The Big Family – The Bad Boys vs The Soulmate (Special Thanks)

Comments 10 Standard

Untitled-1

The Big Family (The Bad Boys Vs The Soulmate)

 

Kamera itu menyala, lalu menampilkn sosok tampan dengan garis wajah Kokohnya..

“Halo… Kalian masih ingat aku kan?? Awas kalau lupa..” Ucap Sosok tersebut lengkap dengan senyuman Khasnya.

Kemudian Kamera tersebut terlihat sedang di rebut seseorang dan oreng tersebut mengarahkan Kamera pada dirinya sendiri. Tampak Wanita cantik dengan tubuh seksinya dan juga senyuman mempesonanya.

“Aisshhh.. Kak Dhanni, Ayo kenalan dulu, siapa tau mereka belum mengenal kita.” Ucap wanita tersebut.

“Oke.. Oke…” Lelaki tadi terlihat mengalah. Kamera lalu di hadapkan kembali pada Lelaki tersebut. Dengan tersenyum hangat,, Lelaki tersebut pun menyapa ke arah kamera.

“Halo.. Aku Dhanni Revaldi, kalau kalian pernah membaca Novel The Lady Killer Karya Author sama dengan Novel ini, Pasti kalian sudah mengenalku, Secara Aku Lelaki yang paling tampan dan Cool Ciptaan Author Zenny.. hahhaha”  ucap lelaki tersebut dengan percaya dirinya lengkap dengan tawa lebarnya.

“Issshh dasar kepede an.” Ucap Wanita di sebelahnya. “Halo.. Aku Nessa Arriana, Orang paling Apes yang menjadi pasangannya Kak Dhanni.” Wanita yang mengaku bernama Nessa itu pun akhirnya terkikik Geli.

“Apes? Ayolah sayang… Jangan menejelek-jelekkanku seperti itu, bahkan Author pencipta kita pun mengakui jika aku adalah Cinta pertamanya di antara sosok-sosok yang di ciptakannya.”

“Ya.. elah Kak… Itu mah karena Author kita aja yang lebbay, lagian wajar ding Kak Dhanni Jadi  Cinta pertama Author, secara Kita adalah karya pertamaa beliau..”

“Kalian sedang meributkan apa sih??” Kali ini suara lelaki lain datang dari arah pintu masuk. Kamera akhirnyaa mengarah pada lelaki tersebut. Tampak sosok yang tampan dengan wajah kalemnya. Itu Renno Handoyo.

“Kak Renno, Sini deh.. kita sedang membuat dokumentasi.” Ajak Nessa,

Renno mengangkat sebelah alisnya, ia lalu menoleh ke belakang sambil sedikit berteriak. “Sayang.. Ayo sini, Dhanni dan Nessa sedang membuat video dokumentasi.”

Kemudian munculah sosok cantik nan anggun tepat di belakang Renno, Dia Allea. “Wah.. dokumentasi untuk apa?”

“Untuk Author dan para readers tersayang kita..” Ucap Nessa sambil terkikik.

“Hemm… tadi enakan hanya kita berduaa, kenapa ngajak mereka sih??” Ucap Dhanni dengan nada Cuek nya.

“Astaga.. Lo serakah banget sih Dhan.. mentang-mentang Fans nya banyak, Di plagiat berkali- kali, di bikinkan Season dua lagi sama Authornya.” Gerutu Renno.

Dhanni tertawa lebar ke arah Kamera. “Ahh yaa.. mumpung kalian melihatku, Aku ingin mengucapkan sesuatu pada kalian, jangan lupa nanti nantikan Kisah keduaku, Judulnya masih sama, ‘The Lady killer 2 –The Married Life-‘.. “

“Malah Promosi lagi nih Anak.” Gerutu Renno. Renno lalu merampas paksa kamera yang di genggam Dhanni kemudian mengarahkan kamera tersebut pada wajahnya sendiri.

“Halo Readers.. masih ingat Aku?? Awas kalo Lupa,” renno mulai menyapa. “bagaimana.,?? Because it’s You cukup menghibur kalian kan?? Setidaknya cerita itu lebih bagus dari pada The Lady Killer kan???” Ejek Renno.

“Heiii.. enak saja, The lady killer yang paling bagus.” Dhanni bersungut-sungut.

“Alahhh.. Kalian jelek semua, yang paling bagus itu My Everything.” Suara lantang memaksa Dhanni Renno Nessa Dan Allea menoleh ke belakang mereka, tepat di dekat pintu terdapat Sosok yang tampan dengan wanita cantik di sebelahnya.

“Sialan Lo Ram.. Cerita Lo yang paling banyak Kritikan.”Ucap Renno dengan nada mengejek. Dan meledaklah tawa semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut..

Lalu Dengan sanatainya Ramma merampas kamera yang berada di tangan Renno. “Halo para Readers apa lagi Readers yang Jones?? Masih ingat Aku kan?? Yaa Aku bad boys yang paling buruk di antara kami bertiga, ramma Aditya, Hahhahaha”

“Nggak usah gitu juga kali Mas..” Ucap Wanita cantik tepat di sebelahnya yang bernama Shasha.

“Ayolah sayang.. kamu jangan cemburu, kita Cuma seru-seruan aja kok.” Kata Ramma pada Shasha. Lalu ramma kembali menatap ke arah Kamera. “Bagaimana My Everything??  Apa sudah cukup Hot?? Hahahah Sorry karena Aku terlalu banyak mengumpat di cerita itu, tapi ya begini lah aku yang sebenarnya. Hahhahahha”

“Heii.. ternyata para orang tua ada di sana.” Siuara tengil itu memaksa menua yang berada di dalam ruangan tersebut menoleh ke Arah pintu. Ternyata di sana sudah ada segerombolan anak muda dengan pasangannya masing-masing. Brandon-Alisha, Reynald-Clara, dan juga Aaron-Bella.

“Dasar Bocah tengil, Kita jadi orang tua kan hanya di novel, ingat, semua sudah tamat, kita seumuran.” Sembur dhanni pada Aaron. Dan semuanya tertawa.

Aaron kemudian meminta kamera yang berada di tangan dhanni, Ia kemudian mengarahkan Kamera ke arah dirinya sendiri.

“Halo.. Aku Aaron, Kalian biasa memanggilku si tengil bukan?? Ohh tapi kalian salah, Aku nggak se tengil yang di tulis Author kok.. hahhahaha” Aaron kemudian mengarahkan Kamera ke arah Wanita di sebelahnya. “Ini Issabella Aditya, Si Putri dingin. Untung saja aku berjodoh sama dia hanya di novel, kaloi di dunia nyata, aku mau sama Authornya aja. Hahhahaha “

Aaron mendapat hadiah jeweran di telinganya dari Bella. “Dasar, memangnya siapa yang duluan suka..?? Awas yaa.. nanti malam nggak ada jatah.” Gerutu Bella.

“Jangan gitu dong sayang, Aku Cuma bercanda.”

Kemudian saat aaron sedang sibuk bertengkar dengan Bella, Kamera di rampas Oleh Reynald.

“Halo.. masih ingat Aku?? Kalian biasa memanggilku Bang Rey..” Reynald tersenyum lalu melanjutkan kalimatnya. “Terimakasih uantuk yang sudah ngasih dukunyan berima Like dan Coment untuk Cerita That Arrogant Princess, mengingat cerita itu sedikit fenomenal saat penggarapannya. Hahhahaha”.

“To the point aja, nggak usah basa basi.” Wanita di sebelah reynald akhirnya ikut menyela dengan nada angkuh khas nya.

“Aisshhh jangan cemberut gitu dong sayang, Ayoo sapa para Readers..” Reynald merayu Clara, sedangkan Clara masih memalingkan wajahnya. “Kamu mau di cap sombong lagi sama mereka??” Tanya Reynald pada Clara.

“Mereka sudah tau siapa aku, untung aja Author nggak kasih lihat Fotoku saat masih kecil, kalo itu terjadi, aku nggak mau lagi lanjutin That Arrogant princess kemarin.” Clara masih menggerutu lengkap dengan bibir manyunnya.

“Astaga.. Wanita ini kalau nggak di gigit pasti nggak akan baikan Moodnya…” Ucap Reynald, dan pada saat itu Reynald memberikan kameranya pada sosok tampan di sebelahnya.

“Halo Readers… Ingat Aku?? Yaa Aku abang paling mesum yang di ciptakan Author Zenny, Siapa lagi jika bukan Bang Brandon si tukang cium sembarangan.. hahahhaha” Ucap Brandon sambil melirik ke arah Alisha di sebelahnya, sedangkan Alisha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Dasar nggak tau malu..” Ucap Alisha pada Brandon.

“Kamu seperti ayahmu Brand.. “ kata Ramma mengejek.

“Setidaknya aku nggak seperti Om ramma… hahahhaha” dan meledaklah semua yang berada di dalam ruangan tersebut.

“Sialann..Bocah ini..!!” Umpat Ramma yang langsung mendapat cubitan dari Shasha.

“Sudah.. sudah… Sini Kameranya…” ucap Dhanni, Lalu Brandon memberikan kamera tersebut pada Dhanni.

“Halo Readers… Kami di sini mewakili Author untuk mengucapkan banyak terimakasih atas sambutan hangatnya terhadap cerita-cerita yang di buat oleh Author tentang kisah cinta kami…” ucap Dhanni sambil sesekali mengarahkan kamera pada masing-masing pasangan yang berada di dalam ruangan tersebut..

Kamera tersebut berhenti pada Renno dan Allea . “mungkin cerita kami memang sudah tamat, Atau mungkin suatu saat terhapus, atau terlupakan oleh kalian, tapi setidaknya kami berterima kasih, karena kalian sempat menyisihkan sebagian kecil tempat di hati kalian untuk meresapi setiap kisah dari kami.” Ucap Renno dengan  senyuman mempesonanya.

“Dan kami tau, Kisah kami masih banyak sekali kekurangan, Karena memang author yang menciptakan kami masih dalam proses belajar, Lagi pula, Bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini?? Itu juga berlaku untuk Kisah kami dan author kita.” Kali ini ramma yang berkata dengan mimik seriusnya.

“Sok serius..” Ucap Shasha di sebelahnya.

“Baiklah, hanya itu saja, terimakasih.. terimakasih dan terimakasihh banyak sekali untuk kalian semua..” Dhanni melanjutkan kalimatnya..

“Heii.. heii heiii… kalian sedang apa ini..” Suara wanita dari arah belakang merekapun membuat semua kepala menoleh ke belakang. Dan tampaklah sosok itu.

“Authoooooooorrrrrrrrrrrr…” teriak para lelaki yang ada di ruangan tersebut sambil menghambur ke arah seorang wanita yang mereka panggil sebagai Author.

Si author itu pun di peluk oleh Dhanni, Renno, Ramma, Brandon, Reynald dan juga Aaron. Sedangkan para wanita yang berada di dalam ruangan tersebut hanya melongo melihat kelakuan para lelakinya. –Aseekkk aku di pelukk jangan iri yaaa.. hahhahahahha-

“Sudah-sudah.. lepaskan.. kalian membuatku sesak.”

“Alah.. Author  alesannya aja, padahal seneng banget kita peluk.” Ucap Dhanni.

“Ahahhahah iyaa suka syekalee…” Ucap si author tersebut.

“Thor.. kenalin diri dong..” kali ini si tengil Aaron yang meminta.

“Baiklah.. demi kalian para laki ganteng yang aku cintai aku akan mengenalkan diriku.” Ucap si wanita tersebut sambil berdiri tegak membenarkan pakaian yang di kenakannya.

“Halo semua.. pasti sudah tau aku kan.. Aku adalah orang yang menciptakan semua Lelaki mesum yang ada di ruangan ini hahhahaha kenapa mesum?? Karena sebenarnya otakku sendiri yang mesuk.. hahhahhaah”  Wanita tersebut tertawa sendiri sedangkan semua yang berada di ruangan tersebut hanya melongo saling pandang tidak mengerti apa yang di tertawakan oleh Author mereka.

“Heeiii kenapa kalian pada melongo?? Ayoo ketawa.” Ucap wanita tersebut. Dan semua yang berada di ruangan tersebut mencoba tertawa meski tidak tau apa yang sedang mereka tertawakan.

‘Dasar Gila…’ Pikir Ramma dalam hati sambil menggelengkan kepalanya. Ia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa dirinya di ciptakan oleh sosok gila seperti wanita di hadapannya tersebut. Begitu pun dengan Dhanni, Renno, Brandon, Reynald dan Aaron.

“Baiklah, langsung aja, Aku mengumpulkan mereka semua di sini sebenernya Cuma untuk mengucapkan banyak terimakasih.. benar-benar dehh aku nggak nyangka kalau coretan pertamaku yang Judulnya ‘The Lady Killer’ akan membawaku pada kebiasaan menulis seperti saat ini. Komentar kalian.. Vote kalian..  dan semua yang kalian apresiasikan untuk tulisan-tulisan gajeku benar-benar membuatku tersentuh, ingin nangis.. dan seakan aku tidak bisa berhenti untuk menulis lagi dan lagi…”

“Aku menciptakan mereka semua dengan cinta.. karena ku harap kalian bisa menangkap apa yang ingin ku sampaikan. Aku mencintai Kak Dhanni dengan sikap cueknya.. Aku mencintai Mas Renno dengan sikap tanggung jawabnya, Aku mencintai Mas Ramma dengan kegilaannya.. Bang Brandon dengan sifat mesumnya, Bang Reynald dengan sikap pendiamnya, dan juga Bang Aaron dengan ketengilannya. Aku mencintai mereka semua seperti aku mencintai suamiku sendiri.. jadi, Semoga saja rasa cinta ku itu tersampaikan pada kalian.. kalian juga dapat merasakan apa yang di rasakan setiap karakter yang aku ciptakan.”

“Terimakasih.. terimakasih.. dan terimakasihhh sekali ku ucapkan sampai tak terhingga karena sudah mau menerima tulisan2 gajeku ini.. hikkss.. benar2 terharu saya..”

“Sudah yaa thor,, jangan sedih, kamu masih bisa bertemu sama Aku kok.” Ucap Dhanni sambil kembali memeluk Author.

“Ya.. dan walau kita nggak akan bertemu lagi, kita masih tetap setia berada di hati author dan semua readers kok..” Kali ini Renno ikut berbicara.

“Iyaa.. kalian semua akan selalu ada di hatiku.” Si author merenggangkan tangan dan semuanya kembali memeluk Author tersebut. –Ahhahahah enak bgt di peyuk lagi..-

“Oke.. kalau begitu aku tutup dulu yaa..” Ucap Dhanni sambil mengarahkan kamera ke arahnya sedangkan semua orang yang berada di ruangan tersebut tepat berdiri di belakng Dhanni.

“Readers.. kami dari keluarga besar The Bad boys dan juga The Soulmate, mengucapkan banyak terimakasih atas partisipasinya untuk membaca cerita kami.. astaga.. aku tidak bis berhenti berterimakasih, sungguh.”

“Ahh yaa.. dan jangan lupa yaa baca juga Hurt Love Serises, MBA series dan cerita – cerita gaje yang ku buat lainnya.. hahahha” Teriak si Author.

“Dan jangan lupa juga, baca cerita ‘The Married life’ Lady Killer 2.” Ucap Dhanni mengingatkan. “Akhir kata.. kami semua mengucapkan banyak terimakasih dan sampai jumpa di lain waktu….”

Semua orang yang berada di sana menatap ke arah kamera melambaikan tangan masing-masing dengan senyum bahagia masing-masing… lalu… gelap.. kemera itu pun di matikan..

 

‘Terimakasih untuk semuanya… Enam pasang hati yang ku ciptakan dan ku satukan… kalian semua akan selalu ada di hatiku…’

30-06-2016

Zenny Arieffka

Advertisements

Love Between Us – Part 6 (Kencan)

Comments 4 Standard

13393495_138956389842909_724156509_nLove Between Us

 

Hayy.. Met pagi.. pagi2 di temani dengan pasangan manis ini.. wkwkkwkwk ayooo enjoy reading ya… 🙂

 

PART 6

-Kencan-

 

Sore harinya, Denny pulang sedikit telat karena lagi-lagi pekerjaan yang menumpuk. Sesampainya di rumah kontrakan, direbahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. kemudian ia melihat sebuah bingkisan yang tadi siang diberi Aira. Penasaran Denny akhirnya membuka bingkisan tersebut. Ia membulatkan matanya ketika mendapati apa yang ada dalam bingkisan. Sebuah T-shirt yang bertuliskan kata-kata alay ala anak muda jaman sekarang. Denny mengangkat sebelah alisnya, tidak. Ia tidak mungkin menggunakan T-shirt itu malam minggu nanti. Akhirnya Denny merogoh ponsel dalam sakunya untuk menghubungi Aira.

 

“Halo sayang..” Suara lembut Aira benar-benar menyejukkan hatinya.

 

“Hai..” hanya itu yang bisa di ucapkan Denny. Memang ia sendiri tidak tau, kenapa setiap kali dekat dengan Aira tidak bisa berkata banyak. Bukan karena sikapnya yang memang pendiam, tapi entah seperti ada sesuatu yang menahan suaranya di tenggorokannya.

 

“Sudah pulang?? Sudah makan belum?? Kamu lagi apa?? Tumben telepon duluan.” Denny tersenyum ketika mendapati suara cerewet Aira yang sama sekali tidak menghilangkan sedikitpun nada manjanya.

 

“Aku sudah di rumah dan sudah makan di jalan tadi. Aku sudah membuka bingkisan yang kamu berikan tadi siang. Aku menelepon karena aku menolak memakainya.” Jawabnya kemudian. Jika di ingat-ingat, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah di ucapkan oleh Denny sepanjang mereka menjalin hubungan.

 

“Kenapa nggak mau pakai??”

 

“Ini terlalu berlebihan Aira. Aku nggak mau terlihat seperti anak alay.”

 

“Itu bukan alay, Denny. Ya ampun, kamu jangan terlalu kaku. Itu adalah T-shirt couple, aku juga nanti akan memakai yang sama denganmu.”

 

“Aku tetap nggak mau.”

 

“Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan ngasih hadiah yang spesial lagi buat kamu.”

 

“Hadiah spesial?? Memang hadiah apa lagi??” Denny tampak tertarik dan penasaran dengan apa yang di siapkan Aira untuknya.

 

“Ada saja, pokoknya kamu di wajibkan pakai T-shirt itu!. kalau nggak aku akan marah.” Omelnya. Denny lagi-lagi tersenyum ketika mendengar suara Aira yang di buat merajuk.

 

“Baiklah, aku akan memakainya.” Ucap Denny sambil menghela napas panjang. Astaga.. Aira benar-benar membuat hatinya luluh.

 

“Yeeyy…. Terimakasih sayang…” Sahutnya girang dan tidak lupa suara Aira yang manja benar-benar membuat Denny gemas sendiri.

 

“Aira…”

 

“Iya..”

 

“Aku….” Denny ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia tampak ragu. “Aku mau mandi dulu sudah dulu yaa.” Akhirnya hanya itu yang dapat diucapkannya.

 

“Baiklah, nanti aku telepon lagi”

 

“Iyaa..” Mereka mengakhirinya telepon pun di tutup.

 

Denny kembali menyandarkan tubuhnya disandaran sofa ruang tamunya. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin meledak. Ia ingin mengatakan kalimat itu pada Aira, tapi entah kenapa semuanya terasa tercekat di tenggorokan. Ia gugup setengah mati bahkan ketika berbicara di telepon dengan Aira. Kenapa bisa begini?? Dulu saat dengan Adelia, Denny tidak merasakan perasaan yang meletup-letup seperti saat ini. Kenapa dengan Aira berbeda?? Kenapa Gadis itu seakan sangat mempengaruhi dirinya??.

 

***

 

Aira melemparkan diri di atas ranjang besarnya. Senyumnya tidak pernah hilang dari wajah cantiknya. Denny, Pemuda itu benar-benar membuatnya merasakan perasaan yang dulu pernah Ia rasakan pada sosok Wisnu. Perasaaannya selalu berbunga-bunga hanya karena mendengar suara Pria itu.

 

Aira bangun dari ranjangnya lalu menuju ke lemari pakaiannya. Ia meraih sebuah T-Shirt yang baru di belinya kemarin. T-Shirt kembaran yang diberikan pada Denny tadi siang.

Aira memeluk T-shirt itu sambil tersenyum sendiri. Ia membayangkan Denny yang kaku mengenakan T-shirt tersebut. Ahh pasti sangat lucu dan menggemaskan. Aira bertekad, bagaimanapun juga ia harus mengubah Denny yang datar dan dingin seperti kutub itu menjadi Denny yang lebih hangat jika berhadapan dengannya.

 

Saat Aira sedang asik menghayalkan dirinya dengan Denny, Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Apa Denny meneleponnya lagi?? Sepertinya tidak mungkin. Pria itu sangat kaku, ia tidak akan menelepon jika tidak penting. Aira meraih ponselnya dan mengernyit saat melihat nomor baru sebagai pemanggil. Ia mengangkat telepon. Aira benar-benar menyesal telah mengangkatnya, karena ternyata si penelepon tersebut adalah orang yang sangat di bencinya.

 

“Aira..” Mendengar suara si penelepon saja, wajah Aira sudah berubah menjadi muak. Ya.. Ia benar-benar muak dengan Wisnu untuk apa lagi Pria sialan itu mengganggunya??.

 

“Wisnu?? Dari mana kamu dapat nomerku??” Tanya Aira dengan marah.

 

“Tidak penting, yang terpenting aku ingin bertemu denganmu Aira.”

 

“Maaf Wisnu, aku tidak bisa.” Ia malas menjawabnya.

 

“Aira.. Aku sayang sama kamu.”

 

“Kamu cuma sayang sama hartaku Wisnu!!.” Ucap Aira telak. Jika Wisnu tau diri, ia akan sakit hati dan tidak akan menelepon lagi. Pikirnya.

 

“Itu dulu Aira. Please.. kasih aku kesempatan kedua. Aku sudah kerja jadi aku tidak lagi mempermasalahkan tentang hartamu.” Aira ingin muntah mendengarnya. Menurutnya Wisnu dulu dan sekarang sama saja matre.

 

“Maaf Wisnu, aku sudah ada yang lain.” Dan setelah kalimat itu, Aira menutup teleponnya. Ia kembali meraba dadanya tepat pada jantungnya yang tidak berhenti berdegup kencang. Aira tidak dapat memungkirinya bagaimanapun juga ia pernah sangat mencintai Wisnu, menyayangi Pria itu dengan tulus. Meskipun kini rasa cintanya tersebut berubah menjadi rasa benci. Aira tidak bisa mengelak jika ia masih sedikit gugup saat berhadapan dengan Wisnu.

Ia hanya bisa meenghela napas panjang. Ah.. Semoga saja Wisnu tidak mengganggu hubungannya dengan Denny nanti.

 

***

 

Malam minggu itu pun akhirnya tiba juga. Denny menghadap bayangan didepannya. Seorang Pria dengan wajah tampan tapi mengenakan T-shirt berwarna putih dengan tulisan “Mr” yang diatasnya terdapat kuping seperti micky mouse. Baginya itu sangat menggelikan. Denny bahkan enggan menatap bayangan sendiri di cermin besar di kamarnya. Bagaimana mungkin seorang Aira bisa memaksanya mengenakan T-shirt seperti ini???. Sembari merutuki dirinya sendiri, Denny menyambar jaket miliknya dan mengenakannya setidaknya T-shirt itu akan tertutup dengan jaket yang kenakannya.

 

Setelah siap dan memastikan dirinya sudah rapi. Denny akhirnya meluncur menuju ke rumah Aira. Semoga saja Ayah Aira nanti tidak bertanya macam-macam terhadapnya. Tiba dirumah Aira seperti biasa Denny mendapat tatapan membunuh dari Rizky, Ayah Aira. Tentu ia tau kenapa Rizky selalu menatapnya seperti itu. Mungkin karena Rizky memang sangat perhatian ingin melindungi puteri manjanya.

 

“Haii…” keceriaan Aira seketika mencairkan suasana yang menegangkan di antara Denny dan Rizky.

 

“Hai…” hanya itu yang dapat di ucapkan Denny. Ia terlalu terpesona dengan apa yang dikenakan Aira. T-Shirt yang sama dengannya ditambah celana jeans ketat khas anak muda yang membuat Aira terlihat casual namun tetap cantik dan mempesona.

 

“Ada yang salah dengan apa yang aku kenakan??” Tanya Aira sambil menatap dirinya sendiri. Denny menggelengkan kepalanya.

 

“Kamu terlihat sangat cantik.” Tanpa sadar Denny mengucapkan kalimat tersebut hingga membuat Rizky membulatkan matanya.

 

Rizky benar-benar tidak suka dengan cara Denny memandang Aira. Seakan-akan dalam matanya tersirat sebuah keinginan dasar yang di miliki oleh setiap Pria ketika melihat Wanita yang di cintainya. Apa Denny mencintai Putri nya dengan tulus hingga ia dapat menunjukkan tatapan memuja pada diri Aira???

 

‘Ehhheemmm..’ Akhirnya berdehem adalah satu-satunya cara Rizky untuk membuat Denny berhenti menatap Aira seperti seekor singa yang sedang kelaparan.

 

“Ayah, kami berangkat dulu yaa.”

 

“Jangan lupa ajak Indra.”

 

“Nggak, Ayah gimana sih. Aku mau kencan masa iya Indra ikut.”

 

“Aira…” Rizky memelototi putrinya yang mulai membantah.

 

“Maaf Om.” Denny memotong kalimat Rizky. “Kali ini ijinkan saya yang menjaga Aira.”

 

“Kamu yakin bisa menjaganya??” Tanya Rizky dengan nada meremehkan.

 

“Saya yakin Om, Aira akan pulang tanpa satu kekurangan apapun.”

Rizky tampak berpikir sejenak. Sebenarnya ia masih tidak percaya dengan Denny. Terlepas dari sikap Denny selama ini yang selalu sopan, Rizky hanya takut jika puteri tersayangnya kembali di kecewakan oleh Pria seperti kejadian yang dulu sempat menimpa Aira.

 

“Ayah, bukannya Ayah janji mau Denny kesempatan??” Aira merengek.

 

“Baiklah” Hanya itu jawaban Rizky tapi mampu membuat Aira bersorak karena senang. Secepat kilat Aira menggandeng lengan Denny, lalu berpamitan dengan sang Ayah dan Mamanya. Setelah itu dengan cepat Aira mengajak Denny pergi. Ia takut jika sang Ayah berubah pikiran.

 

“Indra..” Rizky memanggil pengawal Aira yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu ruang tengah.

 

“Iya Pak??”

 

“Ikuti mereka.” Ucap Rizky dengan datar. “Tapi jaga jarak, jangan sampai mereka tau kalau sedang di awasi.”

 

“Baik Pak.” Dan Indra pun mengikuti kemana Denny dan Aira pergi.

 

***

 

“Kenapa kita tidak menggunakan mobil??” tanya Aira sedikit lebih keras, takut jika Denny tidak mendengar suaranya.

 

“Pakai motor lebih enak,”

 

“Apa yang membuatnya enak??” Tanya Aira kemudian. Denny kemudian meraih sebelah tangan Aira dan menariknya kemudian membawanya tepat di perutnya sendiri. “Saat naik Motor kita bisa lebih dekat.”

Ucapan Denny benar-benar membuat wajah Aira merah padam. Ternyata Denny bisa bersikap romantis juga, mengingat itu iabtersenyum senang. Tanpa sungkan lagi Aira membawa satu tangannya yang lain untuk memeluk perut Denny dari belakang.

 

“Ku pikir hanya aku yang ingin kita supaya semakin dekat.” Ucap Aira kemudian. “Bagaimana nanti kalau hujan??”

 

“Kita bisa berteduh dipinggiran toko.”

Aira terkikik geli membayangkan hal tersebut. “Sepertinya itu romantis.” Kemudian Aira menatap pakaian yang dikenakan Denny. “Kenapa kamu pakai jaket?? Kan T-shirt nya jadi tidak terlihat.” Gerutu Aira.

 

“Malam ini dingin.” Denny mencoba memberi alasan.

 

“Bohong, bilang saja kalau kamu malu menggunakannya.” Denny tersenyum.

 

“Aira, ini sungguh menggelikan untukku.”

 

“Pokoknya aku nggak mau tau. Nanti harus dibuka jaketnya.” Kata Aira dengan manja. Denny menghela napas panjang. Sepertinya lagi-lagi ia tidak mampu menolak permintaan Gadis manja yang kini sedang memeluknya tersebut.

 

“Baiklah, aku akan melepas jaketku nanti.” Ucap Denny dengan pasrah. Sedangkan Aira yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya akhirnya memeluk tubuh kekasihnya semakin erat lagi.

 

***

 

Tujuan mereka adalah sebuah taman hiburan. Entah kenapa Aira ingin sekali mengajak Denny ke sana. Sedangkan Denny hanya bisa menuruti kemauan Aira, ia mengikuti kemanapun kaki mungil Aira melangkah.

 

“Aku mau main itu” tunjuk Aira pada sebuah wahana.

 

“Tidak, itu bahaya.”

 

“Aissh, kamu seperti ayahku saja. Pokoknya kita naik itu.” Aira benar-benar tidak ingin di larang. Denny hanya bisa mengikutinya. Akhirnya mau tidak mau ia pun ikut menaiki Wahana yang terbilang ekstrim tersebut.

 

Lama keduanya saling mencoba beberapa Wahana yang menurut mereka menarik. Aira terlihat begitu antusias sedangkan Denny biasa-biasa saja. Padahal sebenarnya sejak tadi jantungnya tidak bisa berhenti berdetak cepat karena kedekatannya dengan Gadis itu. Aira benar-benar tidak sungkan lagi merangkul Denny kesana kemari. Denny sendiri masih terlihat sedikit kaku dan menahan diri.

 

“Denn, Aku mau itu” Tunjuk Aira dengan manja sambil menuju ke penjual ice cream.

 

“Ayo kita beli.”

 

Duduk santai di sebuah bangku yang di sediakan taman hiburan tersebut dengan menikmati ice cream di tangan masing-masing di tengah-tengah hiruk pikuknya pengunjung taman hiburan.

 

“Kenapa kamu memilih taman hiburan sebagai kencan pertama kita??”

 

Aira tersenyum. “Taman hiburan seperti dunia impian, begitu pun dengan kamu. Kamu seperti dunia impian bagiku. Jadi aku pikir, membawamu kemari adalah hal yang sangat tepat. Aku seperti berada di dunia mimpi, sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.” Denny menatap lekat Aira dengan lembutnya. Gadis di hadapannya sungguh mempesona untuknya. Dengan wajah cantik bercampur dengan ekspresi manja yang khas. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.

 

“Aira.” Panggil Denny dengan serak.

 

“Iya…”

 

“Bolehkah aku menciummu??” Aira terbelalak mendengar permintaan Denny. Pria itu meminta ijin?? Lalu bagaimana ia akan menjawabnya???.

 

***

 

Aira menelan ludahnya dengan susah payah, kini dirinya lah yang bingung harus menjawab apa. Apa harus memperbolehkan Denny?? Atau menolaknya?? Ahh kenapa juga sih Denny pakai minta ijin segala, kenapa tidak langsung cium saja seperti kemarin saat dansa?? Ini membuat Aira bingung.

 

Karena Aira diam tidak menjawab, Akhirnya Denny merangkul pundak Aira. “Kalau kamu nggak mengijinkan, nggak apa-apa kok. Masih ada lain kali.” Ucapnya yang membuat Aira semakin tersipu malu.

 

Denny, aku bukannya melarangmu, tapi sangat menggelikan jika aku menjawab ‘Ya.. Silahkan menciumku’ itu sangat memalukan bagiku Denny, gerutu Aira dalam hati.

 

“Baiklah, sudah malam kita pulang ya..” Denny menarik tangan Aira. Dan menuntunnya menuju ke tempat dimana motornya diparkirkan. Aira hanya mengikutinya. Ia merasa tidak enak karena menolak keinginan Denny.

 

Setelah sampai di dekat motor, tiba-tiba Denny melepaskan jaket yang sejak tadi dipakainya.

 

“Kenapa baru di lepas?? Kita kan sudah pulang.” Gerutu Aira. Ia sangat kesal karena Denny mengingkari janjinya. Ia sama sekali tidak melepaskaan jaket yang dikenakannya hingga mereka tidak seperti pasangan yang sedang mengenakan T-shirt couple seperti yang di inginkan Aira.

 

“Aku melepasnya untukmu.” Ucap Denny sambil memakaikan jaket itu pada tubuh Aira. Aira membatu seketika dengan perhatian yang di berikan oleh Denny. “Lain kali kalau keluar, bawalah baju hangat untuk berjaga-jaga. Udara malam nggak bagus buat kesehatan.” Ucap Denny sambil menresleting jaketnya di tubuh Aira. Ia benar-benar tersentuh dengan perhatian dan kelembutan yang di berikan oleh Denny. Secepat kilat ia meraih lengan Denny sambil memanggil nama Pria itu.

 

“Denny..”

 

“Yaa..”

 

Aira kemudian mengalungkan lengannya pada leher Denny, Ia kemudian berjinjit. Denny benar-benar terkejut dengaan apa yang di lakukan Aira, ia tidak menyangka Gadis itu hendak menciumnya ditempat parkir tepat banyak orang sedang melihat mereka. Dengan cepat Denny menahan pinggang Aira dengan kedua tangannya agar menjauh. Sebelum bibir kekasihnya ini mendarat ke bibirnya.

 

“Kamu mau apa?” Tanya Denny.

 

“Eoh, menciummu. Bukannya kamu tadi minta ijin untuk menciumku?”

 

“Nggak jadi” Mata Denny melirik ke sekililing banyak orang yang menatapnya. Aira mengikuti lirikan Denny menjadi malu dengan tingkahnya sendiri. Dengan canggung ia melepaskan tautan tangannya. Aira berdehem mengurangi rasa malunya.

“Ya benar, sebaiknya kita pulang saja.” Aira buru-Buru mengenakan helm untuk menutupi pipinya yang memerah.

 

“Aira” panggil Denny gemas.

 

“Ya?” Ia menoleh.

 

“Itu kan helmku” Ucap Denny sembari menahan tawanya.

 

“Eoh? Aku lupa, maaf” Bisik Aira malu. Ia memang tidak mengenakan helm saat pergi tadi.

 

Mereka menikmati jalan berdua dengan menggunakan Motor. Dengan pikiran masing-masing. Denny membayangkan bibir Aira terasa manis dan lembut itu membuatnya tidak bisa menahan diri dari nalurinya sebagai seorang Pria. Aira mengeratkan tangan hingga menempel sempurna pada tubuhnya. Denny menolak ciuman dari Aira karena ia tau jika ada seseorang yang mengawasi tingkahnya dari kejauhan. Denny menyadari jika ada orang yang mengikutinya. Ia bukanlah Pria bodoh jika tidak mengetahuinya ada sesuatu yang mencurigakan.

 

Mungkin aku akan mencium Aira dilain tempat, bisiknya dalam hati.

 

-TBC-

Bang Aaron mungkin nanti sore atau nnti malam yaa.. 🙂

My Young Wife – Chapter 5

Comments 9 Standard

Pswmnew bvvvvFix

My Young Wife

 

 

Chapter 5

 

“Kamu yakin akan membawanya pulang ke apartemen?” hanya Bertanya pada Aldo. Puteranya tersebut sedang sibuk membereskan barang-barang milik Sienna.

“Ya Ma..” hanya itu jawaban dari Aldo.

“Aldo.. Sienna itu butuh perhatian, bukankah lebih baik dia tinggal bersama Mama??”

Tentu saja Aldo menolak gagasan tersebut. Jika mereka tinggal di rumah mamanya, otomatis Sienna akan tidur sekamar dengannya dan itu membuat Aldo benar-benar frustasi. Mungkin semalam atau dua malam Aldo akan dapat melewatinya, tapi bagaimana jik tiap malam??

“Mama tenang saja, aku akan mencarikan seorang pelayan yang dapat di percaya untuk menjaga Sienna.”

“Aldo.. Istri kamu itu bukan butuh pengawal atau pelayan, dia membuatuhkan Kamu, kamu untuk memperhatikannya.”

“Aku selalu memperhatikannya Ma, Bahkan dari jauh.”

“Tapi kamu selalu bersikap datar padanya Aldo.” Ucap Hana menyalahkan puteranya tersebut.

Ya, Sedikit banyak, Hana memang tau bagaimana keadaan hubungan Aldo dan juga Sienna. Saat itu hana benar-benar terkejut saat tiba-tiba Aldo pulang ke rumah dengan membawa seorang gadis belia.

 

Hana membuka pintu depan rumahnya dan terkejut saat mendapati Aldo putera pertamanya datang dengan seorang gadis yang bisa di bilang cukup belia. Hana mengernyit ketika menatap gadis tersebut. Seorang agdis yang mungkin saja masih menginjak SMA. Untuk apa Aldo membawa gadis tersebut ke rumahnya??

“Kamu pulang nak..” Ucap Hana sedikit berbasa-basi.

Sejak beberapa tahun belakangan, Aldo memang memilih tinggal sendiri di Apartemen pribadinya. Menurutnya, Tinggal sendiri akan lebih mandiri dan sedikit banyak ia akan merasakan bagaimana susahnya hidup sendiri.

“I.. Iya Ma..” Aldo tampak terputus-putus ketika menjawab pertanyaan Hana. Tatapan mata Hana kemudian tertuju mada jemari mungil gadis itu yang tiba-tiba mencengkeram erat lengan Aldo seakan Ia ketakutan.

“Ayo masuk, kenapa berdiri di situ.” Ucap Hana mencairkan suasana yang entah sejak kapan menjadi menegang.

Hana menggiring Aldo dan gadis mungil tersebut sampai di ruang tengah. Disana terdapat Mike yang sedang duduk santai sambil menonton televisi. Mike yang sedikit terkejut dengan kehadiran Aldo sat itu akhirnya langsung berdiri, tidak menyanagka jika Aldo akan mengunjungi mereka pada malam hari seperti saat ini.

“Aldo, Tumben kamu pulang di malam hari??” tanya Mike pada puteranya tersebut. Sesekali Ia menatap Hana, seakan bertanya, siapa gadis mungil yang dibawa Aldo saat ini.

“Emm.. Ada yang pengen Aldo bicarakan sama Papa dan Mama.” Ucap aldo kemudian dan itu membuat Hana dan Mike semakin penasaran.

“Duduk dan bicaralah.” Ucap Mke sambil duduk kemudian di susul Hana di sebelahnya dan juga Aldo dan Sienna di hadapannya. “Ada apa sebenarnya??”

“Aldo ingin menikah.” Ucap Aldo dengan cepat. Aldo seakan tidak ingin niatnya mengabur karena rasa takut.

“Apa? Dengan siapa? Kenapa tiba-tiba??” Ya, Mike dan Hana tentu saja sedikit terkejut dengan pernyataan Aldo. Hingga usia Aldo mencapai angka Dua puluh delapan tahun, baru kini Hana dan Mike mendengar kata tersebut terucap dari bibir puteranya tersebut.

“Ini Sienna Ma.. Pa.. Aldo ingin menikah dengan Sienna.”

Ucapan Aldo benar-benar membuat mata kedua orang tuanya terbelalak. Hana jelas tau jika Gadis di sebelaah puteranya tersebut bukanlah gadis matang, Usianya bahkan belum menginjak angka dua puluh, tapi kenapa tiba-tiba Aldo ingin menikahi gadis tersebut??

“Kamu sadar dengan yang kamu bicarakan??” Tanya Hana sedikit lebih pelan, takut jika Ia menyinggung hati sang gadis.

“Aldo sangat sadar Ma..”

“Kenapa sekarang dan kenapa dengan Dia??” Tanya Mike dengan pertanyaan yang benar-benar menuntut jawaban secepatnya dari Aldo.

“Karena Sienna hamil, dan Aldo harus bertanggung jawab.” Hana dan Mike saling bertatap mata dengan mata yang sama-sama membulat karena keterkejutan yang amat sangat. Menikah karena sebuah ‘kecelakaan??’ Dan sejak saat Itu Hana tidak pernah yakin dengan pernikahan Aldo dan juga Sienna.

 

“Dia membutuhkanmu sayang, bukan orang lain.” Ucap hana dengan lembut sambil mengusap lembut pipi Aldo.

Kemudian Sienna pun keluar dari kamar mandi dengan wajhnya yang sudah sangat segar. Aldo menuju di mana Sienna berdiri, kemudian Ia menuntun Sienna duduk di ranjangnya dengan penuh perhatian.

“Kita pulang ke rumah Mama kak??” Tanya Sienna dengan nada polosnya.

“Tidak, Kita kembali ke Apatemen.”

“Tapi.. Aku ingin tinggal lebih lama sama Mama..”

Aldo mendengus kesal, ia tidk mungkin menuruti kemauan Sienna. Jika mereka pindah ke rumah sang mama, tentu saja mereka akan tidur sekamar, dan Aldo tidak ingin itu terjadi.

“Tidak Si, Kita akan tetap kembali ke Apartemen.” Jawan Aldo dengan wajah datarnya.

“Kak… tapi mungkin bayinya ingin tinggal lebih lama dengan Neneknya.” Ucap Sienna sambil mengusap perutnya.

Aldo menghela napas panjang, jika sudah menyebut tentang bayi, tentu saja Aldo tidak bisa menolaknya. “Baiklah, tapi hanaya beberapa Hari.” Ucap Aldo mengalah.

Sienna bersorak gembira. Sienna tau, jika itu satu-satunya cara supaya Ia bisa tidur dengan nyaman dalam pelukan Aldo setiap malamnya. Yaa… sebenarnya itulah yang di inginkan Sienna. Entah kenapa sejak tidur bersama dengan Aldo malam itu, Sienna ingin lagi dan lagi. Tidur dalam pelukan Lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya tersebut entah kenapa terasa sangat nyaman untuk Sienna. Apa karena bayinya?? Mungkin saja, bukan kah beberapa orang pernah mengatakan jika terkadang seorang bayi tidak ingin jauh dari ayahnya?? Mungkin itu yang kini terjadi dengan Sienna dan bayinya. Ia ingin selalu berada di dekat Aldo.

“Sekarang Ayo kita bersiap-siap pulang.” Ajak Aldo yang di sertai anggukan antusias dari Sienna.

***

Sienna menatap dengan kagum kamar Aldo. Kamar yang khas dengan nuansa laki-laki dan entah kenapa Sienna sangat ingin memberikan sentuhan perempuan di kamar tersebut.

Ini pertama kalinya Sienna memasuki kamar Aldo. Saat mereka menikah, pernikahan tersebut dilakukan sangat buru-buru. Aldo hanya menikah di rumah Sienna sedang besoknya mereka langsung pindak ke Apartemen milik Aldo. Dan ini pertama kalinya Sienna menginjakkan diri di kamar Aldo.

“Anggap seperti kamar sendiri saja.” Ucap Aldo dengan datar. “Aku mau mandi.” Lanjutnya sambil menuju ke kamar mandi. Sedanhkan Sienna masih sibuk memperhatikan satu demi satu barang-barang di kamar tersebut.

Ada banyak bingkai-bingkai foto yang tertata rapi di rak-rak yang menempel di dinding kamar Aldo. Beberapa ada foto Aldo dengan keluarganya. Ada foto aldo dengan gadis mungil yang di yakini Sienna sebagai Bianca, Adik kandung Aldo yang kini masih tinggal di inggris.

Sienna tentu tau cerita tentang Bianca, karena ketika bertemu dengan Hana, Hana selalu selalu saja membahas tentang kesamaan dirinya dan juga Bianca. Usia Bianca hanya beda sekitar dua sampai tiga tahun dengan Aldo, tapi menurut  Hana, Sikap Bianca sama manja nya dengan sikap Sienna.

Entah kenapa mengingat itu membuat Hana tersenyum sendiri, Ahh mungkin akan asik jika bertemu dengan Bianca. Pikir Sienna dalam hati.

Sienna kemudian kembali menelusuri foto-foto tersebut. Ada juga foto Aldo, Bianca dan seorang gadis yang sepertinya  seumuran dengan Bianca. Sienna tidak tau siapa gadis tersebut, tapi sepertinya Sienna pernah melihatnya ketika di upacara pernikahannya. Mungkin kerabat dari Aldo, karena foto tersebut memperlihatkan betapa bahagianya mereka bertiga.

Sienna kembali menuju sisi lain rak-rak tersebut dan di sana banyak sekali pigura-piguraa kecil dengan foto Aldo bersama seorang wanita. Wanita yang sangat di kenalnya, memngingat setiap bulan Ia bertemu dengan Wanita tersebut. Dia Dokter Franda, Dokter kandungan yang memeriksanya setiap bulan. Dokter kandungan yang dulu sempat memberikan resep obat peluruh untuknya.

Sienna membatu saat menatap foto-foto tersebut. Kenapa banyak Foto Dokter Franda di kamar suaminya?? Apa sebenarnya hubungan Aldo dengan Dokter Franda?? Dan kenapa Sienna merasa bahwa ini bukan suatu yang baik untuk di ketahuinya??

“Kamu sedang Apa??” Suara Aldo menar-benar mengejutkan Sienna.

“Aaahh.. Aku sedang melihat foto-foto ini.” Ucap Sienna dengan polosnya.

“Ohh itu foto-foto lama.” Ucap Aldo dengan nada datarnya padahal kini Sienna tentu tidak tau jika Aldo sedang menegng.

“Kak.. Siapa gadis ini?? Aku melihatnya di upacara pernikahan kita saat itu.” Tanya Sienna sambil membawa sebuah foto Aldo dengan Bianca dan gadis tersebut.

“Ini Felly, Anak Paman Revan. Lain kali akan ku kenalkan. Dia sudah seperti Adikku sendiri. Kamu akan suka dengannya, “

“Kenapa Kak Aldo yakin aku akan suka dengannya?”

“Karena sekitar Satu tahun yang lalu, Dia sudah membuka toko Ice Cream dan cake miliknya sendiri, aku yakin Kamu akan selalu meminta di ajak kesana jika sudah mengenalnya dan mencicipi Ice Cream dan cake dari tokonya.”

“Waaahhhh Aku mau… Aku pasti bisa berteman baik dengannya.” Ucap sienna dengan binar mata bahagianya.

Dengan spontan Aldo mengacak poni Sienna. “Aku Akan mengenalkanmu nanti.”

“Emm Kak.” Panggil Sienna dengan sedikit ragu. “Kalau itu.. Emm… Kenapa ada banyak foto Dokter Franda di sini??”

Dan Aldo sangat tau jika pertanyaan itu pasti akan di lontarkan Sienna padanya. Apa Ia harus menjawabnya dengan jujur?? Ahhh yang benar saja.

“Franda kn temanku Si..”

“Ya, Aku tau, Tapi bukankah Nasya kekasih Kak Aldo?? Kenapa tidak ada Nasya di sini?? Kenapa malah ada foto Dokter Franda??”

“Karena, Aku baru mengenal Nasya beberapa bulan yang lalu, Kami menjalin kasih juga sejak sebulan sebelum kita bertemu. Aku tidak sempat membawa fotonya ke rumah ini.”

“Lalu Dokter Franda??” Sienna masih bertanya dengan nada polosnya.

“Franda temanku sejak SMA. Jadi kita memang sudah dekat sejak dulu. Dia bahkan sudah mengenal keluargaku.”

Sienna benar-benar tidak suka dengan pernyataan Aldo. Aldo berkata seakan-akan tidak ada yang bisa menggantikan posisi Franda di hati lelaki tersebut, Meski Aldo bilang mereka hanaya sekedar teman.

“Lalu, kenapa tidak ada fotoku??” Lirih Sienna sambil menundukkan kepalanya.

Sebenarnya Sienna tidak ingin bertanya tentang foto dirinya, karena Siena tentu tau apa alasannya. Tentu Aldo tidak akan memajang fotonya, bukankah dia bukan siapa-siapa di rumah ini?? Dirinya hanyalah Wanita yang tidak sengaja mengandung anak Aldo, itu saja.

“Karena Aku memang belum sempat memajangnya.”

“Memangnya Kak Aldo mau memajang fotoku??”

“Tentu saja, Kamu kan ibu dari Anak ku..” Ucap Aldo sambil tersenyum manis ke arah Sienna.

Sienna menunduk dan menganggukkan kepalanya. Hanya itu saja?? ‘Ibu dari Anakku’?? Entah kenapa Sienna kurang suka dengn jawaban Aldo.

***

Aldo menatap Sienna dengan tatapan tak terbacanya. Wanita di hadapannya itu sangat susah sekali di tebak. Sebentar memperlihatkan raut cerianya, tapi semenit kemudian berubah menjadi Sendu. Sebenarnya apa yang di rasakan Sienna saat ini?? Dan Astaga.. bagaimana bisa dirinya masih memajang foto Frand di dalam kamarnya??

Aldo tau, jika cepat atau lambat Sienna pasti akan tau perihal hubungannya dengan Franda dulu. Tapi tentu saja Aldo tidak ingin memberi tau secara terperinci. Entah kenapa Aldo takut itu bisa membuat Sienna sedih.

“Apa yang kamu pikirkan??” Pertanyaan Aldo membuat Sienna mengangkat wajahnya kembali. Wanit  itu kemudian menyunggingkan senyuman manisnya, senyuman seakan mengatakan jika Dirinya baik-baik saja.

“Nggak ada yang ku pikirkan.” Ucap Sienna dengan nda manjanya.

Dengan spontan Aldo merenggangkan kedua tangannya, “Kemarilah, Aku ingin memelukmu.” Aldo sendiri bahkan tak mengerti, kenapa dirinya bisa mengucapkan kalimat menggelikan tersebut.

Akhirnya Sienna menuruti permintaan Aldo. Sienna menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Aldo. Mengirup aroma suaminya tersebut.

“Aku benar-benar menyukai aromamu Kak..”

“Hanya Aroma sabun mandi.”

“Tapi aku suka.” Ucap Sienna masih dengan mengusap-usapkan wajahnya pada dada milik Aldo.

“Aku akan tetap ke kantor pagi ini, jadi Kamu baik-baik di rumah sama Mama yaa..” Pesan Aldo. Dan nanti malam kita ke tempat praktik Franda untuk memeriksakan keadaan kamu.”

Sienna terlonjak seketika. “Emm.. Emmm… Nggak perlu ke tempat Dokter Franda kak, Aku.. Aku sudah baikan kok.”

“Aku masih belum tenang Si.. Pokoknya nanti malam kita ke tempat Franda.” Ucap Aldo tanpa bisa di ganggu gugat.

Sedangkan Sienna hanya dapat ternganga. Ia bingung bagaimana cara menolak ajakan Aldo sedang ia tau jika ia menerima ajakan Aldo pasti Dokter Franda akan berkata jujur pada Aldo jika dirinya sebenarnya tidak pernah mengalami kontraksi atau pendarahan apa pun.

***

“Mama sedang apa?” tanya Sienna ketika mendapati Hana, Ibu mertuanya sedang sibuk melakukan sesuatu di taman tepat di sebelah kolam renang di samping rumahnya.

“Ehhh sini sayang. Mama lagi membuang tangkai-tangkai bunga yang mengering.” Ucap Hana pada Sienna dengan ramah.

“Aku bosan di rumah Ma, di sini sepi, sama seperti di dalam Apartemen kak Aldo.”

“Mama mengerti, kamu masih sangat muda, dan pastinya masih senang-senangnya jalan kesana-kesini.” Ucap Hana sambil mengusap lembur rambut Sienna.

“Kalau Aku mengajak temanku main kesini, Apa boleh ma??”

“Tentu boleh sayang, mama malah akan sangat senang jika kamu mengajak teman kamu kemari.”

Sienna tersenyum bahagia, Ia sangat senang jika Salah satu temannya di perbolehkan main ke rumah ibu mertuanya ini. Kemudian Siennaa teringat sesuatu. Ingin rasanya ia menaanyakan hl tersebut pada ibu mertuanya.

“Ma.. Sienna boleh tanya sesuatu nggak??”

“Tentu boleh sayang, tanya saja.”

“Emm.. Mama kenal nggak sama Dokter Franda??”

Hanya tampak mengernyit. “Franda?? Ahh.. ya, Franda teman Aldo??” Hana berbalik bertanya pada Sienna.

Sienna hanya menganggukkan kepalanya.

“Tentu sayang. Dia teman Aldo, dan dia sering main ke rumah ini.”

“Hanya teman Ma??”

“Ya, hanya teman. Dulu mama pikir mereka ada dalam satu hubungan tapi ternyata tidak. Mereka hanya berteman. Aldo bahkan sering gonta-ganti pacar.” Jelas Hana.

Tanpa sadar, Sienna menghembuskan napas panjangnya. Setidaknya Ia tau jika Aldo dan dokter Franda hanya sebatas teman. Tapi.. Entah kenapa dalam hati Ia masih merasa ada yang aneh??

“Kamu ada masalah dengan Franda??”

“Tidak Ma.. Dokter Franda itu Dokter kandunganku yang di pilihkan oleh Kak Aldo. Jadi Aku penasaran saja kenapa Kak Aldo sangat percaya pada Dokter Franda.”

Hana tersenyum lembut pada Sienna. “Yang Mama tau, Aldo dan Franda hanya berteman Si.. kalaupun ada sesuatu diantara mereka, Mama nggak tau, tapi saran Mama, kamu harus lebih percaya dengan Aldo.”

Sienna menganggukkan kepalanya dengan lembut. Ya, harusnya Ia mempercayai apa yang di katakan suaminya tersebut. Tapi Sienna masih merasa janggal saja. Ahhh lupakan saja, Pikir Sienna dalam hati.

***

Aldo sedang duduk santai di taman di se buah rumah sakit. Tentu saja rumah sakit tempat Franda bekerja saat siang hari sedangkan jika malam hari, Franda membuka sebuah tempat Praktik pribadi.

Aldo menemui franda bukan tanpa alasan, karena tentunya Aldo ingin membuat janji dengan Franda untuk memeriksakan keadaan Sienna ke tempat praktik pribadi Franda nanti malam. Dan juga tentunya untuk melepas rindu pada temannya tersebut. Ya.. Aldo sangt merindukan Franda, mengingat sudah beberapaa minggu terakhir mereka tidak bertemu.

Banyak alasan kenapa mereka jarang bertemu, yang pertama tentu karena kesibukan masing-masing, keberadaan Sienna apalagi Nasya tentu sangat mempengaruhi waktu Aldo. Dan aldo sangat merindukan saat-saat bersama Franda dulu.

Franda sahabatnya… Cinta pertamanya… Cinta terpendamnya….

Aldo menghela napas panjang mencoba melupakan semua tentang perasaan yang sudah di buangnya jauh-jauh. Tak lama, sosok yang di tunggunya itu pun akhirnya datang juga, Siapa lagi jika bukan Franda.

Dengan santai Franda menghambur ke dalam pelukan Aldo. Begitu pun dengan Aldo yang laangsung membalas pelukan Franda dengan pelukan hangatnya.

“Kamu sendiri Al?? Sienna mana??”

“Sienna di rumah, kemarin dia sempat mengalami kontraksi, Jadi dia masih istirahat total di rumah.”

Franda tersenyum. “Lalu untuk apa Kamu menemuiku siang ini??”

“Makan siang bersama mungkin??” Ajak Aldo.

“Maaf.. Bukannya aku menolak, tapi sebentar lagi akan ada jadwal Operasi.” Ucap Franda sambil melihat ke arah jam tangannya. “Ada Apa Al??”

“Aku kangen.”

Franda tertawa lebar. “Kamu masih suka nggombal ya, Dasar..”

Aldo tersenyum. “Aku hanya ingin membuat janji nanti malam. Aku Mau kamu memeriksa Sienna . Aku benar-benar khawatir dengannya.”

“Baiklah, Aku akan memeriksanya nanti malam.” Ucap Franda sambil menganggukkan kepalanya. “Kamu benar-benar sangat perhatian padanya Al.”

Aldo menunduk dan menganggukan Kepalanya. “Aku hanya takut terjadi apa-apa dengan Dia atau bayiku.”

“Bagaimana…. Jika Aku di posisi Sienna. Apa Kamu juga sekhawatir ini dengan keadaan ku dan Bayiku??”

Pertanyaan Franda membuat Aldo mengangkat wajahnya dan membulatkan matanya seketika ke arah Wanita cantik di hadapannya tersebut. Apa yang di maksud Franda?? Kenapa Franda melontarkan kalimat seperti itu??

 

-TBC-

Hayoooo sapa yang udah semakin penasaran??? hahahhahah

My Mate (Dina & Alex Story) – Part 3 (End)

Comments 7 Standard

MyMate

My Mate

Sekali lagi typo bertebaran yaa.. hhahhha semoga suka… 

 

PART III 

-Alex-

 

Tubuhku menegang seketika ketika aku mendengar kalimat itu. Dina mengucapkanya, mengucapkan jika dia menyayangiku. Apa memang begitu kenyataannya?? Atau dia mengucapkan kalimat tersebut hanya karena tidak ingin aku meninggalkannya???

Entahlah…

Aku meraskan napasnya mulai teratur. Dia tertidur… dengan pelan aku bangun. Ku lihat sepanjang kulitnya penuh dengan jejak kemerahan akibat cumbuanku. Kemudian aku mengangkat tubuhnya, menidurkannya di atas ranjang. Dan Aku pun ikut berbaring di sebelahnya. Ku rengkuh tubuh rapuhnya dalam pelukanku.

Aku menyakiti hatinya, Aku tau itu. Aku melihat matanya saat ia memohon supaya ku sentuh, aku merasakan Airmatanya saat jatuh dan menempel di pipiku. Dia tersakiti karena sikapku.

Maafkan Aku Dina.. Maafkan Aku.. Karena Kamu juga tidak sadar, Bahwa kamu juga sudah menyakiti hatiku, Kamu Tidak mencintaiku, tapi Kamu memanfaatkanku, itu yang membuatku Sakit.

Tapi betapa pun aku tersakiti karenamu, Cintaku tidak pernah hilang sedikitpu. Aku tak tau kenapa bisa seperti itu, Aku mencintaimu, Sungguh, dari hatiku yang paling dalam. Bisakah kamu membalas Cintaku dan melupakan masa lalumu???

Kini, Mataku kemudian terpejam, Lalu kemudian kesadaran mulai hilang dariku..

***

Siangnya, aku merasakan Dina semakin bergelung di dalam pelukanku, Seakan tubuhku menghangatkannya, membuatnyanya nyaman, dan Aku pun memeluknya semakin erat.

“Kamu sudah bangun??” Suara serak itu membuatku menundukkan kepala dan mendapati mata indah itu menatapku.

“Ya.. Aku tidak bisa tidur terlalu lama, mengingat ini siang hari.”

Aku melihat dia kembali menenggelamkan wajahnya dalam dadaku. Pipinya memerah. Apa dia mengingat kejadian tadi pagi di antara kami?? Dan sialnya, setelah mengingat itu, Aku kembali menegang seutuhnya.

Aku menjauhkan diri darinya. “Aku mandi dulu.” Ucapku memberinya Alasan, Aku tidak mungkin berdekatan dengannya terus, jika aku melakukan iu, mungkin aku tidak akan bisa berhenti menyentuhnya.

Ketika aku berbalik dan hendak berdiri meninggalkannya, Dia tiba-tiba memelukku dari belakang.

“Kamu menghindariku??”

Aku membatu seketika. “Kenapa Kamu berpikir seperti itu??”

“Karena Aku mersakannya. Kamu menghindariku..”

Suaranya sudah bergetar. Dia menangis, aku tau itu. Aku membalikkan tubuhku, kemudian memeluknya erat-erat.

“Aku tidak menghindarimu, Aku hanya tidak tau bagaimana harus bersikap padamu.”

Dia menjauhkan diri dari ku kemudian menatapku dengan tatapan tanda tanyanya. “Kenapa bisa nggak tau??”

“Dina, Aku sudah tau semuanya. Semua tentang Kamu dan Reynald. Dan juga tentang hubungan kita.” Lirihku.

Dina membulatkan matanya, Seakan Ia terkejut dengan apa yang ku katakan. “Aku… Aku..”

“Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku sudah tau. Dan Kamu nggak perlu berpura-pura lagi di hadapanku.” Ucapku sambil melepaskannyaa dan bergegas berdiri untuk meninggalkannya.

“Alex..” Panggilnya yang kemudian menghenikan langkahku. “Kamu nggak tau apa-apa tentangku, Kamu nggak tau apa yang ku rasakan dulu dan sekarang… Tapi kalau memang Kamu lebih percaya dengan apa yang kamu dengar atau apa yang Kamu lihat, Aku menyerah. Aku menyerah untukmu.” Ucapnya yang kemudian membuat hatiku bergetar.

Dina… Sebenarnya apa yang Kamu rasakan padaku???

***

-Dina-

 

Dia sudah tau semuanya. Tau tentangku dan juga tentang Mas Rey.. Tau tentang Aku yang hanya memanfaatkan keberadaannya. Tapi dia tidak tau apa yang kini ku rasakan.

Ini Sudah tiga minggu setelah pagi panas yang kami lalui berdua saat itu. Dan kami, tidak lagi melakukannya. Hubungan kami benar-benar mendingin, merenggang. Tak ada tegur sapa sedikitpun jika itu tidak penting.

Dia sakit hati karena ulahku yang memanfaatlkannya, tapi dia tidak tau bagaimana sakit hatinya Aku saat dia menghindariku. Yang ku sadari saat ini adalah, Aku mulai mencintainya, mencintai seperti aku mencintai Mas rey dulu.

Rasa ini rasa yang sama dengan rasa yang kurasakan pada Mas Rey dulu. Aku menginginkannya, menginginkan Alex, Suamiku, Tapi dia menghindariku. Setiap malam, aku tidak berhenti menangis ketika menyadari dia lebih memilih tidur di sofa dari pada di sebelahku. Alex benar-benar menghindariku.

“Kamu sakit??” Pertanyaannya membuatku mengangkat wajah ke arahnya.

Aku menggelengkan kepalaku kemudian kembali menatap Piring yang berisi nasi dan lauk di hadapanku. Yaa.. kini kami memang sedang sarapan pagi bersama.

“Kamu terlihat kurus, dan pucat.” Ucapnya lagi.

Tentu saja. Aku tidak nafsu makan saat melihat Sikapmu Alex.. kenapa Kamu tidak mengerti??

“Nafsu makan ku menurun, itu saja.”

“Makanlah yang banyak, Supaya Kamu bisa menghadapai bulan depan.” Ucapnya dengan datar.

Aku mengangkat sebelah alisku. “Bulan depan??” Tanyaku dengan nada penuh tanya.

Alex masuk ke dalam kamar, lalu kembali keluar sambil membawa sesuatu. Kemudian memberikannya padaku Sambil berkata. “Ku pikir ini yang terbaik untuk kita. Kita pisah saja..”

Aku ternganga dengan ucapannya. Tanpa sadar Aku bahkan menjatuhkan Sendok yang sedang ku genggam. Dia ingin pisah dengan ku?? Dia menceraikanku???

Mataku mulai berkaca-kaca, dan air mataku menetes begitu saja. Aku memandang Map berwarna merah tersebut yang bahkan belum ku sentuh. Tangan ku sudah gemetar, bahkan Aku sudah mulai terisak.

“Maafkan Aku, Aku hanya tidak ingin membuatmu tersiksa dengan hubungan ini.” Dia berbicara lagi, dan aku hanya mendengarnya, Aku bahkan tidak mampu menatap ke arahnya.

“Ku pikir aku sudah terlalu memaksakan kehendakku, keinginanku. Jadi, Aku ingin mengakhirinya di sini, melepaskanmu dari status yang membuatmu sesak.”

Alex masih saja berbicara sedangkan Air mataku tidak berhenti menetes dari pelupuk mataku. Apa dia tidak melihatku saat kesakitan seperti sekarang ini???

“Tanda tanganlah di sana.. Dan kita akan berpisah secara baik-baik.” Ucapnya kemudian membuat tubuhku semakin gemetar. Aku benar-benar tidak menyangka jika Alex akan melakukan ini terhadapku.

***

Beberapa minggu berlalu. Tubuhku semakin lemah. Kini Aku sudah kembali ke jakarta sejak dua hari yang lalu. Orang tua Alex tidak tau dengan rencana perceraian kami, tapi mereka tentu tau jika kami sedang tidak baik-baik saja.

Aku hampir saja jatuh tersungkur jika Ibu Alex tidak menarik tubuhku.

“Astaga.. Kamu tidak Apa-apa nak??” Tanya nya dengan nada khawatir.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. “Tidak Bu, Saya baik-baik saja.” Ucapku masih dengan membawa keranjang yang berisi baju-baju kotor yang akan ku cuci.

“Istirahatlah.. Kamu terlihat tidak sehat.”

“Saya baik-baik saja.” Ucap ku meyakinkan. Kemudian aku kembali berjalan dan baru dua langkah, kepalaku pening, mataku terasa berat, dan aku tidak dapat mengingat apapun lagi.

***

Aku terbangun di atas ranjang kamarku.  Mendapati Ibu mertuaku yang sudah duduk di pinggiran ranjang sambil menatapku dengan tatapan khawatirnya.

“Aku kenapa Bu..?”

Pertanyaanku di jawab dengan pelukan oleh Ibu mertuaku tersebut. Aku melihat Alex sudah berdiri di belakang Ibu mertuaku, menatapku dengan tatapan kosongnya.

“Astaga sayang.. bagaimana mungkin Kamu tidak tau. Kamu Hamil..”

Mataku membulat seketika. Hamil?? Bagaimana mungkin?? Lalu.. Lalu bagaimana denganku nanti?? Dengan Bayiku?? Bukankah Aku akan bercerai dengan Alex?? Mataku mulai berkaca-kaca, dan aku kembali meneteskan airmata. Kenapa takdir hidupku menyedihkan seperti saat ini??

***

Malamnya, Aku masih belum turun dari ranjang. Tubuhku masih lemah, dan pikiranku masih kacau. Aku melihat Alex berjalan ke arahku sambil membawa sebuah nampan. Dia kemudian duduk di pinggiran ranjang tepat di hadapanku.

“Makanlah.. Kamu harus banyak makan.” Ucapnya dengaan lembut.

Aku hanya diam. Ku raih nampan yang di bawanya. Kemudian aku mulai makan dalam diam. Aku tidak tau harus berbicara apa dengannya. Kepalaku masih pusing memikirkan semua ini.

“Aku sudah memikirkannya.. Kita.. Kita batalkan saja perceraian kita.”

Aku membatu seketika. Apa karena bayinya?? Apa dia membatalkan semuanya karena aku sedang Hamil?? Karena kasihan terhadapku??

“Kita lanjutkan saja.” Ucapku kemudian dengan nada datar.

“Tidak, Kita akan membatalkannya. Aku tidak bisa menceraikanmu saat Kamu sedang mengandung Anak ku.”

“Kalau begitu kita lanjutkan nanti setelah aku melahirkan.” Ucapku masih dengan nada yang ku buat sedatar mungkin. Padahal kini Aku merasa hatiku bagaikan di remas-remas.

“Kamu.. benar-benar ingin berpisah denganku??” Tanyanya dengan nada lirih.

“Bukannya Kamu yang ingin menceraikanku??” Aku berbalik bertanya. Alex termenung karena pertanyaanku.

“Baiklah, Aku yang salah.” Katanya kemudian.

“Alex, Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu membuatku seakan menjadi wanita yang paling jahat di muka bumi ini.”

“Tapi memang Aku yang salah Dina.. Aku salah karena sejak Awal Akulah yang memaksakan kehendakku untuk memilikimu.”

Aku melihat Alex berdiri, Dia mengacak kepala seperti oran yang sedang frustasi.

“Saat itu Aku tau kalau Kamu hanya memanfaatkan Aku, kamu masih mencintai Lelaki lain dan Aku tetap bersikeras memperistrimu. Karena Aku terlalu cinta dengan mu Dina.. Aku terlalu sayang Hingga perasaan ini membuatku Gila, Membuatku tidak bisa berpikir jernih kalau hubungan yang di paksakan seperti ini hanya akan menyakiti kita berdua.. Aku yang salah..”

“Lalu apa Aku tidak salah?? Apa aku tidak salah saat menerima lamaranmu padahal hatiku masih untuk lelaki lain?? Apa Aku tidak salah saat membuatmu semakin mencintaiku??”

Alex mendekat ke arahku. Dia menangkup kedua pipiku. “Tidak Ada yang salah denganmu. Akulah yang salah..” Ucapnya lirih.

Kemudian Aku memeluknya. “Ya.. Kamu yang salah, Kamu salah karena kamu hanya percaya dengan apa yang kamu lihat atau yang kamu dengar Dulu.. Kamu tidak memeberiku kesempatan untuk berbicara jika Kini semuanya sudah berubah. Perasaanku sudah Berubah Alex… Aku menyayangimu lebih dari yang ku tau.. Aku menginginkanmu sebesar Kamu menginginkan Aku.. Aku merasa tersiksa bukan karena hubungan ini tapi karena Sikapmu yang selalu menhindariku…” Aku berkata panjang lebar sambil terisak.

Tubuh Alex terasa kaku dalam pelukanku. Kenapa?? Apa dia masih tidak percaya dengan pengakuanku?? Lalu aku harus membuktikannya dengan Apa???

Aku melepaskan pelukanku kemudian menatap tajam ke arahnya. “Kaytakan Sesuatu Alex.. Aku ingin mendengar sesuatu darimu, Jangan Hanya diam..” Ucapku dengan Kesal.

Alex menggelengkan kepalanya. “Aku masih tidak percaya..”

“Kamu ingin bukti apa?? Apa dengan aku pergi kamu baru akan percaya dengan apa yang ku katakan??”

Tanpa ku duga, Alex memelukku dengan sangat erat. “Jangan.. jangan pergi dariku.. Seberapa menjengkelkannya Aku, Ku mohon jangan pernah tinggalkan Aku.”

Aku kembali menangis. “Tapi kamu yang memberiku Surat cerai saat itu.. Kamu yang ingin Aku pergi dari hidupmu..”

“Surat cerainya sudah ku robek sejak lama.. jadi kita lupakan saja permintaan konyolku kemarin.”

“Apa??? Kamu yakin??”

Alex kemudian menangkup kedua pipiku. “Dina, Saat itu aku terlalu gila. Aku tidak berpikir panjang saat memberimu surat sialan itu. Tapi ketika melihatmu menangis dan bergetar saat menandatangani surat tersebut, Hatiku tersentuh. Dengan bodohnya aku merobek surat tersebut malam itu juga, dan aku berpikir akan mencari alasan lain agar kamu tetap mau bersamaku nantinya. Kehamilan Kamu bukanlah alasan kenapa Aku membatalkan perceraian kita, Karena dari dalam hatiku yang paling dalam, Aku tidak menginginkan perceraian tersebut. Aku hanya ingin membuatmu bahagia, tapi jika perceraian itu membuatmu menagis, Untuk apa aku melanjutkannya??”

“Jadi.. Kita tidak jadi cerai??” tanyaku dengan polos.

“Tidak. Tapi kamu harus ingat, Bukan karena Bayinya yang menjadi alasan tapi Bayi itu semakin mengukuhkan Alasasanku supaya tidak menceraikanmu..”

“Lalu apa alasan  mu yang sebenarnya??”

“Karena Aku Cinta Kamu.”

Empat kata itu seakan membuat jantungku meledak saat itu juga.

“Itu alasan utama kenapa Aku membatalkan perceraian kita, Merobek sura-surat sialan tersebut. Karena Aku cinta kamu. Aku tidak ingin melihatmu menagis.. Dan Aku ingin selalu berada di dekatmu. Maaf kalau aku terlalu egois.”

Dan tanpa banyak bicara lagi Aku memeluknya. Memeluk Alex dengan sangat erat. “Aku juga mencintaimu Alex… Cinta yang terlambat untuk ku sadari.. Cinta yang membuatku menerima lamaranmu.. Cinta yang membuatku sedih saat Kamu menghindariku.. Dan Cinta yang membuatku menangis saat mengetahui Kamu ingin berpisah dariku. Aku mencintaimu dan Aku bru menyadarinya.. Maafkan Aku…” Alex membalas pelukanku dengan sangat Erat. Sesekali ia mengecup lembut kepalaku.

“Berhenti minta maaf.. kita sama-sama salah, sama-sama bodoh karena cinta..” Dan Aku hanya bisa mengangguk dalam pelukannya.

***

Beberapa bulan kemudian…

“Ibu Dina duduk saja, Astaga..”  Suara Emi membuatku mengangkat wajah ke arahnya.

“Aahhhh.. hanya menata ini saja, nggak akan capek kok..”

“Tapi Pak Alex pesan..”

“Kamu hanya perlu bilang sama Pak Alex kalau saya sedang butuh olah raga.” Kataku dengan menyunggingkan senyuman.

“Ibu Dina terlalu rajin.” Ucap Emi lagi yang hanya ku balas dengan senyuman.

Saat ini aku memang sedang sibuk menata barang di rak-rak supermarket. Yaa.. ini seakan menjadi kebiasaan baru untukku. Sejak usia kandungaanku empat bulan, Aku sangat betah berada di rak-rak Bagian bahan-bahan pembuatan kue.. entah kenapa Aku sangat menyukai baunya. Dan sejak saat itu, Aku selalu menyempatkan diri berada di sana untuk menata barang atau sekedar menghirup aromanya saja.

Yaa inilah Anehnya orang Hamil. Aku tidak pernah ngidam yang macam-macam. Alex bahkan dengan lucunya memintaku untuk meminta sesuatu yang Aneh darinya, tapi aku tidak pernah meminta hal tersebut. Aku hanya ingin berada di sini, Di rak-rak bagian bahan pembuatan kue, untuk menghirup aromanya. Hanya itulah yang ku inginkan setip harinya hingga usia kendunganku kini mencapai Delapan bulan.

Aku merasakan sebuah lengan memelukku dari belakang. Siapa lagi jika buka Alex, Suamiku yang tak tau malu. Ya.. Alex benar-benar tidak tau malu saat di hadapan karyawan nya. Ia seakan tidak ingin di lihat sebagai atasan, tapi igin di lihat sebagai teman, maka dari itu Ia tidak pernah malu-malu bermesraan denganku di depan karyawannya.

“Kamu kok masih di sini??”

“Aku masih belum puas menghirup aroma pandan ini Alex..”

Aku merasakan Alex tersenyum. “Sepertinya dia perempuan.” Ucapnya sambil mengusap lembut perutku, kemudian aku merasakan bibir basahnya menyentuh kulit leherku.

“Astaga.. harusnya kalian melakukan itu di tempat lain. Dasar nggak tau malu.” Suara Angkuh tersebut memaksa kami berdua menjauhkan diri masing-masing dan menoleh ke arah suara tersebut berasal.

Dan benar saja. Di sana sudah Ada Clara dengan Troli yang di dorongnya beserta Mas Rey yang sedang menggendong Denny, putera pertama mereka.

Aku tersenyum mungkin kini wajahku sudah memerah karena malu. Aku dan Clara kini sudah semakin dekat, itu bermula ketika Aku menjenguk Clara saat melahirkan Denny. Clara benar-benar sudah sangat Berubah. Sikap dan perilakunya berubah, Dan kini kami bisa menjadi teman baik.

Clara sering sekali bertemu denganku, karena hampir tiap hari dia belanja di supermarket kami, dan hampir tiap hari juga aku berada di sini. Kedekatan kami terjalin begitu saja.. Saat bertemu, kami berbicara banyak, tentang kehamilan, tentang bayi.. dan aku suka.. Aku suka dengan Clara yang saat ini. Dia sangat pantas bersanding dengan Mas Rey..

“Kalian mencari sesuatu??” tanya Alex pada Mas Rey dan Clara.

“Aku Cuma mengantarnya mencari bahan Kue..”

“Ku pikir kemarin kamu sudah belanja banyak bahan kue Cla..” Kataku kemudian.

“Bahan-bahan itu habis karena dia selalu gagal membuat Chese Cake yang dia inginkan..” jawab mas Rey dengan wajah datarnya.

“Heeiii Aku tidak akan gagal kalau kamu tidak menggangguku Rey..”

“Yaa.. dan aku tidak akan mengganggu kalau kamu tidak menggodaku.”

“Menggoda?? Dasar..” Clara mulai mencubit-cubit lengan Mas Rey.

Aku dan Alex tersenyum saat melihat mereka berdua saling bertengkar seperti kucing dan tikus. Yaa.. mereka berdua memang sangat aneh, Pasangan aneh tapi manis, aku suka melihatnya.

***

“Kapan-kapan main kerumah kami yaa.. Aku sudah bisa membuat Brownis..” Ucap Clara dengan antusias.

“Aku akan main kesana kalau kamu sudah berhasil membuat Chese Cake.” Ucapku kemudian.

“Baiklah, Aku akan buktikan kalau aku bisa membuatnya” Ucapnya dengan tertawa lebar. Lalu dia berjalan menuju mobil  yang di dalamnya sudah ada Mas Rey. Keduanya kemudian melambaikan tangan padaku dan Alex. Lalu mereka pergi..

Aku menatap Alex dan tersenyum padanya. “Ku pikir hari ini tidak pernah terjadi padaku.”

Alex mengerutkan keningnya. “Hari apa??”

“Hari dimana aku sangat bahagia, saat melihat Cinta pertamaku bahagia dengan Cinta terakhirnya.. Dan Aku sendiri bahagia dengan Cinta terakhirku..”

Alex kemudian membawa tangannya di pinggangku. “Dan Aku juga tidak pernah berpikir hari ini akan terjadi.. Hari dimana Aku sangat bahagia, melihat Wanita yang ku cintai menjadi Cinta terakhirku, Jodoh yang di berikan tuhan untukku.. dan dia bahagia dengan kehadiranku..” Ucapnya sambil menggosok-gosokkan hidung mancungnya pada hidungku.

“Memangnya Aku bahagia dengan kehadiranmu??” Tanya ku menggodanya.

“Jadi kamu nggak bahagia??” Dia mulai merajuk.

Aku kemudian mengalungkan lenganku pada lehernya. “Aku bahagia Alex.. sangat bahagia….”

Alex mengecup keningku lembut. Aku merasakan kelembutannya.. kebahagiaan saat Ia berada di sisiku.. Terimakasih Tuhan.. karena Kau telah menciptakan dia untukku, menuntunnya padaku.. dan membuatnya menjadi Jodoh terakhirku.. Terimakasih….

 

***END***

Akhirnya end juga yaa… makasih semangatnya selama ini yaa.. akhirnya Dina danAlex ikut bahagia seperti yang lainnya,,, hahahha lunas yaa hutangku,,, Next akan ada Oneshoot Daesung Bigbang dengan judul ‘Smiling Angel.’ tunggu aja yaa… *KissKiss

My Mate (Dina & Alex Story) – Part 2

Comments 4 Standard

MyMate

My Mate

PART II

-Dina-  

 

Hari demi hari kulalui dengan sangat tidak nyaman. Ya.. aku tidak nyaman dengan kebohongan yang sudah ku lakukan pada semua orang di sekitarku. Aku berbohong saat aku mengatakan jika aku menyukai Alex. Aku melakukannya karena supaya dia bersedia menjadi kekasihku dan membunuh semua rasa curiga dan rasa cemburu yang di rasakan Clara terhadapku.

Dan semua memang berjalan sesuai rencanaku. Semua orang rumah tau jika Aku dan Alex memiliki hubungan special. Bahkan sikap Clara kini sudah membaik denganku ketika kami tak sengaja bertemu. Dia lebih ramah dan murah senyum. Aku senang.

Hanya saja saat di dekat Alex, aku merasa tak nyaman. Aku merasa bersalah padanya karena sudah memanfaatkannya. Alex benar-benar sangat baik terhadapku. Dia bahkan sudah mengajak ku berkunjung ke rumahnya. Orang tuanya Baik, Dan aku suka. Hanya saja…..

Aku memekik dalam lamunanku saat subuah telapak tangan menyentuh bahuku. Dia lelaki itu, Alex.

“Sedang melamun apa??” Ucap Alex yang kini sudah duduk di sebelahku.

“Enggak, Aku tidak memikirkan apa pun.”

Aku hanya menunduk. Sungguh, kini saat di hadapan Alex, aku sama sekali tak berani menatap ke arah matanya, entah kenapa ada rasa yang aneh saat aku menatapnya. Dan aku tidak ingin rasa itu mempengaruhiku.

“Ayo.. Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat.”

Aku mengernyit. “Kemana??”

“Ayoo ikut saja..” Ucapnya sambil menarik pergelangan tanganku.

Akhirnya mau tak mau Aku mengikuti kemana kaki Alex melangkah. Kami masuk ke dalam supermarket tersebut, lalu menaiki tangga hingga kami berada di atap supermarket tersebut.

“Alex, untuk apa kita kemari??”

“Sudah, ikut saja..” Alex masih menarik pergelngan tanganku hingga kami berada di pinggiran Atap supermarket. Ini benar-benar mengerikan, karena aku adalah orang yang takut ketinggian jadi bagiku ini sangat mengerikan. Sebenarnya Alex mau apa sih??

Dan kemauan Alex akhirnya terlihat juga olehku saat satu persatu karyawan supermarket tersebut keluar sambil membawa kertas bertuliskan huruf-huruf yang di taruh di atas kepala mereka.

‘Ardina.. Menikahlah denganku…’

Begitulah tulisannya. Apa Alex melamarku?? Please.. jangan lakukan ini Alex, Aku bahkan ingin memutuskan hubungan kita karena merasa bersalah denganmu..

“Menikahlah denganku…” Suara itu terdengar lirih. Aku menoleh ke arah Alex, mata nya tampak sendu tapi jelas tersirat ketulusan di sana. Aku merasakannya, aku dapat melihatnya.

Dan entah kenapa aku hanya bisa mengangguk kan kepalaku, aku benar-benar tidak sadar saat melakukan itu. Aku menerima lamaran Alex begitu saja tanpa tau resikonya.

Tuhan, Jika memang ini kehendakmu, Jika Lelaki di hadapanku ini memang jodohku, tunjukkan kami jalan untuk saling mencintai…

***

Seperti mimpi… itulah hidupku saat ini.

Aku menjadi istri seorang Alex yang ternyata dia adalah pemilik dari supermarket langananku. Saat tau, Aku sangat terkejut. Tapi tentu itu tidak mengurangi rasa gelisahku saat menghadapinya.

Ku pikir kini semuanya sudah berubah. Tiga bulan menjalani hidup sebagai Istrinya membuatku mengerti bagaimana sosok Alex yang sebenarnya. Di baik, sangat baik, Sederhana dan dia sangat menyayangiku, setidaknya itu yang bisa ku lihat darinya. Tapi, tentu masih ada yang kurang, hatiku belum sepenuhnya menerimanya, entah kenapa aku juga tak tau, Apa Karena Mas Rey?? Sepertinya bukan. Tapi bagaimana pun juga aku tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk hubungan kami.

Selama tiga bulan menjadi Istri Alex, Aku masih perawan. Ya, Dia sama sekali belum menyentuhku. Aku tidak tau karena apa, Ku pikir saat malam dia sedikit menghindariku. Apa dia memiliki kelaian?? Entahlah, tapi aku cukup lega, karena aku tidak mungkin melakukan hal itu saat hatiku sendiri belum pasti untuk menerima Alex di sisiku.

“Dua hari lagi aku akan keluar kota.” Suara itu membuatku membatu.

Kini Aku sedang merapikan Baju yang akan di kenakan Alex ke Supermarket. Tapi perkataannya membuatku menghentikan semua gerakanku. Keluar kota?? Kenapa tiba-tiba??

Aku membalikkan badan dan mendapati Alex sudah berdiri di hadapnku. “Kenapa tiba-tiba??”

“Ayah memutuskan membangun sebuah supermarket lagi di sana. Jadi Aku harus mengawasinya secara langsung.”

“Aku ikut.” Entah dari mana Aku megucapkan permintaan tersebut.

Aku melihat Alex menggelengkan kepalanya. “Di sana Akan lama.. mungkin sekitar satu sampai tiga bulan.”

“Dan Kamu akan meninggalkanku selama itu?? Tidak, Aku mau ikut Alex.”

Dan aku terkejut dengan tingkahnya. Dia tiba-tiba memelukku. “Baiklah, Siapkan semuanya, Dua hari lagi kita ke jogja..”

Senyuman tersungging begitu saja pada wajahku. Aku senang jika selalu bersama Alex, Aku bahagia jika di dekatnya. Tapi aku masih tidak mengerti, Perasaan apa ini???

***

-Alex-

 

Ardina… Wanita yang kini menjadi Istriku.. Wanita yang benar-benar ku cintai dan ku yakini menjadi jodohku sejak pertama kali aku melihatnya, Dan dia juga wanita yang sudah mematahkan hatiku..

Aku memejamkan mataku ketika kepalaku mulai berdenyut. Saat itu, Aku tidak sengaja mendengarnya. Itu terjadi jauh sebelum aku melamar Dina.

*Flashback

 

Aku keluar dari rumah besar itu.. rumah besar tempat tinggal Dina, Kekasihku. Ya.. Hari ini entah kenapa tiba-tiba Dina mengajakku ke rumah yang di tinggalinya. Senang, tentu saja, ku pikir selama ini hanya Aku yang antusias dengan hubungan kami. Tapi ternyata Dina juga, terbukti dengan dia mengajak ku ke rumah yang selama ini Dia tinggali. Dia mengenalkanku dengan semuanya.

Tapi saat di dalam tadi, Ku pikir Ada yang Aneh. Yaa… Ada sesuatu yang tidak ku ketahui, entah apa itu aku tak tau.

Ibu Allea, Majikan Dina adalah orang yang sangat baik, Ia ramah, sangat ramah. Memiliki seorang Putera bernama Reynald dan juga menantunya yang bernama Clara. Kalau tidak salah, Clara adalah salah satu model papan atas, Aku tau karena wajahnya sering muncul di beberapa Produk yang ada di Supermarketku.

Ketika makan malam selesai. Aku di ajak Dina menuju ke sebuah ruang tengah, Yang disana sudah ada Reynald dan juga Clara. Sekali lagi, Dina mengenalkanku di sana. Seakan menunjukkan Bahwa Aku adalah Kekasihnya, orang yang sangat di cintainya..

Mata Dina tidak berhenti menatap Clara, seakan menilai bagaimana reaksi wanita tersebut. Sedangkan aku sendiri  sibuk memperhatikan Reynald. Reynald tampak senang mengetahui hubungan kami. Begitu pun dengan Clara. Dan di sinilah aku mulai bingung. Untuk Apa Dina mengenalkanku pada Reynald dan Clara?? Bukankah cukup mengenalkanku dengan ibunya Saja??

Aku menghilangkan semua pertanyaan-pertanyaan yang embuat hatiku tidak nyaman. Akhirnya malam itu berakhir dengan saling bercerita di ruang tengah.

Saat Aku pulang, dan baru sampai di perempatan pertama, Aku melupakan sesuatu. Ya.. Aku lupa memberi tau Dina jika Besok giliranku mengajaknya ke rumahku. Aku ingin mengenalkan dia dengan orang tuaku.

Akhirnya aku berbalik Arah dan kembali menuju rumah yang di tinggali Dina. Saat itu, Ibu Allea lah yang membukakan pintu untukku. Aku meminta ijin untuk menemui Dina sebentar. Dan Ibu Allea menunjukkan dimana letak kamar Dina. Akhirnya aku menuju ke sana, dan di sanalah aku mengetahui semunya..

Aku mendengar Dina sedang berbicara dengan seseorang yang ku yakini Adalah Ibunya sendiri..

“Kamu nggak boleh seperti itu Din.. Kasihan Nak Alex.”

“Lalu aku harus bagaimana Bu, Aku tidak mau selalu merasa canggung saat Mas Rey dan Clara berkunjung ke rumah ini.”

“Tapi Memanfaatkan Nak Alex juga tidak baik, Dia Lelaki yang Baik, Ibu bisa melihat ketulusannya, dia benar-benar mencintaimu Din..”

“Tapi aku tidak Bisa Bu.. Hatiku sudah tertutup untuk Cinta, Cukup Mas Rey saja lelaki yang memberiku Cinta dan merenggutnya kembali, Aku tidak ingin lagi….”

Jantungku berdegup tak menentu.. Dadaku terasa panas dan sesak.. Dan pada detik itu aku tau, Jika Dina hanya mencintai Reynald… Aku hanya sebagai alat untuk membuat hubungan mereka semua membaik tanpa ada rasa canggung lagi… Dina memanfatkanku…

 

Aku terkesiap  dari lamunan saat tangan halus itu menyentuh pundakku dengan lembut. Tangan siapa lagi jika bukan tangan Dina.

Kini Aku sudah berada di sebuah Apartemen sewaan di Jogja. Yaa.. sudah tiga Hari kami di sini, Aku harus mengontrol secara langsung membangunan supermarket besar milik keluargaku yang bercabang di jogja.

“Kamu nggak berangkat??” Tanya nya dengan lembut.

Aku menggelengkan kepalaku. Hari ini kepalaku terasa pusing, Dan aku memutuskan untuk Libur seharian.

“Kamu sakit??” Tanyanya penuh perhatian.

Yaa.. Dina memang selalu perhatian, Di benar-benar istri idaman. Tapi… aku tidak bisa membohogi diriku sendiri, Sejak saat itu Hatiku sudah tersakiti karenanya. Aku memutuskan untuk tetap melamarnya, menjadikannya istriku karena Aku benar-benar ingin memilikinya. Terlihat Egois mungkin, tapi biarlah.. Aku benar-benar tulus mencintainya meski aku tau, Tidak ada Cinta darinya untukku.

“Aku hanya sakit kepala.” Jawabku dengan nada selembut mungkin.

Dina kemudian duduk tepat di sebelahku. Tangan rapuhnya menyapu keningku. Dan aku hanya bisa memejamkan mata. Berada di dekat Dina membuatku semakin jatuh dalam perasaan Cinta padanya.

“Alex.. Ada yang kamu sembunyikan dariku??” Tanyanya dengan mata sendunya yang menatap tepat pada manik mataku.

Aku mempalingkan wajahku kearah lain, dan menggelengkan kepala cepat-cepat. “Tidak Ada.”

“Lalu kenapa Kamu memperlakukanku seperti ini???” Dia bertanya dengan suara lirihnya.

Aku menelan ludahku dengan susah payah. “Memperlakukan seperti apa?” tanyaku dengan nada yang ku buat seperti orang bingung.

“Kamu menghindariku..”

“Tidak Dina.. Kenapa aku menghindarimu??” Ucapku selembut mungkin sambil menatapnya lekat-lekat.

“Aku merasakannya Alex, Kamu lebih pendiam dari pada dulu, Kamu terlihat sendu tidak seperti dulu. Kenapa??”

Aku hanya tertunduk tidak berani menatapnya. Dia terlalu menuntut untuk tau apa yang terjadi padaku.

“Aku istrimu Alex, Tapi Kamu tidak pernah sekalipun meyentuhku.. Kenapa??”

Aku masih tertunduk. Kenapa?? Karena aku tau kamu tidak menginginkannya Dina… Kamu tidak menginginkan bersamaku. Kamu hanya terjebak dengan rencanamu sendiri, dan Aku, Bodohnya Aku karena sudah membuat kita sama-sama terjebak dalam hubungan yang menyesakkan ini…

Tanpa ku duga, Dian meraih sebelah tanganku, dan membawanya tepat pada payudaranya. “Sentuh aku..” Kata-katanya sarat dengan nada kesakitan. Aku membulatkan mataku ke arahnya, Wajahnya benar-benar menyiratkan rasa sakit hati yang teramat sangat. Apa Aku sudah menyakitinya???

Aku hanya bisa membatu menatapnya. Dina kemudian mengalungkan lengannya pada leherku. Mendekatkan wajahnya pada wajahku. Kemudian berbisik tepat di depan bibirku.

“Sentuh Aku.. Ku mohon..”

Setelah perkataannya tersebut, Dina menempelkan bibirnya pada bibirku, melumat habis bibirku dengan Ciuman lembut dari dia. Sedangkan aku sendiri masih membatu. Benar-benar tidak menyangka jika Dina melakukan hal ini padaku.

Aku mendengar dia Terisak. Airmatanya meluncur begitu saja dan mengenai pipiku. Dia menangis, tapi tetap menciumku walau aku tak sedikitpun membalasnya. Apa dia menangis karenaku?? Apa aku sudah terlalu menyakiti hatinya???

***

-Dina-

 

Wanita murahan…

Seperti itukah aku saat ini?? Aku seakan menjajakan diriku pada seorang Alex, Suami yang sudah lebih dari tiga bulan ku nikahi, Tapi tak sekalipun dia mau menyentuhku. Dan kini, Aku lah yang memaksanya untuk menyentuhku seperti wanita yang haus akan sentuhan Lelaki.

Aku tau ada yang berbeda dengan Alex. Dia benar-benar berbeda dengan Alex yang dulu, Pemuda yang selalu meggodaku, menempel kemanapun kakiku melangkah saat aku belanja di supermarket tersebut. Aku merindukan Aalex yang itu…

Kini Alex mungkin masih sama, Masih perhatian, lembut dan baik hati. Tapi Aku melihat ada yang berbeda. Seakan Ada sesuatu yang membuatnya sedikit menjauhiku.

Aku kembali melumat bibir Alex, bibir yang sama sekali tidak bergerak seakan tidak tertarik denganku. Tangisku semakin menjadi ketika aku sadar jika Dia tidak menginginkanku. Lalu aku melepaskan pangutanku, tertunduk dan terisak.

Dasar bodoh..!!! Harusnya Aku tau, Alex tidak mau menyentuhku mungkin karena dia tidak tertarik denganku. Lalu kenapa dia menikahiku?? Dan aku tidak bisa berpikir kembali ketika tiba-tiba Alex mengangkat wajahku kemudian mencium bibirku dengan membabi buta. Melumatnya seakan sudah lama sekali dia menahan diri untuk melakukan hal ini padaku.

Aku memejamkan mataku, tubuhku bergetar ketika tangan Alex mulai menjamahku. Membuka satu persaku kancing kemeja yang sedang ku kenakan. Setelah tubuhku polos tanpa sehelai benang pun, Alex mulai mendorongku sedikit demi sedikit hingga tubuhku terbaring sempurna di atas Sofa panjang yang tadi kami duduki.

Setelah tubuh kami sama-sama polos tanpa sehelai benang pun, Alex kembali menindihku. Ia mendaratkan bibirnya di sepanjang puncak Payudaraku. Memujanya, membuatku merasakan rasa aneh yang baru saat ini ku rasakan.

Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan erangan yang entah kenapa seakan ingin keluar dengan sendirinya dari bibirku.

“Jangan Di tahan.” Bisik Alex dengan suara paraunya. Dan aku merasakan tubuhku semakin memanas saat mendengar suaranyaa yang terdengar berbeda dari biasanya tersebut.

Lama kami berdua saling menyentuh satu sama lain, mencumbu satu dengan yang lainnya, hingga tiba saatnya Alex menyatukan dirinya denganku. Rasanya tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata. Aku menangis, dan Alex memelukku dengan erat, sesekali ia mengecupi permukaan leherku. Kemudian ras sakit itu sedikit demi sedikit menghilang. Dan Aku mulai mendesah kembali, napasku kembali terputus-putus seiring gerakan yang di lakukan oleh Alex.

Tak ada sedikitpun kata di antara Kami. Kami hanya saling memandang satu smaa lain, menyentuh satu sama lain, dan mendesah satu sama lain hingga puncak kenikmatan itu kami capai bersama-sama.

Alex kembali mencumbuku dengan lembut sebelum dia tersungkur di atasku. Napasnya menggebu setelah pencapaiannya, detakan jantungnya menyatu dengan detkan jantungku. Tubuhnya sedikit bergetar, pun dengan tubuhku. Pada detik ini aku sadar, Bahwa perasaan yang kami rasakan sama, Kami menyatu dengan suka rela.. dengan satu rasa yang aku sendiri belum yakin apa itu bisa di sebut dengan rasa Cinta..

Jika memang ini Cinta, Aku ingin mencintainya sampai nanti, sampai umurku menua, berdua, bersamanya..

“Alex.. Aku sayang kamu..”  tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu, kalimat yang benar-benar terucap dari dasar hatiku, bukan kalimat yang sengaja ku rencanakan untuk menjeratnya. Aku benar-benar menyayanginya, Menyayangi Alex, Suamiku…

 

-TBC-

My Mate (Dina & Alex Story) – Part 1

Comments 4 Standard

MyMate

My Mate

 

Halooo… mana yang dari kemaren pengen tau kisah dina dan Alex?? yuukkk mari mampir yaaa.. wkwkwkwk okay.. enjoy reading yaa.. *KissKiss

 

 

Tittle : My Mate…

Cast : Ardina & Alex

Genre : Roman Dewasa

 

Part I

 

-Alex-

 

Pagi ini Aku benar-benar sibuk. Aku harus mengurus beberapa barang yang datang, belum lagi beberapa karyawan baru yang harus melakukan training denganku secara langsung. Yaa tentu saja aku tak begitu mempercayakan pekerjaan kepada orang-orang yang tak jujur. Jadi mau tak mau aku sendiri yang harus menyeleksinya.

Seperti biasa, jakarta pagi ini sangat macet, benar-benar macet seperti hari-hari sibuk biasanya. Pantas saja setiap hari pasti ada saja karyawanku yang telat masuk kerja, mungkin salah satunya karena kemacetan yang semakin parah ini.

Saat aku jenuh dengan kemacetan yang menimpaku, tiba-tiba aku melihat Seorang Nenek yang berjualan buah jambu biji terjatuh tepat ddi pinggiran jalan. Buah-buah si nenek itu berhamburan bahkan ke tengah jalan. Tak ada satu orang pun yang mau membantuunya. Karena kasihan, aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan membantu nenek-nenek tersebut, tapi saat aku akan keluar. Aku melihatnya….

Dia seperti cahaya yang menyinari gelapnya malam.. Seperti hujan yang membasahi gersangnya tanah gurun… Wajahnya cantik dan entah kenapa aku merasa dapat melihat kecantikan hatinya juga…

Aku memandangnya, sibuk membantu nenek tua tersebut memunguti buah jambu, padahal kulihat dia juga sedang sibuk membawa barang belanjaannya. Tak ada satu orang pun yang membantu nenek tersebut kecuali wanita itu. Wanita cantik dengan wajah sendunya.

Klakson mobil di belakang mobilku menyadarkanku dari lamunan. Aku harus segera menjalankan mobilku dan meninggalkan pemandangan menyejukkan hati tersebut. Wanita itu…. jika kita bertemu lagi… Ku pastikan Kamulah jodohku…

***

Aku membantu para pegawai pria menurunkan barang-barang yang baru datang dan membawanya ke area Gudang. Yaa, beginilah pekerjaanku. Supermarket ini di dirikan oleh Ayahku. Dulu sekali saat aku masih kecil, supermarket ini hanya sebentuk toko kecil pada Umumnya. Yaa tentu saja, kami bukanlah orang kaya.

Dengan usaha keras Ayahku, sedikit demi sedikit semuanya berubah. Toko kecil kami berubah menjadi lebih besar dan lebih besar lagi hingga seperti saat ini, bahkan setelah aku ikut terjun di dalamnya, Kami membuka beberapa cabang supermarket di kota ini. Karena itulah Aku tak bisa main-main dengan usaha ini. Sebisa mungkin semuanya ku kerjakan sendiri. Bahkan beberapa pelanggan mengira jika aku ini hanya karyawan biasa. Biarlah, aku sangat suka di kira sebagai orang biasa.

Setelah selesai membantu para karyawanku, Aku duduk dengan peluh yang menetes di dahiku. Seragam yang ku kenakan ini pun basah kuyub. Yaa aku juga mengenakan seragam yang sama dengan para karyawanku. Entah kenapa bagiku itu lebih nyaman dibandingkan harus mengenakan setelan dan lain sebagainya.

Saat aku masih terengah karena kelelahan. Mataku menangkap bayangan itu.. Sosok beberapa hari yang lalu yang ku lihat sedang membantu seorang nenek di pinggir jalan. Dia sedang berjalan dengan seorang wanita paruh baya. Berbelanja di tempatku.

Aku tersenyum. Mungkinkah dia benar-benar Jodohku??

Aku berjalan pelan di belakang mereka, sesekali membenarkan barang di  Rak-rak barang. Ku dengar sesekali mereka sedikit bicara.

“Jadi… Bu Allea nanti akan memasaknya dengan ini?”

“Iya Din..  Rey sangat suka saat saya membuatkannya itu.”

“Saya mau di ajari juga cara membuatnya.” Kata wanita itu dengan sedikit malu.

“Benarkah?? Baiklah, nanti kita akan membuatnya bersama.”

Aku melihat ada yang aneh, Wanita itu nampak sangat sopan dan patuh dengan Wanita paruh baya yang sedang mengajaknya berbelanja tersebut. Jika di lihat dari gerak gerik dan cara bicaranya, mereka tentu jelas bukan seorang ibu dan Anak. Lalu… Apa mereka sepasang menantu dan Mertua?? Ahhh jika benar, berarti aku sudah terlambat.

Pikirku ingin mengenyahkan bayangannya dan menghindar pergi, namun nyatanya otak dan syarafku berkata lain. Pandanganku seakan enggan berpaling dari wanita itu, wanita yang hingga saat ini tak kukenal.

Saat setelah mereka sudah keluar dari Supermarketku, aku menghampiri kasir yang tadi melayani mereka.

“Ada apa pak?”

“Emm.. Wanita yang tadi, Apa dia sering belanja kemari, atau baru pertama kali ini??”

“Yang mana Pak??”

“Yang baru saja kamu layani ini tadi.”

“Ohh Mbak-mbak dan ibu yang tadi itu?? Mereka memang sering belanja kemari Pak, Mereka pelanggan tetap kita.”

Aku membulatkan mataku, “Benarkah??”

“Iya pak.. Rumahnya kan tak jauh dari Kontrakan saya. Besar sekali pak..”

Aku mangut-mangut mendengar cerita karyawanku ini. “Terus, Kamu tau nggak apa hubungan mereka? Saya pikir mereka bukan ibu dan Anak.”

“Ohh Bukan Pak, Mbak-mbak yang tadi itu hanya pembantu dari Ibu-ibu yang tadi itu Pak…”

Deg… Deg… Deg…

Jantungku seakan tak berhenti berdetak cepat. Aku tidak kecewa jika dia hanya seorang pembantu, Tidak, Aku malah senang, Lega, dan entahlah… kupikir dia sosok yang selama ini ku cari. Sosok baik, cantik dan sederhana… dan Semoga saja dia benar-benr menjadi jodohku…

 

***

 

-Dina-

 

Hari ini Dia memutuskanku…

Aku tak tau apa yang ku rasakan saat ini. Sakit yang amat sangat hingga aku tak mampu merasakannya lagi.

Mas Rey, Adalah sosok yang sangat sempurna bagi siapapun wanita yang mengenalnya. Dia tampan, Baik, Sayang keluarga, dan dia bukan Lelaki buruk pada umumnya. Aku mencintainya, Sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Bukan karena dia kaya, atau dia majikanku dan aku ingin menjadi Nyonya besar di rumah ini, Tidak, bukan karena itu. Aku hanya mencintainya tanpa sarat, Hanya itu saja.

Tapi dia memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Mas Rey berkata jika semua itu hanya permainan saja, Dia tidak benar-benar mencintai waita yang akan di nikahinya, dan dia memintaku untuk menunggunya dua tahun kemudian.

Sungguh, Aku ingin melakukannya, menunggunya selama dua tahun dan menjadikannya Milikku seutuhnya. Tapi hatiku berkata lain, pikiranku mengingkarinya. Bagaimana jika Mas Rey berubah sebelum dua tahun berlalu?? Bagaimana jika perasaannya padu hilang dan tergantikan oleh cinta kepada istrinya tersebut?? Bukankah sama saja jika aku sudah kalah??

Yaa.. Aku menyerah, Aku menyerah bahkan sebelum berperang. Ku pikir, Mas Rey memang bukanlah jodohku. Entah kenapa ketika Dia melamarku berkali-kali, Hanya rasa ragu yang kurasakan dan aku berakhir dengan menolaknya. Mungkin karena ini alasannya, Karena dia memang bukanlah jodohku.

Aku kembali menangis, menangis sesenggukan sendiri di dalam kamar kecilku..

***

Siang ini menjadi siang yang menyebalkan untuk ku. Bagaimana tidak, Sejak tadi si pegawai Supermarket yang sedang aku belanjai ini menggangguku terus. Memang tidak bisa di katakan mengganggu, karena dia hanya bersikap ramah padaku. Tapi kelakuannya yang selalu menguntit tepat di belakangku membuatku jengkel.

Aku risih karena sejak tadi Beberapa orang yang sedang belanja di Supermarket langganan ibu Allea ini menatap kearahku dengan rasa keingin tahuan.

Namanya Alex. Dia salah satu pegawai Supermarket yang sudah lama menjadi langganan ibu Allea. Mungkin dia pegawai baru, karena aku baru melihatnya beberapa bulan yang lalu. Dia pernah memberiku kartu nama nya, entah apa maksudnya aku sendiri tidak tau. Dan aku menolaknya.

Yaa.. tentu saja, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengenal seorang lelaki. Setelah putus dengan Mas Rey beberapa minggu yang lalu, perasaanku kacau, htiku masih terluka, aku masih butuh untuk menyembuhkan luka di hatiku ini. Dan aku tidak ingin mengambil resiko terluka lagi dengan mengenal sosok Lelaki baru.

Alex tidak sala, tentu saja, yang salah adalah waktu. Kami bertemu di waktu yang tidak tepat, dia menggoda ku saat aku sedang ingin sendiri.

Alex adalah Lelaki yang tampan, perawakannya mirip dengan Mas Rey, Tinggi tegap, Wajahnya kalem, terlihat seperti orang yang baik, yaa.. dia memang sangat sopan dan mungkin jika suasana hatiku tidak seperti ini, mungkin aku sudah jatuh hati padanya.

“Biar saya Antar.” Ucapnya yang saat ini masih setia menempel di belakangku.

“Maaf, sudah berapa kali saya bilang, saya bisa pulang sendiri.” Ucapku dengan ketus, aku sendiri tak tau kenapa bisa bersuara dengan nada ketus seperti itu.

“Baiklah, ampai jumpa besok siang.” Katanya dengan ramah.

Aku mengangkat sebelah alisku, “Besok siang?? Anda yakin sekali kalau saya akan kemari lagi besok siang.”

Dia tersenyum, “Tentu saja, Kamu kan sudah menjadi pelanggan setia supermarket ini.” Ucapnya penuh dengan keyakinan. Dan aku tidak bisa menjawab lagi.

Andai saja ini bukan supermarket langganan ibu Allea, mungkin aku sudah belanja di tepat lain. Akhirnya dengan setengah mendengus, aku berjalan keluar. Hari ini aku memang tidak bersama supir rumah, karena pak supir sedang mengantai Ibu Allea ke tempat Adik Pak Renno. Jadi mau tidak mau aku harus naik angkutan umum.

Tapi baru saja sampai di parkiran supermarket, Sebuah kantung belanjaanku yang di dalamnya ada dompetku di rampas begitu saja oleh orang yang tidak ku kenal. Orang tersebut lantas berlari sedamngkan aku hanya mampu berteriak keras-keras.

Sebagian besar pegawai supermarket dan juga pengunjung supermarket tersebut menghambur keluar ke arahku. Tubuhku bergetar hebat, aku tidak pernah kecopetan seperti ini, bagaimana jika tadi Si copet tersebut membawa senjata tajam??

Beberapa orang sudah mengejar copet tersebut, sedangkan aku hanya bisa terduduk lemas.

“Heii… minumlah dulu..”

Itu Alex, dia membawakanku sebotol air mineral dingin, yaa aku memang butuh minum, aku takut. Ku raih botol minuman tersebut dan ku tegak airnya dengan rakus hingga aku tersedak dan terbatuk-batuk seperti orang bodoh.

“Tenanglah, Kami sudah melapor polisi..”

“Aku takut… itu.. itu Uang Ibu allea..” bahkan suaraku pun terdengar bergetar.

Tentu saja, di dalamnya ada beberapa kartu kredit khusus untuk belanja dari ibu Allea, KTP, dan juga kartu ATM satu-satunya yang menjadi milikku yang paling berharga. Bagaimana jika semua itgu hilang?? Dan kemungkinan terburuknya si copet dapat menguras semua uang yang ada di sana.

Tiba-tiba aku ingin menangis…

“Hei.. tenanglah..” Suara Alex menenangkanku, tanpa tau malu lagi aku memeluknya. Astaga…. Aku benar-benar sudah gila.

***

Si pencopet tersebut akhirnya tertangkap. Syukurlah, aku bisa bernapas lega meski tidak mengurangi rasa merinding saat membayangkan wajah si copet tersebut.

Akhinya setelah mengurus semuanya bahkan sampai ke kantor polisi di temani alex, Aku pulang saat malam sudah sedikit larut. Orang-orang rumah pasti mencemaskanku, karena kebetulan ponsel yang ku bawa sudah mati larena kehabisan batrei.

“Ayo naiklah.” Ajak Alex. Saat ini dia sudah di atas sebuah sepeda motor. Wajahnya terlihat lelah, yaa karena sejak tadi memang dia sibuk mengurus segala sesuatunya tentang si pencopet tersebut. Dan entah kenapa, aku merasa nyaman di dekatnya.

“Emm.. aku pulang sendiri saja, kamu terlihat kecapekan.”

“Sudahlah, ayo ku antar, aku nggak tenag saat belum melihatmu sampai di rumah.”

Perkataannya membuatku hangat. Aku merasa di perhatikan kembali, Dia mengingatkan ku pada Mas Rey, Sosok yang selalu perhatian denganku.

“Heii… kenapa bengong?? Ayo, naiklah.”

Dan aku pun menuruti perintahnya. Aku akhirnya menerima tawarannya untuk mengantarku pulang.  Dan aku benar-benar merasa terlindungi oleh kehadiran Alex.

***

Entah sudah berapa minggu berlalu setelah kejadian pencopetan tersebut, Kini hubunganku dengan Alex dan beberapa karyawan di supermarket tersebut semakin dekat. Beberapa diantaranya bahkan menjadi teman dekatku. Aku lebih suka berlama-lama di supermarjet tersebut dari pada di rumah.

Tentu saja, semua ada hubungannya dengan Mas Rey dan juga Clara.  Clara hamil, dan tingkahnya tentu semakin manja. Jujur saja, saat awal mereka menikah, Aku tidak suka, Aku cemburu, dan itu wajar.

Bagaimana jika hal ini menimpa kalian?? Tentu saja kalian akan merasakan apa yang ku rasakan. Benar-benar menyakitkan saat melihat orang yang kita cintai dan mencintai kita menikah dan hidup bersama dengan Wanita lain.

Tapi itu dulu, Saat ini aku senang saat melihat Mas rey bahagia, entah kenapa bisa seperti itu aku juga tidak mengerti. Hanya saja, Clara selalu curiga dengan hubungan kami. Yaa.. aku mengerti apa yang dia rasakan. Siapapun akan tidak suka saat melihat pasangannya dekan dengan mantan kekasihnya. Dan itu membuatku sedikit bingung.

Saat ini Mas Rey dan Clara memang sudah pindah ke rumaah baaru mereka, hanya saja itu tidak mengurangi rasa cemburu Clara padaku apalagi dengn kondisinya yang hamil muda, Hormon mempengaruhinya dan membuat emosinya lebih labil.

Dia tidak suka denganku dan dia terang-terangan memperlihatkaan hal itu padaku. Aku merasa tidak nyaman, dan ku pikir aku harus mengakhiri semua kecurigaan Clara terhadapku.

“Kamu diam aja, ada yang kamu pikirkan??” pertanyaan Alex membuatku gelagapan.

Yaa saat ini aku memang masih berada di supermarket, seperti biasa, setelah belanja kebutuhan dapur, aku menyempatkan diri berhenti sejenak dan menyapa mereka para karyawan supermarket yang kini sudah kenal akrab denganku.

“Iya, hanya sedikit.” Jawabku.

“Cerita saja, Siapa tau aku bisa membantu..” Ucap alex dengan senyuman manisnya. Yaa Alex memang sangat murah senyum dan aku sangat suka melihatnya tersenyum karena dia semakin terlihat manis dan tampan.

Aku berpikir sebentar, lalu ide itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Apa aku harus melakukannnya???

“Emmmm Alex, Aku… Aku menyukaimu.” Ucapku kemudian dan aku yakin jika saat ini pipiku sudah merah seperti tomat karena menahan malu.

Alex membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ku katakan.

“Apa?? Kamu.. kamu yakin??” Tanya nya masih tidak percaya dengan apa yang ku katakan.

Aku mengangguk. “Ya, aku yakin, aku menyukaimu dan ingin, Em….” Ya tuhan, aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku lagi.

Tanpa ku duga Alex langsung menyambar tubuhku, mememlukku ke dalam pelukannya. Erat, dia memelukku sangat erat.

“Alex…” lirihku.

“Diamlah… Astaga… terima kasih kamu sudah mau membalas cintaku.” Ucapnya kembali mengeratkan pelukannya pada tubuhku.

Aku membatu dalam pelukannya. Alex… Maafkan aku.. Sungguh maafkan Aku…

 

-TBC-

 

The Lady Killer 2 (The Married Life) – Sinopsis & Prolog

Comments 7 Standard

TLKNew1The Lady Killer

 

malam semua… kaget yaa aku Update ini?? wkwkkwkw Hayoo siap yang udah kangen sama Kak Dhanni?? nahh yang udah kangen boleh merapat… Entah kenapa malam ini aku benar2 kangen ama sosok dia, jadi aku mau berbagi sama kalian yaaa… jangan tanya kapan Next nya.. karena pastinya lama banget… setelah the soulmate End.. Aku akan membukukannya dulu, dan itu bener2 nguras waktuku karena aku harus edit sana sini sendiri (Biar lebih Hemat..hahhaha) setelah itu aku akan lunasin hutangku pada oneshoot2 atau side story yang sempat tertunda.. kemudian lanjutin MBA series dengan Para abang ganteng (Bang Aldo dan Bang Raka) nahhh baru deh.. kita ketemu secara berkaala dengan Kak Dhanni… wkwkkwkwk dan karena malam ini aku kangen bgt, aku mau berbagi sama kalian, meski cuma prolognya aja yang baru aku share… heheheh suerrr aku kangenn bgt suasana nulis Kak Dhanni. dia benar2 cinta pertamaku,,,, wwkwkkwkw okay.. Cukup itu aja.. hahahah

 

TLK2The Lady Killer 2 (The Married life)

 

#Sinopsis

Pernikahan bukan menghentikannya menjadi sosok Lady Killer, Sosok yang banyak di kagumi oleh banyak wanita, Nessa tau itu. Dimana ada suaminya, di situlah banyak wanita yang menatap dengan tatapan kagum seakan ingin memiliki.

Cemburu?? Tentu saja. Apalagi dalam keadaannya yang sedang berbadan dua kali ini. Dhanni sendiri memang sudah berubah menjadi sosok yang lebih baik setiap harinya. Mencoba menjadi suami yang setia dan hanya sayang terhadap istrinya, dan juga menjadi ayah yang baik untuk Brandon jagoan pertamanya sekaligus calon bayi ke duanya yang sedang di kandung Nessa, Istrinya.

Tapi bagaimana jika semua itu terusik oleh kedatangan seorang dalam masa lalu?? Mampukah mereka bertahan atau malah berakhir menyedihkan??

 

 

 

 

#Prolog

 

“Sayang… Ayo buka pintunya” Dhanni tak berhenti mengetuk pintu kamar mandi yang di dalamnya kini ada Nessa yang sedang melakukan tes kehamilan.

Tak lama pintu di buka dan Nessa langsung menghambur ke dalam pelukan Dhanni. “Aku hamil Kak… Aku hamil..” Teriaknya dengan girang.

Sontak Dhanni melepaskan diri dari pelukan Nessa.“Apa?? Kamu yakin?”

“Astaga.. Lihat Ini garis dua.” Nessa memperlihatkan test pack yang sedang berada di genggaman tangannya.

Seketika itu juga Dhanni menyambar bibir mungil Nessa melumatnya penuh gairah hingga Nessa memukul-mukul dada Dhanni.

“Kenapa Sayang??” tanya Dhanni kemudian.

“Kak Dhanni nggak lihat, tuh.. Brandon lihat apa yang kita lakukan.” Ucap Nessa menunjuk ke arah bocah berumur dua tahun lebih tersebut.

“Biarlah, Dia nggak ngerti juga apa yang kita lakuin.” Ucap Dhanni yang kini sudah kembali pada mode cueknya.

Secepat kilat Nessa menjewer telinga Dhanni. “Iiihhh Dasar yaa… Bagaimanapun juga nggak baik tau Ciuman di depan Brandon.”

“Iyaa.. iyaa sayang.. Astaga… kasar banget sih sekarang.”

Nessa melepaskan jewerannya pada telinga Dhanni.  “Ya Sudah, sekarang, Antar Aku ke Dokter  Tony yaa..”

“Enggak, Aku nggak akan membiarkan Kamu di tangani sama Si Tony sialan itu.” Ucap Dhanni dengan tegas.

“Kak Dhanni masih aja mengumpat di depan Brandon.”

“Ehh Iya, Lupa sayang..” ucap Dhanni sambil cengengesan.

“Hemm.. Kalau gitu, Cari dokter lain saja..” Kata Nessa sambil berbalik dan akan menuju ke kamarnya. Kemudian langkah Nessa terhenti ketika Dhanni tiba-tiba memeluknya dari belakang.

“Sayang…” panggil Dhanni dengan lembut.

“Ada apa Kak??”

“Aku sayang banget sama Kamu..” Ucap Dhanni dengan parau.

Nessa mengernyit. Kemudian Nessa membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Dhanni. Suaminya tersebut entah kenapa tiba-tiba menampilkan ekspresi sendunya.

“Kenapa tiba-tiba ngomong gitu Kak??” tanya Nessa sambil menangkup kedua pipi Dhanni.

Dhanni menggelengkan kepalanya. “Emm… Aku hanya takut kehilangan Kamu.” Ucap Dhanni sambil mengecup telapak tangan Nessa yang berada di pipinya.

“Aku nggak kemana-mana dan Aku nggak akan meninggalkan Kak Dhanni..”

“Janji??” Tantang Dhanni.

Nessa tersenyum. “Janji..” Kemudian Nessa berjinjit dan mengecup lembut pipi Dhanni. “Harusnya Aku yang mengatakan Kalimat tersebut pada Kak Dhanni. Dan harusnya Kak Dhanni yang janji nggak akan ninggalin Aku..”

Dhanni kemudian memeluk Nessa. “Tanpa Berjanjipun Aku tidak Akan pernah meninggalkan Kamu Ness.. Aku sayang Kamu.. Kamu tau itu.”

Nessa tersenyum dan menganggukkan kepalanya yang kini sudah tenggelam dalam dada bidang Dhanni. Astaga… Kebahagiaan benar-benar menyelimuti diantara mereka berdua. Mereka bahkan melupakan malaikat kecil yang sejak tadi memperhatikan mereka dari jauh, Dia Brandon Revaldi, putera pertama mereka.

Nessa tau, badai besar pasti akan datang menimpa rumah tangga mereka, Dan Nessa berharap, ketika saat itu tiba nanti, Nessa ingin Dirinya tetap kukuh bersama dengan seorang Dhanni Revaldi, Seorang Lelaki dengan julukan Lady Killer nya….

 

-TBC-

Sampai Jumpa di Chapter 1 Nanti yaa… Happy Waiting… hahhahaah