Tentang The Bad Girl Series (Coming soon)

Comments 3 Standard

bbh-1The Bad Girl Series

Haiii semuanya…

nahhh malam ini aku mau ngasih sedikit kabar nihh.. huehehehe nggak penting2 amat sih… yaa ini cuma tentang cerita apa selanjutnya yang akan ku update di dunia kecilku ini.. huehehehe

yuupppss langsung aja… setelah sukses dengan The Bad Boys series, Hurt Love series, The soulmate Series, dan terakhir MBA series.. maka… aku akan meluncurkan serial terbaru.. yaitu…. The Bad Girl series…. Yeaayyy…

pasti ada yang tanya, apa sih bedanya seri ini dengan seri sebelumnya???

nahhh bedanya adalah, seri ini sama sekali nggak terkait satu sama lain dengan cerita satu serinya… jika bad boys, Hurt love, the soulmate, dan MBA saling terkait di setiap cerita satu dengan cerita selanjutnya, maka bad Girl ini ceritanya akan benar2 beda.. Hanya saja dalam segi Tema yang hampir sama yaa….

kalian bingung?? huehehhe oke, langsung aja aku jelasin… Bad Girls Series ini sebenarnya bukan rencana aku untuk membuat seri ini… setelah MBA series selesei, maunya sih aku bikin cerita satuan aja, tapi nyatanya ada sesuatu yang menggelitikku untuk membuat Seri ini…

Nahh seri ini sendiri sebenarnya Baru terdiri dari dua judul, masih Baru lohh yaa.. jadi kemungkinan akan ada judul selanjutnya… nahh dia judul tersebut sebenernya adalah judul2 yang ku siapkan buat cerita side story Novelku sebelumnya… pasti pada tau kan?? Yuupppsss.. dua cerita tersebut adalah…. Friend With Benefit (Yogie Elena story)  dan  My Bodyguard (Fandy Eva story)… Semoga kalian masih ingat dengan tokoh2 tersebut yaa… huehehhehe kenapa cerita mereka masuk satu seri Bad Girls??

Jawabannya karena suka2 saya dongg.. hahahahhaah #Plakkk

hahhahah enggak.. enggak… aku becanda… jawabannya karena tema cerita mereka sedikit mirip. yaa.. mirip… mirip darimana sih Thor??? yaudinnn dari pada penasaran.. yukkss cap cus sama sinopnya yaakkkk…

The Bad Girls Series #1

Friend with Benefit – Yogie&Elena story…

0001

Sinopsis :

Elena Pradipta adalah gadis tercantik dan terpopuler di sekolahnya, banyak mata murid lelaki yang selalu mengagumi setiap gerak gerik dari Elena, tak terkecuali Yogie Pratama. tapi sayangnya, Hati Elena hanya terpaut pada seorang Aaron Revaldi, sahabat dari Yogie. dan akhirnya Yogie hanya mampu memendam perasaannya dan melupakan Elena, apalagi kenyataan jika Elena jauh dalam jangkauannya dari segi manapun. Beberapa tahun kemudian, keduanya di pertemukan kembali dalam keadaan yang sudah berbeda, saat itu Yogie sedang patah hati karena di tolak oleh wanita yang sangat di cintainya, sedangkan Elena saat itu sudah menjelma menjadi wanita bebas mengingat pergaulannya di luar negeri yang mau tak mau merubah gaya hidupnya. Seks semalampun akhirnya tak terhindarkan, hingga kemudian keduanya  memutuskan kembali berteman dan saling memanfaatkan dalam hal Seks.

Elena sama sekali tak menginginkan Yogie menjadi kekasihnyaa, karena baginya, Yogie hanya sebaagai alat pemuas nafsunya belaka, tentu saja karena selain Yogie bukanlah Tipenya, hati Elena yang masih terpaut dengan Aaron pun menjadi alasan kenapa Elena tak ingin menerima Yogie, hingga kemudian suatu kenyataan membuat Elena mau tak mau harus mengambil keputusan, Selalu berada di sisi Yogie, atau pergi dari kehidupan lelaki tersebut dengan seorang bayi yang di kandungnya…

The Bad Girls Series #2

My Bodyguard

mybodyguard

Sinopsis :

Evelyn, Biasa di panggil Eva, adalah gadis cantik nan ceria yang memiliki Hobby bergonta-ganti pasangan alias Play girl. Suatu hari ia bertemu dengan Afandy, Seorang pengawal yang di tugaskan untuk mengawal sahabatnya yang bernama Sienna. Fandy yang selalu menampilkan sikap Kakunya membuat Eva merasa tertantang untuk menakhlukkan hati lelaki tersebut. berbagai macam cara Evaa lakukan untuk membuat Fandy tunduk di hadapannya seperti lelaki lain yang dengan gampannya ia tundukkan, hingga Eva meminta lelaki tersebut menjadi pengawalnya. Tapi nyatanya, kenyataan yang Eva dapatkan tak seindah yang ia harapkan. saat benih-benih cinta itu benar-benar hadir di hatinya, Eva menyadari jika nyatanya Fandy hanya menganggapnya tak lebih dari seorang yang memperkerjakan lelaki tersebut, terlebih lagi Eva tahu jika Fandy menyukai sahabatnya sendiri, siapa lagi jika bukan Sienna. lalu bagaimana selanjutnya?? apa Eva akan melanjutkan aksinya untuk menggoda Fandy dan membuat lelaki tersebut tunduk padanya?? atau Eva malah akan pergi karena mengalah dengan keadaan???

Nahh di atas adalah sinopsis2 The Bad Girl series..  baru dua judul yaa.. bisa nambah, tapi aku nggak yakin sih… Untuk sinopnya juga bisa berubah, soalnya kan aku baru bikin kerangka cerita doang, belum Full nulis, jadi nanti kalo misalnya di tengah jalan ada ide yang menurut aku lebih kece, maka nggak ada salahnya di rubah kan?? huehhehehheh Okay, cukup itu aja dari aku.. semoga kalian masih mau menunggu cerita2 ku yang lain yaa…

KissHug

Zenny Arieffka

Advertisements

My Beloved Man – Chapter 6

Comments 3 Standard

001mbmMy Beloved Man

Sebelumnya aku minta maaf karena judul My Brother kini aku rubah jadi My Beloved Man, kataknya aku lebih nyaman aja  dengan judul ini.. huehhehe okay langsung aja yaa…

“Aku nggak berpikir kamu hamil. Aku hanya melihat tubuhmu yang semakin kurus, wajahmu yang pucat, aku nggak mau kamu sakit. Ini nggak ada hubungannya antara kamu hamil atau tidak.” Raka terdiam sebentar, kemudian ia menatap Felly dengan tatapan penuh selidiknya. “Atau jangan-jangan, kamu memang sedang hamil?”

Felly membulatkan matanya seketika. Bagaimana mungkin Raka dapat menebak dengan benar apa yang terjadi dengannya? Dari mana Raka tau tentang keadaannya yang kini sedang berbadan dua? Apa Raka memang dapat merasakan jika saat ini ada bagian dari diri lelaki itu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya?? Dengan spontan Felly menangkup perutnya dengan kedua telapak tangannya. Sialnya hal itu tak luput dari pandangan Raka. Astaga.. apa yang harus ia lakukan selanjutnya??

***

Chapter 6

 

Raka menghentikan mobil yang di kendarainya seketika. Wajahnya tampak mengeras menatap ke arah Felly. Sesekali matanya melirik ke arah telapak tangan Felly yang masih menangkup perutnya sendiri.

“Kenapa? Apa benar apa yang ku katakana tadi?” Tanya Raka penuh selidik.

“Emm.. Kak Raka ngomong apa sih?”

“Jangan bohong Fell.”

“Aku nggak bohong, dan aku nggak sedang hamil.”

“Tapi kenapa kamu terlihat gugup?”

“Aku nggak gugup.”

“Ya, kamu gugup, sekarang wajahmu bahkan sudah memerah seperti tomat.”

Felly mempalingkan wajahnya ke samping. Ia memilih menatap ke arah luar jendela daripada harus menataap tatapan tajam mata Raka.

“Aku nggak gugup, jadi sudahlah, lupakan semuanya.” Ucap Felly kemudian. “Dan aku nggak hamil.” Lanjutnya lagi sedikit lebih pelan.

Raka menghela napas panjang. Frustasi? Tentu saja. Ia benar-benar ingin melihat Felly hamil dan ia segera menikahi wanita yang kini duduk di sebelahnya itu. Apa takdir berkata lain? Apa memang Felly bukanlah jodohnya??

***

Felly menuangkan saus cokelat pada sebuah cup ice cream dengan tatapan mata kosongnya. Pikirannya kini sedang tidak berada di sini. Ada sesuatu hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi pagi, Ya, apa lagi jika bukan Raka dan bayi lelaki tersebut yang kini sedang tumbuh dalam rahimnya? Mengingat itu, dengan spontan Felly mendaratkan telapak tangannya pada perut datarnya.

“Apa yang terjadi? Kamu sakit?” Tanya sosok wanita manja yang menghampiri Felly karena melihat Felly yang sedikit aneh hari ini. Wanita itu adalah Sienna, istri dari kakak sepupunya, Aldo.

“Ahh.. enggak, aku nggak apa-apa kok.”

“Ice creamku kebanyakan saus coklatnya tau… kamu mau melihatku gendut dengan memakan saus cokelat sebanyak itu?” Tanya Sienna sambil menunjukkan ke arah Cup Ice Cream yang sedang di siapkan oleh Felly.

“Astaga.. aku minta maaf, aku nggak lihat tadi.”

“Ya, karena kamu sibuk dengan lamunanmu.” Gerutu Sienna. Felly tersenyum kemudian mencubit gemas pipi Sienna. “Hentikan Felly, kamu sekarang seperti Bianca saja yang selalu memperlakukanku seperti anak kecil yang menggemaskan, padahal aku kan kakak kalian.” Sienna kembali menggerutu.

“Tapi bagiku dan Bianca, kamu adalah adik kecil kami Si..”

“Dasar, kalian benar-benar..”

“Gimana? Kamu sudah memutuskan akan mengambil jurusan apa saat melanjutkan ke perguruan tinggi nanti?”

Sienna menganggukkan kepalanya. “Ya, aku masih ingin menjadi guru dan dekat dengan anak-anak kecil yang lucu-lucu.” Ucap Sienna dengan senyuman lebarnya.

“Apa dekat dengan anak kecil membuatmu nyaman?”

Sienna menganggukkaan kepalanya cepat. “Aku merindukan masa-masa itu Fell, masa-masa di mana ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perutku, dan itu membuatku sedikit geli.” Ucap Sienna sembari tersenyum.

Felly benar-benar takjub menatap wanita di hadapannya tersebut. Wanita mungil yang usianya jauh lebih muda dari pada dirinya. Tapi wanita itu terlihat sangat kuat dan tegar menghadapi cobaan demi cobaan yang menimpanya.

“Kamu akan bisa merasakannya nanti Fell, saat ada sesuatu yang tumbuh di dalam rahim kamu, sesuatu yang setiap harinya akan membuatmu semakin kuat, sesuatu yang selalu membuatmu tersenyum di tengah apapun masalah yang sedang kamu alami.”

“Apa.. Kamu pernah menyesal mengandung dia?” Tanya Felly dengan hati-hati.

Sienna menggelengkan kepalanya cepat. “Aku nggak pernah menyesal mengandung Alika. Dia bukanlah kesalahan seperti yang pernah di katakana Kak Aldo dulu, yang salah adalah perbuatan kami malam itu. Dan yang membuatku menyesal adalah, saat aku nggak bisa menjaganya selalu di sisiku. Hanya itu.”

“Ya, aku bisa lihat itu dari mata kamu atau Kak Aldo. Dia selalu berwajah sendu saat mengingat tentang Alika.”

Sienna kembali tersenyum. “Dan dia juga menjadi lelaki cengeng saat mengingat calon bayi kami itu..”

Felly terkikik pelan. “Jadi.. kalian nggak melakukan progam hamil lagi?”

“Dokter sudah memperbolehkanku melakukan progam hamil, tapi ku pikir, aku ingin mendapatkan bayi ketika memang di berikan, aku masih merasa jika aku belum pantan menjadi orang tua yang baik Fell.”

“Si… Kamu ibu yang luar biasa. Jika aku di posisi kamu, aku nggak akan mungkin bisa sekuat kamu.”

Sienna tersenyum lebar kemudian menepuk bahu Felly. “Maka dari itu, janganlah sampai seperti aku. Menikahlah dulu, baru hamil, dan setelah hamil, sayangi dia sepenuh hatimu sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanmu. Karena kamu nggak akan tau bagaimana rasa penyesalan yang ku rasakan dan di rasakan oleh Kak Aldo ketika kami kehilangan Alika.”

Dengan spontan Felly kembali mendaratkan telapak tangannya pada perut datarnya. Perkataan Sienna benar-benar menyentuh hatinya. ‘Sayangi dia sepenuh hatimu, sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanmu..’

Tidak!!! Ia tidak boleh merasakan apa yang sudah di rasakan oleh Sienna dan juga Aldo. Dengan cepat Felly membalikkan badannya kemudian menyambar jaketnya yang berada di gantungan yang di sediakan.

“Kenapa Fell?” Tanya Sienna dengan sedikit heran.

“Aku harus pergi.”

“Kemana?”

“Pokoknya ada hal penting yang harus ku lakukan.” Ucap Felly sembari membenarkan tatanan rambutnya.

“Lalu, aku dan Bianca gimana?” Sienna menunjuk ke arah Bianca yang masih asik duduk sambil memainkan ponselnya. “Toko kamu gimana? Kalau kak Jason atau kak Raka ke sini gimana?” Tanya Sienna lagi dengan nada cerewetnya.

Felly tersenyum ke arah Sienna. “Kamu dan Bianca bisa tetap di sini sampai kapan pun, bahkan tidur di sini pun aku persilahkan, Jason nggak akan ke sini, karena dia manggung di luar kota, Kak Raka pun nggak akan ke sini, karena tadi aku berbohong padanya kalau aku akan makan siang dengan Jason, sedangkan Tokonya, bisa di tutup mereka saat waktu tutup nanti.” Jawab Felly sambil menunjuk empat pegawai tokonya yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Memangnya kamu mau ke mana?”

“Kamu nggak perlu tau. Oke, aku pergi Si…” Ucap Felly sambil menuju ke arah pintu keluar. “Bee, aku pergi dulu..” Felly juga berpamitan pada Bianca, tapi Bianca lebih memilih menganggukkan kepalanya tapi tetap menatap ke arah ponsel yang sedang di mainkannya.

***

Siang itu juga Felly menuju ke tempat Dokter spesialis kandungan. Sebenarnya tadi ia ingin menemui Raka, lalu mengabarkan kabar kehamilannya pada lelaki tersebut, hingga mereka bisa memerikasakannya bersama-sama. Tapi Felly masih tak yakin dengan keadaannya. Akhirnya ia memutuskan untuk ke Dokter spesialis kandungan terlebih dahului sebelum memberitahukan kabar kehamilannya pada Raka.

Kini, ia sudah duduk di dalam sebuah taksi dengan menatap foto hitam putih yang berada di tangannya. Itu adalah foto hasil USG yang baru saja ia lakukan tadi. Menurut perhitungan dokter, usia bayinya kini sudah menginjak sebelas minggu, dan astaga.. Felly sama sekali tidak merasakan apapun yang umumnya di rasakan oleh ibu hamil, seperti mual muntah atau yang lainnnya.

Felly tersenyum, kemudian telapak tangannya kembali meraba perut datarnya. ‘Apa benar kamu sedang tumbuh di sana? Apa kamu ingin ayahmu tau? Jika iya, kita akan memberitahunya siang ini juga.’ Bisik Felly dalam hati. Entah kenapa seperti ada sebuah kekuatan dari dalam dirinya untuk menghadapi apapun reaksi dari Raka nanti.

Tak lama, sampailah ia di kantor milik Papanya. Raka pasti ada di dalam. Mengingat saat ini jam makan siang sudah usai. Dengan semangat Felly masuk ke dalam kantor tersebut. Menuju ke meja resepsionist dan menanyakan keberadaan Raka. Tapi belum sempat Felly membuka mulutnya untuk bertanya, tiba-tiba terdengar suara berisik dari dalam. Felly mengedarkan pandangannya ke arah tersebut, dan tampaklah sosok Raka yang sedang sibuk menggendong seorang wanita dengan beberapa karyawan mengerumuninya.

Felly tercengang mendapati pemandangan tersebut. Raka tampak khawatir, dan entah kenapa itu membuat Felly tak suka.

Wanita penjaga meja resepsionis itu memanggil seorang karyawan wanita yang tadi ikut mengerumuni Raka untuk menanyakan apa yang terjadi, sedangkan Felly memilih diam dan berdiri di sana mendengarkan penjelasan seorang karyawan wanita tersebut.

“Apa yang terjadi?”

“Itu, si Kirana pingsan di ruang Pak Raka.” Jawab pegawai wanita itu dengan nada sinisnya.

“Lah, kok bisa?”

“Nggak tau tuh gimana kejadian sebenernya, tapi kan memang si Kirana sering makan siang bersama dengan Pak Raka di ruangannya, mungkin saja saat itu mereka sedang makan bareng, atau ngapain gitu sampai pingsan, hahaha.” Ucap si pegawai wanita tersebut sambil tertawa lebar.

Dan pernyataan wanita tersebut entah kenapa membuat dada Felly terasa sesak. Felly meremas ujung baju yang di kenakannya. Rasa sakit memendam cinta untuk orang yang tak pernah mencintainya itu kembali muncul. Rasa sakit yang seakan tak berkesudahan.

“Mbak, embak tadi mau cari siapa?” pertanyaan resepsionist tersebut membuat Felly kembali sadar dari lamunannya.

“Ahh.. saya mau ketemu Pak Revan.”

“Pak Revan? Pak Revano maksudnya?”

“Iya.”

“Ada perlu apa mbak?”

“Saya puterinya.”

“Astaga.. Jadi ini mbak Felly.. Ya ampun.. Maaf mbak, saya tidak tau, saya baru di sini, jadi saya belum ketemu mbak sebelumnya.”

Felly tersenyum karena merasa tak enak. “Iya, nggak apa-apa.”

“Mari Mbak, saya antar.” Felly mengangguk, dan akhirnya ia mengikuti si resepsionist tersebut menuju ke ruang kerja ayahnya.

***

Raka mengamati wajah pucat Kirana. Dokter berkata jika Kirana hanya lemas karena dan maghnya kambuh, dan entah kenapa Raka merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Kirana saat ini.

Tadi memang Kirana sudah mengajaknya makan siang bersama. Tapi karena tidak nafsu makan, maka Raka menolak dengan halus dengan memberi alasan bahwa ia memiliki banyak pekerjaan. Tapi bukannya pergi dan makan siang sendiri, Kirana malah menunggunya. Dan ketika mereka akan beranjak makan siang, tiba-tiba Kirana jatuh pingsan.

Raka menatap tajam ke arah Kirana ketika wanita itu mulai membuka matanya.

“Ka…” panggil Kirana dengan suara lemahnya.

“Hemm.”

“Aku… Aku kenapa?”

“Kamu pingsan, kamu belum makan sejak pagi tadi?” Tanya Raka secara langsung tanpa banyak basa-basi lagi.

Kirana menganggukkan kepalanya lemah.

“Kenapa? Kamu diet?”

Kirana sedikit tersenyum. “Aku nggak sempat makan, karena aku nyiapin makan siang untuk kita.”

Raka menghela napas panjang. “Ki.. Belum tentu aku bisa makan siang denganmu, jadi berhenti menyiapkan makan siang untukku.”

“Tapi aku ingin menyiapkannya Ka..”

“Maaf, kita nggak bisa selalu seperti ini, aku akan menikah dengan Felly, jadi berhenti bersikap seperti ini.” Ucap Raka dengan sedikit lebih tegas. Raka kemudian berdiri dan bersiap meninggalkan Kirana.

“Ka…” panggil Kirana sambil menggenggam pergelangan tangan Raka. “Kita masih berteman kan?”

Raka terdiam sebentar kemudian menganggukkan kepalanya. “Ya, hanya berteman, dan nggak lebih.”

Kirana menganggukkan kepalanya. Kirana merasa sangat kecewa dengan apa yang di katakan Raka. Tapi bagaimana lagi, ia tak akan memaksakan kehendaknya pada Raka. Di lepaskannya pergelangan tangan Raka yang tadi di cekalnya, lalu Kirana membiarkan Raka pergi meninggalkannya, pergi selamanya dari genggaman tangannya. Bisakah ia melakukannya???

***

Felly sedang sibuk memainkan ponsel yang berada di tangannya. Pikirannya melayang entah kemana. Perkataan dua karyawan wanita tadi serta pemandangan Raka yang menggendong Kirana dengan raut wajah khawatirnya benar-benar mengusik pikiran Felly. Dan untuk pertama kalinya Felly merasa mual setelah memikirkan hal-hal yang mungkin saja terjadi di antara Raka dan Kirana.

“Jadi.. Kamu benar-benar mau pergi?” Tanya Revan yang baru saja menyelesaikan panggilannya pada seorang kliennya.

Tadi Felly sudah memutuskan jika ia akan pergi meninggalkan semuanya. Mengungsi di rumah neneknya yang tinggal di daerah puncak. Mungkin sementara waktu sembunyi di sana hingga melahirkan adalah solusi yang baik untuk menghindari pernikahannya dengan Raka.

Jika ia sudah melahirkan, maka Raka tak akan menuntut untuk menikah dengannya dengan alasan tanggung jawab. Jika Raka ingin tanggung jawab, maka Raka hanya perlu tangung jawab terhadap anaknya kelak, begitulah pemikiran Felly saat itu hingga ia memberanikan diri bicara dengan ayahnya untuk pindah ke puncak.

“Ya Pa.. Aku mau pindah.”

“Kenapa tiba-tiba? Kamu ada masalah dengan Raka?” Tanya Revan sembari menyipitkan matanya pada puteri semata wayangnya tersebut.

“Enggak, ini nggak ada hubungannya dengan Kak Raka.”

“Lalu?”

“Aku sumpek dengan kehidupan ibu kota, aku ingin menyendiri sementara waktu.”

“Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian nanti?”

“Pa, aku nggak akan menikah dengan Kak Raka.”

“Sayang, Raka hanya berusaha memberi yang terbaik untuk kamu..”

“Tapi aku nggak mau. Dia tidak mencintaiku, begitupun sebaliknya. Jadi sampai kapanpun aku nggak akan menikah dengannya.”

“Lalu toko kamu?”

“Aku tetap akan memantaunya Pa..”

Revan menghela napas panjang. “Papa belum bisa mengijinkan, kita akan bicarakan nanti di rumah.”

Felly mendengus kesal.

Tidak Bisa!!! Ia tidak bisa menunggu terlalu lama, kemungkinan Raka mengetahui keadaannya akan semakin besar jika ia terlalu lama berada di sekitar lelaki tersebut.

“Kalau gitu aku pulang dulu Pa..”

Setelah berpamitan dengan ayahnya, dengan langkah sedikit lemas Felly keluar dari ruangan Ayahnya. Tapi baru saja ia membuka pintu ruangan tersebut, Felly terkejut dengan sosok tinggi yang sudah berdiri di balik pintu yang ia buka. Sosok yang sejak tadi berada di dalam pikiranya. Siapa lagi jika bukan Araka Andriano.

“Felly..” Ucap Raka dengan spontan.

“Hai..” Ucap Felly dengan sedikit salah tingkah.

“Kamu kok di sini? Bukannya tadi pagi kamu bilang ada acara dengan Jason?”

“Emm… Acaranya batal, aku hanya ada perlu dengan Papa.”

“Lalu sekarang?”

“Emm.. aku mau pulang.”

“Kakak antar ya..” Tawar Raka penuh harap.

“Jangan.” Jawab Felly cepat. “Emm… Aku mau mampir ke suatu tempat solanya.”

“Nggak apa-apa, Kak Raka bisa ngantar.”

“Tapi Kak Raka kan lagi kerja.”

“Aku bisa minta ijin ayah kamu, beliau pasti tidak keberatan.”

Sial!!! Kenapa Raka selalu saja menempel padanya?? Astaga.. Felly berencana untuk menghindari lelaki di hadapannya ini, tapi kenapa keadaan seakan memaksa mereka untuk selalu bersama??

***

Raka sedikit bingung saat melihat Felly yang sibuk memilih beberapa koper besar di sebuah pusat perbelanjaan. Untuk apa Felly membeli koper-koper tersebut??

“Kamu nggak salah? Untuk apa kamu membeli koper-koper ini?”

Felly tak tau harus menceritkan dari mana, tapi siap tidak siap, Felly harus mengatakannya pada Raka.

“Aku akan pindah.”

Perkataan Felly tersebut sukses merubah ekspresi Raka yang sejak tadi datar-datar saja kini berubah menjadi sedikit terkejut.

“Pindah? Pindah kemana?”

“Emm.. Nanti malam, kak Raka ke rumah saja, ada yang mau aku omongin.”

“Kenapa nggak ngomong di sini?”

“Nggak bisa, aku akan membicarakannya nanti malam.”

Raka menganggukkan kepalanya, “Baiklah, nanti malam aku ke sana.” Ucap Raka sambil sedikit menyunggingkan senyumannya sembari mengusap lembut puncak kepala Felly.

***

Malamnya…….

“Sayang.. Please, kalau kamu ada masalah, tolong cerita sama Mama, jangan tiba-tiba pergi seperti ini.” Ucap Dara dengan mata yang sudah sedikit berkaca-kaca saat melihat puiteri semata wayangnya meninggalkan rumah.

Tadi, Felly sudah meminta ijin kedua orang tuanya untuk pindah sementara ke rumah neneknya yang berada di puncak. Dara tentu melarang Felly, tapi tekat Felly benar-benar sudah bulat, dengan atau tanpa persetujuan dari kedua orang tuanya, ia tetap harus pergi meninggalkan rumahnya.

Felly menghentikan aksinya yang kini sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam sebuah koper besar miliknya. Ia menatap ke arah Mamanya dengan tatapan sendunya.

“Ma, Felly nggak ada masalah kok, Felly cuma mau jauh dari kebisingan ibu kota.”

“Tapi kamu hanya perlu sedikit liburan sayang, bukan pindah.”

Felly tersenyum ke arah Mamanya. “Liburan nggak akan cukup Ma, pokoknya aku akan pindah, hanya satu tahun, setelah itu aku janji akan pulang dan menjadi puteri yang baik untuk Mama.”

“Mama boleh ikut?”

“Enggak.” Jawab Felly cepat. “Apapun yang terjadi, Mama nggak boleh ikut atau mengunjungi Felly di sana.”

“Tapi kenapa sayang??”

“Please Ma.. Felly ingin di beri privasi..” Dara menghela napas panjang, ia akan mengucapkan kalimat bantahannya lagi tapi pintu kamar Felly lebih dulu di ketuk oleh seseorang. Pintu tersebut di buka dan menampilkan sosok Revan di sana.

“Raka ada di luar. Kataya mau ketemu sama kamu.” Ucap Revan sambil menatap puterinya tersebut.

Felly melirik ke arah Mamanya, “Ma, Aku harus bicara dengan kak Raka di sini.” Dara kembali menghela napas panjang. Lalu memilih pergi meninggalkan kamar Felly bersama dengan Revan.

Tak lama, Felly kembali mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Itu pasti Raka.

“Masuk Kak.” Ucap Felly sambil membereskan beberapa barang yang masih berserahkan di atas ranjang kamarnya.

“Kamu benar-benar akan pergi?” tanya Raka sembari melirik dua koper besar yang sepertinya sudah selesai di siapkan oleh Felly.

Felly duduk dengan lelah di pinggiran ranjangnya. “Ya, aku akan pergi.”

“Kenapa mendadak?”

“Emmm ini nggak mendadak, aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, cuma aku baru memberitahukan hari ini pada Kak Raka.”

“Kenapa kamu pergi?” Tanya Raka tanpa basa-basi. Wajah Raka terlihat datar tanpa emosi, tapi jelas, matanya menatap tajam ke arah Felly. Dan itu benar-benar mempengaruhi reaksi Felly.

“Emm… Aku akan membuka usaha baru di sana.” Ucap Felly sedikit canggung karena tatapan mengintimidasi dari Raka.

“Usaha apa?”

“Kafe, tempat minum-minum kopi.”

“Benarkah?”

“Ya,”

“Kenapa harus pindah? Kamu bisa mengurusnya dari sini.”

“Emm Begini..” Felly tau jika ia harus membohongi lelaki yang kini sudah duduk tepat di sebelahnya. Tangan Felly terulur untuk menggenggam kedua telapak tangan besar milik Raka. “Jason melamarku, dan kafe ini usaha kami berdua. Jadi aku mau mengurusnya sendiri di sana.”

Tubuh Raka kaku seketika. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan dari Felly.

“Melamar? Tapi kamu sudah menjadi tuanganku Fell, bagaimana mungkin dia melamarmu?”

Felly menundukkan kepalanya. “Aku minta maaf, tapi aku sudah menerima lamaran Jason, Aku akan tetap pindah ke luar kota.” Ucap Felly dengan suara yang sudah bergetar. Ia ingin menangis, tentu saja.

Di lepskannya cincin pemberian Raka, kemudian di letakkannya cincin tersebut pada telapak tangan Raka.

“Maafkan aku Kak.. Tapi aku nggak bisa melanjutkan semua ini.” Ucap Felly sambil menggenggamkan telapak tangan Raka yang di dalamnya sudah terdapat cincin yang tadi melingkar di jari manis Felly.

“Tangan kamu gemetar.” Ucap Raka masih dengan ekspresi datarnya.

Felly mengangkat wajahnya menatap ke arah Raka dengan tatapan tak mengerti atas apa yang di ucapkan lelaki tersebut.

“Ada yang kamu sembunyikan dariku.” Ucap Raka lagi. Tatapan mata Raka masih lurus menatap kedua bola mata Felly yang sudah berkaca-kaca.

Felly menggelengkan kepalanya cepat. “Aku nggak menyembunyikan apapun.”

“Kamu terlihat gugup.”

“Aku nggak gugup.” Bantah Felly.

Raka kemudian menarik kedua tangannya dari genggaman tangan Felly. Kemudian Raka berdiri lalu melangkah membelakangi Felly.

“Baiklah, kalau kamu ingin pergi dan bahagia dengan lelaki lain, aku akan melepaskanmu. Tapi jika nanti aku mendapati kamu berbohong dan melakukan semua ini hanya untuk menghindariku, maka aku akan kembali menyeretmu pulang lalu menikahimu saat itu juga.” Ucap raka tanpa sedikitpun menatap ke arah Felly.

Felly membatu mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Raka. Ada sebuah ketakutan yang menyelimuti dirinya. Takut jika Raka menemukan kebenaran yang sedang ia sembunyikan, takut jika lelaki itu akan membencinya, takut jika ia akan kehilangan lelaki yang sangat di cintainya tersebut, dan masih banyak lagi ketakutan-ketakutan yang ia rasakan di dalam hatinya.

 

-to be continue-

Vote dan komen selalu di tunggu yaa… huehhehehhe

Sang Pemilik Hati – Prolog (New Version)

Comments 7 Standard

sph1Sang Pemilik Hati

Yuuppss… Aku udah janji ama kalian kan kalo aku bakalan bikin Revisi habis2san untuk SPH.. So, inilah Revisi ku… Sang Pemilik hati akan hadir dengan Versi baru.. Karakternya masih sama, tapi alur Cerita akan sedikit berbeda.. jadi… nikmatin aja yaa… happy reading… -Untuk SPH yang lama udah ku hapus yaa… –

Sang Pemilik Hati New Version

 

 

Prolog

 

-Prayoga-

Aku mengangkat sebelah alisku ketika melihat Bian membawa seorang gadis mungil di atas boncengan motor yang ia kendarai. Gadis itu bertubuh kurus dengan rambut pendeknya. Memiliki kulit kuning langsat tapi terlihat sangat halus terawat.

Aku menelan ludah dengan susah payah ketika melihat gadis tersebut. Astaga.. perasaan apa ini?? Ingat Yoga, dia masih SMP. Aku merutuki diriku sendiri dalam hati.

Ya, tak sulit di tebak, karena memang gadis mungil itu sedang mengenakan seragap putih birunya yang menandakan jika gadis itu masih SMP.

“Ga, gue ngantar adek gue dulu, lo duluan aja.” Ucap Bian padaku. Sedangkan aku hanya memilih diam di balik Helm besar yang sedang ku kenakan. Mataku masih seakan tak ingin berhenti memandang gadis yang ada di hadapanku itu.

Bian akhgirnya pergi, bersama gadis itu… dan entah kenapa aku merasakan sesak di dadaku. Rasa ini adalah rasa yang baru pertama kali ku rasakan. Ada apa denganku??? Bagaimana mungkin jantungku berdebar cepat hanya karena menatap seorang anak kecil seperti adik Bian???

***

 

-Nana-

Aku kesal dengan ayah. Pagi ini ayah meninggalkanku. Dia pergi ke kantor sendiri, akhirnya, mau tak mau aku harus berangkat dengan Mas Bian, kakakku yang super usil ini.

“Na, kita mampir ke tempat nongkrong Mas Bian ya..”

“Enggak ah.. ngapain?? Nanti aku telat sekolah mas.”

“Pokoknya ayo… dari pada kamu jalan kaki sendiri??”

Ahhh sebel..!!! Mas Bian selalu saja suka seenaknya sendiri.

Aku Nana Erieska. Saat ini usiaku sudah dua belas tahun, dan dua bulan yang lalu aku sudah menginjak kelas satu SMP. Bukan orang yang supel, alias tak pandai bergaul. Entahlah.. aku memiliki masalah dengan kepercayaan diri. Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Albiansyah. Dia kakak yang sangat menyebalkan karena selalu menggangguku, tapi aku tau jika dia menyayangiku. Begitupun sebaliknya. Usianya delapan tahun lebih tua dari pada usiaku. Dan Mas Bian, benar-benar kakak yang dapat di andalkan.

“Ga, gue ngantar adek gue dulu, lo duluan aja.” Ucap Mas Bian dengan seorang pemuda yang duduk dengan gagahnya di atas motor besarnya.

Wajah pemuda itu tak terlihat, karena dia mengenakan Helm yang menutupi sebagian besar wajahnya dan hanya menyisakan sepasang mata yang entah kenapa saat melihatnya saja membuat hatiku senjuk.

Pemuda itu tak berhenti menatapku, dan astaga… aku hanya dapat menundukkan kepalaku. Akhirnya tanpa banyak bicara lagi, Mas Bian meninggalkan pemuda tersebut.

Sedikit ku lirik ke belakang dan ternyata pemuda itu masih menatapku.

“Dia siapa Mas?” aku spontan bertanya pada Mas Bian.

“Temanku.”

“Ya, tapi kan punya nama..” Jawabku dengan sedikit kesal.

“Kenapa Tanya-tanya? Kamu suka??”

“emangnya kalau nanya berarti suka?? Enggak kan?”

“Yoga, namanya Prayoga.” Jawab Mas Bian dengan nada datarnya.

Sambil tersenyum, aku menghela napas panjang… Prayoga…. Nama yang bagus untuk seseorang yang memiliki sepasang mata menyejukkan seperti pemuda tadi. Semoga kita bertemu lagi……. Aku berharap dalam hati….

 

-to be continue-

Love Between Us – Part 8 (Curiga)

Comments 6 Standard

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

Denny dan Aira udah hadir Dear.. maaf baru sempat Update yaa..

Part 8

-Curiga-

Di rumah Denny lantas menghambur ke dalam kamar. Di carinya ponsel miliknya yang tadi memang tertinggal di kamar. Ia berakhir mendengus kesal karena ternyata banyak sekali missed call dari nomor Aira.

 

“Kakak kenapa sih? Aneh sekali.” Denny sama sekali tak menghiraukan Clarista yang kini sudah menyusulnya ke dalam kamar. Adiknya itu memang suka ingin tau semua tentangnya. Ia memang tidak risih karena itu. Denny bahkan berpikir untuk mengenalkan Aira kepada Clarista jika ada waktu yang tepat.

 

Di tekannya tombol panggilan pada nomor Aira. Denny mulai berdo’a supaya Aira tidak marah dan mau mengangkat telepon darinya. Tapi nyatanya, nomor gadis tersebut kini sedang sibuk.

 

Apa Aira sedang menelepon seseorang?? Siapa? Pikir Denny.

 

“Kakak..” rengek Clarista pada lengan Dennny.

 

“Apa lagi sih Cla? Kakak sudah menemanimu seharian ini, lalu apa lagi?”

 

“Ada yang kakak sembunyikan dariku?”

 

“Sembunyikan? Sembunyikan apa?” Clarista memicingkan matanya ke arah kakaknya tersebut, curiga.

 

“Kakak sudah punya pacar ya?”

 

“Bukan urusan kamu.” kilahnya.

 

“Ayolah, kakak tau kan kalau aku selalu dukung kakak apapun yang terjadi?. Kenapa sekarang kakak nggak mau cerita sama aku?”

 

Denny kemudian duduk, dan entah kenapa ia seakan ingin tersenyum. Hatinya terasa berbunga-bunga ketika mengingat sosok Aira. Perasaannya saat ini sama persis dengan apa yang ia rasakan dulu dengan Adelia, mantan kekasihnya.

 

“Namanya Aira,” ucap Denny sambil menyunggingkan senyumannya.

Clarista membulatkan matanya seketika.

 

“Jadi kakak benar-benar sudah punya pacar?” Denny menganggukkan kepalanya.

 

“Ya, bisa di bilang seperti itu,”

 

“Lalu dia seperti apa? Apa cantik sepertiku? Baik? Cerewet? Lebih muda? Lebih tua? Gendut? Ramping?” Tanya Clarista bertubi-tubi membuat telinga Denny mendengung.

 

“Kenapa kamu terlihat antusias sekali?”

 

“Tentu saja, kak Denny adalah kakakku, dan aku ingin kakakku mendapatkan wanita yang terbaik,”

 

“Dia baik, cantik, dan sedikit cerewet seperti kamu.” Akhirnya ia menjawab.

 

“Oh ya? Aku ingin ketemu!” sahut Clarisa antusias.

 

“Cla, kakak masih belum tahu pasti, apa status hubungan kami sebenarnya,” desahnya bingung. Selama ini status antara mereka tidak jelas atau bisa dikatakan berpacaran atau masih berpura-pura. Itu membingungkan, di dalam permainan ini. Aira dan Denny melibatkan perasaan mereka secara tidak langsung dan tanpa mereka sadari.

 

“Loh kok gitu sih?”

 

“Awalnya kami pacaran hanya pura-pura. Tapi semakin kesini, kakak merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda, yang membuat jantung kakak nggak bisa berhenti berdebar-debar saat ingat apapun tentang dia,”

 

“Kakak beneran suka sama dia?” Denny menganggukkan kepalanya lemah.

 

“Sepertinya begitu. Kakak nggak pernah main-main dengan wanita lain Cla,”

 

“Emmm… Apa dia juga suka sama kakak?”

Dennny mengangkat kedua bahunya.

 

“Kakak nggak yakin,” Lirih Denny kemudian. Clarista sejenak berpikir tidak mungkin kakaknya yang tampan ini tidak disukai seorang gadis.  Ini sesuatu yang langka baginya.

 

****

 

Di rumah Aira hanya berleha-leha.  Ia menikmati harta orangtuanya. Namun Aira mulai jenuh dengan kehidupannya yang monoton. Aira kini ingin kembali bekerja tetapi ia bingung harus bekerja apa?. Rizky, selaku ayahnya tidak mengharuskan Aira untuk bekerja. Ia masih mampu menghidupi Aira walaupun putri pertamanya itu tidak bekerja.

 

Aira pun langsung menaiki anak tangga dan menuju lantai dua dan melewati kamar Bunga. Aira dengan kesal menuju ke kamarnya. Ia ingin bersantai mengistirahatkan pikirannya. ketika sudah di kamarnya, ia tutup kembali pintu kamar. Aira menyalakan tv untuk menghibur diri yang sedang bosan. Ia putar – putar saluran tv dan mencari acara yang bagus tapi tetap saja tidak ada yang bagus. Denny sulit dihubungi itu yang membuatnya kesal sekali. Tidak ada kabar dari Denny rasa hampa menyelimuti dirinya.  Aira belum tau dimana tempat tinggal Denny. Andai saja ia tau mungkin akan meluncur ke sana saat itu juga.

 

“Denny, kamu kemana?. Apa kamu sudah melupakanku?” ucapnya sedih. Di sofa ia berbaring sembari memikirkan Denny. Pria itu sudah menyelam sangat dalam dihati Aira. Pria itu yang kini ada dihatinya, terukir jelas. Di saat Aira melamun tentang Denny. Ponselnya berdering nyaring menyadarkan Aira. Diambilnya di saku celana pendeknya. Nomor baru.

 

Aira mendiamkan cukup lama sebelum menjawabnya. Ia tidak mengenal nomor tersebut. Karena penasaran ia pun menjawabnya.

 

“Halo.. ”

 

“Syukurlah dijawab, Aira,” ucap seseorang yang ada disebrang sana.  Raut wajah Aira seketika berubah malas. Suara itu milik mantan kekasihnya yang matre. “Aira.. Aira.. Kamu mendengarkan aku kan?” ucapnya lagi karena Aira tidak segera menyahut.

 

Dasar pria tidak tau malu!! gerutu Aira dalam hati.

 

“Iya, ada apa?!” sahut Aira sinis. Ia memutar bola matanya.

 

“Aira, aku merindukanmu, ”

 

“Aku tidak!” jawab Aira ketus.

 

“Aira, please berikan aku satu kesempatan lagi. Aku ingin memperbaiki diri bersamamu.” Wisnu si pria brengsek itu memohon kepada Aira.

 

“Apa kamu tau, Wisnu. Vas bunga yang pecah nggak akan bisa kembali sama setelah disatukan dengan lem. Ada guratan-guratan halus yang masih jelas terlihat. Begitu pun hatiku, masih ada goresan yang nggak bisa aku hapus dengan apapun. Apa kamu nggak sadar diri? Itu karena ulahmu!” bentaknya.

 

“Aku sadar, mangkanya aku berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku ingin menjalin hubungan denganmu lagi, Aira,” ucap Wisnu menyakinkan. Namun Aira tidak yakin. Yang namanya pendusta itu bermulut manis.

 

“Omong kosong! Aku nggak mau urusan sama kamu lagi!. Awas kalau kamu telepon aku lagi sampai pakai nomor baru. Wisnu, carilah gadis yang mau dibohongi oleh mu. Atau carilah mangsa yang baru, jangan aku!. Aku nggak mau urusan sama kamu lagi!. Kalau sampai kamu macam-macam akan aku adukan sama pacarku!” Aira sedikit mengancam. Berhubungan kembali dengan Wisnu itu menjijikan. Ia bukan keledai yang jatuh untuk ke dua kalinya di lubang yang sama.

 

“Aku nggak percaya itu pacarmu,” emosi Aira melonjak. Dalam hatinya ia ingin mencekik Wisnu.

 

“Terserah kamu saja! Dasar kepala batu!” sentak Aira menutup teleponnya dengan marah. Ia menarik napas panjang menetralisir kemarahannya. Percuma efeknya hanya sedikit.

 

Aira mendengus kesal. Wisnu, kenapa juga pria itu masih saja mengganggunya? Mengajaknya kembali menjalin kasih?. Yang benar saja, Aira tidak akan mau kembali lagi bersama pria mata duitan seperti Wisnu. Tapi tidak lama, ponsel Aira kembali berbunyi, Aira mengira jika itu pasti Wisnu yang memang tidak akan pernah berhenti mengganggunya. Dengan menggerutu Aira mengangkat telepon tersebut tanpa melihat siapa yang sedang meneleponnya.

 

“Ada apa lagi Wisnu? Aku sudah bilang berhenti menggangguku!” Ucap Aira setengah menggertak.

 

“Aira.. Ini aku..” Suara berat di seberang membuat Aira membulatkan matanya seketika. Secepat kilat Aira menjauhkan ponselnya dari telinganya, kemudian melihat di layar ponsel tersebut. Ternyata Denny yang sedang meneleponnya.

 

“Denny..” ucap Aira dengan sedikit menyesal karena tadi sudah sempat membentak Denny.

 

“Ya, ini aku,” Denny kembali tersenyum saat mendengar suara lembut Aira. Tadi ia sempat mengerutkan keningnya ketika Aira mengangkat teleponnya tapi langsung marah-marah terhadapnya.

 

“Maaf, ku pikir tadi orang lain,”

 

“Kenapa? Kamu ada masalah?” tanya Denny ingin tau.

 

“Ahh, nggak, tadi ada orang iseng menggangguku,”

 

“Sepertinya itu bukan orang iseng. Namanya Wisnu kan? Karena tadi aku mendengarmu memanggil nama Wisnu. Apa dia teman sekolah yang pernah kamu kenalin sama aku saat pesta reuni minggu lalu?” Denny masih mengingatnya.

 

“Emmm… itu…” Aira terdengar ragu.

 

“Aira… Berceritalah, aku nggak akan marah.”

 

Denny mendengar gadis di seberangnya menghela napas panjang. “Ya, Wisnu yang itu.”

 

“Kenapa? Dia mengganggumu?”

 

“Sedikit, dia ngajak balikan lagi.”

 

“Lalu, kamu menerimanya?” pancing Denny. Entahlah, kini yang di rasakannya adalah rasa tidak suka saat mengetahui bahwa Aira masih berhubungan dengan pria lain, apalagi pria itu adalah mantan kekasih Aira di masa lalu.

 

“Kamu mau aku menerimanya?” Aira berbalik bertanya.

 

“Tidak.” Jawab Denny dengan tegas.

Ia sedikit mendengar sebuah cekikikan di seberang. Aira pasti kini sedang tertawa mendengar jawabannya.

 

“Kenapa?” Tanya Aira yang kini sedikit memancing reaksi dari Denny.

 

“Dia bukan pria yang baik. Kamu pernah bercerita bukan, jika dia adalah pria mata duitan. Jadi ku harap kamu nggak akan kembali dengan dia, itu akan menyakitimu.”

 

“Apa kamu yakin hanya itu alasannya?” Aira mendesak perasaan Denny. Ia ingin tau apa Denny mempunyai perasaan yang sama.

 

“Ya.” jawab Denny datar.

 

“Ayolah, kamu terdengar kaku. Aku tahu bukan hanya itu alasanmu Denny,” Aira setengah merengek pada Denny dan itu membuat ia menyunggingkan senyumannya.

 

“Aku hanya nggak suka melihatmu dekat dengan dia.” Pria itu membuat Aira bingung, apa makna dari kata-katanya.

 

“Kenapa nggak suka?. Ayolah.. jangan berputar-putar, jawab aja dengan jujur!”

Denny kembali tersenyum saat tahu tingkah Aira yang sedikit kekanakan.

 

“Oke, aku nggak suka kamu dekat dengan pria lain karena kamu adalah kekasihku. Dan kekasihku hanya boleh dekat denganku, bukan dengan pria lain.” Denny benar-benar tidak menyangka jika ia akan mengucapkan kalimat menggelikan seperti itu pada Aira.

 

Apa Aira akan menertawakannya??

Dan benar saja, Denny mendengar sebuah cekikikan khas dari Aira. Gadis itu benar-benar menertawakannya.

 

“Hei! kenapa tertawa?” Denny sempat marah, Aira tidak tau jika didalam dada jantungnya berdegup kencang. Ia mati-matian untuk menahan segala gengsinya. Ia mengakui itu kepada Aira.

 

“Kamu cemburu?” Tanya Aira masih dengan cekikikannya.

 

“Apa salah kalau aku cemburu?” Denny balik bertanya.

 

“Nggak, aku suka melihatmu cemburu,”  Jawab Aira cepat. “Kamu kemana saja? Sejak tadi pagi aku meneleponmu.”

 

“Tadi aku keluar, ada urusan sedikit. Ponselku ketinggalan di rumah.”

 

“Ohhh..” Hanya itu jawaban dari Aira. Denny sendiri tidak tau harus menjawab apa lagi. Keheningan tiba-tiba saja membuat suasana menjadi sedikit canggung.

 

“Kak, airnya dingin sekali. Aku nggak mau mandi di sini lagi.” Suara manja tepat di belakang Denny membuatnya sedikit terkejut. Spontan ia membungkam speaker ponselnya dengan telapak tangannya.

 

“Cla! Apa kamu bisa berhenti berteriak?” Tanya Denny sedikit kesal dengan adiknya itu. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa Clarista masih saja berada di kontrakannya bahkan mandi di sana.

 

“Kenapa kakak lagi teleponan ama pacarnya ya? Sini aku mau ngomong,” Clarista mencoba merebut ponsel milik Denny tapi diangkat tinggi-tinggi ponselnya hingga Clarista tidak dapat meraihnya.

 

Lalu tanpa banyak bicara lagi, Denny memutuskan sambungan teleponnya dengan Aira begitu saja. Ia belum ingin jika Clarista ikut campur masalah asmaranya dengan Aira.

 

“Kakak nggak asik!” Denny mendengus kesal. “Lebih baik kamu pulang, mama akan mencarimu kalau kamu nggak cepat-cepat pulang.”

 

“Mama tau aku di sini.” jawab Clarista santai.

 

“Papa akan mencarimu.”

 

“Biar saja, papa terlalu kuno dan kaku. Aku kesal pada papa,” Denny mencubit gemas pipi Clarista.

 

“Kamu nggak boleh gitu. Papa sayang banget sama kamu. Sudah sana pulang.” usirnya secara halus.

 

“Kakak sendiri kapan pulang?. Air di kamar mandinya dingin, nggak ada air hangatnya. Rumah ini juga sangat kecil, aku nggak tega lihat kakak hidup di sini terus.”

 

Denny tersenyum melihat adiknya yang begitu perhatian padanya. “Aku pasti akan pulang, tapi nanti, bukan sekarang.”

 

“Kapan?? Setelah kakak mendapatkan pengganti kak Adel?” tanyanya polos.

 

“Mungkin,”

 

“Kak…” Rengek Clarista.

 

“Ya, kalau sudah waktunya pulang, kakak pasti akan pulang.”

 

“Janji ya.. Awas kalau bohong!” Clarista menunjuk Denny memperingatkan.

 

“Iya, kakak janji.”

 

“Tapi kak, aku benar-benar ingin bertemu dengan Aira.” Adiknya memulai kembali,  Denny menghela napas lelah menjawab pertanyaan adiknya yang cerewet.

 

“Nanti, aku akan mengenalkannya nanti denganmu dan juga dengan mama dan papa.” Ucap Denny penuh tekad dan keyakinan.

 

***

 

Aira tertegun mendengar suara seorang gadis. Ia menerka-nerka Denny sedang bersama gadis lain?. Tiba-tiba dadanya penuh dan sesak. Apa Denny hanya mempermainkannya saja?. Apa arti dari ucapannya tadi hanya kebohongan belaka?. Hatinya mendadak nyeri, matanya mulai berkaca-kaca. Cintanya tumbuh layu sebelum berkembang.

 

“Denny, kamu jahat,” isaknya.

 

Aira tidak bisa berpikir jernih. Selama dimeja makan ia hanya mengaduk-ngaduk makanannya. Zeeva, mamanya curiga jika Aira mempunyai masalah. Rizky dan Zeeva saling berpandangan seolah berbicara ada apa dengan Aira?. Zeeva mengendikkan bahunya tidak mengerti. Rizky terdiam pasti ada masalah dengan kekasihnya itu. Ia harus segera mencari tau tentang Denny agar Aira tidak termakan rayuannya seperti kekasihnya yang terdahulu.

 

“Aira,” panggil Rizky. Aira diam saja masih fokus dengan makanan yang di acak-acakan. “Aira,” panggilnya untuk kedua kalinya dengan suaranya meninggi.

 

“Eoh, iya yah?” jawab Aira linglung.

 

“Besok undang Denny untuk datang makan malam.” ucap Rizky berwibawa. Dahi Aira mengerut. “Dia pacarmu kan?”

 

“Iy.. Iya yah,” Aira tergagap.

 

“Besok itu makan malam terakhir kita bersama Narendra. Adikmu akan berangkat ke Paris untuk melanjutkan kuliahnya. Kamu tidak lupakan?” Aira menggelengkan kepalanya. “Ayah mau kamu mengundang Denny, biar dia mengenal keluarga kita lebih jauh lagi.”

 

“Apa ini artinya ayah merestui hubunganku dengan Denny?” tanya Aira hati-hati dengan wajah tidak percaya. Wisnu sekali pun tidak pernah diajak makan malam. Pernah dulu Aira mengajaknya tetapi Rizky tidak mau keluar dari kamar. Hanya Denny yang di undang, apa Rizky sudah merestui?.

 

“Ayah ingin mengenal Denny saja, sayang.” timpal Rizky lembut. Mata Aira berbinar namun seketika meredup saat ia sekelibat mendengar suara gadis itu ditelinganya. Ia menunduk, perasaannya sedang dilanda badai curiga. “Kamu bisa mengajaknya kan?”

 

“Iya, ayah. Denny pasti datang.” Aira menoleh pada Zeeva. Mamanya tersenyum memberi pengertian. Ia ingin sekali curhat mengenai Denny. Zeeva lah yang menjadi pelipur lara dikala ia sedang bersedih. Aira tidak mempunyai sahabat. Setelah ia mengalami bagaimana rasanya dikhianati sahabat dan pacarnya dulu, Dinda dan Wisnu. Zeeva lah yang memberi solusi dan memberi kepercayaan dirinya kembali.

 

Bagi Aira,  Zeeva adalah mama sekaligus sahabatnya.

 

“Yah, Aira ingin bekerja,” Rizky terdiam sejenak.

 

“Kerja apa?” kedua alis Rizky menukik tajam.

 

“Aira bosan dirumah,” jawab Aira lesu.

 

“Mau bekerja sesuai mata kuliahmu?”

 

“Tidak, yah. Aku ingin buka cafe kecil-kecilan saja. Apa ayah tidak berkeberatan?” Aira berhati-hati menanyakannya. Ia sudah tau jika Rizky tidak mengizinkannya bekerja.

 

“Ya sudah, buatlah konsepnya mau cafe apa?. Untuk dekorasi kamu buatlah sendiri, percuma kamu kuliah. Besok ayah akan mencarikan tempatnya.” Aira sangat senang permintaannya disetujui tanpa harus beradu mulut. Ia bangkit dari duduknya menghampiri, diciumnya pipi Rizky.

 

“Terimakasih, ayah. You’re the best!” seru Aira riang. Ia tidak lupa mencium Zeeva dan kedua adiknya.

 

“Mama, nanti ke kamar Aira ya,” bisiknya saat mencium pipi Zeeva.

 

“Iya, sayang,” Zeeva mengerti maksudnya.

 

Aku bahagia mempunyai keluarga ini. Aku menyayangi kalian, batin Aira.

 

Selesai makan malam Zeeva menidurkan Bunga terlebih dahulu sebelum ke kamar Aira.  Putrinya sudah menunggu. Ia pun tidak lupa meminta izin pada Rizky agar tidur lebih dulu. Jika menyangkut masalah wanita Zeeva dan Aira pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengobrol.

 

Tok..  Tok..  Tok..

 

“Aira?”

 

“Masuk, mama,” titah Aira dari dalam kamar.  Aira sedang menyiapkan sesuatu di meja riasnya. Zeeva tersenyum. “Aku lagi nyiapin masker, ma. Bentar ya,” Zeeva mengerti,  ia naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya. “Ayah,  mengomel nggak ma?”

 

“Ayah mu itu jangan ditanya, dia menggerutu tidak jelas waktu mama bilang mau ke kamar mu!” Aira tertawa kecil sembari mendekati mamanya. Ia mengolesi wajah Zeeva dengan masker alpukat di campur madu. Dengan telaten ia mengolesnya dengan kuas kecil khusus masker. Zeeva selesai dan Aira mengoles wajahnya sendiri. Lalu ia berbaring di sebelah Zeeva.

 

“Ma,”

 

“Eum?”

 

“Denny, ma,”

 

“Kenapa sama Denny?” tanya Zeeva sedang memejamkan matanya.

 

“Tadi dia telepon dan aku mendengar suara gadis lain,” terangnya sedih. Suasana berubah hening.

 

“Kamu sudah tanya itu siapa?”

 

“Nggak, malah dia menutup teleponnya.” lirihnya.

 

“Jangan berburuk sangka dulu, sayang. Mungkin itu temannya,”

 

“Masa teman bilang kalau ‘nggak mau mandi disini lagi karena airnya dingin’,” celetuk Aira dengan kesal.

 

“Mandi? Air dingin?!” Zeeva cukup terkejut lalu tertegun. Benar juga masa teman mandi segala. Hati Zeeva jadi serba salah. Ia pun turut curiga dengan Denny.

 

“Menurut mama bagaimana?” Tanya Aira ingin Zeeva memberikan solusinya.

 

“Menurut mama, kamu harus cari tau dulu. Tanyakan pada Denny yang sebenarnya terjadi. Daripada kamu curiga kan?”

 

“Tapi kalau benar bagaimana?”

 

“Ya, putuskan saja. Memangnya pria di dunia ini cuma Denny?!” sahutnya marah. “Tenanglah, sayang. Jodoh itu tidak kemana. Wanita baik dengan pria baik. Mama yakin itu. Anak mama inikan baik walaupun suka jahil,” Zeeva berbalik menatap Aira yang matanya menggenang air mata. Di usapnya rambut Aira lembut. “Ada mama, ayah dan adik-adikmu, sayang.”

 

“Ah, mama.. ” rengek Aira ingin menangis. Malam itu Aira curhat apa yang ia rasakan terhadap Denny. Zeeva hanya mendengarkan dan sesekali menimpali apa yang harus Aira lakukan.

 

Lelah bercerita Aira tertidur pulas, ia sampai lupa membasuh wajahnya. Besok pagi Zeeva akan mengganti sarung bantalnya. Ia tidak tega membangunkan Aira. Dengan mengendap-ngendap Zeeva keluar kamar Aira tidak lupa mematikan lampunya.

 

Zeeva kembali ke kamarnya. Rizky sudah tidur tapi ia berniat membangunkannya. Ada sesuatu yang harus dibicarakan.

 

“Ayah, ayah bangun.. ” Ia mengoyangkan bahu Rizky. “Ayah bangun, ada yang mau aku bicarakan,” Rizky mengerjapkan matanya. Matanya terbelalak terkejut apa yang terlihat dihadapannya.

 

“Astagfirullah, hantu!” teriaknya. Dengan cepat Zeeva membengkap mulut suaminya itu.

 

“Ini aku Zeeva, Rizky!!” desisnya. Bahu Rizky melemas. Ia mulai tenang perlahan Zeeva melepaskan tangannya.

 

“Zeeva? Istriku?” tanya Rizky bodoh.

 

“Memangnya kamu punya istri berapa,  hah!” bentak Zeeva.

 

“Ya, satu tapi istriku itu cantik bukan wajahnya hijau seperti hulk!.” Bela Rizky. Ia memandangi wajah Zeeva.

 

“Aku pakai masker alpukat, Rizky!” Zeeva mendengus. “Sebentar aku mau cuci muka dulu, jangan tidur lagi!. Aku mau bicara!”

 

“Baiklah,” Rizky menyenderkan punggungnya dikepala ranjang menunggu Zeeva. Ia melihat istrinya masuk ke kamar mandi. Gemerincik air terdengar. Zeeva membersihkan wajahnya dari masker. Tak lama sekitar lima menit Zeeva muncul dari kamar mandi.

 

“Aku ingin membicarakan masalah Denny,” Zeeva merangsek masuk ke dalam selimut.

 

“Kenapa? Apa dia menyakiti putri kecil kita?” Rizky mulai marah.

 

“Bukan, Aira hanya curiga saja. Tapi aku yakin Denny bukanlah pria seperti Wisnu.” Zeeva merasakan keyakinan itu dari pengamatannya bertemu Denny.

 

“Besok, aku akan mencari taunya. Aku tidak mau Aira terluka lagi.” Zeeva mengangguk. Rizky merubah posisinya.  Ia memeluk Zeeva dari belakang.

 

“Harus, Rizky!” Jawab Zeeva menggebu-gebu.

 

“Iya, sayang. Sekarang urusan kita berdua, aku tidak bisa tidur setelah kamu membangunkanku. Biar aku bisa tidur sebelumnya bisa kita olahraga malam dulu ya?” tanyanya sembari tangannya menyentuh bagian depan Zeeva.

 

“Hah! Dasar mesum!” Tanpa berkata-kata lagi Rizky melancarkan aksinya.

 

***

Dilain tempat, keluarga itu sedang menikmati acara di televisi. Keluarga kecil yang bahagia namun ada sesuatu yang kurang. Putra semata wayangnya meninggalkan rumah beberapa tahun yang lalu. Pertentangan antara ayah dan anak. Reynald yang mempunyai watak yang keras membuat Denny terkekang terlebih orangtuanya terlibat dalam masalah percintaannya.

 

“Apa kamu nggak salah dengar, sayang?” Tanya Clara pada Clarista yang kini sedang bermalas-malasan di atas sofa ruang keluarga sambil menonton acara Tv kesukaannya.

 

“Iya ma, kakak sendiri kok yang bilang kalau dia itu sekarang sudah punya pacar, namanya Aira. Dan dia janji akan mengenalkannya pada kita nanti,”

 

“Apa dia cantik? Baik? Atau gimana Cla??” Sang Mama dari Denny sangat penasaran bagaimana gadis yang bernama Aira tersebut.

 

“Ya ampun, ma. Aku juga nggak tau bagaimana wajah kekasih kakak itu.”

 

“Bisa jadi dia hanya membohongi kita.” Sahut Reynald yang memang sejak tadi sebenarnya mendengar percakapan Clara dan Clarista, hanya saja ia bersikap seolah-olah tak mendengar apapun dan lebih memilih diam sembari membaca koran yang berada dalam genggaman tangannya. Clara memutar bola matanya ke arah suaminya tersebut. Entah sampai kapan suaminya itu akan keras kepala dan tidak melupakan pertikaiannya dengan Denny, putera pertamanya tersebut.

 

“Cla balik ke kamar gih, mama mau ngomong sama papa kamu,”

 

“Pasti pama sama papa mau berantem gara-gara kak Denny kan??”

 

“Udah sana!” Dengan bibir mengerucut, akhirnya Clarista pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

 

Setelah Clarista masuk ke dalam kamarnya. Clara datang menghampiri Reynald, suaminya itu tampak berwajah datar, seakan tak ingin diganggu.

 

“Rey, ayolah, kamu harus bisa melupakan semuanya. Denny juga putera kita Rey, masak kamu mau bersikap seperti ini terus sama dia??”

 

“Sayang, kamu tau sendiri bukan kalau dia sudah keluar dari rumah ini?. Itu tandanya dia memang sudah nggak mau hidup dengan kita lagi.”

 

“Bukan seperti itu Rey, ya ampun. Apa kamu nggak bisa sedikit mengalah dengan yang lebih muda?. Dia sudah melupakan Adelia, dan sudah memiliki pengganti gadis itu. Jadi ku mohon, turunkan sedikit ego kamu untuk putera kita.” Reynald mengangkat kedua bahunya.

 

“Aku nggak pernah marah terlalu lama dengan dia Cla. Bagaimanapun juga, Denny adalah putera yang sangat ku sayangi. Tapi kamu bisa lihat sendiri, kalau sebenarnya dia yang marah denganku,”

 

“Ya, dan semua itu hanya karena kesalahpahaman kecil. Mungkin saat ini Denny sudah nggak marah lagi. Jadi Please, jangan bersikap datar menyebalkan seperti tadi di hadapan Denny nanti saat dia pulang.” Clara memohon pada suaminya agar hati suaminya luluh.

 

“Kita lihat saja bagaimana sikapnya nanti,” balas Reynald tidak yakin.

 

“Rey,” rengek Clara.

 

“Berhenti merengek seperti itu, kita sudah nggak muda lagi.”

 

“Biar saja! Kamu terlalu menyebalkan!” Gerutu Clara dengan nada ketusnya. Reynald tersenyum, kemudian tanpa di duga, ia melingkarkan lengannya pada pinggang Clara, lalu menarik istrinya itu semakin dekat denganya.

 

“Baiklah, aku akan berusaha bersikap baik dengan Putera kita nanti,” ia berusaha menurunkan egonya. Ya, semoga saja berhasil ketika bertemu Denny.

 

“Janji ya?” Ulang Clara.

 

“Iya sayang,” Reynald pun mengecup lembut kening istrinya.

 

Tidak terasa jika sudah dua puluh lima tahun lamanya ia berada di sisi wanita yang kini berstatus sebagai istrinya, wanita yang dulu menjadi wanita yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Clara Adista.

 

-TBC-

 

Apapun akan ku lakukan untuk kamu dan putera puteri kita, Reynald bergumam dalam hati.

Pasion Of Love – Chapter 12

Comments 6 Standard

pol2Passion Of Love

maaf aku ganti judul ya… soalnya kayaknya judulnya lebih sopan gini deh.. hahhahahaha

Chapter 12

Siang itu, Sheila membawakan makan siang untuk Ben. Semua itu tentunya karena ide dari Fiona. Fiona berpikir jika mungkin saja hubungan Sheila dan Ben akaan membaik ketika keduanya sering di pertemukan…

“Kak, Ayo makan siang dulu.” Ajak Sheila yang kini sudah duduk di sofa ruang kerja Ben dengan menyiapkaan makan ssiang untuk lelaki tersebut.

“Aku tidak lapar, makanlah dulu.” Ucap Ben dingin tanpa memperhatikan raut wajah Sheila yang sudah kecewa.

“Kak, apa kak Ben nggak suka kalau aku yang ngantar makan siang ini, bukan Fiona?”

“Perasaanmu saja.”

“Kak.. Lihat aku..” Sheila merengek, ia tak suka Ben berbicara padanya tanpa mau memandangnya.

Ben pun kemudian menatap ke arah Sheila. “Sheila, hubungan kita sudah berakhir, aku hanya bisa melihatmu sebagai adik, jadi tolong, lupakan semuanya.” Ben menatap Sheila dengan taatapan frustasinya. Ia benar-benar tertekan jika mengingat harus memilih antara Sheila dan Fiona.

“Kak.. Please, jangan seperti ini padaku, kita akan menikah..” Sheila memohon dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Tidak.. Kita tak akan pernah menikah dan aku pun tak akan pernah menikah dengn siapapun.” Jawab Ben dengan tegas.

“Kak..” Sheila hanya bisa merengek seperti anak kecil.

“Aku ada rapat, selesaikan makan siangmu.” Ben melepaskan paksa rangkulan Sheila pada lengannya lalu meninggalkan Sheila sendiri di dalam ruangannya dengan berlinang air mata.

***

“Kamu mau kemana? apa kamu akan pulang? kamu sakit? Mau ku antar?” Tanya Angga saat melihat Fiona yang sudah rapi dan berada di ruangannya.

Kafe tempat kerja Fiona adalah milik Angga, dan angga memang tak setiap hari berada di kafenya tersebut, tapi sore itu, Angga memang sengaja seharian berada di dalam kafenya, entah kenapa i merasa rindu dengan sosok Fiona, ia ingin lama-lama memandangi wanita itu..

Sebenarnya Angga tak tega membiarkan Fiona bekerja di kafenya apalagi setelah tau Fiona sedang hamil, makanya beberapa hari ini Angga menyempatkan diri untuk berada di kafenya. Sejauh ini, perasaan Angga sendiri masih sama untuk Fiona meski dia tau kini Fiona sudah berubah terhadapnya.

“Maaf kak.. bukannya aku nggak mau.. aku sedang punya janji. Aku ingin meminta izin keluar dua jam saja, nanti aku akan tambah waktu kerjaku selama dua jam.”

“Dengan Ben?” Selidik Angga.

Fiona hanya tersenyum. “Bukan Kak… hanya teman lama.” Kali ini Fiona berbohong, karena sebenarnya Sore ini Fiona akan bertemu dengan ibu dari Ben.

“Baiklah.. apa kamu yakin tidak perlu ku antar?”

“Tidak Kak.. aku akan berjalan kaki.”

Angga mnyipitkan matanya ke arah Fiona. “Aku nggak akan membiarkanmu berjalan kaki sendiri.”

“Tempatnya dekat Kak, hanya beberapa Blog dari sini, aku juga nggak enak dengan karyawan lainnya.” Ucap Fiona masih dengan senyumannya.

“Aku nggak peduli.” Angga kemudian berdiri. “Ayoo kita berangkat.” Katanya lagi sambil meraih tangan Fiona. Sedangkan Fiona sendiri hanya mampu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Angga maasih lelaki yang sama, lelaki baik yang selalu melindunginya.

***

Merekapun akhirnya sampai di restoran tempat Fiona dan ibu Ben janjian.Sebuah restoran yang menyediakan aneka masakan Korea.

“Apa Kak Angga juga ingin masuk?” Tanya Fiona sedikit heran karena melihat Angga yang masih berada di belakangnya saat Fiona sudah di depan pintu restoran tersebut.

“Tentu saja, Bulgogi disini sangat terkenal enaknya, jadi aku akan menyempatkan makan mumpung sudah di sini.”

“Tapi Kak…”

“Kamu tenang saja… aku akan pesan meja sendiri.”

Lalu merekapun masuk, entah kenapa setelah melangkahkan kaki kedalam Restoran perut Fiona terasa penuh, mualpun menyertainya. Bau daging panggang serta beberapa aroma makanan menusuk hidungnya, wajahnya berubah pucat pasi. Menyadari itu, Anggapun sedikit panik.

“Kamu kenapa? apa kamu sakit?”

“Enggak kak, aku baik-baik saja.”

“Apa kamu yakin?” Angga masih tidak percaya.

“Kak, aku baik-baik saja.” Kata Fiona sambil berusaha tersenyum. Lalu Fiona melayangkan pandangannya dan bertemu dengan sepasang mata yang ternyata sejak tadi menatapnya. Fionapun menganggukan kepala sambil tersenyum kepada wanita yang sudah menunggunya tersebut. “Itu orangnya, aku akan kesana Kak.”

Angga mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Fiona, kepada seorang wanita yang sedang duduk memandanginya dengan penuh selidik. “Dia siapa?”

Fiona tersenyum, “Kak angga nggak perlu tau..”

“Baiklah, aku akan duduk di sana, kalau ada apa-apa hubungi aku, oke.” lalu tanpa di sangka-sangka Angga mendaratkan ciumannya di kening Fiona. Fionapun terkejut, dan hanya terperangah menatap kepergian Angga.

Fiona melangkahkan kaki ke arah wanita yang sedari tadi memandangnya, dan itu membuat Fiona semakin gugup, belum lagi rasa mual yang entah kenapa sore ini tiba-tiba kambuh lagi.

‘Aku mohon jangan saat ini..’ Fiona memohon dalam hati supaya dia tidak mual bahkan muntah di hadapan Ibu Ben.

“Selamat sore tante, maaf saya terlambat.” Sapa Fiona sambil sedikit menganggukkan kepalanya penuh hormat.

“Tidak apa-apa, duduklah.” Dengan santai Wulan mempersilahkan Fiona duduk dihadapannya. “Siapa Pria itu.?” Tanyanya sambil menunjuk kearah Angga yang sejak tadi memang tak pernah lepas untuk memandang Fiona.

“Eemm.. dia hanya teman yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Dan juga bos di tempat saya bekerja.” Jawab Fiona sesopan mungkin.

“Benarkah..? kalian sepertinya punya hubungan pribadi.” Wulan menebak sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Tidak tante, beliau sudah sepeti kakak saya sendiri.” Ucap Fiona sambil tersenyum.

“Baiklah.. Apa kamu mau memesan makanan, Bulgogi di sini sangat enak.” Lalu Wulan mengambil sepotong daging iris di hadapanya dan memanggangnya di panggangan kecil yang sudah di sediakan.

Bau dari asap panggangan itu membuat Fiona mual. Astaga.. jangan sekarang.. Jangan sekarang… Fiona memohon dalam hati.

“Emmm sebenarnya apa hubunganmu dengan anakku Ben?” tanpa basa-basi lagi, Wulan menanyakan pertanyaan tersebut pada intinya. Dan pertanyaan itu entah kenapa membuat Fiona semakin mual. Sontak Fiona membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“Permisi.. maafkan saya..” lalu Fionapun berlari menuju ke toilet dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.

***

Sudah hampir setengah jam Fiona berada di dalam toilet, setelah dirasa sudah baikan, diapun keluar dari toilet, dan betapa kagetnya saat ia berada di meja tempat ibu Ben menunggunya , semua makanan yang tadi di pesan ibu Ben sudah tak ada di sana.

“Emm.. maafkan saya jika saya menghilangkan selera makan Tente..”

“Tidak apa-apa, Seharusnya saya tahu kalau kamu nggak suka mencium bau-bau seperti ini.” Jawab Wulan lalu meminum Teh di depannya. “Minumlah.. itu akan menyegarkanmu.” Ucap Wulan sambil menunjuk secangkir Teh mint yang sudah di pesankannya untuk Fiona..

“Terimakasih..” Akhirnya Fionapun meminumnya.

“Sudah berapa bulan?”

Fiona tak mengerti apa yang di tanyakan oleh wanita di hadapannya. “Maaf.. maksud tante?”

“Kandunganmu sudah berapa bulan?”

Dan Fionapun hanya mampu membulatkan matanya seketika saat menyadari jika Ibu Ben sudah mengetahui bagaimana keadaannya saat ini. apa ia harus jujur terhadap wanita di hadapannya tersebut?? atau ia harus mengelak dan menyembunyikan semuanya sampai nanti??

***

“Rapat yang sangat membosankan.” Gerutu Ben.

Vano yang sejak tadi memperhatikannya hanya tersenyum masam melihat tingkah laku Ben.

“Apa yang salah denganmu?” Tanya Ben heran dengan Vano yang sejak tadi mengamatinya dengan tersenyum sendiri. Tanpa di sangka-sangka Vano malah duduk dengan santainya di sofa ruangan kerja Ben.

Ya.. Vano memang bawahannya, sekertaris pribadinya, namun ada waktunya saat mereka sudah seperti sahabat bahkan saudara sendiri, karena mereka tumbuh bersama-sama dan Ben tak mempunyai teman dekat lain selain Vano yang sekarang menjadi Sekertaris Pribadinya.

“Kau.” Jawab Vano singkat.

“Aku? memangnya ada apa denganku? apa ada yang salah?” Ben masih tak mengerti.

“Iyaa.. aku merasa kamu sedikit berubah, Ben.”

“Berubah? Berubah bagaimana?”

“Entahlah.. Aku pikir dari dulu rapat memanglah membosankan, dan kamu nggak pernah mengeluh karena itu. Tapi akhir-akhir ini kukira kamu kurang fokus dengan rapat atau pekerjaan.” Kata Vano dengan santainya mengkritik atasannya tersenut.

“Hei.. Sialan!! Kamu mengkritik kinerjaku..”

“Hahahaha bukan seperti itu… aku pikir kamu hanya sedang memikirkan sesuatu selain pekerjaan.”

Ben menghela nafas panjang, merebahkan diri di sandaran kursinya dan sedikit memijit keningnya, “Entahlah.. Aku hanya ingin cepat pulang..” jawabnya kemudian.

“Cepat pulang dan bertemu dengan istri tercinta??” Goda Vano.

“Sialan!! Apa yang kau bicarakan??” Ben berkata dngan wajah terkejutnya. Ia tak menyangka jika Vano akan mengucapkan kalimat seperti itu.

“Aku sudah mengenalmu lama Ben, Apa kamu pikir aku nggak tau kalau kamu8 sedikit memiliki rasa untuk Fiona? Kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya dengan seorang wanita Ben..” Jelas Vano. “Dan lebih baik kamu memikirkan hubungan kalian selanjutnya bagaimna.” Lanjutnya lagi.

Ben mengangkat sebelah alisnya, “Hubungan kami selanjutnya? maksudmu?”

“Menikah.” Jawaban Vano mampu membuat Ben membelalakkan matanya sketika.

“Kamu ngila, mana mungkin aku menikah dngannya? Dan aku nggak akan menikah dngan wanita manapun.”

“Sekarang apa lagi yang kamu tunggu Ben? Dia sudah menjadi milikmu, mengandung anakmu, lalu? apalagi yang kurang?”

Mendengar saran Vano, Ben langsung merebahkan dirinya kembali ke Sandaran kursinya. “Ini nggak sesederhana itu…”

“Aku tau kalau kamu masih terauma dengan komitmen karena masalah Sheila dulu, tapi bukankah Fiona dan Sheila adalah orang yang berbeda? pribadi yang berbeda? jika kamu nggak mencobanya kamu nggak akan tau..”

Ben memejamkan matanya sejenak, meresapi setiap nasehat dari temannya itu. “Kamu tau kan masalalu Fiona seperti apa?” Tanya Ben kemudian.

Vano hanya menganggukkan kepalanya.

“Dia tidak seperti kebanyakan wanita yang menginginkan cinta. Kupikir yang ada dalam fikirannya adalah bagaimana caranya bertahan hidup, dan bagaimana nanti jika dia bertemu dengan lelaki yang lebih dari pada aku, bukan tidak mungkin kalau dia akan meninggalkanku.”

“Maksudmu dia mata duitan?”

“Bukan itu.. dia memang nggak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh terhadapku, aku hanya berfikir dia memperlakukan semua lelaki sama. Bahkan aku… Aku kira dia memperlakukanku nggak lebih dari pelanggan pribadinya.” Wajah Ben sedikit sendu saat mengatakan hal itu. “Dia bukanlah wanita yang memiliki cinta, wanita yang ingin di cintai maupun mencintai.

Vano menghampirinya dan menepuk bahu Ben. “Kamu jangan asal menerka-nerka perasaan orang, aku pikir Fiona memperlakukanmu special karena kalau dia memperlakukanmu sama, saat ini dia tak akan mungkin mau mengandung anakmu tanpa mau memberi tahumu.”

Ben tak menanggapinya dan hanya menghela nafas. Menenangkan fikirannya. “Aku nggak tau.. Aku hanya belum berani memikirkan sampai kesitu. Aku hanya belum bisa mempercayainya seutuhnya..”

Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk seseorang, Ben dan Vano saling pandang.

“Masuk” Tihtahnya kemudian.

Ben mengangkat sebelah alisnya ketika tau Ibunya yang berada di ambang pintu ruangannya. “Ibu..” Sontak Ben berdiri. Apa yang dilakukan ibunya sore-sore begini datang ke kantornya, sedangkan Vano pun terlihat kaget dan heran dengan kedatangan Ibu dari Ben.

“Baiklah, aku pergi dulu, hubungi aku jika ada sesuatu.” Ucap Vano kemudian. “Tante.. saya pamit dulu.” Vano beramitan dengan Ibu Ben, karena saking akrabnya dengan Ben, Vano Bahkan memanggil ibu Ben dengan panggilan Tante, bukan nyonya.

“Iya.. hati-hati di jalan.” Lalu Vano hanya menganggukkan kepalanya dan sedikit membungkukkan badannya saat melewati Ibu Ben.

“Ada masalah apa Bu? Kenapa datang sore-sore sperti ini? Aku sudah akan pulang.”

“Ibu ingin membicarakan sesuatu, apa pekerjaanmu sudah selesai?”

“Ya.. semuanya sudah selesai. Ada apa Bu?”

“Dia Hamil,.. Apa kamu tahu jika dia Hamil..?” Wulan menatap Ben dengan tatapan tajamnya.

Ben terkejut dengan apa yang dibicarakan ibunya, apa yang dimaksud ibunya adalah Fiona? bagaimana Ibunya bisa tau? Ben bertanya-tanya dalam hati.

“Kenapa kamu diam saja Ben? apa kamu mendengarku? Fiona, wanita simpananmu itu Hamil.” Nada bicara Wulan sedikit meninggi.

“Ibu.. dia bukan wanita simpanan.” Bantah Ben dengan penuh penekanan.

“Lalu aku harus menyebutnya apa Hahh,,? Diam-diam kamu mengajaknya tinggal seatap denganmu, padahal jelas kamu tau bahwa kamu memiliki Sheila sebagai tunanganmu.” Wulan sudah tak dapat menahan emosinya lagi.

“Aku dan Sheila sudah selesai Bu..”

PLaakkkkkk..

Telapak tangan Wulan mendarat sempurna di pipi putranya itu hingga wajah Ben terlempar kesamping.

“Ingat Ben.. Aku menyayangi Sheila sudah seperti putriku sendiri. Tidak akan ku biarkan siapapun menyakiti hatinya termasuk itu kamu Ben, Sampai kapanpun hanya dia yang akan menjadi pendampingmu, hanya dia yang akan menjadi Menantuku.”

Lalu Wulan pergi meninggalkan Ben yang masih berdiri membatu meresapi apa yang telah dikatakan ibunya tersebut.

Ben kemudian terduduk lemas di kursi kerjanya sesekali mengacak rambutnya dengan frustasi.

“Fiona… apa yang harus ku lakukan padamu?” Lirih Ben dengan wajah sendu penuh dengan kesedihan.

***

“Kapan kamu akan memberitahukannya padaku?” Fiona terkejut, ketika Ben sudah terbangun dan masih setengah telanjang menghampirinya, memeluk pundaknya dari belakang dan mengecupi lehernya.

“Hemmb.. Apa maksudmu?” Fiona menjawab dengan memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya, menikmati kembali setiap sentuhan yang di berikan oleh Ben.

“Dia.. Kapan kamu akan memberitahukan keberadaannya kepadaku??” Suara Ben terdengar Serak, Ben masih mengecupi leher Fiona, namun kali ini tangannya sudah membelai lembut perut Fiona.

Fionapun mengerjap seketika, ia membuka matanya lebar-lebar, lalu berbalik memandang Ben dengan tatapan terkejutnya.

Ben… Kamu… Kamu…” saking kagetnya Fiona tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya lagi.

Ben lalu memegang kedua bahu Fiona, mencium bibir Fiona dengan lembut, “Ya, aku sudah tau..” Ben lalu memeluk tubuh Fiona dengan sangat erat, seakan takut jika wanita yang di peluknya kini pergi meninggalkannya.

Sedangkan Fiona sendiri masih bingung dengan sikap Ben. Benarkah Ben mengetahui keadaannya yang sudah mengandung bayi dari lelaki tersebut.

Ben kemudian menghela napas panjang. “Fiona… Kita… Menikah saja.”

-to be continue-

My Beloved Man – Chapter 5

Comments 8 Standard

mb1My Brother

Haiii lama bgt nggak update yaa.. heheheh okay langsung aja…

“Fell… Emm.. Karena kita masih berstatus sebagai tunangan… Bolehkah… Aku.. menciummu??”

Pertanyaan Raka benar-benar membuat Felly membulatkan matanya seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Perutnya seakan menegang, Aliran darahnya seakan terhenti saat itu juga karena keterkejutannya saat mendengar permintaan Raka.

Mencium?? Bagaimana mungkin lelaki itu ingin menciumnya dalam keadaan sadar?? Felly ingin menolaknya, tapi ia sendiri tak dapat memungkiri, jika dirinya juga ingin di cium oleh lelaki yang di cintainya dalam keadaan sadar sepenuhnya tanpa pengaruh obat apapun. Bolehkah ia menerima Raka untuk malam ini saja? Melupakan semua status rumit mereka dan menganggap Raka sebagai calon suaminya malam ini saja?? Dan akhirnya, Felly hanya mampu pasrah dan memejamkan matanya untuk menerima sentuhan lembut dari bibir Raka…

***  

 

Chapter 5

 

Raka menelan ludahnya dengan susah payah saat di lihatnya Felly yang penuh dengan penyerahan atas tubuhnya. Wanita itu seakan pasrah dengan apa saja yang akan di lakukan Raka, dan itu membuat Raka semakin tak dapat menahan diri.

Raka mendaratkan telapak tangannya pada pipi lembut milik Felly, mengusapnya lembut penuh dengan kasih sayang, lalu ia mulai mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Felly. Bibirnya hampir saja menempel, tapi pada saat itu panggilan di belakangnya membuat Raka mengentikan aksinya.

“Kak Raka? Kalian ngapain?”

Itu Lili. Raka menjauhkan diri seketika dari Felly, pun dengan Felly yang sontak menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah merah padam karena kepergok hampir berciuman dengan orang yang seharusnya di anggap sebagai kakaknya.

“Kamu sendiri ngapain di sana?” Tanya raka dengan sedikit kaku.

“Aku? Memangnya kenapa kalau aku di sini? Ini kan rumahku. Harusnya pertanyaan itu kakak tanyakan dengan dia.” Ucap Lili dengan ketus sambil menunjuk ke arah Felly.

Tanpa basa basi lagi, Raka menggandeng tubuh Felly, dan itu benar-benar membuat Felly terpekik dengan apa yang di lakukan Raka.

“Lili, mulai saat ini, kamu harus menjaga sikapmu di hadapan calon kakak iparmu.” Ucap Raka masih dengan ekspresi datarnya.

Lili membulatkan matanya seketika, begitupun dengan Felly yang sontak menatap tak percaya pada Raka. Felly benar-benar tak menyangka jika Raka akan memberitahukan pada Lili tentang status hubungan mereka, padahal mereka belum tentu akan menikah, karena sampai detik ini pun Felly yakin jika dirinya tidak akan hamil.

“Kak Raka apaan sih?” Felly sedikit menjauhkan diri dari tubuh Raka.

“Kita benar-benar tunangan Fell.. Please, kamu jangan memungkiri kenyataan itu.”

“Aku nggak memungkirinya, tapi belum tentu kita berakhir menikah kak..”

Raka akan membuka mulutnya untuk membalas bantahan dari Felly tapi kemudian Lili lebih dulu mengucapkan kalimatnya dengan sedikit berteriak.

“Menikah? Kak Raka gila? Lihat, dia nggak pernah suka dengan Kak Raka, apa kakak memilih menjadi budaknya seumur hidup?”

“Budak? Lili, aku nggak pernah berniat memperbudak kakak kamu.” Felly sedikit tersinggung dengan apa yang di bicarakan Lili.

“Kenyataannya kamu dan keluargamu sudah seperti memperbudak kakakku.”

“Lili..!!” Seru Raka. “Pergi dari sini.”

“Kak Raka membela dia?”

“Pergi Lili.” Ucap Raka lagi dengan ekspresi yang sudah menggelap.

Dengan menghentak-hentakkan kakinya, Lili pergi meninggalkan Raka dan juga Felly yang masih berdiri membatu dengan pikiran masing-masing.

“Aku.. Aku pulang aja.” Ucap Felly kemudian sambil bergegas pergi meninggalkan Raka. Tapi, tanpa di duga, Raka dengan cepat menarik pergelangan tangan Felly lalu menarik wanita tersebut dalam pelukannya.

“Maaf..”

“Maaf untuk apa?”

“Untuk Lili dan semuanya.”

Felly menghela napas panjang. “Sudahlah.. Mungkin memang aku yang salah.”

“Kamu nggak pernah salah.”

“Ya, Aku salah, kalau aku nggak pacaran sama Jason, mungkin dia nggak akan sebenci itu denganku.”

“Nanti setelah kita menikah, otomatis kalian putus, dan setelah itu kupikir hubunganmu dan juga Lili akan membaik.”

“Kak.. Kita belum tentu akan menikah.”

Raka melepaskan pelukannya kemudian menangkup kedua pipi Felly.

“Fell, Please, jangan membuat semuanya sulit untukku. Hamil atau tidak, aku tetap akan menikahimu.”

Felly menghela napas panjang, tanda jika dirinya memang sudah tak dapat membantah lagi apa yang di ucapkan oleh Raka.

***

Malam itu akhirnya Raka, Felly dan Ibu Raka hanya makan bertiga. Lili pergi setelah berdebat dengan Raka tadi. Dan itu benar-benar membuat Felly merasa tak enak.

Sebenarnya tadi Felly hanya mengantarkan Rendang buatan Mamanya untuk keluarga Raka. Tapi karena Tante Mirna menyuruh untuk memanggil Raka dan mengajak makan bersama, maka Felly tak dapat menolaknya.

Tante Mirna sendiri seakan sudah paham hubungan Felly dengan Lili. Maka ia tak heran jika Felly makan di rumahnya, Puteri bungsunya itu lebih sering makan di luar ketimbang satu meja makan dengan Felly.

“Makanmu sedikit sekali. Lagi diet?” Tanya Tante Mirna pada Felly.

“Ahh, enggak tante.”

“Makanlah yang banyak, terlalu kurus juga nggak baik untuk calon pengantin.”

Raka tersedak seketika. Ia terbatuk-batuk karena apa yang di ucapkan Ibunya. Sebenarnya, Raka memang belum mengatakan kepada ibunya jika ia akan menikahi Felly. Lalu dari mana ibunya tahu tentang hal itu?

“Ibu tahu?” Tanya Raka masih dengan tatapan tak percayanya.

Sedangkan Tante Mirna hanya menganggukkan kepalanya. “Cincin kalian membuat ibu tahu, dan ibu benar-benar nggak nyangka kalau hubungan kalian akan sejauh ini.”

“Ibu… ini bukan seperti yang ibu pikirkan.” Ucap Raka cepat. Ia melirik ke arah Felly yang tadi langsung menarik tangannya saat ibunya menatap cincin pada jari mereka. Felly tidak nyaman dengan pembicaraan ini, Raka tahu itu.

“Nggak seperti yang ibu pikirkan? Maksud kamu?”

“Emm… ada suatu hal yang membuat kami memang harus menikah.”

“Suatu hal?”

Wajah Raka merah padam saat sang Ibu menuntutnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang baginya sangat sulit ia jawab. Raka kembali melirik ke arah Felly yang kini sudah menundukkan kepalanya. Raka kemudian meraih telapak tangan Felly, kemudian menggenggamnya, membuat Felly mengangkat wajahnya lalu menatap ke arahnya.

“Yang penting, ibu hanya perlu tahu kalau kami akan menikah. Raka dan Felly ingin meminta restu Ibu.”

Sang ibu tersenyum lembut. “Dari dulu ibu selalu berharap memiliki menantu seperti Felly, sudah cantik, baik, perhatian lagi. Tapi ibu tak pernah berharap lebih jika Felly yang akan menjadi menantu Ibu, ibu tentu tahu, di mana posisi keluarga kita.”

“Tante…” potong Felly. “Felly nggak pernah mempermasalahkan posisi keluarga tante, Tante, kak Raka dan Lili adalah keluarga besar untuk kami.”

“Ya, tapi tante tetap merasa tidak enak. Keluarga kalian sudah lebih dari baik untuk keluarga kami. Tapi apapun alasannya, tante tetap senang kalau kalian berakhir sebagai suami istri nantinya.”

Felly hanya mampu menatap Raka dengan tatapan anehnya. Astaga… apa yang harus ia lakukan nanti? Apakah ia memang harus berakhir menjadi istri kakaknya tersebut?

***

“Emm.. aku masuk dulu.” Ucap Felly dengan canggung saat Raka tak juga pulang ketika mengantarnya sampai di halaman rumahnya.

“Tunggu dulu.” Ucap Raka sambil menarik tangan Felly. Dengan cepat Raka mengecup lembut kening Felly, sedangkan Felly dengan spontan menutup matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir Raka tepat di keningnya.

“Ingat, apapun yang terjadi, kita akan tetap menikah.”

“Kak..”

“Jangan membuat ini menjadi sulit Fell..”

“Kasih aku waktu, Please..”

Raka menghela napas panjang. Kemudian di usapnya pipi Felly dengan ibu jarinya. “Aku akan memberimu waktu sampai kamu siap.” Dan Felly hanya bisa menganggukkan kepalanya.

***

Pagi itu, Felly duduk di atas closet kamar mandinya dengan memeluk kedua lututnya. Matanya masih menatap dengan tatapan tak percaya pada sederet alat tes kehamilan yang berjajar rapi di pinggiran bath up miliknya.

Semuanya menunjukkan garis dua yang artinya positif. Astaga… bagaimana mungkin ini benar-benar terjadi padanya?

Ini sudah dua bulan sejak ia menghabiskan malam bersama dengan Raka. Bulan lalu, sebenarnya Felly sudah sedikit curiga dengan keadaannya ketika tamu bulanannya tak kunjung datang. Tapi saat itu Felly berpikir positif, mungkin saja saat itu ia terlalu stress hingga tamu bulanannya datang terlambat. Tapi nyatanya hingga kini Felly tak juga datang bulan.

Akhirnya dengan gelisah, tadi malam ia mencoba membeli beberapa alat tes kehamilan. Dan kini, hasil nyata itu sudah berada di hadapannya.

Ia hamil… dengan kakak angkatnya sendiri.. Astaga…

Felly menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya yang di lipat di atas lututnya. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Bagaimana cara ia menyampaikan hal ini pada Raka? Apa Raka masih mau menikahinya?? Apa Raka akan senang? Atau lelaki itu akan kesal karena terikat dengannya?? Felly benar-benar tak tau apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Tiba-tiba Felly mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Dengan gelagapan Felly mengangkat wajahnya.

“Siapa?”

“Ini aku.”

Felly membulatkan matanya seketika saat mendengar suara itu. Itu adalah suara Raka. Astaga.. ngapain juga lelaki itu datang padanya pada saat seperti sekarang ini??

Dengan cepat Felly meraih semua alat tes kehamilan di hadapannya kemudian membuangnya begitu saja ke dalam tong sampah. Ia tidak ingin Raka melihatnya, dan ia belum siap memberitahukan keadaannya pada lelaki tersebut.

“Sebentar, aku masih mandi kak.” Dan akhirnya Felly memutuskan untuk segera mandi lalu menemui Raka yang sudah menunggunya.

***

Raka menyandarkan tubuhnya pada dinding tepat di sebelah pintu kamar Felly. Ia tak mungkin dengan kurang ajar masuk ke dalam kamar wanita itu saat si pemilik kamar sedang di dalam kamar mandi.

Sesekali Raka melirik ke arah jam tangannya. Hari ini masih sama dengan hari sebelumnya. Ia akan mengantar Felly ke toko Ice Cream milik wanita tersebut sebelum ia berangkat ke kantor, begitupun dengan saat pulang, Raka akan menjemput Felly lalu pulang bersama, setidaknya itulah yang dapat di lakukan Raka dua bulan terakhir untuk bertanggung jawab dengan Felly.

Tapi semakin hari, rasa gelisah selalu membayangi hati Raka. Felly tak juga kunjung hamil, ia takut, jika wanita itu akan memutuskan pertunangan mereka dengan alasan tidak hamil, dan Raka tak dapat menerima kenyataan itu. Ia harus berakhir dengan menikahi wanita yang sangat di cintainya itu. Terdengar egois mungkin, tapi bagaimana lagi, ia benar-benar tak mampu melihat Felly bersanding dengan lelaki lain.

Tak lama, pintu di sebelahnya terbuka, dan menampilkan sosok cantik dengan wajah pucatnya. Raka menegakkan tubuhnya seketika, mengamati apapun perbedaan yang terlihat dari sosok di hadapannya tersebut.

Felly terlihat pucat, pipinya pun lebih tirus, wanita itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Kenapa? Apa Felly sakit??

“Kamu sakit?” Tanya Raka tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Felly.

Felly menggelengkan kepalanya, kemudian ia sedikit menjauh dengan sentuhan Raka. Entah kenapa mengingat darah daging lelaki itu yang kini sedang tumbuh di dalam rahimnya membuat ia sedikit merasakan rasa aneh yang ia sendiri tak mengerti rasa apa itu.

“Kulitmu hangat.” Ucap Raka lagi.

“Aku nggak apa-apa kok, ayo, kita berangkat.” Raka kemudian menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mengikuti tepat di belakang Felly.

***

“Emm.. nanti sore jangan di jemput.” Ucap Felly tiba-tiba ketika ia dan Raka sudah di dalam mobil.

“Kenapa?”

“Aku ada janji.”

“Dengan Jason?” Tanya Raka penuh selidik.

Felly hanya menganggukkan kepalanya.

“Kalau makan siang?” Tanya Raka lagi.

“Maaf, aku.. juga sudah janjian.” Jawab Felly sedikit mempelankan suaranya.

Sebenarnya hari ini ia tak memiliki janji apapun dengan siapapun, hanya saja, berdekatan dengan Raka membuatnya seakan tak nyaman. Ia takut, jika tiba-tiba Raka mengetahui keadaannya kini yang berbadan dua, dan tiba-tiba mengajak menikah begitu saja. Entahlah, Felly hanya merasa belum siap.

Raka menghela napas panjang. “Baiklah, hanya sehari kan?”

“Aku nggak tau.”

“Kok nggak tau? Kamu nggak sedang mengindari kakak kan?” Tanya Raka masih dengan ekspresi datarnya.

“Enggak, aku nggak menghindar kok.”

“Lalu??”

“Emm.. Beberapa hari terakhir, Jason ada acara, jadi aku menemani dia. Cuma itu aja.”

“Kamu yakin hanya itu?”

“Ya, aku yakin.” Jawab Felly cepat.

“Kamu harus menjaga kesehatan kamu, jangan terlalu lelah, nanti kalau…”

“Kak Please..” Felly memotong kalimat Raka. “Aku nggak hamil, jadi kak Raka nggak perlu memperlakukanku seperti wanita hamil.” Felly berkata dengan sedikit kesal.

Ya, selama dua bulan terakhir Raka memang memperlakukannya seperti benda rapuh yang gampang sekali pecah. Raka seakan selalu menjaga setiap apapun yang di lakukan Felly, Raka terlalu berlebihan dan itu membuat Felly tak nyaman. Ia memang senang Raka melakukan semua itu padanya, yang membuatnya tak senang adalah alasan Raka melakukan semua itu hanya karena sebuah tanggung jawab. Seakan-akan lelaki itu memang harus menjaganya karena sebuah tugas, bukan karena sebuah kerelaan.

“Aku nggak berpikir kamu hamil. Aku hanya melihat tubuhmu yang semakin kurus, wajahmu yang pucat, aku nggak mau kamu sakit. Ini nggak ada hubungannya antara kamu hamil atau tidak.” Raka terdiam sebentar, kemudian ia menatap Felly dengan tatapan penuh selidiknya. “Atau jangan-jangan, kamu memang sedang hamil?”

Felly membulatkan matanya seketika. Bagaimana mungkin Raka dapat menebak dengan benar apa yang terjadi dengannya? Dari mana Raka tau tentang keadaannya yang kini sedang berbadan dua? Apa Raka memang dapat merasakan jika saat ini ada bagian dari diri lelaki itu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya?? Dengan spontan Felly menangkup perutnya dengan kedua telapak tangannya. Sialnya hal itu tak luput dari pandangan Raka. Astaga.. apa yang harus ia lakukan selanjutnya??

-to be continue-

jangan lupa tinggalkan komentar.. insha allah besok ada bang Ben dan mas yoga yaa….  happy waiting…

Diary Kepenulisan – Part 4 (Wattpad yang semakin tidak Nyaman)

Comments 4 Standard

01Diary Kepenulisan

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

 

Part 4

Wattpad yang semakin Tidak nyaman…

 

Wattpad….

Aku nggak tau apa yang terjadi di wattpad akhir-akhir ini….

Menulis di wattpad kini bukan sesuatu yang nyaman lagi untukku… Kenapa?? Entahlah…. Mungkin kini terlalu banyak akun yang memang tak menyukai ke suksesan beberapa author di sana.

Aku juga heran. Kenapa bisa ada orang-orang seperti itu. Bebebrapa saat yang lalu, ada beberapa akun yang memang sengaja mencari-cari kekurangan di ceritaku.

Ya, tentunya aku tau bahwa ceritaku memang banyak kurangnya.. tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya saja mencari-cari kekurangan tersebut….

Beberapa kali aku Down.. saat ingat komentar-komentar miring mereka.. yaa… tak di pungkiri kalau komentar buruk pada suatu cerita sedikit banyak itu pasti akan berpengaruh pada Mood penulis itu sendiri.. seperti yang ku rasakan…

Tapi saat membaca komen positif, semangat itu datang lagi…  membara lagi… aku ingin lanjut nulis dan nulis… menciptakan duniaku sendiri… dunia dari imajinasiku… tak peduli betapa tak masuk akalnya ceritaku… yang penting tujuannya hanya satu, aku ingin mencurahkan semuanya yang mengganjal di hatiku supaya aku lega… aku ingin menghibur diriku sendiri dengan dunia yang ku ciptakan sendiri…  aku ingin membuat beberapa orang tersenyum seperti orang gila saat membaca ceritaku… yang ku inginkan hanya itu…

Tapi nyatanya beberapa akun di Wattpad tidak berpikir seperti itu… tidak berpikir bahwa ini hanya suatu hiburan… Astaga.. ayolah… Buat para akun tersebut.. Kalian terlalu KAKU…!!!

Sepagi tadi aku mendapat gonjang ganjing jika beberapa cerita populer di wattpad ada yang me Report… mereka bilang karena cerita tersebut mengandung unsur dewasa.

Begitukah??

Bukannya kalian yang meReport itu hanya iri karena cerita tersebut Populer berikut penulisnya??? Ayolahh jangan munafik.

Ada banyak… BANYAK sekali cerita esek2 di wattpad tanpa alur cerita yang jelas, dan mereka tidak pernah masuk Rank, alias tidak populer,,, lalu kenapa kalian tidak meReport cerita tersebut?? kenapa hanya cerita2 populer saja???

Ceritaku memang bukan cerita populer, aku tau itu… tapi karena MYW pernah masuk Rank #2  di wattpad, dan juga banyak sekali mengandung unsur Dewasa, maka tak ada salahnya bukan aku curiga jika pasti ceritaku juga akan masuk list Report…

Tadi, beberapa pembaca setiaku menghubungiku secara langsung dan mengusulkan hal ini padaku… Aku di minta Unpub sementara MYW dari wattpad, dan ku pikir itu memang ide bagus…

Ya… Malam ini juga MYW SEMENTARA akan aku UNPUBLISH dari wattpad…. jika keadaan sudah kembali memungkinkan, maka aku akankembali mempublishnya, Aku janji…!!

‘Alahhhh Thorrr.. Lu cemen Banget, di Report juga kagak, pakek acara di unpub segala… populer juga kagak.. sok-sok’an lu.. bilang aja cari sensasi…’

Kalo ada yang komentar seperti di atas, maka aku akan tertawa nyaring di depan mukanya… dan berkata..

Helloooo…. Satu juta Viewer itu sudah banyak sekali buatku… 102K Voters itu sudah banyak sekali buatku.. Rank #2 juga sudah luar biasa buatku, mengingat ceritaku nggak ada yang se Rame MYW.. Aku nggak mungkin membiarkan Ceritaku itu tiba-tiba ilang tanpa bekas karena di Report orang… Apa nggak sayang sama Vote yang di berikan Reader untukku?? Apa nggak sayang ama komenan-komenan lucu mereka?? Kalo aku sih sayang banget…. Jadi, Sebelum ceritaku itu di hapus dari Wattpad, Maka SEMENTARA akan aku UNPUBLISH sampai kondisi lebih baik lagi…

Aku tidak mencari keuntungan, SAMA SEKALI TIDAK.  Karena kalian masih bisa baca gratis di blog ku ini kalau kalian kangen sama kak Aldo. Blog ini pun Bebas dari iklan. Jadi, aku benar-benar TIDAK mencari keuntungan dari hal ini…

Terimakasih sebelumnya sudah mampir di sini… Ingat, Kalau bertamu harus selalu menghormati yang punya rumah. Sampai jumpa di diary kepenulisanku selanjutnya….

 

KissHug

Zenny Arieffka