My Brown Eye – Chapter 6

Comments 7 Standard

MBE1My Brown Eye

Chapter 6

-Bukankah Hati yang selalu mengenali mana yang seharusnya dicintai dan mana yang seharusnya di benci..???-

Hana masih saja tidak bisa menghentikan tangisnya, tangis tanpa suara. Hana tidak ingin Mike, lelaki brengsek itu mengetahui jika dirinya masih menangisi Mike.

Tadi malam, Hana kembali ke rumah kontrakannya bersama Dara. Berkali-kali Dara menanyakan apa yang terjadi, tapi Sekalipun Hana tidak menjawabnya. Hana masih sibuk menangisi nasibnya. Kenapa Mike tega melakukan Hal ini Padanya? Meninggalkannya disaat dirinya membutuhkan Sosok Mike sebagai ayah dari bayi yang dikandungnya. Bagaimana Hana menghadapi semua ini.? Menghadapi orang tuanya,? Menghadapi Revan Kakaknya.?

Akhirnya Hana bisa tertidur karena Lelah menangis. Paginya lagi-lagi Hana terbangun karena Mual Hebat. Hingga membangunkan Dara. Dara sempat mengajak Hana kerumah sakit tapi tentu saja Hana menolaknya. Hana belum ingin memberitahukan keadaannya pada siapapun juga termasuk Dara, sahabatnya sendiri.

Hari ini Niat Hana adalah kekantor pagi-pagi dan menenggelaman Diri dengan tumpukan berkas-berkas periklanannya. Namun Hana berakhir meruntuki dirinya sendiri karena ada sebuah Berkas yang tertinggal di Apartemen Mike. Akhir-akhir ini Hana memang sering membawa peekerjaannya kerumah Mike dan tadi malam dia melupakan sebuah Berkas yang ditaruhnya di laci meja sebelah Ranjang Mike.

Akhirnya dengan menguatkan Diri, Hana kembali ke Apartemen Mike. Ahh mungkin saja Mike sudah berangkat Kerja, bukankah ini sudah sedikit lebih siang. Dan Semoga saja Mike belum mengganti Pasword Kamar Apartemennya. Pikir Hana kala itu.

Sedikit terkejut saat memasuki Lift bersama dengan seorang wanita asing yang wajah dan tubuhnya mirip dengan Model papan atas. Wanita tersebut memencet tombol lantai paling atas gedung Apartemen ini. Hana menaikkan sebelah alisnya, setaunya Lantai paling atas adalah Lantai Eksklusif yang hanya ditempati Kamar Apartemen Mike seorang. Apa wanita ini teman Mike..?

Hana ingin bertanya tapi diurungkannya niatnya, Mungkin wanita ini hanya ingin mencari angin diatas atap Apartemen ini. mengingat atap apartemen, membuat Hana menundukkan kepalanya. Kenangan akan Mike menyeruak begitu saja. Saat Mike melamarnya dulu dan membuat Hana percaya bahkan berani memberikan segalanya untuk Diri Mike.

Nyatanyaa, Lelaki itu tak lebih dari seorang lelaki Brengsek. Lagi-lagi kebencian menyelimuti diri Hana. Kebenciaan, Kerindua, dan Cinta bercampur aduk menjadi satu, membuatnya menjjadi beban yaang sangat berat dipikul sendirian oleh seorang Hana.

Wanita asing tersebut akhirnya keluar dan berhenti tepat di depan kamar apartemen Mike. Ahh ternyata benar, itu adalah teman Mike. Pikir Hana yang sedang mengawati wanita tersebut dari jauh. Waita itu tampan Menelepon. Lalu tak lama Pintu Apartemen Mike terbuka. Dan yang membuat Hana Shock adalah wanita tersebut langsung menghambur dalam pelukan Mike.

Apa hubungan wanita itu dengan Mike..??

Mereka bicara sangat Akrab. Hana melihat wanita tersebut tampak begitu perhatian dengan Mike. Hana Bahkan Melihat Mike mengecup lembut bibir wanita tersebut. Ya tuhan… jadi selama ini seperti ini sisi lain dari seorang Mike Handrson.? Pantas saja dirinya sangat mudah sekali tergoda. Ternyata Mike tidak lebih dari seorang Berengsek yang memiliki banyak kekasih.

***

Saat ini Hana sudah berada didalam Kamar Mike, Hana kembali mengusap airmata yang tidak berhenti menetes dari pelupuk matanya. Sebenci apapun dirinya dengan Mike, Hana tidak bisa memungkiri jika dia sangat mencintai lelaki itu. Secepat kilat Hana mengemas berkas-berkas yang tertinggal di Laci meja kamar Mike.

Hana juga mencari beberapa barangnya yang mungkin saja masih tertinggal di ruangan ini. Hana tidak ingin kembali lagi keapartemen ini. Mungkin saat ini Hana baru meluhat Mike berciuman denga Wanita lain, Hana tidak ingin mengambil Resiko untuk melihat Mike melakukan hubungan intim dengan wanita lain.

Hana merasakan pintu kamar di belakanngnya dibuka oleh seseorang. “Apa sudah menemukan Berkas-berkas sialanmu itu.?” Tanya Mike dengan nada dingin.

Hana tidak menjawab. Dia masih berdiri membelakangi Mike. Mike lalu berjalan mendekat kearah Hana, tapi Hana secepat kilat menghindarinya. Hana melepaskan cincin pemberian Mike dan menaruhnya di nakas.
“Aku lupa mengembalikan Itu.” Kata Hana sedingin mungkin.
“Baguslah jika kau mengembalikannya.” Jawab Mike sedikit menahan kekesalannya. Bukan seperti ini yang diinginkannya terhadap Hana.

Bukan Hana yang berbalik bersikap dingin padanya. Dia ingin Hana menjadi rapuh, tak memiliki kekuatan, bukan seperti ini..
Lalu tanpa pamit, Hana melangkah keluar dari Kamar Mike. Hana berjalan dengan sedikit tergesah. Mengabaikan tatapan mata sang wanita cantik yang masih duduk manis di ruang tamu Mike.

Mike sendiri memejamkan Matanya. Kepalanya semakin Berdenyut memikirkan sikap Hana. Sial.. apa rencananya berantakan.? Jika begitu dia harus menyusun ulang Rencaananya.

Mike sedikit Berlari keluar Apartemennya, Dikejarnya Hana secepat mungkin. Untung Saja Hana masih berdiri menunggu lift terbuka. Mike kemudian meraih Tangan Hana dan memenjarakan Hana diantara Dinding.
“Kau mau apa Mike.?”
Mata Mike menajam, seakan-akan dengan tatapan matanya saja bisa membunuh siapapun yang menatapnya. “Aku mau Kau.” Kata Mike penuh dengan penekanan.
“Apa maksudmu, kita sudah berakhir.” Hana sedikit meronta.
“Kau membawa Barangku, dan kita tidak akan berakhir dengan mudah.”
“Barang.? Aku sudah mengembalikan semua milikmu Mike. Aku tidak membawa apapun.”

Mike lalu tersenyum mengejek “Kau lupa dengan ini.” kata Mike sambil mendaratkan telapak tangannya di perut datar Hana. Sejenak Mike merasaka sebuaah denyutan kecil yang mungkin hanya bisa dia rasakan sendiri, apa itu?? Apa mungkin itu Bayinya? Bagaimaana bisa? Mike membatu merasakan perasaan tak karuan yang sedang merayapi hatinya.

Begitupun dengan Hana. Ada sebuah kehangatan tersendiri saat tangan Mike mendarat di perutnya. Apa mungkin Bayinya merasa nyaman..? tapi Hana cepat-cepat menepis semua perasaan tersebut. Hana tidak boleh jatuh terbuai untuk kedua kalinya di hadapan Mike.

Secepat Kilat Hana menepis tangan Mike yang berada di perutnya. “Kau Gila Mike, Jangan anggap ini sebagai milikmu setelah apa yang sudah kau ucapkan Kemarin.” Kata Hana dengan tegas lalu mendorong tubuh Mike hingga dirinya bisa melewatinya dan masuk kedalam Lift yang kebetulan langsung terbuka ketika dirinya menekan Tombol Lift tersebut.

Mike masih ternganga dengan menatap tetapalak tangannya yang sedikit gemetar. Apa yang terjadi dengannya..? Mike lalu berlari kembali masuk kedalam Apartemennya. Masih tidak menghiraukan Carry yang menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Mike mencari ponselnya lalu menghubungi seseorang.

“Ada apa Mike.?” Kata suara diseberang. Itu Robbert, Teman sekaligus Asisten pribadinya. Orang kepercayaan Mike.
“Robb, aku ingin Kau mengikuti seseorang Kemanapun dia pergi dan apapun yang dia lakukan, kabarkan secepatnya padaku.”
“Siapa orang itu Mike.?”
“Hana.”
Mike memejamkan matanya setelah mengucapkan nama tersebut. Ini sepertinya sudah keluar dari rencananya. Rencana yang hampir bisa dibilang gagal total dan berantakan.

***

“Kau Gila Mike.. Tidak.. aku tidak akan melakukan Hal itu.” Kata Carry dengan tegas.
Please Carry… Bantu aku sekali ini saja,.”
“Tidak Mike. Aku tidak mungkin menyakiti Hati wanita itu. Lagi pula aku akan kembali sebelum Billy menyusulku kemari.”
“Aku tidak akan melepaskanmu jika kau tidak mau membantuku.”
“Kau mengancamku.”
“Apapun Menurutmu aku tak peduli.”
Carry lalu mendekat kearah Mike. Menangkup kedua pipi Mike. “Mike, ini bukan dirimu, kau tidak pernah terobsesi seperti ini dengan sesuatu Mike. Kau selalu berjalan dengan datar dan seperti tidak memiliki masalah berarti apapun, tapi wanita itu..”
“Ini bukan karena wanita itu Carry… Ini karena Kakak sialannya.” Potong Mike kemudiaan.
“Tidak Mike, Kau menyakiti wanita itu, bukan Kakaknya.”
Mike lalu terdiam sebentar dan mulai berbicara lagi. “Jika Kau ingin aku memutuskan Pertunangan kita, Maka Kau Harus membantuku Carry.” Kata Mike tanpa di ganggu gugat.
“Mike, kau akan menyesal jika Kau melanjutkan semua ini.”
“Aku tidak peduli.” Jawab Mike dingin lalu meninggalkan Carry begitu saja.
Carry menatap punggung Mike dengan menggelengkan kepalanya. Haruskah dirinya ikut dalam pembalasan dendam konyol oleh sahabatnya tersebut.?

***

Hana masih saja tak berhenti menangis. Dara bahkan sudah membelikan Coklat ice cream dan lain sebagainya agar Hana lebih baik lagi, namun ternyata tidak ada gunanya. Hana masih saja menangis.
“Hana, Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu.” Sekali lagi dara membujuh Hana.
Hana hanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja Hana belum beraani bercerita jika dirinya saat ini sedang putus hubungan dengan Mike dalam Keadaan hamil.
“Hana, Jika Kau tidak bercerita, aku akan pulang dan tidak mau lagi berteman denganmu. Please Hana.. Beri tau aku apa yang terjadi padamu.”
Hana lalu memeluk Dara dan tangisnya semakin pecah. “Aku dan Mike sudah berakhir Dara.. Kami sudah berakhir..” Akhirnya Hana buka suara.
“Apa.? Kenapa Bisa.?”
“Kupikir dia sudah memiliki wanita Lain Dara.”
“Apa Wanita itu orang Luar.? Maksudku dia orang asing.?”
Hana langsung melepaskan pelukannya terhadap Dara. Menatap Dara dengan tatapan terkejutnya. “Dari mana Kau tau Dara.?”
“Dengar, Aku sempat bertemu Mike dengan wanita tersebut beberapa hari yang Lalu, mereka bilang jika mereka hanya berteman, jadi jangan salah paham Hana.”
“Aku yakin aku tidak salah Paham. Mereka sangat Mesrah Dara, mereka Bahkan saling berpelukan dan berciuman.”
Dara menutup mulutnya tak percaya. Hana pasti sangat terpukul saat melihat Lelaki yang dcintainya memeluk bahkan mencium wanita lain.
“Dara… emm.. aku.. Aku..”
“Ada apa Hana.?”
“Aku Hamil.”
“Apa..??” Dara terlonjak karena terkejut dengan pengakuan Hana.

***

Mike akhirnya kembali menjalankan Rencana keduanya. Yaitu membuat Hana lebih sakit hati hingga putus asa. Membayangkan Hal itu Mike kembali tersenyum.
Pagi ini dirinya menuju kekantor sang paman yang merupakan Atasan Hana. Apalagi yang akan Mike lakukan saat ini jika tidak membuat Hana semakin sulit.
“Pagi Paman, Bagaimana dengan tawaranku tadi malam.?” Tanya Mike dengan menyunggingkan Senyuman Semeringahnya.
“Kau tau Mike, aku sedikit terkejut dengan tawaranmu tadi malam. Mana mungkin CEO besar sepertimu ingin turun tangan sendiri di perusahaan periklanan yang terbilang kecil di matamu ini.?”
“Paman tidak perlu terkejut atau berpikir Macam-macam.”
“Apa karena Wanita itu.?”
“Maksud paman Hana.? Ayolah Paman, Hana bukan siapa-siapa. Bukankah Paman tau jika aku sudah memiliki tunangan,?”
“Kupikir hubunganmu dan Hana Lebih dari sekedar teman Kencan.”
“Itu pikiran paman Saja. Sepertinya aku terlalu lama menunggu keputusan Paman.”
Paman Albert akhirnya tersenyum. “Baiklah Mike, Aku menerima Tawaranmu.”
“Terimakasih paman.” Kata Mike sambil berjabat tangan dengan pamannya. ‘Hana.. aku akan Mengejarmu, Tak ada tempat untukmu bersembunyi Hana’ Pikir Mike sambil menyunggingkan senyuman liciknya.

***

“Kau menginginkan sessuatu Hana.?” Tanya Dara yang sudah berada di depan Meja kerja Hana. Ini Jam Makan siang namun Dara tau jika Hana masih belum memiliki Mood untuk keluar atau makan siang.
Hana Hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku akan tetap kembali membawakanmu Makanan. Dan jangan menolakku.” Kata Dara dengan tegas.
Hana tersenyum saat melihat kepergian Dara. Dara sahabatnya yang amat sangat baik. Setidaknya saat ini Beban Hana sedikit lebih terangkat karena sudah menceritakan permasalahannya pada Dara. Dara tadi malam bahkan sampai ikut menangisi kemalangan nasib Hana. Dara juga berubah menjadi sosok yang perhatian padanya.
Hana mengusap perut datarnya. “Kau tidak sendiri sayang..” Bisik Hana pelan.
Tidak lama Dara kembaali membawa beberapa makanan, tapi Hana sedikit Heran karena Dara kembali dengan wajah seriusnya.
“Apa ada Masalah.?” Tanya Hana yang masih sedikit bingung melihat ekspresi wajah Dara.
“Emm.. Mike.. Ya tuhan Hana, aku tidak tau apa yang dia rencanakan. Dia menggantikan Mr. Albert menjadi CEO perusahaan ini.”
“Apa ? Menggantikan ? Bagaimana bisa seperti itu.?”
“Aku sendiri juga tidak Tau Hana, Yang Pasti atasan Kita saat ini adalah Mike, Bukan Mr. Albert.”
Tubuh Hana sontak melemas, wajahnya memucat. Apa yang diinginkan Mike.? Kenapa lelaki itu seakan-akan mengejarnya dan tidak ingin melepaskannya begitu saja.?

***

Hana berjalan tergesah menuju Ruangan Mr. Albert yang saat ini sudah menjadi ruangan Mike. Hana ingin meminta penjelasan kepada Mike, Bagaimana mungkin Lelaki tersebut bisa memimpin perusahaan kecil ini dengan tangannya sendiri. Pasti Mike sedang merencanakan sesuatu.
Tidak ada sekertaris Pribadi sang CEO yang biasanya duduk manis di mejanya sebelah pintu masuk Ruangan CEO. Tanpa banyak berpikir lagi Hana masuk kedalam Ruangan tersebut dan mendapati Mike yang sedang bercumbu mesrah dengan Wanita asing yang di temuinya kemarin Hari.
Hana ternganga mndapati pemandangan tersebut. matanya memanas seakan-akan ingin mengeluarkan sesuatu. Hana mencoba menenangkan dirinya sendiri. Lalu berdehem menyadarkan dua orang tak tau malu yag berada dihadapannya tersebut.
“Miss Rihana, ada yang bisa saya bantu.?” Tanya Mike sambil membenarkan pakaiannya setelah mendengaar Deheman dari Hana.
Hana mengernyit. Mike bersikap sangat Formal kepadanya seakan-akan tidak terjadi apapun diantara mereka berdua. “Emm.. Maaf.. Tadi Saya.. saya.. ingin bertemu dengan Mr. Albert.” Akhirnya Hana berakhir dengan kebohongan.
Mike menyunggingkan senyumannya seraya berjalan mendekati Hana. “Mr. Albert sudah dipindah tugaskan kekantor Pusat. Saya yang menggantikannya disini, Ada yang bisa saya bantu.” Kali ini Jarak yang diciptakan Mike begitu dekat, bahkan Hana mampu merasakan nafas Mike di sela-sela lehernya.
Hana sedikit menjauh. “Maaf kalau begitu, saya permisi.” Kata Hana membungkukkan Badan lalu bergegas pergi. Tapi sebelum Hana membuka pintu, Mike kembali berkata-katapadanya.
“Kenapa terburu-buru Hana.. kita isa bersenang-senang disini bersama.” Kata Mike dengan senyuman mengejeknya.
Hana menatap Mike dengan tatapan tajamnya. “Maaf, Saya tidak tertarik.” Kata Hana ketus lalu keluar meninggalkan Pintu yang berdentum keras karena bantingannya.
Mike tertawa melihat apa yang dilakukan Hana. Setidaknya itu menunjukkan jika dirinya masih bisa menyakiti hati wanita itu.
“Apa Kau puas Mike.? Apa aku sudah tidak diperlukan.? Kumohon biarkan aku pergi.” Kata Carry yang sejak tadi masih didalam ruangan tersebut.
“Tidak Carry, belum saatnya Kau kembali.” Jawab Mike dengan nada dinginnya.
“Kau tau Mike, dengan seperti ini Kau menunjukkan jika Kau sebenarnya sangat menginginkan Wanita itu.”
“Sial.. Aku tidak menginginkannya. Aku hanay akan menyakitinya sampai dia Lelah untuk bertahan.”
“Lalu pergi seperti Adikmu.? Apa Kau yakin dia akan melakukan itu.? Dan apa Kau juga yakin Kau akan membiarkannya melakukan itu.?” Kata-kata Carry mampu membuat Mike diam membisu. Entah apa yang dipikirkan Mike saat ini.

***

Sore ini Hana memohon kepada Dara untuk bisa pulang sendiri. Dara sebenarnya menolak, tapi dengan alasan ingin sendiri akhirnya Dara mengalah dan membiarkan Hana pulang sendiri dan tidak bersamanya.
Entah kenapa Hana merindukan sosok Mike. Bukan sosok Mike yang ditemuinya tadi siang, melainkan Sosok Mike yag manis dan lembut seperti saat-saat pertama mereka menjalin hubungan dulu. Tanpa terasa kaki Hana sudahh berjalan menuju kesebuah Toko kaset kecil, tempat Hana bertemu dengan Mike untuk pertama kalinya.
Cukup lama hana mengamati Toko Kaset tersebut dari luar. Hana mengusap Perut datarnya seraaya berkata. “Kau tau, Ibu bertemu dengan ayahmu disana untuk pertama kalinya.” Hana tersenyum mengingat kejadian itu. Kejadiaan dimana mereka berdua sama-sama kikuk karena memilih Kaset yang sama secara bersamaan. Hana saat itu langsung terpesona dengan Mike, dengan wajah tampan dan mata Cokelatnya.
“Ibu merindukan ayahmu sayang…” Kata Hana lagi yang kali ini disertai dengan buliran airmata di pipinya.
Hana menghapus air matanya lalu kmbali melangkahkan kakinya. Dirinya harus segera pulang dan istirahat, jika Tidak, Dara mungkin akan Khawatir dan mencarinya. Hana berjalan dengan santai sambil sesekali tersenyum dan mengusap perutnya. Dia tidak memperhatikan jika sejak tadi ada sepasang mata yang sibuk mengamatinya.

Mike, Lelaki itu sejaak tadi sudah mengaamati gerak-gerik Hana. Tadi Robert, Asisten yang disuruhnya untuk mengawasi Hana memberi kabar jika Hana tidak langsung pulang kerumah, Akhirnya Mike memutuskan untuk menyusul dimana Hana berada.

Dan Mike berhasil Menemukan Hana di halaman sebuah toko kaset tempat mereka pertama kali bertemu dulu. Mike melihat wajah sendu Hana yang entah mengapa membuat Dadanya sesak. Mike memejamkan matanya, mengusap wajahnya dengan frustasi. Kenapa ini..? kenapa dirinya seperti ini.? bagaimanapun juga Rencananya harus tetap dilajutkan. Tak ada Rasa Kasihan.. dan tak ada juga Rasa Cinta.. semuanya harus terbalaskan. Hana harus merasakan apa yang dirasakan Lita, Dan Revan juga harus merasakan apa yang Dirinya rasakan saat itu. Kau harus tetap Fokus Mike.. harus fokus… Kau akan menang… Pikir Mike dengan mata yang berapi-api.

-TBC-

Maaf bgt kalo banyak Typo yaa… aku tinggal Copast aja nggak pakek edite.. soalnya badan lagi nggak enak, Flu melanda dan itu membuat Mood semakin buruk.. sekali lagi maaf kalo Mood ku mempengaruhi cerita hingga jadi jelek begini.. terimakasih…

Advertisements

Love In The Dream – Chapter 1 (Dia Nyata)

Comments 6 Standard

LITD2Love In The Dream

Chapter 1

-Dia Nyata-

Brandon melangkah ke meja makan dengan lesu. Hari ini entah mengapa menjadi hari yang menyebalkan untuknya. Apa karena mimpi aneh itu? Ya tuhan.. Mimpi itu benar-benar seperti nyata baginya.
“Pagi sayang… Kenapa lemas gitu? Mimpi buruk lagi?” Tanya Nessa, Ibunya, yang kini sedang menyiapkan sarapan untuknya.
Brandon hanya menggeleng. Nessa menghampirinya, memeluk kepala Brandon yang kini sedang duduk dihadapannya. Nessa tau jika Brandon memiliki masalah pada tidurnya.
Sejak kecelakaan dan Koma lima tahun yang lalu, Brandon berubah menjadi sosok yang sedikit aneh baginya. Brandon sering melamun bahkan mengigau saat tertidur. Wajahnya sering suram, dan sikapnya berubah dingin. Nesa ingin putra pertamanya tersebut kembali seperti semula.
“Aku nggak apa-apa Mah..” Kata Brandon melepaskan pelukannya. Tentu saja, dengan badan tinggi bessar dan juga usia tak muda lagi, Brandon cukup malu jika di peluk mamanya seperti saat ini.
“Nggak apa-apa Brand.. Cuma ada Mama disini, kamu cerita saja kalau ada masalah.” Kata Nessa lembut.
“Sepertinya aku memang sudah Gila Mah..” Jawab Brandon kemudian.
Nessa tersenyum. “Mimpi itu lagi.?” Tanya Nessa yang di jawab Anggukan dengan Brandon. Nessa lalu duduk di kursi sebelah Brandon. “Brand, apa kamu nggak berpikir jika semua ini bukan suatu kebetulan.?” Tanya Nessa kemudian.
“Maksud Mama..?”
“Begini, Bisa saja Wanita dalam mimpi kamu itu adalah belahan jiwa kamu.”
Kali ini Brandon tersenyum dengan ucapan Nessa. “Mama ngomong apa sih..? Belahan Jiwa.? Ayolah Mah.. aku bahkan nggak kenal sama Wanita itu.” Kata Brandon lalu menegak susunya hingga tandas. “Dan juga belum tentu wanita itu nyata.” Tambah Brandon lagi.
Nessa tersenyum dengan pernyataan anaknya. “Lalu kenapa kamu memutuskan pertunangan kamu hanya demi Mimpi aneh itu.?”
‘Deggg’
Pertanyaan Nessa benar-benar membuat Brandon terkejut. Selama ini memang tidak ada yang pernah menanyakan kenapa Brandon memutuskan pertunangannya dengan Kezia, Wanita yang menjadi cinta pertamanya tersebut.
Brandon menatap aroji di tangan kirinya. “Aku sepertiya telat Ma… Aku berangkat dulu yaa..” Kata Brandon sambil berdiri seraya menyantap Roti isinya.
Nessa tersenyum, “Kamu selalu menghindari pertanyaan Mama itu Brand.. mana dasi kamu, sini Mama Pakaikan.”
Brandon tersenyum saat mendapati Mamanya memasangkan dasi untuknya. Tubuhnya yang tinggi besar itu membuat Nessa terlihat lebih kecil. Ya.. Brandon memang Memiliki 75% Gen Dhanni. Dengan tubuh tinggi besar dan wajah tampan Rupawan dengan Garis Kokoh yang terlihat sangat maskulin. Berbeda dengan Aaron, Aaron mungkin hanya memiliki 50% Gen Dhanni. Wajah tampannya terkesan lebih imut seperti wajah Nessa.
Untuk masalah Sifat, dulu saat kecil Nessa mengira jika Brandon akan jadi Bad Boy seperti ayahnya, Nyatanya tidak. Brandon memiliki sifat yang lembut Seperti Nessa, Lembut setia dan penyayang. Terbukti dengan Brandon hanya mencintai satu orang selama ini, siapa lagi jika bukan Kezia, cinta pertama sekaligus tunangan yang diputuskannya secara sepihak. Sedangkan Aaron, hampir 100% sikapnya sama dengan Dhanni. Sikap bandel dan Bad boynya benar-benar menurun dari Dhanni, hanya saja Aaron bukan type cuek seperti ayahnya. Aaron bahkan menjadi Lelaki yang supel dan gampang bergaul.
“Papa kapan pulang mah.?” Tanya Brandon kemudian.
Saat ini Dhanni memang sedang keluar negri, tepatnya mengunjungi putra keduanya yang sedang menimba ilmu di Harvard university.
“Mungkin akhir minggu ini. mungkin bersama dengan Aaron.”
“jadi Bocah tengil itu juga akan pulang.”
“Dia adikmu Brand..”
“Yaaa aku tau Ma..” kata Brandon sambil tersenyum.
“Brand.. kamu sudah 28 tahun, Apa nggak kepengen Nikah.? Mama juga pengen punya teman di rumah ini.”
“Memangnya aku nggaak cukup jadi teman Mama.?”
“Kalau kamu mau jadi perempuan, mama nggak keberatan.” Dan keduaanyapun tertawa bersama. “Nahh sudah selesai, anak Mama sudah ganteng.”
“Ok.. aku berangkat yaa Ma..” Kata Brandon sambil mencium tangan Mamanya.
Nessa menatap punggung puteranya yang semakin menjauh. Tak terasa sudah 28 tahun dirinya membesarkan puteranya tersebut. banyak masa-masa indah yang mereka lalui bersama, dengan Dhanni suaminya dan juga Aaron puteraa keduanya, ahh Aaron… sudah lebih dari enam tahun dirinya berpisah dengan Putera keduanya terebut. Aaron si anak bandel entah kenapa bisa meminta untuk kuliah di luar negri, mengharuskannya hidup sendiri disana. Nessa menggelengkan kepalanya menepis semua kenangan tersebut. ahh paling tidak beberapa hari lagi mereka akan berkumpul bersama kembali.

***

Hari ini Brandon benar-benar disibukkan oleh banyak Hal, mulai dari kerja sama dengan perusahaan baru hingga rapat dengan para pemegang saham lainnya. Kepalanya berdenyut karena beban pikiran yang seakan tidak ada habisnya. Belum lagi ayahnya yang sudah selama seminggu terakhir ini berada diluar negri mengunjungi Aaron, adiknya.
Intercom berbunyi dari Sekertaris pribadinya.
“Ada apa feby?” tanya Brandon setelah mengangkat teleponnya.
“Pak, ada Nona Kezia disini Pak, beliau ingin bertemu Bapak.”
Ahhh kezia lagi.. entah sejak kapan dirinya menjadi sangat malas bertemu dengan Kezia. Padahal wanita itu adalah wanita yang sangat dicintainya, cinta pertamanya.
Kezia merupakan wanita cantik yang berasal dari kalangan berada. Mereka bertemu saat pertama Kali Kezia sekolah di SMA yang sama dengan Brandon. Brandon yang saat itu sudah menyukai Kezia akhirnya memutuskan untuk mengejar Kezia. Percintaan mereka berjalan mulus tanpa halangan apapun hingga Brandon memutuskan untuk Bertunangan dengan Kezia satu tahun sebelum dirinya mengalami kecelakaan.
Anenya, setelah kecelakaan itu, tak ada lagi Nama Keziaa dihatinya. Bayang-bayang wajah sang kekasih itupun seakan lenyap digantikan oleh bayang-bayang wajah asing yang kini sudah akrab dalam ingatannya. Siapa lagi jika bukan Angel. Wanita yang setiap malam menghiasi mimpi-mimpi Brandon tersebut itupun mampu menghapus bayang-bayang Kezia.
“Baiklah, Suruh dia masuk.” Kata Brandon dengan sedikit malas.
Tak lama pintu ruangannya terbuka menampilkan sosok cantik nan anggun dengan senyuman semeringahnya. “Siang Brand? Sedang melamunkan Angel.?” Tanya Kezia dengan nada sinis.
Yaa … Kezia masih sangat kesal terhadap Brandon. Bagaimana mungkin Brandon memutuskannya hanya karena seorang gadis tidak nyata yang hanya ditemui Brandon dalam mimpi. Bukankah itu Gila.
“Ada perlu apa kamu kemari.?” Brandon tidak mau meladeni kesinisan Kezia.
Kezia menyodorkan sebuah kertas lebih tepatnya sebuah undangan mewah. “akhir bulan aku tunangan, Kuharap kamu mau datang.”
Brandon terpaku menatap udangan di hadapannya tersebut. “Selamat.” Hanya itu yang dapat di ucapkan Brandon.
“Kalau bisa ajak juga Angelmu itu.” Kali in Kezia berucap sambil tersenyum mengejek.
Brandon tersenyum. “Kamu masih sakit hati karena aku memutuskan pertunangan kita?”
Senyum di wajah Kezia luntur seketika saat Brandon mengucapkan kalimat tersbut. Tentu saja dirinya masih sakit hati. Bagaimana tidak, Brandon lelki pertamaanya dalam segala Hal, dirinya benar-benar sangat mencintai Brandon bahkan hingga kini. Tapi Brandon dengan mudahnya memutusskan hubungan mereka hanya karena Gadis fantasinya belaka.
“Kita sudah putus lama Brand, mana mungkin aku sakit hati terhadapmu.”
Brandon berdiri, mengitaari meja kerjanya dan berdiri tepat dihadapan Kezia. “Kamu nggak pandai Berbohong Sayang, aku masih lihat jelas dimata kamu jika kamu masih mencintaiku..” Kata Brandon yang sudah sangat dekat dengan Kezia.
Kezia benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Semuanya begitu sesak menghimpitnya. Ada sebuah keinginan untuk mencium Brandon saat ini juga, menyadarkannya jika Angel itu tidak ada, jika hanya ada dirinya dihadapan lelaki tersebut.
“Brand.. Please.. Bilang sama aku kalau Kamu masih mencintaiku, aku akan membatalkan semua pertunanganku kalau kamu bilang seperti itu sama aku.”
Brandon kini sedikit menjauh. “Maaf Zia.. Aku mencintai wanita lain.” Kata Brandon sambil memalingkan wajahnya.
“Kamu gila Brand.. kamu Gila… Wanita itu tidak nyata, Dia hanya fantasi kamu saja Brand..” Kali ini Kezia sudah berteriak karena kesal, sudah lima tahun dan Brandon masih sama, masih mengharapkan wanita yang belum tentu nyata tersebut.
“Walau dia bukan wanita nyata, tapi aku tetap mencintainya, Hati dan pikiranku tidak bisa di bohongi.”
“Kamu akan menyesal Brand.. kamu akan menyesal karena sudah melepaskanku.”
“Maafkan aku Zia, Aku hanya nggak mau Kamu tersakiti Karena perasaanku yang sudah berubah terhadap kamu.”
Kezia menatap Braandon dengan tajam, dngan tatapan penuh luka. Akhirnyaa dengan kesal Kezia keluar dari ruangan Brandon. Gagal sudah rencananya, sebenarnya Kezia memberikan undangan pertunangannnya kali ini kepada Brandon hanya untuk membuat Brandon cemburu dan kembali mengejarnya. namun ternyata, Brandon masih sama, dia masih berharap dengan Wanita dalam Fantasinya tersebut.
Brandon kembali terduduk di kursi kebesarannya. Memejamkan mata dan mengusap wajahnya dengan Frustasi. ‘Ya… aku memang Gila… Aku gila karena menginginkanmu Angel…’ Runtuknya daam Hati.

****

Brandon tak berhenti mengumpat kasar ketika dirinya terjebak Macet di tengah padatnya lalu lintas kota jakarta ini, tentu saja, bukankah ini jaam pulang kantor. paginya sudah cukup buruk karena mimpi tersebut, ditambah lagi kedatangan Kezia siang ini, lalu kemacetan yang parah ini membuatnya semakin sesak. Brandon akhirnya menyalakan musik santai di mobilnya, ssambil menyandarkan kepalanya.

Angel… ya Tuhan.. apa Kamu benar-benar nyata..?? Lagi-lagi Brandon berangan-angan dengan dengan Angel dalam mimpinya. Brandon lalu menegakkan posisi duduknya kembali ketika Mobil di depannnya mulai sedikit demi sedikit berjalan merayap. Brandon mengarahkan pandangannya kekiri jalan tepat di seberang jalan ada sebuah halte Bus. Disana berdiri beberapa orang yang sedang menunggu Bus, tapi yang menarik hati Brandon adalah seorang gadis dengan celana Jeans penuh dengan Robekan-robekan Khas anak muda dipadukan dengan sbuah T-shirt longgar dengan Rambut panjang terurainya. Gadis itu.. gadis itu..
“Angel…” tanpa sadar Brandon menyebutkan nama tersebut.
Jantung Brandon terasa ingin meledak karena detakannya sangat cepat bahkan suara detakannya hingga terdengar olehnya sendiri. Angel… wanita itu benar-benar nyata.
Brandon ingin keluar tapi sayangnya pintu mobilnya tidak bisa terbuka, akhirnya dia meembuka Kap atas mobilnya dan meloncat keluar dari dalam Mobilnya. Persetan jika barang-barangnya yang ada didalam mobil di curi orang, yang jelas dirinya harus segera menghampiri wanita itu.
Brandon sedikit berlarian tidak memperhatikan mobil-mobil yang membunyikan Klakson untuknya. Tapi belum sempat dirinya sampai di Halte tersebut, Sebuah Bus sudah berhenti di Halte tersebut tak lama Bus itu kembali berjalan meninggalkan Halte yang sudah Kosong.
“Heii tunggu… Angell…” Teriak Brandon masih dengan berlari menuju Halte Bus tersebut.
Nafas Brandon tersenggal-senggal ketika sampai di Halte tersebut dan mendaapati Bus yang sudah melaju jauh. “Ahhhh Siall..” Umpat Brandon keras-keras.
Lagi-lagi Brandon meraba dadanya yang terasa sedikit sakit karena detakan yang semakin cepat dan keras. Yaa… Brandon sangat yakin jika itu Angel.. Angelnya…. bahkan Hatinya saja sudah meyakininya, jantungnya sudah mengenalinya. Seulas senyum terukir dari bibir Brandon, setidaknya dia tau jika Angel adalah Wanita nyata, bukan hanya fantasinyaa belaka..
“Angel… Aku akan menemukanmu…” kata Brandon dengan pasti.

-TBC-

Bagaimana Chapter pertamanya..?? Mungkin LITD (Love In The Dream) Perchapternya akan sedikit pendek karena menggunakan judul tiap Chapternya.. jadi karena pendek aku akan usahakan Post seering mungkin, meski nggak setiap hari loh yaa… heheheh yang utama saat ini Tetap MBE (My Brown eye) dulu yang baru masuk Konflik, jad untuk LITD mungkin agak Slow… hehhehehe

My Brown Eye – Chapter 5

Comments 6 Standard

MBE1My Brown Eye

Chapter 5

-Dan ketika Cinta mulai Hadir… Tak ada yang mampu mengingkarinya…-

 

Dara meremas tangannya dengan Gelisah. Ini sudah jam setengah sepuluh Malam, tapi Revan masih saja menunggu kedatangan Hana dengan wajah santainya.
“Emm Maaf Mas, ini sudah malam, tidak enak dengan tetaangga.”
“Tidak enak kenapa.?”
Dara tidak bisa menawab, bagaimana mungkin dia bisa menjawab ketika dirinya gugup karena sorot mata tajam dari lelaki yang duduk dihadapannya itu..?
“Kita.. emm.. laki-laki dan perempuan.. emm.. tanpa status.. dan..”
“Bilang saja aku kakakmu.”
Entah kenapa setelah perkataan Revan yang terkesan santai itu, Dara menjadi sedikit Kesal. “Kau bukan Kakakku Mas, dan ini sudah jam sepuluh malam, silahkan pulang.” Kata Dara yang sudah tidak dapat membendung kekecewaannya lagi.
“Heii ada apa denganmu?”
“Aku tidak apa-apa, Pulanglah.” Kata Dara masih dengan sedikit keketusannya.
“Aku ingin menunggu Hana.”
“Hana akan pulang malam, jika mau menunggu, tunggulah di luar.” Dan Dara menyesali perkataannya yang terkesan kasar tersebut.
Revan menatap dara dengan tatapan menyelidik. “Kau takut kekasihmu berpikiran aneh tentang kita?”
Dara menatap Revan dengan mata mendelik. Kekasih..? Yang benar saja, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu dirinya tidak pernah memikirkan yang namanya pacaraan atau kekasih dikarenakan lelaki yang berada dihadapannya saat ini.
“Baiklah, aku akan pergi. Tapi nanti aku akan kembali lagi, entah besok atau kapan.” Kata Revan yang kini sudah berdiri membenarkan penampilannya. “Jaga diri kalian baik-baik, jangan lupa hubungi aku kalau ada masalah.” Pesan itu walau diucapkan dengan nada dingin Khas Revan, Namun eentah mengapa membuat Dara menghangat.
Dara menghea nafas lega karena Revan sudah pergi tanpa mengetahui keberadaan Hana, berpikir tentang nama itu, sebenarnya apa yang dilakukan Hana.? Kenapa Gadis itu tidak pulang..??

***

Lagi-lagi…
Hana Mual hebat pagi ini. Mike Bahkan sempat ikut khawatir dengan keadaan Hana. Apa Hana benar-benar sudah Hamil.? Lalu bagaimana jika Benar.?
“Sayang.. apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit.? Kupikir.. kau.. emm..”
“Aku tidak apa-apa Mike.” Jawab Hana dengan nada lemah.
“Bagaimana jika Kau Hamil.?”
Hana tersenyum. “Bagaimana apanya? Bukankah itu yang kita inginkan.? Tapi sepertinya tidak Mike, Test mengatakan Negatif. Aku hanya berpikir jika aku sakit.”
“Sakit.? Sakit apa maksudmu.?”
Hana menggeleng. “Entahlah… mungkin penyakit mematikan seperti di drama-drama romantis,”
Mike tersenyum, lalu menyentil kening Hana dengan lembut. “Kau terlalu banyak menonton Drama Hana, mana mungkin ada kejadian seperti itu.?”
“Tentu Ada Mike, semua Drama di televisi pasti ada yang mengalaminya secara nyata.”
“Aku masih tidak pecaya.”
“Yaa… Karena Kau tidak pernah mengalaminya.”
Mike tersenyum, “Baiklah Sweety… sepertinya Kau sudah baikan, aku akaan membuatkanmu sarapan.” lalu tanpa Aba-aba Mike mengangkat tubuh Hana menggendongnya kearah Dapur untuk mengajaknya sarapan pagi.
Walau kepalanya masih berdenyut tapi Hana bahagia dengan perlakuan Mike pagi ini. Yaa…. Mike yang manis, Lelaki bermata Coklat yang pandai merayu dan meluluh lantakkan perasaannya.

***

Dara mengetuk-ngetukkan pulpennya di atas meja kantin. Pagi ini dia sengaja menunggu Hana, hana tadi malam benar-benar keterlaluan. Tidak pulang dan meninggalkannnya sendiri dengan kakak lelakinya yang super dingin itu.
Akhirnya sosok yaang ditunggu itupun datang dengan wajah pucat dan lesunya. Apa Hana sakit.? Sontak kekhawatiran menyelimuti pikiran Dara.
“Kau tidak apa-apa Hana.? Kau butuh sesuatu.?” Tanya Dara saat Hana sudah duduk di hadapannya. Tadinya Dara ingin menyembur Hana dengan berbagai macam umpatan khas mereka, tapi melihat Hana yang sepertinya tidak sehat, kekesalan Dara berubah menjadi kekhawatiran.
“Aku hanya lelah dan pusing.” Jawab Hana lemah.
“Kau sakit.?”
Hana menggeleng. “Dara aku takut memiliki masalah serius pada tubuhku.”
“Masalah serius apa maksudmu.?”
“Aku sering pusing, Mual dan ya tuhann… aku tidak pernah selemah ini sebelumnya.”
“Kau Hamil.? Hana jangan bilang kalau Kau Hamil. Kakakmu akan membunuhmu jika Kau Hamil dengan Lelaki yang tidak disukainya.”
Hana mendengus sebal. “Tidak mungkin Dara, aku sudah melakukan Test kemarin, Tiga Test pack menunjukkan Negatif.”
“Hanya Testpack bukan.? Kau belum kedokter untuk memastikannya.”
Perkataan Dara ada benarnya juga, siapa tau saja kehamilanya memang belum terdeteksi oleh alat sederhana tersebut. “Baiklah, nanti siang aku akan kedokter.”
“Kau perlu aku menemanimu.?”
Hana menggeleng. “Tidak. Tapi Dara, apa yang terjadi dengan Mas Revan tadi malam?” pertanyaan Hana membuat Mood Dara kembali memburuk.
“Kau gila, Kau tau itu. Aku tidak ingin berhadapan lagi dengan kakakmu.”
“Ada apa.? Apa terjadi sesuatu dengan kalian.?” Selidik Hana.
“Tidak ada, Aku hanya kesal kepadamu dan dia.” Jawab Dara dengan nada yang dibuat kesal.
Hana tersenyum melihat tingkah sahabatnya tersebut. Ahhh pasti menyenangkan sekali jika bisa menjodohkan sahabatnya ini dengan sang kakak.

***

“Apa..?? Saya Hamil?” Hana Membulatkan matanya Ketika Dokter memberitahukan keadannya.
“Iya Bu.. Kantung kehamilannya sudah terlihat, mungkin sekitar 3 minggu usianya” Jawab Dokter tersebut dengan tersenyum.
“Tapi Dok, saya sudah melakukan Test tapi test itu manyatakan Negatif.”
“Test Pack hanya akan mendeteksi kehamilan lewat kadar HCG dalam urin, pada beberapa kasus, sang ibu tidak menyadari dirinya Hamil hanya karena kadar HCG nya rendah dan setelaah di tets hasilnya negatif. Test yang paling akurat adalah USG seperti sekarang ini.”
“Jadi.. Saya.. benar-benar Hamil?”
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya. “Iya Bu.. selamat yaa..”
Dan senyuman mengembangpun datang dari wajah Hana. Senyuman bahagia. Astaga.. dia harus secepatnya memberitaukan kabar bahagia ini terhadap Mike. Mike pasti sangat bahagia mendengarnya.

***

Hana keluar dari sebuah klinik dengan wajah bahagianya. Sesekali dia mengusap perut datarnya yang didalamnya kini sudah ada sang buah cintanya bersama lelaki yang amat sangat di cintainya. Mike. Dia tak sabar ingin memberitahukan kabar gembira tersebut kepada Mike. Akhirnya diambilnya ponsel yang berada di dalam tasnya. Di carinya Kontak telepon yang bernama ‘My Brown Eye’. Dan ditekannya tombol panggilan.
“Halo Sayang..?” suara berat di seberang membuat jantung Hana berpacu lebih cepat lagi dari semenit yang lalu.
“Emm.. Hai..” hanya itu yang dapat di katakannya.
“Ada apa sayang..? Tumben sekali Kau menghubungiku saat jam-jam seperti ini.”
“Apa Kau sedang sibuk..?”
“Aku selalu sibuk, tapi tidak jika itu tentangmu.”
Hana tersenyum bahagia, Mike memang orang yang selalu membuatnya berbunga-bunga. “Mike, Aku ingin makan siang bersamamu.. apa Kau ada waktu..?”
“Tentu saja Sayang, di tempat biasa ya..” dan Hanapun mengiyakan permintaan Mike.

***

Hana kini sudah berada didalam sebuah Restoran Itali biasa dia makan siang dengan Mike. Astagaa… wajahnya merona-rona bahagia saat membayangkan bagaimana Ekspresi Mike saat tau jika dirinya kini sedang hamil anaknya. Bayi ini akan menyatukan mereka, Dan Mike benar-benar sangat mengharapkan Bayi ini.. pikir Hana kemudian.
Tak lama, Hana melihat Sosok tinggi tegap itu datang menghampirinya, sosok yang amat sangat tampan dengan mata Coklatnya. Tanpa sungkan Mike langsung memeluk Hana yang sudah berdiri dan tanpa malu lagi dia mendaratkan ciumannya pada Bibir Hana.
Mike lalu duduk di hadapan Hana. “Emm.. Maaf, aku yang memesankanmu makan siang.” Kata Hana kemudian ketika seorang pelayang mengantarkan pesanan Hana.
“Tidak apa sayang, Kau tau seleraku.” Jawab Mike dengan lembut. “Lalu… sekarang ada apa..? Aku tau Kau tak hanya mengajakku makan siang saja Kan..??” tanya Mike sambil menyantap pasta yang berada di hadapannya setelah pelayan tersebut pergi.
Hana menelan Ludahnya dengan susah payah. Dia sudah menunggu momen ini. Momen dimana dia memberitahukan kehamilannya dan Mike akan segera menikahinya seperti yang mereka rencanakan sebelumnya.
“Aku hamil.”
Dua kata itu mampu membekukan tubuh Mike, Mike tanpa sadar telah menjatuhkan Garpunya. Mike menatap Hana dengan tatapan tak terbacanya.
“Mike, Apa Kau mendengarku..?? Aku Hamil. Kita berhasil, Kita akan…”
Hana Menghentikan kalimatnya ketika melihat perubahan ekspresi dari wajah Mike. Ekspresinya mengeraas, tatapan matanya menajam. Ada apa ini..?? pikir Hana kemudian.
“Kenapa Mike..? Kau terlihat tidak suka dengan kabar ini.” Kata Hana sedikit lirih.
Mike meminum air putih yang ada di hadapannya lalu menyeka bibirnya dengan tissue. Dan dengan arogannya dia berkata. “Maaf Hana, Sepertinya hubungan kita sampai disini saja.”
“A.. Apa maksudmu..?” Tanya Hana dengan terpatah-patah.
“Aku sudah berhasil membuatmu Hamil, dan aku tak tertarik untuk menikahimu. Kita sudahi saja hubungan ini. Aku tak pernah mencintaimu.” Kata Mike dengan dingin. Sangat berbeda dengan kelembutan yang selama ini Mike berikan.
Hana hanya diam membatu, hanya buliran airmatanya saja yang menetes dengan sendirinya. Benarkah Lelaki dihadapannya ini Mike..?? Lelaki yang dicintainya dengan tulus..??
Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun Hana berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Mike yang masih duduk tenang di tempat duduknya.
‘Kenapa Reaksimu seperti itu Hana..?? Kau tidak menamparku..?? Kau tidak mengguyurku dengan air..?? Kau tidak berkata kasar padaku..?? Apa aku masih kurang untuk meyakitimu..??’ Pikir Mike dalam hati….

***

Mike ternyata tak bisa mengabaikan Hana begitu saja. Entah kenapa Fikirannya tidak tenang setelah apa yang sudah dikatakannya terhadap Hana.
Dengan cepat Mike berdiri dari tempat duduknya dan berlari mengejar Hana. Mike bahakan meninggalakan Mobilnya di parkiran Restoran tersebut. Mike sedikit bingung, kemana Hana pergi. Tapi dari tempatnya berdiri Mike melihat seorang gadis yang sedang menangis sesenggukan di bangku sebuah Halte Bus.
Haruskah Ia menghampirinya..? Lalu apa yang akan dilakukannya setelah ia menghampiri wanita tersebut.? Akhirnya Mike memutuskan untuk berdiri ditempat dan mengawasi apa yang akan dilakukan Hana.
Lama Hana berada di dalam Halte tersebut. Hingga akhirnya Hana berdiri daan mulai berjalan kembali. Hana berjalan menuju ke Apartemen Mike, Mike dengan setia mengikuti Hana Di belakangnya dengan jarak yang cukup jauh, Tapi cukup untuk memperlihatkan punggung Hana yang tidak berhenti bergetar. Wanita itu menangis…..

***

Secepat mungkin Hana membereskan semua pakaiannya yang berada dalam Apartemen Mike. Hana memijit pelipisnya karena rasa pusing kembali menderanya. Ada apa dengan lelaki itu.? Apa dia memiliki Masalah.? Kenapa lelaki itu berbicara seperti itu padanya.? Peertanyaan-pertanyaan tersebut tidak berhenti berputar dalam pikiran Hana.
Ahhh… mungkin Mike ada masalah. Toh jika Mike benar-benar mencintainya, Mike akan kembali mencarinya bukan.? Tapi bagaimana jika tidak.? Bagaimana denga Bayi ini..? Hana kembali menitikan airmata sambil mengusap perut datarnya.
“Kau ingin kemana.?”
Hampir saja Hana terlonjak kaget karena mendengar suara tersebut, suara yang sangat dikenalnya tapi dengan Nada yang berbeda. Kata itu diucapkannya dengan Nada Dingin. Hana membalikkan badannya dan Mendapati Mike dengan wajah Kerasnya. Sangat berbeda dengan Mike yang penuh dengan senyuman atau rayuan manjanya.
Hana kembali membalikkan badannya seraya membereskan kopernya kembali. “Aku pergi, bukankah kita sudah selesai.?” Kata Hana sekuat mungkin. Hana bahkan membalas perkataan Mike dengan Nada yang sama dinginnya dengan Nada yang diucapkan Mike.
Jawaban Hana benar-benar diluar dugaan Mike. Mike berpikir jika Hana akan menangis dan merengek padanya, meminta penjelasan, namun ternyata Hana malah bersikap seperti ini padanya.
“Baguslah… cepat pergi dari sini jadi aku bisa membereskan semua tentangmu secepat mungkin.” Lagi-lagi Mike berkata sedingin mungkin. Ya tuhan… ini benar-benar bukan dirinya.
Hana menghela nafas panjang, Airmatanya kembali menetes saat mendengar perkataan Mike yang seperti Sembilu menyayat hatinya. Tak lama Hana mendengar pintu ditutup, Mike mungkin sudah keluar dari kamar mereka. Akhirnya Hana terduduk sambil menenggelamkan Wajahnya diantara lengannya. Menangis tersedu-sedu dan sebisa mungkin tak mengeluarkan suara. Kau harus kuat Hana.. Kau harus kuat.. jangan menagis disini.. Hana menguatkan dirinya sendiri.
Sementara itu di luar Kamar, Mike masih menyandarkan tubuhnya di tembok sebelah pintu. Apa yang terjadi? Kenapa seperti ini? Kenapa tidak ada kepuasan sedikitpun saat dirinya mencampakan Hana..? Apa ini masih kurang.? Yaahhh tentu saja, Hana bahkan belum bunuh diri seperti yang dilakukan adiknya bukan.? Kau harus kuat Mike.. tinggal selangkah lagi, Kau pasti menang… pikir Mike menguatkan dirinya sendiri.

***

Mike terbangun dengan kepala yang nyaris pecah karena denyutan yang tak ada hentinya. Melirik kearah jam dinding dan mendapati jarum jam yang sudah bertengger di angka sepuluh. Sial..!!! dirinya terlambat bangun pagi ini. Kenapa Hana tidak membangunkannya.?
Hana..???
Mike tersenyum kecut saat mengingat nama itu. Tentu saja, bukankah Hana sudah keluar dari Apartemennya tadi malam.? Dan bukaankah itu alasan kenapa Mike terbangun pagi ini dengan kepala berdenyut hebat karena mabuk semalaman.
Tadi malam Hana pergi tanpa sepatah katapun, entah kenapa itu membuat Mike Marah. Apa dirinya kurang berarti untuk Hana sehingga Hana tidak Depresi seperti adiknya..?? Ayolah.. Bahkan Mike melihat dengan jelas dari sorot mata Hana, betapa Hana sangat mencintai dirinya hingga rela memberikan segalanya untuk diri Mike.
Tapi kenapa Wanita itu bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.? Dan kenapa pula jadi dirinya yang kini seakan terpuruk akan perpisahannya dengan Hana..?? Ahhh sial..!! Akhirnya Mike bergegas menuju kekamar mandi untuk membersihkan Diri.
Mike kembali dari kamar mandi dengaan keadaan lebih segar dari sebelumnya, meski tak mengurangi sedikitpun rasa sakit kepalanya. Mike mendapati Ponselnya berbunyi, dan Layar ponselnya mengatakan jika itu dari Carry. Ayolah, apa yang akan dilakukan wanita itu padanya pagi-pagi seperti ini.?
“Mike apa yang terjadi paadamu. Aku meneleponmu sejak semalam tapi Kau tidak mengangkatnya.” Sembur Carry setelah Mike mengangkat teleponnya.
“Apa ada masalah.?”
“Billy akan menyusulku kesini jika aku tidak segera menyelesaikan masalah kita.”
“Siapa Billy..?”
“Buka pintu Apartemenmu dulu setelah itu aku akan menjelaskan semuanya.”
“Kau dimana,?”
“Aku di depan Apartemenmu Bodoh, cepat Buka pintunya.”
Dan Mike segera bergegas membuka Pintu Apartemennya. Setelah Pintu di buka, Carry langsung menghambur kedalam pelukannya.
“Apa yang terjadi denganmu? Kau sedikit demam.” Tanya Carry sambil mengusap kening Mike yang terasa sedikit hangat.
“Aku hanya Mabuk.” Jawab Mike yang kini sudah mengecup singkat bibir Carry.
“Kau ada masalah.?” Tanya Carry kemudian.
Mike mengeleng, tapi Carry tau jika Mike berbohong. “Itu tidak penting Carry, sekarang Kau hanya perlu bercerita apa masalahmu.” Kata Mike meyakinkan.
Tapi belum sempat Carry membuka mulutnya untuk bercerita, Suara Pelan menyadarkan mereka jika ada orang di sekitar mereka.
“Mike..” suara Hana nyaris tidak terdengar. Bahakan Hana merasakan suaranya bergetar karena diriya sedang menahan sesuatu yang akan keluar dari pelupuk matanya.
Dengaan reflek Mike melepaskan rangkulannya terhadap Carry. “Hana.? Apa yang kau lakukan disini.?”
“Aku.. Aku…”
Hana seakan tak bisa menjawab pertanyaan Mike. Dirinya terlalu sakit saat mendapati pemandangan di hadapannya. Jadi karena ini Mike mencampakannya..? Meninggalkannya dan juga calon bayi mereka hanya karena wanita Lain..?? Mike benar-benar Brengsek..!!!

 

-TBC-

udah mulai masuk konflik yaa… karena PSWM udah End maka aku akan sering2 Post MBE ini yaa… semoga kalian nggak bosan bacanya.. hahhahaha

Love In The Dream – Prolog

Comments 8 Standard

LITD2Love In The Dream

NB : Haiii haii haii.. diriku sudah kembali dengan New Story…. Mari tinggalkan sejenak kisah sedih Dara&Revan atau Mike&Hana… kita kembali pada para anak-anak BadBoys ku yang tergabung dalam serial The Soulmate. Ini Seri pertamanya udah keluar nihh… yee.. yee… yee… semoga kalian suka yaaa… Enjoy Reading…

*Prolog

 

Brandon mulai mengerjapkan matanya ketika sinar matahari mulai menyusup dalam cela-cela jendela kamarnya. Ahh… Siapa yang membuka Gorden Kamarnya pagi-pagi seperti ini..? Mama..? tidak, itu tidak mungkin Mama, Mamanya hanya akan masuk kedalam kamarnya ketika dirinnya sudah bangun dan keluar dari kamarnya.
Apa Aaron..? Ahh tidak mungkin juga, Anak itu kan masih di luar negri. Akhirnya dengan Kesal Brandon bangun dari tempat tidurnya. Dengan sedikit menyeret langkahnya Brandon mulai masuk kedalam kamar mandi. Ada yang berbeda dengan kamar mandinya. Ada dua handuk yang satu berwarna biru tua, yang satu berwarna merah muda. Punya siapakah handuk tersebut..? Brandon menggelengkan kepalanya tak menghiraukan tentang handuk tersebut. Dia beralih kearah Wastafel untuk menggosok gigi. Lagi-lagi dirinya dikejutkan dengan adanya dua sikat gigi dalam satu wadah. Dua Gelas lucu untuk berkumur, dan juga ada beberapa Cream yang diyakini sebagai Cream untuk wanita.
Apa ada yang menjailinya saat ini..? Apa dirinya sedang dikerjai atau sesuatu..?
Dengan tergesa Brandon kembali keluar dari kamar mandi dan baru menyadari jika keseluruhan dekorasi kamarnya berubah menjadi warna Pink. Apa-apa’an ini..? Pikirnya kemudian. Bahkan di ujung kamarnya pun terdapan Boks Bayi yang terlihat masih baru belum di gunakan. Boks Bayi..? Apa dirinya salah masuk kamar tadi malam..?
Brandon akhirnya keluar sambil memanggil-manggil Mamanya. Mama yang sangat di sayanginya.
“Mah… Mama… kenapa kamarku….” dan Brandon tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika mendapati Mamanya sedang memasak dengan seorang wanita di dapur mereka, sedang Papanya sedang membaca koran dengan santainya. Siapa wanita itu..? Tanya Brandon dalam hati tanpa menghilangkan rasa penasarannya.
Brandon mendekat kearah Mamanya dan wanita tersebut yang posisi mereka saat ini membelakangi Brandon. Nessa akhirnya membalikkan badannya mendapati Putra pertamanya dengan Raut bingung.
“Sayang.. Kamu sudah bangun.. padahal tadi istri kamu sudah bangunin kamu sejak jam tujuh tadi loh…” Kata Nessa, ibunya, sambil membawa beberapa maskan ke meja makan.
Istri..? istri yang mana.? Brandon bahkan merasa tak pernah menikah sebelumnya.
“Heii… kamu sudah bangun..?” Tanya suara lembut dari sosok wanita yang kini sudah menghadap kearahnya. Sosok wanita dengan wajah cantiknya yang selama ini menghiasi mimpi-pimpi dan fantasinya.
“Angel..” tanpa sadar Brandon menyebutkan nama wanita tersebut.
“Iya sayang… Aku tadi sudah bangunin kamu tapi kamu nggak mau bangun. Aku lapar, anak kita juga.” Kata wanita yang di sebut Brandon dengan nama Angel tersebut sambil mengusap perutnya yang sudah besar.
“Anak..?” Tanya Brandon masih dengan raut bingung.
“Iyaa… anak kita…” kata wanita tersebut meyakinkan.
“Sudahlah Kak… Kak Angel nggak usah ngurusin Brandon lagi, mendingan ngurusin aku.” Itu suara si Bandel Aaron. Tunggu dulu, Kenapa Aaron ada disini.? Semuanya jadi tidak masuk akal untuk Brandon.
“Aaron.” Kata Dhanni meralat ucapan anaknya. Yaahh.. Aaron memang lebih suka memanggil Brandon hanya sebutan namanya saja, tanpa embel-embel Kakak dan sebagainya.
“Iya Pah.. Kak Brandon.” Aaron membbenarkan perjkataannya dengan sedikit kesal.
Brandon tak menghiraukan Aaron dan keluarganya lagi, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah wanita dihadapannya, bagaimana wanita ini bisa begitu nyata di hadapannya, menjadi istrinya dan mengandung anaknya..? itu.. sepertinya tidak mungkin.
“Bisa kita bicara sebentar.?” Tanya Brandon pada wanita tersebut.
“Mau bicara apa.?”
“Kita kekamarku dulu.” Kata Brandon sambil menarik tangan wanita tersebut. Ya tuhan.. bahkan tangan itu terasa nyata dalam genggaman tangannya.
Brandon menutup pintu kamarnya dan mulai menatap tajam kearah wanita tersebut. Mengamatinya, mendekatinya pelan-pelan.
“Bagaimana kita bisa menikah.? Dimana kita saling kenal, dan astaga.. Bagaimana mungkin kamu nyata..?” tanya Brandon dengan sedikit frustasi.
“Kamu nggak ingat sama sekali..?” tanya wanita itu dengan lembut. Brandon hanya menggeleng pasti. Yaa.. dirinya sama sekali tak ingat apa-apa, dirinya hanya mengingat jika wanita di hadapannya ini adalah wanita misterius yang menghiasi mimpinya selama lima tahun terakhir.
“Mungkin ini akan mengingatkan Kamu.” Kata wanita tersebut sambil merangkulkan lengannya keleher Brandon lalu mendaratkan bibir penuhnya kepada bibir Brandon. Ciuman tiba-tiba itu benar-benar mengejutkan untuk Brandon. Ciuman yang sangat intens dan begitu terasa nikmat untuknya. Brandon kini bahkan memeluk tubuh wanita tersebut, membalas ciumannya, menikmati rasanya. Hingga rasa tersebut berubah sangat cepat menjadi Gairah. Brandon menginginkannya.
Dengan terengah Brandon melepaskan pangutannya. Menatap wajah merah padam dari wanita dihadapannya tersebut. “Angel…” kata Brandon dengan parau penuh gairah.
“Apa Kamu sudah mengingatku.?” Tanya wanita tersebut dengan lembutnya.
Namun belum sempat brandon menjawab, tiba-tiba wanita tersebut sedikit demi sedikit mengabur, tubuhnya mulai bercahaya, sedikit demi sedikit menjadi lebih terang lagi hingga Brandon tan mampu melihatnya.
“Angel..” Panggil Brandon ketika tubuh wanita tersebut sedikit demi sedikit menghilang dari pandangannya.
“Angel…” Lagi-lagi Brandon memanggil wanita tersebut kali ini sedikit lebih keras. Tapi ketika cahaya itu hilang dan ketika Brandon dapat mebuka matanya dengan sempurna, Brandon mendapati dirinya sendiri di tengah ruangan tersebut.
“Angel… Kamu dimana..? Kamu dimana Sayang.?” Teriak Brandon sambil mencari-cari sosok yang sangat diinginkannya tersebut.
“Angel… Angel….”

 

“Angellllllll………” Teriak Brandon sambil terduduk lengkap dengan keringat dinginnya. Nafasnya menggebu, matanya merah melebar. Brandon sadar jika dirinya baru bangun dari mimpi dalam tidurnya.
Ahh… Sial.. Mimpi itu lagi. Umpatnya dalam hati.
Lalu Brandon kembali membaringkan Diri di ranjangnya, menatap jauh pada langit-langit kamarnya. Brandon meraba Dadanya. Mimpi itu terasa begitu nyata.. jantungnya bahakn masih berdetak lebih cepat seakan ingin melompat dari tempatnya. Belum lagi rasa kehilangan saat melihat wanita tersebut menghilang begitu saja, benar-benar sangat menyakitinya tepat di dadanya. Apa ini..? Kenapa seperti ini…
Brandon memijit pelipisnya. “Angel… Apakah kamu nyata..??” Lirih Brandon sedikit tak terdengar.

 

-TBC-

 

Ehhhmmm test.. test… gimana nihh prolognya.. ada yg penasaran nggak nih… aku tau pasti kalian sedikit bingung ama nii prolog… yaa maklum yaa karena baru prolog hahhaa jadi masih banyak misterinya… ok selamat menunggu chapter selanjutnya yang mungkin aga telat postnya karena aku jga harus ngbut nulis MBE nya Hana& Mike.. hehheh bye.. byee….

please Stay With Me – Chapter 15 (End)

Comments 8 Standard

pswm-1Please Sty With Me

NB: Maaf bgt kalo ending kurang greget dan nggak sesuai ama harapan kalian,, tapi aku bahagia bisa nyeleseikan kisah cinta sedih ini dengan sebaik-baiknya. makasih buat yang sudah mau baca dari awal hingga akhir, kasih dukunga berupa Like / Coment.. aku seneng bgt setidaknya kisah ini ada yang mau baca apalagi ada yang mau nangis gara-gara Baper.. hehheheeh ok langsung saja…

Chapter 15

-Author-

 

-jika mendapat akhir yang bahagia harus kehilangan banyak Air mata, Maka aku Rela melewati jalan tersebut..-

 

Revan benar-benar memucat dengan kata-kata yang diucapkan istrinya tersebut. Dara meminta untuk berpisah dengannya..? Apa wanita ini tak salah bicara..? Pikir Revan kemudian. Tangis pecah Dara membuat Revan bangkit lalu memeluk dara erat-erat.
“Dara.. Jangan bicara seperti itu..” Kata Revan yang kini sudah menarik Dara dalaam pelukannya.
“Aku tidak bisa lagi Mas… Aku lelah.. aku ingin mengakhiri semua ini selagi aku bisa.”
“Aku tidak ingin meninggalkanmu, Dan aku tak akan pernah meninggalkanmu..” Kata Revan dengan tegas.
“Aku ingin sembuh Dari Luka ini Mas.. Lepaskan Aku… Kumohon.” Dara Masih menangis dalam pelukan Revan. Dara bahkan merasakan punggung lelaki itu bergetar. Mungkinkah Revan juga menangis karenanya..?
Revan melepaskan pelukannya, menatap dara dengan Mata basahnya. “Kumohon Dara.. jangan paksa Aku… kita bisa memulainya dari awal, demi anak kita.” Revan memohon.
Dara hanya menggelengkan kepalanya. Tak ada kesempatan lagi untuk Revan. Dirinya selama ini sudah mencintai Revan sepenuh hati, tanpa menuntut balasan, namun entah kenapa Kehadiran bayi yang dikandungnya kini membuat semuanya berbeda. Dara merasa jika dirinya kini juga butuh di cintai, tak hanya tanggung jawab tapi benar-benar cinta yang tulus. Sedangkan Dara tau jika Revan mungkin saat ini tidak bisa memberikan Hal itu padanya.
“Dara..” Kata Revan sambil menangkup pipi Dara.
Lagi-lagi Dara menggeleng. “Aku tidak bisa Mas.. Aku terlalu lelah.” Lirih Dara.
Revan menyadari jika dirinya kini tak memiliki kesempatan lagi. Yahh… ini memang sudah salahnya, sudah sewajarnya Dara pergi meninggalkannya setelah apa yang sudah dia lakukan selama bertahun-tahun pada diri Dara. Tapi kenapa pada waktu seperti ini..? kenapa Pada saat dimana Revan benar-benar menyadari jika tak ada wanita lain selain Dara yang benar-benar dia inginkan dalam hidupnya..? Apa ini yang disebut dengan karma karena telah menyia-nyiakan orang yang mencintainya hingga orang itu pergi meninggalkannya..??
Revan menempelkan keningnya pada kening Dara, Menelusuri wajah itu, wajah yang mungkin saja sebentar lagi tak menjadi miliknya lagi. Nafas mereka saling bersahutan, Revan menyentuh bibir Dara dengan ibu jarinya.
“Aku ingin menciummu untuk terakhir kalinya.” Lirih Revan.
Dara hanya memejamkan matanya, mengisyaratkan jika dirinya mengijinkan Revan untuk menciumnya. Yah… setidaknya Ciuman ini nanti akan menjadi ciuman manis yang dapat mereka ingat nantinya.
Dengan perlahan Revan menyentuhkan bibirnya pada bibir Dara, lembut, sangat lembut. Mengigatkan Revan dengan ciuman pertama Mereka. Revan mulai memangutnya, melumatnya lembut penuh dengan dengan kasih sayang, Revan ingin Dara dapat merasakan Cintanya lewat Ciuman manis ini. Keduanya hanyut dalam suasana, hanyut dalam perasaan yang menyesakkan Dada, Hanyut dalam Cinta yang tak terucap.
Dara sudah tak kuat dengan semua ini, dia tak lagi menahan tangisnya. Isakannya membuat Ciuman Revan terhenti. Ternyata Revan juga ikut menangis bersamanya.
“Heii jangan menangis lagi.. Baiklah.. kita akan berpisah, asal Kau tidak menangis lagi. Jaga anak kita, Dan Kau Harus sembuh.” Kata Revan mengusap Air mata di pipi Dara. Ya… bahkan saking Cintanya dengan Dara, Revan Rela meninggalkan Dara demi kebahagiaan Dara sendiri. Revan Rela melepas Wanita yang entah sejak kapan menjadi Poros hidupnya tersebut. Entah Revan nanti dapat menjalani harinya dengan normal atau tidak Revan sendiri tak tau, Yang Revan tau Kini dirinya harus membahagiakan Dara walau itu dengan Cara meninggalkannya Dan membuat dirinya sendiri kesakitan seumur hidup karena tak bisa memiliki Dara.
Dara tertegun dengan Perkataan Revan. Kenapa lelaki ini sangat mudah sekali menyetujui permintaannya.?
“Kita akan berpisah secara baik-baik.” Tambah Revan lagi. Dan entah kenapa kata-kata itu tepat menusuk di jantung Dara. Dara merasa sakit saat Revan mengatakan kata ‘Berpisah’. Bukankah tadi dirinya yang menginginkan perpisahan ini..?
Revan lalu membenarkan letak rambut Dara yang sedikit berantakan. “Hiduplah dengan bahagia… Jadi aku tak menyesal melepaskanmu.” Kata Revan Lagi. Dara masih tak dapat berkata sepatah katapun.
Revan mengehembuskan Nafas panjang lalu belihat jam tangannya. “Sudah Terlalu sore. Aku akan kembali pulang. Aku akan mengunjungimu lagi nanti.” Kata Revan lalu mengecup kening Dara.
Entah saampai kapan Dara berdiri membatu seperti sekarang ini. Revan sudah tak berada lagi dalam kamarnya. Dan itu membuat Dara Hampa.. bukankah ini keinginanya untuk berpisah dengan Revan…???

***

Revan turun dari tangga menuju kedapur tempat Ibu Dara memasak.
“Lohh Nak Revan sudah turun.” Sapa Ibu Dara pada Revan.
“Emm iyaa bu.. Saya.. Saya ada urusan mendadak. Apa saya boleh menitipkan Dara beberapa Hari ini kepada Ibu.?”
Ibu Dara mengernyit heran. Bukankah tadi Revan berkata jika dirinya akan menemani dara disini.? Kenapa saat ini Revan malah akan meninggalkan Dara..?
“Tenang saja Nak Revan.. Dara akan baik-baaik saja dengan ibu Kok.”
Revan tersenyum lega. “Baiklah Bu.. saya pamit undur diri dulu.”
“Loh… Nak Revan tidak ikut makan Malam.? Ibu masak banyak Nak.”
Revan pura-pura melihat jam tangannya. “Emmm sepertinya tidak Bu.. takut Terlambat Bu..” Jawab Revan Berbohong.
“Baiklah… Hati-hati nak..” Kata Ibu Dara dengan lembut. Revan lalu bersalaman dengan mencium tangan ibu Dara seperti mencium tangan ibunya sendiri. Ibu Dara tau jika saat ini dara dan Revan ada masalah, terlihat jelas pada sorot mata sedih dari Revan.
“Nak Revan..” panggil ibu Dara ketika Revan akan masuk mobilnya. “Kalau ada masalah, bicarakan dengan kepala Dingin Nak.. Nak Revan tau kan keadan Dara saat ini belum stabil. Jadi sementara ini banyak-banyaklah mengalah.” Nasehat Ibu Dara.
“Iya Bu.. saya mengerti.” Kata Revan sambil tersenyum.
Revan lalu masuk kedalam mobilnya, tersenyum pada ibu Dara dan mulai menjalankan Mobilnya. Sedangkan Dara yang melihat pemandangan di luar jendelanya tersebut hanya mampu menangis dari dalam Kamarnya. Ohh Revan yang sangat dicintainya kini sudah lepas dari tangannya, bukan lepas karena pergi tapi karena dirinya sendirilah yang melepaskannya dengan suka rela. Apa nanti dirinya Mampu hidup tanpa Revan..?

***

Revan memijit pelipisnya karena rasa pusing yang menderanya beberapa hari ini. Yahh tentu saja, beberapa hari ini dirinya susah sekali tidur, susah makan dan susah semuanya. Semua itu karena pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Dara.
Ini sudah Tiga bulan setelah Revan pergi dari rumah Dara, dan sejak saat itu Revan belum pernah mengunjungi Dara lagi Revan Hanya menghubungi Ibu Dara, untuk memastikan Keadaan Dara. . Apa yang dilakukan dara saat ini.? Apa dia juga merindukan Revan seperti Revan merindukannya.? Apa Dara Juga susah tidur seperti Revan yaang kurang tidur akhir-akhir ini.? Mengingat pertanyaan itu membuat Revan semakin pusing.
“Rev… Kau masih disini.?” Tanya Mike yang kini sudah maasuk kedalam Ruangan Revan.
Revan mengangguk. “Ada apa Mike.?”
“Kupikir Kau ketempat Dara. Rev… Dara membutuhkanmu seharusnya Kau disana Saja.”
Revan menggeleng. “Dia ingin berpisah.”
Mike terkejut dengan perkataan Revan. “Dan Kau menurutinya.?”
Revaan mengangguk.
“Bodoh. Apa hanya seperti ini Cintamu pada Dara.?”
“Kau pikir aku harus melakukan apa Mike.? Dia berjanji akan sembuh dan hidup bahagia jka aku meninggalkannya.”
“Dan Kau percaya perkataannya..?” enRevan Hanya menganguk. “Ayolah Rev.. Buka Matamu, Dara hanya perlu pembuktian darimu jika Kau benar-benar menyayanginya.”
“Aku membuktikan itu dengan meninggalkannya Mike, aku mencintainya hingga aku Rrela meninggalkannya demi dia bisa hidup bahagia.”
“Dan jika Dia tidak hidup bahagia, bukankah pengorbananmu ini sia-sia.? Rev… Yang aku percayai adalah jika aku mencintai orang maka aku harus mendapatkan orang itu bagaimanapun caranya, aku bahkan tak peduli jika aku harus menghianati janjiku di makam adikku sendiri demi bisa hidup bersama dengan Hana, karena aku mencintainya Rev…”
“Lalu aku harus berbuat apa, aku juga tak ingin berpisah dengannya.”
“Berusaha Rev.. yakinkan dia jika Kau Sudah berubah, jika Kau hanya mencintainya.”
“Kau yakin itu bisa berhasil.?”
“Hati Wanita sangat lemah,” Kata Mike dengan tersenyum. “Aku yakin kau bisa meluluhkan Hati Dara kembai seperti aku meluluhkan Hati Hana untuk kedua kalinya.”
Kali ini revan ikut tersenyum. “Itu Karena Kau lelaki perayu.”
“Setidaknya aku merayu Orang yang benar-benar kucintai.” Kata Mike Pasti.
Yaa… perkataan Mike benar juga. Cinta Tak harus memiliki..? Peribahasa apa itu. Jika Cinta kita harus berusaha memilikinya. Kenapa Harus menyerah saat masih bisa berusaha. Akhirnya dengan semangat Revan memutuskan untuk mengejar Dara kemmbali.

Dara… Selama ini kau yang selalu mengejarku, berusaha membuatku jatuh cinta padamu.. tapi kali ini, Biarkan aku yang mengejarmu.. biarkan aku membuatmu jatuh cinta padaku lagi hingga kita bisa bersatu kembali seperti dulu…

***

Dara Duduk dengan wajah sendunya di depan jendela kamarnya. Menatap jauh pada hamparan perkebunan teh yang terlihat sejuk dan Rimbun dalam pandangannya. Entah ini sudah berapa bulan Dara berada di dalam Rumah ibunya, Tanpa Revan Disisinya..
Sesekali dara mengusap perutnya yang kini sudah sedikit berbentuk. Mungkin usianya sudah empat bulan atau mungkin lebih, Kenapa Mas Revan tidak pernah Kemari..? Kenapa dia tak mengunjungiku seperti janjinya..? Lagi-lagi Dara menangis saat mengingat semua tentang Revan. Ahh.. kenapa mencintai bisa sesakit ini..?
Sungguh, beberapa bulan hidup jauh dari Revan, Dara menyadari jika dirinya benar-benar tak bisa jauh dari lelaki tersebut. Lelaki yang sudah menjadi Gravitasinya untuk menahannya di bumi ini. Lelaki yang sudah seperti udara yang membuatnya bisa tetap hidup hanya dengan menghirupnya saja.
Tapi kini lelaki itu pergi karena dirinya yang meminta. Gravitasi itu menghilang seakan membuat Hidupnya kini terombang-ambing tak jelas arah, tak ada yang menahannya.. Udara itu pergi, seakan membuatnya sesak, tak mampu bertahan tanpa bernafas..
Dara menenggelamkan Wajahnya pada lengannya, menangis terisak disana. Ya tuhan… kenapa begini.? Jika ini hanya karena cemburu pada orang yang sudah meninggal seharusnya dirinya tak melepaskan Revan begitu saja. Tapi mengingat Revan selalu mengunjungi makam sang kekasih entah kenapa membuat Dara Sakit. Ini bukan hanya sekedar Cemburu…. ini terlalu rumit untuk di jelaskan…
Tiba-tiba Dara merasakan sebuah tangan besar mengusap permukaan Rambutnya. “Heii… kenapa Disini.? Kau bisa masuk angin jika terlalu lama disini.” Suara itu sontak membuat Dara mengangkat Wajahnya. Suara yaang sangat dia Rindukan.
“Mas Revan.”
“Yaa.. aku disini..” Kata Revan dengan tersenyum. Revan lalu duduk berjongkok dihadapan Dara. “Kenapa Menangis lagi, Bukankah Kau berjanji tak akan menangis lagi setelah aku meninggalkanmu.?” Tanya Revan dengan mengusap air mata Dara.
“Aku tidak menangis, Mataku hanya terkena Angin, makanya merah dan berair.” Kata Dara sambil memalingkan Wajahnya.
Revan tersenyum mendengar pernyataan Dara. “Bagaimana keadaannya.?” Kali ini Revan bertanya sambil mengusap perut dara yang terlihat lebih besar dari pada terakhir mereka bertemu. Revan lalu mengecup perut Dara dengan lembut. “Aku merindukan Kalian.” Kata Revan sedikit serak.
Dan Dara tak bisa menahan diri lagi. Dipeluknya Revan dengan Erat, Tangisnyapun kini pecah. “Aku juga merindukanmu Mas..” kata Dara di sela-sela tangisnya.
Mereka berpelukan cukup lama, sambil sesekali terisak. Revan lalu melepaskan pelukannya. “Jangan menangis lagi.” Kata Revan kemudian.
“Kau jahat.. Kau meninggalkanku.”
“Kau Yang memintaku untuk meninggalkanmu Dara.”
“Aku hanya meminta, bukan berarti Kau harus menurutinya.”
“Aku hanya ingin membuatmu Bahagia Dara, Maka dari itu aku melakukan apapun yang Kau minta meski itu sebenarnya Menyiksaku.” Kata Revan dengan Lirih.
Dara kembali memeluk Revan. “Jangan tinggalkan aku lagi.” Kata dengan sesenggukan.
“Kau ingin kita kembali bersama.? Melupakan perpisahan kita.?” Tanya Revan lagi.
Dara melepaskan pelukannya. Wajahnya kini menunduk, perasaannya tak menentu. Dia tak ingin Revan meninggalkannya tapi disisi lain Dia tau bahwa dirinya akan sakit jika selalu melihat lelaki yang dicintainya masih mencintai wanita lain.
“Aku.. aku hanya tidak ingin Kau meninggalkanku Mas.. Bukan berarti aku menerimamu lagi.” Kata Dara pelan.
“Laalu bagaimana caranya supaya Kau menerimaku lagi.?”
Dara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tau.”
“Apa Kau masih mencintaiku.?” Tanya Revan penuh harap.
“Perasaanku tidak akan berubaah untukmu Mas.. Hanya saja…”
Revan menangkup pipi Dara. “Dara, aku tau Kau masih Ragu padaku. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk membuatmu kembali dalam pelukanku lagi. Aku tidak akan bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu karena bagiku tak ada pembuktian untuk Cinta, Aku hanya ingin Kau merasakannya, Merasakan bahwa aku benar-benar mencintaimu melebihi apapun yang ada didunia ini.”
“Kau serius dengan ucapanmu.?”
Revan mengangguk Pasti. “Mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin suatu saat nanti Kau akan mengerti bagaimana Dalamnya cinta ini untukmu.”
Dara menelan ludahnya dengan susah payah, dirinya harus menanyakan pertayaaan ini sebelum dirinya memulai kembali dengan Revan.
“Mas… Bagaimana dengan Lita.?” Tanya Dara takut-takut.
“Lita..? Ada apa dengannya.?”
“Emm.. bukankah kau Mencintainya hingga kini.?”
Revan tersenyum pada Dara. Mengusap lembut pipi Dara. “Jadi karena Lita Kau seperti ini.? Kupikir semua ini Karena Manda.” Revan lalu menghela nafas panjang dan mulai bercerita.
“Aku mengenal Lita dan Manda beberapa tahun yang lalu. Mereka baik. Lita Gadis yang ceria tapi sedikit agresif, aku suka itu. Dia baik kepada semua orang dan tak jarang membuatku cemburu buta. Aku mencintainya, sungguh sangat mencintainya, tak ada yang lain selain dia. bahkan ketika aku mendapati foto-foto sialan itu, aku masih tetap mencintainya. Rasa Cintaku semakin besar karena bercampur dengan penyesalan saat aku mendapati jika Lita tidak bersalah. Semuanya bahkan semakin dalam Saat aku mengetahui bahwa Lita meninggal karena patah hati denganku.”
Revan memejamkan matanya lama, seakan mengungkit kembali luka lama yang sudah kering karena berjalannya waktu.
“Lalu Kau datang dengan segaa Cintamu untukku, aku memang tak pernah memandangmu ada, tapi aku tidak bisa memungkiri jika secara tidak langsung kau menarikku kembali dalam Dunia nyata ini, Kau mengobati sedikit demi sedikit lukaku hingga mengering, kau masuk secara perlahan-lahan kedalam hatiku tanpa aku mengetahuinya.”
“Mungkin dulu aku pernah bilang jika aku mencintai Lita, Cinta yang abadi hingga aku mati menyusulnya, tapi sekarang aku menarik kata-kata itu, Tidak ada Cinta abadi untuknya Dara. Cintaku padanya sudah terhenti ketika aku memutuskan untuk memulainya dari awal bersamamu.” Revan lalu membawa telapak tangan Dara pada dadanya. “Mungkin disini masih sedikit ada Lita, Tapi demi tuhan Jika Kaulah pemilih Hati ini Dara, hanya Kau yang memilikinya.”
Revan lalu berdiri mengambil seikat bunga mawar Merah dan sebuah kotak besar berpita yang dibawanya tadi dan di taruh sembarangan di atas ranjang Dara.
Revan kembali berlutut di hadapan Dara. “Apa Kau tau jika aku selalu memberikan Lita bunga Mawar Merah berjumlah delapan tangkai..? Dia pernah bilang bahwa angka Delapan adalah angka yang selalu bersambung dan tidak memiliki titik putus, Biasa disebut dengan angka keabadian. Bunga mawar Merah delapan tangkai bagi kami adalah simbol Cinta yang abadi dan tak pernah putus. Tapi mulai hari ini, aku akan memberikan bunga-bunga ini untukmu dengan harapan Cinta kita akan abadi selamanya. Apa kau mau menerimanya.?”
Dara menitikan air matanya kembali, tak menyangka jika Revan akan berkata semanis ini terhadapnya. Dara menganggukkan kepalanya, lalu menerima Bunga dari Revan tersebut.
“Jangan menangis lagi. Aku disini bersamamu.” Revan manghapus airmata Dara.
“Aku menangis bahagia Mas..” lalu dara memeluk Revan lagi. Ahh rasanya tak akan pernah bosan untuk memeluk lelaki ini. Lelaki yang sangat dicintainyaa, dirindukannya dan diinginkannya.
“Heii.. aku punya satu lagi hadiah untukmu.” Kata Revan smbil menyodorkan kotak besar berpita terssebut di tangannya.
“Apa ini.” Kata Dara menerimanya dan membuka kotak tersebut. Ternyata isinya adalah Coklat. Coklat kesukaan Dara. Dulu saat masih berteman Akrab, Ketika Dara menangis karena jatuh atau di ejek teman-temannya, atau saat Dara marah dan Merajuk, Hana dan Revan memberikan Dara Coklat seperti ini hingga Dara kembali tersenyum lagi seperti sedia kala. Dara menutup mulutnya tak percaya jika Revan masih mengingat cemilan kesukaannya ini. “Mas Revan masih ingat.?”
Revan Tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sesungguhnya aku sudah Lupa, Hana Yang menyuruhku membawakan Coklat itu untukmu.” Kata Revan tersenyum menyeringai.
Ohhh lelaki ini benar-benar sangat manis. Pikir Dara. Walau ini Hana yang menyuruhnya tapi tetap saja perasaan Dara berbunga-bunga tiada Henti.
“Dara.. Kita pulang kerumah Yaa…” Ajak Revan kemudian.
Dara lalu mengangguk dengan pasti. Yah… setidaknya Dara kini mengerti bagaimana isi Hati Revan sesungguhnya. Bagaimana perasaan Revan padanya. Dara tau, melupakan masalalu bukanlah hal yang mudah, apalagi masalalu tersebut berhubungan dengan orang yang kita cintai. Dara hanya akan berusaha membantu Revan supaya bisa lepas dari bayang-bayang masalalu tersebut, dan mengukir Cerita indah untuk masa depan mereka nantinya.

***

Saat pulang kerumah, Revan membelokkan mobilnya kesebuah arah yang diyakini Dara adalah arah ke pemakaman Lita. Untuk apa mas Revan membawaku kemari..? Pikir Dara kala itu.
Revan yang melihat ekspresi Dara langsung menjelaskan kenapa mereka datang bekunjung kemakam Lita.
“Kau tentu mau menemaniku kesana bukan..? Kita temui dia bersama.” Kata Revan sambil mengecup punggung tagan dara. Dara hanya mengangguk meski hatinya sedikit tidak enak ketika harus kembali menginjakkan kaki di makam Lita.
Sebelumnya mereka pergi ke toko bunga yaang tak jauh dari kompleks pemakaman tersebut, tokoh bunga yang sama dengan pedagang yang sama.
“Bunga mawar atau bunga Lili pak..?” Tanya si penjaga Toko tersebut seakan tau apa yang akan dicari Revan.
“Lili putih.” Kata Revan kemudian sambil melirik kearah Dara.
Sang penjual bungapun menyiapkan pesanan Revan, lalu tak lama kembali dengan seikat Lili putih pesanan Revan. Setelah membayar Revan bergegas pergi dengan Dara menuju makam Lita.
“Penjual bunga itu rasanya akrab dengan Mas Revan, diaa tau Mas Revan ingin memesan apa.” Kata Dara sedikit heran.
“Dia langgananku ketika aku mengunjugi makam lita sejak beberapa tahun yang lalu. Aku selalu memesan mawar Merah untuk makam Lita. Dan sejak kau di Rawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, Aku mengganti bunganya dengan lili putih.”
“Kenapa.?”
“Karena Mawar merah untuk dirimu.” Kata Revan yang masih tak dimengerti Dara. Daara ingin bertanya lagi tapi mereka sudah sampai di depan Makam Lita. Disana sudah ada Seikat Mawar juga. “Mungkin Mike dari sini.” Kata Revan sambil berjongkok dan menaruh Lili putihnya di sebelah Mawar tersebut.
“Hai Lita.. kita bertemu lagi..” Revan mulai berkata-kata. “Kali ini aku mengajak Istriku Dara, Wanita yang selalu kuceritakan denganmu.” Dara mengernyit mendengar perkataan Revan.
“Dara sedang hamil, Dan aku janji akan selalu menjaganya, aku tidak akan mengulangi kesalahan bodohku untuk kedua kalinya.”
Revan mengambil nafas panjang sambil memejamkan matanya lalu mulai berkata lagi. “Kau pasti heran kenapa akhir-akhir ini aku memberimu Lili putih. Maafkan aku Lita, karena kini aku sudah benar-benar berpaling Hati untuk wanita disebelahhku. Tidak akan ada mawar merah lagi untukmu, karena Cintaku benar-benar sudah berakhir untukmu. Lili putih simbol dari persahabatan, kuharaap Kau mau menjadi sahabat terbaik dihatiku.”
Mendengar pernyataan Revan, Dara langsung memeluk Revan, entah kenapa dara ingin menangis. Terharu bercampur aduk menjadi satu, ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan jika Revan benar-benar mencintainya, tak ada lagi wanita lain selain dirinya.
“Lita, aku juga minta Maaf..” Kata Revan lagi. “Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku kemari. Aku harus mellangkah maju tanpa Bayang-bayangmu. Jadi maafkan aku..” Kata Revan lagi.
“Mas… kau tak perlu melakukan ini.” Kata Dara cepat.
“Tidak dara. Aku harus melakukannya. Aku tidak bisa selalu berputar pada pusaran masalalu yang kubuat sendiri. Aku harus mengakhirinya saat ini juga.” Kata Revan dengan Pasti.
Dara tidak bisa menjawab lagi perkataan Revan, karena apa yang dikatakan revan ternyata benar. Mereka tidak bisa selalu hidup dalam bayang bayang seorang Lita.
Setelah lama berbicara dimakam Lita, akhhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Revan menatap Makam Lita untuk terakhir kalinya. ‘Terimakasih Lita… terimakasih karena pernah hadir dalam hidupku, terima kasih karena pernah menjadi kekasih hatiku… mungkin hati dan cintaku sudah berpaling darimu, tapi aku tidak akan pernah melupakanmu, Terimakasih…’ Kata Revan dalam hati sambil tersenyum.

Darapun demikian. Dara menatap Makam Lita untuk terakhir kalinya. ‘Aku mungkin tidak pernah mengenalmu Lita, tapi aku tau Kau wanita yang baik, Terimakasih karena sudah menjaga Hati Mas Revan selama ini hingga dia bisa menjatuhkan pilihannya untukku. Aku janji akan selalu menjaga dan membahagiakannya selama sisa hidupku hingga nanti saat kita bertemu kembali dialam lain, aku akan mengembalikannya padamu. Terimakasih atas kesempatan yang kau berikan padaku ini Lita…’ Kata Dara dalam Hati sambil sedikit menitikan air matanya.

Dara dan Revan lalu kembali pulang dengan bergandengan tangan bersama. Mereka tau jika hidup mereka yang sebenarnya baru dimulai, akan ada banyak masalah yang menanti untuk mereka. Tapi jika saling percaya dan dihadapi bersama maka masalah tersebut akan mudah untuk dilaluinya.

 

_END_

 

Yahh… udah END deh… BTW masih ada epilognya loh… tunggu sebenktar yaa… heheheh

My Beautiful The Witch – Chapter 1

Comments 2 Standard

MBTW covernewMy Beautiful The Witch

NB : Haaii… heheheh baru sempat Post Chapter 1 Cerita ini hahhaha… BTW karena ini cerita Roman fantasi, jadi mungkin akan Slow Update yaa… soalnya aku benar-benar harus mikir bgt saat nulis, aku harus mendalami baahkan seakaan-akan aku berada dalam dunia tersebut saat nulis cerita ini (jiaahahha lebbay).. ooiyaa karena ini Fantasi jadi aku mohon bgt buat yang baca tolong Kesampingkan Logika Kalian, apapun bisa terjadi dalam ceritaa Fantasi, jadi ssangat wajar kalau cerita Fantasi itu cerita yang sering dibilang sebagai Cerita yang tak masuk akal. ini adalah Roman Fantasi pertamaku, walau aku sudah melihat bayangan Endingnya tapi semoga saja aku bisa membuat Cerita ini hingga kata END. setting dalam cerita ini tergantung dari bayangan para Readers yaa… kalo dalam bayangan author sihh setingnya pada abad pertengahan gitu dan berada di luar negri tentunya. pernah lihat film Hansel&gretel kan…?? karena nuisnya terinspirasi dari film itu, tentu saja aku bayangin Settingnya ada pada jaman seperti itu.. hahhaha okk nggak banyak omong lagi.. enjoy Reading yaa…. karena udah terlalu lama ngepostnya, aku post sekalian Prolognya sapa tau udah lupa ama Prolog yang dulu sempat ku Share….

#Prolog

Pada suatu hari, Ada seorang penyihir yang sangat sakti berkelana kedalam suatu pedesaan. Orang-orang desa tak mengetahui jika Lelaki tersebut adalah seorang Penyihir. Akhirnya dengan penyamarannya sang penyihir tersebut menetap di desa tersebut. Namanya William. Will sangat tampan, hingga sebentar saja dirinya sudah terkenal diantara para wanita di desa tersebut.
Namun sejak awal hati Will hanya terpaku dengan seorang gadis sederhana, Gadis petani penanam sayur yang benar-benar biasa, bernama Maria. Akhirnya tanpa penghalang apapun Will dan Mariapun bersatu. mereka hidup damai bersama bahkan mereka di karuniai seorang putera Yang amat sangat tampan. Robbin William.
Robb benar-benar tumbuh menjadi anak yang tampan. Ketampanannya tentu saja mirip dengan sang ayah, Matanya berwarna kuning cerah, dan dia berkulit putih pucat. Kebahagiaan benar-benar melingkupi keluarga mereka, Hingga pada suatu hari Will menghilang begitu saja, membuat Maria harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Apa lagi ketika sekumpulan orang jahat menyerang mereka, Orang jahat yang sakti.
“Robb.. Pergilah sayang, Bawa ini.. ingat, Jauhi orang-orang yang bermata kuning dan berkulit pucat sepertimu.” Kata Maria kala itu sambil memberikan Robb sebuah tas yang penuh dengan sesuatu didalamnya.
“Tidak ibu.. aku ingin bersama ibu..”
“Pergilah Robb.. Pergilah..”
Robb yang memang tak pernah dikasari oleh sang ibu, akhirnya lari meninggalkan ibunya yang seakan-akan terlihat marah terhadapnya. Hingga saat Robb kembali, Robb sangat menyesali keputusannya yang telah meninggalkan sang ibu sendiri.
Robb menangis dan berteriak Histeris didepan telang belulang sang ibu yang sudah hangus terbakar. Siapa yang elakukan hal keji ini terhadap keluarganya..?? Batin Robb kemudian.

****

Chapter 1

Masuk kedalam hutan yang semakin Lebat, hanya sendiri adalah hal yang tak pernah di fikirkan Oleh Robb selama hidupnya. Ini hanya demi mencari sebuah jamur untuk ramuan penawar racun. Alan, Sahabatnya itu terkena patokan ular yang sangat berbisa. Itu membuat Robb membuka kembali Buku tua besar peninggalan sang Ibu, dalam buku tersebut ada berbagai macam cara membuat Ramuan yang Robb sendiri tak mengerti. Dan untung Saja ada sebuah Ramuan yang di pergunakan untuk penawar berbagai macam Racun. Salah satu bahannya adalah Jamur yang Robb cari saat ini.

Sungguh, Robb sangat ingin menemukan secepatnya jamur tersebut, Robb tak ingin lagi kehilangan orang yang disayanginya.
Alan sudah hidup dengannya selama 20 tahun terakhir. Dia sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Saat itu, Robb tergeletak di tengah Hutan dengan tubuh yang mengenaskan, mungkin karena berlari berhari-hari, makan dan minum seadanya membuat tubuh Robb kelelahan hingga jatuh tersungkur di tengah-tengah tanaman berduri.

Ayah alan yang saat itu sedang mencari kayu di dalam hutan menemukan keadaan Robb yang mengenaskan. Wajah Tampan anak berusia 10 tahun saat itu benar-benar mempesona bagi ayah Alan. Akhirnya ayah Alan membawa Robb pulang untuk di tolong dan di Obati.
Di sanalah Robb pertama kali melihat Alan. Anak lelaki seusianya yang memiliki kebahagiaan sempurna karena memiliki ayah dan ibu yang lengkap dan menyayanginya. Sangat berbeda dengan dirinya yang hanya sebatang kara. Akhirnya Robb hidup bersama dengan alan dan kedua orang tuanya sebagai anak angkat. Robb mencoba melupakan masalalu nya, tentang ayah yang tiba-tiba menghilang dan meninggalkannya, ibu yang menyuruhnya pergi dan saat dia kembali hanya tersisa tulang belulangnya, dan juga orang-orang aneh yang menggunan sapu terbang yang mengejarnya berhar-hari tiada henti.

Kehidupan Robb terbilang sangat bahagia saat itu, hingga 5 tahun kemudian, kejadian itu terulang kembali. Rumah Alan di bakar oleh seseorang saat Robb dan Alan berburu di dalam Hutan. Ayah dan ibu alan Terbakar habis di dalamnya, mengenaskan sama seperti Robb menyaksikan tulang belulang ibunya. Apa ini orang yang sama..? orang-orang aneh yang di katakan ibunya saat itu..??

Sejak saat itu hidup Robb dan Alan menjadi gelandangan tak menentu, mereka berdua tak memiliki rumah, mereka hanya berjalan dari desa ke desa lainnya, menyusuri hutan satu kehutan lainnya, tak ada uang ataupun gandum yang bisa di tukar menjadi makanan, mereka hanya makan beberapa buah buaha dari dalam hutan dan juga berburu beberapa hewan yang bisa dimakan.

Bertahun-tahun hidup dalam pelarian bersama dengan Alan, hingga sekitar delapan tahun yang lalu, saat mereka berdua mempir kesebuah Desa yang cukup besar di sebelah timur pinggiran Hutan, ada sebuah Sayembara untuk menangkap penyihir, barang siapa yang bisa membawa jantung seorang penyihir kepada Kepala desa tersebut, maka dia akan mendapatkan imbalan yang setimpal.

Robb dan Alan tertarik, akhirya mereka banyak bertanya pada warga setempat tentang penyihir yang dimaksud. Penyihir umumnya memiliki mata Kuning cerah dan kulit putih pucat seperti dirinya, biasanya memiliki wajah buruk rupa dan bau tak sedap. Robb menghela nafas panjang ketika mengetahui fakta terakhir itu, dirinya tak memiliki bau tak sedap dan masalah buruk rupa, semua Orang yang menemuinya pasti berkata jika dirinya jelmaan dari seorang malaikat. Namun tentu saja, mata kuning dan Kulit pucatnya cukup menarik perhatian orang-orang yang ditemuinya, tak jarang dirinya di tuduh sebagai penyikir oleh beberapa Orang.

Orang-orang di desa tersebut dan di desa bagian timur lainnya meyakini jika jantung sang penyihir memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Meski tak banyak orang yang mampu memburu penyihir di daerah tersebut. Harga untuk sebuah jantung penyihir sangatlah mahal, makanya tak sedikit orang yang berbondong-bondong memburu penyihir meski mempertaruhkan nyawa sendiri. Robba dan Alan akhirnya mengikuti Sayembara tersebut.

Mereka berhasil. Bukan karena keberuntungan. Tapi karena Buku pemberian Ibu Robb yang selama ini di bawa Robb dan Alan kemanapun mereka pergi. Buku tua yang sangat istimewa. Terdapat berbagai macam cara membuat ramuan aneh, cara membuat senjata Aneh dan juga beberapa bahasa aneh. Alan Dan Robb hanya membuka bagian Cara untuk membuat senjata sederhana yang bagi mereka Aneh. Ternyata senjata tersebut mampu melumpuhkan sang Penyihir yang mereka bunuh dan Ambil jantungnya.

Uang, ketenaran, dan juga penghormatan mereka dapatkan saat mereka kembali dengan Jantung penyihir yang masih berdetak di tangan mereka. Sejak saat itu, Robb dan Alan memutuskan untuk memburu Penyihir.

Bukan hanya karena uang, ketenaran, ataau penghormatan. Ini lebih karena menolong sesama. Sang penyihir-penyihir tersebut ternyata setiap bulan purnama juga menculik seorang manusia untuk dijadikan makanan mereka entah apa itu Robb juga tak mengetahuinya. Yang jelas setiap bulan purnama akan banyak orang menghilang dan ditemukan mati mengenaskan paginya tanpa Jantung pada jasadnya.
Robb dan Alan juga meyakini jika yang membunuh orang tua mereka adalah penyihir-penyihir jahat tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk hidup dalam memburu penyihir-penyihir jahat.

Entah sudah berapa penyihir yang mereka bunuh, entah sudah berapa nyawa yang mereka selamatkan, entah sudah berapa uang yang mereka kumpulkan, mereka tak peduli. Yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana caranya memberantas habis penyihir-penyihir yang setiap hari semakin tak berperasaan tersebut. Alan dan Robb kini juga tak hidup kekurangan seperti pelarian mereka dulu. Mereka hidup dengan serba kecukupan. Tak ada lagi pakaian Compang-camping, tak ada lagi makanan dari hutan. Mereka hidup layaknya orang beruang di daerah tersebut. Mereka bahkan sering menyempatkan diri untuk mampir ke kedai minuman, meminum beberapa minuman yaang mampu memabukkan pikiran, menggoda beberapa Gadis cantik di dalam kedai tersebut, dan tentu saja melaampiaskan hasrat terpendam mereka, bagaimanapun juga mereka adalah dua Sosok Lelaki berusia matang yang memilki gairah menggebu ketika melihat gadis Cantik.

Mereka tetap berkelana berjalan kearah timur. Semakin Ketimur, Nuansa tentang penyihir semakin kuat. Itu tandanya jasa mereka akan semakin di butuhkan. Pada suatu hari ketika mereka mampir di sebuah kedaai minuman, Mereka bertemu dengan gadis cantik mpengantar minuman. Bernama Kamila. Kamila Cantik mampu menarik Hati Alan, Sedangkan Robb masih setia dengan minumannya. Kamila yang saat itu akan di jual pada Seorang saudagar kaya Akhirnya di tebus oleh Alan. Robb sempat tak setuju, namun demi Sahabatnya tersebut akhirnya Robb mengalah. Kamila Akhirnya mengikuti kemanapun mereka pergi hingga kini.

Robb tersenyum saat mengingat masa-masa bersama dengan Alan. Untung saja saat ini ada Kamila yang merawat Alan, jadi dirinya kini bisa mencari bahan untuk membuat penawar racun tersebut. Robb kembali memacu kudanya agar berjalan lebih cepat lagi dan masuk kehutan lebih dalam lagi. Dirinya tak boleh menunda banyak waktu demi keselamatan Alan.

Di tengah-tengah perjalanannya, Robb seperti mendengar Suara Wanita yang sedang meronta. Robb memelankan laju dari kudanya tersebut, menajamkan pendengarannya. Dan suara tersebut semakin jelas terdengar dalam pendengarannya. Suara Wanita yang memohon ampun dan meminta tolong. Suara yang sangat merdu yang hanya mendengarnyaa saja mampu membuat lelaki menean ludahnya karena bergairah.

Robb akhirnya berhenti dan turun dari atas kudanya. Mengikat kudanya di sebuah pohon. Lalu berjalan mengikuti suara tersebut. Dan benar saja, di pinggir sebuah Sungai dirinya melihat tiga orang Lelaki sedang berusaha menjamah tubuh seorang wanita Cantik. Amat sangat Cantik, kulitnya bahkan terlihat bersinar walau posisi Robb saat ini sangat jauh. Baju wanita tersebut terkoyak hingga sedikit menyembulkan buah dadanya yang membuat siapapun yang melihatnya akan ingin menyentuhnya.

Robb mengelengkan kepalanya, Apa yang sedang kau fikirkan Robb..? Tanya Robb pada dirinya sendiri. Akhirnya dengan gagah berani layaknya seorang pahlawan, Robb berjalan kearah 3 Lelaki dan sorang wanita terebut.
“Lepaskan Dia.” Kata Robb dengan dingin.
“Heii.. siapa Kau.. Kau berani dengan Kami.? Jika Kau menginginkan mangsa, carilah yang lain, wanita ini milik kami.” Kata Lelaki bertubuh tinggih besar yang sedang mencengkeram lengan wanita tersebut.
“Aku tak menginginkan yang lain. Aku menginginkannya.” Dan tanpa banyak bicara lagi Robb menghajar satu persatu lelaki yang berada di hadapannya tersebut.

Lama Robb berjibaku saling adu pukul, adu kekuatan dengan para lelaki tersebut. Akhirnya dengan pukulan Terakhir, Robb membuat para lelaki hidung belang tersebut lari tunggang langgang.

Menghembuskan nafas dengan kasar, Robb berjalan menuju kearah Wanita yaang masih duduk lemas penuh luka memar dan cakaran di lengan dan dadanya. Wanita tersebut tampak takut, tangannya berusaha menutupi bagian dadanya yang sedikit terlihat karena baju yang koyak.
Robb mendekati wanita tersebut. “Kau Baik-baik saja.?” Tanya Robb dengan suara Gagahnya.

Wanita itu hanya mengangguk. Robb mengangkat dagu wanita tersebut, menelusuri wajah cantik itu dengan pandangannya. Kulit wanita tersebut telihat putih seputih kulitnya, beralis tebal namun Rapi, Mata lebar dengan iris berwarna Cokelat, bulu matanya sangat panjang dan lentik, hidung yang mancung, serta Bibir yang berwarna Merah delima dengan belahan pada bibir bawahnya. Ohh bibir yang sangat menggoda untuknya. Robb menelan ludahnya dengan sudah payah. Ahh… Sial.. !! seharusnya dia tak memandang wanita tersebut dengan kurang ajar seperti Tadi.
Dilepaskannya wanita tersebut, lalu Robb melepaskan Mantelnya, memberikannya kepada Wanita tersebut.
“Pakai ini, Bajumu tak layak pakai.” Kata Robb yang suaranya kini sudah parau.
“Terimakasih Tuan.” Kata wanita itu pelan. Ahh suara itu benar-benar menggoda untuk Robb.
“Aku Robbin William. Panggil saja Robb. Siapa Namamu.?”
“Ellieora.” Kata Wanita itu pelan.
“Kau dari mana. Kenapa Kau berada dalam hutan lebat seperti ini sendiri.?”
“Aku… emm.. aku..”
“Kau tak memiliki tempat tinggal.?” Tanya Robb lagi.
“Aku memilikinya di sana.” Kata Ellie sambil menuntuk kesebuah Arah. “Aku mencari sesuatu di dalam Hutan.”
“Setidaknya Kau harus mengajak seseorang. Disini tak Aman.” Kata Robb Lagi.
“Tuan..”
“Panggil saja Robb, Aku terlalu muda untuk panggilan tersebut.”
“Robb.. Apa Kau.. Seorang…”
“Penyihir.?” Kali ini Robb melanjutkan pertanyaan Ellie. “Aku manusia biasa Ellie, jika Kau mengira aku penyihir karena Warna Mataku, Kau salah.” Kata Robb sambil tersenyum. “Aku bahkan Hidup untuk memberantas para Penyihir yang berkeliaran di muka bumi ini.” Jawab Robb dengan tegas yang entah kenapa mampu membuat Ellie merinding karena perkataannya tersebut.

__TBC__

Bagaimana Chapter Perdanya…??? Apa Kalian merasa masuk dalam dunia Fantasi author..??? hahhaah belummm ini masih permulaan… kasih komentar kalau kalian penassaran yaa… jangan jadi Silent Readers yaaa… #KissHugFromAuthor :*

My Brown Eye – Chapter 4

Comments 5 Standard

MBE1My Brown Eye

Chapter 4

-Tak Ada Rasa Cinta Tanpa Rasa Sakit yang menyertainya..-

Hana terbangun di pagi hari dengan perut yang mual seperti diaduk-aduk. Berlari kekamar mandi dan mencoba memuntahkan semuanyaa, tapi Nihil, dia hanya Mual dan tak bisa memuntaahkan apapun. Ahhh ada apa dengan dirinya..?
Mike yang mendengar suara Hana segara bangun dan bergegas kekamar Mandi, dimaana Hana berada saat ini.
“Kenapa Sayang..?”
“Aku hanya Mual.”
Mike menegang seutuhnya. “Apa Kau.. Kau hamil..?”
Kali ini giliran Hana yang menegang seutuhnya, Hamil..?? kenapa tak terfikirkan Hal tersebut dalam otaknya..? raut Wajahnya kini berubah menjadi Raut bahagia.
“Astaaga Mike… aku bahkan tak berpikir sampai situ.. Yaaa… mungkin saja aku hamil, ayoo kita membeli Test Kehamilan.” Kata Hana dengan semangat dan meninggalkan Mike yang saat ini masih diam membatu.
Hamil..? itu.. itu berarti Waktunya bersama Hana tak lama lagi. Tapi bukankah itu bagus.? Kenapa dirinya measa ada yang salah disini.?

***

Hana Dan Mike akhirnya kembali ke Apartemen Mike dengan beberapa alat Test kehamilan yang baru saja mereka beli di Apotek terdekat. Hana dengan Raut wajah bahagiia berserinya, sedangkan Mike masih memasang wajah Datar taanpa Ekspresinya.
Hana berlari kekamar mandi dan mencoba semua alat Test kehamilan tersebut, sedangkan Mike dengan gelisah menunggunya di luar. Bagaimana jika Hana benar-benar Hamil.? Bagaimana dia mengakhiri semuanya..?
Tak lama Hana keluar dengan airmata di pipinya. Mike sontak menghampirinya, ingin mengetahui apa yang terjadi
“Ada apa sayang..?”
Hana langsung memeluk tubuh Mike. “Aku tidak Hamil Mike, semua alatnya negatif.” Kata Hana yang entah kenapa sontak membuat Mike menghela Nafas lega.
“Tenang sayaang…Masih ada lain waktu.” Kata Mike menenangka Hana. Sedangkan Hana masih sedikit terisak dalam pelukan Mike.

***

Dara yang sedang bersiap-siap berangkat kekantor tiba-tiba terpaku saat mendapati sosok dihadapannya. Sosok yang berdiri tegak memandangnya dengan wajah datar seperti biasanya.
“Mas Revan..” tanpa sadar Dara menyebut nama lelaki tersebut.
“Pagi Dara.” Revan sedikit melempar sebuah senyuman kepada Dara, ahh senyuman itu, senyuman yang sedikit di rindukan oleh Dara.
“Mas Revan kenapa Kesini pagi-pagi seperti ini.?”
“Aku ingin menemui Hana, Apa dia ada.?”
Dan Dara Sontak memucat saat tiba-tiba Revan menanyakan keberadaan Adiknya tersebut.
“Emm.. itu.. Hana..”
Revan mendekatkan tubuh dan wajahnya kearah Dara, membuat Dara sedikit mundur karena kedekatan yang terjadi diantara mereka.
“Kau gugup, Ada yang Kau sebunyikan Dariku.?”
“Tidak… aku tak menyembunyikan apapun. Hana hanya sudah berangkat terlebih dahulu.”
“Benarkah.?”
“Iya.. aku tak mungkin berbohong padamu Mas.” Kata Dara masih pnuh dengan kegugupan.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu.” Kata Revan yang saat ini sudah membalik badannya dan berjalan menuju Mobil yang terparkir di hadapannya.
Dara menghela nafas Panjang. Akhirnya dirinya bisa menghirup udara Segar setelah tadi sempat menahan nafas karena Gugup dengan kedekatannya bersama Revan, kakak dari sahabatnyaa, Hana.
“Heii… sedang apa Kau disitu.? Ayo.. aku akan mengantarmu kekantor.”
Teriak Revan yang saat ini sudah berada di balik kemudi Mobilnya. Membuat Dara ternganga. Benarkah Revan akan mengantarnya kekantor..?? Astaga… Lelaki itu memang berubah menjadi lelaki pendiam dan dingin sejak beberapa tahun terakhir, namun tentu saja perhatiannya masih sama seperti dulu, meski sedikit berkurang tapi tak mengurangi perasaan Dara terhadapnya. Perasaan..???
***
Dara turun dari Mobil Revan ketika mereka sudah sampai di halaman Kantor tempat Dara bekerja.
“Terimakasih Mas.. sudah mau mengantar.” Kata Dara sopan sambil menganggukkan kepala.
“Lain kali mintalah Kekasihmu menjemput, tak baik jika selalu naik kendaraan umum sendiri.” Kata Revan yang masih nampak dengan wajah datarnya.
Dara hanya mengangguk mengiyakan, padahal hatinya terasa diaduk-aduk tak karuan mendengar perkataan dari Revan tadi. Tak lama Revan pamit pergi, sedangkan Dara merasa seakan-akan kakinya sudah lemas karena terlalu lama dengan lelaki tersebut.

***

Hana heran saat mendapati Dara sedang duduk melamun didalam ruangan kecilnya. Ada apa dengan sahabatnya tersebut. Dara tersenyum-senyum sendiri dan wajahnya seakan merona merah.
“Kau menyembunyikan sesuatu dariku Dara?” pertanyaan Hana membuat Dara sedikit terkejut dan kelabakan.
“Heii.. sejak kapan Kau disitu.?” Tanya Dara sambil membenarkan rambutnya.
“Cukup lama utuk mengetahui bahwa pagi ini Kau sedang berbunga-bunga. Apa yang terjadi denganmu Dara.?”
Dara menggelengkan kepalanya. “Tak ada yang terjadi Hana. Aku hanya sedikit senang.”
“Apa yang membuatmu senang.?”
“Ayolah Hana.. ini hanya rasa senang biasa saja. Dan kenapa Kau keruanganku.? Kau membutuhkan sesuatu.?” Dara mencoba mengalihkan Topik.
“Kata Dini tadi Kau datang bersama dengan Lelaki yang mirip dengan kakaku, apa itu benar.?”
Sontak Dara kembali salah tingkah dengan pertnyaan Hana. Hana yang melihat gelagat Dara langsung menaikan sebelah alisnya sambil berfikir.
“Dara… jangan-jangan Yang membuatmu memerah sejak tadi adalah Mas Revan, Kakakku..?”
Dara sungguh terkejut dengan tabakan Hana yang ternyata tepat pada sasaran.

***

Mike dengan tampannya menunggu seseorang di bandara. Dia adalah Carry Wagner, Tunangannya yang tinggal di Jerman. Akhir-akhir ini Mike memang jarang sekali menghubungi Carry,entah itu karena sibuk atau karena Hana. Mike sendiripun tak tau.
Carry akan tinggal sementara di rumahnya bersama dengan ibunya, mungkin seminggu Carry akan berada disini. Carry dulunya adalah tetangga sekaligus teman kecil Mike saat tinggal di Jerman. Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat. Tapi kemudian ide untuk menikah datang ketika mereka duduk di bangku perguruan tinggi.
Sebenarnya walau status mereka sebagai tunangan, namun hubungan mereka tak lebih dari sekedar berteman. Mike sangat menghormati Carry, begitupun sebaliknya. Tak ada getar-getar aneh yang meliputi Diri Mike saat bertemu dengan Carry tak seperti saat dirinya bertemu dengan Hana.
Ahhh nama itu Lagi. Mengingat namanya saja bahkan membuat Mike sedikit tersenyum. Haruskah dirinya menceritakan tentang Hana kepada Carry..???
Akhirnya Wanita tinggi dan cantik bak model itupun datang dengan penampilan Modis seperti biasanya. Carry bahkan tak canggung lagi dan langsung memeluk Mike yang sudah menyongsongnya, begitupun dengan Mike yang tak canggung lagi langssung mengecup bibir Carry.
“Bagaimana Kabarmu.?” Tanya Mike seraya mengajak Carry keluar dari bandara.
“Baik, aku hanya merindukanmu.” Kata Carry sambil tersenyum.

“Aku juga,.” Kata Mike yang di ikuti dengan mengecup pelipis Carry.

***

Mike dan Carry kini sedang makan siang bersama di sebuah Restoran, bereka banyak bercerita tentang kehidupan masing-masing.
“Mike, Kau sedikit pendiam.” Kata Carry kemudian.
“Benarkah.? Hanya perasaanmu saja.”
“Tidak, Kau memang sedikit pendiam, kau tau.”
Mike tersenyum. “Aku hanya memiliki masa yang sulit.”
“Sesulit apa.?”
“Sesulit tak bisa tidur setiap malam.” Kata Mike dengan jujur.
“Kau merindukanku.?” Tanya Carry dengan nada mengejek yang dibalas dengan tawa lebaar dari Mike.
“Apa Kau bercanda.? Aku tak pernah merindukanmu Carry, Kau lah yang selalu merindukanku.” Dan akhirnya mereka sama-sama tertawa.
“Ada apa Mike, ceritalah. Aku tau Kau memiliki Masalah.” Kata Carry dengan serius.
Mike menghela nafas panjang. “Aku… Aku hanya bingung dengan perasaanku sendiri.”
“Apa maksudmu.?”
“Emm.. Aku.. Sebenarnya aku harus membenci seseorang, tapi sepertinya aku…”
“Kau malah menyukainya..?”
“Tidak.. aku tidak menyukainya, hanya saja aku kasihan terhadapnya.”
“Kalau Boleh aku tau siapa yang ingin Kau benci itu.?”
“Seseorang yang ada hubungannya dengan Lita.”
Carry membelalakkan matanya. “Kau masih saja mengurusi tentang balas dendam konyolmu itu..? Ayolah Mike.. berapa kali aku menasehatimu, Gadis yang ingin kau sakiti adalah gadis yang tak tau apa-apa tentang masalahmu, adikmu dan juga kakaknya.” Jelas Carry.
Carry memang sudah mengetahui semua Rencana Mike, dia hanya tak habis fikir jika Mike akan benar-benar melaksanakan aksi balas dendam konyol tersebut.
“Aku hanya ingin lelaki itu merasakan apa yang aku rasakan Carry.”
“Dan bagaimana jika Kau berhasil lalu Kau juga merasa kehilangan gadis terebut.?”
“Aku tak akan merasa kehilangan dia.”
“Jangan Bohong Mike.”
“Carry, Hubunganku dengan dia hanya murni balas dendam dan Seks, hanya itu.”
“Jangan pura-pura bodoh Mike, kita tau bahwa tak ada istilah Seks tanpa cinta, friends with benefit, atau apalah itu istilahnya, hubungan Seks yang dilakukan berkali-kali dengan orang yang sama tentu akan menimbulkan sedikit perasaan Mike, tak mungkin itu hanya sekedar dendam.”
“Aku tak percaya dengan fakta itu, buktinya aku bisa melakukan itu dengannya tanpa Cinta.”
“Benarkah..? Lalu kenapa Kau tak pernah mau mencobanya denganku..?” Tanya Carry memancing.
Mike membulatkan matanya kearah Carry. “Karena kita berteman Carry.”
“Ya.. Dan karena Kau takut akan timbul perasaan jka kita melakukan Seks. Dan tentunya akupun demikian, aku juga tak ingin tumbuh perasaan lebih terhadapmu makanya aku tak pernah menggodamu.” Kata Carry kali ini disetai dengan cekikikan khasnya.
Lama mereka terdiam lalu carry mulai berbiccara lagi. “Mike, Apa Kau tak pernah berfikir untuk mengakhiri hubungn konyol kita ini.?”
“Kenapa.? Kau sudah memiliki lelaki lain selain aku.?”
Carry tertawa. “Sejujurnya iya. Tapi alasan terpenting adalah aku tak ingin hubunga ini Merusak persahabatan kita nanti.”
“Carry, Aku akan melepasmu setelah Kau benar-benar menemukan lelaki baik melebihiku.”
“Kau bercanda.? Tak ada lelaki baik yang melebihi dirimu, Kau tau.” Dan mereka kembali tertawa bersama. Seperti itulah kebersamaan mereka, selalu disertai dengan tawa canda bersama karena yang mereka miliki hanya Komitmen, bukan cinta.

***

Mike menuju Parkiran, tapi ketika sampai di depan mobilnya, seorang menepuk bahunya sambil memanggil namanya.
“Mike..” itu suara Dara.
Mike dan Carry berbalik mendapati Dara yang memandaang Mike dengan tatapan Anehnya.
“Dara, Sedang apa Kau disini.?” Tanya Mike.
“Seharusnya aku yang bertanya sedang apa Kau disini Mike.?” Dara berbalik bertanya sembari menatap curiga tangan Mike yang sedari tadi bertengger mesrah di pinggang Carry.
Mike yang mendapatakan tatapan curiga langsung menarik tangannya dari pinggang Carry, sedangkan Carry masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Dara, Aku ssedang makan siang.”
“Dengan siapa Mike.?” Desak dara. Bagaimanapun juga Dara tak suka melihat Mike bergandengan mesrah dengan Wanita lain setelah apa yang sudah dilakukan Hana untuk Mike selama ini.
“Hallo, Aku hanya temannya. Jangan salah paham.” Kata Carry dengan sopan kepada Dara. “Carry Wagner.” Katanya lagi sambil mengulurkan tangan kepada Dara.
“Andhara.” Jawab Dara Singkat. Sesungguhnya Dara asih tak percaya jika mike dan Carry tak memiliki hubungan Khusus.
“Kami hanya teman Dara, jangaan berpikir macam-macam.” Kata Mike membenarkan perkataan Carry tadi.
“Baiklah, Kali ini aku percaya padamu. Mike, aku hanya tak ingin Kau menyakiti Hana.” Kata Dara sebelum bergegas pergi. Sungguh perasaan dara sudah tak enak saat melihat kedekatan Mike dan Carry tadi. Sedangkan Mike hanya bisa berdoa dalam hati supaya Dara tak bercerita macam-macam kepada Hana. Bagaimanapun juga rencananya untuk Hana belum selesai.

***

Hana sibuk didalam dapur apartemen Mike sore ini. Entah kenapa hari ini tak ada sebuah kabarpun dari lelaki tersebut, dan itu membuat hana semakin merindukannya. Ohh Mike.. lelaki itu bear-benar membuatnya jatuh dan tak bisa kembali lagi.
Sebenarnya Hana masih sedikit bingung dengan Keadaannya. Hari ini Kepalanya tak berhenti perputar karena sakit, belum juga indera enciumannya yang seakan menajam, tapi bukankah tadi pagi dirinya sudah melakukan Test kehamilan..? bahakan 3 alat test tersebut menunjukkan tanda Negatif. Apa jangan-jangan dirinya memiliki penyakit Serius..? Ahhh tidak, tidak boleh, Pikir Hana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hana tersadar ketika mendapati Ponselnya berbunyi. Itu dari Dara. Hana mengangkatnya dan mendapati suara sahabatnya yang terdengar mengkhawatirkannya.
“Dimana Kau Hana.?
“aku di Apartemen Mike, ada apa.?”
“Ya tuhan, cepatlah kemari, Mas Revan akan kesini dalam beberapa menit.”
“Kau bercanda.?”
“Astaga Hana… Dia baru saja meneleponku.”
Hana mengernyit, sejak Kapan kakaknya tersebut memiliki Nomer telepon Dara. “Kalian sering berhubungan lewat telepon.?”
“Itu tidak penting, Cepat kesini atau semuanya akan berakhir. Ya tuhan, aku tak dapat lagi melawan mas Revan.”
“bailkah, Aku akan segera kesana.”
Setelah menutup telepon hana bergegas membersihkan dapur, lalu berganti pakaian. Ketika dia membuka pintu Apartemen Mike, tepat pada saat itu Mike sudah berdiri di balik pintu.
“Hai sayang.. Kau menyambutku.?” Tanya Mike penuh dengan senyuman.
“Maaf Mike, aku harus pulang, Mas Revan kesana.” Kata Hana menjelaskan.
Tapi bukannya mengijinkan Hana pulang, Mike Malah memeluk tubuh Hana dan menggendongnya masuk kedalam Kamar. “Heii.. apa yang Kau lakukan Mike, aku harus pulang.”
Mike membaringkan tubuh Hana diatas Ranjangnya, dengan tersenyum dia berkata. “Aku tak peduli dengan kakak sialanmu itu.” Kata Mike sesekali mengecup bibir Hana. “Aku merindukanmu Sweety..” kata Mike lagi lalu memangut bibir mungil milik Hana.
Dalam keadaan seperti ini Hana tak mampu menolak lagi.Mike sungguh sangat meabukkan untuknya, kerinduan pada Mike seharian ini terobati sudah dengan sentuhan-sentuhan mesrah yang diberikan Oleh Mike. Ohh Mike… Dia benar-benar menjadi lelaki yang paling Romantis dan penyayang untuk Hana saat ini…

__TBC__

Maaf terlalu pendek… hahahahah..