The Married life (Lady Killer 2) – Chapter 11 (Merelakan)

Comments 3 Standard

bysj4kvccaajavnThe Lady Killer 2

Chapter 11

-Merelakan-

 

Jonathan melepaskan pelukannya pada tubuh Nessa. Menatap Nessa dengan tatapan lembutnya, lalu mengusap sisa-sisa air mata yang jatuh di pipi wanita tersebut.

“Sudah, jangan nangis lagi, ayo kita masuk, kita temui mereka.”

Nessa menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti Jonathan masuk ke dalam kamar Erly. Di sana, Erly sudah dalam posisi terbaring setengah duduk, wajahnya masih terlihat sendu bahkan sesekali masih terdengar isakan.

“Kak.” Panggil Jonathan pada Erly.

Erly mengangkat wajahnya hingga dirinya bertatapan dengan wajah adiknya tersebut. Lalu tanpa banyak bicara lagi Jonathan menghambur ke arahnya, memeluknya dengan erat.

“Maafin aku, maafin aku Jo.” Ucap Erly kembali menangis.

“Kakak nggak salah.”

Nessa sendiri kembali berkaca-kaca menatap pemandangan di hadapannya. Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menggenggam telapak tangannya. Nessa melirik ke arah tangannya tersebut, ternyata sudah ada tangan Dhanni di sana yang sudah menggenggamnya erat-erat. Nessa menatap ke arah Dhanni lalu tersenyum manis terhadap suaminya tersebut.

Pun dengan Dhanni yang tampak menyunggingkan senyumannya pada Nessa. Tampak kelegaan di wajah keduanya. Apa memang akan berakhir seperti ini? Atau akankah ada babak baru di antara mereka berempat? Nessa dan Dhanni sendiri tak tahu.

***

Pulang dari rumah Jonathan, keduanya masih saling berdiam diri. Tadi Dhanni memang sempat ke kantor sebentar, dan meninggalkan Nessa di rumah Jonathan. Lalu Dhanni kembali menjemput Nessa dan kini mereka pulang bersama.

Ada sebuah kecanggungan diantara keduanya. Seakan ada sesuatu yang menghalangi keduanya untuk saling bicara satu sama lain. Meski begitu Nessa merasa sangat nyaman mengingat sejak tadi telapak tangan Dhanni tak berhenti menggenggam telapak tangannya. Suaminya itu bahkan sesekali mengecup lembut punggung tangannya meski hingga kini tak mengucapkan sepatah katapun terhadapnya.

Masuk ke dalam apartemen, Dhanni lantas berjalan tepat di depan Nessa, sedangkan Nessa sendiri memilih mengekor di belakang Dhanni sembari menundukkan kepalanya. Hingga Nessa tak menyadari jika kini mereka sudah berada di dalam kamar mereka.

Dhanni menghentikan langkahnya dan itu membuat Nessa yang tepat di belakangnya menubruk tubuhnya karena tak tahu jika Dhanni tiba-tiba berhenti.

“Maaf.” Hanya itu yang di katakan Nessa sambil menundukkan kepalanya.

Dhanni membalikkan tubuhnya hingga kini menatap Nessa sepenuhnya. Ia sedikit menyunggingkan senyuman khasnya, tangannya lalu terulur mengangkat dagu Nessa, membuat Nessa menatap seketika ke arahnya.

“Kenapa minta maaf?” tanya Dhanni dengan suara seraknya.

Nessa hanya sedikit menggelengkan kepalanya. Dhanni kemudian merenggangkan kedua tangannya.

“Kemarilah.” Ucapnya.

Dengan spontan Nessa menghambur ke dalam pelukan Dhanni. Oh, rasanya benar-benar sangat nyaman, seperti ada sebuah beban yang terangkat dari pundaknya.

“Aku kangen meluk kamu kayak gini.” Ucap Dhanni serak. Bibir Dhanni kemudian menelusuri kulit leher serta pundak Nessa.

“Aku juga kangen meninggalkan kecupan-kecupan basah di sini.” Ucap Dhanni lagi masih dengan menggoda leher tengkuk leher Nessa.

“Aku juga kangen kak Dhanni.”

Dhanni tersenyum mendengar ucapan istrinya tersebut. Di peluknya semakin erat tubuh Nessa, seakan tak ingin membiarkan Nessa menjauh darinya.

“Aku kangen Brandon.”

Ucapan polos Nessa membuat Dhnni terkikik geli. Dhanni kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Nessa dengan tatapan lembutnya.

“Nanti kita telepon Mama supaya mereka cepat pulang, aku juga kangen sama Brandon.”

Nessa tersenyum manis. “Kak Dhanni nggak marah sama aku?”

“Marah? Marah kenapa?”

Nessa mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, kupikir Kak Dhanni kesal sama aku karena aku memaksa kak Dhanni kembali dekat dengan Erly.”

“Ya, aku memang sedikit kesal. Dan berjanjilah kalau kamu nggak akan melakukan hal itu lagi.”

Nessa mengangguk cepat. “Aku berjanji. Sebenarnya aku juga sedikit cemburu melihat kedekatan kak Dhanni dengan wanita lain.”

“Lalu, kenapa kamu seakan mendorongku untuk dekat dengan dia kemaren?”

Nessa tersenyum. “Karena aku yakin, walau ku dorong menjauh seperti apapun, kak Dhanni tidak akan pernah meninggalkanku.”

Dhanni mendengus tapi tak dapat menahan senyuman di bibirnya.

“Kamu terlalu percaya diri, sayang.”

“Nyatanya seperti itu bukan?”

“Ya, memang seperti itu, walau kamu mendorongku menjauh, atau memohon padaku untuk meninggalkanmu, aku tidak akan melakukan itu.” Telapak tangan Dhanni terulur mengusap lembut pipi Nessa. “Cuma kamu satu-satunya wanita yang ku cintai, kamu adalah tujuan terakhirku, kamu adalah alasanku untuk hidup, jadi jangan pernah meragukanku lagi, jangan pernah memintaku untuk melakukan hal yang membuatmu tersakiti, karena aku juga akan tersakiti saat melihatmu sedih atau menangis.”

Mata Nessa berkaca-kaca seketika. Mungkin kalimat Dhanni tersedar menggelikan di telinganya, tapi entah kenapa Nessa benar-benar merasakan ketulusan di sana.

“Maafkan aku Kak.”

“Berhenti meminta maaf, semuanya sudah berlalu. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Jonathan?” Tanya Dhanni penuh selidik.

Nessa sedikit tersenyum mendengar pertanyaan Dhanni yang terlihat sedikit menunjukkan kecemburuannya.

“Kak, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Kak Jo. Aku sudah berhenti memikirkannya sejak aku pindah ke Jakarta dan bertemu denganm Kak Dhanni dan juga kak Renno. Jadi, aku sudah tak memiliki perasaan lebih padanya.”

“Kamu yakin?”

Nessa mengangguk cepat.

“Lalu bagaimana dia menyikapi hal ini?”

“Kak Jo baik, dia seperti Kak Renno. Aku yakin dia dapat menerima semua ini.”

“Oh ya? Dan aku baru ingat kalau sejak tadi kamu bicara tentang Renno lagi.”

Nessa tertawa lebar. “Ayolah Kak, aku sudah tak memiliki perasaan apapun dengan Kak Renno atau mantan pacarku yang lainnya. Apa salah kalau aku hanya menyebut namanya?”

Dhanni mendekatkan diri kemudian berbisik lembut di telinga Nessa.

“Tidak salah, tapi tetap saja aku cemburu saat kamu menyebut nama pria lain di hadapanku.”

Nessa mencubit pipi Dhanni. “Kak Dhanni menggelikan.” Nessa lalu beranjak pergi, tapi kemudian Dhanni menarik tangannya.

“Mau kemana?” tanya Dhanni dengan suara seraknya.

“Mandi.”

Dhanni tersenyum miring. “Boleh aku ikut?”

Nessa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Enggak, nanti kak Dhanni nggak cuma mandi.”

“Memangnya kenapa kalau nggak Cuma mandi?” Tanya Dhanni dengan suara menggoda sembari mendekat kembali pada Nessa.

“Uumm…”

Dhanni menundukkan kepalanya, lalu berbisik di telinga Nessa.

“Aku kangen kamu. Aku ingin menyentuhmu setelah semua ini selesai.”

Nessa mengangkat wajahnya, menatap Dhanni dengan tatapan anehnya. Sedangkan Dhanni hanya tersenyum kemudian membopong tubuh Nessa masuk ke dalam kamar mandi.

***

Di dalam kamar mandi.

Dhanni membuka kemeja yang ia kenakan. Matanya tak pernah lepas menatap sosok di hadapannya yang tampak menunduk malu.

“Kenapa seperti itu?” tanya Dhanni ketika Nessa masih menundukkan kepalanya.

“Enggak.”

“Ini bukan pertama kalinya kita mandi bareng kan?”

“Ya, memang bukan, tapi…”

“Tapi apa? Kamu mau aku yang membuka pakaianmu?”

“Enggak, aku bisa membukanya sendiri.” Ucap Nessa cepat.

“Kemarilah.” Ucap Dhanni, dan ketika Dhanni sudah mengucapkan kalimat itu, maka Nessa tahu jika suiaminya itu ingin menyentuhnya.

Nessa mendekat. Tangan Dhanni terulur membantu Nessa membuka pakaiannya satu persatu hingga istrinya itu polos.

“Kamu masih tetap indah seperti pertama kali aku melihatmu.”

“Jangan menggombal, nyatanya tubuhku sudah berubah.”

Dhanni menggelengkan kepalanya. “Bagiku masih sama.”

“Sebentar lagi bobotku bertambah.” Ucap Nessa sambil mengusap perutnya yang masih rata.

Dhanni tersenyum, lalu ikut mengusap perut datar Nessa. “Biarlah, aku bahkan berharap kamu nanti tetap gendut, biar nggak ada yang suka, dan kamu nggak berpikir untuk ninggalin aku.”

“Oh ya? Lalu bagaimana kalau kak Dhanni yang berpikir untuk ninggalin aku yang sudah gendut.”

“Itu tidak akan terjadi.”

“Kita tidak bisa menebak masa depan, sayang.”

Dhanni tersenyum karena Nessa kembali memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. “Aku tahu, tapi kamu bisa pegang omonganku, kalau ninggalin kamu adalah hal terakhir yang ingin ku lakukan di dunia ini.”

“Nggombal.” Ucap Nessa sambil mempalingkan wajahnya.

Dhanni menolehkan kembali wajah Nessa ke arahnya. “Aku nggak nggombal, ini kenyataan.” Ucap Dhanni serak kemudian menundukkan kepalanya lalu mencumbu bibir Nessa dengan lembut. Amat-sangat lembut. Nessa bahkan mengerang dalam cumbuan Dhanni.

Dhanni melepaskan cumbuannya ketika mereka sudah cukup lama saling bercumbu mesra. Ia mengusap pipi Nessa yang merona.

“Mau berdiri, atau…”

Nessa menggeleng cepat. Dhanni sendiri mengerti apa yang ada di dalam pikiran istrinya tersebut.

“Baiklah, aku mengerti.”

Dhanni lalu menyalakan air, kemudian masuk ke dalam bathub. Ia duduk santai di dalam sana lalu membimbing Nessa untuk mengikutinya dan duduk tepat di atas pangkuannya.

“Kamu selalu suka posisi seperti ini.” Ucap Dhanni serak sembari mencoba menyatukan diri dengan tubuh di atasnya.

Nessa memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya lalu mengerang panjang ketika Dhanni berhasil menyatukan diri dengan tubuhnya. Matanya kemudian membuka, menatap Dhanni yang kini sedang menatapnya sembari menyunggingkan senyuman miringnya.

Nessa mengulurkan jemarinya, mengusap sebelah ujung bibir Dhanni yang tertarik ke atas.

“Jangan tersenyum seperti itu.” Ucap Nessa dengan napas yang sedikit terputus-putus.

“Kenapa?”

“Jelek tahu!” serunya.

“Oh ya? Kalau jelek, aku nggak akan menyandang gelar sebagai Lady killer.”

Nessa tertawa lebar. “Yang ngasih gelar itu yang lebay. Pokoknya jangan senyum kayak gitu lagi, Babbynya nanti mirip gitu.”

“Biar saja, aku kan ayahnya. Jadi biar saja mirip denganku.”

“Keras kepala.” Ucap Nessa dengan mencubit hidung mancung Dhanni.

“Kamu juga sama.” Dhannipun mencubit gemas kedua pipi Nessa.

“Kak Dhanni nggak bergerak? Apa kita akan seperti ini terus sampai malam?”

Dhanni terkikik sendiri. “Sial!! Aku bahkan lupa kalau sudah berada di dalam dirimu sayang. Aku sangat bahagia, saking bahagianya sampai melupakan percintaan kita.”

Kini Nessa yang terkikik geli. Di kalungkannya lengannya pada leher Dhanni kemudian di kecupnya berkali-kali bibir suaminya tersebut dengan kecupan-kecupan kecinya.

“Bergeraklah dengan bahagia.” Bisik Nessa dengan suara seraknya.

“Ya, aku akan bergerak sayang.” Dhanni kemudian menggerakkan tubuhnya secara berirama, sedangkan Nessa sendiri memilih mengikuti irama permainan dari suaminya tersebut dengan sesekali mengerang.

***

Empat bulan kemudian…

“Brandon, astaga, kalau kamu nakal nanti mama tinggal.” Ucap Nessa dengan bocah laki-laki kecil yang sedang menghamburkan mainanya sendiri.

“Ada apa sayang?” tanya Dhanni yang sudah berpakaian Rapi tepat di belakang Nessa.

“Lihat Kak, dia menghambur mainannya lagi.” Rengek Nessa dengan setengah manja.

“Gampang kan, nanti tinggal di pungutin lagi.”

“Tapi aku capek kak, perutku sudah membesar seperti bola basket. Aku bahkan nggak bisa nunduk-nunduk lagi.”

“Aku yang beresin nanti.” Dhanni melirik jam tangannya. “Sudah siap kan? Ayo berangkat, nanti kita ketinggalan mereka.”

“Baju Brandon kotor lagi.” Lagi-lagi Nessa kembali merengek.

“Sini, biar aku yang ganti bajunya.” Nessa tersenyum dengan pernyataan Dhanni, dan akhirnya ia membiarkan Dhanni mengganti pakaian putera pertama mereka.

***

Dhanni masih setia menggenggam sebelah tangan Nessa sedangkan tangan yang lainnya menggendong Brandon, puteranya. Mereka kini berada di sebuah bandara untuk mengantarkan Erly dan Jonathan yang akan pergi ke luar Negeri.

Dari jauh, terlihat Erly melambaikan tangannya. Meski berwajah sendu, tapi sedikit terlihat enyuman di sana. Nessa tampak berjalan cepat lalu memeluk Erly begitu saja.

Ya, sejak hari itu, hubungan keduanya membaik. Entah apa yang terjadi, meski begitu, Dhanni tidak ingin membuka kesempatan bagi Erly untuk kembali dekat dengannya.

Nessa melepaskan pelukannya pada Erly, lalu beralih untuk memeluk Jonathan, tapi secepat kilat Dhanni menarik Nessa ke belakangnya.

“Cukup bersalaman saja.” Desis Dhanni yang membuat Jonathan dan Erly tersenyum.

“Apaan sih.” Gerutu Nessa. “Kak Dhanni juga harus peluk dia sebagai perpisahan.” Bisik Nessa pada Dhanni.

“Enggak!!” hanya itu jawaban dari Dhanni.

“Aku senang melihat kalian akur.” Jonathan tiba-tiba menyahut.

“Maaf, kalau kami sempat mengganggu hubungan kalian. Aku banyak belajar dengan masalah kemarin.” Kali ini Erly yang berbicara. Dhanni dan Nessa hanya menganggukkan kepalanya.

“Nessa, kamu beruntung mendapatkannya.” Ucap Erly dengan menggenggam telapak tangan Nessa.

“Bukan dia yang beruntung mendapatkanku, tapi aku yang beruntung karena dia mau berada di sisiku.” Ucap Dhanni dengan nada cueknya.

Semua tersenyum mendengar ucapan Dhanni.

“Erly, aku harap kita bisa menjadi teman baik setelah ini. Kamu bisa meneleponku atau mengirimku email jika ada masalah.”

Erly menganggukkan kepalanya. “Terimakasih sudah mengerti.”

Nessa menganggukkan kepalanya. Jonathan lalu melirik ke arah jam tangannya.

“Kak, kita harus masuk.”

Erly menganggukkan kepalanya, kemudian tersenyum pada Dhanni dan Nessa. “Aku pergi. Dan sekali lagi terimakasih sudah membuatku sadar.” Erly membalikkan tubuhnya kemudian pergi begitu saja.

Jonathan menatap Nessa dengan tatapan lembutnya. “Terimakasih Ness, kamu sudah memperbaiki semuanya.” Jonathan kemudian berbalik begitu saja lalu menyusul kakaknya dengan setengah berlari.

“Apa kita sudah jahat kak?” tanya Nessa masih dengan menatap kepergian Jonathan dan Erly.

“Tidak, bukan kita yang jahat. Tapi cinta yang terlalu kejam mempermainkan kita.” Nessa kemudian merangkul lengan Dhanni dan meneteskan air matanya di sana. Ia melihat kesakitan yang terpampang jelas di wajah Erly dan Jonathan tadi. Ahhh mereka benar-benar malang. Pikir Nessa.

***

Erly menatap ke luar jendela pesawat yang berada tepat di sebelahnya. Hanya terlihat awan putih yang indah, tapi Erly seakan tidak menikmati pemandangan tersebut. Tatapannya hanya tatapan kosong, sedangkan air matanya tidak berhenti menetes dengan sendirinya.

Erly merasakan tangannya di genggam erat oleh seseorang. Itu pasti Jonathan, adik yang selalu menguatkannya.

“Its okay, kak. Kita akan melupakan mereka.”

“Kita melakukan hal yang benar, kan Jo?”

“Ya, ini sudah benar.” Jawab Jonathan sambil menghela napas panjang.

“Apa kamu sudah merelakan Nessa?”

Jonathan menggelengkan kepalanya. “Belum saat ini, tapi aku yakin, nanti aku bisa merelakannya. Melihatnya tersenyum dengan lelaki lain entah kenapa membuatku sadar, kalau cinta itu bukan tentang kita memilikinya, tapi tentang bagaimana kita membuatnya bahagia.”

Erly menganggukkan kepalanya. “Aku juga senang melihat Dhanni tersenyum walau itu bukan denganku. Apa aku nanti bisa melupakannya?”

“Pasti bisa kak.”

Erly kemudian memejamkan matanya sembari menghela napas panjang. “Aku akan berusaha Jo, aku akan berusaha.” Ucapnya dengan sungguh-sungguh.

 

-TBC-

Kyaaa… nggak nyangka udah sampek part ini… huuffttt padahal nulisnya tersendat2.. hahahhaha eh ya, kemaren aku bilang hanya sampek chapter 15 kan yaa. uummm sorry, sepertinya nggak sampek ke sana, draftnya ternyata nggak cukup. aku nggak bisa ngembangin ide lagi, so, mungkin Chapter selanjutnya sudah ending. Tapiiiiiiii… jangan sedih dulu, aku ada kejutan buat kalian… apalagi kalo bukannnnnn jrengg… jrengg…. -nanti aja ahh.. hahahahhaha- pokoknya pantengin terus Work ini yaakkk.. kisskisss.

Advertisements

Love Between Us – Chapter 10 (Kamu Milikku)

Comments 7 Standard

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

PART 10 – KAMU MILIKKU

Luka itu akhirnya mengangga kembali. Aira berusaha untuk menutupnya namun pada akhirnya merasakannya lagi. Kesakitan dikhianati dan dipermainkan oleh cinta. Dengan tubuh yang basah ia menangis seorang diri di dalam kamar. Hatinya sangat berharap pada Denny. Namun pada akhirnya kekecewaanlah yang didapatnya. Dibutakan oleh sikap pria itu yang berbeda namun nyatanya sama saja seperti Wisnu.

Air matanya tak bisa berhenti meskipun mencobanya. Duduk memeluk lutut ditepi ranjang. Derasnya hujan menyamarkan suara tangisannya. Zeeva dan Rizky yang ada dibalik pintu tidak bisa berbuat apa-apa. Istrinya meminta untuk memberi Aira ruang menenangkan diri. Dan Rizky menerima usulnya. Ia tidak mau Aira semakin sedih melihatnya dicampakkan oleh pria kembali.

“Apa tidak apa-apa, Aira sendirian?” Rizky sangat khawatir.

“Aira sudah dewasa, Rizky. Kita tidak tau pasti apa masalah mereka.” Zeeva merangkul lengannya.

“Aku tidak mau putriku tersakiti lagi. Aku akan..” telunjuk Zeeva menekan bibirnya.

“Jangan mengancam dan berbuat sesuatu kepada orang lain. Aku tidak suka kekerasan atau apa pun itu. Kita tunggu sampai Aira tenang dan menjelaskannya pada kita.” Rizky menghela napas gusar.

“Bagaimana kalau Aira tidak mau cerita?”

“Untuk apa kamu punya anak buah yang selalu mengikuti Denny?” mata Rizky melebar.

“Bagaimana kamu tau?” Zeeva malah mengedipkan matanya.

“Aku tau segalanya tentangmu,” bisiknya ditelinga Rizky. Suaminya mendesah panjang.

“Apa bisa kita lanjutkan dikamar?”

“Dalam kondisi seperti ini?” Zeeva terperangah.

“Kata mu Aira butuh waktu sendiri. Kita pun butuh waktu berdua, sayang,” ucapnya gemas.

“Baiklah,” Zeeva berpura-pura pasrah. Rizky mencium pipinya lembut sebelum menariknya ke kamar.

***

Dengan mata sembab ia berdiri dan berjalan mendekat ke jendela membuka sedikit gorden. Disana Denny masih berdiri dengan tatapan kosong. Deraian air mata Aira semakin deras seperti hujan yang turun dari langit. Melihat pria itu tak bergerak sedikit pun. Rasa sesak memenuhi dadanya.

Kenapa harus Denny yang menyakitinya?. Apa semua kesalahan berasal dari kekayaannya?.

Andai saja.. Andai saja ia gadis biasa mungkin Denny tak akan menyakitinya. Dinda memamerkan prianya sedang berbelanja ditemani gadis yang bergelayut mesra. Kejadian ini terulang lagi ketika ia bersama Wisnu dulu.

“Kenapa kamu sama seperti Wisnu, Denny. Harapanku terhadapmu sudah terlampau jauh tapi kenapa kamu sama saja dengan pria brengsek itu!” racaunya seraya menutup gorden itu kasar. Aira tidak mau melihat tampang Denny lagi!. Ia tidak mau mengenal pria itu lagi.

Aira melepaskan pakaiannya yang basah. Ia naik ke bathup yang terisi air hangat. Ia duduk menopang dagu dilututnya. Suhu tubuh yang tadinya dingin kini menghangat. Sesekali air matanya jatuh.

Aira mencintai pria itu..

Ia meraup air dengan kedua tangannya lalu mengusap ke wajah. Memejamkan mata berharap ini semua mimpi belaka. Mencoba menepis kerisauan yang menerpanya. Setengah jam berlalu, suhu air sudah berubah dingin. Aira mengambil di sisi pinggir bathup handuk dan berjalan ke walkin closet. Ia menarik gaun tidur sembarang sehingga gaun lainnya berhamburan dari dalam lemari. Aira tidak punya tenaga untuk merapihkannya, malah membiarkannya berantakan. Ia mengenakan gaun berwarna putih itu lalu naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuhnya yang lemas. Rambutnya basah mengenai bantal. Dan ia menangis kembali, hatinya hancur berkeping-keping.

***

Denny pulang dengan langkah gontai. Aira memutuskan hubungan mereka? Kenapa bisa? Bukankah hubungan mereka baik-baik saja kemarin? Apa yang terjadi dengan gadis itu?. Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar membuatnya pusing. Ia bahkan tak mempedulikan pakaiannya yang kini basah kuyub karena kehujanan.

Yang ia pikirkan kini hanyalah hatinya. Hatinya terasa berdenyut sakit. Bahkan lebih sakit saat ini daripada dulu ketika ia mendapati hubungannya dengan Adelia putus.

Aira… Apa yang terjadi denganmu? Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku begitu kesakitan saat kamu meninggalkanku?

***

Paginya Zeeva memeriksa keadaan Aira. Gadis yang dianggapnya masih kecil itu sedang bersedih. Aira menceritakan semuanya. Walaupun hati kecil Zeeva tidak percaya jika Denny sama dengan Wisnu. Ia tetap memberi pengertian dan membuat Aira tidak patah hati terlalu dalam.

“Mama tau bagaimana sakitnya perasaan kamu. Tidak ada penjelasankah dari Denny?” tangan mengusap kepala Aira yang ada dipangkuannya.

“Aku nggak mau mendengarnya lagi, ma!. Hatiku terlanjur sakit. Penjelasannya nanti nggak akan merubah apapun yang ada dia hanya akan membuat alasan dan alasan lagi.” Ia kesal mengingat foto-foto itu. “Ma, apa semua pria seperti itu?.”

“Apa ayahmu seperti itu?” kepalanya menggeleng. “Tidak semua seperti itu, sayang. Pria matre memang tidak wajar tapi ada. Kamu akan bertemu berbagai macam sifat pria yang berbeda-beda. Dan kamu akan merasakan sakit sebelum kamu bertemu dengan yang tepat.”

“Aku nggak mau bertemu dengan pria mana pun lagi!” bibirnya berdecak.

“Hush! Kalau bicara sembarangan!. Kalau begitu bagaimana mama mau punya cucu!” Zeeva pura-pura marah, Aira terkikik. Hatinya merasa lega Aira masih bisa tertawa.

“Aku cuma nggak mau kecewa lagi, ma,” Aira bangun lalu duduk menatap Zeeva.

“Banyak pria diluar sana yang baik, sayang.” Nasehat Zeeva sembari mengusap pipi putrinya.

“Aku ingin yang seperti ayah,” lirihnya pelan.

Zeeva tersenyum, “Mama doakan kamu mendapatkan jodoh yang seperti ayah. Baik, tampan dan yang paling utama setia.”

“Ayah setia?” tanyanya seperti meledek.

“Tentu saja!” tukas Zeeva. “Ayah mu dulu sebelum mengenal mama tidak kaya seperti sekarang.”

“Kenapa mama mau sama ayah yang nggak kaya?”

“Mama melihat hatinya,” Zeeva teringat untuk pertama kali berjumpa dengan Rizky disekolah sewaktu Aira kecil. Ia terpana akan kehidupan Rizky jalani. Kekurangan harta bukan berarti hidup akan berhenti. Rizky yang seorang duda dengan ekonomi yang minim berani melamarnya karena gosip yang beredar. Pria itu ingin melindunginya dari terpaan gosip yang miring.

“Mama sangat mencintai ayah ya,” celetuk Aira.

“Sangat,” Zeeva memeluk Aira. “Suatu hari nanti mama berharap kamu menemukan seseorang yang bisa membuat mu bahagia disetiap detiknya.” Dalam hati ia berdoa agar putrinya bisa mengecap bagaimana dicintai oleh pasangan hidupnya nanti.

“Terimakasih, ma.” Aira mengusap punggung Zeeva. “Aku menyayangi mama,”

“Mama juga, sayang.” Balasnya.

Rizky tidak menanyakan apapun pada Aira tentang semalam. Walaupun raut kesedihan itu masih tersisa Aira menutupinya dengan keceriaan. Ia tidak mau keluarganya mengkhawatirkannya. Bodoh jika ia membebani kepada orangtuanya. Rizky sudah memperingatkannya.

“Aira, nanti siang kamu bisa melihat tempat untuk cafe mu.” Rizky telah menyetujui Aira membuka sebuah cafe. Itu adalah cara agar Aira tidak terpuruk karena cinta.

“Iya, yah. Nanti siang aku akan melihat tempatnya.” Aira mengangguk patuh.

“Ya sudah lanjutkan sarapannya.” Zeeva berterimakasih kepada Rizky karena tidak memgungkit masalah Aira.

***

Ini sudah dua minggu setelah keadaan malam itu. Hubungan Denny dan Aira masih sama. Bukannya ia tidak mencari tahu. Denny tentu tak berhenti menghubungi Aira, meminta penjelasan pada gadis itu. Tapi Aira tak pernah sekalipun mengangkat telepon darinya atau membalas pesan-pesannya.

Ia juga beberapa kali menemui Aira secara langsung. Tapi gadis itu selalu memiliki alasan untuk menolak bertemu dengannya. Aira bahkan seakan menyibukkan diri dengan cafe baru miliknya. Jika sudah seperti itu, Denny tidak dapat memaksa.

Sore ini, Denny berencana untuk kembali menemui Aira. Tapi ketika sampai di rumah Aira, gadis itu malah pergi. Dan ia memutuskan untuk mengikuti kemanapun gadis itu pergi.

Mobil Aira ternyata masuk kedalam area sebuah gedung besar, mungkinkah itu kantor ayah Aira? Yang dapat Denny lakukan saat ini adalah menunggu.

Tak lama. Terlihat Aira keluar sendiri dari dalam mobil tersebut, kemudian masuk ke dalam gedung. Ia sedikit menyunggingkan senyuman miring yang hampir tak penah terukir di wajahnya ketika sebuah ide melintas di kepalanya.

Jika Aira tidak ingin bertemu dengannya, kenapa ia tak memaksanya saja?. Akhirnya Denny melakukan apa yang sedang berada dalam pikirannya.

Denny menghampiri mobil Aira. Benar saja, di sana ada Indra pengawal Aira yang setia menemani kemanapun gadis itu pergi. Denny mengetuk kaca jendela mobil Aira. Indra akhirnya menurunkan kaca mobilnya.

“Loh, Mas Denny kok di sini?”

“Iya, saya. Umm, begini mau ngasih kejutan sama Aira.”

“Kejutan apa Mas?”

“Kamu mau bantu nggak?”

Indra tampak mengerutkan keningnya, “bantu apa Mas?”

“Ngasih kejutan sama Aira.”

“Kejutan apa?”

“Begini, Aira kan nggak tahu kalau saya nyusul dia ke sini. Nah, saya akan gantiin posisi kamu buat nganterin kemanapun dia pergi hari ini. Kamu, tolong bawa kembali motor saya pulang ke rumah Aira.”

“Ah, nggak Mas, nanti pak Rizky marah.”

“Saya yang tanggung kalau pak Rizky marah.”

“Tapi mas, ini kan namanya melalaikan tugas. Saya bisa di pecat, mas.” Denny mendengus kesal. Sial!!! Si Indra benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya kemudian memberikannya pada Indra.

“Itu kartu nama asli saya, kalau kamu di pecat, datang ke kantor ayah saya. Bilang saja saya yang menyuruh dan merekomendasikan kamu sebagai pengawal adik saya.”

Indra tampak terperangah menatap kartu nama tersebut. Denny Handoyo, CEO Handoyo Group? Indra tidak mengerti apa yang terjadi. Jika dilihat dari kartu namanya, Denny bukanlah orang biasa. Dapatkah ia mempercayainya?. Berulang kali ia menatap kartu nama itu dan Denny.

“Indra? Saya nggak punya banyak waktu!. Cepat keluar dan biarkan saya masuk menggantikan kamu. Kamu nggak perlu mengkhawatirkan Aira. Saya nggak akan menyakitinya. Lagi pula, kamu sudah tahu siapa saya yang sebenarnya. Jadi cepat keluar dan biarkan saya masuk sebelum Aira melihat saya.”

Indra yang memang tak tahu menahu tentang hubungan mereka yang sudah putus. Waktu Aira menyatakan putus Indra sedang libur. Akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Denny. Secepat kilat Denny memasuki mobil Aira ketika Indra sudah keluar dari mobil tersebut. Ia mengeluarkan kunci motornya lalu memberikannya pada Indra.

“Bawa motorku pulang ke rumah Aira.” Dan Indra hanya menganggukkan kepalanya patuh.

Denny menghela napas lega, akhirnya dapat masuk ke dalam mobil Aira. Kini saatnya mencari cara untuk mengelabui gadis itu. Denny mencari-cari sesuatu di dalam dasboard mobil Aira dan hanya mendapatkan sebuah surat kabar harian. Ahh mungkin ini cukup untuk menutupi wajahnya sementara. Pikirnya.

Tak berapa lama gadis yang berada dalam pikirannya itu masuk begitu saja ke dalam mobil tersebut. Jantung Denny berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Ia melirik kearah kaca dihadapannya untuk melihat Aira dari bayangan kaca.

Gadis itu duduk di jok belakang dan tampak sibuk dengan tas yang di bawanya dengan sesekali menggerutu. Aira bahkan sama sekali tak memperhatikannya, dan itu membuat Denny senang. Tanpa aba-aba, ia menjalankan mobil begitu saja dan itu membuat Aira memekik karena terkejut.

“Indra, aku belum bilang kita mau…” Aira tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika mengetahui siapa yang sedang mengemudikan mobilnya.

“Kamu? Kenapa kamu ada disini?!”

“Maaf Aira, tapi sepertinya kita harus bicara.”

“Nggak!! Berhenti!!!” teriak Aira.

“Aku nggak mau menghentikan mobilnya.”

“Denny, berhenti atau..”

“Atau apa?” tantang Denny. “Kumohon, sekali ini saja, ikutlah bersamaku. Setelah ini, aku janji nggak akan mengganggumu. Ada yang ingin aku sampaikan.”

“Apa? Kenapa nggak di sini saja?

“Nggak, aku nggak bisa mengatakannya di sini.” Aira hanya menghela napas dengan kesal. Ia kesal dengan Denny, ia kesal dengan dirinya sendiri yang nyatanya sampai saat ini tak dapat melupakan pria di depannya.

***

Sampai di tempat tujuan, Denny keluar dari dalam mobil Aira. Membukakan pintu untuk Aira lalu mengganggam pergelangan gadis itu dan mengajaknya masuk ke dalam sebuah gang.

Ternyata Denny sengaja mengajak Aira ke dalam rumah kontrakannya. Membicarakan semuanya dengan kepala dingin, begitulah yang direncanakan Denny.

“Lepaskan tanganku, lepaskan!!!” Aira meronta. Tapi Denny seakan menulikan telinganya. Ia harus meminta penjelasan pada Aira. Gadis itu tak boleh meninggalkannya begitu saja. Meninggalkannya setelah mencuri hatinya.

Sesampainya di dalam rumah kontrakan Denny, dengan sekuat tenaga Aira menghempaskan cekalan tangan Denny hingga terlepas dari pria tersebut.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa membawaku kemari?” tanya Aira dengan nada yang dibuatnya ketus.

“Aku hanya ingin meminta penjelasan darimu, Aira.” Lirih Denny sambil kembali menggenggam pergelangan tangan Aira.

“Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kita sudah nggak memiliki hubungan apapun, Denny!” jawab Aira, kini sudah melepaskan paksa genggaman tangan Denny. Aira berbalik dan akan keluar dari rumah kontrakan Denny, tapi secepat kilat Denny kembali menarik tangannya. Memaksa Aira kembali menatap ke arahnya.

“Kamu nggak boleh pergi meninggalkanku, Aira. Nggak saat ini, ketika kamu membuatku nggak bisa berpaling darimu,” desis Denny dengan nada dinginnya.

Aira membuka bibirnya ingin menjawab perkataannya. Tapi secepat kilat Denny menyambar bibir mungil Aira, melumatnya dengan penuh rasa frustasi. Oh, Denny benar-benar frustasi terhadap Aira. Beberapa minggu ini gadis itu benar-benar membuatnya gila karena penolakannya dan menghindarinya. Itu benar-benar membuat Denny semakin menginginkan Aira.

Aira sendiri meronta ketika Denny menciumnya. Ia sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Denny. Aira dapat kembali menguasai dirinya dari rasa keterkejutannya. Sekuat tenaga ia mendorong dada Denny kuat-kuat, hingga pria itu menjauh dan melepaskan lumatannya.

“Apa yang kamu lakukan?!!” teriak Aira pada Denny.

Tapi bukannya menyesal dan meminta maaf. Denny malah kembali mendekat ke arah Aira, menangkup kedua pipi Aira dan kembali melumat kembali bibir ranum gadis tersebut.

Aira kembali memukul-mukul dada Denny, tapi kemudian pergelangan tangannya di cekal oleh Denny. Ia mendorong sedikit demi sedikit tubuh Aira ke belakang hingga membentur dinding. Sedangkan kedua tangannya masih mencekal dengan kuat kedua pergelangan tangan Aira.

Aira tak berdaya, yang bisa dilakukannya hanyalah pasrah. Denny, kenapa pria ini memperlakukannya seperti ini?. Denny seperti orang lain.

Ketika Aira sudah tak lagi melawan, Denny melonggarkan cekalan tangannya. Ia tentu tak ingin menyakiti Aira, tapi di sisi lain juga tak ingin gadis itu pergi darinya.

Denny melepaskan lumatannya ketika menyadari napas Aira sudah terputus-putus. Ia masih menunduk, menempelkan keningnya pada kening Aira. Bibirnya masih dekat dengan bibir Aira, sedangkan matanya tak berhenti menatap mata Aira yang sudah berkaca-kaca

“Jangan pergi,” ucap Denny dengan suara serak. Tanpa di duga, ia mengangkat tubuh Aira menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.

“Kenapa kamu membawaku kemari?” tanya Aira dengan wajah bingung.

“Maaf, tapi aku harus melakukannya.” Denny sambil menurunkan Aira di atas ranjangnya.

“Melakukan apa?”

“Melakukan sesuatu supaya kamu nggak lagi pergi meninggalkanku.” Aira tak dapat menjawab lagi ketika tiba-tiba Denny mendorongnya hingga telentang di atas ranjang lalu menindihnya

“Denny, jangan lakukan ini!” ucap Aira dengan suara sedikit bergetar ketika bibir basah Denny mulai menyapu permukaan kulit lehernya.

Denny tak lagi menghiraukan Aira. Ia bahkan sudah memberanikan diri membuka pakaian gadis yang kini berada dibawahnya tersebut. Melucutinya tanpa meninggalkan cumbuannya pada permukaan kulit Aira. Aira sendiri hanya bisa pasrah. Otaknya menolak, tapi tidak dengan tubuhnya.

Aira bahkan tak menyadari jika dirinya sesekali mendesah saat Denny menyentuh titik-titik sensitifnya. Setelah dirasa cukup lama menggoda Aira hingga gadis itu tak berdaya dibawah tindihannya tanpa sehelai benangpun. Denny bangkit, lalu mulai melucuti dirinya sendiri hingga kini sama-sama polos.

Denny kembali menindih Aira. Jemarinya terulur mengusap bibir Aira yang sedikit merah karena lumatan panasnya tadi. Lalu merayap naik, mengusap sudut mata Aira yang sudah basah karena air mata.

“Jangan menangis,” ucap Denny dengan suara parau.

“Kumohon, jangan lakukan ini.” Aira benar-benar memohon. Ia tak bisa melakukan hal ini. dirinya bukanlah wanita yang dididik sembarangan. Ia tak ingin mahkotanya direnggut oleh seseorang yang bukan berstatus sebagai suaminya. Aira tak ingin itu terjadi. Tapi di sisi lain, tubuhnya tak dapat lagi menolak sentuhan Denny. Ia ingin pria itu memilikinya, mengikatkan diri menjadi miliknya. Bagaimana dengan kekasih Denny yang lainnya?.

“Maaf, aku nggak bisa berhenti di sini.” Denny sambil kembali melumat bibir Aira. Menggodanya hingga Aira tak mampu lagi menolaknya.

Masih dengan mencumbui Aira, Denny mencoba menyatukan diri dengan gadis di bawahnya. Sangat sulit, tentu saja, karena Denny yakin jika ini yang pertama kalinya untuk Aira. Denny akan bersikap selembut mungkin, memperlakukan Aira semanis mungkin, hingga gadis itu tak akan melupakan momen pertama mereka.

“Aku akan memulainya.” Denny dengan suaara yang sudah serak ketika hampir menyatu dengan Aira. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia takut, tentu saja. Ini pertama kali untuknya, tapi lebih dari itu ketakutan Aira hanya satu, yaitu takut jika nanti Denny akan meninggalkannya setelah sudah mendaptkan apa yang pria itu mau.

“Aira, tatap aku,” ucapnya lagi.

Aira menuruti apa yang dikatakan Denny. Matanya menatap tepat pada manik mata Denny juga menggigit bibir bawahnya seakan menunjukkan ketidak nyamanannya.

“Setelah ini, kamu akan menjadi milikku. Jangan ragukan aku lagi. Aku melakukannya karena aku nggak mau kamu pergi meninggalkanku. Jangan tinggalkan aku Aira… jangan tinggalkan aku.” Denny memeluk tubuh Aira, menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Aira, sedangkan yang dibawah sana sudah bergerak mendesak, menyatu dengan tubuh Aira.

***

Denny masih menatap dalam diam punggung telanjang Aira di hadapannya. Aira meringkuk memunggunginya. Gadis dihadapannya itu masih terisak karena ulahnya. Terlihat dengan jelas beberapa bekas gigitannya dipundak Aira yang memerah. Denny benar-benar merasa jika dirinya sudah gila. Bagaimana mungkin ia memaksa Aira bercinta dengannya.

“Aira…” panggil Denny sembari merengkuh tubuh Aira untuk masuk dalam pelukannya.

“Jangan sentuh aku!!!” teriak Aira dengan kembali menjauh dari rengkuhan lengan Denny.

“Maafkan aku. Aku melakukan semua ini supaya kamu nggak ragu dan meninggalkanku lagi.”

“Apa kamu tahu? Aku membencimu. Kamu salah, aku semakin ragu kalau kamu adalah pria baik-baik. Aku membencimu!!”

“Kumohon Aira, jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik.”

“Nggak!!! Aku nggak mau bicara dengan pria sepertimu. Pria yang memiliki banyak kekasih. Pria yang melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau!”

Denny mengerutkan keningnya, dengan cepat ia membalikkan tubuh Aira hingga menghadap sepenuhnya ke arahnya.

“Aira, kamu ngomong apa? Aku nggak ngerti.”

“Nggak ngerti? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu memang berniat mendekati gadis-gadis kaya untuk mengeruk hartanya?. Sudah berapa gadis yang menjadi mangsamu, huh?” Denny menajamkan matanya ke arah Aira ketika mendengar kalimat penghinaan dari wanita dihadapannya tersebut.

“Siapa yang memberimu informasi murahan itu?” desis Denny.

“Kamu nggak perlu tahu, yang pasti aku sudah tahu kebusukanmu.”

“Aira dengar, aku mendekatimu bukan karena kekayaanmu. Lagi pula bukannya saat itu kamu yang mendekatiku lebih dulu?”

Aira merona malu saat mengingat jika memang benar dirinyalah yang dulu menempel pada Denny. Padahal pria itu sudah bersikap dingin dan cuek terhadapnya.

“Aku nggak peduli!!. Pokoknya aku nggak mau berhubungan dengan pria sepertimu lagi.” Aira dengan nada merajuk manjanya.

“Aira, kamu hanya belum mengenalku. Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi kumohon percayalah. Kalau semua ini nggak ada hubungannya dengan kekayaan yang dimiliki keluargamu.” Ada jeda sebentar, Denny menelan ludahnya dengan susah payah.

“Aku…  Aku benar-benar mencintaimu. Dan itu bukan karena hartamu atau apapun itu. Yang membuatmu berpikiran buruk tentangku. Aku mencintaimu karena itu ‘kamu’.” Perkataan Denny membuat Aira tersipu-sipu seketika.

Kenapa Denny mengatakan kalimat semanis itu?.

Ya ampun, ingin rasanya Aira meneriakkan kalimat ‘JANGAN MERAYUKU’ pada Denny. Tapi sungguh, perkataan pria itu bukan terdengar sebagai rayuan di telinganya. Ucapan Denny terdengar seperti sebuah ungkapan seseorang yang benar-benar tulus.

 

Apakah Denny benar-benar tulus mencintainya?

-TBC-

Sweet in Passion – Chapter 4

Comments 4 Standard

fh1-copySweet in Passion

Banyak Typo!!!

Sial!! Jika saat ini si Alvin yang kembali meneleponnya, maka Randy akan menyumpahi temannya itu impoten seumur hidup. Benar-benar merusak suasana.

Tapi kemudian Randy mengernyit ketika mendapati nomor rumah keluarganya yang sedang menghubunginya. Ah, ini pasti ibunya. Ada apa lagi??

“Halo, Ma?” Randy mengangkat telepon tersebut sesekali melirik ke arah Febby yang sedang sibuk membenarkan tatanan rambutnya. Ahh benar-benar sial, Febby terlihat nikmat untuk di santap. Pangkal pahanya kembali berdenyut saat membayangkan bayangan erotis bersama dengan Febby.

“Randy, cepat ke sini, ada kak Mira dan suaminya di sini, jangan lupa ajak Febby.”

“Iya, Randy segera ke sana Ma, kebetulan ini sedang bersama Febby di jalan.”

Kemudian telepon di tutup. Randy melirik ke arah Febby yang sudah menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit terlihat bersemu merah.

“Ibu menyuruh kita ke sana sekarang juga.”

Walau tak ada yang bertanya, Randy berkata seakan memberikan jawaban untuk Febby. Dan Febby hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya. Ahh, entah kenapa suasanya di sekitar mereka terasa sedikit canggung saat ini. Dan kecanggungan tersebut benar-benar membunuh keduanya.

 

***  

Chapter 4

 

Randy mulai memparkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang sangat mewah, itu adalah rumah keluarga besar Prasaja. Ketika turun dari mobil, ia sudah di sambut oleh pelukan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar Lima tahun. Dia adalah Rocky, keponakannya, putera dari kakak perempuannya yang bernama Mira.

“Om Randy, Rocky kangen sama Om.” Celoteh bocah lima tahun tersebut.

“Hei, kamu ngapain di sini?” Ucap Randy yang kini sudah menggendong Rocky dalam gendongannya.

“Jadi seperti itu caramu menyambut keponakanmu?” Suara itu memaksa Randy mengangkat wajahnya dan mendapati kakak perempuannya sudah berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang.

“Selamat siang kak.” Sapa Febby sopan dengan Mira.

“Siang Febb, ayo masuk.” Ajak Mira dengan ramah. Sedangkan Febby hanya menganggukkan kepalanya.

“Kakak ngapain sih kemari?”

“Ngapain? Aku ngunjungin mama lah, lagian kamu yang paling dekat nggak pernah kemari, apa nggak malu sama aku yang jauh datang ke sini?”

“Kak Mira tentu tahu kalau aku sangat sibuk.”

“Setidaknya luangkan sedikit waktumu, adik kecil.”

“Hei, kita sudah sepakat kalau kakak nggak akan manggil aku dengan panggilan sialan itu.” Gerutu Randy dengan nada kesalnya. Ya, ia memang tak suka di panggil dengan panggilan adik kecil. Sedangkan Febby hanya mampu tersenyum melihat tingkah kedua bersaudara tersebut.

Mereka masuk ke dalam rumah dan di sambut ramah oleh Nyonya Prasaja, ibu dari Randy dan juga Mira.

“Kalian sudah datang? Ayo, kita makan siang bersama.” Ajak Nyonya Prasaja.

Randy menuju ke arah meja makan, kemudian duduk tepat di sebelah seorang lelaki yang memang sejak tadi berada di sana. Itu Andrew, suami dari Mira.

“Apa kabar Kak.” Sapa Randy dengan nada yang di buatnya ramah.

“Baik, kamu sendiri?”

Randy mengangkat kedua bahunya. “Lebih dari baik, Kak.”

“Sialan!!!”

Kemudian keduanya tertawa lebar bersama sembari melakukan tos ala anak muda. Randy dan Andrew memang berteman baik dulunya. Dan Randy benar-benar tak menyangka, jika temannya itu kini menjadi kakak iparnya. Randy bahkan sering menggoda Andrew dengan memanggilnya ‘kakak’ dan bersikap seformal mungkin. Padahal Andrew tahu jika Randy hanya menggodanya seperti saat ini.

Andrew memiliki usia Tiga tahun lebih mudah daripada Mira. Keduanya sama-sama mejadi korban perjodohan kolot keluarga masing-masing. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, keduanya bisa menerima satu sama lain bahkan kini saling mencintai satu dengan yang lainnya.

“Febby, sini sayang.” Ucap Nyonya Prasaja. Dan Febby akhirnya mendekati ibu mertuanya tersebut. “Kamu suka makan apa? Mama belum tahu makanan kesuakaan kamu, jadi semoga kamu mau memakan masakan mama ini ya.”

Febby tersenyum dengan kelembutan yang di berikan oleh Ibu Randy.

“Saya suka memakan apa saja, Ma.”

“Ya, itu karena dia rakus Ma.” Randy ikut menyahut dan mendapat hadiah pelototan dari Febby.

Andrew menyikut siku Randy dan bertanya. “Hei, sejak kapan lo dekat sama dia?”

“Apa?” Randy bingung dengan pertanyaan Andrew.

“Jangan pura-pura, gue tahu kalau selama ini hubungan kalian tidak berjalan baik, jadi, sejak kapan kalian saling bertegur sapa bahkan saling ejek seperti saat ini?”

“Bukan urusan lo.” Jawab randy dengan cuek.

“Atau, jangan-jangan kalian sudah melakukannya.”

Meski di ucapkan dengan nada berbisik, perkataan Andrew benar-benar mengejutkan untuk Randy hingga membuat Randy tersedak bahkan terbatuk-batuk.

“Hahahhaha lo bener-bener sudah ngelakuin itu?” Andrew masih saja meledek Randy dan itu benar-benar membuat Randy kesal.

“Dasar kakak ipar mesum!!” Randy berkata pada Andrew dengan nada mengumpat, sedangkan Andrew sendiri tak berhenti tertawa melihat kelakuan Randy.

***

Malamnya…

Setelah makan malam bersama, mereka berkumpul di ruang keluarga. Andrew dan Mira sesekali bercerita tentang pekerjaannya yang dan tempat tinggalnya yang kini berada di Balikpapan. Begitupun dengan Nyonya Prasaja yang sesekali bercerita pengalamannya ketika mengunjungi beberapa saudaranya yang berada di Bali dan juga di Palembang.

Setelah puas bertukar cerita, Febby kemudian menyikut lengan Randy, ia ingin mengajak Randy pulang karena besok ia harus kerja, Randy akhirnya mengerti apa yang di maksud Febby dan mulai berpamitan dengan ibunya.

“Ma, sudah malam, Randy dan Febby mau pamit pulang dulu.”

“Tidak, lebih baik kalian menginap di sini malam ini.”

“Apa? Menginap?” Febby dan Randy tanpa sadar mengucapkan dua kata tersebut dengan bersamaan karena sama-sama terkejut.

“Iya, mumpung Mira dan suaminya menginap di sini, mama juga ingin kalian menginap di sini supaya besok kita bisa berkumpul bersama seperti keluarga besar.” Nyonya Prasaja mengatakan pendapatnya.

“Tidak bisa Ma, kami tidak bisa menginap di sini, memangnya kami akan tidur di mana?” Randy masih saja menolak, ia tentu tidak ingin sekamar dengan Febby mengingat ciuman panas mereka tadi siang.

“Tentu saja kalian berdua nanti akan tidur di kamarmu yang dulu, ibu selalu merapikannya meski kamu tidak pernah main ke sini lagi.”

“APA????” lagi-lagi tanpa sadar Febby dan Randy mengucapkan kata tersebut dengan bersamaan. Menginap bersama dan sekamar? Astaga, yang benar saja.

“Emm, Ma, besok saya akan berangkat kerja pagi, jadi saya tidak mungkin menginap di sini malam ini.” Ucap Febby cepat.

“Ya, Ma, Randy besok juga ada syuting pagi.” Sahut Randy ceepat. Ia ingin mendukung Febby. Tentu saja ia tak ingin hanya berduaan dengan Febby malam ini, mengingat ciuman panas mereka tadi siang akan membuat Randy kembali menginginkan Febby.

“Tidak bisa, kalian harus tetap menginap. Ibu akan menelepon semua orang yang akan menangani pekerjaan kalian hingga kalian bisa berangkat siang besok, atau bahkan cuti sehari.” Perintah Nyonya Prasaja benar-benar tak dapat di ganggu gugat. Randy maupun Febby tentu tak dapat lagi menolak permintaan wanita paruh baya tersebut.

“Febby, kamu tentu tidak membawa baju tidur kan? Kamu bisa minta tolong dengan kak Mira, Kak Mira pasti mau meminjamkan sebuah baju tidurnya untuk kamu.”

Mira tersenyum miring. “Tentu saja Ma, aku akan meminjamkan baju tidur terbagus untuk Febby.” Ucap Mira sambil melirik ke arah Randy.

Sedangkan Randy hanya bisa menggerutu dalam hati. Oh benar-benar sial, ini akan menjadi malam terpanjang untuknya. Semoga saja kejantanan sialannya tidak membuat ulah malam ini. Sial, benar-benar sial.

***

“Kak, aku nggak mungkin pakai baju ini.” Ucap Febby sembari menatap bayangannya yang seksi pada cermin di hadapannya. Saat ini Febby sedang mengenakan lingerie seksi milik Mira.

“Lalu, kamu tetap akan mengenakan jas doktermu itu untuk tidur? Ayolah, jangan menyebalkan. Ini tidak terlalu seksi dan sangat cocok untuk wanita dewasa yang sudah bersuami seperti kita.” Ucap Mira dengan sedikit terkikik.

“Tapi aku tidak terbiasa kak, apa Kak Mira tidak memiliki piyama biasa atau sejenisnya?”

“Apa? Piyama? Kamu masih menggunakan piyama saat tidur? Astaga, kapan-kapan kita harus belanja bersama. Aku akan mengajarimu berpakaian seksi di depan suami, aku yakin adikku yang bodoh itu akan meneteskan air liurnya saat melihatmu berpakaian seperti seleraku.”

Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dalam pikiran Febby saat Randy sangat ingin memilikinya ketika ia mengenakan baju seksi setengah telanjang. Dengan cepat Febby menggelengkan kepalanyaa.

“Tidak, tidak. Emm, cukup seperti ini saja kak, aku tidak ingin selalu memakai baju seksi.” Ucap Febby cepat dengan sedikit bergidik ketika membayangkan bayangan erotis dirinya dengan Randy.

“Baiklah, sekarang cepat pergilah ke tempat suamimu, dia pasti sudah menunggumu.” Ucap Mira dengan sedikit mengusir Febby.

“Tapi kak, ummm…” Febby sendiri masih terlihat enggan keluar dari kamar Mira dengan mengenakan pakaian yang sangat tipis, bahkan hampir mendekati transparan, dan membuat bagian tubuhnya sedikit terlihat lebih jelas.

Melihat Febby yang tak kunjung keluar, Mira hanya dapat menghela napas panjang. Febby pasti tak terbiasa mengenakan pakaian itu. Terlihat jelas jika wanita itu malu-malu bahkan pipinya sampai merona merah.

“Hei, mau sampai kapan kamu di kamarku? Aku juga mau tidur tau. Haisss, anak ini benar-benar.” Gerutu Mira. Mira kemudian mengambil sebuah kimono lalu memberikannya pada Febby. “Kalau kamu malu, pakai itu untuk keluar.” Kata Mira lagi.

“Terimakasih kak.” Ucap Febby yang di jawab dengan anggukan oleh Mira. Akhirnya Febby mengenakan kimono pemberian Mira lalu segera bergegas keluar dari kamar kakak iparnya tersebut.

***

Di dalam kamar.

“Kamu lama sekali. Apa yang kamu lakukan di kamar Kak Mira?” Randy bertanya setengah marah terhadap Febby karena ia tidak suka menunggu. Menunggu? Memangnya ia menunggu untuk apa?

Febby sendiri hanya masuk dan tidak menghiraukan seruan Randy.

“Kamarmu nyaman, dan terlihat seperti orangnya.” Febby malah berkomentar tentang kamar Randy ketika ia memperhatikan seluruh isi kamar tersebut.

Kamar tersebut di dominasi warna hitam dan coklat kayu, hingga membuatnya terlihat maskulin. Di dalamnya juga terdapat beberapa buku, di rak di ujung ruangan, penghargaan Awards yang di dapatkan Randy, serta barang-barang antik lainnya. Tanpa sadar kaki Febby menelusuri semua itu dengan tatapan kagumnya. Ia suka dengan nuansa di dalam kamar tersebut.

Randy mengikuti Febby tepat di belakang wanita tersebut. Ia mengerutkan keningnya.

“Seperti orangnya? Apa maksudmu?”

“Kamar ini terlihat sangat maskulin, dan sedikit seksi.” Tanpa sadar Febby mengucapkan kalimat tersebut.

“Apa? Seksi dan maskulin?”

Febby baru sadar jika sejak tadi Randy berjalan tepat di belakangnya. Ia terkejut ketika membalikkan badan dan mendapati Randy yang sudah berdiri sangat dekat di belakanynya.

“Kamu, kamu mau apa?” Febby tidak memungkiri jika dirinya sedikit gugup dengan kedekatannya bersama Randy. Dengan spontan ia merapatkan kimono yang di kenakannya dengan sedikit menundukkan kepalanya.

Randy yang melihat Febby sedikit salah tingkah akhirnya memiliki ide gila untuk menggoda wanita di hadapannya tersebut.

“Tidak, aku hanya ingin tahu apa yang kamu kenakan di balik kimono itu.” Dengan sedikit tersenyum, Randy menggoda Febby. Randy berjalan mendekati Febby, sedangkan Febby berjalan mundur menjauhinya. Akhirnya Randy berinisiatif untuk memegang kedua bahu Febby.

Febby sendiri merasa merinding dengan sentuhan tangan Randy. Ia lalu menampik tangan Randy dan berteriak pada lelaki tersebut.

“Apa yang akan kamu lakukan?!”

“Hahahah kamu tidak perlu marah-marah, aku juga tidak tertarik denganmu.” Ucap Randy dengan tawa mengejeknya.

“Apa? Benarkah? Baiklah, kita lihat saja nanti.” Febby benar-benar tersinggung dengan apa yang di ucapkan Randy akhirnya berkacak pinggang, lalu di bukannya kimono yang ia kenakan dengan gerakan menggoda layaknya perempuan nakal di film-film yang pernah ia tonton.

Mata Randy membulat seketika saat melihat apa yang di kenakan Febby dari balik kimononya. Febby mengenakan sebuiah Lingerie berenda yang amat sangat tipis. Bahkan saking tipisnya, bayangan pakaian dalam Febby yang berwarna hitam sangat terlihat jelas dari mata Randy. Bemum lagi potongan Lingerie tersebut yang benar-benar menggugah gairah siapa saja yang melihatnya. Lingerie itu memiliki dua tali tipis di pundak Febby, belahan dada yang sangat rendah, serta panjangnya yang jauh di atas lutut, membuat Febby terlihat begitu seksi di matanya.

Randy menelan ludahnya dengan susah payah. Yang di bawah sana sudah berdenyut minta untuk segera di bebaskan. Matanya seakan tak ingin berkedip melihat pemandangan di hadapannya. Randy lalu melihat Febby mulai berjalan menuju ke tempat tidur. Febby terlihat sengaja sedang menggodanya dengan berbaring miring menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya mirip sekali dengan wanita-wanita penggoda di dalam film-film dewasa.

Astaga, Randy bisa meledak saat ini ju8ga jika Febby tidak berhenti berpose layaknya wanita penggoda.

“A, apa yang kamu lakukan?” Tanya Randy dengan setengah tergagap karena menahan gairah yang seakan ingin meledak dari dalam dirinya.

“Aku mau tidur.” Jawab Febby dengan santai di sertai dengan senyuman menggodanya.

“Apa? Dalam keadaan genting seperti ini, kamu bisa memikirkan untuk tidur?”

“Genting? Genting kenapa? Lalu, memangnya aku harus apa?” Febby bertanya dengan mimik wajah yang di buatnya polos. Ia sungguh tak dapat menahan senyumannya. Ia tahu, jika dirinya sudah berhasil menggoda laki-laki bodoh yang hanya memikirkan kejantanannya itu.

Randy menghela napas dengan kesal. “Baiklah, kalau itu maumu.” Ucap Randy yang kini sudah membuka piyama yang ia kenakan beserta celananya hingga meninggalkannya hanya dengan boxernya saja.

Astaga. Febby terperanjat dengan apa yang di lakukan Randy. Matanya membulat seketika ketika menatap bukti gairah Randy yang menegang di balik boxer yang di kenakan lelaki di hadapannya tersebut. Randy sedang bergairah, Febby tahu itu. Tapi untuk apa lelaki itu melepaskan pakaiannya sekarang ini? Jangan bilang kalau….

“A, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Febby yang kini sudah meringsut ke ujung ranjang dengan tatapan ngerinya.

Tiba-tiba Randy sudah melompat tengkurap tepat di sebelahnya. Dengan seringaian nakalnya, Randy berkata.

“Aku akan tidur.”

-TBC-

Anggep aja Andrew di sini sama dengan Andrew di cerita Elena.. hahahhahaha hadehhh saya kekurangan nama. lain kali bantu saya cari nama yakkkk mhueehehheheh

Elena – Chapter 1 (Kencan satu malam)

Comments 5 Standard

drawing-elena-copyElena

Banyak Typo yaa..!!!

 

Chapter 1

-Kencan satu malam-

 

Yogie terbangun dengan mata yang nyaris tak bisa terbuka. Ia masih mengantuk, tubuhnya masih terasa remuk dengan pergulatan panas semalam. Pergulatan panas? Yogie membuka matanya seketika dan mendapati dirinya sedang berada di dalam sebuah kamar seorang wanita.

Tentu Yogie ingat jika semalam ia baru saja bercinta dengan panas dengan orang yang baru saja ia temui setelah Enam tahun tak bertemu. Yogie tersenyum saat mengingat hal itu. Ia melemparkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari-cari pakaiannya.

Yogie lantas berdiri kemudian mulai memunguti pakaiannya yang berserahkan di lantai dan mengenakannya satu persatu. Pada saat bersamaan, pintu kamar mandi di buka oleh seseorang, dan Yogie terpana menatap sosok berbeda dengan sosok yang semalam ia temui.

Itu Elena, wanita yang sama dengan wanita tadi malam, tapi penampilannya begitu berbeda. Jika Elena tadi malam terlihat seperti wanita liar dan wanita nakal, maka saat ini Elena terlihat sebagai wanita dewasa dengan pakaian kantornya.

“Hai.” Sapa Elena tanpa sedikitpun rasa canggung.

“Hai.” dan entah kenapa Yogie merasakan jika kini dirinya yang canggung saat bersama dengan wanita tersebut.

“Maaf, aku nggak bangunin kamu, aku lupa kalau aku ada rapat mendadak pagi ini.” Ucap Elena sambil merapikan kembali rambutnya sembari menatap cermin di hadapannya.

Yogie yang baru saja mengenakan boxernya hanya bisa berjalan mendekat ke arah Elena lalu mengamati wanita tersebut.

“Kamu.. Kamu masih ingat aku kan?” tanya Yogie meyakinkan diri jika Elena memang masih mengenalinya.

Elena menatap Yogie dengan tatapan anehnya. “Kamu pikir aku hilang ingatan? Kamu Yogie kan? Temannya Aaron?”

Yogie mengangguk pasti.

“Oke, sekarang cepat pakai bajumu, dan kamu harus segera keluar dari apartemenku sebelum tukang bersih-bersih apartemen ini shock melihat kamu masih ada di sini dengan puluhan kondom bekas pakai di tong sampah.”

Yogie benar-benar tak dapat menahan senyumannya. Ahh wanita di hadapnnya itu benar-benar wanita yang berbeda. Wanita liar yang entah kenapa dengan gampang dapat membangkitkan birahinya.

“Elena, apa kita masih bisa bertemu lagi?” Tanya Yogie sembari mengancingkan resleting celananya.

“Kamu bercanda? Aku tidak mungkin ketemu lagi denga orang yang sudah bercinta denganku.”

Yogie tercengang mendengar jawaban Elena. “Maksudmu?”

Please, lupakan tadi malam, anggap saja itu cuman kencan satu malam yang harus di lupakan. Dan aku tidak mau ninggalin kontakku buat kamu.”

“Tapi, bagaimana kalau kita tidak sengaja bertemu lagi??”

“Cukup Say Hallo.” Jawab Elena dengan nada entengnya.

“Elena, Emm.. Apa aku kurang memuaskanmu?” pertanyaan Yogie tersebut sontak membuat Elena menatap ke arah Yogie dengan tatapan anehnya.

“Kamu bertanya tentang ukuran kejantananmu?” Elena tersenyum saat melihat Yogie meringis malu. “Kamu luar biasa Gie, tapi Please, kamu bukan tipeku.” Ucap Elena lagi sambil menepuk bahu Yogie.

Yogie tercenung sebentar, kemudian ada sekelebat ide di dalam kepalanya. “Bolehkan aku meminta ciuman perpisahan?”

Bukannya menjawab, Elena malah mendongakkan dagunya seakan mempersilahkan Yogie mencium bibirnya. Yogie semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Elena kemudian menangkup kedua pipi Elena dengan kedua telapak tangannya dan mendaratkan bibirnya pada bibir Elena.

Yogie mencium bibir Elena selembut mungkin, sangat berbeda dengan ciuman panas yang ia berikan semalam. Sedangkan Elena sendiri terlihat begitu menikmati ciuman lembut yang di berikan oleh Yogie. Wanita itu membalas ciuman Yogie, telapak tangan Elena bahkan meremas lengan Yogie karena terlalu menikmati ciuman yang di berikan Yogie tersebut.

Setelah ciuman tersebut selesai, Yogie menatap Elena yang masih terengah dengan wajah yang sudah merah padam. Kemudian Yogie mengecup singkat bibir Elena sekali lagi sembari berkata….

“Kita akan bertemu lagi, Elena, kita akan bertemu lagi.” Ucap Yogie sambil meninggalkan Elena begitu saja yang masih tercengang dengan apa yang baru saja di lakukan Yogie.

Untuk pertama kalinya, Elena merasakan jantungnya berdebar cepat seperti tabuhan genderang yang seakan nyaris pecah. Ada apa ini?? Kenapa lelaki itu mampu membuatnya kembali berdebar hebat?

***

Yogie sedang sibuk membongkar ulang mesin motor besarnya. Malam ini ia akan kembali ikut balapan. Ya, sejak mengejar Alisha lalu di tolak mentah-mentah dan dia patah hati, Yogie tak lagi ikut kumpul bersama teman-teman se-Genknya. Yogie lebih memilih menyendiri di club tempatnya bertemu dengan Elena beberapa malam yang lalu.

Ahhh wanita itu lagi. Sialan!! Yogie mengumpati dirinya sendiri lantaran kembali mengingat Elena.

Elena Pradipta. Mengingat namanya saja Yogie kembali merasakan kesakitan saat memendam cinta dengan wanita tersebut dulu ketika masih SMA.

Ya, Yogie memang pernah mencintai Elena. Bahkan bisa di bilang, Elena adalah cinta pertamanya. Tapi sayangnya, wanita itu dengan terang-terangan mengakui perasaannya pada Aaron, sahabatnya sendiri. Mau tak mau Yogie memendam perasaan itu sendiri, membiarkan dirinya sendiri sakit hati saat melihat Elena yang selalu menempel di sisi Aaron. Akhirnya cinta pertamanya itu benar-benar mati saat mengetahui jika Elena melanjutkan studynya di Harvard hanya untuk bisa dekat tengan Aaron.

Sebegitu cinta kah Elena pada Aaron? Apa wanita itu kini masih mencintai Aaron?

Yogie menggelengkan kepalanya, menepis semua bayang-bayang dari Elena. Tapi seberapa keras ia berusaha, bayangan itu kebali muncul lagi dan lagi. Ahh, benar-benar sial, bagaimana mungkin bercinta semalam dengan Elena membuatnya menjadi gila? Yogie bahkan tak dapat melupakan bayangan erotis dari Elena malam itu.

Malam itu…

“Kamu yakin kita akan melakukannya di sini?” tanya Yogie pada sosok yang masih setia merangkulnya. Saat ini ia sedang berada di dalam sebuah lift yang menuju ke lantai Lima sebuah apartemen. Elena mengaku jika itu adalah apartemen tempat tinggalnya.

Elena kembali merangkulkan lenganya pada leher Yogie, kemudian mencium dengan kasar bibir Yogie.

“Tentu saja. Kamu takut meniduriku?”

Yogie tersenyum miring. “Yang benar saja, aku tak pernah takut meniduri siapapun.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Elena berjinjit, menggapai telinga Yogie lalu berbisik di sana. “Kalau begitu, tiduri aku malam ini sampai aku berteriak minta ampun.” Kemudian Elena menggigit lembut telinga Yogie.

Sialan!!!

Kenjantanan Yogie berdenyut seketia. Ia tak menyangka jika Elena akan menjadi wanita senakal ini. Beginikah kehidupannya di luar negeri?

Setelah pintu lift terbuka. Dengan cepat Elena menarik tangan Yogie menuju ke sebuah pintu yang berada di paling ujung. Membukanya lalu menarik Yogie masuk ke dalam. Elena mengunci pintu tersebut kemudian kembali mengalungkan lengannya pada leher Yogie. Melumat bibir Yogie penuh dengan gairah dengan sesekali mendorong tubuh Yogie ke belakang.

“Hemm, wanita nakal.” Erang Yogie ketika Elena sudah berani membuka ikat pinggangnya.

“Ya, sejak dulu aku memang nakal.”

“Dan aku suka.”

Ucapan Yogie membuat Elena tersenyum miring sembari melirik ke arah Yogie. “Jangan merayu. Aku tidak suka di rayu.”

“Lalu apa yang kamu suka?” tanya Yogie sedikit menantang.

“Aku suka di gigit, dimana-mana.”

Oh sial!!! Yogie benar-benar tak dapat menahan gairahnya lagi. Secepat kilat Yogie kembali menyambar bibir ranu Elena. Melumatnya penuh gairah, seakan menyalurkan semua kefrustasiannya pada wanita tersebut.

Elena sendiri masih saja membalas ciuman panas Yogie sembari mendorong Yogie sedikit demi sedikit masuk ke dalam kamarnya.

Sampai di dalam kamar, keduanya melepaskan pangutan masing-masing. Berdiri terengah dengan napas yang sudah putus-putus. Yogie menatap Elena dengan tatapan penuh gairah, pun sebaliknya dengan Elena yang menatap Yogie dengan tatapan membaranya.

Secepat kilat keduanya membuka pakaian yang di kenakan masing-masing hingga kemudian mereka berdua berdiri polos tanpa sehelai benang pun.

Elena bahkan menahan napas ketika menatap bukti gairah Yogie yang terpampang jelas di hadapannya. Sial!! Yogie sangaat bergairah. Pikirnya. Sedangkan Yogie sendiri tak berhenti menelan ludahnya dengan susah payah ketika menatap lekukan sempurna dari tubuh Elena.

Dengan spontan, Elena kembali merangkulkan lengannya pada leher Yogie, melumat kembali bibir lelaki itu penuh dengan gairah dengan sesekali menempelkan tubuhnya pada tubuh polos Yogie.

“Ohh, kamu begitu menakjubkan. Aku ingin kamu memasukiku sekarang juga.” Ucap Elena sambil sesekali menggigit bibir Yogie.

“Wanita Nakal!!!” Ucap Yogie dengan nada sedikit mengumpat karena tak kuasa menahan gairah yang seakan tak terbendung lagi.

Dengan kekuatannya, Yogie meraih pinggang Elena, mengangkatnya, kemudian membantingnya di atas ranjang wanita tersebut. Yogie lalu menyeringai kepada Elena.

“Kamu ingin aku berada di dalam dirimu? Baiklah, aku akan memasukimu sayang.” Ucap Yogie dengan serak. Yogie kemudian melompat ke atas ranjang, menindih Elena, lalu bersiap melakukan aksinya.

“Hei, pakek pengaman, Sialan!!” Yogie mengernyit mendengar ucapan Elena.

“Pengaman?”

“Ambil di dalam laci.” Perintah Elena.

Sial!!! Wanita itu entah kenapa saat marah semakin mebuat Yogie bergairah. Elena tampak sebagai wanita yang lebih domindan, dan entah kenapa Yogie suka dengan hal itu.

Yogie bangkit kembali tampa mempedulikan ketelanjangannya. Ia meraih ganggang laci Elena, menariknya lalu melihat apa ada pengaman di sana. Yogie tersentak ketika melihat banyak bungkusan foil di sana.

“Kamu suka melakukan seks di sini?” tanya Yogie dengan nada tak enak di dengar.

“Bukan urusanmu. Cepat pasang dan kemarilah.”

“Ya, sekarang memang bukan urusanku, tapi setelah ini semua akan menjadi urusanku.” Ucap Yogie dengan suara lebih pelan. Kemudian melompat kembali menindih Elena.

“Aku akan memulainya.”

“Jangan banyak bicara! Kamu seperti banci.”

Yogie tersenyum miring. “Banci? Kamu sebut aku banci? Kita lihat, apakah banci ini mampu membuatmu berteriak minta ampun?” dan tanpa banyak bicara lagi, Yogie menyatukan diri begitu saja pada Elena.

Elena mengerang panjang. Yogie terasa penuh di dalam dirinya. Dan itu membuat Elena membuka mata lebar-lebar menatap mata Yogie dengan tatapan penuh dengan kenikmatan.

“Sial!! Kamu.. Kamu…” Elena tak dapat melanjutkan kalimatnya karena kenikmatan yang di berikan Yogie lagi dan lagi.

“Kamu apa sayang? Kamu apa?” taanya Yogie sembari menggoda kedua puncak payudara Elena.

“Gie.. kumohon.. kumohon…” hanya itu yang dapat di katakan Elena.

“Memohon padaku Elena?” Yogie masih tak berhenti menggoda Elena. Menghujam berkali-kali ke dalam tubuh wanita tersebut. Hingga kemudian Elena berakhir dengan meneriakkan namanya keras-keras.

“Bagaimana? Kamu masih meragukanku? Masih berani menyebutku banci?” tanya Yogie yang sudah kembali menormalkan napasnya yang tadi sudah terputus-putus karena pelepasannya.

“Kamu belum menang Gie.” Ucap Elena masih dengan napas yang tersenggal-senggal.

Yogie bangkit menatap Elena dengan seringaian liciknya.

“Oh ya? Jadi kamu belum ingin minta ampun?” tanya Yogie yang sudah memasang kembali pengaman pada bukti gairahnya yang kembali menegang.

“Belum!!!”

Yogie tersenyum miring. “Bagus. Karena aku juga belum ingin mengampunimu.” Ucapnya sembari membalik tubuh Elena hingga membelakanginya lalu kembali menyatukan diri sedalam-dalamnya pada pusat diri Elena.

Keduanya kembali bercinta dengan panas, mengerang satu sama lain, meneriakkan nama satu sama lain, entah sudah berapa kali hingga tak terasa pagi sudah menjelang.

Bayangan itu masih terekam jelas pada ingatan Yogie. Teriakan itu masih terngiang di telinganya, dan sentuhan itu masih terasa di kulitnya. Sial!!! Mengingat Elena saja membuat kejantanannya kembali berdenyut. Elena membuatnya gila, seakan menyulut sesuatu yang nakal dari dalam dirinya.

Yogie menggelengkan kepalanya cepat untuk menepis semua lamunannya. Ia harus segera menyelesaikan modifikasi motornya supaya nanti malam bisa tampil keren di hadapan teman-temannya.

***

Malam itu akhirnya Yogie benar-benar menghadiri balapan yang dulu sering ia ikuti sebelum patah hati dengan Alisha. Beberapa temannya sempat kaget melihat Yogie kembali balapan, sedangkan yang lainnya tampak senang melihat kehadiran Yogie.

“Jadi, malam ini, apa taruhannya?” tanya Yogie ketika beberapa temannya sudah berkumpul.

“Kita tunggu Andrew dulu, katanya dia mau jadikan motornya sebagai taruhan.”

“Motor? Buat apa? Sesekali taruhan ceweknya kan lebih semangat.” Ucap Yogie dengan sedikit tertawa.

“Emang lo belum tahu cewek si Andrew? Sial, dia anak konglongmerat. Mana mungkin si Andrew mau melepaskannya.”

“Gue pikir Andrew bukan tipe cowok yang mata duitan.”

“Memang bukan, tapi kalau ceweknya pewaris tunggal Pradipta Group, apa lo rela ngelepasin dia?”

Tubuh Yogie menegang seketika ketika temannya itu menyebut Pradipta Group. Setahunya, Pradipta Group di negeri ini adalah perusahaan milik ayah dari Elena. Jika berbicara tentang asetnya, maka akan membuat orang berdecak kagum dengan kesuksesan Pradipta Group.

Belum sempat Yogie angkat bicara, orang yang sedang mereka bicarakan akhirnya sampai tepat di hadapan mereka.

Itu Andrew yang sedang menaiki motor besarnya dengan seorang wanita yang di bonceng di belakanya dengan pose mesra.

Itu wanita yang sama dengan wanita yang beberapa hari yang lalu di tiduri Yogie, Elena Pradipta.

Yogie sedikit menyunggingkan senyuman miringnya. Oh, jadi elena sudah memiliki kekasih? Jadi kemarin ia meniduri kekasih temannya sendiri? Sialan!!! Elena benar-benar wanita Nakal!!!

Elena sendiri tampak santai berhadapan dengan Yogie. Seperti yang ia katakan sebelumnya, bahwa ia akan menganggap malam itu hanyalah sebagai cinta satu malam. Malam yang hanya akan menjadi rahasia mereka berdua. Dan Elena tak mau ambil pusing untuk mengingat malam itu.

Tapi sepertinya berbeda dengan Yogie. Ia tidak suka melihat Elena yang tampak cuek terhadapnya.

“Drew, jadi ini pacar baru lo?” Tanya Yogie sambil menatap Elena dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sial!! Lagi-lagi Elena berhasil membuat pangkal pahanya berdenyut.

“Hahahaha, kami sudah pacaran sejak setahun yang lalu.”

“Oh ya? Gue pikir dia tinggal di luar negeri.”

“Ya, kami pacaran sejak dia di luar negeri. Dan tiga bulan yang lalu dia sudah kembali menetap di indo. Bukan begitu sayang?” Andrew bertanya sembari menggigit lembut telinga Elena. Dan shit!! Itu membuat Yogie benar-benar tak suka.

“Oke, jadi sekarang apa taruhannya? Kalau hanya motor, gue nggak ikut. Sudah terlalu sering. Dan gue muak dapet motor rongsokan kalian.” Ucap Yogie menyombongkan diri.

“Brengsek lo! Lo yakin banget kalau akan menang.”

“Gue yakin dengan modifikasi baru motor gue.”

Andrew menatap dengan tatapan meremehkan pada motor yang di tunggangi Yogie. Memang tampak sedikit berbeda dengan terakir kali yang ia lihat. Tapi Andrew tetap tidak yakin Yogie dapat memenangkan balapan kali ini, meski dulu Yogie hampir selalu memenangkan balapan tersebut, tapi kini Yogie terlalu lama absen dari balapan, dan itu pasti akan mempengaruhi penampilannya malam ini.

“Jadi lo mau apa?” Tanya Andrew.

“Gue mau yang sedikit menantang.”

“Apa?”

“Kencan satu malam dengan dia.” Ucap Yogie sambil menunjuk ke arah Elena.

 

-TBC-

Elena – Prolog

Comments 3 Standard

drawing-elena-copyElena

Hallo… cerita baru nih.. dari Elena dan Yogie. semoga kalian ingat dengan mereka di cerita My Cool lady yaa.. langsung aja.. hahahha

Cast : Yogie pratama – Elena Pradipta

Genre : Roman dewasa

Seri : The Bad Girls #1

 

#Prolog

 

-Yogie-

 

Aku mulai memparkirkan mobilku di area parkir sebuah club malam. Club malam yang beberapa bulan terakhir ku datangi secara rutin. Bukan karena aku ingin mengencani salah satu penari tiang di sana, tapi karena aku ingin menghabisakan malam-malamku dengan mabuk.

Ya, sejak patah hati beberapa bulan yang lalu, aku memang selalu ke tempat ini untuk menenangkan diriku sendiri. Sesekali aku bermain dengan wanita yang di sediakan di club ini, tapi tetap saja, wanita-wanita itu tak akan bisa menggantikan posisi Alisha di hatiku. Ya, Aku benar-benar mencintai Alisha, gadis pengantar minuman di sebuah Pub yang kini sudah menikah dengan kakak dari sahabatku sendiri.

Aku mengernyit ketika menyadari jika club malam ini lebih ramai dari biasanya. Ada apa? Apa ada yang mengadakan acara malam ini?? Dan benar saja, setelah aku masuk, suasana sesak seketika ku rasakan. Banyak sekali wanita dan pria yang turun langsung ke lantai dansa. Beberapa penari tiangpun sudah setengah telanjang di sana. Sialan!!! Jika saja aku tidak sedang patah hati, mungkin aku sudah berusaha meniduri salah satunya.

Aku menuju ke arah bar. Dimana aku bertemu dian Andy, si bartender yang biasanya menyuguhkan minuman untukku.

“Kayak biasa Ndy..” Aku memesan minuman yang biasa ku minum pada Andy. Andy hanya mengangguk kemudian menyiapkan minuman pesananku.

“Rame banget malam ini.”

“Ya, Mas, kan ada yang ulang tahun Mas.” Sahut Andy.

“Siapa?”

“Dengar-dengar sih anak konglongmerat. Tuh dia lagi ikutan nari di tiang.” Andy menunjuk seorang wanita yang sedang sibuk dengan tarian erotisnya.

Aku menyipitkan mataku ke arah wanita tersebut, wanita yang terlihat familiar dalam ingatanku.. Sialan!!! Bukannya itu… itu….

Tanpa sadar aku sudah berdiri, kakikupun sudah melangkah menuju ke arah wanita tersebut. Ya Tuhan..!!!! Kejantananku mengetat seketika. Wanita itu terlihat lebih cantik dari pada terakhir kali kami bertemu Enam tahun yang lalu, tubuhnya terlihat begitu seksi dan terlihat sangat menggairahkan. Kenapa dia di sini? Di club ini? Dan kenapa dia bisa terlihat seliar ini?

Aku semakin mendekat, bahkan tak mengiraukan beberapa lelaki yang terang-terangan mengumpat ke arahku. Hingga ketika aku berada sangat dekat dengan wanita itu, aku tak berhenti menengadah ke arah wanita tersebut.

“Elena…” Panggilku.

Ya, Wanita itu adalah Elena Pradipta. Gadis populer di sekolah SMAku dulu. Elena tampak menghentikan tariannya, kemudian menatapku dengan tatapan anehnya.

“Yogie??” Ucapnya tak percaya.

Aku tertawa lebar. Dia masih mengenaliku. Tanpa banyak bicara, Elena melompat turun dan tanpa basa-basi lagi wanita itu memelukku. Sial!!! Aku mengumpat pada pangkal pahaku yang tak berhenti berdenyut dan terasa nyeri.

“Hei.. Kamu ngapain di sini?” Tanyaku sedikit menetralkan perasaan menggebu pada wanita yang sedang memelukku ini.

Elena melepaskan pelukannya kemudian menatapku dengan tatapan nakalnya. “Aku sedang ingin bercinta.” Ucapnya dengan mata berkabut kemudian bibir ranumnya menyabu bibirku begitu saja. Dan aku hanya bisa membalas ciuman panasnya tersebut, bayangan Alisha menghilang begitu saja di gantikan dengan bayangan erotis dari diri Elena.

Ohh Shit!!! Salahkan saja pada kejantananku yang seakan ingin di bebaskan saat ini juga. Ya, aku juga ingin bercinta, dengan wanita ini, wanita terpopuler di sekolah kami dulu….

 

-TBC-

heii.. sebenernya ini cerita dulounya ku kasih judul Friend with benefit. tapi ku ganti ini aja yaa… biar lebih simpel,,, hahhahahha

tbg2-copy

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 10 (“Genggamlah tangannya”)

Comments 8 Standard

tlk2-copyThe Lady Killer 2

Ahhh lama bgt yaa aku gak update.. huehehehe mohon maklum karena kesubukan haahahhaha okay, happy reading aja yaa.. KissKiss

Sialan!! Perempuan Penggoda!!! Umpat Dhanni dalam hati.

Dhanni merasakan hasratnya mulai terbangun, tubuhnya menegang seketika oleh gairah yang tersulut begitu saja karena apa yang baru saja di lakukan Nessa terhadapnya. Secepat kilat Dhanni merubah posisinya menindih Nessa.

“Apa kamu sedang menggodaku?” Tanya Dhanni dengan suara yang sedikit tertahan.

“Aku? Aku nggak bermaksud..”

“Karena saat ini aku sedang tergoda karenamu.” Dhanni memotong kalimat Nessa dengan suara serak penuh gairahnya. Kemudian tanpa memikirkan masalahnya lagi, ia mulai menyambar bibir mungil istrinya tersebut, melumatnya penuh gairah. Oh, bibir yang sangat di rindukannya. Persetan dengan semua permasalahan yang ada, kenyataannya, Nessa hanya memilihnya, mencintainya seorang, bukankah itu yang lebih penting?

***  

Chapter 10

-Genggamlah tangnnya-

 

Lumatan itu semakin memanas. Dhanni sekan tak bisa berhenti melumat bibir istrinya tersebut. Rasa rindu bercampur aduk menjadi satu dengan rasa frustasi. Ahh, wanita ini benar-benar membuatnya kehilangan logika. Harusnya ia masih marah, masih kesal, tapi entah kenapa ada sebuah rasa yang membuat Dhanni menghilangkan rasa marah tersebut.

“Kamu hanya milikku, kamu hanya milikku.” Berkali-kali Dhanni mengucapkan kalimat tersebut tanpa menghentikan pergerakannya menghujam semakin dalam ke dalam tubuh istrinya itu.

“Kak.”

“Jangan banyak bicara.” Perintah Dhanni, dan Nessa hanya mampu menurutinya.

Nessa tak berhenti mengerang saat Dhanni menggodanya. Membuatnya dihantam oleh gelombang kenikmatan lagi dan lagi. Oh, suaminya ini benar-benar pandai menggoda, pandai membuatnya melambung tinggi karena kenikmatan yang di ciptakan oleh suaminya tersebut.

Dhanni mencumbu sepanjang leher Nessa. Menghisap permukaan leher tersebut, menggigitnya seakan memberikan tanda jika Nessa hanya miliknya dan tak boleh di miliki oleh siapapun.

“Kak…” Nessa kembali mengerang ketika merasakan rasa yang sedikit pedih pada lehernya.

“Sakit.” Erangnya lagi.

Dhanni menghentikan aksinya seketika. Ia menatap wajah wanita yang kini sedang berada di bawahnya. Mengusap lembut pipi istrinya tersebut.

“Itu hukuman buat kamu karena sudah membohongiku.” Ucap Dhanni dengan suara seraknya.

“Aku sudah minta maaf.”

“Ya, tapi aku masih kesal dan cemburu, aku ingin kamu tahu kalau kamu hanya milikku.”

Nessa tersenyum melihat keposesifan suaminya tersebut.

“Aku selalu jadi milikmu kak, kamu jangan takut kalau aku akan pergi meninggalkanmu.”

“Aku tidak takut kamu pergi, karena walau kamu pergi, aku akan menyeretmu kembali kepadaku.” Setelah perkataan tersebut, Dhanni kembali melumat kasar bibir Nessa, kembali bergerak berirama mencari-cari kenikmatan untuk tubuh mereka berdua, hingga kemudian sampailah mereka pada puncak kenikmatan tersebut.

***

Paginya, Dhanni bangun lebih pagi dari sebelumnya. Dhanni tahu jika kini mereka masih dalam sebuah masalah. Nessa belum selesai menceritakan semuanya, dan dirinya lebih memilih bercinta dari pada membicarakan semuanya tadi malam.

Sial!!!

Dhanni kemudian mengangkat omlet ke tiga buatannya. Pagi ini, ia yang memasakkan omlet untuk Nessa dan dirinya sendiri. Semoga saja istrinya itu senang saat mendapati dirinya sudah melembut kembali.

Tak lama, Dhanni melihat Nessa keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu tampak lebih segar, mungkin sudah selesai mandi. Hanya mengenakan pakaian santainya di dalam rumah seperti biasa dan entah kenapa begitu saja sudah cukup membangkitkan sesuatu dari dalam diri Dhanni.

“Pagi sayang, kemarilah.” Panggil Dhanni yang kini sudah duduk di kursi tempat makan dengan omlet di hadapannya.

Masih dengan sedikit menunduk, Nessa berjalan menghampiri Dhanni. Dhanni kemudian menarik istrinya tersebut hingga duduk tepat di atas pangkuannya.

“Uum, kupikir kak Dhanni sudah berangkat ke kantor.”

“Aku libur.” Ucap Dhanni dengan cuek. “Ayo kita sarapan.” Kali ini dhanni sudah menyuapkan sedikit omlet untuk Nessa. Dengan patuh Nessa memakan masakan suaminya tersebut.

“Uum, ada yang perlu aku bicarakan.” Ucap Nessa dengan hati-hati.

“Ya, kamu memang perlu bicara. Mulailah dari apa yang kamu lakukan di rumah Jonathan.”

“Itu, umm, mereka adik kakak” Ucap Nessa ragu untuk memulai pembicaraan.

“Ya, aku tahu.” Jawab Dhanni dengan datar.

“Kak Dhanni tahu? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Karena aku tahu, kalau aku memberitahumu maka kamu akan berpikir yang macam-macam, ingat, kamu nggak boleh terlalu banyak pikiran.” Ucap Dhanni sembari mengusap lembut kerutan di kening Nessa. “Lalu bagaimana lanjutan ceritanya?”

“Erly depresi, dia bahkan tak dapat bangun dari tempat tidurnya.”

“Itu bukan urusan kita.” Ucap Dhanni dengan cueknya.

“Kak, ayolah..”

“Apa? Apa kamu ingin aku kesana dan menjadikannya kekasihku atau bahkan istri keduaku agar dia sembuh? Yang benar saja.”

“Enggak, aku tidak ingin seperti itu, tapi bisahkah kak Dhanni melunakkan hati untuk mengunjunginya sebentar? Dia hanya perlu di ajak bicara baik-baik.”

“Kalau tidak bisa di ajak bicara baik-baik bagaimana? Nessa, setahuku orang yang depresi itu harus mendapat penanganan khusus dari psikiater, atau harusnya dia masuk ke dalam rumah sakit jiwa sekalian, bukan tiduran di rumah. Apa kamu nggak pernah berpikir jika ini hanya rencana mereka?” ucap Dhanni dengan sedikit kesal.

Nessa menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, ini bukan rencana mereka kak, Erly benar-benar sakit, dan aku dapat melihat kesakitan itu bahkan di mata kak Jo.”

“Ya, ya, ya, mereka membuatmu lemah dengan rasa kasihan.”

“Kak.”

“Sayang, aku tidak ingin kita berputar pada masa lalu sialan itu. Kumohon, kita harus meninggalkan mereka jauh-jauh.”

“Tapi aku tidak ingin rasa bersalah ini menggerogotiku kak, aku tak ingin bahagia di atas penderitaam orang.”

Dhanni memejamkan mata frustasi. Ah, sepertinya tak ada gunanya berdebat dengan istrinya ini. Mau seperti apapun, ia yang akan kalah.

“Oke, sekarang mau kamu apa?”

“Ayo kita ke rumah mereka, kak Dhanni harus melihat sendiri keadaan Erly. Please, ajak dia bicara baik-baik.”

“Setelah itu?”

Nessa tersenyum kemudian mengusap lembut pipi Dhanni. “Kita akan pergi saat mereka sudah menerima kenyataan tentang hubungan kita.”

***

Siang itu juga, Nessa mengajak Dhanni ke rumah Jonathan dan Erly. Jonathan sendiri menyambut hangat keduanya, tapi tidak dengan Dhanni yang tak berhenti menampilkan ekspresi kerasnya.

Mereka masuk menuju ke kamar tidur Erly. Erly sendiri masih terlihat terbaring lemah di sana.

“Duduklah.” Bisik Nessa pada Dhanni seraya memerintahkan Dhanni supaya duduk di pinggiran ranjang. Dan akhirnya Dhanni menuruti apa mau istrinya tersebut.

“Erly, aku bawa kak Dhanni ke sini, apa kamu nggak mau membuka matamu?” Tanya Nessa.

Dhanni sendiri hanya mampu menatap ke arah Nessa. Istrinya itu tampak kuat, tapi Dhanni tentu tahu jika wanita itu tak lebih dari wanita rapuh.

“Genggamlah tanganya.” Bisik Nessa lagi pada Dhanni.

Dhanni menggeleng cepat. “Tidak!!” Serunya dengan tegas.

“Kak.” Rengek Nessa.

Dhanni berdiri seketika. Raut wajahnya sarat akan kekesalan yang sudah benar-benar memuncak di kepalanya. Ia kemudian keluar begitu saja dari dalam kamar Erly. Mengumpat berkali-kali di ruang tengah rumah Jonathan. Dhanni bahkan tak sadar jika Nessa sudah mengikuti tepat di belakangnya.

“Ini gila!! Aku tidak mungkin menyentuh wanita lain selain istriku, Ness. Jauh dalam lubuk hatimu kamu tahu itu.” Ucap Dhanni tajam saat m2engetahui Nessa sudah berdiri di hadapannya.

“Aku mengerti, tapi apa salahnya menyentuh telapak tangannya sedikit? Siapa tahu itu bisa membantunya.”

“Aku tak akan membantu apapun.” Tegas Dhanni sekali lagi.

“Kak, kumohon, kita belum mencobanya.”

Dhanni tersenyum miring. “Oh ya? Kamu ingin mencobanya? Memberikan suamimu pada mantan kekasihnya?”

“Bukan itu yang ku maksud Kak.”

“Aku akan melakukannya kalau itu maumu. Dan ku harap kamu tidak menyesal memintaku untuk menyentuh wanita lain.” Ucap Dhanni dengan kesal sambil berjalan masuk kembali ke dalam kamar Erly.

Nessa sendiri hanya tercenung mendengar ucapan suaminya tersebut. Bagaimana jika keputusannya ini salah? Bagaimana jika Dhanni kemudian meninggalkannya? Tidak, Dhanni tak mungkin meninggalkannya demi wanita lain. Pikir Nessa dalam hati.

***

Dhanni benar-benar menuruti apa mau Nessa. Ini sudah dua hari setelah cekcok dengan NEssa di rumah Jonathan pada saat itu. Kini hubungannya dengan Nessa sedikit merenggang. Dhanni bahkan tak ingin untuk sekedar menyapa istrinya tersebut.

Pagi ini Dhanni kembali mengunjungi Erly, menggenggam tangannya, dan mengucapkan kata-kata lembut seperti yang di perintahkan Nessa. Rasanya kesal, tentu saja, Dhanni tentu tidak ingin melakukan hal ini, tapi tak ada gunanya melawan kekeraskepalaan sang istri.

Erly sendiri sampai saat ini belum bangun. Kadang Dhnani heran, apa yang membuat wanita ini begitu tergila-gila padanya? Ia sudah menolak habis-habisan, tapi kenapa wanita yang terbaring di hadapannya itu masih saja menyimpan cinta untuknya.

“Erly, bangunlah, apa kamu tahu kalau ini juga menyakitiku? Kamu membuatku menyakiti perasaan wanita yang sangat ku cintai, dan itu benar-benar menyakitkan untukku.” Lirih Dhanni lembut.

Dhanni menghela napas panjang kemudian mulai bercerita.

“Aku mengenalnya saat usiaku Lima belas tahun. Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi sejak saat itu hatiku sudah terpaut dengan seorang wanita yang bernama Nessa Arriana. Dia membuatku gila, dia menjungkir balikkan duniaku, dia menarikku kedalam pusaran suatu zona yang dulu ku sebut dengan ‘Zona bahaya.’”

“Mata, hati dan pikiranku semua terpaut pada wanita itu, wanita yang bahkan belum pernah ku temui. Ya, aku mengenalnya hanya dari foto-foto yang di berikan orang tuaku, aku mengenalnya dari cerita yang di ceritakan oleh ibuku, dan aku sudah jatuh cinta padanya karena hal itu. Memang gila, ya, aku benar-benar gila karena seorang Nassa Arriana, hingga kegilaan itu mengubahku menjadi sosok Lady Killer, sosok penakhluk wanita, pembunuh hati wanita seperti yang kulakukan padamu.”

“Erly, aku mengerti apa yang kamu rasakan, melihat orang yang kamu cintai setengah mati mencintai orang lain. Karena aku juga pernah merasakan hal tersebut ketika tahu jika Nessa tak hanya mencintaiku. Tapi bisakah aku memohon padamu untuk tidak memaksakan kehendakmu? Karena walau seperti apapun keadaanmu, perasaanku tetap sama, hanya Nessa wanita yang ku cintai, dan aku tidak akan –Tidak akan pernah- meninggalkannya demi wanita lain.” Lirih Dhanni dengan tulus.

Pada saat bersamaan, Dhanni menatap mata Erly yang mengeluarkan buliran air mata menuruni pelipisnya. Mata tersebut kemudian sedikit bergerak lalu sedikit demi sedikit terbuka. Dengan spontan Dhanni menyunggingkan senyumannya. Senang? Tentu saja.

Erly menatap Dhanni dengan tatapan sendunya. Tampak jelas raut kesakitan di sana, dan entah kenapa Dhanni dapat merasakan hal tersebut.

“Kamu sudah bangun?” Tanya Dhanni dengan suara lembutnya.

Erly menganggukkan kepalanya pelan. “Kamu di sini?” kali ini Erly membuka suaranya. Telapak tangan rapuhnya terulur mengusap lembut pipi Dhanni.

“Ya, aku di sini, bukan karena kamu, tapi karena istriku. Dia yang memaksaku untuk berada di sini menemanimu.”

Tangis Erly semakin deras setelah mendengar ucapan Dhanni.

“Kenapa kamu mengatakan hal itu? Tak bisakah kamu sedikit berbohong padaku dan menyenangkan hatiku?”

Dhanni menggelengkan kepalanya cepat. “Maaf, aku tidak bisa berbohong tentang perasaanku. Karena aku tahu itu akan menyakiti banyak orang nantinya, termasuk kamu. Aku tidak ingin itu terjadi.”

“Aku mencintaimu Dhan.”

“Dan aku mencintai istriku.” Dhanni berkata dengan lembut seakan ingin menjelaskan pada Erly jika wanita itu tak memiliki kesempatan lagi untuk berada di sisinya.

“Kami sudah memiliki seorang putera, dan Nessa kini sudah mengandung bayi kedua kami. Kumohon, mengertilah posisi kami. Apa kamu tak dapat merasakan perasaannya ketika ia membiarkan suaminya kembali dekat dengan mantan kekasihnya? Lihat dia Erly, dia bahkan mendorongku untuk kembali dekat denganmu, karena dia memikirkan perasanmu dan mengesampingkan perasaannya sendiri. Aku tidak bisa menyakitinya terus-menerus seperti ini.” Dhanni berujar dengan tulus. Ia memang benar-benar tak dapat menyakiti perasaan Nessa dengan membiarkan Nessa melihat dirinya dekat dengan wanita lain, meski itu permintaan dari Nessa sendiri.

“Aku tak bisa melupkanmu Dhan.”

“Karena kamu selalu mengingatku, kamu terobsesi denganku. Cobalah untuk melangkah ke depan, jangan pernah menoleh kebelakang untuk melihatku, karena aku sudah bahagia dengan wanita lain.”

Erly hanya termenung mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Dhanni.

“Kamu tahu kenapa aku selalu bersikap dingin atau kasar padamu? Karena aku ingin kamu membenciku dan melupakanku. Kamu harus mencari penggantiku Erly, karena sampai kapanpun juga aku tak akan pernah kembali padamu.”

Erly memejamkan matanya, kembali terisak dengan apa yang di katakan oleh Dhanni. Ah ya, memang selama ini dirinya selalu menoleh kebelakang. Berkaca dengan masalalunya, memperbaiki dirinya hanya dengan tujuan suapaya Dhanni kembali padanya, padahal Erly tahu, dalam hatinya yang paling dalam ia mengerti jika itu salah, dan dirinya tak akan pernah berhasil walau sudah berubah seperti apapun.

“Maaf kalau kata-kataku terlalu kasar dan menyakitimu, tapi aku harus jujur dari sekarang. Kita bisa berteman, sangat bisa, asalkan kamu dapat menghilangkan perasaan cintamu dan mencari penggantiku. Aku tidak bisa berteman atau berhubungan dengan orang yang mencintaiku, karena aku tahu itu akan menyakiti orang tersebut.”

Erly kemudian menganggukkan kepalanya. Ia mencoba bangkit, dan Dhannipun akhirnya membantunya. Erly menatap Dhanni dengan tatapan anehnya.

“Kamu juga tersakiti karena ini?” tanya Erly dengan suara lemahnya.

Dhanni menganggukkan kepalanya. “Aku sakit karena melihat wanita yang ku cintai tersakiti.”

“Sedalam itukah kamu mencintai Nessa?”

Dhanni kembali menganggukkan kepalanya. “Sangat dalam, bahkan ku pikir aku sendiri tak dapat mengukur kedalamannya.”

“Jadi, aku tidak memiliki sedikitpun kesempatan?”

Dhanni tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak untuk kamu ataupun wanita lain.”

Erly menghela napas panjang sembari memejamkan matanya, merasakan rasa sakit yang menusuk hatinya.

“Bolehkan aku memelukmu sekali saja, untuk yang terakhir kalinya?”

Dhanni menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Erly.

“Kumohon, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Kali ini Dhanni yang menghela napas panjang, kemudian merenggangkan kedua tangannya. Erly akhirnya melemparkan diri ke dalam pelukan Dhanni menangis terisak di sana. Rasa sakit bercampur dengan sediki rasa bahagia membuncah di hatinya.

“Aku akan melupakanmu, aku akan berusaha melupakanmu.”

Dhanni menganggukkan kepalanya. “Kamu harus melakukan itu.” Lirih Dhanni.

Keduanya berpelukan cukup lama, bahkan mereka tak menyadari jika ada seorang wanita di balik pintu yang sedang menatap keduanya tersenyum dan ikut meneteskan airmatanya.

Itu Nessa.

Nessa mengerjap ketika sebuah tangan menebuk bahunya. Ia membalikkan tubuhnya kemudian menatap sosok tinggi yang tampan yang sedang menatapnya.

“Kamu nangis?” Tanya Jonathan sambil mengusap airmata di pipi Nessa.

Nessa menganggukkan kepalanya.

“Karena apa? Sedih atau bahagia?”

“Kedua-duanya.” Jawab Nessa cepat.

“Kenapa bisa?”

“Entahlah, aku hanya baru sadar jika aku memiliki suami yang sangat mencintaiku, dia rela melakukan apapun untukku, dan bodohnya aku tak pernah menyadari hal itu. Aku sedih saat melihatnya dekat dengan wanita lain, tentu saja sedih karena takut jika ada yang merebut dia dariku.”

Jonathan menganggukkan kepalanya. “Kamu beruntung memiliki dia.”

“Ya, sangat beruntung.”

“Terimakasih untuk semuanya Ness.”

Nessa menganggukkan kepalanya. Lalu tanpa di sangka Jonathan memeluk tubuhnya erat-erat, seakan enggan untuk berpisah dengan Nessa, wanita yang sangayt di cintainya.

Ohh kenapa cinta bisa begitu rumit? Kenapa cinta harus saling menyakiti jika kita dapat mengambil jalan tengahnya? Nessa tak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi satu hal yang ia tahu, bahwa ia ingin selalu bersama dengan Dhanni Revaldi. Lelaki yang sangat di cintainya, lelaki yang juga begitu dalam mencintai dirinya.

 

-TBC-

Tamat?? belom dong… hahahhahaha happy waiting.. tinggal yang manis2nya aja nihh ahahhahhah

Sweet in Passion – Chapter 3

Comments 10 Standard

fh1-copySweet in Passion

Im Sorry dear, kalo aku labil.. hahahhah Full House kini ganti judul menjadi Sweet in Passion. wakakkakakak gak tau lah, pengen ganti aja.. hahhahahah okay, happy reading..

Dengan cepat Randy mendorong tubuh Febby lalu menghimpitnya diantara dinding. Ia bahkan memenjarakan kedua tangan Febby dengan tangannya. Menempelkan seluruh tubuhnya pada tubuh Febby tak terkecuali tubuh bagian bawahnya yang kembali berdenyut saat melihat Febby.

“Itu menjadi urusanku, Kamu istriku.” Ucap Randy penuh penekanan.

Febby hanya mampu membulatkan matanya seketika. Ia tak menyangka jika Randy akan memperlakukannya seperti ini, berbicara seakan menunjukkan kepemilikan atas dirinya. Istri??? Yang benar saja.

***

Chapter 3

 

“Itu menjadi urusanku, kamu istriku.”

Mendengar itu, kekesalan Febby seakan sudah memuncak di kepalanya. Dengan spontan Febby menendang pangkal paha Randy dengan lututnya hingga membuat Randy berteriak sembari meringis kesakitan.

“Hei, apa yang kamu lakukan, sialan!!!”

“Istri? Sejak kapan kamu menganggapku sebagai istri? Dan ayolah, sejak kapan kamu peduli dengan apa yang sedang ku lakukan?”

“Jangan banyak bertanya, yang penting kita pulang sekarang juga.” Ucap Randy sambil kembali mencengkeram pergelangan tangan Febby.

“Aku tidak mau.” Febby menghempaskan cekalan tangan Randy, tapi Randy semakin mempererat cekalan tangannya.

“Dengar, apa kamu nggak takut kalau kamu kepergok wartawan saat jalan dengan pria lain?”

“Tidak, aku bukan artis jadi aku tidak perlu takut.”

“Tapi kamu istri seorang artis, kamu bisa membahayakan karirku.”

“Oh ya? Ku pikir karirmu memang sudah terancam hancur karena ulahmu sendiri.” Jawab Febby dengan nada menyindir.

“Sialan!! Pokoknya ayo ikut aku pulang.” Ucap Randy yang kali ini sudah menyeret paksa pergelangan tangan Febby. Sedangkan Febby hanya mampu mengikutinya, ia tak mungkin meronta-ronta dan di perhatikan banyak orang, sungguh memalukan.

***

Sampai di lobi, betapa terkejutnya Randy ketika mendapati seorang wartawan yang sibuk membenarkan kameranya. Ahh sial!! Itu pasti wartawan yang sudah sejak lama menguntitnya. Dan astaga, untung saja saat ini ia keluar bersama dengan Febby, Randy tak dapat membauyangkan jika saat ini ia keluar bersama dengan Marsela, mungkin itu akan menjadi berita skandal terpanas di negeri ini.

‘Seorang Aktor ternama yang sudah beristri keluar masuk hotel bersama selingkuhannya.’ Mungkin itu judul yang cocok untuk majalah-majalah jika saat ini ia kepergok sedang bersama dengan Marsela.

Randy kemudian tersenyum miring ketika sebuah ide terlintas di kepalanya. Tangannya yang tadi mencengkeram pergelangan tangan Febby kini berpindah merangkul pinggang Febby dan menggandengnya dengan mesra.

Febby sendiri yang menyadari perubahan tersebut dengan spontan menyikut perut Randy.

“Apa yang kamu lakukan?” Ucap Randy sambil kembali meringis kesakitan.

“Harusnya aku yang tanya, apa yang kamu lakukan?”

“Apa kamu nggak lihat di sana ada wartawan?” tanya Randy sambil menunjuk ke arah seorang yang sedang sibuk dengan kameranya.

“Aku nggak peduli.” Jawab Febby dengan ketus.

“Jangan kekanak-kanakan.”

“Apa tidak salah? Kamu lebih yang kekanakan.”

“Haishh perempuan ini, Diamlah!! Kita hanya akan melewatinya dengan tenang.”

Lalu Randy kembali menjalankan aksinya, menggandeng kembali pinggang Febby kemudian mengajaknya berjalan menuju ke arah wartawan tersebut.

Wartawan tersebut bernama Amar, Amar memang terkenal sebagai wartawan yang gigih. Dia selalu bisa membuktikan sebuah gosip menjadi Fakta dengan gambar-gambar yang di ambilnya. Dan Randy benar-benar membenci hal itu. Beberapa foto kebersamaannya dengan Marsela yang bocor ke publikpun kebanyakan dari wartawan sialan tersebut. Amar memang terlihat sedang mengincarnya dan juga Marsela.

“Halo, apa kabar?” sapa Randy dengan senyuman lebarnya.

Amar sendiri tampak terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Randy tampak ramah dari biasanya, dan lelaki itu kini sedang mengandeng mesra tubuh istrinya. Istrinya? Tunggu dulu, ada yang salah di sini.

“Ba.. Baik, bagaimana anda bisa…”

“Saya sedang makan siang bersama dengan istri saya yang cantik ini, anda sendiri sedang apa di sini?” tanya Randy memancing reaksi Amar.

“Loh, tapi bukannya tadi anda ke sini sendiri? Lalu tak lama Marsela juga masuk ke dalam hotel ini?”

“Hahahahha, jadi anda ke sini hanya untuk menguntit kemanapun saya berada? Ayolah, jangan bodoh. Hotel ini bukan hanya khusus buat saya atau Marsela, saya ke sini sendiri karena istri saya sudah menunggu saya makan siang di sini. Bukan begitu sayang?” kali ini Randy bertanya pada Febby.

Febby hanya menundukkan kepalanya, ia tak mungkin menjawab iya dan berbohong, tapi di sisi lain ia tak mungkin menjawab tidak.

“Lalu, bagaimana dengan Marsela?” tanya Amar yang masih berwajah bingung.

“Saya tidak tahu, kalau anda ingin tahu apa yang dia lakukan, silahkan menunggunya dan bertanya sendiri pada yang bersangkutan.” Jawab Randy dengan nada tajamnya. “Permisi, saya akan mengantar istri saya pulang dulu, dan sedikit pesan saya, jangan sekali-kali membuat gosip murahan dengan skandal-skandal yang jelas-jelas tak ada buktinya. Karena itu akan merusak keharmonisan keluarga kami, dan saya tidak akan tinggal diam karena masalah itu.” Lanjut Randy lagi dengan nada penuh penekanan.

Amar hanya menundukkan kepalanya. Wajahnya pucat pasi. Ia tak berani menatap ke arah Randy sedikitpun. Tapi dalam hati ia bersumpah jika dirinya akan membuktikan bahwa memang benar ada skandal antara Randy dan Marsela.

***

Di dalam mobil..

Randy melirik ke arah Febby yang sedikit tersenyum sinis padanya.

“Kenapa?” tanya Randy sembali mulai menjalankan mobil yang di kendarainya.

“Enggak, aku hanyaa berpikir bahwa tidak salah kalau kamu mendapatkan banyak penghargaan karena aktingmu. Yang tadi itu benar-benar meyakinkan.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu pandai sekali bersandiwara.”

“Tentu saja, itu kan memang pekerjaanku. Aku menjadi yang teratas di negeri ini karena kepandaianku, tidak seperti selingkuhanmu itu yang selalu berada di bawahmu.” Ucap Randy dengan nada congkaknya.

“Apa maksudmu?” kali ini Febby yang tampak bingung dengan apa yang di katakan Randy.

“Brian, kamu sedang makan siang dengan laki-laki sialan itu kan?”

“Aku sudah bilang bukan, kalau itu bukan urusanmu.”

“Dan aku sudah bilang, Jelas itu urusanku.” Jawab Randy dengan suarta yang sedikit meninggi.

“Hei, kamu nggak perlu meledak-ledan dan kekanakan seperti itu.”

“Apa? Aku tidak kekanakan.”

“Aku tidak peduli. Lagian, aku ingatkan sekali lagi kalau kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.”

“Benarkah? Ahaa, baiklah kalau begitu mulai besok aku akan mengajan Marsela berkencan bahakn menginap di rumah kita, aku tak akan peduli lagi denganmu.”

“Oh ya? Bukankah hampir setiap hari kamu selalu mengajaknya kerumah kita? Aku tidak pernah mengganggu bukan?”

“Kamu…” Randy seakan kehilangan kata-katanya untuk membalas perkataan Febby.

“Hei, seluruh orang di negeri inipun tahu skandalmu, itu sudah menjadi rahasia umum.” Ucap Febby yang kemudian mempalingkan wajahnya ke arah jendela, seakan ingin mengakhiri perdebatannya dengan Randy.

Tak lama, ponsel milik Febby berbunyi. Febby melirik si penelepon, ternyata itu Brian. Astaga, Febby bahkan belum sempat memberi kabar pada Brian jika dirinya kini sudah pulang bersama dengan laki-laki sialan di sebelahnya ini. Brian pasti sedang menunggunya dengan kebingungan.

“Halo, Brian.” Febby menjawab telepon tersebut tanpa menghiraukan lelaki yang sudah tegang yang sedang duduk mengemudi di sebelahnya.

“Kamu di mana? Ada masalah?”

“Tidak, maafkan aku, aku sudah di jalan menuju ke rumah sakit.”

“Kenapa mendadak? Ada yang salah?”

“Hanya ada telepon mendadak dari seorang orang tua pasienku.”

“Oh ya? Aku bisa mengantarmu.”

“Terimakasih, tapi aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Baiklah, tapi kamu harus menebus kencan kita sing ini.”

“Apa? Kencan?” Febby sedikit terkejut dengan apa yang di ucapkan Brian, hingga ia tak menyadari jika kini Randy sedng memicingkan mata ke arahnya.

“Emm, baiklah, kita akan kencan di lain waktu dan…”

Belum sempat Febby melanjutkan kalimatnya tiba-tiba Randy sudah menginjak rem mobilnya secara mendadak hingga membuat Febby terhantup oleh dashboard mobil Randy.

“Hei, apa yang kamu lakukan?!” tanya Febby sembari mengusap keningnya yang sedikit sakit karena terhantup dashboard mobil Randy.

Bukannya menjawab, dengan santainya Randy malah merebut ponsel milik Febby, mematikannya lalu membuanya begitu saja ke jok belakang mobilnya.

“Heii.. Randy!!!” Teriak Febby sambil sesekali memukuli bahu Randy. Ia benar-benar tak mengerti apa masalah Randy pagi ini. Kenapa lelaki ini menjadi lelaki yang amat sangat mengesalkan untuknya.

Randy sendiri tak terpengaruh, ia malah dengan santainya melanjutkan mengemudi mobilnya dengan memasang wajah tanpa salah. Tak lama, kini giliran ponsel Randy yang berbunyi. Randy melirik ponselnya. Lalu mendapati nama Alvin yang sedang memanggilnya. Ahh sial, kenapa si Alvin menghubunginya pada saat seperti ini? Kenapa bukan Marsela? Randy kemudian sedikit menyunggingkan senyuman miringnya ketika sebuah ide melintas di kepalanya.

Di angkatnya telepon tersebut dengan suara mesranya.

“Halo sayang.”

“Sayang? Lo sinting?” teriak suara di seberang.

“Ah enggak sayang. Maaf kalau aku pulang lebih dulu.” Ucap Randy dengan sedikit melirik ke arah Febby.

“Sial, lo benar-benar kehabisan obat Ran? Jangan main-main, gue bener-bener ada urusan sama lo.” Suara Alvin benar-benar terdengar murka di telinga Randy, tapi Randy tak menghiraukannya. Ia masih saja bersikap mesra layaknya sedang berbicara dengan sang pujaan hatinya.

“Ah ya, nanti kamu bisa memesan sebuah kamar lagi untuk kencan kita selanjutnya, ngomong-ngomong, aku sangat puas dengan kencan kita siang ini.” Ucap randy lagi dengan nada yang benar-benar menggelikan.

Percakapan Randy benar-benar membuat telinga Febby terasa panas. Febby kemudian mengeluarkan ipod dari dalam tasnya, laalu memasang headset ke telinganya dan mendengarkan lagu-lagu di sana. Sungguh, ia tak tahan lagi dengan percakapan-percakapan Randy di dalam telepon yang entah kenapa membuatnya seakan mual. Kenapa? Apa ia cemburu? Yang benar saja.

Sedangkan Randy sendiri tak suka dengan respon cuek yang di tampilkan Febby. Randy lalu menutup telepon Alvin begitu saja, ia menghentikan mobilnya kembali kemudian mencabut headset yang sedang di kenakan Febby.

“Hei, sekartang apa lagi?” tanya Febby yang kini benar-benar sudah kesal dengan apa yang di lakukan Randy.

“Apa kamu tidak lihat kalau aku sedang berbicara, kenapa kamu malah pakai ini?”

“So what? Itu bukan urusanku, lagi pula aku tak ingin mendengarkan perckapan omong kosongmu yang menggelikan itu.”

“Apa?”

“Dengar ya, aku benar-benar tidak peduli dengan apa yang kamu bicarakan maupun apa yang kamu lakukan dengan wanita jalangmu itu. Uruslah urusanmu sendiri, dan jangan pernah mengganggu urusanku, mengerti?”

Randy menatap Febby dengan tatapan tak percayanya. Ia benar-benar tak menyangka jika Febby akan bereaksi seperti ini padanya. Sedangkan Febby sendiri kini sedikit gugup dengan tatapan mata Randy. Ahh laki-laki ini benar-benar mempengaruhinya.

“Apa? Apa ada yang salah dengan ucapan…” belum sempat Febby melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba kedua tangan Randy menangkup kedua pipinya, lalu tanpa banyak bicara lagi lelaki itu menyambar bibir ranum milik Febby. Febby membulatkan kedua bola matanya seketika. Ia benar-benar tak menyangka jika Randy akan melakukan hal ini padanya. Mencimunya? Oh yang benar saja.

Dengan sekuat tenaga Febby mendorong-dorong dada Randy, tapi Randy sama sekali tak bergeming. Ia tetap melanjutan lumatannya pada bibir ranum Febby, memaksa lidahnya muntuk masuk ke dalam mulut Febby. Ahh wanita ini harus di beri pelajaran karena kecerewetannya. Pikir Randy saat ini.

Akhirnya Febbypun pasrah dengan ciuman penuh dairah dan seakan menuntut dari Randy. Di bukanya mulutnya sedikit demi sedikit seakan membiarkan Randy memperdalam ciumannya.

Randy merasakan Febby ang sudah menghilangkan perlawanannya. Wanita itu kini bahkan membalas ciumannya. Membiarkan lidahnya bertautan dengan lidah wanita tersebut. Lengan Febby bahkan dengan santainya mengalung pada leher Randy.

Kini, telapak tangan Randy sudah berada pada tengkuk leher febby, menekan di sana seakan tak ingin membiarkan ciuman mereka terputus. Sedangkan sebelah tangan satunya sudah bergerilya pada dada Febby, mengusapnya lembut, menggodanya hingga membuat Febby sedikit mengerang karena ulahnya.

Oh sial!! Kejantanan Randy menegang seketika. Randy benar-benar menginginkan berada di dalam tubuh febby saat ini juga. Tapi kemudian Randy mendengar ponselnya kembali berbunyi.

Keduanya menghentikan ciuman panas tersebut seakan tersadarkan oleh sesuatu. Febby dan randy kemudian saling menjauhkan diri, lalu merapikan penampilan masing-masing.

Sial!! Jika saat ini si Alvin yang kembali meneleponnya, maka Randy akan menyumpahi temannya itu impoten seumur hidup. Benar-benar merusak suasana.

Tapi kemudian Randy mengernyit ketika mendapati nomor rumah keluarganya yang sedang menghubunginya. Ah, ini pasti ibunya. Ada apa lagi??

“Halo, Ma?” Randy mengangkat telepon tersebut sesekali melirik ke arah Febby yang sedang sibuk membenarkan tatanan rambutnya. Ahh benar-benar sial, Febby terlihat nikmat untuk di santap. Pangkal pahanya kembali berdenyut saat membayangkan bayangan erotis bersama dengan Febby.

“Randy, cepat ke sini, ada kak Mira dan Andrew di sini, jangan lupa ajak Febby.”

“Iya, Randy segera ke sana Ma, kebetulan ini sedang bersama Febby di jalan.”

Kemudian telepon di tutup. Randy melirik ke arah Febby yang sudah menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit terlihat bersemu merah.

“Ibu menyuruh kita ke sana sekarang juga.”

Walau tak ada yang bertanya, Randy berkata seakan memberikan jawaban untuk Febby. Dan Febby hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya. Ahh, entah kenapa suasanya di sekitar mereka terasa sedikit canggung saat ini. Dan kecanggungan tersebut benar-benar membunuh keduanya.

***

“Apa? Menginap?” Febby dan Randy tanpa sadar mengucapkan dua kata tersebut dengan bersamaan karena sama-sama terkejut.

“Iya, mumpung Mira dan suaminya menginap di sini, mama juga ingin kalian menginap di sini supaya besok kita bisa berkumpul bersama seperti keluarga besar.” Nyonya Prasaja mengatakan pendapatnya.

“Tidak bisa Ma, kami tidak bisa menginap di sini, memangnya kami akan tidur di mana?” Randy masih saja menolak, ia tentu tidak ingin sekamar dengan Febby mengingat ciuman panas mereka tadi siang.

“Tentu saja kalian berdua nanti akan tidur di kamarmuy yang dulu, ibu selalu merapikannya meski kamu tidak pernah main ke sini lagi.”

“APA????” lagi-lagi tanpa sadar Febby dan Randy mengucapkan kata tersebut dengan bersamaan. Menginap bersama dan sekamar? Astaga, yang benar saja.

 

-TBC-

cetak miring adalah spoiler Next Chap.. hahhaha semoga ada yang mau nunggu..