My Beloved Man – Chapter 2

Comments 3 Standard

mb1

My Brother

Kak Raka udah hadir Dear.. maaf kalo nggak sesuai dengan harapan kalian yakk ceritanya.. hahahhahaha

“Kalian sangat dekat ya..” Lirih Kirana.

“Tentu saja, dia adikku.”  Ucap Raka penuh penegasan.

Dan entah kenapa itu membuat Felly semakin menundukkan kepalanya. Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapannya?? Apa felly tak suka jika ia mengaggapnya sebagai adik?? Pikir Raka kemudian sambil mengamati sosok cantik yang berdiri di hadapannya.

*** 

 

Chapter 2

 

“Jadi.. Dia..” Felly membuka suara karena tak nyaman dengan keadaan di sekitarnya yang hening.

Saat ini ia sudah berada di dalam mobilnya dengan Raka yang mengemudi di sebelahnya. Sejak tadi mereka berdua diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, suasana canggung tercipta begitu saja ketika keduanya saling berdiam diri.

“Dia kenapa?”

“Emm.. Kirana, Pacarnya kak Raka??”

“Sebut saja begitu.”Jawaban Raka benar-benar tak memuaskan untuk Felly. Astaga.. Apa tidak bisa lelaki itu menjawab pertanyaannya dengan jawaban iya atau tidak??

“Dia cantik, pantas sekali bersanding dengan kak Raka.”

“Aku tidak mencari wanita cantik.”

“Lalu, apa yang kak Raka cari??”

“Wanita yang mencintaiku dan mau menjadi ibu dari anak-anakku.” Meski di ucapkan dengan nada datar seperti biasanya, entah kenapa Felly merasakan sesuatu yang menggelitik hatinya.

“Emm. memangnya kak Raka belum menemukan wanita itu??”

“Belum.”

“Emmm.. kalau aku adalah wanita itu, apa kak Raka mau menikahiku??”

Tubuh Raka menegang seketika. Dengan spontan ia bahkan menginjak pedal rem membuat mobil yang mereka kendarai berhenti seketika. Raka menatap tajak ke arah Felly. Hanya beberapa detik keduanya saling melemparkan tatapan aneh masing-masing, hingga kemudian Felly kembali mencairkan suasana dengan tertawa lebar.

“Apa yang kamu tertawakan??”

“Kak Raka lucu.. Hahahha, aku kan cuma bercanda.” Ucap Felly dengan tertawa lebar.

“Nggak lucu.” Ucap Raka dengan datar, kemudian kembali menjalankan mobilnya. “Jika wanita itu kamu, maka aku akan menikahimu.”

Dan jawaban Raka tersebut mampu membuat jangtung Felly berdegup tak beraturan. Astaga, kenapa juga tadi ia menanyakan kalimat tersebut??

***

Akhirnya sampailah mereka di tempat yang di tuju. Sebuah Club mewah untuk kalangan atas, dan sepertinya club tersebut memang sudah di sewa oleh Jason dan teman-temannya, karena ketika mereka masuk ke dalam, suasana ramai dan sesak sudah memenuhi ruangan.

Tanpa canggung lagi Felly menarik sebelah tangan Raka untuk mengikutinya. Mereka masuk dan berkeliling mencari keberadaan Jason.

“Tempat ini nggak bagus untuk kamu.” Raka berkomentar masih dengan nada datarnya.

“Maka dari itu aku ngajak kak Raka kesini, supaya kak Raka menjagaku.”

“Kenapa tidak meminta Jason yang menjagamu?”

Felly kemudian menatap ke arah Raka. “Karena aku nggak pernah merasa aman dan nyaman dengan lelaki lain selain Kak Raka.”

Keduanya kemudian saling pandang cukup lama dengan kediaman masing-masing. Hingga kemudian kedatangan Jason menyadarkan keduanya.

“Baru sampai sayang??” sapa Jason yang langsung memeluk tubuh Felly tanpa canggung sedikitpun. Jason bahkan tak segan-segan mengecup singkat bibir Felly.

Felly sendiri mencoba melirik ke arah Raka, berharap jika lelaki itu menampakkan ekspresi kerasnya atau ekspresi lainnya, namun nyatanya, Felly hanya mampu menelan kekecewaan. Raka masih sama, berekspresi datar seakaan tak ada apapun yang mengusik hatinya.

“Kalau gitu aku tinggal dulu.” Ucap Raka dengan datar.

“Kak Raka mau kemana?”

“Aku cari minum dulu.” Dan tanpa permisi Raka pun pergi meninggalkan Felly dan juga Jason.

“Kenapa? Kamu kecewa dengan reaksinya?” tanya Jason dengan nada sinisnya.

“Lupakan saja.” Hanya itu jawaban Felly. Felly kemudian pergi dengan rasa kesal di hatinya, sedangkan Jason hanya mampu mengikuti kemanapun perginya wanita yang benar-benar di cintainya tersebut.

***

Raka menatap minuman di hadapannya, ia kemudian melirik ke arah bartender di hadapannya yang sejak tadi menatapnya.

“Maaf, tapi saya tidak memesan ini.” Ucap Raka dengan bartender tersebut.

“Di sini hanya ada minuman seperti itu.”

Raka sedikit menyunggingkan senyumannya. “Saya tidak pernah minum-minuman beralkohol.”

“Tapi untuk malam ini, di sini tidak ada minuman tanpa alkohol.” Jawab Bartender tersebut.

Raka menghela napas panjang. Sepertinya malam ini ia tidak akan minum. Tapi, bagaimana dengan Felly?? Ahhh Felly pastinya bisa menjaga diri supaya tidak minum-minuman seperti itu, pikirnya.

Saat Raka santai dalam duduknya, tiba-tiba saja ada dua orang wanita duduk di kursi sebelahnya sambil memesan minuman pada bartender tersebut. dua orang wanita itu tampak saling terkekeh satu sama lain sambil sesekali bercerita.

“Biar aja, biar mampus tuh si Felly.” Ucap seorang wanita dengan rambut pendeknya. Tubuh Raka menegang seketika ketika nama Felly di sebut. Memang nama Felly bukan hanya satu, tapi tetap saja Raka khawatir jika yang di bicarakan wanita-wanita itu adalah Felly yang ia maksud.

“Iya say, Astaga.. Gayanya sok alim banget. Nanti kalau dia sudah minum itu minuman, Gue jamin, si Jason bakalan jijik sama dia.” Ucap wanita yang lainnya.

Saat ini, Raka hampir memastikan jika Felly yang di maksud wanita-wanita itu adalah Fellynya.

“Memangnya lo kasih berapa tadi dosisnya?”

“Satu bungkus penuh. Hahahah.” Jawab wanita itu sembari terkekeh.

“Gila lo. Kalau segitu, Jason aja nggak akan mungkin bisa memuaskannya. Hahahahha.”

“Biar aja, biar Jason tau kalau Felly itu nggak sepolos yang di lihat. Hahhaha.”

Dan setelah ucapan wanita itu, Raka akhirnya segera berdiri dan bergegas mencari di mana keberadaan Felly dan Jason. Dari percakapan wanita-wanita tadi sudah jelas jika wanita-wanita tadi memiliki niat buruk pada Felly dengan mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Felly. Ahh semoga saja Felly belum meminum minuman yang di maksudkan tersebut.

***

Felly merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Tiba-tiba ia merasa gerah, padahal tadi ia tak merasa sepanas saat ini.

Felly memutuskan meminum-minuman di hadapannya hingga tandas, sedangkan Jason sendiri hanya menatap Felly dengan tatapan anehnya.

“Ada apa?” Tanya Jason sedikit bingung dengan sikap Felly, wajah Felly bahkan tampak merona.

Felly menggelengkan kepalanya. “Enggak, kayaknya ruangan ini panas banget.”

“Oh ya?? Perasaan kamu aja mungkin..”

Tapi kemudian tanpa di duga, Felly malah membuka lapisan luar gaun yang di kenakannya. “Iya, ini panas.” Ucapnya sambil berdiri dan bersiap keluar dari ruang tersebut.

Dengan cepat Jason berdiri lalu meraih sebelah tangan Felly dan menariknya hingga kemudian Felly terduduk di atas pangkuanya.

Felly menatap Jason dengan tatapan anehnya sedangkan Jason sendiri tampak asing dengan sikap Felly. Felly terlihat aneh, wanita itu kini bahkan sudah meraba halus pipinya.

“Fell.. kamu nggak apa-apa kan??” tanya Jason kemudian ketika ia sedikit tak nyaman dengan tingkah Felly.

“Kamu tampan.” Ucap Felly masih dengan menelusuri wajah Jason dengan jari jemarinya.

“Kamu aneh.” Hanya itu jawaban dari Jason, karena tak di pungkiri kalau kini ia mulai tergoda dengan sosok Felly.

Tanpa di duga, Felly mendaratkan bibirnya pada bibir Jason, mencium Jason dengan ciuman penuh gairah. Jason sendiri benar-benar tersentak dengan apa yang di lakukan Felly. Setaunya, Felly bukan tipe wanita seperti saat ini.

Jason mengenal Felly beberapa tahun yang lalu saat ia mengunjungi sebuah Pub dengan teman-temannya. Di sana ia bertemu dengan Felly yang ternyata adalah teman salah satu waiters di Pub tersebut.

Meski mereka kenal dari tempat seperti Pub, tapi Jason tahu jika Felly bukanlah gadis malam. Wanita itu adalah wanita baik-baik. Bahkan dari cara berpakaiannya pun Jason tahu.

Mereka kemudian saling berhubungan lewat telepon dan sosial media. Jason bahkan sering mengunjungi Felly ke toko ice cream dan cake milik Felly. Kemudian tak tahu kapan persisnya, Jason mulai memendam perasaan untuk Felly. Ia pikir wanita itupun demikian mengingat ia sama sekali tak pernah mendapat penolakan. Akhirnya Jason menyatakan cintanya pada Felly, tapi nyatanya, wanita itu menolaknya.

Felly beralasan jika ia mencintai lelaki lain. Dan dari cara Felly bercerita, Jason tahu jika lelaki itu adalah Raka, Kakak angkatnya. Hubungan merekapun akhirnya menjadi rumit saat itu, tapi kemudian Jason dengan setia mendekati Felly lagi dan lagi hingga kini hubungan mereka sudah jauh membaik bahkan kini bisa di bilang jika mereka sudah seperti orang yang sedang pacaran. Jason tahu jika Felly dekat dengannya hanya untuk membuat kakak angkatnya itu cemburu, tapi Jason cukup senang jika hal itu membuat dirinya dekat dengan Felly.

Tapi saat ini, Wanita yang berada diatas pangkuannya ini bukan seperti wanita yang di kenalnya dulu. Felly terlihat seperti wanita penggoda, wanita liar yang haus akan sentuhan. Tapi bagaimanapun keadaan Felly, Jason tentu tak dapat menolak wanita tersebut.

Jason membalas ciuman yang di berikan oleh Felly. Ia bahkan memberanikan diri menjalankan telapak tangannya pada tubuh Felly. Felly tampak tak menolak, wanita itu bahkan sesekali mengerang dalam cumbuannya dan itu membuat Jason semakin menggila. Kejantanannya kini bahkan menegang seketika. Ia menginginkan Felly saat ini juga.

Tapi belum juga Jason memperdalam ciumannya, sebuah tangan tiba-tiba menarik tubuh Felly. Menjauhkan wanita itu dari pangkuannya. Dan belum sempat Jason sadar, sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya. Membuat tubuhnya jatuh terjungkal di atas lantai.

“Brengsek..!!!” ucap lelaki itu yang Jason tau adalah Raka, Kakak angkat Felly. Raka tak langsung pergi, lelaki itu malah memukulinya lagi dan lagi hingga kemudian beberapa orang menarik tubuh Raka menjauh darinya.

Raka menatap Jason dengan tatapan membunuhnya. Kemudian tanpa banyak bicara lagi ia menarik tangan Felly dan mengajak wanita itu pergi dari tempat tersebut.

***

Raka mencengkeram erat kemudi mobil yang di kendarainya. Sesekali ia melirik ke arah Felly yang benar-benar sudah berubah. Wanita itu tak berhenti menggeliat kesana kemari, bahkan sesekali Felly mendesah dan itu benar-benar membuat Raka frustasi.

Raka menghentikan mobilnya, di tatapnya kulit Felly yang memerah. Mata wanita tersebut bahkan terlihat berkabut.

“Kamu nggak apa-apa kan??” tanya Raka dengan lembut sambil mengusap pipi Felly dengan jemarinya.

“Aku.. Panas…” Ucap Felly dengan sedikit mengerang.

“Aku harus gimana??” Ucap Raka pada dirinya sendiri. Raka memejamkan matanya dengan frustasi. Ia kemudian meraih sebelah tangan Felly dan mengecupnya lembut. “Maafkan aku.” Ucapnya. Kemudian Raka kembali mengemudikan mobilnya. Bukan ke arah pulang, tapi ke arah hotel terdekat.

***

Dengan memerah Raka menerima kunci kamar hotel dari resepsionis. Bukannya apa-apa, tapi ini memang pertama kalinya Raka membawa seorang wanita menginap di sebuah Hotel, apa lagi jika mengingat rencananya malam ini, Jantung Raka tak bisa berhenti berdegup kencang.

Malam ini Rencananya ia akan memiliki tubuh felly seutuhnya. Bukan tanpa alasan, selain karena ia tidak ingin melihat Felly kesakitan seperti saat ini, ia juga ingin mengikat diri Felly supaya menjadi miliknya seutuhnya.

Raka menatap Felly dengan tatapan sendunya. ‘Maafkan kak Raka… Mungkin setelah malam ini kamu akan membenci kak Raka, tapi kak Raka melakukan semua ini karena Kak Raka mencintaimu, tak bisa jauh darimu, ingin memilikimu dan mengikatmu menjadi milik kak Raka.’ Lirih Raka dalam hati ketia ia menatap Felly saat berada di dalam sebuah lift.

Lift akhirnya berhenti di lantai kamar yang di pesan oleh Raka. Mereka keluar dari Lift dan mencari kamar dengan nomor 202. Setelah ketemu, dengan gugup Raka masuk bersama dengan Felly yang sejak tadi memang sudah bergelayut dalam lengannya.

Setelah masuk dan menutup pintu, dengan gugup Raka menatap ke arah Felly, menelusuri tubuh wanita itu dengan tatapan matanya. Raka benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan karena ia pun baru pertama kali melakukannya.

Tapi tanpa di duga tiba-tiba saja Felly mengalungkan lengannya pada leher Raka dan itu benar-benar membuat Raka sedikit terkejut. Tubuh Raka menegang seketika saat bibir mungil milik Felly menyapu bibirnya. Raka hanya dapat membatu, tubuhnya seakan kaku mendapat perlakuan tersebut dari Felly, wanita yang sangat di cintainya.

Felly melumat bibirnya penuh gairah, wanita itu juga tak segan-segan lagi mengacak-acak tatanan rambut Raka dengan jemarinya. Felly kini bahkan bergerak menggesekkan pinggulnya tepat pada kejantanan Raka dan itu membuat Raka semakin menegang.

Dengan spontan Raka membalas ciuman Felly dengan ciuman lembutnya. Tangan Raka kini bahkan sudah menarik tubuh Felly hingga menempel seutuhnya pada tubuhnya. Astaga.. Raka bahkan tak pernah membayangkan jika ia akan melakukan hal ini terhadap Felly. Ia sangat mencintai Felly dan juga sangat menghormati wanita tersebut, tapi kini ia tak bisa menutup mata jika dirinya juga ingin memiliki Felly seutuhnya.

“Maafkan aku..” Ucap Raka ketika melucuti satu persatu kain yang menempel pada tubuh Felly hingga wanita tersebut polos tanpa sehelai benang pun.

Dengan cekatan Felly bahkan membantu Raka membuka satu persatu kancing kemeja yang melekat pada tubuh lelaki tersebut. Felly tak berhenti menggerakkan tubuhnya menggoda Raka, menggeliat kesana kemari seakan ingin di sentuh.

Setelah keduanya sudah sama-sama polos. Felly kembali menempelkan tubuhnya pada tubuh Raka, sedangkan Raka masih dengan kekakuannya mencoba menyentuh tubuh Felly. Lagi-lagi Felly mengalungkan lengannya pada leher Raka, ia kemudian berjinjit seakan mencoba menggapai bibir lelaki tersebut. Raka yang melihatnya hanya mampu tersenyum, Felly benar-benar  menggoda, dan Raka mengaku jika kini dirinya sudah tergoda dengan tingkah Felly.

Raka menundukkan kepalanya hingga wajahnya mendekat tepat pada wajah Felly. Ia kemudian berkata dengan lembut di sana.

“Maafkan aku..” hanya itu yang di ucapkan Raka.

“Kenapa minta maaf?” Felly yang sudah setengah sadar dengan mata berkabutnya hanya mampu mengucapkan pertanyaan tersebut.

Raka mengusap lembut bibir milik Felly. “Bencilah aku setelah ini. Tapi ku mohon, jangan jauhi aku..” ucap Raka dengan parau kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir Felly. Melumatnya lembut penuh gairah hingga Raka seakan dapat kehilangan kendali saat melumat bibir Felly.

Sedikit demi sedikit Raka mendorong tubuh Felly hingga keduanya jatuh di atas ranjang. Felly sendiri semakin menggila ketika dirinya berada di bawah tindihan Raka. Ia kembali menggeliat kesana kemari sambi sesekali menempelkan pusat dirinya pada kejantanan Raka.

Pun dengan  Raka yang sudah tak dapat mengendalikan diri lagi. Sesuatu di dalam dirinya seakan di bangunkan oleh Felly, sesuatu yang tentu saja bukan dirinya sendiri. Raka merasa sangat bergairah seakan tak dapat menahan hasrat yang selama ini mampu ia pendam. Kini ia bahkan sudah berani menggoda kedua puncak payudara milik Felly, menggodanya, memberi tanda di sana jika mereka adalah miliknya.

Felly mengerang, mendesah tak karuan  seakan ia ingin di puaskan saat ini juga ketika jari jemari Raka mulai menyentuh pusat dirinya, memainkannya sedangkan bibir Raka tak berhenti mengulum puncak payudaranya.

“Arrgghhh…” Erangan Felly benar-benar membangkitkan gairah Raka, dan Raka seakan sudah tak dapat menahannya lagi.

Raka memposisikan dirinya untuk menyatu dengan Felly, di lihatnya Felly yang seakan sudah tak sadar dengan apa yang ia lakukan. Wanita itu masih tak berhenti menggeliat seakan ingin di sentuh dan di puaskan.

Berkali-kali Raka mencoba menyatukan diri tapi penghalang itu terasa sangat nyata. Kini Felly bahkan tak berhenti merintih karena tidak nyaman. Raka kembali membungkukkan tubuhnya kemudian melumat kembali bibir Felly, membuat wanita tersebut kembali rileks.

“Jangan tegang, aku nggak akan menyakitimu.” Ucap Raka dengan lembut. Raka kemudian kembali melumat bibir Felly lalu berbisik lagi di sana. “Maafkan aku… Maafkan aku..” Raka kembali mengucapkan kalimat tersebut sambil menghujamkan dirinya hingga menyatu sepenuhnya dengan tubuh Felly.

Fellypun mengerang kesakitan sedang Raka sendiri tak dapat berbuat banyak selain kembali mencumbu bibir ranum milik Felly sambil sesekali berucap dalam hati.

‘Maafkan aku… Maafkan aku…’

 

-To Be Continue-

Adakah yg masih mau nunggu cerita ini? huaahahahahah

Advertisements

My Beloved Man – Chapter 1

Comments 5 Standard

mb1

My Brother

 

Note :  My Brother adalah Novel garapanku yang ku adaptasi dari fansfic korea Oneshoot ku yang berjudul “Oppa..!!!” (Kakak). di oneshoot sendiri terdiri dari “Oppa.!!” #1 dan “Oppa..!!!” #2. hanya saja yang aku share baru yang Oppa..!! #1 aja. jika di tanya akan beda atau engga jawabannya akan sangat beda sekali. Oneshoot hanya terdiri dari satu part, itu pun bolong2 plotnya, tapi di sini akan ku bahas secara tuntas. Untuk Genre sendiri “My Brother” ini akan sama dengan “My Young Wife” (MBA #1). kisahnya tentang sepasang suami istri yang harus menikah karena ‘kecelakaan’ semalam. Bedanya, jika Aldo dan Sienna awalnya tak saling Cinta, maka Raka dan Felly ini kebalikannya, mereka udah saling cinta tapi keadaan yang membuat keduanya saling berjauhan. hemmm gimana yaa lanjutannya?? semoga aku bisa membuat kisah ini lebih menarik lagi dari Seri pertama Married By Accident (My Young Wife) yaa….

 

Chapter 1

 

Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Raka bergegas turun untuk makan malam bersama ibu dan adiknya. Malam ini Felly memasak di rumahnya, pasti gadis itu kini sedang menunggunya untuk makan malam bersama. Mengingat itu, Raka tersenyum, senyum yang sangat jarang sekali terlihat di wajah tampannya.

Raka menuruni anak tangga dan benar saja, di ruang makan terlihat sang ibu seang sibuk menyiapkan makan malam bersama dengan wanita pujaan hatinya, siapa lagi jika bukan Felly.

“Hei.. Kak Raka ayo sini.”

Felly menghambur ke arah Raka kemudian menarik lengang Raka menuju ke meja makan. Sedangkan Raka sendiri hanya mengikuti Felly dengan wajah datarnya.

“Aku tadi belajar buat Gurami asam manis, cobain deh..” Ucap Felly pada Raka sambil mengambilkan Gurami asam manis buatannya di piring Raka.

Raka hanya diam, kemudian ia mencicipi Gurami tersebut. “Ini enak.” Hanya itu yang di ucapkannya.

Bukannya senang, Felly malah memanyunkan bibirnya. “Apa nggak ada kata lain selain dua kata itu??” Tanya Felly dengan kesal.

Tentu saja Felly kesal. Berapa kali pun ia memasakan makanan untuk Raka -bahkan masakan yang tak di sukai lelaki tersebut- Raka hanya akan mengomentari dengan dua kata , ‘Ini Enak.’ Dan itu membuat Felly tak suka.

“Ini memang enak.” Jawab Raka lagi.

Felly kemudian duduk di kursi sebelah Raka. “Terserah Kakak saja deh.” Gerutu Felly kemudian.

Sedangkan Raka sendiri berusaha tak terpengaruh dengan kedekatan yang di ciptakan Felly. “Lili mana Bu?” Taya Raka mencoba menglihkan pembicaraan.

“Dia keluar. Adikmu itu memang sulit sekali di atur.” Gerutu ibunya.

Raka hanya menganggukkan kepalanya. Lili memang selalu pergi saat ada Felly di rumah mereka. Entah alasannya apa, Raka sendiri tak tau, yang Raka tau adalah adiknya tersebut sangat membenci seorang Felly.

“Bagaimana toko ice cream mu?” tanya Raka pada Felly yang seketika itu juga membuat Felly mengangkat wajahnya menatap ke arah Raka.

“Seperti biasa, ramai dan menyenangkan.” Jawab Felly sambil tersenyum riang.

“Baguslah.” Dan hanya itu jawaban dari Raka.

Raka memang selalu kaku, datar dan jarang sekali menampilkan ekspresi-ekpresi di wajahnya. Dan itu membuat Felly tak suka. Felly sangat sulit sekali menebak apa yang terjadi dengan lelaki itu.

***

“Kak, akhir minggi ini temani aku ya.” Ucap Felly yang saat ini sudah duduk di ayunan di halaman depan rumah Raka.

“Temani kemana??”

“Teman Jason ada yang ulang tahun, dan mereka merayakannya di salah satu club elit di kota ini. Jason juga akan tampil di sana nanti, aku hanya nggak mau terlihat bodoh karena sendirian di sana.” Jelas Felly.

Saat ini Felly memang sudah memiliki kekasih. Jason, lelaki tampan dengan profesinya sebagai anak Band adalah kekasihnya. Dan Raka tau itu.

“Aku nggak bisa janji, pekerjaan di kantor numpuk.”

“Ayolah Kak..” Felly merengek di lengan Raka. Raka memang sudah seperti kakaknya sendiri dan itu membuat Felly tak malu-malu lagi merengek manja pada lelaki itu, tapi kadang, di beberapa titik, Felly merasa canggung bahkan hanya karena tatapan mata Raka padanya.

“Ayahmu mengangkatku menjadi wakil direktur.” Jelas Raka yang kemudian membuat Felly membelalakkan matanya.

“Kak Raka nggak bercanda kan??” tanya Felly dengan nada tak percayanya, sedangkan Raka sendiri hanya mampu menganggukkan kepalanya.

“Aku juga tak habis pikir, kenapa posisi sepenting itu bisa di berikan padaku, aku, Aku merasa tak pantas.” Ucap Raka sambil menundukkan kepalanya.

“Mungkin Papa memiliki alasan lain hingga Kak Raka pantas menduduki posisi itu.”

Raka menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi ayunan. “Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan Om Revan.”

Raka memang tak habis pikir dengan Om Revan, lelaki yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri itu sudah kelewat baik dengannya dan juga keluarganya. Om Revan menyekolahkannya dan juga adiknya hingga sarjana. Memberinya kedudukan penting di kantor, memberikannya rumah tepat di seberang rumah mereka, dan masih banyak lagi kebaikan ayah Felly tersebut hingga Raka yakin jika dirinya tak akan mampu untuk membalas budi lelaki tersebut.

“Papa tau apa yang dia lakukan. Dan aku percaya kalau Kak Raka bisa bertanggung jawab dengan baik pada tugas-tugas kak Raka..”

Raka menganggukkan kepalanya. “Semoga saja.”

***

“Aku balik dulu.” Kata Raka yang saat ini sudah mengantar Felly sampai di halaman rumah gadis itu.

Walau rumah mereka berseberangan, Raka selalu megantar Felly pulang sampai halaman rumah gadis itu ketika Felly datang berkunjung ke rumahnya.

“Iya.” Hanya itu jawaban Felly. Entah kenapa suasana di sekitar mereka jadi terasa canggung. “Em.. jangan lupa antar aku akhir minggu nanti.” Ucap Felly mengingatkan.

“Aku nggak janji.”

“Ayolah, tadi kita sudah sepakat.”

Raka menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan mengantarmu.”

Dan Felly pun bersorak gembira. Ia sangat senang ke pesta tersebut dengan Raka. Dan itu artinya nanti Raka akan benyak melihat kemesraannya dengan Jason. Felly benar-benar tidak sabar melihat kejadian itu nanti.

***

Felly melemparkan dirinya ke Ranjang besarnya. Ia menggulingkan tubuhnya kesana ke mari seperti anak remaja yang sedang di mabuk asmara.

Kak Raka….

Astaga.. bagaimana mungkin perasannya pada lelaki itu tak pernah surut sedikitpun?? Ia bahkan sudah mencoba berbagai macam cara, mulai dari berpacaran dengan lelaki lain, menghindar hingga tinggal di sebuah kontrakan kecil untuk melupakan lelaki tersebut. tapi hasilnya nihil. Bayangan sosok Raka selalu saja menghantuinya.

Araka Andriano. Lelaki yang usianya lima tahun lebih tuaa dari pada dirinya. Lelaki yang harus ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Dan lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta.

Felly tak tau kapan persisnya, hanya saja Felly merasakan jika perasaanya kian hari kian membumbung tinggi.

Lelaki itu tak pernah menampilkan ekpresi di wajahnya, dan itu membuat Felly semakin sulit membaca apa yang sedang di rasakan lelaki tersebut.

Raka selalu bersikap tenang dan datar. Beberapa kali Felly bahkan mencoba memncing kecemburuan Raka dengan mengenalkan Raka pada beberapa kekasihnya, tapi nyatanya lelaki itu masih tenang dan datar-datar saja tanpa ekspresi seperti biasanya. Apa Raka memang tak memiliki rasa apapun padanya?? Apa semua perhatian Raka selama ini hanya perhatian seorang kakak kepada adiknya??

Ayolah.. tentu saja Fell, Kau hanya terlalu bodoh untuk mengartikan semua itu. Rutuk Felly pada dirinya sendiri.

Pada saat yang bersamaan, Felly mendengar ponselnya berbunyi. Secepat kilat Felly meraih Ponselnya di nakas. Ternyata itu Jason, lelaki yang sudah hampir satu tahun ini di pacarinya.

Jason sendiri adalah seorang anak Band. Ia tak sengaja bertemu dengan lelaki itu saat mengunjungi Alisha, teman satu kontrakannya dulu ketika kerja menjadi waiters di sebuah Pub. Hubungan keduanya berjalan lancar saat ini. Beberapa kali Felly bahkan mengajak Jason main ke rumahnya dan dengan sengaja mengenalkannya dengan Raka, nyatanya, Raka masih sama saja, datar tanpa ekspresi sedikitpun.

“Halo Jase.”

“Hai sayang, sudah tidur??”

“Belum.”

“Mau ku nyanyikan sesuatu??”

Felly tersenyum. “Aku tidak memiliki uang lebih untuk membayar suara emasmu, Jase.”

“Kamu hanya perlu membayar dengan kecupan, karena aku ingin di kecup malam ini.” Ucap Jason dengan nada penuh menggoda.

“Oke, sepertinya mendengar suaramu bukanlah hal yang buruk.”

“Mau lagu apa?”

“Apapun yang membuatmu nyaman menyanyikannya.”

“Oke, aku akan memulainya.”

Kemudian tak lama Felly mendengar suara Piano dari seberang. Astaga… Jason bernyanyi untuknya dengan piano??

 

Saat ku ingat.. dirimu.. Betapa berat.. ku meninggalkanmu..

Sadarkah dirimu.. apa yang engkau lakukan.. padaku…

Haruskah aku.. terdiam slalu.. melihat semua lakumu…

Bila… ku harus.. meninggalkan dirimu..

Aku.. tak bisa.. bertahan… untukmu..

Tolonglah.. aku.. bila engkau masih.. mencintaiku….

Tolonglah…

 

Batman – Tak Bisa Bertahan

 

Hening, saat Jason selesai menyanyikan lagunya. Felly merasakan sesuatu yang menggelitik hatinya, entahlah, Jason memang sering sekali menyanyikan lagu untukknya, tapi kali ini sedikit berbeda. Lelaki itu memilikan lagu yang terdengar sedih di telinganya.

“Fell.. kamu masih di sana kan?”

“Ah.. Ya.. aku di sini.”

“Kenapa diam?”

“Aku mengantuk Jase.” Ucap Felly kemudian. Ia hanya terlalu sibuk mengatur debaran jantungnya yang entah kenapa bisa berdebar saat setelah Jason menyanyikan lagu untuknya.

“Tidurlah kalau begitu.. Sweet dream honey..” Ucap Jason kemudian.

“Jase..” Panggil Felly cepat. “Emmuachh.. itu bayaranmu.” Ucap Felly kemudian menutup teleponnya cepat sebelum Jason sempat membalasnya.

Jantung Felly memompa lebih cepat dari sebelumnya. Belum pernah ia merasakan perasaan seperti saat ini dengan lelaki lain selain Raka. Ya, memang hanya Raka yang selalu menjungkir balikkan perasaannya, namun Jason malam ini entah kenapa sedikit mempengaruhinya. Mungkinkah ia mulai membuka hati untuk lelaki lain selain Raka??

Ponselnya kembali berbunyi. Felly tau jika itu pesan dari Jason. Di bukanya pesan tersebut dan itu membuat Felly semakin bingung dengan perasaannya sendiri.

Jason : ‘Aku sayang kamu Fell, dan akan selalu menunggumu sampai kapanpun.’

***

Hari itu akhirnya datang juga. Hari di mana Felly berdandan dengan cantiknya untuk menghadiri pesta ulang tahun dari teman Jason. Anehnya, ia berdandan seperti itu bukan untuk Jason atau teman-temannya, tapi untuk lelaki yang nanti mengantarnya ke pesta tersebut, siapa lagi jika bukan Raka, Kakaknya.

Felly menatap ke jendela kamarnya yang langsung berhadapan dengan rumah Raka. Mobil lelaki itu belum terparkir di halaman rumahnya, berarti Raka belum pulang dari kantor. Dan Felly hanya bisa menunggu di sana seperti biasanya.

Felly memang sering sekali melakukan hal tersebut. mengawasi Raka dari kamarnya. Kadang lelaki itu sibuk mencuci mobilnya, kadang sibuk berolah raga,dan masih banyak lagi yang dapat Felly lihat dari jendela kamarnya. Bukannya bosan, hal-hal seperti itu membuat Felly jatuh semakin dalam pada pesona lelaki yang harus di anggapnya sebagai kakak tersebut.

Tak lama, Felly melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Raka. Felly mengernyit karena belum pernah melihat mobil tersebut sebelumnya. Dan ternyata, Raka keluar dari sana di ikuti oleh seorang wanita cantik dengan penampilan rapinya. Siapa wanita tersebut??

Wanita itu terlihat akrab dengan Raka, bahkan wanita tersebut ikut masuk ke dalam rumah Raka. Apa mereka ada hubungan spesial?? Mengingat itu Felly merasa sesak di dadanya.

Dengan cepat Felly berdiri dan bergegas menuju ke rumah Raka. Ia ingin mencari tau siapa wanita tersebut.

***

Felly lantas masuk begitu saja ke dalam rumah Raka. Ia tau jika Tante Mirna –ibu Raka- tidak pernah mengunci pintu depan rumahnya.

“Wah.. terimakasih sekali nak Kirana sudah mau membawakan tante kue ini.” Samar-samar Felly mendengar suara tante Mirna berbicara dengan seseorang.

“Tentu Tante, Raka bilang kalau Tante sangat suka dengan Blackforest, jadi kemarin saya coba buatkan.”

“Emm.. Ini rasanya enak.”

“Kirana memang pandai masak Bu.”

Felly masih saja menguping pembicaraan tersebut, sesekali mengintip kejadian di dapur rumah Raka.

“Sedang apa Lo di sini?” suara tidak bersahabat itu membuat Felly terlonjak dari tempatnya.

Itu Lili, adik dari Raka. “Oh, Hai.. baru pulang Li?” sapa Felly dengan ramah.

“Nggak usah sok ramah, ngapain lo di situ?”

“Emm.. Aku.. Aku..”

“Felly, kamu di sini?” Tanya Raka yang sudah berdiri tak jauh dari tempat Felly dan Lili berdiri berhadapan.

“Ahh.. iya Kak, tadi aku mau ingatin kak Raka tentang acara ulang tahun teman Jason.”

Raka mengangguk. “Masuklah.” Ajak raka kemudian sedangkan Lili sendiri sudah masuk tanpa menghiraukan keberadaan Felly.

“Ohh Felly di sini juga ternyata.” Ucap tante Mirna saat mengetahui ada Felly yang datang.

“Aku mandi dulu, tunggu saja di sini.” Ucap Raka pada Felly. “Ki, terimakasih tumpangannya, ku tinggal dulu.” Raka kemudian berujar pada wanita yang berdiri di sebelah ibunya.

“Oke.” Jawab Wanita itu kemdian. Akhirnya Raka pun bergegas pergi masuk ke dalam kamarnya.

“Kemarilah sayang, kenalkan ini Kirana, teman kak Raka.”  Tante Mirna manarik tangan Felly supaya mendekat ke arah mereka.

“Dan Nak Kirana, ini Felly, Adik Raka yang lainnya selain Lili.”

“Adik??” Tanya Kirana sedikit tak mengerti.

“Iya, Adik.” Hanya itu jawaban Ibu Raka. Dan Kirana hanya menganggukkan kepalanya.

***

Raka keluar dari kamarnya dengan pakaian rapinya. Malam ini ia akan mengantarkan Felly ke tempat ulang tahun teman Jason. Itu artinya ia harus ekstra sabar melihat Felly dan Jason dalam waktu yang lama.

Dadanya terasa berdenyut nyeri ketika mengingat saat-saat Ia melihat kedekatan Felly dengan lelaki lain. Ia tidak suka, tentu saja, tapi apa haknya untuk tidak suka??

Felly malam ini terlihat begitu cantik di matanya. Mengenakan gaun pendek yang membuat gadis itu lebih dewasa dari umurnya. Jantungnya kembali berdebar tak menentu. Dan Astaga.. selalu saja seperti itu ketika ia berada di dekat seorang Fellysia Puteri Revano.

“Kak Raka sudah siap??” pertanyaan Felly membuyarkan lamunan Raka.

Di lihatnya wanita di hadapannya tersebut yang Astaga.. membuat nalurinya sebagai seorang lelaki terbangun seketika.

“Ya.” Hanya itu yang dapat Raka katakan mengingat dirinya leih sibuk mengatur ketegangan di dalam dirinya sendiri.

“Kamu mau pergi Ka??” Kirana, teman sekantornya tersebut akhirnya ikut menghampirinya dan menyapanya.

Kirana adalah wanita tiga tahun lebih muda dari pada dirinya. Wanita yang sangat perhatian padanya, dan juga pacar bohongannya.

“Ahh.. ya, Kamu masih di sini? Ku pikir kamu sudah pulang.”

“Aku nunggu kamu.” Ucap Kirana kemudian. “Jadi, kamu mau ngantar dia?” tanya Kirana sambil melirik ke arah Felly.

“Ya, aku akan mengantarnya.”

“Kalin sangat dekat ya..” Lirih Kirana.

“Tentu saja, dia adikku.”  Ucap Raka penuh penegasan.

Dan entah kenapa itu membuat Felly semakin menundukkan kepalanya. Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapannya?? Apa felly tak suka jika ia mengaggapnya sebagai adik?? Pikir Raka kemudian sambil mengamati sosok cantik yang berdiri di hadapannya.

 

-To Be Continue-

Chapter selanjutnya harap sabar yaa.. huehehehhehe

Passion Of Love – Chapter 8

Comments 4 Standard

castSang Kupu-kupu malam

 

*Remake fansfic korea The Passionnate of love -Banyak mengandung unsur Dewasa-

 

Chapter 8

 

Hati Fiona terasa sakit melihat pemandangan yang ada di hadapannya, seperti di remas-remas, ia tau kalau mungkin saja Ben memiliki hubungan special dengan gadis itu, entah mengapa seperti tiba-tiba pandangannya berkaca-kaca, ia tau jika sebentar lagi air matanya akan menetes di pipinya.

Cepat-cepat Fiona berbalik dan masuk lagi ke dalam dapur, ia tak mau Ben melihat dirinya sakit hati dan menangis, karena bagai manapun hubungan mereka hanya tak lebih dari Partner seks semata.

Ben yang memang melihat keberadaan Fiona langsung menjauhkan diri dari pelukan Sheila. “A.. Apa yang kamu lakukan di sini?”  Ben bertanya tapi arah pandangannya masih tertuju ke Arah di mana Fiona tadi berdiri.

“Kak Ben, apa kamu nggak kangen sama aku?” Sheila terkejut dengaan reaksi Ben yang seperti orang kebingungan. Apa Ben benar-benar tidak merindukannya??

“Bukan seperti itu, tapi bukannya kamu harusnya masih ada di New york??”

“Studiku sudah selesai kak.. dan aku sudah pulang.” Lalu Sheila kembali memeluk tubuh Ben lagi. Sedangkan Ben hanya bisa diam membatu, ia tak tau apa yang harus ia lakukan.

***

Di dalam dapur.. entah mengapa tangan Fiona bergetar, kakinya terasa lemas, ia seakan tak sanggup untuk berdiri. Terpaksa Fiona duduk di lantai di  sebelah meja dapur, air matanya mulai menetes. Entah mengapa rasanya ia ingin menangis mendengar percakapan Ben dan gadis yang bernama Sheilaa tersebut karena cukup keras hingga terdengar sampai ke dapur.

Astaga.. apa yang akan ia lakukan jika Ben kembali ke sisi wanita tersebut? Bagaimana dengan bayinya nanti?? fikirnya dalam hati. Fiona lalu mengusap air matanya, ia mulai berdiri dan menyelesaikan masakannya. ia ingin segera keluar dari apartemen Ben yang seakan  menyesakkan tersebut.

Ketika Fiona sudah selesai dengan pekerjaannya, ia beriap-siap berangkat ke tempat Marsha. Fiona kemudian  menuju ke ruang tamu untuk berpamitan dengan Ben.

“Ben.. makan malammu sudah siap, mungkin kamu ingin mengajak mereka makan, aku akan keluar dulu.” Fiona berusaha bicara senormal mungkin, berusaha agar suaranya tidak bergetar karena menelan kepahitan.

Ben yang duduk di sebelah Sheila dengan lengan yamg sejak tadi di peluk oleh Sheila langsung berdiri melepas paksa rangkulan tangan Sheila.”Kamu mau kemana? apa perlu ku antar?” Tanya Ben dengan sedikit khawatir.

“Tidak perlu, kamu kan ada tamu.” Jawab Fiona sedikit melirik Amel dan Sheila sambil sedikit tersenyum. “Aku hanya ingin ke tempat kak Marsha.” Lanjutnya.

“Kak. dia siapa?” Amel yang penasaran akhirnya tak bisa menahan pertanyaan itu muncul.

Belum sempat Ben menjawab, Fiona lebih dulu memperkenalkan diri sambil membungkukkan badannya. “Aku Fiona Adelia… Aku teman atau bisa di bilang partner kerja Ben.”

“Aku Amelia, Adik kandung kak Ben, dan ini kak Sheila, kekasih kak Ben.” Amel memperkenalkan diri dengan begitu manis.

“Amel…” Ben mendesis tak suka pada dengan apa yang di kataakan Amel.

“Apa ada yang salah?” Tanya Amel dengan wajah tanpa dosanya. Ben ingin menjawab tapi Fiona mendahuluinya.

“Baiklah.. aku pergi dulu.. kalian baik-baik yaa.. Sampai jumpa” Ucapnya sedikit tersenyum sambil melambaikan tangan dan sedikit membungkukkan badan ke arah Amel dan Sheila, padahal saat ini Fiona sedang ingin menutupi perasaannya yang sedang kalut.

“Tunggu dulu.” Ben kemudian sedikit berlari kearah Fiona.

“Kenapa.?” Tanya Fiona dengan wajah bingungnya.

“Apa kamu nanti pulang malam?” tanya Ben penuh perhatian.

“Sepertinya begitu, aku ingin nonton di bioskop dengan kak Marsha malam ini.”

“Tunggu sebentar.” Ben lalu berlari ke dalam Kamar dan kembali lagi membawa sebuah Coat berwarna coklat dan syal untuk Fiona. “Pakai ini.. tadi hujan, nanti malam di luar pasti sangat dingin.” Ben memakaikan Coat tersebut pada tubuh Fiona dan mengancingkannya, kemudian ia juga memakaikan syal untuk Fiona. Sedangkan Fiona sendiri menatap Ben dengan tatapan anehnya.

Sheila merasa matanya pedih saat melihat pemandangan di hadapannya. Ia tak menyangka jika Ben akan berbuat semanis itu dengan wanita lain di hadapannya

“Terimakasih.” Ucap Fiona sembari mencoba menghilangkan rasa tak enaknya.

Ben hanya mengangguk. “Hati-hati.” Ucap Ben sambil mengantar Fiona ke luar dan menunggu hingga Fiona tak terlihat dari pandanannya.

Ben kemudian kembali masuk dan mendapat tatapan aneh dari Amel dan juga Sheila. “Apa ada yang salah??” tanya Ben ambil megangkat sebelah alisnya.

“Kak.. sebenarnya kak Ben ada hubungan apa dengannya?” Tanya Amel dengan nada tak suka sambil berdiri menuju ke tempat Ben.

“Bukan urusanmu.” Jawab Ben dengan ekpressi datarnya.

“Kak Ben” rengek Amel.

“Apa kedatangan kami mengganggu kalian?” Sheila sendiri sudah tak dapat membendung perasaannya. Ia berdiri dan bertanya pada Ben secara langsung.

“Apa maksudmu?” Ben ingin mengelak.

“Baiklah, mungkin seharusnya kami pulang dulu, kapan-kapan aku kemari lagi kalau Kak Ben nggak keberatan, permisi.” Kata Sheila ketus namun tetap membungkukkan badannya memperlihatkan kesopanannya.

“Kak Sheila..” panggil Amel sambil ikut pergi tepat di belakang Sheila.

“Sheila…” Ben pun akhirnya ikut memanggil Sheila, tapi tampaknya wanita itu sudah tak ingin lagi menghiraukannya.

Ben menutup mata sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi padanya.

***

Ben masih saja tak berhenti berjalan mondar-mandir di apartemennya. Kepalanya terasa berdenyut saat memikirkan apa yang terjadi akhir-akhir ini padanya.

Dua minggu yang lalu, ia tak sengaja bertemu dengan Alice di salah satu restoran saat ia selesai makan siang dengan beberapa rekan bisnisnya. Saat itu Alice tak canggung lagi memberinya selamat atas kehamilan Fiona.

Bagaikan tersambar petir saat itu juga ketika Ben mengetahui kabar kehamilan Fiona dari dokter Alice. Kenapa Fiona tak pernah memberitahunya?? Bahkan sampai sekarang pun Ben masih menunggu Fiona mengabarkan hal itu secara langsung padanya.

Awalnya Ben memang sedikit curiga saat Ben merasakan ada yang aneh pada tubuh Fiona. Wanita itu seakan lebih terlihat cantik dan seksi di matanya, padahal kini Fiona sangat jarang mengenakaan Make Up dan hampir tak pernah mengenakan pakaian seksi seperti saat kerja di dunia malam. Dan akhirnya semua kebingungan Ben terjawab saat ia tak sengaja bertemu dengan dokter Alice.

Shock, tentu saja. Ben tak pernah menghadapi wanita hamil sebeumnya. Dulu saat tau teman kencannya hamil. Ben akan langsung menjauhinya bahkan menekan temannya tersebut hinga mau menggugurkan kandungannya. Tapi dengan Fiona, bukan seperti itu yang ia rasakan. Ia malah ingin melindungi wanita rapuh itu. Sebenarnya, ada apa dengan dirinya?? Apa istimewanya seorang Fiona hingga ia tak dapat jauh dari wanita tersebut??

Kini, Ben masih tak habis pikir, kenapa sampai saat ini Fiona masih belum juga  memberitahukan keadaannya pada diri Ben.

Ben menghela napas panjang saat mengingat kejadian tadi sore. Belum juga masalahnya dengan Fiona memiliki titik terang, kini kembali muncul masalah baru dengan kehadiran Sheila. Wanita yang menjadi wanita teristimewa di hatinya. Tidak, mungkin itu dulu, karena Ben yakin saat ini tak ada lagi nama Sheila di hatinya.

Ben bertemu dengan Sheila sejak Ben berumur 15 tahun, Sheila sudah seperti adik kecilnya saat itu, hingga ketika Ben berumur 20 tahun, ibunya berkata jika Ben dan Sheila sudah di jodohkan dan nantinya akan menikah, sejak saat itu Ben di paksa memandang Sheila sebagai wanita dewasa bukan sebagai adiknya.

Ben mulai menumbuhkan perasaan itu terhadap Sheila, apa lagi ketika Sheila tumbuh semakin cantik, di tambah lagi karena setiap hari mereka bertemu. ibu dan ayah Sheila  meninggal pada suatu kecelakaan dan Sheila menjadi sebatang kara, sebelum meninggal ibu Sheila menitipkan Sheila pada Wulan, Ibu Ben. tentu saja saat itu Sheila kemudian tinggal di rumah Ben. Bahkan perusahaan keluarga Sheila pun di urus oleh ayah Ben sebagai orang yang paling di percayai oleh Ayah Sheila.

Saat itu, Ben sangat menyayangi Sheila hingga tak ada wanita lain selain Sheila, namun hubungan mereka mulai merenggang ketika Sheila memutuskan untuk melanjutkan studinya ke amerika, sedangkan Ben tetap jakarta membantu ayahnyaa mengurus perusahaan.

Mereka hanya berhubungan jarak jauh. Hingga pada suatu hari, sekitar 5 tahun yang lalu, Ben dengan sengaja mengunjungi ke Flat sewaan Sheila di New York untuk memberikan Sheila kejutan. betapa kagetnya saat itu ketika Ben menemukan Sheila setengah telanjang dengan lelaki bule di dalam kamar Flatnya. Dan sejak saat itu Ben mencoba menghapus bayangan Sheila di hati dan pikirannya.

Bagi Ben, hubungan mereka sudah berakhir, meski sebenarnya Sheila belum tau jika Ben sudah melihat kejadian tersebut dan kini menghindarinya. Sheila menodai kepercayaan yang di berikan oleh Ben hingga sampai detik ini Ben tak percaya lagi dengan yang namanya wanita dan kesetiaan. Ben takut berhubungan serius dengan wanita lain lagi, Ben tak ingin menumbuhkan perasaan seperti perasaannya terhadap Sheila dulu. Dan itu merubah Ben menjadi sosok yang dingin, yang tak mudah di tembus oleh wanita-wanita yang ingin mendekatinya.

Semua waktunya Ben habiskan di kantor untuk kerja kerja dan kerja, jika Ben butuh hiburan, Ben hanya akan mencari wanita yang mau ia bayar untuk di tiduri, wanita sejenis Fiona, wanita yang tak mungkin Ben cintai karena Ben tau seperti apa jenis wanita seperti mereka.

Hingga  sekitar tujuh bulan yang lalu semua berubah ketika ia bertemu dengan Fiona dan melihat kaki telanjang wanita tersebut saat berlarian meminta pertolongan untuk temannya. Ben mulai terobsesi hanya dengan Fiona hingga mengabaikan resiko yang kini sudah terlanjur terjadi.

Fiona Hamil.. dan Astaga.. apa yang harus ia lakukan terhadap wanita itu?? Ben mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, pada saat bersamaan pintu apartemen di buka dan sontak Ben berdiri menatap siapa orang yang berdiri dari balik pintu apartemennya.

Itu Fiona..

“Di luar gerimis, dingin sekali.” Ucap Fiona sambil mengganti sepatunya dengan sandal rumahan, Fiona juga sesekali mengusap rambutnya yang sedikit basah karena hujan.

Tanpa terasa kaki Ben sudah mengayun menuju ke tempat Fiona berdiri “Kenapa nggak minta di jemput?” Tanya Ben sambil membantu Fiona membuka coat yang di kenakan Fiona.

“Aku bisa pulang sendiri, aku takut kamu sibuk.” Fiona menatap Ben dengan tatapan lembutnya.

Tiba-tiba Ben merasa ingin sekali memeluk tubuh mungil Fiona, Akhirnya Ben memeluk tubuh Fiona hingga Fiona menghangat kembali. Ben merasakan sedikit gundukan pada perut Fiona, apa itu hanya perasaannya saja?? Secepat kilat Ben melepaskan pelukannya pada tubuh Fiona. Entah kenapa itu membuat Ben semakin menegang. Rasa canggung tiba-tiba saja muncul di sekitarnya, padaha ia tak pernah merasakan canggug di dekat wanita manapun.

“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, mandilah.” Ucap Ben kemudian sambil meninggalkan Fiona begitu saja. Ben terlalu sibuk mengatur debaran jantungnya yang bahkan ia sendiri tak mengerti kenapa bisa seperti itu.

Sedangkan Fiona sendiri hanya mampu ternganga melihat kelakuan Ben yang terlihat aneh di matanya. Ada apa dengan lelaki itu??

***

Di tempat lain…

“Benar Ma. Amel nggak bohong… Kak Ben pasti sudah tinggal serumah dengan wanita itu.” Amel akhirnya tak bisa menahan diri untuk mengadu pada ibunya tentang apa yang di lihatnya tadi siang di apartemen Ben.”Kak Ben bahkan terlihat sangat mesra dengan wanita itu.” lanjutnya lagi.

“Seperti apa wanita itu..?” Wulan, selaku ibu Ben dan juga ibu Amel akhirnya sedikit penasaran.

“Dia kelihatan baik, sederhana, bahkan secantik kak Sheila.” Kalimat terakhir Amel katakan dengan berbisik karena takut kalau-kalau Sheila mendengarnya.

Mereka kini sedang membahas masalah Ben di kamar Amel, sedangkan Sheila sendiri sejak pulang dari apartemen Ben, wanita itu tak lagi keluar dari kamarnya. hal itu yang membuat  Wulan khawatir dan langsung menanyakan pada anak perempuannya apa yang terjadi tadi siang.

Wulan tampak berfikir. “Emm… sepertinya mama akan menghubungi kakakmu.” Ucapnya kemudian.

“Kak Ben terlihat sedikit berbeda..”

“Apa maksudmu?”

“Emm.. Amel pikir kak Ben lebih tertutup sekarang, dia bahkan tak ingin lagi tinggal serumah dengan kita.

“Mungkin dia sedang sibuk dan capek dengan pekerjaannya.”

“Semoga saja,, Amel hanya merindukan kak Ben yang seperti dulu.” Ucap Amel lalu mendapat pelukan dari Wulan, Ibunya.

***

Fiona keluar dari kamar mandi dan terkejut saat mendapati Ben yang sudah duduk di pinggiran ranjang seakan menunggunya.

Apakah Ben malam ini menginginkan Haknya setelah hampir dua minggu lelaki itu tak menyentuhnya?? Bagaimana jika iya?? Bagaimana jika Ben mendapati sesuatu yang aneh pada tubuhnya?

“Ben?” panggilan Fiona sontak membuat Ben mengangkat wajahnya menatap ke araah Fiona.

Ben kemudian berdiri lalu melangkah menuju ke arah Fiona. “Kamu nggak demam kan??” Tanya Ben dengan suara lembut penuh perhatian sambil membawa telapak tangannya pada kening Fiona seakan merasakan suhu tubuh wanita tersebut.

Fiona menggelengkan kepalanya. “Aku.. Aku nggak apa-apa.” Ucap Fiona sedikit canggung. Ia tak pernah melihat Ben memperlakukannya seperti saat ini. Ben benar-benar terlihat sangat perhatian padanya dan itu membuat Fiona sedikit tak nyaman.

Ben kemudian menarik tangannya, lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Fiona. Ben mengusap tungkuknya sendiri seakan ia Frustasi dengan kecanggungan yang tercipta di antara mereka.

“Aku membuatkanmu cokelat hangat, minumlah.” Ucap Ben ambil menunjuk segelas minuman cokelat yang maasih terlihat mengepul di meja kecil sebelah ranjangnya.

Tak mau tenggelam dalam kecanggungan, akhirnya Ben memutuskan untuk pergi. Ia benar-benar tak bisa selalu dalam situasi canggung jika di dekat Fiona.

“Kamu mau ke mana?? Nggak tidur di sini??”

Pertanyaan Fiona membuat Ben menghentikan langkahnya. “Aku ke ruang kerja sebentar, ada yang harus ku urus.” Kemudian Ben meninggalkan Fiona begitu saja dengan setumpuk pertanyaan di kepala wanita itu.

Ben benar-benar tampak berbeda, apa yang terjadi dengan lelaki itu?? Fiona kemudian meraba dadanya yang tak berhenti berdegup semakin kencang ketika Ben tadi berada di dekatnya. Apa juga yang terjadi dengan dirinya saat ini???

 

-To Be Continue-

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 6 (Hanya Kamu)

Comments 8 Standard

011The Maried Life (Lady killer 2)

Chapter 6

-Hanya Kamu-

 

Dhanni mengawasi Nessa dengan matanya. Istrinya tersebut tampak shock dengan jawabannya. Pasti Nessa sedang berpikir yang tidak-tidak padanya. Dengan santai Dhanni mengusap lembut kening Nessa yang berkerut.

“Kamu mikir Apa?? Jangan berpikir yang aneh-aneh.” Ucap Dhanni kemudian.

“Enggak.. aku hanya…”

“Hanya apa??”

“Kak Dhanni masih suka sama wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni ingin mengawasi wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni….” Nessa tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika kedua telapak tangan Dhanni menangkup kedua pipinya.

“Dengar, Dia bukan siapa-siapa untukku, dan dia tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu. Aku memberitahumu yang sebenarnya supaya kamu tidak kepikiran, dan tidak salah paham suatu saat nanti.”

“Tapi kak Dhanni mengawasinya.”

Dhanni meminum jus di hadapannya lalu mulai bercerita pada Nessa.

“Erly dulu adalah wanita yang baik. Penampilannya polos, dan aku salah sudah mempermainkan dia dulu. Sekarang, dia sudah berubah. Penampilannya berubah drastis, begitupun dengan sikapnya. Dia bahkan tak tau malu lagi mengakui perasaannya padaku, Aku hanya khawatir dia merencanakan sesuatu. Karena aku belum menemukan alasan kenapa dia kembali saat ini padaku.”

“Mungkin karena dia masih suka sama Kak Dhanni.” Jawab Nessa dengan nada yang sudah ketus.

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut.  di raihnya telapak tangan Nessa yang  berada di atas meja, di kecupnya lembut punggung tangan istrinya tersebut .

“Aku suka sekali saat melihat kamu yang merajuk seperti ini.”

“Aku nggak merajuk.”

“Ya, kamu merajuk dan cemburu.” Ucap Dhanni dengan nada menggoda.

“Kak.. Aku serius.”

Dhanni tertawa. “Oke, Oke. Dia memang mengakui kalau dia masih suka denganku. Dia bahkan tak canggung-canggung lagi menggodaku. Tapi sayang, percaya sama aku. Sedikitpun aku tak pernah merasa tertarik padanya.”

“Kak Dhanni yakin??” tanya Nessa dengan memicingkan matanya.

“Kalau kamu tidak percaya, besok kunjungi aku di kantor sambil bawa makan siang.”

“Kenapa aku harus ke sana??”

“Supaya kamu tau bahwa tak ada apapun yang ku sembunyikan darimu Ness. Lagi pula aku ingin menunjukkan pada semua orang yang berada di sana jika hanya ada satu wanita yang ku cintai, siapa lagi jika bukan istriku yang paling cantik.” Ucap Dhanni sambil mencubit gemas hidung Nessa. sedangkan Nessa hanya mampu tersenyum bahagia.

***

Jonathan menutup pintu ruang kerjanya. Tubuhnya merosot ke bawah lalu turduduk menyadar pintu. Matanya memejam seakan mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Nessa, wanita yang di cintainya itu ternyata memiliki seorang suami yang ternyata adalah lelaki yang sangat di cintai kakaknya. Kenapa semua jadi semakin membingungkan untuknya??? Jonathan berpikir, bisa saja ia mengacaukan hubungan rumah tangga Nessa. membuat Nessa berpisah dengan suaminya lalu ia bisa mendapatkan wanita itu dan kakaknya bisa mendapatkan lelaki yang di cintainya, tapi nyatanya ia tak bisa.

Jonathan dapat melihat dengan jelas di mata Nessa. wanita itu sudah berubah. Sangat jelas terlihat di mata Nessa jika wanita itu sangat mencintai dan memuja suaminya. Bukankah itu tandanya ia sudah tak memiliki kesempatan lagi?? Lalu, apa ia harus menyerah?? Bagaimana dengan kakaknya??

Jonathan memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pusing memikirkan semua yang terjadi. Ia sangat mencintai Nessa dan ingin memiliki wanita itu, tapi di sisi lain, ia yakin jika ia memaksakan kehendaknya, ia akan menyakiti wanita yang di cintainya, dan ia tak bisa melihat Nessa tersakiti. Cintanya benar-benar tulus pada wanita tersebut.

Apa ia harus mengalah?? Jonathan memejamkan matanya kembali dan mencoba berpikir jernih. Ya, ia harus mengalah, mungkin Nessa memang bukanlah jodohnya.

***

Nessa keluar dari sebuah mobil yang mengantarnya menuju kantor tempat Dhanni bekerja. Dhanni ternyata tak bohong. Tadi pagi, seorang supir dan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumahnya telah datang. Mengingat itu Nessa tersenyum sendiri. Ahhh suaminya itu benar-benar perhatian. Nessa kemudian berjalan masuk ke dalam lobi kantor Dhanni. Menuju ke meja resepsionis.

“Maaf ibu, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita di bagian resepsionis tersebut.

“Saya mau bertemu dengan  Pak Dhanni Revaldi.” Ucap Nessa kemudian.

“Maaf sebelumnya, ibu sudah ada janji??” wanita itu bertanya lagi dengan ramah.

“Sudah, saya mau mengantar makan siang untuk pak Dhanni.”

Sang resepsionis tersebut tampak mengerutkan keningnya. “Dengan ibu siapa ya kalau boleh tau??”

“Nessa Revaldi.”

Si Resepsionis membulatkkan matanya seketika. “Ohh maaf ibu, Ibu istrinya Pak Dhanni?? Mari saya antar ke ruangan beliau.” Ucap wanita tersebut sambil keluar dari balik meja resepsionis.

Akhirnya Nessa pun di antar oleh wanita tersebut masuk ke dalam lift menuju ke lantai paling atas. Ini memang pertama kalinya ia masuk ke dalam kantor Dhanni. Dhanni sebenarnya selalu menyuruhnya sekedar mengunjungi lelaki itu di kantornya, tapi tentu saja Nessa menolaknya. Alasannya masih sama, ia tak ingin menjadi pusat perhatian dan mendapat tatapan membunuh dari para wanita fans dari Dhanni, si Lady killer.

Tak lama, sampailah mereka di lantai paling atas. Sejak tadi Nessa benar-benar sangat risih dengan tatapan si resepsionis yang menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Apa ada yang salah dengan penampilannya saat ini???

“Mbak Hani.  Ada istri pak Dhanni mau ngantar makan siang.” Ucap Resepsionis itu pada seorang wanita lainnya yang duduk di balik mejatepat di sebelah pintu besar di hadapan mereka.

“Ohh… Ibu Nessa ya, tadi Pak Dhanni sudah pesan, mari saya antar masuk.” Ucap wanita yang bernama Hani dengan ramah dan penuh senyuman.

Sedangkan Nessa sendiri mengernyit tak suka. Jadi setiap hari seperti ini?? Dhanni selalu di kelilingi wanita-wanita cantik?? Yang benar saja. Awas saja kalau lelaki itu berani bermain api di belakangnya.

Pintu besar berwarna hitam legam itu pun di buka dan menampilkan sosok Dhanni yang duduk dengan  ekspresi seriusnya di balik meja kerjanya.  Ruangan tersebut sangat luas dan lebar. Terdapat meja panjang di ujung ruangan dengan banyak kursi-kursi di sana, mungkin itu ruangan untuk rapat pribadi atau apalah, Nessa sendiri tak tau. Tapi yang membuatnya tertarik adalah di salah satu kursi tersebut terdapat seorang wanita yang sedang sibuk membuka-buka berkas di sana. Siapakah wanita itu?? Apa itu adalah Erlyta paraswati?? Mantan kekasih suaminya??

“Pak.. Bu Nessa sudah datang.” Ucap Hani yang sontak membuat Dhanni mengangkat kepalanya menatap ke arah Nessa.

Dhanni berdiri sambil tersenyum lembut ke arah Nessa. pun dengan Nessa yang kemudian melemparkan senyuman lembut pada suami yang sangat di cintainya tersebut.

“Sudah datang sayang??” Ucap Dhanni sambil berjalan menuju ke arah Nessa sambil merenggangkan kedua tangannya.

Nessa pun sontak menghambur ke dalam pelukan suaminya tersebut. Entahlah, ia hanya ingin semua orang tau jika Dhanni hanyalah suaminya, miliknya seorang. Nessa benar-benar tak suka jika suaminya tersebut bekerja dengan di kelilingi banyak wanita-wanita cantik.

“Kamu boleh keluar Hani.” Ucap Dhanni kemudian yang kali ini sudah mengusap lembut rambut panjang milik Nessa.

Hani menganggukkan kepalanya kemudian berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Dhanni. Sedangkan di sudut ruangan lainnya, sepasang mata menatap kedekatan Dhanni dan Nessa dengan berkaca-kaca. Erly, wanita itu seakan tak kuat menanggung rasa sakit di hatinya ketika melihat lelaki yang di cintainya tampak bahagia dengan wanita lain.

***

Dhanni memakan dengan lahap masakan Nessa. tanpa mempedulikan tatapan aneh yang di berikan istrinya tersebut.

“Kenapa menatapku seperti itu??” Tanya Dhanni masih dengan menyuapkan makan siangnya.

“Kak Dhanni senang ya kerja di sini. Di kelilingi cewek-cewek cantik.” Gerutu Nessa dengan nada yang di buat ketus.

Dhanni melirik ke arah Nessa, wanita itu menampilkan ekspresi cemberutnya. “Kamu cemburu??” Tanya Dhanni secara terang-terangan.

“Tentu saja aku cemburu.” Jawab Nessa dengan terang-terangan yang kemudian membuat Dhanni tertawa lebar.

Dhanni kemudian mencubit gemas pipi Nessa. “Terimakasih sayang sudah cemburu, tapi perlu kamu tau, satu-satunya wanita yang ku cintai di dunia ini hanyalah Kamu. Sejak tiga belas tahun yang lalu.” Ucap Dhanni penuh penegasan.

Wajah Nessa memerah seketika karena ucapan suaminya tersebut. “Kak Dhanni yakin nggak akan tergoda wanita lain??”

“Tentu saja.” Jawab Dhanni dengan pasti.

“Walau nanti perutku sudah membesar kembali??” tanya Nessa lagi kali ini sambil mengusap perutnya yang masih rata.

Dhanni kembali tertawa. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Nessa. menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung milik istrinya tersebut, kemudian membawa telapak tangan Nessa untuk menyentuh dada kirinya.

“Bagaimana pun bentuk tubuh dan wajahmu dulu atau nanti, rasa sayang ku tetap sama Ness. Hanya kamu.. Ya.. Hanya kamu wanita yang berada di sini. Wanita yang membuat jantungku seperti ini.”

Nessa ternganga mendengar ucapan manis dari suaminya tersebut. ia juga merasakan betapa jantung suaminya itu berdebar keras seakan ingin meledak. Debaranya sama dengan debaran saat itu, saat pertama kali ia menyentuh dada Dhanni di kamarnya pada malam mereka bertunangan.

“Lagi pula, Orang hamil itu lebih seksi dan menggairahkan tau.” Dhanni kemudian mengecup singkat bibir Nessa.

“Kak Dhanni.” Pekik Nessa karena terkejut dengan kelakuan suaminya tersebut. sedangkan Dhanni hanya mampu menertawakan ekspresi istrinya yang selalu tersipu-sipu ketika mendengar kalimat-kalimat manisnya. Ahhh Nessa ternyata masih sama, wanita yang selalu malu-malu saat mereka berada dalam momen-momen manis berdua.

“Ehhem” suara deheman tersebut memaksa ke duanya menoleh ke arah seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.

Itu Erly. Wanita itu tampak berwajah sendu dengan membawa beberpa berkas-berkas kerjanya.

“Saya.. Sudah memeriksa laporan-laporan seperti yang pak Dhanni perintahkan.” Ucap Erly dengan suaranya yang terdengar sedikit tercekat.

“baiklah, kamu boleh keluar.” Ucap Dhanni dengan wajah datarnya.

Erly pun keluar dari ruangan Dhanni. Dan setelah itu Nessa mencubit lengan Dhanni, membuat Dhanni mememkik kesakitan.

“Ada apa sayang??”

“Ada apa?? Kamu keterlaluan Kak. Lihat, matanya bahkan sudah berkaca-kaca.”

“Aku nggak pedui. Aku hanya ingin Erly tau jika hanya kamu wanita yang ada di hatiku. Setidaknya itu akan membuatnya mundur teratur.”

“Mundur teratur?? Kalaiu dia semakin menjadi-jadi gimana??”

“Nggak akan. Kalau kamu sering-sering ke sini, bahkan setiap hari ke sini aku jamin, dia akan sadar jika apa yang di lakukannya untuk mendekatiku hanyalah buang-buang waktu.”

“Benarkah?? Ohh.. jadi kak Dhanni ingin aku ke sini hanya untuk membuat cemburu wanita itu??”

Dhanni tersenyum. Ia kemudian menarik tubuh Nessa dan memposisikan supaya duduk di atas pangkuannya.

“Tentu tidak sayang, Aku hanya ingin mereka semua tau, jika tak ada wanita lain selain kamu yang bisa memiliki hatiku. Dan tentunya, aku ingin kamu ke sini setiap hari untuk mengurangi rasa kangenku sama kamu.” Ucap Dhanni sambil sesekali mengecup lembut tengkuk leher Nessa.

“Dasar lebbay.” Ucap Nessa sambil menjauhkan diri tapi kemudian Dhanni kembali menarik tubuhnya mendekat dan  memeluk erat-erat tubuh wanita yang di sangat di cintainya tersebut.

***

Erly masuk ke dalam sebuah toilet untuk wanita. Ia tak dapat menahan kesedihannya lagi. Ia mnangis di sana.

Dhanni… Bagaimana mungkin lelaki itu memperlakukannya seperti tadi??

Ia sangat ingin berada di posisi istri Dhanni tersebut, tapi bagaimana caranya?? Dhanni ahkan seakan sudah tak sudi lagi untuk memandangnya. Apa ia harus mundur??

Tidak.

Ia tak boleh mundur. Sudah banyak perubahan yang ia lakukan samapi seperti ini demi mendapatkan Dhanni kembali, dan ia tak akan mundur hanya karena wanita biasa-biasa saja seperti Nessa. pungkasnya dalam hati.

***

“Aku kangen Brandon.” Ucap Nessa sambil bergelayut mesra di lengan Dhanni.

“Mereka belum kembali ke jakarta sayang.Video Call aja ya..”

“Tapi aku pengen gendong dia.”

“Ya, tapi nanti kalau dia sudah balik, Oke?  ingat, kamu nggak boleh banyak pikiran dan kecapekan.”

Nessa hanya menganggukkan kepalanya tanpa menghilangkan ekspresi merajuknya. Tiba-tiba ponsel Nessa berbunyi. Secepat kilat Nessa merogoh ponsel di dalam tas nya. Berharap jika yang menelepon itu mamanya dan Brandon ingin berbicara dengannya, tapi nyatanya, Jonathanlah peneleponnya.

Nessa menatap Dhanni dengan tatapan anehnya.

“Kenapa??” Tanya Dhanni kemudian, sedangkan Nessa hanya mampu memperlihatkan layar ponselnya pada Dhanni. “Angkat saja.” Ucap Dhanni kemudian.

“Halo.” Akhirnya Nessa mengangkat telepon dari  Jonathan.

“Hai.. Maaf ganggu Ness, kamu masih ingat Cici dan Ervan??”

Nessa tampak berpikir sebentar, lalu ekpresinya berubah seketika. “Ahh ya.. ada apa dengan mereka?”

Cici merupakan salah satu teman Nessa saat SMA di jogja, sedangkan Ervan sendiri sahabat Jonathan, dulu, Ervan sering mngucapkan rasa sukanya pada Cici, tapi saat itu Cici dengan terang-terangan menolak Ervan.

“Mereka sudah nikah beberapa bulan yang lalu, dan mereka ada di jakarta.”

“Ahh yang benar??”

“Ya, Besok mereka akan mengunjungi kafeku, kalau kamu berminat bertemu dengan mereka, kamu bisa ke sini.”

Nessa melirik ke arah Dhanni sebentar. “Oke, aku akan ke sana. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Cici.”

“Oke, ku tunggu Ness.” Dan telepon pun di tutup.

“Dia mau apa?” Tanya Dhanni dengan nada yang tak enak di dengar.

“Teman SMA ku ada yang ke kafenya besok, aku boleh ke sana kan??”

Dhanni tampak memicingkan matanya ke arah Nessa. “Itu bukan sekedar alasan dia untuk bertemu kamu kan??”

Nessa menggeleng cepat. “Kak Jo yang ku kenal bukan seorang pembohong, Cici dan Ervan pasti benar-benar ke sana.” Ucap Nessa mencoba meyakinkan suaminya tersebut.

“Oke, kamu boleh ke sana.” Kali ini Dhanni menjawab dengan perasaan ragunya. Jika boleh jujur, ia sangat tak suka Nessa berhubungan dengan lelaki bernama Jonathan tersebut. Walau Dhanni belum tau apa sebenarnya hubungan Nessa dengan Jonathan, tapi Dhanni dapat melihat dengan jelas di mata lelaki itu jika lelaki itu menginginkan istrinya tersebut, dan Dhanni tak suka dengan itu.

“Terimakasih.” Nessa merangkul leher Dhanni seketika kemudian mengecup lembut pipi lelaki tersebut.

***

Siang itu, Nessa akhirnya menuju ke kafe milik Jonathan. Jonathan sendiri menyambut dengan senang kehadiran Nessa. ia sangat senang saat tau bahwa ada alasan untuk dirinya bertemu dengan wanita yang sangat di cintainya tersebut.

Tak lama, tamu yang mereka tunggu pun akhirnya datang juga. Nessa benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan teman SMA nya dalam keadaan seperti saat ini.

“Kamu makin cantik Ness.. Pantas saja Jo nggak bisa berpaling darimu.” Ucap Cici kemudian menyesap kopi di hadapannya.

Nessa mengerutkan keningnya kemudian melirik ke arah Jonathan di sebelahnya yang tampak tersenyum bahagia.

“Dan kapan kalian akan menyusul kami??” Tanya Ervan kemudian yang membuat Nessa semakin bingung. Menyusul?? Menyusul kemana??

Dan tanpa di duga, Jonathan seakan sudah tak canggung lagi meraih pinggang Nessa yang duduk di sebelahnya, menarik Nessa mendekat hingga menempel pada tubuhnya.

“Tenang saja, kami akan segera menyusul kalian, tunggu saja undangannya.”

Ucapan Jonathan tersebut yang sontak membuat Nessa menatap ke arah lelaki itu dengan mata membulatnya. Nessa benar-benar tak mengerti apa maksud Jonathan, kenapa Jonathan berbicara seakan mereka adalah sepasang kekasih yang akan melaksanakan pernikahan?? Apa maksud lelaki itu?? Apa tujuannya?? Dan masih banyak sekali pertanyaan yang membuat Nessa bingung dengan pernyataan lelaki tersebut.

 

-TBC-

Nantikan kiah selanjutnya yaa.. hehehhe

Passion Of Love – Chapter 7

Comments 7 Standard

cast1Sang Kupu-kupu Malam

 

Note : Chapter ini banyak mengalami rombakan dariku, jadi ini bener2 sedikit berbeda dengan Chapter di Fansfic. happy reading..

 

Chapter 7

 

Di dalam Mobil.. Fiona benar-benar takut. Ben mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Tangan Fiona bahkan sedikit gemetar. Ben hanya menatap lurus ke depan tanpa sedikitpun melirik ke arah Fiona yang sudah mulai pucat.

Ben hanya diam, Fiona tau jika Ben sedang marah. Astaga.. apa yang akan terjadi nanti..? apa Ben akan berbuat kasar dengannya..? apa ia akan mendapatkan hukuman?? Pikiran Fiona mulai kalut.

Sesampainya di apartemen. Ben menyeret Fiona dengan kasar, kemudian dia menghempaskan tubuh Fiona di sofa panjang ruang tamunya. Ben lalu menyingsingkan lengan kemejanya dengan gusar. Dan itu membuat Fiona takut. Ben terlihat sangat marah, tatapan matanya tajam membunuh.

“Aku nggak suka melihat kamu dekat dengan dia.” Ben bicara dengan nada dingin, menekan dan mengancam.

“Kee.. kenapa..?”

Ben maju menunduk lalu mencengkeram rahang Fiona, mendongakan wajah Fiona keatas. “Kenapa.?? karena kamu sudah jadi milikku, ingat.. aku sudah menebusmu.” Ben menjawab dengan sedikit seringaian khas miliknya.

“Ben..”

“Sshhttt… Diam…”  Ben menjelajahi wajah Fiona dengan jari telunjuknya. “Semua yang kamu punya adalah milikku. Kamu tidak boleh membantah dan tidak boleh di sentuh oleh siapapun.” Ucapnya lalu mulai menyambar bibir Fiona dengan kasar, melumatnya bahkan sesekali menggigitnya, seakan memberikan hukuman bagi Fiona karena sudah dekat dengan lelaki lain.

Fiona sendiri merasakan jika Ben sudah terbakar oleh gairah. Sesuatu yang keras dan berdenyut menempel di perut bawahnya, seakan ingin segera di bebaskan. Fiona sedikit meronta, sedangkan Ben masih belum ingin mengakhiri hukumannya.

Ben bahkan sudah melucuti pakaian Fiona dan  memenjarakan kedua tangan Fiona ke atas kepalanya. Lalu menyerang Fiona dengan berbagai macam serangan erotis yang membangkitkan gairah.

Ben sedikit menurunkan celananya dengan cepat, membebaskan kejantanannya dari celananya yang seakan menyesakkan. Ia kemudian memposisikan dirinya untuk kembali mendindih Fiona, lalu tanpa aba-aba, Ben menyatukan diri dengan sedikit kasar pada tubuh Fiona.

Fiona sendiri hanya mampu mengerang panjang. Bibirnya kembali di bungkam oleh bibir Ben, membuatnyaa kesulitan untuk bernapas. Lelaki yang menindihnya ini benar-benar gila. Gila karena gairah dan juga karena emosi. Hingga kemudian puncak kenikmatan itu di capai oleh Ben saat lelaki itu mengerang panjang.

Ben tersungkur di atas tubuh Fiona. Napas lelaki itu masih terputus-putus, begitupun dengan Fiona. Kemudian Ben mengangkat kepalanya, menempelkan keningnya pada kening Fiona. Dan mulai berkat dengan nada penuh ancaman.

“Aku benar-benar nggak suka melihat kamu dekat dengan lelaki lain.” Fiona hanya terdiam mendengar ucapan Ben. Kemudian Ben menarik diri, membenarkan letak celananya, lalu pergi masuk ke dalam kamarnya begitu saja meninggalkan Fiona yang masih berantakan di sofa ruang tamunya.

***

Malamnya….

Mereka berdua makan bersama dalam keadaan saling berdiam diri. Fiona tadi memasakkan masakan sederhana untuk Ben dan juga dirinya sendiri. Fiona pikir, Ben tak mau memakannya, nyatanya lelaki itu memakan masakannya dengan lahap.

“Kamu bisa memasak juga ya..” Ben akhirnya angkat bicara sambil mengunyah makanan.

“Hanya sedikit, yang sederhana saja.”

“Masakanmu enak, aku mau kamu memasak untukku setiap hari.” Ucap Ben lagi tanpa ekspresi dan masih dengan melihat ke arah makannannya.

Fiona hanya tercengang, terkejut dengan apa yang di kataakan Ben. Apa mereka akan memainkan peran sebagai suami istri?? Dan dirinya akan berperan sebagai istri yang selalu memasakkan suaminya?? Ayolah, jangan terlalu GR Fi… Pikir Fiona kemudian.

“Nanti ikutlah bersamaku.”

“Kemana??” Tanya Fiona sedikit bingung.

“Kita ke dokter, dan memasang alat kontasepsi untukmu.”

“Aku tidak mau.” Ucap Fiona denga cepat.

Ben kemudian menatap Fiona dengan tatapan tajamnya. Sedagkan Fiona menelan ludahnya dengan susah payah saat mendapatkan tatapan seperti itu dari Ben.

“Emm.. maksudku, bukannya aku tidak mau menghambat kehamilan, tapi aku hanya takut jarum suntik, dan aku nggak mau di suntik.” Jawab Fiona dengan cepat.

“Kita akan menggunakan alat kontrasepsi lain,.” Jawab Ben dengan datar lalu kembali melanjutkan makan malamnya. Sedangkan Fiona hanya mampu pasrah dengan apapun keputusan yang di ambil oleh Ben.

***

Malam itu juga keduanya ke rumah sakit, berkonsultasi dengan dokter. Dan akhirnya Fiona hanya mau memilih Pil KB sebagai alat kontrasepsi mereka.

Rasa canggung menghampiri diri Fiona. Mereka seakan sudah seperti sepasang pengantin baru yang baru akan membina keluarga baru. Bagaimana pun juga ini pertama kalinya untuk Fiona bisa angat dekan dan sangaat intim dengan seorang lelaki, tidak, maksudnya bukan dekat secara Fisik, tapi kedekatan lain yang baru Fiona rasakan dengan Ben. Bahkan Fiona tak pernah merasa sedekat ini dengan Angga.

Mengingat nama Angga, Fiona sedikit sedih. Bagaimana kabar lelaki itu? apa lelaki itu merindukannya??

“Kenapa wajahmu murung seperti itu?” tanya Ben dengan datar dan dengan pandangan yang masih lurus ke depan.

“Emm.. Aku.. Aku ingin kerja.” Jaawab Fiona kemudian.

“Kerja?? Kamu butuh uang?? Kalau butuh, kamu tinggal bilang.”

Fiona menggelengkan kepalanya cepat. “Bukan, bukan karena uang, tapi, aku tidak mungkin di dalam apartemenmu sepanjang hari. Itu akan membuatku bosan.”

“Lalu kamu mau kerja apa?? Kembali ke tempat terkutuk itu? Huh, Jangan harap aku kembali melepaskanmu ke sana.”

Walau di ucapkan dengan nada sinis, tapi entah kenapa Fiona menghangat mendengar ucapan dari Ben. Setidaknya Ben tak akan pernah membiarkan dirinya masuk lagi ke dalam dunia malam yang gelap seperti kehidupan yang selama ini dia jalani.

“Tidak Ben, em, temanku memiliki kafe. dulu, aku berencana kerja di sana setelah aku melunasi hutang-hutangku pada Mr. Jonas dan keluar dari dunia malam. Karena saat ini aku sudah keluar dari dunia malam, aku ingin melanjutkan rencanaku tersebut.”

“Kamu yakin itu hanya kafe biasa??” Tanya Ben sambil memicingkan matanya ke arah Fiona.

“Ya, aku yakin. Bahkan kamu boleh main ke sana.” Ucap Fiona meyakikan.

Ben menganggukkan kepalanya. “Baiklah, kamu boleh bekerja. Tapi Vano tetap akan mengawasimu, dia yang akan mengantar jemputmu nanti.”

Fiona hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tentu saja, Bukankah saat ini ia hanya seorang tawanan bagi Ben?? Hanya seorang buruh seks dari lelaki tersebut. Ben pastinya sudah menghabiskan banyak uang untuk menebus kebebasannya. Dan ia harus tau diri tentang hal itu.

***

Beberapa bulan sudah berlalu. Hari-hari yang di lalui Fiona terasa sangat cepat. Setiap harinya ia sibuk mengurus Ben. Tentu saja lelaki itu bukan hanya bercinta dengannya. Ben bahkan tanpa canggung lagi menyuruhnya ini dan itu, menyiapkan segala perlengkapan kerjanya, bahkan sesekali menyuruhnya mengirimkan bekal makan siang, dan itu membuat Fiona semakin tak nyaman. Bukan karena Fiona tidak suka, tapi karena Fiona takut dirinya tenggelam semakin dalam pada angan-angannya menjadi istri seorang Benny Andrean.

Tentu saja Fiona selalu berangan-angan seperti itu. Sikap Ben yang semakin hari semakin melembut padanya membuat Fiona seakan jatuh bangun karena perasaannya sendiri. Fiona tak menampik jika kini ia merasakan perasaan sayang untuk Ben. Lelaki yang baginya adalah seorang penyelamatnya dari dunia malam.

Dan juga… Ayah dari bayi yang kini sedang di kandungnya…

Sudah satu bulan ini Fiona tau jika dirinya sudah berbadan dua. Dan Fiona benar-benar tak berani memberitahukan keadaannya pada Ben atau pada siapapun.

Satu bulan yang lalu…

Fiona berjalan dengan tubuh yang sedikit gemetar. Ia takut jika sesuatu yang di pikirkannya menjadi kenyataan. Sudah beberapa hari terakhir ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Selalu mual muntah pada pagi hari, indera penciumannya yang semakin tajam dan sensitif terhadap beberapa bau, dan yang paling membuatnya takut adalah periode bulanannya yang sudah terlambat beberapa minggu.

Akhirnya siang itu Fiona memutuskan untuk bertemu dengan Dokter Alice, Dokter yang dulu di kenalkan oleh Ben saat mereka memilih alat kontrasepsi untuk hubungan mereka berdua.

“Hai.. Kamu datang sendiri?” tanya Dokter Alice pada Fiona dengan akrab, karena memang sudah beberapa kali mereka bertemu. Status dokter Alice yang sebagai teman Ben membuat dokter Alice tak canggung-canggung lagi menganggap Fionaa sebagai temannya juga.

Fiona mengnggukkan kepalanya. “Ya, Ben sedang sibuk. Jadi aku sendiri.” Ucap Fiona dengan sedikit gugup.

“Jadi, apa keluhanmu?” tanya Dokter Alice secara langsung.

“Em.. Aku, Aku telat menstruasi, dan Aku takut.” Ucap Fiona maasih dengan kegugupannya. “Emm.. maksudku, aku juga mual muntah dan…”

Dokter Alice tersenyum melihat tingkah laku Fiona. “Kamu takut hamil?” tanya Dokter Alice kemudian.

Fiona menganggukkan kepalanya. “Apa itu mungkin??bukankah aku sudah mengkonsumi obat pemberian darimu?”

“Apa kamu rutin meminumnya?” tanya dokter Alice dengan penuh selidik.

Fiona menganggukkan kepalanya. “Beberapa kali aku lupa, tapi kemudian aku meminumnya lagi keesokan harinya.”

Dokter Alice kemudian berdiri dan mengambil sesuatu dari lemari kecil di ujung ruangannya. “Yang memutuskan kamu hamil atau tidak itu bukan dokter Fi, kami hanya mencoba membantu menunda kehamilan dengan mengendalikan hormon pasien, bukan berarti pasien tidak bisa hamil setelah menggunakan kontrasepsi, beberapa pasien bahkan tetap bisa hamil walau mereka udah menundanyaa dengan kontrasepsi.”

“Jadi.. ada kemungkinan aku hamil??”

Dokter Alice mengangguk. “Coba tes ini, jika hasilnya positif, kita akan melakukan USG supaya lebih pasti.”

 

Akhirnya saat itu Fiona melakukan tes urin sederhana yang ternyata menunjukkan jika dirinya benar-benar positif hamil. Dokter Alice pun melakukan USG, dan ternyata memang sudah terlihat kantung kehamilan di rahim Fiona. Tak lupa dokter Alice berpesan jika ia harus segera memberitahukan kabar gembira itu pada Ben. Tapi sudah sebulan setelah ia tau keadaannya, Fiona belum juga berani memberitahukan keadaannya pada Ben.

Fiona hanya takut jika lelaki itu marah dan kembali bersikap kasar padanya. Bebeberapa saat yang lalu, setelah ia mengetahui keadaannya yang sudah berbadan dua, Fiona memancing Ben untuk sedikit bercerita tentang masalalunya. Dan itu membuat Fiona takut membahas kehamilannya dengan Ben.

Saat itu….

Mereka sedang terbaring di tempat tidur Ben, seperti biasa.. mereka selesai melakukan kegiatan panas harian mereka. kemudian tiba-tiba ada yang menggelitik fikiran Fiona. Fiona  ingin bertanya banyak tentang diri Ben. Bahkan tentang kehidupan pribadi lelaki itu, karena selama ini hanya Ben  yang tau kehidupanya, sedangkan Fiona sama sekali tak tau apaapun tentang diri Ben.

Ben..Panggil Fiona sedikit ragu-ragu.

“Hemmbb..” Ben menjawab dengan malas-malasan.

“Emmm… apa kamu nggak menikah..?” pertanyaan Fiona terlihat mengejutkan Ben. Lelaki itu  langsung membuka matanya seketika.

“Kenapa kamu bertanyaa tentang itu..?” suara Ben terdengar dingin.

“A.. Aku,, Aku.. hanya ingin mengenalmu lebih jauh.” Fiona benar-benar takut ketika Ben menampakkan ekspresi dinginnyahingga suara Fiona terassa tercekat di tenggorokan.

Ben menatap Fiona, lalu membelai kepala Fiona.“Aku tidak akan pernah menikah.” Jawabnya singkat, kali ini dengan nada lembut, tidak dingin seperti tadi.

Kenapa??” Tanya Fiona lagi dan masih tersendat-sendat.

“Aku tak suka terikat dan tak suka berkomitmen.”

“Bagaimana dengan keturunan, maksudku keluargamu pasti ingin keturunan.”

“Aku punya adik, dia pasti akan memberikan keturunan.”

“Bagaimana dengan keturunanmu sendiri..?” Fiona masih memberanikan diri bertanaya lagi.

“Aku tak mau keturunan.”

Kenapa??

“Aku tak suka anak kecil, mereka terlalu berisik.”

“Baa.. bagaimana.. jika.. aku hamil..?”

Kamu tidak mungkin hamil, tapi jika itu mungkin, Aku akan memaksamu aborsi.” Jawab Ben dengan enteng.

Apa?” Fiona membelalakkan matanya, tak percaya jika Ben mengatakannya semudah itu. “Apa kamu pernah melakuan itu sebelumnya..?” lanjut Fiona lagi.

“Iya.. pernah, dengan teman kencanku karena keteledoran bodohku.” Fiona masih tak dapat berkata-kata saat mendengar pengakuan dari Ben. “Aku tak pernah berhubungan lebih dari tiga kali dengan perempuan yang sama, aku juga tak pernah berhubungan tanpa pengaman, aku pernah membuat satu teman kencanku hamil karena aku melakukannya pada saat mabuk sampai tak sadar jika melakukan itu tanpa pengaman, ketika dia hamil aku mengantarnya ke dokter yang paling bagus, lalu memberinya Cek lebih dari cukup, dan dia mau aborsi dan tutup mulut. Itu akan berlaku juga denganmu sayang.” Ben bercerita dan memandang Fiona sambil mengelus pipi Fiona. Astaga.. ternyata lelaki di sebelahnya ini adalah lelaki yang amat sangat kejam, Fiona bersumpah jika ia tak akan memberitahukan kedaannya pada Ben.ia hanya perlu mencari caraa supaya bisa lepas dari genggaman lelaki itu sebelum perutya mulai membesar.

 

Fiona menghela napas panjang, kemudian mengusap lembut perutnya yang kini sudah tak sedatar dulu, ia merasakan sebuah kedutan di dalam sana. Kehamilannyaa kini mungkin sudah berusia ssekitar tiga bulan, dan itu membuat Fionaa semakin pusing untuk memikirkan cara supaya bisa lepas dari genggaman tangan Ben.

Mengingat nama itu membuat Fiona sedikit bingung dengan tingkah lelak itu. Akhir-akhir ini, Ben semakin perhatian padanya, dan Ben sudah tak pernah laagi menyentuhnya selama lebih dari dua minggu terakhir. Ada apa?? Apa lelaki tu ssudah bosan terhadapnya?? Mengingat itu Fiona sedikit sedih, tapi juga sedikit senang. Jika Ben sudah bosan dengan tubuhnya, mungkin dalam waktu dekat lelaki itu akan melepaskannya, itu tandanya ia tak perlu pusing lagi menutupi kehamilannya dari lelaki terebut.

Ketika sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Fiona mendengar pintu depan apartemen en di buka oleh seseorang. Apa Ben sudah pulang?? Tapi ketika Fiona bergegas melihat si pembuka pintu tersebut, langkah terkejutnya Fiona mendapaati dua orang gadis sedang berdiri di tengaah-tengah ruang tamu apartemen Ben.

“Kamu siapa? kenapa kamu berada di sini?” Tanya salah satu gadis dengan tubuh lebih kecil.

“Maaf.. anda berdua siapa? kenapa anda bisa masuk kemari?” tanya Fiona dengan bingung. Setau Fiona, yang mengetahui password apartemen Ben hanyalah dirinya, Vano, sekertaris pribadi Ben dan juga Ben sendiri.

Bukannya menjawab pertanyaan Fiona, kedua gadis di hadapannya itu malah menatap Fiona dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh selidik.

“Amel, apa ini benar-benar Apartemen Kak Ben? apa kamu nggak salah masuk.?” Tanya gadis satunya yang memiliki paras sangat cantik.

“Tidak kak Sheila, Aku memang sudah lama tidak mengunjungi kak Ben, tapi aku sangat yakin jika kak Ben tidak akan pindah tanpa sepengetahuanku dan juga mama.” jawab gadis keecil yang bernama Amel tersebut

“Lalu dia siapa?” Gadis yang bernama Sheila itu bertanya lagi dengan wajah bingung sambil menunjuk ke arah Fiona.

“Aku tidak tau.” Jawab Amel.

“Apa dia kekasih Kak Ben?” Tanya Sheila lagi ketika melihat Fiona yang hanya mengenakan pakaian santai dan juga celemek seperti orang yang sedang memasak.

“Hahahah itu nggak mungkin, aku tau pasti, Jika kak Ben hanya memiliki seorang kekasih, dan dia hanya kak Sheila.” Jawab Amel dengan penuh keyakinan.“Tunggu sebentar, aku akan meneleponnya.” Lanjut Amel lalu mulai mengeluarkan dan menggesek-gesek ponselnya.

“Kak, kak Ben di mana? kenapa tidak di rumah?” Tanya Amel dengan suara manjanya.

“Aku masih di jalan,” jawaban singkat dari orang di seberang telepon.

“Aku ke apartemen kakak, tapi kak Ben nggak ada, emm.. dan siapa perempuan di apartemenmu ini kak??” tanya Amel dengan sedikit ragu.

Apa? apa yang kamu lakukan di sana? aku sudah berkali-kali bilang ‘aku tidak suka kalian mengusik kehidupan pribadiku’.” Ben terdengaar sedikit marah..

“Aku nggak ngusik kok, aku cuma ingin menemui kak Ben.” Lagi-lagi Amel sedikit merengek manja.

Oke, tunggu di sana, jangan sentuh apa pun, aku akan segera sampai.” Lalu tanpa aba-aba Ben menutup teleponnya.

“Huhh… Apa dia fikir aku seorang penguntit? Aku kan adik kandungnya sendiri, bagaimana mngkin dia menganggapku mengusik hidupnya..” gerutu Amel, sedangkan Sheila hanya sedikit tersenyum melihat kelakuan gadis yang lebih muda di hadapannya.

Sedangkan Fiona sendiri walau masih bingung, ia mencoba menetralkan perasaannya, mungkin gadis yang bernama Amel tersebut adalah adik dari Ben, sedangkan gadis yang bernama Sheila itu.. kekasih lelaki itu.

Mengingat kemungkinan itu membuat Fiona memejamkan matanya, entah kenapa rasa sesak ia rasakan begitu saja di dadanya. Fiona akhirnya memutuskan untuk kembali ke dapur melanjutkan kegiatannya tadi untuk memasak makan malam untuk Ben.

***

Beberapa saat kemudian….

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Ben dengan gusar katika sampai di dalam apartemen nya tanpa melihat siapa yang ada di hadapannya.

Amel dan Sheila yang kaget dengan kedatangan Benn yang gusar dan sedikit berteriak langsung berdiri dari tempat duduknya.Bahkan Fiona pun yang masih berada di dapur seketika menuju ke ruang tamu ketika mendengar teriakan dari Ben. Sedangkan Ben sendiri ketika sadar siapa yang berdiri di hadapannya hanya terdiam membatu, menatap sesosok gadis yang sudah sekitar 5 tahun tak di temuinya.

“Kak Ben… Aku kangen..” Ucap Sheila sambil berlari memeluk Ben. Ben masih saja membatu walau tubuhnya kini sudah dalam pelukan seorang gadis yang pernah benar-benar ia sayangi. Di balik pelukannya samar-samar Ben melihat Fiona yang sedang berdiri ternganga melihatnya. Fiona seakan mencoba memahami apa yang terjadi di antara mereka.

-TBC-

Sedikit beda kan??  hahahahha happy waiting untuk Chapter sselanjutnya, yang pastinya banyak menglami dempulan dariku.. hueehehhehehe

fh1Note lagi nih… Coming soon My Wife (Fansfic koreaku) Versi indo dengan judul Full house hahhahaha

 

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 5 (“Dia Mantanku”)

Comments 5 Standard

TLK2

The married life (Lady killer 2)

 

Mari merapat yang udah kangen Kak Dhanni… panas-panas gini baca cerita panas.. makin gosong euuyyy.. hahahhahah Happy reading.. semoga suka yaa.. heheheheh

 

 

Chapter 5

-“Dia mantanku.”-

 

Dhanni mengecupi sepanjang punggung mulus wanita yang kini meringkuk di dalam pelukannya. Gairahnya kembali tumbuh hanya karena kecupan-kecupan basahnya pada pundak wanita yang kini sedang di peluknya. Astaga… Bahkan belum ada tiga jam yang lalu ia mencapai gelombang kenikmatan bersama dengan Nessa, Istrinya tersebut, tapi kini ia seakan terpancing kembali. Seakan ia tak ingin berhenti jika sudah menyentuh tubuh istrinya tersebut.

“Kak… Geli..”  Ucap Nessa dengan parau sambil sedikit menjauh karena geli dengan tingkah Dhanni.

Dhanni kembali menatik tubuh Nessa ke dalam dekapannya. Ia sedikit menyunggingkan senyumannya. Bukannya berhenti, ia malah menggoda Nessa. Menghadiahi Nessa dengan gigitan-gigitan kecil pada telinga wanita tersebut.

“Kak..”

“Iya sayang..” jawab Dhanni dengan  suara seraknya.

“Aku ngantuk.”

“Tapi aku enggak.” Kali ini telapak tangan Dhanni sudah menggoda puncak payudara Nessa. membuat Nessa memekik.

Nessa menolehkan kepalanya ke belakang sambil menatap Dhanni dengan tatapan membunuhnya.“Kak.. tadi sudah..”

“Itu tadi.. Aku butuh sesi kedua sayang.”

Lalu tanpa banyak bicara lagi Dhanni mengangkat sebelah kaki Nessa kemudian menyatukan diri dengan tubuh istrinya tersebut dari belakang.

“Sial..!!!” Ucap Dhanni ketika tubuhnya menyatu seutuhnya dengan tubuh istrinya tersebut, sedangkan Nessa sendiri hanya mampu mendesah panjang.

“Kak..” ucap Nessa di sela-sela desahanya.

“Hemm??” Dhanni kembali mengecupi sepanjang punggung Nessa dengan kecupan-kecupan basahnya. “Aku nggak bisa berhenti sayang…” Lanjut Dhanni lagi.

Sedang Nessa sendiri seakan kewalahan dengan apa yang di lakukan Dhanni. Kedua telapak tangan Dhanni memainkan kedua payudaranya yang padat berisi. Bibir Dhanni tak berhenti mengucap kata-kata lembut sesekali mengecupi punggung mulusnya.

“Jangan tinggalin Aku Ness.. Aku nggak bisa tanpa kamu.”

“Aku pun sama Kak…”

Nessa menolehkan kepalanya ke belakang, dan seketika itu juga Dhanni kembali melumat bibir ranum milik istrinya tersebut tanpa menghentikan pergerakannya. Dhanni bahkan mempercepat lajunya, membuat Keduanya berada di ambang kenikmatan yang nyata. Hingga kemudian desahan panjang dari keduanya menandakan jika permainan baru saja selesai.

Dhanni kembali memeluk erat tubuh polos istrinya dari belakang, sedangkan bibirnya sendiri tak berhenti mengucapkan kalimat cinta yang membuat Nessa di buai asmara hingga kesadaran mulai merenggutnya kembali.

***

“Kamu di rumah saja yaa… aku nggak mau kamu pingsan lagi kayak kemarin.” Ucap Dhanni sambil mengusap lembut pipi Nessa dengan ibu jarinya.

Nessa sendiri yang kini masih sibuk membenarkan dasi milik Dhanni seakan tergoda dengan kelembutan sang suami, entah kenapa ia ingin bermanja-manja ria dengan Dhanni.

“Aku bosan di rumah Kak, aku boleh ke kafe Dewi kan??”

“Ingat Babby kita sayang..”

“Aku tau, tapi bosan bisa membuat stres loh, please.. aku hanya duduk-duduk saja di sana kok.” Nessa memohon tapi Dhanni masih terlihat tak ingin mengijinkannya.

Nessa kemudian menarik dasi yang sudah bertengger rapi di leher Dhanni hingga membuat lelaki itu membungkuk ke arahnya.

“Please sayang…” Goda Nessa sambil mengecup lembut bibir Dhanni.

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut. “Kamu mau menggodaku??”

“Ya, supaya Kak Dhanni mengijinkanku.”

“Oke, tapi kita berangkat bareng, dan nanti siang aku akan makan siang di sana.”

“Yeayy… Terimakasih banyak kak..” Nessa mengecup lembut pipi Dhanni sambil bersorak bahagia.

***

Sesampainya di depan kafe milik Dewi, dhanni keluar dari dalam mobilnya lalu membukakan pintu mobilnya untuk Nessa.

Nessa keluar dengan wajah senyum bahagianya. Dhanni kemudian merarik pinggang Nessa supaya mendekat ke arahnya.

“Nggak enak di lihat orang Kak.” Ucap Nessa sambil melirik ke arah sekitarnya karena kini mereka sedang berada di parkiran kafe milik Dewi yang letaknya tepat di sebelah jalan raya.

“Biar saja, mereka tentu tau kalau kita sepasang kekasih,”

“Kekasih?? Sok muda,”

Dhanni terkikik geli. “Tentu saja, kita masih muda.”

Nessa tersenyum manis. Ia kemudian merapikan kemeja milik Dhanni yang sedikit kusut di bagian dadanya.  “Kak Dhanni nggak boleh nakal dan harus selalu ingat aku dan juga Brandon.”

Dhanni mengusap pipi Nessa dengan lembut. “Kamu kembali manja kayak pas lagi hamil Brandon dulu.”

“Memangnya kenapa?? Nggak boleh??”

“Bukan nggak boleh, Aku bahkan semakin suka.”

“Huhh.. dasar.” Gerutu Nessa.

“Kamu tenang saja sayang, nggak aku nggak akan nakal kok. Kamu dan Brandon dan juga babby kita adalah yang nomer satu di hatiku.” Ucap Dhannni sambil mengusap lembut perut Nessa yang masih datar.

Dhanni kemudian mengecup dengan lembut kening Nessa, membuat Nessa memejamkan matanya saat menikmati sentuhan lembut suaminya tersebut.

“Aku pergi sayang, nanti siang kita makan siang bareng di sini.”

“Bawakan aku mangga muda.” Pesan Nessa dengan suara yang sedikit merengek.

“Ya, akan ku bawakan.” Tanpa di duga, Dhanni mengecup singkat bibir Nessa, membuat Nessa terpekik.

“Kak Dhanni….”

“Itu hadiahku karena sudah membuatmu puas tadi malam.” Ucap Dhanni yang sudah berada di dalam mobilnya sambil menggoda Nessa dengan mengerlingkan matanya.

“Dasar mesum.” Ucap Nessa yang kemudian membuat Dhanni tertawa lebar di dalam mobilnya. Dhanni pun akhirnya berlalu, sedangkan Nessa sendiri kemudian masuk ke dalam kafe milik Dewi.

Keduanya tidak tau jika sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasi tingkah manis keduanya, sepasang mata sendu penuh dengan kesedihan yang berada di seberang jalan.

***

Dengan serius Dhanni memeriksa berkas-berkas di hadapannya ketika tiba-tiba pintu ruangannya di buka begitu saja oleh seseorang tanpa permisi. Dhanni menatap orang tersebut dengan wajah sangarnya.

“Kamu pikir ini kantor pribadimu hingga kamu bisa seenaknya keluar masuk tanpa permisi??” Dhanni bertanya dengan nada dinginnya. Ia benar-benar tak suka dengan sikap Erly yang terkesan seenaknya sendiri.

“Aku hanya ingin penjelasan. Kenapa kamu memiliki dua sekertaris pribadi??”

“Bukan urusanmu.” Jawab Dhanni dengan datar.

“Dhan.. Aku mengesampingkan semua urusan hidupku untuk masuk ke dalam kantormu, menjadi sekertaris pribadimu, dekat kembali denganmu, tapi kamu..”

“Aku tidak pernah memintamu melakukan itu Erly. Dan asal kamu tau, Aku ingin Kamu bersikap profesional di dalam kantorku.”

Mata Erly berkaca-kaca, ia tak menyangka jika lelaki yang sangat di cintainya tersebut akan memperlakukannya secara dingin seperti saat ini.

Tak lama, pintu ruangan Dhanni di ketuk seseorang.

“Masuk.” Ucap Dhanni dengan datar tanpa menghiraukan keberadaan Erly yang masih berdiri di hadapannya.

Seorang wanita cantik lainnya masuk. “Pak Dhanni memanggil saya??” tanya wanita tersebut dengan hormat. Wanita itu sedikit mengernyit pada sosok Erly yang berdiri tak jauh dari meja kerja atasannya tersebut.

“Hani, tolong bawa kan berkas ini ke kantor Pak Ramma, dan beri tau dia jika saya tidak bisa menemuinya siang ini.” Ucap Dhanni pada Hani, sekertaris pribadi barunya. Ya, setelah dia memiliki Erly menjadi sekertaris pribadinya, Dhanni segera mencari sekertaris pribadi baru lainnya supaya komunikasinya dengan Erly sedikit berkurang.

“Baik pak, apa hanya itu??”  tanya Hani lagi.

“Ahh ya, saya hampir lupa. Carikan Mangga muda buat istri saya. Dia sedang ngidam.” Ucap Dhanni lagi kali ini dengan sedikit menyunggingkan senyuman miringnya.

“Baik pak, saya permisi.”

Akhirnya Hani keluar dari ruangan milik Dhanni. Dan hanya tinggalah Dhanni dan juga Erly di sana.

“Kenapa kamu masih di sini?? Saya membayar kamu bukan untuk menatap wajah saya,” Ucap Dhanni dengan datar.

“Kamu keterlaluan.” Kali ini Erly berkata dengan suara yang sedikit serak karena menahaan tangisnya. Erly bersiap pergi dari hadapan Dhanni tapi kemudian Dhanni kembali memanggilnya dan membuat Erly menghentikan langkahnya.

“Erly,” Panggil Dhanni kemudian. “Tolong cancel semua jadwal saya siang ini, Saya akan makan siang bersama dengan istri.” Ucap Dhanni seakan sengaja memberi tahu Erly bahwa wanita itu sudah tak memiliki kesempatan lagi di hatinya.

Erly sendiri hanya mampu melanjutkan langkahnya sambil sedikit terisak. Ia sakit, sangat tersakiti dengan sikap Dhanni, lelaki yang sagat di cintainya.

***

Nessa mengaduk-aduk jus jeruk di hadapannya dengan sedotan.  Sesekali ia masih mendengar rengekanDewi yang memintanya untuk mencari tau lebih banyak lagi tentang Kafe di seberang jalan yang tak lain adalah kafe milik Jonathan, mantan kekasih sekaligus orang yang kini di hindarinya.

“Enggak Wi, berapa kali kamu minta, aku nggak akan mau ke sana lagi.”

“Astaga.. belum tentu juga ia berada di sana Ness.”

“Ya, tapi kemungkinan besar Dia ada di sana.” Jawab Nessa dengan datar.

Pada saat bersamaan, seorang pengunjung kafe tiba-tiba datang menghampiri mereka. Dewi bahkan ternganga mendapati sosok tampan di hadapannya. sedangkan Nessa sendiri menatap Dewi dengan tatapan bingungnya. Dan ketika Nessa menolehkan wajahnya ke samping, ia baru tau jika ada sosok tampan berdiri di sebelahnya.

“Apa saya mengganggu waktu kalian??” tanya lelaki itu dengan sopan.

Belum sempat Dewi menjawab, Nessa sudah berdiri  dan berbalik bertanya pada lelaki tersebut. “Kak Jo sedang apa di sini??” tanya Nessa yang sudah tidak nyaman dengan tatapan mata yang di berikan jonathan.

“Aku hanya tidak sengaja mampir dn bertemu kamu di sini.” Ucap Jonathan sambil menyunggingkan senyumannya. “Em.. maaf sebelumnya, apa bisa meninggalkan kami sebentar??” tanya Jonathan pada Dewi yang sejak tadi masih fokus dengan ketampanan yang terpahat sempurna pada wajah Jonathan.

“Ahh.. ya, silahkan.” Ucap Dewi  sambil bergegas berdiri lalu pergi meninggalkan Nessa dan Jonathan dengan tatapan yang masih tak ingin berpaling dari wajah lelaki itu.

“Jadi, kamu pemilik kafe ini??” tanya Jonathan pada Nessa saat mereka sudah kembali duduk saling berhadapan.

“Bukan, ini milik Dewi, wanita yang tadi duduk di situ.”

“Ohh..” Jawab Jonathan tanpa mengalihkan tatapan matanya pada wajah Nessa. “Kenapa kamu nggak pernah angkat telepon dariku?” tanya Jonathan lagi.

“Emm… Aku sibuk.” Hanya itu jawaban Nessa.

“Sibuk ngurus suami kamu??” ada nada sinis yang terdengar dri ucapan Jonathan.

“ku pikir itu bukan  urusan Kak Jo. Ingat, kita hanya berteman.” Nessa mencoba mengendallikan dirinya agar tak terpengaruh dengan sosok Jonathan.

“Oke, tapi ku pikir aku memiliki hak sebgai teman kamu.”

“Hak?? Hak apa??”

“Hak untuk selalu mendapat jawaban telepon darimu.”

“Kak.. Aku punya suami dan anak yang harus di urus, jadi aku tak bisa selalu menjawab telepon Kak Jo.”

Jonathan menggelengkan kepalanya. “Itu bukan alasan kamu Ness.. Kamu nggak mau mengangkat teleponku hanya karena kamu takut kembali jatuh hati padaku.”

Kali ini Nessa yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Enggak kak, percayalah. Aku tidak takut itu terjadi, karena aku yakin tidak akan jaatuh hati pada lelaki lain selain suamiku sendiri.”

Wajah Jonathan tampak  mengeras. “Apa yang tadi pagi mengantarmu kemari itu suamimu??”

“Kak Jo tau??”

“Ya, Aku melihat kalian.”

“Ya, itu saya, suaminya.” Suara dingin penuh penekanan tersebut memaksa Nessa menolehkan kepalanya ke belakang. Dan tampaklah sosok Dhanni yang sudah berdiri dengan wajah sangarnya.

Jonathan membulatkan matanya seketika. Ia bukannya takut karena bertemu dengan Dhanni, Suami dari wanita yang di cintainya. Tapi ia benar-benar tak menyangka jika suami wanita yang di cintainya tersebut adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang sangat di cintai kakaknya sendiri. Ada rasa panas dalam dada Jonathan. Seakan ada sesuatu yang menyulut emosinya.

Nessa berdiri seketika lalu menyambut kehadiran Dhanni. “Kak Dhanni kok sudah balik??”

“Aku kangen kamu sayang.” Ucap Dhanni sambil mengecup singkat bibir Nessa, seakan menunjukkan pada Jonathan jika wanita di hadapannya itu adalah miliknya seorang. “Jadi, siapa dia??” tanya Dhanni secara langsung pada Nessa.

“Ohh.. Emm.. ini Kak Jo, yang kemarin telepon dan kmu yang angkat. Kak Jo ini kakak kelasku saat SMA di  Jogja.”

Dhanni menatap Jonathan dengan tatapan menyelidiknya. Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Jonathan. “Dhanni, Suami Nessa.” Ucap Dhanni memperkenalkan diri sambil menekankan kepemilikan atas diri Nessa.

“Jonathan.” Ucap Jonathan sambil membalas uluran tangan Dhanni.

“Jadi.. Hanya kakak kelas bukan??”

“Iya Kak.” Nessa menjawab cepat. “Kebetulan kafe seberang jalan adalah milik Kak Jo, jadi mungkin kami akan sering bertegur sapa.” Jelas Nessa. sedangkan Dhanni hanya menganggukkan kepalanya.

Jonathan kemudian melirik ke arah jam tangannya, “Ness, Aku pergi dulu, kapan-kapan kita ketemu lagi.”

“Kenapa buru-buru??” lanjut Dhanni seakan dirinya tak ingin Jonathan cepat pergi dari sana.

“Ada janji dengan seseorang.” Jawab Jonathan. Kemudian ia berpamitan lalu pergi meningalkan Dhanni dan Nessa.

“Jadi… mau main belakang hemm??” tanya Dhanni dengan nada menggoda pada Nessa, sedangkan lengan Dhanni sudah menarik tubuh Nessa agar menempel pada tubuhnya.

“Kak.. di lihat orang.”

“Nggak ada yang lihat, Kafenya sepi.” Ucap Dhanni sambil lalu mengecup lembut pipi Nessa. “Aku kangen kamu.”

“Astaga.. Baru juga beberapa jam kita nggak ketemu. Jangan lebbay deh.”

Dhanni tertawa renyah. “Hemm.. jadi kalau aku merayu sekarang di bilang lebbay, tapi kamu mau juga di rayu sama lelaki yang lebih muda dariku.” Sindir Dhanni.

“Astaga Kak.. Kak Jo itu hanya teman, kami nggak ada apa-apa kok.”

Dhanni akan menjawab kalimat Nessa tapi kemudian Ponselnya berbunyi. Dhanni merogoh ponselnya dan mendapti nomer baru di sana.

“Sebentar sayang, aku angkat telepon dulu.” Ucap Dhanni sambil menjauhkan diri dari Nessa. Nessa sedikit heran dengan kelakuan suaminya tersebut. di lihatnya Dhanni menuju ke tempat sepi di samping kafe.

Ahh mungkin itu dari klien yang membahas tentang pekerjaan, pikir Nessa kemudian. Akhirnya Nessa memilih menyiapkan kopi untuk Dhanni di dapur kafe Dewi.

***

Cukup lama Nessa berkutat dengan kopi dan Dewi di pantry. Akhirnya Nessa kembali dengan membawa kopi dan makan siang untuk suaminya tersebut. di lihatnya bangku tempat mereka duduk tadi, tapi Dhanni masih juga tak ada di sana.

Akhirnya Nessa berinisiatif menyusul Dhanni ke teras samping kafe milik Dewi. Dan benar saja, suaminya tersebut ternyata masih di sana dan terlihat serius berbicara dengan seseorang di ponselnya.

“Oke, baiklah kalau begitu. Ahh satu lagi, Saya juga ingin kamu mengawasi seseorang.” Nessa menghentikan langkahnya ketika samar-samar ia mendengar percakapan suaminya tersebut.

“Dia wanita, namanya Erlyta Paraswati. Nanti saya akan mengirimkan datanya.”

“….”

“Iya, terimakasih.”

Nessa sedikit tak mengerti dengan arah pembicaraan Dhanni. Erlyta Paraswati?? Memangnya siapa wanita itu?? Kenapa suaminya ingin mengawasi wanita tersebut?? karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Nessa bahkan tak sadar jika Dhanni sudah berdiri di hadapannya  dan menatapnya dengan tatapan mendamba.

“Sedang memikirkan apa sayang??”

Nessa tersadar ketika mendengar suara penuh kelembutan yang di ucapkan oleh Dhanni. “Ahh enggak, Ayo masuk, makan siangnya sudah aku siapin.”

Akhirnya mereka berduapun masuk ke dalam kafe Dewi. Dhanni kemudian menyantap makan siang yang di siapjkan Nessa di hadapannya. sesekali ia menatap ke arah istrinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Kamu nggak boleh stres dan banyak pikiran Ness. Ayo katakan, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Dhanni secara langsung.

“Aku nggak mikirin apa-apa Kak.”

“Kamu bohong. Ayolah, aku ingin kita saling terbuka. Apa kamu mikirin lelaki tadi??” tanya Dhanni dengan menyelidik.

Nessa menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kelakuan Dhanni yang terlihat sangat pencemburu. “Aku nggak mikirin Kak Jo. Aku malah sedang mikirin kak Dhanni.”

Dhanni mengernyit. “Aku?? Kenapa denganku??”

“Erlyta Paraswati?? Siapa Wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni menyuruh seseorang untuk mengawasinya??”

Dhanni menelan luhadnya dengan susah payah. “Dari mana kamu tau tentang hal itu??”

“Tadi saat memanggil Kak Dhanni, aku nggak sengaja dengar.”

Dhanni menghela napas panjang.  Sepertinya ia harus jujur, lagian tidak ada apa-apa diantara dia dan Erly bukan??

“Erly itu sekertaris pribadi baruku.” Jawab Dhanni dengan santai. “Dan dia mantanku.” Lanjutnya lagi dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Nessa yang mendengarnya hanya mampu membulatkan matanya seketika. Jadi suaminya tersebut memiliki sekertaris pribadi baru yang tak lain adalah mantan kekasihnya dulu?? Bagaimana rupa wanita itu?? Kenapa suaminya ini menyuruh seseorang untuk mengawasi wanita itu?? Apa suaminya ini masih memiliki perasaan lebih pada wanita tersebut???

 

-TBC-

Maaf banyak Typo yaa… Vote dan komen selalu di tunggu… semoga masih mau nunggu lanjutannya yaa.. heheheheh

Passion Of Love – Chapter 6

Comments 3 Standard

SkkmSang Kupu-kupu Malam

 

Menanggapi komentar Unni Uchie Vitria di chapter sebelumnya, katanya dia masih suka mikirin Kim joon aka Choi seung hyun saat baca cerita ini, hahahhaaha jujur aja, aku juga masih mikirin Choi seung hyun dan yoon eun hye saat nulis Ben dan Fiona ini, wkwkkwkwkwk makanya, kali ini aku coba carikan Cast lain seperti di atas, kebetulan teman2 di wattpad juga minta Cast mereka. semoga cocok yaa jadi Ben dan Fiona.. hahhahahahah

*Remake Fansfic korea The passionnate of love -Banyak mengandung unsur dewasa-

 

Chapter 6

 

“Bagaimana rasanya?”  Ben bertanya pada Fiona tentang pasta yang ia masak pagi itu, menu sarapan mereka setelah bercinta.

Masak.?? Ben tak habis pikir dengan dirinya sendiri, Ia masak untuk wanita yang saat ini duduk di hadapannya. Memangnya siapa wanita itu? kenapa wanita itu bisa merubahnya menjadi sedikit mncair?? jujur saja, Ben tak pernah memperlakukan wanita seistimewa itu. Mengingat percintaannya semalam dengan Fiona membuat Ben heran dengan dirinya sendiri. Apa yang terjadi pada dirinya?

Ben selalu bercinta dengan wanita sekasar mungkin, karena Ben tak ingin melibatkan perasaan emosional. Ben juga tak sudi bercinta dengan mereka tanpa menggunakan pengaman. Tak pernah sekalipun ia bercinta dengan mencumbui seluruh tubuh anita-anita yaang penrah di tidurinya. Namun entah kenapa berbeda ketika dengan wanita di hadapanya saat ini. Ben amat sangat menginginkannya. Bahkan ia tak ingin menyentuhnya dengan pengaman. Padahal jelas-jelas Ben tau resikonya. Pada detik ini, Ben sadar jika ia sangat terobsesi dengan tubuh Fiona. Apa yang dimiliki wanita itu hingga mampu menariknya semakin dalam pada gairah yang sseakan tak bertepi??

“Emm.. rasanya enak, ternyata kamu pintar masak yaa..” jawab Fiona sambil menyuapkan pasta kedalam mulutnya lagi. Ben tersenyum miring, kini ia tau jika wanita di hadapannya cukup suka dengan pasta.

“Tentu saja.” Jawab Ben dengan datar. “Mulai hari ini pindahlah ke sini” tanpa basa-basi lagi Ben mengutarakan maksudnya.

Fiona tersedak seketika. Ia terbatuk-batuk sambil memuku-mukul dadanya. Ben kemudian berlari kearah Fiona dan menepuk-nepuk punggung wanita tersebut.

“Kamu kenapa? Minum ini.” Ucap Ben sambil dengan khawatir sambil menyodorkan segelas air putih untuk Fiona.

“Apa maksudmu Ben?” Tanya Fiona tajam setelah ia enakan.

“Apa kurang jelas? aku menyuruhmu pindah ke sini.” Ben menjawab dengan datar meski tak mengurangi kesan dingin dan tak ingin di tolak pada ekspresi wajahnya.

“Tapi kenapa aku harus pindah kesini..?”

“Kamu milikku, ingat.” Fiona membelalakkan matanya. “Aku sudah menebusmu. Jadi sekarang kamu milikku.” Lanjut Ben lagi dengan kearoganannya.

“Apa?? Tapi aku tidak menyuruhmu untuk menebusku.”

“Tapi aku menginginkannnya.. aku ingin menebusmu dan memilikimu seutuhnya tanpa di sentuh lelaki lain.” Rahang Ben terlihat mulai mengeras, ia mulai terpancing oleh amarah. Ya,  karena Ben pada dasarnya adalah orang yang gampang sekali marah.

“Ben, Kamu bisa mencari wanita lain, kenapa harus aku?” Fiona  masih saja tak mau mengalah.

“Kamu pikir  aku bisa bergairah dengan wanita lain setelah aku bercinta denganmu malam itu, Hah?” Ben berdiri dengan sangar, membentak Fiona sambil menggebrak meja. Sedangkan Fiona sendiri terlihat  meringsut ketakutan. “Maafkan aku, aku hanya ingin kamu di sini, bersamaku.” Ben segera menurunkan nada bicaranya yang meninggi. Ia tak ingin membuat Fiona takut.

“Ba.. Baiklah.. tapi bagaimana dengan Kak Marsha? dia baru saja melahirkan, aku nggak bisa meninggalkannya sendiri.”

“Kamu jangan  khawatir, Aku sudah mengurusnya, dia akan kupindahkan ke apartemen yang lebih bagus, dan aku akan membayar seseorang untuk membantu dia dan merawat bayinya.” Ben menatap ekpresi terkejut dari Fiona yang entah kenapa itu membuat Ben semakin gemas.

“Ben, kamu nggak perlu melakukan semua ini untuk….”

“Aku akan melakukan semuanya untuk wanitaku.” Ben memotong kalimat Fiona dengan tegas.

Fiona terharu, Matanya berkaca-kaca. Ben mengusap pipi Fiona dengan lembut.“Sudahlah.. lanjutkan sarapanmu, lalu mari kita membereskan barang-barangmu.” Ucap Ben dengan lembut pada Fiona. Sedangkan Fiona hanya bisa mengangguk.

“Bagaimana perilakuku tadi malam? aku tidak kasar terhadapmu kan? kamu menikmatinya kan?” Ben mencoba menggoda Fiona, mencairkan suasana yang tadi sedikit menegang.

Lagi-lagi Ben tak habis pikir, Apa yang terjadi dengannya? bukannya biasanya ia yang selalu membuat suasana menjadi tegang? Ben menggelengkan kepalanya pelan, Ia benar-benar sudah gila.

“Ben…” Fiona menjawab sambil menundukkan kepalanya. Ben tau jika wanita itu sedang malu, Pipi Fiona bahkan terlihat merona merah. Dan itu membuat Ben kembali ingin mencumbui Fiona habis-habisan.

“Kenapa? apa kamu nggak pernah mendapatkan perilaku seperti itu dengan Klienmu?”

Fiona enggelengkan kepalanya. “Tak ada pelanggan yang memperlakukan seorang pelacur sehangat tadi malam, seistimewa itu.” Jawab Fiona masih dengan menundukkan kepalanya. Ada nada sedih yang dapat di rasakan oleh Ben pada suara yang baru saja terdengar dari bibir Fiona.

“Ya… memang…” Ben mengangguk dan menuju kearah Fiona. “Tapi aku akan memperlakukan Pelacur Pribadiku seperti itu. Seistimewa itu.” Lanjut Ben lagi, kali ini sambil menggendong pak sa tubuh Fiona menuju ke kamarnya.

Fiona hanya mampu memekik karena terkejut. Tapi kemudian cumbuan-cumbuan kecil dari Ben membuat Fiona luluh sambil sesekali terkikik geli. Keduanya kemudian kembali melakukan aktifitas panas seperti malam sebelumnya. Kembali saling mendesah dan mengerang seakan tak ada sesuatu apapun yang dapat menghentikan aksi mereka.

***

Fiona masih tak mengerti apa yang terjadi pagi ini. Baginya, semuanya terlalu cepat. Ben bersikap seolah-olah hubungan mereka berdua bukan hanya sebatas partner seks semata. Bahkan Ben seakan menunjukkan jika dirinya begitu bertanggung jawab pada hidup Fiona.

Kini Fiona berdiri di rumah kontrakannya yang sudah berantakan karena mereka akan pindah seperti apa yang sebelumnya di katakan Ben.

Marsha dan Bayinya akan pindah ke Apartemen yang lebih bagus, tetunya semua itu atas kemauan Ben. Sedangkan Fiona sendiri akan pindah dan tinggal seatap dengan Ben di Apartemennya.

Fiona sendiri masih tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Ben. Kenapa Ben memilih dirinya?? Lalu mengajaknya tinggal seatap?? Lalu bagaimana jika hubungan mereka nanti berakhir? Hubungan? Fiona menggelengkan kepalanya cepat. Ingat Fi, Kau hanya buuh seksnya, tidak lebih. Pikir Fiona kemudian.

Tapi kemudian Fiona teringat akan kelembutan Ben tadi malam maupun pagi tadi, membuat diri Fiona seakan merasa di istimewakan. Apa ia memang istimewa untuk seorang Ben?? Ahh yang benar saja. Lagi-lagi Fiona tenggelam degan pikiran-pikirannya.

“Bagaimana? apa semua sudah beres?” Samar-samar Fiona mendengar suara berat milik Ben, kelihatannya Ben sedang berbicara dengan Marsha di ruang tengah. Astaga… bahkan suaranya saja mampu mendirikan bulu-bulu halus di tengkuk Fiona.

“Ya, tinggal sedikit lagi. Aku benar-benar berterimakasih padamu Ben.” jawab Marshaa sambil menyuggingkan senyum bahagianya. Ben terlihat menganggukkan kepalanya, sesekali tersenyum tipis. Astaga.. Sudah berapa kali Fiona melihatnya tersenyum itu pagi ini

“Heii.. kamu sedang apa? Sedang mikirin Ben??” Fiona tersentak kaget saat mendapati Marsha sudah berdiri tepat di hadapannya. Sedangkan Ben terlihat sedang berbicara dengan orang-orang dari  jasa angkut barang yang dia sewa.

“Tidak.” Jawab Fiona. Fiona tak ingin Marsha tau jika kini dirinya memng sedang benar-benaar memikirkan lelaki itu.

“Apa kamu yakin ini keputusan terbaik?” Marshaa terlihat sangat menghawatirkan Fiona.

“Entahlah Kak… aku nggak bisa membantahnya. Bagaimnapun juga dia sudah menebusku, dan itu tandanya aku sudah jadi miliknya”

Marsha menganggukkan kepalanya. “Bagaimana sikapnya terhadapmu?”

“Sejauh ini dia baik, itu saja..”

“Bagaimana dengan Angga?”

Mendengar nama itu Fiona membulatkan matanya seketika.  Astaga… ia benar-benar tlah melupakan lelaki itu sejak semalam. Apa Angga maasih sseti menunggunya di parkiran tempat kerjanya?? Ahh semoga saja tidak.  Pikir Fiona.

“Kak.. Aku harus segera menghubungi Kak Angga…”  Ucapu sambil bergegas keluar. Tapi baru saja berjalan beberapa langkah Fiona sudah menubruk dada bidang seseorang. Fiona kemudian mendongak ke atas dn melihat Ben sudah berdiri tegap dengan sepasang matanya yang tajam, mata tajam yang berbeda dengan mata lembut yang menatapnya tadi pagi. Apa yang terjadi?? Ada apa dengan Ben? “Ke..Kenapa??” Tanya Fiona dengan terpatah-patah karena ia sedikit takut menatapnya.

“Ada yang mencarimu di luar.” Jawab Ben dengan dengan nada dingin.

“Siapa?”

Ben tidak menjawab tapi malah meninggalkan Fiona begitu saja. Fiona benar-benar bingung dengan sikap Ben saat ini. Akhirnya Fiona keluar dan ia melihat Angga yang sedang berdiri di ambang pintu untuk menunggunya.

“Kak Angga..” Dengan spontan Fiona berlari memeluk lelaki di hadapannya tersebut. “Maafkan aku.. Astaga.. apa tadi malam Kak Angga menungguku??”

Angga mencoba menyunggingkan senyuman ramahnya.“Ya.. aku menunggumu hingga club di tutup. Ada apa? aku melihat kamu keluar dengan seorang lelaki, tapi aku tetap menungguu, tapi kamu teetap nggak balik lagi.”

“Emmm.. ceritanya panjang Kak.” Fiona bingung harus bagaimana menjelaskan pada Angga. Ia tak mungkin menjelaskan dengan gamblang masalah kebebasan yang di tukar dengan tubuhnya.

“Aku punya waktu untuk mendengarkan semuanya.” Angga mendesak.  Dan Fiona akhirnya menghela nafas panjang, ia memang harus meneritakan semuanya pada Angga.

Mereka kemudian duduk di bangku depan rumah kontrakan Fiona. Fiona lalu menceritakaan semua tentang ia dan Ben, tentang Ben yang sudah menebusnya dan juga tentang ia yang kini secara tidak langsung sudah menjadi milik seorang Benny Adrean.

Tampak Ekspresi keras yang di perlihatkan Angga. Padahal selama ini Angga tak pernah terlihat berekspresi seperti itu di hadapan Fiona. Kenapa?? Apa lelaki itu marah??

“Jadi kamu akan tinggal dengannya?”  Tanya Angga yang kemudian membuat Fiona menganggukkan kepalanya.

Tanpa di duga, Angga kemudian berdiri lalu melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan Fiona, sedangkan Fiona sendiri secara spontan mengikuti Angga di belakangnya.

“Aku ingin bicara denganmu.” Ucap Angga dingin ketika ia berada tepat di hadapan Ben.

“Bicara saja.” Ben yang sedang duduk menanggapi dengan cuek tanpa menatap ke arah Angga sedikitpun.

“Aku ingin menebus Fiona kembali. Katakan berapa hargamu.” Kata Angga lagi dengan tegas.

Fiona hanya mampu ternganga. Apa kini Angga sedang menawar dirinya??

Ben yang tadi masih duduk santai kemudian Berdiri tepat di hadapan Angga, ia menatap angga dengan tatapan membunuhnya. “Carilah wanita lain.” Ucap Ben kemudian dengan nada tenang tapi penuh penekanan.

“Aku tak mau wanita lain.. aku hanya menginginkan…..”

“Aku juga hanya menginginkan Fiona.” Ben memotong kalimat Angga denga tegas.

Fiona kemudian maju, ia memeluk sebelah lengan Angga dan sedikit menyeretnya mundur, supaya ketegangan yang terjadi di antara keduanya sedikit mencair. “Kak, sudahlah, aku nggak….” kalimat Fiona terhenti ketika ia melihat tatapan mata Ben yang sudah menatap ke arah lengan Angga yang sedang di peluknya.

Tatapan itu begitu tajam, seakan mampu merobek apapun di hadapannya. Suasana di sekitar mereka pun menjadi semakin tegang. Seketika itu juga Fiona melepaskan rangkulan tangannya pada lengan Angga.

“Kita Pulang sekarang.” Ucap Ben dingin sambil menyambar lengan Fiona lalu menyeret Fiona keluar menuju ke dalam mobinya.. Angga sendiri hanya mampu memanggil-manggil nama Fiona karena Marsha terihat sedang mencegah tubuh Angga supaya tidak mengikuti Ben dan Fiona.

Fiona menatap Angga dan juga Marsha dari dalam mobil Ben. Dan itu membuat hatinya terasa sakit. Ia tidak ingin di pisahkan dengan Marssha ataupun Angga, tapi bagaimana lagi, ia sadar, kini dirinya merupakan milik dari seorang Ben, dan ia tak dapat memungkirinya. Mengingat nama Ben, Fiona takut saat melihat mata Ben yang penuh dengan amarah., apa yang akan di lakukan Ben nanti padanya?? Apa nanti Ben akan berlaku kasar padanyaa??

-TBC-

 

kinopoisk.ru

Fiona Adelia

 

jake madden

Benny Andrean