Sweet in Passion – Chapter 6

Comments 5 Standard

asipSweet in Passion

Chapter 6

Febby keluar dari rumah sakit dengan tatapan anehnya terhadap Randy. Ia masih tidak habis pikir jika Randy mau datang ke tempat kerjanya hanya untuk mengajaknya makan malam. Pasti lelaki ini memiliki rencana lain di balik itu semua.

Dan astaga, Febby tidak akan pernah melupakan ekspresi para pegawai rumah sakit tadi ketika melihat Randy yang baru sekali itu menginjakkan kaki di rumah sakit tempatnya bekerja.

Ya, hampir seluruh pegawai rumah sakit memang mengidolakan Randy semenjak lelaki itu memainkan sebuah Film yang berjudul The Lady Killer, yang membuat namanya melambung tinggi. Randy benar-benar sukses menyihir para kaum hawa dengan aktingnya sebaga Dhanni Revaldi, si Lady Killer yang cinta mati dengan pasangannya.

Oh yang benar saja, bahkan saat itu Febby pun sangat mengidolakan sosok Randy. Hanya saja, gossip tentang lelaki itu selalu buruk. Dia selalu di kaitkan dengan model-model papan atas, bahakan tak sering foto-foto intimnya dengan beberapa kekasihnya bocor ke tangan wartawan.

Randy menjadi Aktor yang sangat di cari beritanya, karena dirinya memang sangat jarang tampil di depan umum jika bukan untuk keperluan kerjanya. Maka jangan heran, ketika kabar pernikahan mereka mencuat, banyak orang yang meragukan kebenarannya.

Randy Prasaja, seorang aktor papan atas menikah dengan seorang dokter biasa? Yang benar saja. Banyak sekali yang ingin mengetahui kisah cinta mereka hingga sampai di pelaminan, tapi tentu saja Randy maupun Febby tidak akan pernah buka suara jika pernikahan mereka terjadi hanya karena sebuah perjodohan konyol dari kedua orang tua mereka.

“Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu baru sadar kalau punya suami yang tampan?” tanya Randy penuh percaya diri tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.

“Huh, terlalu percaya diri itu tidak bagus.” Febby mendengus kesal karena sikap Randy yang telalu percaya diri. Ya, tidak di pungkiri, sebenarnya tadi Febby melamun sembari menatap ke arah Randy karena mengagumi lelaki di sebelahnya itu.

Randy terihat begitu tampan dengan T-shirt warna hitam, celana pendek santainya, lalu topi yang bertengger di kepalanya. Lelaki itu tampak begitu keren dan ya, wajar saja jika para pegawai rumah sakit tadi hampir menjerit karena kedatangannya.

“Lalu apa yang sedang kamu pikirkan sambil menatapku seperti itu? Jangan bilang kalau kamu lagi berfantasi liar terhadapku.” Randy berkata dengan wajah datar tanpa ekspresinya, padahal kini hatinya sedang terkikik geli membayangkan Febby yang mungkin saja sedang berfantasi liar seperti dirinya beberapa hari terakhir. Ahhh Febby benar-benar membuat Randy gila. Setelah ciuman panas mereka pagi itu, Randy sama sekali tidak bisa berpikir jernih, yang ia inginkan hanyalah memasuki diri Febby, Febby, dan Febby. Tidak ada yang lain selain wanita itu. Apa ini yang di sebut dengan rasa penasaran?

“Berfantasi liar? Dasar mesum!” seru Febby dengan sedikit meninju lengan Randy. “Aku hanya masih heran. Untuk apa kamu datang ke rumah sakit? Kamu tidak mungkin hanya datang untuk mengajakku makan malam, kan?”

“Aku hanya ingin melihat suasana tempat kerjamu. Rupanya membosankan sekali.”

“Hei, siapa bilang kerja di rumah sakit itu menyenangkan? Kami berurusan dengan nyawa, kami tidak bisa seenaknya melalaikan tugas, atau bahkan bermain-main dengan pekerjaan kami. Pekerjaan kami adalah pekerjaan yang mulia, jadi jaga ucapanmu tentang pekerjaan yang membosankan itu.” Jawab Febby dengan sedikit tersinggung.

“Baik Yang Muia.” Goda Randy.

“Bodoh!!” umpat Febby kesal.

Randy tertawa lebar. “Aku sedikit risih dengan tatapan pegawai rumah sakit tadi. Apa mereka tidak pernah melihat artis ke rumah sakit itu?”

“Tentu saja pernah, banyak artis yang berobat di rumah sakit kami. Hanya saja mungkin itu pertama kalinya untukmu menginjakkan kaki di sana, makanya mereka melihatmu dengan tatapan aneh mereka.”

“Tapi nggak segitunya juga kali, sampai tadi ada yang jatuh saat melihatku. Hahhahaha lucu sekali.”

“Lucu katamu? Mereka mengidolakanmu. Sedangkan kamu sendiri seakan tidak peduli dengan mereka.”

“Tidak peduli bagaimana? Aku tidak tahu kalau mereka mengidolakanku. Kalau aku tahu mungkin aku akan melakukan jumpa fans di sana, pasti menyenangkan sekali.”

“Huh, kamu akan membuat geger seluruh penjuru rumah sakit. Asal kamu tahu, mereka semua sangaat mengidolakanmu saat kamu memainkan peran sebagai Lady Killer.”

Randy tertawa lebar. “Oh ya? Film itu lagi? Membosankan sekali. Dhanni Revaldi tidak apa-apanya dengan sosokku yang sebenarnya.”

“Oh ya? Ingat bung, kalau tidak ada Dhanni Revaldi, namamu tidak akan setenar seperti saat ini.” Febby mengingatkan.

Randy masih saja tertawa lebar. “Jadi, apa aaku harus jumpa fans di rumah sakit itu?”

“Sepertinya tidak perlu, kamu sudah di cap sebagai artis sombong oleh mereka.”

“Bagaimana mungkin? Kenapa bisa seperti itu?”

“Ya, karena sepertinya mereka lebih menyukai sosok Renno Handoyo dari pada si Dhanni Revaldi.” Perkataan Febby menyiratkan arti tersendiri.

“Renno Handoyo? Maksudmu si Brian sialan itu?” geram Randy.

Ya, film The Lady Killer memang debut pertama dari Randy  saat itu yang memerankan peran sebagai Dhanni Revaldi, pemeran utama film tersebut. Sedangkan Brian yang saat itu sudah menjadi penyanyi juga menerima tawaran untuk menjadi pemain pendukung sebagai Renno Handoyo. Sudah menjadi rahasia umum jika keduanya menjadi rival berat setelah film tersebut. Gosip menyebutkan jika keduanya benar-benar terlibat cinta lokasi dengan si pemeran utama wanita hingga keduanya berakhir dengan saling memusuhi satu sama lain.

“Ya, Brian.”

“Apa yang membuatnya merebut posisiku?” Randy masih tidak berhenti menggeram.

“Karena dia sering ke rumah sakit, membawakan kami makan siang, menyapa seluruh pegawai rumah sakit yang di temuinya, dan bersikap ramah dengan kami.”

Secepat kilat Randy menginjak pedal remnya membuat Febby terbentur dashboard mobilnya.

“Hei, apa kamu nggak bisa nyetir dengan benar!” Febby berseru marah.

“Kenapa dia sering ke rumah sakit?”

“Hanya main dan makan siang, apa itu salah?”

“Apa dia ke sana untuk menemuimu?” kali ini Randy bertanya penuh penekanan sembari menatap tajam-tajam ke arah Febby.

“Hei, memangnya itu menjadi urusanmu? Ingat, kita tidak saling mencampuri urusan masing-masing, jadi walau dia sering datang menemuiku, itu bukan urusanmu.”

“Itu urusanku, Febby.”

“Bukan!”

“Haiss!! Kamu benar-benar.”

“Apa? Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?” tantang Febby.

“Jangan membuatku kesal Febby, atau aku akan melakukan itu lagi di sini.” Ancam Randy.

“Melakukan apa?” Febby masih tidak berhenti menantang Randy.

“Menciummu sampai kehabisan napas hingga kamu memohon padaku untuk memasukimu saat ini juga.”

Ancaman Randy tersebut ternyata bena-benar mengena pada Febby. Febby tercengang dengan ancaman vulgar yang di berikan Randy padanya. Seketika itu juga Febby memalingkan wwajahnya menatap ke jendela kaca mobil di sebelahnya untuk menghindari tatapan mengintimidasi dari Randy.

***

Febby dan Randy akhirnya makan malam dalam keheningan. Sejak ancaaman Randy di dalam mobil tadi, Febby sudah tidak berani berkata-kata lagi. Ia hanya takut jika Randy melakukan ancamannya kemudian ia tidak sanggup menolaknya seerti pagi itu.

“Apa hubungan kalian?” pertaanyaan Randy membuat Febby mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata tajam milik Randy yang kini seakan sedang menelanjanginy.

“Maksudmu aku dan Brian? Kami hanya teman.” Jawab Febby sedikit malas.

“Ku pikir kamu terlihat menyukainya.”

“Tentu saja. Maksudku, Brian adalah penyanyi sekaligus aktor papan atas, siapapun pasti menyukainya.”

“Bodoh, bukan suka seperti itu maksudku.”

“Lalu?”

“Kamu cinta sama dia?” pancing Randy.

Febby sedikit tertawa mendengar pertanyaan Randy. “Cinta? Tidak! Cinta itu adalah kata terakhir dalam kamusku.”

Randy mengangkat sebelah alisnya. “kamu nggak pernah mencintai? Atau berpacaran?”

“Kamu pikir aku sebodoh dan sepolos itu? Tentu saja aku penah.” Jawab Febby cepat.

Randy diam sebentar sesekali mengawasi Febby yang sejak tadi tidak berhenti menundukkan kepalanya, seakan wanita itu sedang gugup ketika dirinya membahas tentang kehidupan wanita tersebut.

“Kenapa pagi itu kamu tidk menyuruhku berhenti?” pertanyaan Randy membuat Febby kembali mengangkat wajahnya seakan terkejut dengan apa yang di tanyakan oleh lelaki tersebut.

“Apa kamu pikir orang yang sudah pada tahap second base bisa mengakhirinya begitu saja?” tanya Febby dengan suara yang di buat sesantai mungkin.

Randy mengangkat sebelah alisnya. “Second base? Kamu… mengerti istilah-istilah seperti itu juga?”

“Kamu pikir aku perempuan bodoh?”

Randy tersenyum miring. “Bukan begitu, kupikir seorang dokter seperti kamu adalah orang yang kaku dan membosankan serta tidak tahu tentang istilah-istilah seks seperti itu.”

Febby mendengus kesal dengan sindiran yang di berikan oleh Randy.

“Apa, kamu pernah bercinta sebelumnya?” pertanyaan tersebut tentu membuat Febby membulatkan matanya seketika.

Bercinta? Yang benar saja.

“Ten.. tentu saja, aku adalah wanita dewasa dengan usia yaang sudah matang. Mana mungkin aku masih perwan, aku tidak semembosankan itu tuan.” Febby berkata penuh dengan keangkuhan. Astaga, jangankan bercinta, berciuman saja mungkin bisa di hitung berapa kali.

Dulu, Febby memang pernah berpacaran sebelumnya, tapi pacaran yang sehat. Bukan dengan mudah memberikan apa yang ia punya pada kekasihnya. Febby dari keluarga baik-baik, tentu kekasihnya dulu sangat menghormatinya. Tapi entah kenapa di hadapan Randy, Febby tidak ingin terlihat sebagai wanita kaku dan bodoh yang tidak pernah bercinta. Ada apa denganmu Febb? Harusnya kamu bangga kalau kamu sampai saat ini masih dapat mempertahankan keperawananmu. Rutuk Febby pada dirinya sendiri.

“Benarkah?” tanya Randy dengan senyuman menggoda.

“Apa kamu perlu bukti?” tantang Febby.

“Baiklah, nanti kita akan membuktikannya.” Jawab Randy dengan santai yang seketika itu juga membuat Febby menelan ludahnya dengan susah payah.

Sial!! Apa ia kini sedang terperangkap pada jebakannya sendiri? Pikir Febby.

“Biasanya… gaya apa yang kamu sukai?” tanya Randy dengan tatapan menggodanya.

Febby membulatkan matanya seketika. Pipinya kemudian memerah seketika saat membayangkan posisi-posisi berhubungan intim ketika dulu dirinya membaca buku-buku kedokteran saat masih di perguruan tinggi.

Misionaris? Doggie style? Atau… mungkin kamu lebih suka pegang kendali di atasku nanti?”

Cfebby merasakan suasana di sekitarnya menjadi panas karena ucaan-ucapan menggoda yang di lontarkan Randy yang entah kenapa mau tak mau membuat Febby berfantasi.

“Hei, apa kita sedang berdiskusi tentang seks sekarang? Di meja makan ini? Kamu benar-benar menjijikkan.” Gerutu Febby. “Asal kamu tahu, aku lebih liar daripada yang kamu pikirkan.” Pungkas Febby dengan nada yang di buatnya angkuh.

Ya, ia memang tidak boleh terlihat bodoh dan lemah di hadapan Randy, sebaliknya, Febby ingin dirinya terlihat liar hingga Randy tidak bisa mengejeknya atau mungkin melemparkan tatapan-tatapan mengintimidasi dari lelaki tersebut.

“Benarkah?” Randy maih melemparkan tatapan menggoda dengan tawa mengejeknya pada Febby. Ia terlihat tenang dan santai, padahal sebenarnya sejak tadi ia sedang menahan rasa sakit karena gairahnya yang seakan ingin meledak saat ini juga. Entah sejak kapan celananya sudah mengetat, menandakan jika ia tidak bisa main-main terlalu lama lagi.

“Aku ingin memasukimu malam ini juga.” Perkataan yang di lontarkan Randy benar-benar bukan godaan atau candaan belaka, sungguh, ia menginginkan Febby malam ini juga. Ia sudah tidak dapat menahannya lagi.

***

Pintu rumah itu tertutup dengan kerasnya, mengunci secara otomatis, seakan-akan tahu jika sang pemiliknya tidak akan sempat menguncinya. Entah sejak kapan kedua bibir itu saling melumat habis, saling mencecap kenikmatan, saling menggigit satu sama lain. Lidahpun saling menari merasakan rasa masing-masing. Deru napas yang terengah saling bersahutan menandakan bahwa mereka sudah cukup lama melakukan ciuman panas itu.

Tangan Febby sudah mengacak-acak tatanan rambut Randy, membuat Randy terlihat begitu panas dan seksi di mata Febby. Begitupun tangan Randy sudah mengangkat rok pensil yang di kenakan Febby hari itu sampai ke perut. Keduanya saling bergairah, memagut satu sama lain tanpa sedikitpun rasa canggung.

“Sialan!! aku tidak tahu kalau kamu senikmat ini.” Suara serak Randy keluar saat meremas bagian belakang tubuh Febby. Cumbuannya kini turun ke leher Febby, mengecapnya, menikmati rasanya, memberi tanda basah di sana.

Febby mengerang, mendesah dengan nikmat dan itu membuat Randy semakin mengetat.

“Jangan mengenakan pakaian membosankan seperti ini lagi di hadapanku.” kata Randy dengan membuka paksa blouse yang di kenakan Febby hingga robek.

“Aku akan berubah, Uugghhh…” jawab Febby sambil memejamkan mata dan mendesah saat tangan Randy sudah mendarat di dadanya.

“Aku suka melihatmu memakai lingerie..” Randy  terengah-engah mengucapkannya.

“Aku… Uugghh… aku akan membelinya..” Febby kesusahan menjawab saat Randy mulai mengecupi puncak payudaranya.

“Sialan! Tapi aku lebih suka melihatmu telanjang.” ucap   Randy sambil menyeringai, lalu mulai menggigit, menghisap dan menggoda puncak payudara Febby. Febbypun mendesah dengan kenikmatan yang baru di rasakannya saat ini.

“Oh, astaga, astaga..” Desah Febby saat jemari Randy mulai menggelitik titik sensitifnya. membelainya, mengusapnya dengan lembut. Membuat Febby tak sanggup berdiri sendiri dengan kedua kakinya.

“Oh Sialan!! kamu sudah sangat basah, sayang.” Ucap Randy sambil melumat kembali bibir Febby. “Aku suka sekali rasamu yang manis.” lanjutnya lagi.

Entah sejak kapan keduanya sudah saling menelanjangi satu sama lain, padahal mereka masih di depan pintu di ruang tamunya.

“Kaitkan kakimu di pinggangku, sayang.” Febby  membuka matanya dan mengernyit kearah Randy, menandakan jika dia tak mengerti.

“Kita akan pindah ke kamarku.” Febbypun akhirnya menuruti apa yang di perintahkan Randy.

Masih dengan mengecupi pundak Febby,  Randy akhirnya menggendong Febby menuju ke kamarnya.

Randy mulai membaringkan tubuh Febby, lalu menindihnya, dan mulai menyerang Febby dengan kecupan-kecupan kecil dari kening sampai ujung kaki Febby, membuat Febby merasakan gelenyar aneh yang tak pernah dia rasakan.

“Sial! Kamu benar-benar sangat indah.” Randy berkata saat melihat Febby yang sedang telanjang bulat dengan ekspresi kenikmatan saat berada di bawahnya.

Randy mengecup pusat diri Febby, dan sedikit memainkannya.

“Ohh, astaga… apa, apa yang kamu lakukan? Ohh astaga..” hanya itu yang mampu di katakan Febby saat dirinya mulai menuju puncak kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan.

Randy tersenyum saat melihat ekspresi kenikmatan Febby yang berasal darinya. Membuatnya semakin kesakitan menahan gairahnya,

“Jangan pernah memperlihatkan ekspresi seperti ini di hadapan lelaki lain.” Katanya penuh dengan nada posesif. Lalu diapun mengecupi leher Febby kembali.

“Uugghh.. uugghh..” Desahan demi desahan Febby semakin membuat Randy menggila.

“Apa kamu menggunakan kontrsepsi?” tanya Randy masih dengan mengecupi sepanjang leher jenjang milik Febby. Febby tak bisa menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya pasrah. “Apa kamu, ingin aku menggunakan, pengaman?” taanya Randy lagi dengan suara terpatah-patah.

“Tidak..” Suara Febby terdengaar sedikit kesal dan tertekan oleh kenikmatan yang sedang di rasakan wanita tersebut.

Randy mengangkat wajahnya seketika karena terkejut dengan jawaban Febby. “Tapi… kamu bisa..”

Febby membuka kedua matanya lalu menatap tajam ke arah Randy. “Randy, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah seorang bayi, sekaarang ceepatlah memulainya, atau kamu tidak akan perna memulainya karena aku berubah pikiran.” Ucap Febby dengan nada sedikit kesal.

Randy tersenyum dengan apa yang di katakan Febby, wanita itu terlihat ingin sekali bercinta dengannya dan astaga, itu semakin membuat Randy menegang seakan ingin meledak.

“Baiklah jika itu keinginanmu, bersiaplah, aku akan memulainya, aku akan memasukimu saat ini juga sayang…”

Febby merasakan sesuatu yang keras namun lembut menyentuh pusat diriny. Sebagai dokter Febby  tau jika ini akan terasa sakit mengingat ini adalah pengalaman pertamanya. Astaga, apa Randy akan memperlakukannya dengan kasar? Semoga saja tidak. Batin Febby berbisik. Apa ia haruss mengatakan pad lelaki itu bahwa kini ia masih perawan? Oh yang benar saja, ia tidak akan mengatakannya sebelum Randy mengetahuinya sendiri.

Lalu Febby memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya dan meremas Bed cover yang ada di bawahnya. Astaga.. ini benar-benar menegangkan. Pikirnya lagi.

Randy berusaha sangat keras menyatukan dirinya, namun masih belum bisa. Keringatnya sudah jatuh bercucuran di wajahnya.

“Sialan! Kamu sempit sekali.” katanya kemudian. “Sudah berapa lama kamu tak bercinta?” geramnya.

Ketika Randy masih berusaha menyatuka dirinya, tiba-tiba Randy merasakan sebuah penghalang di antara mereka. Randy menatap tajam ke arah Febby dengan tatapan ngerinya.

“Sial!! Jangan bilang kalau kamu, kamu, masih perawan.” Febby tidak menjawab, dia masih memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.

Randy mendekatkan wajahnya ke arah Febby.

“Buka matamu.” Ucapnya.

Lalu Febbypun membuka matanya. Menatap Randy seperti apa yang di perintahkan lelaki tersebut. Randy melihat ada ketakutan di dalam tatappan Febby.

“Maafkan aku, ini akan terasa sakit, tapi aku tidak bisa berhenti.” Lalu Randy mulai mencium kembali bibir Febby. Tanpa aba-aba lagi, Randy mulai mendorong kembali, mendesak masuk  dengan lebih keras, merobek penghalang dari penyatuan mereka.

Merekapun akhirnya menyatu dengan sempurna di iringi erangan kesakitan Febby yang sedikit terdengar di antara ciuman panas yang di berikan Randy. Bahkan Febbypun tidak sadar  jika dirinya sudah mencakar lengan Randy.

Randy berhenti mencium Febby, kini dia memeluk erat tubuh Febby sambil sesekali mengecup lehernya tanpa bergerak sedikitpun. Membiasakan Febby dengan dirinya yang kini sudah berada di dalam diri Febby.

Randy membuka matanya melihat Febby masih memejamkan mata karena menahan rasa sakit bercampur dengan gairah, terlihat ada air mata yang turun dari mata Febby. Di raihnya jemari tangan Febby, di tautkannya jari jemarinya dengan jemari Febby.

“Maafkan aku.” Ucap Randy sambil mencium jemari Febby yang masih dalam genggamannya. Febby membuka matanya, melihat ketulusan yang di tampakan oleh Randy, diapun tersenyum lembut dengan kelembutan yang di baru saja di berikan oleh lelaki tersebut..

“Apa aku sudah boleh bergerak?” Febby hanya menganggukkan kepalanya ketika Randy bertanya. “Aku ingin kamu menatapku saat aku melakukannya.” Ucap Randy sambil sedikit menggerakkan tubuhnya dengan lembut.

Pertama Febby merasa tidak nyaman, namun lama-lama gelombang kenikmatan itu muncul kembali, menghilangkan rasa sakit yang tadi menjalarinya. Febby mulai menikmati ritme permainan Randy.

“Sialan! Kamu benar-benar sempit, kamu akan membunuhku.  Oh Sial!!” Randy mulai meracau tak jelas karena kewalahan menghadapi gairah yang ia rasakan. “Sialan!!!” Dia hanya bisa mengumpat, mengumpat dan mengumpat karena kenikmatan tersebut. Febby benar-benar begitu sempit menghimpitnya, dan itu membuat Randy seakan tidak bisa menahan dirinya.

Jari jemari mereka masih bertautan satu sama lain. Randy mulai mempercepat ritmenya ketika merasakan Febby mencengkeramnya dengan erat.

“Ohh, Astaga, astaga…” dan puncak kenikmatan itupun kembali menghantam diri Febby.

Melihat Febby yang sudah mencapai kenikmatan, Randypun makin mempercepat lajunya. “Sialan!” Lagi-lagi Randy mengumpat karena tak dapat menahan gairahnya. Diciumnya kembali Bibir Febby dengan panas saat gelombang kenikmatan itu menghampirinya. Dan.. meledaklah dia di dalam tubuh Febby.

Randy ambruk di atas tubuh Febby saat keduanya masih menikmati pelepasan masing-masing. Deru napas mereka saling bersahutan, detak jantung merekapun menggema di antara sepinya ruangan.

“Brengsek!! Ini benar-benar ‘Wow’.” Randy kembali mengumpat sambil menghela napas panjang.

Febby  memalingkan wajahnya kesamping, ia merasa malu dan canggung dengan posisinya saat ini yang masih sangat intim.

“Kenapa?” Tanya Randy sedikit tersenyum karena melihat Febby yang memerah karena gugup.

Febby hanya menggelengkan kepalanya masih tak sanggup menatap wajah Randy. Randypun menarik dirinya dan berbaring di samping Febby.

“Tidurlah.” Perintahnya.

Febby akhirnya bangun, dan bersiap menuju ke kamarnya.

“Kamu mau kemana?” Tanya Randy sambil meraih pergelangan tangan Febby.

“Aku akan kembali ke kamar.” Jawab Febby yang masih memalingkan wajahnya tidak berani menatap Randy secara langsung.

“Tidurlah disini.” Lalu Randy menarik Febby ke dalam pelukannya. “Bersamaku.” Lanjutnya lagi.

Febbypun menurut walau ia tidak mengerti kenapa sekarang Randy selembut ini terhadapnya. Dan merekapun tidur bersama dengan berpelukan sepanjang malam .

-TBC-

Kyaaaa gimana Hot Partnya??? aku usahakan Fast update yaa…

Advertisements

Sweet in Passion – Chapte 5

Comments 6 Standard

asipSweet in passion

Randy menghela napas dengan kesal. “Baiklah, kalau itu maumu.” Ucap Randy yang kini sudah membuka piyama yang ia kenakan beserta celananya hingga meninggalkannya hanya dengan boxernya saja.

Astaga. Febby terperanjat dengan apa yang di lakukan Randy. Matanya membulat seketika ketika menatap bukti gairah Randy yang menegang di balik boxer yang di kenakan lelaki di hadapannya tersebut. Randy sedang bergairah, Febby tahu itu. Tapi untuk apa lelaki itu melepaskan pakaiannya sekarang ini? Jangan bilang kalau….

“A, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Febby yang kini sudah meringsut ke ujung ranjang dengan tatapan ngerinya.

Tiba-tiba Randy sudah melompat tengkurap tepat di sebelahnya. Dengan seringaian nakalnya, Randy berkata.

“Aku akan tidur.”

Chapter 5

 

Febby mulai panik engan apa yang di lakukan Randy. Di dorong-dorongnya tubuh Randy supaya menjauh dari tempat tidur yang kini mereka baringi.

“Hei, pergi sana, kenapa kamu tidur di sini?” Febby masih saja mendorong-dorong tubuh Randy.

“Aku merindukanmu ayang, aku merindukaanmu.” Goda Randy encoba membuat Febby takut dengan apa yaang ia lakukan. Randy berusaha memeluk Febby sedangkan Febby sendiri masih berusaha meronta dengan tatapan ngerinya.

“Pergi, pergi, apa yaang kamu lakukan?” kali ini Febby memukul-mukul Randy dengan bantal yang ada di dekatnya.

“Hei, Febby. Aku hanya bercanda. Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu.” Gerutu Randy sembari mengusap lengannya sendiri yang sedikit sakit karena pukulan-pukulan yang di berikan oleh Febby.

Febby menghentikan aksiya. Napasnya sedikit terengah karena bergulat dengan tubuh Randy yang tentunya lebih besar dari pada tubuhnya.

“Baiklah, kita akan berbagi kamar, tapi aku tidak mau berbagi ranjang.” Ucap Febby kemudian.

“Apa maksudmu?”

Febby menunjuk sebuah ofa yaang lumayan panang  dan seketika itu juga Randy tahu apa yang di maksud oleh Febby. Tidur di sofa? Yang benar saja.

“Maksudmu aku harus tidur di sana? Yang benar saja. Aku tidak mau. Ini kan ranjangku.” Randy berkata dengan penuh keangkuhan.

“Lalu, apa kamu akan memaksa seorang perempuan tidur di atas sofa sedangkan kamu yang laki-laki tidur nyaman di atas ranjang? Huh, dasar, tidak jantan.” Gerutu Febby yang seketika itu juga membuat Randy membulatkan matanya seketika.

“Apa? Apa katamu? Tidak jantan? Apaa kamu ingin meihat bagaimana jantannya diriku?” tanya Randy dengan setengah marah.”

Febby bergidik ngeri ketika tahu apa yang di maksud dengan Randy.

“Dalam mimpimu tuan, lebih baik pergi sana, aku benar-benar tidak ingin satu ranjang denganmu.”

Randy menghela napas dengan kasar. Mau tidak mau ia harus mengalah. Lagi pula, ia tidak akan mungkin tidur berdua di atas ranjang dengan Febby malam ini. Oh yang benar saja. Kejantanannya seak tadi tidak berhenti berdenyut nyeri, mungkin jika Febby menggodanya, ia akan meledak saat itu juga. Lebih baik ia mengalah sebelum tubuhnya lepas kontrol.

“Baiklah. Nikmati tidur indahmu tuan puteri.” Ucap Randy setengah kesal dengan menarik sebuah bantal untuk di bawanya ke sofa yang tadi di tunjuk oleh Febby.

Febby sendiri hanya mampu tesenyum penuh dengan kemenangan. Ia sedikit tidk menyangka jika Randy aan mengalah dengannya.

Febby akhirnya memposisikan dirinya untuk tidur senyaman mungkin. Ia bahkan tidak mempedulikan Randy yang meringkuk dengan gelisah di atas sofa.

Berkali-kali Randy mengucapkan sumpah serapahnya karena kesakitan menahan gairahnya. Belum lagi sofa yang di tempatinya sama sekali tidak membantu karena panjangnya tidak lebih dari selutut Randy, hingga membuat Randy tidur meringkuk melipat lutunya. Randy yakin jika besok pagi ia akan bangun dalam keadaan pegal-pegal. Ahh sial!!!.

***

Paginya…

Febby merasakan sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya. Ia merasa nyaman karena merasakn sesuatu yang hangat menempel tepat di elakang puggungnya, sesuatu yaang mirip dengan dada bidang seseorang. Rasanya nyaman, nyaman, dan hangat. Dengan spontan Febby menggeliat, seakan mencari-cari kehangatan dari sesuatu yang menempel tepat di belakangnya tersebut.

“Uugghh, jangan menggeliat terus, sayang. Kamu akan membangunkan sesuatu.” Febby mendengar suaraa parau nan seksi tepat di belakangnya, kemudian ia juga merasakan sesuatu yang basah menempel pada kulit lehernya, membuatnya sedikit merinding karena sentuhan tersebut.

Seketika utu juga, mataa Febby terbuka lebar-lebar. Ia sadar sepenuhnya jika kini ada seseorang yang sedang memeluknya dari belakang.

Febby akhirnya menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Randy yang masih tidur dengan memeluk pinggangnya.

“HEIII… APA YANG KAMU LAKUKAN??!!” Teriak Febby yang seketika itu juga membuat Randy terbangun dan menutup kedua telingannya.

“Apa kamu bisa berhenti berteriak? Ini masih pagi tahu!”  seru Randy sesekali mengusap teliganya yang tidak berhenti berdengung karena teriakan Febby.

“Kenapa kamu bisa tidur di sini, Huh?”

“Kenapa baagaimana? Kamu pikir aku bisa tidur di sofa kecil itu semalaman? Yang benar saja.”

“Jadi kamu pindah kesini sejak tadi malam?”

“Tentu saja.” Jawab Randy dengan cuek.

“HEII, DASAR!!!” Febby kembali berteriak tapi kemudian dengan spontan Randy membungkam mulut Febby lalu menerjang tubuh wanita tersebut hingga kini Febby berada tepat di bawah tindihan Randy. Febby ingin berteriak tapi tak bisa karena telapak tangan Randy membungkamnya.

“Aku akan melepaskan tanganku kalau kamu berhenti berteriak.” Ucap Randy. Febby akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dan Randypun akhirnya melepaskan bungkaman tangannya.

“Kamu benar-benar gila! Apa yang kamu lakukan di atasku?” Febby mendesis tajam karen menahan amarahnya.

Randy hanya mengangkat sebelah alisnya dengan melemparkan tatapan penuh arti pada Febby. Tak lupa Randy juga menampilkan senyuman mengejeknya pada wanita tersebut.

Tiba-tiba Febby sadar jika dirinya merasakan sesuatu yang mengganjal dan berdenyut di bawah sana.

“Apa itu? Hei…. kamu benar-benar menijikkan!” seru Febby.

“Setiap pagi memang seperti itu.” Jawab Randy dengan tersenyum menyeringai.

“Heii, pergi dari sini, apa yang kamu lakukan di atasku, pergi…” gertak Febby dengan sesekali memukul-mukul dan mendorong dada bidang Randy. Secepat kilat tangan Randy menyambar pergelangan tangan Febby kemudian memenjarakannya di atas kepala Febby.

“A, apa yang akan kaamu lakukan?” Febby benar-benar gugup dengan kedekatannya bersama Randy.

“Apa kamu takut?” pertanyaan Randy di sertai dengan seringaian nakalnya.

“Tentu saja tidak!!” Seru Febby.

“Baiklah.”

“Baiklah ap…” Febby tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena Randy tiba-tiba saja sudah menyerang bibirnya. Pertama, yang Febb lakukan hanyalah menolak, menolak dan menolak, tapi kemudian ketika di rasakannya ciuman Randy semakin lembut dan menuntut, akhirnya Febby luluh juga. Ia mulai tergoda, kemudian sedikit demi sedikit membuka bibirnya serta membalas ciuman Randy.

Febby membuka sedikit bibirnya, membiarkan lidah Randy menelusuk masuk ke dalam kemudin bertautan dengan lidahnya. Oh, keduanya ssesekali mengerag satu sama lain karena terpancing oleh gaairaah yang tiba-tiba saja terbangun.

Posisi keduanya sangat intim, dengan randy yang berada tepat di atas tubuh Febby dan mencengkeram kedua pergelangan tangan Febby.

Randy kemudian melepaskan cengkeraman tangannya ketika ia merasakan Febby membalas ciumannya. Dengan spontan Febby mengalungkan lengannya pada leher Randy, jemarinya sesekali meremas-remas rambut coklat gelap milik suaminya tersebut. Sedangkan jemari Randy sendiri entah sejak kapan sudaah menelusup maasuk ke dalam lingerie yang di kenakan Febby.

Jemari Randy masih terus menjelajahi kulit halus milik istrinya tersebut, kemudian ia berhenti pada kedua gundukan yang terasa kenyal tepat pada dada Febby.

“Kamu sangat seksi.” Bisik Randy dengan suara paraunya. “Aku ingin, aku ingin memasukimu saat ini juga.” Perkataan erotiss Randy membuat bulu-bulu halus d tengkuk Febby meremang.

“Lakukanlah…” Desah Febby yang sudah tidak tahan dengan dengan rasa aneh yang ini ia rasakan.

Randy terkejut. Ia pikir Febby akan menolaknya mentah-mentah, tapi di luar dugaan, Febby malah mengijinkan dirinyaa untuk menyentuh wanita tersebut.

“Apa kamu yakin?” tanya Randy yang masih sedikit tidak  percaya.

“Tentu saja!! Cepat lakukanlah  sebelum aku berubah pikiran.” Mata Febby sesekali terpejm menhan kenikmatan yang seakan menjalar di sekuur tubuhnya.

Secepat kilat Randy meembuka lingerie yang di kenakan Febby. Dan tampaaklah Febby yang hanya mengenakaan pakaian dalamnya saja.

“Sangat indah.” Randy susah payah mengucapkan dua kata tersebut dengan sesekali menelan luahnya.

Randy akhirnya mulai menjalankan aksinya. Mula-mula ia mengecupi wajah Febby dengan kecupan-kecupan kecil menggoda, dari kening, mata, hidung, pipi, dan ketika sampai di bibir wanita terssebut, Randy menggodanya.

“Sialan!! Kamu sangat manis.” Bisik Randy parau di tengah-tengah cumbuannya pada bibir Febby. Randy kembali menjalankan aksinya. Cumbuannya turun ke area leher Febby, memberikan gigitan-gigitan kecil di sana, sesekali membuat tanda kepemilikan di sana.

Sebelum Randy turun kebawah lagi, Randy kembali mencumbu bibir Febby kemudian bertaanya sekali lagi dengan wanita tersebut.

“Apa kamu benar-benar yakin? Jik aku sudah turun, aku tidak bisa menghentikannya.”

“He’um.” Hanya itu jawaban dari Febby.

Randy kembali melumat bibir ranum Febby sebelum bersiap melanjutkan aaksinya untuk mencumbui sekujur tubuh istrinya tersebut. Tapi ketika ia akan bergerak turun, pintu kamar merekaa tiba-tiba terbuka dari luar.

“Om, tante.” Suara anak kecil itu memaksa keduanya menghentikan aksinya lalu menolehkan kepalanya masing-masing ke arah sura tersebut. Dan tampaklah Rocky, keponakannya yang nakal itu sedang berdiri ternganga di ambang pintu.

“Hei, apa yang kamu lakukan di sini jagoan? Kamu akan meng…nggang….nggu…” Andrew, sang aayah Rocky yang menyusul Rocky di belakang bocah tersebutpun ikut tercengang melihat Randy dan Febby yang saat ini masih pada posisi intim mereka. “Apa yang sedang kalian lakukan?” dengan spontan Andrew bertanya.

Randy yang masih mengenakan celana piyamanya akhirnya berdiri, sedangkan Febby, dengan wajah yang sudah meraah padam karen malu, ia menarik selimutnya untuk menutupi sekujur tubuhnya yang sudah setengah telanjang.

“Apa yang kalian lakukan? Harusnyaa aku yang bertanya, apa yang kalian lakukan di sini? Mengganggu saja.” Gerutu Randy yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Andrew dan puteranya.

Andrew tertawa lebar. “Hahahaha, setidaknya pastikaan pintumu terkunci. Ingat, di rumah ini masih ada anak kecil.”

“Kalian saja yang terlalu usil.” Randy msih saja menggerutu kesal.

Randy baru ingat, tadi maalam ketika ia susah tidur karena gelisah, dirinya beranjaak ke dapur untuk mengambil air minum. Namun ketika kembali masuk ke dalam kamarnya, Randy lupa untuk mengunci pintunya, ia hanya berjalan dengan santai menuju ke arah ranjang dan tidur tepat di sebelah Febby. Ahh sialan, ini semua karena keteledorannya sendiri.

“Hei, apa lagi yang kalian tunggu, cepat pergi dari sini.” Perintah Randy.

“Lo bener-bener ngusir kami?” goda Andrew.

“Haish, benar-benar. Cepat pergi atau ku tendang pantatmu dari sini.”

“Ayah, apa yang di lakukan Om Randy dan tante tadi?” dengan polosnya Rocky bertanya pada sang ayah, daan itu membuat Randy sekaligus Andrew saling pandang sebentaar kemudian terkikik geli bersama.

“Rocky, Om akan memberikan kamu seorang adik kecil.” Andrew berkata tanpa menghilangkan tawa di wajahnya.

“Hei, hei, hei, apa yang Lo bilang sama dia? Cepat bawa iblis cilik ini pergi dari kamarku.” Ucap Randy sembari mengangkat tubuh mungil Rocky lalu menurunkannya sedikit lebih jauh dari pintu kamarnya.

“Hahahha Lo sudah sangat tegang?” goda Andrew.

“Gue nggak peduli, Lo sialan!” umpat Randy yang di sertai dengan menutup pintu kamarnya kemudian menguncinya.

Ketika Febby mendengar pintu kamarnya tertutup, seketika ia bangung kemudian meraih kimono tidu yang tadi malam ia kenakan. Febby bangkit lalu mengenakan kimono tersebut tanpa mmperhatikaan Randy yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan anehnya.

“Hei, kamu mau kemana?” tanya Randy ketika melihat Febby yang berjalan melewatinya.

“Mandi.” Jawab Febby dengan cuek.

“Mandi? Jadi kita tidak melanjutkan yang tadi?”

“Apa kamu gila? Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu aku ikut mandi denganmu.”

“Tidak!” seru Febby. “Kamu benar-benar menjijikkan.” Dengan cepat Febby menutup pintu kamar mandi tepat di hadapan Randy.

“Menjijikka? HEIII…. PEREMPUAN SIALAN…CEPAT BUKA PINTUNYA..” Randy berteriak nyaring karena frustasi dengan tingkah Febby, belum lagi pangkal pahanya yang tidak berhenti bedenyut nyeri karena ingin di puaaskan.

Febby membuka pintu kamar mandi sedikit kemudian berkata dengan datar. “Apa kamu bissa berhenti berteriak? Ini masih pagi, tahu.” Febby mengulang kata-kata tadi yang di ucapkan Randy padanya lalu menutup kembaali pintu kamar mandi. dan meninggalkan Randy yang hanya ternganga dengan apa yang di lakukan istrinya tersebut.

“Apa dia bilang? Haisshh, benar-benar membuatku gila.” Gerutu Randy pada dirinya sendiri sembari mengacak-acak rambutnya.

***

Sudah hampir seminggu kejadian pagi itu berlalu. Febby tidak berhenti memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya paagi itu. Bagaimana mungkin ia hampir saja tergoda dengan seorang Randy? Pria dengan kemesuman tingkat tinggi. Febby tidak mengerti, tapi dia cukup sadar jika ada sesuatu di dalam diri Randy yang membuat lelaki itu mampu mempengaruhinyaa, membuatnya panas, hingga saat mengingatnya saja pipi Febby tidak bisa berhenti bersemu merah. Oh yang benar saja.

Kini, Febby semakin takut ketika harus berdua ssaja dengan Randy. Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit lebih pagi dari sebelumnya dan pulang lebih malam dari sebelumnya. Ia hanyaa ingin menghinari Randy, berkomunikasi sedikit mungkin dengan lelaki itu, karena Febby sadar, jika berada di dekat Randy kini membuat tubuhnya seakan terpancing oleh sesuatu yang ia sendiri tidak tahu itu apa.

Untung saja Randy juga sedang sibuk dengan pekerjaannyaa, jadi itu memudahkan Febby untuk menghindari lelaki terssebut.

Bunyi telepon di dalam ruangannya membuat Febby tersadar dari lamunannya. “Halo.” Sapa Febby.

“Ada seseorng yang ingin bertemu dengn anda, dokter.”

“Pasien kah?”

“Bukan Dok, Uum, itu..”

“Suruh saja masuk ke dalam ruanga saya.” Jawab Febby sedikit enggan lalu menutup teleponnya. Ah, siapa lagi yang akan menemuinya?

Setelah telepon di tutup, Febby kembali dalam pikirannya. Bagaimana jika yang datang itu Randy? Randy? Ah, mana mungkin. Lelaki itu tentu sangat sibuk. Lagi pula jika ia ke rumah sakit ini tentu akan timbul kehebohan karena hampir seluruh staf wanita di rumah sakit ini mengidolakan suaminya tersebut. Tapi bagaaimana jika itu benaar-benar Randy? Bagaimana cara dirinya untuk menghadapi suaminya tersebut?

Dan pada saat pikirannya panuh dengan berbagai macam pertanyaan, pintu ruangannya di ketuk.

Febby menghela napas panjang sembari berkata “Masuk.” Namun ketika pintu tersebut di buka, Febby kembali menegang ketika mendapati orang di balik pintu tersebut adalah orang yang baru saja melintasi pikirannya.

“Kamu?” Febby berkata dengan spontan tanpa menghilangkan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Iya, ini aku. Kenapa? Kamu kaget kalau aku datang kemari?” tanya Randy dengan sedikit cuek.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku hanya ingin mengajak istriku makan malam. Aku merindukannyaa.” Randy berkata sambil melemparkan tatapan mengejeknya dengan sedikit menggoda Febby.

“Apa? Istri? Dan apa katamu? Merindukan? Jangaan sembarangan bicara, Randy.” Febby berusaha mengelak dengan memberi jawaban setegas mungkin, tapi nyatanya wajahnya tidak bisa berbohong kalau kini dirinya sedang malu-malu dengan rona merah di pipinya.

“Sembarangan bicara bagaimana? Kamu memang istriu, dan aku merindukanmu setelaah kemesraan panas kitaa pagi itu..” dan Febby semakin gugup di buatnya ketika Randy menyebut kaata ‘pagi itu.’

“Hei, jangan bahas itu lagi! Kamu benar-benar menyebalkan.”

“Terserah apa kataamu, yang penting sekarang ayo temani aku makan malam, cepat.” Perintah Randy sembari menarik lengan Febby.

“Aku tidak bisa, bagaimana nanti kalau aku ada pasien?”

“Jam kerjamu sudah selesai dua jam yang lalu. Jadi kamu jangan membohongiku lagi.”

“Aku tidak penah membohongimu.”

“Benarkah? Kamu pikir aku tidak tahu kalau beberapa hari terakhir kamu sengaja menjauhiku? Kenapa Febby? Apa karena kamu gugup berdekatan denganku? Karena pagi itu kita hampir bercinta?”

“Tidak!! Jaangaan baahas tentang pagi itu.”

“Aku tidak peduli. Pokoknya kamu harus ikut aku makan malam. Ada yang ingin ku rundingkan denganmu.” Pungkas Randy tanpa bisa di ganggu gugat.

***

“Uugghh.. uugghh..” Desahan demi desahan Febby semakin membuat Randy menggila.

“Apa kamu menggunakan kontrsepsi?” tanya Randy masih dengan mengecupi sepanjang leher jenjang milik Febby. Febby tak bisa menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya pasrah. “Apa kamu, ingin aku menggunakan, pengaman?” taanya Randy lagi dengan suara terpatah-patah.

“Tidak..” Suara Febby terdengaar sedikit kesal dan tertekan oleh kenikmatan yang sedang di rasakan wanita tersebut.

Randy mengangkat wajahnya seketika karena terkejut dengan jawaban Febby. “Tapi… kamu bisa..”

Febby membuka kedua matanya lalu menatap tajam ke arah Randy. “Randy, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah seorang bayi, sekaarang ceepatlah memulainya, atau kamu tidak akan perna memulainya karena aku berubah pikiran.” Ucap Febby dengan nada sedikit kesal.

Randy tersenyum dengan apa yang di katakan Febby, wanita itu terlihat ingin sekali bercinta dengannya dan astaga, itu semakin membuat Randy menegang seakan ingin meledak.

“Baiklah jika itu keinginanmu, bersiaplah, aku akan memulainya, aku akan memasukimu saat ini juga sayang…”

TBC-

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 12 (End) (Kebahagiaan Baru)

Comments 9 Standard
the lady killer 2

the lady killer 2

 

Chapter 12 (End)

-Kebahagiaan Baru-

 

Nessa merasakan jemari Dhanni menggenggam telapak tangannya. Lelaki itu mengemudikan mobilnya hanya dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelahnya lagi sibuk menggenggam tangan Nessa. Nessa sendiri bukannya risih, tapi malah senang karena suaminya itu begitu perhatian kepadanya. Brandon sendiri kini sudah tertidur pulas di atas pangkuannya, sesekali Nessa mengecup kening putera pertamanya tersebut penuh dengan kasih sayang.

“Kamu capek?” Tanya Dhanni yang pandangannya masih lurus ke depan.

“Enggak, aku baik-baik saja kak.”

“Kita mampir cari minum dulu, ya?”

Nessa hanya menganggukkan kepalanya. Akhirnya Dhanni mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah kafe.

Sesampainya, dengan cepat Dhanni keluar dari dalam mobilnya, kemudian menuju ke arah Nessa lalu mengambil alih Brandon hingg kini dalam gendongannya.

Mereka berdua masuk ke dalam sebuah Kafe tersebut, tapi ketika sampai di dalamnya, keduanya melihat sepasang kekasih yang tengah asik berbicara di sudut ruangan kafe tersebut.

Itu Renno dan Allea.

Nessa dan Dhanni memang sudah mengenal Allea sejak beberapa bulan yang lalu. Ahh, ternyata wanita itu yang mampu membuat Renno bertekuk lutut di hadapannya. Nessa sendiri sangat mengenal Allea dengan baik, karena keduanya beberapa kali bertemu bersama. Bahkan saat itu, ketika Allea memiliki masalah dengaan Renno, wanita itu memilih kabur ke apartemennya.

“Kalian di sini?” Tanya Dhanni yang kini sudah berdiri tepat di sebelah Renno.

“Hai, kalian juga di sini?” Renno tampak sedikit terkejut dengan kedatangan keduanya.

“Tadi kami dari bandara.” Jelas Dhanni.

“Ayo, duduk di sini saja.” ajak Allea, akhirnya Dhanni dan Nessa  sepakat untuk duduk di sana dan mengobrol bersama.

Renno dan Allea ternyata sedang sibuk menyebarkan undangan pernikahan mereka yang akan mereka laksanakan minggu depan. Nessa menyambut baik pernikahan Renno dan Allea, Nessa pikir, Allea memang orang yang sangat pantas mendapatkan Renno mengingat Renno sudah pernah setengah gila ketika Allea meninggalkannya saat itu.

“Bagaimana persiapan pernikahanya?” tanya Nessa.

“Hampir selesai.” Allea menjawab dengan lembut. “Kalian benar-benar akan datang, bukan?”

“Ya, tentu saat aku akan datang.” Janji Nessa.

“Aku senang punya teman baik seperti kamu.”

“Kamu juga sangat baik.” Nessa kembali memuji Allea dengan senyuman lembutnya. Ahh, ternyata Tuhan benar-benar mengbulkan do’anya saat itu. Do’a ketika Renno meninggalkannya karena dirinya lebih memilih hidup bersama dengan Dhanni. Do’a supaya lelaki itu mendapatkan wanita yang seribu kali lebih baik dari pada dirinya. Tuhan benar-benar sudah mengabulkannya.

Mereka berempat akhirnya saling mengobrol bersama sesekali  melempar candaan bahagia satu dengan yang lainnya.

***

Malam itu, Dhanni terbangun dalam tidurnya. Ia mendengar seseorang yang sedang menangis terisak. Dhanni mengerutkan keningnya ketika melirik kearah Nessa yng sudah meringkuk memunggunginya dengan punggung yang bergetar. Kenaa dengan istrinya itu?

“Sayang? Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Dhanni dengan menepuk pundak Nessa.

Ternyata Nessa menangis. Secepat kilat Dhanni membalik tubuh Nessa untuk menghadapnya. Ada apa dengan istrinya tersebut? Kenapa tiba-tiba istrinya itu menangis.

“Nessa, kamu kenapa? Ada yang sakit?” Tanya Dhanni dengan khawatir.

Nessa menggelengkan kepalanya. Secepat kilat wanita itu memeluknya ert-erat.

“Aku mimpi buruk.” Jawab Nessa masih sedikit terisak.

“Mimpi apa?”

“Kak Dhanni pergi meninggalkanku. Dan aku sendiri.”

Dhanni tersenyum mendengar penjelasan polos dari strinya tersebut. “Aku tidak akan meninggalkanmu, sayang.”

“Mimpi itu sangat nyata. Aku hanya takut.”

“Hei, Dengar. Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah. Entah sudah berapa ribu kali aku berkata kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

“Aku tahu, tapi banyak wanita di luar sana yang begitu tergila-gila dengan kak Dhanni, aku hanya takut kak Dhanni tergoda.”

“Tidak!!!” Jawab Dhanni cepat. “Kalau aku tergoda, aku akan tergoda sejak dulu. Tapi lihat, aku tidak pernah tergoda sedikitpun. Malah aku yang khawatir kalau kamu yang akan tergoda dengan lelaki yang lebih muda dariku.”

Nessa akhirnya dapat tersenyum dengan pekataaan Dhanni. “aku nggak akan tergoda.”

“Ya, aku percaya. Dan aku mohon. Kamu harus percaya dengan apa yang aku katakan. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Maafkan aku, aku terlalu takut. Mungkin bawaan hamil juga makanya aku jadi cengeng.”

Dhanni mengusap lembut rambut Nessa. “Ya, aku mengerti sayang. Sekarang tidurlah.”

Nessa menggeleng cepat. “Aku nggak mau tidur.”

“Lalu?”

“Aku ngga bisa tidur. Apa kak Dhanni mau bercerita utukku?”

Dhanni terkikik geli. “Kamu mau aku membacakan cerita untukmu seperti yang kulakukaan saat menidurkan Brandon?”

Nessa mengangguk antusias.

“Oke, kamu mau aku bercerita apa?”

“Apa saja asal menarik.” Nessa berkata sambil memposisikan dirinya meringku ke dalam pelukan Dhanni.

“Aku akan bercerita ketika aku bertemu denganmu pertama kali di Jogja.”

Nessa mendongak, menataap ke arah Dhanni dengan mata berbinarnya. “Benarkah?”

Dhanni menganggukkan kepalanya kemudian mulai bercerita.

-Dhanni-

Aku menunggunya sepeti orang gila. Astaga, aku bahkan baru sadar jika aku menyusulnya ke Jogja. Menyusul Wanita yang bahkan belum pernah ku temui. Bagaimana jika nanti dia tidak seindah seperti yang di dalam foto? Jika seperti itu, maka aku akan membatalkan perjodohan sialan itu saat ini juga.

Nessa Ariana, wanita yang beberapa tahun terakhir membuat duniaku jungkir balik. Aku melihatnya pertama kali ketika usianya dua belas tahun. Dan aku melihatnya hanya dari foto yang di berikan Mami padaku. Oh, Sialnya aku tertarik dengan gadis mungil itu. Kenyataan jika dia di jodohkan denganku membuat semuanya semakin sulit. Ada sebuah rasa yang aku sendiri tak tahu itu apa yang membuatku sangat dan sangat ingin memilikinya. Ya, Nessa hanya milikku.

Kini, setelah beberapa tahun berlalu, rasa rinduku pada sosok Nessa membuatku menjadi semakin gila. Dan lihat, saat ini aku bahkan dengan bodohnya menyusul gadis itu ke Jogja. Berdoa saja jika gadis itu tidak seperti yang kubayangkan, supaya aku bisa cepat melupakannya.

Tapi ketika pintu gerbang besar itu di buka. Jantungku berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Itu Nessa, yang baru keluar dari dalam rumah Neneknya. Dan sial!!! Tuhan tidak mengabulkan doa seorang yang brengsek sepertiku.

Dia tampak menakjubkan, bahkan lebih menakjubkan dari pada di dalam foto.

Aku hanya dapat mengamatinya dari dalam mobil. Kulihat dia dari jauh, tampak sempurna.

Sial!!! Aku semakin menginginkannya.

Nessa berdiri seperti menunggu seseorang. Lalu berhentilah seorang dengan motor sialanya tepat di hadapan Nessa. Apa itu pacarnya? Atau hanya sekedar tukang ojek?

Darahku seakan mendidih ketika mendapati Nessa naik ke atas motor tersebut. Jika itu adalah tukang ojek, maka aku akan memaafkannya, tapi jika itu kekasihnya? Maka jangan salahkan aku jika aku akan menyeretnya ke Jakarta dan menikahinyaa saat ini juga.

Hei, apa yang kau bicarakan Dhan? Menikah? Sejak kapan kau berpikir tentang menikah?

Sial!!!

Akhirnya aku kembali fokus mengemudikan mobilku dan mengikuti Nessa kemanapun dia dia pergi dengan pengemudi motor sialan tersebut. Dia ternyata berangkat ke kampusnya. Dan aku baru  mampu menghela napas lega ketika mendapati jika ternyata pengemudi motor tersebut hanya seorang tukang ojek. Sial!!! Apa aku baru saja cemburu dengan tukang ojek? Oh yang benar saja.

Nessa turun, lalu tatapan matanya terarah ke padaku. Kami saling pandang cukup lama, mungkin dia merasa aneh dengan keberadaanku. Atau mungkin dia tidak merasakan apapun karena aku yakin dia pasti belum mengetahui keberadaanku yang di jodohkan dengannya.

Tak lama, beberapa teman Nessa datang, aku melihat Nessa sedikit berbicara ke arah mereka, lalu mereka ikut menatap ke arahku. Sial!! Apa mereka sedang membicarakanku? Untuk pertama kalinya aku merasa salah tingkah di hadapan wanita.

Mereka semua sedikit terkikik geli. Mungkin karena melihat tingkah bodohku? Atau mungkin hanya aku yang terlalu percayaa diri jika mereka sedang memperhatikanku. Sial!! Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan akhirnya peperangan batin ini berakhir ketika mereka masuk ke dalam gerbang kampus mereka.

Bukannya pergi. Aku malah memutuskan menunggu Nessa di sana seperti orang tolol. Ya, aku memang benar-benar sudah tolol. Jika Renno dan Ramma melihatku seperti ini, mungkin mereka akan menertawakanku, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

***  

Lama aku menunggu Nessa hingga kemudian ku lihat dia dengan beberapa temannya yang tadi keluar dari dalam kampusnya. Mata Nessa kembali terarah ke arah mobilku. Apa dia merasa aneh saat aku masih ada di sana? Tentu saja bodoh!! Rutukku pada diriku sendiri.

Nessa dan teman-temannya memutuskan pergi. Dan lagi-lagi aku kembali menjadi pengecut tolol yang lebih memilih mengikutinya diam-diam di belakang mereka dari pada langsung menyapanya. Menyapa? Oh yang benar saja.

Mereka menuju ke sebuah mall terdekat. Yah, para gadis, mall dan belanja. Sepertinya bukan hal yang aneh. Nessa ternyata sama dengan gadis-gadis pada umumnya, tapi itu tidak mengurangi sedikitpun rasa penasaranku padanya.

Aku masih saja mengikutinya seperti orang bodoh, bahkan ketika dia berakhir di sebuah kafe dan mengobrol cukup lama dengan teman-temannya.

Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan. Yang ku lihat saat itu adalah, gadis yang sangat ceria, tawanya begitu terdengar hangat di telingaku, senyumnya mampu menyejukkan mataku, dan ekspresinya yang berbinar bahagia mampu meluluhlantakkan hatiku.

Oh yang benar saja? Apa yang terjadi denganku? Aku memegangi dadaku yang terasa nyeri karena  jantungku yang degupannya semakin kencang seakan mampu terdengar di seluruh penjuru ruangan. Nessa benar-benar membuatku gila. Dan dia adalah orang pertama yang ku yakni mampu menarikku ke dalam  Zona Bahaya. Ya, aku sadar jika aku sudah jatuh ke dalam Zona sialan itu, meski sekuat tenaga aku mencoba memungkirinya.

***

Nessa terkikik geli ketika Dhanni menyelesaikan ceritanya. Ia tidak menyangka jika suaminya itu akan melakukan hal yang menggelikan sseperti membuntutinya kemanapun ia pergi saat itu.

“Kenapa kamu tertawa?” tanya Dhanni dengan tajam.

“Kak Dhanni benar-benar melakukan itu? Mengikutiku sampai di kafe saat itu?”

Dhanni menghela napas panjang. Tangannyaa terulur mengusap lembut rambut Nessa. “Bukan hanya sampai di kafe. Aku bahkan menunggumu sampai kamu pulang. Dan kalau boleh jujur, aku ketiduran di dalam mobil tepat di depan rumahmu, hingga pagi.”

“Apa?”

“Ya, aku melakukannya. Gila kan?”

Nessa memeluk erat tubuh Dhanni. “Itu tidak gila.”

“Ya, sangat gila. Kalau kamu tahu mungkin kamu akan lari ketautan saat melihat betapa gilanya aku saat itu.”

Nessa kembali tekikik. Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Dhanni. “Jadi suamiku ini sudah gila karena jatuh cinta padaku?”

“Ya, lebih tepatnya sangat gila. Jadi istriku, tolong. Jangan ragukan aku lagi. Seberapa banyak wanita yang menginginkanku, sedikitpun tidak akan mampu membuatku berpaling dan menginginkan mereka, karena yang ku inginkan sudah berada tepat di hadapanku. Hanya kamu sayang.”

Nessa merasakan hatinya menghangat ketika mendapat lagi dan lagi pernyataan cinta dari suaminya.

“Ya, aku mengerti.”

“Jangan takut, dan jangan ragu, oke?”

“Iya, sayang.” Jawab Nessa dengan mencubit gemas kedua pipi Dhanni.

“Baiklah, karena kamu sudah baikan, apa boleh aku….” Dhanni menggantung kalimatnya.

“Apa?”

Tapi sepertinya Nessa tak membutuhkan jawabannya ketika Dhanni mulai membalik tubuhnya kemudian mendaratkan sebuah cumbuan penuh hasrat di bibirnya. Dhanni mencumbunya cukup lama sesekali jemari lelaki itu menelusup ke dalam daster yang ia kenakan.

“Aku tidak akan mengganggunya, bukan?” bisik Dhanni serak sembari mengusap lembut perut Nessa yang sudah semakin membesar.

Nessa menggelengkan kepalanya. “Kurasa tidak.” Jawab Nessa dengan malu-malu.

“Baiklah, kalau begitu aku akan melakukannya selembut mungkin.” Dhanni kembali mendaratkan cumbuannya pada bibir Nessa. Sedangkan jari semarinya mulai melaksanakan tugasnya untuk melucuti satu persatu kain yang melekat pada tubuhnya dan juga tubuh istrinya tersebut.

Dhanni kembali memperdalam ciumannya, bahkan kini cumbuannya bergerak turun mencicipi setiap inci dari tubuh istrinya tersebut. Ohh, Nessa masih terasa sama. Meski istrinya itu sudah memberinya seorang putera dan sedang hamil besar seperti saat ini, tapi itu tidak sedikitpun mematikan gairah primitif dari seorang Dhanni Revaldi. Gairahnya selalu tebangun, meletup-letup bagaikan kembang api yang tak pernah padam ketika menatap ke arah istrinya.

“Apa yang kamu lakukan padaku sayang? Kamu benar-benar membuatku gila.” Dhanni berkata serak sembari menyentakkan tubuhnya hingga menyatu seketika dengan Nessa.

“Uugghh..” Nessa hanya mengerang panjang ketika ia menerima penyatuan sempurna dari suaminya.

Nessa merasakan Dhanni terasa begitu pas di dalam tubuhnya, begitu penuh dan terasa sesak, hingga Nessa bahkan dapat merasakan denyutan-denyutan aneh di dalam sana.

Pun dengan Dhanni yang tidak berhenti mengertakkan giginya ketika menahan seluruh gairah yang seakan ingin meledak saat itu juga. Istrinya itu begitu sempit menghimpitnya, hingga membuat Dhanni seakan ingin berteriak frustasi untuk memuaskan hasratnya sendiri.

“Sayang, kamu benar-benar membunuhku.” Desis Dhanni.

“Ahhh ya, bicara saja terus, sampai kak Dhanni lupa kalau kita sudah menyatu.”

“Lupa? Sialan! Aku tidak mungkin lupa saat semua yang di bawah sana mencengkeram erat seakan mencekikku dan membuatku ingin meledak saat ini juga.”

“Lalu kenapa kak Dhanni tidak muai bergerak?”

“Aku hanya ingin… Astaga, lebih lama lagi. Tapi sepertinya…” Suara Dhanni terputus-putus karen menahan gelombang gairah yang datang menghantamnya lagi dan lagi.

“Bergeraklah.” Desah Nessa.

Dhanni menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan bergerak sepelan mungin.” Ucap Dhanni yang kini di sertai dengan gerakan pelan mengujamnya.

Keduanya saling mengerang panjang, saling menatap dengan mata berkabut masing-masing. Bibir keduanya sesekali tebuka dan mengucapkan kalimat cinta, kalimat-kalimat memuja, hingga membuat percintaan tersebut bukan hanya terasa panas, tapi juga terasa hangat penuh dengan cinta.

***

-Dhanni-

 

Mataku kembali menatap ke arah Nessa. Istriku itu tampak kepayahan. Napasnya terputus-putus, sedangkan peluhnya tidak berhenti menetes dari dahinya. Keningnya mengerut, matanya sesekali terpejam karena berkaca-kaca. Aku tahu dia kesakitan. Tuhan, andai saja aku dapat menggantikannya, maka aku ingin menggantikan rasa sakitnya.

Nessa sudah terbaring  telanjang dengan seorang dokter berada di bawahnya. Beberapa suster membantu, sedangkan aku sendiri setia berada di sebelahnya untuk menggenggam tangannya.

Ya, dia sedang berjuang untuk melahirkan putera kedua kami.

Perutku terasa ikut mulas. Mataku juga tidak berhenti berkaca-kaca ketika melihatnya kesakitan. Ketika kelahiran Brandon dulu, aku juga menemaninya. Tapi entahlah, walau ini sudah yang kedua kalinya, tapi tetap saja rasa takut itu masih datang menghampiriku.

Aku takut jika Nessa tidak bisa bertahan dan pergi meninggalkanku… apa jadinya aku tanpa dia?? Tuhan, aku tidak bisa membayangkannya.

Aku menundukkan kepalaku, mengecup lembut puncak kepalanya kemudian membisikan kata-kata di sana. “Sayang, kamu harus kuat, demi aku, demi Brandon, demi bayi kita. Aku yakin kamu bisa bertahan. Aku mencintaimu.” Bisikku dengan tulus.

Nessa termangu menatap ke arahku. Aku yakin jika dia melihat ketulusan di dalam mataku, karena aku benar-benar tulus mengungkapkannya.

“Aku mencintaimu juga, Kak.” Bisiknya parau. Kemudian Nessa kembali mendorong sekuat tenaga. Berteriak semampunya, sedangkan tangannya masih setia mencengkeram erat lenganku hingga buku-buku jarinya memutih.

“Ayo Bu, kepalanya sudah hampir keluar. Pak Dhanni mau melihatnya?” tanya Dokter yang kini masih berada di bawah tubuh Nessa.

Aku menatap Nessa penuh harap. “Bolehkah aku menjadi orang pertama yang melihatnya?”

Nessa menganggukkan kepalanya penuh antusian. Ku kecup lembut puncak kepalanya, kemudian pungung tangannya.

“Aku akan melihatnya, sayang. Berjanjilah kamu akan tetap kuat.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Aku janji.” Bisiknya.

Aku kemudian menuju ke arah Dokter. Dan melihat sendiri bagaimana keajaiban itu hadir. Nessa kembali mendorongnya dengan kuat, hingga aku dapat melihat dengan sangat detail bagaimana detik demi detik putera keduaku di lahirkan.

Ini memang pengalaman keduaku menemani Nessa melahirkan putera kami, tapi ini pengalaman pertama saat aku menyaksikan sendiri bagaimana seorang bayi di lahirkan dengan proses sedetail ini. Dulu ketika Brandon lahir, Nessa tidak membiarkan aku pergi darinya. Nessa selalu mencengkeram erat lenganku hingga Brandon lahir dan di berikan pada kami. Tapi kini, ketika putera kedua kami lahir, aku dapat menyaksikan dengan jelas bagaimana proses kelahirannya.

Kakiku gemetar seketika menatap pemandangan di hadapanku. Dokter menarik tubuh bayi kami, membersihkan lubang hidungnya, kemudian sesekali menepuk lembut pahanya, hingga keluarlah tangisan pertama bayi kedua kami.

Aku memejamkan mataku seketika. Rasa lega kurasakan ketika mendengar bayiku menangis serta melihat istriku tersenyum dengan air mata di pipinya.

“Laki-laki, dan sehat.” Ucap sang dokter.

“Bolehkah saya..”

“Sebentar ya pak, biar di bersihkan dulu.” Ucap Dokter tesebut. Dan aku hanya mampu mengangguk patuh. Aku kembali menuju ke arah Nessa mengecup bibirnya lagi dan lagi.

“Apa dia tidak memiliki kekurangan apapun?”

“Ya, dia tampak sempurna dan menakjubkan.”

“Apa dia tampan?”

Aku tertawa lebar. “Tentu saja, dia tampan sepertiku.”

“Oh yang benar saja, ini curang.” Rengeknya.

“Curang? Dia bayiku, apa kamu ingin dia mirip orang lain? Renno? Atau Jonathan mungkin?”

“Kak Dhanni, bukan itu maksudku. Brandon sudah sangat mirip dengan kak Dhanni, apa tidak bisa bayi kedua kita mirip denganku?”

“Mirip denganmu? Kamu mau dia cantik? Lemah gemulai? Ayolah sayang. Itu menggelikan.”

“Bukan seperti itu.”

“Lalu?”

Nessa kembali meneteskan air matanya. Senyumnya kembali merekah, dia mengalungkan lengannya pada leherku. Aku merasakan bagaimana emosi bahagianya membuncah ketika memelukku.

“Aku hanya terlalu bahagia hingga tidak bisa mengekspresikannya, Kak. Entah dia mirip dengan kak Dhanni atau denganku, itu bukan masalah, aku hanya terlalu bahagia saat menyadari jika hidup kita begitu sempurna.”

Aku mengangguk, lalu ku kecup singkat bibirnya dan berbisik di sana. “Aku juga sangat bahagia.”

Tak lama seorang suster berjalan mendekat ke arah kami dan meletakkan bayi kami tepat di dada Nessa dengan posisi tengkurap.

“Dia akan mencari puting ibunya.” Ucap suster tersebut.

Aku dan Nessa hanya mampu menatap kehidupan mungil di hadapan kami dengan tatapan takjub masing-masing.

“Dia lucu sekali.” Bisik Nessa.

“Ya, Brandon akan sangat suka dengan adik barunya.” Tambahku. “Ah ya, aku sudah menyiapkan nama, dan namanya adalah..”

“Aaron.” Jawab Nessa cepat.

Aku mengangkat sebelaah alisku saat Nessa memotong kalimatku. “Hei, ingat, menurut kesepakatan saat awal kamu hamil anak pertama kita, kalau laki-laki, aku yang berhak menamainya, sedangkan jika perempuan, maka tugas kamu yang memberikan nama untukknya.”

“Aku tidak peduli dengan kesepakatan itu. Kak Dhanni sudah memberi nama untuk Brandon, maka kali ini aku yang akan memberi nama untuk dia.”

Aku menghela napas pajang. “Oke, oke, aku mengalah. Jangan lupa tambahkan nama Revaldi di belakangnya. Karena dia Puteraku.”

“Ya, tentu saja. Aaron Revaldi, Putera kedua dari seorang Dhanni Revaldi, si penakhluk hati wanita.”

Baiklah, kalimat Nessa yang sarat akan sindiran itu membuatku mau tak mau melemparkan tatapan membunuh ke arahnya, tapi Nessa hanya mambalasnya dengan senyuman mengejeknya.

Oh, wanita ini benar-benar,  aku akan menghukumnya setelah semua ini selesai. Menghukum dengan cinta dan kasih sayang hingga dia sadar, walau aku dapat dengan mudah menakhlukkan banyak hati wanita, tapi hanya dia satu-satunya wanita yang dapat menakhlukkan hatiku, hati seorang Lady killer bernama Dhanni Revaldi.

 

***The End***

Kyaaaaa Akhirnya ending juga Kak Dhanniku… btw, aku mau tanya nih, kalian mau epilog ataau udah bosen ama kak Dhanni? kalau mau, aku akan buatkan sedikit epilognya. klo udah bosen yaa maap, epiognya aku simpan aja. hahahhaah okay itu aja. semoga kalian masih mau membaca ceritaaku yg lainnyaa ya.. uheheheh

Mengenangnya (With Kai) – Cerpen True story

Comments 3 Standard

mwkMengenangnya (With Kai)

Note : Hanya Oneshoot yang ku dedikasikan untuk seorang yang pernah berada di masalaluku. ahh entahkah, aku kembali mengingatnya saja beberapa hari terakhir, akhirnya aku menulisnya di sini, Happy reading,,

Mengenangnya (With Kai)

 

Pagi ini aku mendengarkan lagu Radja. aku tidak tahu kenapa tiba-tiba suamiku memutar lagu itu, karena setahuku, lagu kenangan kami adalah lagu dari Wali.

Mendengar lagu itu, sontak aku teringat dengan seseorang. Seseorang yang pernah memiliki hatiku seutuhnya hanya dalam jangka waktu 9 hari.

Yeaah, dia kekasih lamaku selama 9 hari.

Sebut saja namanya Kai.

Aku lupa tepatnya bulan berapa, tapi seingatku, saat itu tahun 2007. Alif ( yg sekarang yg jadi suamiku) pacar pertamaku itu meninggalkanku begitu saja ke pulau seberang, tanpa pamit. Kalian tentu dapat membayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Padahal kami baru menjalin kasih selama kurang lebih 2 bulan lamanya.

Sedih? Tentu saja, marah? Sangat dan sangat marah. Tapi aku bisa apa? Melarangnya? Yang benar saja.

Dua hari setelah alif meninggalkanku, sebuah nomor telepon baru menghubungiku. Dia mengaku bernama Kai. Kai, bukanlah orang jelek, jika boleh jujur, dia mantanku yg paling tampan dan kaya (bahkan melebihi alif, suamiku saat ini). Saat itu aku belum pernah bertemu dengannya, karena dia memang masih kuliah di luar kota.

Kami hanya berhubungan lewat telepon. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana rupanya saat itu, hanya saja mendengar suaranya membuatku berdebar-debar seperti di novel-novel yg pernah ku tulis. entah ini perasaanku saja, atau memang aku sudah menjadikan Kai sebagai pelampiasanku karena di tinggalkan Alif.

Dua minggu smsan dan telepon-teleponan. Kai pulang. Kalian tahu apa yang membuatku terkagum-kagum? Kai yg saat itu sekolah di daerah Malang, langsung menuju ke rumahku, masih dengan membawa tas ranselnya, dia tidak pulang ke rumahnya sendiri tapi langsung menuju ke rumahku, dan bertemu denganku untuk pertama kalinya.

Shock?

Tentu saja. Aku anak gadis biasa, tidak memiliki kelebihan apapun. Bahkan di bandingkan teman2ku, aku adalah gadis yg paling culun -dan jelek- tentunya. Dan aku tidak menyangka lelaki sekelas Kai mau repot-repot mendekatiku dan   ingin berkenalah denganku.

“Dek, kok diam saja?”

“Ahh enggak, mas.”

“Aku langsung ke sini tadi, nggak mampir kerumah, pengen ketemu kamu.”

“Ohh.”

“Dek, nggak papa kan kalau aku minta nomer kamu dari temanku?”

“Nggak papa kok, Mas.”

“Alif gimana Dek? Sudah hubungi  kamu?”

“Loh, Mas kenal Mas Alif?”

“Dia temanku dek.”

“Ohh…” hanya itu jawabanku.

“Dek, aku pengen menggantikan posisi Alif.”

“Maksudnya Mas?”

“Ayo di jalani saja, aku nyaman sama kamu, Dek.”

Dan… malam itupun kami resmi jadian. Hingga 9 hari kemudian aku memutuskan mengakhiri semuanya….

***

“Kai…. aku kangen kamu, Mas..”

***
Hari ke 7 aku jadian dengan Kai…

Entah kesialan apa yg terjadi denganku sore itu. Setelah sepanjang siang hujan lebat, akhirnya motor bututku yang ku parkir di pelataran sekolah mogok. Rasanya pengen nangis. Karena itu motorku satu-satunya.

Aku menunggui teman-temanku yang mencoba menyalakan motorku, tapi tidak ada yang berhasil. Hingga kemudian, aku melihat sosok itu datang.

Kai….

Astaga, jangan bayangkan bagaimana malunya aku saat itu. Sudah jelek, kusem, bau asem, muka berminyak, tanpa bedak, jerawat di mana-mana, dan laki-laki yang beberapa hari terakhir dekat denganku datang menemuiku dalam keadaan seperti itu? Ohhh sungguh, aku ingin menghilang saat itu juga.

Dengan santai Kai bertanya. “Motornya kenapa dek?”

Aku hanya bisa menundukkan kepala. “Uumm nggak tahu mas, mogok nih.”

“Sini, biar kubawakan ke bengkel temanku saja.”

“Terus, aku gimana?”

“Aku yang nganter pulang.” Setelah dia bicara seperti itu, dia pergi begitu saja, menuntun motorku menuju ke sebuah bengkel yang memang tak jauh dari sekolahanku.

Teman-temanku bercie-cie ria. Dan aku tidak peduli, yang kupedulikan saat itu adalah degupan jantungku yg seakan menggila.

Kai akhirnya kembali, dan langsung menaiki motornya. Dia menatapku sambil berkata. “Ayo, kenapa nggak naik?”

Teman-temanku dengan ndesohnya semakin menyorakiku dan membuatku ingin menyumpali mulut mereka satu persatu dengan kaos kaki yang kukenakan.

Akhirnya aku pulang, Kai benar-benar mengantarku. Ini pertama kalinya aku di jemput laki-laki saat pulang dari sekolah. Malunya minta ampun. Aku bahkan tidak berani menempel pada tubuh Kai yang aku yakini saat itu sudah wangi, sedangkan aku? aku yakin, bahkan satu meterpun kalian dapat mencium bau keringatku.

Tujuh hari ini, aku memang tak lagi memikirkan Alif. Kai selalu menghubungiku setiap waktu. Dan itu membuatku lupa dengan diri Alif. Hanya saja, saat aku akan tidur, bayangan Alif mencuat di pikiranku, dan itu kembali membuatku menangis.

“Kok diem aja, Dek?”

“Uuum, mas kok tahu motorku mogok tadi?”

“Tadi aku nggak sengaja jalan trus lihat kamu sama teman-temanmu.”

“Yang bener?”

“Iya, sumpah Dek.”

“Mas nggak malu jemput aku?”

“Ngapain malu? Kan jemput pacarku sendiri, bukan pacar orang.”

Dan astaga, kalo aku tidak ada di atas motor, mungkin saat ini aku sudah kejang-kejang karena salah tingkah.

“Mas masih lama di rumah?” Tanyaku lagi mengalihkan pembicaraan.

“Aku setengah bulan di rumah, Dek.”

“Oh…” hanya itu jawabanku.

Akhirnya sampai juga di depan rumahku. Aku turun dari atas motor Kai. Kupikir dia langsung pergi, tapi dia malah ikut aku turun.

“Loh, mas masuk dulu?” Tanyaku bingung.

Aku melihat dia tersenyum dengan sedikit malu-malu.

“Euumm aku mau..” dia mencondongkan tubuhnya bersiap mengecup pipiku. Dan dengan spontan aku membalikkan tubuhku hingga membelakanginya.

Astaga, aku nggak mungkin membiarkan cowok ganteng mencium pipiku yg kusem dan berminyak. Yang benar saja.

Lama kami dalam posisi aku membelakangi Kai. Aku juga tidak tahu apa yg di rasakan Kai saat itu. yang ku pikirkan saat itu adalah perutku yang mulai mulas karena kedekatan kami.

Hingga kemudian, aku mendengar bunyi motor Kai tepat di belakangku.

“Dek, aku pulang.” Ucapnya. Dan dia pergi begitu saja tanpa menungguku berbalik menatapnya.

***

Kai… ingatkah kamu dengan hari itu???

***
Hari ke 8…

Hari itu adalah hari yang benar-benar membuatku gelisah. Sepanjang pagi hingga sore, Kai tidah ada sekalipun menghubungiku. Sms yang biasanya gencar dia lakukan, telepon yang biasanya sering menggangguku, hari itu sama sekali tidak ada.

Aku gelisah, apa Kai sedang marah denganku? marah karena aku menolak saat ia ingin mencium pipiku? Astaga, jika memang karena itu, aku bisa memberi alasan kenapa aku melakukan hal itu.

Aku hanya seorang gadis desa yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam berpacaran. Dulu, aku memiliki orang yang kusukai saat SMP, tapi kemudian orang itu secara terang-terangan menolakku di depan semua orang hingga membuat kepercayaan diriku runtuh seketika. Bahkan hingga kini, rasa terauma itu benar-benar membunuhku. membuatku selalu merendahkan diri dan sama sekali tak memiliki kepercayaan diri.

Pacar pertamaku hanyalah Alif. Itupun hanya dalam jangka waktu 2 bulan, sebelum dia meninggalkanku begitu saja. Apa salah jika saat itu aku terkejut dengan apa yang di lakukan Kai? Ya, bisa di bilang Kai adalah orang pertama yang begitu dekat denganku.

Hingga sore, Kai tak kunjung menghubungiku. Nana, temanku menyarankan supaya aku menghubungi dia, tapi itu adalah hal terakhir yang akan ku lakukan. Sumpah demi apapun juga aku tidak akan pernah menghubungi laki-laki lebih dulu, bukan karena aku sombong, tapi aku terlalu takut, jika ternyata aku mengganggunya, atau membuatnya tidak nyaman. Akhirnya, aku membiarkan Kai yang tidak menghubungiku seharian tanpa mencoba menghubunginya.

sorenya, aku pulang sekolah dengan Nana, karena memang aku masih belum berani memakai motorku yang kemaren sempat masuk bengkel.

Kami pulang bersama dengan Nana memboncengku. tapi baru sekitar tiga kilo meter Nana menjalankan motornya dari sekolahan, kami di cegat oleh beberapa orang anak gadis dari sekolahan lain.

Apa Nana sedang membuat masalah? Pikirku saat itu. Akhirnya Nana menghentikan motornya, lalu kami sama-sama turun dan beberpa anak gadis dari SMA sebelah menghampiri kami.

“Ada apa ya?” Tanya Nana.

“Hei, kamu siapanya Kai?” Tanya seorang gadis dengan rambut pendeknya sembari menunjuk ke arahku.

“Aku?” Tanyaku bingung. “Uum, aku, teman.” Aku berbohong.

“Teman? Jangan-jangan kamu yang ngerebut Kai dari Ina?” Tanya gadis itu lagi sambil menunjung gadis lainnya yang mengenakan jilbab dan sedang menundukkan kepalanya.

“Loh, mbak, aku nggak pernah ngerebut siapa-siapa.” Jawabku sedikit tidak terima, karena aku memang tidak merasa pernah merebut Kai dari orang lain. Kai sendirah yang datang padaku saat itu.

“Halah alasanmu saja. Kai itu dulu selalu ngapelin Ina kalo dia pulang dari Malang, sekarang dia nggak lagi ke rumah Ina, dan kemaren kita lihat kamu sedang di bonceng dia lewat sini.”

“Memangnya Kai siapanya Ina?” Kali ini Nana yang ikut bertanya.

“Ya pacarnya lah. Bahkan mereka mau nikah juga, tuh lihatkan cincinmu, Ina.”

Aku hampir menangis saat itu ketika mendapati kenyataan jika Kai memiliki wanita lain di belakangku. Kenapa dia membohongiku? Kenapa dia mendekatiku? Kenapa dia membuatku tersakiti? Kenapa dia membuat luka yang sama seperti yang di berikan Alif padaku?

“Ya sudah, sekarang kamu ngaku nggak, kalau kamu pacarnya Kai?” Tanya gadis itu lagi.

“Enggak mbak!!” Jawabku tegas. “Aku cuma punya satu pacar, namanya Alif, dia sekarang sedang ke kalimantan. Kai cuma temannya, dan dia cuma temanku.” Jawabku setegas mungkin dan berharap suaraku tidak bergetar saat itu.

“Ya sudah. Kalo Kai ke rumahmu lagi, bilang, suruh nemuin Ina. Dan kalau bisa, jangan bolehin dia main ke rumahmu lagi. Kamu nggak kasihan sama Ina yang baik ini?”

“Ti, sudah, aku nggak apa-apa.” Ucap gadis yang bernama Ina itu dengan sedikit menenangkan temannya yang sejak tadi terlihat sedikit emosi.

“Ya sudah mbak. Nanti ku kasih tahu orangnya.” Jawabku setenang mungkin. Padahal saat itu perasaanku sudah tidak karuan.

Aku dan Nana akhirnya melanjutkan perjalanan pulang kami. Sesekali Nana menggerutu tidak percaya dengan apa yang di katakan para gadis itu. Bagi Nana, Kai adalah orang baik-baik.

Ahh ya, aku belum cerita, Kai itu adalah sepupu dari Ale, pacar Nana. Nana tentu kenal dekat dengan Kai, dan dia sama sekali tidak percaya kalau Kai itu memiliki pacar lain selain aku. Sedangkan aku sendiri, sama sekali tidak menghiraukan pendapat Nana, pikiranku terlalu penuh dengan berbagai macam pikiran tentang Kai. Bayangan-bayangan saat Kai mencoba mendekatiku pun mencuat begitu saja.

 

Aku ingat, saat itu adalah hari kedua aku resmi menjadi kekasih Kai. Kai bercerita banyak tentang dirinya semasa hidup di Malang. Dia memiliki banyak Pacar. Tapi seluruhnya bukan wanita baik-baik. Aku tidak percaya, tentu saja. Memangnya aku mau di bodohi sama dia. Lalu besok malamnya ketika kami ketemuan kembali, Kai membawa beberapa Foto kedekatannya dengan beberapa gadis yang di sebut dengan mantannya. dan saat itu aku baru sadar, kalau Kai memang lelaki yang dengan gampang menunjuk mana wanita yang dia inginkan.

Saat aku bertanya. “Kenapa kamu nggak cari wanita baik-baik buat di jadikan pacar Mas?”

Dia menjawab “Wanita baik itu bukan untuk di jadikan pacar. Tapi untuk di jadikan istri.”

Aku tertawa dengan gombalannya. “Lah berarti aku bukan wanita baik-baik dong?”

“Memangnya kamu pacarku?” Pertanyaannya benar-benar membuatku malu. astaga, bagaimana mungkin dengan begitu PDnya aku mengakui diri sebagai pacarnya.

“Uumm, nggak tahu lah.”

“Kalau aku nganggep kamu calon istriku, gimana?”

Tubuhku saat itu kaku seketika. Calon istri? Aku bahkan baru Lima belas tahun saat itu.

 

Aku ingat hari itu kami banyak tertawa, dan berakhir dengan kecanggungan karena Kai membahas tentang calon istri. tapi fokusku saat ini bukan pada bagian percakapan manis kami, tapi lebih pada bagian Kai yang mengaku memiliki banyak kekasih di luar sana.

Kai sudah mengakui sejak awal padaku, jika dia memiliki banyak kekasih di luaran sana, bukan tidak mungkin Ina adalah salah satunya.

Dan astaga, betapa bodohnya aku menaruh hatiku pada seorang Kai…

Ya, tidak bisa di pungkiri jika aku sudah mulai jatuh hati pada sosok Kai, sosok yang mampu mengalihkan perhatianku dari Alif, sosok yang sangat perhatian padaku, sosok yang pada saat itu membantu mengobati lukaku akibat kehilangan seorang Alif.

Ya, dalam waktu singkat, Kai membuatku jatuh cinta padanya.

Tapi aku sadar jika semua ini salah. Kai bukan orang baik untuku, dan aku tidak ingin melanjutkan kesalahan ini, aku tidak ingin tersakiti lebih jauh lagi nantinya, hingga kemudian, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya keesokan harinya..

Kai… maafkan aku, aku hanya tidak ingin kembali tersakiti… maaf….

***
Malam itu juga aku mengirim pesan pada Kai.

Aku : ‘Mas, aku pengen ketemu besok malam.’

Tak lama, ponselku kembali berbunyi, tanda Kai membalas pesanku.

Kai : ‘Beneran? Kamu kangen? Di mana Dek?’

Aku : ‘Di sekolah SD ku sedang ngadain pentas seni, kita ketemuan di sana saja Mas. Sambil nonton.’

Kai : ‘Ya sudah, ku jemput jam 7, Dek.’

Aku : ‘Jangan, aku di antar Mas Sani nanti.’ (Kalo kalian pernah baca cerita The Lady killer, pasti kenal Renno, nah Sani ini adalah Rennoku dalam dunia nyata hahahahha).

Kai : ‘kok di antar Sani?’

Aku : ‘Ya, aku sekalian ada perlu sama dia.’

Kai : ‘Baiklah. Met Bobok Dek.’

Dan aku tidak lagi membalas SMSnya itu. Aku seakan mencoba memungkiri sikap manis yang di berikan Kai padaku. Maaf Kai, aku tidak ingin jatuh terlalu dalam.

***

Besok malamnya… tepat hari ke 9 aku jadian dengan Kai. Kai menatapku ketika aku sampai di tempat kami janjian saat itu.

Sani yang mengantarku, ikut turun dari motornya lalu berjalan mengikutiku tepat di belakangku. Ahh ya, sedikit cerita tentang Sani, Sani adalah laki-laki yang mengenalkanku dengan Alif. Bisa di bilang, dia mak comblangku. Dia itu naksir berat dengan temanku yang bernama Dewi, tapi sayangnya, Dewi hanya memanfaatkan Sani. Dari situ, aku sempat menaruh hati pada Sani. Ahhh kalian jangan bilang siapa2 yaa.. huehehehehe. Tapi sayang sekali, Sani malah mengenalkan aku dengan Alif, dan mencomblangkanku dengannya. Akhirnya, perasaanku ku kubur begitu saja dan aku belajar mencintai sosok Alif.

Kembali pada permasalahan.

“Loh dek, kita jalan bertiga?” Tanya Kai sambil menatap Sani.

Akhirnya aku menoleh ke belakang dan mendapati Sani masih berdiri di belakangku.

“Kamu kok masih di sini Mas?” Tanyaku pada Sani.

“Aku mau nemenin kamu.”

“Kan sudah ada Aku, San.” Kai menyahut.

“Ingat Kai, Alif yang nyuruh aku jagain dia, bukan kamu.”

Oke, aku bingung. Kenapa mereka bawa-bawa nama Alif?

Aku melihat Kai maju mendekat ke arah Sani.

“Hei, San, kamu juga harus ingat, kalau kamu saat itu nggak mau kan di suruh jagain Jeni buat Alif? Makanya kamu nyuruh aku yang jagain Jeni.”

“Loh, kalian ngomong apa sih?” Aku semakin bingung disini. Jadi, Alif dalang semua ini??

“Gini dek, aku bisa jelasin.” Kai mulai menarik tanganku sedikit menjauh dari Sani, sedangkan Sani hanya bisa menatap kami sedikit lebih jauh.

“Dek, sebenarnya, Alif nyuruh Sani jagain kamu, biar kamu nggak pacaran atau dekat dengan cowok lain selama dia merantau, tapi saat itu Sani nggak mau, jadi dia nyuruh aku buat jagain kamu Dek.”

Shock. Itulah yang ku rasakan saat itu. M mm mmbmmm mhihgighjhogjmhkhJADI INI SEMUA DALANGNYA SI ALIF????

“Oh, jadi di sini aku cuma mainan kalian?”

“Bukan gitu Dek, Alif itu benar2 sayang sama kamu Dek, dia cuma nggak mau kamu kenapa2 makanya nitipin kamu sama teman2 terdekatnya.”

“KALO DIA SAYANG, DIA NGGAK AKAN NINGGALIN AKU TANPA PAMIT MAS.” Aku berteriak. Ya, aku masih ingat dengan jelas jika saat itu aku berteriak keras ke arah wajah Kai.

“Ninggalin? Dia kan masih hubungin kamu, kamu pikir aku nggak tahu?”

Tububku tegang seketika. Ya, sekitar lima hari entah satu minggu setelah Alif pergi, Alif kembali menghubungiku. Saat itu dia sudah berada di kota Bontang kalimantan timur. Hubungan kami canggung, hanya sebatas tanya kabar, itu saja. Dan aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, entah teman-teman terdekatku, atau Kai sekalipun. Aku hanya bilang kalau Alif meninggalkanku, dan kami sudah putus hubungan, padahal bukan seperti itu. Tapi darimana Kai mengetahui hal itu?

“Mas, darimana bisa tahu kalau Mas Alif masih hubungin aku?”

“Maaf, tapi aku pernah meriksa Hpmu, Dek.”

“Kok, kamu periksa sih? Kenapa?”

“Dek, memang awalnya aku cuman bantu Alif jagain pacarnya, tapi…”

“Tunggu mas, ada yang lebih penting. Ina itu siapa?” Tanyaku secara langsung sebelum keberanianku menghilang.

Kai diam seketika. Tiba-tiba dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kenapa? Apa dia benar-benar memiliki hubungan serius Dengan Ina?

“Kenapa Mas? Ina pacar kamu?”

Kai masih tidak menjawab.

“Teman-temannya ngelabrak aku kemaren, katanya aku ngerebut kamu dari Ina, jadi Ina beneran pacar kamu?”

“Ya.” Jawabnya dengan santai.

“Kamu kok tega sih Mas, lalu apa bedanya kamu dengan Alif yang nyakitin aku?”

“Kita nggak ada bedanya Dek, kamu juga masih diam-diam smsan dengan Alif di belakangku.”

“Itu karena Alif pacarku.”

“Ina juga pacarku, dia bahkan sudah tunangan denganku!” Kai sedikit membentakku.

Aku terpaku melihat Kai yang terlihat Emosi. Dia benar-benar sudah memiliki tunangan. Dan bagaimana mungkin aku bisa menyukainya? Astaga.

“Gini Dek, kita nggak ada bedanya. Walau kita pacaran, kamu masih hubungan dengan pacarmu si Alif itu, kamu hanya melihatku sebagai pelarianmu Dek, iya kan?”

“Mas, kenapa seakan di sini aku yang salah?”

“Ya, kamu yang salah, kamu yang sudah buat aku berpaling.”

“Berpaling?” Aku masih bingung.

“Ya sudah lah, nggak ada gunanya aku jelasin sama kamu, sekarang mau kamu apa? Aku turutin.”

“Sampai di sini saja, mas.”

Kai menatapku, Dia terdiam cukup lama, hingga kemudian dia kembali bersuara.

“Kamu minta putus karena akan balikan sama Alif?” Aku hanya diam. “Ya sudah, terserah kamu.”

Kai pergi begitu saja, dan yg bisa ku lakukan hanyalah menangis. rasa ini rasa yg sama seperti Alif meninggalkanku.

“Jen.” Suara Saninmembuatku berbalik dan menatap ke arah Sani yang sudah berdiri tepat di belakangku.

“Maafkan aku, aku yg sudah membuatmu kenal dengan  Alif dan juga Kai. Maaf.”

Aku tak menghiraukannya, yang bisa ku lakukan saat itu hanyalahh menangis, menangis dan menangis.

***

Hampir 3 tahun berlalu… tepatnya bulan 7 – 2010

Banyak kejadian yang menimpaku selama kurun waktu hampir 3 tahun terakhir. Setelah putus dengan Kai pada saat itu, aku bukan lagi menjadi diriku sendiri.

Satu hal yang perlu ku ingat dan menjadi pelajaranku saat itu, jika hidup adalah sangat berharga, nikmatilah hidup selagi kamu masih bisa, jangan terlalu terbawa perasaan, keGR-an berlebihan, dan jangan terlalu menyukai orang jika kamu tidak ingin merasakan sakit pada akhirnya.

Aku benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Bahkan teman-temanku berkata jika aku terlalu berani.

Setelah putus dengan Kai, aku berpacaran dengan Sani, dengan Randy, dan entah dengan siapa lagi yang semuanya adalah teman dekat Alif. Aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah bagaimana caranya aku melupakan Sosok Alif…

Ya, sosok Alif selalu berputar -putar pada kepalaku. Bahkan ketika kami kembali putus hubungan -benar2 putus Kontak- selama dua tahun.

Beberpa bulan setelah putus dengan Kai, aku memutuskan untuk ikut orang tuaku merantau ke kota Samarinda. Melanjutkan sekolahku disana, dan melupakan semua masalaluku ketika hidup di desa. Hanya saja, Alif masih selalu menghantui pikiranku. Dia seakan tidak ingin pergi dari otakku. Bahkan Kai saja aku sudah lupa bagaimana rupanya, tapi tidak dengan Alif.

Dan kini, bulan 7 – 2010 adalah saat dimana aku kembali lagi pulang ke desa.

Aku lupa, tepatnya itu hari ke berapa aku kembali pulang. Tapi seingatku saat itu aku baru pulang dari tes masuk perguruan tinggi di kota lamongan.

Ponselku berbunyi. Aku mengernyit saat menadpati sebuah sms dengan nomor baru di ponselku tersebut.

‘Apa kabar Dek?’

Aku tidak tahu itu siapa, tapi aku berani jamin jika itu adalah mantan pacarku dulu. Ya, semua mantan pacarku pasti memanggilku dengan panggilan Dek.

‘Ini siapa ya.’ Balasku.

‘Kai.’

Hanya tiga huruf tapi itu sukses membuat jantungku kembali dag dig dug seakan ingin meledak.

Aku terdiam cukup lama. Mencoba mencerna apa yg terjadi. Kai kembali menghubungiku, kenapa? Kenapa pada saat seperti ini? Pada saat aku kembali menjalin kasih dengan Alif?

Ya, aku kembali jadian dengan Alif.

Alif ternyata sudah kembali pulang sejak bulan 5 – 2010. Dia meminta nomer Hp ku pada teman terdekatku. Akhirnya Alif menghubungiku. Sempat kaget saat itu, dan entahlah, bagaimana euforianya hatiku saat itu. Hanya saja aku mencoba meredamnya. Berpisah selama hampir 3 tahun, dan 2 tahun sisanya sama sekali tidak menjalin komunikasi membuatku merasa jauh dengan Alif. Akhirnya kami hanya say hallo, tanya kabar, dan sedikit bercerita. Tapi kemudian dia mengajakku kembali menjalin kasih, dan dengan bodohnya aku kembali menerimanya.

Kini, ketika aku sudah kembali ke kampung tempat asalku, aku kembali bertemu dengan Alif. Dan kami benar2 kembali menjalin kasih.

Tapi kenapa Kai datang pada saat seperti ini?? Karena lama aku tidak membalas Sms darinya, Kai akhirnya meneleponku, dan mau tak mau aku mengangkatnya.

“Kamu sudah pulang, Dek?”

“Ah, ya.”

“Aku tadi nggak sengaja lihat kamu, pas aku nongkrong di toko kaset tempat langganan kamu dulu beli kaset. Kamu beda ya?”

“Beda apanya mas?”

“Sekarang sudah bisa dandan. Dan… cantik.”

Oke, aku ingin berteriak saat itu juga bahwa AKU TIDAK SUKA DI RAYU!!!!

“Ah, biasa saja mas.”

“Kata teman-teman kamu pulang karena mau lanjutin sekolah di kota ya?”

“Iya.”

“Ngambil jurusan apa, Dek?”

“Informatika dan jaringan, Mas.”

“Wah, pinter main komputer dong nanti, mau ngajarin Mas nggak nanti?”

Astaga, aku ingin melempar ponselku saat itu juga. Apa Kai sedang menggodaku?

“Maaf mas, aku sibuk, lain kali lanjut lagi ya.”

“Dek.. dek..” aku menghentikan aksiku yang mau memutuskan telepon Kai ketika aku mendengar panggilannya.

“Apa mas?”

“Aku kangen sampean.” (Bhs. Indo : Aku kangen kamu)

Kai menutup teleponnya begitu saja. Sedangkan aku sendiri masih tecenung mendengar ucapannya barusan. Jen, cuman kangen, ingat, cuma kangen. Nenekmu juga kangen kamu, so what? Bukan masalah penting. Pikirku.

***

Hari berlalu terasa sangat cepat. Hingga tak terasa sudah bulan September 2010.

Aku menikah.

Ya, aku menikah, bukan dengan Kai, tapi dengan Alif. Banyak hal yang terjadi selama dua bulan terakhir. Dan yang paling tidak bisa ku lupakan hingga kini adalah ketika aku dengan kekeras kepalaanku menyakiti hati kedua orang tuaku, karena aku memilih menikah dengan Brandalan seperti Alif, di bandingkan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Alif bukan orang yang dapat di banggakan. Aku tahu itu. Dia pengangguran, tukang mabuk, dan dia sesekali menggunakan obat. -itu dulu- tapi entahlah, sepertinya perasaanku sudah di butakan oleh cinta. Entah apa yang kulihat dari dia hingga aku berani melawan kedua orang tuaku.

Ahhh mungkin Alif memang jodohku… pungkasku.

Tepat tgl 26 September 2010. Kami sah menjadi suami istri. Meski bapak sempat tidak merestui hubungan kami, tapi akhirnya beliau menerima Alif. Bahkan pesta pernikahanku saat itu di selenggarakan dengan sangat meriah.

Semua yg di undang hadir. Tapi ada dua orang yang tidak hadir dalam pernikahanku. Yang pertama, Sani. Dia tidak hadir, entah karena apa. Padahal aku sangat berharap dia hadir. Terlepas dari aku yang pernah menjalin kasih dengan Sani, Sani adalah orang yang sudah mengenalkanku dengan Alif, dia mak comblang kami, tentu saja aku ingin dia hadir. Tapi nyatanya, dia tidak hadir.

Yang kedua, Kai…..

Ya, dia tidak hadir. Kai saat itu memang sudah lulus kuliah, dan kerja di daerah malang, tapi setiap sabtu dan minggu, dia pasti pulang. Dan pernikahanku saat itu memang jatuh pada hari sabtu dan minggu, tapi dia tetap tidak datang. Entahlah, apa yang terjadi dengannya. Tapi ku harap, hubungan kami nanti tetap baik.

Walau hanya menjadi seorang teman.

***

Pagi itu, aku masih ingat, tepat tanggal 27 september 2010. Aku bangun mendapati Alif yang sudah di sebelahku. Astaga, rasa debar-debar itu hadir begitu saja, aku masih tidak percaya jika aku akan berakhir di plaminan dengan Alif.

Aku bangun, lalu mandi. Dan ketika aku kembali masuk ke dalam kamar, Alif sudah duduk menungguku.

“Nggak mandi, mas?”

“Nanti aja.” Jawabnya.

“Pemalas.” Dan alif hanya menampilkan cengirannya.

“Dek, kamu nggak mau bukain itu?” Alif bertanya sembari membuka bungkusan-bungkusan kado yang berada di ujung ruangan.

Aku tersenyum penuh semangat. ahh ya, kata teman-temanku, salah satu yang mengasyikkan ketika menjadi pngantin baru adalah membuka kado dan juga amplop yang di terima dari sanak dan teman yang hadir.. hahahahhaha dan pagi itu, aku berdua dengan Alif sibuk membuka kado dari teman-teman kami.

Sialan!!! Kebanyakan kado berisi barang yang tidak penting. Bahkan bisa di bilang membuat ngakak sampek perutku mulas.

Ada yg memberi sebungkus kondom, pil kontrasepsi, plastik2 bekas, mentimun, mangga muda (apa mereka pikir aku mau buka warung rujak?) Dan masih banyak lagi kado2 tidak masuk akal yg membuat ngakak.

Tapi kemudian, ada sebuah kado yang membuatku tercenung cukup lama sebelum membukanya.

Kado dari Kai…

“Kenapa Dek?” Tanya Alif.

Aku sadar saat Alif bertanya padaku. “Ini, dari Kai, dia ke sini? Kok aku nggak lihat?”

“Dia nggak datang, cuma dia nitip itu aja buat kamu katanya.”

Aku tidak akan menulis di sini apa yang di berikan Kai padaku saat itu. Hanya saja, note yang di tulis Kai masih dapat ku ingat hingga saat ini.

‘Semoga berbahagia dek, aku yakin, Alif yang terbaik untuk kamu. Salam sayang, Kai.’

Alif bahkan ikut membaca note tersebut, dan berakhir tertawa lebar.

“Lebay.” Kata Alif.

Ya, Alif memang bukan orang yang romantis. Dan aku yakin, dia tidak akan pernah memperlakukanku seromantis mantan-mantanku yang lainnya.

“Apaan sih mas.”

“Kamu pernah jadian sama Kai?”

“Kenapa memangnya?” Aku balik bertanya.

“Kai pernah bilang sama aku, pas aku baru pulang bulan 5 kemaren. Dia minta maaf karena pernah jadian sama kamu, dan katanya sih, dia beneran suka sama kamu.”

“Ah yang bener mas?”

“Iya Dek, aku nggak bohong.”

“Tapi kan dia udah punya tunangan mas.”

“Tunangan? Dia udah putus lama kali dek sama tunangannya itu, bahkan sebelum aku berangkat ke kalimantan waktu itu.”

“Terus, kenapa dia nggak bilang sama aku?”

Alif mengangkat kedua bahunya. “Aku nggak tahu. Sudah lupain aja, jangan inget-inget dia lagi.”

“Kenapa?”

“Kok kenapa? Kamu kan sudah punya suami, masa inget-inget cowok lain sih?”

“Hahahha iya, aku lupa.”

Alif menyentil keningku. “Dasar bocah gemblung. Sudah, aku tak mandi dulu.”

Akhirnya Alif keluar dari kamar, dan mandi. Sedangkan aku, hanya mampu menatap bingkisan kertas kado dari Kai dengan mata nanar tapi dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.

Kai…. mungkin kita tidak berjodoh. Tapi aku yakin, Tuhan menyiapkan jodoh yang lebih baik untukmu. Terimakasih, sudah pernah mengisi hariku, saat Alif tak berada di sisiku. Terimakasih…..

 

***The End***

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 3(End)

Comments 15 Standard

romantic-boyfriend-girlfriend-whatsapp-dp-profile-pic-2Bintangku (Robby Story)

Haii haii.. maap ngaret yaa.. hahahha tadi malam aku asih gonta ganti tampilan blog biar yg baca blog ini nggak bosen, ehh akhirnya aku ketiduran.. buahaahhaha jadi baru sempat Up siang ini deh… happy reading aja dehh kalo gitu… di bawah link untuk part 1 dan part 2 nya yaa…

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 2

“Katakan Bintang, kenapa kamu membohongiku?”

“Maaf.” Hanya itu jawabanku dengan suara yang sedikit ercekat di tenggorokan.

“Aku tidak akan mengampunimu Bintang. Aku tidak akan mengampunimu.” Dan setelah itu kurasakan sesuatu yang basah menyambar bibirku, melumatnya dengan panas dan juga kasar. Mas Robby menciumku secara membabi buta. Dan aku dapat merasakannya, rasa frustasi bercampur aduk dengan rasa rindu dalam ciumannya. Dan yang dapat ku lakukan hanyalah membalas apa yang sudah dia lakukan terhadapku saat ini.

***

Part III

-Bintang-

 

Lumatan itu semakin melembut. Mengirimkan gelenyar aneh yang merayapi sekujur tubuhku. Ciuman ini semakin intens, membuatku sesekali mendesah saat menikmatinya.

Mas Robby melepaskan cekalan tangannya pada tanganku, kini kedua telapak tangannya menangkup kedua pipiku, sedangkan bibirnya masih tak berhenti mencumbuku. Oh, aku benar-benar merindukan dia, merindukan ciumannya, sentuhannya, dan kasih sayangnya, bolehkah aku berharap supaya dia kembali padaku?

Tiba-tiba bayangan seorang anak laki-laki kecil dengan seorang wanita menghampiri pikiranku. Bagaimana mungkin aku kini berciuman dengan sorang laki-laki yang mungkin saja saat ini sudah beristri? Meski dia dulu belum menceraikanku, tapi ku pikir kami sudah berpisah setelah lebih dari Lima tahun tak bertemu. Apalagi kenyataan jika Mas Robby memiliki seorang putera, pasti kini dirinya sudah memiliki seorang istri.

Sekuat tenaga kudorong dada Mas Robby menjauh dari tubuhku, melepaskan pangutannya pada bibirku dengan napas yang sudah terengah.

“Kita tidak bisa melakukan ini.” Ucapku dengan suara yang sudah bergetar. Kumohon, jangan menangis sekarang Bintang. Lirihku dalam hati.

“Kenapa? Kamu masih menyangkal masalalu kita?” tanyanya dengan kening yang berkerut seperti sedang menahan suatu kesakitan.

Aku melihat mas Robby memijit pelipisnya sendiri. Apa dia sedang sakit?

“Dengar Bintang, walau aku belum dapat mengingat dengan jelas bagaimana hubungan kita, tapi aku cukup tahu, kalau… kalau…” Mas Robby tak dapat melanjutkan kalimatnya karena tubuhnya lebih dulu ambruk ke lantai. Dia pingsan, dan aku berteriak panik.

***

Aku menatap lelaki yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Astaga, hal ini terulang lagi. Masih teringat jelas di dalam otakku ketika menatap mas Robby yang terbaring tak berdaya lima tahun yang lalu. Saat itu aku di paksa untuk meninggalkan dia. Dan aku benar-benar pergi meninggalkannya.

Kini, setelah aku membangun hidup beru dengan Bulan, kenapa dia kembali bertemu denganku? Apa takdir belum puas mempermainkanku?

Aku menjauh darinya. Pergi ke Jakarta dan hidup di lingkungan kumuh. Tapi aku tidak pernah menyangka jika lagi-lagi aku akan bertemu dengannya.

Aku mengusap air mataku yang tidak berhenti menetes. Lima tahun berlalu dan hatiku tetap sama, aku tidak bisa berpaling pada laki-laki lain, dan jujur saja, aku tidak dapat membayangkan jika Mas Robby memiliki wanita lain.

Tuhan, aku harus bagaimana? Aku harus seperti apa? Aku tidak bisa membiarkan dia berada di dekatku saat aku tahu jika semua itu akan menyakiti hati wanita lain. Dengan tekad bulat aku berdiri dan bersiap meninggalkannya. Tapi ketika kakiku akan melangkah pergi, pergelangan tanganku di cekal oleh Mas Robby.

“Jangan pergi.” Lirihnya.

Aku menatap ke arah Mas Robby seketika. Matanya sudah terbuka, dan tampak berkaca-kaca.

“Aku sudah mengingatmu, jangan pergi.” Ucapnya lagi dengan suara nyaris tak terdengar. Dan dengan spontan aku menghambur ke arahnya untuk memeluknya erat-erat.

“Aku merindukanmu Bintang. Aku merindukanmu.”

Aku menangis sesenggukan saat mendengar ucapannya.

“Kenapa kamu tidak mencariku? Kenapa kamu meninggalkanku? Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.” Lanjutnya yang kini ku yakini jika mas Robby sudah ikut menangis denganku.

***

-Robby-

 

Ini sudah tiga hari aku di rawat di rumah sakit. Semua ingatkanku tentang Bintang sudah kembali pulih. Bintang istriku, dan aku berniat untuk menikahinya lagi nanti ketika aku sudahg sembuh. Selama tiga hari terakhir, Bintanglah yang merawatku di rumah sakit.

Ibuku bahkan tidak tahu jika aku sakit dan ingatanku sudah kembali pulih. Aku hanya menghubungi Ibu di malam pertama aku di rawat di rumah sakit, memberikan alasan jika aku harus keluar kota selama seminggu lamanya. Ya, dengan begitu Ibu tidak akan curiga saat aku sudah kembali bersama dengan Bintang.

Hubunganku sendiri dengan Bintang sudah kembali membaik. Bintang tak lagi menyangkal masa lalu kami. Dia bahkan membantu merawatku selama tiga hari terakhir. Sedangkan Bulan, ia titipkan sementara di rumah tantenya.

Aku melihat pintu ruang inapku di buka seseorang. Itu pasti Bintang. Saat sore seperti saat ini, dia memang datang, dan menemaniku hingga pagi. Bintang masuk, dia terlihat sedang membawakan sesuatu untukku.

“Sudah baikan Mas?” tanyanya sambil meletakkan rantang mungil di mejat tepat sebelah ranjang yang sedang ku baringi. Kepalanya tak berhenti menunduk, dan aku tahu jika dia masih bersikap canggung terhadapku.

“Belum.” Jawabku dengan suara parau.

“Kata dokter kamu sudah boleh pulang hari ini.”

“Tapi aku tidak ingin pulang.”

“Kenapa?”

“Di rumah tidak ada yang merawatku seperti kamu merawatku. Aku ingin kamu selalu perhatian seperti sekarang ini, meski aku harus sakit dulu.”

“Kamu nggak boleh ngomong gitu Mas, istri dan anak kamu pasti bingung nyariin kamu.”

“Kamu istriku, Bulan anakku.” Jawabku cepat.

“Mas, jangan begini. Oke, aku sudah mengakui jika kita memiliki masa lalu, tapi kumohon, jangan membawa masalalu untuk menghadapi masa yang akan datang. Aku sudah bahagia dengan Bulan, dan aku yakin kamu juga sudah bahagia dengan istri dan puteramu.”

“Bintang.”

“Mas, ini terakhir kalinya aku ke rumah sakit menjengukmu. Aku tidak mau merasa bersalah karena sudah menyakiti hati wanita lain.”

“Wanita lain?” Aku bangun seketika. “Bintang, kamu salah paham. Aku tidak memiliki wanita lain.”

“Jangan bohong Mas, lalu bagaimana bisa ada Ivander kalau kamu tidak memiliki istri?”

“Astaga, jadi aku belum bercerita denganmu? Ivander adalah anak yang ku adopsi dari salah satu panti asuhan di Bandung. Usianya bahkan lima bulan lebih tua daripada Bulan. Kalau dia anakku sendiri, itu tandanya aku sudah menghianatimu ketika kita masih bersama dulu, Bintang.”

Aku melihat raut terkejut yang di tampilkan Bintang. Jadi selama ini dia salah paham terhadapku? Dia menyangka jika aku sudah menikah dan bahagia dengan wanita lain? Yang benar saja. Meski aku hilang ingatan, tapi hatiku seakan tidak kehilangan memorinya. Hatiku selalu menolak jika aku dekat dengan wanita lain, dan kini aku baru sadar jika semua itu karena hatiku sudah menyisihkan tempat abadi untuk seorang Bintang, meski ketika otakku tak dapat mengingatnya.

Secepat kilat kuraih pergelangan tangan Bintang kemudian menariknya hingga kini Bintang duduk di atas ranjang rumah sakit dengan posisi membelakangiku. Aku memeluk tubuh Bintang seketika lalu menyandarkan daguku pada pundaknya.

“Mas.”

“Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa kamu pergi dariku?”

“Uum, aku..”

“Apa ibu yang menyuruhnya?” tanyaku penuh selidik.

“Mas, bukan begitu. Saat itu aku perlu dana untuk operasi kamu. Dan aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa selain pada keluarga kamu.”

“Jadi kamu benar-benar datang kerumah ibu dan meminta pertolongan padanya?”

Bintang hanya menganggukkan kepalanya.

“Apa Ibu memaksamu pergi?”

Bintang menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, tapi aku cukup tahu diri karena aku merasa bersalah sudah membuat hidupmu sesah saat bersamaku, Mas. Aku nggak mau melihat kamu menderita.”

“Tapi tidak dengan meninggalkanku Bintang. Aku memang hilang ingatan, tapi hatiku selalu merasakan perasaan sesak tak nyaman, seperti ada sesuatu yang nggak seharusnya aku lupakan.”

“Maafkan aku.” Hanya itu yang di ucapkan Bintang.

Aku menghela napas panjang. “Oke, aku akan memaafkanmu, asalkan kamu mau menikah kembali denganku.”

Bintang membulatkan matanya seketika. “Mas. Aku nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Ibu tidak akan merestui kita.”

“Aku tidak peduli. Aku tetap akan menikahimu kembali.” Tegasku tak terbantahkan.

***

Aku akhirnya pulang, dengan Bintang dan Bulan bersamaku. Bintang terlihat gugup, dan tampak sekri raut ketakutan di wajahnya. Hanya saja aku selalu menggenggam tangannya, menenangkannya suapaya dia tidak gugup.

Sampai di rumah Ibu, aku lantas masuk masih dengan menggenggam telapak tangan Bintang. Sedangkan Bulan sudah tertidur dalam gendonganku.

“Robby, akhirnya kamu..” kalimat ibu menggantung ketika melihatku yang sudah berdiri dengan Bintang di sebelahku.

“Kenapa.. Kenapa..” Suara ibu terpatah-patah.

“Harusnya aku yang tanya Bu, kenapa ibu tega memisahkan kami?” tanyaku dengan suara yang kubuat setenang mungkin, padahal kini emosiku sudah memuncak di kepala.

“Robby, Ibu nggak memisahkan.”

“Oh ya? Tapi kupikir dengan tidaak menceritakan tentang Bintang saat aku hilang ingatan, itu sama saja memisahkanku dengan Bintang Bu, lihat, aku sudah memiliki seorang puteri yang berusia lebih dari lima tahun, dan aku baru mengetahui kenyataan itu kemarin? Ibu pikir bagaimana perasaanku?”

“Robby, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”

“Dan yang terbaik untukku hanya bersama dengan Bintang, Bu. Tolong Ibu mengerti.” Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku pada Bintang. Sedangkan dari sudut mataku, kulihat Bintang semakin menundukkan kepalanya.

“Bu, hanya dia yang mampu membuatku melupakan Allea, hanya dia yang mampu membuatku jatuh cinta lagi. Jadi kumohon, jangan memaksaku untuk meninggalkan dia.”

“Robby.”

“Aku akan kembali menikah dengannya. Dan keluar dari rumah ini dengan Ivander.”

“Mas.” Ucap Bintang. “Kamu nggak perlu lakuin itu.”

“Kenapa? Aku hanya ingin hidup bersama dengan orang yang kucintai, bersama istri dan anak-anakku.”

“Tapi kamu nggak bisa kembali menentang ibu, lalu berakhir mengerikan seperti lima tahun yang lalu. Aku nggak sanggup melihat kamu hidup susah Mas.”

“Kamu pikir aku sanggup melihatmu dan Bulan hidup susah seperti sekarang ini? Kamu pikir aku dapat memaafkan diriku sendiri saat tahu jika aku sudah melupakan kalian selama lima tahun terakhir?”

Bintang hanya diam, Dia menundukkan kepalanya menyadari jika perkataanku memang benar.

“Aku akan tetap pergi dari rumah ini jika Ibu masih tak dapat menerima hubungan kita.” Tegasku sekali lagi, lalu menyeret paksa Bintang masuk menuju ke kamarku.

***

Lima bulan berlalu…

Aku akhirnya bisa hidup bersama lagi dengan Bintang, Bulan, dan juga Ivander. Malam itu ketika aku pulang kerumah membawa Bintang dan Bulan, aku langsung pergi begitu saja meninggalkan rumah dengan membawa Ivander bersamaku.

Tiga hari setelahnya, aku kembali melakukan pernikahan dengan Bintang. Dan pernikahanku itu lagi-lagi tanpa restu orang tuaku.

Aku tidak mengetahui lagi bagaimana kabar Ibu. Mengingatnya membuatku sedih. Aku tidak bisa bersikap kasar pada Ibu, dan sebenarnya aku juga tak bisa meninggalkannya, tapi bagaimana lagi, aku juga tak dapat meninggalkan Bintang dan Bulan. Mereka terlalu berharga untukku. Dan mereka membutuhkanku. Akhirnya kini, kami hidup bersama sebagai keluarga kecil di dalam rumah kontrakannya.

Tentang pekerjaan, aku tetap bekerja di kantor Renno. Tentu saja aku membutuhkan pekerjaan yang bagus, mengingat kini aku memiliki dua orang anak yang harus di cukupi kebutuhannya. Beruntung Renno masih menerimaku dengan senang hati.

Berkali-kali Renno menasehatiku, menyuruhku untuk pulang. Tapi aku tak pernah mengindahkan sedikitpun nasehatnya. Yang ku ingin hanya satu, Ibu merestui hubunganku dan juga Bintang, sesederhana itu, maka aku akan kembali pulang. Tapi jika Ibu masih bersikukuh pada keinginannya, maka sampai kapanpun aku tidak akan pulang.

Aku melangkah, menuju ke sebuah kamar tempat Bulan dan Ivander tertidur nyenyak. Di sana masih ada bintang yang merapikan baju sekolah yang akan mereka kenakan besok.

Tanpa banyak bicara lagi, kupeluk erat tubuh Bintang dari belakang, sesekali mengecupi tengkuk lehernya.

“Sudah malam, kamu nggak istirahat?” tanya ku dengan suara parau.

“Sebentar lagi selesai. Aku harus menyiapkan semuanya supaya besok mereka tidak telat.”

“Istriku sangat rajin.” Aku kembali menggodanya, telapak tanganku kini bahkan sudah menyusup masuk di balik baju yang ia kenakan.

“Mas..”

“Aku merindukanmu.” Bisikku parau. Dan tanpa banyak bicara lagi aku memutar tubuh Bintang hingga menghadapku seutuhnya. Lalu kulumat habis bibirnya, mencumbu dengan panas hingga dia terengah. Ohh Bintang, kamu membuatku gila.

Akhirnya aku membimbingnya keluar dari kamar anak-anak menuju ke kamar kami. Sampai di dalam kamar, aku kembali menarik tubuhnya hingga menempel pada tubuhku, lalu kembali mencumbu bibir ranumnya, menggodanya hingga dia kewalahan dengan gairah yang berasal dariku. Sampai kemudian kami berakhir dengan tubuh menyatu, mengerang satu sama lain, dan saling menatap dengan tatapan penuh cinta masing-masing.

***

Keesokan harinya…

Aku melihat Bintang masih sibuk menyiapkan bekal anak-anak di dapur, tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengodanya. Dengan santai aku memeluknya dari belakang. Aku bahkan tidak menghiraukan Bulan dan Ivander yang sedang sibuk menyantap sarapannya di meja makan.

“Mas, aku nggak enak di lihat anak-anak.”

“Memangnya kenapa? Mereka pasti mengerti kalau Papanya sangat mencintai Mamanya.”

“Ya, aku tahu, tapi tidak perlu mempamerkan kemesraan kita di depan mereka.”

“Biarlah, toh mereka asik dengan urusannya sendiri kan?” Bulan hanya menghela napas panjang, tanda jika dia mengalah dengan perdebatan kecil kami.

Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Aku mengerutkan kening ketika mendapati nomor baru yang menghubungiku.

“Halo?” akhirnya kau mengangkat telepon tersebut, karena ku pikir mungkin itu hal penting.

“Mas, cepat ke rumah sakit Centra Medika, ibu kena serangan jantung.” Tubuhku menegang seketika. Itu Tannia, adikku. Suaranya terdengar panik dan ketakutan. Dan astaga, dia bilang ibu terkena serangan jantung?

Aku tercengang cukup lama, hingga kau beru sadar ketika Bintang memanggil-manggil namaku.

“Ada apa Mas?”

“Kita harus ke rumah sakit.”

“Siapa yang sakit?”

“Ibu kena serangan jantung.” Bintang terkejut dengan jawabanku, secepat kilat ia membereskan peralatan dapur. Kemudian membereskan keperluan Bulan dan Ivander.

“Aku akan menghubungi guru mereka kalau hari ini mereka ijin.” Aku menganggukkan kepalaku begitu saja. Pikiranku terlalu kosong. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Ibu? Apa yang harus ku lakukan? Aku benar-benar anak yang durhaka.

***

-Bintang-

Mas Robby terlihat sangat ketakutan. Aku tahu apa yang di rasakannya. Tentu dia takut kehilangan ibunya sebelum ia meminta maaf dengan apa yang sudah di lakukannya selama ini. Dia memilihku di bandingkan dengan ibunya sendiri, dan kini ibunya masuk rumah sakit. Tentu Mas Robby takut terlambat dan kehilangan ibunya.

Mas Robby kini masih duduk di kursi tepat sebelah ranjang Ibunya, dengan mata yang sudah basah karena menangis. Sedangkan Ibu sendiri masih belum ingin membuka matanya. Astaga, aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika ada apa-apa dengan Ibu Mas Robby.

Tiba-tiba Tannia duduk tepat di sebelahku. Sedangkan suaminya masih berdiri tepat di sebelah pintu masuk. Ya, Tannia, Adik Mas Robby memang sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya sejak dua tahun yang lalu.

“Bagaimana kabarmu, Kak?” Aku terkejut mendengar sapaan yang di lontarkan Tannia yang terdengar ramah di telingaku. Kupikir dia tidak menyukaiku, tapi kenpa dia bersikap ramah padaku?

“Ba, baik.” Jawabku tergagap.

“Anak-anak gimana?” tanyanya lagi.

Aku meirik ke arah Bulan yang duduk tepat di sebelahku dengan memainkan mainannya bersama dengan Ivander.

“Baik juga.” Jawabku lagi.

Tannia kemudian meraih telapak tanganku kemudian menggenggamnya erat-erat. Aku menatapnya dan wanita itu berkaca-kaca.

“Maafkan aku Kak, dulu aku tidak mengerti apapun, dan aku hanya bisa bersikap egois. Sekarang aku mengerti apa itu cinta, aku mengerti kalian saling mencintai, dan tidak seharusnya aku dan Ibu memisahkan Mas Robby dan kak Bintang dulu.” Lirihnya dengan tulus.

Tanpa banyak bicara lagi ku peluk tubuh Tannia, dan aku ikut menangis dengannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Tannia, yang ku tahu adalah dia saat ini benar-benar tulus, aku merasakan ketulusannya.

“Maafkan Ibu juga Kak. Aku yakin, Ibu juga menyesali perbuatannya dulu, hanya saja, Ibu terlalu malu untuk mengakuinya.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Kalian nggak salah, aku mengerti kenapa aku dulu harur pergi meninggalkan Mas Robby, kalian nggak salah, karena aku tahu, kamu dan Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Mas Robby.”

“Tetap saja kami salah, Kak. Maafkan kami.”

Kali ini aku menganggukkan kepalaku. Mengalah dengan kekeraskepalaan Tannia. Ahhh, beginikah bahagianya mendapat restu dari sang adik?

***

Dua hari kemudian, ibu akhirnya membuka matanya. Dia belum bisa melakukan apapun, yang hanya bisa dia lakukan hanyalah menangis sambil menatap ke arah Mas Robby.

Aku memberanikan diri untuk mendekat dengan Bulan dan Ivander. Ibu yang melihatnya langsung mengulurkan jemarinya, mengusap lembut pipi Bulan dan mencubit gemas hidung Ivander. Aku tersenyum meski pipiku masih basah karena airmataku yang tidak berhenti menetes.

Ibu menatap ke arahku, kemudian mengisyaratkan supaya aku mendekat ke arahnya. Akhirnya aku mendekat, kemudian berbisik di telinga Ibu.

“Ibu harus sembuh. Kalau ibu sembuh, aku akan pergi meningglkan Mas Robby. Aku bahkan akan meninggalkan Bulan untuk kalian. Ibu harus sembuh.”

“Jangan pergi.” Dan jawaban serak dari Ibu, benar-benar membuatku mematung tak bergerak sedikitpun. Hanya dua kata tapi efeknya begitu dahsyat pada diriku.

***

Tiga bulan kemudian…

 

“Ayo, cepat pakai sepatunya sendiri-sendiri, periksa bukunya kembali, jangan sampai ada yang ketinggalan.” Ucapku sambil meninggalkan kamar Bulan dan Ivander.

Aku berjalan masuk ke dalam kamarku sendiri, dan mendapati Mas Robby masih berantakan di sana. Maksudku, dia masih telanjang dada dengan handuk kecil di pinggulnya.

“Mas, kamu kok belum siap-siap sih? Anak-anak sudah hampir siap.” Ucapku dengan nada sedikit kesal.

Mas Robby hanya tersenyum. “Kemarilah.” Dia meraih pergelangan tanganku kemudian memaksaku duduk di atas pangkuannya.

“Apa yang kamu lakukan?” pekikku ketika dia mulai memelukku erat dari belakang.

“Aku mencintaimu.” Ucapnya dengan nada menggoda.

“Sudah ah, jangan nggombal terus.”

“Kok Nggombal sih?”

“Ucapan cinta kalau di ucapin terus menerus akan jadi membosankan dan tidak memiliki maknanya lagi.”

“Itu menurut kamu, tidak menurutku.” Jawabnya dengan mengerucutkan bibir. Aku tersenyum.

“Sudah, ayo siap-siap. Nanti telat ke kantornya.”

“Aku mau di siapkan.” Jawab Mas Robby dengan nada menggoda. Dan aku hanya mampu menggelengkan kepalaku.

Aku bangkit, kemudian menuju ke arah lemari, menyiapkan bahkan memakaikan kemeja untuk Mas Robby. Setelah dia selesai berganti dengan kemeja dan juga celananya. Dia memaksaku memakaikan dasi untuknya.

“Aku naik jabatan.” Bisiknya.

“Benarkah?”

Dia mengangguk pasti. “Renno benar-benar baik. Dia menaikan jabatanku. Bahkan dalam waktu dekat, dia memberikan sebuah aset perusahaan Handoyo Grup menjadi atas namaku.”

“Ya, dia benar-benar baik. Sangat pantas bersanding dengan Allea yang seperti malaikat.” Jawabku. Aku memang mengenal Allea, karena beberapa kali kami bertemu pada acara keluarga.

“Kamu nggak sedang cemburu kan?” Mas Robby menggodaku.

“Enggaklah, kenapa aku cemburu?”

“Mungkin saja.” Jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya. Dan aku hanya mampu tersenyum. Aku memang tahu, bagaimana hubungan rumit Mas Robby dulu yang menyukai Allea, tapi tentu itu tak lantas membuatku cemburu. Bagiku itu dulu, sekarang kami sudah bahagia, dan aku tidak peduli tentang masa lalu Mas Robby.

“Sayang, aku mau..”

“Mas, aku belum ngurusin Ibu. Nah, sudah rapi sekarang. Jadi aku mau ke kamar Ibu dulu ya.” Ucapku cepat sambil bergegas pergi. Tapi saat aku melangkah pergi, Mas Robby kembali menarik pergelangan tanganku dan tanpa banyak bicara lagi, dia menyambar bibirku dan melumatnya sebentar.

“Aku selalu menginginkan itu.” Ucapnya sambil mengerlingkan mata. Dasar penggoda!!! Umpatku dalam hati.

***

Pagi itu akhirnya kami sarapan bersama seperti biasanya. Hubunganku dengan Ibu Mas Robby sudah membaik. Sangat baik malah. Ibu ingin aku sendiri yang merawatnya selama dia dalam masa pemulihan, dan itu membuatku mengenalnya lebih baik dan lebih dekat.

Tannia sudah kembali tinggal di rumah suaminya. Dan akhirnya hanya ada Aku, Ibu, Mas Robby, Ivander dan Bulan lah yang tinggal di rumah ini dengan beberapa pengurus rumah.

Hidupku kini terasa begitu sempurna, begitu bahagia dengan orang-orang yang ku kasihi. Ahh.. semoga ini bukan hanya mimpi.

Setelah sarapan bersama, Ibu mengantar para cucunya untuk menuju ke halaman rumah dan bersiap berangkat ke sekolah dengan Mas Robby. Sedangkan aku sendiri masih sibuk membereskan bekal untuk mereka bertiga.

Kurasakan lengan Mas Robby meraih tubuhku hingga menempel pada tubuhnya.

“Kamu apaan sih Mas? Nggak enak di lihat mereka.” Bisikku sambil melirik ke arah beberapa pengurus rumah yang kini sedang sibuk membersihkan dapur.

“Kamu rajin sekali.”

“Tentu saja, aku menantu di rumah ini.”

“Hahaha, istriku mulai sombong.” Godanya. Dan aku hanya dapat tersenyum malu. Mas Robby mendekatrkan bibirnya pada telingaku, lalu berbisik di sana.

“Aku ingin memberikan Bulan dan Ivander seorang adik.” Aku membulatkan mataku seketika pada Mas Robby, sedangjkan dia hanya memasang cengiran khasnya.

“Nanti malam, kita akan memulai ritualnya.” Ucapnya lagi dan yang bisa ku lakukan hanyalah ternganga dengan kelakuannya. Astaga, sejak kapan dia berubah menjadi tukang penggoda seperti itu?

***

-Robby-

Bahagia…

Itulah yang ku rasakan saat ini dengan Bintang. Ibu sudah menerima kehadiran Bintang, dan tidak ada yang membahagiakanku selain hal itu. Bintang sangat menyayangi Ibu, begitupun sebaliknya, meski Ibu terlihat biasa-biasa saja dengan Bintang, tapi aku tahu, jika ibu sangat perhatian dengan istriku tersebut.

Bulan dan Ivander akhirnya masuk ke dalam mobil dengan di antar oleh Ibu. Setelah itu Ibu kembali masuk ke dalam rumah. Tinggallah aku yang hanya berdua dengan Bintang di halaman rumah.

Aku menghadap ke arahnya, sesekali mengecup bibir mungilnya.

“Pikirkan baik-baik rencanaku tadi.” Ucapku dengan suara serak. Ya, aku ingin menambah seorang adik untuk Bulan dan Ivander. Ah, pasti menyenangkan sekali jika banyak anak-anak di dalam rumah.

“Ya, Aku sudah memikirkannya.” Ucap Bintang sembari memainkan dasiku.

Aku mengangkat sebelah alisku. “Jadi…”

“Ya, kita akan menambah seorang adik untuk Bulan dan Ivander.”

Aku tersenyum lebar. Ku tarik tubuh bulan hingga menempel pada tubuhku, kemudian kulumat habis bibir mungilnya dengan ciuman penuh hasratku, membuatnya sesekali mengerang dalam ciuman panas kami.

“Papa… Papa, kami sudah telat tahu. Papa..”

Suara cerewet dari dalam mobil menghentikan aksiku. Itu Bulan dan Ivander yang sepertinya memang sengaja menggangguku. Ahh dasar anak-anak nakal. Aku menatap Bintang, dia masih terengah karena ciuman panas kami, dan begitupun denganku.

“Aku mencintaimu.” Ucapku begitu saja tanpa sadar.

Bintang memejamkan matanya sebentar, berjinjit lalu mengecup lembut pipiku. “Aku mencintaimu juga.” Bisiknya.

Aku kembali tersenyum. “Baiklah, aku berangkat.” Ucapku sambil membalikkan tubuh lalu pergi menuju ke arah mobil, tapi baru beberapa langkah, aku kembali lagi dan secepat kilat aku mengecup lembut kening Bintang.

Aku kembali berbalik dan nuju ke arah mobil sembari berteriak. “Tunggu aku nanti malam.” Bintang hanya terlihat tersenyum, dia menertawakan kelakuanku. Begitupun dengan kedua bocah yang duduk di jok belakang mobilku. Keduaanya terlihat menggerutu kesal karena terlalu lama menungguku.

“Mau ice cream?” tanyaku saat mulai menyalakan mesin mobil.

“Mau, mau, mau.” Teriak Bulan dan Ivander secara bersama-sama.

“Baiklah, nanti Papa belikan ice cream yang banyak, dengan syarat, nanti malam harus bobok dengan Oma dan tidak boleh mencari-cari Mama, oke?”

“Oke, Pa.” lagi-lagi keduanya menjawab serentak. Dan aku hanya bisa tertawa dalam hati.

Ku jalankan mobilku keluar dari halaman rumahku, sesekali aku menatap ke arah Bintang. Dia tampak bahagia dan melambaikan tangannya pada kami hingga mobil yang ku tumpangi menjauh dari rumah. Aku masih melihat bayangan Bintang dari kaca spion mobilku.

Ahh wanita itu. Wanita sederhana yang mampu membuatku jatuh cinta. Terimakasih Bintang, sudah memberikan kebahagiaan ini untukku, terimakasih, sudah kembali hadir dalam hidupku… dan terimakasih, karena masih bersedia menjadi Bintangku…

 

***The End***

thank you udah membaca dan makacih bgt responnya.. ahhh nggak nyangka banyak yang suka kisahnya mas Robby heheheheh See you next story… *KissKiss

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 2

Comments 14 Standard

romantic-boyfriend-girlfriend-whatsapp-dp-profile-pic-2Bintangku (Robby story)

Yang belom baca part 1 silahkan klik di sini

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

“Ada apa Robb?”

“Eemm, apa dulu aku mengenal wanita yang bernama Bintang?”

Pertanyaanku sontak membuat Ibu membulatkan matanya seketika. Terlihat dengan jelas jika ia sangat terkejut dengan pertanyaanku. Kenapa? Apa dulu aku memang mengenal wanita yang bernama Bintang? Karena jujur saja, aku tidak merasa asing dengan nama itu, dan melihat Bintang, Ibu dari Bulan, aku merasakan jika ada sesuatu yang salah di antara kami. Apa ini hanya perasanku saja?

***  

 

Part II

-Robby-

 

“Ke, kenapa kamu bertanya tentang nama itu?” tanya Ibu dengan wajah yang sudah memucat. Aku tahu kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

“Ada apa Bu? Ibu terlihat panik.”

“Ibu nggak panik. Tapi kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang Bintang?”

“Bintang itu Ibu dari Bulan, teman baru Ivander. Dan kupikir, aku merasakan sesuatu saat kami bertemu tadi.”

Ibu tampak shock dengan penjelasanku. Ada apa ini?

“Robby, Bintang itu bukan siapa-siapa, jadi kamu tidak perlu lagi bertemu dengannya. Lagian, nggak bagus terlalu dekat dengan orang asing.”

“Aku hanya merasakan sesuatu Bu.”

“Perasan kamu saja!!!” Ibu bahkan menjawab pertanyaanku dengan sedikit berteriak. Aku hanya hilang ingatan, aku tidak bodoh. Ada yang ibu sembunyikan dariku tentang wanita yang bernama Bintang. Entah Bintang Ibu dari Bulan, atau Bintang yang lainnya.

Aku hanya diam, sedangkan Ibu memilih pergi meninggalkanku setelah mengelak dari semua pertanyaan yang ku ajukan.

Bintang… siapa sebenarnya kamu?

***

Aku kembali memparkirkan mobilku di bawah pohon beringin di pinggiran jalan. Keluar dari dalam mobil, aku memasuki sebuah gang kecil, dimana di sana terdapat sebuah rumah mungil yang di tinggali Bintang dan Bulan.

Aku berjalan menuju ke rumah itu. Tampak sepi, dan aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Lama aku berdiri di halaman rumah kecil itu, hingga kemudian pintu rumah tersebut terbuka dan terlihat sosok wanita dari dalam.

Dia Bintang. Dan jantungku berdebar seketika.

Bintang tampak terkejut menatap keberadaanku. Matanya terpaku menatap mataku, da kupikir, dia sedikit berkaca-kaca.

“Ke, kenapa anda di sini?” tanyanya.

“Ada yang ingin saya bicarakan.” Jawabku sembari sedikit mendekat ke arah Bintang.

“Maaf, saya sibuk.”

“Bintang.” Panggilku. Memanggil namanya saja kembali membuatku bergetar. Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi?

“Tolong, jangan lagi temui saya.”

“Kita benar-benar pernah saling mengenal dulu, kan?” kucekal pergelangan tangan Bintang sedangkan tubuhku berjalan semakin mendekat kearahnya.

“Saya mohon. Jangan seperti ini.” Rontanya. Tapi aku tak beduli. Kuseret Bintang masuk ke dalam rumahnya lalu ku tutup pintu rumahnya dan menguncinya.

“Apa yang anda lakukan?!” tanyanya dengan suara yang di buatnya keras.

“Saya tidak ingin mempersulit kamu Bintang, saya hanya ingin tahu kebenarannya. Apa kita pernah mengenal sebelumnya atau tidak?”

“Saya sudah menjawab, kalau kita tidak pernah saling mengenal.”

“Tapi tubuh kamu tidak berkata begitu.” Ucapku dengan nada dingin.

“Kamu tahu, apa yang saya rasakan ketika pertama kali saya membuka mata dan mendapati seluruh ingatan saya hilang? Semuanya Hampa Bintang. Saya merasa jika diri saya adalah orang terbodoh di dunia ini. Saya tidak mengingat apapu, tidak dapat merasakan perasaan apapun. Tapi satu hal yang saya rasakan saat itu. Perasaan sesak di dada yang entah kenapa membuat saya berpikir jika ada sesuatu yang salah di sini. Ada sesuatu hal besar yang harusnya tidak pernah saya lupakan. Dan ketika melihat kamu untuk pertama kalinya, perasaan seperti itu kembali muncul. Hati saya seakan mengingat kamu, tapi tidak dengan kepala saya.” Jelasku sungguh-sungguh.

Bintang hanya ternganga mendengar penjelasanku.

“Jadi saya mohon. Tolong jujur, apa kita pernah mengenal sebelumnya, atau tidak.”

Aku melihat Bintang menangis. Dia pernah mengenalku, aku tahu itu. Hanya saja aku tidak yakin apa yang membuatnya mengingkari kenyataan itu.

“Maaf, tapi kita benar-benar tidak pernah bertemu sebelumnya.” Ucapnya sambil menundukkan kepala.

“Kamu berkata seperti itu tanpa berani menatapku. Dan aku tahu itu semua karena kamu berbohong.”

“Saya tidak bohong.”

“Kalau begitu tatap aku dan bilang kalau kamu tidak pernah mengenalku.” Desisku tajam.

Bintang masih menangis sesekali menggelengkan kepalanya. Aku tersenyum dan bersiap meninggalkannya.

“Terimakasih. Dengan begini aku mengerti, dan aku akan mencari tahu sendiri tentang kamu dan masalaluku.” Ucapku penuh dengan nada ancaman lalu melangkah pergi meninggalkan Bintang begitu saja.

***

Aku keluar dari dalam gang rumah Bintang lalu menuju ke arah mobilku yang masih terparkir di pinggir jalan. Sampai di sana, aku berdiri mengusap wajahku dengan kasar sesekali merutuki kebodohanku. Bodoh!!! Harusnya aku tidak perlu bersikap kurang ajar pada Bintang.

Ketika aku akan masuk ke dalam mobil, seorang laki-laki paruh baya memanggil namaku.

“Mas Robby, kan?

Aku mengerutkan kening ketika menatap laki-laki tersebut. Dia sudah sedikit lebih tua, mungkin seusia ayahku jika ayahku masih hidup. Penampilannya sederhana dan kini dia sedang membawa kotak sol sepatunya.

Ya, dia Tukang Sol Sepatu. Bagaimana bisa dia mengenalku?

“Uum, maaf, apa kita pernah mengenal sebelumnya?” tanyaku.

Bapak tersebut tampak terkejut. Wajahnya lalu memerah dan berkata. “Oh, maaf, mungkin saya salah orang. Maaf Pak.” Jawab bapak tersebut sambil permisi untuk pergi.

Aku berpikir sebentar. Kulihat pakaian yang ku kenakan serta mobil mewah yang berada di hadapanku. Apa mungkin tukang sol sepatu tersebut mengenalku? Lalu kenapa dia pergi? Apa dia berpikir aku bukan orang yang di kenalnya? Tapi dia bisa dengan tepat memanggil namaku.

Sial!!! Dengan cepat aku berlari mengikuti tukang sol sepatu tersebut lalu memintanya untuk berhenti.

“Pak, bapak kenal saya?” tanyaku lagi.

“Maaf mas, sepertinya saya salah orang.”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. “Nggak mungkin, nama saya memang benar-benar Robby. Bapak kenal saya sebelumnya?” tanyaku lagi. Dan bapak tukang sol sepatu tersebut tampak bingung.

“Begini pak, saya kehilangan semua ingatan saya. Jadi bukan maksud saya bersikap sombong tidak mengenal bapak, tapi saya memang benar-benar hilang ingatan. Jadi saya mohon, kalau bapak mengenal saya sebelumnya, tolong ceritakan seperti apa saya yang dulu.”

Bodoh!!! Aku benar-benar seperti orang yang bodoh. Bahkan bisa di bilang aku Tolol. Ya, mau bagaimana lagi. Kehilangan ingatan memang membuatku menjadi bodoh. Bahkan jika ada orang yang sengaja membodohiku, mungkin aku akan percaya. Tapi entahlah, ku pikir tidak ada salahnya aku mempercayai laki-laki paruh baya di hadapanku ini.

“Jadi Mas Robby benar-benar hilang ingatan?” tanyanya dengan ekspresi terkejut.

Aku mengangguk lemah. “Ya, saya kehilangan ingatan sejak lima tahun yang lalu.”

“Oh, pantas saja saat itu saya tidak pernah melihat Mas Robby kembali pulang dengan mbak Bintang.”

Mataku membulat seketika, tubuhku menegang ketika laki-laki itu menyebut nama Bintang. Dia mengenalku, dia mengenal Bintang. Dan aku yakin, dia mengetahui semua masalaluku.

“Bapak mengenal Bintang juga?” tanyaku dengan wajah penuh harap.

“Tentu saja Mas, kita dulu kan tetangga saat di bandung.”

“Kita? Tetangga? Di Bandung?” tanyaku semakin bingung. “Kita perlu bicara pak.” Tegasku penuh dengan semangat.

***

Aku melirik kanan kiriku dengan sedikit tidak nyaman. Tadi aku mengajak mang Dadang, tukang sol sepatu tersebut ke sebuah restoran, tapi Mang Dadang menolak dan lebih memilih mengajakku ke sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan.

“Nggak nyaman mas? Maaf ya, dulu kita sering ngopi seperti ini saat masih di Bandung.” Aku termangu mendengar penjelasan mang Dadang. Benarkah dulu gaya hidupku seperti itu?

“Mas pasti makin bingung ya? Begini, saya mulai cerita saja apa yang saya tahu.”

Mang Dadang menyeruput kopi di hadapannya kemudian mulai bercerita padaku.

“Dulu, saya, istri dan anak saya tinggal di Bandung. Saya punya tetangga yang namanya Mbak Bintang, orangnya cantik Mas, tapi nggak lama, Mbak Bintang menikah, dan suaminya ikut tinggal di sana. Dan suaminya itu adalah Mas Robby.”

Tubuhku kembali menegang. Jantungku berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Aku? Suami Bintang adalah Aku?

“Penampilan awal Mas robby saat itu seperti sekarang ini, rapi, gagah, seperti orang kaya raya pada umumnya. Saya pikir saat itu mas Robby orang yang sombong, tapi ternyata enggak. Malah Mas Robby mau ikut saya kerja bangunan saat itu.”

“Kerja bangunan?” tanyaku dengan terkejut.

“Iya, kita dulu kan sering pindah-pindah kerja mas saat itu. Sampai kemudian Mas Robby jatoh dari lantai dua. Haduh, saya nggak tahu lagi mau gimana ceritain Mas. Mbak Bintang sedih banget. Pas dia pulang sendiri, saya pikir Mas Robby nggak selamat.”

“Saya parah?” tanyaku terpatah-patah.

“Iya, Mas kan harus operasi saat itu. Saya kasihan sama Mbak Bintang. Dia hamil besar saat itu mas. Dan butuh dana banyak buat biaya Mas Robby.”

Aku kembali tercengang. Tubuhku kembali menegang. Hamil? Jadi Bulan anakku?

“Nggak lama, Mbak Bintang pindah, saya nggak tahu kemana, tapi setahun setelah itu, saya juga pindah karena area rumah kita dulu kena penggusuran. Saya merantau ke jakarta sampai saat ini menjadi tukang sol sepatu…”

Mang Dadang terus bercerita, tapi aku sudah tak mampu lagi menerima cerita yang keluar dari mulutnya. Kepalaku terada berdentum, seakan puluhan, bahkan ratusan jarum kecil menusuk-nusuk otakku. Bayangan-bayangan itu berkelebat dalam ingatanku.

 

“Menikah? Yang benar saja.” bintang tampak terkejut dengan ucapanku.

“Ya, mari kita menikah, karena aku menyukaimu.”

“Enggak. Kita cuma pura-pura pak.”

“Dulu, tidak sekarang. Aku benar-benar menyukaimu Bintang.”

“Pak menikah bukan pekara mudah.”

“Dan aku akan membuatnya mudah untuk kita.”

***  

“Apa kita nggak salah melakukan ini?” Bintang bertanya dengan wajah sendunya ketika prosesi pernikahan kami selesai di selenggarakan.

“Enggak.”

“Tapi orang tua kamu tidak merestui kita, Pak.”

“Pak? Berhenti memanggil saya dengan panggilan ‘Pak’, saya suami kamu, bukan atasan kamu lagi.”

“Tapi pak…”

“Mas, Mas Robby.” Wajah Bintang memerah seketika mendengar permintaanku.

***  

“Bintang… aku mencintaimu.”

Ungkapan cintaku pada bintang terucap pertama kalinya ketika tubuhku berhasil menyatu dengan tubuhnya, tubuh istriku. Bintang, sejak kapan kamu membuatku jatuh bertekuk lutut mencintaimu?

“Aku juga mencintaimu.” Ucapnya dengan sedikit parau.

Ku kecup lembut bibir Bintang, bibir yang terasa manis saat indra perasaku menyentuhnya. Kulumat lagi dan lagi, seakan aku tak ingin berhenti membuainya dalam sentuhan penuh cinta.

“Aku mencintaimu Bintang, aku mencintaimu, aku mencintaimu.” Lagi dan lagi aku merapalkan kalimat tersebut sepanjang malam ketika bercinta dengan Bintang. Wanita yang sangat ku cintai.

***  

Aku memijit pelipisku ketika memori itu kembali hadir. Kepalaku semakin terasa nyeri. Dan aku tak dapat menahannya lagi. Dengan spontan aku berdiri, membuat semua yang ada di sekitarku menatapku dengan tatapan terkejut mereka, termasuk Mang Dadang.

“Ada apa mas?”

“Saya harus pergi.”

“Loh, tapi..”

Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetku dan memberikannya pada Mang Dadang. “Pak, tolong nanti ke alamat sini, temui saya. Saya akan membantu bapak sebisa saya, dan terimaksih untuk ceritanya.”

Aku pergi begitu saja setelah selesai memberikan kartu namaku pada Mang Dadang. Ya, Mang Dadang pasti menolak jika aku memberinya uang, maka aku hanya bisa memberinya pekerjaan yang lebih layak untuknya.

Dengan sedikit terhuyung, aku memasuki mobilku, menyalakan meminnya kemudian melaju cepat, memutar balik ke arah rumah Bintang. Aku harus menemuinya, aku harus menemui Bintang, istriku…

***

-Bintang-

 

Aku takut.

Aku takut jika tiba-tiba Mas Robby mengetahui semuanya lalu memutuskan merebut bulan dariku. Tidak!! Aku tidak bisa membiarkan itu.

Dengan cepat aku memasukkan pakaianku kedalam tas-tas besar. Aku harus pindah rumah secepatnya. Saat ini Bulan masih berada di sebuah tempat les melukis. Ya, meski masih TK, tapi Bulan memperlihatkan bakat terpendamnya.

Dia pandai sekali dan suka sekali melukis. Akhirnya sejak tiga bulan yang lalu aku memasukkannya di sebuah tempat les untuk melukis rekomendasi dari guru TK nya.

Bulan adalah anak yang sangat lucu, dan dia sangat pintar. Aku tidak mungkin memberikannya pada siapapun meski itu ayahnya sendiri yang memintanya.

Tadi apagi aku terkejut ketika mendapati Mas Robby berdiri di depan rumah kontrakanku. Darimana dia mengetahui aku dan Bulan tinggal di sini? Astaga, jika dia tahu, maka tidak menutup kemungkinan ia akan tahu masalalu kami dan status Bulan.

Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Bulan hanya puteriku dan dia tidak bisa di pisahkan dariku. Ketika aku sivbuk dengan berbagai macap pikiran di kepalaku, aku mendengar pintu depan rumah di buka dengan keras dari depan. Apa yang terjadi? Pikirku sembari bangkit dan menuju ke ruang tengah.

Tapi ketika aku sampai disana, tubuhku kaku seketika saat mendapati mas Robby yang sudah berdiri dengan tatapan tajam membunuhnya. Tidak, kumohon jangan bilang kalau dia sudah mengetahui semuanya tentang aku dan Bulan.

Tanpa banyak bicara lagi Mas Robby menutup pintu rumahku, lalu dia berjalan cepat ke arahku, mendorong tubuhku dan mengimpitnya di antara dinding.

“A, apa yang anda lakukan?” tanyaku dengan sedikit terpatah-patah.

“Kenapa kamu berbohong?”

Tuhan, pertanyaan itu seakan menghunus jantungku. Dia sudah mengetahui semuanya, dia sudah tahu tantangku dan juga Bulan. Apa dia sudah mengingat semua tentang masalalu kami?

Mas Robby mendekatkan wajahnya pada wajahku, bibirnya kini bahkan hampir menempel pada bibirku, dan yang bisa ku lakukan saat ini hanya menutup mataku.

“Katakan Bintang, kenapa kamu membohongiku?”

“Maaf.” Hanya itu jawabanku dengan suara yang sedikit ercekat di tenggorokan.

“Aku tidak akan mengampunimu Bintang. Aku tidak akan mengampunimu.” Dan setelah itu kurasakan sesuatu yang basah menyambar bibirku, melumatnya dengan panas dan juga kasar. Mas Robby menciumku secara membabi buta. Dan aku dapat merasakannya, rasa frustasi bercampur aduk dengan rasa rindu dalam ciumannya. Dan yang dapat ku lakukan hanyalah membalas apa yang sudah dia lakukan terhadapku saat ini.

 

-TBC-

Part 3 insha allah besok  malam yaa.. heheheh di bawah ini sedikit quote untuk part 3… ahh mas Robby ganteng bgt di sini.. jiaahahhahahah

Robby Hermawan

Robby Hermawan

Love Between Us – Part 11 (Calon Mertua?)

Comments 16 Standard

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

Part 11

-Calon mertua?-

Denny menatap Aira yang sudah duduk manis di pinggiran ranjangnya. Gadis itu tampak segar karena baru saja selesai mandi, tapi terlihat jelas jika gadis itu tidak nyaman dalam duduknya. Denny baru saja keluar dari dalam kamar mandi berjalan santai menuju lemari kecil yang berada tepat di hadapan Aira. Mengambil t-shirt lalu memakainya sesekali melirik ke arah Aira yang pipinya sudah merona merah. Aira tidak nyaman berada di dekatnya, Denny tahu itu. Tapi ia tidak ingin menyerah, bagaimana pun juga harus membuat Aira percaya lagi dengannya.

“Jadi, kenapa kamu mutusin aku saat itu?” tanya Denny tanpa basa-basi lagi sembari duduk tepat di sebelah Aira. Dengan handuk kecil yang masih melingkari lehernya. Sesekali Denny mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk tersebut.

Aira masih diam, ia masih kesal dengan Denny. Pastinya sekarang ia sedang gugup setengah mati karena berdekatan dengan pria yang tadi tidak berhenti mencumbunya. Ia merasakan jemari Denny meraih telapak tangannya, kemudian menggenggamnya erat-erat. Aira mengangkat wajahnya menatap wajah Denny yang terlihat sendu di matanya.

“Aku mohon, kasih tahu aku dimana letak kesalahanku. Aku akan memperbaikinya.”

Aira memalingkan wajahnya dengan berkata, “berapa banyak kekasihmu?” Denny mengerutkan kening karena tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Aira.

“Maksud kamu?”

“Aku sudah tahu semuanya, Den. Kamu hanyalah pria yang memanfaatkan kelebihanmu untuk mendapatkan gadis kaya dan mengeruk hartanya kan?”

“Aira, aku masih nggak mengerti apa yang kamu bicarakan?”

“Siapa wanita yang jalan sama kamu siang itu?” todong Aira marah.

“Jalan sama aku? Kapan? Aku nggak pernah jalan sama wanita manapun selain dengan kamu, dan..” Denny tampak berpikir sebentar. “Tunggu dulu, kamu melihatku?”

“Nggak, tapi ada yang melihatmu dan dia memberitahuku!” ucap Aira dengan ketus.

“Siapa?”

“Itu nggak penting Denny! Yang penting adalah kamu jalan dengan gadis lain lalu mengeruk hartanya. Mungkin itu juga nanti yang akan kamu lakukan denganku.”

“Kamu berpikir terlalu jauh,” ucap Denny seraya memaksa tubuh aira untuk menghadap ke arahnya.

“Dengar, aku nggak pernah main-main kalau sudah memiliki hubungan dengan seorang wanita. Kamu hanya salah paham, dan aku bisa menjelaskan semuanya. Aku nggak pernah keluar dengan gadis lain selain kamu dan adikku. Jadi bisa aku pastikan yang kamu lihat kemaren adalah Clarista, adikku.”

“Bagaimana aku percaya?. Sedangkan aku sendiri nggak tahu, apa kamu benar-benar punya adik atau hanya adik bohongan. Kamu terlalu misterius. Dan aku capek menebak-nebak sendiri tentang kamu Den.”

“Oke,” Denny kemudian mengusap sebelah pipi Aira sembari berkata, “besok, aku akan mengajakmu pulang ke rumah orang tuaku.” Aira membulatkan matanya seketika. Ia tidak menyangka jika Denny akan secepat itu mengenalkan dirinya pada kedua orang tua pria tersebut. Aira memang ingin tahu lebih tentang Denny, tapi bukan berarti langsung berkenalan dengan orang tuanya.

“Uumm, aku hanya ingin mengenal kamu lebih dekat lagi. Bukan berarti aku ingin kamu  mengenalkan aku secara langsung dengan orang tua kamu.”

“Kenapa? Kamu nggak mau? Aku hanya berusaha lebih serius denganmu Aira.” Denny menundukkan kepalanya sedikit malu. “Kita sudah melakukan ‘itu’, jadi aku pikir,” ucapnya tersendat, “aku ingin lebih serius lagi denganmu.”

“Denny, aku belum terlalu mengenalmu.” Aira memberikan pandangan ragu. Mereka baru mengenal satu sama lain. Apa yang ia harapkan jika Denny hanya memberikan harapan ilusi.

“Maka dari itu, besok aku akan menceritakan semuanya padamu.” Denny kemudian merengkuh tubuh Aira, memeluknya sesekali mengecup puncak kepalanya.

“Maafkan aku karena aku melakukan cara curang tadi.”

“Ayah akan membunuhku kalau dia tahu.”  Aira merasa bersalah.

“Dia nggak akan tahu, tidak sekarang, sebelum kamu menjadi istriku.” Aira terbelalak. Istri? Apa maksud Denny dengan istri?

***

Malam harinya, Denny benar-benar mengantarkan Aira ke rumah gadis tersebut. Di halaman rumah sudah ada Indra yang menundukkan kepalanya. Denny lantas keluar dari dalam mobil Aira lalu menuju ke arah Indra.

“Pak Rizky terlihat marah,” ucap Indra pada Denny sambil memberikan kunci motor Denny.

“Aku sudah membawanya pulang, Pak Rizky nggak akan marah lagi.” Jawab Denny dengan santai. Ia lalu berlari menuju ke arah Aira yang kini sudah menunggunya tepat di depan pintu rumah gadis itu.

“Aku takut ayah marah.” Aira terlihat gelisah. Ia meremas tangannya.

“Aku akan tanggung jawab.” Denny sambil mengusap lembut pipi Aira. Di lihatnya bibir ranum Aira yang entah kenapa kini membuat Denny seakan tidak bisa menahan dirinya. Ia mendekatkan wajahnya, berusaha untuk menggapai bibir ranum Aira. Sedangkan Aira sendiri hanya mampu memejamkan matanya, tapi ketika bibir mereka hampir saja bertautan. Pintu dihadapan mereka terbuka seketika menampilkan sosok sangar di baliknya.

Itu Rizky, ayah Aira.

Mereka saling menjauhkan diri dengan wajah merah masing-masing. Aira menundukkan kepalanya, sedangkan Denny terlihat tidak gentar menatap tatapan berapi dari ayah Aira.

“Baru pulang Aira?” ucap Rizky dengan nada dinginnya.

“Saya tadi sedikit ada perlu dengan Aira.” Denny yang menjawab. Aira ketakutan hingga tidak bisa bicara apapun. Ia merasa tertangkap basah.

“Ayah pikir hubungan kamu dengan anak saya sudah berakhir saat kamu membuatnya menangis beberapa hari yang lalu.”

“Itu hanya salah paham Om. Saya sudah memperbaikinya.”

“Benarkah begitu Aira?” tanya Rizky sambil menatap puterinya yang kini sudah bergelayut dilengan Denny.

“Ya, ayah.” Tak berani melihat mata sang ayah yang sekelam malam.

“Kalau begitu, masuklah. Dan kamu, cepat pulang. Ini sudah malam!” ucap Rizky dengan tegas lalu pergi meninggalkan Denny dan Aira yang masih mematung di depan pintu rumahnya.

“Uum, aku nggak bisa memikirkan bagaimana kalau ayah tahu apa yang kita lakukan tadi.”

“Mungkin dia akan membunuhku.” Jawab Denny dengan sedikit tersenyum.

“Jangan bercanda, ini nggak lucu tahu!” gerutu Aira.

Denny kembali membelai pipi Aira dengan lembut. Itu bagaikan candu baginya, pipi yang merona seakan ingin menggigitinya lembut. “Aku tahu, kamu belum memaafkanku. Tapi aku akan berusaha membuatmu memaafkanku dan menerimaku kembali. Aku benar-benar nggak mau kamu meninggalkan aku, Aira.”

Aira menunduk malu. Pipi memanas mendengar ucapan dari Denny.

“Sudahlah, aku mau masuk dulu,” ucap Aira sambil bergegas msuk. Sebenarnya ia hanya ingin sedikit menghindari Denny. Oh, Denny benar-benar membuatnya gugup setengah mati. Jantungnya tidak berhenti jumpalitan ketika mendengar kalimat-kalimat manis yang terucap dari bibir pria itu.

“Aira!” panggil Denny sambil meraih pergelangan tangan Aira. Secepat kilat Denny menariknya kemudian mengecup lembut kening Aira. “Besok aku akan menjemputmu. Aku akan mengenalkanmu dengan orang tuaku.” Denny sedikit berbisik.

Aira hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan Denny. Dulu, pria itu selalu bersikap dingin dan cuek terhadapnya, tapi kenapa kini Denny bersikap sangat manis padanya.

Apa Denny benar-benar mencintainya?

***

Aira menaiki tangga dengan hati yang ringan berbunga-bunga malah. Beban yang ada dihatinya kini telah berangsur pergi dan hampir hilang. Ia membayangkan betapa manisnya sikap Denny sampai tidak menyadari bahwa Rizky berdiri di ruang keluarga. Dengan mata menyalang ia memperhatikan leher Aira yang terdapat bercak kemerahan seperti kissmark. Ia mengetahui sejak di depan pintu.

“Aira?!” Aira cukup terkejut.

“A.. Ayah..” ucapnya tergagap.

“Ayah, ingin bicara sama kamu!” ucapnya penuh penegasan. Aira menatapnya ketakutan. Seperti ada yang disembunyikan, pikir Rizky.

“Aira, lelah yah. Bisa besok saja?” Dari kejauhan Zeeva melihat kejadian itu. Ia baru keluar dari kamar Bunga. Aira,  putrinya memang terlihat kelelahan. Ia berjalan mendekat.

“Rizky, besok saja ceritanya. Aira sepertinya memang kelelahan.” Zeeva membujuk suaminya. Aira yang berdiri tegang menatapnya memohon dengan wajah yang pucat pasj. Rizky menghela napas.

“Baiklah, besok ayah akan minta  penjelasanmu!” Aira mengangguk.

“Iya, ayah.” Aira mencium pipi Rizky dan Zeeva. “Selamat malam.” Leher Aira tak luput dari pengamatan Rizky. Ia tertegun cukup lama dengan tanda itu. Rizky memandangi punggung putrinya. Rahangnya mengetat memikirksn jika benar itu terjadi.

“Kita ke kamar, waktunya tidur.” Zeeva menggandeng lengannya.

Didalam kamar Aira bersandar dibalik pintu sambil menarik napas panjang. Hari ini ia selamat. Dalam dirinya ketakutan, ceroboh dengan memberikan sesuatu yang paling berharga. Aira telah mengecewakan orangtuanya jika tau ia telah memberikan mahkotanya. Bukan memberikan dalam artian sebenarnya melainkan Denny yang memaksanya sampai terlena dalam sentuhan dan belaian yang memabukan. Hingga tak sadar jika yang mereka lakukan adalah kesalahan fatal. Rizky akan mengusirnya jika dirinya, hamil.

Hamil?

Aira tersentak kaget. Bagaimana jika dirinya nanti hamil?. Anak Denny?. Ia menjadi kalut. Perasaannya bimbang saat masuk ke kamar mandi. Memikirkan apa yang terjadi kelak.

***

Keesokan harinya Denny benar-benar menjemput Aira di rumahnya. Untung saja ayah Aira sudah berangkat ke kantor sejak pagi. Sehingga ia tidak perlu lagi menyiapkan seribu alasan untuk mengajak Aira keluar. Hanya ada Zeeva, mama Aira, yang menyambutnya saat ia menjemput di rumahnya.

Setelah cukup lama menunggu Aira yang bersiap-siap. Akhirnya gadis itu keluar juga dengan penampilan yang sangat cantik di mata Denny. Ia menatap Aira dengan tatapan penuh cintanya. Ingin sekali jemarinya mengusap pipi merona milik Aira, tapi ditahannya, karena kini, Zeeva masih ada di sana.

“Kamu sudah siap?” Aira hanya menganggukkan kepalanya. Entah kenapa setelah kejadian tadi malam, ia selalu merasa gugup di hadapan Denny. Oh, pria itu sudah menyentuhnya? Aira masih belum percaya dengan kejadian semalam.

“Baiklah, ayo,” ajak Denny. Aira kemudian berpamitan dengan sang Mama. Kemudian mengikuti Denny menaiki motor pria tersebut. Ia sendiri akhirnya menjalankan motornya. Setelah cukup jauh berboncengan, Denny meraih pergelangan tangan Aira, melingkarkannya di perutnya sendiri. Sedangkan tangannya sendiri masih belum ingin melepaskan genggaman tangannya pada tangan Aira.

“Tetap seperti itu, biar nggak jatuh.” Denny dengar suara yang sedikit tidak terdengar karena terhalang helm yang dikenakannya.

“Kamu sendiri nggak takut jatuh? Menyetir dengan hanya satu tangan?”

“Aku sudah biasa.” Jawab Denny.

“Oh, tentu saja, kamu pasti sudah biasa membonceng cewek seperti ini” Gerutu Aira yang entah kenapa menjadi sedikit kesal.

“Nggak, Ai.”

“Ai?” Aira mengerutkan keningnya ketika Denny memanggilnya dengan sebutan itu.

Pria itu sedikit tersenyum dari balik helmnya. “Mulai sekarang, itu panggilan sayangku untuk kamu. Ai.” Ya ampun. Aira berterimakasih karena saat ini dirinya sedang berada di belakang Denny. Jika tidak, maka pria itu akan melihat wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus karena ucapan sederhana itu.

‘Ai… sangat manis.’ Pikir Aira dalam hati. Tapi secepat kilat ia menggelengkan kepalanya. Denny sedang menggodanya. Aira menyadari itu. Gadis itu tidak ingin tergoda sebelum ia mengetahui semua penjelasan Denny.

***

Denny mengentikan motornya di depan sebuah gerbang besar dan tinggi. Aira bahkan sampai menengadah ke atas melihat ujung gerbang. Terlihat seorang satpam berlari membukakan pintu pagar  saat mengetahui Denny yang datang.

Denny kembali menjalankan motornya masuk. Aira masih tidak mengerti apa yang sedang dilihatnya saat ini. Denny memarkirkan motornya di depan sebuah garasi, kemudian melepaskan helm yang di kenakannya.

Denny tersenyum menatap Aira yang masih tampak bingung dengan apa yang gadis itu lihat. Dengan lembut Denny membantu Aira melepaskan helm yang di kenakan gadis itu. Pipi Aira kembali merona dengan kelembutan yang di tunjukkan oleh Denny.

“Ayo masuk,” ucap Denny sambil menggenggam pergelangan tangan Aira.

“Tunggu dulu, ini rumah siapa?” tanya Aira yang masih sedikit bingung.

“Rumah mama dan papaku. Ayo masuk,” Denny dengan senyuman lembutnya. Aira sendiri benar-benar tercengang dengan jawaban yang di dengarnya dari mulut Denny.

Mereka masuk ke dalam rumah. Denny seketika menuju ke arah taman mini di area samping rumahnya. Ia tahu jika mamanya pasti berada di sana dengan berbagai macam tanaman bunga-bungaan yang di rawatnya.

“Mama,” Denny memanggil ketika berada di area taman dan melihat seorang wanita yang tengah sibuk dengan tanaman hiasnya. Wanita yang masih terlihat cantik diusianya itu menoleh, dan membulatkan matanya seketika ketika mendapati seorang yang sangat dirindukannya. Itu puteranya yang sudah lama tidak pulang.

“Denny!” ucap Clara senang. Mama Denny yang kini sudah berlari menghambur ke dalam pelukan puteranya.

“Astaga, akhirnya kamu pulang sayang. Mama kangen kamu, papa juga pasti kangen sama kamu. Tapi dia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.” Denny tersenyum.

“Aku juga kangen Mama, Papa, Clarista, dan juga rumah ini,” sahutnya.

“Kalau begitu jangan pergi lagi.” Rajuk Clara yang masih memeluk erat tubuh puteranya. Cukup lama keduanya saling berpelukan melepas rindu, hingga kemudian Clara menyadari jika Denny tidak pulang sendiri. Dilepaskannya pelukan Denny kemudian Clara melirik ke arah sosok gadis yaang berdiri menundukkan kepalanya tepat di belakang puteranya.

“Kamu, kamu bawa teman?” tanya Clara yang sat ini sudah mengamati Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis tersebut.

“Iya, aku nggak pulang sendiri, Ma.” Jawab Denny.

Clara tersenyum menuju ke arah Aira. “Hei, siapa namamu?” tanya Clara mencoba mengakrabkan diri.

“Aira tante,” jawab Aira dengan malu-malu. Ini pertama kalinya bertemu orangtua kekasihnya. Kekasih?, entah apa hubungan mereka yang jelas Aira dan Denny sudah terlampau jauh mengenai hubungan mereka. Aira bingung harus bersikap bagaimana.

“Wah, nama yang cantik secantik orangnya,” puji Clara. Pipi Aira memerah.

“Aku membawanya kesini untuk mengenalkannya dengan mama, papa dan juga Cla.”

“Oh ya? Wah, kalian pasti sangat dekat sekali.” Clara terlihat bahagia.

“Bukan hanya dekat, Ma.” Jawab Denny yang kini sudah meraih telapak tangan Aira kemudian menggenggamnya erat-erat.

“Aku akan menikahinya.” Kalimat terakhir Denny membuat Clara ternganga tak dapat menutup mulutnya. Begitupun dengan Aira yang sudah melebarkan matanya  karena kalimat terakhir yang diucapkan oleh Denny. Bukannya Aira tidak mau, tapi masih terlalu bingung dengan kenyataan di sekitarnya.

Bahwa Denny bukanlah sosok yang selama ini ia kenal. Denny bukanlah pria biasa dengan penampilan sederhananya. Nyatanya Denny adalah pria kaya raya yang mungkin saja memiliki banyak sekali rahasia yang Aira tidak tahu. Pria itu pandai sekali menyembunyikan jati dirinya. Bisa jadi pria itu juga banyak menyembunyikan rahasia masa lalunya.

Menikah? Apa Denny sedang bercanda?.

-TBC-