Passion Of Love – Chapter 5

Comments 6 Standard

Skkm

Sang Kupu-Kupu Malam

 

Haii… aku balik lagi dengan Bang Ben nih.. hhahahahha.. Betewe.. Chapter ini sedikit Beda dengan Chapter di Fansfic karena aku menambai Scenenya yaa.. hahahha okay.. enjoy reading…

 

Chapter 5

 

Lelaki itu hanya menyeringai dengan senyuman sinisnya yang khas sambil menuju ke arah Fiona. “Aku ingin menjadi pelanggan tetapmu.” Jawab Ben kali ini dengan memepet tubuh Fiona dengan Pintu. Edangkan Fiona hanya dapat menunduk malu.

“Pelanggan Tetap?? Apa maksudmu,??” Fiona masih tak mengerti apa yang di bicarakan Ben.

Bukannya menjawab Ben malah mencengkeram rahang Fiona, mendongakkannya ke atas, lalu mencumbunya habis-habisan. Fiona lagi-lagi hanya bisa menikmatinya. “Aku merindukan ini..” bisik Ben di sela-sela cumbuannya. Fiona membalas ciuman Ben dengan melingkarkan lengannya ke leher Ben sambil sesekali mengerang. Ben yang merasakan Fiona sudah ikut terpancing dengan gairahnya, akhirnya tersenyum di sela-sela cumbuannya.

“Kenapa? Tanya Fiona ketika mengetahui Ben tersenyum dalam cumbuannya.

“Tidak, ku pikir sekarang belum waktunya sayang..” jawab Ben sambil menatap Fiona dengan tersenyum. “Kita tidak akan melakukannya di sini, tapi di apartemenku.” Lanjutnya lagi membuat Fiona membelalakkan mata.

“Kamu Berani bayar berapa? Di sini aku di bayar Per jam. Kalau ke apartemenmu dulu sayang buang-buang waktu.”

Ben malah tertawa mendengar penjelasan Fiona. “Rupanya kamu sudah sangat merindukan aku, heh?” Ucapnya sambil memegang dagu Fiona. Ben kemudian mengeluarkan sebuah Ponsel dari sakunya. Dia terlihat menelepon seseorang menyuruhnya masuk keruangan itu. “Mari kita duduk dulu..” Ucapnya mempersilahkan Fiona duduk. Sebenarnya ada apa? dia mau apa? Tanya Fiona dalam hati.

Tak lama pintu pun di buka, masuklah dua orang pria, yang satu Mr. Jonas, atasan Fiona, satu lagi Vano, sekertaris  pribadi Ben.

“Mr. Jonas” kata Fiona sambil berdiri.

Mr. Jonas hanya tersenyum kemudian lelaki paruh baya itu berujar “Fiona, Mulai hari ini kamu sudah bebas dari genggamanku.” Ucap Mr. Jonas sambil memeluk tubuh Fiona.

Apa? Bebas? Kenapa bisa bebas? Fiona yang terkejut hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.

“Kamu pasti kaget kan? berterimakasihlah pada Mr. Benny Andrean karena dia sudah menebusmu dengan harga yang sangat pantas.” Mr. Jonas melanjutkan kata-katanya sambil menunjuk ke arah Ben yang sedang duduk dengan keangkuhannya.

Fiona pun melihat kearah Ben. Ben hanya bisa menyunggingkan senyumannya sambil mengangkat sebuah gelas berisi Wine –isyarat untuk bersulang- lalu meminumnya.

“A..apa maksudnya ini?” Tanya Fiona dengan terpatah-patah, ia masih tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.

“Sekarang kalian boleh keluar.” Perintah Ben Pada Mr. Jonas dan juga Vano dengan penuh keangkuhan. Mereka berdua pun keluar meninggalkan Ben dan Fiona yang masih berdiri membatu.

Ben lalu berdiri, memegang kedua bahu Fiona. “Sekarang kamu sudah jadi milikku Fiona. Aku sudah menebusmu..” katanya kali ini sambil mencumbu sepanjang leher Fiona. Fiona pun masih diam membatu, mencerna kata-kata Ben dengan baik, meski tak dapat ia pungkiri jika kini jantungnya berdegup kencang seakan ingin meledak.

“Taa,,, tapi… kenapa aku? kamu bisa mencari wanita lain.”Jawab Fiona sambil memejamkan matanya menikmati cumbuan Ben.

“Aku tidak menginginkan wanita lain,, aku menginginkanmu.” Ucap Ben yang kini dia merambahkan cumbuannya ke punggung Fiona. “Yaa tuhan.. kulitmu sangat halus dan lembut, Aku sangat suka dengan aromamu… Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.” Ucap Ben yang kemudian menjauhkan diri dari Fiona. “Ayoo kita ke apartemenku.. Cepat.” Lanjut Ben setengah menggertak.

Merekapun menuju Apartemen Ben dengan cepat. Bahkan Fiona tak menyadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya di parkiran tempat kerjanya tadi. Ya.. Siapaa lagi jika bukan Angga yang masih setia menunggunya.

***

Sesampainya Apartemen…

“Egghh…. Egghhh….” Fiona masih saja mengerang di bawah tindihan Ben, membuat Ben tersenyum senang.

“Kau Menikmatinya sayang… Egghhh… Akupun begitu..” ucap Ben Sambil terengah-engah.

Kali ini mereka bercinta dengan pelan, Benn ingin menikmati percintaannya kali ini. Dia melakukannya dengan sangat romantis. Mencumbui setiap jengkal tubuh Fiona, mengaitkan jari-jemarinya pada jaari jemari Fiona. Lampu kamarnyapun dia matikan. Hanya menyisakan remang-remang cahaya dari rembulan yang menembus jendela kaca kamarnya yang sedikit di bukanya.

“Aku suka melihat ekspresimu Ahh…. saat memejamkan mata.. Eggghh…” lanjut Ben lagi..

“Aku… suka mendengar Eranganmu.. ahhh…” Fiona berkata sambil menahan agar puncak kenikmatan itu tidak cepat datang.

“Lepaskanlah sayang… lepaskan…” Ucap Ben saat ia mengetahui kalau Fiona sedang menahan diri.

Ketika Ben mempercepat lajunya dengan gerakan menghujam, Fiona pun tak bisa menahanya, “Ben..aahh…. Astaga…” Ucap fiona ketika dia mencapai puncak kenikmatan itu.

“Yaa.. Sayang… Sebutlah namaku…” Ben pun semakin mempercepat lajunya dan ia pun mengikuti Fiona mencapai puncak kenikmatan itu.

Keduanya berpelukan sambil terengah-engah.. Ben lalu kembali mengecup bibir Fiona, dan menarik diri lalu berbaring di samping Fiona. “Bagaimana? apa kamu menikmatinya..?” Tanya Ben masih dengan nafas tersenggal-senggal.

“Ben..” Pekik Fiona. “kenapa kamu nggak pakai pengaman lagi?” pertanyaan Fiona membuat Ben mentapnya seketika.

“Fiona.. aku nggak akan pernah menggunakan pengaman sialan itu saat bercinta denganmu..” Jawab Ben dengan nada sedikit meninggi.

“Ta.. tapi… apa kamu…”

“Tidak ada tapi…” Potong Ben. “Sekarang tidurlah.. kamu pasti sangat lelah.” Ucap Ben Sambil menyelimuti tubuh mereka yang full naked.. lalu melingkarkan lengan kekarnya di perut Fiona dengan posesif.

Fiona pun terkejut dengan apa yang di lakukan lelaki itu, ia merasa aneh dengan perasaan yang di rasakannya saat ini. Ada rasa nyaman, dan hangat. Astaga .. apa yang sedang terjadi?? Pikiran Fiona pun bingung dan bertanya-tanya. Tak lama dia merasakan napas Ben mulai teratur, Ben sudah tertidur. Fiona merasakan matanyapun mulai berat. Ia pun mulai tertidur di dalam pelukan seorang Benny Andrean.

***

“Pagi…” Sapa Ben pada sepasang mata yang baru saja membuka tepat di hadapannya. Pemilik sepasang mata itupun merasa terkejut memandangi sekelilingnya. Melihat seorang lelaki tampan yang sudah rapi berbalut T-shirt santai dan celana pendek di hadapannya.

“Apa yang sudah terjadi?” Tanya Fiona setengah sadar ketika melihat tubuhnya yang masih telanjang di balik selimut.

Ben pun tertawa melihat ekspresi terkejut dari Fiona. “Apa kamu lupa kalau tadi malam kita sama-sama telanjang bulat di atas ranjang?” Pipi Fiona memerah seketika saat mendengar kata-kata Ben yang vulgar. “Ayo mandi.. aku sudah membuatkanmu sarapan.” Lanjutnya, kali ini sambil menggendong Fiona menuju ke kamar mandi.

“Ben. turunkan aku, aku bisa jalan sendiri..”

“Tidak, aku akan memandikanmu.” Jawab Benn sambil menyunggingkan senyuman misteriusnya.

“Apa??” Fiona terbelalak kaget.

Ternyata Benn tidak bercanda, ia benar-benar memandikan Fiona, tentunya sambil sesekali bermain dengan wanita terseut. “Ben, kamu nggak perlu melakukan ini.” Ucap Fiona sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya.

“Kamu nggak perlu malu, aku sudah melihat semuanya.” Jawab Ben sambil menyunggingkan senyum khasnya. “Lagi pula aku juga ingin mandi bersamamu.” Lanjutnya sambil membuka baju dan celananya.

“Apa?” lagi-lagi Fiona membelalak karena terkejut dengan kelakukan Ben.

Kali ini Ben tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Fiona. Sedangkan Fiona merasa hangat dengan sikap Ben pagi ini yang terkesan akrab dan sedikit romantis. sejak bertemu dengan Ben, belum pernah ia melihat Ben sebahagia itu. “Hei.. kamu sedang apa? ayo sini gosoklah punggungku” kata-kata Ben menyadarkan Fiona dari lamunannya.

“Baa.. baiklah…” lalu Fiona pun menggosok Punggung Ben didalam Bathup yang cukup besar itu, di bawah derasnya pancuran air dari atas Shower. Mereka berdiri dan Sama-sama naked dengan posisi Ben menghadap ke dinding membelakangi Fiona. Sesekali Ben mengerang karena halusnya gosokan dari Fiona.

“Kalau seperti ini terus, kamu bisa membunuhku.” Ucaap Ben sambil membalikkan badan dan mencengkeram erat tangan Fiona. “Aku menyuruhmu menggosok, bukan membelai.” Ucap Ben lagi sambil menggertakkan giginya, menahan gairahnya. “Ayo sini, biar ku gosokkan punggungmu.” Lanjutnya lagi.

“Tidak, aku bisa menggosok sendiri..” jawab Fiona setengah kaget menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

benn tersenyum sinis. “Benarka? Kalau begitu kita bisa melakukan hal-hal yang lain.” Ben pun melangkah ke depan memepet Fiona dengan dinding.

“Kamu.. kamu mau apa??” Fiona tak bisa berkata-kata lagi karena Ben sudah datang menerjangnya, mencumbuinya habis-habisan. Menyesap setiap jengkal tubuhnya di bawah derasnya air pancuran Shower.

Fiona pun menikmatinya. Ia tak pernah merasa se intim ini dengan lelaki. Ben mendongakkan wajahnya kemudian mendaratkan ciuman panas pada bibirnya. Sedangan Fiona hanya mampu menerimanya.

Cumbuan Ben turun ke sepanjang leher Fiona, menggodanya, meninggalkan jejak di sana. Dan Ben tak dapat menahannya lagi. Di angkatnya sebelah kaki Fiona lalu ben mulai menenggelmkan dirinya kealam tubuh Fiona.

“Arrgghhh….” Erang Fiona ketika tubuh mereka menyatu dengan sempurna.

“Sial..!! ini gila Fi..” Ucap Ben yang sudah tak dapat menahan gaairahnya lagi.

“Ya, Kamu memang gila.”

“Dan kamu menyukainya bukan.”

“Arrggghh… ya.. Aku.. Aku.. Suka..” jawab Fiona yang seakan sudah tak sanggup lagi mendapat hujaman demi hujaman kenikmataan yang di berikan oleh Ben.

“Baiklah sayang… kita sama-sama menyukainya.”  Ucap Ben dengan seringaiannya lalu kembali menghujam Fiona. Memunculkan suara-suara  erotis yang memambuat siapa saja yang mendengarnya terpancing oleh gairah.

“Sial..!! Kamu benar-benar nikmat.” Rayau Ben masih dengan mencumbui sepanjang leher Fiona. Tangannya sesekali memainkan payudara Fiona yang terpampang jelas di hadapannya. “Kamu hanyaa milikku Fi… hanya milikku..” Ucap Ben kemudian yan di ikuti dengan kembali mencumbu bibir Fiona, melumatnya penuh gairah sambil mempercepat lajunya ketika punca kenikmatan itu mulai datang menghampirinya.

Fiona mengerang panjang di antara cumbuan yang di berikan oleh Ben ketika gelombang kenikmatan itu datang menghampirinya. Tak lama, Ben pun melakukan hal yang sama. Mengerang panjang penuh dengan kepuasan saat gelombang kenikmatan juga menerpanya.

“Ben.. Astaga…” Ucap Fiona dengan terengah sambil tersungkur kelelahan dalam pelukan Ben.

“Ya.. Aku di sini Fi.. Aku di sini..” Ben pun memeluk erat tubuh Fiona. Seakan mengklaim jika wanita itu hanya miliknya. Ya, fiona kini hanya milihnya, hanya boleh di sentuh oleh dirinya….

 

-TBC-

Tunggu kisah selanjutnya antara Bang Ben dan Neng Fi yaa… wkwkkkwkw besok insha allah ada mas yoga dan dedek Nana kalo aku sempat sih.. wkwkkwkwkwk

Advertisements

Passion Of Love – Chapter 4

Comments 6 Standard
Sang kupu-kupu malam

Sang kupu-kupu malam

 

Haiii,,, Bang Ben hadir yaa siaang ini.. enjoy reading…

 

Ben berjalan menuju kearah lelaki tersebut, lalu Ben memegang tangan lelaki itu yang menggenggam tangan Fiona, “Seharusnya Kau yang melepaskannya.” Ucap Ben dengan nada dingin sambil melepas paksa genggaman tangan lelaki itu  pada tangan Fiona, lalu menyeret Fiona dengan paksa keluar dari ruangan tersebut.

“Kak Angga, jangan khawatir, tunggu aku di situ, oke?” Teriak Fiona sambil menatap ke arah Angga. Dan entah kenapa kata-kata Fiona tersebut membuat Ben semakin murka.

***

 

Chapter 4

 

 

Ben masih saja menyeret Fiona menuju ke tangga darurat, tak peduli dengan rintihan Fiona dan juga pandangan semua orang di rumah sakit itu.

“Ben apa yang kamu lakukan.??” tanyanya setelah mereka memasuki tangga daurat yang sepi.

Ben menghempaskan tubuh mungil Fiona ke dinding, di kurungnya tubuh Fiona dengan kedua lengannya, lalu Ben rapatkan tubuhnya dengan tubuh Fiona. Fiona menatap Ben dengan tatapan tajamnya, Fiona bahkaan merasakan gairah Ben yang sudah mengeras di bawah sana dan menempel dengaan sempurna di perut bawahnya. Ben menundukkaan kepaanya, menataap Fiona dengan tatapan intensnya. Jarak pandang mereka hanya beberapa inci, deru napas mereka saling bersahutan.

“Kamu.. Kamu  mau apa?” Tanya fiona dengan suara terpatah-patah. Ben tau jika wanita di hadapannya itu sedang gugup..

“Kamu tau apa yang ku inginkan.” Jawab Ben dengan menyunggingkan senyuman miringnya.

“Kita sudah selesai Ben”

“Tidak, Aku belum puas..” Ucap Ben secaara terang-terangan

“Apa??” Fiona membulatkan matanya karena terkejut. Astaga… Fiona tak meyangka jika Ben akan berkata terang-terangan seperti itu. Sedangkan Ben tamak sedikit menyunggingkan senyumannya, ia sangat suka melihat ekspresi Fiona saat ini. Dan Astaga.. Ben benar-benar tak dapat menahan gairahnya lagi.

“Kenapa kamu meninggalkanku tadi malam?” Tanya Ben mencoba mengalihkan perhatiannya dari gairahnya yang seakan sudah meletup-letup di dalam dirinya. Sumpah demi apa pun juga,, jika saja saat ini mereka bukan berada di rumah sakit atau di tempat umum, mungkin Ben sudah menelanjangi Fiona ssaat ini juga. Fiona benar-benar tampak menggoda di matanya.

“Aku ada urusan..” jawab Fiona dengan enggan.

“Benarkah..?”  Ben memegang dagu Fiona kemudian membuat Fiona menengadah menatap ke arahnya. Astaga.. Bibir itu… Ben benar-benar tak dapat menahannya lagi. Ben menyambar bibir ranum milik Fiona, memangut bibir manis dan lembut tersebut, dan Fiona tak melawan,. Fiona menikmatinya bahkan membalas ciuman panas yang di beikan oleh Ben. Ben merasakan tangan Fiona melingkar di lehernya. Ben pun kemudian meraih pinggang fiona yang ramping lalu menariknya semakin dekat hingga menempel sepenuhnya dengan tubuhnya.

Mereka berciuman panas cukup lama seakan-akan tak ada akhirnya. Ketika Fiona menepuk-nepuk dada bidang milik Ben, Ben sadar jika Fioa mulai kehabisan nafas. Ben melepaskan ciuman mereja, jarak mereeka kini  hanya beberapa inci, Ben merasakan Fiona bernapas dengan tersenggal-senggal. Dan ia pun sama.

“Aku suka melihatmu seperti ini, kamu.. Cantik” entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari bibir Ben, Ben sadar jika ia tak pernah mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu pada wanita-wanitanya..

“Aku harus pergi.” Ucap Fiona sambil meninggalkan Ben, tapi secepat kilat Ben meraih tangan Fiona dan kembali menghempaskan tubuh Fiona ke dinding sekali lagi. Nafas Fiona masih tersenggal-senggal karenaa ciuman panas yang tadi mereka lakukan.

“Kenapa? Apa kamu takut tak bisa mngendalikan diri di hadapanku??” Ben bertanya dengan nada setengah mengejek.

“Apa yang kamu inginkan Ben?” Fiona bertanya dengan kesal.

“Nanti malam aku tunggu di apartemenku.. Aku menginginkanmu.. Lagi.” Jawab Ben kemudian. Fiona memandang Ben dengan tatapan anehnya.

“Aku nggak bisa kim Ben… aku harus kerja.”

“Kamu bisa meninggalkan pekerjaanmu.”

“Aku nggak bisa.. aku sudah menandatangani kontrak..” Jawaban Fiona  membuat Ben membatu. Kontrak? kontrak macam apa??. Pikir Ben.

“Aku akan mengurusnya.”

“Ben…” lirih Fiona.

“Aku benar-benar merindukanmu sampai-sampai aku susah untuk bernapas, mungkin ini akan mengobati kerinduanku..” Ucap Ben yang kemudian mencium Fiona sekali lagi, kali ini Ben melakukanya dengan lebih lembut karena Ben ingin mereka berdua sama-sama menikmatinya.

Setelah mencium Fiona, Ben meninggalkan Fiona begitu saja tanpa menoleh kebelakang sedikitpun, karena Ben tau jika ia menoleh kebelakang, ia pasti akan kembali pada Fiona dan tak ingin pergi lagi.

Sial..!!! Ben merasakan gairahnya masih saja memuncak.. Ben benar-benar ingin memiliki Fiona seutuhnya.. tubuh wanita itu kini bagaikan candu untuknya.

Sesampainya di dalam mobil, Pak Roni, supirnya tersebut sudah menunggunya. Mungkin Pak Roni sedikit heran dengan kelakuan Ben pagi ini.

“Pak… cari tau semua informasi tentang perempuan itu.” Ucap Ben pada Pak Roni. Pak Roni dan Vano, Puteranya, merupakan orang kepercayaan Ben. jika pak Roni adalah supir pribadi keluarga Ben sejak Ben masih kecil, maka Vano adalah satu-satunya teman Ben yang kini bekerja dengan Ben sebagai sekertaris pribadi dan juga kaki tangannya.

“Baik tuan muda.” Jawab pak Roni tanpa ekspresi. Ya, yang Ben suka dari pak Roni dan Vano adalah mereka selalu memasang ekspresi datar kapanpun dan apapun yang terjadi.

***

Di tempat lain..

Fiona masih berusaha untuk menormalkan napasnya. Astaga.. baru kali ini ia berciuman sampai terengah-engah. Fikirannya masih menerawang dengan kata-kata yang di ucapkan Ben tadi. Tak terasa ia sudah sampai di ruang perawatan Marsha.

“Kamu nggak apa-apa kan?” Tanya Angga sambil menuju ke arah Fiona.

“Ahh.. Engak…Aku nggak apa- apa.” Fiona berbohong. Padahal kini jantung nya masih berdegup kencang.

“Apa yang kamu lakukan bersamanya? kata suster tadi malam dia ngotot mau ke ruangan ini padahal jam besuk sudah di tutup.” Kata-kata Marsha membuat Fiona dan Angga terkejut dan saling pandang.

“Dia kesini tadi malam.?” Fiona bertanya dengan nada heran.

“Ya, dan kata suster dia terlihat sangat khawatir.”

Fiona hanya diam terpaku. Apa Ben mencarinya tadi malam..? untuk apa..? apa Ben belum puas..? dan apa Ben benar-benar merindukannya? pikiran Fiona pun penuh dengan pertanyaan-pertanyaan aneh seputar Ben.

***

Beberapa hari kemudian…

“Apa kamu sudah mengurus semuanya?” Tanya Ben sambil menatap ke luar jendela di ruangannya, pandangan tajamnya lurus ke depan sambil membawa segelas wine  dan sesekali menyesapnya.

“Semuanya sudah beres,” jawab Vano, Putera dari Pak Roni yang kini menjadi sekertaris pribadi Ben.

“Baiklah, aku ingin menemuinya malam  ini.” Ucap Ben dengan dingin.

“Beberapa hari ini dia beum masuk kerja.”

“Kenapa..?”

“Tidak ada alasan.”

“Aku akan menunggunya malam ini..” Tekad Ben sangat kuat.

Beberapa hari ini ia sangat sibuk dengan masalahnya di kantor, jadi Ben belum sempat menemui Fiona lagi di rumah sakit. Ben juga tak tau dimana alamatnya. Yang Ben tau dari mata-matanya hanyalah alamat tempat kerja Fiona.

Fikirannya masih saja berkecamuk, rasanya sangat aneh. Bercinta dengan  Fiona hanya satu kali tapi membuatnya sangat ketagihan. Membuatnya tak bisa memiliki gairah pada perempuan lain. Apa yang dilakukan wanita itu terhadap dirinya? selalu saja pertanyaan itu yang muncul dalam benak Ben.

***

Malamnya…

“Apa benar Kak Marsha nggak apa-apa kalau aku tinggal sendiri..?” Tanya Fiona sambil menggunakan mascara ke bulu matanya.

“Aku nggak  apa-apa.. kamu jangan khawatir.”

“Aku sudah seminggu tak masuk kerja, rasanya ada yang aneh.” Ucap Fiona sambil menampilkan cengiran khasnya.

“Tentu saja, selama seminggu tak ada lelaki yang mencumbumu, pasti ada perasaan aneh..” jawab Marssha sambil tersenyum mengejek.

“Aiisshhh Kak Marsha….”

“Fiona…  sampai kapan kita akan bekerja seperti ini?” lirih Marsha sambil menatap langit-langit rumahnya. Tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi sendu.

“Kak, kamu tenang saja.. setelah satu tahun lagi hutangku lunas, aku akan keluar dari tempat itu dan mencari pekerjaan yang lebih baik untuk kita..” ucap Fiona dengan semangat yang kini sudah berada disamping Marsha dan memeluknya.

“Kamu nggak perlu memikirkanku, pikirkan hidupmu sendiri.” jawab Marsha sambil sedikit menangis terharu.

“Kak Marsha…. Kita sudah seperti adik kakak, aku nggak mungkin meninggalkan Kak Marsha di sini sendirian.”

“Fi.. Apa nggak sebaiknya kamu memikirkan tawaran Angga? dia benar-benar mencintaimu Fi.” Ucap Marsha kemudian. Marsha tentu tau bagaimana hubungan antara Fiona dan Angga selama ini.

“Aku tidak meragukan cintanya, aku hanya merasa tak pantas untuk Kak Angga, kak..” Fiona menunduk, tanpa di sadari air matanya menetes. Marsha yang melihatnya ikut merasakan kepedihan hati Fiona. Ya, tentu saja, bagaaimana pun juga mereka adalaah wanita murahan yan memiliki status sosial paling rendah. Sangat wajar jika Fiona merasa tak pantas untuk sosok Angga.

“Sudahlah… jangan menangis lagi,, cepatlah berangkat.” Ucap Marsha sambil menghapus air matanya.

Fiona pun menganguk. Ia memperbaiki Make upnya, lalu berpamitan berangkat. Ternyata di depan rumah sudah ada Angga yang sudah menunggu untuk mengantarnya ketempat kerja.

***

Sesampainya di tempat kerja…

“Kak Angga, terimakasih sudah mau mengantarku… Kakak pulang saja..” Ucap Fiona pada Angga.

“Enggak.. Aku akan menunggumu di sini sampai kamu pulang.”

“Kak… besok Kak Angga kan harus kerja.” Fiona sedikit merengek.

“Enggak… pokoknya aku tunggu kamu disini titik.” Angga rupanya tak mau di bantah.

“Oke, terserah Kak Angga saja… Aku kerja dulu kalau gitu… Sampai jumpa.” Fiona melambaikan tangannya dan di balas oleh lambaian tangan Angga.

Saat masuk ke dalam club tempatnya bekerja, Fiona sedikit heran dengan tatapan teman-teman kerjanya di sana.

“Fi.. Selamat ya..” Ucap seseorang padanya..

“Selamat Fi…” seseorang mengucapkan selamat lagi padanya. Entah ini hari apa seingatnya, dia tidak berulang tahun, namun kenapa semua orang memberi selamat padanya..? pasti ada yang tidak beres, piker Fiona dalam hati.

“Hei.. Fiona, kemarilah.” Kata seseorang memanggilnya, orang itu adalah Mr. Jonas, pemilik Club tersebut serta atasan dari Fiona.

“Ada apa Mr..?” Tanya Fiona setelah sampai di hadapan Mr. Jonas.

“Temuilah tamu VVIP di kamar 6, dia sudah lama menunggumu?”

“Benarkah? Apa itu Mr. Evan?? pelangganku..?”

“Bukan.. temuilah dia dulu.” Ucap Mr. Jonas dengan nada misteriusnya.

“Baiklah..” Ucap Fiona bersemangat. Fiona memang sudah menikmati pekerjaannya tersebut. Dengan langkah semangat ia menuju ke lantai dua, tempat ia biasa melayani tamu-tamu VVIP. Ruangan di situ sangat bagus, berbeda dengan lantai bawah, untuk tamu dari kalangan biasa.

Sampai di pintu Nomer 6 hatinya berdebar-debar. Kira-kira siapa pelanggan pertamanya itu setelah ia beberapa hari tidak masuk kerja.? pikirnya dalam hati. Setelah ia membuka pintu, belum sempat Fiona mengucapkan kata-katanya, betapa kagetnya ia saat melihat seorang lelaki yang duduk dengan angkuhnya memegang segelas wine di tangannya. Lelaki itu sedang tersenyum miring terhadapnya.

“Ben?? apa yang kamu lakukan di sini??” Tanya Fiona masih dengan raut wajah terkejutnya.

-TBC-

yeayyy… udah ampek Chapter 4 nihh.. hahahahaha

The married life (Lady Killer 2) – Chapter 4 (Tak dapat jujur)

Comments 3 Standard

TLK2

The Married Life (The Lady Killer 2)

 

haiiii… ketemu lagi ama Kak Dhanni Nih… sedikit Note biar kalian nggak bingung.. Setting Waktu ini adalah saat Beberapa Hari atau sekita 1 mmingguan setelah Epilog The Lady Killer 1 yaa… jadi di sini Renno belom ketemu sama Allea, begitu pun Ramma yang masih asik dengan Zoya, okay.. itu aja, kalau ada yang perlu di tanyakan atau bingung, silahkan komen.. wakakakakakak

 

“Siapa Jonathan?”

Pertanyaan Dhanni membuat Nessa menghentikan kalimatnya. Rasa panik langsung menyerangnya begitu saja. Siapa Jonathan?? Tentu saja ia tidak bisa menjawab kalimat suaminya tersebut. Nessa tidak mungkin menjawab jika Jonathan adalah mantan kekasih sekaligus cinta pertamanya, Dhanni bisa membunuhnya jika ia menjawab seperti itu, mengingat sikap suaminya tersebut yang suka seenaknya sendiri. Dan di sisi lain, Nessa tidak mungkin berbohong dan menjawab jika mereka hanya teman, Dhanni tidak akan percaya. Ya, Nessa sangat tau itu. Dan ketika Dhanni tidak percaya, Nessa tau jika Dhanni tidak akan tinggal diam.

 

Chapter 4

-Tak dapat jujur-

 

“Siapa Jonathan?”

Nessa belum juga menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Dhanni. Tubuhnya entah kenapa kaku seketika. Ia membatu masih dengan posisi membelakangi suaminya tersebut.

“Kamu nggak apa-apa kan Ness??”

Suaminya itu curiga, Nessa tau itu. Dhanni yang biasanya memanggilnya dengan panggilan sayang, kini berubah memanggilnya hanya dengan namanya saja.

Nessa membalikkan badannya yang masih terasa kaku, kemudian mencoba tetap tenang dan tersenyum sesantai mungkin. “Aku nggak apa-apa kok kak.”

Dhanni menatapnya dengan tatapan menyelidik. “Jadi.. Jonathan itu siapa?”

Pertanyaan Dhanni lagi-lagi membuat tubuh Nessa gemetar. Entah kenapa bisa seperti itu, Nessa sendiri tak tau. Yang Nessa tau hanyalah, dia tidak ingin suaminya tersebut mengetahui masalalunya bersama dengan Jonathan.

Dhanni mendekat ke arah Nessa, tapi entah kenapa secara reflek Nessa mundur satu langkah. Ada apa dengannya?? Dhanni kembali menatap Nessa dengan tatapan menilainya.

“Ness.. kamu pucat.”

Kemudian Nessa tak dapat mengingat apa-apa lagi ketika tiba-tiba pandangannya mengabur lalu menggelap bersama dengan kesadarannya yang ikut menghilang.

***

Dhanni tak berhenti berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali tangannya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Matanya menatap ke arah ranjang yang di sana masih terbujur tubuh Nessa yang lemah.

Nessa pingsan. Untung saja tadi Dhanni dengan sigap menangkap tubuh istrinya tersebut. Dokter pun tadi sudah di hubunginya dan sudah selesai memeriksa keadaan Nessa. Kata Dokter,  tidak ada yang salah, semua baik-baik saja, mungkin Nessa hanya kelelahan dan juga banyak pikiran. Memangnya apa yang di pikirkan istrinya tersebut?? Apa ada hubungannya dengan lelaki yang bernama  Jonathan??

Dhanni berpikir keras. Nessa pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan ia harus mencari tau apa sesuatu tersebut.

Untuk saat ini, Dhanni tidak akan mengganggu pikiran Nessa dengan pertanyaan-pertanyaan menekan seperti tadi. Ia akan berusaha bersikap sesantai mungkin di hadapan Nessa, bersikap seolah sudah melupakan hal tadi. Tapi tentu ia tidak akan tinggal diam, ia akan mencari tau sendiri, siapa Jonathan dan apa hubungannya dengan istrinya tersebut.

***

Nessa mengerjapkan matanya ketika kesadaran mulai menghampirinya. Kepalanya masih terasa pusing, bahkan kini ia merasa sedikit mual. Apa yang terjadi dengannya?? Nessa mengedarkan pandangannya dan berakhir pada sebuah jam yang menggantung di dinding kamarnya.

Jarum jam tepat berada pada angka tiga. Nessa mengernyit, jam tiga?? Jam tiga apa?? Kemudian pikirannya buyar ketika mendapati sosok dari balik pintu yang menuju ke arahnya dengan senyuman lembut yang terukir di wajah tampan sosok tersebut.

“Sore sayang, sudah puas tidurnya??” Dhanni menyapanya dengan lembut penuh perhatian.

Nessa masih bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?? Kenapa suaminya tersebut tiba-tiba kembali bersikap lembut padanya seakan tidak terjadi apa-apa??

“Aku kenapa Kak??”

Dhanni duduk di pinggiran ranjang. Kemudian mengusap lembut sebelah pipi Nessa. “Kamu pingsan, aku sudah memanggil dokter, katanya kamu kelelahan.”

Nessa sedikit panik, ia khawartir dengan bayi yang ada dalam kandungannya. “Tapi aku nggak apa-apa kan kak?? Bayinya..??”

Dhanni tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa sayang, kamu hanya perlu banyak istirahat.”

Nessa menghela napas lega. “Brandon gimana Kak??”

“Tadi mama sudah menjemputnya, dan mereka tetap akan pergi ke luar kota. Selanjutnya, aku memutuskan Brandon sementara akan tingga dengan Mama, aku nggak mau lihat kamu terlalu capek. Dan aku sudah mencari Asisten rumah tangga dan juga supir pribadi untuk kamu.”

“Kak, itu berlebihan.”

Dhanni menggelengkan kepalanya. “Nggak ada yang berlebihan jika itu untuk kamu, lagian aku nggak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa.”

Nessa menghela napas panjang, “Baiklah.” Kemudian Nessa terdiam sebentar, ia ingin kembali membahas topik tentang Jonathan, apa Dhanni akan marah??

“Kak.. Uuumm.. masalah tadi…” Nessa tampak ragu saat ingin menceritakan semuanya.

“Nggak usah di pikirkan, sekarang ayo makan, kamu pasti lapar.” Ucap Dhanni cepat memotong kalimat Nessa.

Nessa kembali menatap Dhanni dengan wajah bingungnya. Dhanni  seakan mengelak dari pembicaraan yang akan di bahas olehnya. Apa suaminya itu kini sudah melupakan pertanyaannya tentang Jonathan??

“Aku membuatkan Kamu sup ayam bawang, nggak tau bagaimana rasanya.” Ucap Dhanni lagi sambil menyendok sesuap sup yang sejak tadi berada di atas nampan yang sedang di bawanya. “Ayo buka mulutmu..”   ucapnya lagi sambil membawa sendok tersebut tepat di hadapan Nessa.

Nessa tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari suaminya tersebut. kemudian ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Dhanni.

“Kak….” Pekik Nessa kemudian. “Ini asin sekali.” Lanjutnya lagi.

“Ahh Yang bener??”

“Memangnya Kak Dhanni nggak nyoba dulu??”

Dhanni menggelengkan kepalanya cepat. “Kamu tau kan kalau aku nggak suka sayur, itu ada wortel dan teman-temannya, jadi mana mungkin aku mau mencobanya.”

Nessa mendengus kesal. “Terus.. kalau aku keracunan gimana?? Astaga, setidaknya coba kuahnya saja Kak..”

“Oke, kalau gitu biar aku buang saja.”

“Jangan..” larang Nessa cepat.

“Lalu??”

“Aku mau kita makan ini berdua.” Ucap Nessa  sambil menatap Dhanni dengan tatapan memohonnya.

“Enggak, aku nggak suka sup ayam bawang.”

“Ayolah.. please… bayinya sepertinya pengen Mama dan papanya makan sepiring berdua.”

Dhanni kemudian menatap Nessa sambil tersenyum. Ia kemudian mencubit dengan gemas hidung mancung milik Nessa. “Itu Cuma akal-akalan kamu saja.”

“Ayolah.. kita nggak pernah mesra-mesraan seperti dulu Kak..”

Dhanni memicingkan matanya pada Nessa. “Jadi kamu ingin kita bermesra-mesraan?? Kenapa nggak bilang dari tadi.”

Tanpa tau malu lagi Nessa bergelayut mesra pada lengan Dhanni. “Karena aku takut mendapat tatapan seperti itu lagi darimu Kak.”

“Tatapan seperti apa??”

“Tatapan seakan kamu nggak percaya sama aku, seakan kamu menuntut suatu penjelasan dariku.”

Dhanni membatu seketika. “Maafkan aku, dan lupakan soal tadi.”

“Aku bisa jelasin semuanya Kak.”

“Enggak.” Jawab Dhanni cepat. “Dengar Ness, kamu nggak perlu jelasin apa-apa lagi padaku. Lupakan semuanya, kamu nggak boleh terlalu banyak pikiran.”

Nessa terdiam sebentar, lalu menganggukkan kepalanya. Ya, yang palig utama kini adalah kesehatannya dan juga bayi yang berada dalam kandungannya. Nessa tak boleh memikirkan yang lain lagi.

Kemudian tanpa banyak bicara lagi Nessa memeluk tubuh Dhanni erat-erat. “Aku hanya takut kalau Kak Dhanni tidak akan percaya lagi padaku.”

Dhanni tersenyum kemudian mengusap lembut rambut panjang Nessa. “Aku percaya kamu Ness.. Ayo kita makan.”

Dan akhirnya keduanya berakhir dengan makan sepiring berdua.  Walau memang sup buatan Dhanni rasanya asin dan aneh, tapi kesuanya sekan tetap menikmatinya.

***

“Gue butuh  seseorang.” Ucap Dhanni yang saat ini sudah duduk di sebuah kafe dengan Ramma yang duduk di hadapannya.

Ramma memicingkan matanya. “seseorang buat apa?”

“Buat cari tau tentang seseorang.”

“Lo ada masalah??”

Dhanni mengangkat kedua bahunya. “Gue pikir Nessa menyembunyikan sesuatu dari Gue.”

“Dhan, udah deh, mendingan lo tanya langsung sama Nessa, lo nggak perlu cari tau sendiri. Kadang apa yang kita lihat belum tentu benar.”

“Sok bijak Lo.”

“Sialan..!!! Gue Cuma nasehatin Lo.”

Dhanni tertawa hambar. “Renno mana?”

“Dia semakin Gila. Uring-uringan nggak jelas.” Jawab Ramma dengan malas.

Dhanni kemudian berdiri. “Pokoknya gue minta tolong itu sama lo. Carikan gue orang yang bisa cari tau tentang seseorang yang sedang dekat dengan Nessa..”

“Gue akan carikan buat lo.” Ucap Ramma kemudian walau sebenarnya  Ramma sedikit ragu dengan keputusannya membantu Dhanni.

***

“Jadi Kak Dhanni kemana sekarang??” Tanya Dewi yang saat ini sedng sibuk membuat minuman untuk dirinya sendiri di dapur Apartemen Nessa. Dewi memang sering main ke apartemen Nessa begitupun sebaliknya.

“Tadi dia pamit pergi sebentar, aku nggak tau kemana.”

Dewi kemudian duduk tepat di sebelah Nessa.  “Sebenarnya ada apa Ness?? Kamu aneh sejak kemaren, pas balik dari Kafe seberang jalan, kamu jadi pendiam. Apa yang terjadi di sana??”

Nessa berpikir sebentar. Ia ingin bercerita dengan Dewi tapi entah kenapa rasanya sulit sekali membuka masalalu nya bersama dengan Jonathan. Tapi kini ia benar-benar butuh teman untuk bicara.

“Wi… pemilik kafe itu.. namnya Jonathan.”

Dewi mengernyit. “Pemilik kafe?? Aku kan Cuma minta kamu mencari tau bagaimana suasana dan makanan di sana Ness.. bukan cari tau pemiliknya. Lagi pula aku nggak mau tau siapa pemiliknya.”

“Jonathan itu mantan aku Wi..”

Dewi membulatkan matanya seketika. “Apa??”

Nessa memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya. “Enggak, ini Gila.. Astaga.. aku nggak tau apa yang terjadi.”

“Apa maksudmu??”

Nessa menghela napas panjang. “Kak Jo ingin berteman, dan aku menerima pertemanannya. Tapi gimana kalau Kak Dhanni tau?”

“Ness… harusnya kamu jujur sama Kak Dhanni.”

“Tapi dia akan cari tau siapa Kak Jo Wi.. Aku.. Aku nggak bisa jujur sama dia.”

“Kamu nggak perlu takut, lagian bukankah kalian hanya teman?? “

Nessa berpikir sebentar. Apa yang di katakan Dewi ada benarnya juga. Kenapa juga ia menyembunyikan hubungannya dengan Jonathan?? Bukankah mereka tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang?? Semua hanya masa lalu.

“Lagian Ness.. untuk apa sih kamu berteman sama dia? nambah-nambain masalah tau nggak.”

“Aku nggak bisa nolak Wi..”

“Kenapa?? Jangan bilang kamu masih suka sama dia.”

“Ya enggak lah..” Jawab Nessa dengan pasti. Ia yakin jika Cintanya kini hanya untuk suaminya, dan tidak terbagi dengan lelaki lain. “Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kami dulu.”

“Cukup dengan saling sapa Ness.. nggak perlu berteman.”

Lagi-lagi Nessa termenung. Ucapan Dewi ada benarnya juga. Ya, ia seharusnya tak perlu berteman dengan Jonathan. Tapi bagaimana?? Bukankah lelaki itu sudah ia beri kontaknya??

***

“Kak Dhanni dari mana tadi?” Tanya Nessa yang kini sudah membantu Dhanni membuka kemeja yang di kenakan suaminya tersebut.

“Nemuin ramma sebentar.”

“Kenapa?? Ada masalah??”

“Kita ada kerja sama, dengan Renno juga.”

“Oh ya??”

“Ya.. jadi nanti aku bakal sering ketemu sama mereka.”

Nessa tersenyum. “Walau nggak ada kerja sama, Kak Dhanni juga masih akan sering ketemu sama mereka.” Gerutu Nessa.

“Kenapa? Kamu nggak suka aku ketemu sama mereka??”

Nessa mengangkat kedua bahunya. “Bukannya nggak suka, Aku takut aja kalau Kak Dhanni ngumpul sama teman-teman Kak Dhanni, nanti akan banyak cewek-cewek yang melirik ke arah kalian.”

Dhanni tertawa seketika kemudian mencubit gemas hidung Nessa. “Istriku sekarang sudah nggak malu ngakuin kalau cemburu ya..”

“Aiisshh.. Kak Dhanni.. sakit tau..”

Dhanni kemudian memeluk tubuh Nessa. “Walau banyak yang melirikku, tapi kamu nggak perlu khawatir sayang. Kak Dhanni Cuma untuk Nessa, bukan untuk yang lain.”

“Isshh… mulai lebbay nya.”

“Nggak lebbay, ini kenyataan.”

“Ya, pasti karena ada maunya kalau udah ngerayu kayak gini.”

Dhanni tersenyum. “Kamu pasti tau apa mauku..”

“Enggak.. aku nggak mau.”

“Benarkah??” tanya Danni dengan nada menggoda. Lalu tanpa banyak bicara lagi Dhanni mengangkat tubuh Nessa begitu saja, membuat Nessa memekik karenba terkejut.

“Kak.. Apa yang Kak Dhanni lakukan?? Turunkan aku…”

Dhanni tertawa melihat ekspresi aneh yang di tampilkan istrinya tersebut. “Ya, aku kan menurunkanmu sayang.. Di sini, Di ranjang kita.” Ucap Dhanni yang kini sudah menurunkan Nessa di ranjang mereka lalu menindih tubuh istrinya tersebut.

Dhanni kemudian mulai menggoda Nessa dengan kecupan-kecupan kecil darinya. Membuat Nessa terkikik geli.

“Kak.. hentikan..”

“Ayolah.. anggap saja ini sebagai pemanasan.”

“Aku nggak mau pemanasan..” Ucap Nessa yang masih tak dapat menahan rasa gelinya saat Dhanni mulai menggoda sepanjang lehernya.

Dhanni menghentikan Aksinya seketika. Kemudian menatap Nessa dengan tatapan anehnya. Sebuah senyuman miring terukir begitu saja di wajah tampannya.

“Nggak mau pemanasan?? Jadi ingin menu utama, hemm??”

Nessa membulatkan matanya ketika tiba-tiba Dhanni bangkit lalu melucuti pakaian yang di kenakannya sendiri hingga lelaki itu polos tanpa sehelai benang pun. Astaga.. Suaminya itu sangat bergairah, bukti gairahnya bahkan terpampang jelas di hadapan Nessa membuat Nessa ternganga menatapnya.

“Kak Dhanniiiiiiiiiiiiii.” Teriak Nessa sambil menutup matanya.

Sedangkan Dhanni hanya mampu tertawa melihat kelakuan istrinya tersebut. tanpa banyak bicara lagi Dhanni kembali naik ke atas ranjang lalu mulai kembali menggoda istrinya tersebut. membuat Nessa kembali luluh karena bujuk rayu manisnya…

 

-TBC-

gimana lanjutannya yaa..??? jangan takut kisahnya jadi semakin rumit, aku juga sebenernya nggak suka kok kisah yang terlalu mbulet, jadi… yaaa tunggu aja lanjutannya.. hahahhahhah

Love Between Us – Part 7 (Gadis Manja Yang Lain)

Comments 5 Standard

image

Part 7
-Gadis manja yang lain-

Hari minggu Denny tetap bangun pagi hari seperti biasanya. Tapi tidak untuk minggu ini. Ia dilanda rasa malas, setelah mengantar Aira pulang tadi malam. Sesampinya di rumah, Denny langsung menghubungi Aira kembali. Mengajak Gadis itu bicara semalaman. Denny bahkan sempat menyanyikan sebuah lagu untuk Aira.

FlashBack

“Kamu hari ini berbeda..” Ucap suara di seberang dengan nada manjanya.

“Apa yang membuatku berbeda??” tanya Denny kemudian.

“Kamu nggak dingin kayak biasanya, dan kamu. Eumm, lebih romantis.” Ucap Aira yang terdengar sedikit malu-malu di telinga lawan bicaranya. Denny sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Kamu hanya belum mengenalku Aira.”

“Ya…  Dan aku ingin mengenalmu lebih jauh Den..”

“Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal.” Ucap Denny kemudian. Keduanya sejenak sama-sama terdiam seakan kecanggungan menyelimuti diantara mereka. “Aira.” Panggil Denny kemudian.

“Iyaa..”

“Emm… Apa kamu mau mendengarku menyanyi??” Aira terdengar tertawa di seberang. “Kamu bisa nyanyi??”

“Sedikit.”

“Baiklah, aku ingin mendengar kamu beryanyi.” Denny pun mulai memainkan gitarnya.

What day is it?

And in what month?

This clock never seemed so alive

I can’t keep up and I can’t back down

I’ve been losing so much time

Cause it’s you and me and all of the people with

Nothing to do, nothing to lose

And it’s you and me and all of the people and

I don’t know why I can’t keep my eyes offer you

All of the things that I want to say

Just don’t coming out right

I’m tripping on words, you got my head spinning

I don’t know where to go from here

Cause it’s you and me and there all of the people

With nothing to do, nothing to prove

And it’s you and me and all of the people and

I don’t why I can’t keep my eyes offer you

Something about you now

I can’t quite figure out

Everything she does is beautiful

Everything she does is right

Cause it’s you and me and all of the people

With nothing to do, nothing to lose

And it’s you and me and all of the people and

I don’t know why I can’t keep my eyes offer you

You and me and all of the people

With nothing to do nothing to prove and

It’s you and me and all of the people and

I don’t why I can’t keep my eyes offer of you

What day is it?

And in what month?

This clock never seemed so alive

You And Me – Lifehouse  

Lama Denny menyanyikan lagu untuk Aira, hingga ia sadari jika diseberang sudah sepi. Tidak terdengar lagi suara cekikikan tawa Aira seperti pertama kali ia menyanyikan lagu tersebut. Apa Aira sudah tertidur??.

“Aira…Aira..” Panggil Denny, tapi ternyata tidak ada jawaban. Ia kemudian tersenyum sendiri, Aira pasti sudah ketiduran. Gadis itu benar-benar lucu. Di sini dirinya sedang berdegup tidak menentu tapi di sana Aira malah asyik tertidur. Denny akan mematikan teleponnya, tapi kemudian Ia mngingat sesuatu. “Mimpi indah Aira…” Denny menelan ludahnya dengan susah payah saat akan mengucakan kalimat selanjutnya. “Aku sayang kamu.”

Kemudian dengan cepat Denny menutup teleponnya. Shit!! Semoga saja Aira tidak mendengar ucapannya yang menggelikan tersebut. Ia merebahkan tubuh di ranjangnya sembari menatap langit-langit kamar. Sedangkan bibirnya tidak berhenti  tersenyum.

Airaa……

Flasback End

Denny kembali menggelengkan kepalanya ketika mengingat kejadian tadi malam. Aira benar-benar membuatnya gila. Di raihnya ponsel yang berada di meja kecil di sebelah ranjangnya. Saat di buka, ternyata banyak sekali missedcall dari nomor yang sama. Siapa lagi jika bukan Aira. Tapi ada beberapa juga yang dari nomor adiknya, Clarista.

Untuk apa Clarista meneleponnya pagi-pagi??. Denny mengembalikan ponselnya di atas meja dan memilih untuk mandi terlebih dahulu. Tapi saat keluar dari kamarnya, seorang Gadis menghambur dalam pelukannya begitu saja membuatnya memekik karena terkejut. Itu adalah Gadis manja lainnya. Clarista, Adik kandungnya.

“Kakak……” Ucap Gadis tersebut masih dengan memeluk tubuh Denny.

“Cla.. Kamu ngapain di sini??” Denny menjauhkn tubuh Clarista yang sedang memeluknya, adiknya itu benar-benar terlampau manja.

“Aku mau ngajak Kakak kencan.”

“Enggak, aku sibuk.”

“Ayolah… ini kan minggu..” Rengek Clarista.

Denny menggelengkan kepalanya. “Oke, tapi sebentar saja dan hanya jalan. Aku nggak mau ketemu sama teman-teman anehmu dan mengenalkan diri sebagai kekasihmu.”

“Oke bosss.. Kak Denny memang yang terbaik..” Ucap Clarista sambil mengecup pipi kakaknya tersebut. Denny memilih mengacak-ngacak poni milik Clarista.

***

Seketika mata Aira terbuka lebar. Mengingat semalam telinganya tidak salah menangkap suara. “Aku sayang kamu.” . Kata-kata itu terngiang-ngiang. Ia mencoba mengerjapkan matanya yang masih mengantuk pagi ini. Aira meyakinkan diri itu adalah sebuah mimpi. Bagaimana bisa Denny yang dingin mengucapkan kata-kata semanis itu.

“Itu hanya mimpikan Mimo??” Desahnya sembari memeluk boneka sapi miliknya. “Nggak mungkin Denny berkata seperti itu!” Bibirnya mengerucut.

“Kak Aila!!!” Pintu kamarnya diketuk dengan keras. Ia segera beranjak dari ranjangnya. Aira membukakan pintu dan tara… Bunga adik bungsunya tersenyum manis. “Bunga mau ketemu Mimo” Ucapnya lucu. Aira menepuk jidatnya, Mimo selalu direbut oleh Bunga. Mungkin ia akan mencari boneka percis sama dengan Mimo agar Mimo miliknya terselamatkan dari tangan Bunga. Bunga langsung berlari lalu naik ke ranjang mengambil Mimo kesayangannya. Dengan gemas ia memeluk boneka sapi itu.

“Bunga sudah mandi belum?” Aira berjalan mendekati Bunga. Ia duduk di pinggir ranjang. Bunga menggelengkan kepalanya. Aira melirik baju yang dikenakan adiknya masih piyama frozen, memang belum. “Kita mandi bareng yuk. Kita buat busa yang banyak”

“Mau!!” Teriak Bunga sambil loncat-loncat di atas ranjang. Aira menuntun Bunga ke kamar mandi sebelumnya ia menaruh Mimo. Tidak mungkin Mimo ikut mandikan?.

***

Denny dan Clarista akhirnya sampai di sebuah Mall yang letaknya tidak jauh dari kontrakan miliknya. Seperti biasa, mereka berjalan dengan mesranya layaknya sepasang kekasih. Clarista tidak berhenti bergelayut di lengannya. Denny sendiri pun merasa sangat nyaman dengan apa yang ia lakukan adiknya.

“Kak.. Ayoo sini.” Ajak Clarista.

Denny menatapnya dengan tatapan curiga.

“Ngapain kita ke sana?? Kamu mau belikan sesuatu buat pacar kamu??” Tanya Denny memincingkan matanya.

“Aku nggak punya pacar tau. Aku cuma mau belikan sesuatu buat Kakak.”

&Nggak, Kakak bisa beli sendiri.” Ucap Denny menghentikan langkahnya ketika mereka akan memasuki sebuah toko yang menjual berbagai macam kebutuhan Pria.

“Ayolah Kak.” Bujuk Clarista

“Pasti Mama kan yang menyuruh kamu??”

“Bukan Kak, ini aku sendiri yang mau belikan Kak Denny. Lihat kemeja Kakak udah jelek, terlihat nggak sekeren dulu lagi tau.” Gerutu Clarista.

Denny tersenyum. Ia sangat tau jika adiknya tersebut sangat menyayangi dan perhatian padanya.

“Dengar, ini sudah menjadi pilihan Kakak. Kakak hanya ingn menjadi orang yang mandiri dan sederhana seperti saat ini.”

“Tapi aku sedih dan nggak tega lihat Kakak seperti ini.” Rengek Clarista.

Denny menghela napas panjang.

“Baiklah, kamu boleh membelikan apapun yang kamu mau untuk Kakak.”

“Yeeyyy!!!”  Clarista bersorak bahagia.

Akhirnya mereka memasuki toko tersebut memilihkan banyak kemeja untuk Denny. Clarista juga tidak lupa membelikan beberapa dasi dan juga sepatu. Ia ingin Kakaknya selalu terlihat keren dan tampan di mata banyak orang.

“Ini berlebihan Cla..”

“Biarin.” Ucap Clarista sambil membayar barang belanjaannya pada kasir. “Kak, setelah ini temani aku makan siang ya.”

“Pasti dengan teman-teman kamu itu.”

Clarista terkikik geli.

“Iya, habisnya mereka menduga jika aku dan Kak Denny sudah putus karena kakak ninggalin aku. Aku nggak mau di remehkan seperti itu.”

Denny mencubit gemas hidung adiknya tersebut.

“Itu salah kamu sendiri, kenapa juga dulu kamu kenalin Kakak pada mereka sebagai pacar kamu.”

“Habisnya pacar mereka keren-keren Kak..”

“Kalau gitu carilah pacar yang lebih keren.”

“Huhh… Sebelum aku pergi cari pacar, mungkin papa sudah mengikat kaki dan tanganku dan mengurung di dalam kamar.” Gerutu Clarista. Denny tertawa lebar.

“Oke, ayo kita pergi menemui teman-temanmu itu.” Mereka pun pergi tanpa menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang selalu mengawasi mereka dari kejauhan.

Dinda mengusap dadanya yang terasa sesak. Bagaimana mungkin Denny seperti itu??. Pria yang disukainya ternyata tidak lebih dari seorang Pria brengsek pada umumnya. Dinda tidak sengaja bertemu dengan Denny saat ia ke sebuah pusat perbelanjaan.

Ia ingin menghampiri Denny, tapi diurungkan niatnya karena ternyata ada seorang Gadis bergelayut mesra di lengan Denny. Siapa Gadis tersebut??? Bukankah kemarin Denny mengakui jika sedang menjalin hubungan dengan Aira?? Kenapa sekarang Denny jalan dengan Gadis lain?? Pikirnya saat itu. Akhirnya Dinda memutuskan untuk mengikuti kemanapun Denny dan Gadis itu berjalan.

Mereka menuju ke sebuah toko perlengkapan Pria. Dan ternyata Gadis itu membelanjakan banyak sekali pakaian-pakaian mahal untuk Denny. Apa Denny selama ini hidup seperti itu??? Hidup dari uang wanita-wanita yang menyukainya?? Sial..!!! Jika seperti itu berarti selama ini ia tertipu dengan sikap pendiam dari Denny.

Dinda kemudian masih setia mengikuti kemanapun Denny dan Gadis tersebut pergi. Sesekali ia menggerutu dalam hati karena tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan Denny dan Gadis itu. Hingga tibalah ia di sebuah restoran. Ternyata Denny bertemu dengan teman-teman Gadis itu. Mereka pasti benar-benar menjalin suatu hubungan. Lalu bagaaimaana dengan dirinya?? Dan Aira??. Dinda kemudian sedikit menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. Setidaknya setelah ini Aira akan menyingkir dari sisi Denny. Pikirnya sambil kemudian mengeluarkan smartphone miliknya.

***

“Aira, dari tadi Mama perhatikan kamu selalu memegang handphone mu kenapa?” Tanya Zeeva yang hendak duduk di kursi taman. “Sedang menunggu telepon dari seseorang? Denny?.” Pipi Aira merona, pertanyaan Zeeva memang benar. Dari pagi Denny belum menghubunginya. Ada kekhawatiran kenapa Pria yang status kekasihnya itu tidak mengabarinya apapun padahal ini adalah hari minggu. Mereka sedang berada di taman dibelakang rumah. Dengan ditemani secangkir teh madu.

“Iya, Ma” Jawab Aira malu-malu.

“Dia pasti akan meneleponmu, sayang. Nanti malam Ayah mau kita makan diluar. Dan kamu harus ikut!” Baru saja Aira ingin memikirkan alasan untuk tidak ikut. “Naren naik kelas, kita harus merayakannya. Kamu tidak mau kan Naren marah?”

“Baiklah, Ma” Jawabnya pasrah. “Apa aku boleh mengajak Denny, Ma” Bola matanya seakan berbinar-binar. Ini kesempatan untuk Denny lebih dekat dengan keluarganya terutama Ayahnya. Ia ingin membuktikan Denny bukanlah seperti Wisnu yang matre.

“Ajaklah, sayang. Mama pikir akan lebih seru jika banyak yang datang. Dia sepertinya baik”

“Denny memang baik, Ma” Timpalnya dengan membayangkan bagaimana Denny memperlakukannya selama ini. Aira memaklumi jika Denny terlalu kaku jika berdekatan dengannya. Namun Aira bisa merasakan semua yang dilakukan Denny tulus. Zeeva tersenyum melihat putrinya sedang berbunga-bunga. “Ma”.

“Ya?”

“Apa Mama nggak mau menambah adik untukku??” Tanya Aira dengan cengiran. Mata Zeeva seketika terbelalak dan mulutnya menganga. Dasar putri yang usil. Jahilnya tidak pernah hilang walaupun sudah beranjak dewasa. Dengan kaki yang ancang-ancang Aira kabur berlari menuju ke dalam rumah.

“AIRA!!!” Teriaknya dengan berkacak pinggang. Di usianya seperti tidak memungkinkan untuk hamil lagi 2 anak sudah cukup yang lahir dari rahimnya. Ia ingin menggendong cucu saja dari Aira. Mempunyai anak lagi akan memulai kerepotan lagi baginya. Tubuh Zeeva tetap sama seperti dulu meskipun sudah melahirkan dan usia yang bertambah. Ia melakukan perawatan untuk menunjang penampilannya sebagai pendiri salah satu perusahaan mode.

Di dalam rumah Aira tertawa terbahak-bahak. Wajah lucu Zeeva terpampang jelas terrekam dibenaknya hingga ia terus menertawakan Mama Tirinya.

***

Denny masih duduk dengan gelisah. Adiknya ini benar-benar menyusahkan. Ini sudah lebih dari satu jam mereka makan siang dengan teman-teman Clarista. Bukannya apa-apa, teman-teman Clarista memandangnya dengan tatapan mengagumi, dan Denny tidak suka itu. Belum lagi kenyataan jika ia harus berakting sebagai kekasih dari adiknya sendiri. Ya ampun!!! Denny merogoh saku celananya. Dan betapa bodohnya ia baru menyadari lupa membawa ponselnya. Padahal ia sangat ingin menghubungi Aira. Gadis itu sekarang sedang apa ya, pikirnya.

“Sayang.. Kamu kenapa?? Kok kayaknya gelisah?” Tanya Clarista dengan mesranya. Denny sebenarnya geli dengaan panggilan Clarista tersebut. Adiknya itu benar-benar kelewatan.

Denny menatap jam tangannya seperti orang yang sedang sibuk pada umumnya. “Aku ada kerjaan jam satu nanti. Jadi mungkin aku bisa pulang lebih dulu.” Ucap Denny kemudian.

Clarista memainkan matanya padanya. Ia tidak menyangka jika kakaknya tersebut akan berbicara seperti itu. Padahal setelah makan siang, mereka berencana untuk belanja bersama dengan teman-temannya. Tapi kenapa kakaknya itu malah ingin pulang duluan??

“Ahh iya.. Aku lupa. Sore nanti kami akan ke suatu tempat. Iya kan sayang..” Ucap Clarista kemudian. Denny hanya mampu menganggukkan kepalanya. Clarista kemudian berpamitan dengan teman-temannya. Ia tidak mungkin melanjutkan acaranya tanpa Denny yang menemaninya karena dua temannya tersebut akan belanja dengan kekasihnya juga.

Denny dan Clarista pun keluar dari restoran. Denny keluar dengan wajah leganya sedangkan Clarista dengan wajah yang sudah di tekuk.

“Ayo kita pulang.” Ajak Denny dengan tangan menuntun Clarista.

“Kakak sebenarnya mau kemana sih?? Nggak asyik banget.”

“Aku nggak terlalu suka dengan keramaian Cla.”

“Aahhh selalu saja seperti itu, nggak asyik.” Denny tersenyum lalu mulai mengrangkul bahu Clarista.

“Sudah, jangan merajuk lagi. Ayo pulang, lain kali kita kencan lagi.” Ucap Denny yang kemudian membuat Clarista kembali senang. Di sisi lain, seorang Gadis masih memperhatikan mereka dengan tatapan tajam penuh emosinya. Bibir Gadis itu tidak berhenti menggerutu karena kesal bercampur dengan sakit hati.

Kak Denny, bagaimana mungkin kamu bisa sejahat ini??? pikir Gadis itu.

-Tbc-

Maaf bgt yaa telat post… alasannya masih sama… ini cerita di kerjakan 2 orang jadi pastinya waktu kamilah yg menjadi kendala… dan makasih juga buat yg udah mau nunggu dan baca sampek chapter 7 ini.. saya dan sahabat saya @cutelfishy akan berusala sebaik2nya mengerjakan cerita ini sampai ending… *kisshug.. ( ̄ε(# ̄)︴

The Married Life (Lady killer 2) – Chapter 3 (Siapa Jonathan?)

Comments 9 Standard

011

The Married Life (Lady Killer 2)

 

Maaf bgt yaaa kalo aku nggak bisa edit2 Draftnya, ternyata memang nggak sempat. ini aja aku update lebih awal takut nanti malam nggak keburu, karena… apa lagi jika bukan kesibukan ini.. hehehhehe jadi mohon maklumi kalo banyak sekali Typonya yaa.. enjoy reading..

 

“Ness.. Aku mencarimu karena aku ingin kita kembali seperti dulu.. Aku ingin Kamu menjadi kekasihku lagi dan Aku akan segera melamarmu menjadi istriku.”

Nessa benar-benar tercengang dengan apa yang Ia dengar. Bagaimana mungkin lelaki di hadapannya ini mengucapkan kalimat seperti itu padanya secara terang-terangan?? Apa Ia masih terlihat seperti seorang Gadis?? Astaga.. Ia sudah bersuami, sudah memiliki jagoan kecil dan kini sedang hamil anak kedua, Bagaimana mungkin mantan pacar nya itu terang-terangan ingin melamar menjadikan Ia sebagai istrinya??

***

Chapter 3

-Siapa Jonathan?-

 

Nessa melepaskan paksa genggaman tangan Jonathan.Sambil tersenyum Ia berkata. “Maaf Kak Jo, Aku nggak bisa.”

“Kenapa Ness?? Apa Kamu sudah nggak sayang lagi sama Aku??”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Iya kak. Perasaanku sudah hilang dengan berjalanya waktu. Maaf..”

Nessa kemudian berdiri dan akan meninggalkan tempat tersebut. Tentu saja Ia rtidak ingin terlalu lama berada di sana. Dimana ada Seorang Jonatha, Lelaki yang dulu sangat mempengaruhinya.

“Aku akan membuatku mencintaiku lagi Ness..”

Nessa menggelengkan kepalanya. “Tidak akan bisa Kak, Karena Aku sudah terlanjur Cinta mati dengan seseorang.”

Ekspresi Jonathan tampak mengeras. “Siapa orang itu??”

“Suamiku sendiri.” Nessa kemudian tersenyum kearah Jonathan yang ekspresi wajahnya nberubah memucat karena jawaban dari Nessa. “Bagaimanapun juga, Aku senang bertemu kembali dengan Kak Jo..” Ucap Nessa yang kemudian kembali melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Jonathan.

“Ness..” Panggilan lembut itu menghentikan kaki Nessa. “Kita masih bisa berteman bukan??” Nessa membatu seketika. Berteman?? Bagaimana  mungkin???

Nessa kemudian membalikkan badanya dan tersenyum ke arah Jonathan. “Tentu saja Kak..”

Tanpa banyak bicara lagi Jonathan berlari ke arah Nessa dan memeluk Nessa erat-erat. “Thanks Ness..” Sedangkan Nessa hanya mampu diam tanpa sedikitpun menggerakkan tubuhnya.

 

*Back to Reality

Nessa menghela napas panjang  ketika mengingat apa yang terjadi tadi siang dengan Jonathan. Ia kemudian memekik ketika sepasang lengan itu melingkari tubuhnya dari belakang.

Itu Dhanni.. Suaminya.

Dhanni menyandarkan dagunya pada pundak Nessa. Telapak tangannya sesekali mengusap perur Nessa yang masih datar.

“Kamu ada masalah?”

“Enggak kok Kak.”

“Jangan bohong.”

Nessa kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Dhanni. Mengusap lembut pipi Dhanni sesekali membenarkan tatanan rambut suaminya tersebut.

“Kak Dhanni ganteng.” Ucap Nessa sambil sedikit tersenyum manis.

“Jangan mengalihkan pembicaraan sayang..”

Nessa kemudian terkikik. “Aku nggak ada apa-apa Kak.. Beneran. Mungkin Cuma capek karena bawaan hamil.”

“Capek?? Aku bahkan belum meminta jatah.” Gerutu Dhanni yang kemudian mendapatkan hadiah cubitan dari Nessa.

Dhanni kemudian memeluk erat tubuh Nessa. Sesekali ia mengecup puncak kepalanya dan juga mengusap lembut rambut panjang Nessa.

“Kalau ada apa-apa, bilang saja sayang. Jangan ada rahasia di anatara kita. Ingat, kita sudah jadi satu.”

“Iya kak, Aku mengerti.” Ucap Nessa sambil menghirup dalam-dalam aroma suaminya tersebut.

***

Jonathan melangkahkan kaki menuju ke ranjang besarnya. Ia melemparkan diri di sana sambil sesekali menghela napas panjang. Entah apa yang di rasakannya kini. Bertemu dengan Nessa, wanita yang sangat di cintainya adalah sebuah kebahagiaan untuknya. Tapi bertemu dengan status yang sudah berbeda membuatnya merasa sedih.

Nessa sudah menikah.

Kenyataan itu entah kenapa seakan menyayat hatinya. Mampukah ia melihatb wanita yang di cintainya bahagia dengan lelaki lain??

Jonathan bertemu dengan Nessa saat mereka sama-sama sekolah di salah satu sekolah menengah atas di Jogja. Entah apa yang saat itu membuat Jo melirik pada sosok Nessa. Sosok yang saat itu sangat biasa-biasa saja bahkan terkesan tomboy di matanya.

Hubungan mereka berjalan mulus saat itu. Jo begitu mencintai Nessa dan sebaliknya, Nessa juga terlihat sangat mencintai Jonathan.

Hingga akhirnya, Jonathan harus melanjutkan sekolah di luar negri seperti apa yang di perintahkan orang tuanya. Saat itu mereka masih sama-sama saling menghubungi satu sama lain, tapi dengan berjalannya waktu, hubungan mereka terputus begitu saja. Tidak ada komunikasi secara pasti.

Mungkin saat itu Jo cukup lelah dengan hubungan jarak jauh, atau mungkin juga Nessa yang tak sanggup lagi menunggu kembalinya Jo ke sisinya. Akhirnya, hubungan mereka putus, keduanya sama-sama saling menghilang tanpa kabar masing-masing.

Kemudian sekitar satu tahun yang lalu, ketika  Jo pulang dari luar negri dan menemukan kenangannya kembali bersama dengan Nessa.

Ia merindukan gadis itu….

Jo akhirnya memutuskan untuk kembali mencari Nessa.  Mendapatkan wanita itu kembali dan memperistrinya. Selama ia putus dengan Nessa, ia seakan tidak pernah mendapatkan pasangan yang cocok seperti saat menjalin kasih dengan Nessa. Dan Jo mulai berpikir, jika mungkin saja jodohnya adalah seorang Nessa Arriana.

Berbulan-bulan ia mencari sosok tersebut dengan hasil Nol besar. Nessa seakan menghilang dan tidak bisa lagi ia temukan. Jo kemudian memutuskan untuk tinggal dengan kakaknya di jakarta, mungkin saja di sana ia bisa mendapatkan kabar tentang Nessa.

Kemudian harapan itu kembali datang, ketika tiba-tiba sosok yang ia cari seakan datang menemuinya. Nessa menjelma menjadi sosok yang sangat cantik dengan penampilan yang berbeda. Wanita itu terlihat lebih dewasa, lebih kalem, dan entah kenapa ia melihat sosok keibuan pada diri Nessa yang membuat jonathan tak bisa menahan dirinya saat itu.

Ia ingin memiliki seoarang Nessa Arriana lagi….

Tapi seperti terbang ke awan lalu di hempaskan dengan keras, saat ia mendengar kalimat Nessa saat itu.

“Aku sudah terlanjur cinta mati dengan seseorang…. Suamiku sendiri…”

Kalimat Nessa tersebut seakan selalu terngiang di telinga Jonathan, seakan selalu menari-nari dalam pikirannya. Ia tidak suka dan ia tidak bisa menerima kenyataan itu. Nessa hanya boleh di miliki oleh dirinya, dan ia harus bisa merebut Nessa kembali ke sisinya.

‘Bruuuaaakkk…’

Jonathan terkesiap ketika mendengar suara berisik di sebelah kamarnya, Akhirnya ia bangkit dan menuju ke sumber suara tersebut yang ternyata datang dari kamar sang Kakak.

“Kak.. Kakak sudah pulang??” Tanya Jonathan sambil mengetuk pintu kamar kakaknya tersebut. Jo menguping dan terdengar suara tangis dari dalam. Tangis di sertai dengan sedikit jeritan.

Seketika itu juga Jo panik. Kakaknya itu memang sering sekali seperti itu karena dulu sempat depresi karena di putuskan oleh lelaki yang sangat di cintainya.

Dengan sekuat tenaga, Jo mendobrak pintu kamar kakaknya tersebut. Dan mendapati kakaknya itu sedang menangis di lantai dengan banyak sekali pigura-pigura foto yang pecah berserahkan di sebelahnya.

“Kak Erly..” teriak Jo sambil berlari ke arah kakaknya lalu memeluk kakaknya tersebut. “Apa yang terjadi? Kenapa kakak seperti ini lagi??”

“Dia lebih cinta dengan istrinya Jo… Katakan, aku masih kurang apa?? Kenapa dia masih belum mau kembali padaku??” kakaknya tersebut kembali histeris.

Jonathan hanya mampu menenangkan kakaknya tersebut. Kemudian  ia menatap sebuah foto dimana di sana ada Kakaknya dengan seorang lelaki tampan sedang bergandeng mesra.

“Lupakan dia kak… karena saat kita melupakan seseorang, Tuhan akan menggantikannya dengan yang baru.” Ucap Jonathan pada Erly. Secara tidak langsung, Jonathan juga membisikkan kata tersebut pada dirinya sendiri.

Jonathan tersenyum kecut, seakan menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal sebijak itu pada Kakaknya, sedangkan ia sendiri tidak yakin mampu melupakan wanita yang dicintainya karena wanita itu sudah memiliki suami??

***

Nessa masih sibuk memakaikan dasi pada Dhanni sedangkan Dhanni sendiri tidak berhenti menggoda Nessa dengan sesekali menggelitik mesra punggung istrinya tersebut.

“Kak…” Ucap Nessa sambil menatap Dhanni dengan tatapan membunuhnya.

“Aku kangen sayang.”

“Berhenti nggombal.”

“Aku nggak nggombal, aku emang kangen. Sudah lama kita nggak…” Dhanni menggantung kalimatnya.

“Sudah selesai. Ayo keluar.” Ajak Nessa sambil mencoba melarikan diri dari Dhanni.

Tapi kemudian Dhanni dengan sigap meraih tubuh Nessa dalam pelukannya. “Mau kemana sayang..”

“Brandon harus sarapan Kak.”

“Dia belum bangun.”

“Aku akan membangunkannya. Mama sebentar lagi kemari.”

Dhanni mengangkat sebelah alisnya. “Kemari? Untuk apa??”

“Untuk menjemput Brandon, Brandon akan di ajak ke jogja mungkin dua atau tiga minggu, belum pasti juga berapa lamanya.”

Dhanni kemudian menjauhkan dirinya. “Lalu kamu mengijinkannya??”

“Sebenarnya aku melarang, tapi Mama memohon kak, jadi….”

Dhanni sebenarnya tidak suka. Rasa tidak sukanya itu lebih karena rasa khawatir dengan putera pertamanya tersebut. Ia tidak suka Brandon pergi dengan neneknya tanpa dirinya atau Nessa.

“Boleh yaa.. Aku kasian sama Mama kak.. dia sudah memohon.”

Apa boleh buat, Dhanni juga tidak mungkin melarang sang nenek mengajak cucunya sendiri. Tapi kemudian sebuah ide terlintas begitu saja di kepalanya.

“Oke, aku akan mengijinkannya, dengan satu syarat.” Ucap Dhanni kemudian.

“Syarat?? Apa syaratnya??”

“Kamu tidak boleh menolakku nanti malam.” Bisik Dhanni dengan nada sensual tepat di telinga Nessa.

Nessa membulatkan matanya seketika. Astaga.. bagaimana mungkin ia memiliki suami yang super mesum seperti seorang Dhanni Revaldi??

***

Ponsel Nessa seakan tidak berhenti berdering sebelum sang memiliki ponsel tersebut mengangkat teleponnya. Sedangkan Nessa sendiri kini masih sibuk menyuapi Brandon.

“Sayang, siapa yang menelepon?? Berisik sekali.” Gerutu Dhanni yang masih duduk di sofa sambil membaca koran paginya. Ia belum juga berangkat ke kantor karena harus menunggu mertuanya menjemput Brandon.

“Angkat saja Kak, aku sibuk.”

Dengan enggan Dhanni meraih Ponsel Nessa yang berada di meja tepat di hadapannya. Ia mengernyit saat mendapati nomor baru sebagai pemanggilnya.

“Halo..” Ucap Dhanni.

“Halo..!!  Maaf mengganggu, emm Nessa nya ada??” Ekspresi Dhanni mengeras keti ka mendengar suara di seberang. Suara seorang lelaki yang sedang mencari istrinya.

“Ada, ini siapa?”

“Saya Jonathan.”

“Jonathan siapa?”

“Teman sekolah Nessa yang tidak sengaja bertemu lagi dengannya,” ada jeda sebentar lalu suara di seberang tersebut mulai berbicara lagi. “Kalau boleh tau, ini siapa??”

“Saya suaminya.”

“Ohh.. Maaf mengganggu, saya hanya ingin menanyakan sesuatu dengan Nessa.”

“Ya, santai saja. Nessa masih sibuk. nanti bisa telepon lagi.”

“Terimakasih.” Ucap suara di seberang. Kemudian tanpa banyak bicara lagi Dhanni menutup telepon tersebut.

“Siapa Kak??” Tanya Nessa yang sudah selesai menyuapi Brandon.

“Jonathan, teman kamu katanya.” Ucap Dhanni tanpa menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya.

Nessa membatu seketika. Astaga.. Untuk apa juga lelaki itu menghubunginya? Dan Dhanni, kenapa ekspresi suaminya itu kini berubah tak terbaca?? Apa yang di pikirkan suaminya itu??

“Aku menyuruhnya telepon lagi nanti.” Ucap Dhanni lagi masih dengan nada datarnya.

“Oh.. Baiklah.” Jawab Nessa sambil membalikkan tubuhnya. Ia ingin menghindar dari hadapan Dhanni. Entah kenapa ekspresi Dhanni yang seperti itu membuatnya enggan berdekatan. Sudah sangat lama ia tidak melihat suaminya memasang ekspresi datar tak terbaca yang membuat hawa di sekirtarnya terasa mencekam.

“Mau kemana?”

Suara Dhanni membuat Nessa menghentikan langkahnya. “Aku mau menyiapkan perlengkapan Brandon.”

“Tidak, kamu hanya mau menghindariku.” Perkataan dhanni sedikit terdengar tak enak di telinga Nessa.

“Menghindar untuk apa?? Aku nggak ngerti apa yang…”

“Siapa Jonathan?”

Pertanyaan Dhanni membuat Nessa menghentikan kalimatnya. Rasa panik langsung menyerangnya begitu saja. Siapa Jonathan?? Tentu saja ia tidak bisa menjawab kalimat suaminya tersebut. Nessa tidak mungkin menjawab jika Jonathan adalah mantan kekasih sekaligus cinta pertamanya, Dhanni bisa membunuhnya jika ia menjawab seperti itu, mengingat sikap suaminya tersebut yang suka seenaknya sendiri. Dan di sisi lain, Nessa tidak mungkin berbohong dan menjawab jika mereka hanya teman, Dhanni tidak akan percaya. Ya, Nessa sangat tau itu. Dan ketika Dhanni tidak percaya, Nessa tau jika Dhanni tidak akan tinggal diam.

 

-TBC-

Gimana lanjutannya yaa..??? hahahhahaha Baver.. baverrrrr……

 

Passion Of Love – Chapter 3

Comments 6 Standard

Skkm

Sang Kupu-kupu Malam

 

*Remake Fansfic korea The passionnate Of Love -Banyak mengandung unsur dewasa-

Haii.. maaf sebelumnya yaaa… hrusnya aku Update TLK 2 dulu, tapi karena siang ini anakku nangis ngajak renang, makanya aku nggak sempat lagi benerin draftnya.. hehehhe daripada aku nggak jadi update, maka akuupdate ini aja dulu yaa… Untuk Kak Dhanni (TLK 2), inssyaa allah Besok sore sedangkan Mas Yoga (SPH) besok sorenyaa lagi.. oke.. enjoy reading..

 

 

Chapter 3

 

Tanpa berfikir panjang lagi Fiona memunguti pakaiannya, mengenakannya kembali, lalu keluar dari apartemen Ben tanpa pamit. Baginya semua hutang budinya sudah lunas. Masih dengan bertelanjang kaki, Fiona berjalan menuju halte bus  terdekat tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Dia masih bingung, kenapa perasaaannya menjaadi kacau seperti itu. Bukankah dia juga sering di perlakukan seperti itu?? Setelah naik bus. Fiona menuju ke Rumahnya mengambil beberapa potong pakaian lalu kembali ke rumah sakit.. Ia ingin bersama Marsha, satu-satunya orang yang sudah seperti kakaknya sendiri.

Sesampainya di depan kontrakannya, betapa terkejutnya Fiona memandang seorang lelaki yang sedang duduk gelisah menunggunya, karena saat lelaki itu melihatnya dia langsung berdiri dan menghampirinya.

“Kamu dari mana saja? Apa kamu tau.. semalaman ini aku mencarimu kemana-mana menungguimu di tempat kerjamu tapi kamu tidak kunjung datang, Kamu dari mana saja??” Lelaki itu bertanya dengan nada meninggi, menunjukkan jika Ia marah, dan kelihatannya dia sangat khawatir. Fiona hanya bisa tercengang melihat sikap dari lelaki tersebut.

Dia adalah Erlangga. Seorang lelaki tampan, dewasa yang sangat sayang dan cinta kepada Fiona. Namun Fiona tak pernah mau menerima cinta Angga karena Fiona sangat menghormatinya. Sebenarnya Fiona juga mempunyai perasaan lebih kepada Angga, Hanya saja, Fiona mengingkarinya, menyembunyikannya di dalam lubuk hatinya yang paling dalam karena Ia merasa tidak pantas untuk Lelaki baik seperti Angga, Fiona lebih menganggapnya sebagai Kakak atau pahlawan yang sering ada untuknya, membantunya di saat dia mengalami kesulitan. Tapi dimanakah Angga semalam…? Ia  sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota selama 3 hari.

Bukannya menjawab, Fiona malah langsung menghambur kedalam pelukan Angga sambil menangis. Angga pun semakin khawatir di buatnya.

“Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu padamu..?” Tanyanya sambil meremas kedua bahu Fiona, menjauhkan diri dari pelukan Fiona, dan menatap Fiona dengan tajam.

“Enggak, aku nggak apa-apa… Aku cuma merindukanmu.” Jawab Fiona sambil memeluknya kembali.

“Kamu bohong.”

“Enggak.”

“Fiona, aku sudah mengenalmu lama, kalau kamu berbohong, kamu tidak akan berani menatap mata orang yang sedang kamu bohongi, karena kamu tak dapat menyembunyikan kebohongan itu dari matamu.” Ucap Angga, kali ini dengan membalas pelukan Fiona, dan membelai punggung Fiona. “Aku juga sangat merindukanmu..” Lanjutnya lagi, sambil sedikit mencium rambut Fiona.

“Kak Angga..  Kak Marsha melahirkan tadi malam.” Kata Fiona menjelaskan ketika mereka sudah duduk di ruang tamu di kontrakannya.

“Apa? jadi itu sebabnya kamu tidak pulang semalaman?” Tanya Angga yang setengah kaget.

Fiona hanya dapat menganggukkan kepalanya. “Kak.. Aku lelah..” Kata Fiona sambil berbaring di sofa panjang di ruang tamunya, dengan berbantalkan paha Angga.

“Ya,,, Aku tau.. tidurlah.. Aku akan menemanimu di sini.” Katanya sambil membelai-belai rambut Fiona.

Kalau ada orang yang melihat mereka, pasti orang itu akan berfikir bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih yang saling menyayangi. Ya, sebenarnya mreka berdua sangat dekat, saking dekatnya sampai kelihatan sebagai sepasang kekasih. Fiona sering bermnja-manja pada Angga layaknya seorang adik pada kakaknya sedangkan Angga sering memanjakan Fiona layaknya seorang kekasih. Terkadang, Fiona juga menganggap Angga sebagai kekasihnya. Namun perasaan tersebut kembali ia tepis, mengingat kebaikan, kelembutan, dan kasih sayang Angga padanya membuat ia merasa tak pantas mencintai ataupun di cintai Angga karena status sosialnya yang hanya bekerja sebagai wanita penghibur.

Anggaa pun demikain, dia sangat berbeda dengan para lelaki di sekitar Fiona yang hanya menganggap Fiona sebagai ‘tubuh yang bisa di beli’, atau sebagai wanita murahan. Angga malah menganggap Fiona sebagai harta yang harus di lindungi, wanita yang harus di hormati., Angga tak pernah menyentuh Fiona, bahkan untuk sekedar ingin menciumpun Angga meminta ijin dulu padanya. Bukannya Angga tidak tertarik dengan kemolekan tubuh Fiona, Percayalah, semua lelaki yang melihatnya pasti ‘Menginginkanya’, namun Angga dapat menahannya,, sampai Fiona benar-benar bersedia menikah dengannya. Angga tak mau di samakan dengan lelaki lain yang hanya menginginkan fisik Fiona semata..

***

Paginya…

Sudah jam sepuluh siang, Fiona berencana menjenguk Marsha setelah tadi malam dia ketiduran di dalam pangkuan Angga, begitupun Angga, dia juga ketiduran kepalanya menyandar di sandaran sofa. Membuat badannya terasa kaku dan pegal saat bangun tadi.

Pagi ini Fiona mengenakan celana Jeans yang sangat pas melekat di kakinya. Dengan sebuah T-shirt putih yang sedikit nge-pas dengan bentuk tubuhnya. Masih membuatnya terlihat seksi walaupun dia mengenakan baju casual . kali ini dia mengenakan sepatu boots abu-abu yang panjangnya sampai mata kaki dan ber-hak sedang. Semua Rambut pirangnya di kuncir keatasdan di gulung, meninggalkan sedikit poni di keningnya membuat dirinya kelihatan lebih muda dari umurnya. ia memakai make up sederhana, membuatnya menjadi lebih fresh..

“Astaga.. Apa yang terjadi..” Fiona melihat ada beberapa bekas kemerah-merahan bahkan ada beberapa yang menjadi sedikit ungu di sekitar lehernya. Lalu dia memeriksa di bagian dada dan pundak belakangnya, sejauh dia bisa melihat, bekas-bekas kemerahan itupun ada di bagian-bagian tersebut. “Astaga.. ternyata lelaki tadi malam benar-benar gila..” gerutunya pada diri sendiri.

Terpaksa, pagi ini Fiona menambahkan syal  tebal  dan melilitkannya di lehernya yang mulus. “Baiklah.. Sekarang aku sudah siap.” Katanya pada bayanganya di cermin.

Fiona keluar dari kamarnya, dan melihat Angga sedang duduk di sofanya.

“Kak Angga masih di sini?? apa Kakak mau menemaniku kerumah sakit?” tanyanya sambil mengambil air putih di dalam kulkas.

“Iya.. Aku akan menemanimu sekalian aku juga ingin melihat Marsha.” Jawab Angga kemudian.

“Baiklah.. Kita pergi sekarang..” kata Fiona sambil tersenyum lebar.. Pagi ini suasana hatinya sangat baik. Angga sudah pulang kembali dari perjalanan bisnisnya, dan dia sangat perhatian sekali. Mereka selalu bercanda gurau saat di perjalanan menuju ke rumah sakit, tangan mereka pun tak segan-segan saling bergandengan layaknya sepasang kekasih. Bahkan ketika sampai di rumah sakitpun mereka masih bergandeng mesra dan sesekali saling cekikikan.

Akhirnya ketika Fiona membuka pintu ruangan perawatan Marsha, betapa terkejutnya ketika Ia melihat sosok lelaki yang sedang duduk di bangku sebelah tempat tidur Marsha, sontak senyumanya pun lenyap ketika matanya beradu pandang dengan sepasang mata tajam yang ada di seberangnya.

“Ngapain kamu di sini??”  Tanya Fiona dengan nda yang tidak enak di dengar.

***

Pagi ini Ben memiliki mood yang buruk. Tak tau kenapa rasanya Ia ingin meledak-ledak. Apa karena wanita tadi malam yang ia tiduri??  Fiona.., apa yang terjadi pada wanita itu?? bisa-bisanya wanita itu  meninggalkanya begitu saja tanpa pamit setelah mereka bercinta.

Semalaman Ben mengelilingi kota Jakarta, tapi tetap saja Ben  tidak menemukan Fiona, Sosok yaang di carinya. Ben bahkan kembali ke rumah sakit, tempat Marsha di rawat, siapa tau saja Fiona ada di sana, tapi ternyata, Fiona tidak ada di sana juga. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ia kurang memuaskan wanita itu? atau.. Apa wanita itu marah karna perlakuannya semalam? Ben berpikir dalam hati. Ben mengakui, tadi malam ia memang kasar, Ben  juga bingung kenapa ia sampai sekasar itu pada Fiona. Ben hanya tak suka melihat Fiona sebagai wanita liar. Entah kenapa itu membuatnya marah.

Pagi ini, Ben menunda semua Metting pentingnya karena ia mau menuju ke rumah sakit, menjenguk Marsha, sekaligus berharap bisa menemui Fiona di sana. Apa ia sudah gila? Kenapa juga ia ingin menemui wanita itu? yang jelas, tubuhwanita itu membuat Ben merasa ketagihan, sejak tadi malam Ben selalu gelisah, selalu terbayang-bayang wajah Fiona, lekuk tubuhnya, rasanya Ben mengininkannya lagi dan lagi,,, Bukankah itu gila?? Ya, Ben memang sudah gila.

Kini, Ben sudah menunggu Fiona di rumah sakit dari jam sembilan pagi, dan sekarang sudah hampir jam sebelas. Sudah hampir dua jam Ben menunggu Fiona di tempat yang membosankan itu. Sungguh, Ben benar-benar tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri pagi ini, Ben adalah  type orang yang sangat benci menunggu. Tapi pagi ini ia menunggu seorang wanita yang tak penting selama hampir 2 jam?? Ia benar-benar sudah gila.

Tiba-tiba saja pintu itu di buka, Ben melihat sosok Fiona berada di ambang pintu menatapnya dengan tatapan terkejut, mungkin sama terkejutnya dengan ekspresi Ben sekarang ini, tapi Ben mencoba menyembunyikannya dengan cara menatap tajam mata Fiona.

Ben baru sadar kalau penampilan Fiona saat ini berbeda dengan semalam. Fiona memakai pakaian yang cukup sopan, meski tak sedikitpun mengurangi kesan seksi di mata Ben. Rambut Fiona di ikat seadanya meninggalkan sedikit poni, Fiona memakai sepatu boots, celana jeans yang ketat, serta T-shirt putih yang ketat pula, semuanya menonjolkan lekuk tubuhnya yang… Entahlah,, Ben tak bisa berkata lagi. Dan astaga… Ben baru sadar  jika ia merasakan gairahnya mulai tumbuh lagi untuk seorang Fiona, semua yang di bawah sana sudah menegang dan mengetat seakan ingin di bebaskan.

“Ngapain kamu di sini?” Pertanyaan Fiona membuat Ben sedikit marah.

“Ada yang harus kita bicarakan.” Jawab Ben dengan memasang ekspresi sedingin mungkin.

“Ku pikir semuanya sudah selesai, nggak ada lagi yang perlu di bicarakan.” Kata Fiona membuat Ben Terkejut.

Dia kah wanita tadi malam? wanita yang menangis memohon-mohon padanya? menangis dalam pelukannya? membuatnya ingin melindungi dan membantu wanita tersebut.? Jika iya, berarti wanita itu sudah berubah seratu delapan puluh derajat. Pikir Ben kemudian.

“Heii… Dasar bocah tengik.. Kamu nggak  boleh berbicara seperti itu, dia orang yang sudah menolong kita tadi malam.” Marsha terlihat membela Ben.

“Menolong? memangnya siapa dia?” Tanya Angga yang berdiri tepat di sebelah Fiona.

Ben baru sadar kalau Fiona datang dengan seorang lelaki, Fiona bahkan terlihat bergandeng mesra dengan lelaki tersebut. Sial..!! Apa buhngan Fiona dengan lelaki itu?? pikir Ben dalam hati.

“Bukan siapa-siapa Kak.. dia hanya pelangganku saja.”

Apa? Pelanggan? jadi dia menganggapnya hanya sebagai pelanggan saja? Kali ini Ben menggeram dalam hati, ia tidak suka kenyataan bahwa Fiona hanya menganggapnya sebagai pelanggan saja. Dan entah ada dorongan apa Ben langsung berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah Fiona, meraih sebelah tangan Fiona dengan kasar.

“Ayo ikut aku, ada yang ingin kubicarakan.” Ucap Ben sambil sedikit menyeret Fiona.

“Lepaskan, kamu kenapa sih?” Fiona berkata sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Ben.

“Lepaskan dia..” Ben mendengar suara lelaki meneriakkan itu pada dirinya. Ben membalikkan  badannya, dan menatap lelaki itu dengan tajam. Ternyata lelaki itu  juga menggenggam sebelah tangan Fiona yang lainnya dengan erat. Rasanya Ben siap meledak, darahnya sudah mulai mendidih. Ben tidak suka melihat Fiona di sentuh lelaki lain.

Ben berjalan menuju kearah lelki tersebut, lalu Ben memegang tangan lelaki itu yang menggenggam tangan Fiona, “Seharusnya Kau yang melepaskannya.” Ucap Ben dengan nada dingin sambil melepas paksa genggaman tangan lelaki itu  pada tangan Fiona, lalu menyeret Fiona dengan paksa keluar dari ruangan tersebut.

“Kak Angga, jangan khawatir, tunggu aku di situ, oke?” Teriak Fiona sambil menatap ke arah Angga. Dan entah kenapa kata-kata Fiona tersebut membuat Ben semakin murka.

 

-TBC-

Pendek bgt yaa?? hahhaha maklumi sajaa, nanti akan ada 19 Chap dan semuanya pendek2.. wakakakkakaaka

Passion Of Love – Chapter 2

Comments 6 Standard

Skkm

Sang Kupu-kupu Malam

 

*Remake Fansfic korea The Passionnate Of Love -Banyak mengandung unsur Dewasa-

Chapter 2

Fiona menunggu lelaki itu di ruang tunggu dengan khawatir. Fiona memegang Jas Lelaki itu. Fiona tampak sedikit berpikir, kenapa kenapa Lelaki itu sangat baik terhadapnya?? Mereka bahkan tak saling kenal.

Fiona melihat lelaki itu keluar dari ruangan. lengan kemeja hitamnya di singsingkan, oh.. astaga… untuk ukuran lelaki, dia termasuk dalam lelaki yang Seksi untuk Fiona… Fiona bisa merasakan kalau Lelaki itu adalah lelaki yang sangat Kharismatik. Otot-ototnya yang menyembul keluar, dadanya yang kekar membuat kemeja itu sangat pas di gunakannya. Kulitnya yang kuning langsat membuatnya terlihat begitu Maskulin, dan lebih Hot untuk Fiona. Fiona baru sadar, kalau baju dan jas lelaki itu yang terlihat mahal serta tatanan rambutnya yang rapi di sisir keatas memperlihatkan kalau lelaki itu bukan dari kalangan biasa. Apalagi kalau ingat mobil mewahnya tadi…

“Bagaimana..?? apa sakit..??” tanya Fiona pada lelaki tersebut.

“Tidak, ini tidak seberapa.” Kata lelaki meyakinkan.

“Tuan.. kenapa Anda melakukan ini.. kita tidak saling kenal, tapi kenapa Anda membantu kami..??” Fiona sudah tidak bisa lagi menahan rasa heranya pada Lelaki tersebut.

Lelaki itu hanya sedikit tersenyum. Senyum pertaman yang Ia perlihatkan sejak mereka bertemu tadi. “Jangan terlalu Formal padaku, Aku nggak setua itu.” Hening.. lalu… “Panggil aku Ben, Benny Andrean” Kata Ben memperkenalkan diri.

Daan Fiona baru sadar kalau sejak tadi mereka memang belum saling mengenal.

Fiona tersenyum, “Fiona, Fiona Adelia..” jawabnya ssambil membalas uluran tangan Ben untuk memperkenalkan diri. “Ben.. Kenapa Kamu mau membantu kami..?” Fiona melanjutkan pertanyaanya tadi.

“Hahaha tentu Kamu tau bukan, kalau di dunia ini nggak ada yang gratis.” Ben tertawa hambar, lalu menatap Fiona dengan tatapan tajamnya. “Aku menginginkan imbalan darimu.” Lanjutnya lagi.

“Apa??” Fiona tidak bisa menahan rasa kagetnya. Apa yang di maksud Ben..?? Fiona pikir, jika Ben melakukan semua itu tanpa pamrih, tapi ternyata Ben sama saja dengan laki-laki diluar sana. Apa yang Ben inginkan darinya.???

“Bagaimana..?? apa kamu bisa membayarnya..?” Tanya Ben sambil melangkah mendekat kehadapan Fiona, Sedangkan Fiona dengan spontan mundur satu langkah. Ben kembali melangkah mendekat dan Fiona mundur lagi dan lagi sampai akhirnya punggungnya menempel di dinding. Ben masih saja mendekat menjepit Fiona di antara dinding dan tubuhnya, Fiona bahkan bisa merasakan napasn Ben yang berhembus di atas ubun-ubunnya, dada Ben yang menempel pada dadanya, bahkan Fiona bisa merasakan sesuatu yang keras dan berkedut di bawah sana yang sedang menempel di perut bawahnya.. Astaga.. lelaki ini sangat bergairah, apakah ini yang dia inginkan dariku..?? Pikir Fiona kemudian.

“A..Apa yang kamu maksud..??” Fiona tergagap.

“Tentu kamu tau apa maksudku kan..?”

“Ba.. Baiklah.. kalau itu yang kamu mau.” Fiona sudah idak kuat lagi menahanya, oke.. Fiona mengaku, jika Ia juga sedikit terangsang oleh kehadiar Ben, lagi pula Fiona sudah terbiasa dengan haal itu, bukankah Ia memang prempuan murahan, pelacur yang menjijikkan, ini memang pekerjaannya.

“Hehh.. Kamu gampangan sekali.” Ucap Ben sambil mendengus.

“Harusnya dari awal kamu sudah tau kalau aku ini memang wanita gampangan.” Jawab Fiona yang sudah agak kesal,

Ben kemudian tersenyum melihat tingkah laku Fiona.”Oke… Aku mau malam ini juga

“Apa??” Fiona terbelalak tak percaya.

“Kenapa..?? kamu mau menolakku..?” Ben bertanya dengan nada penuh penekanan.

“Tidak, Ben.. setidaknya Aku harus menunggu Kak Marsha selesai di operasi.” Jawab Fiona dengan nada membujuk.

“Baiklah..” jawab Ben kemudian. Sebenarnya Ben sudah tidak bisa menahan hasratnya terlalu lama, tapi bagaimana lagi. Mereka memang harus menunggu Marsha selesai operasi terlebih dahulu.

“Terimakasih sudah mau mengerti.”Ucap Fiona ssambil menundukkan kepalanya.

“Pakai ini..” kata Ben yang kemudian mengagetkan Fiona. Fiona sendiri tidak tau kapan Ben melepas sepatunya, tiba-tiba saja sepatu itu sudah ada di sebelah telapak kaki Fiona.

Fiona mnatap Ben penuh tanya. “Kenapa??”

“Kenapa?? kamu dari tadi telanjang kaki, apa kamu tidak kedinginan, kamu bisa masuk angin, dan ini..” kata Ben lagi sambil mengambil jasnya yang sejak tadi di pegang oleh Fiona, lalu menaruhnya di bahu Fiona. Fiona hanya bisa ternganga melihatnya. “Pakai ini, setidaknya kamu harus tampil sopan di hadapan umum, dengan pakaianmu ini kamu bisa membangkitkan gairah semua pria yang sedang memandangmu.” Lanjut Ben lagi.

Tak tau kenapa ada desiran di dalam dada Fiona. Fiona merasakan kehangatan, lelaki itu sangat perhatian dan romantis. Beruntung sekali wanita yang menjadi pacar atau istrinya. Istri?? Apaa Lelaaki itu memang sudah memiliki seorang istri???

***

Dua jam kemudian,…

Oprasi itu berjalan sangat lama bagi Fiona. Fiona gelisah dalam duduknya. Mereka berdua tegang saat menunggu operasi tersebut. Tangan dan dahi Fiona bahkan sampai bekeringat. Tiba-tiba dokter keluar dari ruang operasi. Mereka berdua langsung berdiri dan menghampirinya.

“Bagaimana dok..?” Tanya Fiona penasaran.

“Semua berjalan dengan lancar, bayinya sehat ibunya juga selamat. Namun masih harus banyak istirahat, karena belum pulih total. Kami akan menempatkannya dalam ruang prawatan biasa…”

“Syukurlah.. Terimakasih dokter…” kata Fiona lega.

Akhirnya tak lama Marha dan bayinyaa pun di keluarkan dari ruang Operasi menuju ke ruang perawatan biasa. Fiona dan Ben mengikuti suster-suster tersebut mendorong raanjang yang di baringi Marsha.

“Sekarang bagaimana..?? dia sudah lebih baik di sini. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya??” Tanya Ben tiba-tiba setelah mereka mengantar Marsha ke ruang perawatan biasa.

Fiona kembali terkejut… Apakah benar Ben sangat menginginkan tubuhnya malam ini juga..?? “Terserah kamu saja..” jawab Fiona pasrah, yahh.. Fiona memang harus menuruti kata-kata Ben, karena Fiona harus berterimakasih padanya dengan apa yang sudah Ben lakukan malam ini padanya dan juga Marsha. Walaupun Ia harus membayar cara berterima kasih itu dengan tubuhnya

“Baiklah… kalau begitu sekarang ayoo ikut aku..” kata Ben sambil menyeret Fiona keluar dari ruangan Marsha.

Mereka akhirnya keluar dari rumah sakit. Ben masih ssaja menyeret Fiona. Ben menghentikan sebuah taksi, lalu kami memasukinya. Ben hanya mengatakan tempat tujuannya pada supir taksi, lalu supir taksi itupun langsung mengerti. Saat taksi berjalan, mereka tidak berbicara sepatah katapun sampai tempat tujuan.

***

Ben masih saja menyeret Fiona, bahkan setelah mereka turun dari taksi. Mereka memasuki sebuah gedung yang tergolong mewah.

“Kita di mana..?” Tanya Fiona sesampainya di dalam Lift.

“Apartemenku.” Ben menjawab singkat.

Mereka keluar dari lift di lantai delapan, lalu menuju kesebuah Kamar Apartemen. Saat masuk ke dalam, Fiona sangat terpesona dengan interiornya. Apartemen ini benar-benar mewah, ucapnya dalam hati.

Saat Fiona belum selesai dengan rasa takjubnya, tiba-tiba saja sebuah tangan kekar meraih pinggangnya. Menariknya kedalam pelukan seorang Benny Andrean. Mereka saling bertatapan mata, lalu….. Tanpa permisi Ben menyambar bibir ranum milik Fiona, Melumatnya dengan panas, memainkan lidahnya.

Fiona pun tak Mau kalah, Ia pun membalas ciuman Ben sambil melingkarkan tangannya di leher Ben. Merasa di imbangi, Ben semakin menjadi-jadi, Ia mendorong Fiona sedikit demi sedikit ke kamarnya tanpa melepaskan ciuman panasnya.

Di dalam kamar,. masih sambil berciuman, Ben membuka resleting dress yang di kenakan Fiona, lalu melepaskannya, hingga Fiona saat ini hanya mengenakan Bra dan celana dalamnya saja memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Fiona terkejut karena Ben menghentikan ciumannya, mempehatikan lekuk tubuhnya yang sudah setengah telanjang..

“Kenapa??” Tanya Fiona dengan polos.

“Tidak.. Kamu benar-benar ssangat indah..” jawab Ben sambil kembali menciumi Fiona, kali ini sambil membuka kaitan yang di kenakan Fiona, hingga Fiona saat ini sudah telanjang dada, Fiona pun tak mau kalah, Ia membuka satu per satu kancing kemeja yang di kenakan Ben, lalu membukanya membuat Ben telanjang dada juga.

Kali ini Fiona yang menghentikan ciumannya, dia terpesona dengan keindahan tubuh Ben, kulit kuning langsatnya, Dadanya yang kekar, perutnya yang Sixpack ,,wajah sangarnya,, membuatnya menjadikan lelaki yang paling seksi yang pernah di lihat oleh Fiona.

“Kenapa??” kali ini Ben yang bertanya heran sambil mengangkat sebelah alisnya, melihat Fiona memandangi tubuhnya.

Fiona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menggoda. “Kamu.. sangat Tampan.. dan Seksi..” Jawab Fiona sambil sedikit menunduk malu-malu, pipinya merah merona membuat Ben semakin gemas, ingin memilikinya.

Ben tersenyum, “Kalau begitu, kita jangan membuang-buang waktu lagi.” Kata Ben lagi sambil melanjutkan aksinya. kali ini Ia mencumbui leher Fiona, Telinganya, bahkan tangannya sudah mulai meraba-raba dada Fiona, menggoda puncaknya, membuat Fiona mengerang nikmat.

“Apa kamu ingin aku melakukannya sambil berdiri..?” Tanya Ben di sela-sela ciumannya.

“Jangan..” jawab Fiona sambil mendesah keenakan.

“Kenapa??” kali ini Ben bertanya sambil mencumbui dan membuka Panty Fiona, membuat Fiona polos tanpa sehelai benang pun.

“Berdiri membuat kakiku cepat pegal.” Fiona tak mau kalah, Ia juga membuka celana sekaligus dalaman Ben, membuat Ben telanjang bulat tepat di hadapannya.

Ben tersenyum mendengar jawaban Fiona. “Baiklah kalau begitu kita lakukan di atas ranjang.” Kata Ben sambil mengangkat dan membaringkan Fiona di atas ranjangnya. Ben kemudian mencumbu bibir Fiona, lalu Ia bangkit kembali. Bukan menindih Fiona, tapi malah membalik tubuh Fiona dan mengangkat pinggulnya.Fiona benar-benar terkejut dengan sikap Ben yang terkesan agak kasar.

“Apa yang kamu…. Aaawwww……….” Belum selesai Fiona melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba saja Ia merasakan sesuatu yang keras memasukinya tanpa permisi, membuatnya meringis kesakitan. “Apa yang kamu lakukan???” Tanya Fiona sambil menoleh kebelakang.

Fiona merasa kesal dan merasa di lecehkan. Bukankah biasanya Ia juga seperti itu saat melakukannya dengan para pelanggannya…?? Tapi kenapa dengan lelaki ini dia merasa berbeda,,??

I’m Sorry…” hanya itu yang bisa di katakan Ben sambil tersenyum menyeringai kepada Fiona. Lalu Ben pun memeluknya dari belakang, mencumbui sepaanjang punggungnya, telinganya, lehenya.

Ketika puncak itu hampir tiba untuk Fiona, Fiona mendesah, mengerang penuh dengan kenikmatan. Ben pun mempercepat lajunya, membuat mereka mencapai kenikmatan itu bersama-sama.

Merekapun terjatuh lunglai di atas ranjang, nafas mereka terengah-engah, seakan masih terpengaruh orgasme yang baru saja mereka capai bersama.

“Untuk ukuran seorang Pelacur.. Kamu benar-baner sangat nikmat, semuanya masih terasa sangat sempit dan mengcengkeramku dengan erat.” Ucap Ben masih dengan napas yang tersenggal-senggal.

Fiona hanya terdiam mendengar kata-kata Ben yang terasa menyadarkannya, bahwa lelaki yang berada di sebelahnya saat ini memang hanya memandangnya sebagai seorang pelacur. Tak lebih dari itu, tapi kenapa Ia sakit hati..?? bukankah kenyataannya Ia memang seperti itu.. entahlah yang jelas ada sesuatu yang sangat membuatnya tak nyaman malam ini.. tiba-tiba Fiona terkesiap mengingat sesuatu yang membuatnya langsung bangun, terduduk menunduk dan melihat pangkal pahanya yang masih basah.

“Kenapa??” Tanya Ben yang ikut terkejut dengan reaksi Fiona.

“Apa yang kamu lakukan..?” Tanya Fiona sambil menatap tajam ke arah Ben.

Sedangkan Ben langsung ikut bangun dan menatap ke arah Fiona dengan tatapan tak mengertinya. “Apa yang terjadi??” tanya Ben dengan raaut bingungnya.

“Apa kamu tidak menggunakan pengaman??” Fiona berbalik bertanya, kali ini nadanya sedikit meninggi, Ia tidak menyangka kalau Ben akan melakukan itu tanpa pengaman. Karena walaupun dia sudah melakukannya berkali-kali dengan pelanggannya tapi tak sekalipun mereka tak menggunakan pengaman. Tentu saja Fiona tau resikonya. Seperti hamil, atau tertular penyakit dan lain-lain.

Mendengar pertanyaan Fiona, Ben malah tertawa mencemooh sambil memalingkan wajahnya.. “Kenapa?? Apa kamu takut tertular penyakit mengerikan, kamu tenang saja, aku bersih, seharusnya aku yang takut tertular penyakit itu darimu.” Kata-kata Ben kali ini benar-benar membuat hati Fiona terasa tercabik-cabik.

“Ben..teriak Fiona tak percaya apa yang baru saja di katakan oleh Ben.

“Kenapa?? Apa kamu takut hamil..? kamu tenang saja, aku akan bertanggung jawab kalau itu terjadi padamu.” Fiona menatap Ben yang kini sudah turun dari ranjang. “Setidaknya aku akan carikan Kamu dokter Aborsi yang bagus saat kamu hamil nanti.” Lanjutnya sambil meninggalkan Fiona begitu saja menuju ke kamar mandi.

Fiona duduk sendiri tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu. Kata-katanya begitu dingin dan menusuk. Sangat berbeda dengan Lelaki yang berada di rumah sakit beberapa jam yang lalu, lelaki yang memberikan sepatu dan jasnya untuk dirinya. Dan kini, Ben benar-benar tak menganggapnya sebagai seorang wanita terhormat. Tapi kenapa dia ingin di hormati?? bukankah selama ini dia memang hidup dengan cara seperti ini?? Menjadi wanita bayaran hanya demi bertahan hidup?? tiba-tiba saja setetes air mata menetes di pipinya yang halus. Fiona menangis.. mengapa Ia harus menangis…??

-TBC-