My Young Wife – Chapter 1

Comments 6 Standard

myw1.jpgMy Young Wife

Haiii… Ada yang mau kenalan Ama Kakak ganteng baru?? yukk cap cus… bersama ceritanya Kak Aldo dan dedek Sienna yaa… hahhahahahah mungkin awal chapter akan sedikit membingungkan karena aku memang niat memulainya dari tengah, jadi, nanti akan banyak Flashback yang bermain di sini.. Feel juga mungkin kurang dapet karena baru awal Chapter, jadi.. pantengin terus aja yaa kisah mereka,, hahhahhah

Chapter 1

 

Aldo kini sedang sibuk membuka-buka berkas yang di serahkan oleh sang sekertaris pribadinya. Pandangannya meneliti setiap kata demi kata dalam sebuah berkas tersebut. Yaa.. Aldo memang sosok yang sangat teliti dan Kritis dalam suatu apapun. Tapi tidak dengan Cinta.

Aldo memejamkan Matanya Frustasi. Hal itu tak lepas dari pandangan sang sekertaris pribadimya.

“Ada masalah Pak??” Tanya Ambar, sekertaris pribadinya yang cantik jelita.

Aldo hanya memijit pelipisnya. “Tidak. Bawa berkas ini kembali, besok saja saya mempertimbangkannya lagi.”

Aldo lalu membereskan barang-barangnya yang ada di meja kerjanya.

“Pak Aldo mau pulang?”

“Ya, Saya ada urusan di rumah.” Jawab Aldo dengan dingin dan datar. Akhinya Ambar pun pamit untuk mengundurkan diri dari ruangan Aldo.

Ketika Ambar sudah keluar dari balik pintu, Aldo menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya. Kepalanya terasa pusing. Bayangan akan Sosok Sienna mencuat begitu saja dalam pikirannya. Sienna.. Istri Belianya yang sudah dua bulan ini di nikahinya..

Aldo mengambil Ponselnya dan mencoba menghubungi Fandy, Seorang yang di percayanya sebagai pengawal istrinya itu.

“Halo Pak?”

“Bagaimana dengan dia?”

“Emm.. Nyonya sedang berkumpul dengan teman-temannya pak.”

“Berkumpul? Berkumpul dimana??”

“Di sebuah cafe tak jauh dari kantor Pak Aldo.”

“Oh ya?? Dengan siapa saja dia di sana?”

“Ada Dua teman perempuan nya dan Satu teman Pria nya.”

“Tunggu di sana, Saya akan segera ke sana.” Jawab Aldo cepat.

Yaa.. Aldo memang sedikit tak suka jika Sienna masih saja berteman dengan teman-teman SMA nya tersebut. Entah kenapa, Aldo sendiri tak mengerti, ia lebih suka melihat Sienna tiduran di rumah atau menonton Televisi di Apartemen nya dari pada harus berkumpul dengan teman-teman alay nya tersebut.

Secepat mungking Aldo keluar dari kantornya lalu berjalan menuju Mobilnya dan secepat kilat Ia menancap Gas menuju ke tempat yang di katakan Fandy tadi.

***

“Si.. Kamu gemukan yaa sekarang.” Ucap Eva, saat memperhatikan Sienna dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ya iyalah, Dia kan bunting, hahahhah” Jawab Icha dengan seringaiannya. semua yang ada di situ tertawa kecuali Kevin yang wajahnya murung.

“Husshh.. Kalian bisa nggak sih, jangan ribut masalah ini.. Ingat, kita belum acara perpisahan.” Ucap Sienna dengan takut-takut.

“Tenang aja Si.. Kita –kita akan tutup mulut sampai perpisahan nanti kok..” Janji Icha.

Yaa.. sahabat-sahabatnya itu memang sudah mengetahui keadaan Sienna, Mereka bahkan dengan baik hatinya menutupi kehamilan Sienna hingga pesta kelulusan atau perpisahan yang akan di laksanakan akhir minggu ini.

“Suamimu nggak marah kalau kita ngumpul begini?”

“Kak Aldo kerja, dia nggak akan tau kalau aku ngumpul seperti ini.”

“Trus Cowok yang di sana itu siapa?” Eva menunjuk Fandy yang sejak tadi berdiri di depan pintu bak seorang satpam dengan seragam hitam-hitamnya.

“Itu Fandy, Pengawalku. Aku juga nggak ngerti kenapa Kak Aldo pakek jasa pengawal segala untukku.”

“Dia perhatian Si.. sama kamu.” Kata Eva sambil tersenyum. Eva menatap kearah Kevin yang sejak tadi diam tak bersuara. “Woii… Lu kenapa diem begitu??”

“Enggak, Gue nggak kenapa-kenapa.” Jawab kevin kemudian.

Mereka Asyik berbicara, bercerita layaknya Remaja SMA yang tak memiliki masalah apapun, Hingga sosok itu datang menghampiri mereka. Sosok yang bernama Osvaldo Handerson.

“Kak Aldo kok di sini?” Tanya Sienna yang langsung berdiri saat melihat sosok Pria yang kini sudah menjadi Suaminya.

“Tadi nggak sengaja lewat dan lihat mobil kita ada di depan, lalu aku lihat Fandy, ku pikir kamu di sini jadi aku masuk kemari.” Aldo menghentikan kalimatnya lalu menatap satu persatu teman dari Istrinya tersebut. “Ayo pulang.” Katanya lagi.

“Tapi kak, aku masih mau kumpul-kumpul dengan mereka.”

“Tidak ada kumpul-kumpul Sienna, Kalau mereka mau bertemu, ajak saja main ke rumah.”

“Tapi Kak..”

“Sienna.. Ingat, kamu sedang Hamil, jadi harus banyak istirahat, bukan keluyuran seperti sekarang ini.” Ucap Aldo sedikit pelan namun penuh dengan penekanan. Dengan menghentak-hentakkan kakinya, Sienna pergi meninggalkan teman-temannya tersebut.

Aldo pamit kepada teman-teman Sienna lalu pergi meninggalkan cafe tersebut dengan santainya.

***

“Sudah berapa kali ku bilang, jangan lagi bertemu dengan teman-teman Alay mu tersebut.”

“Mereka nggak Alay kak, mereka sahabat aku.”

“Aku nggak peduli, bagiku mereka Alay dan nggak jelas. Suka nongkrong sana sini seperti ABG saja.”

“Tapi aku masih ABG Kan kak??”

“Kamu sudah menjadi seorang Istri Sienna, dan kamu lagi Hamil. Hilangkan sikap kekanak-kanakan kamu itu.”

Sienna menangis saat di bentak seperti itu. “Tapi Aku tidak menginginkan semua ini terjadi Kak.. Aku ingin menikmati masa mudaku..”

Aldo tercenung.. yaa tentu saja, Bagaimanapun, Sienna masih Delapan belas tahun, jadi wajar saja kalau dia belum dewasa sepenuhnya.

“Maafkan aku, tapi aku benar-benar nggak suka kamu ikut nongkrong sana sini dengan teman-temanmu itu. Kamu sudah punya suami Sienna, dan sebentar lagi akan memiliki Bayi, kalau kamu ingin bertemu dengan mereka, ajak saja mereka ke Apartemen kita.” Ucap Aldo dengan Pelan. Yaa Aldo memang selalu mengalah jika berhadapan dengan sikap manja Sienna.

Kali ini Sienna yang terdiam. Ucapan Aldo ada benarnya juga. Memang sedikit tak pantas kalau dia suka huru hara sana sini dengan teman-temannya padahal statusnya kini bukan seorang pelajar lagi. Ia sudah menjadi seorang istri, Istri yang harus melayani dan patuh pada suaminya.

“Maaf..” kata-kata itu tiba-tiba terucap dari bibir Sienna.

Aldo menghela napas panjang. “Lupakan saja.. kita berdua sama-sama salah.”

***

Sienna kini menatap Aldo yang tengah sibuk menyiapkan makan malam untuknya. Lelaki itu tampak cekatan. Dengan kemeja yang di gulung se sikunya. Sienna terpesona menatap suaminya tersebut. Meski cenderung pendiam dan dingin, namun nyatanya Aldo sangat perhatian padanya.

“Ini, Minum susu mu.” Ucap Aldo sambil memberinya Susu hamil.

Sienna tersenyum ingin rasanya Ia memeluk Suaminya tersebut. Tapi seakan semua itu tak mungkin. Aldo bersikap seolah-olah Ia menghormati Sienna sebagai orang lain, dan Sienna tak suka itu.

“Ini, Aku buatkan Sup Ayam bawang. Kata Mama ku ini baik untuk kandungan.”

Kandungan lagi, dan kandungan lagi. Yaa Sienna jelas tau, Pria di hadapannya ini jelas hanya memikirkan kebaikan untuk kandungannya bukan sengaja perhatian pada dirinya. Dan Sienna tak menyukai itu.

“Aku nggak mau.” Tolak Sienna, padahal dalam hatinya ingin sekali Ia memakan Sup yang tampak sangat nikmat tersebut.

“Kenapa?”

“Pokoknya aku nggak mau, Aku mau minta sate kambing.”

“Nggak ada sate kambing, makan ini saja.” Ucap aldo dengan dingin.

“Aku nggak mau kak. Aku maunya makan sate kambing. Titik.”

Aldo menghembuskan napasnya dengan kasar. Gadis ini benar-benar ingin membuatnya meledak. Di ambilnya ponsel di dalam saku celananya, lalu ia mulai melakukan panggilan pada seseorang.

“Halo Fan..?”

“Iya pak?”

“Carikan Sate kambing secepat mungkin.”

“Baik Pak.”

Lalu telepon pun di matikan.

Sienna mengerutkan keningnya tak suka. “Aku nggak mau makan.”

Aldo memutar bola matanya pada Sienna “Apa maksudmu?”

“Aku minta Sate kambing itu Kak Aldo yang carikan bukan fandy.” Sienna mulai berteriak, sungguh sikap manja dan kekanak-kanakannya kambuh lagi.

“Apa bedanya aku dan Fandy?”

“Pokoknya aku nggak mau makan kalau bukan Kak Aldo sendiri yang nyari.”

“Terserah kamu.” Ucap Aldo datar lalu pergi membereskan dapur sisa memasaknya tadi.

Dengan kesal Sienna masuk ke dalam kamarnya menutupnya keras-keras hingga berdentum nyaring. Mengurung diri di dalam kamar adalah kebiasaannya saat menghadapi Aldo. Sienna yakin, tak lama Lelaki itu pasti akan menghampirinya dan meminta maaf padanya seperti biasa.

***

Tiga jam berlalu dan Aldo hanya berjalan mondar-mandir didepan pintu kamar Sienna. Gadis itu masih belum mau membuka kan pintu untunnya. Sial..!! Akhirnya mau tak mau Aldo mengetuk pintu Sienna dengan lembut,

“Si.. Buka pintunya.. Kamu belum makan malam Si.. Please..” Aldo memohon.

Tapi tak ada jawaban dari Sienna. Aldo kembali mengetuk pintu kamar Sienna lagi hingga gadis itu mau membukanya.

“Si.. Please… Buka pintunya yaa…”

Tak lama pintu itu di buka menampilkan wjah cemberut dari Istri belianya tersebut.

“Cepat ganti baju, kita akan cari Sate kambing yang kamu inginkan.” Dengan menghela napas paanjang Aldo lagi-lagi mengalah dengan sosok Sienna.

Yaa… Aldo memang selalu mengalah, Sienna terlampau manja dan Aldo tidak suka terlalu berdebat dengan Sienna, Apalagi kata Franda, Temanya sekaligus dokter kandungan Sienna, Ia harus banyak mengalah mengingat kondisi Sienna yang sedang hamil muda.

Aldo membalikkan badannya hendak menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Tapi langkahnya terhenti saat Sienna dengan manja merangkul lengan kanan Aldo.

“Terima kasih Kak.. Kak Aldo memang yang terbaik..” Wanita mungil di sebelahnya itu lalu memberanikan diri untuk sedikit menjijitkan kakinya lalu mengecup lembut pipinya.

Aldo terperangah…

Sienna tidak pernah seberani itu dengannya, gadis itu memang manja, tapi selalu sopan terhadapnyaa karena mereka menikah memang bukan karena cinta, tapi karena bayi yang tak sengaja tumbuh dalam Rahim Sienna karenaketeledoran seorang Osvaldo Handerson.

 

#Flashback…

 

Aldo memijit pelipisnya ketika rasa nyeri di keplanya mulai menghampirinya. Hari ini Dirinya kehilangan sebuah tender besar, mungkin memang karena kurang beruntung atau memang kemampuannya belum cukup untuk menandingi si pemenang tender tersebut.

Aldo memijit-mijit pelipisnya, bagaimana Ia akan berbicara dengan Sang Ayah nanti, Untung saja Mike, Ayahnya itu kini masihberada di Jerman untuk mengurus beberapa keperluan di sana.

“Al..” Panggilan tersebut membuat aldo mengangkat wajahnya. Dan tampaklah sosok tampan lainnya, Dia Mario, Teman kuliah yang kini menjadi Rekan kerjanya.

“Ada apa?”

“Kenapa muka mu di tekuk begitu?”

Aldo menghela napas pnjang. “Aku kalah, Dan sekarang kepalaku pusing, bagaimana caranya aku bilang kepada Ayahku, dia pasti kecewa.”

“Astaga… tender itu tidak ada apa-apanya dibandingkan tender-tender lainnya nanti, sudah lah lupakan, mendingan sekarang ayo temanki aku ke duatu tempat.”

“Kemana Mar?? Aku pusing.”

“Maka dari itu, Aku ingin mengajakmu berpesta supaya tidak pusing.”

Dan Aldo hanya mampu mengikutinya saja, ya, mungkin sedikit bersenang-senang akan mengangkat bebannya dan membuat nyeri di kepalanya hilang.

***

Aldo mengernyit saat Mario menjalankan mobilnya menuju rumahnya sendiri. Rumah besar temannya itu kini tampak sedikit ramai. Mungkin Mario sedang mengadakan pesta.

“Kita mau apa kemari?”

“Adik ku sedang ulang tahun, lebih baik kita ikut pesta dengan mereka. Kamu tau nggak Al, Di sini banyak cewek-cewek cantik, siapa tau salah satunya bisa nyantol dengan kita.”

Aldo mendengus kesal. “Adikmu masih SMA Mar, kalaupun ada cewek juga pasti masih bau kencur, enggak ah, aku mau pulang.”

“Ayolah Al… Kita bersenang-senang sebentar saja dengan mereka. Ini tidak seperti pesta anak SMA pada umumnya, Ayah dan Ibuku ke luar negri, jadi mereka mengadakan Pesta liar malam ini.” Ucap Mario sambil terkikik, Dan lagi-lagi Aldo hanya mampu menuruti perkataan temannya tersebut.

Setelah merapikan penampilannya di kamar Mario, Aldo akhirnya menghambur ke dalam pesta. Didalam dan di sekitar rumah Mario penuh dengan laki-laki dan perempuan yang berlalu lalang saling bergandengan tangan. Tak sedikit pula yang saling mencumbu mesra di depan umum tanpa tau malu.

Pestanya sedikit aneh, da beberapa anak muda di daerah kolam renang yang bahkan tidak malu saling mengenakan pakaian renang sambil sesekali melemparkan diri masuk ke dalam kolam renang, Lalu di Bar kecil milik keluarga Mario pun di sulap nya sebagai Bar layaknya di club-club malam lengkap dengan Bartender nya. Aldo mengernyit, sebenarnya ini pesta anak SMA atau pesta orang dewasa?? Mereka bahkan seakan tidak sungkan meminum-minuman beralkohol dan seperti sudah terbiasa dengan hal tersebut.

Aldo menuju ke arah Bar, Ia memilih duduk dan sedikit meminum minuman beralkohol supaya pikirannya lebih Rileks. Saat dia asik dengan kesendiriannya, tiba-tiba ada seorang gadis cantik, terlampau sangat cantik, duduk tepat di kursi sebelahnya.

“Dasar tidak tau diri, Aku dandan secantik ini kan untuk mu Vin.. Bisa-bisanya kamu lebih memilih berdansa dengan Icha.. Sialan..!!”

Jika di lihat dari gelagatnya gadis di sebelahnya kini sedang mabuk, mengomel tak jelas dengan sesekali menangis dan tertawa. Lama Aldo memperhatikan gerak-gerik gadis tersebut, Gadis-itu meminta minuman lagi dan lagi saat minumannya habis, hingga seakan Gadis tersebut sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

“Heii kamu, Apa Aku kurang cantik?? Bagaimana mungkin Dia lebih memilih sahabatku di bandingkan Aku??”

Gadis itu berbicara Pada Aldo sambil sesekali memukul-mukul dada Aldo.

“Siapa maksudmu??”

“Kevin..” Gadis itu mulai menangis. “Aku bahkan mau datang ke pesta Gila ini demi dirinya, tapi dia….” Gadis itu tidak berhenti menangis.

Aldo yang kasihan akhirnya hanya bisa mendongakkan wajah gadis tersebut sambil mengusap air matanya. Entah kenapa Gadis di hadapannya ini mirip dengan Bianca, Adinya yang sangat manja.

“Sudah lah.. nanti pasti dia sadar, siapa yang tulus mencintainya.” Ucap Aldo dengan tulus.

Tapi kemudian Gadis tersebut menatap Aldo dengan tatapan Anehnya. “Mata kamu indah..” Ucap Gadis tersebut sambil mengagumi mata Aldo yang berwarna cokelat, “Kamu tampan..” Racaunya lagi.

Lalu tanpa di Duga, Gadis mungil di hadapan Aldo ini mendaratkan bibirnya pada bibir Aldo, melumatnya secara membabi buta seakan gairah dan hasratnya hanya tumbuh untuk Aldo seorang.

Aldo yang pada dasarnya memang Lelaki sejati, akhirnya tersulut gairahnya ketika bibir ranum nan lembut itu tanpa permisi menempel pada bibirnya, Melumatnya habis seakan tidak ingin semuanya berakhir. Dengan berani Aldo membalas ciuman yang di berikan gadis tersebut, ciuman panas yang bahkan hanya melihatnya saja mampu menyulut gairah, apa lagi buat yang merasakannya.

Lengan Aldo kini bahkan sudah melingkari pinggang Gadis tersebut menempelkannya semakin dekat dengan dirinya. Yang di bawah sana sudah menegang seketika, Seakaan berteriak ingin segera di bebaskan.

Aldo melepaskan ciuman panasnya tersebut, matanya menelusuri setiap inci dari wajah gadis yang berada tepat di hadapannya tersebut. Cantik, amat sangat cantik dengan garis feminim tapi sedikit menyiratkan kemanjaan yang khas. Mata gadis itu berkabut, Bibir nya merah merekah dan sedikit bengkak karena lumatannya tadi. Dan Aldo sudah tak dapat menahannya lagi.

“Ayo.. ikut Aku.” Ucap Aldo yang bahkan suaranya sudah sangat parau.

“Kemana?”

“Kamu akan tau..”

Dan Aldo pun membimbing Gadis mungil tersebut naik ke atas tangga, menuju ke dalam kamar Mario dan mengunci diri mereka di dalam seakan tak ingin terganggu oleh bisingnya pesta gila tersebut.

 

-TBC-

Note : Chapter selanjutnya akan ada unsur dewasanya, kaalo sempat aku akan update sebelum puasa, kalo nggak sempat yaa aku updatenya puasa nggak papa yaa tapi tengah malam.. hahhahah eh yaa mengingat semua cerita yang ku buat pasti ada Adegan tak senonoknya, maka saat puasa aku Updatenya tengah malam aja.. yg masih mau baca yaa silahkan yang nggak mau yaa ya udah.. hahhahaha See U next Chapter, jangan lupa tinggalin komentar.. hahhahaha

Advertisements

Love Between Us – Part 3 (Debaran yang sama)

Comments 5 Standard

1461672642101Love Between us

Denny dan Aira udah balik nihh.. Ayoo merapat… heheheheheh

Part 3

-Debaran yang sama-

 

Denny menelan ludahnya dengan susah payah. Pria paruh baya dihadapannya kini mengajukan pertanyaan dengan tatapan tajam membunuh. Denny merasa seperti seorang maling  yang sedang tertangkap basah. Akhirnya dengan menguatkan diri, ia mencoba menghadapinya dengan setenang mungkin.

 

“Nama saya Denny. Saya teman Aira.”

 

“Hanya itu??”

 

“Iya, om”

 

“Lalu kenapa Aira bisa pulang pagi??” Suaranya benar-benar mengerikan bagi siapapun yang mendengarnya. Menggambarkan keposesifan seorang ayah pada putrinya.

 

Denny melihat Aira yang langsung bergelayut manja dilengan sang ayah seakan mengalihkan perhatian sang ayah padanya. Dasar manja!! Pikirnya.

 

“Ayah… Mobil dia tadi malam mogok, jadi kami terjebak di dalam mobil dan nggak bisa kemana-mana sampai pagi ini.”

 

“Dan kenapa kamu bisa berada di dalam mobilnya??” Kali ini pertanyaan itu terarah pada Aira.

 

Aira terlihat sedikit panik dengan pertanyaan yang di lontarkan Rizky.

 

“Emmm.. Emm.. Kami.. Kami sedang kencan ayah”

 

“Kencan?” Ucap Rizky mengulangi kalimat Aira. Sedangkan Denny terbelalak tidak percaya dengan apa yang di katakan Aira. “Kalian pacaran??” Rizky bertanya kembali. Kini dahinya mengerut tidak percaya sambil menatap Aira dan Denny secara bergantian.

 

“Om.. ini tidak seperti yang om pikirkan.” Denny dengan cepat menyanggah. Sesekali matanya melirik Aira meminta penjelasan dari gadis tersebut.

 

“Sudah-sudah, lebih baik dibicarakan di dalam. Tidak baik ribut di luar rumah.” Suara lembut seorang wanita mencairkan ketegangan yang ada.

 

“Aira, masuk. Dan kamu ikut saya.” Ucap Rizky menunjuk Denny. Aira masuk ke dalam rumah.

 

“Apa yang kamu lakukan??” Bisik Denny pada Aira. Ia masih tidak habis pikir kenapa Aira bisa mengaku pada ayahnya jika mereka sedang pacaran.

 

“Kamu pikir ayah tidak akan semakin marah saat mengetahui puterinya bermalam dengan Pria asing?? Lebih baik aku mengenalkanmu sebagai pacarku, setidaknya ayah akan mengenalmu sebagai orang baik.”

 

“Aku nggak perlu mengenal ayahmu. Aku hanya ingin pulang sekarang.” Gerutu Denny.

 

“Heii ingat, sekarang aku lagi sakit dan itu semua gara-gara kamu.”

 

Denny terdiam seketika. Ia baru menyadari jika Aira memang sedang sakit. Itu semua karena dirinya gara-gara mobil sialan milik Arga.

 

Di ruang kerja Rizky diam mengamati Pria muda yang ada di depannya. Meneliti Denny, putrinya bilang jika mereka sedang berkencan. Hening suasana sekali di dalam ruangan itu. Rizky belum membuka suaranya. Ia sedang berpikir, Denny berbeda dengan pacar-pacar Aira yang dulu. Denny terlihat sederhana namun perawakannya seperti orang yang berpendidikan dan kaya.

 

“Apa benar kamu berpacaran dengan Aira?” Ucap Rizky datar. Ia menumpu tangannya di meja kerjanya. Denny tertegun, jadi ayah Aira percaya kami berpacaran?. Ia mengingat ucapan Aira tadi. Jika ia berbicara terus terang mungkin ia akan digantung saat ini juga. Denny sudah memeluk putrinya padahal mereka baru mengenal. Ia meringis.

 

“Iya, om. Saya berpacaran dengan Aira” Jawab Denny terpaksa.

 

“Berapa lama hubungan kalian?” Denny berpikir keras, ia baru tiga kali bertemu Aira. Jantungnya berdebar, masa iya ia berpacaran hanya tiga kali bertemu. Tidak masuk akal.

 

“Baru sebulan, om”

 

“Mengenal dimana?” Rizky menautkan tangannya. Matanya menelisik kebohongan Denny.

 

“Di supermarket, om” Rizky mengangguk paham.

 

“Kenapa semalam tidak menghubungi keluarga Aira?. Jika kalian terjebak di mobil mogok?”

 

“Kami lupa, om. Handphone saya tertinggal dirumah” Sahutnya pelan. Ia bodoh. Denny begitu tegang hingga ia hanya menjawabnya dengan singkat.

 

“Anak itu memang nakal! Dia kabur dari pengawalnya lagi, coba kalau tidak mungkin kalian tidak terjebak di mobil” Rizky mendesah kasar. Ia cukup kewalahan dengan sikap Aira.

 

Pengawal? Seru hati Denny. Pria berjas rapih itu pengawal Aira?. Denny bertanya-tanya dalam hati. Siapa keluarga Aira sebenarnya?. Keluarga yang berpengaruh di Bali kah??. Dari rumah mewah dan pengawal, mungkin iya.

 

***

 

Denny keluar dari rumah Aira dengan rasa leganya. Arrggghh.. Akhirnya bisa keluar setelah beberapa menit bicara empat mata dengan ayah Aira. Denny menganggap jika Rizky percaya dengan segala ucapannya. Ia salah, Rizky langsung menelepon seseorang untuk mencari kejelasan tentang Denny yang sebenarnya.

 

Mungkin hari ini Denny akan ijin untuk tidak masuk kerja mengingat ia harus mengurus mobil sialan Arga yang masih berda di pinggir jalan. Bicara tentang Arga, anak itu dan adik manjanya pasti masih menunggu di kontrakan rumahnya. Atau pergi menggunakan angkutan umum.

 

“Mas, biar saya antar.”  Kata seorang pemuda yang sebaya dengannya dengan pakaian serba hitamnya khas pengawal pada umumnya. Jadi dia pengawal Aira? Mengingat dia bersama Aira saat ke kantornya kemarin. Ia menyangka Pria yang ada di hadapannya ini adalah pacar Aira.

 

“Kamu siapa?”

 

“Saya Indra, pengawal pribadi nona Aira. Tadi nona Aira meminta saya untuk mengantar mas pulang.”

 

“Terimakasih, saya bisa pulang sendiri.” Ucap Denny sambil melanjutkan langkahnya. Tapi baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya dan kembali menuju ke arah pemuda yang mengaku bernama Indra tersebut.

 

“Kalau kamu tidak keberatan, saya minta nomor telepon Aira.” Ucap Denny dengan sedikit malu.

 

“Ohh.. Boleh. Sebentar saya carikan.” Dan akhirnya Indra memberi kontak Aira padanya. Denny tersenyum seakan menertawai dirinya sendiri. Kenapa juga ia meminta nomor telepon Gadis manja tersebut?? Ada apa dengannya pagi ini?.

 

***

 

“Suhu badanmu panas sekali Aira?” Zeeva menyentuh dahinya masih panas. Aira sedang bergelung selimut sebelumnya ia sudah mandi air hangat. “Mama panggilkan Dokter ya” Aira hanya mampu mengangguk lemah. Tubuhnya begitu panas, kepalanya pun terasa berat. Ia baru merasakan sakitnya sekarang.

 

“Aira kenapa, ma?” Tanya Rizky di ambang pintu kamar Aira.

 

“Suhu badannya panas, yah. Mama mau panggilan Dokter Dewa dulu” Rizky mengangguk mengerti. Ia berjalan ke ranjang Aira. Duduk di pinggir ranjang sembari mengulurkan tangannya memeriksa dahi Aira. Memang panas, ia memutuskan untuk memarahi Aira setelah sembuh. Ia menunduk mencium kening Aira.

 

“Cepat sembuh, sayang” ucapnya disahuti dengan gumaman Aira. Ia tidak menyangka putri kecilnya kini sudah dewasa. Ada ketidakrelaan jika Aira sampai menikah nanti. Berpisah darinya.

 

Aira diperiksa Dokter pribadi keluarga Rizky. Ia mengatakan hanya panas saja lalu memberikan obat. Aira perlu istirahat. Orangtua Aira cukup lega mendengarnya. Dokter Dewa pamit setelah bercengkrama dengan Rizky sebentar. Sedangkan Aira tertidur karena obat yang diminumnya.

 

***

 

Sorenya…

 

Denny melemparkan diri di kursi ruang tamu. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya. Jika pagi tadi ia harus berurusan dengan keluarga Aira, maka siang tadi ia harus membantu mengurus mobil sialannya yang mogok. Ternyata Arga dan Dinda sudah pulang. Denny segera menghubungi Arga sesampainya dikontrakan yang sepi. Ia lupa membawa handphone miliknya. Arga mengomel ditinggal berdua saja di kontrakan hingga ia memutuskan naik angkutan umum.

 

Sesekali Denny mengeringkan rambut basahnya dengan handuk yang masih tersampir di pudaknya. Ia mengambil ponselnya lalu menggeser-geser layarnya.

 

Bagaimana keadaan Gadis itu sekarang??

 

Pikiran itu menyeruak begitu saja dalam kepalanya. Astaga.. kenapa juga dirinya memikirkan keadaan Aira, tentunya Gadis itu baik-baik saja bersama kedua orang tuanya. Denny meruntuki dirinya sendiri dalam hati.

 

Dan pada saat bersamaan handphonenya berbunyi. Denny memejamkaan mata dengan frustasi saat melihat ID Call yang sedang memanggilnya. Itu dari rumahnya.

 

“Halo.”

 

“Kakakkkkkk.” Teriak seorang Gadis di sebrang yang sontak membuat Denny menjauhkan ponselnya dari telinganya.

 

“Cla.. Apa kamu bisa berhenti berteriak saat meneleponku??” tanya Denny dengan kesal.

 

“Nggak. Aku suka berteriak sama kakak. Aku kangen..”

 

Denny menggelengkan kepalanya saat mengingat kemanjaan sang adik. Dan entah kenapa lagi-lagi itu mengingatkannya pada sosok Aira. Aira?? Kenapa semuanya selalu mengngatkannya pada Gadis tersebut??

 

“Aku nggak kangen.” Ucap Denny dengan nada cueknya.

 

“Kakak kok gitu sih. Nanti aku susul ke rumah kontrakan kakak loh.” Denny tersenyum. Ia tau bahwa kini adiknya yang manja tersebut pasti sedang merajuk.

 

Clarista Handoyo, adiknya tersebut memang selalu bersikap seperti itu kepadanya. Denny jelas sangat menyayanginya tapi juga terkadang kesal dengannya. Bagaimana tidak, Clarista tidak jarang mengenalkan Denny sebagai kekasihnya pada teman-temannya.

 

“Nggak usah ke sini Cla.. Kakak sibuk.”

 

“Isshh.. nggak asik. Padahal aku mau ngajak kakak kencan.”

 

“Nggak ada kencan, kakak benar-benar sibuk.”

 

“Kak, Kok gitu sih. Nanti aku laporin Mama..”

 

“Laporkan saja. Ya sudah, kakak tutup teleponnya.”

 

“Kak.. tunggu.. tungg….”

 

‘tut…tut..tutt..’ Denny dengan seenaknya menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan dari sang adik.

 

Clarista, jika Denny sering berhubungan dengan adiknya tersebut pasti ia ingin kembali pulang. Tapi tidak, ia tidak boleh pulang sebelum sang ayah merubah sikapnya yang suka mengatur.

 

Denny akhirnya mengalihkan pandangannya kembali pada handphone yang genggamnya. Ia ingin menghubungi Aira untuk menanyakan keadaannya. Tapi kalau Gadis itu besar kepala bagaimana?? Bagaimana juga kalau nanti Gadis itu merasa terganggu olehnya?? Ahhh persetan! Yang penting niatnya hanya untuk bertanggung jawab karena dirinyalah yang membuat Aira sakit.

 

Di tekannya tombol panggilan pada kontak Aira. Denny mengernyit saat mendengar nada sambung pribadi dari nomor Aira. Kekanak-kanakan sekali pakai nada sambung pribadi segala, pikirnya.

 

“Hallo..”

 

Suara di seberang entah kenapa membuat jantung Denny seakan menggila.

 

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Denny dengan kaku tanpa basa-basi lagi.

 

“Denny.. ini kamu?” Suara aira terdengar terkejut dan juga senang.

 

“Iya..” Hanya itu jawaban dari Denny.

 

“Ya ampun, aku nggak menyangka kamu akan hubungi aku. Ku pikir…”

 

“Aira..” Denny memotong kalimat Aira. “Aku hanya mau memastikan bagaimana keadaan kamu.”

 

Aira nampak berdiam lama lalu mulai bicara lagi. “Aku parah, tubuhku sekarang masih demam, kepalaku pusing, perutku mual, dan aku juga sedikit pilek.”

 

Denny mengernyit. “Kamu nggak bohongkan??”

 

“Untuk apa aku bohong Denny, pokoknya kamu harus tanggung jawab.”

 

Denny menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan tanggung jawab.” Ucap Denny dengan lesu.

 

“Kalau begtu nanti malam bawakan aku martabak manis kemari ya..” Ucap Aira di seberang penuh dengan semangat. Denny tentu sangat terkejut dengan permintaan Aira. Bagaimana mungkin Aira memintanya untuk membawakan makanan ke rumahnya.

 

“Heii.. apa nggak ada cara lain?? Ayahmu akan membunuhku kalau aku kembali ke rumahmu malam ini juga.”

 

“Dia tidak sekejam itu Denny, pokoknya kamu harus ke sini malam ini juga sambil membawa martabak manis. Titik!!”

 

Denny mendengus sebal. “Kenapa kamu jadi seperti orang yang sedang ngidam.?”

 

“Yaa aku memang sedang Ngidam, karena kamu.” Ucap Aira di seberang sambil terkikik geli.

 

“Dasar gadis aneh.” Gerutu Denny. “Baiklah, aku akan ke rumah mu malam ini.” Akhirnya Denny mengalah. Entah kenapa ia tidk bisa menolak kemauan Aira. Mungkin karena merasa bersalah karena sudah membuat Aira sakit. Atau mungkin juga karena sesuatu, Denny sendiri tidak tau.

 

***

 

Aira melempar handphone ke sisinya. Ia kembali berbaring sembari terkekeh setelah menutup telepon dari Denny. Kenapa juga ia bilang sedang ngidam. Kalau Rizky dengar bisa diusir dari rumah. Keadaan Aira mulai membaik, panasnya sudah turun. Hanya tubuhnya masih pegal-pegal. Bibir merahnya terukir sebuah senyuman jika mengingat Denny merangkulnya berbagi kehangatan di malam itu. Terasa sangat nyaman berada dipelukan Pria sombong itu.

 

Pukul 20.00 Aira berada di ruang tv bersama keluarganya. Rizky, Zeeva, Narendra dan si kecil Bunga. Ia duduk disamping Zeeva, tangannya merangkul lengan mamanya. Bunga di pangkuan Rizky sedang Narendra duduk di sofa terpisah.

 

“Bagaimana kondisi mu, Aira?” Tanya Rizky. Ia sudah memarahi Aira sekaligus menasehatinya. Putrinya berjanji tidak akan melanggar lagi. Ayahnya tidak begitu saja percaya hingga memutuskan untuk menerima janji itu kembali. Ia tau watak Aira.

 

“Sudah mendingan, yah. Cuma tinggal badan Aira pada sakit” Terangnya. Aira sesekali mengusik Bunga yang anteng menatap TV.

 

“Ayah, itu kucingnya lucu ya” ucap Bunga ceria melihat kucing yang tercebur di bathup. Ia tertawa, “kayak Molly”

 

“Iya, sayang”

 

Aira baru mengingat jika ia belum mengunjungi anak Caca dan Coco. Hewan peliharaannya sudah mati karena sakit. Sampai Aira tidak kuat saat mengubur hewan kesayangannya itu. Dengan berderai air mata Aira melihat untuk terakhirnya Caca dan Coco. Syukurlah mereka meninggalkan penerus untuk menemani Aira.

 

“Ma, yah.. Aku mau ke belakang dulu ya. Seharian ini aku nggak menengok Mumu” Aira beranjak dari sofa.

 

“Jangan lama-lama kamu masih sakit” Zeeva memperingati.

 

“Yes, mom” Ia memberi hormat. Aira berlari ke belakang dimana kandang hewan peliharaannya berada. Ia tersenyum lebar menatap kandang-kandang hewan peliharaannya. Ada kucing, marmut, kelinci dan juga burung kenari.

 

Aira menuju kandang Mumu. Ia membuka mengambilnya yang sedang bergelung tidur. Aira merasakan tangannya hangat karena bulu Mumu. Ia berdiri berjalan ke kursi yang berhadapan kolam renang. Ditaruhnya Mumu dipangkuannya. Ia mengelus kepala Mumu dengan sayang. Marmut berbulu coklat dan putih itu tertidur.

 

Aira tidak kedinginan, ia memakai celana piyama dan sweater rajut yang menghangatkan tubuhnya. Sesekali bibirnya tersungging senyum dengan tingkah laku Mumu.

 

“Non Aira, disuruh ke dalam sama pak Rizky” Aira menoleh pada Indra yang sudah ada berdiri di sampingnya.

 

“Untuk apa?”

 

“Ada teman non Aira datang” Indra menjelaskan maksudnya.

 

Denny??

 

Aira bangkit dari duduknya sembari memegang Mumu dengan kedua tangannya.

 

“Tolong masukkan Mumu ke kandang” ucap Aira. Indra menadahkan tangannya. Kini Mumu berpindah tangan. “Dan awas jangan membuatnya menangis!” Ancam Aira berlalu. Tampang Indra sangat bodoh, alisnya naik sebelah. Mumu menangis??? Dasar nona besar gila.

 

***

 

Denny tidak pernah merasakan hal seperti yang di rasakannya saat ini. Ia Gugup dan tegang di bawah tatapan seorang pria paruh baya di hadapannya. Siapa lagi jika bukan rizky, ayah dari Aira.

 

Saat ini ia sudah duduk di ruang tamu dengan perasaan campur aduk, sedikit gelisah dan tidak nyaman. Astaga.. dimana sih Gadis manja itu?? Kenapa ia membiarkannya berdua dengan ayahnya yang bertampang tampan namun menyeramkan ini?? Pikir Denny.

 

“Kamu cukup punya nyali kembali ke sini lagi.” Ucap Rizky penuh penekanan.

 

“Emm.. Aira minta di belikan sesuatu om.” Jawab Denny dengan jujur.

 

“Minta apa? Kenapa tidak minta sama saya?”

 

“Heii… Kamu sudah datang” Aira yang baru keluar dari dalam rumahnya langsung menghambur ke arah Denny. Sedangkan Denny sendiri bisa bernapas lega karena tidak lagi mendapat tatapan membunuh dari ayah Aira.

 

“Ini pesanan kamu.” Kata Denny sambil menyodorkan bingkisan yang sejak tadi di bawanya.

 

“Wahhh terimakasih, aku nggak nyangka kamu akan nuruti apa mauku.” Ucap Aira dengan raut wajah gembira dan juga ekspresi manja khasnya.

 

“Ehhmmm..” Merasa di cuekin, Rizky akhirnya memberi isyarat kepada Denny dan Aira. “Sudah kan?? Sekarang tunggu apa lagi? Cepat pulang ini sudah malam.” Ucap Rizky kemudian.

 

“Ihh, ayah kenapa sih. Denny baru juga datang” Aira mendengus tidak suka dengan sikap Rizky.

 

“Sayang, ayo masuk. Bunga pengen main sama kamu.” Zeeva keluar sambil membawakan minuman untuk Denny.

 

“Sayang, kita tidak bisa meninggalkan mereka di sini saja berduaan.” Ucap Rizky pada Zeeva.

 

“Sudah ayoo..” Rizky mau tidak mau mengikuti Zeeva saat lengannya di seret paksa oleh istrinya tersebut. Aira yang melihat tingkah laku kedua orang tuanya akhirnya hanya bisa terkikik geli.

 

“Maaf ya, ayah memang seperti itu.” Ucap Aira pada Denny saat mereka kini hanya berdua di dalam ruang tamunya.

 

“Dia perhatian dan sayang sama kamu, makanya seperti itu.”

 

“Tapi aku merasa di kekang.” Ucap Aira dengan santai sambil membuka bingkisan yang di bawakan Denny.

 

Denny hanya menatap Aira dengan tatapan tidak terbacanya. Ia tentu merasakan apa yang dirasakan Aira karena dulu dirinya juga merasa tidak nyaman karena selalu di kekang dan diatur oleh Papanya.

 

“Denny, ini kok rasa kacang sih. Aku maunya coklat sama keju!. Aku nggak suka kacang.” Rengek Aira dengan manja.

 

“Kamu kan tadi nggak bilang mau rasa apa, sudah makan yang ada aja.” Kali ini Denny berkata dengan nada datarnya. Aira mendengus kesal karena Denny kembali menjadi Pria dengan ekpresi datar seperti biasanya.

 

Tanpa di duga, Denny mendaratkan telapak tangannya di dahi Aira, merasakan suhu tubuh Aira apa masih demam atau sudah membaik. Aira membatu seketika saat telapak tangan Denny menyentuh keningnya.

 

“Kamu sudah baikan.” Ucap Denny kemudian.

 

Aira gugup setengah mati, sungguh. Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Ia merasa sangat diperhatikan oleh Denny, padahal mereka baru saja kenal. Sedangkan denny sendiri tidak mengerti apa yang dia lakukan tadi. Rasa khawatir itu tiba-tiba muncul begitu saja dalam benaknya. Ia tidak suka melihat Aira yang kesakitan seperti kemarin malam.

 

Akhirnya keduanya sama-sama tertegun, ruangan itu hening tanpa suara sedikit pun. Yang terdengar hanyalah suara debaran jantung dari keduanya yang seakan menggema dalam heningnya ruangan tersebut.

 

Gugup, keduanya sama-sama gugup dan canggung. Denny bahkan tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

 

“Kalau begitu aku pulang dulu.” Kata Denny kemudian. Ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan Aira yang tiba-tiba jadi pendiam dan tidak cerewet seperti biasanya. Belum lagi kecanggungan di antara mereka berdua yang membuat Denny merasa sedikit gugup berada di dekat Aira.

 

“Kenapa buru-buru.” Entah perasaan Denny sendiri atau memang suara Aira yang berubah menjadi parau saat mengucapkan kalimat tersebut.

 

“Sudah malam, aku nggak enak sama orang tua kamu.” Jawab Denny kemudian.

 

“Ya sudah, aku antar pamitan sama ayah dan mama.” Kata Aira yang sudah berdiri. Denny mengangguk dan mengikuti Aira di belakangnya menuju ke ruang keluarga yang di sana sudah ada Rizky, Zeeva dan juga kedua Adik Aira.

 

***

 

Setelah berpamitan, Aira akhirnya mengantar Denny sampai di halaman rumahnya. Entah kenapa saat ini Denny benar-benar merasa sedang mengunjungi kekasihnya. Padahal sebenarnya mereka kan tidak punya hubungan apa-apa.

 

“Denny, terimakasih sudah mau kesini” Ucap Aira kemudian yang seketika itu juga membuat Denny menatap Wajah Aira.

 

Paras cantik nan manja jelas terukir sempurna pada wajah Aira. Hidung mancung, alis tebal, pipi merona, dan juga bibir nerah merekahnya entah kenapa membuat denny menelan ludahnya seketika.

 

Denny memalingkan wajahnya ke arah lain tidak ingin terpesona lebih jauh kedalam kecantikan seorang Aira. “Aku sudah jauh-jauh datang ke sini, jadi awas saja kalau nggak di makan martabaknya.” Ucap Denny dengan nada datarnya. Ia berusaha mengendalikan dirinya supaya tidak gugup saat berada di dekat Aira.

 

Aira tersenyum saat melihat perubahan ekspresi dari Denny. Lalu tiba-tiba ide jailnya muncul dalam pikirannya. Aira semakin mendekatkan diri pada Denny, Kakinya sedikit berjinjit, tangannya bertumpu pada pundak Denny lalu…

 

‘Cup..’

 

Kecupan singkat dari Bibir mungil Aira mendarat sempurna di pipi Denny. Denny terperangah dengan apa yang sudah dilakukan Aira. Sedangkan Aira sendiri tidak mampu menyembunyikan tawa gelinya saat melihat tampang aneh dari wajah Denny.

 

“Hati-hati di jalan yaa..” Ucap Aira dengan tawa menggodanya. Lalu gadis itu lari masuk ke dalam rumahnya.

 

Sedangkan Denny masih mematung di halaman rumah Aira, tangannya mengusap lembut pipinya yang disana ada bekas kecupan dari bibir mungil Aira.

 

‘Deg..Deg..Deg..’

 

Denny meraba dadanya. Setelah bertahun-tahun seakan bergetar kembali. Debaran yang sama. Jantungnya kini berdebar oleh sosok Aira. Gadis yang sangat mirip dengan masa lalunya.

 

-TBC-

Gimana menurut kalian dengan part ini?? kasih komentarmu yaa… heheheheh

My Young Wife – Prolog

Comments 9 Standard

image

Tittle : My Young Wife
Cast : Osvaldo Handerson & Sienna Clarissa
Genre : Married Life (Roman Dewasa)
Seri : Married By Accident #1
Sekuel : My Brown Eyes
Status : Coming Soon

#Prolog

Aldo menghentikan sedan hitamnya di sebuah cafe tempat dirinya janjian dengan seorang gadis. Matanya tampak menelusuri kedalam cafe yang sebagian besar berdindingkan kaca transparan tersebut. Dan pandangannya terarah pada sesosok gadis yang sedang duduk dengan gelisahnya di sebuah bangku di ujung ruangan. Gadis dengan seragam putih Abu-abunya.
“Ada Apa?? Kenapa kamu menghubungiku?” Tanya Aldo tanpa banyak basa-basi saat dirinya sudah duduk tepat di hadapan gadis mungil tersebut.
Aldo mengamati wajah gadis itu, terlihat Sendu dan sedikit pucat, tapi entah kenapa seakan wajah gadis itu memancarkan sesuatu dari dalam dirinya yang membuat Also sangat betah menatap wajah Gadis di hadapannya tersebut.
Sienna yang sedang tadi duduk menunduk dengan sedikit gemetaran akhirnya berani menatap ke arah Pria di hadapannya, Pria yang tak sengaja di kenalnya Sekitar beberapa minggu yang lalu.
Sienna menatap Pria tersebut. Tampan, bahkan lebih tampan di bandingkan malam itu. Mantanya berwarna Cokelat nan indah, membuat Sienna terpesona sekan tak mampu berkata-kata lagi.
“Heii.. Kamu ada masalah??” Tanya Aldo lagi saat melihat Sienna melamun menatap matanya.
“Aku Hamil..” Dua kata itu mampu membuat Aldo ternganga.
Aldo tak dapat berkata apa-apa lagi. Astaga.. Bagaimana mungkin dia menghamili gadis belia yang bahkan belum lulus SMA.??
“Kamu yakin??” Tanya Aldo masih tak percaya dengan apa yang Ia dengar.
Sienna menganggukkan kepalanya. “Aku benar-benar hamil. Aku sudah tes berkali-kali dan hasilnya positif.” Sienna lalu menangis. Yaa Gadis itu memang terlampau sangat manja.
Aldo memejamkan matanya dengan Frustasi. Ia sangat membenci gadis manja yang sedikit-sedikit menangis seperti Sienna. Sungguh, sangat tidak dewasa.
“Apa kamu bisa berhenti menangis?? Kita akan cari solusinya?”
“Solusi bagaimana Kak?? Hidupku sudah hancur, Sekarang bahkan belum pengumuman kelulusan sekolah, dan aku sudah Hamil, bagaimana dengan kedua orang tuaku.? bagaimana dengan sekolahku?? Cita-citaku??”
Aarrgggghh kepala Aldo terasa ingin pecah. Di raihnya telapak tangan Sienna dengan kasar lalu di seretnya gadis itu keluar dari Cafe tempat mereka bertemu. Sienna di paksa masuk ke dalam mobilnya. Dan dengan ekspresi tak terbacanya, Aldo meluncur menuju tempat yang sama sekali tak di mengerti Sienna.

***

“Berapa usiamu??” tanya se orang dokter cantik yang menurut Sienna mungkin itu adalah teman Aldo.
“Tiga bulan lagi genap Delapan belas tahun.”
Dokter itu tampak sedikit terkejut lalu melemparkan pandangannya ke arah Aldo dengan tatapan menyalahkan.
“Al.. Bisa-bisanya kamu menghamili Gadis di bawah umur??”
Aldo yang berdiri tepat di sebelah Sienna hanya menatap Sienna dengan wajah datar dan  tatapan tak terbacanya.
“Apa kamu memiliki keluhan lain selain mual muntah?” Tanya Dokter itu lagi.
“Hanya sesekali Kram pada perut saya, itu saja.” Jawab Sienna masih dengan menundukkan kepalanya.
Dokter cantik itu menghela nafas panjang, “Baiklah, menurut perhitunganku, kehamilannya baru sekitar Lima sampai Enam minggu. Jika kamu tak ingin mempertahankannya, Aku memiliki resep obat peluruh, Jadi janin itu bisa gugur dengan kamu meminumkannya obat itu pada Gadis ini.” Tawar Dokter itu kepada Aldo.
Mata Sienna membulat menyadari ucapan Dokter tersebut. Mereka akan menggugurkan bayinya?? Mungin itu lebih baik, jadi tak akan ada masalah lagi bukan?? Tapi entah kenapa hati nuraninya berkata lain??
“Berikan saja Obat itu.” Ucap Aldo dengan Dingin.  Dan Akhirnyan Dokter itu memberi Resep pada Aldo.

***

Setelah membeli Obat yang di resepkan Dokter tersebut, Aldo mengajak Sienna ke Apartemen pribadinya yang jarang sekali di tempatinya jika tidak ada keperluan mendesak seperti saat ini.
Sienna menatap beberapa butir Obat di telapak tangannya. Aldo kini duduk di sebelahnya menatap Sienna dengan tatapan tak teganya. Sedangkan Sienna sejak tadi sudah tak berhenti meneteskan Air matanya.
“Apa kamu yakin mau melakukan ini??” Tanya Aldo lagi dengan suara nyaris tak terdengar. Hati kecil Aldo mengatakan jika semua ini salah. Ia terlampau pengecut. Usianya kini sudah 28 tahun, dan bisa-bisanya Ia mengambil keputusan kekanak-kanakan seperti saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, Aldo juga tak tega melihat Sienna tak memiliki Masa depan seperti teman-temannya.
Sienna menganggukkan kepalanya dengan lemah. Lalu ia mulai berdo’a. Kemudian memejamkan matanya dan memasukkan obat-obat tersebut kedalam mulutnya di ikuti dengan meminum Air putih yang sudah di sediakan oleh Aldo.
Tapi saat ia meminum air putih tersebut. Perutnya bergejolak. Sienna membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya ketika ia merasakan mual yang sangat hebat.  Akhirnya tanpa permisi Ia berlari ke arah kamar mandi di dekat dapur Apartemen milik Aldo.
Sienna memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya termasuk obat-obatan tersebut. Perutnya bahkan terasa kaku saat Rasa mual yang tak berhenti melandanya.
Ketika mual itu sudah reda, Sienna terduduk di lantai kamar mandi milik Aldo. Tak mempedulikan Rok yang di kenakannya basah kuyub, Ia menangis di sana dengan sesenggukan, Menenggelamkan wajahnya diantara kedua lengannya.
Aldo sendiri berjalan mendekat ke arag Sienna, mengusap lembut punggung gadis itu.
“Aku nggak bisa Kak.. Aku nggak bisa melakukannya.” Ucap Sienna dengan frustasi.
Aldo mengangkat wajah Sienna, memaksa mata Sienna menatap lurus pada matanya. “Kalau begitu hanya ada satu jalan. Kamu harus siap menjadi Istriku, dan Ibu untuk anak-anakku.” Ucap Aldo penuh tekat. Lalu Aldo memeluk erat tubuh Gadis rapuh di hadapannya ini. Yaa mungkin ini akan menjadi yang terbaik untuknya dan juga Sienna.
Sedangkan Sienna sendiri tak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya, bagaimana mungkin Ia menikah dalam usia semuda ini?? Menjadi istri seseorang dengan usia yang menurutnya masih belia??

-TBC-

Nahhh… kisah aldo dan sienna udah resmi rilis di blog nih… hahahaha btw chapter 1 bulan juni yaakk aku soalnya konsen ama bang tengil Aaron jiaahahhahaha. Okay… tunggu aja yaa bagaimana Nano-nanonya lanjutan kisah cinta antara Aldo dan juga ai gadis manja Sienna.. hahhahaha. Dan di bawah ini adalah cast aldo dan sienna yaa…

image

Matt lanter as Osvaldo Handerson

image

Ariana Grande As  Sienna Clarissa

Jangan lupa tinggalkan komen kalian yaa… *kisskiss

My Beautiful The Witch – Chapter 3

Comments 7 Standard

MbtwMy Beautiful The Witch

Note : Tinggalkan Logika kalian jika ingin membaca cerita ini…. dan mari masuk kedalam imajinasi dan fantasi Author Gaje yaakk… Karena udah terlalu lama nggak Update cerita ini maka aku kasih cuplikan Chapter sebelumnya yaa…

*Cuplikan Chapter 2

”Robb, kenalkan Dia Elaine, ibuku. Dan ibu, Dia Robbin William, Lelaki yang sudah menolongku.”

Keduanya akirnya saling bersalaman. Ketika kulit Elaine menyentuh permukaan kulit Robbin, Bayangan akan sesuatu muncul begitu saja dalam kepala Elaine.

“Kekuatan… Keabadian… Tak Tertandingi…” Racau Elaine seperti seorang yang sedang meramal sesuatu.

Ellieora dan Robbin saling bertatap mata seakan-akan menyatakan jika mereka berdua sama-sama tak mengerti dengan apa yang dikatakan Elaine.

“Apa Kau seorang Penyihir?” tanya Elaine tanpa basa-basi kepada Robbin.

“Tidak, Saya hanya manusia biasa.” Jawab Robbin dengan tegas.

“Tidak Nak.. Kau bukan manusia Biasa..” Kata Elaine sambil sedikit tersenyum lalu masuk kedalaam pondoknyaa tanpa berpamitan dengan Elliora dan Robbin.

Sedangkan Robbin dan Ellieora saling pandang dengan tatapan tanda tanyanya masing-masing. Apa yang dimaksud dengan perkataan Elaine tadi?? Benarkah Robbin bukan manusia biasa??

***

Chapter 3

 

Ellieora mengikuti Elaine masuk kedalam rumah meninggalkan Robbin sendiri di ruang tengah. Ellieora cukup penasaran dengan apa yang dikatakan ibunya tadi saat pertama kali bertemu dengan Robbin.

Yaa… Elaine sebenarnya merupakan seorang penyihir putih yang Hebat. Umur nya sudah lebih dari ratusan tahun, namun Ia masih tampak muda bahkan cocok di sebut dengan Kakak Ellieora. Elaine menguasai berbagai macam mantera penyihir, berbagai macam cara meramu berbagai macam ramuan, dan juga pandai meramal seseorang hanya dengan bersentuhan atau menatap mata orang tersebut. Tak heran Jika Elaine di sebut sebagai penyihir putih terhebat yang pernah ada.

“Ibu.. apa yang kau bicarakan tentang Robb tadi??” Tanya Ellieora yang tentunya sangat penasaran dengan apa maksud dari sang Ibu.

“Ellie, Kau tentu tau jika dia bukan manusia biasa.”

“Dia manusia biasa Ibu, mungkin hanya matanya saja yang sedikit berbeda dan sama dengan kaum kita.”

“Tidak Ellie, Aku bisa merasakannya.”

“Ibu, dia tadi menolongku, dan tak sedikitpun dia merapalkan Mantera aneh atau mengeluarkan benda Sihir lainnya.”

Elaine tampak berpikir. Ramalannya tentu tak mungkin salah. Apa yag sebenarnya terjadi?? “Kau yakin Ellie??”

Ellieora menganggukkan kepalanya. “Tentu ibu..”

“Aku merasakan kekuatan besar pada Dirinya, Aku juga merasakan semacam keabadian, dan juga entahlah.. dia berbeda dan terlihat istimewa dibandingkan dengan siapapun orang yang pernah kutemui.”

“Mungkin Ibu hanya sedang lelah”

“Tidak mungkin Ellie.. Ini sebuah Ramalan, Bukan perasaan. Kau tentu tau seberapa tepatnya Ramalanku.” Ellieora mengangguk. Yaa tentu saja Ia tau. Ibunya merupakan Penyihir putih terhebat yang pernah ada. Ramalannya tak pernah di ragukan lagi. Selalu tepat sasaran. Apalagi di tambah dengan Buku putih yang dimiliki sang Ibu..

Yaa… layaknya golongan penyihir, dalam dunia penyihir juga terdapat Buku Tua. Tepatnya ada Dua. Yang pertama adalah buku putih. Pedoman untuk menjadi penyihir putih terhebat. Didalamnya banyak sekali tertuliskan mantera-mantera kuno yang tak banyak penyihir putih dan penyihir hitam tau. Berbagai macam cara membuat Ramuan, mulai dari Racun, penawar, obat, dan Ramuan lain sebagainya. Ada juga cara membuat alat-alat aneh, bahkan sampai pembuatan tongkat sihirpun ada. Buku itu benar-benar langka dan ada satu di dunia, dan Elaine lah sang pemegang buku tersebut.

Satu buku lagi bernama buku Hitam. Pedoman untuk menjadi penyihir hitam terhebat yang pernah Ada. Konon dalam buku Hitam tersebut juga memiliki banyak pelajaran seperti yang ada di dalam buku putih, Hanya saja buku Hitam tentunya lebih kuat dan lebih ber isi tentang sihir-sihir Hitam. Sayangnya buku itu Hilang tak tau Rimbanya.

Elaine masih ingat saat itu. Saat dimana di umumkan, Bahwa seorang Pangeran penyihir Hitam Kabur membawa pergi Buku tersebut. dan yang terakhir Elaine dengar, Pangeran tersebut Hilang tak tau dimana kabarnya, beserta buku tersebut.

Sejak saat itu,dirinya yang telah memiliki buku Putih Akhirnya di tuntut untuk menjaga buku tersebut sebaik-baiknya. Tak dapat di bayangkan bagaimana jika kedua Buku tersebut pempunyai pemilik yang sama apalagi pemiliknya tersebut adalah seorang Penyihir berdarah Hitam.

“Ellie, Kupikir Kau harus mengamatinya, dia bukan orang biasa Ellie, percayalah.”

Ellieora akhirnya mengangguk menurut dengan sang Ibu.

***

Robbin menatap ke segala penjuru ruangan. Rumah yang sedang di datanginya ini seperti rumah tua tapi bersih. Di sebelah kiri terdapat sebuah Jendela kecil yang sang terbuka dan memperlihatkan aneka tanaman aneh yang tak pernah Ia lihat sebelumya Ada juga pot-pot bunga kecil yang juga sepertinya bukan bunga yang pernah Ia lihat sebelumnya.

Di sebelah Kanan di ujung ruangan, terdapat sebuah lemari yang di dalamnya terdapat beberapa benda yang mirip dengan Sapu. Yaa… itu adalah sapu penyihir. Kenapa Ellieora dan ibunya memilikinya?? Apa mereka seorang penyihir juga? Pikirnya saat itu.

Jika di lihat darimata Elaine, tentu Saja Robbin yakin jika Elaine adalah seorang penyihir. Tapi mengingat bagaimana tadi Ellieora begitu tak berdaya saat hampir di perkosa para penjahat di dalam hutan tadi, sepertinya tidak mungkin jika Ellieora seorang penyihir. Lalu, Sebenarnya apa yang terjadi??

Robbin melihat Ellieora keluar membawa sebuah nampan berisi beberapa buah-buahan segar dan juga minuman.

“Ku pikir kau lapar. Makanlah selagi menunggu ibuku menyiapkan penawar racun untuk temanmu.” Ucap Ellieora selembut mungkin.

“Apa dia benar-benar ibumu??” tanya Robbin dengan tajam.

“Tentu saja Robb”

“Dia terlihat lebih mudah dan matanya..”

“Bukankah aku sudah mengatakan padamu mengenai matanya???” potong Ellieora, “Rob, Ibuku ahli ramuan, dia bisa membuat ramuan yang dapat membuat orang Awet muda, bukankah kau memiliki mata seperti mata penyihir? Lalu apakah itu berarti Kau adalah sorang penyihir?? Tidak bukan??”

Robbin mengangguk. “Yaa aku cukup yakin sekarang,”

“Baiklah, Sekarang, nikmati saja makanan ini dan istirahatlah. Selagi menunggu Ibuku menyelesaikan ramuan nya.”

Robbin akhirnya mengangguk. Ia mulai meminum Air yang di sediakan Ellieora, dan ia juga mulai memakan buah-buahan yang di suguhkan wanita cantik tersebut.

***

“Minumkan ini pada teman mu. Ini terbuat dari tanaman langka yang hanya tumbuh di pekarangan rumahku saja. Dia akan segera sembuh dengan meminum ramuan ini secara berkala.” Kata Elaine sambil memberikan Robbin Ramuan yang berwadahkan Bambu tua.

“Kau yakin ini akan ber efek untuknya??” Robbin masih sedikit tak percaya dengan Elaine.

“Aku berniat menolong mu anak muda, karena Kau sudah menolong Puteriku. Aku tak mungkin membuat Kau atau teman mu Celaka.”

“Apa yang bisa membuatku percaya??” Tanya Robbin masih ingin kepastian.

“Kau bisa mengajak Ellieora ke tempatmu.” Ucap Elaine dengan pasti.

“Ibu..” Ellieora menyela. Ia tak menyangka jika Sang Ibu menyuruhnya untuk mengikuti Robbin, lelaki yang baru di kenalnya.

“Ellie, Kau bisa ikut dengannya, Lagi pula hanya Kau yang mampu merebus ramuan tersebut dengan tepat dan sempurna. Ramuan itu tak bisa di rebus terlalu lama atau hanya sebentar saja.” Ucap Elaine menjelaskan.

“Tapi Ibu, Aku tak mengenalnya, bagaimana mungkin ibu menyuruhku pergi dengannya?”

Elaine meraih pergelangan tangan Ellieora, Ia mengajak puterinya tersebut sedikit menjauh dari Robbin. “Dengar sayang, Ibu benar-benar merasakan ada sesuatu yang besar dari diri Robbin, Tapi Ibu juga bisa merasakan jika dia Lelaki baik-baik. Ibu merasakan darah murni mengalir di nadinya. Jadi, anggap saja ini tugas dari ibu, awasi lelaki itu, jika memang nanti ada yang perlu Kau laporkan pada Ibu, Kau hanya perlu mengusap batu Rubi dalam liontinmu. Ibu akan merasakannya.” Jelas Elaine panjang lebar.

Ellieora hanya mengangguk.

“Satu hal lagi sayang, Apa pun yang terjadi, Jangan sampai kau jatuh hati padanya sebelum kau tau siapa dia sebenarnya.” Tambah Elaine lagi.

Ellieora kembali mengangguk. Keduanya kembali mendekat ke arah Robbin yang sudah bersiap-siap akan meninggalkan rumah pondok milik Elaine.

“Jadi.. Kau ikut denganku?” Tanya Robbin dengan lembut pada Ellieora.

“Yaa.. seperti yang di perintahkan ibuku.” Ucap Ellieora pasrah.

“Baiklah Robbin, Ku harap Kau menjaga puteriku hingga dia kembali pulang ke rumah.”

“Tentu saja Elaine, aku akan menjaganya.” Robbin berjanji dengan sungguh-sungguh.

***

Di dalam sebuah kastil tua yang berada di sebuah Pegunungan nan jauh dari jangkauan Manusia,.. Seorang Wanita dengan pakaian hitam legam nya tampak sibuk merencanakan beberapa rencana jahat yang akan di lakukannya.

“Kau… Bagaimana denganmu? Apa Kau sudah menemukan Pemuda sialan itu?” Tanya nya pada seorang bawahan yang sedang membungkuk hormat padanya.

“Ampun tuanku paduka Ratu, Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan jejaknya ada di pinggiran sebuah hutan di bagian timur, tapi ternyata Ia kembali lenyap bak di telan bumi.”

“Kurang Ajar, Apa dia sudah bisa merapalkan mantera untuk menghilangkan jejak dari buku tersebut??” Tanya Wanita yang di panggil sebagai ratu itu lagi.

“Sepertinya dia belum menyadari siapa dirinya Tuanku paduka Ratu. Hamba merasakan dia menghilang karena ada sebuah kekuatan Besar yang menyembunyikan keberadaannya.”

“Elaine..” Geram sang Ratu tersebut. “Aku yakin Elaine turut campur dalam hal ini, tak ada kekuatan besar yang mampu menandingi penglihatan bola kristalku selain kekuatan besar Dari Elaine yang di dapatnya dari Buku putih.” Lanjut sang ratu.

“Lalu, apa rencana tuanku paduka ratu selanjutnya??”

“Kita lihat saja dulu, Seberapa jauh Elaine ikut campur dengan urusan kita.”

“Lalu, bagaimana dengan tawanan kita paduka Ratu?”

Sang ratu tersenyum miring. “William… Biarkan saja dia membusuk di penjara bawah tanah, jika kita membutuhkannya, Aku akan mengeluarkannya dari sana, tapi jika tidak, Aku akan memusnahkannya..” Ucap sang Ratu yang di sertai dengan tawa lebarnya.

Semua yang ada di ruangan tersebut mengangguk paham dengan apa yang di katakan sang Ratu penyihir hitam tersebut..

***

“Ellie.. Ku pikir aku tidak lewat sini kemarin.” Ucap Robbin yang masih sibuk mengarahkan kudanya pada jalan yang di tunjukkan oleh Ellieora.

“Tenanglah Robb.. aku cukup mengenal hutan ini. Kalau kita mengikuti jalanmu kemarin, kita kan tiba di pinggiran Desa tiga hari kemudian. Sedangkan kalau kita lewat sini, Besok siang kita pasti sudah sampai pinggiran desa.”

“Kau yakin??” tanya Robbin lagi.

“Ya, aku cukup hapal dengan jalanan di hutan ini.”

“Lalu, Dimana nanti kita kan Bermalam?” Tanya Robbin lagi sambil mendongak ke atas. Hari sudah semakin sore, matahari pun sudah mulai menenggelamkan dirinya sedikit demi sedikit.

“Tak jauh dari sini ada sungai keci, di sebelah sungai tersebut ada sebuah gua, kita bisa bermalam di sana nanti.” Robbin hanya mengangguk dan kembali memacu ku danya lebih cepat lagi.

***

Robbin membenarkan letak kayu-kayu bahar dalam api unggun kecil yang di buatnya di dalam gua tersebut. Malam ini benar-benar dingin. Di tambah lagi hujan deras di luar Gua serta petir yang menggelegar membuat suasana semakin dingin dan mencekam.

Di tatapnya Ellieora yang berada tepat di hadapannya. Ahh.. Wanita itu benar-benar menggoda untunnya. Kulit putih pucatnya, wajah cantik jelitanya, dan juga aroma tubuhnya yang memabukkan benar-benar menggoda Hasrat lelaki yang di miliki Oleh Robbin.

Ia menginginkan Ellieora, tapi yang benar saja, mereka bahkan baru bertemu hari ini. Dan tentunya mereka belum saling mengenal.Robbin tak ingin Ellieora mengenalnya sebagai laki-laki bajingan yang hanya tergoda dengan tubuhnya.

“Kenapa Kau menatapku seperti itu?” Suara Ellieora menyadarkan Robbin dari lamunan.

“Ahh tidak.” Jawab Robbin sambil mempalingkan wajahnya. “Berapa usiamu Ellie??” Tanya Robbin kemudian. Ia ingin mengalihkan perhatiannya pada hal lain.

Ellieora hanya menggelengkan kepalanya. “Aku tak tau.”

Robbin tersenyum. “Bagaimana ungkin kau tak tau usiamu??”

“Ibu tak pernah bercerita kapan aku lahir.” Hanya itu jawaban dari Ellieora.

“Kau tak punya keluarga lain selain ibumu??” tanya Robbin lagi.

Ellieora hanya menggelengkan kepalanya.

“Teman?” Tanya Robbin lagi.

Ellieora kembali menggelengkan kepalanya. “Aku tak memiliki siapa pun Robb, hanya Elaine, Ibuku lah yang ku miliki di dunia ini.” Lirih Ellieora.

“Kau memiliki aku Ellie..” kali ini Robbin berkata dengan tulus.

Ellieora menatap Robbin dengan tatapan tanda tanya nya. “Apa maksudmu?”

Robbin menghela napas panjangnya lalu mulai bercerita. “Aku juga tak memiliki siapapun di dunia ini Ellie. Ayahku menghilang, dan ibuku di bunuh oleh sekawanan penyihir.” Robbin bercerita dengan mata membara penuh dengan dendam dan amarah.

Ellieora menegang seketika. “Kau yakin yang membunuh ibu mu adalah sekelompok penyihir?” Tanya Ellieora dengan hati-hati.

“Yaa.. bahkan sampai sekarang aku merasakan mereka masih memburuku, aku tak tau apa yang mereka cari dariku. Oleh karena itu, aku dan saudara angkatku Alan, Memutuskan akan memburu dan membunuh setiap penyihir yang kami temui.” Ucap Robbin penuh penekanan.

Suara Robbin seakan membuat Ellieora merinding ngeri. Nyala api di hadapan mereka seakan membesar seirin dengan amarah yang terlihat dari raut wajah Robbin. Mata Lelaki itu yang berwarna kuning keemasan seakan mengkilat seperti cahaya.

Tak salah lagi.. Robbin pasti memiliki darah penyihir di tubuhnya… Ellieora kini dapat merasakannya dan Ellieora tau itu….

-TBC-

Roman fantasi ini memang Slow update.. karena aku nulisnya enjoy… nggak ada yang baca dan nggak ada yang pengen cepet2 baca alhasil aku Update cerita ini Slow dan santai bgt…  hehhehe okay sampai jumpa di Chapter 4 yaa.. hahahhaha

new1 new2

Diary Kepenulisan – Part 2 (My First Love)

Leave a comment Standard

01Diary Kepenulisan

Part 2

-My Firs Love-

 

Halo.. Ketemu lagi sama saya… hehhehe dengan tulisan gaje saya ini.. hahahhaha. Okay, bicara tentang judul di atas, jangan harap kalau saya akan bercerita tentang Cinta pertama saya yang Sumpah demi apapun juga Nyesekkkkkk bgt se nyesek-nyeseknya,,, hhahahha

Cinta pertama yang kita bahas saat ini adalah Cinta pertama pada Tokoh Ciptaan saya. Meskipun Tokoh pria pertama yang saya Ciptakan Adalah Kim Joon di fansfic Korea “The passionnate of Love”, Tapi entah kenapa kalau bicara Cinta Pertama, Saya menunjuk Tokoh Dhanni Revaldi pada Novel saya yang berjudul “The Lady killer”. Yaa.. Kak Dhanni lah yang menjadi Cinta  pertama Si Author Gaje ini.. hhahahahah

tumblr_m5q04fFsAN1ryhc5ho4_r1_250Sejak Awal saya sudah pernah menceritakan. kalau Novel The Lady killer inspirasinya dari kisah tragis saya dengan Suami dan juga sahabat dari suami saya, Meski kisah kami sebenarnya jauh berbeda dan jauh dari kara Romance, hehhehe.

Sosok Dhanni Revaldi sendiri benar-benar terinspirasi dari sosok suami saya yang Cueknya nggak ketulungan, Pemarah, Dingin seperti kutub, nggak romantis, dan masih banyak sekali kekurangan dia yang akan membuat siapapun nggak betah hidup bersamanya. Real, ini benar-benar realita, kalau boleh saya curhat, sudah berapa kali saya mengucapkan kata “Aku nggak kuat Mas, Kita sudahan saja.” tapi mungkin Allah masih sayang sama kami berdua hingga kami masih bisa bersama dalam bahtera rumah tangga yang umurnya baru menginjak 6 tahun ini (Alhamdulillah..)

Kembali ke sosok Dhanni Revaldi. Kak Dhanni di ceritakan Sebagai sosok yang sangat sayang sekali pada Sosok Nessa, tampan, Kaya, Tapi kekurangannya jelas ada di Sifatnya yang menurut saya benar-benar Minus. coba kalau dia nggak tampan dan kaya, mana ada orang yang mau hidup bersama orang yang Cuek, nggak romantis, pemarah, suka ngatur dan sikap buruk lain sebagainya. tapi di sini, Saya mencoba menggambarkan dia sebagai sosok manusia yang memang memiliki kekurangan. dan saya harap para pembaca bisa mencintai kekurangan dari Kak Dhanni tersebut.

Pemilihan cast, Setelah berputar-putar, akhirnya waktu itu saya benar-benar menemukan sosok yang saya anggap Klik menjadi sosok Kak Dhanni dalam gambaran saya. dan inilah gambar pertama Kak Dhanni yang saya temukan di Mbah Google.

Screenshot_2015-06-30-20-22-04-1Setelah menemukan gambar ini, Pikirku ‘Ehh Busyeettt ini bener-bener mirip sama gambaranku, sumpah’. lalu ku telusuri dah tuh gambar ini. dan taraaa… aku menemukan sebuah nama..

Chinawut Indracusin…

Sumpah demi apapun juga waktu itu saya sedikit ngakak saat membaca namanya. oke lupakan. Jadi saya cari tuh, nama Chinawut indracusin di Mbah Google. dan alhamdulillah ternyata benar, Dialah sosok yang saya cari.

Dia seorang penyanyi asal thailand yang sampai sekarang pun saya tak tau mana lagunya, wkwkkwkwkwk. Jujur, Saya melihatnya sebagai Kak Dhanni, Bukan sebagai Chinawut si penyanyi. hahhahahaha -namanya juga udah di butakan dengan cinta wkkwk-

lanjut lagi… Setelah saya menemukan foto-foto ini Akhirnya saya dan hati saya menyepakati bahwa dia akan menjadi kak Dhanni untuk saya. Kak Dhanni yang selalu menemani malam-malam galau saya dengan menulis cerita The lady killer ini… So, terserah kalian para pembaca mau menjadikan siapa saja pada sebagai kak Dhanni kalian.

Semangat nulis semakin menjadi saat mendapat Cast yang menurut saya benar-benar klik, Pikiran saya seakan penuh dengan Kak Dhanni pada saat itu. Hingga pada Akhirnya saya bisa menyelesaikan cerita The lady killer dengan sebaik-baiknya -Menurut saya-.

Sedih saat mengingat saya harus berpisah dengan Sosok Kak Dhanni. Sosok yang saya Ciptakan dalam imajinasi saya, Sosok yang menemani malam-malam panjang saya, Sosok yang bagi saya cukup membuat bergetar hati saya saat saya membaca uang cerita The lady killer. Adakah sosok seperti Dia dalam Dunia nyata ini?? jika Ada, Katakan padanya, “Bahwa aku sudah jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Sosok Fiksi yang telah ku ciptakan sendiri..”

Beberapa teman bertanya. “Kak, Gimana sih cara menciptakan sosok yang kuat seperti Sosok Dhanni Revaldi dalam Novel kakak??” Ini seorang teman dan dia menjadi penulis juga.

Saya hanya menjawab “Saya tidak tau, Saya menulisnya ketika saya membayangkannya, tak ada trik apapu, tak ada rancangan apapun karena waktu itu saya benar-benar baru dalam hal tulis menulis.”

“Tapi karakter yang Kakak ciptakan itu kuat sekali loh, sampai membekas gitu, coba lihat Review di Playstore..” Kata temanku itu lagi.

Dengan tersenyum saya berkata “Mungkin pada saat itu saya menulisnya dengan perasaan, hingga maksud hati saya dapat tersampaikan pada para pembaca.”

yaa.. hanya iyu yang dapat saya jawab. mungkin saya menulisnya dengan perasaan. hanya itu saja.

Setelah The Lady killer Ending. Saya mencoba menciptakan sosok Baru. Sosok Renno Handoyo yang berubah menjadi dingin dan Brengsek karena masa lalunya. Sosok yang dingin tapi bertanggung jawab dan juga perhatian dengan Gadis lugu bak malaikat seperti Allea ananta.

Sosok yang saya Ciptakan ini lagi-lagi mampu membuat saya jatuh cinta untuk kedua kalinya pada Sosok Fiksi yang saya Ciptakan sendiri. Saat Because its you tamat, Saya bahkan menangis. Ini sumpah loh, nggak ngarang. Saya susah Move On dari Renno, bahkan membuat Cerita selanjutnya -My Everything- sempat berantakan karena Mood saya. hahhahahah

Lalu kemudian saya menciptakan sosok Ramma, Revan, Mike, Brandon, Reynald, Aaron dan semua Sosok yang sedang saya tulis saat ini. kalian tau apa yang saya rasakan saat menulis mereka?? Yaa saya merasakan jatuh cinta kembali pada setiap sosok yang sedang saya tulis. setiap sosoknya memiliki keistimewaan tersendiri untuk saya, maka jangan heran kalau saya akan mengumpat dan menyumpahi habis2an saat saya tau karya yang saya buat Diplagiat bahkan di ganti menjadi Billy, Aliando, ikbal dan lain sebagainya.

Mereka.. para Hero yang ku ciptakan, meski tak nyata, tapi mereka punya tempat tersendiri di hati saya, saya ingin menjadikan mereka semua dalam bentuk fisik yang bisa di sentuh dan di rawat. so, saya mencetak mereka semua bukan untuk mencari ke untungan, melainkan untuk menjadikan kenang kenangan saya di hari tua bahwa dulu saat saya muda saya pernah berselingkuh dengan mereka dari Suami saya.. hahahhahaha #LOL

jadi jika di tanya, Siapa di antara sosok yang saya ciptakan yang paling saya cintai,? Saya akan menjawab ‘Tidak Ada’. karena saya mencintai mereka semua, saya menikmati proses saat menulis cerita-cerita mereka, mereka memiliki keistimewaan tersendiri di hati saya.

tapi jika di tanya siapa yang menjadi cinta pertama saya dalam sosok Fiksi yang saya Ciptakan?? Maka jawabannya Jelas. Kak Dhanni Revaldi lah Cinta pertama saya.

Sekian dan terimakasih untuk curahan hati saya yang Gaje ini.. hahhahahha  sampai jumpa di part selanjutnya.. wkwkwkkwkw

 

*Salam Sayang

Zenny Arieffka :*

My Cool Lady – Chapter 7 (Shock)

Comments 6 Standard

MCLCoverwattpad Fix 3My Cool Lady

Chapter 7

-Shock-

 

Aaron masih sibuk mengemudikan mobilnya. Sesekali matanya menangkap bayangan Bella dari kaca di hadapannya. Wanita di sebelahnya itu tampak murung. Apa Dimas mempengaruhi Bella hingga dapat membuat Bella murus seperti saat ini??

“Kita pulang apa ke suatu tempat?” Tanya Aaron kemudian.

Bella mengernyit menatap ke arah aaron. “Bukannya ini masih jam kerja??”

“Aku malas balik ke kantor.” Jawab Aaron dengan enteng.

“Kamu itu calon penerus perusahaan, bagaimana mungkin sikapmu seenaknya seperti saat ini, keluar pergi sesuka hatimu.”

Sial..!! Apa kau tak tau kalau saat ini aku ingin menghiburmu?? Gerutu Aaron dalam hati.

“Bailkah, Lupakan saja. Kita akan kembali ke kantor.”

Lalu keduanyapun sama-sama terdiam sepanjang operjalanan kembali ke tempat kerja mereka.

***

“Bell… Maaf, Aku tidak bisa jemput hari ini.”

“Kenapa Dim?? Kamu ada masalah?”

“Enggak, Aku lembur. Kerjaan numpuk.”

Bohong.. Kalau kerjaan numpuk kenapa tadi siang kamu sempat keluar dengan wanita lain??? Pikir Bella kemudian.

“Baiklah, aku bisa pulang sendiri.”

“Bell…” Panggil Dimas lagi. “Aku sayang kamu.” Lanjutnya.

“Emm… aku juga.” Hanya itu jawaban yang di berikan Bella, dan teleponpun di tutup. Dimas.. Apa yang terjadi denganmu???

***

Dimas menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Sesekali ia memijit pelipisnya karena sedikit berdenyut.

Bayangan di Restoran tadi menyeruak begitu saja dalam kepalanya. Tadi, Saat Ia makan siang dengan Ibu Riska, tak sengaja Ia melihat Bella dan juga Aaron sedang makan siang bersama. Apa Bella benar-benar menghianatinya?? Menduakannya dengan Lelaki Iblis itu?? Mengingat tadi malam Dirinya juga sempat melihat bagaimana Aaron dan juga Bella saling menautkan bibir satu sama Lain.

Lalu apa Bedanya denganmu sialan?? Kau bahkan lebih parah.

Dimas kembali memijit kepalanya. Ia teringat akan Bu Riska. Wanita yang sudah hampir Empat bulan lebih di kencaninya. Bu Riska adalah atasannya, Umurnya Tiga tahun lebih tua dari pada dirinya.

Dulunya, Bu Riska terkenal sangat pemarah, tatapannya mampu membuat para bawahannya bergidik ketakutan. Tak ada yang berani mendekatinya, begitupun dengan Dimas, tapi semua berubah sejak beberapa bulan yang lalu.

Saat Itu hari minggu. Dimas yang sedang berjalan-jalan sore di sekitar taman kota tiba-tiba melihat sekerumunan Orang. Ternyata di sana ada seorang anak laki-laki yang baru saja terkena tabrak lari. Anak Lelaki itu berumur sekitar Sepuluh tahun dengan membawa sepeda kecilnya bersama beberapa anak seumuran dengannya.

Dimas yang berada di sana lantas menolongnya dan meminta beberapa orang yang ada di sana membantunya bukan hanya menonton saja.

Dimas akhirnya membawa anak tersebut ke rumah sakit. Untung saja anak tersebut tidak mengalami luka serius, hanya beberapa luka lecet di lengan dan luka Robek di lututnya yang harus di jahit.

Saat anak tersebut sadar, Dimas menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Ternyata anak tersebut tinggal di kompleks perumahan tak tauh dari taman kota. Dan alangkah terkejutnya saat mendapati siapa orang tua dari anak tersebut. Dia Ibu Riska, atasannya yang terkenal tak ramah.

Ternyata Bu Riska sangat berbeda saat di rumah. Wanita itu terlihat ramah, ke ibuan dan banyak lagi sosok lain yang di temukan Dimas dari Bu Riska. Sebagai ungkapan terimakasihnya, Bu Riska sendiri beberapa kali mengundang Dimas makan di rumahnya. Mereka sering bertemu karena ternyata Anak Lelaki Bu Riska tersebut sangat menyukai dimas. Mereka pun saling bercerita satu sama lain dengan nyamannya, Dan saat keduanya saling merasa dekat, empat bulan yang lalu keduanya memutuskan untuk Bersama.

Bu Riska tentu tak tau jika Dimas memiliki Bella, Karena Dimas saja hampir setiap malam ke rumahnya. Sedangkan Dimas Sendiri merasa sangat mudah dengan hubungannya kini, Ia tak perlu membuat Alasan jika Tidak menemui Bella, Toh Bella sendiri yang melarangnya datang ke rumah nya. Dimas cukup tau diri, Ia berada di kalangan Menengah kebawah, sangat tidak cocok bersanding dengan seorang dari Keluarga Aditya, Keluarga yang sangat terkenal dengan bisnis-bisnis besarnya yang maju dan berhasil. Itulah yang membuat nyali Dimas menciut saat mendekaati Bella, Ia ingin berjuang, tapi bagaimana caranya?? Bahkan Bella sendiripun terlihat tak terlalu memperjuangkan hubungan mereka.

Dimas menghela napas panjang saat Ponsel nya kembali Berbunyi. Ia tau itu dari Bu Riska, atasannya sekaligus kekasih gelapnya.

“Halo..”

“Aku sudah di parkiran.. Kita akan menjemput Dio dulu di tempat les nya..”

“Oke, Aku turun sebentar lagi.”

“Kamu ada masalah Dim?? Ku pikir kamu selalu berdiam diri sejak tadi.”

“Maaf, Aku… Sudahlah, aku tak ada masalah.”

“Baiklah, Aku tunggu ya..”

“Yaa…” Hanya itu jawaban dimas. Telepon pun di tutup. Lagi-lagi Dimas menghela napas panjang. Melihat kebersamaan Bella dan juga Aaron tadi siang benar-benar mempengaruhinya. Dimas tak suka jika Bella dekat dengan lelaki lain apa lagi Lelaki itu adalah Aaron, Orang yang sangat di bencinya semasa sekolah.

***

Aaron menjalankan Mobilnya keluar dari parkiran kantornya. Pandangannya masih menelusuri setiap sudut yang bisa ia pandang. Mencari-cari sosok Itu.

Issabella aditya…

Wanita itu tadi tampak sedikit tergesa-gesa saat keluar dari kantornya. Apa Wanita itu pulang bersama dengan pacar Sialannya tersebut??

Aaron tentu sangat kesal jika tau Bella pulang dengan lelaki lain entah itu Dimas atau Bukan. Tapi tampaknya sosok yang di carinya itu memang sudah tak ada di Area kantor. Mungkin bella memang sudah pulang dengan kekasihnya tersebut.

Tapi kemudian tak jauh dari kantornya, Aaron melihat wanita itu. Dia sedang duduk di halte Bus sambil sesekali menatap jam tangannya.

Seketika Aaron menghentikan mobilnya. Ia keluar dari Mobil dan berjalan menuju ke arah bella yang terlihat sedang duduk menunggu angkutan umum tersebut.

“Jadi kamu pulang sendiri??” Suara Aaron membuat Bella menatap Ke arah Aaron yang kini sudah berdiri tegap di sebelahnya.

“Kamu ngapain di sini?”

“Tadi aku nggak sengaja lihat kamu, Dan aku berhenti mau menawari tumpangan. Kamu mau kan??”

“Aku lebih suka naik Bus.”

“Ayolah.. aku janji nggak akan gangguin kamu. Aku Cuma nggak enak sama Om Ramma kalau sampai tau puterinya naik angkutan umum.”

“Memangnya kenapa?? Papa taunya memang aku naik angkutan umum tiap hari kok.” Jawab bella dengan cuek.

“Oohhh jadi Papa kamu nggak tau kalau setiap hari kamu di antar jemput oleh motor bebek itu..”

Bella memutar bola matanya pada Aaron. “Kamu janji nggak akan ganggu aku kan kalau aku kembali ke kantormu?? Jadi sekarang tepatilah janjimu.”

“Aku juga sudah janji sama Om Ramma kalau aku akan menjaga puterinya, Jadi saat ini aku sedang berusaha menepati janjiku pada Om Ramma.” Jawab Aaron dengan santai.

“Sial..!!” Umpat Bella yang langsung membuat Aaron tertawa. “Kamu Gila?? tertawa seperti itu??”

“Aku hanya nggak habis pikir. Kamu dulu yang Cupu sekarang sangat mudah sekali mengumpat.”

“Memangnya orang cupu nggak boleh mengumpat? Lagian, Siapa juga yang Cupu.” Gerutu Bella.

“Ya sudah, kamu nggak Cupu. Ayo.. ku antar pulang.” Ajak Aaron lagi. Dan kali ini mau tak mau Bella ikut dengannya mengingat hari sudah mulai Sore.

***

“Bell.. Sejak kapan kamu jadian sama Dimas?” Tanya Aaron sedikit penasaran.

“Ngapain sih tanya-tanya?”

“Ya aku tanya kan karena ingin tau.”

“Sudah lama.” Jawab Bella dengan ketus.

Aaron hanya terdiam cukup lama, lalu dengan ragu Ia bertanya kembali. “Kamu.. benar-benar suka sama dia?”

“Ya iya lah, kalau enggak ngapain juga aku masih bersamanya.” Lagi-lagi bella menjawab dengan nada ketus khas nya.

Dengan kesal Aaron berkata. “Lebih baik lupakan dia, Kalian nggak akan bisa bersama.”

“Kenapa?? Kamu yakin sekali kalau kita nggak akan berakhir bersama.”

Aaron tak bisa menjawabnya. Ia tak ingin Bella lari ketakutan saat mendengar jawaban bahwa Dirinya sudah melamar Bella dan akan memperistrinya sebentar lagi.

***

Hari demi Hari di lalui Bella dengan sedikit Berbeda. Yaa tentu saja, Setiap pagi Dimas masih menjemputnya untuk ke kantor, tapi pada sore harinya, Dimas jarang bisa mengantarnya pulang seperti biasanya. Frekuensi hubungan di telepon pun semakin menurun. Dimas Seakan terlihat sedikit menjauhinya. Apa karena malam itu?? Karena malam dimana Aaron menciumnya dan Dimas melihatnya?? Ohh yang benar saja, kenapa selalu Aaron yang menjadi pusat dari masalahnya??

Di kantor pun saat ini menjadi lebih menjengkelkan karena beberapa Gosip yang beredar di kalangan karyawan tentang Dirinya dan Aaron. Banyak Karyawan perempuan yang dengan terang-terangan menyindirnya.

Belum lagi sikap Aaron yang baginya kini semakin membuatnya kesal. Tidak, Aaron tidak tengil dan usil lagi padanya, tapi lebih cenderung pada Cuek dengannya. Dan entah kenapa Bella merasa tak nyaman saat Aaron bersikap cuek dengannya.

Aaron bahkan selalu bersikap profesional dan berkata dengan bahasa formal padanya. Sebenarnya ada apa sih dengan Lelaki tengil itu?? Pikir Bella sambil mengoleskan bedak ke permukaan wajahnya.

Bella mendengar pintu kamarnya di buka Oleh seseorang. Dan saat Ia menoleh ke arah pintu, sang mama sudah berdiri dengan Cantiknya di sana.

“Mama sudah siap?”

“Iya dong, Ayo… biar nanti tidak kesiangan.” Ajak Shasha.

Saat ini Bella dan Mamanya memang berencana belanja bersama. Mumpung Weekend. Sebenarnya Bella sedikit heran saat sang Mama mengajaknya belanja beserta Spa ke salon langganan sang Mama. Ini tak seperti biasanya tapi Mamanya ber alasan jika nanti malam akan ada tamu istimewa ke rumahnya.

“Ma.. Memangnya siapa sih tamunya?? Kenapa kita pakek acara ribet seperti ini??” tanya Bella yang kini sudah terbaring di sebuah ruangan untuk perawatan kulitnya bersama dengan sang mama yang juga terbaring di ranjang yang sudah di sediakan tepat di sebelahnya.

“Ahhh pokoknya tamu istimewa.”

“Iyaa.. istimewa itu siapa? Kenapa juga kita pakai ke salon segala seperti ini.”

“Ya.. badannya biar seger aja sayang..” Ucap Shasha dengan sedikit terkikik geli saat melihat puterinya yang terlihat sangat penasaran.

“Awas saja kalau ternyata si tamu hanyalah teman Papa yang tua, Botak dan berperut buncit.” Gerutu Bella dengan nada mengancam.

Seketika itu juga Shasha tertawa mendengar gerutuhan puterinya.”Tenang saja Sayang, Tak akan ada Lelaki Botak tua dan lain sebagainya Kok. Mama mengajakmu kemari supaya kamu sedikit rilex saja, kamu terlihat tegang akhir-akhir ini.”

“Emmm sebenarnya aku ada sedikit masalah Ma..”

“Apa sayang??” Shasha nampak tertarik mendengar curahan hati sang puteri.

“Emm.. aku.. Aku ingin mengajak Pacarku main ke rumah, tapi aku takut papa.”

Shasha sedikit terkejut dengan ucapan Bella. “Bella.. Sebaiknya kamu bataklan niatan kamu tersebut. Sampai kapan pun Papa mu tak akan suka kamu dekat dengan lelaki lain.”

“Tapi kenapa Ma?? Belum cukup umur?? Ayolah Ma.. Aku sudah hampir dari Dua puluh tujuh tahun, mau sampai kapan Papa mengekangku..”

“Bella.. Papa daan Mama mau yang terbaik untukmu sayang. Jadi tunggu saja.”

Uuugghhh Memangnya Mama mau putri mama ini jadi perawan Tua??”

“Kamu nggak akan jadi perawan tua. Sudah lah.. percaya sama Mama.” Ucap Shasha penuh keyakinan dengan senyuman manis di wajahnya.

***

Malamnya…

Lagi-lagi Bella sangat heran dengan ke adaan di rumahnya. Semuamnya sibuk menyiapkan segala sesuatunya seakan-akan mereka akan menyambut tamu yang benar-benar istimewa. Sebenarnya ada apa sih ini??

Sang Mama yang di tanya juga hanya menjawabnya dengan senyuman dan lanjut meriasnya secantik mungkin.

“Nah.. Anak Mama sudah cantik.”

Dengan wajah Cemberut, Bella menatap Mamanya. “Ini ada apa sih Ma?? Aku nggak mau turun sebelum Mama bilang sama aku apa yang akan terjadi.” Bella terlihat merajuk pada sang Mama. Akhirnya mau tak mau Shasha menceritakan apa yang terjadi pada Bella.

Dengan serius Shasha , Menatap Wajah Bella, Kedua tangannya menangkup kedua Pipi puterinya tersebut. Shasha mulai berkata dengan selembut mungkin.

“Papa punya masalah.. Perusahaan kita di ambang kebangkrutan.”

Bella membulatkan matanya. “Apa?? Bagaimana mungkin Ma?? Itu tak mungkin papa sangat pandai, dan Astaga.. masih ada Om Renno yang bisa membantu kan Ma.. mana mungkin perusahaan kita akan bangkrut??”

“Nyatanya seperti itu sayang. Tak ada yang dapat menolong kita selain ‘Mereka’..”

“Mereka?? Mereka itu siapa??”

“Mereka itu, Calon keluarga baru kamu.”

Lagi-lagi bella membulatkan matanya. “Maksud Mama??”

“Maaf sayang.. tapi kamu harus menikah dengan Anak Mereka.”

“Apa??” Bella tak bisa menahan rasa terkejutnya. “Jadi Mama dan papa menjual ku untuk menyelamatkan perusahaan kita??”

“Kami tidak menjualmu sayang, Kami hanya…”

Bella mengangkat tangan sambil menjauh dari sang Mama. “Aku punya kehidupan sendiri Ma.. aku berhak memilih jalanku sendiri, aku nggak Mau di jodohkan seperti ini.”

“Sayang.. Dia lelaki Baik, sungguh, Kalau dia dan keluarganya bukan orang Baik, kami akan memilih kehilangan perusahaan dari pada menyerahkanmu pada orang yang tak Kami kenal sayang…”

“Apa yang membuat mama dan papa yakin jika dia Lelaki baik??”

“Kamu akan tau nanti.”

“Aku nggak suka ada rahasia lagi Ma.. katakan apa yang membuat kalian yakin memilihkan dia untukku??”

Shasha menggelengkan kepalanya sambil mendekati puterinya tersebut. “Maaf, Mama sudah janji nggak akan bilang sama kamu, pada saatnya nanti, Dia sendiri yang akan menceritakan semuanya padamu. Keadaan saat ini sangat rumit untuk kita semua.”

Bella menurunkan bahunya dengan sedikit lunglai. “Baiklah, Kita lihat saja nanti, Apa aku akan menerima perjodohan konyol ini atau tidak.” Kata Bella dengan tegas.

Yaa walau dia sebenarnya type anak yang sayang dan penurut terhadap orang tua, tapi kalau ia tak suka, ia akan menolaknya dan mengemukakan pendapatnya.

***

Bella kini menunggu dengan gelisah di ruang tengah bersama Mama dan papanya. Semuanya tampak Rapi. Sepertinya malam ini benar-benar akan menjadi Malam yang panjang untuknya. Bagaimana mungkin ia akan di lamar saat ini juga saat ia tak tau sama sekali siapa lelaki yang akan melamarnya saat ini?? Terlebih lagi lamaran ini baginya tak lebih dari sekedar alat jual beli perusahaan. Sial..!! Sejak kapan keluarganya menjadi mata duitan seperti saat ini??

Dengan gelisah, Bella meremas-remas telapak tangannya yang mulai sedikit basah karena keringat. Tak lama Bell pintu depan rumahnya berbunyi. Bella tau jika itu adalah sang tamu yang di nanti-nantikan.

Jantung Bella semakin memacu lebih cepat lagi seakan tak bisa di kendalikan. Perasaan resah, gelisah, dan takut berkumpul menjadi satu di dalam perutnya hingga seakan membuatnya mulas, mual dan lain sebagainya.

Ketika suara-suara itu semakin mendekat, Bella memberanikan diri mengangkat wajahnya. Dia terkejut saat mendapati Lelaki tampan dan wanita cantik meski usianya sudah tak muda lagi.

“Malam Bella..” Sapa Wanita paruh baya itu dengan ramahnya.

“Tante Nessa..” Ucap Bella masih tak mengerti.

Nessa hanya mengangguk. Sedangkan Bella sibuk menatap Nessa dan Dhanni secara bergantian. Untuk apa mereka ada di sini?? Apa Orang tuanya juga mengundan Mereka untuk menghadiariacara lamaran yang baginya sangat memalukan sekaligus menyebalkan ini??

“Haii Bell…” Dan suara yang terdengar tengil itu seketika mengalikan pandangam bella pada sosok yang sudah berdiri dengan tampan tepat di belakang Dhanni.

Untuk apa juga Lelaki sialan itu berada di sini?? Membawa bunga?? Untuk Apa?? Apa jangan-jangan???

Bella beralih menatap sang Mama dengan tatapan minta penjelasan.

Shasha tersenyum dan mengangguk, “Iya Sayang, Aaron yang akan menjadi calon suamimu.”

Bagaikan tersambar petir saat itu juga, saat bella mendengar kalimat tersebut terucap dari bibir sang Mama. Aaron?? Lelaki tengil itu akan menjadi calon suaminya?? Lelaki yang sangat di bencinya?? Lelaki yang pernah membuatnya kecewa?? Tidak.. Tidak mungkin. Ini hanya mimpi, pasti hanya mimpi. Pikir Bella tanpa meninggalkan ekspresi Shock nya.

 

-TBC-

Next part mungkin agak lama karena saya sedang pilek.. mungkin minggu depan.. heheheh jadi jangan terlalu menunggu yaa.. wkwkkwkkwwk See u.. *KissKiss

My Cool Lady – Chapter 6 (Hanya teman)

Comments 5 Standard

MCLN2My Cool Lady

Chapter 6

-Hanya Teman-

 

Bella melemparkan tubuhnya di atas Ranjang besarnya. Wajahnya masih memerah. Ia meraba sepanjang bibirnya, disana masih terasa panas, bekas Ciuman Intens yang di berikan Oleh Aaron. Ciuman yang sarat akan kerinduan yang menggebu. Apa lelaki itu merindukannya?? Ayolah Bell… jangan mudah percaya lagi. Bisik Bella pada dirinya sendiri.

Bella masih mengingat bagaimana Aaron memperlakukannya tadi. Membuat jantungnya kembali berdetak tak menentu, membuat tubuhnya seakan panas dingin karena ucapannya..

 

Lumatan itu terhenti, bibir mereka masih sangat dekat bahkan masih sedikit menempel satu sama lain. Desah nafas bersahutan di antara keduanya. Hening, tak ada kata. Keduanya hanya diam, seakan saling menikmati satu sama lain.

Telapak tangan Aaron masih menangkup kedua pipi Bella, Ibu jarinya sesekali mengusap lembut Pipi Wanita di hadapannya tersebut, mengagumi kecantikannya, kelembutannya yang seakan membuat Aaron menegang seketika dan ingin mendaratkan bibirnya kembali pada permukaan kulit lembut tersebut.

“Aku sudah kembali Bell.. Aku kembali untukmu..”

Kata itu di ucapkan Aaron sangat pelan, Seakan tak terdengar. Tapi Bella dapat mendengarnya, merasakan ketulusannya. Apa Lelaki di hadapannya ini benar-benar tulus??

Tidak…

Seakan tersadarkan oleh Sesuatu, Secepat kilat Bella mendorong dada Aaron menjauh. Bella lalu membalikkan badannya memunggungi Aaron.

“Pergilah..” Kata Bella sambil menahan perasaannya yang sudah mulai kacau oleh kedekatannya dengan Aaron.

“Kenapa Bell..??”

“Ku bilang pergi.” Ucap Bella dengan suara lebih keras lagi.

Bukannya marah, Aaron malah tersenyum lebar. “Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, Aku pasti kembali.”

“Terserah apa katamu.”

Dan tanpa mempedulikan Aaron lagi, Bella masuk ke dalam rumahnya. Ia bahkan setengah berlari saat melewati kedua orang tuanya dan langsung menuju kamarnya.

 

Bella menghela napas panjang. Sesekali jemarinya menelusuri bibirnya. Ya tuhan.. kenapa Ia kembali jatuh pada pesona iblis sialan itu???

Tak lama ponselnya berbunyi. Bella mengernyit saat melihat layar di Ponselnya. Itu Dimas, Secepat kilat Ia mengangkat telepon dari lelaki tersebut.

“Dim.. Ada apa?”

“Aku di luar rumah.” Bella membulatkan matanya. Lalu berlari menuju ke jendela kamarnya. Dan benar saja, di luar gerbang ia melihat Dimas berdiri di sebelah Motornya.

“Kamu ngapain di sana? Sejak kapan??”

“Cukup lama.” Suara Dimas terdengar dingin. Apa dimas tadi melihatnya berciuman dengan Aaron??

“Oke, Aku kesana, Tunggu Aku.” Dan akhirnya Bella menyambar jaketnya lalu berlari ke luar rumah.tak mempedulikan orang tuanya yang lagi-lagi menatapnya dengan tatapan herannya.

***

Aaron Keluar dari mobilnya dengan senyuman Lebarnya. Sesekali ia bahkan bersiul ria karena kebahagiaan yang memuncak di hatinya.

Issabella Aditya…

Wanita itu benar-benar membuatnya gila. Dulu, Saat Kecil, Aaron sering menganggap Bella sebagai pengantinnya. Setiap anak yang dekat dengan Bella pasti di ganggunya habis-habisan hingga anak-anak tersebut menjauhi Bella. Di tambah lagi sikap Bella yang benar-benar susah di ajak bergaul membuat wanita itu tak memiliki teman semasa kecilnya.

Aaron menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa gadis kecil se imut Bella kini menjadi wanita menggoda untuknya?? Bahkan ia sejak tadi berusaha memilikikan hal lain supaya tak selalu menegang saat berdekatan dengan Bella.

Issabella Aditya benar-benar mempengaruhinya…

“Malam Ma…” Sapa Aaron sambil memeluk Mamanya dengan manja.

“Kamu kenapa? bahagia sekali.”

“Aku nggak sabar nunggu minggu depan.” Ucap Aaron masih dengan senyuman lebarnya.

Nessa menggelengkan kepalanya. “Kamu benar-benar Cinta yaa sama Bella??”

Dengan tersenyum Aaron meraih telapak tangan Mamanya lalu menempelkan di dadanya, tepat pada jantungnya yang berdetak cepat seakan menggila.

“Mama bisa merasakan ini?? Aku hanya begini saat memikirkan Issabella Aditya, Apa ini yang namanya Cinta??”

Nessa hanya bisa ternganga mendengar ucapan putera bungsunya tersebut. Hal ini mengingatkannya pada beberapa tahun yang lalu, Saat Dhanni pertama kali berkunjung ke rumahnya, dan melamarnya. Dhanni pun memikiki detak jantung yang sama seperti Aaron saat ini, irama nya cepat seakan menggila, dan itu membuat Nessa tau, Jika Aaron memang sudah jatuh hati pada seorang Issabella Aditya, perasaan puteranya ini tidaklah main-main.

Nessa menangkup kedua pipi Puteranya. “Mama bisa merasakannya, Kamu seperti Papamu yang selalu berdetak seperti itu saat dekat dengan Mama.”

“Apa itu bisa di bilang cinta?” tanya Aaron dengan polos.

“Mungkin, Mama juga kurang mengerti, hanya saja Papa kamu pernah berkata, Jika kamu jatuh cinta pada seseorang, Maka Mata, Hati dan pikiran kamu tak akan bisa lepas darinya. Hanya itu yang Mama tau.” Kata Nessa sambil mencubit hidung mancung aaron.

“Berarti, Aku sudah jatuh cinta sama Bella..” kata Aaron sambil tertawa lebar menertawakan dirinya sendiri.

Nessa ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Dasar bocah Gila.. sudah sana masuk, sudah malam.”

Aaron lalu mengecup pipi mamanya kemudian berlari menuju kamarnya. “Night Ma..” Ucap Aaron sambil berlari pergi meninggalkan Nessa.

Nessa sendiri hanya menggelengkan kepalanya, meski sudah dewasa, nyatanya Aaron masih saja betah bermanja-manja ria dengannya. Aaron memang berbeda dengan Brandon yang cenderung lebih pendiam. Tapi tentu saja keduanya memiliki keistimewaan tersendiri untuk Nessa dan Dhanni.

***

Bella masih sedikit bingung saat Dimas mengajaknya mengelilingi jakarta malam ini. Dimas tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, Dia sangat pendiam, apa Dimas tadi sempat melihat kedekatannya dengan aaron?? Aahhh semoga saja tidak.

“Dim.. kita mau kemana?? Papa akan mencariku kalau aku terlalu lama keluar.” Ucap Bella sedikit keras karena takut suaranyatak terdengar oleh dimas yang saat ini masih konsentrasi mengemudikan laju motornya.

“Kita jalan-jalan sebentar saja, Aku kangen kamu.”

Suara itu membuat jantung Bella berdetak tak menenntu. Dimas bukanlah lelaki romantis pada umumnya, Dia cenderung pendiam, dan jarang sekali mengucapkan kata-kata lebbay layaknya sepasang kekasih. Kadang Bella Bosan dengan Dimas yang begitu-begitu saja, tapi tentu saja, perhatian dimas padanya sedikit banyak menambah rasa sayang Bella pada diri Dimas dan mengubur rasa bosan tersebut.

“Kamu Aneh malam ini.”

“Apa yang aneh jika aku Kangen sama Pacarku?”

Pertanyaan dimas seakan di tunjukkan sebagai alat untuk menyindir Bella, mengingatkan Bella jika dirinya adalah kekasih dari seorang Dimas.

“Ya enggak aneh, tapi kamu nggak kayak biasanya.”

“Mulai saat ini aku nggak mau seperti biasanya.” Ucap Dimas penuh penekanan dan entah kenapa itu membuat Bella seakan tak mengenal sosok Dimas yang selama ini ia kenal.

***

Dimas menurunkan Bella tepat di depan pintu gerbang Rumah Bella. Mereka masih dalam keadaan sama-sama terdiam.

“Besok kamu mulai kerja lagi??” Tanya Dimas mencoba mencairkan suasana.

Bella hanya mengangguk. Entah kenapa Ia sedikit tak nyaman dengan Dimas yang sekarang ini.

“Aku jemput seperti Biasa.” Ucap Dimas tanpa bisa di ganggu gugat.

Tanpa di Duga, Dimas menangkup sebelah pipi Bella, Mengusapnya lembut. “Aku nggak suka melihatmu dan Aaron seperti itu.” Ucap Dimas lembut yang mampu membuat Bella membulatkan matanya seketika.

“Dim… itu nggak seperti yang terlihat.”

“Aku tau..” Dimas lalu mendekatkan diri pada Bella “Jangan Berpaling dariku Bell…” Ucap Dimas Parau lalu mendaratkan bibirnya pada Bibir mungil Bella. Bella hanya mampu mememjamkan matanya. Entah kenapa Ciuman dimas dan juga Ciuman Aaron terasa berbeda. Ada yang kurang di sini, entah apa Bella sendiri tak tau.

***

Paginya, Mau tak mau Bella kembali masuk kerja, sedikit malu karena kembali menginjakkan kaki di kantor lelaki yang sangat di bencinya itu, tapi mau bagaimana lagi, Ia terikat dengan kontrak. Lagi pula sang papa sepertinya sangat mendukung Aaron, Sebenarnya ada apa sih dengan Papanya dan juga Aaron…??

Bella masuk ke dalam ruangannya yang satu ruangan denga Aaron, ternyata di dalam sana sudah duduk Aaron di kursi kebesarannya dengan wajah seriusnya dan juga berkas-berkas kerja di hadapannya.

Bella canggung, ingin menyapa atau tidak. Jika tidak, maka akan terlihat sangat tidak sopan, bagaimanapun juga Aaron adalah atasanya.

“Selamat pagi pak..” Ucap bella sedikit hormat.

“Pagi.” Hanya itu jawaban Aaron.

Entah kenapa jawaban Aaron membuat Bella tak suka. Aaron tak terlihat seperti biasanya, Dia terlihat bersikap cuek pada diri Bella, dan entah kenapa Bella merasa tak nyaman dengan semua itu.

Bella lalu bergegas duduk di kursinya dengan pandangan masih mengarah pada Aaron. Lelaki itu.. kenapa bersikap seperti itu padanya??

“Bella..” Panggilan Aaron membuat Bella sedikit berjingkat.

“Iya pak..”

“Tolong bawa berkas-berkas ini pada pak Brandon.” Ucap Aaron dengan sikap profesionalnya, dan itu membuat Bella sedikit ternganga.

Aaron tak pernah menampilkan sikap seserius itu di hadapannya. Aaron pasti akan selalu menggodanya saat bertemu, tapi entah kenapa pagi ini Lelaki di hadapannya ini berbeda, Ada apa dengannya??

“Bella?? Kamu mendengar saya kan??”

Lagi-lagi Suara Aaron mengagetkan Bella dari lamunannya. “Iya Pak, maaf.” Ucap Bella sambil bergegas ke arah Aaron dan mengambil beberpa berkas yang di sebutkan Aaron.

“Kamu cantik pagi ini.” Dan kalimat itu membuat Bella Membatu.

Apa ada yang salah dengan penampilannya saat ini?? Ia masih mengenakan pakaian kerja seperti biasanya, Kaca mata besar untuk kerjanya seperti biasanya, Sepatu yang tak terlalu tinggi seperti biasanya. Hanya saja… Bibirnya… Ahhh sial..!! Harusnya Ia tak mengoleskan apapun di bibirnya pada pagi ini seperti biasanya. Apa Aaron melihat perbedaannya?? Astaga.. Bella benar-benar tak dapat menahan malunya.

“Bibir kamu terlihat lebih merah dari pada biasanya.” Ucap Aaron lagi.

Dan bella benar-benar ingin menenggelamkan diri di dasar laut saat ini.

“Perasaan bapak saja.” Ucap bella yang langsung di sertai dengan lari meninggalkan Aaron yang tersenyum manis melihat tingkah lakunya.

***

Bella masih sibuk membersihkan wajahnya di toilet khusus karyawan wanita. Astaga.. apa dandanannya pagi ini terlalu berlebihan?? Sepertinya tidak, tapi kenapa Aaron tadi seperti sedang memperhatikan bibirnya?? Aaahhh tentu saja Bodoh, Dia hanya sedang mengerjaimu, membuatmu salah Tingkah.. Rutuk bella dalam hati.

Saat selesai, dan akan keluar dari toilet tersebut, Bella mendengar sama-samar percakapan beberapa orang perempuan. Biasa pasti mereka sedang bergosip di toilet. Bella tak menghiraukannya tapi saat Ia mendengar namanya di sebut, Bella hanya bisa berdiri membatu sambil mendengarkan percakapan mereka.

“Mereka pelukan, hampir ciuman gitu katanya.”

“ihh nyebelin banget tau nggak si Bella itu, mentang-mentang anak orang kaya, sikapnya juga sombong banget.”

“Katanya sih mereka temenan sejak kecil, mungkin sudah di jodohkan kali..”

“Mata Pak Aaron benar-benar buta kalo sampek mau sama cewek judes kaya Bella. Hahahhaha”

“Hahhaha, Pak Aaron nya mungkin nggak mau, makanya si Bella bela-belain kerja di sini jadi bawahannya.”

“Semoga saja Pak Aaron tak tertarik, jadi kita-kita kan masih punya kesempatan.. hahhahah”

Suara-suara itu semakin menjauh lalu menghilang tak terdengar lagi di telinga Bella. Bella meraba Dadanya yang entah kenapa terasa sesak. Ada apa dengannya???

***

Sesekali Bella masih mengawasi Aaron yang kini sedang Meeting dengan seorang klien perempuan. Aaron sejak tadi tampak cuek dengannya dan sepertinya lebih memilih bercakap-cakap dengan Si Klien tersebut. Dan itu membuat Bella kesal.

Bella menyantap hidangan di hadapannya. Yaa saat ini mereka memang sedang Meeting di sebuah restora tak jauh dari tempat kerja mereka. Karena tak di anggap berada di sana, Bella lebih memilih makan makanan yang sudah di sajikn di hadapannya.

Tak lama si klien perempuan tersebut pamit pergi dan meninggalkan kalimat membingungkan untuk Bella.

“Oke, Terimakasih kerja samanya, Aku menunggu undangan dari kalian.” Ucap Wanita itu dengan menyunggingkan sebuah senyumannya.

“Sialan..!!” Hanya itu jawaban dari Aaron sambil memeluk wanita di hadapannya layaknya seorang yang sudah berteman sejak lama. Akhirnya Aaron memutuskan untuk mengantar wanita tersebut sampai di parkiran restoran.

Bella masih saja Asik menikmati makanannya tak mempedulikan Aaron yang sudah berjalan ke arahnya.

“Kamu seperti orang kelaparaan.”

“Ya, aku memang sedng kelaparan.” Jawab Bella dengan nada ketusnya.

“Kamu juga seperti orang yang sedang cemburu.”

Kali ini perkataan Aaron membuat Bella tersedak makanannya. “Apa?? Cemburu?? Yang benar saja.”

“Mengaku saja..” Aaron masih saja menggoda Bella.

“Heii… Mau kamu pacaran dengan wanita tersebut aku sama sekali tak peduli. Cemburu?? Yang benar saja, tak ada kata cemburu dalam kamus ku.” Bella menjawab dengan keangkuhannya.

Aaron tersenyum miring. “Semakin kamu menjelaskan, semakin kamu terlihat cemburu.”

“Terserah apa katamu.” Bella menjawab dengan Ketus lalu melanjutkan makan makanan di hadapannya.

***

Akhirnya, setelah makan, Mereka memutuskan untuk kembali ke kantor, mengingat Jam masih menunjukkan pukul 3 Sore.

Ketika di parkiran, Bella menghentikan langkahnya saat melihat Seorang Lelaki dengan Kemeja Biru tuanya. Bella tentu sangat tau siapa lelaki tersebut, mengingat tadi pagi lelaki itulah yang mengantarnya ke tempat kerjanya. Itu Dimas, kekasihnya, dan dia sedang bersama dengan seorang wanita. Mereka menuju ke sebuah Mobil mewah. Pasti Mobil dari wanita tersebut.

Sedang Apa Dimas di sini? Bukankah Tadi Dimas berkata jika Dia sedang sibuk?? Yaa, setiap jam makan siang memang Mereka menyempatkan bertemu walau hanya sebentar, tapi ketika mereka tak bertemu, Mereka cukup saling mengabari dengan saling berteleponan. Tapi tadi Dimas berkata jika dirinya sedang sibuk dan tak bisa di ganggu. Inikah sibuk yang di maksud Dimas??

Bella hanya terpaku menatap Dimas dan wanita tersebut masuk ke dalam Mobil lalu pergi berlalu begitu saja.

“Kenapa Bell..??” Suara Aaron menyadarkan Bella dari lamunannya.

“Ahh Enggak.”

“Itu pacar kamu kan tadi?? Si Cupu dimas??” Tanya Aaron dengan senyuman mengejeknya.

“Bukan Urusanmu.” Jawab Bella dengan ketus.

“Oke, memang bukan urusanku, tapi sepertinya akan menjadi Urusanmu, Mengingat dia bersama dengan Wanita kaya tersebut.”

Bella memutar Bola matanya pada Aaron. Entah kenapa Emosinya tersulut begitu saja. “Mereka hanya Teman, tidak Lebih.”

“Kamu yakin??”

“Ya, Aku percaya padanya.” Ucap Bella dengan nada yakin dan percayanya. Padahal sebenarnya hatinya sedang gelisah. Benarkah mereka hanya teman?? Jika Iya, Kenapa juga Dimas berbohong padanya???

Sedangkan Aaron sendiri hanya dapat menahan kekesalannya dalam hati. Secinta itukah kamu dengan Laki-laki sialan itu Bell, Hingga kamu tak dapat melihatku yang jelas-jelas selalu berada di dekatmu?? Yang jelas-jelas selalu berusaha untuk mendapatkan perhatianmu???

-TBC-

Maaf kalo Updatenya agak lama yaa.. wkwkkwkwk Nggak tau kenapa mood sedang turun aja hehehhehe lagi pengen nulis yang lainnya, Jadi maaf kalo Feelnya kurang dapet yaa.. hahahah Komen selalu di tunggu loh.. yang nggak komen Bisulan wkwkkwwkkwk #SayaSedangJahatSoalnya