My Beloved Man – Chapter 4

Comments 3 Standard

13606779_1382124375137441_5783693765868018757_n

My Brother

“Kak..” Panggil Felly. Tanpa di duga, Felly memeluk tubuh Raka erat-erat. “Terimakasih. Karena kak Raka sudah mau menjadi kakakku.” Ucapnya kemudian.

Raka hanya menganggukkan kepalanya. ‘Jika aku boleh memilih, aku tak pernah ingin menjadi kakakmu. Karena aku hanya ingin menjadi suamimu…’ Ucap Raka dalam hati.

***  

Chapter 4

 

Satu minggu berlalu setelah kejadian itu, Felly menjalani harinya kembali seperti semula. Hari ini adalah hari pertama ia membuka toko ice creamnya setelah seminggu tutup. Felly sedikit lega karena sampai saat ini tak ada yang berbeda dengan dirinya.

Ia tak hamil, bisa di bilang belum. Dan Felly benar-benar berharap jika dirinya tidak hamil.

Bukan karena ia menolak menikah dengan Raka. Percayalah, Felly benar-benar menginginkan Raka menjadi suaminya. Tapi tentu bukan karena ia hamil. Felly tak ingin jika kehamilan mau tak mau mengikat Raka menjadi suaminya, membuat lelaki itu terpaksa bertanggung jawab padanya. Felly benar-benar tak menginginkan hal itu.

Felly menatap jari manisnya yang di sana sudah melingkar cincin pemberian dari Raka. Kemudian seulas senyuman terukir di wajahnya. Cincin itu begitu sederhana tapi melihatnya saja membuat hati Felly berbunga-bunga.

‘Dalam beberapa bulan ke depan, kamu tetap menjadi calon istriku..’ Ucapan Raka itu terngiang di telinganya. Calon istri?? Betapa senangnya Felly jika perkataan itu di ucapkan Raka dengan tulus penuh cinta, bukan karena keterpaksaan untuk bertanggung jawab.

Felly memejamkan matanya frustasi. Astaga… sejak malam itu, ia tak pernah lagi bertemu dengan Raka. Ia masih merasa malu dan canggung jika berhadapan dengan lelaki tersebut.

Raka sudah berkali-kali ingin menemuinya sepulang kantor, tapi Felly memilih mengurung diri di dalam kamarnya sambil berpura-pura tidur. Kini sudah satu minggu berlalu, dan Felly tak mungkin terus-terusan bersikap seperti itu pada Raka.

Setelah menyiapkan diri, Felly mengintip ke arah rumah Raka. Mobil lelaki itu masih terparkir di halaman rumahnya, itu tandanya jika Raka masih di rumah. Felly melirik ke arah jam di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, tumben sekali kakaknya itu belum berangkat.

Akhirnya Felly memilih turun dari kamarnya, menuju ke meja makan. Di sana sudah ada Dara, mamanya yang masih sibuk membersihkan sisa sarapan.

“Pagi Ma..” Sapa Felly.

“Pagi sayang.. Astaga.. Akhirnya kamu mau turun juga.”

“Aku bosan di kamar.”

“Siapa suruh kamu mengurung diri di kamar?” Dara kemudian melirik ke arah jari manis Felly yang ternyata sudah di lingkari sebuah cincin sederhana. “Tunggu dulu..” Ucap Dara sambil meraih telapak tangan Felly dan menatap lekat-lekat cincin tersebut.

Dengan cepat Felly menarik tangannya. “Apaan sih Ma..”

“Jadi Raka benar-benar melamarmu?”

Felly tak tau harus menjawab apa, karena ia sendiri bingung sebenarnya apa hubungannya dengan Raka saat ini.

“Nggak tau.”

“Loh kok nggak tau? Dia juga memakai cincin yang sama dengan cincin ini Fell.. lagi pula dia sudah melamar kamu di hadapan mama dan papa.”

“Apa??”

“Ya, dan kami menerimanya.”

“Mama.. ini nggak seperti yang mama kira, astaga..”

“Kamu hanya mempersulit semuanya Fell?? Apa susahnya menikah dengan Raka? Dia lelaki yang tampan, baik, bertanggung jawab, dan yang terpenting dia menyayangimu.”

“Tapi aku enggak Ma.. Mama nggak ngerti, dan semuanya nggak akan mengerti apa mauku.” Ucap Felly sambil berdiri lalu berjalan keluar dari ruang makan mereka. Sedangkan Dara hanya mampu menghela napas panjang saat melihat puterinya yang terlihat marah-marah tak jelas tersebut pergi begitu saja meninggalkannya.

***

Pagi itu Raka memang sengaja berangkat lebih siang. Selain karena memang kesiangan. badannya kecapekan karena setiap hari ia lembur kerja. Raka juga sebenarnya berharap supaya felly keluar dari rumahnya pagi ini. Dan ternyata harapannya itu tak sia-sia.

Tak lama ia melihat sosok itu keluar dari rumahnya dengan wajah yang di tekuk. Raka sedikit tersenyum, mengingat ini pertama kalinya ia bertemu dengan Felly setelah seminggu wanita itu tak mau di temuinya.

Dengan cepat Raka keluar dari gerbang rumahnya kemudian menyusul Felly yang sudah berjalan di atas trotoar.

“Hai..” Sapa Raka.

Felly menghentikan langkahnya kemudian menatap Raka. Lelaki itu tampak Rapi dengan kemeja dan dasi yang sudah bertengger di lehernya. Mungkin lelaki di hadapannya ini akan berangkat ke kantor.

“Hai juga.” Hanya itu jawaban dari Felly.

Raka kemudian melirik telapak tangan Felly, dan berakhir tersenyum karena ternyata cincin pemberiannya masih melingkar di jari manis wanita tersebut.

“Mau ke mana? Mau ku antar??”

“Nggak perlu, aku cuma mau jalan-jalan di sekitar sini.”

“Emm.. mau ku temani?”

“Kak Raka seharusnya sudah di kantor jam segini.”

“Ya, tapi beberapa hari terakhir aku membawa pekerjaanku pulang, dan lembur di rumah. jadi aku bisa ke kantor kapan saja.”

“Kak.. antar aku kerja..” Teriak seorang gadis tepat di belakang Raka dan Felly. Keduanya kemudian membalikkan tubuh mereka dan mendapati Lili yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

“Kakak sedang sibuk.” Ucap Raka cepat.

“Sibuk ngapain? Ngerayu dia?? Ayolah kak..” rengek Lili sambil menarik lengan Raka.

“Apa hari ini kamu sudah kerja?” tanya Raka pada Felly tanpa mempedulikan Lili yang masih saja menarik-narik lengannya.

“Ya, aku sudah mulai kerja.”

“Bagus, nanti siang kita makan siang bersama.” Ucap Raka sedikit lebih keras saat tubuhnya semakin menjauh dari tempat Felly berdiri.

Felly sendiri hanya menatap Raka dengan tatapan anehnya. Makan siang bersama?? Mungkinkah??

***

“Berhenti bersikap kekanakan seperti itu Li..” Geram Raka ketika ia dan Lili sudah berada di dalam mobil.

“Kenapa? Aku hanya minta Kakak mengantarku.”

“Tapi sikapmu selalu keterlaluan dengan Felly.”

“Aku cuma nggak suka sama  dia Kak, kalian semua kenapa sih sayang banget sama dia, seakan dia itu Ratu yang harus di manja.”

“Kakak tidak pernah memanjakannya.”

“Kak, mendingan kak Raka fokus sama mbak Kirana deh, kak Raka lebih cocok sama dia dari pada sama Felly.”

Raka mendengus kesal. Ia benar-benar tak mengerti kenapa adiknya itu sangat membenci sosok Felly. Raka sangat ingin mengatakan jika mau tak mau adiknya itu harus menerima ketika suatu saat ia menikahi Felly, tapi sepertiya waktunya belum tepat.

“Kamu nggak tau apa-apa tentang hubungan kami.”

“Oh ya?? Yang ku tau Felly itu hanya wanita gampangan yang gampang sekali gonta-ganti pasangan Kak.”

“Cukup Lili. Kamu kelewatan.”

“Ya, bela saja terus wanita manja sialan itu.” Gerutu Lili dengan nada kesalnya. Sedangkan Raka hanya memilih diam dan mengalah.

***

Felly melamun menatap minuman yang berada di atas meja di dalam toko ice creamnya. Hari ini hari pertama ia buka setelah seminggu tutup karena sikap kekanakannya. Felly mendesah panjang mengingat masalah yang terjadi dengan Raka.

Lamunan Felly buyar ketika sebuah klakson mobil dari parkiran halaman tokonya berbunyi. Felly menoleh ke arah mobil tersebut. rupanya itu Jason, lelaki yang sudah seminggu ini tak ia temui. Felly kemudian melambaikan tangannya seakan memberi perintah pada Jason supaya lelaki itu masuk dan menemuinya.

Akhirnya jasonpun keluar dari dalam mobilnya kemudian masuk ke dalam toko milik Felly.tanpa banyak bicara, Jason langsung memeluk tubuh Felly, dan itu membuat Felly ternganga dengan sikap Jason.

“Kamu kemana aja?? Hampir setiap hari aku ke sini, dan tokomu selalu tutup. Aku juga sering ke area rumah kamu, tapi tak pernah sekalipun aku melihat aktifitasmu. Apa yang terjadi??” tanya Jason masih dengan memeluk erat tubuh Felly.

“Jase, aku baik-baik aja.”

Jason melepaskan pelukannya dari tubuh Felly. “Terakhir kali kita ketemu kamu tidak dalam keadaan baik.”

Felly mengangkat kedua bahunya. “Aku sendiri tidak mengerti, kenapa malam itu aku bisa seperti itu.”

“Ya, ada yang jahil deganmu.”

“Jahil?? Siapa? Kenapa?”

“Cinta dan Kiki. Mereka menaruh sesuatu di dalam minumanmu”

“Apa? Kenapa bisa?”

Jason tersenyum, kemudian ia mengusap lembut pipi Felly. “Semua orag bisa melakukan apapun karena cemburu Fell.. sudah sejak lama Cinta menaruh hati padaku, jadi dia pasti melakukan apapun untuk manjatuhkan kamu.”

“Tapi mereka tidak terlalu mengenalku, begitupun sebaliknya Jase, kanapa mereka tega??”

Jason mengangkat kedua bahunya. “Lupakan saja, yang penting kamu nggak apa-apa kan malam itu??”

Felly menundukkan kepalanya, ia tak mungkin berkata jika ia sudah bercinta dengan Raka karena pengaruh obat tersebut. lagi pula hal itu tak seharusnya ia ceritakan dengan Jason.

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Lalu kenapa kamu tutup seminggu ini??”

“Emm.. Aku sedikit nggak enak badan, jadi aku memutuskan tutup.”

“Aku kangen cake buatan kamu.”

Felly tersenyum manis. “Duduklah dengan manis, aku akan membuatkan Muffin keju kesukaanmu.”

Jason menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Jangan lupa Capucinno late nya…” Felly tersenyum hangat kemudian bergegas pergi meningalkan Jason.

***

Raka membereskan berkas-berkas di meja kerjanya. Ia melirik sekilas ke arah jam tangannya. Sudah  pukul satu lewat. Felly pasti sudah makan siang. Ia sendiri telat makan siang karena tadi ada rapat mendadak. Akhirnya saat ini ia baru bisa pergi menuju ke toko Felly untuk makan siang bersama wanita itu.

Saat Raka akan keluar dari ruanganya, tiba-tiba pintu ruangannya lebih dulu di buka oleh seseorang. Itu Kirana yang kini sedang berdiri membawa rantang makan siangnya.

“Hai.. mau kemana?” tanya Kirana sembari menatap Raka dengan tatapan menyelidiknya.

“Hai.. Aku akan keluar, makan siang.”

“Oh ya? Padahal aku sudah membawakanmu makan siang.” Kirana mengangkat rantang yang sedang ia bawa.

“Untukku?”

“Ya, tadi aku sempat memasak balado. Ku pikir kamu mau, makanya ku bungkuskan untuk makan siang sekalian.”

Raka benar-benar tak enak, ia ingin menolak tapi tentu tidak bisa. Ia bukan lelaki yang suka seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, apa lagi orang itu sangat perhatian terhadapnya.

“Baiklah, kita makan di sini saja.” Ajak Raka sambil menuju ke sofa yang berada di ujung ruangannya.

Raka kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ia mencari kontak Felly. Saat akan menekan tombol panggilan, sebenarnya ia sedikit ragu, tapi kemudian ia melanjutkan untuk menghubungi wanita itu.

“Halo..” Suara lembut di seberang benar-benar menenangkan hati Raka.

“Hai.. Kamu sudah makan siang?”

“Emm.. sudah, kenapa kak?”

“Oke, aku hanya menanyakan itu.” Ucap Raka dengan dada yang berdegup kencang. “Aku makan siang di kantor, itu saja.”

“Ohh iya, nggak apa-apa.”

“Baiklah, aku tutup dulu.” Dan karena tidak ada jawaban dari Felly, maka Raka memutuskan untuk mengakhiri teleponnya. Raka baru sadar jika dirinya sejak tadi di perhatikan oleh wanita yang kini sudah duduk tepat di sebelahnya.

“Kamu tadi janjian makan dengan Felly?” tanya Kirana yang kini menyibukkan diri menyiapkan makan siang mereka.

“Ya.”

“Lalu kamu batalkan?”

“Ya, Dia sudah makan juga.”

“Apa karena aku??”pancing Kirana.

Raka mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum saat tahu apa maksud Kirana. “Ya, karena aku nggak mungkin nolak ajakan kamu.” Jawab Raka sembari tersenyum hangat. “Lagi pula aku nggak mau melewatkan masakanmu yang rasanya selalu enak.”

Kirana tersenyum senang ketika mendapatkan pujian dari Raka. Tapi hanya itu. Raka memang selalu bersikap baik dan ramah pada siapapun, bukan hanya dengan dirinya. Seakan Raka selalu membatasi diri untuk terlalu dekat dengan wanita lain selain wanita yang di kehendakinya.

“Raka…” panggil Kirana kemudian.

“Iya??”

“Emm.. aku boleh tanya sesuatu nggak?”

“Ya, tanya saja.”

“Emm… Pernahkah kamu menganggapku lebih dari teman?”

Pertanyaan Kirana itu membuat Raka mengangkat sebelah alisnya. “Lebih dari teman? Maksudmu??”

Kirana menelan ludahnya dengan susah payah. Ia sebenarnya tak ingin menanyakan hal ini, tapi bagaimana lagi. Perasaannya seakan sudah tak dapat terbendung lagi. Ia menyukai Raka, lebih dari sekedar teman dan ia benar-benar ingin memiliki lelaki tersebut.

Raka adalah sosok yang di idamkan banyak wanita. Pendiam, baik, ramah dengan siapapun, perhatian, dan belum lagi fisiknya yang sempurna membuat para wanita seakan rela melakukan apapun untuk mendapatkan lelaki di hadapannya tersebut. tapi nyatanya, lelaki itu seperti tak pernah tertarik melihat wanita lain. Kirana tentu tahu apa alasannya karena hanya dengan Kiranalah Raka bercerita tentang Felly.

Cara memandang lelaki itu terhadap sosok Felly benar-benar berbeda dengan cara memandang lelaki itu terhadap wanita lain. Hanya ada Felly di hati Raka sejak dulu hingga saat ini, Kirana tahu itu. Tapi apa salah jika kemudian Kirana ingin merebut posisi Felly di hati Raka??

“Emm.. lupakan saja. Ayo lanjutin makannya.” Ucap Kirana kemudian. Untuk saat ini ia akan memendam perasaannya pada Raka, hingga nanti waktunya tepat untuk mengungkapkan perasaannya tersebut.

Raka menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sedikit risih dengan tatapan mata Kirana tadi, tapi Raka mencoba mengenyahkan pikiran tersebut. Kirana adalah temannya, jadi tak mungkin jika Kirana menyembunyikan sesuatu yang serius darinya. Pikir Raka sambil melanjutkan kembali makan siangnya.

***

Sore itu Jason masih saja berada di toko ice cream milik Felly. Beberapa kali Felly mengusir jason untuk segera pergi meninggalkan toko ice creamnya, tapi dengan tegas Jason mengatakan tak ingin pergi jika Felly masih berada di sana. Bukannya apa-apa, felly hanya terlalu risih dengan beberapa gadis muda yang terang-terangan ke toko ice creamnya hanya karena ingin meminta tanda tangan dan foto bersama Jason.

“Kenapa cemberut terus?? Kamu cemburu??” tanya Jason sambil mencubit gemas pipi Felly.

“Enggak ahh.. ngapain juga cemburu.” Jawab Felly masih dengan memanyunkan bibirnya.

“Ayolah.. jangan seperti itu..” kali ini tanpa sungkan lagi Jason memeluk tubuh Felly dari belakang. Sambil sesekali menggelitik wanita tersebut.

“Jase.. hentikan.. Jase.. astaga…” Felly berteriak sambi sesekali cekikikan.

“Belum tutup?” Suara itu membuat Jason dan Felly menghentikan aksinya kemudian menatap ke arah si pemilik suara.

Di sana sudah ada Raka yang berdiri tegap di ambang pintu.

“Hai..” Hanya itu yang dapat di ucapkan Felly. “Kak Raka kok sudah pulang?”

“Ya, setelah rapat tadi aku sudah bisa langsung pulang sebenarnya.”

“Ohh..” Hanya itu jawaban Felly.

Raka sendiri masih mengamati kedekatan yang tercipta antara Felly dan Jason. Itu benar-benar membuat Raka seakan ingin marah. Tapi Raka mencoba menutupinya dengan ekspresi datarnya.

“Sepertinya aku sedikit mengganggu, jadi… Aku pulang duluan saja.”

“Ahh enggak kak.” Jawab Felly cepat.

“Kamu di antar dia kan?? Kalau begitu aku pulang dulu.” Raka berkata lagi dengan cepat. Raka kemudian tersenyum pada Felly, lalu pergi begitu saja meninggalkan Felly dan juga Jason masih berdiri saling menggenggam tangan satu sama lain.

“Laki-laki apa itu?? Kenapa dia tidak menawarimu tumpangan untuk pulang?”

“Mungkin dia tahu kalau aku memang nggak butuh tumpangan darinya.” Jawab Felly masih dengan menatap lurus ke arah kepergian Raka.

“Bagiku tetap saja. Dia lelaki pengecut.”

“Hei.. dia bukan pengecut.”

“Ya, dia pengecut.” Felly dan Jason kemudian kembali saling bercanda seperti sebelumnya. Hati Felly sebenarnya di penuhi dengan rasa kecewa dengan sikap Raka yang datar-datar saja, tapi Felly mencoba melupakan semuanya, mencoba mengendalikan perasaannya supaya tak terlalu jatuh lebih dalam lagi pada pesona Araka Andriano.

***

Di dalam mobil, Raka meraba dada kirinya. Terasa sakit dan sesak di sana. Felly tampak begitu bahagia dengan lelaki lain. Bagaimana jika nanti Felly hamil lalu ia memaksa untuk menikahi wanita tersebut??

Raka memejamkan matanya karena frustasi dengan perasaan yang di rasakannya.perasaannya begitu nyata terhadap seorang Felly, tapi di sisi lain, ia tak dapat mengungkapkannya karena ia tahu jika Felly hanya menganggapnya sebagai kakak, tak lebih dari itu.

Raka menatap jari manisnya, yang di sana sudah melingkar cincin pertunangan mereka. Raka tersenyum masam menatap cincin tersebut. ‘Jika kau tidak memaksanya, maka ia tak akan mau menikah denganmu, Bodoh!!’ Umpat Raka pada dirinya sendiri.

Raka menghela napas panjang kemudian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan toko ice cream milik Felly.

***

Malam itu, Raka sangat malas sekali turun dari kamarnya. Padahal kini sudah masuk waktu makan malam. Raka tak pernah melewatkan makan malam bersama ibu dan adiknya kecuali memang sedang sibuk ke luar kota, atau sibuk mengurus urusan lainnya.

Tapi malam ini berbeda. Raka seakan tidak berselera makan. Apa karena pemandangan ia masih terpengaruh dengan pemandangan tadi sore??

Tak lama Raka mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Itu pasti ibunya yang mengajaknya makan malam.

“Masuk saja Bu, pintunya nggak di kunci.” Ucap Raka setengah malas.

Tapi ketika pintu di buka, tampaklah sosok cantik yang memang selalu ada dalam pikirannya. Itu Felly. Seketika itu juga Raka bangkit dari duduknya.

“Kak, waktunya makan malam.” Ucap Felly sambil sedikit menyungingkan senyumannya.

Raka hanya ternganga menatap pemandangan di hadapannya. Felly kini sudah seperti istrinya saja yang mengingatkan untuk makan malam bersama. Membayangkan itu, dengan cepat Raka berjalan menuju ke tempat di mana Felly berdiri, lalu tanpa di duga, Raka memluk erat tubuh wanita di hadapannya itu.

Felly sendiri memekik karena terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Raka. Kenapa tiba-tiba lelaki di hadapannya itu memeluknya erat-erat? Felly merasakaan pelukan Raka bukanlah pelukan seorang kakak pada adiknya, itu adalah pelukan seorang kekasih yang merindukan pasangannya. Mengingat itu, Felly sedikit meronta karena tak nyaman.

“Kak.. Kak Raka kenapa?”

“Sebentar saja kita seperti ini..”

“Tapi…”

“Fell.. Kamu masih tunanganku, dan ketika kita masih berstatus sebagai tunangan, maka lihatkah aku sebagai tunanganmu, bukan kakakmu.”

Felly benar-benar tak mengerti apa yang di katakan Raka, tapi Felly hanya menganggukkan kepalanya saja dan menikmati pelukan yang di berikan oleh Raka.

“Terimakasih kamu sudah nggak marah sama aku.”

“Aku? Aku memang sudah nggak marah sejak malam itu.”

“Tapi kamu sedikit menghindariku.”

“Ya, karena aku canggung. Sekarang sudah tidak, lagi pula sampai sekarang tidak terjadi apapun denganku.”

“Belum.” Ucap Raka dengan penuh keyakinan.

Bukannya marah, Felly malah tersenyum mendengar Raka meralatnya. “Aku heran, kenapa kak Raka yakin sekali kalau aku akan hamil.”

‘Karena itu yang ku inginkan..’ jawab Raka dalam hati.

“Karena aku sudah merasakannya.” Jawab Raka dengan tenang dan datar.

Felly melepaskan pelukan Raka, kemudian menatap Raka dengan tatapan anehnya. “Merasakannya??” Felly kemudian mulai tertawa menertawakan Raka, dengan spontan Felly meraih telapak tangan Raka kemudian mendaratkan pada perut datarnya. “Apa saat ini kaka Raka merasakan perutku bergerak-gerak sendiri?? Astaga,.. yang benar saja.”

Mau tak mau Raka ikut tersenyum dengan tingkah konyol Felly. Dengan gemas ia mengacak poni Felly seperti biasanya. “Bukan rasa seperti itu yang ku rasakan, aku hanya merasakan jika dalam waktu dekat, kamu akan menjadi istriku.”

Felly terpana dengan apa yang di ucapkan Raka.

Menjadi istriku…

Entah kenapa dua kata terakhir itu seakan membuat tubuh Felly bergetar karena sesuatu, Hingga Felly tak sadar jika kini wajah Raka sudah sangat dekat sekalu dengan wajahnya.

“Fell… Emm.. Karena kita masih berstatus sebagai tunangan… Bolehkah… Aku.. menciummu??”

Pertanyaan Raka benar-benar membuat Felly membulatkan matanya seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Perutnya seakan menegang, Aliran darahnya seakan terhenti saat itu juga karena keterkejutannya saat mendengar permintaan Raka.

Mencium?? Bagaimana mungkin lelaki itu ingin menciumnya dalam keadaan sadar?? Felly ingin menolaknya, tapi ia sendiri tak dapat memungkiri, jika dirinya juga ingin di cium oleh lelaki yang di cintainya dalam keadaan sadar sepenuhnya tanpa pengaruh obat apapun. Bolehkah ia menerima Raka untuk malam ini saja? Melupakan semua status rumit mereka dan menganggap Raka sebagai calon suaminya malam ini saja?? Dan akhirnya, Felly hanya mampu pasrah dan memejamkan matanya untuk menerima sentuhan lembut dari bibir Raka…

 

-to be continue-

jangan meleleh yaa… huaahahahha vote dan komen di tunggu lohh hehheheh

Advertisements

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 7 (Pilihan yang sulit)

Comments 12 Standard

TLK2

The Married Life (Lady Killer 2)

Haii… udah pada kangen ama kak Dhanni yaa… hayooo mana nih yang kangen kak Dhanni?? wwkkwkwkwk maaf baru bisa lanjut yaakkk… hahhahahaha happy reading… 🙂 😉 Ehhh yaa.. info juga nih.. mulai sekarang, Cerita ini hanya di Update di Blog, jadi di wattpad nggak aku Update yaa.. huehehheheeh 

 

“Tenang saja, kami akan segera menyusul kalian, tunggu saja undangannya.”

Ucapan Jonathan tersebut yang sontak membuat Nessa menatap ke arah lelaki itu dengan mata membulatnya. Nessa benar-benar tak mengerti apa maksud Jonathan, kenapa Jonathan berbicara seakan mereka adalah sepasang kekasih yang akan melaksanakan pernikahan?? Apa maksud lelaki itu?? Apa tujuannya?? Dan masih banyak sekali pertanyaan yang membuat Nessa bingung dengan pernyataan lelaki tersebut.

 

***

Chapter 7

-Pilihan yang sulit-

 

“Kak Jo apaan sih?? Apa coba maksud kak Jo dengan bilang kalau kita akan menyusul mereka??” Ucap Nessa dengan nada marahnya. Ia benar-benar marah sepanjang pertemuannya dengan Cici dan Ervan tadi, tapi tentu saja Nessa mencoba bersikap biasa-biasa saja di hadapan mereka. Kini saat Civi dan Ervan sudah pulang, Nessa akhirnya tak dapat menahan kemarahannya lagi di hadapan Jonathan.

“Maaf..” hanya itu yang di ucapkan Jonathan.

“Maaf?? Kak, ini itu masalah serius, bagaimana  kalau tiba-tiba mereka menagih undangan pernikahan kita??”

“Ya kita buatkan saja.”  Jawab jonathan dengan enteng.

“Buatkan??” Nessa membelalakkan matanya. “Nggak lucu tau nggak.” Ucap Nessa dengan ketus lalu Nessa bergegas pergi meninggalkan Jonathan. Tapi baru sampai di teras kafe milik Jonathan, pergelangan tangan Nessa di genggam erat oleh Jonathan. Dengan kurang ajarnya Jonathan bahkan menarik tubuh Nessa hingga masuk ke dlam pelukannya.

“Jangan pergi dulu Ness.. Please..” Ucap Jonathan sambil memeluk tubuh Nessa dari belakang.

“Lepasin aku.. Lepasin aku.” Nessa meronta, tapi Jonathan masih saja memeluk erat tubuh Nessa.

“Aku nggak akan lepasin kamu selama kamu masih marah denganku.” Ucap Jonathan masih dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh Nessa.

“Kak, di lihat orang kak..” Ucap Nessa masih dengan meronta, tapi Jonathan seakan menulikan telinganya.

“ Apa yang kamu lakukan dengan istriku?” sura yang terdengar begitu dingin itu membuat Nessa dan Jonathan mau tak mau mengangkat kepalanya menghadap ke arah si pemilik suara.

Di sana sudah berdiri Dhanni dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya. Dhanni terlihat santai dengan kemeja panjang serta dasi yang sudah sedikit di longgarkan. Tapi ketika menatap raut wajahnya, lelaki itu benar-benar terlihat tegang. Tatapan matanya tajam membunih, dan Nessa sadar jika kini ndirinya sedang dalam sebuah masalah.

Secepat kilat Jonathan melepaskan pelukannya pada tubuh Nessa. membuat Nessa mendesah lega serta sedikit menjauh dari tempat Jonathan berdiri.

“Emm.. Kak Dhanni kok ke sini?”

“Aku khawatir denganmu.”

“Emmm.. aku.. aku nggak apa-apa kak.”

Dhanni melirik Nessa dengan tatapan tidak sukanya. “Sepertinya bukan itu yang ku lihat.”

“Kak….”

“Kita pulang sekarang.” Ucap Dhanni dengan nada dinginnya sambil meninggalkan Nessa begitu saja di hadapan Jonathan.

Nessa menatap Jonathan dengan tatapan kecewanya. Ia benar-benar kecewa dengan apa yang di lakukan Jonathan, karena kini, secara tak langsung, Jonathan lah yang membuat Suaminya itu marah padanya karena salah paham.

“Maafkan aku.” Ucap Jonathan kemudian, tapi Nessa tak menghiraukan. Nessa memilih segera berbalik pergi meninggalkan Jonathan menuju ke arah mobil Dhanni.

***

Di dalam mobil.

Dhanni diam seribu bahasa. Tatapan matanya lurus ke depan. Nessa bahkan melihat jika lelaki itu sesekali mencengkeram kemudi mobilnya. Suaminya itu sedang marah, Nessa tau itu.

“Kak.. aku mau jelasin sesuatu.”

“Aku akan keluar kota.” Dhanni berujar cepat. Nessa menatap Dhanni dengan tatapan tanda tanyanya.

“Emm.. kenapa tiba-tiba?”

“Bukan tiba-tiba. Hal ini sebenarnya sudah lama, tapi aku baru sempat meberitahunya hari ini.” Ucap Dhanni dengan nada datarnya.

Nessa menundukkan kepalanya. Ada yang berbeda dengan suaminya tersebut. Nessa tau itu. “Kak Dhanni marah kan??” Ucap Nessa dengan suara pelannya.

“Jangan campur adukkan masalah Ness.”

“Aku tau kak Dhanni marah saat melihat kedekatanku dengan kak Jo.”

“Suami manapun akan marah ketika melihat istrinya di peluk oleh lelaki lain Nessa.” Ucap Dhanni cepat dengan nada kesalnya.

“maaf..” lirih Nessa.

“Tak perlu minta maaf, karena hanya  itu yang bisa kamu ucapkan sejak dulu.” Dhanni berkata dengan nada yang benar-benar tak enak di dengar. Nessa tau apa maksud Dhanni. Dhanni seakan mengingatkan dengan masalah mereka dulu saat bersama dengan Renno.

***

Malam itu, Nessa makan sendiri di dalam apartemennya. Tadi siang setelah mengantarnya pulang, Dhanni kembali ke kantor. Dan hingga saat ini, lelaki itu belum juga kembali. Hanni pasti benar-benar sedang marah.

Nessa hanya dapat mendesah pasrah. makanan di hadapannya terasa hambar, dan ia pun merasa tak berselera makan. Mungkin bayi yang di kandungnya mengerti jika ayah dan ibunya kini sedang dalam masalah.

Tak lama, pintu apartemennya di buka oleh seseorang. Nessa mengangkat wajahnya dan mendapati wajah lelah dari suaminya tersebut.

“Kak Dhanni baru pulang?” Tanya Nessa sambil berdiri menuju ke arah Dhanni.

Dhanni hanya diam. Ia bahkan memilih berjalan masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan istrinya tersebut.

“Kak..” Panggil Nessa lagi, tapi lagi-lagi Dhanni hanya diam tak menghiraukannya.

Nessa mengikuti kemanapun Dhanni pergi. Lelaki itu masuk ke dalam kamar mereka, menggantung jas yang sejak tadi berada di lengannya kemudian membuka pakaiannya dan langsung menuju ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Itu benar-benar membuat Nessa tak suka.

Nessa kemudian memilih duduk di pinggiran ranjang sambil meremas tangannya. Sedangkan tatapan matanya sesekali menatap ke arah pintu kamar mandi. Perutnya terasa perih, karena sejak tadi siang ia belum memakan apapun. Pikirannya kacau dan nafsu makannya tentu terganggu karena itu.

Nessa kembali memikirkan keadaan yang menimpanya. Jonathan.. Astaga.. apa ia harus menceritakan pada suaminya jika Jonathan adalah mantan kekasihnya?? Tidak, Dhanni pasti akan sangat marah padanya, dan kesalahpahaman mereka akan semakin parah.

Cukup lama Nessa berdiam diri menunggu Dhanni keluar dari kamar mandi. Dan lelaki yang di tunggunya itu pun akhirnya keluar juga. Dhanni tampak segar. Lelaki itu sudah mengenakan kaus dalamnya dan juga celana pendek santainya. Rambut lelaki itu masih basah dan sesekali di gosoknya dengan handuk kecil. Namun ekspresi lelakiitu masih sama datarnya dengan tadi.

Mata Nessa seketika berkaca-kaca ketika mendapati suaminya itu masih bersikap acuh padanya. Nessa tau jika dirinya salah, tapi di acuhkan seperti itu membuat Nessa semakin kesal dengan dirinya sendiri.

Dhanni kemudian keluar dari kamarnya tanpa menghiraukan Nessa dan itu benar-benar membuat Nessa sakit. Nessa meneteskan air matanya begitu saja. Suaminya itu benar-benar marah, dan Nessa takut jika Dhanni sudah marah.

***

Dhanni keluar dari kamarnya manuju ke arah dapur. Ia mengambil sebotol air mineral di dalam lemari pendingin. Kemudian menegaknya. Matanya terarah pada meja makan yang di sana masih tersaji menu makan malam. Dhanni mendekat. Di lihatnya piring Nessa masih penuh. Istrinya itu pasti belum makan. Dan apa sejak tadi wanita itu belum makan??

Dhanni menggeram kesal. Ia ingin marah, tapi tak mungkin marah dengan Nessa. istrinya itu kini sedang hamil. Dan kata dokter ia harus menjagaentah itu secara fisik maupun mentalnya.

Tadi siang, Dhanni dapat kabar dari seorang pesuruhnya. Kabar tersebut benar-benar membuat Dhanni murka. Ternyata Jonathan itu adalah kekasih dari Nessa saat di jogja. Hubungan Jonathan dan Nessa terputus saat Jonathan memutuskan untuk menimba ilmu di luar negeri. Dan menurut kabar yang di dapat, Jonathan kembali pulang untuk mencari Nessa sekaligus ingin memperistri wanita tersebut.

Sialan!! Kenapa juga Nessa tak jujur dan harus berbohong padanya??

Dhanni ingin meminta penjelasan tersebut pada Nessa, tapi nyatanya tadi siang kenyataan lain ia dapatkan. Istrinya itu malah terlihat sedang di peluk oleh laki-laki sialan yang bernama Jonathan. Dan itu benar-benar membuat Dhanni murka.

Dhanni marah. Tentu saja, ia merasa di hianati dengan Nessa. Ia bahkan jujur tentang hubungan masa lalunya dengan Erly, tapi kenapa Nessa tak jujur dengan hubungan masalalunya dengan Jonathan?? Apa Nessa ingin kembali lagi dengan laki-laki sialan itu?? Mengingat itu kepala Dhanni berdenyut nyeri.

Akhirnya, tadi siang ia memutuskan untuk pergi ke luar kota beberapa saat untuk mengurus bisnisnya yang baru ia rilis bersama Renno dan Ramma sahabatnya. Harusnya cukup Renno dan Ramma yang berangkat ke sana. Tapi beberapa hari terakhir Renno tampak gila. Sahabatnya itu tampak selalu murung dan uring-uringan. Sedangkan Ramma sendiri terlalu menganggap enteng urusan mereka, sikapnya yang hanya memikirkan wanita dan bercinta membuat Dhanni mau tak mau ikut mengawasi cara kerja Ramma. Lagi pula ia akan menenangkan pikirannya sejenak dari Nessa.

Mengingat nama itu, Dhanni kembali menghela napas panjang. Nessa sedang hamil, dan wanita itu butuh perhatian darinya. Jadi kini mau tak mau ia harus mengalah.

Dhanni kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya. Di lihatnya Nessa yang masih duduk di pingiran ranjang sambil terisak. Wanita itu menangis. Dhanni menuju ke arah Nessa kemudian duduk berjongkok di hadapan wanita tersebut.

“Kamu belum makan?” Tanya Dhanni dengan nada lembutnya.

Nessa tak menjawab. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya lemah.

“Kamu harus makan. Dia juga butuh nutrisi dari ibunya.” Ucap Dhanni sembari mengusap lembut perut datar milik Nessa.

“Aku nggak lapar.”

“Jangan bohong, ayo, ku temani makan malam.”

Nessa kembali menggelengkan kepalanya.

Tanpa di duga, Dhanni memeluk perut Nessa, membuat Nessa sedikit terpekik karena tingkah laku Dhanni.

“Maafkan aku. Aku keterlaluan.” Ucap Dhanni dengan lembut. “Kamu harus makan sayang, demi babby kita.” Lagi-lagi Dhanni mencoba membujuk Nessa.

“Kak Dhanni jahat. Aku nggak suka di cuekin. Dan aku nggak suka lihat kak Dhanni bersikap datar.”

“Ya, karena itu aku minta maaf.” Dhanni masih mencoba mengalah.

Nessa lemudian memeluk kepala Dhanni. “Jangan tinggalin aku. Aku nggak mau kak Dhanni pergi ke luar kota.”

“Aku ada kerjaan sayang..”

“Enggak, kak Dhanni hanya mengindar.”

“Ness.. Please, semua ini bukan karena aku menghindar, aku benar-benar ada kerjaan.” Dhanni kembali menggeram kesal. Ia sudah menahan diri untuk tidak marah terhadap Nessa, tapi kini seakan Nessa yang menunjukkan sikap kekanakannya  hanya karena tidak suka di tinggal oleh Dhanni.

“Maaf..” Ucap Nessa sambil menundukkan kepalanya.

Dhanni kembali menghela napas panjang. “Lupakan saja semuanya. Kamu harus makan sayang, ingat, kamu lagi hamil. Apapun itu masalah kita, kamu nggak boleh mengesampingkan kesehatan kamu.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Aku mau makan, tapi dengan kak Dhanni.”

“Ya, aku akan menemanimu..” Dhanni meraih telapak tangan Nessa kemudian mengecupnya lembut telapak tangan istrinya tersebut. Dhanni kemudian membantu Nessa berdiri dan menuntun wanita tersebut menuju ke ruang makan.

Sesampainya di ruang makan, Dhanni membantu Nessa mengambil nasi dan lauk di piringnya. Dhanni bahkan tak segan-segan untuk menyuapi Nessa walau dengan ekspresi yang masih datar.

“Em.. kapan kak Dhanni ke luar kota?”

“Lusa.” Hanya itu jawaban dari Dhanni.

“Berapa lama?”

“Mungkin tiga sampai lima hari.”

“Dengan siapa?” tanya Nessa lagi masih mengunyah makanannya.

“Dengan Ramma.”

“Hanya kak Ramma??” Tanya Nessa penuh selidik.

“Ya, dan asisten pribadi kami tentunya.”

“Emm… Jadi… Jadi.. Erly juga ikut?” Tanya Nessa dengan terpatah-patah.

Dhanni mengamati ekspresi dari istrinya tersebut. Nessa tampak tak suka dan itu membuat sudut bibir Dhanni sedikit terangkat karena senang melihat ekspresi istrinya tersebut.

“Ya, tentu dia ikut. Dia kan asisten pribadiku.”

“Emm.. Bisakah… Dia di gantikan orang lain saja?” Tanya Nessa lagi.

“Kenapa sayang?? Kamu nggak suka membayangkan kami akan tinggal satu hotel selama lima hari kedepan??”

Nessa benar-benar salah tingkah. Ia meremas-remas kedua telapak tangannya sendiri. Tentu saja ia tak suka melihat suaminya dekat dengan wanita lain, apalagi ia tahu jika wanita tersebut adalah mantan kekasih suaminya tersebut.

“Ness..” Panggil Dhanni sambil mengangkat dagu istrinya tersebut. “Aku bisa menjaga diri, nggak akan ada apa-apa di antara kami. Kamu bisa pegang omonganku.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Baiklah.. aku percaya kak Dhanni.”

Dhanni kemudian mengecup singkat kening Nessa, “Ayo, makan lagi.” Ucap Dhanni sambil kembali menyuapkan makanan untuk Nessa.

***

Erly sedang sibuk melamun di teras rumah. Ia terlihat seperti orang linglung. Memeluk lututnya sendiri, sedangkan matanya menatap jauh ke depan dengan tatapan kosongnya.

Dhanni… Mengingat nama itu Erly memejamkan matanya. Bagaimana membuat lelaki itu kembali menjadi miliknya lagi?? Erly sudah melakukan apapun untuk menggaet kembali hati Dhanni, tapi nyatanya lelaki itu kini hanya terpaku dengan sosok cantik yang statusnya lebih tinggi dari pada dirinya.

Istri Dhanni benar-benar menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini bagi Erly. Dhanni mencurahkan semua kasih sayang lelaki tersebut hanya untuk istrinya seorang, dan itu benar-benar membuat Erly semakin sakit hati.

Tak lama Erly merasakan sebuah pelukan dari belakang. Itu pasti Jonathan, adiknya. Erly hanya diam terpaku tanpa menghiraukan kehadiran Jonathan.

Jonathan sendiri langsung pindah duduk tepat di sebelah Erly. Jonathan terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya ketika merasa duduknya kurang nyaman.

“Kak.. Kakak sudah makan?” tanya Jonathan pada Erly. Jonathan hanya khawatir jika Erly kembali jatuh dan depresi hanya karena satu orang, siapa lagi jika bukan Dhanni Revaldi??

“Sudah.” Hanya itu jawaban dari Erly.

“Kenapa kakak murung? Ada yang salah?” tanya Jonathan dengan lembut.”

Tanpa di duga, Erly kemudian menangis sesenggukan, dan itu benar-benar membuat Jonathan takut.

“Kak.. apa yang terjadi??” tanya Jonathan lagi.

“Dia memecatku..” Ucap Erly masih dengan menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya. Jonathan sendiri hanya mengangkat sebelah alisnya. Ia kemudian melirik ke arah amplop putih yang berada di atas meja tepat di hadapannya.

Jonathan meraih dan membuka amplop tersebut. ternyata itu adalah surat pemecatan untuk kakaknya yang di tanda tangani langsung oleh Dhanni Revaldi. Jonathan kemudian meremas surat tersebut kemudian menggenggamnya erat-erat di dalam kepalan telapak tangannya.

“Lupakan dia kak.. kak Erly bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari pada dia.”

“Tapi aku mencintainya Jo.. Aku mencintainya dan aku nggak bisa hidup tanpa dia..”

Jonathan sendiri hanya diam membatu, ia tak tau harus berkata apa dengan kakaknya tersebut, karena nyatanya, apa yang di rasakan kakaknya itu ternyata sama dengan apa yang di rasakannya saat ini.

Ia masih sangat mencintai Nessa, seakan tak dapat hidup tanpa wanita tersebut. bahkan jauh dalam hatinya yang paling dalam, Jonathan sangat ingin merebut Nessa dari genggaman Dhanni Revaldi. Tapi nyatanya, ia tak bisa egois, ia tidak ingin melihat wanita yang di cintainya hancur karena ulahnya.

Jonathan akhirnya memilih berdiri dan meninggalkan kakaknya sendiri. Mungkin kakaknya itu kini masih ingin menyendiri, jadi Jonathan tak ingin mengganggunya sementara waktu.

Erly sendiri masih diam, sesekali meneteskan air matanya.  Dhanni sudah memecatnya, itu tandanya tak ada harapan lagi untuk bisa mendapatkan lelaki itu. Ketika Erly hendak berdiri menuju ke kamarnya, ia melihat sesuatu tepat di kursi sebelahnya.

Itu dompet Jonathan, mungkin adiknya itu lupa membawa serta dompetnya tersebut hingga ketinggalan di kursi itu. Erly meraih dompet tersebut kemudia tanpa sengaja membukanya. Dan Erly berakhir tercengang saat melihat foto di dalam dompet tersebut.

Itu adalah foto Jonathan saat SMA, yang membuatnya tercengang adalah  adiknya tersebut sedang menggandeng mesra seorang wanita dan sama-sama tertawa bahagia menghadap ke arah kamera. Wanita itu adalah wanita sangat ia kenali. Karena dia adalah wanita yang secara tak langsung sudah merebut Dhanni dari sisinya.

Itu adalah Nessa, istri dari Dhanni.

Lalu bagaimana Jonathan bisa mengenal Nessa?? apa hubungan adiknya tersebut dengan Nessa? tiba-tiba Erly ingat saat dulu Jonathan selalu bercerita tentang seorang gadis yang sangat di cintainya, bahkan saat Jonathan kembali ke indonesia, Jonathan menghabiskan waktu untuk mencari wanita itu. Apakah Nessa yang di maksud oleh Jonathan?? Apa adiknya itu mencintai istri dari Dhanni Revaldi??

Dengan gusar Erly bangkit kemudian beranjak menuju ke kamar Jonathan. Erly menggedor pintu kamar Jonathan lebih keras dari biasanya.

“Jo.. Buka pintunya Jo..” Erly sedikit berteriak tak sabar.

Tak lama Jonathan membuka pintu kamarnya. Seketika itu juga Erly melemparkan dompet tersebut pada dada Jonathan.

“Kamu mengenalnya?? Kamu mengenal Dhanni dan Nessa?” Tanya Erly terang-terangan.

“Aku nggak ngerti apa maksud kak Erly.”

“Jangan bohong Jo!” Teriak Erly. “Bagaimana mungkin kamu membela mereka, membiarkan mereka bahagia dan kita menderita seperti ini?? Kamu mengianatiku Jo.!!”

Jonathan mendekat ke arah Erly, kemudian sedikit memeluk tubuh rapuh kakaknya tersebut. “Bukan begitu kak.. Aku memang mencintai Nessa, sangat mencintainya, tapi aku tahu, jika aku memaksakan kehendakku, maka aku akan menyakitinya. Aku akan membuatnya menderita kak..”

“Lalu apa kamu memilih untuk menyakitiku?? Kakakmu sendiri?? Jo, aku sakit karena pilihanmu. Secara tidak langsung kamu lebih memilih menyakitiku dari pada wanita sialan itu.”

Jonathan menggelengkan kepalanya. “Bukan begitu kak..”

“Kalau begitu Please… bantu aku… aku butuh bantuanmu.. Aku ingin kembali mendapatkan Dhanniku, dan kamu akan kembali mendapatkan Nessamu..”

Jonathan membatu dengan ucapan kakaknya tersebut. ia memang sangat ingin mendapatka Nessa kembali di sisinya, secara tak langsung ia juga meluruskan jalan kakaknya untuk mendapatkan lelaki yang di cintainya tersebut. tapi di sisi lain, ia tak bisa, karena Jonathan tahu, jika ia melakukan hal itu, Nessa pasti akan sangat tersakiti karena ulahnya. Lalu bagaimana ia harus memutuskan?? Itu pilihan yang sulit, Jonathan tak akan bisa memilih di antara Nessa dengan kakaknya, karena keduanya merupakan orang–orang yang sangat di cintainya.

 

-to  be continue-

ayoo yang baca jangan jadi sider yaa.. huaahahahah

 

Passion Of Love – Chapter 10

Comments 7 Standard

Skkm

Sang Kupu-kupu malam

Banyak perbaikan di chapter ini dari versi Fansfic.. hahhaha

Chapter  10

 

Di sebuah  restoran, seorang wanita seorang wanita paruh baya sedang bercakap-cakap dengan seorang lelaki yang mengenakan setelan hitamnya. Itu adalah Wulaan, dengan seorang yang di bayarnya untuk menyelidiki tentang Fiona.

“Pokoknya saya mau tau apapun tentang wanita itu, entah asal-usulnya, atau apapun yang terjadi padanya hingga dia sampai tinggal dengan puteraku.”

Lelaki mengenakan setelan hitam itu mengaggukkan kepalanya. “Baiklah Nyonya.”

“Segera laporkan hasilnya, dan jangan sampai siapapun tau termasuk Ben.”

Lelaki itu kembali menganggukkan kepalanya.

Wulan mendesah dalam hati. Ben… Apa yang terjadi denganmu nak?? Apa wanitaa itu yang mempengaruhimu?? Apa wanita itu yang membuatmu jauh dari kami?? Pikir Wulan dalaam hati.

***

Ben berdiri menunduk dan mengetuk-ngetukkan sepatunya di sebelah mobil mewahnya. Malam ini hujan turun, Tapi Ben sudah seperti orang Gila menunggu seseorang ditengah-tengah hujan lebat seperti ini dengan sebuah payung yang melindungiya dari hujan.

Dingin.

Ya.. tentu saja, tapi Ben tak peduli, dan tak tau kenapa Ben  masih melakukannya, apa itu karena Fiona? Ben tak tau, tapi yang jelas malam ini ia ingin menjemputnya, padahal Fiona sudah melarangnya karena hujan sedang turun di malam ini. Tapi  Ben seakan tak ngin membiarkan wanita itu pulang sendiri. Apalagi setelah perkataannya dua hari yang lalu. Perkataan kasar yang seakan mengingatkan Fiona akan posisinya.

Bodoh!!! bagaimana mungkin ia bisa berkata seperti itu pada Fiona? Wanita itu pasti sangat sakit hati dengan perkataannya.

Tiba-tiba Ben melihat Fiona keluar dari kafe tempat Fiona bekerja. Astaga… semakin hari Fiona semakin terlihat seksi di mata Ben.. Apa semua wanita hamil akan terlihat seperti itu? Atau apa ini hanya fikirannya saja? Ya, mengingat sejak Ben mengetahui kehamilan Fiona, Ben tak pernah menyentuh tubuh Fiona dalam tanda kutip. Entahlah, yang Ben rasakaan adalah takut menyakiti Fiona, karena Ben tau bagaimana dirinya ketika di atas ranjang.

Mungkin kini Ben terlalu rindu dengan Fiona. Ben pikir wanita hamil akan terlihat menjijikkan seperti kecebong, namun saat melihat Fionaa, Ben tak akan keberatan jika seluruh wanita di dunia ini hamil. Fiona benar-benar terlihat sangat menakjubkan.

Ben melihat Fiona berlari kearahnya. Hidung wanita itu terlihat merah, bibirnya sedikit biru, apa Fiona kedinginan??. Dan apa yang Fiona pikirkan? Wanita itu hanya mengenakan jaket biasa dan tak menggunakan mantel tebal. Apa wanita itu tidak takut kedinginan dan sakit karena hujan??  Pikir Ben ketika terpaku melihat penampilan Fiona yang sudah berdiri di hadapannya dengan payung mungil yang di bawa wanita tersebut.

Saat Ben terpaku melihat Fiona, tiba-tiba Ben merasakan tangan hangat wanita itu menyentuh pipinya.

“Ben.. apa yang kamu lakukan di sini? kamu bisa menungguku di dalam. Kamu akan mati kedinginnan jika terlalu lama berdiri disini.” Apa Fiona baru saja menghawatirkannya? benar-benar wanita bodoh.

“Tolong pegangkan payungku.” Ucap Ben dengan datar. Dan Fiona melakukan apa yang diperintahkan oleh Ben.

Ben kemudian menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya lalu ia menempelkannya pada kedua pipi Fiona. Fiona hanya menatap Ben dengan tatapan kosongnya. “Apa kamu nggak sadar, kamu yang kedinginan, hidungmu sudah merah.” Ucap Ben kemudian.

“Aku baru keluar, jadi aku tidak mungkin kedinginan.” Fiona mencoba mengelak.

Tanpa di duga, Ben lalu memeluk erat tubuh Fiona. Entah kenapa Ben ingin sekali memeluk tubuh yang terlihat rapuh di hadapannya tersebut. Setelah memeluknya Ben memandangi wajah Fiona lekat-lekat,  dan entah sejak kapan Ben sudah menempelkan bibirnya pada bibir dingin milik Fiona. Mereka berciuman dengan lembut dan intens, berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya, di tengah-tengah hujan yang turun dengan deras dan hawa dingin malam tersebut.

Ben tak tau kenapa ia bisa berakhir mencium Fiona. Dan jujur saja, Ben tak pernah berciuman dengan seseorang selembut seperti saat ini, seakan-akan tak akan ada lagi hari esok, dan Ben tak ingin mengakhirinya.

Tiba-tiba Ben merasakan Fiona mendorong dadanya untuk mejauh, dan….

Haaiiisshhyymm..’

Ben tercengang, Apa Fiona baru saja bersin? Ben tak bisa menahan tawanya lagi, baru kali ini ada seorang wanita bersin setelah ia cium. Dan Fiona pun ikut tersenyum malu, pipi wanita itu terlihat memerah.. dan itu membuat Fiona terlihat semakin menggemaskan di mata Ben. ya, Ben sangat suka saat melihat wanita itu tersipu-sipu seperti saat ini.

“Lihat, kamu benar-benar kedinginan.” Ucap Ben yang masih setengah tersenyum.

Ben lalu membuka Jas yang sejak tadi menempel padaa tubuhnya, kemudian memakaikannya pada tubuh Fiona. Lagi-lagi Ben melihat Fiona terpaku menatapnya.

“Emm.. kamu nggak perlu…”

“Aku harus.” Ucap Ben singkat memotong kalimat Fiona.

“Tapi kamu akan kedinginan dengan hanya memakai kemeja ini.”

Ben tersenyum masam, Apa yang Fiona fikirkan?? Setelah mencium wanita itu tadi seluruh tubuh Ben bahkan terasa panas, mungkin Ben akan terbakar oleh gairah malam ini jika sampai rumah ia tak langsung mandi air dingin. Astaga.. Ben benar-benar menginginkan Fiona. Semua yang dibawah sana sudah menegang, apa wanita itu tak merasakannya saat Ben memeluknya tadi?? Ben benar-benar merindukan desahan-desahan dari Fiona saat berada di atas ranjang bersamanya.

Stop it  Ben.!! Sekarang bukan waktunya kau memikirkan hal-hal mesum itu, kau harus bisa mengendalikan perasaanmu sebelum kau terjatuh semakin dalam dan sebelum kau tersesat semakin jauh. Gerutu Ben pada dirinya sendiri.

Tapi sepertinya hal itu sudah benar-benar terjadi. Ben kini sudah terjatuh semakin dalam hingga tak bisa kembali lagi. Ahh sial!! Apa yang harus ia lakukan selanjutnya??

“Emmm aku rasa sebaiknya kita masuk ke dalam mobil kalau nggak mau kedinginan di sini.” Fiona menyadarkan Ben dari laamunannya.

“Baiklah.” Ucap Ben yang kemudian membukakan pintu mobil untuk Fiona.

***

Di dalam mobil.

“Kita akan kemana?” Fiona bertanya, suara wanita itu lembut, dan itu mengingatkan Ben atas setiap desahan yang biasanya keluar dari bibir ranum Fiona saat mereka bercinta.

Cukup Ben, kenapa sampai kesitu lagi?

“Aku akan mengajakmu ke restoran Itali.. kamu pasti ingin makan pasta kan?” Pasta lagi.? Ya, Ben hanya tau jika makanan kesukaan Fiona adalah pasta. Dan hanya itu, Ben tak tau selebihnya karena selama ini yang di pikirkan Ben dari Fiona hanya satu, yaitu tubuh wanita tersebut. Sial!!

“Emmm aku nggak mau makan pasta.”

“Kenapa??”

“Aku nggak tau, mungkin aku merasa bosan, yang pasti aku nggak mau memakannya selama beberapa bulan kedepan.”

‘Hormon Kehamilan’

Ya, sekarang Ben tau kalau hamil sudah sedikit merubah kebiasaan Fiona. Fiona tak lagi suka pasta’ Ben harus ingat itu. “Lalu apa yang ingin kamu makan malam ini?”

“Entah lah…Ku pikir aku merindukan sup tulang kambing buatan tante Fani.”

“Apa?? Sup tulang kambing??” Sial! Kenapa harus itu? mendengar namanya saja Ben ingin muntah.

“Aku tau, kamu pasti nggak suka makanan seperti itu, apa lagi memakannya di sana. Emm… lebih baik kita pulang saja, aku bisa membuat makanan sederhana yang lainnya.”

“Tidak, Kita akan ke restoran tempat tante Fanimu itu.” Ucap Ben singkat. Dan Fiona tersenyum, apa ada yang salah? Apa kini ia terlihat lucu bagi wanita itu? “Kenapa tersenyum??” Tanya Ben kemudian.

“Ben, kita nggak akan ke restoran. Tante Fani tidak sekaya yang kamu pikirkan.”

“Apa maksudmu? lalu kita akan kemana?”

“Apa kamu yakin mau mengantarku kesana?”

“Tentu saja,,” Demi kamu dan anakku.. Lanjut Ben dalam hati.

“Baiklah.. kamu hanya perlu jalan terus dan berhenti di depan sebuah kedai kecil sebelum perempatan kedua.”

“Apa? Kedai? maksudmu kita akan makan di sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan?” Ben memohon agar Fiona menjawab tidak.

“Ya.”

“Tidak, aku nggak akan  pernah makan di warung kecil di pinggir jalan. itu tidak higeinis, lagi pula ini dingin, kita akan membeku di sana.” Ben benar-benar tak mengerti arah fikir wanita di sebelahnya ini. Ia mengajak wanita itu ke restoran mewah, tapi wanita itu malah mengajaknya ke sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan, yang benar saja.

“Ben.. Aku hanya ingin makan sup tulang buatan tante Fani, dan tante Fani hanya menjualnya di sana, tempatnya bersih dan hangat, walau tidak senyaman di restoran mewah, tapi aku yakin kamu mau duduk menemaniku di sana.” Ben hanya diam menatap lurus ke depan. “Tapi kalau kamu nggak mau nggak apa-apa, kita pulang saja.”

“Kita akan kesana.” Ucap ben cepat dengan ekspresi datarnya, Sial!! Ben benar-benar sudah tunduk di hadapan wanita tersebut.

“Beneran?? Aahhh terimakasih.” Fiona tersenyum lebar, dan Ben sangaat suka melihatnya tersenyum. “Emm tapi aku ingin satu hal lagi.”

“Apa itu?”

“Ice cream.”

“Apa? Fiona, ini sedang hujan, memakan ice cream saat dingin sepeti ini bisa membuatmu sakit.”

“Tapi aku benar-benar menginginkannya..” tanpa canggung lagi Fiona merengek dan Ben lagi-lagi tak bisa berkutik.

Hormon Kehamilan sialan.!!!

“Baiklah..” hanya itu yang bisa Ben katakana sembari menghela napas panjang.

“Aahh terimakasih Ben, malam ini kamu benar-benar baik..” Lalu tanpa di duga, bibir lembut milik Fiona mengecup singkat pipi Ben. Seketika itu juga tubuh Ben kaku, kejantananya menegang seketika hanya karena kecupan lembut yang di berikan Fiona di pipinya. Apa kini Ben sudah gila?? Bagaimana mungkin hanya karena kecupan di pipi ia bisa begitu bergairah seakan tak dapat di tahan lagi?? Sial!! Ben harus bisa mengendalikan pikirannya, kalau tidak, itu akan membuatnya jatuh semakin dalam hingga takdapat tertolong lagi.

***

Sesampainya di dalam kedai..

Bagi Ben,tempat itu memang tak sedingin yang ia bayangkan. Tapi tetap saja, baginya tempat itu benar-benar tak nyaman. Hanya ada sepetak ruangan dan dengan dua meja panjang. Di sana semua pembeli berbaur menjadi satu. Dan itu benar-benar membuat Ben tidak suka.

Kedai tante Fani ini ternyata sebenarnya hanya tempat minum bagi kalangan bawah. Sup tulang kambing yang di maksud Fiona sebenarnya hanya menu tambahan saja, karena nyatanya lebih banyak orang minum minuman memabukkan di sini dari pada memakan sup tulang kambing yang di maksudkan Fiona.

“Hai sayang.. Astaga.. lama sekali kamu nggak mampir ke sini.” Sapa wanta paruh baya yang tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Fiona.

“Aku sibuk tante..”

“Sibuk apa?? Dua bulan yang lalu, aku ke tempat kerjamu, membawakan sup tulang kesukaanmu, tapi kata Jonas, kamu sudah keluar. Apa yang terjadi?? Bahkan di kontrakanmu pun sudah di tempati orang lain.” Ucap tante Fani sambil sedikit meirik ke arah Ben.

“Emm.. aku memang sudah behenti bekerja di sana.”

“Ya, kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Marsha, dan dia menceritakan semua tetang keadaan kalian. Apa dia lelaki itu??” tanya tante Fani secara terang-terangan.

“Ahh ya tante, ini Ben, orang yang sudah menebusku dari Mr. Jonas.”

“Ahh.. lelaki yang tampan.” Gumam tante Fani sambil mengamati penampilan Ben. “Dan sepertinya… dia sekelas dengan Evan.” Lanjutnya lagi membuat Ben mengangkat sebelah alisnya.

“Tante..” dengan cepat Fiona memanggil tante Fani. Ia berharap jika tante Fani tak banyak cerita lagi tentang Evan.

“Oke, baiklah, tante tinggal sebentar. Akan tante siapkan Sup yang enak untukmu.” Ucap tante Fani sembari meninggalkan Fiona dan Ben.

“Siapa Evan??” Tanya Ben secara langsung.

“Emm kamu penasaran dengan dia??”

“Jawab saja siapa lelaki itu?”

“Emm dia hanya salah satu pelangganku.”

“Kenapa tante Fani mengenalnya??”

“Aku sering mengajaknya ke sini.” Ucap Fiona cepat.

“Hanya itu??”

“Ya.”

Ben kemudian menganggukan kepalanya. “Jadi, dari mana kamu kenal tante Fani??”

“Emmm.. waktu itu aku pulang dari kerja, mungkin sekitar jam empat pagi. Dengan setengah mabuk tentunya. Dan di jalan, ada segerombolan anak muda yang menggangguku. Aku hampir saja di perkosa oleh mereka jika tante Fani tak berada di sana.”

Ben menatap wajah Fiona, ia seakan menilai apa yang di rasakan wanita itu saat ini. “Kamu nggak canggung sedikitpun saat bercerita tentang masa lalumu??”

Fiona tersenyum masam. “Untuk apa aku canggung? Aku memang seorang wanita bayaran Ben, kamu tau itu dan aku tak perlu menutupi semua itu darimu.”

Ben menanggukkan kepalanya. “Mr. Jonas berkata jika kamu memiliki banyak hutang. Tapi ku pikir kehidupanmu masih saja kekurangan. Apa yang kamu lakukan terhadap uang-uang hasil menghutang dari tua bangka sialan itu??”

“Aku tidak tau. Yang ku tau aku hanya di jual oleh orang tua angkatku kepada seorang renternir lalu aku di paksa ke rumah bordir milik Mr. Jonas. Dan satu tahun setelahnya, aku baru tau jika aku memiliki banyak sekali hutang dengan dia.” Fiona menjelaskan dengan ekspresi sedihnya. “Kamu sendiri, kenapa bisa menebusku? Setauku, Mr. Jonas tak pernah melepaskan aku, berapapun tebusan yang di berikan orang tersebut.”

“Sudah pernah ada yang menebusmu sebelumnya?”

Fiona menganggukkan kepalanya. “Kak Angga pernah melakukannya, dan di tolak mentah-mentah oleh Mr. Jonas. Begitupun dengan beberapa pelanggan setiaku.”

“Kamu punya pelanggan setia?”

Fiona tersenyum. “Kenapa? Kamu cemburu?? Aku memiliki pelanggan setia, tapi tentu berbeda denganmu.”

Kali ini Ben yang tersenyum mendengar ucapan Fiona. “Aku memiliki sesuatu yang Mr. Jonas inginkan. Dan itu cukup untuk menebusmu.”

“Apa itu??”

“Kamu nggak perlu tau.”

“Ayolah Ben, aku hanya ingin tau hargaku.” Rengek Fiona.

“Sebuah Hotel.” Jawaban Ben membuat Fiona membulatkan matanya seketika.

“Ben.. aku tidak semahal itu.” Ucap Fiona masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan Ben.

“Mungkin, tapi Mr. Jonas benar-benar menginginkan Hotel yang berada tepat di sebelah Club malam miliknya yang lain. Dan kebetulan, Hotel itu milikku.”

Fiona menggelengkan kepalanya masih tak percaya. “Kamu gila. Astaga… Aku benar-benar tidak menyangka.”

Ben menyunggingkan senyuman miringnya. “Lupakan saja, yang penting aku puas dengan apa yang ku beli.”

“Ben..” Panggil Fiona. Fiona ingin bertanya tapi entah kenapa ada sedikit rasa takut untuk menanyakan pertanyaan tersebut. “Emm.. Apa ada kemungkinan jika kamu akan melepaskanku nantinya?” tanya Fiona dengan hati-hati.

Ben menatap Fiona dengan tatapan tajamnya. “Aku tidak yakin. Aku adalah orang yang gampang bosan, tapi untuk saat ini, aku belum pernah berpikir akan melepaskanmu.”

“Emm… bagaimana jika aku ingin pergi??”

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Ucap Ben penuh penekanan.

Percakapan mereka kemudian terpotong oleh kedatangan tante Fani yang membawakan mereka sebuah nampan berisi satu porsi sup tulang dengan beberapa botol minuman.

“Emm.. tante, aku hanya menginginkan supnya.” Ucap Fiona cepat. Ia tentu tak mungkin meminum minuman yang di bawakan oleh tante Fani. Minuman itu adalah berbagai macam jenis arak. Dan tentunya wanita hamil seperti dirinya tidak di perbolehkan meminum minuman tersebut.

“Ya, aku sudah tau semuanya dari Marsha. Sup ini buat mu. Dan araknya untuk Ben, dia tak akan menolak ajakanku untuk minum kan??”

Ben mengernyit. Kedatangannya ke tempat ini sebenarnya hanya untuk mengantar Fiona, bukan untuk makan atau minum-minuman memabukkan. Lagi pula ia tak pernah meminum minuman seperti arak yang di bawa oleh tante Fani.

“Maaf, saya tidak pernah meminumnya.”

“Ayolah, jangan jadi pengecut. Ini hanya arak jawa, kamu nggak akan maabuk hanya karena sekali tenggak.” Ucap Tante Fani dengan seringaiannya.

Ben kemudian menganggukkan kepalanya. Biarlah, tak ada salahnya bukan jika ia meminum arak tersebut?? akhirnya Ben meraih gelas mungil yang di dalamnya sudah di tuangkan arak. Kemudian Ben menegaknya hingga tandas.

Rasanya sama dengan minuman beralkohol yang biasa ia minum. Hanya saja, rasanya lebih tajam, dan terasa begitu membakar di tenggorokannya hingga membuat Ben mengerutkan keningnya.

“Kenapa?? Kamu nggak suka??” Tanya Fiona sedikit khwatir.

“Rasanya aneh, baru kali ini aku mencobanya.”

“Hahhaaha inilah Winenya orang miskin seperti kami Ben.” Ucap tante Fani.

“Kamu sering meminumnya??” Tanya Ben pada Fiona kemudian.

“Ya, tentu saja. Aku sering ke sini dan meminumnya hingga mabuk. Kamu tentu tau kalau aku tidak akan mampu membeli minuman beralkohol yang ada di tempat kerjaku.”

Ben mengangguk. “Tapi ini tidak terlalu buruk.” Ucap Ben sambil kembali menuang minuman tersebut ke dalam gelasnya kemudian menegaknya kembali.

“Ya, aku bahkan sangat suka. Sayang, aku nggak bisa meminumnya saat ini.” Ucap Fiona yang kembali memakan sup di hadapannya.

“Tentu saja, arak tidak baik untuk kehamilan.” Ucap tante Fani dengan spontan

Perkataan tante Fani itu sontak membuat Ben membatu tak bergerak sedikitpun. Matanya melirik ke arah Fiona. Fiona pun demikian. Wanita itu terlihat shock dengan aapa yang di katakan tante Fani.

Dengan spontan Fiona memeluk perutnya sendiri. Bagaimana jika Ben tau keadaannya?? Bagaimana jika kemudian Ben memaksanya untuk menggugurkan bayi yang sedang di kandungnya?? Astaga… kenapa juga tante Fani bisa mengucapkan kalimat tersebut di saat seperti ini??

 

-to be continue-

Semoga masih ada yang mau menunggu cerita ini.. hueehehhehe

Full House – Prolog

Comments 3 Standard

fh1

Full House

Tittle : Full House ( My Wife indo vers.)

Cast : Randy Prasaja  as Choi seung hyun

Febby Alista  as Yoon eun hye

Brian Winata  as Kim Hyun Joong

Marsela cantika  as Park Boom

Genre : Roman, Komedy, Erotis.

Note : Ini adalah Remake dari fansfic koreaku dengan judul “My Wife.” Genrenya Roman komedi Erotis, jadi mohon bijaksana yaa,… Seperti The Passionnate of love yang kini jadi sang kupu-kupu malam, maka My Wife ini ku ubah  menjadi Full House. Kok kayak judul Drama korea sih thor?? Yaa karena saat share cerita ini di grup FF, banyak yang bilang cerita ini mirip dengan drama korea Full House. So, inilah Full House versi aku. -Yang belom baca versi korea, di mohon jangan membaca yaaa.. karena lebih asik ini, ku jamin..  hahahhaha-

 

Prolog

 

-Febby-

 

Aku terkejut, saat beberapa bulan yang lalu tiba-tiba saja ibu dan ayahku mengatakan jika aku akan di jodohkan dengan seseorang. Terlebih lagi orang tersebut merupakan Aktor ternama di indonesia.

Namanya Randy Prasaja. Mendengarkan nama Prasaja jelas tak asing bagi kalangan pengusaha. Ya, ayah Randy memang seorang pengusaha sukses, tapi aku juga bingung, kenapa lelaki itu malah memilih berakhir menjadi seorang aktor.

Memang, wajah dan penampilannya lebih cocok menjadi seorang aktor, dia tampan, terlampau sangat tampan. Bahkan beberapa tahun terakhir dia di anugerahi sebagai aktor tertampan di negeri ini. Aku mengidolakannya, tentu saja. Selain aktingnya yang bagus, suaranya yang merdu, Randy juga terkenal misterius mengenai hubungan percintaannya, dan itu benar-benar membuat wanita –wanita semakin penasaran dan mengidoilakannya.

Tapi, setelah menikah dengannya dua bulan yang lalu, Aku benar-benar menyesal pernah mengidolakan lelaki aneh yang bagiku dingin seperti Iblis itu. Sikapnya kekanakan, suka seenaknya sendiri, datar, dan cuek terhadapku. Dan aku membencinya.

Sumpah demi apapun juga, jika bukan karena sesuatu yang mendesak, maka aku tak akan pernah mau di jodohkan dengan lelaki seperti Randy Prasaja. Lelaki menyebalkan yang hanya bisa membuat suasana hatiku kesal.

***

 

-Randy-

 

Namanya Febby Aliska. Dia istri yang sudah ku nikahi sejak dua bulan yang lalu. Dia seorang Dokter spesialis anak. Wajahnya datar dan dia selalu bersikap kaku. Dia wanita membosankan dan itu membuatku muak.

Astaga,.. bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan wanita seperti Febby?? Apa aku buta?? Apa aku bodoh?

Semua ini di akibatkan oleh seorang wartawan sialan yang mau tak mau membuatku memilih menerima pernikahan dengan seorang Febby.

Aku memiliki kekasih. Marsela namanya. Dia cantik dan seksi, ya, karena dia adalah seorang model papan atas. Kami tak bisa bersama karena dia terikat kontrak yang mengharuskan kami menjalani hubungan sembunyi-sembunyi.  Tapi nyatanya, hubungan kami terendus juga dan itu membuat karir Marsela sedikit terancam.

Semua itu di perparah oleh si tua bangka sialan. Siapa lagi jika bukan ayahku. Ayah benar-benar menginginkanku untuk melanjutkan bisnisnya.  Tapi tentu aku menolaknya. Berada di  balik sebuah meja  sepanjang hari dengan pakaian rapi dan bersikap kaku, itu benar-benar bukan aku. Yang benar saja.

Tapi kemudian ayah juga mengetahui kelemahanku. Apa lagi jika bukan Marsela, akhirnya dia menggunakan Marsela untuk mengancamku. Dan itu membuatku mau tak mau menikahi wanita kaku yang kini sudah berstatus sebagai istriku, Febby Aliska.

Bisakah aku bertahan dengannya?? Dengan istri kaku seperti Febby Aliska?? Semoga saja, karena ku pikir, semakin ke sini, sepertinya aku semakin tergoda dengan keberadaanya.

 

-to be continue-

 

My Beloved Man- Chapter 3

Comments 5 Standard

mb1

My Brother

Maaf yaa baru Up.. tadi nggak sempat,, heheheh happy reading, semoga suka.. hahahha

“Jangan tegang, aku nggak akan menyakitimu.” Ucap Raka dengan lembut. Raka kemudian kembali melumat bibir Felly lalu berbisik lagi di sana. “Maafkan aku… Maafkan aku..” Raka kembali mengucapkan kalimat tersebut sambil menghujamkan dirinya hingga menyatu sepenuhnya dengan tubuh Felly.

Fellypun mengerang kesakitan sedang Raka sendiri tak dapat berbuat banyak selain kembali mencumbu bibir ranum milik Felly sambil sesekali berucap dalam hati. 

‘Maafkan aku… Maafkan aku…’

***

 

Chapter 3

 

Raka menatap wajah wanita yang kini sedang berada dalam pelukannya. Wanita tersebut terlihat damai dalam tidurnya, terlihat begitu cantik dan mempesona. Tapi bagaimana ekspresi wanita itu nanti?? Akankah wanita itu akan marah terhadapnya?? Mengingat itu, Raka kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh Felly yang masih polos di balik selimut.

Pergerakan Raka yang begitu posesif akhirnya membuat Felly sedikit terusik dalam tidurnya. Sedikit demi sedikit Felly membuka matanya, mencari-cari kesadarannya. Hingga kemudian matanya mengerjap saat ia mendapati sepasang mata yang sedang mengawasi pergerakannya dengan jarak hanya beberapa senti dari wajahnya.

“Kak Raka?” Ucapnya sembali membuka matanya lebar-lebar.

“Hai..” Hanya itu yang dapat di ucapkan Raka. Raka bahkan mengucapkannya dengan pelan karena gugup. Bagaimana tidak, mereka kini masih dalam keadaan polos dan berada di atas ranjang yang sama, di bawah selimut yang sama dengan kulit yang saling menempel satu sama lain karena berpelukan.

“Kak Raka kok…” Felly tak dapat melanjutkkan kalimatnya ketika ia baru menyadari jika kini tubuhnya sedang berada dalam pelukan Raka. Wajah Felly memucat seketika saat sadar jika tubuh mereka dalam keadaan polos di bawah selimut yang sama.

Dengan cepat Felly menjauhkan diri dari tubuh Raka sembari menyilangkan kedua lengannya pada dada telanjangnya.

“Apa yang sudah kita lakukan??” Tanya Felly masih dengan raut wajah shocknya.

“Tenang.. Kakak bisa jelasin.” Ucap Raka menenangkan Felly sambil mendekat, tapi kemudian Felly kembali menjauh dengan gerakan menahan tubuh Raka dengan sebelah tangannya agar lelaki itu tak mendekat lagi.

“Jangan..” Ucap Felly dengan spontan sambil mengangkat sebelah tangannya. Kilasan-kilasan kejadian tadi malam menari-nari dalam ingatan Felly, bagaikan kolase indah yang entah kenapa membuatnya menjadi semakin malu berada di hadapan Raka.

Tadi malam Felly tidak mabuk, tentu saja ia dapat mengingat semuanya saat ini. Yang ia rasakan tadi malam hanyalah gairah, seakan-akan gairah tersebut menguasai tubuhnya dan menjauhkan dari kewarasannya. Felly hanya ingin di puaskan, dan kini Felly mengingat dengan jelas bagaimana kejadian tadi malam. Saat ia menggoda Raka, saat ia mencium lelaki itu secara membabi buta, saat ia bersikap liar di atas ranjang, bahkan saat ia menginginkan tubuh Raka lagi dan lagi seperti seorang wanita jalang yang butuh sentuhan lelaki.

Astaga… Felly benar-benar malu ketika mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami dengan Raka tadi malam. Raka bahkan tak berhenti mengucapkan kata maaf seakan menyesal telah melakukan hal tersebut padanya. Kenapa?? Apa karena Raka sudah merasa menghianati kekasihnya???

Dengan gusar Felly menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian Felly mulai menangis kencang sambil sesekali berteriak.

“Kenapa kamu melakukan ini padaku?? Kenapa??”

Kamu?? Ini pertama kalinya Felly memanggil Raka dengan sebutan ‘kamu’. Raka terpaku seketika saat mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Felly dalam tangisnya. Ia hanya ternganga ketika melihat wanita yang di cintainya  terlihat begitu hancur. “Aku minta maaf, aku hanya…”

“Cukup..” Teriak Felly.

Raka masih tercengang dengan kemarahan yang di tampilkan oleh Felly. Ia benar-benar tak menyangka jika Felly akan semarah ini padanya. Dengan cepat ia merengkuh tubuh Felly dalam pelukannya, kemudian memeluk tubuh wanita itu erat-erat.

“Lepaskan aku… Lepaskan aku..” Felly meronta dalam pelukan Raka.

“Please.. Maafkan aku..”

“Aku membencimu… Aku benar-benar membencimu…” ucap Felly masih dengan menangis dalam pelukan Raka sesekali memukul-mukul dada lelaki tersebut.

‘Bencilah aku, tapi jangan menjauhiku..’ Ucap Raka dalah hati. Raka semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Felly. Ia tidak ingin wanita itu pergi menjauhinya.

“Maafkan aku… Maafkan aku..” lagi-lagi hanya kata itu yang dapat Raka ucapkan di hadapan  Felly.

***

Di dalam mobil, Raka benar-benar tak tau harus berbuat apa. Tadi setelah menangis histeris, Felly kemudian mengurung diri di dalam kamar mandi hotel selama lebih dari satu jam lamanya, dan Raka hanya bisa menunggu dengan dada yang terasa sesak.

Raka tak pernah melihat Felly seterpukul ini. Felly pasti kini sangat membenci dirinya. Lalu apa selanjutnya?? Apa ia akan menyerah begitu saja??

“Emm… kita cari makan dulu ya..” Ucap Raka memecah keheningan.

Felly masih saja menatap jauh ke luar jendela. Ia seakan tak ingin menatap ke arah Raka. Entah apa yang di rasakannya saat ini. Malu?? Ya, Felly merasa sangat malu. Bagaimana mungkin tadi malam dirinya menjadi wanita penggoda untuk lelaki yang seharusnya ia anggap sebagai kakaknya tersebut??

“Fell..” panggil Raka lagi kali ini sambil menggenggam telapak tangan Felly yang sejak tadi berada di atas pangkuan wanita tersebut.

Dengan spontan Felly melepaskan genggaman tangan Raka. Entahlah apa yang di rasakan Felly saat ini. Yang pasti ia ingin sekali segera sampai di rumah, menenggelamkan diri di balik bantal-bantalnya, dan tentunya sedikit menjauhi lelaki yang kini berada di dekatnya.

***

Sampai di rumah Felly, Raka masih saja mengikuti wanita yang berjalan tepat di hadapannya. Wanita itu ternyata langsung menuju ke arah kamarnya, bahkan kertika melewati ruang tengah yang di sana ada Dara duduk santai, Felly bahkan seakan tak ingin menyapa mamanya tersebut.

“Felly, baru pulang??” Tanya Dara, tapi puterinya tersebut masih berjalan cepat menaiki anak tannga.

Dara mengernyit, ia tak pernah melihat puterinya tersebut berperilaku seperti itu.

“Permisi tante.” Sapa Raka pada Dara masih dengan melangkah mengikuti Felly.

“Apa yang terjadi Raka??” Tanya Dara yang sudah berdiri heran melihat tingkah laku keduanya.

Dara sebenarnya sudah tau jika tadi malam Felly keluar bersama Raka. Saat lewat dari jam sebelas malam dan Felly belum pulang, Dara lantas ke rumah Raka yang berada tepat di seberang rumahnya. Bertanya dengan ibu Raka, tapi ibu Raka sendiri tak tau di mana Raka dan Felly malam itu berada. Akhirnya ibu Raka mencoba menghubungi Raka, dan baru satu jam setelahnya, Raka menghubungi mereka dan berkata jika semua baik-baik saja dan mungkin mereka akan pulang pagi.

Sebenarnya Dara khawatir, tapi karena Dara tahu jika Felly bersama Raka, maka kekhawatiran itu sedikit memudar. Revan, Suaminya juga berkata jika tak perlu di khawatirkan kalau Felly keluar dengan Raka.

Ya, Raka memang terlihat sangat baik di mata Dara dan Revan. Pemuda itu tak banyak bicara, sopan, dan tentunya tak pernah melakukan hal buruk untuk keluarga mereka. Dan itu membuat Dara dan Revan menyayangi pemuda itu seperti anak mereka sendiri.

Suatu hari, Dara bahkan pernah menyeletukkan ide supaya Felly dan Raka di jodohkan saja, supaya ikatan keluarga mereka semakin erat. Namun nyatanya ibu Raka berkata lain. Ibu Raka sudah cukup merasa bahagia di anggap sebagai kerabat dekat keluarga Revano. Dan ibu Raka meras sangat tidak pantas menyandingkan puteranya dengan puteri keluarga Revano.

Begitupun dengan Revan, Suaminya itu menolak ide dari Dara tersebut. Revan hanya takut jika suatu saat nanti rahasia mereka terbongkar dan itu akan berimbas buruk pada kehidupan Felly. Rahasia tentang kepergian ayah Raka…. Revan tak ingin puterinya menderita karena ulahnya.

Dara melihat Felly membanting pintu kamarnya dengan keras tepat di hadapan Raka, sedangkan lelaki itu hanya mematung menatap pintu yang di tutup tepat di hadapannya.

“Fell.. jangan seperti ini.” Suara lirih Raka memaksa dara melangkahkan kaki mendekat ke arah lelaki dewasa yang sudah seperti puteranya tersebut.

“Ada apa Ka??”

Raka menatap ke arah Dara. Ia benar-benar tak tau harus berkata apa.

“Ada yang kamu sembunyikan dari saya??” Tanya Dara lagi.

Tanpa di duga Raka kemudian menggenggam kedua telapak Dara. “Tante, saya minta maaf. Maafkan saya.” Ucap Raka yang kemudian membuat Dara bingung.

“Maaf?? Maaf untuk apa??” Tanya Dara dengan raut bingungnya.

Raka tak tahu harus berkata apa dengan Dara. Raka tak mungkin berkata jika ia minta maaf karena sudah bercinta dengan puteri wanita tersebut.

Bukannya menjawab, Raka malah mengucapkan janji pada Dara. “Saya janji, saya akan bertanggung jawab dan saya akan menikahi Felly. Saya janji tante.”

Mendengar ucapan Raka tersebut, Dara sontak menarik kedua belah tangannya yang di genggam Revan lalu membungkam mulutnya sembari memulatkan kedua bola matanya. Dara jelas tau apa maksud Raka. Itu tandanya jika Raka sudah membuat puterinya tak suci lagi. Bagaimana ini?? Bagaimana jika Suaminya tau?? Bagaimana jika puterinya hamil???

***

Sorenya..

Setelah pulang dari kantor, Raka lantas menuju ke sebuah toko perhiasan. Memilih-milih sepasang cincin pernikahan. Tekatnya sudah bulat. apapun yang terjadi, entah Felly hamil atau tidak, ia akan tetap menikahi wanita tersebut.

Di lihatnya sepasang cincin putih sederhana tanpa mata berlian satupun.

“Saya ingin melihat yang ini.” Ucap Raka sambil menunjuk cincin tersebut pada wanita si penjaga toko.

“Ini terlalu sederhana Mas, apa pacar mas nanti mau??” ucap Si penjaga toko tersebut.

“Calon istri saya orang yang sederhana. Lagi pula saya tidak mampu membeli yang lebih mahal lagi.”

Si penjaga toko tersebut tersenyum malu. Di lihatnya penampilan Raka dengan kemeja putih sederhananya. Entah kenapa wallau terlihat sederhana tapi aura yang berada di sekitar Raka seakan membuat siapapun yang berada di dekatnya terpesona.

Si penjaga toko tersebut mengeluarkan cincin tersebut. Kemudian memberinya pada Raka. “Kebanyakan wanita ingin memiliki cincin pernikahan yang indah bahkan banyak berliannya.”

Raka tersenyum. “Calon istri saya tidak seperti itu.”

“Kenapa bisa berbeda??”

“Karena dia sudah memiliki semua yang dia inginkan. Saya yakin, dia tidak akan menginginkan berlian dan yang lainnya.”

“Wahh calon istrinya manis sekali..”

Raka kembali menyunggingkan senyuman lembutnya. “Saya mau yang ini, tolong di bungkus.”

“Baik, mohon tunggu sebentar.” Ucap si penjaga toko sambil membawa cincin pesanan Raka untuk di bungkus.

Raka kemudian terpaku. Pikirannya menerawang. ‘Felly, semoga saja kamu mau menerima kak Raka..’ Lirihnya dalam hati.

***

Raka kini duduk dalam gelisah menunggu kehadiran Revan di ruang tamu keluarga Revano. Entah kenapa ia merasa sangat gugup. Padahal hampir setiap hari ia bertamu ke rumah keluarga Revano, tapi baru kali ini ia merasa segugup ini, apa karena niatnya??

Tak lama, orang yang di tunggunya tersebut akhirnya datang juga, “Malam Raka, tumben kamu mencari saya??”

Raka kemudian melirik ke arah Dara yang ikut duduk tepat di sebelah Revan. Mungkin tante Dara belum memberi tahu Om Revan tentang apa yang terjadi. Pikir Raka saat itu.

“Emm.. itu Om..”

“Ada masalah??”

Raka menarik napas panjang kemudian memberanikan diri mengucapkan keinginannya. “Saya ingin melamar puteri Om menjadi istri saya.” Ucap Raka dengan tegas.

Revan terlihat tak percaya dengan apa yang di katakana Raka. “Melamar?? Kenapa tiba-tiba? Raka, Kamu sudah seperti putera saya sendiri. Dan Felly juga sudah menganggapmu sebagai kakaknya.”

“Tapi tidak dengan saya Om.” Ucap Raka dengan cepat.  “Saya melihat Felly sebagai wanita yang saya inginkan untuk menjadi istri saya dan ibu dari anak-anak saya nanti.” Raka melanjutkan kalimatnya yang tampak begitu berani.

Revan membulatkan matanya seketika. Revan jelas tau dan mengerti perkataan Raka. Itu tandanya jika pemuda di hadapannya tersebut nyatanya sudah jatuh cinta pada puterinya.

“Kamu yakin?? Maksud saya, Ada beberapa hal yang tidak kamu ketahui Raka, dan saya tidak ingin setelah kamu mengetahuinya, kamu akan berubah pikiran dan menyakiti hati puteri saya.”

“Apapun yang terjadi, saya tidak akan merubah pikiran. Saya tetap akan menjadi suami yang baik untuk Felly.”

Revan kemudian melirik ke arah Dara. Revan tak dapat menjawab apapun karena ia juga tak mengerti kenapa bisa rumit seperti ini. Tadi, sepulang dari kantor, Dara sebenarnya sudah menceritakan semuanya pada Revan, hanya saja, Revan berusaha bersikap tenang dan datar di hadapan Raka. Revan ingin melihat seberapa berani lelaki yang secara tak langsung sudah ia didik selama ini.

“Nak Raka, naiklah ke atas. Felly belum juga keluar dari tadi pagi.”

Raka mengangguk cepat, kemudian berdiri menuju ke arah tangga.

“Raka.” Panggilan Revan membuat Raka menghentikan langkahya.

Raka menoleh ke arah Revan yang sudah berdiri menghadap ke arahnya. “Iya, Om?”

“Saya merestui, tapi kamu harus janji satu hal bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan puteri saya.”

Raka tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. “Saya janji Om, saya akan menjaga Felly seperti saya menjaga ibu dan adik saya sendiri.”

Raka hanya melihat Revan menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju ke kamar Felly.

***

Raka membuka pintu kamar Felly, kemudian sedikit menyunggingkan senyumannya ketika menyadari jika kamar tersebut tak lagi di kunci seperti tadi pagi. Ia kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar tersebut.

Kamar itu hanya menyisakan sebuah lampu tidur kicil hingga membuat ruangan tersebut remang-remang. Raka melangkah mendekati ranjang, di mana ada Felly meringkuk di sana. Ia kemudian melirik ke arah meja kecil di sebelah ranjang Felly. Di sana masih ada nampan namun dengan sisa-sisa makanan. Rupanya Felly sudah memakan makan malamnya dan itu membuat Raka lega.

“Fell..” panggil Raka. “Aku ingin ngomong sesuatu sama kamu.”

“Aku ngantuk.” Jawab Felly dengan ketus.

Raka tersenyum. Felly memang tak pernah bisa marah terlalu lama padanya. Terbukti saat ini wanita itu sudah mau berbicara padanya walau dengan nada ketus.

“Ayolah, ini sangat penting, dan harus di katakan sekarang sebelum aku menjadi pengecut dan keberanianku menghilang.”

Felly masih saja tak ingin bangun. Wanita itu malah menarik selimutnya untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya. Melihat itu Raka lagi-lagi tersenyum. Felly benar-benar seperti seorang adik yang sedang merajuk pada kakaknya. Akankah sampai nanti Felly bersikap seperti itu padanya??

“Fell.. Aku ingin menikah denganmu.”

Perkataan Raka ang secara tiba-tiba itu membuat Felly terbangun seketika.

“Menikah??” Tanya Felly sembari menatap Raka dengan tatapan terkejutnya.

Raka menganggukkan kepalanya. “Aku sudah melamarmu di hadapan om Revan, dan beliau merestuinya.”

Felly menggelengkan kepalanya. “Enggak, aku nggak mau. Aku nggak mau menikah hanya karena kita sudah melakukan seks.”

“Aku ingin bertanggung jawab Fell.”

“Aku tau kak Raka orang yang bertanggung jawab. Tapi tak ada yang terjadi padaku. Aku bahkan tidak hamil.”

“Belum.” Ralat Raka.

“Kenapa kak Raka yakin sekali kalau aku akan hamil?? Satu kali hubungan seks belum tentu bisa membuat wanita hamil.”

“Kita melakukannya berkali-kali malam itu.”

“Cukup.” Felly menutup kedua telinganya. Ia benar-benar sangat malu ketika mengingat malam tersebut. Tentu saja mereka melakukan lagi dan lagi karena entah kenapa malam itu Felly seakan ingin lagi dan lagi.

“Fell.. aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”

“Tapi aku nggak bisa menikah dengan orang yang tidak ku cintai dan tidak mencintaiku.”

“Apa artinya sebuah cinta untuk pernikahan?? Seberapa banyak perceraian terjadi dengan pasangan yang sama-sama saling cinta saat menikah?? Dan seberapa banyak pula pasangan yang sudah menua bersama padahal mereka dulunya tak saling cinta saat menikah?? Kita tidak bisa melihat masa depan hanya dengan cinta?? Rumah tangga bukan hanya berpondasikan Cinta, yang terpenting aku menyayangimu dan aku akan menjagamu sampai nanti, sampai kita menua bersama, apa itu kurang???”

Felly tercenung mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Raka. Astaga.. ini adalah kalimat terpanjang yang pernah di ucapkan lelaki tersebut.

“Tapi aku ingin menikah dengan orang yang ku cintai dan mencintaiku..” Rengek Felly.

‘Aku mencintaimu…’ Ucap Raka dalam hati.

“Nanti, aku akan mencintaimu sebagai istriku.” Ucap Raka kemudian.

Felly tetap saja menggelengkan kepalanya. “Enggak, aku tetap nggak mau. Aku nggak hamil dan aku baik-baik saja, jadi kita lupakan malam itu.”

“Aku ingin tanggung jawab Fell..”

“Tidak ada yang perlu di pertanggung jawabkan.” Felly berkata dengan cepat. Felly kemudian berpaling ke arah lain lalu kembali berbicara dengan pelan. “Kita punya kehidupan masing-masing kak, Kak Raka punya Kirana, dan aku punya Jason. Jadi kita tidak bisa bersama.” Lirih Felly.

“Lalu apa mau kamu sekarang??”

“Kita jalani hidup masing-masing seperti biasa.”

“Kalau kamu hamil??”

“Aku nggak akan hamil.” Jawab Felly cepat.

Raka menganggukkan kepalanya. “Baiklah, aku akan menuruti apapun mau kamu. Tapi saat nanti aku mendapati kamu hamil karena kemarin malam, maka aku akan menikahimu, dengan atau tanpa persetujuanmu.”

Felly menganggukkan kepalanya. Ia pasrah, tentu saja. Satu hal yang ia inginkan saat ini. Semoga saja ia tidak akan hamil karena insiden kemarin malam. Karena Felly benar-benar tak ingin menikah dengan Raka hanya karena sebuah kecelakaan semalam.

“Jadi, kita baikan??” Tanya Raka kemudian.

Lagi-lagi Felly hanya mampu menganggukkan kepalanya. Lalu tanpa di duga Raka merengkuh tubuh Felly ke dalam pelukannya.

“Aku takut Fell..”

“Takut apa??”

“Takut kamu marah dan menjauhiku..” Lirih Raka. “Maafkan aku…” ucap Raka lagi sembari mengecup lembut puncak kepala Felly.

“Aku nggak akan bisa marah terlalu lama dengan kak Raka, lagian aku juga salah.”

Raka kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Felly. “Berikan tanganmu.” Ucap Raka kemudian.

Felly mengulurkan telapak tangannya pada Raka. “Untuk apa??”

Raka kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang ternyata di dalamnya berisi sepasang cincin pernikahan. Dan itu membuat felly membulatkan matanya seketika.

“Kak.. ini….”

“Dengar, karena semua belum pasti, entah nanti kamu hamil atau tidak, maka dalam beberapa bulan kedepan, kamu tetap menjadi calon istriku.”

“Tapi ini nggak adil, Jason akan bertanya tentang cincin ini.”

“Aku juga memakainya, dan aku tidak keberatan jika Kirana bertanya.”

“Kak..”

“Please…  Aku hanya ingin bertanggung jawab. Aku janji, jika dalam beberapa bulan ke depan tak terjadi apapun pada kamu, kamu bisa melepaskan cincin ini.”

Felly kemudian menatap Raka dengan tatapan tak terbacanya. “Baiklah.” Ucapnya kemudian. Akhirnya Raka memasangkan cincin di jari manis Felly, begitupun dengan Felly yang memasangkan cincin di jari manis Raka.

Raka kemudian menatap Wajah Felly, menelusuri wajah tersebut. “Mata kamu bengkak.” Ucap Raka dengan sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Ya, aku tidak berhenti menangis tadi.”

Raka kemudian kembali menelusuri wajah Felly dengan tatapannya. Tatapan mata Raka terpaku pada bibir ranum milik Felly. Bibir yang kemarin malam tak berhenti ia cumbu. Bibir yang astaga.. benar-benar sangat menggoda untuk di sentuh.

Raka menelan ludahnya dengan susah payah, kemudian mempalingkan wajahnya. “Aku pulang dulu, sudah malam.” Ucap Raka kemudian dengan suara serak tertahan. Kemudian Raka berdiri dan bersiap pergi dari kamar Felly.

“Kak..” Panggil Felly. Tanpa di duga, Felly memeluk tubuh Raka erat-erat. “Terimakasih. Karena kak Raka sudah mau menjadi kakakku.” Ucapnya kemudian.

Raka hanya menganggukkan kepalanya. ‘Jika aku boleh memilih, aku tak pernah ingin menjadi kakakmu. Karena aku hanya ingin menjadi suamimu…’ Ucap Raka dalam hati.

 

-to be continue-

Vote dan komen di tunggu yaa… sedikit info, setelah ini nggak akan ada updetan lagi yaa sampek minggu karena lebaran hehhehehe udah itu aja.. 

Diary Kepenulisan – Part 3 (My Lovely Readers)

Comments 2 Standard

01Diary Kepenulisan

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

Part 3

My Lovely Readers

 

Hallo.. ketemu sama aku lagi.. heheheh, nggak taulah, malam ini aku lagi galau sekali, jadi nyempatin bikin diary deh.. huehehehhehe. okay, langsung saja. Judulnya My Lovely Readers. jika di tanya “Readers itu apa sih buat kamu??”

Aku akan menjawab jika mereka adalah penyemangatku. ya, mereka benar-benar seperti suntikan penyemangat untukku. saat aku lelah dengan dunia nyata, aku mencoba membuka beberapaa akun sosmedku atau blog ini lalu membaca komen mereka tentang ceritaku, sungguh, lelah itu hilang sudah. aku jadi senyum2 sendiri seperti orang gila, dan semangatku pun bangkit lagi.

Kalian benar2 penyemangatku…

“Lalu, bagaimana jikaa komennya buruk??”

Aku tidak munafik. rasa kesal dan kecewa itu pasti ada saat mendapat komentar buruk, tapi tentu saja itu menjadikanku sosok yang lebih kuat lagi, sosok yang lebih baik lagi tentunya, so, jangan segan2 berkomentar, tapi ingat, haruss dengan kata2 yang baik dan sopan.

Di wattpad sendiri, banyak sekali macam2 Readers. ada yang sangat ramah, suka vote cerita dan komen, suka nyapa2 author kesukaanya, tapi tak sedikit juga Readers yaang bianya hanya mengkritik nggak jelas tanpa memberikan saran, suka jelek2in penulis lainnya.

Come on Girls.. dunia nyata sudah sangat ruwet bin rumit, masak iyaa dunia khayalan seperti tulis menulis juga di buat ruwet kayak di dunia nyata?? kalo nggak suka, Please, silahkan di tinggalkan, gampang toh?? -Bukan hanya berlaku di ceritaku, tapi di cerita2 yang lain juga-

oke, balik pada tema dan aku nggak ngurusin wattpad lagi. aku nulis diary ini malam ini adalah karena aku sedih baca beberapa review di Google playstore. Tidak, bukan sedih karena komennya buruk, tapi aku sedih sudah mengecewakan My Lovely Readers…

Banyak dari pembaca di Playstore (Di cerita Novel dewasa The Lady Killer) yang menuntut aku untuk segera merilis seri kedua the bad boys, yaitu kisah Renno (Because its you).

Dear… sungguh, aku ingin merilisnya, untuk kalian. tapi aku minta maaf banget, karena aku sudah memutuskan jika Because its you dan My Everything TIDAK akan pernah Rilis di playstore.

Kenapa??

Cukup aku yang tau yaa… memang harusnya Because its you sudah bisa kalian download dari bulan 3 lalu, tapi dengan Egois aku menarik kembali naskahku tersebut dengan alasan yang tak perlu ku jabarkan di sini. So, aku benar-benar minta maaf bgt kalau sudah ngecewain kalian, membuat kalian menunggu sesuatu yang memang tak akan datang.

Jadi, lewat tulisanku kali ini, Aku ingin memberikan informasi. jika dari kalian yang baca diaryku ini nyatanya sedang menunggu Noveku Because its you rilis di Playstore, Please, Jangan menunggu lagi. karena sampai kapanpun Mas Renno dan Mas Ramma nggak akan pernah menyusul Kak Dhanni di Playstore. dan kalian cukup membacanya di sini. di Blog pribadi authornya secara langsung. 🙂

 

Terimakasih sudah membaca catatan Gaje ini..

BigHug

 

ZennyArieffka

 

 

Passion Of Love – Chapter 9

Comments 4 Standard

SkkmSang Kupu-Kupu Malam

 

Chapter 9

                        

Fiona merasakan matanya berat untuk terbuka, akhir-akhir ini ia memang senang sekali tidur dan bermalas-malasan, mungkin karena kehamilannya yang membuatnya cepat lelah. Untung saja Fiona hanya mual-mual biasa dan tak sampai muntah parah seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya, jadi Fiona bisa dengan gampangnya menyembunyikan kondisi kehamilanya dari orang-orang di sekitarnya.

Fiona merasakan lengan kekar yang masih memeluknya dengan posesif mulai meninggalkannya dan meraba-raba kulit halusnya. Kemudian Fiona merasakan sesuatu yang basah menyentuh lehernya, membuatnya merinding hampir saja berjingkat karena terkejut.

“Ben..” Fiona mengerang masih dengan menutup mata.

“Hemmbb…” Hanya itu balasan dari Ben.

“Aku masih ingin tidur, jangan lakukan itu lagi..”

“Aku sangat menyukai lehermu..” Ucap Ben masih dengan mengecupi leher Fiona, “Bangun pemalas… kamu mau tidur sampai kapan?” Ucapnya lagi.

“Aku masih ngantuk..”

“Sudah hampir jam 9 siang..”

Mata Fiona seketika terbuka lebar, sontak Fiona terduduk, “Apa? Kenapa kamu nggak membangunkanku?”

Ben pun ikut bangun dan duduk di sebelah Fiona. “Aku sudah membangunkanmu sejak tadi, tapi kamu terlihat kelelahan, Apa yang terjadi? apa kamu sakit? apa mau ke dokter?” Tanya Ben dengan penuh kekhawatiran.

“Ti.. Tidak.. aku baik-baik saja.” Jawab Fiona dengan tergagap-gagap.

“Apa kamu yakin?” tanya Ben lagi.

“Iya… aku akan membuatkan sarapan untukmu.” Lalu Fiona mulai berdiri dan akan bergegas ke dapur tapi kemudian tangan Ben sudah meraih pergelangan tangan Fiona dan menariknya ke dalam pelukan .

“Aku sudah membuat masakan.” Ucap Ben sambil menatap lembut pada Fiona.

“Apa? Emmm tapi… bukankah seharusnya kamu sudah berangkat kerja sekarang?”

“Mulai saat ini aku akan berangkat jam satu siang setelah mengantarmu kerja di kafe.” Ben lalu mencium kening Fiona. Dan menggosok-gosokkan hidungnya ke hidung Fiona.

“Kenapa..??” Tanya Fiona sedikit heran dengan sikap Ben

“Aku pemilik perusahaan, jadi terserah kapan saja aku masuk, semua terserah padaku.”

“Tapi…”

“Tak ada tapi, sekarang cepat mandilah dan kita sarapan..” Ben memotong kalimat Fiona. Namun sebelum Fiona bangun Ben sudah terlebih dulu menciumnya, Fiona hanya mampu terperangah menerima ciuman dari Ben. Apa Ben memberinya Morning Kiss? Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Fiona bertanya-tanya dalam hati.

***

 

Ben benar-benar sudah tak dapat mengendalikan perasaannya lagi. apa lagi saat melihat Fiona. Pagi ini Fiona terlihat sangat seksi di mata Ben, padahal Fiona baru bangun tidur dan lagi-lagi hanya mengenakan T-shrit kebesaran milik Ben. Tapi ketika Ben melihatnya, Ben tak dapat menahan Rasa untuk mencumbui Fiona tanpa henti. Apa matanya sudah rabun? Kenapa bisa jantungnya berdetak seakan mau meledak hanya karena melihat Fiona baru bangun tidur? Ben merasa jika dirinya Benar-benar sudah gila.

“Bagaimana rasanya?” Pagi ini Ben memasak pasta untuk Fiona karena Ben tau jika Fiona sangat suka dengan pasta. Tapi kelihatannya pastanya hari ini agak berbeda, Ben melihat Fiona makan sesuap lalu wanita itu hanya membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, apa ada yang salah dengan pastanya pagi ini? “Apa tidak enak?” Ben tak dapat menahan pertanyaan itu keluar dari mulutnya.

“Maafkan aku..” Fiona berdiri, kemudian lari kedalam kamar mandi. Ben akhirnya mengikuti Fiona dari belakang, dan sesampainya di kamar mandi Ben melihat Fiona memuntahkan semua pasta buatannya.

Morning Sickness

Apakah itu yang sedang di alami Fiona..? apa separah itu,,? Atau apa memang karena pasta buatannya tak enak…? Ben kemudian mendekat ke arah Fiona, ia mengusap-usap punggung Fiona dengan lembut. Fiona kini terlihat pucat, dan entah kenapa Ben tak bisa melihat wanita itu kesakitan seperti  sekarang ini.

“Apa kamu baik-baik saja? apa mau ke dokter?”  Ben bertanya pada Fiona ketika wanita itu sudah baikan.

“Tidak.. ini tidak perlu..” Ucap Fiona dengan kekeras kepalaannya.

“Kamu mau sesuatu?”

Fiona menatap Ben dengan tatapan anehnya, “Apa kamu akan menuruti semua kemauanku?” Fiona bertanya balik.

“Jika tidak macam-macam tentu saja aku akan menurutinya.” Jawab Ben sambil mengecup lembut telapak taangan Fiona. Ben memaang sangat menyukai aroma yang keluar dari kulit lembut Fiona.

“Entahlah… Aku hanya ingin sesuatu yang manis dan dingin.”

“Kamu mau jus? Akan kubuatkan.” Ben akan bergegas membuatkan Jus untuk Fiona namun Fiona menarik lengan atas Ben dengan telapak tangan mungilnya.

“Ben… bu.. bukan itu..” Ucap Fiona dengn sedikit terpatah-patah.

“Lalu?”

“Emmm.. Aku ingin.. Sesuatu yang seperti…. Ice cream..”

“Apa?” saking kagetnya Ben tak sadar jika ia sudah sedikit membentak Fiona. “Kamu ingin makan Ice Cream?”

“Aku hanya ingin memakan itu sekarang.” Fiona mulai merengek. Dan sejak kapan Fiona berani merengek padaku??

“Tapi ini masih pagi, kemana aku harus mencarinya?” Fiona melepaskan lengan Ben seketika, kemudian wanita itu berjalan menjauh.

Oh Shit..!!!, Ben melihat mata Fiona yang sedikit berkaca-kaca, wanita itu pasti akan menangis, dan Ben benci sekali melihat wanita menangis. Ada apa dengan Fiona? Kenapa wanita itu berubah menjadi semanja ini dengannya? satu-satunya yang bisa di salahkan adalah  Hormon Kehamilan. Sedikit banyak Ben pernah mendengar tentang itu.

Ben kemudian meraih tangan Fiona lalu memeluknya kembali tubuh yang terlihat rapuh itu di hadapannya. “Baiklah… akan kucarikan ice cream untukmu.” Ucap Ben dengan sedikit melembutkan nada bicaranya sambil sedikit mengecup puncak kepala Fiona.

“Benarkah..?” tanya Fiona dengan mata berbinar menatap ke arah Ben.

“Hemm..” hanya itu yang dapat di ucapkan Ben sambil menganggukan kepalanya. Sialan. Dia sudah dapat mempengaruhiku, menyuruhku, mungkin sebentar lagi aku akan jadi budaknya. Bodoh,, Lelaki dewasa yang Bodoh!!! Ben mengumpat dirinya sendiri dalam hati.

***

Senang.

Itulah yang di rasakan Fiona pagi ini. Bibir Fiona bahkan tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Kenapa? apa karena sikap Ben yang aneh pagi ini? Ya, seperti itulah… Ben bersikap sangat manis terhadapnya pagi ini, dan itu membuat Fiona begitu senang.

Sebenarnya Fiona sedikit khawatir kalau Ben akan curiga dengan keadaannya saat ini. Dimulai dengan Morning Sickness pagi ini yang sukses membuat Ben menyebut kata ‘Dokter’dan membuat dirinya gelisah setengah mati. Fiona benar-benar belum siap memberi tahu Ben tentang kehamilannya saat ini.

Belum lagi masalah Hormon Kehamilan yang makin hari makin sulit untuk Fiona kendalikan. Jujur saja, Fiona bukan seorang penggila Ice Cream, tapi sejak beberapa minggu yang lalu Fiona mulai ingin memakannya kapanpun, dimanapun dirinya berada. Apa ini keinginan dari bayinya? Entah lah..

Fiona kini juga sangat ingin selalu bermesra-mesraan dengan Ben, untung saja pada dasarnya Benlah yang mengajaknya bermesraan terlebih dahulu sehingga Fiona dapat menutupi keinginannya untuk menyentuh Ben penuh dengan hasrat.

Kebiasaan buruk yang terakhir saat Fiona hamil adalah setiap malam ia sangat ingin memcium telapak tangan Ben dan menaruh telapak tangaan besar itu di pipinya, Fiona akan susah untuk tidur bahkan bermimpi buruk jika ia tak melakukan itu. Jadi sebisa mungkin Fiona melakukan kebiasaan buruknya itu saat Ben sudah tidur terlelap.

Fiona tak tau apa yang akan ia lakukan jika Ben sudah bosan terhadapnya dan akan meninggalkannya suatu hari nanti. Memikirkannya saja membuat Fiona ingin menangis. Dan astaga… satu lagi pengaruh buruk dari “Hormon Kehamilan”  yang kini ia rasakan adalah, Fiona sangat mudah sekali menangis. Emosinya jadi semakin labil. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, Fiona pasti akan berkaca-kaca dan langsung menangis. Sungguh kekanak-kanakan.

Tiba-tiba Fiona mendengar bunyi bel dari pintu depan, apakah itu Ben yang sudah pulang dari mencari ice crem? Lalu kenapa dia tidak langsung masuk? Fiona kemudian membuka pintu tanpa melihat pada layar siapa yang berada di depan pintu. Setelah Fiona membuka pintu terebut, Fiona sedikit heran karena yang ia lihat adalah seorang wanita paruh baya yang cantik dan rapi sedang memandanginya dengan tatapan menyelidiki.

Reflek Fiona menganggukkan kepalanya dengan sopan sambil berkata “Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Fiona pada wanita itu. tapi wanita paruh baya tersbut masih saja memandanginya dengan tatapan yang tak biasa, dan itu membuat Fiona sedikit resah. apa ada yang salah dengan pakaian yang ia kenakan? Dan Fiona baru sadar jika kini ia hanya mengenakan T-shirt lengan panjang kebesaran milik Ben yang panjangnya mencapai lututnya, dengan bawahan sebuah hotpant  yang tentunya tertutup T-shirt terebut dan membuat Fiona terlihat tak mengenakan bawahan apapun.

Sejak hamil, Fiona memang suka sekali menghirup aroma tubuh Ben -kecuali parfum yang biasa dia kenakan kekantor- jadi Fiona sering mengenakan kaos T-shirt kebesaran milik Ben. Itu membuatnya nyaman, lagi pula, Ben juga tak marah saat ia mengenakan baju-baju tersebut..

“Apa Kau tinggal di sini?” wanita itu berbalik bertanya.

“I.. Iya.. saya..”

“Apa Ben ada di rumah?” wanita itu memotong jawaban Fiona.

“Emm.. dia sedang keluar sebentar.”

Lalu tiba-tiba wanita itu menyerobot masuk kedalam, Fiona hanya bisa melihatnya dengan heran. Siapa Wanita itu? apa dia orang Ibu dari Ben..?

Lalu tiba-tiba dia menuju ke kamar Ben–kamar mereka berdua-. Membukanya dan melihat seluruh isinya.

“Apa kalian tidur bersama?” Wanita itu bertanya sambil menatap tajam ke araah Fiona. Dan kini Fiona tau jika orang di hadapannya tersebut adalah ibu dari Ben

“Emmm… kami.. kami…” Fiona tak tau harus bagaimana menjelaskan pada wanita tersebut.

“Apa Kau tau kalau  Ben sudah bertunangan, dan dia akan menikah dalam waktu dekat? Berhenti menggoda anak saya.” perkataan itu membuat Fiona ternganga. Fiona merasa seperti ada belati yang menusuk tepat di jantungnya. Matanya kini terasa pedih. Dan ia kini sudah berkaca-kaca.

“Emm… saya.. saya..” suara Fiona bergetar, dan Fiona sepertinya akan menangis saat ini juga.

“Toko ice cream belum buka, jadi Aku hanya membelikanmu ice cream biasa di supermarket, kuharap ini…” Ben datang, dan ia tak bisa melanjutkan kata-katanya saat melihat Fiona dan ibunya diam membatu di depan kamar mereka. “Ibu? apa yang ibu lakukan di sini?” Ben bertanya sedikit tersendat-sendat. Ben lalu menatap ke arah Fiona dan Fiona hanya mampu menundukkan kepalanya.

“Aku hanya mencari anakku, kenapa jam segini dia belum ada di kantor seperti biasanya.” Ucap Wulan dengan nada sinis menyindirnya.

“Ibu, aku berangkat siang.”

“Kenapa? Apa karena wanita ini?”

“Dia tidak ada hubungannya dengan masalahku ibu..” Ben berusaha untuk membela Fiona. Dan Fiona tau, semarah apapun,  dari cara bicaranya, Ben sangat menghormati orang tuanya.

“Kemarilah, aku ingin berbicara denganmu.” Kata ibu Ben, lalu mengajak Ben duduk.

Sedangkan Fiona lebih memilih meninggalkan keduanya menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk ibu Ben. Dan lagi-lagi Fiona menangis di sana. Ben akan menikah,,? Lalu apa yang harus ia lakukan nanti? Apa ia dapat hidup tanpa kehadiran lelaki tersebut nantinya??

***

 

“Apa yang terjadi padamu nak?” Wulan membelai lembut punggung Ben. “Bicaralah pada ibu” Lanjutnya.

“Ibu? Apa yang Ibu lakukan di sini?” Ben kembali menanyakan pertanyaan yang sama seperti pertanyaannya tadi.

“Sejak pulang dari sini, Sheila tak mau keluar dari kamarnya, Amel berkata semua itu karena Sheila melihatmu bermesraan dengan wanita lain. Apa dia wanita yang di maksud Amel? Apa kalian tinggal bersama?” Wulan menodong puteranya tersebut dengan berbagai macam pertanyaan yang mengganggu di benaknya.

“Fiona, namanya Fiona, Bu.”

“Aku tak peduli siapa namanya. Aku hanya ingin tau kebenarannya.” Wulan mendesak.

“Iya.. kami tinggal bersama.” Akhirnya mau tak mau Ben mengakui kebenarannya.

“Ben. Apa kamu sadar jika yang  kamu lakukan ini salah.? Kamu akan menikahi Sheila, dalam waktu dekat, Jadi kamu harus meninggalkan wanita itu..”  Dan kini Wulan sudah mulai marah denga puteranya tersebut.

“Tidak Bu, Ibu bisa memaksaku menikah dengan siapapun, tapi tidak dengan Sheila.” Jawab Ben dengan rahang yang sudah mengeras.

“Sebenarnya Apa yang terjadi denganmu? Sejak  lima tahun yang lalu kamu sudah berubah menjadi lebih tertutup, dan kamu sama sekali tak mau di sangkut pautkan dengan Sheila lagi, apa yang terjadi Ben..??” Ibunya bingung.

Yahh… sebenarnya Ben tak pernah menceritakan kejadian lima tahun yang lalu dengan siapapun. Bahkan Sheila sendiripun tak tau jika Ben sudah mengetahui belangnya saat wanita itu tinggal di New York.  Jadi tingkah laku Ben yang berubah membuat keluarganya bingung, mengapa Ben jadi seperti itu, berubah menjadi dingin dan jarang sekali kumpul bersama keluarga apalagi setelah tinggal sendiri di apartemennyaa.

“Ibu.. aku sudah tak ada hubungan apapun dengan Sheila. Jadi tolong hormati keputusanku.”

“Kenapa..? apa ini ada hubungannya dengan wanita penggoda itu..?”

“Fiona.. Sekali lagi namanya Fiona, dan dia bukan waanita penggoda” Ben Meralat ucapan ibunya.

“Terserah siapa itu.” Wulan sudah mulai jengkel dengan sikap yang di tunjukkan Ben. Dan pada saat itu Fiona datang membawakan minuman untuk Ben dan ibunya. “Sebenarnya apa hubunganmu dengan putraku..?” Wulan akhirnya tak kuasa untuk menahan pertanyaan yang sejak tadi menari-nari di kepalanya.

“Kami… emm.. kami…” lagi-lagi Fiona tak dapat menjawab pertanyaan dari ibu Ben.

“Dia teman kencanku.” Jawab Ben yang kini  sudah mulai jengkel dengan keberadaan ibunya.

“Terserah apa katamu, yang penting Kau tetap akan menikah dengan Sheila.” Ucap Wulan tanpa mau di bantah sedikitpun. Lalu ia berjalan menuju pintu untuk keluar meninggalkan Ben dan juga Fiona.

Ben hanya terdiam, tapi Fiona kemudian ikut berlari menyusul Wulan. “Ibu… Ibu.. tunggu…” Panggil Fiona. Dan saat mereka ssudah di luar pintu apartemen Ben, langkah Wulan terhenti kemudian membalikkan tubuhnya dan mendapati Fiona yang sudah menyusulnya.

“Apa yang kau lakukan?” Ucap Wulan dengan nada ketusnya paada Fiona saat menyadari jika Fiona mengikutinya.

“Maafkan kami Bu.. kami tak bermaksud…”

“Saya tau” Potong Wulan. Kemudian Wulan mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dalam tasnya kemudian menuiskan ssesuatu di sana. “Sabtu Sore, temui saya di sini.” Ucapnya sambil memberi Fiona kertas tersebut.

“Saya??” Ucap Fiona sambil menerima kertas tersebut.

“Ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap Wulan lagi masih dengan nada yang di buat seketus mungkin.

“Baa.. baik Bu..” hanya itu yang bisa di katakana Fiona.

Wulan kemudian meninggaalkan Fiona yang masih membatu menatap kepergiannya tak jauh dari pintu apaartemen Ben. Tak lama, Fiona memutukan untuk kembali masuk ke dalam apartemen Ben. Tapi sesampainya di dalam, Fiona mendapatkan tatapan tajam membunuh dari seorang Benny Andrean.

“Apa yang kamu bicarakan dengannya?” Desis Ben dengan raahang yang sudah mengeras. Fiona tau jika Ben kini sedang marah.

“Tidak… aku hanya..”

“Perlu kamu ingat, kamu nggak perlu memiliki urusan apapun dengan keluargaku.” Ben Memotong kalimat Fiona.

“Ben…”

“Fiona. Harunya kamu sadar dengan posisimu.” Ucap Ben dengan spontan karena kemarahan yang sudah mengakar di kepalanya.

Fiona menatap Ben dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, seakan ada sesuaatu yaang tersendat di tenggorokannya.

“Aku tau Ben, Aku tau siapa Aku.” Ucap Fiona kemudian.

Tentu Fiona tau, bukankah ia hanya sebuah alat untuk memuaskan lelaki tersebut? Astaga.. bagaimana mungkin Fiona bisa lupa diri jika dirinya hanyalah seorang pelacur murahan yang beruntung karena di pungut Ben dari tempat terkutuk tersebut. mengingat itu, ada Fiona kembali sesak.

Ben menghela napas panjang, ia tau jika ia salah bicara. Tapi bagaaimana lagi, ia cukup kesal dengan semua masalah dengan Sheila, ibunya, ataupun dengan Fiona. Dan Ben tak ingin jika Fiona terlibat dalam masalahnya dan juga keluarganya.

“Aku tak ingin berdebat denganmu.” Lalu Ben pergi masuk kedalam kamar begitu saja dan meninggalkan Fiona sendirian terpaku menatap keperginnya.

***

Sorenya…

“APA?? apa katamu?” hampir saja Marsha menyemburkan minumannya Saat ia tau apa yang dikatakan Fiona sore itu di kafe tempat Fiona bekerja.

“Iyaa,,, Aku Hamil.” Dan akhirnya Fiona benaar-benar mengaku pada Marsha.

“Apa kamu sudah gila? Kenapa bisa sampai hamil?? Apa Ben sudah tau keadaanmu??” tanyanya lagi.

Fiona menggeleng. “Dia tidak tahu, dan aku tak berniat memberi tahunya.”

“Apa???” dan Marsha pun berteriak dengan kagetnya.

“Kak… apa tidak bisa kak Marsha tenang dan tidak berteriak-teriak seperti ini…?”

“Apa kamu benar-benar sudah gila..? Dasar gadis bodoh!! harusnya kamu memberi tahu keadaanmu pada Ben.”

“Tidak.. tidak akan..”

“Hei…”

“Kak. Ben tidak akan suka, mungkin dia akan menyuruhku untuk menggugurkan bayi ini, atau lebih buruk lagi, dia akan meninggalkanku seperti…..” Fiona menggantung kalimatnya karena tak ingin mengingatkan kejadian pahit yang menimpa Marsha saat di tinggal pergi keksihnya sat marsha hamil.

“Fiona, Aku tau jika Ben tidak sebrengsek itu.”

Fiona menggelengkan keplanyaa cepat. “Kita tidak mengenalnya kak, kita tak tau apaa yang pernah terjadi padanya, jadi jangan menyimpulkan sesuatu yang belum kita ketahui pastinya.”

“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Cepat atau lambat dia akan tau keadaanmu?”

“Entah lah kak… aku hanya berharap dia mau melepaskanku dalam waktu dekat ini.”

“Apa kamu siap berpisah dengannya.?” Tanya Marsha penuh selidik.

“Aku… Aku tak tau… tapi untuk saat ini aku benar-benar tak bisa jauh darinya, dia sudah berubah.” Jawab Fiona sambil menundukkan kepalanya.

“Kamu cinta sama Ben?” tanya Marsha dengan hati-hati.

Tiba-tiba Fiona menangis sesenggukan. “Aku rasa begitu kak…”

“Astaga..” lalu Marsha memeluk Fiona dan menepuk-nepuk punggung Fiona. “Tak apa-apa.. Mencintai orang tidaklah salah. Kamu tidak bersalah..” ucapnya lagi menenangkan Fiona.

Sedangkan Fiona hanya bisa menggangguk pasrah. “Aku harus bagaimana?? Aku harus bagaimana kak..??” Tanyanya lagi masih dengan sesenggukan. Marsha sendiri hanya mampu diam membatu, karena ia juga bingung dan tak tau apa yang harus di lakukan Fiona selanjutnya.

 

-To Be Continue-