Passion Of Love – Chapter 1

Comments 5 Standard

Skkm

Sang Kupu-kupu Malam

 

*Remake Fansfic korea The passionnate Of Love -banyak mengandung unsur dewasa-

Chapter 1

Fiona masih sibuk menata rambutnya, Saat ini Ia sedang duduk tepat di hadapan meja riasnya. Merias diri secantik mungkin adalah menjadi sebuah keharusan saat Ia akan berangkat kerja.

“Hemmm,,, makin hari kamu makin cantik saja.” Marsha mengagetkan Fiona. Marsha adalah teman seperjuangan Fiona dalam bekerja, mereka pun kini tinggal satu kontrakan.

“Heii… Aku akan selalu cantik sebelum perutku membesar sepertimu.” Canda Fiona sambil menunjuk-nunjuk perut Marsha yang sudah semakin besar.

Yah.. Marsha saat ini memang sedang hamil tua, mungkin sebentar lagi akan melahirkan, lalu dimana suaminya..?? Ia tidak memiliki suami. Marsha dan Fiona bekerja sebagai wanita penghibur di salah satu Club malam di Jakarta. Karena tidak hati-hati dan terlalu mempercayai lelaki yang di anggap sebagai pacarnya itu, Marsha pun hamil. Katika mengetahui kalau Marsha hamil, lelaki itu pun kabur tak lagi menampakkan batang hidungnya.

Marsha menjadi Wanita bayaran saat usianya Delapan belas tahun, Ia melakukannya karena frustasi, kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. padahal orang tuanya dari kalangan yang berada. Di tambah lagi karena dia menjadi korban pelecehan seksual oleh gurunya sendiri sejak masuk SMA hingga lulus. Akhirnya Marsha memilih jalan bebas dengan meninggalkan keluarganya dan mencari kesenangannya sendiri.

Sedangkan Fiona, dia menjadi Wanita bayaran saat berumur 20 tahun, saat itu orang tua angkatnya mempunyai hutang banyak, dan menjadikannya sebuah jaminan pada renternir. Dari seorang renternir Fiona di jual pada seorang Mucikari yang saat ini memperkerjakan dia. Selama bekerja di sana, Fiona tidak mau di gajih, Ia hanya makan dari uang Tip yang di berikan dari para pelanggannya. Sedangkan gajihnya Ia kumpulkan pada sang mucikari untuk menebus kebebasannya kembali. Jika di hitung-hitung permalam dia dapat melayani Dua sampai Empat lelaki, maka jalan menuju kebebasanya hanya kurang sekitar satu tahun lagi. Dia ingin terbebas dari dunia malam.

“Dasar gadis busuk,” umpat Marsha, “Heii… Apa Kamu ingin sepertiku..?? Setidaknya kalau kamu ingin seperti ini pastikan punya suami dulu.”

“Ya.. Baiklah..” Jawab Fiona dengan malas, kelihatannya Marsha memang sering menasehati Fiona. “Kak.. Apa benar Kak Marsha nggak apa-apa kalau ku tinggal sendiri??? Aku takut terjadi sesuatu pada Kak Marsha.” Kata Fiona cemas, mereka memang sudah seperti adik kakak, saling melengkapi satu ssama lain.

“Haiisshh Kamu apaan sih.. Aku adalah calon Ibu yang kuat.”

“Beneran??” Tanya Fiona dengan nada meledek.

“Dasar gadis busuk..” Marsha menyentil kening Fiona sambil tertawa. Sedangkan Fiona hanya bisa meringis kesakitan. “Ingat selalu pakai pengaman.” Lanjut Marsha sambil meninggalkan Fiona.

Tapi baru beberap langkah meninggalkan Fiona, Marsha berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya. Seketika itu juga Fiona terkesiap, Ia langsung menghampiri Marsha dan melihat ada sesuatu yang menggenang di antara kedua paha Marsha.

Itu darah..

Fiona bingung harus berbuat apa, karena ini pengalaman pertamanya dengan wanita hamil. “Kak.. Tenang dulu.. Tarik nafas,, keluarkan,, Tarik lagi.. keluarkan.” Marsha mengikuti perintah dari Fiona, “Kak, Sebentar, Aku akan cari bantuan.” Fiona pun akhirnya lari meninggalkan Marsha sendirian.

“Hei… Fi… Kamu mau keman?” teriakan Marsha pun tidak di gubrisnya. “Dasar gadis bodoh, memangnya dia mau minta tolong sama siapa malam-malam seperti ini..” Gerutu Marsha.

***

Hari ini adalah Hari yang sangat melelahkan untuk seorang Benny Andrean, masalah di perusahaan sangat menumpuk, walaupun Ia lembur selama seminggu berturut-urut pun mungkin belum bisa menyelesaikan masalah di kantornya. Ia ingin cepat-cepat pulang, mandi air hangat lalu tidur. Ia benar-benar sudah sangat kelelahan.

Sebenarnya semua itu sudah mulai membosankan, sudah sebulan lamanya Ben sama sekali belum berhubungan seks dengan seorang wanita pun. Lagi-lagi di karenakan pekerjaan yang menumpuk. Ia tidak sempat mengunjungi mereka-mereka yang sering Ia tiduri. Setelah bekerja, Ben lelah dan memilih untuk tidur, Ia bahkan tidak nafsu untuk sekedar memikirkan hal ‘itu’ selama sebulan terakhir saking sibuknya. Dan kini, Ia butuh sebuah pelepasan. Saat Ben melamunkan hari-hari nya, tiba-tiba…

Criiiiiiiiiiitttttttttt

Ben merasakan Pak Roni, Supirnya itu menekan rem dengan mendadak hingga Ben merasakan kepalanya membentur kursi kemudi yang ada di depannya.

“Pak, Ada apa ini??” teriak Ben pada supirnya tersebut sambil memegangi dahinya yang tadi terbentur.

“Maaf tuan muda… ituu…” Pak Roni tidak bisa menjawab, dia hanya menunjuk ke depan. Ben pun kemudian memandang pemandangan di depan matanya dengan heran. Seorang Wanita tengah berdiri merenggangkan kedua tangannya seakan menghadang mobil yang sedang di tumpanginya.

“Mau apa dia berdiri di situ..” Tanya Ben dengan nada herannya.

Pak Roni, lalu membuka kaca mobil, mengeluarkan kepalanya dan meneriaki wanita itu. “Mbak.. Mbak mau apa di situ??”

Ben kemudian melihat wanita itu mendekati kaca tepat di sebelah kaca kemudi.

“Maaf Pak, Apa saya boleh minta tolong.. Tolong saya dan teman saya Pak.” Wanita itupun setengah merengek pada Pak Roni

“Maaf Mbak, saya juga lagi sibuk.”

“Pak, Saya mohon,, teman saya mau melahirkan.. tolonglah Pak.” Wanita itu lagi-lagi merengek, mulai mengeluarkan air matanya. Senjata ampuh bagi kaum hawa.

“Bagaimana ini Tuan muda.. apa yang harus saya lakukan..?” Pak Roni bertanya pada Ben sambil menoleh kebelakang.

Belum sempat Ben menjawab, tiba-tiba kaca di sampingnya di ketuk-ketuk oleh seseorang dari luar. Dialah wanita tersebut.

Di bukanya kaca tepat di sebelahnya, Dan Ben pun melihat wanita tersebut. Yang terlintas dalam pikirannya adalah ‘Sial..!! Wanita itu sangat panas.. Panas dan Seksi.’ Parasnya cantik rupawan, rambutnya di cat pirang, dadanya penuh dan besar, pantatnya terlihat bulat, perutnya Rata. Wanita itu mengenakan mini dress yang sangat ketat dan jauh diatas lututnya. Membuat lekuk tubuhnya terexpose semua. Ben hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.

Ben merasakan gairah mulai tumbuh untuk wanita di hadapannya tersebut. Semua yang di bawah sana sudah mulai mengeras. Ben ingin.. ingin ‘melakukannya’ dengan wanita itu.. Ben ingin memilikinya…

“Maaf tuan muda, bisakah anda memberikan kami tumpangan ke rumah sakit terdekat..?? teman saya mau melahirkan. Mohon bantuan anda.” Wanita itu memohon pada Ben dengan nada sopannya.

Ben tercekat, rasanya susah untuk menelan ludah, sangat susah untuk mengalihkan pandangan dari tubuh wanita itu. “Tuan.. maaf…” wanita itu menyadarkannya dari lamunan.

“Baiklah, bawa temanmu ke sini..” Ucap Ben sedingin mungkin.

“Terimakasih….” Kata wanita itu sambil membungkuk-bungkukkan tubuhnya. Lalu dia berlari masuk dalam Gang di sebelah jalan. Ben melihat wanita itu tanpa mengedipkan matanya. Tak berapa lama Wanita itu kembali dengan membimbing seseorang wanita yang sedang meringis kesakitan, Ben keluar dari mobil, Di lihatnyaa Pak Roni ikut membantu wanita itu menuntun temannya. Kini, Ben duduk di kursi depan, dan mereka duduk di belakang.

“Kak.. tahan ya.. Kamu harus bisa menahannya..” Ben mendengar wanita itu memberi semangat pada temannya. Wanita itu terlihat sangat panik. Entah kenapa selama perjalannan ke rumah sakit Ben tak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita itu.

***

Sesampainya di rumah sakit…

Wanita itu langsung berteriak-teriak panik meminta pertolong pada paramedis. Ben masih saja belum bisa melepaskan pandangannya dari wanita terebut. Ben baru sadar jika sejak tadi Wanita itu bertelanjang kaki, apa Wanita itu tidak kedinginan..?? rambut pirangnya sedikit berantakan, dan itu membuatnya terlihat semakin Seksi dan menggoda untuk Ben.

“Tuan muda, apa kita akan pulang atau menunggu mereka..?” Pak Roni bertanya pada atasannya setelah mereka masuk kedalam rumah sakit.

“Pak Roni pulang dulu saja, Saya akan menunggu di sini.” Ucapnya datar dan singkat.

“Tapi tuan, ini kan sudah bukan urusan kita lagi.” kata-kata Pak Roni memang benar, ini sudah bukan urusan mereka lagi. Tapi Ben juga tidak tau, kenapa rasanya Ia ingin menemani wanita itu lebih lama lagi.

“Ini masih urusanku, Pak Roni pulang saja dulu..” Ucap Ben yang tak mau di bantah.

Pak Roni pun membungkukkan badannya pada Ben, lalu memohon diri untuk pulang. Setelah Pak Roni pergi, Ben lekas berlari ke dalam IGD. Dilihatnya wanita itu di sebelah pintu IGD dengan wajah paniknya, Wanita itu sedikit menangis sembari berjalan bolak-balik.

“Kamu nggak apa-apa..?” Tanya Ben sambil menghampiri wanita tersebut.

Ben melihat Wanita itu terkejut melihat keberadaannya di sana. “Ohh.. Tuan,, Anda masih di sini. Terimakasih…. Terimakasih Tuan…” kata wanita itu berkali-kali sambil membungkuk-bungkukkan tubuhnya.

“Kelihatanya Kamu cemas sekali.”

“Ini pertama kalinya Saya mengalami hal ini. Kata dokter ada kesalahan dalam proses melahirkannya, dia mengalami pendarahan..” kata wanita itu sambil meneteskan Air matanya.

“Kenapa kamu tidak menelepon suaminya, harusnya dia yang berada disini saat ini.”

“Kak Marsha tidak punya suami.”

Ben terkejut dengan jawaban wanita tersebut, matanya bahkan sampai terbelalak.

“Tuan, Anda tidak lihat pakaianku seperti ini,, yahh,, kami bukan wanita baik-baik.” Katan wanita itu sambil menundukkan kepalanya,

Ben tercenung mendengar ucapan wanita tersebut. Bukan Wanita baik-baik?? Bagus. Itu tandanya Ia bisa dengan mudah memiliki wanita di hadapannya kini tanpa sedikitpun pemaksaan. Bukankah itu tujuannya menemani wanita itu di sini?? Pikir Ben dalam hati ambil sedikit menyunggingkan sebuah ssenyuman miringya.

***

Entah kenapa Fiona benar-benar sangat malu mengakui hal itu pada lelaki di hadapannya kini.. selama lima tahun Ia melakukan pekerjaan menjijikkan seperti itu, Fiona tak pernah malu menyebutkan bahwa Ia seorang pelacur, Seorang wanita bayaran, tapi entah kenapa malam ini, di hadapan lelaki itu, untuk pertama kalinya Ia malu dan menyesal dengan semua keadaan yang terjadi pada hidupnya.

Tiba-tiba dokter membuka pintu IGD, Fiona mengernyit, secepat itukah Marsha melahirkan..?? bahkan Ia tidak mendengar ada tangis bayi. Apa bayinya selamat..?? apa Marsha selamat..?? Fiona takut… takut di tinggal sendirian…

“Walinya…??” Tanya dokter.

“Sa.. saya dok..” jawab Fiona dengan gemetaran.

“Dia tak bisa melahirkan dengan Nomal, kita harus segera melakukan Operasi untuknya. Dia kehilangan banyak darah, kami butuh darah yang sama AB negative, darah itu sedang kosong dalam persediaan kami.” Kata dokter itu panjang lebar. Fiona merasakan Kakinya lemas, hampir saja Ia terjatuh, namun Lelaki di hadapannya itu merainya dalam pelukannya.

“Kenapa..?? Kamu nggak apa-apa kan..?” Tanya Lelaki itu masih dengan raut wajah yang dingin.

“Gimana ini… Apa yang harus ku lakukan???” hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Fiona sambil menangis, Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Operasi…??? Memangnya Ia bisa bayar..?? sedangkan kalu tidak di bayar dulu, Marsha tidak akan di operasi, itu aturan hampir di semua rumah sakit di negri ini. Belum lagi golongan darah Marsha yang sangat langkah.. Ia harus bagaimana…???

“Tenanglah.. Aku akan mengurus semuanya.” Kata lelaki itu mengagetkan Fiona. Fiona memandangnya dengan tatapan terkejutnya.

“Masalah biaya, aku akan urus, dan masalah darah, darahku juga ABnegativ, aku akan donorkan darah untuknya.” Lanjut lelaki itu masih dengan ekspresi datarnya.

Fiona merasakan perasaannya sulit sekali di gambarkan. Lega, heran, khawatir, Curiga. Apa yang di lakukan lelaki itu.?? apa yang di inginkannya. Mereka tidak saling kenal tapi kenapa Lelaki itu mau membantunya??? Pikir Fiona dalam hati.

-TBC-

Advertisements

Passion Of Love – Prolog

Comments 5 Standard

Skkm

Sang Kupu-kupu malam

 

*Prolog

“Aarrggghh…” Erang seorang wanita ketika seorang lelaki tengah menyatu dengannya.

“Kenapa sayang?? Apa ini terlalu nikmat untukmu hemm??” tanya lelaki tersebut sambil menyunggingkan senyumannya.

“Sial..!! Kamu membuatku…” Wanita tersebut terengah, seakan kewalahan dengan desah napas yang di hasilkan oleh pergulatan panasnya dengan seorang lelaki yang kini sedang menindihnya.

“Membuatku apa sayang..”

“Membuatku Gila..” Lanjut wanita tersebut masih dengan terengah.

Sang lelaki hanya dapat menyunggingkan senyuman puasnya. “Ya… hanya Aku yang boleh membuatmu Gila di ranjang sayang..” Ucap Lelaki itu penuh penekanan sambil kemudian melanjutkan lagi aksinya. Membuat wanita itu mendesah sesekali mengerang karena kenikmatan yang di berikan oleh sang lelaki.

“Evan… Please.. Astaga..” racau wanita tersebut.

Sedangkan Lelaki itu masih sibuk mengatur ritmenya. Seakan mencari kenikmatan untuk wanita yang kini di tindihnya dan untuk dirinya sendiri.

“Aku akan sampai… Aku akan sampai…” Ucap lelaki itu sambil mempercepat lajunya. Dan si wanita hanya mampu mengerang panjang karena pelepasan yang sedang Ia alami.

“Sial.!!!” Ucap Lelaki itu lagi kemudian di sertai dengan erangan panjangnya, tanda jika Ia mencapai klimaksnya penuh dengan kenikmatan.

“Thaks Fi.. Aku sayang kamu.” Ucap Lelaki itu yang kini sudah memeluk erat tubuh wanita tersebut sesekali mengecup lembut puncak kepalanya.

Sedangkan si wanita hanya mampu tersenyum dengan damai ketika mendapatkan ucapan manis dari Lelaki yang kini sedang memeluknya tersebut.

-TBC-

 

Sang Kupu-kupu Malam – Author Note

Comment 1 Standard

Skkm

Sang Kupu-kupu Malam

 

Tittle : Sang Kupu-kupu Malam (The passionnate of love Versi indo)

Genre : Roman erotis, Hurt.

Note :

Haiii semua.. ini sebenernya bukan cerita baru… ini adalah fansfiction pertama yan ku buat saat itu. sudah END dan bisa di beli bukunya di Nulisbuku.com dengan judul The Passionnate of love. hanya saja…. beberapa teman memang ingin membaca versi indonya. katanya kalo castnya korea namanya susah di Eja.. jadi aku memutuskan untuk membuat Versi indonya nih….

Q : Ada yang beda nggak thor ama versi fansfic.

A : Tentu aja beda. dari segi penulisan akan ku rubah. jika fansfic ku itu hampir semua menggunakan kata baku, maka di sini aku coba bikin dengan kalimat atau kata yang lebih santai. lalu dengan setting tempat yang berbeda tentu sedikit merubah isi cerita. tapi idenya tetap sama kok.

Q : Ada yang di kurangin atau di tambain nggak thor??

A : Yaa.. Ada.. baanyak.. hahhahaha.. aku tambain dan aku kurangin juga beberapa.. wkkwkwkkwkwk

Q : kalo di bilang plagiat gimana thor??

A : Plagiat??? Hello… The passionnate of love itu karya aku sendiri, masak iya aku di bilang plagiat karyaku sendiri.. hahahhaha lagian suka-suka aku dong mau ku otak atik seperti apapun.. wkwkkkwkw

Q : Kenapa bisa di jadikan versi Indo thor??

A : Karena banyak yang minta di repost dan di bikin cast indo, biar namanya mudah di eja.

Q : Apa fansfic lainnya akan di jadikan Versi indo juga Thor??

A : Ya, Kalau ini berhasil dan banyak yang suka, Selanjutnya Fansfic ku yang judulnya My Wife akan ku jadikaan Vers indo juga.

Q : Susah nggak thor ngerubahnya.??

A : Ya.. susah dan ribet bgt.. jadi mohon sabar yaa….

Q : Ceritamu kan masih banyak yang on going thor.. kenapa nggak lanjutin itu dulu??

A : Karena aku nggak bisa hanya menulis satu cerita, itu membuatku bosan. jadi aku mencari selingan dengan nulis yang lainnya. lagian kan nulis itu harus sesuai mood… heehehhe

Okay itu aja, yang ada pertanyaan bissa langsung di komen… aku akan meluncurkan Prolog, chapter 1, chapter 2 malam ini juga. sedikit Info, di Fansfic nggak ada prolognya loh.. dan di cerita ini ku kasih prolog, ceritanya juga ku usahakan lebih bagus lagi dari Versi Fansfic.. hahhahaah #BerharapGitu.. wkwkkwkw

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 2 (Bertemu Dia)

Comments 4 Standard

011

The Married Life (Lady Killer 2)

 

Nahhh akhirnya aku bisa update lagi.. Mood sudah membaik, tubuh sudah kembali vit, dan keadaan sekitar sudah membaik.. jadi bisa lanjut nusi… yeeeyyy semangatt…. untuk kali ini aku update Kak Dhanni dulu yaa,,,, hahhahahah enjoy reading…. 🙂

 

Chapter 2

-Bertemu Dia-

 

Nessa masih sibuk membersihkan dapur ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ternyata Dewi yang sedang menghubunginya. Temannya itu memang selalu menghubunginya jika ada waktu luang.

Haii Ness..”

“Ada apa lagi?? Aku masih sibuk Wi..”

“Ke Kafe dong.. Aku di sini sendiri.”

“Memangnya si Dimas kemana??”

“Dia sakit jadi nggak bisa datang.”

Dewi, Temannya itu memang sudah menikah dengan Dimas beberapa bulan yang lalu. Mereka berdua membuka sebuah Kafe yang letaknya tidak jauh dari Apartemen yang di tinggali Nessa. Dan Nessa memang sering sekali main kesana jika sedang bosan.

“Brandon masih tidur Wi..”

“Bangunin.. Please…. Ada yang mau ku bicarakan sama kamu.”

Nessa menghela napas panjang. Ia akhirnya mengalah dan memilih datang ke Kafe milik Dewi. “Baiklah, Aku akan ke sana.” Ucap Nessa kemudian yang membuat Dewi bersorak bahagia di seberang sana.

Setelah telepon di tutup, Nessa akhirnya menyelesaikan tugas rumahnya kemudian memperbaiki penampilannya dan juga penampilan Brandon lalu berangkat menuju ke kafe milik Dewi dan Dimas.

***

Siang Itu, tak lupa Nessa menghubungi Dhanni. Ia meminta supaya Dhanni tidak perlu pulang, karena Ia kini sedang berada di Kafe milik Dewi.

“Sayang… Kamu harus banyak istirahat.” Ucap Suara di seberang dengan penuh perhatian.

“Astaga Kak, Cuma santai di Kafe Dewi, aku nggak kemana-mana Kok. Lagian Bosen di rumah.”

“Kan Aku mau pulang, masak Masih Bosen.” Ucap Dhanni dengan suara menggoda.

“Ya tetap bosen, kan ketemu Kak Dhanni terus, pengen juga ketemu yang lain.”

Terdengar suara tawa di seberang. “Awas saja kalau kamu sampai ketemu yang lain.” Ucap Dhanni dengan nada yang di buat mengancam.

“Ya Ampun Kak.. nggak akan ada yang mau sama Aku, perempuan hamil yang sudah menggendong satu anak.”

Lagi-lagi Dhanni terdengar terkikik geli. “Oke.. Oke.. Hati-hati sayang.”

“Iya kak..”

“Kiss nya mana..??”

Nessa menggelengkan kepalanya. “Emmuuacchh.. Sudah kan.”

“Yaa.. tapi sayang tidak terasa.”

“Dasar, Sudah ku tutup teleponnya.”  Ucap Nessa kemudian yang langsung menutup teleponnya tanpa menghiraukan suara di dalam telepon yang memanggil-manggil namanya.

“Kalian mesra banget sih.” Dewi yang sudah berjalan menuju ke tempat duduk Nessa sambil membawa sebuah nampan yang berisi jus jeruk dan juga beberapa muffin kesukaan Nessa.

Nessa tersenyum. “Nggak tau, Kak Dhanni selalu gitu, kadang aku risih.” Ucap Nessa sambil terkikik geli.

Nessa kemudian berjalan ke sebuah ruangan yang di sediakan Dewi, ruang santai kecil tempat dimana Dewi bersantai, dan kini di sana ada Brandon yang sudah kembali tertidur pulas. Nessa kemudian kembali ke tempat duduk nya tadi dimana sekarang ada Dewi yang duduk di sana.

“Tapi bagus tau, Seorang Dhanni Revaldi bisa berubah seperti itu, Kamu pantas dapat penghargaan.”

“Yang benar saja.” Gerutu Nessa. “Ehh.. tumben Kafe kamu sepi, biasanya sudah ramai.” Tanya Nessa sambil memperhatikan sekitarnya yang hanya terdapat satu dua orang yang duduk sntai di sana.

“Keadaannya memang seperti ini sejak beberapa hari yang lalu.” Dewi terlihat tampak sedih.

“Ohh yaa?? Kenapa bisa begini??” Nessa penasaran, ya, Kafe Dewi memang selalu ramai setiap harinya,  selain harga yang di tawarkan lebih murah, menu yang di sajikan pun beragam dan tidak membuat bosan.

“Sini ikut aku.” Dewi menarik tangan Nessa lalu mengajak Nessa keluar. “Kamu lihat Kafe di sana, Nah, mungkin itu yang membuat Kafe ku sepi pengunjung.” Ucap Dewi sambil menunjuk ke sebuah Kafe baru yang ada di seberang jalan.

“Joy’s Cafe..”  Ucap Nessa.

“Ya.. Kafe Ala luar negri, katanya sih gitu.” Ucap Dewi menjelaskan. “Dan Aku.. menyuruhmu ke sini untuk meminta bantuan padamu.”

Nessa memicingkan matanya pada Dewi. “Bantuan?? Bantuan apa??”

“Please.. bantu aku yaa…  emm… Ku pikir kamu mau ke sana dan mencicipi makanan mereka.” Ucap Dewi dengan nada memohon.

Nessa membulatkan matanya. “ Yang benar saja Wi.. Astaga.. enggak.” Nessa menolak mentah-mentah permintaan Dewi.

“Ayolah Ness.. Please… masak kamu nggak mau bantu teman kamu sendiri sih.. Please..”

Nessa menghela napas panjang. “Oke, tapi hanya sekali.”

“Yes… Makasih banget Ness.. kamu memang yang terbaik.” Ucap Dewi sambil memeluk Nessa.

“Jaga Brandon. Awas kalau samnpai dia nangis.” Pesan Nessa.

“Siap boss..”

***

“Kamu Mesra sekali..” Suara itu membuat Dhanni mengangkat wajahnya. Di sana sudah ada Erly yang berdiri dengan senyuman mengejeknya.

“Tentu saja. Dan perlu kamu ingat, Walau Kamu Sekertaris pribadiku, Kamu tidak bisa keluar masuk seenaknya tanpa mengetuk pintu dahulu.” Ucap Dhanni dengan suara penuh penekanan.

“Oh yaa… Ku pikir hubungan kita bukan hanya sekedar bawahan dan atasan.”

Dhanni tersenyum miring. “Sorry kalau menurut kamu begitu, tapi menurutku kita nggak lebih dari Atasan dan Bawahan.”

Ekspresi wajah Erly berubah seratus delapan puluh derajat. “Aku masih kurang apa Dhan?? Aku sudah berubah, lihat Aku??”

“Maaf Erly.. tapi Aku tidak pernah melihat wanita lain selain Nessa, Istriku. Kalau tidak ada yang perlu di bahas, silahkan keluar.” Ucap Dhanni kemudian.

Dengan mata berkaca-kaca, Erly akhirnya kembali keluar meninggalkan Dhanni. Lihat saja Dhan, Aku akan membuatmu jatuh kembali dalam pelukanku. Sumpah Erly pada dirinya sendiri.

Sedangkan Dhanni hanya mampu menghela napas panjang. Sungguh, Ia tidak bisa terlalu lama mempertahankan Erly di kantornya. Bisa saja wanita itu memiliki rencana buruk terhadapnya. Tapi apa alasan untuk memecatnya?? Sial..!!! Kenapa juga kemarin Ia menerima wanita itu kerja di kantornya??

***

Nessa akhirnya memasuki  Joy’s Cafe, melihat-lihat dekorasi ruangannya. Untuk tata letak dan dekorasinya, Joy’s Cafe memang lebih unggul dari pada Kafe milik Dewi, terasa lebih nyaman dan menenangkan. Nessa menghela napas panjang lalu duduk di ujung ruangan.

Seorang pelayan kemudian menghampirinya, membawakan daftar menu yang di sediakan oleh Joy’s Cafe. Nessa mengernyit, ternyata kebanyakan memang masakan dari luar yang Nessa sendiri tidak seberapa suka karena lidahnya yang cenderung menyukai masakan lokal. Akhirnya Nessa hanya memesan sebuah minuman saja.

Tidak ada daftar harga dalam menu tersebut. Sial..!!! Nessa tidak bisa banyak membantu Dewi kali ini. Nessa kembali menelusuri Kafe tersebut dengan matanya. Terasa sejuk, karena banyak sekali tanaman hijau dalam pot yang berada di dalam kafe tersebut. Hingga mata Nessa terkunci pada sesuatu.

Seorang lelaki tampan dengan pakaian Rapinya. Lelaki yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan tak percayanya. Lelaki yang dulu pernah mengisi hari-harinya…

“Nessa..” Ucap Lelaki tersebut sambil berjalan menuju ke arah Nessa.

“Kak Jo..” Ucap Nessa yang kini sudah berdiri.

“Ini beneran Kamu Ness?”

Nessa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dan tanpa di duga Lelaki itu langsung menghambur memeluknya. “Astaga Ness.. Aku nggak nyangka akan ketemu sama Kamu. Aku sudah nyari-nyari kamu di jogja, dan Aku bener-bener nggak nyangka ketemu Kamu di sini.”

Nessa hanya ternganga dalam pelukan Lelaki tersebut, Ia tak menyangka jika Ia Akan Di peluk sedemikian eratnya oleh lelaki lain selain suaminya sendiri. Dan parahnya, Lelaki itu adalah Cinta pertamanya dulu.

Jonathan.. Kakak kelasnya saat SMA ketika Ia sekolah di Jogja, bagaimana mungkin mereka bisa bertemu lagi dalam keadaan seperti sekarang ini?? Pada saat ini??

***

Malamnya…

Dhanni kini menatap Nessa dengan tatapan anehnya, Istrinya itu terlihat lebih pendiam. Ada apa??

“Sayang, Kamu nggak apa-apa kan??” tanya Dhanni dengaan tataapan mata menyelidik.

Nessa yang tersadar dari lamunannya seakangelagapan dengan pertanyaan suaminya terebut. “Ahhh enggak Kok Kak.”

“Kamu Aneh.”

“Aneh?? Aneh kenapa??”

“Kamu jadi pendiam .”

“Mungkin bawaan hamil Kak.” Ucap Nessa sambil berdiri lalu membersihkan piring-piring kotor di meja di hadapannya. “Aku cuci piring dulu.”

Dhanni masih menatap Nessa dengan tatapan menyelididknya. Pasti Ada sesuatu yang terjadi. Nessa tidak pernah seaneh itu.

Sedangkan Nessa sendiri memilih mencuci piring-piring kotor sembari menghindari tatapan aneh dari sang suami. Dhanni benar-benar jeli. Tentu saja saat ini Nessa sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya kacau karena kejadian tadi siang. Kejadian dimana Ia bertemu dengan sang mantan kekasih yang nyatanya kembali lagi untuk mencarinya.

 

*Flashback

Nessa duduk dengan tidak nyaman karena Ia merasa kini sedang dalam tatapan mata lelaki yang sedang duduk santai di hadapannya.

“Kamu semakin cantik.” Ucap Jonathan  kemudian ketika Ia menelusuri wajah Nessa dengan tatapan matanya.

“Kak Jo bisa aja.” Ucap Nessa dengan canggung. Nessa bahkan dapat merasakan pipinya memanas karena pujian dari lelaki di hadapannya tersebut.

“Aku jujur Ness.. Aku nggak pernah lihat kamu menggunakan Dress.. dan sekarang saat aku melihatnya, Kamu tampak berbeda, Apa lagi dengan rambut terurai seperti saat ini.” Jonathan masih saja memuji apa yang ada di hadapannya tersebut sambil menatapnya dengan tatapan intens.

Ya.. tentu saja, dulu, saat SMA, Nessa tak mau tau dengan penampilannya, cukup dengan kaus oblong dan celana Jeans pun Ia bisa jalan kemanapun. Tapi tentu kini sudah berbeda. Ia sudah menjadi Ibu dan istri dari seorang Dhanni Revaldi, tidak mungkin Ia berpenampilan seperti dulu. Dress feminim, sepatu hak dan kuas Make Up kini sudah menjadi teman sehari-harinya.

“Kak Jo berlebihan. Kak Jo juga berubah.”

Jonathan melirik dirinya sendiri. “Perubahanku hanya terletak pada kemeja yang sedang ku kenakan. Tidak pada semuanya seperti Kamu.”

Nessa benar-benar tidak tau harus bicara apa. Lelaki di hadapannya ini seakan tidak ingin berhenti untuk menyanjungnya. Ahhh Siall..!!! Jika seperti ini terus, Nessa yakin dirinya akan menjadi kepiting rebus, Memerah karenapujian-pujian lembut itu.

“Emm.. Ngomong-ngomong, Kak Jo kenapa bisa di sini??” Tanya Nessa mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ini Cafe milikku Ness.. Aku baru membukanya seminggu yang lalu.”

Nessa membulatkan matanya seketika. Astaga.. yang benar saja, Jadi kafe ini miliknya??

“Kenapa Ness?? Ada yang salah??”

Nessa menggelengkan kepalanya cepat-cepat. “Enggak kok kak. Tapi, kenapa bisa di sini?? Maksudku.. bukankah saat itu Kak Jo berpamitan akan melanjutkan sekolah ke Oxford, Kenapa tiba-tiba kembali dan tinggal di jakarta??”

Jonathan tersenyum. “Jadi.. Kamu masih mengingatku?? Mengingat kepergianku??” Tanya Jonathan dengan nada menggoda.

Nessa hanya mampu menganggukan kepalanya.

“Berarti kamunmasih mengingat kalau kita masih terikat dalam suatu hubungan??”

Nessa membulatkan matanya. “Maksud Kak Jo??”

Jonathan tampak menyunggingkan sebuah senyuman. “Kita tidak pernah putus Ness.. ingat itu.”

Yaa.. Nessa tentu tau kalau mereka tidak pernah putus. Mereka berpisah karena keadaan. Jonathan yang memang sudah lulus harus melanjutkan sekolah di Oxford inggris, sedangkan Nessa masih harus melanjutkan sekolahnya di SMA yang sama.

Mereka memang sempat berhubungan jarak jauh, tapi kemudian terputus begitu saja. Nessa tidak tau karena apa Jonathan jadi jarang sekali menghubunginya. Akhirnya Nessa memilih melupakan Jonathan dan melanjutkan hidupnya di jogja. Menerima lelaki lain sebagai kekasihnya hingga Ia melupakan Jonathan lalu pindah ke jakarta dan bertemu dengan Dhanni, suaminya kini.

“Emm ku pikir saat itu kita sudah putus.” Ucap Nessa sambil tersenyum.

“Tidak menurutku Ness.. Kita masih dalam suatu hubungan. Dan Aku kembali karena ingin bertemu denganmu, dan melaanjutkan Apa yang kita mulai dulu.”

Nessa menatap Jonathan dengan tatapan tanda tanya. “Maksud Kak Jo??”

“Aku pulang ke Jogja setahun yang lalu. Dan mencarimu di sana. Rumah Opa dan Oma mu kosong, tidak berpenghuni. Tetangga kalian menyebutkan jika kalian pindah ke jakarta, tapi mereka tidak tau tepatnya di mana. Akhirnya Aku memutuskan pindah ke jakarta. Dan tinggal dengan Kakak ku di sini, sambil sesekali mencarimu. Dan Aku tidak menyangka jika kita benar-benar bertemu lagi.”

“Yaa.. Kita sudah bertemu lagi. Jadi…” Nessa menghentikan kalimatnya karena Ia benar-benar terkejut ketika Jonathan tiba-tiba menggenggam kedua telapak tangannya yang berada di atas meja tepat di hadapan mereka.

“Ness.. Aku mencarimu karena aku ingin kita kembali seperti dulu.. Aku ingin Kamu menjadi kekasihku lagi dan Aku akan segera melamarmu menjadi istriku.”

Nessa benar-benar tercengang dengan apa yang Ia dengar. Bagaimana mungkin lelaki di hadapannya ini mengucapkan kalimat seperti itu padanya secara terang-terangan?? Apa Ia masih terlihat seperti seorang Gadis?? Astaga.. Ia sudah bersuami, sudah memiliki jagoan kecil dan kini sedang hamil anak kedua, Bagaimana mungkin mantan pacar nya itu terang-terangan ingin melamar menjadikan Ia sebagai istrinya??

 

-TBC-

Hayooo siapa yang udah penasaran ama kelanjutannya?? wkwkwkwkwk

Curahan hati – 1

Comment 1 Standard

Curahan Hati – 1

Apakah ini Cinta???

Entahlah….
Ku pikir ini suatu kegilaan…
Ku pikir ini suatu kesalahan….

Ya… aku salah…
Salah karena terlalu mencintainya….
Menginginkanya….
Terlalu ingin selalu berada di sisinya….
Hingga aku tak pernah memikirkan saat dia menyakitiku….
Saat dia meninggalkanku lagi dan lagi….
Saat dia membuat luka di hatiku….

Semuanya seakan tak berbekas…
Aku memaafkannya lagi dan lagi….
Membuatnya tak jera melakukan kesalahan yang sama….
membuatnya selalu merasa menang dan aku selalu kalah karena cinta yang membunuhku ini….

Beginikah orang yang sedang mencintai???
Apa dia selalu kalah sepertiku..??
Selalu menangis sepertiku???

06-06-2016
Zenny arieffka

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 1 (Bertemu Kembali)

Comments 4 Standard

TLK2

The Married Life (Lady Killer 2)

 

Chapter  1

-Bertemu Kembali-

 

Dhanni tak bisa menghilangkan senyuman di wajahnya lagi ketika keluar dari sebuah ruang Spesialis dokter kandungan. Ternyata Nessa benar-benar hamil. Dan Dirinya akan memiliki seorang bayi mungil lagi, buah cintanya dari seorang Nessa Arriana.

“Kak, Apa nggak sebaiknya kita pindah ke rumah Mama saja?” Tanya Nessa yaang saat ini sudah duduk tepat di sebelah Dhanni sambil memangku Brandon di pangkuannya yang sedang asik tertidur pulas.

“Enggak, Kita harus mandiri sayang..” Ucap Dhanni kemudian.

“Tapi Aku takut nanti tubuhku sering lelah, sama seperti saat hamil Brandon dulu.”

“Tenang sayang, aku akan menjadi suami siaga.”

“Gimana caranya coba??”

“Aku akan pulang setiap jam makan siang, jam dua aku akan kembali ke kantor dan pulang lagi saat Jam Setengah lima.”

“Itu pemborosan waktu Kak..”

“Biarlah, Aku ingin selalu dekat dengan kalian sayang..”

“Dasar tukang nggombal.” Gerutu Nessa. “Kita belanja yuk Kak.. Kebutuhan rumah sudah habis..”

“Oke Boss..”

Akhirnya Dhanni melajukan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari rumah sakit tempat memeriksakan keadaan Nessa tadi.

***

Mereka memilih-milih barang belanjaan. Dhanni sibuk sekali menggendong Brandon yang benar-benar nakal. Brandon seakan tidak bisa berhenti bergerak, ingin meminta ini dan itu. Sedangkan Nessa masih sibuk memilih-milih barang belanjaan yang akan di belinya.

“Sayang… Brandon nakal sekali.” Ucap Dhanni yang kewalahan dengaan tingkah Brandon.

“Kamu bisa mengajaknya ke Area bermain sebentar Kak.. Aku benar-benar sibuk memngingat barang apa yang sudah habis di rumah.”

Dhanni hanya menggelengkan kepalanya. Ya, Istrinya itu memang seorng yang pelupa. Kenapa juga tadi tidak mencatat apa saja yang mereka butuhkan dari pada harus mengingat-ingat apa yang di butuhkan.

Akhirnya Dhanni pun pergi. Mengajak Brandon ke area bermain yang memang bersebelahan dengan supermarket tersebut. Banyak mata yang tertuju padanya. Tentu saja, seorang Lelaki tampan dan keren berjalan sendiri dengan menggendong seorang balita, Astaga… beberapa SPG bahkan secaraa terang-terangan menyapanya, seakan mengagumi ketampanan dari Brandon puteranya.

“Mama mu akan ku hukum setelah ini.” Ucap Dhanni pada Brandon. Dhanni kemudian mengajak Brandon bermain-main di area permainan tersebut tanpa mempedulikan banyak mata yang menuju ke arahnya.

Tak lama, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya. Membuat Dhanni menolehkan kepalanya kepada si pemilik tangan tersebut.

Dia adalah Maria.. siapa lagi jika bukan mantan kekasihnya dulu.

“Dhan.. Nggak nyangka Aku ketemu kamu di sini.”

“Hei.. Sedang apa?? Kenapa bisa di sini??” tanya Dhanni pada Maria.

“Aku lagi ngantar keponakanku. Dia baru datang dari surabaya, jadi ku ajak main ke sini. Kamu sendiri sedang apa di sini??”

“Lihat aja aku sedang apa.” Ucap Dhanni sambil melirik ke arah bocah balita yang sedang asik menaiki mainan di sebelahnya.

Maria tertawa. “Nggak nyangka Kamu sudah jadi bapak-bapak.”

“Ya, seperti ini lah.”

“Dhan.. Aku kangen..”

Dua kata dari Maria benar-benar membuat Dhanni membulatkan matanya. “Yang benar saja Mar.. Aku sudah punya istri.. jangan ngaco kalau ngomong.” Ucap Dhanni sambil tertawa lebar.

“Aku melihatmu sendiri, tidak dengan istrimu.”

“Itu karena aku di sini.” Ucap Nessa yang sudah berdiri tak jauh dari Dhanni dan Maria.

Dhanni dan Maria yang berada di sana akhirnya menolehkan kepalanya pada Nessa. Nessa tampak berdiri dengan cantiknya membawa beberapa barang belanjaannya.

“Hai sayang.. Sudah selesai belanjanya.”

Dengan manja Nessa bergelayut mesra di lengan Dhanni. “Iya sayang, Astaga.. capek sekali.” Ucap Nessa dengan nada yang di buat-buat. Maria benar-benar terlihat kesal saat melihat pemandangan di hadapannya tersebut, sedangkan Dhanni benar-benar tak dapat menahan senyumnya melihat kelakuan Nessa yang baginya menunjukkan jika wanita yang sedang merangkul lengannya kini sedang cemburu.

“Kalau gitu Aku balik dulu Dhan..” Ucap Maria sambil membalikkan badannya.

“Kak Maria kok buru-buru.”

“Aku lagi sibuk.” Ucap Maria dengan ketus ke arah Nessa. Lalu wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Dhanni dan Nessa yang sibuk menertawakannya.

Nessa berhenti tertawa dan memicingkan matanya ke arah Dhanni. “Kenapa ikut tertawa??” Tanya Nessa dengan nada yang di buatnya seperti orang yang sedang marah.

“Aku menertawakan dia.”

“Bohong.”

Lalu Dhanni kembali meledakkan tawanya saat melihat istrinya tersebut seperti orang yang sedang merajuk. “Kamu lucu sayang.”

“Apanya yang lucu??”

“Kamu benar-benar terlihat seperti orang yang sedang cemburu.”

“Tentu saja aku cemburu saat melihat suamiku sedang di goda oleh mantannya.”

“Ayolah sayang.. Dia hanya menyapa. Tanyakan saja pada Brandon. Bukan begitu sayang??” Dhanni bertanya pada Brandon, sedangkan Brandon sendiri masih sibuk dengan mainannya.

“Bilang saja kalau mau mengelak.” Gerutu Nessa.

Sedangkan Dhanni sendiri masih belum berhenti menyunggingkan senyumannya. Dhanni sangat tau jika Nessa tidak akan berhenti menggerutu. Semakin dirinya menjelaskan, wanita di hadapannya itu pasti semakin menyerangnya.

“Oke, sudah semua kan belanjaannya, kita pulang ya, Kamu nggak boleh kecapean.”

Nessa hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan wajahnya masih menyiratkan rasa kekesalan pada Dhanni. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk kembali pulang.

***

“Ness.. jangan marah dong, Kak Dhanni kan Cuma bersikap baik saja sama Maria..” Ucap Dhanni yang masih konsentrasi mengemudikan mobilnya. Dhanni benar-benar tidak nyaman dengan diamnya Nessa, Ia lebih suka dimarahi atau di jewer Nessa dari pada harus di diami seperti saat ini.

“Aku nggak marah kok.”

“Tapi Kamu diam sejak tadi.”

“Orang Diam bukan berarti marah Kak.”

“Kalau Kamu nggak Marah aku butuh bukti.” Ucap Dhanni kemudian.

“Bukti Apa??”

“Sun aku dulu.” Ucap Dhanni sambil menyodorkan pipinya.

“Enggak Ahhh.. ngapain..”

“Tuh kan.. itu tandanya kamu marah, Ayo Sun dulu, baru aku percaya kalau kamu nggak marah.” Ucap Dhanni masih dengan menyodorkan pipinya lebih dekat ke arah Nessa.

Nessa sendiri kemudian tersenyum melihat kelakuan sang suami tersebut. Secepat kilat Nessa mendaratkan kecupan singkatnya pada pipi Dhanni dan itu membuat Dhanni tak dapat menahan senyumannya.

“Terimakasih sayang..” Ucap Dhanni dengan nada menggodanya.

“Lain kali jangan di ulangi lagi. Aku benar-benar tidak suka melihat Kak Dhanni sok ramah dengan wanita lain.”

Dhanni tersenyum. Rupanya sikap manja Nessa saat hamil Brandon dulu akan terulang lagi. Nessa tidak pernah secemburu ini ketika melihatnya bersama dengan wanita lain. Ini pasti ada hubungaannya dengan hormon kehamilan yang membuat Nessa gampang sekali tersulut emosinya.

“Iya.. aku janji.” Dan Dhanni hanya bisa mengalah seperti biasanya.

“Kak.. Memangnya Kak Renno sudah pulang sejak lama??” Tanya Nessa kemudian.

“Kenapa tiba-tiba tanya tentang Renno??”

“Enggak ku pikir ada yang aneh saja dengannya dan wanita yang tempo hari bertemu kita di depan Apotek.”

“Renno sudah balik sekitar tiga bulan yang lalu. Entah lah, dia memang aneh. Dia juga nggak tinggaal di rumahnya sendiri, dia lebih memilih tinggal di Apartemen Ramma.”

Nessa menganggukkan kepalanya. Apa perubahan Renno ada hubungannya dengan dirinya?? Ahhh tentu saja tidak, itu masa lalu, Sudah sekitar Tiga tahun yang lalu. Nessa bahkan sudah menghilangkan perasaannya tersebut pada Renno. Kini di hatinya hanya ada Dhanni, sang suami seorang.

“Kenapa tiba-tiba tanya tentang Renno?? Kamu masih suka dengannya??”

“Kak Dhanni cemburu ya kalau aku bertanya tentang Kak Renno??”

“Tentu saja, bagaimanapun juga kalian pernah menjalin suatu hubungan, jadi tidak salah kalau aku cemburu denganya.”

Nessa mencubit gemas pipi suaminya tersebut. “Aku nggak akan mungkin suka sama Kak Renno, Kak. Bagiku Cuma Kak Dhanni yang saat ini mengisi hatiku.”

Dhanni tersenyum miring. “Awas ya kalau bohong nanti ku gigit.”

“Aku nggak bohong.”

Dhanni tertawa melihat Nessa yang merajuk. “Yaa.. Aku tau itu sayang..” Ucap Dhanni sambil mengusap lembut rambut milik Nessa.

****

Dhanni ini sedang sibuk mengurus beberapa berkas di meja kerjanya.  Meta, Sekertaris lamanya sudah sejak dua hari yang lalu melakukan Cutihamil , sedangkan dirinya belum juga mendapatkan sekertaris yang baru. Ahhh sial!! Padahal Ia harus menepati janji pada Nessa jika dirinya harus pulang setiap jam makan siang.

Dhanni kemudian mendengar pintu di ketuk. “Masuk..” Tanpa menoleh sedikitpun Dhanni menyuarakan perintah tersebut.

Akhirnya pintu itu pun di buka dan masuklah sosok cantik dengan pakaian seksinya. Berdiri tepat di depan meja kerja Dhanni.

“Selamat pagi Pak, Saya Erlyta, Sekertaris pribadi baru bapak yang di tugaskan untuk menggantikan posisi Ibu Meta, Sekertaris lama bapak yaang sedang cuti hamil.”

Mendengar suara itu sekaligus nama itu di sebutkan, Dhanni mengangkat wajahnya. Dan matanya tepat menangkap sosok Wanita cantik dengan tubuh seksi di hadapannya tersebut.

“Kamu..”

“Ya.. Aku Dhan..”

Dhanni membulatkan matanya seketika. Erly… Kenapa bisa Erly di sini?? Menjadi sekertaris barunya??

***

Dhanni masih tidak bisa berhenti menatap sosok yang duduk santai di hadapannya tersebut. Namanya Erlyta paraswati. Tentu saja Dhanni sangat mengenal sosok tersebut. Erly adalah salah satu wanita yang dulu pernah singgah di hati Dhanni dan di campakannya begitu saja seperti wanita-wanita lainnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Erly kembali menemuinya?? Menjadi sekertaris pribadi barunya?? Setau Dhanni, Erly adalah termasuk anak orang kaya.

“Kenapa menatapku seperti itu?? Kamu terkejut dengan penampilan baruku?” Tanya Erly dengan wajah yang senagaja di dekatkan pada Dhanni.

Dhanni menggelengkan kepalanya. Jika boleh jujur, Dhanni memang mengagumi perubahan yang terjadi pada diri Erly. Wanita di hadapannya tersebut tampak Cantik dan Modis. Sangat berbeda dengan Erly yang dulu yang selalu terlihat biasa-biasa saja walau sebenarnya Dia dari kalangan orang kaya.

“Di mataku kamu masih tetap sama Er.. Kenapa kamu bisa kerja di tempatku??” Tnay Dhanni langsung tanpa banyak banyak basa-basi lagi.

“Memangnya ada larangan khusus kalau aku tidak di perbolehkan kerja di perusahaanmu??”

Lagi-lagi Dhanni menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Bukan Karena itu, tapi ku pikir Kamu tidak akan bekerja di tempat lain saat kamu sendiri memiliki perusahaan yang tak kalah besarnya. Bukankah begitu?? Lalu Apa yang membuatmu bekerja di tempatku??” Ttanya Dhanni lagi kali ini dengan suara yang di buatnya setajam mungkin, seakan mengintimidasi siapapun yang mendengarnya.

Dengan santai Erly mendekatkan wajahnya pada Dhanni lalu berkata dengan nada yang di buatnya selembut mungkin di sana. “Aku hanya ingin merebut apa yang dulu menjadi milikku.”

Dan ketika kalimat tersebut di ucapkan, Dhanni tau jika Erly akan menjadi masalah untuknya. Bagaimana pun juga, melawan seorang wanita yang sedang tersakiti itu butuh kehati-hatian. Dhanni tau jika Erly sangat tersakiti dengan ulahnya dulu. Mencampakn wanita itu begitu saja, padahal wanita itu tulus mencintainya. Tapi bagaimana lagi, Cinta Dhanni hanya untuk Nessa seorang  sejak dulu, dan Dhanni tak ingin membagi hatinya untuk wanita lain.

Akhirnya di campakanlah Wanita-wanita seperti Erly dan banyak lagi lainnya. Hanya saja, Dhanni masih tak habis pikir, kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, Apa wanita-wanita itu masih menyimpan rasa sakit hati padanya?? Jika Iya, Dhanni benar-benar harus berhati-hati. Karena ia tau, bagaimana bahayanya melawan wanita yang sedang sakit hati.

-TBC-

nahhh Lady killer 2 ini akan menggeser my brother yaa… jadi aku udah memutuskan akan update lady killer 2 ini dulu beriringan dengan My young Wife… untuk my young wife sendiri akan update besok sore atau malam yaa… selamat menunggu…