bertanya jawab dengan Rino yang menjawab pertanyaan Nana dengan nada-nada cueknya, hingga kemudian pertanyaan Rino membuat suasana kembali menegang.

“Lo suka sama cewek gue? Kenapa lihatin dia kayak gitu?” Pertanyaan tidak bersahabat yang di ajikan Rino pada Yoga tentunya.

Kesha menatap Yoga dengan tatapan bingungnya, Nana sendiri seketika mengangkat wajahnya, ia menatap Rino dengan tatapan tak percayanya, bagaimana mungkin Rino mengatakan hal itu? Mana mungkin juga lelaki di hadapannya itu menyukainya, sedangkan mereka  mungkin saja baru bertemu hari ini.

“Kenapa kamu bilang seperti itu?” Yoga berbalik bertanya dengan setenang mungkin, padahal kini perasaannya sedang tak karuan.

Nana, adalah gadis yang membuat hidupnya lebih bersemangat sejak Empat tahun yang lalu. Setelah pertemuan pertamanya hari itu, Yoga selalu saja menanyakan tentang Nana pada Bian, kakak Nana. Entah itu tentang kehidupan Nana, atau tentang apapun yang di lakukan Nana di rumah. Yoga seakan sudah terpaut pada gadis mungil itu. Bian, temannya yang tak lain adalah kakak Nana, bahkan sampai menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin Yoga tertarik dengan anak yang usianya baru dua belas tahun?

Hari demi hari Yoga lewati, hingga kemudian dirinya lulus perguruan tinggi dan memilih bekerja di Surabaya, di kantor cabang milik ayah tirinya, ayah Rino. Ketika Weekend tiba, Yoga memilih pulang, bertemu dengan sang ibu dan juga keluarganya, termasuk Rino, tapi yang paling dia nantikan adalah ketika mendengar kabar tentang Nana dari Bian.

Bian bahkan menyebut Yoga gila, jika Yoga menyukai Nana, kenapa tidak langsung menemui Nana saja? Kenapa harus mencuri-curi pandang seperti seorang maling yang takut ketahuan? Yang yang bisa Yoga jawab adalah, ia takut jika Nana lari ketakutan karena dirinya yang begitu tergila-gila pada gadis tersebut.

Kini, kenyataan di depannya sunggu di luar dugaan. Kenapa bisa Rino berpacaran dengan Nana? Kenapa Bian tidak pernah bercerita jika Nana memiliki seorang kekasih? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang menari-nari di kepalanya.

“Lo nggak berhenti lihatin dia.”

“Melihat belum tentu suka.”

“Oh ya? Gue bakal ingat apa yang lo bilang hari ini.” ucap Rino sambil tersenyum miring.

Yoga hanya mampu menatap adiknya itu dengan tenang dan datar, tanpa sedikitpun terlihat emosi. Selama ini Rino selalu memperlakukan Yoga dan ibunya seperti hama yang membuat keharmonisan rumah tangga Mama dan Papanya hencur hingga berujung kematian Mamanya. Dan Yoga hanya mampu diam tanpa melawan adiknya itu

Memangnya apa yang perlu ia lawan? Nyatanya memang seperti itu. Ibunya datang merusak hubungan Mama dan Papa Rino, membuat Mama Rino yang sudah sakit semakin parah, dan wanita itu meninggal, meninggalkan Rino dengan dendam yang sepertinya tak akan pernah padam di dadanya. Yoga menyadari, jika ia di posisi Rino, mungkin ia juga akan melaukan hal yang sama. Karena itulah Yoga selalu menyadari posisinya yang selalu salah di mata adik tirinya itu.

Mengenyahkan pikiran-pikiran yang membelit di kepalanya, Yoga melirik ke arah arloji yang melingkat di tangan kirinya.

“Kesha, sudah sore, kita pulang ya?” tanya Yoga sambil menatap lembut ke arah adiknya.

“Kok pulang sih, Mas?”

“Mas ada kerjaan setelah ini.”

“Ini kan weekend,  harusnya kalau sudah di Jakarta Mas jangan lagi mikirin pekerjaan.” Gerutu Kesha.

Yoga tersenyum lembut. “Mas lagi ada janji, Sha.”

Kesha mendesah panjang kemudian menganggukkan kepalanya. “Ya sudah, aku sama Mas Yoga pulang dulu ya, Mas Rino kapan-kapan ajak pacarnya main ke rumah dong.”

“Pasti.” Hanya itu jawaban Rino.

“Hore, dan kakak, semoga betah sama sikap Mas Rino.” ucap Kesha pada Nana yang seketika di balas Nana dengan senyuman lembutnya.

Yoga dan Kesha akhirnya pergi meninggalkan Rino dan Nana. Seketika itu juga Rino melepaskan genggaman tangannya yang entah sejak apan sudah menggenggam telapak tangan Nana.

“Siapa mereka?” meski Nana dapat sedikit menebak hubungan Rino dengan dua orang tadi, tapi Nana belum puas jika belum mendapat penjelasan sendiri dari Rino.

“Bukan siapa-siapa.” jawab Rino dengan cuek.

“Ihh, ngeselin, di tanya baik-baik juga.” gerutu Nana.

“Adikku, apa kau puas?”

“Kalau yang satunya?”

Rino menatap Nana dengan tatapan tajamnya. “Kenapa kamu tanya tentang dia? Kamu suka?”

“Bertanya belum tentu suka, kan? Ngeselin banget.”

“Lupain aja, dia bukan siapa-siapa.” Kemudian Rino berjalan pergi begitu saja meninggalkan Nana yang mau tak mau mengikutinya walau dengan menggerutu di dalam hati.

***

Entah sudah berapa lama Yoga duduk di pinggiran ranjangnya. Sesekali ia memijit pangkal hidungnya karena merasakan nyeri di kepalanya. Yoga melirik ke sebuah meja kecil yang ada di sebelah ranjangnya, di sana ada foto seorang gadis sedang tertawa lebar, siapa lagi jika bukan Nana Erieska? Di raihnya foto tersebut di tatapnya dengan mata sendunya.

Nana, bagaimana ungkin gadis itu berpacaran dengan adiknya sendiri? Yang benar saja, Yoga tidak akan bisa mendekati Nana lagi jika kekasih Nana adalah Rino, dan Rino, Astaga, vagaimana mungkin adiknya itu tertarik dengan gadis polos seperti Nana Erieska?

Yoga memejamkan matanya frustasi, kemudian ia bangkit ddan bergegas pergi mencari udara segar. Mungkin ia harus bertemu dengan Bian, dan tentunya mmencari tahu kabar tentang Nana. Oh sial! Yoga benar-benar tidak bisa berpaling lagi dari sosok Nana Erieska.

***

Setelah makan malam dengan kedua orang tuanya, Nana lekas beranjak menuju kamarnya. Jika biasanya ia akan bersenda gurau terlebih dahulu dengan kakaknya di teras rumah, maka malam ini tidak. Bian, kakakya itu pergi sejak sore an belum juga kembali, padahal sudah lewat jam makan malam. Semakin sering seperti itu setelah kakaknya itu mengenalkan kekasihnya, Friska, pada keluarga mereka.

Nana menghela napas panjang. Jika nanti kakaknya itu menikah, ia tentu merasa kehilangan. Bian memang  sering usil padanya, tapi kakaknya itu selalu melindunginya, dan Nana sangat menyayangi kakaknya itu, begitupun sebaliknya.

Nana melemparkan diri di atas ranjang mungilnya. Jemarinya meraih sebuah novel yang tadi baru ia baca beberapa lembar dan ia tinggal begitu saja di atas ranjangnya ketika sang ibu memanggilnya untuk makan malam. Dibacanyaa lagi novel tersebut, tapi kemudian ia berakhir merutuki dirinya sendiri karena sama sekali tidak bisa berkonsentrasi terhadap apa yang ia baca.

Konsentrasinya terpecah dengan keadaan yang tadi siang ia alami. Rino, kakak kelasnya yang sangat menyebalkan, tapi dia suka, dan juga, lelaki itu. Oh, kenapa lagi ia memikirkan lelaki itu? Memangnya siapa dia? Kalaupun lelaki itu benar-benar teman kakaknya, memangnya kenapa? Tidak! Nana tidak ingin lagi memikirkan lelaki yang memiliki mata memikat itu.

Ketika Nana sibuk menggelengkan kepalanya karena menepis semua bayang-bayang dari sepasang mata yang memikatnya, ia mendengar ketukan pintu kamarnya. Siapa? Biasanya sang ibu sudah tidak akan mengganggunya ketika Nana sudah masuk ke dalam kamar setelah makan malam. Apa itu kakaknya? Dan jika itu kakaknya, maka Nana tidak ingin membuka pintu tersebut, kakaknya pasti sedang mengganggunya, atau menjailinya seperti biasanya, dan saat ini, Nana sedang tidak ingin di jahili.

Tapi pintu tersebut di ketuk semakin keras dan Nana mendengar sang kakak memanggil-manggil namanya seakan ada hal penting yang ingin disampaikan kakaknya tersebut.

Dengan enggan Nana bangkit dan membuka pintu kamarnya. Ia mendapati sang kaka sedang berdiri dengan cengiran khasnya.

“Ada apa sih, Mas?”

“Ayo, ikut Mas turun.” Bian menyeret Nana keluar dari kamarnya, sedangkan Nana hanya bisa menuruti apa mau Bian walau dengan menggerutu kesal karena ia kini hanya mengenakan baju tidur tipisnya.

“Mas, kita mau kemana?” tanya Nana sedikit kesal karena ternyata Bian mengajak Nana mmenuju ke teras rumah mereka.

Nana tercengang ketika berada di teras rumah mereka. Di sana ada Friska, kekasih Bian, dan juga lelaki itu, lelaki dengan mata memikatnya, wajah tampannya, dan suara beratnya.

Lelaki itu berdiri seketika saat melihat kedatangan Nana, keduanya saling pandang cukup lama dan berhenti ketika Bian mengganggu suasana caanggung di antara ereka.

“Kalian ngapain pandang-pandangan gitu?”

Pertanyaan Bian sontak mengalihakan pandangan Nana dan juga Yoga ke arah lain. Salah tingkah satu sama lain hingga membuat Bian tertawa lebar dan mendapatkan hadiah cubitan dari Friska, kekasihnya.

“Oke, Na, Mas Bian nyuruh kamu turun sebentar untun nemani teman Mas sebentar. Namanya Yoga.”

“Kok aku?”

“Mas mau ngantar kak Friska pulang dulu. Nggak enak kan kalau ad tamu dan di tinggal?”

Nana mengerucutkn bibirnya. Bukannya Nana tidak ingin, tapi Nana benar-benar merasa canggung di sekitar lelaki itu, lelaki yang dulu sering i bayangkan ketika dirinya masih SMP. Dan astaga, lelaki ini ternyata lebih tampan dari bayangannya.

Nana menggelengkan kepalanya cepat saat menyadari jika pikirannya mulai ngelantur kemana-mana.

“Kenapaa geleng-geleng gitu? Ngelamunin Boyband favorit kamu ya?”  tanya Bian dengan mengejek.

“Apaan sih Mas.”

“Hahaha ya sudah, aku tingal dulu. Temanin bentar ya, Na.” Nana hanya menganggukkan kepalanya. Ia mulai berjalan mendekat ke arah lelaki yang bernam Yoga tersebut, kemudian duduk di sebelah lelaki itu ketika bayangan kakaknya dan juga Friska menghilang dari balik gerbang pintu rumahnya.

Tiba-tiba Nana melihat lelaki di sebelahnya itu mengulurkan telapak tangannya. Nana melihat jari  jemari lelaki itu yang terlihat panjang dan lebih besar jadi pada jemarinya. Kemudian pandangan Nana teralih pada wajah lelaki itu. Lelaki itu menampakan senyuman yang paling mempesona, senyuman yang seakan mampu membuat perut Nana terasa mulas karena kepakan dari ribuan kupu-kupu yang bersarang di sana.

“Prayoga.”

Oh, suaranya. Terdengar sangat maskulin. Apa ini yang di sebut dengan suara bariton pada novel-novel romantis yang pernah ia baca? Jika iya, maka lelaki di hadapannya itu adalah jelmaan dari lelaki yang ada di dalam novel yang pernah ia baca.

Masih dengan ternganga karena terpesona dengan ketampanan yang terpahat sempurna pada wajah lelaki di hadapannya itu, Nana membalas uluran tangan lelaki tersebut.

“Nana.” Hanya itu yang dapat Nana ucapkan. Ya Tuhan, bagaimana mungkin ia bisa sekikuk ini dengan lelaki yaang baru aja di temuinya?

“Jadi, Nana, kamu yang tadi siang bolos dengan adik saya, eh?” tanya Yoga dengan senyuman lembutnya.

Nana mendelik seketika. Oh sial, ia bahkan lupa tentang kejadian membolos tadi siang karena terlalu sibuk dengan keterpesoaannya pada sosok adonis di hadapannya itu. Bagaimanapun juga lelaki di hadapannya itu adalah teman kakaknya, bagaimana jika lelaki itu mengadukan aksi membolosnya tadi siang pada sang kakak? Oh, Bian pasti akan sangat marah. Apalagi mengingat jika dirinya membolos dengan seorang pria. Dan apa tadi dia bilang, Adik? Jadi Rino benar-benar adik dari lelaki tersebut? Tapi kenapa sikap Rino begitu kurang ajar dengan lelaki itu tadi siang?

“Uum, itu, saya.”

“Kamu tidak perlu takut, saya tidak akan bilang sama Bian.”

Nana menghela napas lega saat mendengar penjelasan Yoga. Ya, Yoga terlihat seperti sosok yang baik ketika di lihat dari wajahnya, Yoga tentu tidak mungkin mengadukannya pada sang kakak.

“Tapi saya punya syarat untuk kamu, untuk menjadi penutup mulut saya.” Lanjut Yoga yang seketika itu juga membuat Nana menatap Yoga dengan penuh tanya.

Syarat? Syarat apa? Kenapa lelaki yang baru di kenalnya itu mengajukan syarat padanya? Yang benar saja.

“Syarat? Syarat apa, Mas?”

Entah dari mana Nana berani memanggil lelaki itu dengan panggilan ‘Mas’, selama ini Nana hanya memanggil kakaknya dengan penggilan itu, tidak ada lagi lelaki yang di panggilnya dengan panggilan tersebut, tapi dengan Yoga, entah kenapa ia ingin memanggil lelaki itu dengan panggilan yang menurutnya lebih akrab di dengar.

“Nana.”

Lelaki itu kembali memanggil nama Nana dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya. Dan itu membuat Nana menatap penuh tanya pada lelaki tersebut.

“Jadilah kekasih saya.”

Dan tiga kata tersebut sontak membuat Nana membulatkan matanya seketika. Menjadi kekasihnya? Kekasih seorang Prayoga yang memiliki ketampanan di atas rata-rata? Kekasih Prayoga, yang ternyata kakak dari orang yang kini menjadi pacarnya? Oh apa lagi ini? Tidak cukupkah kehidupan di sekolahannya berantakan karena seorang Rino Permana? Dan kini seakan Tuhan menambah lagi sesosok Prayoga untuk kembali membuat hidupnya semakin jungkir balik karenanya. Apa ia memiliki kesalah di masa lampau hingga Tuhan menghukumnya dengan cara menggelikan seperti ini? Oke, ini berlebihan. Tapi demi Tuhan, seorang Rino saja sudah mampu membuat jantungnya jumpalitan tidak keruan, apalagi di tambah dengan seorang Prayoga?

 

-TBC-

Adakah yang menunggu cerita ini?? semoga ada hahhahahha

Sweet in Passion – Epilog

Comments 8 Standard

wattpadsipSweet in Passion

#Epilog

Hari demi haripun berlalu, hingga tidak terasa sudah tujuh tahun Febby menjadi istri seorang Randy Prasaja. Randy yang dulunya hidup sebagai seorang selebritis kini berubah total. Dirinya kini menjadi seorang CEO dari perusahaan milik keluarganya, menggantikan sang ayah untuk meneruskan usaha keluarganya yang sudah turun temurun tersebut.

Randy lega dengan hal itu, karena kini dirinya tidak perlu repot-repot mengenakan pakaian untuk penyamaran lagi jika jalan-jalan bersama istri dan anaknya. Meski masih ada beberapa produser yang tertarik dengannya tapi Randy tetap menolak untuk masuk kembali dalam dunia pertelevisian.

Kegiatan Febbypun masih sama, dirinya kini masih menjadi dokter spesialis anak, meski terkadang ia juga mengajak putra pertamanya, Darren Prasaja, ikut ke rumah sakit menemaninya. Febby sangat bersyukur dengan keadaan yang dialaminya saat ini. Memikiki suami tampan yang menyayanginya dan juga putra yang lucu dan menggemaskan, hidupnya terasa sangat bahagia, terkecuali satu hal. Kakak kandungnya, Dea.

Saat ini Febby sedang berdiri menghadap sebuah kaca transparan yang didalamnya terdapat seorang wanita yang sedang memeluk guling sambil bernyayi-nyanyi. Wanita itu tidak lain adalah Dea, kakak kandung Febby yang kini sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit jiwa.

Ya, Dea saat ini tengah gila karena di tinggal pergi oleh suami dan anaknya. Beberapa bulan yang lalu, Leo, suami Dea, mengalami kecelakaan saat menjemput putrinya pulang dari sekolah. Suami dan puterinya itupun tewas seketika di tempat kecelakaan tersebut, sedangkan Dea yang saat itu berada di rumah tidak dapat menerima kabar buruk tersebut, hingga pada akhirnya dirinya mengalami depresi berat hingga harus di masukkan kedalam rumah sakit jiwa.

“Bagaimana, apa kamu sudah menjenguknya?” tanya Randy yang kini sudah berdiri tepat di sebelah Febby.

Febby lalu mengangguk. “Ran, kapan dia bisa sembuh?” tanya Febby lirih masih dengan menatap ke arah kakaknya yang ada di dalam ruangan tersebut.

“Tenang saja, aku yakin dia pasti sembuh, walau mungkin butuh waktu yang lumayan lama.” jawab Randy kemudian. “Aku tidak menyangka jika kamu masih mengkhawatirkannya setelah apa yang sudah dia lakukan terhadapmu.”

“Dia tetap kakakku, walau dia pernah bersalah, tapi aku sudah memaafkannya.”

“Tapi mungkin Tuhan belum memaafkannya, mungkin ini akan menjadi sebuah pelajaran hidup bagi kita nanti kedepannya supaya bisa lebih baik lagi.” ucap Randy dengan bijak.

Febby mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap Randy dan tersenyum simpul. “Sejak kapan kamu menjadi lelaki tua yang suka mengucapkan kata-kata bijak seperti tadi?”

“Aku belum tua,  dan apa kamu baru menyadarinya? Bukankah sejak dulu aku sudah bijak?”

“Bijak? hahaha yang benar saja.” kata Febby sambil tertawa mengejek. “Ayo kita pulang, mungkin Darren sudah telalu lama menunggu kita di rumah Mama.” Ajak Febby sambil menarik lengan Randy dan berjalan menjauhi ruang perawatan Dea.

“Hei, biarkan saja dia di sana, sementara itu kita bisa melakukan hal-hal yang dilakukan suami istri pada umumnya.” Randy berkata dengan nada sedikit menggoda.

“Hal-hal yang dilakukan suami istri pada umumnya?” Febby masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Randy. Tapi Febby kemudian membulatkan kedua bola matanya saat mengerti apa yang dimaksud Randy.

“Hei! Dasar! Apa kamu bisa menghilangkan otak mesummu itu sehari saja? Kamu mesum sekali!” teriak Febby sambil sesekali memukul lengan Randy dengan tasnya.

“Hei, hei, berhenti berteriak dan memukuliku.”

“Aku tidak peduli! Kamu lelaki paling mesum yang pernah kutemui.” Febby berkata masih dengan memukuli lengan Randy dengan tasnya sambil berjalan di lorong-lorong rumah sakit, sedangkan Randy sendiri hanya bisa terkikik dan berusaha menghindar dari pukulan-pukulan kecil istrinya tersebut.

Dan seperti itulah kehidupan rumah tangga mereka sekarang dan seterusnya. Akan selalu ada pertikaian-pertikaian kecil dalam rumah tangga mereka berdua. Febby sangat bahagia memiliki suami seperti Randy, meskipun Randy tidak jarang menggoda Febby hingga membuat Febby kesal dan marah, tapi itu seakan menjadi pupuk untuk membuat rasa cinta Febby terhadap suaminya tersebut tumbuh tinggi dan abadi selamanya.

Begitupun dengan Randy, Randy juga sangat bahagia memiliki Febby sebagai istrinya. Istri yang sama sekali tidak terbayangkan oleh pikirannya dahulu. Seorang dokter spesialis anak yang kaku dan membosankan, tapi Randy sangat mencintainya, bahkan Randy tidak yakin jika dirinya akan sebahagia seperti sekarang ini jika bukan Febby yang menemaninya dan menjadi istrinya.

 

 

–The End–

pendek aja yaa epilognya.. hahhahahaha wajar lah.. hahhahha oke makasih bgt buat yang udah baca dari awal sampai akhir, makasih bgt buat yang mau beli Pdfnya. aku bener-bener nggak nyangka ada yang mau beli. untuk yang pengen punya versi bukunya, jangan di hapus dulu dari library kalian yaa, mana tahu aku berminat cetak, hehhehe oke itu aja. jangan lupa baca juga cerita-ceritaku yang terbaru. aku tunggu vote dan komennya di cerita selanjutnya yaa.. *KissKiss

promo

Sweet in Passion – Chapter 15 (End)

Comments 3 Standard

wattpadsipSweet in Passion

Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi Randy memeluk Febby dari belakang. Keduanya sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

“Aku sudah berpisah dengannya.” Randy berkata lirih memecah keheningan membuat tubuh Febby bergetar hanya karena mendengar perkataan pengakuan Randy.

“Dan itu demi dirimu, aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu, aku meninggalkannya demi dirimu. Jadi aku mohon, maafkan aku, dan jangan tinggalkan aku.”

Astaga,  jantung Febby berdebar lebih cepat saat mendengar pernyataan Randy itu.

Febby lalu membalikkan badannya hingga menghadap Randy sepenuhnya. Lalu iapun memberanian diri untuk bertanya.

“Kenapa kamu meninggalkannya demi aku?”

“Karena aku mencintaimu.”

Randy mengatakannya dengan tegas seakan-akan tidak ingin di tolak dan tidak bisa di ganggu gugat. Febby yang mendengarnya hanya terganga, ia tidak menyangka jika Randy akan mengucapkan kata cinta kepadanya dengan setegas itu. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa dirinya mampu mengucapkan kata cinta untuk Randy?

 

Chapter 15(End)

 

Apa kamu mendengarku? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, aku bahkan bisa gila jika tidak melihatmu.” kata Randy lagi dengan penuh penegasan.

“Tidak! Mana mungkin kamu, kamu-” Febby tidak dapat berkata-kata lagi.

“Ya, itu memang tidak mungkin untuk Randy yang dulu, tapi Randy yang berada di hadapanmu adalah Randy yang berbeda. Randy yang bodoh, yang bisa dengan mudahnya jatuh ke dalam pesonamu. Randy yang gila hanya karena tergoda olehmu, Randy yang bisa mati hanya karena tidak bersamamu. Aku mencoba menyembunyikan semuanya darimu, tapi sepertinya aku gagal, perasaanku benar-benar tidak bisa terbendung lagi, apalagi ketika aku melihatmu dengan lelaki lain.” jelas Randy panjang lebar.

Lagi-lagi Febby tak dapat berkata apa-apa. Dirinya terlalu sibuk mengatur debaran jantungnya yang seakan-akan ingin meledak karena pernyataan cinta yang sedang di ungkapkan oleh Randy.

“Febb, maafkan aku, aku tahu aku bersalah, mari kita mulai semuanya dari awal, aku mohon.” Randy menggenggam telapak tangan Febby dan memohon dengan tulus.

“Tidak! Aku tidak bisa.” jawab Febby sambil melepaskan genggaman tangan Randy dan berpaling membelakangi Randy.

Randy benar-benar sangat terkejut dengan penolakan yang di berikan oleh Febby. Baru kali ini dirinya ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita.

“Aku tidak bisa memulainya dari awal karena itu tandanya aku harus menghapus dan melupakan semua waktu yang sudah kita lalui selama ini, aku tidak bisa, karena semua waktu itulah yang membuatku mencintaimu.” kalimat terakhir Febby membuat tubuh Randy menegang dan kaku seketika.

Febby lalu membalikkan badannya kembali untuk menghadap Randy. Ia kemudian mendaratkan telapak tangannya tepat pada dada bidang Randy.

“Aku tidak bisa melupakan semuanya, aku hanya bisa melanjutkan apa yang sudah kita mulai, dan aku pikir, aku tidak akan bisa mengakhirinya nanti.” ucap Febby dengan sedikit menunduk dan masih merabakan kedua telapak tangannya pada dada Randy.

Febby terlihat sangat malu mengatakan kalimat-kalimat yang tadi baru saja ia ucapkan. Astaga, seumur hidupnya ia tidak pernah mengatakan kata-kata menggelikan seperti itu.

Berbeda dengan Randy, perkataan Febby tersebut membuat Randy semakin tidak dapat menahan diri. Diraihnya pinggang Febby lalu disambarnya bibir Febby, mengulumnya, menuntutnya seakan-akan Randy hanya bisa bertahan hidup dengan ciuman Febby.

Febby sendiri mulai mengerang, mendesah hanya karena ciuman yang di berikan oleh Randy. Randy  benar-benar mempengaruhinya. Lelaki di hadapannya  ini benar-benar terlihat panas dan menggoda,

Astaga, sejak kapan Febby menjadi semesum ini? Sejak kapan di dalam otaknya hanya terpikirkan kata bercinta, bercinta dan bercinta saja? Apa karena hormon kehamilan yang mempengaruhinya? Ya, tentu saja karena hormon sialan itu. Pikir Febby.

Randy mulai menjalankan jari jemarinya di seluruh punggung Febby, menggodanya, membuat Febby merinding hanya karena sentuhan yang di berikan oleh Randy.

Randy lalu mulai membuka resleting baju Febby yang berada di punggung belakangnya. Sedikit demi sedikit tanpa melepaskan ciumannya. Randy mulai mencumbui rahang hingga leher Febby, dan itu membuat Febby semakin menggila.

“Kamu, Uuggh, mau apa?” Tanya Febby yang masih memejamka matanya, menikmati semua cumbuan dari Randy.

“Mau apa lagi? tentu saja kita akan bercinta.” jawab Randy dengan santai masih dengan mencumbui tengkuk leher Febby.

“Apa? Astaga, Ran.” Febby terlihat seakan-akan susah berkata-kata.

“Hemm.” Hanya itu jawaban Randy yang saat ini sudah mulai menurunkan baju Febby. Dan meremas gundukan yang berada pada dada Febby.

“Kita,  tidak boleh, melakukannya.. eemmpptt..” Febby  menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan gairahnya.

“Kenapa?”

“Karena aku, hamil.” Kata Febby dengan susah payah.

Randy menghentikan cumbuannya seketika dan mulai memandang Febby dengan tatapan tajamnya.

“Apa orang hamil dilarang bercinta?” tanya Randy  penuh dengan penekanan.

Febby yang sudah setengah telanjangpun akhirnya salah tingkah dengan tatapan yang di berikan oleh Randy.

“Uum, tidak, hanya saja-” Febby tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi ketika Randy kembali menyambar bibirnya.

Randy lalu melepaskan ciumannya “Kita hanya main-main sebentar, aku yakin itu tidak akan mengganggunya.” Kata Randy yang saat ini sudah meloloskan seluruh pakaiannya membuat Febby berpaling dari pandangan indah di hadapannya itu.

“Uum, tapi itu kurang bagus, karena usia kandunganku masih rawan.”

“Astaga,kita hanya sebentar sayang, aku janji tak akan menyakitimu.”

“Tapi-”

“Demi Tuhan Febb. apa kamu ingin membuatku gila? Aku sudah hampir meledak, dan astaga,  jika menikahi dokter akan sesulit ini aku tidak akan pernah mau menikahi dokter lagi.” Gerutu Randy dengan kesal.

“Baiklah.” Febbypun akhirnya mengalah. “Sekarang bagaimana? apa kita disini?” tanya Febby sedikit canggung dan gugup.

Randy tersenyum menyeringai. “Tentu tidak sayang, kita butuh suasana baru.” Kata Randy yang lalu mengangkat tubuh Febby dan  membuat Febby terpekik karenanya.

Randy menurunkan Febby di ruangan khusus yang di sediakan Randy untuk memajang koleksi-koleksi pakaiannya, tepat di depan kaca besarnya. Randy lalu melucuti satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Febby dengan sensual hingga saat ini Febby berdiri dihadapannya tanpa sehelai benangpun sama seperti dirinya. Randy menatapi setiap jengkal dari tubuh Febby, membuat Febby salah tingkah karenanya.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Aku hanya sedang mengamati makananku.”

“Apa? Makanan?”

Randy lalu tersenyum melihat ekspresi Febby. “Aku ingin bercinta denganmu, dengan menggunakan perasaan, aku tidak hanya menginginkan seks. Jadi kumohon nikmatilah semua ini.” Kata Randy sambil mendekatkan diri pada diri Febby dan mulai mencumbu Febby penuh dengan gairah. Jari jemari Randypun sudah menggoda kedua payudara sintal Febby, membuat Febby semakin menikmati permainan ini.

Cukup lama keduanya saling mencumbu saling menyentuh satu sama lain membuat keduanya semakin bergairah dengan permainan ini. Randy lalu membalikkan tubuh Febby hingga membelakanginya, dan menghadapkan tubuh mereka berdua pada kaca besar yang berada di hadapan mereka. Randy  lalu mencumbui setiap jengkal punggung halus Febby, dan meninggalkan jejak-jejak basah di sana.

Tanpa menunggu lagi Randy mengangkat Sebelah paha Febby lalu menenggelamkan diri sepenuhnya pada pusat diri Febby dari belakang, membuat Febby terpekik karena sensasi yang di rasakannya.

“Astaga, uugh, Apa yang kamu lakukan? Astaga.”

Randy sedikit tersenyum menggoda Febby. “Aku ingin percintaan kita kali ini menjadi percintaan yang paling erotis. Lihat dihadapanmu, aku ingin kamu melihat betapa seksinya dirimu dan betapa panasnya diriku saat berada didalam dirimu.” kata Randy sambil menunjuk kaca di hadapan mereka.

“Aku ingin kita berdua sama-sama menyaksikan apa yang sedang kita lakukan.” lanjut Randy lagi sambil memulai aksinya membuat Febby mendesah tak keruan.

Febby sudah tak dapat berkata-kata lagi. Ia terlalu sibuk dengan peraasaan dan gairah yang bercampur aduk didalam dirinya. Astaga, Randy benar, bercinta di depan kaca benar-benar sangat seksi dan erotis, membuat Febby tak dapat menahan dirinya sendiri. Satu tangan Randy mulai menggenggam jemari Febby yang berpegangan pada kaca di hadapannya. Randy juga masih mencumbui punggung dan tengkuk Febby tanpa menghentikan aksinya.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Randy di sela-sela cumbuannya.

“Astaga, ini, uugghh, ini benar-benar seksi.” desah Febby dengan susah payah.

“Apanya yang seksi, sayang?” Randy tak mau berhenti menggoda.

“Tubuhmu, yang berkeringat.”

“Kamu menyukainya?”

“Sangat suka.”

Randy lalu tersenyum. “Istriku yang nakal.” dan Randy akhirnya mempercepat lajunya masih dengan mencumbui punggung serta pundak Febby. Yang dilakukan Febby hanyalah mendesah pasrah sambil memejamkan matanya, menikmati setiap detik percintaan panasnya dengan Randy. Astaga, Randy benar-benar membuat Febby gila dan liar saat ini.

“Aku akan Sampai.” kata Randy lagi lalu dia menolehkan kepala Febby ke belakang dan melumat habis bibir Febby tanpa ampun ketika gelombang kenikmatan itu datang menghantam mereka.

Randy masih melumat bibir Febby meski mereka sudah tak menyatu lagi dengan tubuh wanita tersebut. Febby bahkan sudah terengah-engah hampir kehabisan napas. Dilepasnya cumbuan tersebut, dilihatnya Febby yang penuh dengan keringat yang astaga, membuat Randy menegang dan  menginginkannya kembali.

“Sialan!!” umpat Randy. Febby mengernyit mendengar umpatan Randy. “Aku tidak mengumpat terhadapmu, sayang, aku mengumpat pada diriku sendiri.”

“Dan apa kamu bisa menghentikan umpatan-umpatan itu dihadapanku? itu tak baik untuk bayi kita.”

“Astaga, aku bahkan hampir lupa jika kamu sedang hamil dan  kita akan memiliki bayi.”

“Ya, karena kamu terlalu sibuk dengan selangkanganmu” gerutu Febby sambil bergegas menjauhi Randy, tapi baru berapa langkah, Febby hampir terjatuh jika Randy tidak meraihnya.

“Apa kamu bisa lebih berhati-hati?”

“Ini semua salahmu! kamu membuatku hampir tidak bisa jalan karena lemas.”  Febby berbalik memarahi Randy.

Randy menghela napas panjang, mulai saat ini sepertinya dirinya harus lebih sabar meghadapi sikap Febby.

“Baiklah, aku memang bersalah Nyonya Prasaja, maafkan aku.” kata Randy yang kali ini sudah mengangkat tubuh Febby dan menggendongnya menuju ke atas ranjang di kamarnya.

“Kamu mau apa?”

“Mau apa lagi, tentu saja menidurkanmu.”

“Aku bisa tidur sendiri.”

“Hei, kamu tidak perlu gugup seperti itu. Kita sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing Jadi jangan berharap aku membiarkanmu memungkiri perasaanmu sendiri lagi.” Lalu Randy akhirnya membaringkan tubuh Febby di ranjang dan menyelimutiya. “Istirahatlah dulu, aku akan membuatkanmu makanan lalu aku akan membersihkanmu nanti.” lanjut Randy.

“Kenapa kamu perhatian sekali?”

“Astaga, apa bisa kamu tak banyak tanya dan hanya menikmati semua ini?”

“Tapi kamu terlihat aneh.” kata Febby sambil tersenyum.

“Ya, sekarang aku memang aneh. Karena aku menjadi lelaki bodoh yang tunduk dengan istrinya, apa kamu puas?”

Dan Febbypun hanya tersenyum mendengar pernyataan Randy. Randypun dengan santainya mengecup kening Febby, membuat Febby dirayapi oleh perasaan aneh di sekujur tubuhnya. Astaga, Randy manis sekali.

***

Setelah memasak dan mandi bersama Randypun membawakan Febby sebuah nampan yang penuh dengan makanan. Ada sebuah sup jagung, salad buah,  dan beberapa makanan lainnya. Randy tak lupa membuatkan Febby segelas susu. Astaga, sejak kapan Randy berubah menjadi lelaki yang perhatian dan manis seperti sekarang ini?

Randy masuk ke dalam kamar mendapati Febby duduk santai di atas ranjang masih dengan mengenakan kimono tidurnya.

“Ayo buka mulutmu, Haa…” Kata Randy yang saat ini sudah duduk di pinggiran ranjang dengan tangan yang sudah siap menyuapi Febby layaknya seorang ibu yang menyuapi anaknya.

Febby yang melihat tingkah laku Randy hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.  “Kamu menggelikan sekali.”

“Menggelikan? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu.”

“Kamu tidak perlu seperti ini,  lagi pula aku hanya hamil, bukan sakit keras, jadi aku bisa makan sendiri.”

“Aku hanya ingin menjadi suami yang baik untukmu, apa kamu tidak ingin kita menjadi pasangan suami istri romantis seperti pada umumnya?”

“Sepertinya itu tidak akan terjadi, aku bukan tipe wanita romantis.”

“Benar, karena kamu wanita yang sangat kaku dan membosankan.” Kata Randy sambil tersenyum menggoda, sedangkan Febby hanya bisa membulatkan kedua matanya ke arah Randy. “Tapi aku mencintaimu, aku mencintaimu karena kamu kaku dan membosankan.” lanjut Randy lagi yang langsung membuat kedua pipi Febby memerah.

“Kamu tidak perlu mengucapkan kalimat itu lagi.” Kata Febby dengan malu-malu.

“Kenapa memangnya?”

“Kamu tahu? Aku malu saat kamu mengatakan ‘aku mencintaimu, aku mencintaimu,’ dan itu membuat jantungku seakan-akan ingin meledak.”

Dan tertawalah Randy dengan lebarnya saat mendengar pernyataan Febby.

“Febb, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu.” Kata Randy masih dengan tertawa.

Lalu setelah itu keduanyapun sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Ran.” Febby mulai membuka suara.

“Hemm..” Jawab Randy sambil menatap Febby dengan penuh perhatian.

“Bagaimana hubunganmu dengan Marsela?” Febby  mencoba untuk bertanya tentang masalah pribadi Randy, karena baginya masalah pribadi Randy sekarang juga akan menjadi masalah pribadinya.

“Aku sudah mengatakan padamu jika kami sudah berpisah. Aku tidak bohong mengenai itu.”

“Tapi kamu akan menyaitinya.”

“Lebih baik aku menyakitinya sekarang dari pada nanti, dan aku juga tak ingin menyakitimu, menyakiti hatiku, dan juga menyakiti hati orang yang mencintai Marsela.”

Febby mengangkat sebelah alisnya. “Orang yang mencintai Marsela?”

“Kamu tidak perlu tahu, tapi kuharap mereka nanti bisa bersatu dan bahagia.”

“Tapi, apa kamu benar-benar tidak menyesal memutuskannya? Maksudku, apa kamu tak takut jika perasaanmu ini hanya sementara saja denganku?”

“Apa kamu gila? Perasaan ini benar-benar perasaan nyata, aku bahkan sudah merasakan perasaan ini selama beberapa bulan terakhir, hanya saja aku terlalu malu mengakuinya padamu. Dan kumohon percayalah, perasaan ini benar-benar nyata untukmu.”

Febby lagi-lagi  hanya ternganga mendengar pernyataan dari Randy. Ini sudah seperti mimpi baginya, menikah dengan Randy karena dijodohkan, Febby tak pernah berfikir mereka akan berakhir saling mencintai mengingat sifat keduanya yang sama-sama keras kepala bahkan selalu bertengkar bagaikan kucing dan tikus.

“Lalu, bagaimana hubunganmu dengan lelaki bajingan itu?” tanya Randy dengan nada sedikit menyindir.

“Astaga, apa kamu bisa berhenti menyebutnya lelaki bajingan? Brian orang yang sangat baik, tahu!”

“Aku tidak peduli.”

Febby menghela napas panjang. “Kami tidak ada hubungan apa-apa.” kata Febby jujur.

“Benarkah?” Randy masih tak percaya.

“Dia memang menyatakan cinta terhadapku, tapi aku sudah mengatakan padanya jika aku mencitaimu, dan aku hanya menganggapnya sebagai teman atau saudara saja.”

“Tapi kamu pernah mengatakan jika kamu dan dia pernah berciuman. Apa itu benar?” Randy masih mendesak seakan menuntut kebenaran.

Febby menelan ludahnya dengan susah payah karena tak tahu harus menjawab apa.

“Hehehehe,  itu, karena aku terlalu terbawa suasana.” kata Febby  pelan  sambil sedikit menyunggingkan senyuman anehnya.

“Apa?! Jadi kalian benar-benar sudah berciuman?!” teriak Randy.

“Iya, maafkan aku.”

“Kamu benar-benar keterlaluan!” Randy berkata dengan nada yang di buatnya marah.

“Hei, bukankah kamu lebih parah? Kamu bahkan bercinta dengan wanita lain saat kita sudah menjadi suami istri.” kali ini Febby yang pura-pura marah terhadap Randy.

Kini giliran Randy yang menelan ludahnya dengan susah payah, sepertinya ia memang harus mengalah menghadapi Febby, jika tidak, Febby akan gampang sekali meledak-ledak.

“Aku kan sudah minta maaf.” ucap Randy memelas.

“Baiklah, berarti kita sudah impas. Lagi pula aku benar-benar tidak ada hubungan yang spesial kok dengan Brian.” kata Febby kemudian. “Lalu bagaimana dengan film terbarumu dengan Marsela? Apa hubungan kalian sekarang tidak akan mengganggu film itu?”

Randy lalu memeluk Febby. “Kamu tenang saja, film itu masih tetap berlanjut, aku akan tetap berakting dengannya seprofesional mungkin. Apa kamu tau, ini bukan yang pertama untukku?”

Febby mengerutkan keningnya. “Bukan yang pertama? Apa maksudmu?”

“Dulu aku sering bercinta dan menjalin hubungan dengan lawan mainku dalam sebuah film, hubungan kamipun berakhir sebelum film itu selesai di garap, dan aku bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.”

“Apa? Jadi kamu sudah bercinta dengan banyak wanita?!” Teriak Febby sambil  melepaskan pelukan Randy membuat Randy terpekik kaget dengan perubahan suasana hati Febby.

“Apa kamu bisa berhenti berteriak? Lagi pula bukankah kamu sudah membaca semua gosip tentang skandalku?” kata Randy santai.

“Pergi dari sini! Pergi! Pergi!” ucap Febby yang kini sudah memukul-mukul Randy dengan bantal dan guling mereka.

“Hei, apa yang kamu lakukan? Aku hanya berusaha jujur padmu.”

“Aku tidak peduli, pergi! Pergi!” Febby masih saja memukuli Randy dengan bantal. Membuat keduanya terlihat seperti anak kecil yang sedang main perang-perangan.

***

Beberapa bulan kemudian…..

Febby merasa sangat gugup ketika dirinya berada dalam situasi seperti saat ini. Dalam keadaan perut buncit dengan seluruh mata tertuju padanya, Randy yang berjalan di sebelahnya menggenggam tangan Febby dengan erat seakan-akan mengatakan jika semua akan baik-baik saja.

Mereka berdua kini sedang menghadiri acara pemutaran perdana film “Passion of Love”, Film yang dibintangi Randy dan Marsela.

Febby gugup karena setelah pemutaran perdana nanti, akan ada sesi konferensi pers para pemainnya terutama Randy, dan mau tak mau Febby ikut dalam konferensi pers tersebut karena ia istri Randy. Belum lagi kabar yang belakangan ini ramai di gosipkan karena kedekatannya dengan rival Randy, yaitu Brian.

Ya, gosip kedekatan Febby dan Brian belum juga menghilang dari permukaan karena baik Febby atau Brian memilih bungkam tak memberikan komentar atau klarifikasi apapun mengenai itu. Randy melarang Febby untuk melakukan klarifikasi karena itu mungkin saja akan mengganggu kehamilan Febby. Randy bahkan berkata jika dirinyalah nanti yang akan melakukan konferensi pers terkait kabar kedekatan Febby  dengan Brian.

Akhirnya pemutaran perdana itupun selesai juga, Febby sedikit kesal melihat adegan demi adegan mesra yang dilakukan Randy dengan Marsela, mungkin karena hormon kehamilannya yang membua Febby menjadi lebih sensitif dengan keadaan di sekitarnya.

Saat ini mereka sudah duduk menghadap puluhan wartawan yang sedang meliput mereka, pertanyaan demi pertanyaanpun di jawab dengan baik oleh para pemain tak terkecuali Randy. Hingga akhirnya pertanyaan itupun  keluar dari salah seorang wartawan, wartawan yang bernama Amar, wartawan yang selalu mengorek apapun kabar kehidupan pribadi Randy, Randy bahkan sempat berpikir, apa wartawan itu terlalu mengidolakannya hingga selalu mencari masalah terhadapnya? Yang benar saja.

“Randy, bagaimana hubunganmu dengan Marsela? Kami pikir kalian ada dalam suatu hubungan.” Randy sedikit menegang dengan pertanyaan tersebut, sebenarnya ia tak tahu harus menjawab apa, ia tidak mau menyakiti perasaan Febby ataupun Marsela.

“Aku pikir semuanya sudah jelas jika aku dan Randy tidak ada hubungan apa-apa, kami sebatas rekan kerja.” kata Marsela yang tiba-tiba menjawab pertanyaan wartawan tersebut dengan tegas,  membuat Randy dan seluruh yang ada di ruangan tersebut terkejut dengan jawabannya.

“Ran, apa aku boleh sedikit bercerita dengan mereka?” tanya Marsela pada Randy dengan sedikit menyunggingkan senyuman.

Randy melihat Febby seakan-akan ingin meminta persetujuan dengan Febby, dan Febbypun hanya bisa mengangguk menyetujui permintaan Marsela.

Dan Marsela akhirnya mulai bercerita. “Sebenarnya kalian benar, dulu kami memang sempat menjalin kasih, tapi hubungan kami itu sudah lama retak dan berakhir. Jadi aku mohon berhenti membuat skandal tentang kami, Randy sudah bahagia bersama istrinya yang baik, dan akupun sudah bahagia bersama dengan pasanganku. Jadi sekali lagi kumohon berhenti membuat gosip tentang kami.”

“Lalu di mana pasanganmu saat ini, Marsela?” tanya seorang wartawan lagi.

“Ya, kami tidak akan percaya begitu saja sebelum ada bukti nyatanya.” Tambah seorang wartawan lagi. Dan ruangan itupun semakin gaduh dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kekasih Marela. Wajah Marsela memucat karena ia mulai merasa tersudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, Marsela tahu jika dirinya tidak akan mampu menjawab satupun pertanyaan  yang dilontarkan wartawan tersebut karena mungkin saja Chiko tidak mau hubungannya dengan Marsela terekspos di depan publik. Ya, Marela mulai menjalin hubungan dengan Chiko, meski ia sendiri tidak yakin, hubungan apa itu namanya.

“Akulah kekasihnya.” Dan suara gaduh itupun berhenti ketika seorang Chiko Febrian datang menghampiri Marsela dan meraih pinggang Marsela sambil mengatakan kalimat tersebut dengan tenang.

“Chiko Febrian? Itu, itu sepertinya tidak mungkin. Bukankah anda seorang-” salah seorang wartawan berkata dengan terpatah-patah saking terkejutnya.

“Aku tidak peduli apapun yang kalian gosipkan, tapi aku dan Marsela memang sedang menjalin suatu hubungan, bahkan kami akan melaksanakan pernikahan akhir tahun nanti.”

“Apa?” Banyak arang di ruangan tersebut saling pandang tak percaya dengan pernyataan Chiko yang mengejutkan tersebut. Marselapun demikian sama terkejutnya dengan pernyataan Chiko. Menikah? Yang benar saja.

“Wah, bagus sekali, ini benar-benar kabar yang membahagiakan, selamat Big bro.” kata Randy sambil berdiri dan tersenyum lebar serta menyalami Chiko. Randy merasa berterima kasih dengan hadirnya Chiko, dengan begitu dia tak lagi di sangkut pautkan dengan Marsela. Astaga, enak sekali hidupnya.

Dan semua orang di dalam ruangan itupun bertepuk tangan memberikan selamatnya pada Marsela dan Chiko. Tapi ada seorang wartawan yang sejak tadi memperhatikan ekspresi kurang nyaman dari Febby, siapa lagi jika bukan Amar, wartawan yang gemar sekali membuka skandal orang di hadapan publik.

“Nona Febby, sepertinya kali ini giliran anda untuk menjawab, ada hubungan apa anda dengan Brian Winata? Seperti yang di kabarkan beberapa bulan terakhir, apa benar jika anda memiliki skandal dengan penyanyi tersebut?” tanya wartawan tersebut yang sontak membuat seluruh isi ruangan kembali hening dan mengalihkan pandangan ke arah Febby.

“Uumm, saya, saya.-” Febby  benar-benar terlihat gugup.

Randy lalu menggenggam telapak tangan Febby seakan-akan memberi kekuatan untuk Febby.

“Istriku tidak ada hubungan apapun dengan Brian.” jawab Randy dingin dan dengan ekspresi kerasnya membuat siapapun yang memandangnya bergidik.

“Tapi,  kejadian waktu itu-” kata seorang wartawan yang seketika menghentikan kalimatnya saat Randy menatapnya dengan tatapan sangarnya.

“Mereka hanya berteman, saat itu Febby dan aku memiliki masalah, dan Febby hanya berusaha untuk bercerita dengan Brian tentang masalah kami. Akhirnya Brianlah yang membantu menyatukan kami kembali.” Randy mau tak mau sedikit berbohong dengan pernyataannya kali ini.

“Membantu? Bukankah kalian adalah Rival?”

“Hahaha siapa yang bilang seperti itu? Bukanya kalian sendiri yang mengabarkan seperti itu. Kami menjadi Rival hanya dalam Film ‘Lady Killer’, Sebenarnya aku dan Brian adalah teman akrab.” kata Randy sesantai mungkin lengkap dengan tawa mengejeknya.

“Teman akrab? Apa itu benar?” banyak yang menyangsikan, tentu saja.

“Tentu saja benar, bahkan lusa aku dan Febby berencana untuk menonton konser Brian bersama-sama. Benar, kan sayang?” tanya Randy pada Febby. Febby sendiri hanya sedikit tak percaya dengan pernyataan Randy tersebut.

Febby memang sudah mengidamkan untuk melihat konser solo Brian yang akan dilaksanakan lusa, Febby bahkan sudah meminta Randy menemaninya tapi Randy menolaknya mentah-mentah. Tapi kenapa pernyataan Randy saat ini berbanding terbalik? dan Febbypun hanya bisa mengangguk pesrah dengan pertanyaan Randy tadi.

“Tapi menurut kabar kalian kan tidak akur? ini terlihat seperti sandiwaramu saja.”

“Terserah apa kata kalian, lagi pula tidak ada gunanya juga aku bersandiwara di depan kalian. Karena setelah film ini, aku vakum selamanya dari dunia pertelevisian.”

Dan setelah penyataan Randy tersebut semua orang yang di dalam ruangan tersebut menjadi sedikit gaduh, banyak dari mereka yang bertanya-tanya apa benar apa yang dikatakan Randy barusan.

“Ran, apa yang kamu bicarakan? Kamu tidak perlu sejauh ini.” lirih Febby sedikit berbisik ke arah Randy.

“Tenang saja, semuanya sudah kupikirkan masak-masak.” Randy kembali berbisik ke arah Febby. “Terimakasih untuk para teman-teman semua, para kru-kru yang pernah membantuku, para fansku, dan juga para wartawan yang selalu memperhatikanku. Terimakasih atas bantuannya selama ini.” kata Randy dengan tulus dan penuh hormat sambil menyunggingkan senyumannya.

“Randy, apa benar yang tadi anda sebutkan jika anda akan berhenti selamanya dari dunia hiburan.” tanya salah satu wartawan lagi untuk memastikan.

“Ya, saya benar-benar akan berhenti.” jawab Randy sambil menarik tangan Febby ntuk mengikutinya pergi.

“Permisi..” lanjutnya sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.

“Ran, lalu bagaimana dengan kontrak-kontrak kerjamu?”

“Ran, apa alasanmu berhenti?”

“Ran, bisakah anda jelaskan secara detail kenapa anda berhenti?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan wartawan yang  di abaikan begitu saja oleh Randy, Randy sendiri sudah tak peduli dengan apa yang akan ditulis wartawan tentang dirinya nanti, yang terpenting, ia akan menata kembali kehidupan rumah tangganya bersama dengan Febby dan calon bayinya tanpa adanya skandal murahan yang akan menggaanggu keharmonisan keluarga kecil mereka nantinya.

***

“Apa kamu tidak apa-apa? kenapa kamu diam saja?” tanya Randy yang saat ini sudah berada di dalam mobil.

“Uum, aku hanya tidak habis pikir denganmu.”

“Apa ada yang salah denganku?”

“Tidak, hanya saja, apa benar kamu akan berhenti dari dunia yag membesarkan namamu itu?”

“Kamu pikir aku bercanda? Aku benar-benar akan berhenti.”

“Tapi kenapa?”

“Tentu saja karena perusahaan keluargaku sudah membutuhkanku. Kamu tahu sendiri, bukan,  jika Kakakku tidak mungkin mau mengurus perusahaan  tersebut, jadi jika bukan aku siapa lagi?  Lagi pula bukankah ini tujuan keluargaku saat menjodohkan kita? Aku hanya ingin berterimakasih dengan Papaku, karena dia, aku memiliki istri yang baik dan cantik sepertimu.” Kata Randy sambil mencubit pipi Febby dan itu membuat Febby tersipu malu dengan pujian Randy. “Dan tentuya, istri yang seksi dan panas saat di ranjang.” lanjut Randy  lagi dengan tertawa cekikikan.

“Hei! Apa kamu bisa sekali saja menghilangkan otak mesummu itu, Mr. Prasaja?” Dan Randypun hanya tertawa melihat ekspresi Febby yang merah padam karena perkataannya.

***

“Randy, minta fotonya dong.”

“Ran, boleh minta tanda tangan?”

“Astaga, kamu tampan sekali.”

“Ya ampun, manis sekali.”

“Ran, aku penggemar setiamu.”

Astaga, Randy bisa gila karena di kerumuni oleh para fansnya. Saat ini dirinya sedang menonton konser solo Brian. Konser tersebut di adakan di sebuah ruangan yang sangat besar hingga mampu menampung ribuan penonton. Brian baru saja mengeluarkan mini album, dan saat ini lelaki itu sedang mengadakan konser solonya.

Randy tak habis pikir, bukannya ini konser Brian? kenapa para fans Brian malah meminta foto dengannya?

“Ahh,  menyebalkan sekali, membuat lelah saja.” gerutu Randy.

“Salah sendiri, kenapa juga kamu menjadi artis terkenal.”  jawab Febby cuek dan masih dengan memakan cemilannya.

“Hei, aku bukan artis lagi. Lagi pula apa ini? Kekanak-kanakan sekali. Kamu  kan sudah tua, dan apa kamu tidak lihat perutmu sudah besar begitu, pakai ikut acara seperti ini, membosankan sekali.” kata Randy sambil melempar poster Brian yang di bawanya serta bando lampu berbentuk tanduk setan yang berada di kepalanya dan di kepala Febby.

“Hei! Jangan di lepas. Ini kan permintaan dari anakmu.” Kata Febby sambil memakaikan kembali bando tersebut di kepalanya dan kepala Randy. “Lagian ini kan konser Brian, wajar kalau kita membawa poster Brian, dan nggak lucu kalau aku membawa postermu.”

“Setidaknya poster-posterku lebih panas dan lebih bagus dari pada poster sialan ini.” Randy tak berhenti menggerutu kesal.

Akhirnya tak lama Brianpun tampil membawakan lagu-lagu andalannya. Seluruh penonton berteriak histeris tak terkecuali Febby.

“Brian!! Astaga, dia keren sekali!!!” teriak Febby sambil berdiri seperti penonton lainnya.

“Hei, kamu tidak perlu ikut-ikutan berteriak seperti itu, menggelikan sekali.” kata Randy sambil menarik tangan Febby, tapi Febby tak peduli, dia masih saja berteriak-teriak seperti penonton lainnya.

“Dasar! Kamu benar-benar, kamu harus ingat dengan perut besarmu itu.” Randy lagi-lagi menarik tangan Febby, ia tentu tidak suka dengan sikap Febby yang terlihat sangat antusias dengan penampilan Brian.

“Kamu ini kenapa? untuk apa kita menonton konser  jika kita hanya berdiam diri seperti ini?” Febby sedikit kesal dengan  Randy. Tapi kemudian Febby  kembali berteriak-teriak histeris layaknya  para fans yang sedang menonton konser idolanya.

Dengan cemberut, Randy akhirnya mengalah dari pada dirinya bertengkar kembali dengan Febby. Tapi tanpa di sangka-sangka, Brian yang sedang menyanyikan sebuah lagu berjalan menuju ke arah Febby, lalu meraih dan menggenggam tangan Febby, membuat semua mata tertuju pada Brian dan Febby, sedangkan Randy yang duduk di sebelah Febby hanya ternganga melihat keberanian Brian mendekati Febby di hadapan publik. Sialan! apa yang dia lakukan? gerutu Randy dalam hati.

Tepat pada saat itu, lagu yang dinyanyikan Brian selesai. Dengan mengatur napasnya Brian mulai berkata-kata dihadapan semua orang yang berada dalam ruangan tersebut, dan itu tak luput dari beberapa media yang menyiarkan acara tersebut secara langsung, maupun beberapa wartawan yang memang berada di lokasi tersebut.

“Pasti kalian akan menganggap jika aku dan wanita ini memiliki hubungan special. Ya, kami memang memiliki hubungan special. Dia temanku, bahkan aku menganggapnya lebih dari pada teman. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi saudara kandungku sendiri, karena dia istri dari temanku.” Kata Brian panjang lebar sambil melirik ke arah Randy. Ruangan tersebut mendadak sunyi karena penjelasan yang di berikan Brian.

Randy sendiri tidak percaya dengan apa yang sudah di katakan Brian, dia tidak menyangka jika Brian akan bersedia mengkonfirmasi hubungannya dengan Febby dan membunuh opini buruk publik tentang apa yang terjadi di antara mereka beberapa bulan terakhir.

Randy  lalu berdiri dan berbisik pada Brian. “Terimaksih karena kamu mau membantuku.” ucap Randy dengan nada penuh sahabat, ia bahkan menggunakan kata ‘Aku-kamu’ bukan ‘Gue-lo’ seperti sebelum-sebelumnya.

Brian tersenyum menyeringai.

“Gue nggak bantuin lo, gue cuma bantu wanita yang gue cintai.” Brian membalas bisikan Randy dengan bisikan yang sangat pelan hingga hanya Randy yang dapat mendengarnya.

“Sialan!” umpat Randy.

Lalu Brian hanya tertawa. “Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih karena lo sudah angkat kaki dari dunia hiburan ini.” Kata Brian pada Randy, lalu Brian kembali menatap Febby. “Berbahagialah, Aku akan selalu mendoakanmu supaya kamu bahagia.”  Kata Brian kepada Febby lalu pergi meninggalkan Febby dan Randy menuju kepanggungnya untuk bernyanyi kembali.

“Apa kalian ingin aku menyanyi lagi?!” tanyanya pada seluruh penonton saat kembali ke panggung besarnya.

Suara sorak sorai dari para penonton kembali pecah di ruangan tersebut, berbeda dengan Febby dan Randy yang saling menggenggam telapak tangan satu sama lain dan hanya diam membatu menatap ke arah Brian dengan perasaan masing-masing.

“Terimakasih,” bisik Febby pelan masih dengan menatap ke arah Brian dengan matanya yang sudah berkaca-kaca karena haru.

Randy menoleh ke arah Febby, kemudian merengkuh tubuh Febby ke dalam pelukannya. “Jangan menangis.” Bisik Randy.

“Aku menangis karena bahagia.”

“Benarkah? Apa karena aku?”

Febby mengangguk pasti dalam pelukan Randy. “Ya, karenamu, karena semua yang sudah terjadi padaku, aku bahagia, Ran.”

Randy memejamkan matanya sembari menghela napas panjang. Beginikah rasanya bahagia karena cinta? Pikirnya.

Randy menganggukkan kepalanya. “Ya, aku juga sangat bahagia.” jawabnya pasti. Dan keduanya berakhir dengan saling berpelukan, penuh dengan cinta dan kasih sayang, di iringi dengan lagu merdu yang di nyanyikan oleh Brian.

 

-End-

Belom end sepenuhnya, masih ada Epilog…

Sang Pemilik Hati – Chapter 1 (Bertemu dia)

Comments 6 Standard

sph2Sang Pemilik Hati

Chapter 1

-Bertemu Dia-

 

Empat  tahun kemudian

Nana mengendap-endap ketika keluar dari dalam kelasnya. Jam istirahat biasa ia habiskan di dalam perpustakaan, atau duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah. Tapi semuanya berubah sejak dua minggu yang lalu, sejak ia berstatuskan sebagai kekasih seorang yang populer di sekolahannya tersebut.

Nana Erieska, seorang gadis biasa yang tidak memiliki kelebihan apapun. Tidak pandai bergaul dan terkesan nyaman dengan dunianya sendiri. Saat itu, Nana tidak sengaja bertabrakan dengan kakak kelasnya yang bernama Rino Permana. Salah satu murid laki-laki yang populer di sekolahnya. Nana terpesona, hingga tanpa ia sadari, ia mulai menyukai laki-laki tersebut.

Tapi sikap lelaki itu yang menyebalkan membuat Nana mengenyahkan segala perasaannya, membuatnya memungkiri apa yang ia rasakan pada lelaki tersebut.

Rino adalah pemuda tampan yang selalu berwajah murung. Sikapnya pendiam, dan itu membuat Rino di idolakan oleh banyak murid perempuan di sekolah tersebut. Tapi di balik sikap diamnya itu, Rino tak segan-segan mempermalukan orang yang tidak di sukainya. Termasuk Nana.

Saat itu, mungkin sekitar tiga bulan yang lalu, Nana tidak sengaja menabraknya, lalu menumpahkan ice capucinonya pada seragam Rino. Rino saat itu hanya bisa menggeram kesal, tapi kemudian, tak lama ia memiliki jalan untuk membalas kekesalannya dengan mempermalukan Nana di hadapan banyak orang.  Ketika Rino mendapatkan surat yang di berikan Nana lewat sepupunya yang bernama Intan –teman sekelas Nana, dan Rino tak segan-segan membaca surat tersebut di hadapan umum, lalu menempelkannya di mading sekolah, membuat seluruh anak sekolah tahu jika Nana menyukai Rino, dan Rino mempermalukan Nana dengan menolak Nana mentah-mentah.

Alangkah malunya Nana saat itu, Nana bahkan enggan masuk sekolah lagi. Sungguh, meski Nana sempat menyukai Rino, tapi Nana tidak pernah menuliskan surat cinta untuk lelaki tersebut, memangnya dia gila apa? Lalu siapa yang menuliskan surat cinta tersebut? Satu-satunya yang terpikirkan dalam kepala Nana hanyalah ‘Rino yang hanya membuat berita palsu untuk mempermalukannya.’

Dasar pria tidak tahu diri! Bisa-bisanya dia mempermalukanku dengan cara curang seperti itu? Pikir Nana. Dan sejak saat itu, Nana bersumpah jika Rino Permana adalah lelaki yang paling dia benci di dunia ini meski nyatanya ia masih mengagumi lelaki tersebut.

Bagaikan mimpi di siang hari, Dua minggu yang lalu Rino tiba-tiba mengungkapkan rasa sukanya pada Nana, dan yang paling menyebalkan adalah, Rino yang memaksa Nana untuk menjadi kekasihnya. Ada apa sebenarnya dengan lelaki itu? Berkali-kali Nana menanyakan pertanyaan tersebut dalam pikirannya.

Kini, hidup Nana di dalam sekolah berubah seratus delapan puluh derajat, saat istirahat tiba, dengan super menyebalkannya Rino menyeretnya  untuk makan siang bersama di kantin. Lelaki itu tidak bersikap lembut seperti orang yang sedang jatuh cinta pada pasangannya, Rino bahkan bersikap sebaliknya, seakan menjadikan Nana sebagai kekasih hanyalah sebuah jalan untuk memuluskan rencananya.

Ketika Nana berjalan mengendap-endap sambil menundukkan kepala, tiba-tiba ia berhenti ketika matanya menatap pada sepasang sepatu yang yang berada tepat di depan sepatunya. Nana mengangkat wajahnya dan mendapati Rino yang sudah berdiri tepat di hadapannya.

“Mau kemana, Nana?”

“Uum, itu, umm.”

“Ayo ikut aku.”

Dengan kasar Rino menyambar pergelangan tangan Nana lalu menyeret Nana begitu saja ke arah kantin seperti biasanya.

“Lepasin Kak, aku nggak mau.” Nana meronta.

“Aku nggak peduli, pokoknya setiap istirahat, kamu harus menemaniku makan siang.”

“Tapi aku nggak mau!”

Dan setelah seruan Nana tersebut, Rino menatap Nana dengan tatapan sangarnya, membuat Nana diam seketika tak berani membantah seorang Rino permana. Ya, tentu saja, siapa yang berani membantah tatapan sepasang mata tajam yang seakan dapat membunuh siapapun yang membantahnya?

***

Prayoga baru keluar dari dalam kamarnya ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh siang. Saat ia pulang ke rumah keluarga besarnya seperti saat ini, ia memang memilih menghabiskan waktunya di kamar, alasannya simpel, itu karena ia tidak ingin bertemu dengan adik tirinya dan membuat adik tirinya itu kesal hanya karena menatapnya.

Prayoga Abidzar putera, seorang pria muda dengan usia yang sudah menginjak 24 tahun. Memiliki tampang yang tampan nan rupawan, mampu membuat wanita manapun terpikat ketika melihat ketampanan yang terpahat sempurna di wajahnya.

Setelah lulus perguruan tinggi, Yoga memilih membantu ayah tirinya mengendalikan salah satu perusahaan keluarga yang berada di luar kota, tepatnya di kota Surabaya, dan itu membuat Yoga menghabiskan waktunya di Surabaya dan  hanya pulang ke jakarta saat weekend seperti sekarang ini. Hubungannya yang kurang baik dengan salah seorang adik tirinya membuat Yoga memilih pilihan tersebut. Ia tidak mungkin selalu tinggal di rumah keluarga besarnya sepeti saat ini ketika ia selalu mendapatkan tatapan kebencian dari adik tirinya itu.

Saat Yoga keluar dari kamarnya, ia mendapati sesosok gadis yang sudah berdiri tepat di pintu kamarnya. Namanya Kesha Permana, salah seorang adik tirinya yang cantik dan mungil. Tapi kenapa adiknya itu berada di situ saat ini? Bukankah ia harusnya masih sekolah?

“Mas.” Kesha menghambur ke dalam pelukan Yoga. Yoga sedikit terkejut dengan kelakuan gadis 14 tahun tersebut, tapi kemudian ia membalas pelukan adiknya itu.

“Hei, kamu nggak sekolah?”

“Enggak, aku sengaja bolos.”

“Kok bolos?”

“Tadi pagi mama bilang kalo Mas Yoga pulang, jadi aku memilih bolos, lagian ini hari sabtu, hanya ada pelajaran olah raga saja di sekolah.”

“Kok gitu? Mas Yoga nggak suka kalau Kesha suka bolos.”

“Kan aku bolosnya demi Mas Yoga.”

Yoga mencubit gemas hidung Kesha. “Sama saja tahu, namanya bolos itu nggak baik.”

Kesha mengerucutkan bibirnya ketika Yoga mulai menasihatinya. “Kan aku punya tujuan saat akan bolos.”

“Memangnya apa tujuan kamu?”

“Ngajakin Mas belanja.” jawab Kesha manja.

“Dasar.” gerutu Yoga sambil menyunggingkan senyumannya. “Baiklah, kalau gitu ayo kita belanja.”

“Yeaay.” teriak Kesha kegirangan. Dan Yoga hanya bisa terenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kesha, Yoga memang sangat menyayangi adik tirinya tersebut, begitupun sebaliknya, tapi kenapa adik tirinya yang satunya lagi tidak bisa menerimanya menjadi kakak seperti Kesha menerimanya? Kenapa Rino selalu melemparkan tatapan kebencian pada dirinya? Ya, adik yang sangat membencinya adalah seorang Rino Permana.

***

Nana tidak berhenti menggerutu kesal saat Rino tak berhenti menyeretnya ke sebuah Mall  yang tempatnya tak jauh dari sekolah mereka. Bukannya apa-apa, hanya saa ini pertama kalinya Nana membolos.

Saat istirahat tadi, Rino tidak menyeret Nana ke kantin seperti biasanya, tapi dia malah menyeret Nana ke arah parkiran motor di depan kantin sekolah, lalu menuju motornya dan memaksa Nana ikut serta dengannya. Kini, keduanya sudah berada di sebuah Mall dengan Rino yang masih menyeretnya menuju ke sebuah kafe.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Rino sedikit acuh ketika sudah duduk di sebuah bangku di ujung ruangan kafe.

Nana hanya menggelengkan kepalanya.

“Jangan membosankan. Cepat pesan makan siang.”

“Aku nggak lapar, aku mau balik, nanti kita ketinggalan pelajaran.”

“Kita nggak akan balik.” Pernyataan Rino membuat Nana membulatkan matanya seketika pada Rino. “Aku sudah meminta temanku mengambil tas  kamu yang ada di kelas, jadi kita nggak perlu kembali ke sekolah.”

“Nggak perlu kembali?”

“Ayolah, jangan membosankan, sekali-kali bolos kan nggak apa-apa.”

“Tapi aku nggak pernah bolos, Kak.”

Rino menyondongkan  kepalanya mendekat ke arah Nana. “Sekarang, aku yang akan mengajarimu untuk membolos.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan menjengkelkannya Rino mulai memesan makan siang untuk dirinya dan juga Nana.

Sepanjang makan siang, pikiran Nana sedikit gelisah. Tentu saja karena ini pengalaman pertamanya membolos. Bagaimana jika mereka tidak sengaja ketahuan oleh guru sekolah mereka? Bagaimana jika nanti mereka di hukum? Atau lebih buruknya sang guru mengirim surat pada orang tuanya? Oh Nana tidak bisa memikirkan hal itu.

“Na, kamu masih mau makan?” pertanyaan Rino membuat Nana mengangkat wajahnya menatap ke arah Rino. Lelaki itu tampak selesai memakan makan siangnya, sedangkan Nana sendiri masih sibuk mengacak-acak makanan di hadapanya karena gelisah.

“Enggak, aku mau cepat balik.”

“Oh, maaf, kita nggak akan balik ke sekolah.”

“Tapi kak.”

“Kamu harus nemanin aku.” Dan lagi-lagi Nana tak dapat menolak permintaan Rino. Oh sebenarnya apa yang di inginkan Rino darinya?

Setelah selesai makan siang, Rino benar-benar mengajak Nana ke mengelilingi segala penjuru Mall tersebut. Rino berjalan santai di depannya sedangkan Nana berjalan dengan menundukkan kepalanya, menatap ujung dari jaket yang ia kenakan, takut kalau-kalau ia bertemu dengan guru sekolah mereka atau orang yang ia kenal. Ahh, ia merasa menjadi maling saat ini.

Tiba-tiba, ia menabrak Rino yang berhenti mendadak tepat di hadapannya. Ada apa lagi sih? Pikir Nana. Nana kemudian mengangkat wajahnya dan menatap sesuatu dari balik tubuh Rino, sesuatu yang membuat Rino menghentikan langkahnya.

Dia…. Dia….

Nana tak dapat berkata apapun, matanya terpesona dengan sosok tampan yang ada di hadapan Rino dan dirinya, sosok tampan dengan mata memikat seperti Empat tahun yang lalu ketika ia bertemu dengan salah seorang teman kakaknya saat di antar sekolah. Bibir Nana ternganga, tak dapat mengatup dengan sendirinya karena terlalu terpana dengan sosok lelaki tersebut.

Apa itu lelaki yang sama dengan lelaki saat itu? Kenapa Nana merasa tidak asing menatap sorot mata itu?

***

Tubuh Yoga menegang ketika mendapati Rino, adik tiri yang sangat membencinya itu tak sengaja berada di tempat yang sama dengannya. Kesha bahkan dengan sikap manjanya menarik lengannya untuk menemui Rino.

Sungguh, bukannya Yoga tidak ingin, tapi kebencian Rino padanya membuat Yoga takut bertatap muka dengan Rino di hadapan umum, takut jika adiknya itu tidak bisa mengontrol emosinya. Yoga tentu tidak ingin menjadi bahan tontonan banyak orang ketika dirinya dan Rino bertengkar seperti biasanya.

Tapi, untuk apa adiknya itu berada di Mall ketika jam pelajaran masih berlangsung? Apa karena bolos?

Ketika Yoga mulai dapat mengendalikan dirinya, sosok cantik yang mengintip dari balik tubuh adikny itu membuyarkan semua pengendalian dirinya. Sosok manis yang sudah menarik perhatiannya sejak Empat tahun yang lalu. Sosok yang menjadi salah satu alasan kenapa ia masih mau pulang ke Jakarta.

Sosok itu…. Nana Erieska. Kenapa Nana di sini? Kenapa Nana bisa bersama denga Rino, adiknya? Apa hubungan keduanya?

 

-TBC-

Sweet in Passion – Chapter 14

Comments 5 Standard

wattpadsipSweet in Passion

Chapter 14

 

Randy masih menatap Marsela yang kini sedang duduk menundukkan kepala di hadapannya. Pikirannya kacau, antara tega dan tidak tega untuk memutuskan hubungannya dengan Marsela. Bagaimanapun juga, ia masih menyayangi Marsela walau kini ia yakin jika Marsela tidak ada lagi di hatinya.

“Aku ingin bicara sesuatu denganmu.” Kata Randy membuka suara.

“Aku tidak ingin membahas itu.” Jawab Marsela sambil menggelengkan kepalanya.

“Marsela, ku mohon padamu jangan membuatku sulit.”

“Aku tidak pernah menginginkan semua ini menjadi sulit, Ran!” Marsela  mulai menangis dan berteriak histeris. Untung saja Randy sudah memilih kafe di dekat rumahnya yang menyediakan tempat yang privat hingga Randy tidak khawatir lagi jika ada wartawan dan lain sebagainya untuk mengawasi mereka.

“Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan Febby.” jawab Randy kemudian.

“Ran, apa kamu sudah benar-benar mencintainya?” Marsela mencoba memberanikan diri menanyakan pertanyaan tersebut. Randy hanya terdiam seakan tidak mampu menjawab pertanyaan dari Marsela.

“Aku bertanya padamu Ran,  apa kamu sudah mencintainya?!” kali ini kekesalan Marsela tidak dapat di bendung Lagi. Dia semakin berteriak histeris.

“Ya.  Aku mencintainya.” jawab Randy dengan tenang dan tegas.

“Apa?” Marsela tercengang dan tampak tak percaya.

“Aku mencintainya. Aku mencintainya hingga seakan-akan aku bisa gila tanpanya. Dia membuatku candu, dia membuatku frustasi hanya karena tidak berada disisinya. Aku tidak tahu sejak kapan dia mulai masuk ke dalam hatiku, menggantikan posisimu, dan menolak untuk mengembalikannya padamu. Yang aku tahu saat ini aku benar-benar mencintainya, aku tidak bisa hidup tanpanya. Bahkan aku tidak bisa lagi berpaling kepada wanita lain walau wanita itu adalah dirimu, Marsela.”

‘Plaaakkkkk’

Tangan Marsela mendarat sempurna di pipi Randy.

“Kamu benar-benar keterlaluan  berbicara seperti itu padaku.”

“Maafkan aku, aku hanya ingin kamu mengerti  kalau kita tidak bisa bersama lagi.” Kata Randy kemudian. Keduanya lalu sama-sama terdiam, hanya sesekali terdengar isakan dari Marsela.

“Marsela, maafkan aku,  aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa supaya kamu mau memaafkanku.” Lanjut Randy.

Marsela masih saja menangis. Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Randy mulai gelisah, belum Lagi dia memikirkan Febby yang saat ini mungkin sudah amat sangat marah terhadapnya.

“Maafkan aku Marsela,  aku akan meninggalkanmu sekarang.” Kata Randy sambil berdiri dan akan bergegas pergi.

Marsela yang mengetahuinya seketika meraih tangan Randy dan memeluknya.

“Jangan pergi,  aku mohon jangan tinggalkan aku.” Rengek Marsela sambil memeluk lengan Randy.

“Maafkan aku, tapi aku harus pergi.”

“Aku membutuhkanmu, Ran.”

“Febby lebih membutuhkanku. Aku minta maaf.” Kali ini Randy berkata sambil melepas paksa rangkulan Marsela. Lalu pergi tanpa mempedulikan tangis Marsel yang semakin menjadi.

Randy berlari kembali ke arah rumahnya sambil menghubungi seseorang.

“Halo?” kata suara di seberang.

“Chik,  jemput  Marsela di kafe Louis dekat rumah gue.”

“Apa yang terjadi? Kenapa gue yang jemput? Lo kemana?”

“Jangan banyak tanya, gue sudah putus sama dia, tolong jemput dia.” Randy menjawab  masih dengan berlari. Dirinya harus segera sampai di rumah untuk bertemu Febby dan menjelaskan semuanya. Dengan cepat Randy menutup teleponnya begitu saja tidak mempedulikan Chiko  yang berteriak dan mengumpat terhadapnya.

Akhirnya Randypun sampai di rumahnya dengan napas yang sudah terputus-putus. Dibukannya pintu rumahnya dengan Kasar.

“Febb, Febby..” teriak Randy sambil mencari-cari keberadaan Febby. Tapi dia tidak menemukannya.

Randy masih saja mencari Febby di setiap sudut rumahnya, tapi tetap saja dirinya tak menemukan Febby, astaga, kemana perginya wanita itu? Randypun akhirnya memeriksa lemari pakaian Febby, dan sedikit lega karena pakaian Febby masih lengkap di sana.

Randy lalu menyandarkan tubuhnya di lemari  pakaian tersebut. Sambil mengacak-acak rambutnya sesekali Randy menyumpahi dirinya sendiri. Sialan! dirinya benar-benar sangat Bodoh. Harusnya ia tidak meninggalkan Febby terlalu lama tadi.

***

Febby masih berjalan tak tentu arah di atas trotoar. Dirinya tidak tahu harus pergi kemana. Rumah orang tuanya berada di luar kota. Tidak mungkin dirinya pergi kesana. Begitupun dengan rumah sakit. Kemaren setelah dirinya sadar dari pingsan  di rumah sakit, dirinya mengajukan cuti hamil sejak dini karena dirinya sudah tidak dapat menerima aroma khas rumah sakit lagi.

Febby juga masih belum ingin kembali ke rumah Randy. Hatinya benar-benar sakit. Randy benar-benar tak berperasaan. Lagi-lagi air mata itu jatuh kembali, membuat  Febby menertawakan dirinya sendiri. Sebodoh inikah dirinya hingga bisa jatuh cinta dengan lelaki seperti Randy Prasaja?

Ya, dirinya memang telah jatuh cinta. Jatuh cinta yang sangat parah,  hingga ia tidak tahu harus berbuat apa nanti ketika lelaki itu pergi meninggalkannya.

Febby lalu duduk di bangku halte pemberhentian Bus. Ia menunduk  dan menangis tersedu-sedu, tidak memperdulikan orang yang berlalu-lalang memperhatikannya.

“Hei,  apa yang terjadi? Kenapa kanu disini?” suara itu sontak mengagetkan Febby, membuat Febby mengangkat kepalanya dan tampaklah wajah tampan yang sudah berlutut dihadapannya. Itu Brian.

“Brian.” dan tanpa pikir panjang lagi Febby melemparkan dirinya ke dalam pelukan Brian sambil menangis tersedu-sedu. Sedangkan Brian sendiri walau masih sedikit terkejut, ia tetap membalas pelukan Febby dan tidak memperdulikan orang-orang yang sudah mengerumuni mereka bahkan tak sedikit yang mengabadikan foto mereka.

***

Febby masih setengah sadar ketika Brian menggendongnya dan membawa ke apartemen lelaki tersebut. Tadi ketika mereka berpelukan, orang-orang yang mengenali Brian sontak mengerumuni mereka, dan semakin bertambah. Hingga Brian tadi sempat meminta tolong kepada managernya untuk mengirim Bodyguard ke tempat mereka.

Bahkan tadi Brian masih setia memeluk Febby walau mereka sudah di dalam mobil hingga membuat Febby merasa nyaman dan tertidur di pelukan Brian. Astaga, seandainya saja Randy seperti Brian, mungkin Febbby tak akan mau melepaskan apalagi meninggalkan Randy seperti saat ini.

Febby  mengernyit ketika merasakan kepalanya berdenyut pusing karena memikirkan Randy. Brian yang melihatnya sedikit tersenyum melihat ekspresi yang sedikit aneh dari wajah Febby.

“Apa kamu sudah bangun?” Tanya Brian kemudian.

Febby hanya menggeliat sedikit, nyaman dengan Brian yang masih setia menggendongnya. Brian lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Febby.

“Apa kamu ingin menggodaku? Jika itu yang kamu inginkan, selamat, Kamu sudah berhasil menggodaku.” Kata Brian lagi sambil membaringkan Febby di ranjangnya dan langsung menindihnya.

Febby pun sontak ontak membuka matanya, terkejut dan tak menyangka jika Brian akan melakukan ini terhadapnya.

“Brian! Apa yang kamu lakukan?!” teriak Febby setengah marah. Tapi kemarahan Febby itu berubah seketika menjadi tawa geli ketika Brian mulai menggelitk sambil mengecupi leher Febby.

“Hentikan Brian, hentikan, hahahahaha,kamu bisa membunuhku, astaga, hentikan.” Febby memohon karena geli dengan Brian yang masih menggelitiknya.

Brian yang merasakan tubuh Febby semakin lemas akhirnya menghentikan aksinya tersebut.

“Baiklah, aku berhenti, tapi ceritakan padaku apa yang terjadi denganmu.” Kata Brian sambil membenarkan duduknya.

Dan entah kenapa Febby dibuat semakin gugup saat Brian di dekatnya dan menatapnya tajam. Ada apa ini? Kenapa dirinya jadi gugup di hadapan seorang Brian Winata? bukankah selama ini Febby tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini terhadan seorang Brian? Apa karena ciuman saat itu? Ohh sial!! Mau tak mau Febby harus mengaakui jika itu adalah ciuman yang sangat menggairahkan untuk Febby.

Dan ketika mengingat ciuman itu entah kenapa Febby langsung tersulut oleh sesuatu. Di dekatkannya bibirnya ke arah bibir Brian. Dan tanpa permisi seketika Febbymenempelkan bibirnya pada  bibir Brian dan menciumnya dengan ciuman panasnya.

Brian sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang sudah dilakukan Febby, tapi dia menikmatinya. Tidak ada orang yang mampu menolak  ciuman dari seseorang yang dicintainya.

Ciuman Febbypun semakin menjadi. Brian bahkan sesekali mendengar desahan dari bibir Febby disela-sela cumbuan mereka. Ada apa ini? ada apa dengan Febby? dan sumpah demi apapun juga jika Febby tidak menghentikan ini, Brian tidak akan dapat menghentikannya sebelum  mereka berdua mencapai kepuasan masing-masing.

Akhirnya dengan terengah-engah, Febby menghentikan ciumannya. Wajahnya merah padam karena malu, dirinya hanya bisa menundukkan kepalanya dihadapan Brian. Dia beruntung karena Brian dapat menahan gairahnya.

“Maafkan aku.” ucap Febby di sela-sela napasnya yang terenga-engah.

“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu seperti ini?” tanya Braian sambil mengangkat dagu Febby hingga dirinya dapat memandang wajah Febby.

“Aku hamil. Mungkin ini harena hormonku yang sedang kacau.” jawab Febby dengan jujur.

Brian sedikit terkejut dengan pengakuan Febby, tapi tetap saja, kehamilan Febby tidak akan menghilangkan sedikitpun rasa cintanya terhadap Febby, entahlah, Febby benar-benar membuatnya tergoda.

“Lalu dimana Randy? kenapa kamu menangis disana sendiri tadi?”

“Kami bertengkar.” Febby menjawab sambil menundukkan wajahnya. Lagi-lagi air matanya menanti untuk keluar dari pelupuk matanya.

“Bukankah kamu pernah bilang kalau setiap kari kalian selalu bertengkar?”

“Kali ini berbeda, kami benar-benar bertengkar.” Kata Febby  yang mulai terisak.

Brian lalu memeluk tubuh Febby, mengusap-usap punggungnya. “Sudah, jangan menangis lagi, itu tidak baik untuk kondisimu.”

“Aku mencintainya, Brian, tapi aku tidak sanggup hidup bersamanya lagi, aku ingin kami berpisah.” Febby berkata di sela-sela tangisannya.

Tubuh Brian seketika kaku mendengar pernyataan Febby. Sedikit senang mendengar Febby ingin berpisah, tapi tetap saja Brian tidak bisa menyembunyikan kesakitannya saat mendengar Febby mencintai Randy, bukan dirinya.

“Tenanglah, aku yakin semuanya akan membaik.”

“Dia mencintai wanita lain, dia tega meninggalkanku demi wanita itu.” Febby masih saja terisak di dalam pelukan Brian.

“Tenanglah, aku disini, aku disini bersamamu, aku tidak akan meninggalkanmu.” Kata Brian yang semakit mengeratkan pelukannya terhadap tubuh Febby.

***

“Apa yang terjadi?” Marsela mengangkat wajahnya dan menemukan wajah tampan bercampur dengan ekspresi khawatir dari Chiko.

Marsela tidak bisa berkata-kata Lagi ketika Chiko mulai memeluknya dengan erat. Ada apa dengan lelaki ini? Pikir Marsela dalam hati.

Sedangkan Chiko sendiri setelah memeluk Marsela, tanpa pikir panjang lagi langsung menggenggam tangan Marsela dan  menyeretnya keluar dari kafe tersebut. Marsela yang masih sedikit linglung tidak menolaknya, dia hanya mengikuti kemana perginya Chiko.

***

Lama mereka saling berdiam diri di dalam mobil. Akhirnya sampailah mereka pada apartemen milik Chiko.

“Kenapa kita ke sini?” Tanya Marsela yang tampak heran.

“Kupikir kamu belum ingin kembali ke apartemenmu dan sendiri meratapi nasib percintaanmu.”

Entah kenapa Marsela sedikit tersenyum mendengar perkataan Chiko dengan nada sedikit menyindir itu.

Di akui oleh Marsela, jika dirinya sedikit gugup saat ini ketika hanya berdua bersama Chiko. Entah kenapa mungkin karena pernyataan cinta Chiko beberapa hari yang lalu yang membuat Marsela seakan salah tingkah di hadapan Chiko saat ini.

Marsela mengakui jika dulu dia sempat pernah menyukai Chiko  sebelum menjalin hubungan dengan Randy. Namun perasaan itu dipendamnya dalam-dalam. Chiko yang saat itu sudah menjadi penyanyi  top negeri ini tidak akan mungkin melirik artis pendatang baru seperti dirinya, apalagi saat itu Marsela masih belum memiliki nama dan masih di ragukan bakatnya. Akhirnya perasaan itu di kubur Marsela dalam-dalam, dan Marselapun akhirnya memulai hubungan baru dengan beberapa teman prianya dan Randy salah satunya.

Tapi pernyataan Chiko Kemarin seakan-akan membuka kotak pandora yang sudah lama disimpan dan dikubur Marsela dalam-dalam di dasar hatinya, kotak pandora yang berisi rasa cintatak tersampaikan pada sosok yang kini duduk di sebelahnya.

Benarkah Chiko mencintainya?

Jika benar, Marsela mungkin saja tidak akan bisa menolaknya. Siapa yang sanggup menolak cinta dari Seorang  Chiko Febrian? Penyanyi papan atas negeri ini? yang kehidupan pribadinya sangat misterius di mata publik. Satu kalipun Chiko tidak pernah terlihat menggandeng wanita di acara formal maupun non formal. Chiko juga selalu menggunakan pemain pengganti saat melakukan adegan ciuman dengan semua lawan mainnya di dalam film yang pernah dibintanginya. Itu membuat para fans dan media semakin penasaran dengan sosok Chiko Febrian, tak terkecuali Marsela. Bahkan beberapa media dengan kurang ajarnya menyebut jika Chiko adalah seorang Gay karena tak pernah berdekatan dengan seorang wanitapun. Tapi sepertinya dikabarkan Gay lebih bagus menurut Chiko, dari pada digosipkan dekat dengan beberapa wanita.

“Chik, terimakasih kamu mau membawaku kemari.” Kata Marsela yang saat ini sudah duduk manis di ruang tamu Chiko.

“Randy yang meneleponku. Dia ingin aku menjemputmu.” wajah Marsela sedikit menegang mendengar nama Randy disebut. “Kamu mau minum apa?” Tanya Chiko yang saat ini sudah berada di dalam dapur apartemennya.

“Uum, aku tidak yakin, tapi apa kamu punya bir? Aku ingin meminumnya.”

“Bir? Astaga,  ini bahkan belum siang hari, dan aku tidak memiliki Bir. Kalau kamu mau anggur aku akan mengambikannya untukmu.” Tawar Chiko kemudian.

“Terserah kamu saja, anggur juga boleh, aku hanya ingin minum pagi ini.”

Dan Chiko pun akhirnya kembali ke ruang tamu dengan membawa sebotol anggur dan dua buah gelas kosong. Mereka Akhirnya minum bersama.

“Kenapa kamu juga ikut minum?” tanya Marsela tak mengerti.

Chiko lalu tersenyum manis. “Aku minum untuk menemanimu, sekaligus merayakan putusnya hubunganmu dengan Randy.” Jawab Chiko dengan jujur.

“Kenapa kamu seperti itu? Kenapa kamu bahagia saat melihat aku menangis?”

“Aku tidak bahagia saat melihatmu menangis, aku hanya bahagia karena aku tahu jika ini akan menjadi tangismu yang terakhir, karena setelah ini aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi.” Jawab Chiko dengan pasti.

“Chik, apa yang kamu bicarakan kemarin benar-benar nyata?” tanya Marsela yang ternyata masih penasaran dengan isi hati Chiko.

“Kamu perlu bukti? Kemarilah, aku akan memberikanmu bukti.” Kata Chiko sambil menarik tangan Marsela ke sebuah kamar.

Kamar yang sangat maskulin, yang berarti itu adalah kamar Chiko. Marsela terpana saat melihat kamar megah tersebut. Perabotannya, dekorasinya, dan..  apa itu adalah dirinyaa? Sebuah foto besar memenuhi dinding di atas kepala ranjang Chiko. Foto seorang wanita yang sedang berpose seksi.

Ya, Marsela jelas tahu jika itu foto dirinya. Salah satu foto yang diambil untuk cover majalah dewasa. Dan bagaimana mungkin Chiko bisa mempunyainya bahkan mencetaknya sebesar ini?

“Ya, itu dirimu, maaf jika aku tidak meminta ijin untuk memasang foto seksimu disini. Tapi aku benar-benar mengidolakanmu, bahkan lebih. Aku tidak bisa tidur jika belum melihat wajahmu.” Kata Chiko  yang kini sedang memperhatikan raut wajah terkejut Marsela.

“Bukan hanya itu, di sana masih banyak lagi.” Kata Chiko lagi sambil menunjuk sebuah lemari yang berisi beberapa buku dan album-album foto. “Setiap kali kamu melakukan pemotretan, aku akan meminta salinannya kepada managerku. Dan semua itu hanya aku dan dia yang tahu, maka dari itu hingga sekarang media tidak tahu apa yang kurasakan terhadapmu. Memang sedikit gila, aku sudah seperti seorang Psycopat yang terobsesi denganmu. Tapi beginilah aku. Aku mencintaimu sejak dulu, bahkan sebelum kamu mulai debut.” Kata Chiko kemudian.

“Tapi bagaimana bisa?”

“Aku terpesona oleh suaramu, Dan saat audisi, aku sendirilah yang memilihmu untuk masuk kedalam management kami. Tapi setelah kamu masuk, sepertinya kamu tidak tertarik denganku.” Kata Chiko dengan sedikit tersenyum pahit.

“Aku hanya bisa mengubur perasaanku, aku senang saat melihat kamu sukses meski kini kamu lebih memilih menjadi model dan bintang film daipada menjadi penyanyi, aku bahagia saat melihatmu bahagia  dengan para kekasihmu, tapi setelah Randy berkata dia tidak dapat membahagiakanmu lagi, aku pikir, aku bisa mengajarimu untuk mencintaiku supaya aku bisa membahagiakanmu.”

Marsela ternganga mendengar penjelasan Chiko. Benarkah apa yang dikatakan lelaki ini?

“Marsela, apa kamu bersedia untuk kuajari mencintaiku?” Tanya Chiko memberanikan diri. Dan tanpa pikir panjang lagi Marsela mengangguk. Astaga, apa ini nyata untuknya? Seorang Chiko Febrian menyatakan cinta untuknya?

Dan dengan ekspresi bahagianya Chiko memeluk tubuhMarsela dengan erat. Lalu dilepaskannya pelukan tersebut, dan perlahan-lahan Chiko mendekatkan bibirnya ke arah bibir Marsela, semakin dekat, semakin dekat, hingga menempelah bibir tersebut dengan sempurna ke bibirnya. Sedangkan Marsela sendiri sudah memejamkan matanya. Menikmati setiap lumatan yang diberikan oleh Chiko.

Ciuman lembut tersebut sedikit demi sedikit berubah menjadi panas, dan semakin panas. Chiko bahkan  sudah mendorong Marssela sedikit demi sedikit ke ranjangnya, membaringkannya dan menindihnya tanpa melepaskan ciuman tersebut.

Marsela sendiri sudah hilang kendali. Dia sudah mendesah dan mengerang nikmat. Melupakan semua sakit hatinya terhadap Randy. Kenapa bisa secepat ini luka hatinya terobati? Apa karena anggur yang dia minum tadi? Apa karena kenikmatan yang diperolehnya dari Chiko? atau apa karena Chiko yang sudah menggantikan posisi Randy dengan cepat dan mudahnya?

Arrgghhh… Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang jelas saat ini dirinya merasa bahagia, bukan sedih seperti orang yang sedang patah hati.

***

Randy terbangun dari tidurnya yang pulas. Dikuceknya matanya sambil melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya. Astaga, ini sudah pukul Tujuh malam, ia ketiduran berjam-jam di kamar Febby setelah lelah seharian mencari keberadaan istrinya tersebut.

‘Dimana Febby?!’  Batin Randy seakan meneriakkan pertanyaan tersebut.

Randy tadi sudah ke rumah sakit, tapi Febby tidak ada di sana. Suster penjagapun bilang jika Dokter Febby sudah mengajukan cuti hamil sejak dini karena tidak tahan dengan aroma rumah sakit.

Randy  juga sudah mencarinya ke rumah orang tuanya yang ternyata di sana masih ada Mira, kakaknya. Randy berpikir siapa tahu saja Febby mencari Kak Mira ke rumah orang tuanya. Tapi bukannya mendapatkan Febby di sana, ia malah dipukuli dan dimarahi habis-habisan dengan Kakaknya tersebut karena telah membuat Febby pergi, bahkan kakaknya tadi sempat memanggilnya dengan sebutan ‘Bajingan Bodoh’ di depan anaknya sendiri.

‘Astaga, kamu di mana Febb?’ desah Randy dalam hati.

Randy lalu bangun dan bergegas ke arah dapur, mengambil sekaleng Bir yang selalu tersedia di lemari pendinginnya lalu meminumnya. Kepalanya sedikit pusing memikirkan semuanya. Mungkin dengan sedikit minum akan mengurangi beban pikirannya. Tak lama teleponnya berbunyi. Di layar teleponnya terpampang nama Alvin. Dengan malas Randy mengangkat teleponnya.

“Apa yang terjadi? Lo dimana?” tanya suara di seberang.

“Gue di rumah, Ada apa?” tanya Randy dengan malas.

“Coba lihat televisi. Apa yang tejadi dengan kalian?”

Randy  lalu mematikan teleponnya kemudian menuju ke ruang tengah untuk melihat televisi. Di gantinya chanel demi chanel, dan dia berhenti pada sebuah chanel yang mengabarkan tentang dirinya, lebih tepatnya kehidupan rumah tannganya. Kabar itu berjudul ‘Istri aktor papan atas berpelukan dengan Aktor lainnya.’

Mendengar dan melihat kabar tersebut membuat Randy semakin meradang, apalagi dengan jelas terlihat gambar Febby sedang berpelukan dengan si Brengssek Brian. Dilemparnya remote televisi tersebut dan tanpa pikir panjang lagi Randy bergegas pergi untuk menemui Brian dan Febby.

***

Febby menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu milik Brian, ia kekenyangan sehabis makan malam bersama Brian. Astaga, disini benar-benar nyaman, di tambah lagi Brian yang memanjakan lidahnya dengan aneka macam masakan lezat ala lelaki tersebut. Ya, Brian pandai sekali memasak.

“Apa kamu menginginkan sesuatu?” tanya Brian kemudian.

“Tidak, aku hanya ingin istirahat dan tidur. Aku sangat kenyang.”  Jawab Febby sambil tersenyum dan mengusap lembut perutnya.

“Baiklah, istirahatlah, aku akan membersihkan sisa makanan kita tadi terlebih dahulu.”

Dan Febby tidak membalas perkataan Brian lagi, karena matanya sudah sangat berat. Dia akhirnya tertidur di sofa ruang tamu Brian.

Tapi tiba-tiba, pintu apartemen Brian di gedor oleh seseorang. Febby  yang tadinya sudah setengah tertidur akhirnya bangun kembali. Astaga, siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu dengan keras seperti itu?

Febby melihat Brian yang akan bergegas ke arah pintu untuk membukanya tapi Febby melarangnya.

“Biar aku saja yang membukanya.” Kata Febby  kemudian karena memang dirinya yang lebih dekat dari pintu tersebut dari pada Brian yang masih berdiri di ruang makan.

Akhirnya di bukanya pintu tersebut dan tampaklah sosok yang sangat ingin ia hindari hari ini, sosok itu  berdiri dengan gagah dan tampang sangarnya. Febby tentu saja tampak sangat terkejut melihat kedatangan Randy yang kini sudah berada tepat dihadapannya.

“Apa yang kamu lakukan disini? Ayo kita pulang.” geram Randy sambil mencekal pergelangan  tangan Febby.

Febby menghempaskan cekalan tangan Randy. “Lepaskan aku, aku tidak mau pulang!” Febby masih mencoba melepas paksa cekalan tangan Randy  tapi Randy tidak akan melepaskannya begitu saja.

“Lepaskan dia.” Kata Brian yang sudah berdiri tepat di sebelah Febby.

Randy lalu melangkah tepat dihadapan Brian. “Lo nggak punya hak untuk nyuruh gue. Dia Istri gue, gue berhak ngapain aja sama dia.” Randy berkata dingin dan tajam tepat dihadapan Btian.

“Lo nyakitin dia.”

“Gue nggak akan pernah nyakitin dia.” Ucap Randy penuh penekanan, kemudian meninggalkan apartemen Brian sambil menyeret Febby yang masih sedikit meronta minta dilepaskan.

Sedangkan Brian sendiri hanya terdiam terpaku meratapi kekalahannya. Ya, Bria tahu jika dirinya sudah kalah, Febby bukan miliknya, Febby bahkan tidak mencintainya.

***

Randy mengendarai mobilnya dengan sangat cepat tanpa sedikitpun berbicara. Tampangnya benar-benar sangat sangar dan menakutkan untuk Febby. Tidak pernah Febby melihat tampang menyeramkan dari Randy seperti sekarang ini. Randy mungkin benar-benar sangat marah terhadapnya saat iti.

Entah kenapa itu membuat Febby seakan ingin menangis. Astaga, sejak kapan dirinya menjadi wanita yang super cengeng seperti sekarang ini? dan melihat Randy saat ini bukan kemarahan yang muncul di benak Febby. Tampang sangar dan ekspresi marah dari Randy entah kenapa membuat Randy  terlihat lebih Hot dan karismatik di mata Febby, membuat Febby seakan basah hanya karena melihatnya. Membuat Eun Hye menginginkan untuk melakukan seks dalam keadaan marah, mungkin itu akan terasa lebih panas dari pada biasa-biasanya, pikirnya.

Dan astaga, apa ini? bahkan disaat-saat genting seperti ini Febby memikirkan untuk bercinta dalam keadaan marah dengan Randy? Gila!! Febby benar-benar merasa dirinya seperti wanita jalang.

Tak lama Randy akhirnya memarkirka mobilnya di tempat parkir rumahnya. Cukup lama keduanya berada di dalam mobil tanpa saling pandang atau saling melempar kata.

“Apa hubunganmu dengan dia.” Randy membuka suaranya yang terdengar sangat dingin di telinga Febby.

“Bukan urusanmu.” Febby menjawabnya dengan cuek.

Randy lalu menatap ke arah Febby dengan tajam.

“Febb, aku ingin ini semua selesai malam ini. Jadi jawab pertanyaanku dengan jujur,  ada hubungan apa antara kamu dengan lelaki bajingan itu?” tanya Randy lagi dengan penuh penekanan.

Entah kenapa Febby seakan-akan ingin meledak mendengar perkataan Randy.

“Apa kamu tahu, dia bukan bajingan, kamulah yang Bajingan!” teriak Febby tepat dihadapan Randy sambil menunjuk-nunjuk dada Randy. Lalu tanpa pikir panjang lagi Febby keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Randy yang mengejarnya dan memanggil-manggil namanya.

Randy  yang mengetahui emosi Febby sedang tidak stabil seketika mengejar Febby dan mencoba untuk mengalah. Diraihnya pergelangan tangan Febby lalu dipeluknya tubuh Febby dari belakang.

“Maafkan aku, maafkan aku, aku memang bersalah, maafkan aku.” ucap Randy masih dengan memeluk Febby dari belakang.

Febby benar-benar terkejut dengan perilaku apa yang di lakuka Randy. Tubuhnya kaku mendengar permintaan maaf yang terdengar tulus dari bibir Randy.

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, maafkan aku.” Lagi-lagi pernyataan Randy semakin membuat tubuh Febby tidak bisa bergerak. Randy tidak ingin kehilangan dirinya? Bagaimana bisa? Bagaimana dengan perempuan itu? pikiran Febby tak keruan menanggapi pernyataan Randy.

Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi Randy memeluk Febby dari belakang. Keduanya sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

“Aku sudah berpisah dengannya.” Randy berkata lirih memecah keheningan membuat tubuh Febby bergetar hanya karena mendengar perkataan pengakuan Randy.

“Dan itu demi dirimu, aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu, aku meninggalkannya demi dirimu. Jadi aku mohon, maafkan aku, dan jangan tinggalkan aku.”

Astaga,  jantung Febby berdebar lebih cepat saat mendengar pernyataan Randy itu.

Febby lalu membalikkan badannya hingga menghadap Randy sepenuhnya. Lalu iapun memberanian diri untuk bertanya.

“Kenapa kamu meninggalkannya demi aku?”

“Karena aku mencintaimu.”

Randy mengatakannya dengan tegas seakan-akan tidak ingin di tolak dan tidak bisa di ganggu gugat. Febby yang mendengarnya hanya terganga, ia tidak menyangka jika Randy akan mengucapkan kata cinta kepadanya dengan setegas itu. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa dirinya mampu mengucapkan kata cinta untuk Randy?

-TBC-