Evelyn – Prolog (The Bad Girls #2)

Comments 8 Standard

drawing-evelyn-copyEvelyn

Tittle : Evelyn

Seri : The Bad Girls #2

Genre : Sweet  Romance

Author : Zenny Aieffka

 

Prolog

 

-Eva-

 

Dia terlihat tampan dan gagah. Setelan hitamnya mengingatkanku dengan film-film action yang pernah ku tonton, ekspresi dingin dan datarnya membuat rasa penasaranku semakin menjadi. Namanya Fandy, dia adalah pengawal pribadi Sienna, temanku yang sedang hamil muda.

Dia berbeda, tentu saja.

Aku Evelyn mayers, teman-teman biasa memanggilku Eva, si play girl cap kakap. Banyak sekali pria yang mengantri padaku, dan aku tidak menyia-nyiakan itu. Meski temanku, Sienna dan Icha selalu mengingatkan jika karma pasti akan berlaku, tapi kupikir itu tidak akan berlaku untukku.

Ya, aku suka memainkan pria yang menyukaiku. Aku suka mengontrol mereka, aku suka memainkan mereka, menarik ulur hingga aku puas kemudian bosan. Tapi melihat sikap pengawal Sienna yang cenderung datar-datar saja, bahkan terlihat sama sekali tidak melirikku, itu membuatku penasaran.

Apa dia Gay?

Tidak!!!  Aku yakin Fandy tidak gay.

Dan aku benar-benar bingung, kenapa semakin hari aku semakin menginginkannya?

***

 

-Fandy-

 

Gadis manja yang gila!

Teman Sienna yang bernama Eva itu benar-benar gila. Dia seakan tidak punya malu untuk mendekatiku. Yang benar saja, gadis itu bukanlah tipeku, aku menginginkan wanita lemah yang dapat ku lindungi dan membutuhkanku untuk melindunginya, bukan seperti teman Sienna itu yang terkesan seperti gadis manja dengan sikap centilnya.

Dia membuatku muak dengan tatapan-tatapan centilnya, dia membuatku kesal dengan caranya yang terang-terangan mendekatiku. Dan aku semakin membencinya ketika dia menggunakan jasaku untuk melindunginya, padahal aku yakin, jika dia sama sekali tidak membutuhkan perlindungan.

Namaku Afandy, biasa di panggil Fandy. Aku tidak memiliki nama belakang dan aku tidak memiliki orang tua karena aku besar di sebuah panti asuhan. Saat remaja, aku di kirim ke sebuah agensi, dan agensi tersebut melatihku, membuatku menjadi kuat dan tangguh serta memiliki banyak keahlian seperti saat ini, hingga kemudian keahlianku ini menjadi pekerjaanku. Ya, aku seorang pengawal, atau bisa di sebut Bodyguard.

Tujuan hidupku hanya satu, melindungi orang yang membayarku.

Tapi kupikir, semuanya berubah ketika aku mulai bekerja dan berdampingan dengan gadis-gadis manja ini. Ada beberapa warna yang tanpa permisi memasuki hidupku. Warna yang selama ini selalu kusangkal. Warna yang biasa ku sebut dengan Cinta.

Oh Sial! Semoga aku tidak terjerumus semakin dalam pada kata tersebut, karena yang kupelajari selama ini adalah, jika lima huruf itu melemahkanku. Ya, Cinta memang melemahkan siapapun yang sedang merasakannya, dan aku tidak ingin menjadi salah satunya. Tidak akan pernah!

-TBC-

Yeaayy… akhirnya Eva & Fandy story rilis juga.. ada yang maih inget mereka? semoga aja masih inget yaa, Eva dan Fandy ini adalah pemeran dalam novelku sebelumnya yang berjudul My Young Wife. dan kini, mereka ku buatkan kiahnya. horayyy.

Aku masukkan dalam seri The Bad Girls #2. meski  satu seri dengan novel Elena, tapi jangan harap akan sepanas kisah di lapak itu yaa,, hehhehehe soalnya aku mau membuat kisahnya lebih manis. Eva memang sedikit bad girl di sini, cuma nggak separah Elena, lagian karakter mereka berbeda. nahh semoga nanti kalian suka yaa.. 

Akan di usahakan update teratur setelah Sweet in Passion Ending. Selamat menantikan kekakuan abang Fandy dan kemanjaan dedek Eva yaa… huahahhahahah

***Vote dan komen di tunggu, jangan lupa masukin ke Reading listnya.. huehehhehe***

 

Advertisements

Sweet in passion – Chapter 11

Comments 5 Standard

asipSweet in Passion

Randy masih menikmati makan siangnya ketika tiba-tiba pandangannya teralih ke arah parkiran rumah sakit, tepat pada saat itu ia melihat istri yang ditunggunya itu keluar dari dalam mobil lelaki bajingan yang amat sangat di bencinya.

Jadi mereka makan siang bersama? lalu untuk apa ia menunggu wanita itu di sini seperti orang bodoh? geramnya dalam hati.

Sontak Randy berdiri dari tempat duduknya. Ia ingin menghampiri lelaki bajingan itu dan memukulinya habis-habisan. Tapi untuk apa? bukankah itu akan semakin terlihat jika dirinya sedang cemburu? Apa? Cemburu? Apakah dirinya kini sedang cemburu?

***

Chapter  11

 

Dengan raut bahagia, Febby kembali keruangannya, lalu seorang suster datang menghampirinya dengan wajah sedikit heran.

“Ada apa?” tanya Febby kemudian.

“Kenapa Dokter Febby di sini?” tanya suster tersebut masih dengan wajah herannya.

“Kenapa apanya? Ini kan ruanganku.”

“Tapi bukankah seharusnya Dokter Febby sekarang sedang makan siang bersama suami dokter dikantin?”

“Makan siang? Dengan Randy maksudmu?” Febby berbalik bertanya. Suster itu hanya menganngguk. “Mana mungkin aku makan siang bersamanya di sini. Itu tidak mungkin..”

“Tapi tadi mas Randy menunggu dokter di kantin.” jawab suster itu dengan nada pasti.

“Apa? kamu bercanda? itu tidak mungkin.” bantah Febby tak percaya padahal dalam hatinya berharap itu benar-benar terjadi.

“Kalau Dokter Febby  tidak percaya silahkan bertanya pada teman-teman yang lain atau bisa juga Dokter Febby ke kantin langsung dan-”

Belum sempat suster itu melanjutkan kata-katanya, Febby langsung berlari menuju ke kantin rumah sakit. Entah kenapa ia benar-benar berharap jika Randy berada di sana menunggunya. Tapi sesampainya di kantin, ia sangat kecewa karena orang yang di harapkan tidak ada di sana.

Kamu sungguh bodoh Febb, untuk apa juga seorang Randy menunggumu di tempat seperti ini? Apa dia tidak ada kerjaan lain? lagi pula mungkin suster itu hanya mengerjaimu. Bodoh, bodoh, rutuknya dalam hati.

“Dokter Febby, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu penjaga kantin tersebut. Febby sedikit ragu, haruskah ia bertanya tengtang Randy kepada penjaga kantin tersebut?

“Ahh, tidak, lupakan saja.” Akhirnya Febby mengurungkan niatnya.

“Apa Dokter Febby ingin menemui suami anda? Sayang sekali dia baru saja keluar dari sini.”

“Apa? Jadi dia tadi benar-benar ke sini?”  Tanya Febby masih dengan wajah tak percayanya.

“Iya, bahkan dia menunggu anda dengan makan siang di kantin ini. Dan sedikit menimbulkan kegaduhan di sini tentunya.” jawab penjaga kantin tersebut dengan sedikit tersenyum.

Febby  hanya ternganga mendengar penjelasan penjaga kantin tersebut.  Untuk apa Randy menunggunya? pertanyaan itu berulang kali, muncul dalam benaknya.

***

Febby baru saja pulang dengan keadaan lelah. Tadi sore ada seorang pasiennya yang meninggal. Seorang anak yang sudah dua bulan lebih dirawat inap di rumahsakit tersebut. Dan Febby sendiri yang merawat anak itu. Astaga, itu benar-benar menguras emosinya.

Ketika ia masuk ke dalam rumah, betapa terkejutnya dia mendapati Randy yang sudah sibuk di dalam dapur. Apa yang sedang dilakukannya di dapur dengan berisik? Akhirnya Febby memutuskan  menghampiri Randy.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Febby sambil mendekati Randy.

“Aku membuat makan malam untuk kita.”

“Tumben sekali, apa ada perayaan?” tanya Febby lagi.

“Aku mendapat peran dalam Film baru.”

“Benarkah? Selamat.” Febby berkata sambil mencomot sebuah makanan yang di buat oleh Randy.  “Uumm, lumayan enak.” ucapnya kemudian.

“Masakaanku pastilah enak.”

Pede sekali. Ngomong-ngomong, siapa lawan mainmu nanti?”

Mendengar pertanyaan itu Randy menegang seketika. Haruskah dirinya jujur dengan Febby?

“Ahh, hanya artis pendatang baru.” Dan akhirnya Randy memilih untuk berbohong. Ada apa? kenapa dirinya memilih berbohong?

“Ran, apa benar kalau kamu tadi siang ke rumah sakit menungguku?” tanya Febby tanpa memperhatikan raut wajah Randy.

“Engggak, untuk apa juga aku kesana?” Randy mengelak dengan memasang ekspresi sesantai mungkin.

“Benarkah? tapi kenapa para pegawai rumah sakit bilang kalau-”

“Mungkin mata mereka sudah rabun.” Potong Randy dengan sedikit panik.

“Rabun? Ya sudahlah, lagi pula aku juga tidak suka jika kamu ke rumah sakit.”

“Kenapa kamu tidak suka?”

“Karena kamu menyebalkan.” Febby sambil meninggalkan Randy begitu saja.

“Dasar!! wanita itu benar-benar. Apa dia tidak bisa sedikit bersikap manis kepadaku?” Gerutu Randy.

***

“Masakanmu cukup enak.” Febby kembali memuji Randy masih dengan melahap habis makanannya.

“Aku nggak butuh pujianmu.” jawab Randy cuek. “Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan si Brian?” tiba-tiba saja Randy menanyakan hal itu.

“Kamu nggak perlu tahu.”

“Febb, Aku hanya tidak suka ada gossip diantara kalian nanti, bagaimanapun juga itu akan berimbas pada karirku.”

“Aku juga tidak suka jika ada gosip antara kamu dan Marsela, karena itu akan menjadi bahan perbincangan di rumah sakit, dan aku ikut malu dengan gosip itu.” jawab Febby tak mau kalah.

Randy menghela napas panjang, tanda jika ia sudah menyerah.

“Baiklah. Aku akan menjauhinya, tapi kamu juga harus menjauhi Bian, bagaimana?”

“Kenapa tiba-tiba kamu mau menjauhinya?” Tanya Febby penuh dengan selidik.

“Aku melakukan semuanya hanya demi kebaikan kita bersama.” Lagi-lagi Randy mengelak. Sial!!! Febby benar-benar membuatnya gila. “Gimana? Aku akan menuuti apa maumu, dan kamu harus menuruti apa mauku sebagai gantinya.”

“Demi kebaikan bersama apanya. Tapi baiklah, aku akan menghindar dari Brian.” Kata Febby kemudian. Perkataan Randy memang tidak ada salahnya. Jika ia terlalu sering bertemu dengan Brian maka publik akan berpikir macam-macam, apalagi jika wartawan ikut campur membuat suasana seakan semakin panas. Bagaimanapun juga, Febby tidak dapat membiarkan hal itu terjadi.

Tiba-tiba bell pintu Rumah merekapun berbunyi. “Siapa yang datang malam-malam begini? Mengganggu orang saja.” Gerutu Randy. Sedangkan Febby hanya mengangkat kedua bahunya. Akhirnya Randy yang melangkah ke arah pintu, untuk membukanya.

Betapa terkejutnya Randy ketika mendapati siapa yang berada di balik pintu. Dia Dea dan Leo, kakak Febby dengan suaminya.

“Sedang apa kalian di sini?” Tanya Randy dengan nada yang tak enak di dengar.

“Kami hanya ingin berkunjung.” Dea menjawab dengan  santainya masuk kedalam rumah padahal Randy belum mempersilahkannya. “Hai Feb, bagaimana kabarmu?” tanya Dea pada Febby ketika sampai di ruang makan.

Febby sangat terkejut saat melihat kedatangan Kakaknya..

“Kak Dea ngapain ke sini?”

“Ngapain? Aku cuma mau mengunjungimu, dan hanya ingin memastikan jika kalian… Tidak.. Hanya… Sandiwara….” kalimat terakhir yang di ucapkan Dea bernada menyindir.

“Kamu pikir kami bersandiwara, Hah? menginaplah di sini, dan aku akan tunjukkan padamu betapa panasnya hubungan kami.” Akhirnya Randy pun tersulut emosinya.

“Hei, kamu ngomong apa sih?” Febby sangat kesal dengan apa yang di katakan Randy.

“Biar saja, biar dia mengetahui betapa panasnya hubungan kita.”

“Kamu fikir aku tidak tahu bagaimana skandalmu dengan penyanyi itu?” Kali ini Dea bicara dengan sedikit menantang Randy, sedangkan Leo, suaminya itu hanya diam membatu disebelahnya. “Kamu hanya menggunakan Febby supaya skandal busukmu itu tidak tercium dan kamu, Febby, kamu rela menikah dengan lelaki ini hanya karena ingin menutupi perasaanmu kepada suamiku, benar bukan?”.

Mendengar itu emosi Febby benar-benar tersulut. Dia merasakan darahnya sudah mendidih. Ternyata tak ada  gunanya ia menutupi kemarahannnya selama ini, tak ada gunanya dia mengalah jika kakaknya masih saja berpikiran buruk terhadapnya. Mungkin ini saatnya ia menghadapi kakaknya itu. Biarlah, jika ia harus kehilangan seorang kakak, toh Dea  juga tak akan pernah kembali seperti dulu lagi nantinya.

“Cukup!” Febby berkata tajam dan penuh dengan penekanan.

“Kak, aku tahu dulu aku pernah mencintai suamimu. Tapi  demi tuhan sekarang aku sama sekali tak memikirkannya. Aku mencintai lelaki lain, dan dia adalah suamiku, Randy Prasaja. Seharusnya kamu yang menjaga suamimu baik-baik. Aku tak pernah mendekatinya tapi dia yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia selalu memata-mataiku dan diam-diam memperhatikanku dari jauh.” Entah kenapa Randy menegang saat Febby mengucapkan kalimat itu.

“Apa? kamu jangan terlalu percaya diri.” kali ini Dea yang mulai terpancing emosinya.

“Silahkan tanya sendiri pada dia. Bahkan tadi siang dia masih sempat mengikutiku dan mengamatiku dari jauh saat aku ke toko Ice Cream bersama Brian.”

“Apa itu benar?” Dea bertanya kepada Leo dengan penuh penekanan.

“Darimana kamu tahu?” Leo berbalik bertanya pada Febby. Sedangkan Febby sendiri tidak menghiraukan pertanyaan Leo. Ia memilih kembali bicara, mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam di dasar hatinya.

“Kak, selama ini aku berusaha supaya kamu mau menerimaku kembali, seharusnya aku yang marah kepadamu karena kamu yang sudah merebut kekasihku. Kamu yang sudah merebut dia dariku,  kamu yang menghianatiku, seharusnya kamu yang mendapat hukuman, seharusnya kamu yang mengemis permintaan maaf, bukan aku. Tapi aku mengalah kak, aku mengalah karena saat ini aku cukup merasa bahagia dengan kehidupanku. Aku bahagia dengan orang yang kusayangi, tapi kenapa kak Dea masih tidak bisa menerima semua itu?” Seluruh perasaan dan kesakitan yang di pendam oleh Febby selama ini akirnya keluarlah sudah. Febby meneteskan air matanya, sedangkan Dea hanya ternganga mendengar penjelasan adiknya itu.

”Sekarang aku minta kalian pergi dari sini, aku tidak mau kalian mengganggu hidupku lagi. Kak Dea,  selama ini aku diam karena aku masih peduli dan menganggapmu sebagai kakaku, tapi setelah malam ini, maaf, aku sudah tidak memiliki seorang kakak lagi.” Febby berkata setegas yang ia bisa.

Semuanya lalu terdiam. Semuanya tak ada yang menyangka jika Febby akan mengatatakan hal itu pada kakaknya sendiri. Bahkan Randy pun sempat bergidik. Ternyata istrinya itu menyeramkan juga ketika sedang marah.

“Kalian tunggu apa lagi? Bukankah istriku sudah mengusir kalian? Ekarang cepat angkat kaki dari sini atau ku tendang bokong kalian dari sini?” Tambah Randy dengan nada penuh dengan kemenangan.

Dea lalu bergegas pergi dengan kesal dan menghentak-hentakan kakinya, dia masih tak menyangka jika Febby akan melakukan ini terhadapnya. Dan Leo, suaminya itu bahkan sama sekali tak membelanya, apakah yang dikataaan Febby itu benar jika selama ini Leo lah yang masih memiliki perasaan kepada Febby? Tapi bagaimana mungkin? Apa yang kurang dari dirinya di bandingkan Febby?

“Wow,  itu tadi benar-benar keren.” kata Randy sambil bertepuk tangan ketika Dea dan Leo sudah pergi dari rumahnya.

“Keren apanya? yang benar saja.” Jawab Febby dengan muka datarnya.

“Aku lebih menyukaimu saat tegas seperti tadi dari pada kamu yang cengeng seperti kemaren.” lanjut Randy.

“Hei, aku tidak cengeng.” Bantah Febby.

“Tapi-” kali ini Randy berbicara dengan nada sensual dan mulai memepet tubuh Febby.

“Hei, apa yang kamu lakukan?” tanya Febby sedikit heran dengan perubahan tingkah laku Randy.

“Apa benar tadi yang kamu bilang jika kamu, Ehhm, mencintai lelaki lain,  dan dia, Adalah- Aku?” kali ini Randy mengetakan kalimat tersebut dengan nada yang menggoda.

“Hahhahah apa aku sudah gila? mana mungkin aku mencintaimu? itu hanya akting.” Febby mengelak sambil menghindar dari Randy.

“Apa?”

“Kenapa? apa kamu ingin aku bena-benar mencintaimu?” Febby bertanya dengan menantang.

“Ten-tentu saja tidak, pasti sangat merepotkan sekali kalau kamu benar-benar mencintaiku.”

“Benarkah? Baiklah, aku janji tidak akan mencintaimu..”

“Terserah apa katamu. Tapi bagaimana rencana kita untuk memiliki bayi? bukankah alasanmu ingin memiliki bayi hanya karena ingin pembuktian kepada kakakmu, tapi sekarang kamu bahkan tidak memiliki kakak lagi.” tanya Randy lagi.

“Tidak akan ada bayi.” Jawab Febby cuek..

“Hei, bagaimana bisa begitu?!” Randy mulai berteriak. “Kita tetap pada rencana awal, kita akan memiliki bayi bersama.” lanjut Randy lagi.

“Apa kmau sudah gila? Kita tidak bisa melanjutkan rencana gila itu.”

“Memiliki bayi bukanlah rencana gila. Pokoknya aku tidak akan berhenti menjadi dono sperma sebelum kamu hamil.”

“Randy, tapi memiliki bayi bukan lagi menjadi pioritasku.”

“Tapi kini itu yang menjadi pioritasku.” Randy menjawab cepat penuh penekanan.

“Tap-tapi  kenapa tiba-tiba kamu yang ingin memiliki bayi? jangan-jangan..” Febby menggantung kalimatnya dengan nada penuh selidik.

“Jangan-jangan apa? kamu jangan berpikir yang macam-macam.” Randy berkata sambil menyentil kening Febby dan membuat Febby mengaduh.

“Randy, kalau kita memiliki bayi, berarti pernikahan ini adalah pernikahan yang sesungguhnya.”

“Tentu saja, kamu piki ini pernikahan mainan? pernikahan kita memang pernikahan yang sesungguhnya, kita juga melakukan seks dan bercinta dengan panas, apa lagi jika bukan pernikahan yang sesungguhnya.” Jawab Randy enteng.

“Tapi kita tidak saling mencintai.”

“Persetan dengan cinta. Kamu mencintai lelaki lain dan aku mencintai wanita lain, itu tidak akan mengubah apapun. Kita bisa melakukan seks tanpa cinta, begitupun dengan hidup bersama, kau dan aku akan tetap bisa hidup bersama walau tanpa cinta sialan itu. Bagaimana?” tanya Randy lagi.

“Uumm, apa benar ini tidak akan apa-apa?” Febby masih sedikit ragu.

“Tentu saja.” Jawab Randy pasti.

“Baiklah, aku akan mencobanya, lagi pula aku belum mau menjadi janda di usia muda.” Kata Febby kemudian sambil tertawa.

“Baik, berarti sekarag kita sudah memiliki kesepakatan, sekaang ayo lanjutkan makan lagi.” Ajak Randy kemudian.

Keduanya lalu melanjutkan makan malam bersama dengan pikiran masing-masing. Febby masih sedikit bingung dengan sikap Randy yang seakan yang ingin memiliki bayi. Jika mereka nantinya benar-benar memiliki bayi, itu berarti Febby akan terikat selamanya dengan Randy, apa itu yang di inginkan Randy? Mengikat dirinya? ahh sepertinya tidak mungkin. Lalu kenapa ia mau menuruti kata-kata Randy? Apa,  jangan-jangan ia sendirilah yang menginginkan adanya pengikat antara dirinya dan Randy?  Ahh.. tidak! Tidak! itu tidak mungkin. Febby yakin jika terikat dengan seorang Randy Prasaja adalah hal terakhir yang terlintas di kepalanya.

Dan Randypun sama. Ia masih tak habis pikir, kenapa ia mencetuskan ide gila itu? Hidup bersama tanpa cinta? Seks bersama tanpa cinta? Dan memiliki bayi bersama tanpa cinta? itu hampir tak mungkin. Bagaimana mungkin dirinya melakukan semua itu tanpa sedikitpun perasaan yang ikut campur tangan? itu hampir mustahil. Apa dirinya sudah mulai terpengaruh oleh Febby? Apa Febby kini sudah mulai membuatnya candu? Randy sendiri tidak tahu, yang jelas untuk saat ini ia masih ingin memiliki Febby di sisinya, bersamanya, dan ia masih belum ingin melepaskan Febby hingga tercetuslah ide gila tersebut yang ia yakini suatu saat nanti akan semakin menyesatkannya.

 

-TBC-

Elena – Chapter 6 (Menghindariku?)

Comments 6 Standard

elena-copyElena

“Ayo ikut masuk, kamu terlihat kacau.” Bisik Elena dengan suara serak.

“Kalau aku masuk, aku akan bercinta denganmu.”

“Bukan masalah, setiap malam kita melakukan itu, bukan?”

“Kali ini benar-benar bercinta, bukan hanya sekedar seks.”

Elena terdiam sebentar kemudian berkata lagi. “Kamu akan menganggapku sebagai wanita itu?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Kamu butuh pelampiasan?” tanya Elena lagi.

Yogie mengangguk. “Dan juga pelepasan.” Jawabnya dengan tegas.

“Well, untuk malam ini, kamu bisa menganggapku sebagai wanita manapun.” Setelah perkataan Elena tersebut, secepat kilat Yogie menyambar bibir ranum Elena yang sejak tadi menggodanya. Yogie menarik tubuh Elena hingga tubuh wanita tersebut berada di atas pangkuannya dengan posisi menghadapnya tanpa sedikitpun melepaskan pagutan bibirnya. Yogie kembali melumat bibir Elena dengan panas hingga wanita tersebut mengerang dalam ciumannya dan tak mampu menolaknya lagi.

***

Chapter 6

-Menghindariku?-

 

“Al… Shit, Alisha, Oh, kamu benar-benar membuatku gila.” Entah sudah berapa kali Yogie meracau ketika ia mendapatkan kenikmatan lagi dan lagi dari tubuh di bawahnya kini.

“Aku tidak bisa berhenti, Al, aku tidak bisa berhenti.” Lagi, dan lagi Yogie menyebut nama itu tanpa mempedulikan sedikitpun ekspresi wanita yang berada di bawahnya.

“Aku akan sampai, sial!! Aku akan sampai.” Dan Yogie kembali mengerang panjang ketika pelepasan itu terjadi.

Yogie memeluk tubuh di bawahnya, kemudian berbisik di sana dengan suara seraknya.

“Aku mencintaimu, Al, aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini.”

Yogie menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher wanita di bawahnya tanpa mempedulikaan jika wanita itu kini sudah memeluk tubuh Yogie erat-erat dengan lengan rapuhnya.

***

Yogie membuka mata dan merasakan nyeri yang amat sangat di kepalanya. Ia mengedarkan pandangan dan mendapati dirinya masih terbaring dalam keadaan telanjang bulat di sebuah kamar yang sangat di kenalnya, kamar Elena.

Yogie sedikit menyunggingkan senyumannya ketika mengingat betapa panasya mereka bercinta semalam, tentu sama panasnya dengan malam-malam sebelumnya. Yogie bangkit dan baru sadar jika kamar tersebut sudah kosong.

Kemana Elena? Apa wanita itu sudah berangkat ke kantor? Meninggalkannya? Tidak seperti biasanya. Gerutu Yogie dalam hati. Yogie bangkit dan sesekali memijit pelipisnya. Ia meraih pakaiannya yang masih berserahkan di lantai dan mengenakannya satu persatu.

Tak lama, ponselnya berbunyi. Dengan mata yang sedikit terpejam, Yogie mengangkat telepon tersebut.

“Kamu di mana? Ini sudah jam sebelas, dan kamu belum sampai di kantor? Kamu tentu tahu kesibukan kita di hari senin…”

Yogie mematikan ponselnya seketika. Itu pak Roy, atasannya. Sial! Padahal Yogie berharap jika yang menghubunginya tadi adalah Elena, nyatanya, wanita itu tidak menghubunginya. Apa Elena sibuk? Mungkin saja.

Yogie akhirnya bergegas keluar dari apartemen Elena laalu bersiap pulang ke apartemennya sendiri. Sepertinya hari ini dirinya tidak akan masuk kerja, biarlah ia di pecat, toh itu tidak akan membatalkan perjanjiannya dengan Elena.

Ketika sampai di ruang tengan apartemen Elena, ia berpikir sebentar, kalau ia tidak masuk kerja, kenapa ia pulang? Bukankah lebih baik ia menunggu Elena di sini? Ya, menunggu Elena akan lebih baik di bandingkan pulang dan sendiri di apartemennya yang dingin.

Akhirnya Yogie memutuskan kembali ke kadam kamar Elena, membersihkan diri dan melakukan apapun yang ia bisa untuk menyambut kedatangan Elena.

***

Elena masih berkonsentrasi di hadapan layar monitornya. Saat ini ia sedang melakukan chatting dengan salah seorang temannya yang berada di luar negeri, chatting mengenai bisnis fasion yang sedang ia jalani tentunya. Tapi sesekali temannya itu bertanya tentang kabar Elena yang sudah beberapa bulan menetap di indonesia.

Elena sedikit bingung dengan perasaannya, sejak semalam, ia merasa tidak nyaman dengan Yogie, apa karena lelaki itu tidak berhenti menyebut nama wanita lain saat bercumbu dengannya? Apa karena alasan itu? Tidak!!  Sepetinya bukan karena itu. Elena tahu, seharusnya ia tidak peduli apa yang di ucapkan Yogie, yang harusnya ia peduikan adalah lelaki itu yang dapat memuaskan hasrat seksualnya, hanya saja, semalam…. ia merasa tidak puas. Ia merasa jika Yogie menyentuhnya seperti sentuhan Gilang, guru les privatnya yang setengah gila.

Elena menggelengkan kepalanya dan kembali menatap layar monitor di hadapannya. Megan ternyata sudah kembali membalas chatnya.

Megan : Jadi, apa kamu sudah menemukan pengganti Aaron? Dia kembali ke sini, dan aku bingung kenapa kamu masih tetap di negaramu?

Elena tersenyum. Ya, semua temannya memang hanya mengetahui jika dirinya tergila-gila dengan seorang Aaron Revaldi, padahal sebenarnya bukan begitu. Aaron bahkan tahu, jika Elena sudah menghilangkan perasaan sukanya pada lelaki tersebut.

Elena : Aku memiliki pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan, Meg.

Megan : Pekerjaan, atau seorang Pria?

Elena kembali tersenyum, entah kenapa ia mengingat Yogie, apa lelaki itu sudah bangun? Apa lelaki itu mencarinya? Ah, persetan dengan Yogie!

Elena : Benar-benar pekerjaan, Meg.

Megan : Well, bagaimana jika aku saja yang mendekati Aaron? Kupikir aku tertarik padanya.

Elena : Ya, silahkan, kupikir dia juga sedang sendiri.

Megan : Kamu putus dengannya?

Elena : Sepertinya begitu.

Megan : Ada yang ingin kamu ceritakan? Kupikir kamu sedikit kaku.

Elena berpikir sebentar, kemudian mulai mengetik kembali  apa yang terlintas di kepalanya.

Elena : Meg, jika kamu mengenal seorang pria, tapi pria itu sangat mencintai wanita lain, apa yang akan kamu lakukan? Maksudku, apa kamu akan tetap berhubungan dengan pria tersebut?

Megan : Tergantung bagaimana hubunganya.

Elena : Maksudmu?

Megan : Elena, kita tidak bisa selalu mengharap pada orang yang jelas-jelas tidak tertarik dengan kita. Berteman boleh, tapi jika berharap lebih, aku sarankan jangan, kamu akan tersakiti.

Kupikir aku sudah tersakiti. Elena sudah mengetik kalimat tersebut tapi kemudian ia menghapusnya lagi. Tersakiti? Oleh Yogie? Yang benar saja.

Megan : Elena, kamu masih di sana?

Elena : Ah ya, terimakasih sudah memberikan saranmu.

Megan : Kamu sedang memiliki masalah dengan seseorang?

Elena : Tidak, aku baik-baik saja. Dan ini sudah sore, sepertinya aku harus pulang karena aku sudah mulai lelah.

Megan : Baiklah, jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja padaku, sampai jumpa Elena.

Elena : Bye, Meg.

Elena menghela napas panjang, kalimat Megan tadi seakan terukir dalam ingatannya. Elena tahu, jika pertanyaannya tadi tentu berhubungan dengan Yogie, dan astaga, untuk apa juga ia bertanya tentang Yogie?

***

Setelah seharian berada di apartemen Elena, Yogie merasa sedikit bosan. Ia sudah menghabiskan waktunya membersihkan seluuh penjuru apartemen Elena, memasak untuk makan siangnya sendiri, kemudian menonton televisi. Yogie bahkan mengusir tukang bersih-bersih yang biasanya membersihkan rumah Elena.

Kini, Yogie sedang santai menunggu kedatangan Elena untuk makan malam bersamanya. Bukan makan malam yang mewah, karena dirinya sendiri memang tidak bisa memasak. Ya, Yogie sendiri yang membuat makan malam tersebut.

Yogie hanya memanaskan beberapa masakan kaleng yang memang tersedia di lemari es di dapur Elena, pasta siap saji, dan juga, nasi goreng. Yogie tersenyum ketika mengingat jika makanan di hadapannya tidaklah cocok untuk makan malam bersama dengan wanita sekelas Elena. Oh, Yogie merasa dirinya benar-benar tidak pantas bersanding dengan Elena. Bersanding? Tidak! Untuk apa juga ia membayangkan bersanding dengan wanita yang jelas-jelas tidak menginginkannya?

Lamunan Yogie berhenti ketika mendengar pintu depan terbuka. Elena pulang. Dan seketika itu juga Yogie berdiri seakan menyaambut kedatangan Elena.

***

Elena pulang dengan suasana hati yang kacau. Percakapannya bersama Megan benar-benar mempengaruhinya. Bagaimana bisa ia memikirkan seorang Yogie? Lelaki yang sama sekali bukan tipenya?

Elena masuk ke dalam apartemennya dan terkejut mendapati Yogie yang sudah berdiri di sana. Lelaki itu bediri tegap, mengenakan t-shirt santai, dan juga celana pendeknya. Dan, entah kenapa seperti itu saja, Yogie terlihat panas di hadapan Elena.

Elena benar-benar terpaku menatap Yogie, sesekali Elena melirik ke meja makannya yang di sana sudah tersedia beberapa masakan untuk makan malam. Apa Yogie yang menyiapkannya? Tidak mungkin!

“Hai.” Sapaan Yogie membuat Elena tersadar jika dirinya sudah lama mematung di sana.

“Hai juga. Kamu kok di sini?”

“Kenapa? Memangnya nggak boleh?”

“Bukan begitu, tapi-”

“Lebih baik kamu mandi, dan ayo makan malam bersama.”

“Aku-”

“Mau kumandiin?”

“Enggak!” jawab Elena cepat. Entah kenapa Elena yakin jika Yogie ikut masuk ke dalam kamar mandinya, lelaki itu pasti mengajaknya bercinta di dalam kamar mandi, dan becinta dengan Yogie kini menjadi hal terakhir yang Elena pikirkan. Bukannya Elena tidak lagi bergairah dengan lelaki tersebut, hanya saja, pikiran dan perasaannya sedang kacau.

“Oke, kalau begitu aku menunggumu di sini. Mandilah.”

Elena mengangguk dan dengaan canggung ia masuk ke dalam kamarnya. Canggung? Oh, sejak kapan ia canggung di hadapan lawan jenis? Elena, apa yang terjadi denganmu? Pikir Elena dalam hati sambil sesekali menggelengkan kepalanya.

Elena masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu kamarnya, kemudian menghela napas panjang. Bagaimana mungkin Yogie bisa begitu mempengaruhinya? Lagi-lagi pertanyaan itu terngiang di dalam ingatannya.

Elena menyapukan matanya ke seluruh penjuru ruangan dan baru menyadari jika ada yang beda di dalam kamarnya. Ada sebuah gitar di ujung ruangan, sebuah Playstation di meja televisi tepat di depan ranjangnya. Apa itu punya Yogie? Kenapa lelaki itu membawa barang rongsokannya kemari? Piki Elena.

Elena kemudian menuju ke arah lemari pakaiannya, membukanya dan berakhir dengan mengumpat karena mendapati beberapa pakaian pria di sana yang di yakini Elena adalah pakaiaan Yogie. Elena berlari ke dalam kamar mandinya dan mendapati ada sepasang handuk, yang satu miliknya dan satu lagi Elena yakin adalah milik Yogie, begitupun dengan alat-alat mandi, Elena bahkan melihat ada alat cukur beserta creamnya.

Sial!

Apa Yogie berniat tinggal bersamanya? Yang benar saja.

Elena kembali keluar dan menanyakan semua itu pada Yogie.

“Apa yang kamu lakukan dengan kamarku?”

“Apa? Aku tidak melakukan apapun.”

“Tidak melakukan apapun, katamu? Kamu membawa barang-barangmu ke dalam kamarku tanpa ijinku.”

Yogie mendekat, memebelai lembut pipi Elena, “Elena sayang, sebagian besar waktuku adalah di sini, bersamamu. Jadi tidak masalah bukan kalau aku membawa barang-barangku kemari?”

“Tapi aku tidak ingin tinggal seatap denganmu.”

“Siapa bilang aku ingin? Aku hanya membawa barang yang ku perlukan mana tahu kita bercinta sampai pagi dan aku lupa pulang.”

Elena menghela napas dengan kesal. Sial! Tentu saja yang ada di dalam kepala Yogie hanyalah kejantanannya saja. Bagaimana mungkin ia bepikir Yogie berharap tinggal bersamanya?

Elena membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya dengan sangat kesal. Ya, bagaimanapun juga, hubungannya dengan Yogie hanyalah hubungan timbal balik. Yogie membutuhkannya karena ia mampu memuaskan hasrat sekssual lelaki tersebut, begitupun dengan dirinya yang membutuhkan Yogie seperti membutuhkan udara untuk hidup, dalam hal seks tentunya.

***

Elena menyantap makan malam di hadapannya dengan diam. Ia masih kesal dengan sikap Yogie yang seenaknya sendiri. Bagaimanapun juga Yoge seharusnya minta ijin kepadanya jika ingin memboyong barang-barangnya tersebut.

“Masih marah, Honey?” Yogie bertanya dengan nada menggoda.

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu.”

“Kenapa?”

“Kita tidak sedang melakukan seks, jadi jangan memanggilku dengan panggilan menggelikan seperti itu.”

“Ya, memang tidak sekarang,  tapi sebentar lagi.”

“Tidak ada sebenta lagi, Yogie, malam ini aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Tidak ada alasan.”

“Bohong!” seru Yogie. Yogie menatap Elena dengan tatapan penuh intimidasi. “Kamu berubah hari ini, kenapa? Apa karena semalam? Apa semalam aku berbuat brengsek padamu?”

“Semalam? Aku sama sekali tidak memikirkan malam-malam saat aku melakukan seks denganmu.” Elena berkata dengan santai tanpa

“Bercinta Elena, kita bercinta.”

Elena tersenyum miring. “Yogie, kamu memang sedang bercinta dengan wanita impian kamu semalam, tapi bagiku, itu tidak lebih dari sekedar seks.”

Rahang Yogie mengeras kesetika. “Baiklah, malam ini  aku menginginkan seks.” Yogie berbicara dengan nada frontal dan sedikit melecehkan.

“Sorry, malam ini tidak bisa.”

“Aku butuh alasan.”

“Periode bulanan.”

“Sial! Itu tidak mungkin!”

Well, nyatanya aku sedang menstruasi, kalau kejantananmu tidak bisa menunggu seminggu kemudian, kamu boleh pergi mencari perempuan lain.”

Secepat kilat Yogie berdiri dan pergi meninggalkan Elena begitu saja dengan ekspresi kesalnya. Sedangkan Elena sendiri seketika diam membatu. Ya, Yogie pasti akan pergi ketika dirinya sedang tidak bisa melakukan seks, lagi pula, memangnya kenapa kalau lelaki itu pergi? Toh hubungan mereka memang hanya sekedar seks, sangat wajar jika lelaki itu pergi ketika dirinya tidak dapat memuaskan hasrat seksual lelaki tersebut.

Elena kembali teringat tentang semalam, ketika ia menawarkan diri sebagai tempat Yogie menyalurkan semua pelampiasannya. Yogie menyentuhnya lagi dan lagi, seakan tidak ingin memberi ampun pada Elena, seakan lelaki itu sudah sangat lama tidak menyalurkan hasratya, seakan lelaki itu mencurahkan seluruh rindunya pada tubuh di bawahnya, dan yang Elena yakini saat itu adalah, tubuhnya hanya sebagai pengganti tubuh wanita yang begitu di cintai Yogie, wanita yang bernama Alisha Almeera, bukan Elena Pradipta.

***

Yogie menegak minumannya lagi dan lagi. Ia sangat kesal dengan sikap Elena yang beruba acuh padanya. Wanita itu bahkan bersikap seolah dirinya seorang bajingan sialan. Ya, tentu saja, bukankah ia memang seorang bajingan?

Yogie kembali menegak habis minuman yang baru saja di isi kembali seorang bartender di hadapannya.

“Gimana kabar lo?” sebuah tepukan di pundahknya di sertai dengan pertanyaan tersebut membuat Yogie menolehkan kepalanya dan menatap ke arah seseorang yang baru saja duduk di sebelahnya.

Itu Andrew. Untuk apa pria salan ini datang padanya?

“Baik.” Jawab Yogie datar sambil meminta si bartender mengisi gelasnya kembali.

“Lo terlihat kacau. Kenapa emangnya?”

“Sejak kapan lo tanya-tanya masalah gue?”

Andrew mengangkat kedua bahunya. “Apa salah kalau gue tanya?”

“Enggak.” Jawab Yogie singkat. Kemudian ada sesuatu yang menggelitik pikiran Yogie, memaksa Yogie untuk menanyakan sesuaatu pada Andrew.

“Drew,  lo masih pacaran sama Elena?”

Andrew tampak sedikit terkejut. Malam itu ketika Yogie keluar sebagai pemenang, Andrew tidak berhenti mengumpat. Yogie bahkan dengan brengseknya langsung membawa Elena pergi bersamanya. Setelah itu Elena bahkan tidak ingin berbicara dengan Andrew lagi karena kesal.

“Masih.” Desis Andrew menahan amarahnya. Ia tentu sangat kesal dengan sikap Yogie yang benar-benar menjadikan Elena sebagai taruhannya malam itu.

“Lo beneran masih pacaran sama cewek yang sudah bercinta dengan temen lo?” ejek Yogie.

Secepat kilat Andrew bangkit dan mencengkeram kerah Yogie. “Maksud lo apa?” Andrew kembali menggeram kesal.

Dengan santai Yogie berkata. “Tinggalin dia, Elena milik gue.” Kalimat tersebut terdengar begitu santai namun di ucapkan dengan tatap mata tajam yang mampu mengintimidasi orang di hadapannya.

***

Pagi itu, Elena sibuk memasukan beberapa potong bajunya ke dalam kopernya. Ia akan pergi, dan ia memang harus pergi sebelum semuanya semakin kacau.

Semalaman ia tidak bisa tidur, entah apa yang membuat pikirannya kembali gelisah. Jam dua dini hari ia bangun bergegas ke dapur untuk membuat cokelat panas, tapi kemudian ia mendapati Yogie yang sudah tertidur pulas di sofa ruang tengahnya. Elena terkejut, tentu saja. Untuk apa juga lelaki itu tidur di apartemennya padahal mereka tidak sedang melakukan seks.

Jantung Elena kembali berpacu cepat, padahal kini ia hanya melihat sosk yang tidur pulas seakan tanpa dosa. Elena akhirnya kembali maasuk ke dalam kamarnya, mengunci kamar tersebut dan berakhir dengan gelisah sepanang malam sampai pagi.

Kini, Elena sudah memutuskan sesuatu, ia akan pergi sementara, ya, setidaknya menjauh dari sosok Yogie.

Setelah menyiapkan semuanya, Elena keluar dari kamarnya, dan betapa terkejutnya ia mendapati Yogie yang sudah berdiri di sana. Lelaki itu tampak lebih segar, mungkin sudah mandi di kamar mandi sebelah dapur Elena. Tidak ada lagi bau alkohol seperti tadi malam.

Elena menatap Yogie dengan tatapan lembutnya, sedangkan lelaki itu tampak memperhatikan Elena yang sudah rapi dengan koper di tangannya.

“Kamu, mau kemana?”

“Aku akan kembali ke Luar Negri, ada masalah di sana.”

“Masalah? Masalah apa?”

Elena menghela napas panjang. Jelas ia tampak enggan terlalu lama berdebat dengan Yogie. “Aku memiliki usaha keecil di sana bersama dengan temanku, dan kini usaha itu sedang ada masalah.” Jelas Elena sambil pergi menuju ke arah dapur untuk mengambil ai minum.

“Berapa lama?” suara Yogie terdengar dingin, tapi Elena tidak ingin menghiraukan itu.

“Aku tidak yakin.”

“Kamu akan kembali?”

“Tentu saja, Ayah sudah mewariskan perusahaannya padaku, mana mungkin aku meninggalkanya.” Jawab Elena masih tidak menghiraukan Yogie yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya.

“Kalau begitu kenapa tidak kamu urus dari sini saja usahamu itu?”

“Tidak bisa, Megan baru saja menghubungiku, dan dia memintaku ke sana.” Elena menjawab masih dengan membelakangi Yogie. Ia seakan tidak ingin menatap dan terpesona pada lelaki di belakangnya tersebut. Terpesona?

“Kamu mengindariku? Elena?” pertanyaan Yogie membuat Elena membatu seketika.

Yogie melangkah mendekat, tatapan matanya fokus pada punggung Elena yang sama sekali tidak bergerak. Lenan Yogie kemudian terulur melingkari pinggang Elena dari belakang, kemudian menarik tubuh Elena hingga masuk ke dalam pelukannya. Yogie menunduk, membawa wajahnya pada helaian rambut Elena, menghitup aroma wanginya yang seakan memabukkan.

“Katakan, kamu sedang menghindariku, Elena?” ucapnya lagi kali ini di ikuti dengan kecupan basah menggoda pada permukaan leher Elena.

 

-TBC-

Semua Cerita akan di Hapus!!! Maaf

Comments 17 Standard

ssdsdrttccwqc

 

Haii semua, apa kabar? baaik2 aja kan?? well saya cuma mau bilang, kalau mulai saat ini, hari ini, semua cerita yang sudah ending akan saya hapus dari blog ini yaa…

maaff… beribu2 maaf, tapi saya hanya ingin melindungi hasil jerih payah saya saat menulis. bukan tanpa alasan karena semaakin kesini semakin banyak pihak2 tidak bertanggung jawab yang tanpa tau malu mencari keuntungan. bisa saja cerita di blog ini di copas orang trus di akuin haak miliknya, atau bahkan mungkin di jadikan Pdf dan di jual murah tanpa sepengetahuan saya, lah kalau sudah gitu, kan saya yang di rugikan. well saya nggak mau itu terjadi.

jadi saya akan bertindak egois yaitu menghapus semua cerita yang sudah ending.

berikut daftar cerita yang di hapus :

1.) My Young Wife

2.) My Beloved Man

3.) Love in the dream

4.) that arogant princess

5.) My cool lady

6.) My Brown eyes

7.) Please stay with me

8.) Passion Of Love

Nahhh untuk sementara hanya itu yang saya hapus, untuk bad boy, oneshoot, dan side story tidak akan saya hapus ya.. terimakasih atas pengertiannya, dan semoga kalian mendukung apa yang saya lakukan.

Kalau kalian kangen dengan cerita-cerita yang sudah ku hapus, aku minta maaf bgt yaa… tapi aku akan mengusahakan supaya cerita-ceitaku ada versi cetaknya, sapa tau nanti ada yang minat punya bisa pesan secaraa langsung lewat aku. dan aku juga mengusahakan supaya cerita2 tersebut akan ada versi Pdf.nya yang bisa kaliaan beli di playbook.

 

terimakasih dan sekali lagi mohon pengertianya…

 

 

KissHug

ZennyArieffka

17-01-2017

Sweet in Passion – Chapter 10

Comments 6 Standard

fh1-copySweet in Passion

Banyak typo!!

Chapter 10

 

“Apa yang terjadi?”  pertanyaan Brian menyadarkan Febby dari lamunannya. Ia kini masih berada di dalam mobil Brian. Lelaki itu bahkan selalu mengemudikan mobilnya tanpa bertanya pada Febby arah tujuan mereka. Brian seakan tahu jika Febby kini sedang menahan emosinya.

“Tidak apa-apa.” Hanya itu jawaban Febby.

“Hubungan kalian tidak berjalan baik?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Kupikir kalian saling mencintai.”

“Lupakan sajaa, aku muak mengingat bajingan sialan itu.”

“Dia menyakitimu?”

Pertanyaan Brian membuat Febby tercenung. Apa Randy menyakitinya? Harusnya tida, tapi entah kenapa ia merasakan sakit? Dadanya terasa sesak ketika membayangkan suaminya itu bercinta dengan wanita lain.

“Tidak.” Febby menjawab singkat.

“Oke, jadi, kita kemana?”

“Aku hanya ingin berkeliling kota.”

“Baiklah, kita akan keliling Jakarta.” Jawab Brian dengan semangat.

“Bian.” Panggil Febby.

“Ya?”

“Terimakasih.” Hanya itu yang dapat di katakan Febby, sedangkan Brian hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman tulusnya.

***

Randy sedang berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamunya. Ia masih menunggu kedatangan Febby yang sejak sore tadi keluar dengan Brian. Sial! kenapa mereka bisa keluar bersama? rutuknya dalam hati. Sedangkan Marsela sendiri sudah pulang sejak sore tadi karena merasa tak nyaman dengan Randy yang tiba-tiba menjadi uring-uringan semenjak di tinggal Febby pergi.

Tiba-tiba pintu depan di buka, Randy tahu jika itu Febby yang datang. Ia lalu berjalan menuju pintu depan dan membukanya.

“Kamu dari mana saja? Apa kamu tahu ini sudah jam Sebelas malam?” Omel Randy pada Febby, tapi Febby seakan tak menghiraukan keberadaan Randy. “Febby! aku sedang berbicara denganmu!”

“Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, jadi pergilah dari hadapanku.” Jawab Febby datar.

“Apa? Hei, aku tidak akan berhenti sebelum kamu menjelaskan semuanya.”

“Apa yang perlu ku jelaskan?”

“Hubunganmu dan laki-laki sialan itu.”

“Itu bukan urusanmu!”

“Itu urusanku, Febby, kamu istriku.” dengan spontan Randy mengucapkan kalimat itu.

“Apa? Istri? Apa kamu sudah gila? Apa kamu sudah kehabisan obat? Kamu hanya Bank Sperma untukku!” Seru Febby..

“Apa?” Randy terlihat tak percaya dengan apa yang di katakan Febby.

“Sekarang pergilah, aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu.” kata Febby sambil menutup pintu kamarnya dengan keras. Sedangkan Randy masih ternganga saat melihat kepegian Febby.

***

Paginya…

“Kita harus berbicara..” Kata Randy pagi itu saat Febby baru saja keluar dari kamarnya. Ternyata sudah sejak pagi Randy menunggu Febby keluar dari kamarnya.

“Aku terlambat.” Jawab Febby datar.

“Kalaupun kamu terlambat, tidak akan ada yang memecatmu!” Teriak teriak Randy, ia sangat kesal karena sikap Febby yang belum juga membaik sejak tadi malam.

“Pekerjaanku adalah pekerjaan yang serius dan menyangkut nyawa, aku tidak bisa main-main dengan pekerjaanku. Tidak seperti pekerjaanmu yang hanya menjual skandal murahan.” jawab Febby dengan sedikit menyindir.

“Kamu jangan memulainya lagi.” desis Randy.

“Aku tidak memulainya, itu memang benar.”

Randy lalu terdiam dengan kata-kata Febby. Febby memang benar, pekerjaannya memang penuh dengan skandal murahan, tidak seperti pekerjaan Febby.

“Aku hanya ingin bicara baik-baik denganmu, kita harus membuat peraturan dalam rumah tangga kita.” ucap Randy dengan nada melembut.

“Tidak ada yang perlu di atur. Aku sudah memutuskan sesuatu.”

“Memutuskan apa?” tanya Randy dengan antusias.

“Kita tidak akan melakukan seks sialan itu lagi.”Febby menjawab dengan datar.

“Apa? apa maksudmu? bagaimana kamu bisa hamil jika tidak melakukan seks?”

“Kau benar-benar bodoh! Aku akan melakukan Inseminasi dan aku akan hamil tanpa berhubungan intim denganmu.”

“Apa kamu yakin? Aku tidak akan pernah mendonorkan spermaku.” Desis Randy tajam.

“Aku akan mencari pendonor lain. Brian mungkin mau membantuku.” Kata Febby cuek sambil membuka pintu.

Randy merasa amarahnya sudah sampai keubun-ubun apa lagi ketika mendengar nama Brian disebut-sebut. Membayangkan Febby mengandung bayi dari Brian membuat Randy semakin tersulut emosinya. Sontak Randy menutup kembali pintu yang di buka Febby dengan sebelah tangannya.

“Aku tidak akan membiarkanmu mencari pendonor lain.” kata Randy dingin. Lalu diterjangnya tubuh Febby dan dihimpitnya tubuh tersebut diantara dinding dan tubuhnya.

“Kamu, kamu mau apa?”

“Mau apa lagi? aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana membuat bayi yang benar  tanpa cara inseminasi sialan itu.” dan Randypun langsung mendaratkan bibirnya pada bibi Febby,  menghisapnya, melumatnya, menggodanya, hingga Febby tak dapat lagi menahan gairahnya.

Dikalungkannya lengannya ke leher Randy dibalasnya semua cumbuan Randy. Febby bahkan tak sadar jika ia mulai membuka kancing kemeja Randy satu persatu. Dia benar-benar sudah dikuasai oleh gairah, sedetik yang lalu dia menjadi wanita yang dingin datar dan ingin meledak-ledak tapi sedetik  kemudian ketika Randy menciumnya, ia berubah seratus delapan puluh derajat menjadi wanita yang sangat menggoda bagi Randy. Oh sial! Bagaimana mungkin Randy dapat mempengaruhinya seperti ini?

Randy sendriri tak mau kalah, dia juga sudah membuka seluruh kancing kemeja Febby  hingga Febby terlihat hanya mengenakan Bra warna kuning pastel yang membuat gairah Randy semakin meningkat saat melihatnya.

“Sialan!!!” Randy sedikit mengumpat karena sudah tak kuasa menahan gairahnya. Dia mengangkat tubuh Febby dan membaringkannya di sofa ruang tau tanpa sedikitpun melepaskan cumbuannya.

Febby yang sudah di mabuk oleh gairahnya hanya menuruti apa yang dilakukan oleh Randy. Desahan demi desahan merekapun menggema di ruang tamu pagi itu.

“Kau akan melakukannya disini?” tanya Febby masih dengan menutup matanya.

“Tentu saja.”  Randy  hanya bisa menjawab itu karena bibirnya masih sibuk mengulum puncak payudara Febby.

“Kamu, kamu, benar-benar gila.” kata Febby di sela-sela desahannya.

“Kamu yang membuatku tergila-gila.” Jawab Randy yang tanpa di duga oleh Febby langsung menenggelamkan dirinya di dalam diri Febby,  membuat Febby sedikit terpekik karena terkejut.

Febby pun mendesah, mengerang, membuat Randy tidak bisa menahan diri untuk melumat habis bibir Febby kembali. Mereka bercinta di sofa ruang tamu masih dalam keadaan berpakaian lengkap. Randy hanya membuka kancing dan resleting celananya, sedangkan rok pendek Febby hanya dinaikkan Randy keatas hingga perut.

“Sial! Kamu sangat seksi.” Racau Randy disela-sela kenikmatan yang didapatnya. Sedangkan Febby hanya mendesah, mendesah, dan mendesah.

Kali ini cukup lama mereka berkutat dengan percintaan panas mereka pagi itu, saling mencumbu, saling mendesah membuat gairah keduanya semakin meningkat hingga puncak kenikmatan itupun mereka capai bersama-sama.

Randy tersungkur di atas tubuh Febby, di cumbuinya kembali leher Febby dengan lembut.

“Aku tidak pernah segila ini ketika bercinta dengan wanita.” Kata Randy di tengah-tengah cumbuannya.

“Omong kosong!” jawab Febby cuek.

“Hei, bisakah kamu bersikap sedikit romantis?”

“Kita tidak perlu romantis-romantisan, kau tahu itu, lagi pula aku masih marah denganmu.” gerutu Febby.

“Baiklah, maafkan aku, Uum, sejujurnya aku lupa kemaren jika aku memiliki janji denganmu.” Kata Randy sambil tersenyum menyeringai.

Febby sedikit menyentil kening Randy.“Bodoh!”

“Kamu memaafkan aku, kan? iya kan? iya kan?” goda Randy.

“Hei, apa yang kamu lakukan? Cepat tarik dirimu, aku sudah terlambat kerumah sakit.”

“Aku tidak akan menarik diri sebelum kamu memaafkanku.” Ancam Randy.

“Jadi kamu ingin kita seharian dalam posisi seperti ini? kamu benar-benar menyebalkankan.”

“Aku nggak peduli.” Randy masih tak mau mengalah.

“Baiklah, baiklah, aku memaafkanmu.  Sekarang cepat bangun, punggungku sudah pegal.”

“Baiklah istriku..” Kata Randy lalu tanpa di sangka, Randy mengecup lembut bibir Febby dengan singkat. Febby sedikit terkejut dengan tingkah laku Randy.

Merekapun akhirnya membersihkan diri bersama. Randy menawarkan diri untuk mengantar Febby  ke rumah sakit. Tentu saja Febby menerimanya mengingat hari sudah siang.

***

“Lain kali jika kamu ingin bercinta dengan wanita itu, bawa dia ketempat lain, jangan di rumah kita.” entah kenapa Febby berani mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang kepada Randy saat masih di dalam mobil.

“Kenapa?” tanya Randy masih dengan memandang lurus ke arah jalan.

“Aku tidak suka saja.”

“Apa kamu cemburu?” tanya Randy kemudian.

“Aku tidak cemburu! Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan dengan wanita itu, aku hanya tidak suka melihatnya di rumahku.”

“Itu juga rumahku.”

“Kalau begitu aku nanti juga akan mengajak lelaki lain main kerumah.”

“Kamu mengancamku?”

“Aku tidak mengancam, aku hanya ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan saat melihatmu membawa perempuan lain ke rumah kita.”

“Baiklah, baiklah, kamu menang, aku tidak akan mengajaknya kerumah lagi. Hotel di Jakarta juga banyak.”

Dan setelah kata-kata yang di ucapkan Randy, Febby pun menjadi murung kembali. Astaga, kenapa dirinya jadi peduli apa yang di lakukan Randy dengan kekasihnya?

“Kenapa?” Tanya Randy kemudian.

“Kenapa apanya?” Febby bebalik bertanya dengan nada ketus.

“Kenapa kamu diam? Apa kamu juga tidak suka jika aku membawa  Marsela  ke salah satu hotel di Jakarta?” Tanya Randy dengan nada sedikit mengejek.

“Kamu terlalu percaya diri tuan! Aku tidak peduli apapun yang kamu lakukan dengan wanita itu.”

“Apa kamu yakin?” goda Randy.

“Tentu saja!”

“Baiklah, kita lihat saja nanti.” pupus Randy. Akhirnya sisa perjalanan merekapun dihabiskan dengan saling berdiam diri sibuk dengan pikiran masing-masing.

***

Setelah mengantarkan Febby ke rumah sakit tempat wanita itu bekerja, Randy langsung menuju  ke kantor managementnya. Dia di hubungi oleh Alvin, managernya. Alvin bekata jika Randy  mendapatkan Cast sebagai pemeran utama di sebuah film Romantis. Dan betapa terkejutnya Randy ketika lawan main di film tersebut adalah Marsela.

“Vin, apaan ini? Publik akan kembali menggila saat gue menerima peran ini dengan Marsela.” Sembur Randy pada Alvin

“Justru karena skandal yang pernah kalian buat yang akan mengangkat rating film ini?”  jawab Alvin dengan santai.

“Apa? jadi mereka memang sengaja memilihku dan Marsela?”

“Ya.”

“Vin, gue sudah punya istri, gimana kalau Febby nonton film sialan ini? Apalagi dengan bumbu adegan seks? Lo mau bunuh gue?” Entah kenapa Randy jadi khawatir dengan reaksi Febby saat wanita itu nanti tahu jika Randy akan beradu akting bersama Marsela.

“Pernikahan kalian kan cuma pura-pura, lo pikir gue nggak tau?”

“Sial!” umpat Randy.

Randy memang tidak sepenuhnya terikat dengan Febby, tapi entah kenapa kini ia menganggap pernikahannya dengan Febby adalah pernikahan yang sesungguhnya meski nanti akan berakhir dengan perceraian.

Apa? cerai? apa nanti ia  akan bercerai dengan Febby?  pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja dalam benak Randy.

“Pernikahan kami adalah pernikahan yang serius, kami tidak pura-pura atau main-main, bahkan kami sudah merencanakan memiliki seorang bayi.” jelas Randy tegas.

“Apa? Lo ngaco? Gue nggak percaya kalo lo nglauin itu. Bukannya lo cinta mati sama Masela?”

“Terserah apa kata lo.” Desis Randy lalu dia bergegas pergi meninggalkan Alvin yang masih ternganga dengan penjelasan yang di berikan Randy.

****

“Bagaimana dengan yang ini?” tanya Brian  pada Febby.

Mereka kini sedang berada di sebuah toko Ice Cream di pusat perbelanjaan yang dekat dengan rumah sakit tempat Febby bekerja.

“Aku lebih suka cokelat.” Jawab Febby dengan mata berbinar ke arah berbagai macam ice cream aneka rasa di hadapannya.

“Baiklah, terserah kamu saja.”

Akhirnya setelah memesan merekapun duduk di pojok toko ice cream tersebut. Tentu saja saat ini Brian sudah menyamar lengkap dengan topi, rambut serta kumis palsunya yang membuat Febby tidak bisa menahan tawanya sejak tadi.

“Apa kamu bisa berhenti tertawa?” tanya Brian yang sudah mulai jengkel.

“Enggak, kamu hanya terlihat seperti orang  bodoh. hahhahahha” lanjut Febby masih dengan tawa lebarnya.

“Terserahmu saja, yang penting saat ini aku lebih suka melihatmu tersenyum, dari pada kemaren yang hanya murung.” Setelah mendengar perkataan Brian saat itu, Febby langsung terdiam.

“Maafkan aku, jika aku kemarin membuatmu tidak nyaman.”

“Tidak, bukannya aku tidak nyaman, hanya saja kamu akan terlihat lebih jelek saat murung.” Kata Brian sambil tertawa..

“Haisshh.. kamu ini benar-benar.”

“Bagaimana hubunganmu dengan Randy? apa kalian sudah baikan.”

Febby mengaduk-aduk Ice creamnya. “Kami tidak akan pernah baikan. Hanya saja kami sudah membuat kesepakatan.”

“Kesepakatan apa?”

“Seperti kawin kontrak pada umumnya, bahwa kami tidak berhak mengganggu masalah pribadi masing-masing meski sebenarnya hanya kesepakatan tak tertulis.” Jawab Feby jujur. Ia merasa tidak perlu menutupinya lagi, untuk apa ia menutupi semua ini jika Randy dengan terang-terangan memperlihatkan jika lelaki itu selingkuh darinya?

“Berarti saat ini kamu bebas? apa aku boleh mengganggumu?”

“Hei, bukannya setiap hari kamu sudah mengganggu jam makan siangku?”

“Bukankah itu lebih baik? Jadi kamu tidak akan mati bosan di dalam ruanganmu itu?”

“Ya, setidaknya aku bisa mendapatkan makan siang gratis saat bersamamu, hahhaha..” jawab Febby sambil tertawa.

“Dasar.” kata Brian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Merekapun tertawa bersama bercanda seperti biasa saat mereka bertemu hingga tak menyadari jika dari kejauhan ada seorang yang sedang mengawasi gerak-gerik mereka sambil mengepalkan tangannya.

****

Randy kembali ke rumah sakit untuk mengajak Febby makan siang bersamanya. Kali ini dia benar-benar tulus mengajak makan siang bukan hanya sekedar pencitraan dirinya di depan publik. Tapi dia sangat kecewa ketika pendapati Febby sudah keluar makan siang.

Akhirnya Randy memutuskan makan siang di kantin rumahsakit. Meski sangat risih karena setiap pasang mata yang ada di situ selalu memperhatikan tingkah lakunya bahkan tak sedikit yang memotretnya, belum lagi makanan di kantin rumah sakit yang menurut seleranya sangat hambar tak berasa, tapi ia tetap melakukannya. Ia hanya ingin menunggu kedatangan Febby. Entah kenapa Randy begitu merindukan ekspresi wajah Febby yang menggemaskan itu.

Apa? Merindukan? Tidak! ini tidak benar. Ia tidak merindukan Febby, ia hanya ingin menggoda wanita itu saja.

Randy masih menikmati makan siangnya ketika tiba-tiba pandangannya teralih ke arah parkiran rumah sakit, tepat pada saat itu ia melihat istri yang ditunggunya itu keluar dari dalam mobil lelaki bajingan yang amat sangat di bencinya.

Jadi mereka makan siang bersama? lalu untuk apa ia menunggu wanita itu di sini seperti orang bodoh? geramnya dalam hati.

Sontak Randy berdiri dari tempat duduknya. Ia ingin menghampiri lelaki bajingan itu dan memukulinya habis-habisan. Tapi untuk apa? bukankah itu akan semakin terlihat jika dirinya sedang cemburu? Apa? Cemburu? Apakah dirinya kini sedang cemburu?

 

-TBC-

Behind The Scene – Hurt Love Series & MBA Series

Comments 5 Standard

untitled-1

 

Behind The Scene

 

Aku membuka mataku dan baru menyadari jika kini aku berada di sebuah tempat asing. Tempat yang sama sekali tak pernah ku datangi, tapi secara bersamaan aku juga merasa jika aku pernah melihat tempat ini.

Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru, tapi aku tidak melihat apapun, yang kulihat hanyalah kabut putih di antara sebuah tangga yang terbuat dari kaca yang menjulang tinggi ke angkasa.

Aku mengerutkan kening. Bukankah ini tempat dimana Brandon bertemu dengan Alisha di dalam mimpinya? Pikirku. Apa kini aku juga sedang bermimpi? Oh yang benar saja. Jika aku benar-benar bermimpi maka aku ingin bertemu dengan semua pangeran yang ku ciptakan saat ini juga.

Mengingat hal itu, aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan sesekali memukul kepalaku sendiri. Bodoh!!! Bagaimana bisa aku masih memiliki sebuah fantasi saat umurku sudah tak lagi muda?

Aku memutuskan untuk menaiki tangga-tangga itu dengan sesekali berdoa supaya tangga itu tidak pecah karena berat badanku yang berlebihan. Bicara tentang berat badan, aku menatap tubuhku sendiri, dan rasa shock seketika kurasakan.

Tubuhku benar-benar ramping, padahal aku tidak ingat jika aku pernah diet. Kulitku putih mulus, padahal seingatku aku sudah berhenti melakukan injek sejak Tiga tahun yang lalu dan ku pikir aku sudah kembali menghitam setelah itu. Gaunku berwarna putih bersih dengan beberapa aksesoris yang membuatnya terlihat mewah. Aku juga mengenakan sepatu berwarna putih yang menyatu dengan kulit kakiku. Ku rabakan jemariku ke arah kepalaku dan aku merasakan rambutku yang sudah tertata rapi, belum lagi beberapa aksesoris yang menempel di kepalaku.

Please, aku membutuhkan kaca saat ini juga. Jika apa yang ku bayangkan benar-benar terjadi padaku saat ini, maka aku akan melakukan selfie cantik lalu ku sebarkan di akun instagramku, supaya dapat menampar beberapa kakak kelas yang dulu suka mengejek bahkan sok cantik di depanku.

Lupakan!!!

Lagi pula, bukannya ini hanya mimpi?

Oke, aku melanjutkan langkahku hingga aku berada di ujung tangga. Ku pikir, ujung tangga itu akan membawaku ke luar angkasa seperti impianku selama ini. Ya, satu-satunya hal yang sangan ku inginkan adalah berada di luar angkasa dan melihat bumi dari sana. Well, itu mustahil kecuali jika aku menikah dengan presiden Barack Obama atau Pangeran inggris mungkin. Hahahahha, abaikan.

Di ujung tanga itu aku mendapati sebuah taman, taman indah lengkap dengan kabut warna putihnya.

Tunggu! Aku merasakan De Javu, ku pikir aku pernah membayangkan tempat ini. Ahh ya, ini adalah tempat alam bawah sadar Revan saat dia koma dan bertemu dengan Lita. Jadi, apa aku sekarang sedang koma? Jangan ngelantur!!!

Aku melanjutkan langkahku menyusuri jalanan setapak, tamannya benar-benar sangat indah, dan tak lama, keindahan ini semakin sempurna ketika aku mendapati sesosok lelaki yang sedang berdiri menatapku dengan senyuman lembutnya. Lelaki itu hanya mengenakan celana panjang, tanpa atasan apapun, bisa di bayangkan bagaimana perutnya yang kotak-kotak yang biasa di sebut Roti Sobek oleh anak-anak di Grup Edan. Kakinya tidak beralaskan sandal maupun sepatu, ya, dia bertelanjang kaki. Dan dia sangat tinggi.

“Hai.” Sapanya sambil mengulurkan jemarinya padaku.

Kuraih jemari itu dan kurasakan jika dia begitu nyata. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Dia selama ini hanya ada dalam fantasiku, tapi bagaimana mungkin kini aku dapat menyentuhnya dengan sangat nyata?

“Mas Revan.” Kataku.

Ya, dia Revano Putera. Sosok yang kuciptakan dalam novel Please stay with me. Dia adalah sosok yang paling di benci oleh reader, aku tahu karena dia benar-benar menyebalkan, tapi entahlah, ku pikir aku selalu mencintainya ketika aku menulis tentangnya.

“Ya, aku.”

“Kok kamu di sini? Kenapa kita bisa bertemu?”

“Kenapa? Aku juga nggak tahu.”

Dia sedikit menyunggingkan sebuah senyuman dan itu membuatku ikut tersenyum. Jantungku berdegup kencang seketika. Apa ini yang di rasakan Dara ketika bertemu dengan lelaki ini? Ini benar-benar gila.

“Author…”

Aku memekik ketika sebuah lengan memelukku dari belakang. Ku tolehkan wajahku dan aku mendapati sepasang mata cokelat nan indah sedang menatapku dengan tatapan yang paling lembut.

“Mike?” ucapku tak percaya. Sedangkan Mike hanya mampu menganggukkan kepalanya.

Dengan spontan aku membalikkan tubuhku kemudian memeluk Mike erat-erat. Aku tidak peduli jika tiba-tiba Hana datang dan marah denganku, sungguh aku tidak peduli. Karena yang kupedulikan adalah memeluk erat sosok fantasiku ini selagi aku bisa.

Mike Handerson, seorang lelaki keturunan indo-Jerman yang memiliki mata cokelat nan indah. Dia sangat mencintai keluarganya, dan dia juga seorang pendendam, dendam yang membawanya pada cinta. Oh Mike, aku merindukan saat-saat menulismu sembari meneteskan air mata.

Lebay ya? Oke, lupakan.

“Kalian benar-benar nyata?” tanyaku lagi, karena nyatanya aku masih tak percaya.

“Ya, kami nyata.” Jawab Mike dengan pasti.

“Kami juga nyata.” Suara itu memaksaku menoleh dan menatap ke arah dua lelaki yang berjalan menuju ke arahku.

Tuhan!! Jika ini mimpi, aku tidak ingin bangun. Itu adalah Osvaldo Handerson, bersama dengan Araka Andriano. Keduanya berpenampilan sama dengan Mike dan juga mas Revan. Hanya mengenakan celana panjang, kaki yang telanjang dan juga dada sekaligus perut kotak-kotak yang seakan  sengaja di pamerkan.

Aku meraba area bawah hidungku, semoga saja saat ini aku tidak mimisan. Oh, ini benar-benar gila!

Kak Aldo menghambur ke arahku, memelukku erat-erat sesekali mengangkat tubuhku, sedangkan Kak Raka hanya mampu menatapku dengan ekspresi datarnya. Ya, ekspresi itu.

“Astaga, bagaimana mungkin kalian bisa berkumpul di sini?”

“Kami cuma mau pamit, Thor.” Kak Aldo menjawab.

“Pamit? Pamit ke mana?” tanyaku bingung.

Mike mencengkeram kedua bahuku, memutar tubuhku hingga tepat menatap ke arahnya.

“Terimakasih sudah membuatkan kisah indah untuk kami. Kami tahu, kami bukan yang terbaik, tapi kami senang ketika ada beberapa reader yang ikut menangis, tertawa atau bahkan kesal dengan tingkah kami.”

“Ya, aku tahu itu, tapi bukan berarti kalian harus pamit pergi kan?”

“Tidak Thor, kami tidak pergi, sampai kapanpun kami tetap ada di sini.” Mike menunjuk dada kiriku.

“Tapi author tetap harus Move on, membuat kisah-kisah baru yang lebih baik lagi dari kisah kami, kami tidak ingin membayangi Author, jadi kami memutuskan untuk pergi dari ingatan Author.” Kak Raka ikut menjelaskan.

“Tidak!!!” seruku lantang. “Sejelek apapun cerita kalian, aku tidak akan pernah melupakannya. Aku bahkan ingin selalu menghubungkan kalian dengan cerita-ceritaku yang lainnya.”

“Tapi Thor, itu akan sulit.” Kak Aldo memberi pendapat.

“Tidak akan sulit. Selama aku masih bisa menulis, aku ingin selalu mengenang kalian. Kak Aldo, bukannya kamu punya Axel dan Alexa? Apa kamu nggak mau mereka di tuliskan kisahnya? Kak Raka juga kan punya Rafe, apa nggak mau Rafe bertemu dengan Pincessnya?”

Well, semuanya terserah author, sih.”

“Maka dari itu, jangan tinggalkan aku, jangan pergi dari ingatanku. Mungkin semakin lama ingatanku tentang kalian akan sedikit mengabur, tapi aku akan mencoba membaca kisah kalian lagi, supaya aku dapat selalu mengingatnya.”

“Bener sepeti itu Thor?”

Aku mengangguk cepat. “Mas Revan aku ingat dengan sikap dinginnya, Mike, aku sangat ingat dengan mata cokelatmu dan juga sikapmu yang perayu, Kak Aldo adalah sosok yang kekanakan dan juga labil, sedangkan kak Raka adalah sosok datar tanpa ekspresi. Aku akan mengingat kalian semua meski aku menciptakan sosok baru lagi dan lagi, jadi jangan pernah pergi dari ingatanku. Jika aku lupa, maka muncullah dalam mimpiku. Aku akan kembali mengingatnya.”

Tiba-tiba aku merasakan Mike merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.

Thanks, Thor. Tanpamu, kami nggak akan ada. Terimakasih sudah memberikan Hana yang begitu baik untuk menyadarkanku.” Aku tersenyum mendengar ucapan Mike. Mike melepaskan pelukannya kemudian tubuhku di raih oleh kak Aldo, dan lelaki itu memelukku erat-erat seperti yang di lakukan Mike padaku.

“Terimakasih sudah memberikan Sienna untukku. Terimakasih sudah menyayangiku.” Aku mengangguk dan membalas pelukan kak Aldo. Kak Aldo melepaskan pelukannya dan kini aku berhadapan dengan Kak Raka.

Kak Raka mengusap lembut puncak kepalaku. “Author membuat Felly sebagai satu-satunya wanita yang ku cintai ketika di dalam novel, apa author tidak ingin aku mencintai wanita lain?”

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Kalau aku melenceng dan memilih mencintai Author, gimana?”

“Uum, mungkin suamiku akan membunuhmu.” Jawabku asal, dan itu membuat semua yang ada di sana menertawakanku.

Kak Raka merengkuhku ke dalam pelukannya. “Aku mencintaimu, Thor, sama seperti kamu mencintaiku ketika menulis tentang kisahku.”

Aku menghela napas panjang. Ya, tentu saja aku mencintai kalian semua. Lirihku dalam hati.

Kak Raka melepaskan pelukannya dan kini aku sudah berhadapan dengan Mas Revan. Sosok yang benar-benar… enthlah, aku sulit menggambarkannya.

Mas Revan mengulurkan jemarinya pada pipiku, mengusapnya lembut hingga aku yakin itu bisa membuat pipiku memerah karena gugup.

“Semua sudah di katakan yang lain, aku nggak tau harus bilang apa lagi. Hanya terimakasih, dan terimakasih yang bisa ku katakan.”

Mas Revan kemudian meundukkan kepalanya dan berbisik di telingaku.

“Aku pernah mencintai Lita, dan kini aku sangat mencintai Dara. Terlepas dari semua sekenario novel yang kamu buat, aku mencintaimu, Thor.” Kalimat itu di ikuti dengan kecupan lembut di pipiku.

Kyaaaaaa aku dicium Revano Putera???? Semoga aku tidak pingsan.

Keempatnya kemudian menatapku dengan tatapan khas masing-masing. Aku sendiri hanya mampu menatap mereka sepuasnya. Ku pikir hanya ini satu-ssatunya kesempatan aku bisa melihat mereka senyata ini.

“Kami harus pergi, kuharap, kamu benar-benar tidak melupakan kami, Thor.” Mas Revan kembali berkata. Aku tersenyum dan mengangguk dengan pasti.

“Salam sayang untuk semua readers yang sudah membaca kisah kami.” Kak Aldo berucap.

“Ya, aku akan menyalamkan ke mereka.” jawabku.

Keempatnya tersenyum, kemudian mereka mulai terlihat samar, sama, dan.. Hilang. Aku berdiri sendiri di sana, di tengah-tengah taman yang indah dengan kabut warna putihnya.

“Mama.. Mama bangun.. Mama, cucu Mama, Mama…” kurasakan tubuhk bergoncang-goncang bersamaan dengan suara lucu dari Bella, puteri kecilku.

“Mama, bangun, cucu Mama..”

Dan aku membuka mata.

Ya, aku cuma bermimpi ketika bertemu dengan mereka. Kulihat Bella yang sudah bangun sambil membawa botol susunya yang sudah kosong. Dan aku tersenyum.

Inilah kehidupan nyataku, kehidupanku sebagai seorang ibu rumah tangga, tapi semua ini tidak menghalangiku untuk mengenal mereka. Revan yang dingin, Mike si perayu, Aldo yang kekanakan, atau Raka yang datar. Aku mencintai mereka semua meski hanya di dalam mimpi, dan ku harap, kalian para readerspun sama, mencintai mereka ketika membaca kisah mereka.

Terimakasih….

ZennyArieffka

12-01-2017

Sweet in Passion – Chapter 9

Comments 5 Standard

fh1-copySweet in Passion

Part ini pendeekkkk bgt.. hahhahahah happy reading!!

Chapter  9

 

Febby mulai membuka matanya ketika kesadaran merenggutnya kembali dari mimpi indah yang dialaminya setiap malam. Dan dia mendapati ranjang di sebelahnya kosong. Tak ada Randy di sebelahnya. Apa lelaki itu sedang sibuk? pikirnya.

CFebby mulai menggerak-gerakkan badannya yang terassa amat sangat pegal karena pergulatannya semalam dengan Randy. Ini sudah satu minggu setelah malam dia mabuk bersama Randy karena bertemu dengan kakaknya di Restoran. Dan selama itu pula setiap malam Randy selalu menyentuhnya.

Ini tidak benar, jika ia hanya menginginkan bayi seharusnya ia menolak Randy dan membuat jadwal yang benar, bukan malah membiarkan Randy menyentuhnya setiap saat, pikirnya lagi. Apa ia sudah termakan oleh pesona seorang Randy Prasaja? Tikad, tidak, ini bukan karena itu. Pikir Febby lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalaya.

Febby lalu bergegas membersihkan diri, lalu menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Ketika akan membuka kulkas, Febby  menemukan sebuah note yang di tempelkan di pintu kulkas.

 

“Istriku.  Aku tunggu kau di kantor manajemenku saat makan siang,

Ingat, harus membawa masakan yang enak yaa….”

                             Suamimu tersayang… Randy Prasaja.

 

Febby lalu menggelengkan kepalanya. “Benar-benar gila, apa dia pikir aku tidak bekerja? menyusahkan orang saja” katanya lalu meneguk susu yang baru di ambil di dalam kulkas.

“Dan lagi, apa dia bilang, Istriku? Huuhh, apa dia sedang merayuku? Mungkin dia memang sedang kehabisan obatnya.” Gerutunya lagi.

***

“Apa yang lo lakuin di situ? Lo kaya orang gila senyum-senyum sendiri.” Suara Chiko mengagetkan Randy.

“Lo gangguin gue aja.” gerutu Randy.

“Hari ini kan lo nggak punya jadwal shooting? Ngapain lo kemari?”

“Emangnya nggak boleh?”

“Boleh aja sih, tapi gue bosen ihat muka gila yang lo tampilin.” Canda Chiko.

“Dasar sialan!” Randy mengumpat sambil tersenyum lebar.

“Bagaimana rumah tangga lo?” setelah tertawa bersama, tiba-tiba Chiko menanyakan kabar rumah tangga Randy.

“Rumah tangga apa? Nggak biasanya lo nanyain rumah tanga gue.” Jawab Randy cuek.

“Gue pikr kalian semakin mesra  saja setiap harinya.”

“Mesra? yang bener aja. Nggak ada hari selain berkelahi sepeti kucing dan tikus antara gue dan Febby, kami cuma mesraa saat di atas ranjang, itu doang hahhahahha.” Randy tetawa lebar begitupun dengaan Chiko yang ikut tertawa sembari meninju bahu Randy.

“Siang.” tiba-tiba suara suara lembut itu menyela candaan mereka. Itu Marsela.

Seketika tubuh Randy menegang, tawanya langsung lenyap begitu saja.

“Marsela, kemarilah, kita sedang bercandaan.” Ajak Chiko.

“Maaf, aku cuma numpang lewat, aku sedang ada pekerjaan. katanya kemudian sambil berlalu pergi.

“Kalian punya masalah?” tanya Chiko pada Randy ketika Marsela sudah pergi.

“Sebentar, gue pergi dulu.” Kata Randy sambil berlari mengejar  Marsela. Chiko melihat mereka dengan tatapan sendu. Bukan tanpa alasan, karena sebenarnya sudah sejak lama Chiko memiliki perasaan terhadap Marsela, namun dia memendamnya karena mengetahui jika Marsela memiliki hubungan special dengan Randy, temannya sendiri.

***

“Marsela, apa yang terjadi? kenapa kamu bersikap aneh sama aku?” tanya Randy sambil meraih pergelangan tangan Marsela.

“Apa? Aku bersikap aneh? kamu yang sudah berubah smaa aku!” tanpa di sangka Marsela berteriak keras kearah Randy.

Randy lalu menarik tangan Marsela, mengajaknya ketempat yang sepi. Setelah itu ia langsung memeluknya.

“Sayang,  aku tidak berubah,aku tetap sama, rasa cintaku padamu tetap sama.” Bisik Randy pada Marsela, tapi entah kenapa Randy merasakan sesuatu yang aneh ketika mengucapkan kalimat tersebut.

“Tapi seminggu terakhir kamu selalu menghindariku jika aku ingin bertemu, kamu sekarang bahkan terlihat lebih mesra dengan istrimu itu.” Jawab Marsela di sela-sela isakannya.

“Marsela, kamu tentunya tahu posisi kita tidak baik, dan aku melakukan ini semua demi dirimu.. mengertilah.” Randy mencoba meyakinkan Marsela, padahal kin, ia merasa jika hatinya sendiri tidak…. seyakin dulu.

Randy lalu menatap Marsela dengan tatapan menyalanya. “Aku merindukanmu.” bisiknya sensual. Seketika itu juga Randy mendaratkan bibirnya tepat di bibir Marsela. Melumatnya, mengulumnya penuh dengan gairah yang menyala-nyala. Keduanya pun berciuman panas cukup lama.

***

 

“Huuhh, dia benar-benar menyusahkan orang saja.” Lagi-lagi Febby  menggerutu sebal dengan sikap semena-mena Randy yang menyuruhnya pergi ke kantor managemen Randy dengan membawa makanan.

Saat ini Febby sudah berada di halaman kantor managemen Randy. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Dia Brian.

“Bian? Kenapa kamu ada disini? Kamu mengagetkanku saja.”  Setahu Febby,  Brian tidak berada dalam satu managemen yang sama dengan Randy.

“Aku hanya ingin menemui teman, dan tidak menyangka jika akan bertemu denganmu saat ini.” Jawab Brian dengan lembut. “Apa kamu lagi nyari Randy?” tanyanya lagi.

“Iya. si bodoh itu menyuruhku membawakan ini ke tempatnya bekerja.” Jawab Febby sambil menyodorkan kotak makannan besar sepeti kotak makanan orang ang sedang piknik.

“Apa itu? sepertinya enak,” tanya Brian sedikit tertarik

“Hanya Risol dan beberapa makanan ringan lainnya, apa kamu mau?” tawar Febby.

“Kamu sendiri yang memasaknya?”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi?”

“Kalau begitu aku mau.” Jawab Brian cepat.

“Baiklah, sekarang kita masuk dulu siapa tahu dia sudah menungguku.”

“Oke.” jawab Brian sambil mengikuti Febby di belakangnya. “Biarkan aku membantumu membawa itu.” Tawar Brian.

“Ahh tidak perlu, ini sangat ringan.”  Tolak Febby.

Ketika mereka melewati parkiran Febby melihat seorang yang mirip dengan Randy sedang menggandeng mesra seorang perempuan sembari berjalan cepat menuju ke sebuah mobil. Kedua orang itu tampak menutupi wajahnya seakan-akan tidak ingin orang mengenal mereka.

“Apa itu Randy?” tanya Brian yang sejak tadi ikut memperhatikan gerak-gerik kedua orang tersebut.

“Aku pikir juga begitu, apa dia mempunyai masalah?”

“Entahlah, lebih baik kita masuk ke dalam untuk memastikannya.” Jawab Chiko kemudian.

Akhirnya merekapun masuk ke dalam dan tidak menghiraukan orang yang meurut Febby mirip dengan Randy tersebut.

****

“Minum ini.” tawar Chiko pada Febby.

Ini sudah 2 jam sejak kedatangan Febby ke kantor management  Randy, tapi Febby tak bertemu dengan Randy. Kata Chiko tadi, Randy memang sedang keluar, dan Febby tahu jika yang tadi berada di parkiran itu berarti Randy dan pacarnya, Marsela.

Sial!

Febby mengumpat dalam hati. Untuk apa ia di suruh datang kemari jika Randy sendiri malah bersenang-senang dengan wanita lain. Dan Juga, apa ia terlalu bodoh, bisa-bisanya ia masih saja menunggu Randy selama kurang lebih Dua jam di tempat membosankan seperti ini.

“Aku akan pulang.” Kata Febby dengan sedikit dongkol terlihat di wajahnya.

“Aku akan mengantarmu.” Kata Brian yang ternyata sejak tadi menemani Febby menunggu kedatangan Randy.

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.” kata Febby dengan memperlihatkan senyumannya yang dipaksa.

“Tidak bisa, aku akan mengantarmu pulang karena kamu sudah menteraktirku makan siang yang sangat enak ini.” Brian masih tak mau mengalah.

“Kamu bisa saja, Oke,terserahmu saja.” akhirnya Febby mengalah dan membiarkan Brian mengantarnya pulang.

***

Ketika sampai dirumah…

Betapa terkejutnya Febby saat  mendapati Randy dan Marsela yang sedang berada di ruang keluarga sedang menonton Tv bersama dengan sangat mesra. Randy kala itu masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek santainya, sedangkan Masrsela sendiri mengenakan Hot Pants dengan atasan kemeja Randy. Mereka terlihat seperti pasangan yang baru saja selesai melakukan… melakukan… hubungan intim.

Menyadari hal itu hati Febby  terasa panas. Sambil berjalan di hentakkannya kakinya lebih keras agar Randy mengetahui kedatangannya. Randy sontak berdiri ketika menyadari Febby sudah pulang.

“Febbydengan spontan Randy memanggi Febby pelan.

Melihat Febby membawa kotak piknik, Randy baru menyadari jika tadi pagi ia menyuruh Febby datang ke kantor managmentnya untuk membawa makan siang.  Entah kenapa Randy  jadi merasa bersalah dan harus minta maaf dengan Febby.

“Febb, apa kamu tadi ke kantor managemenku?” tanya Randy sambil mengikuti Febby yang berjalan ke dapur. Marsela sendiri hanya menatap Randy dan Febby seperti seorang yang sedang menonton drama rumah tangga.

Febby tidak menghiraukan pertanyaan Randy. Dia lalu menata kembali makanan-makannan yang ia bawa tadi di dalam kulkas. Randy kesal karena Febby tidak menghiraukannya.

“Febby, apa kamu tuli?!” Teriak Randy kesal.

“Kalau aku tuli maka kamu adalah orang yang paling brengsek dan menyebalkan yang pernah ku temui.” Jawab Febby sambil menatap tajam ke arah Randy.

“Sial! Sebenarnya apa yang terjadi padamu? aku bertanya padamu dengan baik, tapi kamu malah tidak menghiraukannya.”

“Aku tak peduli!” Jawab Febby cuek sambil menuju ke arah kamarnya. Randy Masih saja mengikutinya dari belakang.

“Febby! Jawab pertanyaanku. Apa yag terjadi?”

“Apa yang terjadi katamu? apa kamu bodoh? kamu jelas-jelas menyuruhku ke kantor sialanmu itu tapi kamu malah berada disini, bercinta dengan wanita jalangmu itu.”

“Febby, jaga mulutmu!” desis Randy. “Lagi pula aku tidak berpikir kamu akan kesana, kamu bisa menolaknya.” Jawab Randy enteng.

Sial!! Bukannya meminta maaf  Randy  malah balik menyalahkan Febby.

“Apa? Jadi ini semua salahku sendiri? kamu benar-benar bajingan.”

“Berhenti mengumpatiku.” Randy kembali mendesis menahan amarahnya.

“Aku tidak peduli, kamu lelaki bajingan dan dia wanita jalang murahan.”

“Kamu..kamu.. sialan!” Umpat Randy tajam sambil menunjuk-nunjuk ke arah Febby. Randy kemudian tersenyum seakan menertawakan Febby dengan senyuman mengejeknya.

“Hei, apa kamu cemburu? Febby, harusnya kamu sadar kalau hubungan kita tidak seperti yang kamu bayangkan.” Lanjut Randy lagi.

“Apa kamu gila? Aku tidak mungkin cemburu terhadapmu.” Elak Febby. Lalu ia memberskan beberapa barangnya dan mulai melangkah keluar.

“Kemana kamu?” tanya Randy masih dengan mengikuti Febby di belakangnya tanpa menghiraukan tatapan dari Marsela yang sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya.

“Bukan urusanmu, lebih baik aku pergi dari pada aku melihat wajah kalian berdua yang membuatku Mual.”

“Sialan!” Randy kembali mengumpat.

Febby lalu  membuaka pintu dan alangkah terkejutnya Randy ketika mendapati Brian yang sudah berdiri di depan pintunya.

“Ngapain lo di sini?” tanya Randy pada Brian dengan nada yang sama sekali tidak ramah.

“Aku yang mengundangnya.” Jawab Febby datar.

“APA?!” teriak Randy tak percaya.

“Aku tidak peduli denganmu. Kamu berkencan dengan wanita jalangmu, oke, aku juga akan berkencan.” Kata Febby sambil menggandengan lengan Brian dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Randy yang berteriak padanya.

“Febby, kalau kamu tetap pergi, jangan pernah pulang ke rumahku lagi!” Ancam Randy dengan kesal, tapi Febby masih tetap pergi seaakan tidak menghiraukannya. “Febby!! Argghh Sialan!!” umpat Randy keras-keras karena kekesalan yang sudah mengakar di kepalanya.

-TBC-