That Arrogant Princess – chapter 8 (The First night)

Comments 10 Standard

TAP2That Arrogant Princess

Hulaa… ketemu lagi ama author gaje ini.. hahahhaha maap aku ganggu Time Lunch kalian dengan Update cerita ‘mesum’ kali ini.. hahaha kenapa mesum??? Oke, Part ini mengandung unsur dewasa. Awalnya aku berencana The soulmate Series ini nggak pakek adegan kayak gini hahhaha tapi karena banyak yang Riques (terlebih lagi fans dari pasangan Rey-Cla ini) ingin cerita ini lebih HOT akhirnya aku putusin sedikit menyisipkan adegan dewasa sebagai bumbu penyedap rasa.. hahahah nggak papa kan..?? Oke.. yang di bawah umur DILARANG baca dulu yakk…. dan yang nekat baca.. Efek di tanggung masing2.. hahhahaha (Note : bahasa ku buat se sopan mungkin jadi biar masih terkesan romantis dan nggak terkesan jorok hahhahaha) Enjoy Reading…

Chapter 8

-The First Night-

Reynald lalu melepaskan pelukannya, menatap Clara dengan tatapan mendambanya, membuat Clara merona memererah karena Ia tak pernah mendapatkan tatapan seperti itu dari seorang lelaki dalam posisi sedekat ini.

“Kamu cantik.” Lagi-lagi kata itu yang di ucapkan Reynald sambil semakin mendekatkan diri pada Clara.

“Apa yang akan kamu lakukan Rey??”

“Aku menginginkanmu..”

Dan setelah perkataan Reynald tersebut, Clara tak dapat merasakan apapun karena tubuhnya seakan melayang seiring dengan sentuhan lembut bibir Reynald pada Bibirnya…

Saling melumat, saling mencecap satu sama lain membuat keduanya terbuai oleh asmara bercampur dengan gairah. Tangan Reynald bahkan sudah bergerilya ke sekujur tubuh Clara, membelainya dengan lembut penuh kasih sayang. Clara Bahkan lupa jika Lelaki yang sedang mencumbunya kini dalam pengaruh minuan Beralkohol.

Reynald menendang pintu di belakangnya dengan kakinya hingga pintu tersebut tertutup dan terkunci secara otomatis. Tanpa melepaskan Pangutannya Reynald mendorong sedikit demi sedikit Clara kebelakang hingga sampailah mereka di depan pintu Kamar Clara.

“Rey..”

“Hemm..”

“Kamu..”

“Aku menginginkanmu.” Ucap Reynald dengan parau.

Walau mabuk Reynald cukup sadar dengan apa yang di lakukannya. Mungkin Reynald akan menjadikan Clara sebagai pelampiasannya karena putusnya hubungannya dengan Dina, tapi setidaknya itu yang terbaik, mungkin dengan ini Ia dapat menerima Clara dan melupakan sosok Dina sedikit demi sedikit.

Reynald kembali menyambar bibir ranum milik Clara, melumatnya penuh gairah sambil sesekali mengangkat tubuh Clara yang terasa sangat ringan untuknya.

Di atas Ranjang, dengan cekatan Reynald membuka kancing demi kancing piyama yang sedang di kenakan Clara, setelah kancing terakhir terbuka, maka terpampang jelaslah tubuh sempurna milik Clara. Mata Reynald sontak berkilat karena Gairah yang semakin meningkat.

Sedangkan Clara sendiri memerah karena malu.

Walau Clara sebenarnya Wanita yang sombong karena segala macam kesempurnaan yang Ia miliki, tapi sebenarnya Clara adalah Wanita baik-baik. Ia tak pernah melakukan hal se intim ini dengan seorang lelaki manapun. Tentu saja, Clara bahkan tak pernah mengijinkan siapapun menyentuhnya dengan leluasa. Bahkan dengan kekasih-kekasihnya yang dulu. Ciuman?? Ayolah, mungkin ciuman Clara dengan lelaki lain selain Reynald bahkan bisa di hitung.

Sedangkan Reynald, Ya… dia memang lelaki baik-baik. Dia bahkan tak pernah menyentuh wanita yang di cintainya, tapi jangan salah, Reynald Adalah lelaki yang sangat mengenal tubuh wanita. Saat malam-malam Ia kesakitan dan butuh pelepasan, Ia akan menghubungi temannya yang mengenal wanita-wanita yang biasanya menjual diri. Yahh… Reynald melampiaskan semua rasa frustasinya pada wanita-wanita tersebut. Ia lebih memilih membayar mahal untuk sebuah pelepasan dari pada harus menyentuh Dina Kekasihnya.

Apa Kini Reynald akan menganggap Clara sebagai wanita-wanita tersebut?? Ahh mungkin saja, bukankah Clara yang secara tidak langsung membuat hubungannya dengan Dina berakhir?? Bukankah Clara adalah seorang Model sombong yang tak memiliki hati?? Yang suka berpakaian tak senonok?? Mungkin saja di balik kesombongannya tersebut Ia hanya wanita gampangan, jadi tak ada salahnya bukan melampiaskan semuanya pada Wanita ini. Pikir Reynald kemudian.

Reynald kini kembali membuka pakaian yang masih menempel pada tubuh Clara hingga meninggalkan wanita tersebut Polos tanpa sehelai benang pun. Reynald lalu berdiri, membuka pakaiannya sendiri dengan tergesah-gesah hingga tubuhnya pun kini sama polosnya dengan Clara.

Clara menatap Reynald dengan tatapan takjubnya. Hanya kata ‘Woww’ yang dapat terlintas di dalam kepala cantiknya. Sial..!! Reynald benar-benar terlihat begitu menakjubkan, tampak terlihat tampan dan berkuasa dengan tubuh tegap berototnya, bukti gairahnya pun terlihat sangat jelas, membuat Clara menahan nafas saat melihatnya.

Reynald kembali menindih Clara, menatapnya dengan intens, rasa mabuk yang tadi ia rasakan entah kenapa menghilang begitu saja, bahkan kini Reynald sadar seutuhnya dengan apa yang Ia lakukan.

“Kenapa menatapku seperti itu??” Tanya Reynald dengan tajam.

Sedangkan Clara hanya mempalingkan wajahnya karena malu. Wajah merona Clara benar-benar membuat Reynald tak dapat menahan diri lagi. Di tolehkannya kembali wajah Clara lalu Di lumatnya kembali bibir Clara dengan lembut. Tangan Reynald kini bahakan sudah berani menjelajahi seluruh tubuh Clara. Mengehntikannya ketika menyentuh pusat diri Clara.

Clara terkesiap menatap mata Reynald dengan tatapan membunuhnya. “Apa.. yang akan kamu.. Arrgghh…” Clara tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi ketika jari jemari itu dengan lihainya membelai diri Clara. Bibir Reynald kini bahkan sudah mendarat sempurna pada puncak payudara milik clara. Membuat Clara benar-benar kewalahan dengan hantaman demi hantaman gelombang kenikmatan yang baru ia rasakan.

“Kamu.. Kamu..”

“Kamu apa Hemmm??” Reynald kini bahkan tak canggung-canggung lagi menggoda Clara dengan suara paraunya. Bibir Reynald turun sedikit demi sedikit Hingga ia berhenti tepat pada pusat diri Clara.

Clara menatap Reynald dengan tatapan tandatanyanya sedangkan Reynald membalas tatapan tersebut dengan tatapan mengejeknya. Lalu tanpa menunggu lagi Reynald mendaratkan Lidahnya pada pusat diri Clara, membelainya, menggodaya, membuat Clara merintih nikmat. Clara bahkan tak mengerti rasa apa yang sedang di rasakannya saat ini.

“Astaga Rey.. Uuugghhh..” Racau Clara. “Hentikan… Arrggghh.. kumohon.. Astaga…”

Reynald sedikit menyunggingkan senyumannya saat melihat Clara tak berdaya karenanya. Sialan, Jika saat ini kejantanannya tidak se nyeri ini, mungkin Reynald masih akan tetap melanjutkan aksiya, membuat Clara menderita karena kenikmatan yang Ia berikan.

Secepat kilat Reynald merubah posisinya hingga kini Ia berada kembali tepat di hadapan Clara, melumat kembali Bibir Clara sambil memposisikan diri untuk menyatu dengan tubuh sempurna yang sedang di tindihnya kini.

Satu menit, dua menit, bahkan sudah hampir Lima belas menit, Reynald tak dapat menyatukan diri. Reynald baru menyadari jika ada penghalang saat Clara bergerak dengan gelisah di bawahnya, Saat Clara menampilkan raut wajah kesakitan karenanya.

“Kamu.. Kamu belum pernah melakukan ini??” Tanya Reynald dengan nada takut-takutnya.

“Tentu saja, Kamu pikir aku wanita apaan?? Please, Cepat Lakukan apa yang kamu Mau secepat mungkin, Di sana terasa Nyeri, Sialan..!!!!” Sembur Clara pada Reynald.

Entah kenapa ada suatu kebahagiaan tersendiri di dalam diri Reynald saat mengetahui Clara masih perawan dan Ia akan menjadi lelaki pertamanya. Ternyata pikiran buruk tentang Clara tidak benar. Wanita ini terlihat Sombong dan jahat, namun Reynald tak tau bagaimana isi hati dari Wanita ini.

“Heiii apa yang kamu lakukan Rey??? Astaga..” Lagi-lagi Clara menyembur Reynald Karena lelaki yang baru setengah menyatu dengannya kini malah melamun sambil menatapnya.

Reynald yang sadar dari lamunannya Akhirnya kembali tersenyum. “Enggak, Aku hanya memikirkan cara supaya membuatmu minta ampun denganku.”

“Sialan..!!!” Umpat Clara.

Reynald tertawa sedikit lebih nyaring dari biasanya. Astaga.. baru kali ini Reynald bercinta dengan seorang wanita yang suka meledak-ledak bahkan ketika gairah sedang menyelimutinya dan dengan tubuh yang sudah setengah menyatu dengannya.

Reynlad mendekatkan bibirnya pada bibir Clara, menatap Clara dengan tatapan tajam membunuhnya. “Bersiaplah Sayang.. Aku akan memulainya.” Reynald lalu membungkam bibir Clara kembali dengan bibirnya, Lalu dengan satu hentakan Keras, menyatulah dua tubuh yang sejak lama saling tarik menarik ini.

Clara merasakan sakit yang Amat sangat, ingin Rasanya ia Berteriak sekers mungkin namun nyatanya bibir Reynald kini sedang membungkamnya. Kukunya yang panjang terawat itu Akhirnya mencakar-cakar sepanjang lengan Reynald, Sesekali Clara mendorong-dorong tubuh Reynald supaya menjauh, melepaskan Diri dari ketidak nyamanan ini.

Reynald mengentikan aksinya ketika dirinya sudah menyatu dengan sempurna pada tubuh di bawahnya. Bibirnya tak berhenti mencumbu mesrah bibir Clara, mencoba menghilangkan rasa sakit yang di dera wanita tersebut. Reynald bahkan tak menghiraukan beberapa rasa pedih di lengannya akibat cakaran dari Clara.

Setelah Cukup yakin Clara berhenti meronta di bawahnya, Reynald menghentikan cumbuannya. Menatap mata Clara dengan tatapan Anehnya.

“Bagaimana rasanya?” Entah kenapa pertanyaan itu menggoda Reynald untuk di tanyakan pada sosok yang selalu terlihat angkuh di bawahnya kini.

“Sialan..!!! Aku akan membalasmu.” Umpat Clara dengan mata membara.

Reynald benar-benar tak dapat menahan tawanya lagi. “Baiklah, Kamu boleh membalas sesuka hatimu. Apa aku sudah boleh bergerak??” tanya Reynald dengan nada menggoda.

“Persetan denganmu.”lagi-lagi Clara menjawab dengan nada kesalnya.

Reynald kembali tersenyum, lalu kemudian mndaratkan cumbuannya kembali pada Clara, mulai bergerak dngan Ritme lembut. Sedikit demi sedikit Clara menikmati pergerakan Reynald. Bahkan dengan spontan Clara mengeluarkan desahannya yang membuat Reynald semakin menggila.

“Sial..!!” Umpat Reynald yang tak bisa menhan gairahnya lagi.

“Kamu yang Sialan..!!” Sahut Clara.

“Kita berdua sama-sama Sialan..!!” Reynald lalu mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Clara, memujanya di sana sambil meningkatkan Ritme permaiannya, membuat Clara memekik nikmat. Ahh Siall..!!! Keduanya bahkan sama-sama menikmati percintaan panas malam ini Hingga lenguhan panjang dari keduanya menandakan jika pelepasan kali ini benar-benar sangat memuaskan Hasrat maasing-masing.

***

Terbangun dalam keadaan sesak karena di peluk oleh seseorang dengan badan yang nyaris remuk benar-benar membuat Mood Clara buruk. belum lagi rasa nyeri di pangkal pahanya membuatnya benar-benar merasa tidak nyaman dengan yang Ia rasakan saat ini.
Secepat kilat Ia mendorong jauh tubuh Reynald hingga lelaki itu terbangun.

“Apa yang Kamu lakukan??” Reynald benar-benar tak mengerti dengan sikap wanita yang tidur di sebelahnya ini. tadi malam Wanita ini terlihat begitu menggairahkan namun pagi ini Sikap menjengkelkannya kembali terlihat lagi.

“Pulang saja sana. Ngapain kamu masih di sini??”

Reynald melihat jam di nakas. Masih pukul Lima pagi. “Ini masih terlalu pagi.”

“Aku nggak peduli.”

“Sial..!!!” Umpat Reynald sambil melompat berdiri memunguti pakaiannya lalu menuju ke kamar mandi Clara.

Clara menghela nafas panjang. Debaran jantungnya jelas sangat terasa. Sial..!! Reynald benar-benar satu-satunya lelaki yang dapat membuatnya Takhluk. Kenapa dengan Reynald, kenapa bukan Boy atau yang lainnya?? Dan ya tuhan.. Bodohnya dia membiarkan Reynald menjamahnya, menyentuhnya, memasukinya tanpa pengaman. Bagaimana jika Ia Hamil nanti?? Tidak.. tidak boleh.

Clara membuang pikiran buruk itu ketika Reynald sudah selesai mandi dan kembali menghampiri tepat di hadapannya.

“Aku pulang, Nanti siang ku jemput, Kita makan siang bersama.” Kata Reynald seakan tak ingin di bantah. Lalu Reynald mendaratkan kecupan singkatnya di bibir Clara, dan kemudian pergi begitu saja.

Clara ternganga..

Ada apa dengan Lelaki itu?? Apa bercinta bisa membuatnya berubah menjadi seperti ini?? entah mengapa Clara merasa Reynald menjadi lelaki lembut dan perhatian padanya. Dan Clara kurang nyaman dengan hal tersebut.

“Rey..” panggil Clara tanpa menolehkan kepalanya pada Reynald yang udah berdiri di depan pintu. “Kamu nggak usah jemput. Aku sibuk nanti siang.”

“Ambil cuti saja.”

“Nggak bisa.”

“Terserah kamu.” Akhirnya karena jengkel, Reynald menyerah. Reynald lalu meninggalkan Clara begitu saja tanpa sepatah katapun.

Sedangkan Clara lagi-lagi menghela nafas panjangnya. Lega karena Lelaki yang begitu mempengaruhinya kini sudah pergi meninggalkannya.

***

Reynald tak berhenti mengumpat dalam hati. Bagaimana mungkin ada wanita seperti Clara?? Mengusir begitu saja lelaki yang semalaman mencumbuinya?? Ahh sial..!!! Dan Astaga… perasaan apa ini?? kenapa Ia begitu ingin di perhatikaan Clara layaknya seorang kekasih setelah bercinta pada umumnya??

Sebenarnya pagi ini Reynald enggan pulang kerumahnya. Pertama tentu saja karena tak enak dengan Clara. Setelah apa yang mereka lakukan semalaman entah kenapa itu membuat Reynald mengenal sosok Clara yang berbeda. Kedua karena Dina..

Nama itu bahkan tadi malam sama sekali tak di ingatnya. Namun kini saat ia sendiri, nama tersebut seakan menari-nari dalam ingatannya. Reynald tak ingin pulang karena tak ingin terlalu sering bertatap muka dengan mantan kekasihnya tersebut. Ahh.. mau tak mau Ia harus mencari tempat tinggal baru.

Reynald kembali menjalankan mobilnya menuju ke kantornya. Mungkin sementara ini Ia harus tinggal di kantor dari pada harus merasakan sakit karena bertatap muka dengan Dina.

***

“Jadi kamu butuh tempat tinggal?” tanya Brandon yang kebetulan siang itu memiliki urusan dengan Reynald.

“Ya.. Aku bisa Gila jika harus tinggal se atap dengan Dina, belum lagi masalah pernikahanku yang semakin dekat.” Reynald mengusap wajahnya dengan Frustasi.

“Aku punya Apartemen yang tidak terpakai. Kamu bisa tinggal di sana sementara waktu.” Tawar Brandon.

Reynald mengangkat sebelah Alisnya. “Sepertinya boleh juga, Berapa sewanya?”

Brandon tertawa nyaring. “Sialan..!!! Kita sudah seperti saudara.” Yaa mereka memang tak berteman dekat seperti para Ayah mereka, tapi Brandon tau jika Ia membutuhkan bantuan seseorang, kepada Reynald lah ia datang, begitupun sebaliknya. Mereka sudah seperti saudara meski jarang bersama.

“Kamu dan istrimu?”

“Kami hanya menempatinya beberapa bulan, setelah Alisha hamil, kami pindah kerumahku. Hingga sekarang.” Jelas Brandon.

Reynald tersenyum. “Menikah dengan wanita yang kamu cintai membuatmu bahagia Brand..”

Brandon mengangguk. “Ku harap kamu juga mendapatkan kebahagianmu.” Brandon menepuk bahu Reynald. “Dan aku harus kembali. Waktunya makan siang.” Lanjut Brandon sambil melihat jam tangannya.

Reynald mengangguk dan membiarkan Brandon pergi dari ruangannya. Makan siang?? Entah kenapa setelah ingat kata itu pikiran Reynald langsung tertuju pada sosok Clara. Apa wanita itu sudah makan siang?? Apa Ia sudah tidak merasakan kesakitan lagi?? Bagaimana jika nanti Clara tak mau lagi di sentuh olehnya?? Reynald menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sial..!! Apa yang sedang kau pikirkan Rey?? Bisa-bisanya Ia berpikiran seperti itu lagi??

***

Clara tak berhenti mengumpat dalam hati ketika kini Boy sedang menggandeng mesrah pinggangnya. Risih? Tentu saja. Bagaiamana mungkin Ia melakukan ini sedangkan pikirannya penuh dengan lelaki lain?? Lelaki yang tadi malam tak berhenti mencumbunya dengan mesrah??

Clara akhirnya sedikit menjauhkan diri dari rangkulan lengan Boy.

“Kamu kenapa??”

“Risih tau nggak.” Jawab Clara Cuek.

“Risih?? Astaga sayang, Kita ini pacaran, sepasang kekasih. Bagaimana mungkin kamu Risih dengan pacar kamu sendiri??”

Yaa Bagaimana mungkin bisa seperti itu?? Jika tau seperti ini mungkin Clara akan memilih untuk tidak berpacaran dengan Boy. Saat itu Boy adalah sosok fotografer yang paling di minati di kalangan model. Banyak model cantik yang menjerit ketika Boy mendekat. Tapi nyatanya Boy tidak seperti fotografer lain yang memanfaatkan keadaan tersebut untuk gonta ganti wanita alias menjadi Playboy. Boy hanya menganggap semua model-model di dekatnya hanya sebagai seorang teman, tak lebih. Saat itu Clara merasa tertantang untuk mendapatkan hati Boy. Hingga Akhirnya Clara memutuskan untuk mengejar dan mendekati Boy, tanpa di saangka ternyata Boy lah yang sudah sejak lama tertarik dengan Clara. Mereka akhirnya memutuskan menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih. Meski nyatanya Clara tak ingin hubungan mereka di ketahui publik. Hanya beberaapa orang terdekat yang tau jika mereka memiliki suatu hubungan.

“Aku nggak tau.” Lagi-lagi Clara menjawab Boy dengan nada Cueknya. “Antar aku pulang, Aku capek.” Boy menghela nafas panjang, Akhirnya Ia hanya bisa menuruti permintaan Clara.

***

“Kamu nggak balik??”

“Apa nggak bleh aku tinggal di sini lebih lama lagi??” Boy menjawab dengan merenggangkan tubuhnya di Sofa milik Clara.

“Aku capek Boy, Mau tidur.” Rengek Clara.

“Sini.” Boy menarik tangan Clara hingga Clara terduduk di pangkuannya. “Istirahat di sini saja, Aku mau menemanimu.”

“Boy…”

‘Shhtttt…’ Boy menempelkan jari telunjuknya pada bibir Clara. Lalu mulai mendekatkan diri semakin dekat, semakin dekat, hingga kedua bibir itu hampir saja menempel jika Suara Mily tidak mengganggu mereka.

“Astaga… Ku pikir tidak ada orang.”

Clara dan Boy sontak saling menjauhkan diri masing-masing. Clara berdiri dan membenarkan penampilannya.

“Sial..!! Apa tidak Bisa kamu…” Clara tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika melihat Sosok tinggi di belakang Mily. “Kamu ngapain kesini??”

Pertanyaan Clara tersebut jelas di tunjukkan pada sosok tersebut. Dia Reynald, yang sudah berdiri dengan tatapan tajamnya dan juga wajah sangarnya.

Tanpa banyak bicara Reynald melemparkan sebuah bingkisan untuk Clara. “Makan siang Sialanmu.” Jawab Reynald dengan dingin lalu pergi begitu saja meninggalkan tiga orang yang ternganga melihat tingkah lakunya.

-TBC-

Masih kurang Hott?? hahhaha maap saya cuma bisa segitu doang… takut ngerusak cerita kalo kebanyakan Hot-Hot annya.. hahhahah. Ayoooo mana suaranya Rey-Cla Lovers.. masak kalah ama lapak sebelah yang aku Update kemaren,.. hahhaha

Advertisements

That Arrogant Princess – Chapter 7 (Berakhir..)

Comments 8 Standard

TAP2That Arrogant Princess

Chapter 7

-Berakhir…-

 

Reynald menggulingkan badannya kesamping dan sedikit heran saat mendapati Ranjang di sebelahnya kosong. Yaa tentu saja, bukankah tadi malam ia bergelung dengan tubuh Clara semalaman?? Tapi dimana Wanita itu saat ini? bukankah seharusnya Dia masih disini karena sakit??

Reynald membuka matanya sedikit demi sedikit, memandang sekeliling kamar Clara. Kamarnya terlihat rapi, tapi penuh dengan barang-barang wanita. Reynald lalu menatap tubuhnya, Ia ternyata masih telanjang dada. Teringat dengan kejadian tadi malam, Astaga.. bagaimana mungkin Ia bisa tergoda dengan Sosok Clara???

 

*FlashBack

 

“Sudahlah.. ayo tidur, Supaya besok cepat sembuh..” Ucap Reynald masih dengan memeluk Clara.

Reynald merasakan Clara memeluknya semakin erat, wajah Clara yang tenggelam di dadanya entah kenapa membuatnya sedikit bergetar. Gesekan-gesekan kulit lembut itu membuat semua yang dibawah sana mengeras seketika. Yaa… Reynald benar-benar mulai terpancing gairahnya.

Dirabakannya telapak tangannya di sepanjang punggung Clara, Diusap-usapnya lembut dengan sesekali menggodanya. Siall..!! Reynald benar-benar menginginkan wanita tersebut. dan tanpa permisi Reynald membuka kaitan Bra yang ada di punggung Clara.

Clara terkesiap, Ia lalu mendongak menatap kearah Reynald yang sudah berkabut.

“Kamu.. Kamu mau apa?”

“Aku menginginkanmu..” Ucap Reynald dengan parau.

Lalu tanpa aba-aba Reynald mencengkeram dagu Clara dan menyambar Bibir ranum tersebut. Menciumnya penuh gairah. Melumatnya hingga sama-sama saling terengah, tangan Reynald kini bahkan sudah mendarat sempurna di payudara lembut milik Clara. Membuat Clara memekik karena terkejut dengan apa yang di lakukan Reynald.

Reynald semakin memperdalam ciumannya, bertukar saliva dengan panasnya saling mencecap rasa satu sama lain, Saling mengerang dan saling mendesah. Bibir Reynald mulai turun ke leher jenjang milik Clara, mengecupnya di sana, membuat Clara tak berhenti mendesah.
Bibir itu semakin turun dan turun hingga menemukan puncak payudara Clara. Reynald menatap Clara dengan tatapan tajamnya, lalu mendaratkan bibirnya pada payudara tersebut.menghisapnya.. mendambanya…

“Rey..” Erang Clara. Astaga.. Clara tak pernah merasa se intim ini dengan seorang lelaki.

“Hemm..” hanya itu jawaban Reynald. Reynald benar-benar telah di kuasai oleh gairah hingga tak dapat memikirkan logikanya. Dilanjutkannya aksinya tersebut. membuat Clara semakin mengerang nikmat.

Reynald mengusap-usap punggug belakang Clara yang terasa semakin panas. Panas?? Astaga.. Akhirnya Reynald menghentikan aksinya saat itu juga, lalu menatap Clara dengan tatapan Anehnya.

“Kamu demam.” Ucap Reynald dengan parau.

“Yaa.. Aku memang demam.” Suara Clara pun terdengar parau.

Reynald menelah ludahnya dengan sudah payah karena menahan ketegangan sialan di pangkal pahanya. “Kita tidur saja.”

Clara lantas memeluk erat kembali tubuh Reynald, menenggelamkan kembali wajahnya di dada Reynald. Sedangkan Reynald tak berhenti mengumpat dalam hati karena hasratnya tak tersampaikan, Ia butuh pelepasan namun nyatanya.. Sialan..!!!

 

Reynald Menggeleng-gelengkan kepalanya. Astaga.. apa yang Ia lakukan tadi malam?? Bisa-bisanya Ia mencumbu wanita itu?? tergoda dengan Wanita itu?? jika sekarang saja Ia sudah tergoda, bagaimana dengan nanti??

Reynald berdiri dan bergegas masuk kedalam kamar mandi. Ia harus mandi air dingin. Membayangkan betapaa erotisnya mereka tadi malam tanpa sadar ternyata membuatnya menegang kembali. Sial.!!

Saat keluar dari kamar mandi Clara, Reynald kembali merasa kikuk saat mendapati Clara yang sudah duduk di pinggiran Ranjang.

Wanita itu tampak sehat, tampak lebih segar karena terlihat Rona merah di pipinya. Rambutnya tergerai indah. Hanya mengenakan Sweater berlengan panjang yang sedikit lebih besar dari tubuhnya dan tanpa mengenakan celana. Sial..!! apa Clara ingin menggodanya??

Tanpa banyak bicara Reynald melangkah mendekat kearah Clara, lalu mendaratkan telapak tangannya di kening Clara dengan maksud mencari tau apa Clara masih demam atau sudah sembuh. Tapi nyatanya Clara malah menampik tangan Reynald.

“Kamu apaan sih..” Ucap Clara sambil memalingkan wajahnya. Astaga.. Bahkan Clara tak pernah semalu ini di hadapan lelaki. Ia selalu bisa mengendalikan diri, terlihat sombong dan berkelas di hadapan lelaki, tapi entah kenapa setelah kejadian tadi malam pandangannya terhadap Reynald berubah, Dan perasaannya pun sepertinya juga berubah.

“Aku Cuma mau memeriksa, apa kamu masih demam atau sudah sembuh.”

“Sudah sembuh.” Jawab Clara dengan ketus.

Reynald lalu mencari pakaiannya. “Kalau begitu Aku pulang, Aku haruske kantor.” Kata Reynald sambil mengenakan pakaiannya.

“Makan itu dulu.” Clara menunjuk meja yang di atasnya sudah tersedia beberapa potong Roti isi dan juga secangkir kopi.

Reynald tersenyum. “Jadi mau belajar jadi istri yang baik ya..” Entah kenapa melihat wajah Clara yang malu-malu membuat Reynald ingin menggodanya.

“Kalau nggak mau ya sudah, Biar aku sendiri yang makan.” Kata Clara sambil meraih nampan di meja tersbut tapi belum sempat , Reynald sudah lebih dulu mengambilnya.

Reynald lalu menyeruput Kopi buatan Clara.

‘Pppffffttt…. Ini terlalu manis.” Ucapnya Reynald sambil sedikit menyemburkan kopi yang di minumnya.

“Masa ini kemanisan sih..?”

“Iya ini kemanisan.”

“Ya sudah nggak usah di minum, gitu aja Sewot.” Ucap Clara dengan kesal.

“Aku nggak sewot. Cuma kasih tau aja, Nanti kalau bikinin aku Kopi jangan di kasih gula.”

“Nggak ada Nanti. Ini yang terakhir kalinya.” Ucap Clara maasih dengan keketusannya.

“Kamu masih marah.?”

“Ya iya lah aku marah.. Kamu sudah ninggalin aku dan bikin aku kayak gembel. Dan kamu belum minta maaf.” Clara mulai mengungkit kejadian kmarin hari.

“Maaf..”

“Aku nggak butuh maaf kamu. Kamu keterlaluan tau nggak.”

“Ya.. aku memang keterlaluan, jadi aku minta maaf..” Kali ini Reynald berkata pelan, Ia tau jika Ia salah. Bagaimanapun juga meninggalkan Clara seperti itu adalah suatu kesalahan. “Boleh aku makan Rotinya??”

Pertanyaan Reynald membuat Clara sedikit menyunggingkan senyumannya. “Makan aja, aku kan sengaja buat untuk kamu.”

Reynald akhirnya duduk di pinggiran ranjang di sebelah Clara, lalu memakan Roti isi buataan Clara. “Cla.. aku sudah memikirkan Surat perjanjian usulan kamu.”

“Lalu..??”

“Apa kamu yakin akan tetap menjalankan surat perjanjian tersebut setelah tadi malam..”

“Jangan lagi sebut tadi malam, itu bukan aku. Mungkin aku Cuma terpengaruh Efek Parasetamol yang sudah ku minum.”

Reynald tersedak karena menertawakan Clara. “Kamu gila?? Sejak kapan Parasetamol bisa mempengaruhi gairah seseorang??”

“Please, jangan bicara itu lagi.”

“Oke.. oke.. aku berhenti bicara itu. tapi apa kamu benar-benar yakin kalau kita akan bercerai setelah dua tahun menikah??” tanya Reynald dengan sungguh-sungguh.

“Tentu saja, Aku bukan type orang yang suka hidup dengan orang yang sama selama bertahun-tahun, aku gampang bosan.”

“Benarkah?? Bagaimana jika suatu saat nanti kita…”

“Tidak ada bagaimana.” Bantah Clara.

“Baiklah, Aku menyetujui permintaanmu. Kita akan bercerai setelah dua tahun pernikahan kita.”

Setelah pernyataan Reynald tersebut keduanya sama-sama terdiam cukup lama. Reynald lalu berdiri membenarkan pakaiannya dan mulai berkata lagi.

“Aku pulang dulu. Ini sudah siang, aku harus ke kantor.” Clara masih diam membatu dalam duduknya. Ia masih memikirkan perkataan Reynald tadi yang tiba-tiba menyetujui permintaannya.

Karena tak mendapatkan respon dari Clara, akhirnya Reynald pergi begitu saja. Tapi saat Reynald menggenggam knop pintu kamar Clara, Clara berlari kearahnya dan memanggilnya.

“Rey..” Clara menghampiri Reynald dan ‘Cuppp’ Clara mendaratkan bibirnya di pipi Reynald. “Terimakasih sudah mau menyetujui pemintaanku, Dan terimakasih juga sudah merawatku tadi malam.” Ucap Clara pelan.

Reynald ternganga, Jantungnya memompa lebih cepat seakan ingin meledak. “Kupikir dalam surat perjanjian itu tertulis tentang kontak Fisik.”

“Yaa.. tentu saja di tulis disana.” Ucap Clara sambil sedikit malu-malu.

“Kamu melanggarnya. Dan sepertinya Aku juga.” Reynald lalu menyambar bibir mungil milik Clara, Melumatnya sebentar lalu melepaskannya. Reynald tersenyum saat melihat Clara yang hanya ternganga setelah mendapat ciuman darinya.

“Senang bekerja sama denganmu Cla…” Akhirnya Reynald pergi begitu saja masih dengan senyuman di wajahnya.

***

Dina masih sibuk membantu ibunya mencuci piring di dapur. Pikirannya maih melayang dengan tawaran Reynald kemarin hari. Reynald menyuruhnya untuk menunggu selama kurang lebih dua tahun. Apa Ia mampu menunggu selama itu?? Bagaimana jika nanti Reynald berubah terhadapnya?? Bagaimana jika Reynald berpaling dan jatuh hati ada wanita itu??

Dina menggelengkan kepalanya. Apa ia harus menunggu Reynald selama itu?? Tidak, Tidak mungkin. Bukankah Reynald bilang jika Ia mencintainya?? Apa sebaiknya Ia mendesak Reynald saja?? Ahhh pikiran-pikiran itu terus saja berperang daam kepaalanya.

“Din.. Nanti bantu ibu ke supermarket ya.. kebutuhan dapur ada yang habis.”

Dina terkesiap karena ucapan ibunya mengagetkannya dari lamunan. “Iya bu..” Akhirnya dari pada membingungkan masalahnya dengan Reynald, Dina bergegas merapikan dirinya dan berangkat di supermarket.

***

Di supermarket.

“Haii.. kita bertemu lagi.”

Astaga.. itu pegawai Supermarket yang selalu menggodanya. Bagaimana mungkin Pegawai itu bertemu kembali dengannya setiap hari??

“Maaf saya sibuk.” Ucap Dina sedikit tak menghiraukan pegawai tersebut.

“Aku nggak ganggu kok, Cuma mau nyapa saja.”

Lalu Dina melanjutkan memilih-milih bahan makanan yang di butuhkannya tanpa menghiraukan pegawai supermarket tersebut yang mengikuti d belakangnya.

“Maaf, apa anda tidak memiliki pekerjaan lain selain mengikuti saya?” tanya Dina dengan sedikit kesal. Yaa Ia merasa sangat risih di ikuti di belakangnya apa lagi beberapa pegawai Supermarket lainnya selalu memperhatikan mereka.

“Aku punya pekerjaan, Ini aku lagi memeriksa tanggal kadalursa barang-barang disini.”

Dina memutar bola matanya dan mendengus kesal. Astaga.. bagaimana mungkin ada Lelaki tak tau malu seperti lelaki yang sedang mengikutinya saat ini???

“Kamu belanja banyak. Mau diantarkan atau….???”

“Apa atasan anda membayar anda untuk mengantar saya?? Tidak bukan??”

“Tapi sepertinya aku bisa merundingkan pada atasanku.” Ucap pegawai terebut dengan tersenyum.

Lagi-lagi Dina melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan pegawai supermarket tersebut. Tak lama seorang pegawai lainnya menghampiri mereka.

“Maaf pak, Ada tamu untuk bapak.” Ucap pegawai wanita tersebut.

Dina sedikit heran, kenapa pegawai wanita tersebut memanggil pegawai lelaki yang mengikutinya dengan sebutan bapak?? Belum lagi nada pegawai wanita itu saat berbicara seakan teerdengar hormat. Bukankah mereka sama-ssama seorang pegawai ika dilihat dari seragam yang mereka kenakan.?? Apa jangan-jangan???

“Baiklah.. Saya pergi sebentar, semoga kita bertemu lagi lain hari.” Ucap pegawai Lelaki tersebut sambil menyunggingkan senyumannya pada Dina dan pergi meninggalkan Dina begitu saja.

Dina menggelengkan kepalanya. Aahh lupakan, Bukankah ia memiliki masalah yang lebih serius di bandingkn mengurusi pegawai supermarket yang tak ia kenal tersebut??? Akhirnya Dina melanjutkan belanjanya.

Setelah dirasa cukup dan sudah terbeli semua, Dina menuju ke kasir. Setelah membayar barang belanjaannya, Dina sedikit terkejut saat penjaga kasir tersebut memberikan Dina sesuatu.

Kartu nama..

“Apa ini mbak??” tanya Dina sedikit bingung.

“Pak Alex ingin mbak menghubunginya, Silahkan.” Kata kasir tersebut sambil memberikan kartu nama tersebut.

Pak Alex..??? Dina mengernyit. Lalu dengan spontan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Supermarket tersebut. dan pada saat itu Dina melihat lelaki itu. Lelaki pegawai Supermarket yang hampir seetiap hari menggodanya saat Ia belanja di supermarket ini. Lelaki itu bersandar di sebuah Rak yang berisi peralatan memasak, Memasang senyuman mempesona pada Dina dan mengangkat tanganya seakan mengisyaratkan pada Dina untuk meneleponnya nanti.

“Maksud Mbak orang itu??” tanya Dina kepada penjaga kassir tersebut.

“Iya mbak.. Itu pak Alex.”

“Maaf, simpan saja, saya nggak mau.” Dina mengembaikan kartu nama tersebut. Lalu beranjak pergi, tapi sebelum pergi Dina sempat menatap Pegawai Lelaki tersebut bahkan menjulurkan lidahnya mengejek lelaki tersebut yang disambut dengan senyuman lebar Lelaki sang pegawai Supermarket tersebut.

***

Saat ini Reynald sedang sibuk memilih-milih warna untuk dekorasi resepsi pernikahan sialannya. Sial!! Benar-benar Sial..!! Reynald merasa Clara sedang mengerjainya. Bagaimana mungkin Ia saat ini yang sedang di kantor, sibuk mengurus pekerjaannya, lalu tiba-tiba sekertaris pribadinya datang membawa sebuah paket besar berisi album-album dekorasi pernikahan. Lalu tak lama Wanita sialan itu meneleponya dan dengan entengnya menyuruh memilihkan sebuah warna untuk dekorasi resepsi pernikahan mereka nanti.

Dan Bodohnya Reynald menuruti permintaan Sialan Clara tersebut. Siall..!!! bisa saja saat ini Ia membuang semua album-album tersebut lalu melanjutkan pekerjaannya. Tapi entah kenapa Reynald tak bisa. Akhirnya disinilah saat ini. Reynald duduk di atas kursi kebesarannya, dengan wajah seriusnya Ia memilah-milah Dekorasi yang paling bagus untuk pernikahannya.

Tak lama, Pintu ruangannya tersebut di buka oleh seseorang. Reynald mendengus kesal, siapa yang berani-berani mengganggu konsentrasinya saat ini?? dan kekesalan tersebut lenyap sudah saat Reynald melihat sosok yang di hormatinya masuk kedalam ruangannya. Itu Om Ramma, bersama dengan Bella, Puterinya.

“Apa Om mengganggu??”

Reynald berdiri dan menghampiri Ramma dan juga Bella. “Ahh tidak Om.. Bagaimana kabarnya Om??”

“Baik, semuanya baik.”

“Bella??” Reynald melirik kearah adik sepupunya tersebut.

“Baik.” Hanya itu yang di ucapkan Bella. Gadis itu memang tak suka banyak bicara.

“Ada yang Om perlukan sampai Om datang sendiri kemari??” Tanya Reynald sambil mengikuti Ramma dan Bella duduk di Sofa di dalam ruang kerjanya.

“Tidak, tadi hanya mampir, kebetulan makan siang di dekat sini.”

“Sama Bella??”

“Yaa… Dia sekarang kan kerja dengan Brandon.”

“Kalau bukan Papa yang paksa aku nggak akan mau kerja di sana.” Gerutu Bella.

“Kenapa tidak kerja di sisni saja om??”

“Biar lebih mandiri, Papamu Bilang kamu mau nikah, Apa benar Rey??”

“Emm Yaa.. awal bulan depan Om.” Reynald tampak ragu memberi tau kabar pernikahannya.

“Benarkah? Kenapa cepat sekali?? Jangan bilang kalau kamu….” Ramma menggantungkan kalimatnya.

Reynald mengerti apa yang ada dalam pikiran Ramma. “Ahh tidak Om.. bukan seperti yang Om Ramma pikirkan.”

“Lalu??”

“Sedikit rumit Om.. Dia model dan Aahh… saya enggan membicarakannya.”

“Pikirkan baik-baik Rey… Menikah bukan perkara muda, jangan permainkan Pernikahan, Kasian Orang tuamu akan kecewa.”

Entah kenapa perkataan Ramma tersebut menggugah hati Reynald, Yaa bagaimanapun juga Ia tak boleh mempermainkan ikatan pernikahan. Lalu bagaimana dengan perjanjian sialannya dengan Clara?? Bagaimana dengan janjinya terhadap Dina??? Ahhh sial.!! Datangnya Ramma membuat pikiran Reynald semakin terbebani. Yaa tentu saja benar, Orang tuanya pasti akan sangat kecewa jika tau Ia mempermainkan penikahan.

“Kalau begitu, Om kembali dulu. Sepertinya kamu sedang sibuk” Kata Ramma sambil berdiri.

“Ahh yaa Om.. nanti kapan-kapan saya main kesana.”

“Ajak calon mu ya..” Ramma akhirnya bergegas pergi.

“Balik dulu Mas..” Bella pamit masih dengan nada ketusnya.

“Yaa… Hati-hati di jalan yaa..”

Setelah Ramma dan Bella keluar, kepala Reynald kembali penuh dengan pikiran-pikiran tentang hubungan rumitnya. Bagaimana langkah yang harus Ia ambil selanjutnya?? Haruskah Ia tetap melaksanakan pernikahan konyol ini?? ataukah Cukup sampai disini saja Ia membohongi semuanya??

Pada saat pikiran-pikiran itu penuh di kepalanya, Ponsel Reynald kembali berbunyi. Saat ini sebuah pesan yang di terimanya.

Dina : ‘Aku ingin Bicara sesuatu sama Mas Rey nanti sore di tempat biasa.’

Itu Dina yang mengirimkan pesan. Ada apa?? Kenapa tiba-tiba ingin bicara??

Reynald : ‘Tunggu aku sepulang kerja.’

Hanya itu yang dapat di tulis Reynald. Jika biasanya Reynald menambahkan panggilan Sayang, Maka entah kenapa saat ini Ia enggan menambahkan panggilan itu.

***

Dina meremas kedua telapak tangannya karena ssedikit gugup dengan apa yang akan Ia lakukan. Yaa.. ini saatnya Ia harus menuntut pada diri Reynald. Jika biasanya Ia hanya diam dan menuruti apa mau Reynald, maka tidak dengan saat ini.

Kegugupan Dina semakin menjadi saat melihat Sosok Reynald datang menghampirinya. Reynald duduk di sebelahnya. Di bangku taman belakang rumah, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama.

“Apa yang ingin kamu bicarakan??” tanya Reynald secara langsung tanpa basa-basi lagi.

Dina sedikit terkejut dengan sikap Reynald yang terkesan berbeda, Reynald terkesan sedikit lebih jauh dari jangkauannya, bukan Reynald yang dulu yang selalu menempel padanya dan tak mempedulikan statusnya yang hanya sebagai seorang anak pembantu rumahnya.

Sedangkan Reynald sendiri tak tau, kenapa Ia bersikap sedemikian rupa kepada Dina. Yang Ia tau adalah Ia merasa bersalah pada Dina. Bayangan saat Ia Mencumbu Clara dengan sadar menyeruak begitu saja dalam pikirannya, membuatnya seakan merasa bersalah, dan merasa menghianati Dina.

“Emm… Kupikir aku nggak akan menerima tawaran Mas Rey kemarin.”

Reynald terkejut dengan apa yang di ucapkan Dina. Baru kali ini Dina menolak apa yang Ia inginkan. Sebenarnya tidak salah, Siapa juga yang mau menunggu selama lebih dari dua tahun, sedangkan Reynald tau jika sekarang saja perasaannya sudah tak menentu terhadap Clara, bagaimana nanti??

“Kenapa nggak bisa menerima??”

“Karena aku ingin Mas Rey menikah denganku.”

Reynald benar-benar membelalakkan matanya saat mendengar permintaan Dina tersebut. Sungguh, ini Benar-benar bukan Dinanya. Dina tak pernah menuntut lebih dari hubungan mereka, tapi saat ini, Dina malah ingin Reynald menikahinya.

“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan??” tanya Reynald pelan.

“Yaa.. aku sadar Mas, kamu adalah majikanku dan aku hanyalah Anak pembantu, tapi apa aku salah jika aku menuntut Hak Ku?? Kita sudah menjalin hubungan sekian lama, saling mencintai satu sama lain, apa salah jika aku ingin lebih?? Karena jujur, aku tak sanggup melihatmu dekat dengan wanita lain.”

“Dina, Kamu tau jika ini bukan yang ku mau.”

“Aku tau, aku mencoba mengerti walau aku tak tau apa alasan sebenarnya kamu menikahi dia. tapi disini aku hanya ingin memberikan kamu Pilihan. Tinggalkan dia dan kembali padaku Atau kita sudahi sampai disini hubungan kita.”

“Jadi kamu nggak mau menungguku?”

“Tidak. Maaf Mas.. Aku tidak bisa menunggu sesuatu yang belum pasti, Sesuatu yang mungkin bisa berubah suatu saat nanti.” Kata Dina dengan tegas.

Reynald membatu mendengar jawaban Dina. Yaa apa yang dikatakan Dina tentu saja benar. Jika Reynald ada dalam posisi Dina maka Reynald tentu tak akan mau menunggu selama Itu. tapi untuk memilih menikahi Dina dan meninggalkan Clara rasanya… rasanya… Ahhh entahlah.. Reynald bahkan tau jika Ia tak bisa meninggalkan Clara setelah apa yang Ia lakukan terhadap wanita Itu, yaa.. meskipun mereka belum sempat melakukan apa-apa, tapi tetap saja, Mengingat Clara membuat Reynald mengesampingkan Dina.

“Maaf.. tapi aku juga tak bisa mengabulkan permintaanmu.” Ucap Reynald dengan lemas.

Dina merasakan sesuatu mengiris Hatinya, Monohok jantungnya, rasanyaa nyeri.. benar-benar sangat sakit saat Di tolak dengan orang yang Ia Cintai setelah Ia memberanikan Diri untuk membuat Permintaan.

“Baiklah. Jadi sekarang sudah jelas, Hubungan kita berakhir sampai disini.” Ucap Dina dengan suara yang sedikit bergetar. Lalu tanpa banyak bicara lagi, Dina bangkit dan meninggalkan Reynald sendiri. Dina tak Ingin air matanya jatuh disana, cukup harga dirinya saja yang jatuh di hadapan Reynald, tidak dengan Air matanya.

Sedangkan Reynald hanya Membatu, Ia bahkan tak melihat Dina yang pergi meninggalkannya. Ia hanya menatap rumput hijau yang sedang ia Pijaki. Rumput itu semakin lama semakin mengabur, Seperti ada yang menghalangi matanya. Dan benar saja penghalang itu jatuh menjadi butiran-butiran Air mata. Reynald menangis, Hatinya juga Hancur bersama dengan hubungan yang Ia bina bersama dengan Dina, Kekasih yang sangat Ia cintai..

***

Malam Ini Clara sibuk mengobati luka lecet di kakinya. Sial..!! Harusnya Ia marah memaki atau menampar Wajah Reynald, karena lelaki itu kulitnya jadi rusak seperti saat ini. tapi apa?? Hanya bermodalkan pelukan dan cumbuan, Clara bahkan Jatuh dengan mudah dalam pesona seorang Reynald.

Cumbuan?? Astaga.. Jangan pikirkan itu lagi. Clara menggelengkan kepalanya cepat-cepat saat bayangan Erotis itu masuk kembali dalam kepalanya.

Seharian ini Clara hanya di rumah, tak ada pemotretan atau kegiatan lain yang ia lakukan. Mily belum juga pulang sejak kemarin malam. MungkinMily sedang pulang ke rumah orang tuanya. Karena bosan, tadi siang Clara sengaja menggoda Reynald dengan menyuruh Reynald memilihkan Dekorasi untuk resepsi pernikahan mereka, Clara bahkan tertawa puas saat mendengar Reynald mengumpat karena kesal.

Saat Clara sedang mengingat tentang Reynald, entah kenapa jantungnya menjadi berdebar tak menentu. Clara tak mengerti perasaan apa ini. Mengingat Reynald yang begitu lembut tadi malam membuat Clara selalu membayang kan Lelaki itu, bahkan diam-diam Clara mulai merindukan kehadiran lelaki tersebut.

Rindu?? Tunggu dulu, itu bukan Dirimu Cla..?? Untuk apa Kamu merindukan Lelaki itu?? saat Clara berperang melawan pikiran-pikiran Anehnya, tiba-tiba pintu Apartemeennya di ketuk oleh seseorang. Clara mengernyit, siapa yang malam-malam begini bertamu?? Apa Itu Mily?? Ahh tidak mungkin. Jika Mily pasti akan langsung masuk tanpa mengetuk pintu.

Ketukan itu semakin lama semakin keras. Akhirnya dengan sedikit Kesal Clara bangkit dan membuka pintu Apartemennya.

Tubuh tinggi Reynald langsung ambruk dalam pelukannya begitu saja saat Clara membuka pintu Apartemnnya. Ada apa dengan lelaki ini??

“Rey.. apa yang terjadi??”

“Aku merndukanmu..” Racau Reynald.

“Kamu mabuk?”

“Enggak sayang.. Aku merindukanmu.”

Reynald lalu melepaskan pelukannya, menatap Clara dengan tatapan mendambanya, membuat Clara merona memererah karena Ia tak pernah mendapatkan tatapan seperti itu dari seorang lelaki dalam posisi sedekat ini.

“Kamu cantik.” Lagi-lagi kata itu yang di ucapkan Reynald sambil semakin mendekatka diri pada Clara.

“Apa yang akan kamu lakukan Rey??”

“Aku menginginkanmu..”

Dan setelah perkataan Reynald tersebut, Clara tak dapat merasakan apapun karena tubuhnya seakan melayang seiring dengan sentuhan lembut bibir Reynald pada Bibirnya…

 

-TBC-

Maaf.. Harusnya ini Jadwal Abang Brand di Post, tapi karena kecerobohan saya, lagi-lagi cerita abang Brand terhapus semua, kali ini bukan karena bella anak saya yang masih unyu2 tapi ini Murni kecerobohan saya.. hahhaha jadi saya harus Copast lagi dari awal… jadi yang nunggu abang Brand mohon sabar yakk… ingsya aloh kalo nggak besok ya lusa baru bisa di post… makasih udah mau membaca… :* :* #BiGHugFromAkku…

That Arrogant Princess – chapter 6 (“Aku akan menghangatkanmu..”)

Comments 5 Standard

TAP2That Arrogant Princess

Chapter 6

-“Aku akan Menghangatkanmu..”-

Clara merasakan benar- benar ada yang aneh pada diri Reynald. Dia diam dan cenderung datar, dingin dan Ahh… Clara bahkan tak mengerti apa yang sedang di pikirkan Reynald.

“Kamu Aneh.” Clara memulai pembicaraan.

“Apa maksudmu dengan Aneh??”

“Entalah.. Kupikir ada hubungannya dengan pembantu itu.”

Reynald mencengkeram erat kemudi mobilnya?? Pembantu?? Bagaimana mungkin wanita sialan ini menyebut kekasihnya dengan sebutan pembantu?? Kekasih?? Astaga.. bukankah hubungannya dengan Dina sudah berakhir??

“Jangan pernah sebut dia Pembantu.” Ucap Reynald penuh penekanan.

“Please ya Rey.. Kamu benar-benar ada hubungan sama wanita Udik itu??”

Dan seketika itu juga Reynald menghentikan laju mobilnya. Amaharnya sudah sampai keubun-ubun, Clara benar-benar keterlaluan, menyebut Dina sebagai pembantu dan juga Udik. Dan Reynald tak suka itu, Reynald tak pernah suka jika ada orang yang merendahkan Dina.

“Keluar.” Ucap Reynald dengan dingin.

“Apa maksud kamu?”

“Kubilang keluar.” Reynald tak bisa di ganggu gugat.

Akhirnya masih dengan mengangkat Dagunya, Clara keluar dari dalam Mobil Reynald. Menutup mobil Reynald dengan keras hingga berdentum. Sedangnkan Reynald langsung menancap pedal gasnya dan melaju cepat meninggalkan Clara di tengah jalan.

“Sialan Kamu Rey..” Teriak Clara.

Astaga… Apa yang harus ia lakukan??? Clara merogoh saku di bajunya, Tak ada uang, dan Ponsel?? Ya tuhan. Bahkan Ponselnya pun tertinggal di mobil lelaki sialan itu. belum lagi penampilannya saat ini yang astaga…. Clara bahkan tak berani melihat penampilannya yang baginya sangat buruk ini. Akhirnya dengan kesal Clara melanjutkan jalannya.

***

“Sialan..!!! Wanita sialan…!!” Reynald tak berhenti mengumpat kasar karena terlalu marah. Marah pada keadaan yang menimpanya, marah dengan Clara yang berani-beraninya merendahkan wanita yang di cintainya.. dan Marah pada dirinya sendiri yang tanpa sengaja menyakiti hati Dina.

Sungguh, Reynald bahkan tak tega melihat wajah sendu Dina tadi, sekilas Mata Dina terlihat berkaca-kaca, dan itu benar-benar membuat dadanya terasa sesak.

Reynald memukul-mukul kemudi mobilnya. Menambah kecepatan mobilnya, Ia harus segera sampai di rumah dan menjelaskan semuanya pada Dina.

***

Dina membantu Allea berbaring di ranjangnya. Walau kini Ia terlihat baik-baik saja, nyatanya tidak, perasaannya sedang kacau, dadanya terasa di remas-remas saat mengingat Wanita yang mengaku sebagai calon Istri Reynald tadi.

Wanita itu tentu saja cantik. Dia model papan Atas, berbagai macam Iklan kecantikan dan lain sebagainya memakai jasanya. Reynald tentu saja sangat pentas bersanding dengan wanita sekelas Clara. Ya tuhan.. bahkan Dina tak dapat membayangkan bagaimana perasaannya nanti ketika melihat lelaki yang di cintainya bersanding dengan Wanita sempurna seperti Clara.

Wajah Dina mulai muram, matanya kembali berkaca-kaca, dan itu tak luput dari perhatian Allea.

“Kamu nggak enak badan?” Tanya Allea saat melihat Dina yang sejak tadi tak membuka suaranya.

“Tidak Bu, Saya hanya..”

“Apa ada hubungannya dengan Rey??”

Dina hanya bisa menggeleng lemah. “Saya dan Mas Rey sudah tidak ada hubungan apa-apa Bu..”

“Bagaimana kalian bisa pisah??”

“Saya….”

Belum juga Dina melanjutkan kata-katanya, Pintu kamar Allea di buka dengan keras oleh seseorang. Itu Reynald, Dia tampak sedang tergesa-gesa.

“Bisa kita bicara di luar sebentar?” Reynald memandang Dina dengan tatapan memohon. Sedangkan Dina menatap Allea seakan ingin meminta persetujuan.

“Keluarlah, sepertinya dia akan menjelaskan sesuatu.” Kata Allea sambil tersenyum dan mengangguk.

Akhirnya Dina dan Reynald pun keluar dari kamar Allea. Tapi saat mereka sudah berada di luar, Reynald malah menyeret tangan Dina masuk kedalam kamarnya.

“Aku Bisa jelaskann semuanya sama Kamu.” Kata Reynald cepat setelah Ia menutup kamarnya.

“Aku tau Mas.. aku mengerti.”

“Enggak, Kamu nggak tau apa-apa. Dengar, Aku memang akan menikahi Wanita Sialan itu, Tapi aku masih sayang sama Kamu Din..”

“Kamu nggak boleh gitu Mas??”

“Lalu aku harus bagaimana???” Reynald mulai berteriak karena frustasi. “Kamu pikir aku mau jalanin Ini??”

Dina mulai menangis, air matanya jatuh begitu saja. “Aku nggak apa-apa, Aku bisa melupakan kamu kok..” Lirihnya.

“Tapi aku nggak mau Kamu melupakan Aku.. Aku nggak mau kita berakhir seperti ini..” Reynald memeluk erat tubuh Dina. Sungguh Ia sangat mencintai Wanita yang ada dalam pelukannya kini. Tapi di sisi lain Ia harus menuruti kemauan Clara untuk menikahinya, Bukankah Ia sudah berhutang nyawa ibunya??

Lalu Reynald ingat akan sesuatu. Yaa… Perjanjian itu, dalam perjanjian tersebut ditulis jika mereka hanya akan menikah selama kurang lebih dua tahun, haruskah Ia menyuruh Dina menunggunya selama itu?? Tapi bagaimana mungkin?? Reynald tau bahwa dirinya bukanlah lelaki Brengsek yang dapat mempermainkan sebuah pernikahan, Reynald juga tak ingin kawin cerai dengan Wanita hanya karena Kontrak sialan tersebut. Tapi ia tidak bisa seperti ini, Perasaannya kepada Dina masih sama.

“Apa kamu mau menungguku?” Tanya Reynald kemudian.

Dina menatap reynald dengan tatapan tak terbacanya. Menunggu?? Apa maksud Reynald dengan Menunggu??

“Dengar, Pernikahanku dengan Clara hanya sandiwara, Maksudku dia yang menginginkan itu sebagai sandiwara, kamu tau bukan jika aku tidak pernah mempermainkan suatu ikatan??” Reynald mengambil nafas dan mulai bercerita lagi. “Clara ingin kami menikah hanya dalam jangka waktu dua tahun, Walau aku terpaksa menikahinya, tapi tetap saja aku tak bisa mempermainkan sebuah pernikahan. Tapi karena Kamu, Aku akan melakukan itu. Aku akan menceraikan dia setelah Dua tahun pernikahan Kami.”

“Mas… kamu nggak boleh seperti itu, Itu bukan diri Kamu, bagaimana dengan orang tua kamu dan orang tua dia??”

“Dia tidak peduli dan aku juga bisa tidak peduli.”

“Mas…”

“Dina, Ini demi Kamu, demi Kita, Dan Clara juga pasti sangat senang mendengar persetujuanku.”

“Tapi bagaimana jika…”

Reynald lalu memeluk erat tubuh Dina lagi. “Jangan pernaah bertanya pertanyaan yang tidak bisa aku jawab..” Ucap Reynald penuh arti.
Reynald tau apa yang akan di tanyakan Dina. Yaa.. Bagaimana jika dalam jangka waktu dua tahun nanti perasaannya Berubah?? Bagaimana jika Ia tak ingin berpisah dengan Clara?? Bagaimana Jika… Ahhh persetan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.. Gerutu Reynald dalam hati.

***

Aahhhh Sial..!!! hari ini benar-benar Sial untuk Clara. Di turunkan di tengah jalan tanpa telepon tanpa uang dan dengan penampilan berantakan, Ya tuhan…!!! Clara merasa dirinya sudah seperti Gembel atau pengemis. Belum lagi Hujan yang mengguyur langit Ibu kota membuat Clara seperti menerima paket lengkap dari kesialannya.

Kulit kakinya lecet-lecet karena berjalan jauh, kulit tangan dan wajahnya sempat memerah karena tadi sempat terkena Panas, rambutnya berantakan, Bajunya basah, Perutnya terasa keroncongan karena belum makan seharian. Belum lagi kepalanya yang semakin pusing karena tersesat.

Clara tak pernah mengendarai mobil sendiri, dia lebih suka Di temani Mily jika keluar, itupun hanya sekedar nongkrong di tempat biasa atau hanya ketempat pemotretan yang tak jauh. Sifatnya yang pelupa benar-benar membuat parah keadaan, Ia sama sekali tak tau Ada dimana Dirinya saat ini.

Hujan semakin deras, dan langit sebentar lagi menjadi senja. Clara benar-benar tak tau apa yang harus Ia lakukan. Bertanya pada Orang? Tentu saja Tidak, Clara terlalu sombong untuk bertanya apalagi meminta bantuan pada seseorang.

Akhirnya Ia berakir mengenaskan di depan emperan sebuah Ruko. Menyedihkan. Dan Menangis.. Menagis..??? Seorang Clara adista menangis??? Clara tak pernah menangis karea ia tak pernah mau memperlihatkan sisi lemahnya, tapi kini tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis, Ia ingin pulang tubuhnya benar-benar kelelahan, Hatinya terlalu sakit karena di campakan begitu saja oleh lelaki sialan yang berstatus sebagai tunangannya.

Tanpa banyak bicara lagi Clara berjalan kembali, kemana, Entahlah.. Bahkan Ia tak tau arah.. setelah beberapa Langkah berjalan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di sebelahnya. Mobil yang tadi pagi meninggalkannya begitu saja di tengah jalan.

Clara mendengus lalu melanjutkan jalannya kembali, tak mempedulikan si pemilik mobil yang sudah keluar mengejarnya sambil berteriak memanggil namanya.

“Apa Kamu nggak dengar aku memanggilmu Hahh?” Reynald sedikit berteria sambil mencengkeram pergelangan tangan Clara.

“Lepaskan sialan..!!!”

“Ayo kita puang.”

“Aku nggak mau.”

Dan sebelum Reynald berbicara lagi, tubuh Clara sudah terlebih dahulu ambuk kedalam pelukannya. Wanita ini pingsan…

***

Clara merasakan tubuhnya terasa Remuk dan Sakit, Ia juga merasa menggigil kedinginan, belum lagi rasa mual di perutnya yang membuatnya terasa begitu menyiksa.

Clara mengerang dalam setengah sadar, “Sakit.. Sakit..” sambil sesekali terisak.

Reynald terbangun dalam tidurnya ketika mendengar rintihan Clara. Saat ini mereka sedang berada di dalam kamar Clara. Mily yang juga tinggal bersamaa Clara di sini kebetulan sedang keluar mengurus sesuatu. Tadi Reynald sebenarnya ingin meninggalkan Clara sendiri, tapi entah kenapa Ia tak tega, Ada apa dengannya??

“Kamu sudah sadar??” Tanya Reynald sambil mengambil Kompres di kening Clara.

“Sakit..” Rintih Clara.

“Maafkan aku.” Hanya itu yang dapat di ucapkan Reynald.

“Aku dingin..”

“Aku sudah mematikan AC nya. Dan badanmu panas.”

“Tapi aku kedinginan..” bentak Clara.

Dan itu membuat Reynald sedikit menyunggingkan senyumannya. Yaa setidaknya kecerewetan Clara dan sikap menyebalkannya sudah kembali. Reynald kemudian membuka bajunya hingga meninggalkannya dengan kaus dalamnya saja, lalu dibukanya juga kaus dalamnya tersebut hingga Reynald kini bertelanjang dada.

“Apa yang kamu lakukan??” Ucap Clara dengan sudah payah.

“Maaf, kupikir kamu tadi berkata jika kamu kedinginan, aku akan menghangatkanmu.” Lalu tanpa banyak omong Reynald mendudukkan Clara dan membuka piyama yang dikenakan Clara.

“Heii.. Apa yang kamu lakukan??” Lagi-lagi Clara membentaknya. Ya tuhan… jika Ia tidak sedang lemas mungkin saat ini tangannya sudah mendarat sempurna pada pipi Reynald.

Reynald tak menjawab, Ia meneruskan apa yang dilakukannya meski sesekali mengerang dalam Hati. Sialan..!!! wanita sombong di hadapannya ini benar-benar sangat menggoda. Kulitnya putih mulus tanpa cacat sedikitpun, dan tubuhnya, ya tuhan… benar-benar menggoda. Reynald menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat Clara hanya berbalutkan Bra hitamnya yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Sial..!!! Mily benar-benar tau apa yang pantas di kenakan Clara. Yahh.. tadi setelah membawa Clara pulang dalam keadaan basah kuyup, Milylah yang mengganti pakaian Clara.

“Rey… Aku semakin kedinginan..” Ucap Clara lemah dengan gigi yang bergemeletuk. Gemeletuk Gigi Clara menyadarkan Rynald jika Ia terlalu lama membiarkan Wanita di hadapannya ini setengah telanjang.

“Maaf..” entah kenapa Suara Reynald menjadi sangat serak. Ia lantas melompat naik keatas Ranjang, memposisikan diri di sebelah Clara, dan lelu memeluk wanita itu. “Apa sudah hangat??” tanya Reynald masih dengan suara seraknya.

Clara memang merasakan tubuh Reynald yang menghangatkannya. Clara mengangguk dan sedikit menunduk malu. Lagi-lagi Lelaki ini membuatnya merona Malu. Sial..!!!

Reynald mengambil Bed Cover dengan kakinya lalu menyelimuti tubuh mereka dengan Bed cover tersebut. tubuh Clara benar-benar terasa sangat panas, bagaimana mungkin wanita ini merasa sangat kedinginan hingga giginya bergemeletuk???

“Kamu demam, apa kita ke dokter saja??”

“Aku nggak mau.”

“Maafkan aku, aku sudah meninggalkan kamu.”

Clara tak menjewab, ia hanya mengeratkan pelukannya pada Reynald. Lelaki ini entah kenapa membuatnya luluh lantak, Lelaki di luar dugaannya, bukanlah lelaki membosankan seperti pegawai kantoran pada umumnya. Clara Bahkan merasa sangat penasaran dengan Kehidupan Reynald yang sebenarnya.

“Tidurlah.. Aku akan menghangatkanmu..” Kata Reynald lagi.

“Kamu punya tubuh bagus Rey..” Entah kenapa kata itu keluar dari bibir Clara secara tiba-tiba.

Reynald tersenyum, tak menyangka Wanita sombong ini tiba-tiba berkata seperti itu. “Aku nge Gym tiap hari.”

“Tapi kamu juga suka makan banyak. Dan kamu nggak gemuk.”

Reynald tak dapat menahan tawanya. Pada titik ini Reynald merasakan Clara seperti Wanita lugu dan lucu. Jika Clara seperti ini, mungkin Ia tak akan terlalu membencinya.

“Sudahlah.. Ayo tidur, supaya besok kamu sembuh.”

Clara mengangguk dan menenggelamkan Wajahnya di dada Reynald yang hangat dan nyaman. Menghirup aroma lelaki itu yang wanginya benar-benar memabukkan. Lalu mencoba memejamkan matanya berussaha tidur senyenyak-nyenyaknya.

Sedangkan Reynald, entah kenapa perasaannya semakin tak menentu. Ia memikirkan Dina, bagaimana dengan Dina?? Tapi disisi lain Clara juga membuatnya penasaran, seakan selalu membangunkan sesuatu dalam dirinya. Bahkan saat beersama dengan Clara entah kenapa berbagai macam pikiran-pikiran mesum keluar masuk dalam otaknya. Apa karena wajahnya?? Apa karena tubuhnya?? Entahlah.. yang jelas Reynald bahkan merasakan jika tubuhnya seakan terpanggil dengan tubuh Clara. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Astaga… Reynald bahkan sangat frustasi karena ketegangan Seksual yang dirasakannya saat kulitnya bergesekan dengan kulit lembut Clara. Sial..!!!

-TBC-

Ada yang udah kangen abang Rey belom?? Kalo nggak ada ya dah aku kangenin sendiri… haahhahahaha 😛 😛