Full House – Chapter 2

Comments 6 Standard

fh1Full house

Kali ini agak pendek yaa dear.. hahahha happy reading..

“Kami di jodohkan.” Jawab Febby dengan tubuh sedikit lemas.

Brian tercengang dengan perkataan Febby. “Kamu yakin? Kamu nggak bercanda kan?”

Febby menggelengkan kepalanya. “Ya, kami hanya di jodohkan, dan hubungan kami hanya sandiwara.”

Akhirnya Febby berani mengucapkan kebenaran tersebut pada orang lain. Ahh, persetan dengan karir Randy yang terancam, toh lelaki itu tak pernah mau tau tentang dirinya bukan??

***

Chapter 2

 

“Ya, kami hanya di jodohkan, dan hubungan kami hanya sandiwara.”

Brian benar-benar tercengang dengan apa yang di katakan Febby. Meski sebenarnya Brian yakin jika selama ini Randy dan Marsela menjalin sebuah hubungan, tapi Brian tak menyangka jika sebenarnya pernikahan Randy dan Febby hanyalah sebuah sandiwara. Brian berpikir jika Randy mengambil langkah terlalu jauh.

“Emm.. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Kenapa kamu mau di jodohkan dengan dia dan dia mau menerima begitu saja perjodohan kalian.”

Febby tersenyum. “Ada banyak hal yang tidak perlu kamu ketahui. Dan aku tak perlu mengatakannya pada siapapun.”

“Ayolah..”

Febby tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Maaf, tapi aku benar-benar tidak dapat mengatakannya.”

Brian menghela napas panjang. “Oke, sebagai gantinya kita akan makan siang bersama.”

“Hei, aku belum menyetujui makan siang bersamamu.”

“Karena kamu menolak bercerita tentang kehidupan rumah tanggamu, maka sebagai hukumannya kamu harus makan siang bersamaku.”

“Dan atas dasar apa aku harus menerima hukuman darimu?”

“Aku tidak ingin meladeni mulut cerewetmu, pokoknya ayo kita makan siang bersama.” Brian memksa kali ini dengan sedikit menyeret pergelangan tangan Febby.

“Brian..” Febby membuat Brian berhenti melangkah. “Bukannya aku nggak mau, tapi kamu publik figur, aku takut timbul gosip yang buruk tentangmu saat ada seseorang yang melihat kita.”

“Hei, ayolah, jangan berpikir terlalu jauh. Aku bisa memberi alasan jika kamu adalah dokter keponakanku, lagi pula kita akan ke sebuah restoran yang terkenal dengan privasinya.”

“Kamu yakin?”

“Ya, aku sering makan di sana, bahkan menginap di hotelnya.”

“Hotel?”

Brian tertawa lebar melihat ekspresi aneh yang di tampakkan Febby. “Ya, Restorannya ada di dalam sebuah hotel.” Dan febby hanya mampu menghela napas panjang, ia akhirnya pasrah dengan ajakan Brian.

***

Randy masih berada di ruangan Alvin siang itu. Hari ini ia tidak memiliki pekerjaan dan ia sangat bosan berada di rumah sendirian, apalagi jika mengingat tentang Febby pagi tadi. Randy menggelengkan kepalanya cepat.

Apa yang terjadi denganmu sialan? Kau tergoda dengan ukuran payudaranya? Yang benar saja, dasar idiot!!! Randy mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

Tak lama, Alvin kembali ke ruangannya bersama dengan Chiko, teman seperjuangan Randy. Keduanya menatap Randy dengan tatapan mengejek. Sial, pasti Alvin cerita dengan Chiko tentang apa yang terjadi dengannya tadi pagi.

“Berhenti lihat gue seperti itu, kalian terlihat seperti orang idiot.” Ucap Randy pada Alvin dan juga Chiko, sedangkan Alvin dan Chiko malah tertawa lebar menertawakan kefrustasian Randy.

“Pergi dan cari wanita yang bisa ngasih pelepasan, muka lo lucu banget.”

“Sialan!!!” Randy kembali mengumpat setelah mendapat ejekan dari Chiko.

Tak lama ponsel Randy berbunyi. Dengan sedikit malas Randy mengangkat tele[pon tersebut tanpa melihat nama si penelepon.

“Halo?”

“Sayang.” Suara itu membuat Randy menegakkan tubuhnya seketika.

“Hai, kamu kok tumben bisa menghubungiku jam segini?”

“Aku lagi break pemotretan. Aku pengen ketemu.”

“Dimana?” tanya Randy dengan semangat.

“Di restoran biasa, hanya di sana yang benar-benar bisa menjaga privasi kita.”

Randy menyunggingkan senyuman lebarnya. “Baiklah sayang, em, kalau bisa, reservasi sebuah kamar sekalian. Aku kangen.” Ucap Randy sambil melirik ke arah Alvin dan Chiko dengan lirikan penuh kemenangan.

“Tentu sayang.” Jawab suara di seberang dengan nada manjanya.

Teleponpun akhirnya di tutup. Randy tertawa lebar seakan menunjukkan pada Alvin dan juga Chiko jika dirinya menang.

“Kalian lihat? Gue nggak perlu cari wanita, karena wanita itulah yang akan lari ke pelukan gue.” Ucap Randy sambil melompat berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan Alvin.

Alvin dan Chiko hanya mampu saling pandang. Randy masih sama, teman mereka itu nyatanya masih mementingkan gairah sialannya yang seakan selalu menggebu-nggebu dari pada memikirkan masa depan karirnya.

***

“Makanan di sini benar-benar enak.” Ucap Febby sambil kembali melahap hidangan di hadapannya tanpa canggung lagi.

Brian hanya diam menatap Febby dengan dagu yang bertumpu pada sebelah tangannya. Wanita di hadapannya itu benar-benar berbeda dengan wanita yang selama ini ia kenal. Wanita itu tak sedikitpun menjaga image nya, padahal selama ini banyak wanita yang di sekitarnya yang selau menjaga image manis supaya Brian tertarik. Tapi tidak dengan Febby. Febby juga seakan tak canggung ketika di hadapan Brian.

“Kenapa menatapku seperti itu? Kamu nggak makan?” tanya Febby saat menyadari jika Brian sedang mengamatinya.

“Ahh, aku sedang tidak lapar.”

Febby mengusap bibirnya dengan lap yang di sediakan. “Maaf, kalau cara makanku membuatmu tidak nafsu makan.”

Brian tertawa lebar. “Bukan seperti itu, kamu sama sekali tidak mengganggu selera makanku.”

“Lalu? Bukannya kamu tadi yang mengajakku makan siang? Kenapa sekarang kamu malah nggak makan?”

Brian mencondongkan wajahnya ke depan supaya lebih dekat dengan Febby.

“Karena kamu.”

“Aku?” Febby menunjuk dirinya sendiri dengan sedikit bingung.

“Aku lebih menikmati saat menatapmu dari pada makanan-makanan sialan ini.”

Febby yang masih mengunyah makanannya akhirnya tersedak dengan ucapan Brian. Astaga, bagaimana mungkin Brian mengucapkan kalimat yang terdengar seperti rayuan itu padanya?

“Kamu nggak apa-apa kan? Amakanya pelan-pelan makannya.” Ucap Brian yang kini sudah membantu menepuk-nepuk punggung Febby.

“Aku sudah hati-hatu tahu, kamu saja yang bicara lebbay hingga kau tersedak.”

Brian tertawa lebar. “Sepertinya kamu tidak pernah mendapatkan rayuan dari pria manapun.”

“Tentu saja, memangnya kamu pikir siapa yang mau merayu dokter kaku sepertiku?”

“Aku bisa merayumu setiap hari.”

“Ayolah Brian, kamu mau membuatku seperti kepiting rebus?”

Brian kembali tertawa lebar. “Oke, baiklah-baiklah… aku akan berhenti merayumu.”

Febby menegak minuman di hadapannya. “Tapi, aku penasaran, kenapa kamu nggak jalan dengan kekasihmu? Penyanyi papan atas sepertimu seharusnya memiliki banyak kekasih bukan?”

“Tidak semua begitu, Febby.”

“Oh ya? Ku pikir semua artis itu brengsek seperti Randy.” Gerutu Febby.

“Ohh, jadi hubunganmu benar-benar kacau dengan dia sampai-sampai kamu menganggapnya brengsek?”

“Bukannya begitu, tapi aku memang membencinya.”

Brian kembali duduk di hadapan Febby, kemudian menyanggah dagunya dengan sebelah tangannya.

“Oke, sekarang berceritalah.”

“Tidak akan.” Ucap Febby tak mau mengalah.

Brian hanya mampu tersenyum. “Baiklah, tidak sekarang, tapi aku akan memaksamu nanti.”

Febby hanya tersenyum kemudian ia berdiri, bersiap menuju ke toilet.

“Aku mau ke toilet sebentar.” Dan Brian hanya mampu menganggukkan kepalanya, mempersilahkan Febby.

***

“Aku benar-benar kangen sama kamu sayang.” Ucap Marsela yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali setelah seks kilat yang dilakukannya dengan Randy siang itu.

“Aku juga.” Hanya itu jawaban dari Randy. “Aku lapar, kita makan di restoran bawah seperti biasanya, oke?”

Marsela hanya menganggukkan kepalanya. Akhirnya keduanya menuju ke restoran yang berada di lantai dasar hotel tersebut.

“Ran, aku masih nggak ngerti sama perilaku kamu siang ini. Astaga, kamu benar-benar panas dan seperti kehilangan kendali.”

Randy masih memakan hidangan di hadapannya. “Apa kamu membahas tentang seks kita siang ini?”

Marsela menganggukkan kepalanya.

“Kamu mau lagi? Kita bisa kembali ke kamar tadi.”

“Randy, bukannya begitu, tapi kamu agak aneh.”

Aneh? Salahkan saja pada kejantananku yang sepagi ini tak berhenti menegang hanya karena wanita sialan itu. Gerutu Randy dalam hati.

“Perasaanmu saja.” Ucap Randy dengan datar karena dia tidak suka kembali mengingat Febby.

“Kamu ada masalah?”

“Nggak.”

“Randy.”

“Marsela, kepalaku sudah cukup pusing sepagi ini, aku hanya ingin bersenang-senang. Jadi Please, jangan bikin aku tambah pusing.”

“Aku nggak bikin kamu tambah pusing, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padamu.”

“Tidak terjadi apapun, kamu nggak perlu khawatir.” Marsela hanya mampu menghela napas kasar. Ia tahu jika kini Randy berada dalam mode datar menjengkelkannya, dan ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan cerewet dan banyak tanya.

“Aku sudah selesai, aku ke toilet dulu.” Randy kemudian berdiri, dan bersiap menuju ke toilet. Sedangkan Marsela masih diam karena sedikit kesal dengan perlakuan Randy.

Randy akhirnya pergi ke arah lorong-lorong yang menuju ke toilet yang di sediakan restoran tersebut. Tapi saat ia berada di lorong tersebut, Randy membulatkan matanya saat mendapati seorang wanita yang sedang sibuk membersihkan pakaiannya sambil berjalan tanpa sedikitpun melirik ke arahnya.

Wanita itu adalah wanita yang sejak pagi tadi mengganggu pikirannya. Siapa lagi jika bukan istrinya yang selalu berpenampilan kaku tapi entah kenapa hari ini begitu menggoda untuknya? Itu Febby, kenapa dia di sini?

Randy menghentikan langkahnya kemudian kembali mengejar Febby lalu meraih pergelangan tangan wanita tersebut.

“Kamu ngapain di sini?” Tanya Randy dengan nada mendesisnya.

Febby tampak terkejut saat melihat Randy yang kini tepat berada di hadapannya.

“Kamu? Kamu sendiri ngapain ke sini?”

“Kamu belum jawab pertanyaanku. Ngapain kamu di sini? Dengan siapa?”

Febby menghempaskan cekalan tangan Randy seketika. “Aku lagi kencan, lagi pula ini bukan urusanmu.” Ucap Febby sambil mengangkat dagunya.

“Apa? Kencan? Sama siapa?”

“Bukan.Urusanmu.” Jawab Febby penuh penekanan.

Dengan cepat Randy mendorong tubuh Febby lalu menghimpitnya diantara dinding. Ia bahkan memenjarakan kedua tangan Febby dengan tangannya. Menempelkan seluruh tubuhnya pada tubuh Febby tak terkecuali tubuh bagian bawahnya yang kembali berdenyut saat melihat Febby.

“Itu menjadi urusanku, Kamu istriku.” Ucap Randy penuh penekanan.

Febby hanya mampu membulatkan matanya seketika. Ia tak menyangka jika Randy akan memperlakukannya seperti ini, berbicara seakan menunjukkan kepemilikan atas dirinya. Istri??? Yang benar saja.

 

-TBC-

Advertisements

Full House – Chapter 1

Comments 6 Standard

fh2Full House

Haiii balik lagi nihh ama ceritaku… kenalan dulu ama abang ganteng.. Eaaa.. meski aku yakin beberapa dari kalian pasti udah pernah baca cerita ini… Yuppss Full House ini Remake dari Fansfic koreaku yang berjudul My Wife.. aku memutuskan menjadikannya novel indo karena nyatanya responnya bagus bgt, huehhehehhe yang sudah baca, baca lagi yaa.. banyak banget perbedaannya kok.. dan ku harap kalian nggak nyesel udah baca..hahhahahah  Berhubung aku nggak ada Cast, maka Chastnya menurut aku yaa tetep suamiku TOP Bigbang sama kembaranku Yoon Eun Hye buahahahaha tapi terserah kalian mau bayangin sapa aja boleh. sedikit Note, bahwa di cerita ini nanti akan banyak sekali makian dan kata2 kurang sopan -Serta beberapa penggambaran adegan erotis khas Author mesum seperti biasanya hahhaha-, jadi, mohon di maklumi.. hahhahah okay, Happy reading aja dehh kalo gitu,,,

Typo Bertebaran, harap maklum !!!

Chapter 1

 

Randy membanting beberapa majalah ke meja di hadapannya sambil mengumpat keras-keras. “Sialan!!!” dari mana mereka mendapatkan gambar-gambar ini?” teriknya frustasi.

Randy benar-benar tak habis pikir dengan para wartawan yang kian hari kian pintar. Susah payah ia menutupi hubungannya dengan Marsela, kekasihnya, tapi para wartawan sialan itu masih saja bisa mengendus hubungan mereka. Kali ini Randy kembali tertangkap basah sedang setengah telanjang di dekat kolam renang yang Randy yakini adalah kolam renang di Vila miliknya yang berada di daerah puncak.

“Lo harusnya mulai menahan diri Ran, kalau gini terus, karir kalian akan terancam. Ingat, seluruh negeri ini tau kalau Lo udah punya istri dan itu bukan Marsela, tapi Febby.”

“Jangan sebut nama wanita sialan itu.” Pungkas Randy. “Gue ke sini mau hindari dia, tapi lo malah nyebut-nyebut namanya.”

Alvin yang merupakan manager sekaligus teman dekat Randy hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika penyakit Randy yang suka meledak-ledak akhirnya kambuh lagi.

“Memangnya kenapa lo sampek hindarin dia?”

Randy hanya terdiam. Bayangan antara dirinya dan Febby tadi pagipun terngiang begitu saja dalam ingatannya….

 

Randy membuka matanya ketika ia terganggu dengan suara berisik. Mau tak mau ia bangun karena tak tahan dengan suara berisik tersebut. Randy mendengus kesal, padahal ini adalah hari minggu, hari dimana dirinya bisa tidur dengan puas sampai siang, tapi nyatanya, suara berisik tersebut benar-benar mengganggunya.

Setelah membersihkan diri dari kamar mandi, Randy lantas keluar dari dalam kamarnya kemudian menuju ke arah suara berisik tersebut. Suara itu dari arah dapurnya, dan Randy membulatkan matanya seketika saat mendapati Febby, istrinya itu sedang sibuk dengan peralatan dapur sambil menyanyi dan sesekali menggoyangkan pinggulnya.

Wanita itu terlihat sibuk hingga tak menyadari jika kini Randy sedang mengawasinya dari jauh. Randy menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat Febby yang tampak begitu berbeda pagi ini. Wanita itu hanya mengenakan Hot pant yang penjangnya jauh di atas lutut, sedangkan atasannya hanya mengenakan Camisole yang entah kenapa membuat wanita itu terlihat begitu seksi.

Ohh demi apa Randy baru saja memuji istrinya itu seksi? Randy merutuki dirinya sendiri saat pikiran mesumnya mulai kambuh. Tidak!!! Ia tidak boleh berpikiran mesum dengan wanita Kaku seperti Febby.

Dengan memasang wajah datar, Randy menuju ke arah lemari pendingin untuk mengambil sebotol air mineral sambil sesekali berdehem pada Febby.

Febby membalikkan badannya dan memekik karena ia tak menyangka jika ada Randy tepat di belakangnya.

“Apa yang kamu lakukan di sini??” Teriak Febby sambil menutup paha dan dadanya yang sedikit terbuka karena bajunya yang memang lebih mirip dengan baju dalaman.

“Apa yang ku lakukan? Ini kan rumahku? Suka-suka ku mau ngapain aja.” Randy mencoba menjawab sedatar mungkin, padahal kini kejantanannya sudah sedikit berdenyut karena melihat Febby dari dekat. Sial!! Kulit wanita itu terlihat sangat mulus, belum lagi ukuran dadanya yang benar-benar tak pernah terpikirkan dalam benak Randy.

“Bukannya begitu, ini kan minggu, harusnya kamu nggak di rumah dan menginap di rumah pacarmu itu.”

“Hei, mau aku menginap di manapun itu bukan urusanmu, lagian untuk apa kamu menutupi tubuhmu seperti itu.” Randy melirik ke arah tangan Febby yang mencoba menutupi tubuhnya. “Aku tidak tertarik, semuanya terlihat rata dan itu membuatku tak berselera.”

“Oh ya?? Rata katamu?” Febby membusungkan dadanya dan itu membuat Randy tak kuasa membulatkan matanya.

Secepat kilat Randy membalikkan tubuhnya dengan sesekali menelan ludahnya susah payah. Sialan!!! Wanita di belakangnya itu mau tak mau memaksanya untuk mandi air dingin dua kali pada pagi ini.

“Hei.. kemana kamu? Aku belum selesai bicara!” teriak Febby kesal karena Randy pergi begitu saja meninggalkannya setelah mengatainya Rata.

Sedangkan Randy sendiri sibuk mengatur ketegangan sialan di pangkal pahanya. Ayolah, jangan sekarang!! Geram Randy dengan kesal. “Kau boleh berdiri kapanpun kau mau, tapi tidak sekarang, Tidak karena wanita kaku itu.!!” Bisik Randy pada dirinya sendiri.

***  

Cukup lama Randy menenangkan diri di dalam garasi rumahnya sambil menyibukkan diri mengecek mesin mobilnya. Ia mencoba melupakan bentuk tubuh Febby yang entah kenapa kembali terngiang di otak mesumnya. Sial!!! Mengingatnya saja membuat Randy kembali menegang.

Tak lama, wanita yang di pikirkannya itu masuk ke dalam garasi tempat dirinya kini sedang mengecek mesin mobilnya. Aroma Febby menguar di dalam ruangan, dan itu mu tak mau membuat Randy mengangkat wajah menatap ke arah Febby.

“Mau kemana?” pertanyaan itu spontan terlontar begitu saja dari mulut Randy saat melihat Febby sudah rapi. Wanita itu terlihat berbeda dari biasanya, pakaiannya memang masih rapi seperti biasanya, hanya saja pagi ini Febby tidak mengenakan jas dokternya, kaca mata besarnya, dan rambutnyapun tak di gulung dengan kaku seperti biasanya.

“Tentu saja kerja.” Jawab Febby dengan datar.

“Kupikir kamu tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu saat kerja.”

Febby menatap Randy dengan tatapan anehnya. “Dan ku pikir kamu tidak pernah ikut campur urusanku.”

Oke, Randy kalah. Pagi ini ia memang benar-benar aneh, kenapa juga ia memikirkan wanita kaku di hadapannya tersebut? Karena ukuran dadanya? Ayolah Ran.. lupakan payudara sialan itu!!! Gerutu Randy pada dirinya sendiri.

Randy mencoba tidak menghiraukan Febby saat wanita itu masuk ke dalam mobilnya lalu menyalakan mesin mobilnya. Tapi nyatanya tak lama wanita itu kembali keluar dari dalam mobilnya.

“Sial!!!” sama-samar Randy mendengar umpatan yang di ucapkan Febby.

“Kenapa?”

“Aku tidak tau.”

Randy tersenyum mengejek. “Mogok ya?”

“Entahlah.” Jawab Febby dengan sedikit kesal.

“Ayo ku antar.”

Ajakan Randy itu membuat Febby membulatkan matanya seketika. Apa ia tak salah dengar? Sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki di hadpannya itu?

“Bengong lagi, Ayo masuk.” Randy yang sudah masuk ke dalam motor sportnya kembali menyadarkan Febby.

Ahh mau tak mau Febby juga ikut masuk ke dalam mobil Randy. Tentu ia tidak ingin telat hari ini karena hari ini adalah hari yang sedikit special untuknya.

Randypun menjalankan mobilnya saat Febby sudah masuk. Keduanya sama-sama terdiam tanpa sepatah katapun seakan sudah terbiasa dengan suasana seperti saat ini.

***  

Di dalam mobil…

Sesekali Randy memperhatikan Febby dari kaca spionnya. Ternyata, Febby tidak sekaku dan semembosankan seperti yang ia kira. Wanita di sebelahnya ini terlihat sedikit lebih santai, sesekali wanita itu bahkan tersenyum saat menatap ponselnya.

“Kenapa?” tanya Febby yang baru menyadari jika Randy sedang memperhatikannya dari kaca spion.

“Nggak apa-apa, kamu aneh, mana ada orang kerja di hari minggu.”

“Hei, aku dokter, pekerjaanku serius menyangkut nyawa seseorang, dan itu tidak kenal waktu. Tidak sepertimu yang hanya bisa membuat sensasi.”

“Apa?” Randy benar-benar tak menyangka jik Febby bisa berkata sepedas itu.

“Lagi pula tumben sekali kamu mau mengantarku.”

“Gosip akhir-akhir ini semakin menggila. Jadi tidak ada salahnya aku mengantarmu, semoga ada wartawan yang memotret kita saat sedang bersama.”

Febby tertawa nyaring. “Ran, kamu hanya perlu memborgol kejantananmu supaya tidak melulu ingin bertemu dengan pacarmu itu dan menciptakan gosip memuakkan di seluruh stasiun televisi.”

Randy membulatkan matanya seketika setelah mendengar cibiran dari Febby.

“Aku turun di depan, nanti ada yang menjemputku.” Ucap Febby kemudian sebelum Randy membalas cibirannya tadi.

Randy akhirnya menghentikan mobilnya di tempat yang di tunjuk Febby. Febby keluar dari mobilnya lalu menunduk di jendela pintu mobil Randy.

“Bagaimanapun juga, aku berterimakasih karena kamu sudah mau mengantarku.” Sedangkan Randy hanya mengangguk dengan wajah masamnya.

Sial!!! Febby kini sudah berani mengejeknya. Memborgol kejantananya? Yang benar saja. Perhatian Randy kemudian teralihkan pada sebuah mobil yang bertenti tepat di hadapan Febby. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil tersebut, lelaki itu mengenakan topi dengan kacamata hitamnya. Randy memicingkan matanya mengamati lelaki tersebut. Dan Randy berakhir dengan membulatkan matanya saat menyadari siapa lelaki tersebut.

“Brian?” Ucapnya dengan spontan.

Ya, lelaki yang kini sedang menjemput istrinya tersebut adalah seorang Brian Winata, penyanyi sekaligus aktor papan atas yang merupakan Rival terberatnya. Untuk apa laki-laki sialan itu menjemput Febby?? Ada hubungan apa mereka?

Ingin rasanya Randy menyusul mengikuti mereka berdua, tapi sepertinya sangat beresiko, lagian ia membawa mobil sportnya yang pastinya bakal ketahuan kalau dirinya sedang mengikuti Febby dan Brian.

Dengan sesekali mengumpat kasar, Randy memutar balik mobilnya. Ia harus kembali menetralkan pikirannya dari bayang-bayang tubuh Febby dalam ingatannya.

 

“Sudahlah, jangan bahas dia lagi.” Jawab Randy datar. Padahal kini pikirannya masih sedikit penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di antara Febby dan Brian.

Alvin sendiri memilih diam, ia tidak ingin kembali menyulut emosi Randy. Temannya itu memang suka sekali meledak-ledak, dan itu membuat Alvin harus menjaga sikap.

***

“Jadi.. kalian sudah baikan?” tanya Brian yang kini masih duduk santai di kursi yang di sediakan di ujung ruangan Febby.

“Baikan? Maksud kamu?”

“Kupikir tadi kamu di antar dengan Randy.”

Febby menganggukkan kepalanya. “Dia aneh pagi ini, dan karena mobilku mogok, maka tidak ada salahnya jika aku menerima tawarannya untuk mengantarku.”

Brian menganggukkan kepalanya. Brian mengenal Febby sekitar satu bulan yang lalu. Saat itu keponakannya yang bernama Cinta, jatuh dari tangga. Orang tua Cinta saat itu sedang memiliki tugas di luar kota, mau tak mau Brian sendirilah yang mengantar Cinta ke rumah sakit.

Betapa hebohnya saat itu di ruang IGD, karena ada seorang penyanyi papan atas yang datang ke rumah sakit tersebut. Saat itu Febbylah yang menangani keponakan Brian. Brian mengernyit saat menyadari jika yang menangani keponakannya adalah istri dari Randy, Rival terberatnya dalam dunia intertaiment, dan entah kenapa itu membuat Brian ingin mengenal Febby lebih jauh.

Beberapa kali bertemu saat Brian mengantar Cinta chek up, membuat hubungan keduanya semakin dekat layaknya teman biasa. Bahkan kini pegawai rumah sakit seakan sudah terbiasa dengan kedatangan Brian.

“Jadi, apa kita jadi makan siang hari ini?”

Febby tersenyum. “Boleh, asal kamu yang teraktir.”

“Ya, tentu saja aku akan meneraktirmu.” Brian berpikir sebentar kemudian bertanya lagi pada Febby. “Feb, sebenarnya aku sedikit penasaran, bagaimana awal mula kalian bisa bertemu dan menikah, kupikir Randy benar-benar menjalin kasih dengan Marsela, tapi aku terkejut saat ada kabar jika dia menikah.”

Febby menghela napas panjang. Ingin sekali ia bercerita tentang pernikahan paksanya dengan Randy, tapi tentu Febby tak bisa sembarangan berbicara mengingat sedikit saja hubungan mereka terbongkar, maka karir Randy yang jadi taruhannya.

Febby mengenal Randy beberapa bulan yang lalu, ketika mereka memang sengaja di jodohkan oleh kedua orang tua masing-masing. Kedua orang tua mereka berteman. Ayah Febby saat itu berkata jika Ayah Randy ingin menjodohkan Randy dengan Febby karena ayah Randy tidak suka dengan gosip kedekatan puteranya tersebut dengan salah seorang model papan atas. Sedangkan ayah Febby menerima perjodohan tersebut begitu saja karena selama ini ayah Febby khawatir dengan Febby yang tak kunjung membawa calon ke rumah mereka padahal usia Febby sudah hampir Dua puluh tujuh tahun.

Awal bertemu, Feby begitu gembira, karena nyatanya ia akan menikah dengan aktor papan atas yang menjadi salah satu idolanya. Tapi setelah menikah dan mengetahui seluk-beluk Randy, Febby benar-benar menyesal karena sudah menikah dengan lelaki tersebut.

Febby masih ingat, saat pertama kali masuk ke dalam kamar Randy di hari pertama mereka menikah…

“Kamu sedang apa?” tanya Randy yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi di dalam kamarnya. Randy tampak sedikit terkejut ketika mendapati Febby yang sudah berada di dalam kamarnya.

“Em. Aku mau membereskan pakaianku.” Jawab Febby dengan sedikit canggung.

“Hah?? Apa kamu sudah gila? Siapa yang menyuruhmu menginjakkan kaki di kamarku? Kamarmu ada di kamar sebelah!” Seru Randy dengan suara lantangnya.

“Jadi.. kita tidak sekamar?”

“Jangan bermimpi untuk tidur sekamar denganku. Apa kamu tau kalau pernikahan ini hanya sebagai kedok untuk menutupi hubunganku dengan kekasihku? Semua ini hanya sandiwara, jadi kamu seharusnya tau diri.”

“Hei, kamu kira aku menginginkanmu? Aku menikahimu juga karena terpaksa.” Febby mencoba melawan Randy sekuat tenaga, ia benar-benar sakit hati dengan apa yang dikatakan Randy.

Randy sendiri membulatkan matanya seketika, ia tidak menyangka jika Febby akan berbalik melawannya.

“Kalau begitu cepat keluar dari kamarku.” Perintahnya.

“Baik, Aku janji tidak akan pernah menginjakkan kaki di kamarmu lagi kecuali kamu yang menginginkannya.”

“Huh, jangan bermimpi.” Randy mendengus kesal.

 

Bayangan itu menari-nari dalam ingatan Febby dan entah kenapa membuat hati Febby terasa sakit. Harga dirinya sudah di injak-injak oleh seorang Randy Prasaja, lelaki menyebalkan yang kini menjadi suaminya. Febby menghela napas panjang, Ah, tidak ada salahnya bukan jika ia bercerita pada Brian? Toh Brian terlihat baik.

“Kami di jodohkan.” Jawab Febby dengan tubuh sedikit lemas.

Brian tercengang dengan perkataan Febby. “Kamu yakin? Kamu nggak bercanda kan?”

Febby menggelengkan kepalanya. “Ya, kami hanya di jodohkan, dan hubungan kami hanya sandiwara.”

Akhirnya Febby berani mengucapkan kebenaran tersebut pada orang lain. Ahh, persetan dengan karir Randy yang terancam, toh lelaki itu tak pernah mau tau tentang dirinya bukan??

 

-TBC-

Semoga masih ada yang mau nunggu hyaa,, huehehheh

Love Between Us – Part 9 (Putus)

Comments 5 Standard

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

Banyak typo.. mohon maklum…!!!

Chapter 9

-Putus-

Jam makan siang akhirnya tiba juga. Denny menghela napas panjang. Dengan cepat ia mencari-cari keberadaan ponselnya di meja kerja. Denny ingin menghubungi Aira, semalaman gadis itu tidak mengangkat telepon darinya. Bahkan tadi pagi pun sama. Apa yang terjadi dengan gadis itu??.

 

Denny mencoba menghubungi Aira kembali, tapi nyatanya gadis itu lagi-lagi tidak mengangkat telepon darinya. Dengan sedikit lemas ia berdiri kemudian keluar dari ruang kerjanya untuk makan siang.

 

Di dalam lift, Denny bertemu dengan Vita dan tiga orang teman wanitanya. Para wanita itu menampilkan senyuman aneh mereka pada Denny. Vita memang selalu di gosipkan dekat dengannya, maka tak heran jika teman-teman wanita Vita saat ini sesekali mendorong-dorong tubuh Vita supaya lebih dekat dengan Denny.

 

“Hai..” Hanya itu yang dapat di katakan Denny untuk menyapa Vita dan teman-temannya.

 

“Hai juga, mau makan siang?”

Denny hanya menganggukkan kepalanya.

 

“Cuma mau cari kopi.” tambahnya.

 

“Emmm, boleh ikut?” Tanya Vita yang secara tak langsung menawarkan dirinya untuk menemani Denny.

 

“Boleh, lebih ramai lebih bagus,” jawab Denny sambil melirik arah teman-teman Vita.

 

“Sorry, sepertinya kami nggak ikut, takut ganggu,” Ucap salah seorang teman Vita.

 

“Kalian nggak ganggu kok, malah enak kalau ramai-ramai.” Jawab Denny cepat. Jujur saja, sebenarnya ia merasa tak nyaman jika harus berdua dengan Vita. Entahlah, Denny hanya tidak ingin membuat wanita itu berharap lebih padanya.

 

Pintu lift akhirnya terbuka ketika sampai di lobi. Denny keluar bersama dengan Vita dan tiga orang teman wanitanya, mereka masih sedikit berdebat karena tidak ingin ikut makan siang bersama Denny dan Vita. Hingga kemudian, mata Denny menatap sosok gadis cantik yang sudah berdiri sambil menatapnya.

 

“Aira..” Ucap Denny spontan. Ia berjalan cepat menuju ke arah Aira. Denny benar-benar tidak menyangka jika Aira mengunjunginya lagi ke kantor tempatnya bekerja.

 

“Hai.. Kenapa kamu nggak mengangkat telepon dariku? Ada masalah??” Bukannya menjawab, Aira malah sibuk menatap beberapa wanita di belakang Denny yang kini juga ikut menuju ke arahnya.

 

“Siapa mereka?” Tanya Aira langsung.

 

Denny mengangkat sebelah alisnya saat mengamati ekspresi kesal yang tampak jelas di wajah Aira. Ia kemudian menoleh ke belakang dan mendapati Vita dengan tiga orang temannya tadi.

 

“Ohh… mereka teman kerjaku,” Aira hanya diam, tidak menanggapi jawaban darinya. Aira lebih memilih mengamati para wanita yang kini sudah berdiri tepat di sebelah kekasihnya itu.

 

“Denn, kita jadi makan siang bareng?” Tanya Vita yang tanpa canggung lagi menepuk bahu Denny.

 

“Emmm.. maaf Vit, sepertinya kita nggak jadi makan siang bareng.” Jawab Denny sambil melirik ke arah Aira.

 

“Ohh, kamu makan siang sama dia? Adik kamu?” tanya Vita lagi.

 

Denny tersenyum, kemudian tanpa ragu lagi ia menggenggam telapak tangan Aira. “Dia pacarku Vit,” jawab Denny. Untuk pertama kalinya pagi itu Aira dapat menyunggingkan senyuman bahagia.

 

Siang ini Aira memang sengaja menemui Denny. Setelah semalaman galau karena memikirkan suara siapakah yang ia dengar saat menelepon Denny. Semalam Denny mencoba menghubunginya, pagi inipun entah sudah berapa kali Denny mencoba meneleponnya, tapi Aira memutuskan untuk tidak mengangkatnya. Aira tidak ingin rasa kesalnya ditumpahkan pada Denny begitu saja. Padahal ia belum tahu masalahnya. Maka dari itu, siang ini juga Aira ingin meminta penjelasan secara langsung pada Denny.

 

Rasa kesal Aira semakin menjadi-jadi saat melihat Denny dekat dengan beberapa wanita teman kerjanya itu. Tapi kemudian, semua rasa kesal itu hilang begitu saja. Saat Aira mendengar pengakuan Denny pada teman-teman wanitanya jika ia adalah kekasih dari pria tersebut.

 

“Ohhh jadi, kamu sudah punya pacar?” tanya Vita dengan nada tidak percayanya.

Denny mengangguk dengan pasti.

 

“Ya, ini Aira, pacarku.” Ucap Denny sekali lagi penuh dengan penegasan. Ohh, jangan ditanya lagi betapa bahagianya hati Aira mendengar ucapan Denny. Ia tidak menyangka jika Denny bisa berbuat semanis ini terhadapnya.

 

“Emm.. baiklah kalau begitu kita makan diluar duluan.” Ucap Vita dengan cepat, lalu pergi begitu saja. Wajah memerahnya, di ikuti dengan tiga orang temannya tadi.

 

Setelah kepergian Vita dan teman-temannya, Denny kembali menatap Aira, masih menggenggam tangan Aira. Dengan canggung ia melepaskannya.

 

“Ada masalah? Kenapa kamu nggak mengangkat telepon dariku?”

 

“Aku mau minta penjelasan dari kamu.” Ucap Aira dengan nada yang dibuat merajuk.

 

“Penjelasan apa??”

 

“Kita bahas di luar saja,” jawab Aira. Denny hanya mampu menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan gadis manja di hadapaannya.

 

***

 

Di sebuah cafe yang tidak jauh mereka duduk berhadapan. Denny memesankan milkshake kesukaan Aira sedang dirinya secangkir espresso. Aira sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Denny. Hatinya menuntut Denny untuk jujur. Ia tidak mau dibohongi lagi oleh seorang pria. Ya, pria brengsek seperti Wisnu. Menyebutkan namanya saja Aira sudah muak.

 

“Siapa dia Denny? Siapa wanita itu?” pertanyaan Aira membuat Denny menatapnya sembari menyunggingkan senyumannya.

 

Aira cemburu, Denny tahu itu.

 

Denny sudah menduga pasti Aira akan berburuk sangka karena mendengar suara gadis lain di sambungan telepon kemarin. Ia menjelaskan permasalahannya, nyatanya Aira hanya salah paham saat tidak sengaja mendengar suara Clarista tadi sore. Denny tahu itulah sebabnya Aira tidak mau mengangkat telepon darinya.

 

“Kamu cemburu?” tanya Denny sedikit memancing reaksi Aira.

 

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa wanita yang tadi sore berbicara saat di telepon.”

 

“Namanya Clarista, dia adikku,” Aira menyipitkan matanya ke arah Denny.

 

“Kamu nggak lagi bohong kan? Kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya adik!”

 

“Karena kamu nggak pernah tanya tentang keluargaku.” Aira mengerucutkan bibirnya.

 

“Aku masih nggak percaya sebelum ada buktinya.” Denny mencubit gemas pipi Aira.

 

“Aku akan mengenalkanmu dengan dia nanti,”

 

“Kamu janji?”

 

“Ya, aku janji. Tapi jangan marah lagi ya,” Aira menunduk malu, senyumnya terukir begitu saja. Pipinya merah merona karena perlakuan manis dari Denny. Sejak kapan pria dingin dan datar di hadapannya ini berubah menjadi pria yang manis seperti saat ini?.

 

“Oke, aku nggak marah. Tapi aku mau nanti malam kamu datang ke rumah. Kita akan makan malam bersama dengan Ayah dan Mamaku.”

 

“Kamu yakin? Ku pikir ayahmu masih nggak menyukaiku,”

 

“Dia bukannya nggak menyukaimu, tapi dia belum mengenalmu. Kamu mau kan makan malam bersama kedua orang tuaku?” Denny menganggukkan kepalanya.

 

“Ya, tentu aku mau.” Keduanya saling tersenyum satu sama lain, merasakan hati masing-masing yang sama-sama terasa berbunga-bunga.

 

***

Aira mampir ke salah satu butik mamanya, Zeeva. Ia ingin merayu Zeeva untuk memberikannya sebuah gaun malam yang bagus. Aira ingin tampil menawan di depan Denny nanti malam. Untuk kecantikan Aira tidak diragukan lagi. Gadis tinggi semampai itu sangat merawat dirinya.

 

“Mama ada?” Tanyanya pada karyawan Zeeva ketika hendak masuk ke ruangan Mamanya.

 

“Ibu Zeeva ada di dalam, mbak Aira.” Jawab karyawan itu. Aira membuka pintu Zeeva sedang menulis sesuatu di sebuah kertas.

 

“Ma,” sapa Aira menghampirinya. Ia mencium pipi Zeeva.

 

“Ada apa sayang?” Zeeva berdiri membawa Aira menuju sofa. Ia meninggalkan pekerjaannya sebentar.

 

“Ma, aku boleh meminjam salah satu gaun malam koleksi mama nggak?” Aira menggunakan kata ‘meminjam’ itu hanya sebuah alasan. Tidak mungkin kan Zeeva menjual gaun bekas pakai. Aira merayu sang mama untuk mendapatkan sebuah gaun. Rizky sudah mewanti-wanti untuk tidak menghamburkan uang. Ayahnya, bukan pelit tapi Aira harus belajar menghemat. Gayanya yang dulu selalu tampil modis membuat para pria hanya memanfaatkan kekayaannya saja. Rizky tidak mau itu terulang lagi. Siapapun yang menyakitkan putrinya akan berurusan dengannya.

 

“Ambilah gaun yang kamu inginkan. Mama tidak akan bilang ke ayah,” Zeeva mengusap pipi Aira.

 

“Janji?”

 

“Iya, mama janji. Sudah sana pilih gaun yang kamu suka, mama mau kerja lagi.” Zeeva mencium pipi Aira yang kegirangan.

“Nanti pulangnya kita bareng kan, ma?” Aira berdiri.

 

“Iya, mama tau ini hari bahagia kamu kan. Ayah mengajak Denny itu undangan yang sangat langka. Nanti kita persiapkan makan malamnya berdua ya,” anggukan Aira semangat sekali. Ia kembali mencium pipi Zeeva.

 

“Aku sayang mama,” ucapnya sebelum melangkah pergi. Aira bergegas mencari gaun yang pas untuk nanti malam. Di bantu karyawan Zeeva, Aira sibuk menjajal gaun satu persatu. Dari gaun yang sederhana sampai gaun yang menampilkan punggungnya. Aira meringis membayangkan jika ayahnya melihatnya. Rizky pasti tidak suka dan menceramahinya. Ayahnya terlalu over protektif kadang membuatnya sebal.

 

Pilihannya jatuh pada gaun biru laut tidak berlengan. Ia sangat menyukai gaun itu. Hatinya sedang bahagia sekali. Aira senyum-senyum sendiri sampai karyawan yang menemaninya melihatnya aneh. Aira sedang jatuh cinta. Rasa bahagianya meluap menimbulkan pancaran binar senang.

***

 

Pukul 15.30 WITA Aira dan Zeeva mempersiapkan menu untuk makan malam. Aira sangat tidak sabar menunggu malam. Zeeva sampai tertawa saat Aira membantunya memasak. Tak luput dari penglihatannya Aira bersin dan meneteskan air mata karena cabe yang ditumis. Ia membuat sambal balado kesukaan Denny.

 

Narendra yang lewat dapur menatap heran Zeeva. Ingin bertanya ‘tumben kakak rajin’. Zeeva menaikan bahunya sambil tertawa.

 

“Ma, ada acara apa?. Kak Aira sampai bela-belain masak?” Narendra duduk dikursi pantry.

 

“Pacarnya mau ikut makan malam, sayang,” sahut Zeeva.

 

“Ayah yang mengundangnya?”

 

“Iya, apa kamu tidak mendengarnya tadi malam?” kini Aira yang menyahut. Ia sibuk menuangkan sambal ke mangkuk. “Sudah sana jangan menganggu yang lagi masak!” Ia menyuruh pergi. Ada Narendra hanya akan memecahkan konsentrasinya saja.

 

“Yey, kakak tu yang memberantakin dapur mama,” ledeknya. Aira berbalik memelototinya.

 

“Ya ampun anak ini!” Aira bersiap untuk mengejarnya namun Narendra sudah kabur terlebih dahulu. Zeeva menertawakan Aira. Bibir Aira mengerucut namun ia melanjutkan sesi masaknya.

 

1 jam berlalu makanan sudah tersaji di meja makan. Aira segera ke kamarnya untuk mandi. Rizky baru saja pulang dari kantor. Ia menggendong Bunga yang bermain diluar membawanya masuk. Rizky mendengarkan celotehan-celotehan Bunga yang menceritakan kegiatannya seharian ini.

 

“Jadi Bunga belum mandi?” Tanya Rizky.

 

“Belum, Bunga mau baleng mama tapi mama sibuk masak sama kak Aila,” adunya. Rizky tertawa ringan.

 

“Ayah mandikan Bunga ya, kita buat busa yang banyak. Itu kesukaan Bunga kan?”

 

“Eum, Bunga suka busa yang banyak.” Ucapnya riang. Rizky menaiki tangga menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar pribadinya sembari menggendong Bunga.

 

“Ayah, sudah pulang?” Zeeva baru keluar dari walkin closet. Tak lupa ia mencium tangan Rizky dan pipi suaminya tersebut. Rizky menurunkan Bunga di atas ranjang.

 

“Iya, ma. Bunga belum mandi katanya,” ucap Rizky. Zeeva duduk ditepi ranjang. Bunga mendekatinya lalu duduk di pangkuan sang mama.

 

“Iya, tadi sibuk masak sama Aira. Bunga kita mandi dulu yuk,” Bunga menggelengkan kepalanya.

 

“Sama ayah,” serunya.

 

“Ayah, capek sayang. Sama mama saja ya,” bujuk Zeeva.

 

“Mau sama ayah,” kekehnya. Zeeva menghela napas panjang.

 

“Apa tidak capek, yah?” Suaminya baru saja pulang bekerja.

 

“Tidak, yuk Bunga,” gadis mungil itu berdiri lalu mengulurkan tangannya minta di gendong. Rizky membawanya seperti superman ke kamar mandi. Ia masih mengenakan kemeja kerjanya. Rizky memandikan putri bungsunya.

***

 

Dikamar Aira sudah mandi, ia duduk di meja rias. Aira sedang menyapukan bedak ke wajahnya. Lipstick berwarna pink menghiasi bibirnya. Binar matanya sangat bahagia. Ia memoleskan blush on sedikit kedua pipinya. Wajahnya sudah beres dirias. Rambutnya pun dibiarkan tergerai. Ia hanya tinggal mengganti bajunya saja.

***

 

Tepat 19.30 Denny sudah berada di depan rumah Aira. Ia menggunakan motor maticnya. Denny berpakaian rapih sekali. Kemeja dan jeans masih baru yang ia pakai. Pakaian itu yang dibelikan Clarista, adiknya.

 

Pembantu rumah yang membukakan pintu untuk Denny. Ia dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu. Tak lama Rizky datang menemuinya. Aira belum selesai, ia masih sibuk memeriksa tampilannya. Rizky mencoba mengobrol dengan Denny. Sekaligus mencari tau kepribadian yang mengaku pacar Aira tersebut. Ia mengetahui jika Denny bekerja di perusahaan properti dan tinggal dikostan. Rizky cukup terkejut dari tampang Denny bukanlah pria biasa. Ia sedikit tidak percaya, apa yang dikatakan Denny. Namun dari orang suruhannya yang melapor memang itu kenyataannya. Dan sebuah fakta kemarin Denny pergi bersama seorang gadis lain tak luput diberitahukan.

 

Aira segera menemui Denny setelah ia merasa perfect. Dengan malu-malu Aira menyapa Denny. Kekasihnya pun terpesona akan penampilan Aira yang menggetarkan hatinya. Semakin hari perasan Denny semakin besar terhadap Aira. Rasa suka berubah menjadi cinta.

 

Acara makan malam tidak canggung dengan kehadiran Denny. Rizky berusaha menerimanya. Berusaha menekan kekhawatiran yang menyelimutinya. Ia tidak masalah jika kekasih Aira bukan dari kalangan orang kaya. Rizky menginginkan pendamping Aira yang bertanggung jawab dan memcintai putrinya tulus.

 

Aira menambahkan sambal baladonya ke piring Denny. Kali ini rasanya lumayan tidak seasin yang dulu melainkan kemanisan. Denny mengunyah seperti biasa. Padahal Rizky dan yang lainnya menatapnya curiga. Narendra sampai menahan tawanya. Syukurlah ia tidak mengambil sambal buatan Aira.

 

“Sambalnya enakan, Denny?” Tanya Aira yang disebelahnya.

 

“Iya, enak,” jawab Denny.

 

“Mau tambah lagi?”

 

“Tidak usah!” ucapnya cepat. “Yang ini saja belum abis,” lanjutnya pelan, hatinya meringis melihat piringnya.

 

“Kalau begitu nanti bawa pulang saja ya,” ucap Aira sebelum menyuap.

 

“Iya, boleh.” Cicit Denny.

 

***

 

Di suatu tempat, seorang gadis menatap layar smartphonenya dengan bibir tersenyum miringnya. Itu adalah Dinda, yang sedang sibuk menyusun rencana untuk mengganggu hubungan Denny dan Aira.

 

Di kirimnya beberapa foto hasil jepretannya pada seorang teman akun sosial medianya. Siapa lagi jika bukan Aira.

 

Foto-foto tersebut adalah foto Denny bersama seorang gadis yang sedang bergelayut dengan manjanya pada lengannya. Aira pasti merasakan sakit hati saat melihat foto-foto tersebut. Jantungnya pasti berdenyut nyeri sama sepertinya kini. Denny benar-benar lelaki brengsek!!! Umpat Dinda dalam hati.

 

Dinda menambahkan keterangan jika Aira ingin tau lebih, maka Aira harus menemuinya di sebuah cafe. Ia yakin, jika Aira pasti akan menemuinya. Dinda kembali menyunggingkan senyuman misteriusnya.

 

‘Jika aku tak bisa mendapatkan Kak Denny, maka Aira pun tidak boleh mendpatkannya…’ gumamnya dalam hati.

 

***

 

Aira begitu bahagia, ia berguling ke sana kemari di atas ranjang besarnya. Makan malamnya berjalan sangat lancar. Ayahnya kini juga sudah terlihat nyaman dengan Denny. Sikap Denny sendiri kini semakin manis terhadapnya. Aira tersenyum sendiri, menertawakan kebodohannya. Denny, bagaimana mungkin lelaki itu bisa membuatnya berbunga-bunga seperti ini?.

 

Tak lama Aira mendengar ponselnya berbunyi. Sebuah inbox dari sosial medianya. Ia bergegas melihat siapa yang sedang mengirim inbox malam-malam begini. Dan setelah membukanya, mata Aira membulat seketika.

 

Itu sebuah foto, Aira mengamati foto tersebut dengan seksama. Benarkah apa yang ia lihat? Apa benar itu Denny??. Dengan seorang gadis?? Apa gadis itu adalah gadis yang kemarin hari ia dengar saat menelepon Denny?. Tapi bukankah Denny sudah mengatakan jika suara wanita kemarin hari adalah suara adiknya. Apa Denny berbohong padanya?. Ada kemungkinan Denny berbohong, karena Aira sendiripun tidak tahu. Apakah Denny memiliki seorang adik atau tidak.

Berbagai macam pertanyaan berputar-putar pada kepala Aira. Dan pada detik itu, Aira baru menyadari. Jika selama ini ia memang belum mengenal terlalu jauh siapa sosok Denny sebenarnya.

 

***

 

Keesokannya Aira memutuskan untuk menemui Dinda di dalam sebuah cafe. Sempat ragu karena Aira tau jika Dinda adalah orang yang tidak menyukainya. Tapi rasa penasaran dengan foto-foto tersebut membuat Aira tidak berpikir ulang. Tidak ada salahnya bukan menemui Dinda?. Bukankah Dinda juga mengenal Denny sebelumnya. Bisa jadi Dinda tau lebih banyak tentang Denny, pikirnya saat itu.

 

Aira menatap seluruh penjuru cafe, lalu ia mendapati seorang gadis sebaya dengannya sedang menunggu seseorang. Itu Dinda. Dinda sendiri terlihat melambaikan tangan ke arahnya.

 

“Akhirnya kamu datang juga,” ucap Dinda saat Aira duduk tepat di hadapannya.

 

“Langsung saja, kamu tau apa tentang Denny?” Dinda tersenyum miring.

 

“Semuanya aku tau. Aira.. Aira.. apa kamu nggak sadar kalau kamu sedang di manfaatkan oleh seorang cowok mata duitan?” Aira menyipitkan matanya ke arah Dinda.

 

“Apa maksud kamu?”

 

“Jangan sok polos, kamu nggak sadar kalau cowok yang jadi pacar kamu sekarang adalah cowok mata duitan?” Mata Aira melebar seketika. Ia tidak suka jika Dinda menghina Denny seperti itu. Lagi pula Denny tidak pernah meminta apapun terhadapnya seperti Wisnu dulu saat menjadi kekasihnya.

 

“Jaga mulut kamu Dinda, Denny bukan orang seperti itu.” Geram Aira yang sudah sangat kesal dengan apa yang di katakan Dinda.

 

“Lalu, apa kamu bisa menjelaskaan tentang ini?” Dinda menyodorkan banyak sekali foto-foto Denny yang sedang berada di sebuah toko mewah untuk perlengkapan laki-laki. Di sana banyak terlihat seorang gadis sedang membantu Denny memilihkan pakaian untuk lelaki tersebut. Bahkan ada sebuah foto yang menunjukkan jika gadis itulah yang membayar semua belanjaan mereka.

 

Aira tertegun cukup lama. Tidak Denny bukan orang seperti itu. Dirinya seakan ingin meyakinkan hatinya sendiri. Aira menggelengkan kepalanya. “Denny bukan orang yang seperti ini..” Lirih Aira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

 

“Apa kamu nggak pernah mikir, bagaimana bisa Denny selalu terlihat tampil keren dan modis. Padahal dia hanya bekerja sebagai staf biasa di sebuah kantor yang bahkan tidak ada apa-apanya di bandingkan perusahaan ayahmu?. Bagaimana bisa dia seperti itu?”

 

“Tapi dia tidak pernah meminta apapun dariku.”

 

“Karena kamu adalah tangkapan yang sempurna untuk dia. Dia tidak perlu meminta apa-apa darimu, karena saat kamu sudah menjadi miliknya. Saat itu pula dia akan mimiliki seluruh kekayaan keluargamu.” Dada Aira terasa sesak mendengar penjelasan dari Dinda. Ya, kenapa semuanya jadi masuk akal?? Penampilan Denny, sikap miterius dari pria tersebut dan sikap-sikap manis Denny akhir-akhir ini. Apa itu semua hanyalah suatu jebakan untuk mendapatkan hatinya?. Apa Denny adalah orang yang sama seperti Wisnu?.

 

***

 

Tiga hari berlalu…

 

Denny benar-benar gelisah saat memikirkan hubungannya dengan Aira. Ini sudah empat hari setelah makan malam bersama keluarga Aira. Malam itu, mereka berdua benar-benar bahagia. Denny bahkan tak segan-segan untuk memberikan kecupan perpisahan pada kekasihnya tersebut.

 

Tapi ketika paginya Denny menghubungi Aira. Gadis itu tidak mengangkat telepon darinya. Ahh  mungkin Aira sedang sibuk, pikirnya saat itu tapi sorenya Denny menelepon lagi dan lagi. Aira tak kunjung mengangkat telepon darinya bahkan sampai saat ini. Apa yang terjadi dengan gadis itu?.

 

Denny memejamkan matanya karena frustasi. Ia ingin menemui Aira malam ini juga. Ya, ia harus menemui gadis itu malam ini juga apapun yang terjadi.

 

***

 

Akhirnya, malam itu juga Denny berkunjung ke rumah Aira. Ia tidak mempedulikan langit yang kini sedikit menitikan air hujan. Gerimis tidak bisa menghalangi niatnya untuk menemui gadis tersebut. Ia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi dengan kekasihnya itu. Kenapa Aira seakan tak ingin mengangkat telepon darinya.

 

Setelah mengetuk pintu, Denny di sambut hangat oleh Zeeva. Mama Aira itu memang sangat baik, sikapnya selalu hangat terhadapnya.

 

“Denny, ayo masuk..” ajak Zeeva.

 

“Emm.. terimakasih tante, tapi saya menunggu di sini saja. Saya hanya ingin bertemu dengan Aira ”

 

“Kalian ada masalah?”

 

“Ahh tidak tante,” Denny tentu menolak untuk masuk karena jika nanti ia masuk ke dalam ruang tamu keluarga Aira. Maka mau tidak mau Denny bukan hanya berbicara berdua dengan Aira, tapi juga dengan Rizky, ayah Aira. Denny ingin menunggu Aira di halaman rumah gadis itu saja.

 

“Baiklah, tante akan memanggilkan Aira untuk kamu.” Denny menganggukkan kepalanya. Ia kemudian memilih menunggu Aira di sebuah ayunan yang letaknya di halaman depan rumah Aira. Tidak lama, sosok yang di tunggunya itu akhirnya keluar juga. Denny berdiri seketika saat melihat Aira berjalan menuju ke arahnya.

 

Ada yang berbeda dengan gadis itu. Gadis itu terlihat murung tidak ceria seperti biasanya. Tampak jelas raut kesal di wajah Aira, bukan raut manja seperti biasanya. Ada apa? Apa yang terjadi dengan Aira?. Hatinya bertanya-tanya.

 

“Hai, akhirnya kita ketemu juga,” ucap Denny sedikit basa-basi.

 

“Ada perlu apa?” tanya Aira dengan nada ketusnya.

 

Denny sendiri benar-benar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Aira terdengar sangat ketus, seakan tidak suka dengan kedatangannya ke rumah gadis tersebut.

 

“Kamu ada masalah? Kenapa bersikap seperti ini padaku?” Aira memutar bola matanya jengah.

 

“Ya, aku ada masalah, dan masalahnya itu kamu.” ucapnya ketus.

 

“Aku? Ada apa denganku?” tanya Denny dengan wajah bingungnya.

 

“Kamu nggak usah sok polos, kamu pikir aku terlalu bodoh untuk tidak mengetahui apa rencanamu??”

 

“Aira…”

 

“Cukup!” Aira mengangkat tangannya mengisyaratkan Denny supaya tutup mulut. “Kita sudahi sampai di sini saja hubungan sialan ini. Aku nggak mau berhubungan sama kamu lagi dan aku nggak mau ketemu kamu lagi.” Ucap Aira dengan tegas lalu berbalik dan meninggalkan Denny di tengah gerimis hujan yang semakin deras.

 

Denny tidak tinggal diam. Dengan segera ia menyusul Aira, kemudian menarik pergelangan tangan Aira.

 

“Jika kamu ingin memutuskan hubungan dengan seseorang, maka kamu harus memberinya alasan, kenapa kamu memutuskan dia!” Desis Denny tajam. Ia bahkan tidak mempedulikan tubuhnya dan tubuh Aira kini yang basah karena hujan yang semakin deras mengguyur.

 

“Kamu nggak perlu alasan!”

 

“Aku memerlukannya!” Seru Denny. “Kalau kamu nggak memberikan alasan yang masuk akal, maka aku akan selalu mengganggumu.” Ancam Denny sembari mengeratkan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Aira.

 

“Oke, karena kamu brengsek!” ucapnya sarat akan kebencian.

 

“Brengsek??” Tanya Denny dengan wajah bingungnya.

 

“Ya, kamu brengsek dan aku membencimu. Aku sangat membencimu Denny!!!” Aira berteriak tepat ke arah Denny. Spontan, Denny melepaskan cekalan tangan Aira begitu saja. Ia membiarkan gadis itu pergi begitu saja meninggalkannya dengan serangkaian kemarahan yang Denny sendiri tidak tau karena apa. Denny membatu sendiri di tengah-tengah halaman rumah Aira dengan hujan yang semakin deras mengguyur tubuhnya.

 

Aira membencinya.. gadis itu membencinya…

 

kenapa saat ini?? Kenapa saat ia benar-benar yakin jika saat ini dirinya sangat mencintai gadis itu?

 

-Tbc-

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 8 (Saat Dia Pergi)

Comments 7 Standard

TLK2The Married Life (Lady Killer 2)

Haiii.. Kak Dhanni hadir lagi siang ini dear.. maaf agak ngaret yaa,… walaupun sering telat update, tapi aku akan tetap lanjutin sampai kata ending kok, jadi tenang aja.. hehehehhe kalau di draft kasarnya mungkin cerita ini hanya sampek chapter 15, tapi bisa kurang dan lebih yaa…  okay happy reading… 😉 😉

-Typonya banyak sekali.. iyaa banyak sekali.. jadi maklumin aja yaa,, nggak sempat edit.,hhahaha-

Chapter 8

Saat Dia Pergi-

 

Nessa masih menundukkan kepalanya. Hari ini hatinya terasa sedih. Dhanni akan pergi beberapa hari ke luar kota, dan itu membuatnya semakin tak nyaman. Nessa merasa jika kini Dhanni masih marah terhadapnya, meski sikap suaminya itu sudah melembut, tapi Nessa merasakan jika suaminya itu sedikit berbeda dari biasanya.

Nessa merasakan telapak tangannya di genggam oleh Dhanni. Ia kemudian mengangkat wajahnya lalu mendapati sepasang mata lembut yang kini sedang menatapnya.

Dhanni menyunggingkan senyumannya. Ia menarik telapak tangan Nessa untuk menyentuh permukaan bibirnya. Mengecupnya lembut penuh dengan kasih sayang.

“Kamu murung sekali.” Ucap Dhanni dengan suara lembutnya.

“Aku nggak mau Kak Dhanni pergi.”

“Sayang, aku hanya beberapa hari.”

“Tapi aku nggak tenang Kak..” Rengek Nessa. Nessa bahkan tak peduli jika ada beberapa orang di sekitarnya kini yang sedang asik memperhatikan mereka berdua.

Dhanni dan Nessa kini memang sedang berada di bandara internasional Soekarno Hatta. Nessa sejak pagi merengek ingin mengantar Dhanni sampai ke bandara. Akhirnya Dhanni memperbolehkan istrinya tersebut. Kini mereka masih menunggu kedatangan Ramma dan juga Hani, Asisten pribadi Dhanni.

“Selamat pagi pak.” Sapa Seorang wanita yang akhirnya memaksa Dhanni dan Nessa mengangkat wajahnya menatap wanita tersebut. Itu Hani, maka kini tinggal menunggu kedatangan Ramma saja.

“Pagi.” Jawab Dhanni. “Kita tunggu Pak Ramma dulu.” Ucap Dhanni dengan wajah datarnya.

Dhanni masih setia menggenggam telapak tangan Nessa, bahkan lelaki itu tak segan-segan mengecup telapak tangan istrinya tersebut.

Tak lama, datanglah Ramma dengan seorang wanita di sebelahnya. Siapa lagi jika buka Zoya.

“Lo berangkat sama dia?” tanya Dhanni sambil melirik ke arah Zoya.

“Tentu saja.” Jawab Ramma dengan seringaiannya. “Lo sendiri ngajak Nessa?”

“Enggak,” Jawab Dhanni sambil menatap Nessa. “Dia cuma ngantar sampai di sini.”

Ramma kemudian melirik ke arah jam tangannya. “Oke, ayo kita chek in.”

Ramma, Zoya, dan Hani akhirnya mulai berjalan masuk. Sedangkan Dhanni sendiri masih merasa tak tega dengan Nessa yang akan di tinggalnya sendiri.

“Aku pergi ya.” Ucap Dhanni dengan suara lembutnya.

Nessa hanya bisa mengerucutkaan bibirnya. Ia tidak suka di tinggal. Apalagi mengingat jika suaminya akan bepergian dengan mantan kekasihnya.

“Aku ikut.” Ucap Nessa dengan manja.

“Sayang… ingat Babby kita.” Dhanni mengusap lembut perut datar Nessa.

“Tapi aku nggak suka mengingat Kak Dhanni akan pergi dengan mantan pacar Kak Dhanni yang terlihat agresif itu.”

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut. “Erly nggak ikut, aku sudah memecatnya.” Akhirnya Dhanni jujur pada Nessa.

“Apa?? Kak Dhanni nggak bohong kan??”

Dhanni menggelengkan kepalanya. “Apa kamu tadi lihat ada Erly? Enggak kan? Dia sudah ku pecat sejak kemarin, jadi kamu nggak perlu khawatir lagi.”

“Tapi kemarin Kak Dhanni bilang kalau Kak Dhanni akan pergi dengan wanita itu.”

Dhanni tertawa lebar. “Aku hanya ingin membuatmu kesal. Aku terlalu emosi melihat istriku di peluk-peluk oleh lelaki lain, apalagi saat aku tahu jika lelaki itu adalah mantan kekasihnya.”

Nessa membulatkan matanya seketika. “Kak Dhanni.. Kak Dhanni tau hubunganku dengan Kak Jo dulu??”

“Ya. Semuanya aku sudah tau. Dan kamu berhutang penjelasan padaku.”

Nessa menundukkan kepalanya seketika. “Maaf, aku nggak bermaksud menyembunyikan semuanya, aku hanya nggak ingin Kak Dhanni tau lalu hal itu mengganggu pikiran Kak Dhanni. Aku benar-benar nggak memiliki perasaan apapun dengan Kak Jo saat ini. Makanya, ku pikir aku tidak perlu bercerita, karena semuanya hanya masa lalu.”

Dhanni menangkup kedua pipi Nessa, mengangkat wajah istrinya tersebut hingga menatapnya. “Sayang.. ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Tapi nanti, setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Dan sampai saat itu tiba, ku harap kamu mau menceritakan semuanya tanpa ada yang kamu tutupi dariku.”

Nessa menganggukkan kepalanya dengan pasti. “Aku janji akan cerita semuanya sama kak Dhanni nanti.”

Tanpa banyak bicara Dhanni mendaratkan bibirnya pada bibir lembut milik Nessa, melumatnya sebentar, kemudian mengecupnya penuh dengan kasih sayang.

“Aku sayang kamu, jaga Babby kita. Nanti kalau sudah sampai aku hubungi kamu.” Pesan Dhanni sebelum pergi meninggalkan Nessa.

Ketika Dhanni sudah agak jauh, Nessa kembali memanggil Dhanni.

“Kak..”

Dhanni membalikkan badannya, kemudian mendapati tubuh istrinya itu memeluknya erat-erat.

“Nessa, aku hanya beberapa hari.”

“Aku tahu.. tapi aku hanya ingin bilang, bahwa aku cuma sayang sama Kak Dhanni, dan hanya Kak Dhanni, jadi ku mohon, percaya denganku.”

“Iya sayang, aku percaya kamu.”

Nessa melepaskan pelukannya, Kemudian berjinjit dan mengecup lembut pipi suaminya tersebut. “Aku ingin di telepon setiap jam.”

Dhanni tersenyum. “Ya, aku akan melakukannya.”

Dhanni akhirnya pergi sembari melambaikan tangannya pada Nessa. Terasa berat, karena ini pertama kalinya ia meninggalkan Nessa sendiri dalam keadaan hamil. Khawatir, tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi. Lagian ia sudah membayar beberapa orang untuk mengawasi dan menjaga istrinya tersebut dari jauh. Nessa akan aman, tapi apa hati wanita itu juga akan aman?? Dhanni mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruk pada istrinya tersebut.

***

Dengan khawatir Jonathan menatap sang kakak yang terbaring lemah seakan tak berdaya. Mata kakaknya tersebut terpejam, tapi bibirnya tak berhenti memanggil nama sialan yang selama ini mau tak mau mmebuatnya kesal. Nama siapa lagi jika bukan nama seorang Dhanni Revaldi.

Setelah berdebat sengit dengannya tadi malam, sang kakak tak lagi keluar dari kamarnya. Kakaknya tersebut memilih mengunci diri di dalam kamarnya, dan itu membuat Jonathan khawatir.

Akhirnya Jonathan membuka paksa pintu kamar kakaknya tersebut dan mendapati kakaknya yang sudah terbaring lemah dan meracau tak jelas seperti saat ini.

“Bagaimana Dok keadaan kakak saya?” Tanya Jonathan pada seorang Dokter keluarganya yang baru saja selesai memeriksa Erly.

“Untuk fisiknya, mungkin dia hanya mengalami demam biasa, tapi sepertinya psikisnya yang terganggu. Dia tak berhenti menyebut nama Dhanni, dan saya harap kamu memiliki solusi untuk masalah yang mungkin saja terjadi antara kakakmu dengan Dhanni tersebut.”

“Kalau dia seperti ini terus, apa yang akan terjadi?” Jonathan bertanya kemungkinan terburuknya.

“Jo, kakak kamu punya psikiater kan? Lebih baik ajak dia kembali terapi dengan psikiaternya, saya hanya takut, depresi yang dulu sempat dia alami kembali kambuh. Kakakmu memiliki psikis yang sangat lemah.”

Jonathan tercenung mendengar setiap kata yang terucap dari Dokter tersebut. Lalu apa yang harus ia lakukan selanjutnya?? Mampukah ia bersikap egois untuk menyelamatkan kakaknya dan menyakiti hati wanita yang sangat di cintainya tersebut??

***

Nessa menatap makanan di hadapannya dengan tak berselera. Ini sudah dua hari sejak kepergian Dhanni, dan entah kenapa suasana hati Nessa semakin memburuk setiap harinya. Tak lama, Nessa mendengar suara telepon berbunyi, itu pasti Dhanni…

Suaminya itu selalu menepati janjinya, hampir setiap ada waktu luang, lelaki itu meneleponnya. Dengan semangat Nessa mengangkat telepon dari suaminya tersebut.

“Halo..”

“Pagi sayang..” Suara lembut di seberang benar-benar membuat Nessa berbunga-bunga.

“Pagi.. Kak Dhanni lagi apa? Sama siapa?”

“Aku lagi minum kopi, sendiri di balkon hotel. Kamu sudah sarapan?”

“Belum, aku mual muntah terus sepagian ini.”

“Kamu harus makan sayang..”

Nessa menghela napas panjang. “Ya, Aku akan makan nanti. Tapi, Kak Dhanni kapan pulang?”

“Mungkin besok sore. Ini masih ada sekali pertemuan lagi.”

“Janji yaa.. besok sore sudah pulang.”

Iya aku janji.” Ucap Dhanni dengan lembut. “Kamu mau di bawain apa?”

“Cukup Kak Dhanni pulang, aku sudah senang.”

Terdengar tawa Dhanni di seberang. “Ya sayang, aku akan segera pulang. Dan ingat, kamu harus siapin diri kamu untuk menjawab semua pertanyaanku.”

“Ya, aku akan menjawabnya kak..”

“Baiklah kalau begitu.” Hening sejenak, kemudian Dhanni melanjutkan kalimatnya. “Aku sayang kamu Ness, dan hanya kamu.. Jadi kamu nggak perlu berpikir macam-macam lagi yaa sayang.”

“Ya Kak, Aku tau. Dan… Aku juga hanya sayang sama Kak Dhanni, nggak ada siapapun selain kak Dhanni.”

“Ya.. Aku tau.. Baiklah kalau begitu, aku mau siap-siap buat meeting terakhir ya.. Ingat, kamu harus makan.”

Nessa tersenyum mendengar perintah dari suaminya tersebut. “Baik boss.”

“Aku ingin di Kiss.”

Nessa terkikik geli. “Emmmuaachh…”

“Terimakasih sayang.. Emmmuaachh..” balas Dhanni. Lalu kemudian sambungan telepon tersebutpun mati.

Nessa tersenyum bahagia saat mengingat hubungannya dengan Dhanni sudah membaik. Ya, kuncinya hanyalah komunikasi, Nessa bertekad jika nanti ia akan menceritakan semuanya pada Dhanni saat lelaki itu pulang. Nessa tak ingin menyembunyikan apapun lagi dari suaminya tersebut.

***

Jonathan menatap lurus pintu di hadapannya. Haruskah ia melakukan niatnya?? Di sisi lain Jonathan takut jika Nessa sedih, tapi di sisi lain, Jonathan tak kuasa melihat penderitaan kakaknya tersebut. Akhirnya di mantapkannya hatinya untuk mengetuk pintu di hadapannya tersebut.

Setelah beberapa kali mengetuk pintu di hadapannya tersebut, akhirnya pintu itu di buka dan menampilkan sosok cantik yang selama ini berada di dalam pikirannya. Nessa Arianna…

“Kak Jo??” Nessa tampak terkejut melihat kehadiran Jonathan di apartemennya.

“Hai.. Boleh aku masuk?”

Nessa tampak ragu. “Emm maaf, tapi di dalam nggak ada orang, ku pikir kurang pantas kalau kita hanya berdua di dalam.”

Jonathan menganggukkan kepalanya. “Ya, aku mengerti.. Emm.. mau ikut aku keluar sebentar??”

Nessa mengernyit, “Kemana?”

“Ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan padamu. Please… ini benar-benar penting dan menyangkut nyawa seseorang.”

“Nyawa seseorang? Tapi aku…”

“Please Ness… aku nggak akan nyakitin kamu, aku janji.”

Nessa berpikir sebentar, dan akhirnya ia menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan ikut, tapi aku ganti baju dulu.” Dan Jonathan hanya mampu menganggukkan kepalanya penuh semangat. Ia tak menyangka jika Nessa masih sebaik dulu. Wanita itu masih sepolos dulu.

***

Nessa mengerutkan keningnya saat Jonathan mengemudikan mobilnya masuk ke dalam sebuah rumah mewah dengan pagar besi tingginya.

“Kak, ini rumah siapa? Kenapa kita ke sini?”

“Ini rumahku dan kakakku, ada yang mau ku tunjukkan sama kamu.”

“Apa?” Jujur saja, saat ini Nessa benar-benar merasa tak nyaman.

Jonathan mengentikan mobilnya kemudian mematikan mesinnya. “Ayo keluar.” Ajaknya. Dan Nessa hanya mampu menuruti apa yang di katakan Jonathan.

Mereka masuk ke dalam rumah tersebut. Jonathan membimbing Nessa menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Mereka kemudian berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih. Tak menunggu lama, Jonathan akhirnya membuka pintu tersebut.

Itu kamar seorang wanita, Nessa tau itu. Tatapan mata Nessa tertuju pada sebuah ranjang yang di sana sudah terbaring seorang wanita dengan tubuh yang terlihat sangat lemah.

Nessa membulatkan matanya ketika mengetahui siapa wanita tersebut. Itu Erly, mantan kekasih Dhanni, suaminya. Dengan spontan Nessa menolehkan kepalanya pada Jonathan yang masih berdiri di sebelahnya.

“Kak.. Dia.. Dia…”

“Ya, namanya Erlyta, dia kakakku.”

“Bagaimana mungkin??”

Jonathan mengangkat kedua bahunya. “Aku juga nggak mengerti apaa yang terjadi dengan kita berempat. Kakakku adalah mantan kekasih suamimu, dan kamu adalah mantan kekasihku.”

Nessa kemudian kembali menatap ke arah Erly yang tampak lemah tak berdaya. “Apa yang terjadi dengannya??”

Jonathan menghela napas panjang kemudian mulai bercerita. “Dia begitu mencintai suamimu.” Perasaan Nessa bagaikan di iris sembilu. Bagaimana mungkin ia merelakan suaminya di cintai begitu dalam oleh wanita lain??

“Tapi kak..”

“Dhanni adalah cinta pertama kakakku.” Jonathan memotong kalimat Nessa. “Kak Erly sangat mencintainya dengan tulus, tapi nyatanya suamimu itu hanya mempermainkannya. Dhanni mencampakan kakaku begitu saja, meninggalkannya dengan rasa sakit hati yang teramat sangat. Dan itu membuat Kakakku berakhir depresi.” Jonathan mengehela napas panjang. “Ya.. dia pernah depresi lalu terapi dengan psikiater.”

“Kamu bercanda kan?” Nessa menatap Jonathan dengan tatapan tak percayanya.

“Lihat aku Ness, apa aku terlihat bercanda? Empat hari yang lalu suami sialanmu itu memecat kakakku, mencampakannyaa sekali lagi, dan lihat, kondisinya kini memburuk seperti saat ini.”

Nessa menggelengkan kepalanya, “Itu bukan salah kami kak.”

“Salah kalian!!” Seru Jonathan dengan nada meninggi. “Kalau saja Dhanni nggak masuk dalam ke hidupan kakakku, mungkin saat ini tidak akan seperti ini, kalau saja Dhanni nggak memepermainkan perasaan kakakku, maka kakakku nggak akan seperti ini.”

Jonathan kemudian menatap Nessa. Matanya sudah berkaca-kaca, dan tanpa basa-basi lagi, Jonathan berlutut di hadapan Nessa. Nessa sendiri benar-benar terkejut dengan apa yang di lakukan Jonathan saat ini.

Jonathan memeluk erat perut Nessa. Dan mulai memohon di sana.

“Please.. kasih kami kesempatan Ness… Kakakku akan bahagia dan membahagiakan suami kamu kalau kamu mau melepaskannya. Sebagai gantinya, aku akan mencintaimu melebihi apapun di dunia ini, aku akan menyayagimu, dan juga anak-anakmu…”

Nessa meneteskan air matanya seketika. Apa Jonathan sedang menyuruhnya untuk berpisah dengan suaminya sendiri?? Apa Jonathan sedang bersikap egois memisahkan suaminya dengan anak-anaknya?? Apa Jonathan berpikir ia akan meninggalkan Dhanni setelah mengetahuio keadaan mereka?? Jika itu yang di pikirkan Jonathan, maka lelaki itu salah besar.

“Maaf kak, aku nggak bisa.” Jawab Nessa dengaan tegas.

Jonathan mengangkat wajahnya menatap ke arah Nessa. “Ness.. Please..”

“Kak Jo bisa berbuat egois memisahkan aku dengan Kak Dhanni, tapi aku juga akan bersikap egois untuk tetap mempertahankan kak Dhanni di sisiku dan di sisi anak-anakku apapun yang terjadi.”

“Nessa…”

“Kak… Akun memiliki putera yang berusia Tiga tahun.” Nessa kemudian meraih telapak tangan Jonathan laalu mendaratkannya di perutnya sendiri. “Dan kini aku sedang mengandung bayi kedua kami yang baru berusia dua bulan, apa kak Jo berpikir aku akan membiarkan suamiku pergi meninggalkanku dan anak-anakku?” Nessa menggelengkan kepalanya. “Enggak, apapun yang terjadi, aku nggak akan membiarkan dia pergi, aku membutuhkannya begitupun anak-anakku yang pasti akan sangat membutuhkan kasih sayang ayahnya.”

Jonathan membatu seketika, tangannya bergetar hebat. Bayangan Nessa berdiri dengan perut besarnya bersama dengan seorang anak berusia Tiga tahun menari-nari dalam kepalanya. Ia tidak akan tega melihat wanita yang di cintainya menderita seperti itu. Tidak, ia tak akan bisa melihat Nessa seperti itu.

Jonathan mengusap wajahnya dengan frustasi. “Aku minta maaf… aku minta maaf. Aku benar-benar egois.” Ucap Jonathan yang kini sudah terduduk di lantai.

Nessa berjongkok tepat di hadapan Jonathan, kemudian ia menangkup kedua pipi lelaki di hadapannya tersebut. “Aku mengerti apa yang kak Jo rasakan, Kak Jo hanya terlalu menyayangi Erly. Aku mau membantu, tapi bukan dengan meninggalkan suamiku dan mendorongnya pada wanita lain, karena sampai kapanpun juga, aku tidak bisa melakukan itu.”

Jonathan mengangguk lemah.

“Aku akan membujuk Kak Dhanni supaya dia mau menjenguk Erly, supaya kak Dhanni mau memberi pengertian pada Erly bahwa cinta memang tak harus memiliki.”

Jonathan kembali mengangguk lemah, dan tanpa banyak bicara lagi lelaki itu memeluk erat tubuh Nessa. “Terimakasih Ness.. terimakasih..”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Ya, sama-sama.”

***

Saat ini Dhanni baru saja sampai di restoran hotel untuk makan malam dengan Ramma, Zoya, dan Hani. Hari ini adalah hari terakhir mereka di Bali. Besok semuanya akan kembali ke Jakarta, dan Dhanni benar-benar sudah tak sabar ingin kembali bertemu istri tercintanya tersebut.

Ya, ia sangat merindukan Nessa, istrinya. Nessa benar-benar membuat Dhanni semakin gila. Dhanni bahkan menyadarei jika dirinya tak akan mungkin bisa marah terlalu lama dengan istruinya tersebut.

“Lo senyum-senyum kayak orang gila.” Ucap Ramma yang memang sudah duduk menunggunya sejak tadi.

“Lo juga akan sama gilanya dengan gue kalo Lo sudah nikah nanti.”

Ramma tertawa lebar. “Nikah?? Dalam mimpi..!!!” Ucap Ramma masih dengan tawa lebarnya.

Sedangkan Dhanni hanya mampu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Dhanni kemudian merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celananya, ia merogoh ponselnya tersebut kemudian melihat siapa yang sedang menghubunginya.

Dhanni mengernyit saat menyadari jika itu telepon dari pengawal yang ia sewa untuk mengawasi Nessa dari jauh.

“Halo??”

“Pak, saya sudah mengirim beberapa foto pada Pak Dhanni via email, tolong di buka. Ibu Nessa masih di dalam rumah tersebut, dan saya masih menunggu perintah selanjutnya dari Pak Dhanni.”

Dhanni mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang di bicarakan orang suruhannya tersebut. “Baiklah, saya periksa dulu foto-fotonya.” Ucap Dhanni kemudian lalu mematikan sambungan teleponnya.

Dhanni lantas membuka emailnya. Dan benar saja, ada sebuah inbox yang melampirkan beberapa foto Nessa dengan seorang lelaki. Itu Jonathan.

Rahang Dhanni mengeras seketika. Nessa sedang bersama dengan Jonathan, ada juga beberapa foto yang memperlihatkan jika mereka memasuki sebuah rumah besar. Apa rumah itu yang di maksud pengawalnya tadi??

“Ada apa Dhann?” tanya Ramma yang sedikit penasaran dengan perubahan ekspresi Dhanni.

Bukannya menjawab, Dhanni malah kembali menggesek-gesel layar ponselnya seperti sedang menghubungi seseorang.

“Halo pak??”ucap suara di seberang.

“Tunggu di sana saja, jangan lakukan apapun. Saya akan pulang malam ini juga.” Ucap Dhanni dengan nada dinginnya kemudian menutup telepon tersebut begitu saja.

Dhanni berdiri, bersiap meninggalkan meja makannya bersama Ramma, Zoya dan juga Hani.

“Lo mau kemana?” tanya Ramma yang sudah ikut berdiri.

“Gue akan kembali ke Jakarta malam ini juga.”

“Ada yang terjadi di sana?” tanya Ramma yang kini sudah menghaampiri tepat di sebelah Dhanni.

Dhanni hanya menunjukkan foto-foto yang di kirim orang suruhannya tersebut pada Ramma. Ramma membulatkan matanya seketika.

“Sejak siang dia berada di dalam rumah itu, gue harus pulaang malam ini juga.” Geram Dhanni menahan amarahnya.

“Lo jangan terbakar emodi Dhann, belum tentu apa yang lo lihat ini sama dengan kenyataannya.”

“Gue bisa ngendalikan emosi gue.”

Ramma menepuk bahu Dhanni. “Gue percaya sama Lo. Lo memang yang paling dewasa di antara gue dan Renno. Tapi ada saatnya kita tidak bisa mengendalikan emosi saat melihat apa yang tidak kita inginkan. Jadi saran gue, Lo harus berpikir lebih dingin.”

Dhanni menganggukkan kepalanya. “Ya, thanks nasehatnya.”

Ramma menganggukkan kepalanya kemudian hanya bisa melihat sahabatnya tersebut pergi begitu saja.

***

Lewat dari jam sepuluh malam, Dhanni sudah sampai di apartemennya. Ternyata Nessa belum juga pulang. Tadi, orang yang di surunya untuk mengawasi Nessa meneleponnya kembali, dan berkata jika Nessa dan Jonathan baru saja keluar dari rumah tersebut. Aakhirnya kini Dhanni memilih menunggu Nessa di dalam apartemennya.

Lampu apartemennya masih di matikan hingga membuat apartemen tersebut gelap dan hanya meninggalkan cahaya remang dari laampu mungil di sudut ruangan. Dhanni sendiri memilih duduk di sofa ruang tamunya. Duduk termenung sendiri sambil menunggu kedatangan istrinya tersebut.

Nessa… apa wanita itu kembali tergoda dengan cinta lamanya?? Apa wanita itu tak bisa mencintai dirinya seutuhnya?? Hanya dirinya seorang??? Dulu cinta Nessa padanya terbagi dengan Renno, sahbatnya sendiri, apa kini cinta wanita tersebut terbagi dengan Jonathan??

Dhanni memejamkan matanya frustasi saat membayangkan hal-hal yang tak di inginkannya menari-nari dalam kepalanya.

Tak lama, Dhanni mendengar pintu apartemennya di buka, Dhanni mengangkat wajahnya dan mendapati bayangan tubuh istrinya di sana.

Dhanni mengamati dalam diam. Nessa terlihat masuk kemudian kembali menutup pintu apartemen mereka, lalu wanita itu tampak meraba tombol lampu yang menempel di dinding tak jauh dari pintu. Dan ketika lampu tersebut menyala terang, tatapan Nessa membulat seketika saat mendapati dirinya yang sudah duduk penuh dengan keangkuhan di sofa ruang tamu mereka.

“Kak Dhanni??” ucap Nessa dengan nada tak percayanya. Wanita itu masih membatu di seberang ruangan.

Dhanni lantas berdiri. Tatapan matanya tajam seakan dapat menusuk apapun yang ada di hadapannya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Nessa, seperti seekor singa yang sedang mengitari mangsanya.

Saat sampai tepat di hadapan Nessa, Dhanni mengulurkan telapak tangannya pada pipi Nessa, kemudian mengusap lembut pipi istrinya tersebut.

“Bagaimana kencannya sayang??” Suara Dhanni terdengar lembut tapi penuh dengan penekanan, seakan siapapun yang mendengarnya tak dapat mengelak dari pertanyaan tersebut.

Tubuh Nessa bergetar seketika, ia tau jika kini dirinya sedang dalam sebuah masalah. Kak Dhanni.. apakah suaminya itu akan kembali marah terhadapnya dan tak mau mendengarkan penjelasannya???

 

-TBC-

Komentarnya jangan lupa.. huehehhehe