My Beautiful The Witch – Prolog

Comments 2 Standard

MBTWCover2My Beautiful The Witch

#Prolog

Pada suatu hari, Ada seorang penyihir yang sangat sakti berkelana kedalam suatu pedesaan. Orang-orang desa tak mengetahui jika Lelaki tersebut adalah seorang Penyihir. Akhirnya dengan penyamarannya sang penyihir tersebut menetap di desa tersebut. Namanya William. Will sangat tampan, hingga sebentar saja dirinya sudah terkenal diantara para wanita di desa tersebut.

Namun sejak awal hati Will hanya terpaku dengan seorang gadis sederhana, Gadis petani penanam sayur yang benar-benar biasa, bernama Maria. Akhirnya tanpa penghalang apapun Will dan Mariapun bersatu. mereka hidup damai bersama bahkan mereka di karuniai  seorang putera Yang amat sangat tampan. Robbin William.

Robb benar-benar tumbuh menjadi anak yang tampan. Ketampanannya tentu saja mirip dengan sang ayah, Matanya berwarna kuning cerah, dan dia berkulit putih pucat. Kebahagiaan benar-benar melingkupi keluarga mereka, Hingga pada suatu hari Will menghilang begitu saja, membuat Maria harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Apa lagi ketika sekumpulan orang jahat menyerang mereka, Orang jahat yang sakti.

“Robb.. Pergilah sayang, Bawa ini.. ingat, Jauhi orang-orang yang bermata kuning dan berkulit pucat sepertimu.” Kata Maria kala itu sambil memberikan Robb sebuah tas yang penuh dengan sesuatu didalamnya.

“Tidak ibi.. aku ingin bersama ibu..”

“Pergilah Robb.. Pergilah..”

Robb yang memang tak pernah dikasari oleh sang ibu, akhirnya lari meninggalkan ibunya yang seakan-akan terlihat marah terhadapnya. Hingga saat Robb kembali, Robb sangat menyesali keputusannya yang telah meninggalkan  sang ibu sendiri.

Robb menangis dan berteriak Histeris didepan telang belulang sang ibu yang sudah hangus terbakar. Siapa yang elakukan hal keji ini terhadap keluarganya..?? Batin Robb kemudian.

__TBC__

Gimana prolognya..??? penasaran nggak ceritanya..? Roman Fantasi pertamaku nih.. semoga tak terbengkalai di tengah jalan yaaa.. nantinya…  heheh

Advertisements

My Everything (Novel Online) – Chapter 11

Comments 5 Standard

Me New..My Everything

Chapter 11

 

Lagi-lagi aku terbangun dalam keadaan kepala yang berdenyut. Mabuk lagi dan mabuk lagi, hanya itu yang bisa kulakukan setiap malamnya. Jika pagi akau bersikap biasa-biasa saja, maka dimalam hari aku menggila.
Ini sudah dua minggu setelah aku mempertemukan Zoya da kedua orang tuaku untuk membahas tentang pernikahan. Sialnya, Pernikahanku akan dilaksanakan akhir bulan depan. Saat ini Zoya dan Mama sedang sibuk mengurus segala sesuatunya.
Aku bergegas bangun tak memperdulikan kepalaku yang seakan-akan ingin pecah karena berdenyut, Efek dari kelebihan Alkohol. Aku ingat jika hari ini ada jadwal pemotretan, Bukan aku yang memotret model-model Cantik, Melainkan Akulah yang akan di Potret.
Pemotretan Untuk Prewedding.
Sialan..!!!
Lagi-lagi aku tak berhenti mengumpat kesal dengan semua keadaan ini. Masuk kedalam Bathup menenggelamkan diri lalu mengguyur kepalaku dengan Air dingin dari Shower. Kadang aku berfikir, haruskah aku mati saja supaya tak sesakit ini..? Aku bisa saja menenggelamkan diri sekarang juga atau menelan obat hingga overdosis, percayalah, itu yang kuinginkan.
Tapi melihat Wajah Shasha setiap harinya membuatku sedikit lebih kuat. Yaa…. setiap hari aku selalu mengunjunginya di depan Cafe tempatnya bekerja. Diapun seakan-akan menungguku. Meski kami tak bertemu secara langsung, dan tak berbicara secara langsung, tapi aku merasa sangat dekat dengannya ketika kami saling memandang dan saling melemparkan senyuman meski hanya beberapa detik. Mungkinkah sampai nanti akan seperti itu.?? Apakah aku akan menjadikannya simpananku setelah aku menikahi Zoya..?
Sial..!!
Aku keluar dari kamar mandi mengenakan Celana pendek olah ragaku, Dan Kaus Dalam warna Hitamku. Memasang mengaman di tangan dan menuju keruangan Olahraga yang ada di halaman belakang rumah. Aku ingin memukul Orang, Sepertinya tak ada salahnya jika memukuli Samsak Pagi ini.
Entah sudah berapa Lama aku memukuli Samsak di hadapanku hingga aku kelelahan, tubuhku penuh dengan keringat. Sialan…!!! sepertinya aku harus mandi lagi. Kelika aku mengambi handuk kecil dan mengelap seluruh keringat di wajah dan leherku, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan melingkari perutku. Aku menghentikan semuanya, dari Aromanya aku tau jika itu Zoya. Untuk apa dia pagi-pagi kesini..??
“Kamu Capek..?” Tanyanya Manja.
“Hemmbb.” Hanya itu yang bisa kujawab.
“Aku bawakan makanan, buatanku sendiri.” Katanya lalu menarik tanganku dan mengajakku duduk di kursi ujung ruangan. Dia membawakanku sebuah bekal. Ayam Rica kesukaanku. Akupun memakannya dalam diam. Enak.. ini enak.. Zoya memang pandai memasak, masakannya selalu enak untukku, tapi nyatanya kali ini aku memakannya tanpa Nafsu, Aku mengingikan Masakan Aneh buatan Shasha…
“Gimana sayang..? Enak kan..?”
Aku mengangguk. “Ini enak.” Kataku datar. Lalu aku meanjutkan makan lagi tanpa banyak kata. Sebenarnya aku sedikit kasihan dengan Zoya, tak seharusnya aku memperlakukannya seperti ini, Dialah disini yang menjadi Korban, kenapa aku bersikap dingin dan berengsek terhadapnya.
Zoya juga membuatkanku segelas Jus Jeruk. Aku menegaknya hingga tandas. Lalu aku menatapnya, wajahnya terlihat sendu, aku tau jika dia terluka, sama sepertiku.
“Maafkan aku..” Kataku sambil mengusap pipinya.
Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Semua salahku.. aku minta maaf, tak seharusnya aku bersikap dingin kepadamu.” Kataku lagi.
Dia lalu memelukku, terisak didadaku. “Aku juga minta maaf, Aku membuatmu menjadi sulit.. tapi aku janji, aku akan melakukan yang lebih baik lagi untuk kamu kedepannya.”
Aku mengangguk. “Kita akan memulainya dari awal lagi.” Kataku kemudian sambil mengusap rambut panjangnya. Yaaa… sepertinya aku memang harus Move On. Shasha memang bukan jodohku, aku harus melupakannya. Cinta memang tak harus memiliki, dan Cinta memiliki jalannya masing-masing. Jika aku berjodoh dengan Dia, aku yakin suatu saat nanti Cinta akan mempertemukan kami kembali.
***
Mama terlihat sangat senang melihat senyumku hari ini. Senyuman yang sepertinya sudah lama menghilang dari wajahku beberapa hari ini.
Karena aku sudah sarapan makanan buatan Zoya, makaa saat ini aku hanya bisa puas menemaninya sarapan bersama Mama dan papaku di ruangan makan. Kami banyak bercerita saat sarapan kali ini, Ralat, Maksudku bukan kami, tapi mereka. Dan aku hanya bisa diam mendengarkannya saja.
Andai saja yang duduk disebelahku kali ini Shasha…
Sialan..!! bukankah tadi aku sudah mengatakan jika akan melupakannya..?? Dan sepertinya aku memang tak bisa melupakannya. Sial..!!!!
“Sayang hari ini kita jadi Prewednya kan..?” tanya Zoya tiba-tiba.
“Iyaa jadi..” jawabku seadanya. Yaa aku kali ini memang harus menemaninya Prewed, setelah kemarin dia belanja kebutuhan pernikahan sendiri, memesan baju pengantin sendiri, hingga mengurus undangan sendiri. Lagi-lagi aku merasa kasihan terhadapnya. Tidak seharusnya aku memperlakukannya seperti itu.
“Terimakasih..” katanya lembut.
“Tak perlu berterimakasih.” Kataku sambil tersenyum dan tanpa sungkan mengusap pipinya dengan ibu jariku.
“Sepertinya kalian sudah baikan.” Kata Mama menengahi. Sedangkan Aku dan Zoya hanya tersenyum simpul menanggapi pernyataan Mama.
***
“Hadohhh… senyum dikit dong.. Kalian Mau nikah, bukan mau perang.” Teriak si Rio yang sejak tadi mengarahkanku di depan kameranya. Sialan…!!! dia pikir pada saat seperti ini aku masih bisa tersenyum apa.?
“Lo sinting.” Kataku datar.
Dan kamipun memulai lagi Aksi mengambil gambarku dan Zoya yang setengah telanjang. Yaaa.. Tema Prewed kali ini adalah ‘Passion’. Passion dalam arti yang sesungguhnya. Yaa… setidaknya itu sedikit nyambung dengan kisahku dan Zoya, Kisah kami bermula hanya didasari dari rasa Gairah, dan baguslah Zoya menunjuk Tema itu sebagai Tema Prewed kami.
Kami mengambil gambar di studioku sendiri. Di kamar yang menjadi properti untuk pemotretan. Tubuh bagian atas kami sama-sama polos. Tapi Zoya menutupnya dengan Bed Cover yang sudah disiapkan, dia duduk di atas pangkuanku dan aku memeluknya dari belakang, mengecup lehernya sedangkan dia berpose menggigit bibir bawahnya layaknya menikmati sentuhanku, kami sudah seperti pasangan yang selesai bercinta.
Berbagai macam pose panas sudaah kami lakukan. Hasilnya cukup baik. Dan akhirnya pemotretan panjang ini selesai juga. Jika tak ada Shasha yang memporak-porandakan perasaanku, mungkin saat ini aku sudah bercinta dengan panas bersama Zoya mengingat tubuh kami tadi saling bergesekan. Tapi nyatanya, aku tak menginginkannya.
Sialan..!!! apa ini yang dirasakan Renno saat dia tak bisa bercinta dengan wanita lain selain wanita yang diinginkannya..? jika iya, maka aku menyesal jika dulu pernah menertawakannya. Ini benar-bena membuatku frustasi.
Aku mengenakan pakaianku dan bersiap pergi ketika tiba-tiba tangan Zoya menahanku.
“Mau kemana..?”
“Aku pergi sebentar.”
“Kita tidak melakukannya..? Kupikir kamu..”
Aku menggeleng. “Sepertinya kita tak akan bisa melakukannya lagi.” Jawabku lirih sambil meninggalkannya begitu saja.
***
Jika tadi aku bicara untuk melupakan Shasha, Maka jangan percaya dengan kata-kataku tersebut. Nyatanya saat ini aku sudah memarkirkan mobilku di depan Cafe tempatnya bekerja, melihatnya dari jauh seperti seorang pengecut.
Dia masih sama, membersihkan meja demi meja. Lalu mungkin dia merasa di perhatikan hinga dia menoleh kearahku. Menatapku dengan tatapan sendunya dan melemparkan senyuman khasnya. Hanya seperti itu saja rasanya jantungku berdetak kembali. Sial..!!! Aku benar-benar semakin Parah.Shasha sekarang sudah seperti obat yang dapat menyambung nyawaku. Senyumannya sudah seperti Heroin yang membuatku Candu. Bagaimana aku bisa mengakhiri kegilaan ini..??
Tak lama aku melihat seorang lelaki mendekatinya. Lelaki Bajingan yang dulu diknalkannya sebagai pacarnya, Ricky. Untuk apa Banci sialan itu datang menemui Shasha.? Bukannya mereka sudah putus..?
Aku memejamkan mataku, meredam semua amarah yang sudah sampai di ubun-ubun ketika melihatnya tanpa banyak kata memeluk Shasha begitu saja di hadapanku. Ingin rasanya aku keluar dari mobil lalu menghajarnya habis-habisan dan memtahkan tangan dan kakinya karena berani menghampiri dan memeluk Shasha. Tapi sekali lagi aku harus ingat. Aku bukan siapa-siapanya lagi.
Tanpa pikir panjang, Aku menginjak pedal Gas, dan mengemudikan Mobilku seperti setan. Yaaa… aku harus meninggalkan mereka sebelum tangan dan kakiku berjalan dengan sendirinya untuk menghajar lelaki brengsek tersebut.
Setelah memutari jalanankota berkaali-kali, akhirnya aku kembali pulang. Setidaknya pikiranku sedikit lebih tenang saat ini. Sampai dirumah sudah jam lima Sore. Mama pasti sibuk menyiapkan makan malam. Aku berlari kedapur dan disana hanya ada beberapa pelayan. Dimana Mama..? Apa dia pergi lagi dengan Zoya..?
Maklum saja aku berpikir seperti itu, beberapa hari ini memang hanya Zoya yang menyiapkan semuanya, dia bahkan meminta Mama untuk menemaninya. Akupun langsung bergegas menuju kekamarku, tapi ketika melewati depan pintu kamar Mama, aku mendengar sesuatu seperti barang yang pecah dari dalam.
Sedikit curiga akupun mengetuk pintu kamar Mama. “Ma.. Mama…” panggilku sambil mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Padahal jelas-jelas aku mendengar barang jatuh dari dalam tadi. Akupun mengetuk lebih keras dengan panggilan yang semakin keras lagi.
Dan karena tak ada jawaban, aku mencoba membuka handle pintu, pintupun terbuka, ternyata Mama tak menguncinya. Dan aku ternganga mendapati pemandangan di depanku. Mama tersungkur di lantai dengan beberapa pecahan gelas di sebelahnya, dan aku melihat nafasnya terputus-putus.
Penyakitnya kambuh. Aku menghampirinya dengan panik dan mengambilkan inhaler miliknya. Tapi sialnya Inhaler itu habis. Dengan kesal aku membuangnya dan mulai membopong Mama.
“Bertahan yaa Ma.. bertahan… jangan Tinggalin Ramma sendiri Ma..” Kataku panik, Lalu memasukkan mama kedalam Mobilku dan mulai menjalankannya menuju kerumahsakit terdekat.
***
Aku terbangun ketika mendapati sebuah tangan lemah membelai rambutku.
“Ma..” Aku menatap Mama yang sudah sadar, ternyata tadi aku ketiduran di sebelahnya. “Mama tadi membuatku takut.” Kataku kemudian.
Yaa… aku memang benar-benar takut kehilangannya. Walau diaa bukan ibu kandungku sendiri, tapi Aku menyayanginya, dia yang merawatku hingga seperti sekarang ini, dan aku belum bisa membalas budi kebaikannya.
“Mama nggak akan meninggalkan kamu sendiri sebelum melihat kamu bahagia sayang.” Kata Mama mengusap pipiku.
Aku menikmatinya. Ya tuhan.. aku sangat merindukan saat-saat seperti sekaran ini. Sejatinya aku adalah Anak Mama sebelum aku terjerumus kedalam dunia malam. Dan setelah bertahun-tahun menjadi lelaki dewasa dengan petualangan Cinta, baru kali ini aku ingin menjadi anak Mama kembali, aku ingin bermanja-manja dengan Mamaku.
“Kamu sudah makan..? Pasti belum.”
Aku mengangguk. Aku melihat jam di dinding ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam. “Yaa aku belum makan Ma..”
“Makanlah dulu. Mama menunggumu disini.”
“Mama yakin nggak apa-apa aku tinggal..?”
“Iyaa sayang, Makanlah dulu. Mama nggak apa-apa.” Jawab Mama lemah. Aku mengecup tangan Mama dan pamit untuk pergi membeli makanan di kantin rumahsakit.
Akhirnya aku keluar dari ruangan Mama, menuju kekantin rumahsakit. Tapi ketika aku akan masuk kesebuah lorong menuju kantin, Aku melihat Zoya yang baru sampai di Lobi rumah sakit ini. Untuk apa dia kesini..? Apa dia tau Kalau Mama kambuh dan di rawat disini..? Itu tidak mungkin, bahkan Papa saja belum kuhubungi. Sial..!! aku benar-benar Lupa menghubungi Papa.
Akupun membatalkan pergi kekantin dan lebih memilih mengikuti Zoya di belakangnya sambil menghubungi Papa. Ternyata Zoya masuk kedalam ruangan yang bertuliskan Dr. Nadia Spog. Yaaaa.. tentu saja dia keruangan Nadia temannya, Aku bahkan tak sadar jika ini rumahsakit yang sama diamana Nadia bekerja. Aku sudah memegang Handel pintu dan bersiap masuk ketika aku mendengar suara itu aku menghentikan Aksiku. Terdiam membatu dan mendengarkan semua kebenaran yang selama ini disembunyikan dariku.
“Kamu Gila.. Kamu sudah keterlaluan Zoya..” Nadia sedikit berteriak.
“Maaf, aku tak butuh nasehatmu, aku hanya mengantarkan undangan ini untukmu.”
“Zoya, mereka saling Cinta, kamu nggak patut memisahkan mereka seperti ini.”
“Aku juga mencintainya Nad..”
“Tidak.. aku tau kamu nggak mencintai Ramma, Sampai sekarang kamu hanya Cinta kepada Ardi, hingga sampai detik inipun kamu belum bisa melepaskannya. Kamu hanya membutuhkan Ramma Zoya, kamu hanya terobsesi dengan keberadaannya disisimu. Dan itu bukan Cinta. Kalau kamu mencintainya, kamu akan bersedia melepaskannya untuk melihatnya bahagia”
“Seperti ketika kamu melepaskan Ardi untukku..?” Tanya Zoya dengan sedikit sinis, Nadia terlihat sedikit menegang dengan pertanyaan Zoya. “Aku tidak peduli. Aku akan tetap Menikah dengannya. Masalah Ardi, Aku bisa melupakannya dengan berjalannya waktu.”
“Lalu bagaimana jika Kamu hamil Lagi..? Ramma akan tau jika kamu membohonginya. Dia akan membencimu”
“Setidaknya jika aku Hamil, Ramma nggak akan mungkin ninggalin aku dan Anaknya, dengan kata Lain, kita akan tetap hidup bersama.”
Dan aku sudah tak dapat menahan Amarahku lagi. Dia sudah menipuku, Menipu habis-habisan. Kulepaskan pegangan pintu hingga pintu ruangan Nadia terbuka dengan sendirinya.Nadia menatapku dengan tatapan terkejutnya. Begitupun Zoya yang kini sudah membalik tubuhnya, Dia menatapku dengan tatapan tak percayanya. Wajahnya memucat.
Aku tersenyum Sinis. “Dan Sepertinya Rencana Kamu berantakan.” Kataku dingin. Aku melihat Zoya masih diam membatu, dia ternganga ketika melihatku mengatakan kata-kata tersebut. Aku menghampirinya, berhenti tepat beberapa inci dihadapannya. “Kamu sudah menipuku, Kamu menjadikanku Lelaki Bodoh yang bisa kamu Mainkan, dan aku membenci itu.” Kataku dingin hingga mungkin bisa membekukan semua barang-barang di ruangan ini.
“Ramma.. Aku bisa menjelaskannya padamu.”
“Dan aku tak butuh penjelasan.” Kataku sambil meninggalkannya begitu saja.
Aku berjalan cepat kearah parkiran, tak mempedulikan Zoya yang mengikutiku dari belakang sambil memanggil-manggil namaku. Emosiku benar-benar tak terkendali lagi. Tanganku sudah mengepal sejak tadi ingin memukul sesuatu. Sebegitu bodohnya kah Aku bisa di bohongi oleh Wanita Jalang seperti Zoya..? Bahkan saat ini aku sudah berani memanggilnya sebagai wanita jalang. dimana IQ 180 ku ketika Zoya mengatakan dia tak bisa hamil dan aku mempercayainya begitu saja..? ini terlalu menggelikan, ini terlalu lucu karena aku dengan mudah bisa dipermainkan oleh Seorang wanita yang bahkan sampai saat ini masih terbelenggu dengan masalalunya, Sialan..!!!
Aku merasakan Dia memelukku dari belakang. Dan menangis. Apa dia ingin meuluhkan hatiku..? Maaf, Aku sama sekali tak tertarik lagi.
“Maafkan aku.. maafkan aku.. aku bisa menjelaskan semuanya.” Katanya sambil terisak.
Aku melepaskan paksa pelukannya, menarik tangannya, membaawanya ke sebuah Area yang cukup gelap. Menghempaskan tubunya di dinding.
“Apa kamu tau kalau kamu sudah menghancurkan semuanya.” Teriakku padanya.
“Aku minta maaf, aku hanya tak ingin kamu meninggalkanku.”
“Apa..?? sampai saat ini kamu bahkan masih berhubungan dengan mantan suamimu Zoya, lalu untuk apa kamu menahanku..?”
“Aku membutuhkanmu.. aku membutuhkanmu.” Dia berbalik meneriakiku.
Aku tersenyum sinis. “Yaa… tentu saja kamu membutuhkanku. Kamu membutuhkanku saat mantan suamimu itu tak bisa menemanimu dan memenuhi gairahmu, iya kan..”
‘Plaakkkkk’ dia menamparku.
“Kamu keterlaluan Ramma, Kamu berkata seakan-akan aku memanfaatkan tubuhmu seperti seorang wanita jalang yang kekurangan belaian laki-laki.”
Aku memukul dinding di sebelahknya keras dengan kepalan tanganku, aku tak peduli jika jari-jariku patah atau terluka, tapi aku memang sedang ingin memukul sesuatu. “Tapi kenyataannya memang seperti itu.” Jawabku tajam. “Dari awal hubungan kita tak sehat, tak ada Cinta, Hanya Seks dan kepuasan yang mendasarinya.” Desisku tajam.
“Tapi aku membutuhkanmu Ramma, aku sungguh membutuhkanmu, dan Sepertinya.. sepertinya aku sudah mulai mencintaimu.”
“Jangan bicara tentang Cinta jika kamu tak tau apa Artinya. Tak ada Cinta diantara kita Zoya.”
“Tidak.. kita bisa belajar saling mencintai nantinya.”
“Maaf.. Aku tidak bisa belajar mencintaimu. Karena Aku sudah mencintai Wanita lain, Dari dulu sekarang dan seterusnya.” Kataku sambil berbalik dan bersiap meninggalkannya.
“Apa Gadis itu..? Gadis manja sialan itu yang kamu Cintai..?”
“Iya… Gadis manja sialan yang sudah kusakiti demi bertahan dengan Wanita penipu sepertimu.”
“Jangan seperti itu Ramma, Kita bisa memperbaiki semuanya.” Katanya lagi-lagi dengan memelukku dari belakang.
Aku melepaskan pelukan tangannya dengan paksa sambil berkata dengan Dingin. “Maaf, Kita sudah berakhir.” Lalu aku pergi meninggalkannya dan tak menoleh kebelakang lagi sedikitpun.

 

___TBC__

Next Chap semoga lebih bagus lagi yaa.. karenaa ini mendekati akhir nihh kawan.. HHehheheh ayooo elalu baca

My Everything (Novel Online) – Chapter 10

Comments 10 Standard

meUntitled-12My Everything

Chapter 10

 

Aku tebangun mendapati ranjang disebelahku kosong.. Dingin Dan Kosong.. Shasha sudah pergi, bahkan kini tak ada satupun barang berwarna Pink didalam kamar Apartemenku ini.
Aku terduduk lesu, Kepalaku sakit, hatikupun sama sakitnya. Kenapa seperti ini..? Inikah hukuman untukku karena selama ini aku sudah mempermainkan banyak Wanita..? Aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan dan mendapati secarik kertas kecil di meja sebelah ranjangku. Ini Note dari Shasha.

 
Aku tak pernah menyesal mengenalmu.. mencintaimu.. dan memberikan semuanya untukmu….
Aku akan tetap mencintaimu walau raga kita tak kan bisa bersatu….
Apapun alasanmu mengakhiri semua ini aku dapat menerimanya, aku akan menjauh darimu supaya kita tak saling tersakiti saat bertemu, Jika Kamu merindukanku, Lihatlah aku… Aku masih berdiri di tempat yang sama. Kita masih bisa bertemu dalam jauh… dalam mimpi…
Maaf… aku tak bisa mengembalikan Kalung yang Mas Ramma Berikan padaku… Itu sudah menjadi milikku.. Separuh jiwamu sudah kumiliki… dan kalung itu sebagai buktinya..
Terimakasih Untuk semuanya….
I Will Always Love You…..
-Shasha-

 

Aku mememjamkan mataku.. merasakan sakit yang teramat sangat dalaam.. sakit karena ulahku sendiri.. sakit karena kebodohanku sendiri…
Karena curiga, beberapa hari yang lalu aku menyuruh seseorang untuk mencari kabar tentang Zoya di Singapore. Hasilnya sangat mencengangkan. Dia bersama dengan lelaki yang sedang makan malam dengannya waktu kami tak sengaja bertemu saat aku mengajak Shasha makan malam. Dan ternyata setelah di selidiki, Lelaki tersebut adalah Ardi.. mantan suaminya.
Sialan..!!!
Selama ini ternyata mereka masih saling berhubungan. Dan tentu saja itu membuatku marah, marah karena merasa di bohongi. Selama ini kupikir Zoya tersiksa karena aku selalu memikirkan Shasha, Masalaluku. Tapi nyatanya sampai sekarang dia juga masih belum bisa lepas dari Mantan suaaminya.
Hingga hari inipun terjadi. Hari diamana Zoya pulang dan aku siap memuntahkan semua yang ada didalam Otakku. Cemburu..? Yaa.. aku memang sedikit cemburu, tapi Rasa marah karena di bohongi lebih besar dari pada secuil rasa cemburu yang kumiliki terhadapnya. Aku benar-benar siap meninggalkannya tapi ternyata.. Sialan…!!!

“Aku nggak bisa hamil lagi.”
Aku menegang saat mendengar kata-katanya.
“Dokter bilang Rahimku Terinfeksi, penyebabnya bisa macam-macam tapi mengingat aku pernah dua kali menggugurkan kandungan, mungkin itulah penyebabnya.” Dia masih mengatakan semuanya dengaan tenang. Aku yang berdiri membelakanginya masih diam membatu, tak tau harus berkata apa, tak tau harus melakukan apa.
“Jika kamu meninggalkanku, maka siapa yang mau bersamaku..? Siapa yang mau dengan wanita cacat sepertiku..?” dia mulai menangis dan kini sudah memelukku dari belakang. “Jangan tinggalkan aku.. Kumohon jangan tinggalkan aku..”
Dan hanya seperti itulah… Aku tak mengucapkan sepatah katapun untuknya malam itu. Aku terlalu sibuk memikirkan Shashaa.. Apa yaang terjadi dengannya nanti ketika aku meninggalkannya…

Aku mengumpat kasar setelah ingat kejadian tadi malam. Kejadian diamana aku merasa jika semua ini sudah berakhir. Sialan..!! benar-benar sangat sial.. Aku Melangkah kekamar mandi untuk menenggelamkan diri kedalam Bathup.. putus asa.. sangat putus asa..
Kini badanku sudah segar, tapi nyatanya hatiku masih layu, tak ada semangat hidup kembali. Aku melangkah kedapur, membuat sarapan, tapi langkahku terhenti di meja makan, makanan buatan Shasha tadi malam masih ada.
Aku tersenyum penuh luka saat melihat makanan tersebut, Makanan yang tak dapat lagi kulihat, Ikan yang sering gosong, Telur dadar yang kadang tercampur denga kulit telurnya, sayur yang kadang Rasanya Aneh… aku tak dapat memakannya lagi… padahal aku menyukainya…
Sial..!! kubereskan semuanya… membersihkan semua sisa-sisa tentang Shasha di Apartemen ini. Mungkin Apartemen ini tak akan pernah kukunjungi lagi, atau mungkin aku akan menjualnya. Apa ada yang mau membelinya..???
Aku bergegas ke Basement untuk menghampiri mobilku. Masuk kedalam Mobil lalu melesat menuju ke Apartemen Zoya.
Baru kali ini aku merasakan jika aku sangat enggan untuk pergi menemui Zoya, Aku benar-benar tak ingin bertemu dengannya. Sebut saja aku brengsek, karena itulah Aku.
Aku kesana untuk mengepak seluruh barang-barangku. Aku akan pindah, aku akan tinggal dengaan orang tuaku. Mungkin nanti aku akan menikahi Zoya sebagai tanggung jawab, tapi aku tak yakin jika hubungan kami akan seintim dulu. Aku tak yakin jika kami masih bisa bercinta lagi.
Shasha sudah mempengaruhi semuanya, Dia menenggelamkan aku jauh sangat dalam kedalam ‘Zona Bahaya’ Hingga kini aku yakin jika aku tak akan mungkin bahagia dengan wanita manapun.
Aku masih sama, penampilanku masih terlihat Rapi seperti tak terjadi apa-apa, Masih bisa tersenyum dengan wanita-wanita yang menatapku. Aku tidak terlihat Kesakitan seperti Dhanni saat Nessa meninggalkannya beberapa minggu. Aku juga tak terlihat Berantakan dan Gila seperti Renno saat dia ditinggalkan Allea seminggu lamanya. Aku terlihat baik-baik saja. Diluar……
Tapi diadalam… Aku hancur… Aku tak punya semangat hidup lagi, Keputus-asaan menguasai hatiku. Mungkin Aku akan kembali menggelap, Kembali menjadi lelaki Brengsek dengan banyak wanita di sampingku.
Zoya sedikit terkejut saat melihatku memasukkan barang-barang milikku kedalam kotak-kotak Kardus yang sudah kusiapkan.
“Kamu tetap ninggalin aku..?” tanyanya kemudian.
Aku menatapnya tajam. “Kamu tenang saja, aku nggak akan kemana-kemana.”
“Lalu kenapa barang-barang kamu..”
“Aku akan tinggal dengan Mama.”
“Kenapa dengan Apartemen ini..?”
“Aku tidak bisa Zoya.. aku tak bisa berhubungan denganmu seperti dulu lagi. Ini terlalu berat, terlalu menyakitkan. Aku mencintai seorang wanita tapi hidup dengan wanita lainnya. Aku tidak bisa.” Kataku kemudian.
Dia diam membatu. Sepertinya aku memang sudah keterlaluan mengucapkan kata-kata tersebut. “Dengar, Besok malam aku akan mengajakmu kerumah orang tuaku.” Kataku kemudian. “Kita akan menikah.” Dia terkejut dengan pernyataanku.
Yaa sepertinya memang ini jalan terbaik, kami akan menikah dan melanjutkan hidup seperti biasanya. Hidup yang bagiku sudah hambar, tak ada Rasa, Tak ada warna.
“Kenapa tiba-tiba menikahiku.”
“Apa lagi yang harus aku lakukan terhadapmu..?”
Lalu aku pergi meninggalkannya begitu saja. Brengsek… Lelaki brengsek… yaa itulaah aku, aku tak peduli, toh sejak dulu aku memang Brengsek.
***
Dengan serius aku mempelajari berkas-berkas Meeting di Ruangan Dhanni, Aku terlalu malas ke kantor Renno, Dia sialan. Hingga saat ini dia masih bersikap dingin terhadapku. Bahkan sampai sekarang aku belum menjenguk Allea yang sudah melahirkan tiga minggu yang lalu. Sial…!!!
“Lo berbeda.” Kata Dhanni kemudian.
“Lo nggak usah mulai lagi Dhann.”
“Enggak, Gue pikir ada sesuatu yang membuat Lo berbeda. Lo lebih pendiam.”
“Hhaha sialan..!! Sejak kapan Gue berubah jadi pendiam..?”
“Entahlah… Mungkin…”
“Gue nggak mau bahas itu lagi Dhann.” Aku tau jika Dhanni ingin membahas masalah Shasha, masalah ketika aku mabuk berat setelah pesta pernikahan Renno dan meracau seperti orang Gila di rumahnya.
“Ayoolah Ramm.. Lo terlalu Misterius dengan Kita, Gue nggak bisa bantu Lo kalo Lo sendiri nggak pernah cerita sama Gue.”
Dan Yaaa perkataaan Dhanni ada benarnya juga, Selama ini Dhanni selalu mendukung Renno karena dia tak tau apa yang terjadi. Dan aku tak bisa menyalahkannya.
“Gue putus dengan Shasha.” Kataku kemudian dengan Ekspresi sedatar mungkin.
“Sialan..!! Gue Memang curiga kalau ada sesuatu asama Lo dan Shasha. Kenapa bisa putus..? kapan kalian jadian.? Apa yang terjadi..?”
Dan banyak lagi pertanyaan Dhanni yang memang semuanya harus kujawab. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya, menceritakan tentang hubungan rumitku bersama dengan kedua wanita yang membuatku Gila.
“Sialan..!! Lo brengsek tau nggak.” Umpat Dhanni setelah aku selesai menceritakan semuanya.
“Yaa.. Gue memang Brengsek.” Jawabku datar.
“Kita perlu minum.” Katanya kemudian, Aku mengernyit. Bukankah dia bilang dia nggak akan pergi minum lagi..? “Kita akan minum sampai pagi, Nessa pasti mengijinkan.” Katanya lagi.
Aku memang sedang butuh minum…
Dan seperti inilah sekarang ini… Aku minum seperti orang gila, Dhanni hanya menemaniku, lebih tepatnya dia hanya menjagaku saat aku minum, Aku meracau tak karuan. Semua kenangan Shasha menyeruak begitu saja, Aku tak nyaman.. tak nyaman dengan hidup seperti ini.
***
Bangun dengan kepala berdenyut benar-benar menyusahkanku. Aku melihat sekeliling dan trnyata aku sudah berada di dalam kamar di rumah Mama. Mungkin tadi malam aku meracau tak karuan hingga Dhanni tau jika aku sudah tinggal di rumah Mama sehingga Dhanni mengantarku kemari.
Aku melihat pintu kamarku dibuka, menampilkan Sosok wanita yang sangat kusayangi. Mama. Dia membawa sebuah nampan berisi makanan kesukaanku.
“Kamu sudah bangun..?” Aku hanya mengangguk. “Apa yang terjadi..? Dhanni mengantarmu kesini jam tiga tadi malam, Kamu terlihat Kacau, menangis tak jelas dan selalu menyebut nama Shasha. Kalian ada masalah..?”
“Nggak ada Ma..”
“Ayolah.. Mama ingin tau Cerita tentang kalian.”
“Ma.. Nggak ada cerita apa-apa tentang kami.” Kataku kemudian. Aku tak mungkin bercerita dengan Mama tentang kebrengsekanku karena telah melukai hati banyak Wanita. Apalagi salah satunya Shasha.
“Baiklah kalau kamu belum mau bercerita, Tapi sayang, Dimana kalung kamu, Itu nggak hilang kan..?”
“Hilang saat aku keluar Kota Ma.” Aku berbohong.
“Ya ampun.. kenapa bisa hilang..”
“Biar saja lah Ma.. itu kalung sudah nggak berarti lagi.”
“Kamu kok ngomong gitu sih… itu kan dari orang tua kamu sayang.. siapa tau..”
“Ma…” Aku memotong kalimat Mama. “Kalau mereka orang tuaku, mereka nggak akan ninggalin au di tempat itu, Dan lagian aku sudah memiliki Mama dan Papa, jadi untuk apa lagi aku mencari orang yang jelas-jelas sudah membuangku.”
“Kalau mereka mencarimu.?”
“Kalau kami berjodoh, kami pasti bertemu walau tanpa kalung itu.” Kataku kemudian, sebenarnya aku sedikit enggan membahas tentang kalung itu, Bukan karena itu adalah sebagian dari masalaluku, tapi karena membahas Kalung itu membuatku mengingat Shasha. Sial..!!
“Ma.. Nanti malam masak yang enak yaa.. masak yang banyak.”
Mama terlihat sedikit terkejut dengan permintaanku. “Memangnya kenapa..? Kamu mau ajak teman kamu makan malam disini..?”
“Aku mau ngenalin Mama dengan Calon istriku.”
“Apa..?” Mama menutup mulutnya karena terlalu terkejut. “Kamu nggak bercada kan..?”
“Aku serius Ma.”
“Tapi kamu terlihat nggak senang.” Kata mama sambil memperhatikan Ekspresi wajahku. “Apa dia Shasha..?” tanya Mama kemudian.
Aku menatap Mama dengan Tatapan senduku. Rasanya aku ingin menangis. Sialan..!! sejak kapan aku menjadi Lelaki cengeng seperti sekarang ini..? Jika Dhanni tau, dia pasti akan duduk betepuk tangan dan menertawakan kebodohanku saat ini.
“Ramma, Apa Dia Shasha..?” Tanya Mama lagi karena tadi aku hanya diam membatu.
Aku menunduk dan menggeleng lemah. “Aku berharap saatu-satunya orang yang kunikahi adalah Dia Ma.. tapi ternyata..”
“Mama memang sudah curiga kalau sebenarnya kamu ada masalah. Ayoo ceritakan semuanya sama Mama.”
Dan akupun mulai bercerita. Bercerita semuanya tanpa ada sedikitpun yang tertinggal. Mama kecewa, sungguh sangat kecewa denganku saat mendengar aku pernah menggugurkan Darah dagingku sendiri. Mama Sedih.. sedih ketika mendapatiku tak memiliki pilihan lain selain bertanggung jawab dengan keadaan Zoya, dan juga Mama marah, marah karena aku menyia-nyiakan malaikat seperti Shasha..
Yaa… mungkin ini hukuman untukku, Karma karna sudah banyak mempermainkan wanita.
“Jadi nanti malam kamu akan ajak dia kesini..?”
Aku mengangguk. “Mama jangan Marah sama dia ya… Bagaimanapun juga aku sayang dengan Zoya Ma… meski sebenarnya semua yang kumiliki sudah dimiliki Shasha.”
“Tapi kamu nggak akan bahagia sayang.”
“Anggap saja ini hukuman untukku.” Kataku smbil bergegas pergi kekamar mandi.
Saat aku kembali Mama masih di sana, menungguku. “Ada apa lagi Ma..?”
“Apa Kamu benar-benar yakin akan menikahinya..?”
“Iya Ma..” jawabku dengan lesu.
***
Siang ini aku bolos kerja. Jadwal pemotretanpun jadi berantakan karena patah hati sialan ini. Mobilku seakan-akan berjalan sendiri menuju kesebuah Cafe tempat Shasha bekerja dulu. Kenapa aku mengemudi mobilku kemari..? Dan tentu saja jawabannya karena aku merindukan Shasha, aku ingin melihat wajahnya, senyumannya.
Bodoh… Bukankah aku sendiri yang memintanya berhenti bekerja di tempat ini..?? tapi tak lama aku melihat seorang gadis sedang membawa dua kantung plastik besar dari dalam Cafe, Mungkin itu sampah atau apalah aku sendiri juga tak tau. Dia sedikit keberatan dengan bawaannya tersebut.
Gadis yang kurindukan.. Shasha….
Dia bekerja disini lagi. Dan aku cukup senang karena dapat melihatnya meski itu dari jauh. Aku mengikutinya, melewati blog demi blog. Kenapa dia sendiri yang membuang sampah..? Apa tak ada karyawan lainnya..?? setelah membuangnya Shasha bergegas kembali, dan akupun masih mengikutinya.
Lama aku memandanginya dari dalam mobil, dia membersihkan halaman Depan Cafe tersebut. Dia terlihat biasa-biasa saja, seperti tak terjadi apapun. Tapi aku tau jika dalam hatinya Rapuh, sama sepertiku.
Lalu tiba-tiba aku melihatnya menatap kearahku. Dia menghentikan semua yang dia lakukan dan menatapku dengan tatapan terkejutnya. Cukup lama kami saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. dia Lalu tersenyum, Senyuman yang kurindukan. Dan akupun membalas senyumannya. Kemudian dia masuk kedalam Cafe, dan hanya seperti itulah pertemuan kami. Mungkin setiap hari aku akan mengunjunginya seperti ini, walau tak bisa lagi menyentuhnya tapi melihat senyumannya setidaknya bisa membantuku bertahan melewati semua ini.
***
Aku tak nafsu makan, padahal Mama memasakkan makanan kesukaanku. Tentu saja tak nafsu, entah kenapa masakan Shasha sepetinya lebih enak dimakan saat ini.
Mama sedang asyik bicara dengan Zoya dan Papa, yaa.. akhirnya malam ini terjadi juga. Malam dimana aku membawa pulang calon istriku, dan itu bukan Shasha. Sial..!!! entah kenapa aku masih tak bisa menerima kenyataan itu.
“Makanannya nggak enak..?” Tanya Mama kemudian.
“Enak Kok Ma..”
“Kok Cuma di acak-acak saja..?”
Aku tersenyum hambar, “Tadi sudah makan diluar sama Dhanni.” Aku bohong. Padahal aku terlalu malas untuk berada di dalam keadaan seperti ini.
Dan mereka kembali melanjutkan percakapannya lagi. Sedangkan aku.. Aku hanya bisa menenggelamkan diri dengan pikiran-pikiran yang penuh dengan Shasha dan juga penyesalan-penyesalanku terhadapnya.
***
Makan malam yang seharusnya menjadi makan malam berarti untukku berlalu begitu saja. Aku bahkan tak merasakan jika tadi kami baru saja membicarakan tentang pernikahan. Zoya terlihat sangat antusias sekali saat Mama menyebutkan kata pernikahan. Kenapa..? Apa dia memang ingin menikah denganku..? Bukankah dirinya adalah wanita bebas..? bukankah dirinya masih berhubungan dengan mantan suaminya..? Kadang aku sedikit tak mengerti jalan fikiran Zoya.
Aku mengantarnya pulang dan ketika akan kembali dia menahanku.
“Tinggalah disini malam ini.”
“Maaf.. aku nggak bisa..”
“Ramma… ini menyiksaku.. kita akan menikah tapi kamu bersikap dingin terhadapku.”
“Kamu pikir ini juga tidak menyiksaku..? Aku juga sangat tersiksa Zoya..”
“Itu karena kamu nggak mau melupakan dia.” katanya brteriak histeris.
Aku menghadapnya dan menatapnya tajam. “Terserah apa katamu, kamu nggak akan pernah mengerti apa yang kurasain saat ini.” Lalu aku meninggalkannya begitu saja.
Kemana..? Tentu saja ke Club-club langganan dengan banyak wanita di sampingku. Mabuk adalah jalan terbaik untuk menghilangkan Dua wanita di dalam otakku yang membuat hidupku Hancur dan jungkir balik.
***
Lagi-lagi aku pulang dalam keadaan mabuk berat. Sangat berat hingga aku beberapa kali muntah didalam Mobil. Sialan..!!!
Tapi kali ini aku sedikit tersadar. Aku bahkan meminta salah satu pelayan Di Club tersebut untuk mengantarku pulang. Mama menungguku, saat mengetahui aku pulang dalam keadaan mengenaskan, Mama menatapku dengan tatapan sedihnya.
“Kenapa ini terjadi Ma.. kenapa seperti ini..?” Aku meracau sambil berteriak. Menangis.. tentu saja. Aku tak akan malu menangis di depan Mama.
“Aku meninggalkan wanita yang kucintai hanya karena kesalahan bodohku… Aku bisa melihatnya tapi tak bisa menyentuhnya.. ini benar-benar membuatku frustasi Ma…”
“Tenang sayang.., tenang..” Mama menenangkanku.
“Aku suka masakannya Ma… Sayur anehnya… telur yang masih penuh dengan Kulit..” Lagi-lagi aku meracau tak jelas. “Aku suka semua tentangnya Ma… Aku kangen dia…” aku memeluk Mama sambil menangis. Mirip sekali dengan anak kecil yang minta dimanja dengan ibunya.
“Tolonglah aku Ma… tolong aku… Aku bisa gila karena ini… Tolong aku…”

 

__TBC__

Huaaa… semakin mendekati Akhir nihh… ayooo gimana lanjutannya yaa…????

My Everything (Novel Online) – Chapter 9

Comments 9 Standard

meUntitled-12My Everything

Chapter 9
-Shasha-

 

 

Cinta membutakan Mata hatiku hingga aku tak tau apa rasa sakit itu…
Cinta membuatku Kebal dengan yang namanya Cemburu…
Mencintaimu bukanlah keinginanku….
Tapi aku bahagia memiliki Rasa itu….
Karena Kaulah segalanya untukku….

***
“Sha… Apa kamu mau jadi istri Mas Ramma..?”
Apa ini mimpi.? Apa dia sedang bercanda terhadapku..? Sungguh kata-kata itu membuatku panas dingin. Aku tak mengerti apa yang terjadi dengannya sehingga dia mengucaapkan kata-kata seperti orang yang sedang melamar. Apa dia memang sedang melamarku..??
Aku menatapnya dengan tatapan terkejut. Tentu saja, kami hanya beberapa hari dekat kembali, dan dia tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu. Aku ingin menerimanya, sungguh sangat ingin.
Sebut saja aku Gila atau bodoh, karena memang itulah aku. Bertahun-tahun lamanya aku hanya bisa Stuck dengan seorang lelaki, padahal aku tau jika lelaki tersebut adalah lelaki terbrengsek yang pernah kukenal.
Tapi aku masih memilih untuk tetap bertahan untuknya, berharap supaya dia menoleh kepadaku, menganggapku ada dengan segala macam caraku. Aku berubah sangat drastis hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Merendahkan harga diriku, merubah diri menjadi wanita liar dan penggoda hanya untuknya. Tapi ketika dia melamarku, entah kenapa ada sedikit rasa yang mengganjal di hatiku.
Yaaa… tentu saja, itu karena dia tak pernah mengungkapkan perasaannnya terhadapku. Dia hanya bilang ‘suka’ tapi dia tak tau apa arti dari kata ‘Suka’ tersebut. Dan itu membuatku sedikit bimbang. Bagaimana nanti jika rasa sukanya sedikit demi sedikit luntur lalu dia meninggalkanku..??
“Apa Mas Ramma sedang melamarku..?” aku memberanikan dii untuk bertanya.
“Sebut saja seperti itu.”
“Kenapa tidak melamar kepada orang tuaku..?”
“Aku belum siap.”
Lalu apa maksudnya ini…?? Apa dia ingin menikah denganku dengan cara sembunyi-sembunyi..?? Itu sangat konyol.
“Sha.. dengar.. hubungan kita sekarang memang masih rumit, tapi aku tau perasaanku. Aku sadar jika setiap detiknya aku semakin membutuhkanmu.”
“Lalu bagaimana dengan kekasih Mas Ramma.?”
“Aku akan bicara dengannya setelah dia pulang dari Singapore. Aku tau ini berat untuk kamu, aku juga tak memaksamu.”
“Apa yang membuat Mas Ramma ingin menikahiku..?”
“Karena aku membutuhkanmu.”
“Hanya itu..?”
“Karena kamu satu-satunya wanita yang membuatku ingin mempunyai keluarga kecil seperti sahabat-sahabatku.”
“Kupikir itu bukan alasan yang tepat.” Aku masih mendesaknya.
Dia menghembuskan nafas dengan kasar. “Ok… semua karena Aku mencintaimu, Aku sayang sama Kamu, Kamu segalanya untukku. Dan aku bisa Gila jika jauh darimu.”
Woooww… pernyataannya benar-benar membuatku ternganga.
“Sha.. Sejak dulu hingga sekarang hanya kamu, Baiklah.. aku memang selalu memungkiri semuanya, bahkan dengan brengseknya aku menyakitimu dengan sikap dingin dan kata-kata kasarku. Aku minta maaf, tapi disini.. Disini selalu ada kamu Sha… Aku tak bisa menghilangkan ini, aku tak bisa menghentikan kegilaan ini, ini diluar kendaliku, ini diluar kemauanku.” Katanya dengan telapak tangan yang berada tepat di dadanya.
Yaa… semuanya memang aneh, semuanya menjadi gila karena Cinta. Aku juga tak pernah memilih untuk mencintai dan berharap pada lelaki brengsek, semuanya terjadi begitu saja. Aku juga tak dapat memilih siapa yang harus kucintai dan siapa yang tak boleh dicintai, semuanya terjadi begitu saja.
“Aku tau kamu nggak percaya sama aku.” Katanya kemudian lalu dia mengambil sesuatu yang menggantung di lehernya. “Ini.. Sebagian hidupku ada disini. Ini bukti jika kamu memiliki sebagian dari hidupku.” Katanya sambil mengalungkan sebuah kalung berbandul Tag Tentara berwarna hitam, Didalamnya terdapat tulisan tanggal dan sebuah nama.
“Ramayana..” ucapku saat membaca kata disebuah kalung tersebut.
“Dengar, Aku bukanlah anak kedua orang tuaku. Aku diangkat dari sebuah panti asuhan.” Katanya mulai bercerita dan aku benar-benar terkejut saat dia menceritakan tentang hidupnya padaku. “Kalung itu mungkin saja pemberian dari orang tua kandungku, aku tak peduli. Yang aku tau, sejak kecil aku sudah mengenakannya, tak pernah melepasnya sekalipun. Sebagian jiwaku ada pada kalung itu, sebagian Rahasia masa kecilku ada di sana. Dan aku ingin kamu memilikinya. Aku ingin kalung itu membuatmu percaya jika hanya kamu yang berhak memilikinya, memiliki sebagian Jiwaku.”
Aku masih ternganga saat mendengarnya bercerita, mungkin sedikit terdengar seperti orang yang sedang menggombal. Tapi aku merasakan ketulusan di sana, Matanya menatapku dengan sungguh-sungguh seakan-akan memang akulah orang yang sangat ia harapkan.
“Sha.. aku tak tau lagi harus dengan apa membuktikan Cintaku, aku hanya punya itu dan…”
Dia tak dapat melanjutkan kalimatnya karena aku sudah memeluknya, memeluknya sangat erat. Astaga.. aku benar-benar takut kehilangannya.
“Kamu… Kamu.. menerimaku..”
Dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan pasti. Yaa… aku menerimanya, sampai kapanpun aku hanya akan menerimanya, tak akan pernah ada penolakan untuknya. Seberapa besar dia menyakitiku, seberapa sering dia membuatku menangis, kenyataannya hanya dia selama ini yang selalu mengisi hatiku, Tak ada yang lain, tak ada Lelaki lain..
Dia melepaskan pelukannya. “Terimakasih,” katanya kemudian, lalu menciumku dengan sangat lembut. Amat sangat lembut hingga aku merasakan seakan-akan bibirku dibalut dengan Kapas halus. Tak ada gairah atau nafsu didalamnya.. dan aku sangat suka diperlakukan seperti ini…
Dia melepaskan ciumannya, lalu mengangkat daguku dan menatapku dengan sungguh-sunggu. “Ingat kata-kataku. Setelah semuanya selesai, setelah semuanya membaik, Aku akan melamarmu di depan Orang tuamu, dan tentunya di depan kakak Brengsekmu itu.” Katanya berjanji.
Aku sedikit tersenyum mendengar dia menyebut Mas Renn brengsek. “Mas Renn nggak brengsek.”
“Apa kamu tau, beberapa hari ini dia mendiamiku, bersikap dingin kepadaku.”
“Itu karena dia ingin melindungiku.”
“Aku bisa melindungimu.” Jawabnya kemudian. Mas Ramma memang seperti anak kecil ketika sedang marah. Ya tuhan… semoga semuanya membaik, dan Kami bisa bersatu setelah bertahun-tahun saling menahan diri.
***
Terbangun Dini Hari. Aku merasakan udara dingin berhembus dari jendela yang tadi lupa kututup. Aku berusaha bangun tapi tangan kekar ini menghalangiku.
“Kenapa..? Kamu mau kemana..?”
“Dingin.. aku mau menutup jendelanya.”
“Biar saja, biar terasa lebih romantis.” Katanya sambil mengusap-usapkan wajahnya di punggung telanjangku. “Dingin lebih baik, jadi aku bisa menghangatkanmu.” Lanjutnya lagi semakin mempererat pelukannya.
Aku suka dia memperlakukanku seperti ini. Tiba-tiba aku merasa takut, aku takut jika semua ini akan berakhir. Aku takut jika aku tak bisa setegar dulu untuk menghadapinya.
“Mas..”
“Hemmbb..”
“Bagaimana Kalau rencana kita gagal. Maksudku.. bagaimana kalau..”
“Sha… Apapun yang terjadi, hatiku tetap untukmu, Jiwaku bahkan masih dalam genggamanmu. Entah aku berakhir dengan mu atau tidak, kenyataannya semua milikku sudah ada dalam tanganmu.”
Aku tersenyum mendengarnya, perasaan lega bercampur dengan bahagia membuncah di hatiku. “Emmm… Bagaimana dengan kekasihmu..? bagaimana perasaannya..?”
Aku merasakan dia membenarkan posisinya semakin mengeratkan pelukannya terhadapku. “Setauku dia yang menyuruhku memilih, Antara kamu atau dia.”
“Lalu..”
“Sha.. aku tak mau ada rahasia diantara kita, Jujur saja, aku belum siap meninggalkannya. Bagaimanapun juga dia yang selama 4 tahun ini menemaniku, dia bahkan sempat dua kali mengaandung anakku.”
“Apa..?”
“Yaa.. dan kami menggugurkannya, itu yang membuatku tak bisa meninggalkannya. Aku menyesal terhadapnya.”
Aku menutup mulutku agar tak beteriak, benar-benar Syokh mendengar penjelasannya.
“Tapi saat ini, Sungguh, Aku hanya ingin memilihmu. Hanya Kamu.” Kali ini dia berkata sambil mengecup pungungku.
“Terimakasih..” hanya itu yang dapat kukatakan. Aku lalu berbalik menghadapnya lalu memeluknya erat-erat. Aku tak ingin kehilangan dia…
***
Akhirnya hari sabtupun tiba, Hari dimana aku harus berpisah dengannya selama dua hari. Sore ini aku ingin bertemu dengan Ricky yang statusnya masih menjadi pacarku.
Aku ingin memutuskannya…
Terdengar egois memang, tapi aku harus melakukannya, Ricky baik terhadapku, aku tak mungkin membiarkannya selalu mengharapkan orang seperti aku. Walau misalkan saat ini aku tak bersama dengan Mas Ramma, aku akan tetap memutuskannya. Dia terlalu baik untuk Kumanfaatkan.
“Haii..” sapanya sambil tersenyum sumringah terhadapku.
Dan dia memang selalu seperti itu. Ceria. Aku suka..
“Hai.. Bagaimana kabarmu..?” sapaku kembali padanya.
“Aku baik.. kamu sendiri..?”
“Baik juga..”
Dan akhirnya kamipun tenggelam dalam percakapan sehari-hari. Hingga pada akhirnya aku harus mengatakannya kepada Ricky tentang apa yang sudah ada didalam hatiku.
“Ky..”
“Iyaa..”
“Emm.. Sepertinya… Sepertinya kita nggak bisa bersama lagi.” Kataku kemudian.
Dia terlihat terkejut dengan ucapanku. “Kenapa..?”
“Aku tidak mencintaimu Ky.. Maafkan aku.”
“Kamu bisa belajar mencintaiku, Aku akan mengajarimu.”
“Maaf.. tapi aku sudah mencintai lelaki lain.” Dan setelah kata-kataku itu dia diam. Kami terdiam cukup lama, Aku benar-benar merasa tak enak hati dengannya, dia sangat baik terhadapku selama ini.
“Baiklah jika itu keputusanmu, Tapi jangan larang aku untuk tetap berteman denganmu.” Katanya kemudian membuatku sedikit terkejut.
Akupun memeluknya. “Astaga.. tentu saja… Kamu tetap teman terbaikku.” Kataku lagi, dan kamipun berlanjut saling bercerita. Aku sedikit lega, satu masalah sudah teratasi. Semoga masalah Mas Ramma juga cepat teratasi.
***
Aku pulang mendapati Mbak Allea sedang membuat susu di dapur.
“Mbak.. apa kabar..?”
Mbak Allea sedikit terkejut melihatku. “Kamu sudah pulang, Yaa seperti yang kamu lihat.”
“Mas Renn kemana Mbak..?”
“Kamu nggak tau..? Dia sedang keluar kota, mungkin senin baru pulang.”
“Apaan sihh.. masak Weekend gini kerja diluar kota. Apa dia nggak takut Kalau Mbak Allea tiba-tiba melahirkan. Jangan-jangan… memangnya mbak Allea nggak curiga..?” aku menggodanya.
Dan Mbak Allea tersenyum. “Enggak Sha.. Mas Kamu Lelaki setia, tidak seperti pacar Kamu. Lagi pula jadwal kelahirannya masih dua minggu lagi.”
Dan kamipun tertawa bersama, yaa… Mbak Allea memang tau hubunganku dengan Mas Ramma.
“Mbak… dia.. Melamarku.”
“Astaga.. apa itu benar,,?” Mbak Allea terlihat sedikit terkejut.
Aku mengangguk antusias. “Ini buktinya..” Kataku sambil mempamerkan kalung pemberian Mas Ramma.
“Yaa ampun.. ini manis sekali..”
“Tapi masih ada satu masalah Mbak.dia belum putus dengan pacarnya.”
“Zoya..?”
Dan aku mengangguk. “Sepertinya dia wanita baik, dan aku sedikit tak enak dengannya.” Kataku kemudian.
“Zoya memang wanita baik. Tapi bukankah semuanya tergantung Mas Ramma, Jika dia memilihmu, itu tandanya kamu lebih baik dibandingkan Zoya.” Kata mbak Allea kemudian. Dan aku sangat berterimakasih karena dia sudah memberiku support seperti sekarang ini.
“Mbak.. Apa nanti mbak mau membantuku untuk membujuk Mas Renn..?”
“Tentu saja, kalau itu terbaik untuk kamu, Mbak akan bantu.”
Dan aku benar-benar sangat lega sekali. Terimakasih Tuhan.. Kau telah memberikan Malaikat di tengah-tengah keluarga kami… gumamku dalam hati.
***
Hari demi haripun berlalu.. minggu demi minggu, dan ini sudah lebih dari Satu bulan lamanya Mas Ramma belum memberikan kepastian karena memang Zoya belum pulang dari Singapore.
“Aku ingin semuanya cepat berakhir Sha..” kata Mas Ramma. Saat ini kami sedang berada di balkon Apartemennya menikmati dinginnya malam berdua saja duduk di atas ayunan yang memang kebetulan tersedia di balkon ini.
“Aku ingin cepat-cepat melamar kamu dengan sebenar-benarnya, Aku capek, Renno selalu bersikap dingin padaku.”
“Maafkan Mas Rann ya..”
“Dia nggak salah, dia hanya terlalu sayang sama Kamu.”
Aku tersenyum malu. “Tapi tetap saja dia keterlaluan.”
“Kalau aku punya adik perempuan, aku akan melakukan Hal yang sama Sha..”
Dan Kamipun sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Menikmati suasana Hening yang terasa sedikit lebih romantis dibandingkan malam-malam sebelumnya.
“Bagaimana Kalau dia tak mau putus denganmu Mas..?”
“Aku tetap meninggalkannya.” Jawabnya kemudian, jujur saja aku sedikit terkejut dengan jawabannya. “Sha… Aku juga sayang dengannya, Tapi hanya sebatas sayang karena dia sudah berada di sampingku selama empat tahun lamanya, Kalian berdua sama-sama berarti untukku, tapi tentu saja aku harus memilih salah satunya. Aku nggak mau Kita sama-sama terluka nanti.”
“Terimakasih sudah memilhku..” Kataku kemudian sambil memeluknya.
“Dan aku juga berterimakasih karena kamu mau menungguku selama ini.” Dia membalas pelukanku sesekali mengecup ubun-ubunku. Romantis.. sangat Romantis.. Mas Ramma tidak menggebu-nggebu seperti biasanya. Dan aku sangat menyukai saat-saat seperti ini, saat-saat dimana hanya ada Cinta dan kasih sayang bukan sekedar nafsu belaka.
***
Tadi Kata Mas Ramma hari ini Zoya akan pulang dari Singapore, dia akan mengatakan keputusanya malam ini juga, jadi mungkin dia nanti akan sedikit pulang malam, atau bahkan tak pulang.
Tapi aku masih tetap setia menunggunya, membuatkan makan malam seadanya untuknya. Aku sedikit heran dan malu dengan diriku sendiri. Heran karena betapapun aku belajar masak dengan Mbak Allea, tapi rasa masakanku selalu berantakan. Aku malu.. Sungguh sangat malu dengan Mas Ramma. Apalagi ketika dia dengan santainya memakan semuanya dan menghabiskannya. Dia berkata jika rasanya aneh, tapi ini tetap enak karena buatanku. Astaga… dengan kemampuannya merayu seperti itu, dia memang sangat Cocok untuk menjadi Playboy kelas Kakap.
Mengingat hal itu, aku mulai terseenyum sendiri. Gila.. Ya… aku akhir-akhir ini memang semakin Gila. Tersenyum sendiri, tertawa sendiri saat mengingat masa-masa kami bersama akhir-akhir ini. Aku juga Bodoh… Yaaa sangat Bodoh… Bodoh karena apapun yang dia katakan, aku pasti menerimanya, Otakku seakan-akan tak sanggup untuk menolak setiap kata dari permintaannya.
Aku mendengar Pintu Depan berbunyi seperti di buka, Dan yaa… mungkin saja Mas Ramma sudah pulang. Kenapa cepat sekali..? Kupikir dia menginap disana dulu.
“Hai..” Sapaku dengan penuh senyuman.
Aku melihat wajahnya pucat, tubuhnya Lesu. Ada apa..? Apa dia sakit..? Aku menghampirinya membawakan Tas dan Jasnya. Dan dia belum berkata sedikitpun.
“Apa ada yang salah..?” tanyaku kemudian. Dan dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia langsung masuk begitu saja kedalam kamar, mungkin ingin segera mandi supaya lelahnya hilang. Akhirnya aku memilih untuk menyiapkan makanan di meja makan. Dan yaa… makanan yang sangat berantakan. Ikannya Gosong karena tadi saat aku memasaknya aku sambil berteleponan dengan Mbak Allea untuk meminta Resep, Belum lagi sayurnya yang astaga.. aku tak tau bagaimana rasanya nanti. Semoga dia tak sakit perut saat memakannya.
Saat aku sibuk menyiapkan makan malam kami, tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Aromanya sangat wangi.. Khas orang setelah mandi, Wangi dan segar. Mas Ramma memelukku, dan entah aku salah pendengaran atau apa, Aku mendengar dia sedikit terisak.
Menangis..??
Apa dia menangis..??
Aku ingin membalikkan tubuhku supaya melihat wajahnya, tapi dia menahanku seakan-akan tak memperbolehkan aku melihatnya. Dia benar-benar menangis, Isakannya sekarang bahkan terdengar sangat jelas. Ada apa ini..? Apa yang terjadi..??
Lama dia memelukku dari belakang dengan terisak. Hingga kata-kata itu meluncur dari bibirnya, kata-kata yang diikuti dengan tangisannya.
“Aku nggak bisa meninggalkannya Sha..” Katanya lirih.
Saat itu juga aku tau jika hubunganku dan Mas Ramma akan segera berakhir. Tuhan.. Kenapa seperti ini..? Kenapa Kau berikan kami hari-hari indah bersama jika pada akhirnya kami tak bisa bersatu..?? Aku tak tau apa alasannya dia tak bisa meninggalkannya yang aku tau mungkin itu bukan alasan yang biasa.. Aku masih terdiam terpaku karena pernyataannya.
“Maafkan Aku.. Aku nggak bisa ninggalin dia..” Katanya lagi, dan aku masih terdiam tak menanggapi. Semuanya terasa kabur, warna-warna kehidupan yang beberapa hari ini menghiasi hari-hariku kini berubah menjadi abu-abu… kenapa berakhir seperti ini..??
Dia membalikkan tubuhku dan memelukku erat-erat seakan-akan takut jika aku pergi meninggalkannya. Bukankah seharusnya aku yang takut dia pergi meninggalkanku..??
“Tampar Aku Sha.. Marahlah padaku.. Pukul aku… Sumpahi aku… Akubenar-benar lelaki Brengsek, Bajingan yang nggak punya Hati karena sudah mencampakan Kamu.. Buat dirimu membenciku Sha… Buatlah aku supaya sedikit menghilangkan rasa bersalah ini untukmu..” katanya masih dengan memelukku.
Aku lalu melepaskan pelukannya menatapnya dengan tatapan lembut. Kutangkup kedua pipinya dengan keduua telapak tanganku. “Aku percaya padamu Mas.. Kamu bukan Lelaki Brengsek, Apapun keputusanmu, Aku akan mengikutinya, aku tau jika itu yang terbaik untuk semuanya.” Kataku selembut mungkin. Aku ingin selalu terlihat tegar dimatanya.. terlihat bodoh dan lemah… memang itulah aku.. Aku hanya terlalu Cinta dengan lelaki di hadapanku saat ini.
Tiba-tiba dia menyambar bibirku. Menciumku penuh dengan Emosi. Emosi dan gairah bercampur aduk menjadi satu hingga sekejap saja Ciuman ini berubah menjadi Ciuman Panas Nan Erotis.
Saat ini aku bahkan tak menyadari, sejak kapan kakiku melangkah hingga kini aku sudah telentang di ranjangnya dengan dia diatasku. Pakaiankupun di lucutinya satu persatu hingga kini meninggalkan aku yang Polos dibawahnya. Aku juga mencoba untuk membuka Kaosnnya. Setelah kami sama-sama polos tanpa banyak pemanasan Lagi dia memasukiku dengan sempurna. Membuatku sedikit terkejut.
Dia memelukku, menciumi setiap inci dari kulitku, seakan-akan Mengklaim jika aku miliknya, aku hanya terlahir untuknya. Mengingat itu, Aku menangis… Aku mengingat jika ini malam terakhir kami. Dia menghentikan aksinya dan menatapku dengan tatapan sendunya. Dia tersenyum tapi matanya mengeluaran airmata… Tangannya meraih jemariku, menciuminya. Lalu dia mengecup kedua mataku yang sudah penuh airmata.
“Jangan menangis..” Ucapnya serak.
“Mas Ramma juga menangis..” jawabku kemudian.
Lalu dia mencumbu bibirku kembali sambil melanjutkan Aksinya, mencumbu dengan sesekali terisak, dan akupun sama, Kami sama-sama menangis. Bercinta penuh dengan emosi…
Hingga akhirnya gelombang kenikmatan itu menghantam kami… tapi tak lama kami melakukannya lagi.. Lagi dan lagi.. seakan-akan tak ada lagi hari esok… seakan-akan ini adalah terakhir kalinya kami bercinta. Seakan-akan kami tak akan pernah bertemu lagi… Aku bahkan tak tau itu sudah berapa kali, tapi kami sama-sama menikmatinya. Jika bisa menghentikan Waktu, aku akan menghentikan waktu detik ini juga, detik dimana tubuh dan jiwa kami menyatu tak mempedulikan hari esok seperti apa, tak mengkhawatirkan tentang perpisahan… sungguh.. aku ingin menghentikan waktu saat ini juga…

___TBC__

Aku hadir lebih cepat yaa… hehheheh jangan bosan yaaa…. hadehhh kok jadi nyesek gini sihh.. hikkss.. hiksss…. ok makasih udah membaca, selamat menunggu Chapter selanjutnya… 🙂 😉

All About ‘My Beautiful The Witch’ (Coming Soon)

Comment 1 Standard

MBTW covernewMy Beautiful The Witch

Aku tak bisa memberimu Mantera untuk Mencintaiku….

Yang Ada Mantera itulah yang akan tunduk dengan Cintaku…

Okk.. pasti sedikit bingung dengan kata-kata diatas.. hehehe abaikan saja, saiya juga bingung.. #Plakk.. Okk disini aku cuma mau jelasin bahwa aku akan mencoba untuk membuat Coretan dengan Genre Roman Fantasi. Genre yang sejak dulu pengen kutulis tapi selalu terbengkalai di tengah jalan. Semoga kisah ini nanti berakhir hingga End Yaa… hehhhe

Sedikit bercerita, sebenernya aku dulu bikinnya tentang Vampire, tapi ternyata cerita tentang Vampire itu banyak bgt… You Know.. Semua karena Film Twilight, #FilmKesayangaankujugaSihh heheheheh.  Akhirnya tu ceritaku terbengkalai begitu saja di tengah jalan sebelum di post. Kali ini Aku akan coba bikin cerita Fantasi tentang Penyihir.

Dalam pikiran kalian pasti langsung muncul Harry Potter. Okk gk papa karena itu juga termasuk Film Kesayangannku.. hahhaha. Sebenernya tulisan ini terinspirasi dari Film Hansel & Gretel, di film di ceritakan mereka berdua sebagai adik kakak yang sedang memburu para penyihir jahat, Ada juga beberapa Scene menceritahan Hansel dekat dengan eorang wanita yang tak lain adaah seorang penyihir. tapi cuma itu saja, karena inti dari Flm tersebut kan memang tentang pemburuan Penyihir.

Nahhhh.. akhinya aku dapet ide nihh… Memang semuanya tentang penyihir, tapi kisah ini tentu saja akan lebih condong kepada Romansanya bukan pemburuan penyihirnya.

Untuk Castnya aku pilih ini nih… Kalian pernah nonton Film Miror-Miror kan..?? itu tuhhh Snow White  versi baru… bukan yang diperankan Kristen Stewart lohh yaa.. tapi yang diperankan Lili Collins sama Armie Hammer. karena aku suka film itu maka Cast nya aku pilih mereka ya…

  1. Lili Collins As Ellieora Si penyihir cantik.

mirror_mirror_2lily-collins-6306858b438121f51e6bf4f5b3d5e3cf3d3

2) Armie Hammer As Robbin William si pemburu penyihir.

SNOW WHITE movie-princes-mirror-mirror-armie-hammer-alcott 659eb901acb70534f74df5182ac2f2b6

Nahhh lohhh… trus bagaimana kisah mereka berdua yaa…??? Akan segera Ku Post setelah ME End dan akan kupost Beriringan dg My Brown Eye (isah Hana dan Mike).

Okk sampai disini saja yaa… met bobok moga mimpi indah.. aku udah ngantugg bgt… See You Next Time,,, :* 🙂 😉

My Everything (Novel Online) – Chapter 8

Comments 4 Standard

MEposter1My Everything

Chapter 8

 

 

Dia membalut luka di tanganku, Aku memperhatikan setiap inci dari wajahnya. Sungguh, aku masih sedikit heran. Sejak kapan Shasha tumbuh menjadi wanita yang sangat menggoda, dan bibirnya.. Sialan.!! Aku tak bisa berkata-kata lagi, bibir itu benar-benar sangat menggoda, akhirnya aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah.
“Kenapa Mas Ramma melukai diri sendiri…?” tanyanya masih dengan membalut lukaku.
“Aku pantas mendapatkannya karena aku brengsek.” Jawabku kemudian.
Dia lalu terseenyum. “Berarti aku wanita paling brengsek karena sudah menggoda lelaki brengsek..”
“Hahhaah .. Jangan bicara seperti itu, kamu gadis baik, bukan wanita brengsek.” Kali ini aku berkata sambil mengecup keningnya.
Setelah selesai membalut lukaku, Kami lalu makan bersama malam ini. Walau rasanya sedikit aneh, tapi aku senang jika semua ini buatan Shasha untukku. Shasha memang bukan Gadis yang panndai masak. Dia hanyalah Gadis manja yang berusaha menjadi wanita dewasa di hadapanku.
“Bagaimana Rasanya..?” tanyanya antusias.
“Ini nggak seperti makanan.” Jawabku asal.
Shasha lalu berjalan kearahku dan bergelung diatas pangkuanku dengan manjanya. “Kok Gitu sih.. padahal aku sudah capek-capek belajar masak Untuk Mas Ramma.” Katanya Manja. Dan astaga… sejak kapan dia berani duduk di pangkuanku dan menjadi wanita penggoda..?
“Jadilah diri sendiri, jangan meniru orang lain. Aku suka kamu yang apa adanya.” Kataku sedikit menegang. Tentu saja.. dia mendudukiku dan ya ampun… baru satu jam yang lalu kami melakukan Seks yang menakjubkan. Aku menginginkannya kembali.. “Sejak kapan kamu berubah menjadi wanita penggoda seperti ini..?”
Dia tersenyum manis, sangat manis. “Aku akan berubah menjadi Apapun asalkan itu bisa mendekatkan diri dengan Mas Ramma..”
Dan akupun tersenyum sesekali mengecup bibir manisnya. “Dan aku lebih suka melihatmu menjadi gadis kecil yang kukenal dulu.”
“Benarkah..?” Tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya. “Lalu kenapa pacar mas Ramma kebanyakan wanita yang sudah berumur..?”
“Karena aku tertarik dengan mereka, bukan suka dengan mereka.”
“Apa bedanya tertarik dengan suka..?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Kupikir Tertarik dan suka itu sedikit berbeda, bagiku Tertarik Adalah perasaan suka karena melihat tampilannya, Sedangkan jika Suka berarti yaa hanya suka, tak ada alasan lain kenapa kamu menyukainya” jawabku sambil mengangkatnya dari pangkuanku, sungguh aku tak akan tahan jika dia lebih lama lagi berada diatas pangkuanku.
Dia berdiri dan menatapku dengan tatapan tak terbacanya. “Apa suka itu sama dengan Cinta..?” tanyanya kemudian.
Lagi-lagi aku tertawa. “Ayolah Sayang… jangan bahas Cinta, Mas Ramma nggak tau apa-apa tentang Cinta, Apa belum cukup jika aku bilang bahwa aku suka sama kamu..?.”
“Bagiku belum Cukup.” Jawabnya tegas. Dan aku hanya tersenyum melihat kegigihannya.
“Aku nggak tau apa Cinta itu.” Kataku kemudian.
“Aku akan Mengajari Mas Ramma jika Mas Ramma bersedia.”
“Benarkah..? Memangnya kamu tau apa Cinta itu..?”
Dia mengangguk. “Cinta memiliki banyak Arti, tergantung dari mana kita melihatnya.” Dia mulai menjelaskan. “Bagiku Cinta adalah ketika kita tak mampu lagi berpaling dari seseorang walau orang itu sudah menyakiti kita dan tak pernah mengangggap kita ada.”
Dengan tersenyum aku berkata. “Sepertinya kamu menyindirku.”
“Yaaa Aku memang menyindir Mas Ramma, Karena aku Cinta sama Mas Ramma.” Aku menegang saat mendengar ucapan cintanya. Ada apa ini..?
“Bagaimana jika Aku mencintai wanita lain..?” tanyaku kemudian
“Aku Rela menjadi yang Kedua, Ketiga dan seterusnya.”
“Benarkah..? Kupikir kamu nggak sebodoh itu.”
Dia lalu tersenyum manis. “Kalau aku tak sebodoh itu, saat ini aku nggak akan berada di sini Mas. Aku tak akan mau menjalin hubungan dengan Lelaki yang memiliki kekasih. Tapi sekarang aku tetap melakukannya, aku bahkan rela memberi harta berhargaku Karena itu Kamu.” Jawabnya sambil berjalan kearah dapur membawa piring-piring kotor sisa makan malam tadi.
‘Deg… Deg… Deg…’
Jantungku tak berhenti berdetak keras, Nafasku sesak mendengar penjelasannya. Shasha bahkan sudah mengetahui hubunganku dengan Zoya bahkan mungkin dengan wanita-wanita lainnya. Tapi dia masih berdiri disini denganku. Apa dia tak Cemburu..?
“Apa Kamu nggak Cemburu..?”
Dia mencuci piring lalu menoleh kebelakang dan memandangku lengkap dengan senyumannya. “Sejak beberapa tahun yang lalu kamu yang mengajariku untuk tidak Cemburu.”
Aku..?? Aku benar-benar tak mengerti apa katanya, sejak kapan aku mengajarinya untuk tak Cemburu..?
Melihat wajah bingungku, Shasha lalu tersenyum dan berkata. “Dulu Aku Cemburu saat melihat Mas Ramma dekat dengan Wanita, tapi Seringnya Mas Ramma berdektan dengan wanita membuat kepekaan Rasa Cemburuku itu menghilang sedikit demi sedikit, Hingga kini aku bisa mengontrolnya. Aku bisa memaklumi jika Mas Ramma tak hanya bisa hidup dengan seorang wanita.”
Dan mendengar pernyataannya itu tanpa sadar kakiku melangkah kearahnya, memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalaku di pundaknya sesekali menghirup aroma wangi rambutnya. “Sejak kapan kamu berubah menjadi sedewasa ini..?” tanyaku tanpa sadar. Yaaa sejak kapan gadis yang 6 tahun lebih muda dari pada aku ini mempunyai pemikiran sangat dewasa..?? dia bahkan bisa membagiku dengan wanita lain.
“Sejak Kamu menolakku dan bersikap dingin padaku.” Jawabnya kemudian.
Aku membalikkan tubuhnya hingga menghadapku. “Aku minta Maaf, aku benar-benar minta Maaf. Saat itu aku hanya tak ingin hubungan kita hancur hanya karena Cinta sesaat.”
“Nyatanya hubungan kita tetap hancur kan pada saat itu, dan hingga kini kita masih merasakan imbasnya.”
Yaaa… Aku mengangguk pelan. Memang sejak awal salahku. Jika aku mncoba berhubungan dengan Shasha sejak awal mungkin sekarang tak akan serumit ini. Renno juga mungkin tak akan menentang habis-habisan hubunganku dengan Shasha. Dan Zoya.. mungkin aku tak akan mengenalnya.
“Semuanya memang salahku.”
Dia menangkup kedua pipiku. “Salahku juga Mas… Aku terlalu percaya diri untuk mengatakan Cinta di usia dini tanpa memikirkan Resikonya.”
Kata-katanya benar-benar menghangatkan hatiku. Shasha yang kukenal saat ini benar-benar sudah berubah dengan Shasha yang dulu. Dia Dewasa.. Jauh lebih dewasa dari umurnya. Sikap lembutnya mengingatkanku dengan Mama, orang tua angkatku yang sangat kucintai. Aku memiliki rasa Keakraban dengannya, bukan sekedar gairah Seks. Belum lagi tampilan Fisiknya yang menambah nilai Plus.. Sepertinya… sepertinya Aku tak akan sembuh.. Aku semakin parah, Dan jatuh semakin dalam kedalam ‘Zona Bahaya.’ Bagaimana ini..??
Tanpa sadar tenyata aku sudah mengulum bibir manis Shasha, melumatnya penuh dengn gairah nafsu yang membara, Aku mendorongnya kebelakang hingga dia menabrak meja dapur. Sedikit kuangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas meja dapur, masih dengan mengulum bibir manisnya.
“Aku menginginkanmu sekarang..”
“Lakukanlah…” katanya sedikit mendesah.
Dan akupun tak menunggu lama lagi, tanganku yang sejak tadi sudah berada di dadanya kini turun untuk meraba titik sesitifnya, memeriksa apa dia sudah basah dan siap untukku atau belum. “Kamu Basah.. kamu sudaah siap..” kataku sambil mengecupi leher jenjangnya.
Aku meraih saku belakang celana Jeansku, tempatku biasanya menyimpan bungkusan Foil untuk berjaga-jaga. Ternyata tak Ada. Mencari di saku satunya dan ternyata juga tak ada. Akhirnya aku melepaskan cumbuanku. Menatap matanya yang berkabut. “Tunggu sebentar yaa.. Aku akan mengambil..”
Dia memotong kalimatku dengan mencium bibirku. Sialan..!! jika seperti ini aku tak akan tahan walau hanya masuk kekamar sebentar untuk mengambil pengaman. “Lakukanlah sekarang.” Katanya membuatku sedikit terkejut. Dia ingin aku didalamnya tanpa pengaman, apa dia sudah Gila..??
“Tidak Sha… Kamu tau Resikonya..”
“Aku nggak akan Hamil. Ini bukan masa suburku.”
“Kamu yakin..?”
Dia mengangguk pelan, “Percayalah Mas.. Aku nggak akan Hamil.” Dan tanpa banyak bicara lagi kusisipkan diriku hingga masuk sepenuhnya kedalam dirinya.
Dia Mengerang…!! Sialann..!!! Masih sangat Sempit. Dan akubenar-benar bisa Gila karenanya. Bercinta di meja dapur dengan berpakaian lengkap tanpa pengaman benar-benar sangat menggairahkan. Entah itu karena dapurnya, atau karena orangnya, aku tak tau. Yang jelas aku tak pernah merasa sepuas ini saat bercinta dengan seseorang. Sangat puas hingga aku menginginkannya lagi dan lagi.
Dia mengetat, aku tau jika dia akan sampai dan itu semakin menyiksaku. Aku menghujamnya berkali-kali, mencari kenikmatan untuk kami, dia mendesah bahkan mengerang nikmat, dan akupun sama, berkali-kali aku bahkan mengumpat hanya kerena tak tahan dengan semua kenikmatan yang kuterima.
“Aarrggghh..” teriaknya dan aku tau jika dia sudah sampai. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku mempercepat lajuku hingga aku menyusulnya di puncak kenikmatan tersebut.
***
Aku terbangun masih dalam keadaan polos, tanpa sehelai benangpun. Kupandangi pundak wanita di sebelahku yang terlihat polos dan memiliki beberapa bercak merah karena jejak-jejak yang kuberikan padanya tadi malam. Sedikit teringat tentaang Zoya, biasanya dia yang menemani pagiku, menyambut saat aku membuka mata. Tapi sekarang Shasha yang menemaniku. Aku mengecup pundaknya berkali-kali. Dan dia masih tak bangun. Mungkin kelelahan. Dasar pemalas.
Akhirnya aku bergegas masuk kedalam kamar mandi. Mandi pagi karena pagi ini ada jadwal Rapat di kantor. Saat aku kembali dari kamar mandi dengan badan yang sudah lebih segar, Aku mendapati Shasha sudah duduk manis menungguku, dia mengenakan kmeja hitam panjangku yang sangat kontras dengan kulit putihnya, membuatku menelan ludah dengan susah payah.
“Emm.. Nggak apa-apa kan kalau aku pakai kemeja Mas Ramma..?” tanyanya dengan malu-malu.
Aku menghampirinya lalu menyambar bibirnya. “Pakailah sesukamu, tapi kumohon… jangan kenakan itu pagi ini.. itu membuatku menginginkanmu lagi, dan demi tuhan.. aku ada rapat pagi ini.”
Dia terkikik karena mendengar permintaanku. “Maaf.. aku hanya ingin mengetahui reaksi Mas Ramma saat aku mengenakan kemeja ini.”
“Jadi kamu niat untuk menggodaku..?” dan dia hanya tersenyum geli.. “Dasar Gadis naakal.. lihat saja nanti malam, aku akan membuatmu tak bisa berjalan hingga meminta ampun dan meminta untuk berhenti.” Kataku dengan sedikit menahan gairah yang sudah hampir meledak.
“Lakukan Saja Weewwkk.. Aku nggak takut.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya dan berlari kearah kamar mandi. Sialan…!!1 Gadis Nakal.
Tak lama dia keembali dengan badan yang sudah segar, Aromanya benar-benar menggiurkan. Aku sudah rapi dan sedang berdiri menunggunya sambil memutar-mutar Dasi yang kubawa.
“Apa..?” tanyanya padaku.
“Pasangkan ini, Aku nggak bisa memakai Dasi sendiri.” Kataku manja sambil menghampirinya.
“Beneran Mas Ramma nggak bisa pakai dasi..?”
Aku mengangguk. Jujur saja aku memang tak bisa mengenakan dasi sendiri. Sejak dulu aku terlalu malas untuk mengenakan Dasi. Dulu Mama yang memakaikannya untukku, setelah aku tinggal dengan Zoya, Zoyalah yang memakaikannya untukku. Dan jika tak ada siapapu yang bisa memakaikannya, Aku hanya bisa puas dengan mengenakan Kemeja saja tanpa dasi.
“Sini.. biar aku bantu,” Katanya menrikku mendekat dengannya.
Kulihat wajah seriusnya saat memasangkan dasiku, dan.. Aku terpesona. Sungguh, terpesona dalam arti yang sebenarnya, bukan terpesona kareena mengnginkan Seks. “Siapa yang mengajarimu memasang dasi..?” tanyaku penasaran.
“Setiap pagi Mbak Allea selalu memasangkan Dasi untuk Mas Renn setelah sarapan pagi. Astaga.. mereka benar-benar Mesrah hingga membuatku mual.”
“Kamu iri.”
“Enggak… ngapain aku iri…”
“Hahaha terlihat jelas dari cara kamu bicara.” Tambahku lagi. “Sha.. aku sudah memutuskan sesuatu.”
“Apa..?”
“Nanti Sore kita ketempat temanku. Dia Dokter, Dan aku mau… Kamu menggunakan pengaman.”
Dia sedikit terkejut dengan permintaanku. “Kenapa harus Aku..?”
“Karena aku tak akan mau memasukimu dengan menggunakan pengaman lagi. Sialan..!! tadi malam benar-benar memuaska.” Pipinya bersemu merah, dia malu.
Lalu aku megecup singkat bibirnya. “Aku ingin hubungan kita lebih baik lagi.” Pungkasku kemudian lalu melumat bibirnya kembali.
***
Aku duduk di sebuah Cafe tempatku membuat janji temu dengan Zoya setelah selesai Rapat. Tak lama aku melihatnya datang, wajahnya masih terlihat murung. Sialan..!! dia masih marah.
“Gimana kabar kamu..?” Aku mulai bicara.
“Baik, seperti yang kamu lihat.” Dan sejak kapan sikaapnya menjadi secuek ini terhadapku..?
“Aku sudah melakukannya.” Kataku kemudian. Dia terlihat terkejut, lalu menatapku seakan meminta penjelasan. “Aku sudah meniduri Shasha seperti yang kamu mau, aku sudah memperlakukannya sama seperti aku memperlakukan wanita simpananku lainnya.” Jawabku dengan sedikit ketus.
Dia terlihat senang dan antusias. Sialan..!! Wanita mana yang senang saat mendengar kekasihnya tidur dengan wanita lain..? Zoya benar-benar aneh.
“Benarkah..? Apa kamu serius.?”
“Kamu Gila.” Bentakku kemudian. “Kamu nggak tau apa yang sudah kamu lakuin. Kamu mendorongku supaya aku mau meniduri Shasha supaya dia terlihat sama dengan Kalian, tapi kamu salah, Bagaimanapun juga Shasha tetap berbeda. Dan apa kamu tidak takut jika aku mulai kecanduan dengannya lalu meninggalkanmu..??”
“Itu tidak mungkin, Tunggu saja, setelah sebulan kemudian kamu pasti bosan dengannya.”
“Jika tidak..?”
“Aku akan meninggalkanmu.” Jawabnya dengan pasti.
“Sialan…!!! Enggak… enggak bisa, Aku belum siap kamu ninggalin aku.” Jujur saja, seberapapun Shasha mempengaruhi hidupku, berpisah dengan Zoya adalah hal terakhir yang pernah aku pikirkan. Aku sayang dengannya Meski kini aku sadar perasaanku kepada Shasha tak pernah hilang bahkan semakin tumbuh sangat cepat seperti roket. Aku belum mau berpisah dengan Zoya.
“Kalau begitu, Kamu harus pilih salah satu.”
Dan setelah kata-kata itu aku termenung. Yaa aku memang haus pilih salah satu. Shasha… yang sudah seperti Segalanya untukku, Atau Zoya, Wanita yang banyak mengorbankan diri untukku.
“Aku tidak bisa memilih.” Jawabku lirih sambil menunduk.
“Lalu mau kamu Apa Ramma..??” dia mulai berteriak frustasi tak menghiraukan para pengunjung Cafe yang mulai melirik kearah kami.
“Maaf.. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri.” Yaa aku bingung..benar-benar sangat bingung. Ini sulit. Jika Shasha mau menuruti semua keputusanku, tapi tidak dengan Zoya, Aku tau dia wanita mandiri dan kuat. Dia bahkan memilih berpisah dengan suaminya, lelaki yang dicintainya, hanya karena pekerjaan suaminya tersebut Pilot, dan dia jarang mendapat perhatian.
Jika aku menuruti kemauan Zoya untuk meninggalkan Shasha, tentu saja itu akan menyakiti Shasha, Dan itu juga akan menyiksaku.
Dia lalu berdiri. “Aku akan pergi beberapa minggu ke singapore, Aku harap setelah kembali kamu sudah bosan dengannya dan meninggalkannya. Jika tidak, Aku minta kamu segera mengepak semua barang-barang kamu dari Apartemenku.” Katanya lalu dia berlalu pergi begitu saja.
Sialan..!! Brengsek..!!! Fuck..!!!
Apa tadi..?? Dia mengusirku..? Seorang Ramma Aditya diusir oleh seoang Wanita.? Hell…!!! dan sejak kapan wanita yang lemah lembut seperti Zoya berubah menjadi Macan betina yang ganas.? Apa ini sosok aslinya.? Sialan…!!! dia hanya memberiku waktu beberapa minggu.
***
Aku menunggu Shasha di ruang tunggu rumah sakit. Sore ini aku membawanya ketempat kerja Nadia, teman Zoya. Nadia yang kini kerja di rumah sakit sedikit terkejut karena mendapati aku, kekasih sahabatnya sedang mengantar wanita untuk menggunakan kontrasepsi. Sialan…!! Aku tak peduli dengan tatapan anehnya.
Shasha keluar dengan wajah berserinya. “Sudah selesai..?” tanyaku kemudian.
“Sudah.” Jawabnya santai. “Setelah ini kita kemana..?”
“Ke taman hiburan.” Jawabku cepat. Aku tak tau kenapa tiba-tiba aku ingin kesana aku hanya ingin kencanku dengan Shasha terasa sedikit Spesial, bukan nongkrong di klub malam, atau tidur semalaman di kamar Hotel. Shasha tidak akan kutempatkan pada posisi seperti itu.
“Kenapaa ke taman hiburan..?”
“Aku hanya ingin kesana Saja”
Dan akhirnya meluncurlah kami kesana. Kami banyak memainkan Wahana, Berjalan sambil menikmati Arum manis denga bergandengan tangan, membuatku merasa benar-benar sedang berkencan. Kencan secara Sehat.
“Sha… Apa kamu pernah lupain masa-masa kita dulu..?” tanyaku kemudian saat kami sedang menaiki Wahan Kincir Ria.
“Aku nggak pernah lupa.”
“Aku juga enggak..” jawabku kemudian. “Kalau suatu saat nanti kita berpisah, apa kamu masih akan mengingat masa-masa ini..?”
“Enggak..” Jawabannya membuatku sedikit terkejut. “Aku nggak akan pernah melupakan semua ini.” Lanjutnya lagi mebuatku menghembuskan nafas lega.
“Sha….” entah kenapa pertanyaan ini tiba-tiba terlintas di otakku. “Apa Kamu mau jadi istri Mas Ramma..?”
Dan seketika itu juga kulihat ekspresi terkejutnya, Matanya membulat seakan-akan tak percaya, Bibirnya ternganga, Wajanya pucat pasi. Siapa yang tak terkejut jika tiba-tiba di lamar di tempat tertinggi Di kota ini da dengan pelamar yang Brengsek seperti aku..??
Kuharap dia mau menerimaku.

__TBC__

Maaf agak pendek yaa,, Aku gantuk bgt.. Bye.. Bye… :* 🙂 😉

My Everything (Novel Online) – Chapter 7

Comments 6 Standard

Me New..My Everything

NB: Maaf lama bgt ngepostnya… selain nggak ada waktu, dan badan sakit.. nii kartuku benar-benar bikin aku jengkel… Lomott bgt… maunya ngepost sejak kemaren eperti PSWM Chapter 6… tapi aku malas nunggu loadingnya yang sampek membuatku ketiduran.. hehhehe ok langsung saja…

Chapter 7

Malam ini aku tidur di Apartemen zoya. Posisi kami tak seperti biasanya. Aku miring menghadapnya, tapi dia memunggungiku menjauh di ujung ranjang, bahkan dia tak ingin kusentuh. Sialan..!!! dia benar-benar marah terhadapku.
Paginyapun demikian. Dia membuatkanku sandwich tapi tanpa berkata sedikitpun. Zoya tak pernah memperlakukanku seperti ini. Aku tidak nyaman seperti ini..
“Sayang…” Aku memeluknya dari belakang saat dia mencuci piring bekas kami sarapan. “Jangan marah lagi.. aku sudah meminta maaf.”
“Kamu tau kan, bukan hanya permintaan Maaf yang aku inginkan.”
Aku lalu melepaskan pelukanku.”Zoya, Kamu tau kan Kalau aku nggak akan pernah meninggalkannya, aku tak bisa melupakannya, harusnya kamu tau itu.” Kataku dengan sedikit meninggi.
“Kenapa..?? Karena kamu mencintainya..? Iya kan..??”
“Sialan..!!! aku tak pernah mengatakan hal seperti itu.”
“Tapi sikapmu mengatakan seperti itu..” Dia mulai menangis dan berteriak kepadaku. “Aku lelah.. Aku lelah Ramm Jika setiap tidur kamu selalu menyebut namanya.. Aku marah saat melihat sebuah ruangan yang penuh dengan foto-fotonya… dan aku benci.. aku benci saat kamu tiba-tiba ingin bercinta denganku hanya karena setelah bertemu dengannya. Aku merasa hina, Aku merasa jika aku hanya sebagai pemuasmu saja.”
Akupun langsung memeluknya. “Enggak sayang.. bukan seperti itu.. kamu bukan hanya pemuasku.. aku sayang kamu..”
“Tapi kamu mencintainya… seberapa besar kamu mengelak Kamu tetap mencintainya…”
“Aku tidak memilih untuk mencintainya Zoya… kamu harus mengerti itu.. Aku juga tak suka kenyataan jika aku.. Aku membutuhkannya. Aku ingin sembuh, aku ingin melupakannya..”
Yaaa sekarang akhirnya aku sadar, jika dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku mencintai Shasha.. Aku membutuhkannya… semua orang didekatku mengetahui itu.. hatiku juga mengetahuinya tapi aku mencoba memungkirinya selama ini.. dan benar kata Zoya, seberapa besar usahaku memungkirinya, kenyataannya aku memang mencintainya, membutuhkannya dan aku tak bisa mengelak dari itu semua lagi…
Zoya melepaskan pelukan kami. “Jika kamu ingin aku menerimanya, Perlakukan kami secara Sama. Aku ingin dia bukan menjadi wanita sempurna untukmu.. Aku ingin Kamu memperlakukannya sama dengan kamu memperlakukan wanita-wanita yang kamu kencani sebelumnya.”
“Sial..!! itu tidak mungkin. Shahsa bukan wanita seperti itu.. aku mengenalnya sejak kecil.” Satu hal yang membuatku tak berani menyentuh Shasha, Dia gadis baik-baik, aku mengenalnya sejak kecil dan aku tau jika dia Gadis murni. Walau dia pernah bilang jika dia tak Perawan lagi, aku hanya mempercayai pernyataan itu sebanyak 35%.. siasanya aku tak yakin.
“Kalau begitu sepertinya kita tak bisa bersama lagi.. Aku nggak bisa berhubungan dengan seseorang yang menomorduakan aku.”
“Aku tidak menomorduakan kamu sayang.”
“Kamu menomorduakan aku Ramma.. Kamu ketempatku hanya karena kamu ingin tidur denganku, sedangkan kamu dengannya untuk memadu kasih, aku tak suka dengan kenyataan itu.”
“Ok… Kalau itu mau kamu…” kataku sedikit berteriak dengannya. “Aku akan memperlakukan dia sama seperti aku memperlakukan wanita-wanita yang kutiduri. Tapi kamu ingat perkataanku, Ketika perasaanku semakin besar karena hal ini, aku harap kamu tak Menyesal karena sudah menyuruhku melakukan ini.” Aku sedikit mengancamnya. Lalu aku bergegas pergi meninggalkannya.
Yaaa jujur saja.. selain aku menghormati Shasha karena mengenalnya sejak kecil dan tak mau menjadi orang yang merusaknya, Aku tak berani menyentuhnya karena satu alasan lagi, Aku takut jika aku sudah menyentuhnya aku tak akan bisa berhenti.. Aku takut jika nanti aku semakin menginginkannya, Semakin membutuhkannya, dan semakin mencintainya hingga tak ada tempat untuk wanita-wanita lain lagi. Jika itu sudah terjadi, berarti aku sudah berubah menjadi lelaki bodoh seperti Dhanni dan Renno, berarti aku sudah tenggelam semakin dalam kedasar jurang yang biasa kusebut ‘Zona Bahaya’. Dan aku tak suka jika itu terjadi.
Aku pergi meninggalkan Zoya, berharap jika aku kembali nanti kami akan baik-baik saja dan dia sudah menghilangkan rasa marahnya terhadapku. Didalam mobil tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku mengangkatnya dan mendapti suara lembut menyapaku.. Shasha.. Kekasih baruku..
Mas Ramma dimana..? aku di Apartemenmu.. Apa nanti bisa kesini..?” tanyaya kemudian.
“Iyaa.. aku nanti kesana, tapi mungkin agak Sore, aku ada kerjaan di kantor.”
“Baiklah.. Aku menunggumu yaa..”
“Ada apa..? Apa ada kejutan..?”
“Sedikit..” Katanya sambil sedikit tertawa. “Emm.. Apa Mas Ramma baik-baik saja..?” tanyanya kemudian.
“Yaa.. Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa..?”
“Kupikir Mas Ramma bertengkar dengan wanita itu.. Emm aku.. aku jadi nggak enak.” Katanya kemudian. Dia tau hubunganku dengan Zoya, tapi dia tak marah. Apa dia tidak cemburu..??
“Aku nggak apa-apa kok..kita bahas nanti yaa… Mas lagi di jalan.”
“Ok… oo iyaa.. jangan makan di luar yaa.. aku masak untukmu..”
“Masak..?” tanyaku tak percaya. Seorang gadis manja seperti Shasha apa benar-benar bisa masak..??
“Iyaa.. lihat saja nanti. Ok.. kalau gitu hati-hati di jalan yaa… Aku.. Aku sayang Mas Ramma..”
Dan jantungku seakan ingin meledak ketika mendengar pernyataan terakhirnya.
“Aku juga..” Hanya itu jawabanku. Sialan.. !!! aku tak bisa menjawab lebih, aku hanya tak ingin membuatnya semakin berharap padaku, itu akan menyakitinya.
Teleponpun ditutup. Dan jantungku masih saja berdetak cepat dan keras seperti ingin meledak. Aku memegangi dadaku dan bergumam sendiri. ‘Kenapa Shsha memberikan Efek seperti ini terhadapku hanya dengan kata-katanya..??? apa aku bisa melawannya nanti..??’
***
Akhirnya Sore juga…
Entah karena pekerjaanku membosankan atau karena Shasha sudah menunggku, aku berharap hari ini cepat berlalu dan berganti Sore. Aku pulang keApartemen dimana Shasha sudah menungguku. Ketika pulang, entah kenapa pandanganku tertuju pada sebuah toko bunga tak jauh dari kantorku, dan tanpa sadar ternyata aku sudah menghentikan mobilku di depan toko tersebut..
Membeli setangkai bunga mawar Merah bukanlah kebiasaanku, aku bahkan tak pernah membelikan seorangpun bunga mawar. Tapi entah kenapa hari ini aku ingin memberikannya pada seseorang. Bukan Zoya.. tapi Shasha.. Ya tuhan…. apa aku sudah benar-benar gila..?? Aku bahkan sudah berubah menjadi Lelaki yang menggelikan dengan membawa setangkai mawar merah, Sialan..!!
Sampai di Apartemen aku benar-benar malu setengah mati. Apa aku buang saja bunga ini..?? Ahhh tidak, siapa tau Shasha menyukainya. Akhirnya aku masuk.. sepi.. tak ada orang, kemana Shasha..? bukankah tadi dia bilang jika akan menungguku pulang..? Aku menuju ke meja makan dan mendapati berbagai menu masakan Rumahan. Apa semua ini Shasha yang masak..?? Sejak kapan dia pandai memasak..??
“Ehhh.. Mas Ramma sudah pulang..” Kata suara lembut di belakangku. Dan ketika aku berbalik, God… bunuh aku sekarang juga karena demi apapun juga aku menginginkannya saat ini juga.
Shasha terlihat segar karena baru selesai mandi, Aromanya sangat harum tercium di indera penciumanku, Dia mengenakan juba mandi berwarna Pink dengan handuk Pink juga yang berada di kepalanya da juga sendal rumah yang berwarna Pink Juga.. sialan…!!! dia sudah seperti Arum Manis berwarna Pink yang siap di santap.
Tanpa sadar kakiku berjalan mendekatinya. Dia tidak mundur malah berdiri mengangkat dagunya seakan-akan dia berkata bahwa dia tak takut.
“Kamu cantik.” Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa bisa ku kontrol. Dan bibirkupun berjalan dengan sendirinya untuk mencari bibirnya. Menyambutku sepulang kerja dengan seperti ini membuat Shasha terlihat seperti istriku. Sialan..!!!
Jas Dan bunga yang kubawa jatuh begitu saja, Tanganku mulai beraksi, Kubuka sabuk dari juba mandinya dan nampaklah tubuh indah Shasha di baliknya. Sialan..!!! dia bahkan sudah telanjang saat menyambutku. Apa dia menginginkannya..?? Tidak.. Shasha bukan seperti wanita murahan yang kukenal. Tapi jika bukan kenapa dia melakukan ini layaknya seorang wanita penggoda..??
Aku menangkup keduua payudara lembutnya yang astaga.. benar-benar sangat menggoda. Dia mengerang, mendesah diantra ciuman panas kami. “Apa kamu menginginkan ini..?” tanyaku kemudian.
“Emm.. Setidaknya kita makan dulu..” katanya susah payah.
“Aku ingin makanan pembuka..”
“Emmm tapi aku..” Dirinya sedikit ragu. Kenapa..?? kulepaskan ciuman kami dan kupandangi wajahnya. Jika aku melihat sebuah keraguan, aku akan berhenti. Tapi.. “Aku tidak ahli diranjang.” Katanya polos. Dan itu membuatku tertawa.
“Ekspresimu benar-benar lucu..” kataku sambil tertawa.
Dia terlihat sedikit tersinggung, “Lucu kenapa..? Bagaimanapun juga aku sudah pernah melakukan Seks, Jadi Mas Ramma jangan menertawakanku.”
“Enggak.. aku hanya…” dan lagi-lagi aku tertawa. Melihat wajah polosnya yang sedang merajuk. Dan karena tawaku itu dia semakin merajuk. Dengan menghentak-hentakkan kakinya dia menuju kekamar. Aku mengikutinya dan ternganga melihat kamarku.
Terlihat lebih bersih, walau sebenarnya banyak barang berwarna Pink didalamnya, bahkan sarung bantal dan selimutkupun menjadi Pink.
Aku melihat dia menangis dan duduk di pinggiran ranjang. Gadis cengeng.. pikirku kemudian, Aku menghampirunya duduk berjongkok di hadapannya.
“Heii.. maafkan aku… aku nggak bermaksud menyinggungmu..” kataku sambil mengusap pipinya. “Apa Kau pindah kesini..? Kenapa banyak sekali barang-barangmu disini..?” tanyaku kemudian.
“Sebenarnya inilah kejutan buat Mas Ramma, mulai hari ini aku pindah kesini.”
“Kenapa bisa seperti itu..? Bagaimana dengan Renno..?”
“Aku minta izin sama Mama, Merengek-rengek padanya, dan Mama mengijinkan, Untuk Mas Renn, aku minta bantuan Mbak Allea.. tapi tetap saja, hari sabtu dan minggu aku harus pulang.”
“Kamu yakin mau tinggal disini..?” Aku benar-benar tak mengerti apa Kemauan Shasha. Seakan-akan dia mendorong dirinya sendiri masuk kemulut singa.
“Aku hanya ingin semakin dekat dengan Mas Ramma..” Jawabnya lembut sambil menyentuh pipiku. Dan tanpa banyak bicara lagi akumenerjangnya kebelakang hingga dia kini sudah berada di bawahku.
“Aku kasih kamu kesempatan untuk mundur jika kamu belum siap.”
“Aku siap.”
Sialan…!!! Jawabannya benar-benar terdengar menantangku. Dan akupun langsung melumat bibirnya, menghisapnya lidahku mulai menari-nari dan mencari-cari lidahnya, sialan..!!! Aku sadar jika kali ini aku tak bisa mundur lagi.
Tanganku sudah mendarat di dada polosnya, memainkannya dan aku tak kuasa menahan diri untuk sampai disana, mulutku sudah menjelajahi sepanjang Rahang dan lehernya… Astaga… aku benar-benar tak bisa berhenti mengaguminya… Shasha gadis kecilku kini sudah menjadi wanita dewasa.
“Ini milikku..” Kataku diantara kedua payudaranya, dan mulai menghisap salah satunya. Sialan… Nikmat… begitu nikmat…. sedangkan tanganku kini sudah meraba-raba perut datarnya, perut yang membuatku kagum dan semakin menegang. Turun kebawah hingga aku menemukan titik sensitifnya.
Sialan…!!! dia basah, sangat basah… dan dia siap untukku. Rintihannya, desahannya benar-benar membuatku ingin meledak saat ini juga.
“Sayang.. Aku tak bisa menahannya lagi.” Kataku disela-sela peyudaranya.
“Lakukanlah…” katanya pasrah.
Dan Yaa… aku akan melakukannya saat ini juga, Aku melucuti seluruh pakaianku hingga nampak tubuhku yang polos tanpa sehelai benangpun. Meraih Sesuatu yang terbungkus Foil yang berada di laci meja sebelah ranjangku. Lalu memasangnya di kejantanannku yang asataga… aku tak bisa mengatakannya lagi…
Semuanya membengkak, Nyeri dan yaa ampunn.. aku ingin mengakhiri penyiksaan ini. Tiba-tiba ada sedikit keraguan yang merayapi hatiku.. Bagaimana jika setelah ini aku semakin menginginkannya..?? bagaimana jika setelah ini Shasha semakin rusak karenaku…?? tidak… bukankah Shasha mengatakan sendiri bahka dia sudah tak perawan dan pernah beberapa kali tidur dengan kekasihnya..?? itu tandanya bukan aku yang merusak Shasha. Lalu bagaimana dengan pertanyaan pertama..?? bagaimana jika aku semakin menginginkannya..??? Ahhh persetan dengan pertanyaan itu. Aku tak akan tau bagaimana hasilnya jika aku belum melakuannya.
Kembali menindihnya aku memposisikan kedua kakiku diantara kedua kakinya. Sialan..!! dia terlihat begitu nikmat dari sini. Aku mencumbunya kembali sesekali mengoda titiknya sebagai penetrasi Awal. Tubuhnya kaku saat aku mulai memasukinya.
Sempit.. sangat sempit.. Dan Astaga,, ini benar-benar bisa membunuhku. Aku mendorong-dorong masuk tapi sangat sulit sekali, seperti ada sebuah penghalang yang menghalangi jalanku, aku melihat raut wajahnya memucat, tubuhnya sekaku kayu, Dan Astaga… Apa ini..??? jangan bilang kalau.. Kalau…
Wajahku memucat, “Kamu masih perawan..?” Desisku tajam.
Dia tak menjawab, dia hanya mengeryit seperti orang yang sedang kesakitan. “Kamu membohongiku..?” aku mengeluarkan pertanyaan lagi, dan lagi-lagi dia tak bersuara. Sial…!!! aku tak bisa berhenti. Jika aku berhenti itu akan menyakitinya dan membuat pengalaman pertamannya menjadi pengalaman terburuk yang bisa dia ingat. Akupun akhirnya melanjutkan aksiku, mendorongnya lagi dan lagi tak mempedulikan kesakitannya.
Hingga penghalang itu akhirnya tertembus juga.. membuatku menyatu seutuhnya dengan dirinya.. dia merintih kesakitan dan aku mulai menciumnya…
Marah.. kecewa.. dan Bahagia bercampur menjadi satu. Marah karena dia membohongiku.. Kecewa karena dia membuatku menjadi seorang yang merusaknya… dan Bahagia karena Dirinya kini hanya milikku.. milikku seutuhnya…..
Cumbuanku membuatnya terengah-engah kembali.. membakar gairahnya lagi.. dia mulai menikmatinya.. menikmati permainanku…
Tuhann…. disana sempit sekali…. aku sulit bergerak… aku tak bisa menahannya terlalu lama, tapi aku harus bertahan sebelum dia mencapai klimaksnya terlebih dahulu…
Ketika matanya berkabut, nafasnya terputus-putus, dan dinding kewanitaannya mengetat, aku tau jika dia sudah sampai, daan kini aku tak akan menahannya lagi, kupercepat lajuku hingga aku menemukan kenikmatanku sendiri.
Yeaahh… Ini benar-benar Seks terbaik dalam hidupku. Aku tersungkur tanpa tenaga di atas tubuhnya. Kami masih dalam keadaan menyatu. Sial..!! dia benar-benar bisa membunuhku.
Aku menarik diri dan mengambil tissue untuk membuang bungkusan sialan di kejantananku. Aku manatapnya yang terbaring lemah dengat tatapan bersalah… tatapan iba.. dan berubah menjadi tatapan kemarahan saat melihat sesuatu berwana merah diantara kedua kakinya.
“Bersihkan itu.” Kataku dingin, membuatnya terduduk dan menatapku dengan tatapan tanda tanyanya.
Aku menuju kekamar mandi, tak menghiraukannya, aku terlalu marah… mengguyur seluruh tubuhku dengan air dingin, sesekali aku mengumpat sambil memukuli tembok. Sialan…!!!! bertahun-tahun aku menahan supaya tak menyentuhnya, tapi hari ini aku menjadi seorang brengsek sialan yang merenggut sesuatu berharga miliknya.
Beberapa kali aku pernah bercinta dengan wanita yang masih perawan, tapi aku tak mengharapkan ini terjadi dengan Shasha… aku berani meniduri Shasha ketika dia bilang dia sudah tak perawan, dia sudah tak sepolos dulu. Aku mau bercinta dengan Shasha yang masih perawan hanya jika dia sudah menjadi istriku… sumpah demi apapun juga aku menyesal melakukan ini… Berkali-kali kupukul tembok kamar mandi ini sebagai hukuman karena sudah menodai Gadisku.. gadis yang sangat ku puja… aku bahkan melihat bekas cakaran Shasha di lenganku, tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya dia tadi… dan Sialan…!!!! aku baru sadar jika aku bersikap tak baik dengannya tadi sebelum masuk kedalam kamar mandi. Dan itu pasti semakin menyakitinya.
Aku segera meraih juba Mandi yang berada dalam lemari kecil di ujung kamar mandi, mengenakannya dan bergegas keluar menemui Shasha dan meminta maaf padanya.
Sedikit terkejut, saat keluar aku sudah mendapatinya mengenakan Rok dan T-shirt miliknya… dia berjalan mondar-mandir memunguti barang-barangnya dan dimasukkannya kedalam koper. Dia menangis… Aku menghampirinya dan meraih tangannya.
“Apa yang kamu lakukan..??” tanyaku sambil mencengkeram lengannya.
“Lepaskan aku.. aku ingin pergi…”
“Sialan…!! dengan apa yang sudah kita lakukan tadi kamu ingin pergi Haahh..??” aku tak dapat mengontrol emosiku lagi.. aku berteriak sangat keras tepat di hadapannya.. dan dia diam seketika. Sial..!!! aku sudah keterlaluan.
“Maafkan aku… Aku nggak bermaksud menyakitimu..” Kataku sambil memeluknya..
Dia menangis lagi dalam pelukanku. “Mas Ramma kenapa berkata dingin padaku..?? Aku tau jika aku bukan wanita liar yang bisa memuaskanmu.. tapi setidaknya aku berusaha,..”
“Bodoh… Aku marah padamu bukan karena itu.. aku marah karena Kamu membohongiku.” Lalu aku melepaskan pelukanku, memegang kedua bahunya dan bertanya. “Kenapa kamu melakukan itu..?? Kenapa kamu membohongiku..?”
“Karena jika aku jujur Mas Ramma nggak akan mau menyentuhku.”
“Aku tak mau menyentuhku karena kamu berbeda Sha..”
“Aku nggak mau jadi orang yang berbeda Mas..”
“Astaga… bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini padamu.” Gumamku kemudian. “Sha… dengar.. bagi Mas Ramma kamu tidak sama dengan wanita yang Mas Ramma kenal, kamu istimewa, dan aku nggak mau merusak kamu.”
“Mas Ramma nggak ngerusak aku..”
“Dengan ini Aku sudah merusak kamu Sha.. Aku menjadi bajingan yang sudah menodaimu, lihatlah bagaimana menyesalnya aku melakukan ini padamu.”
“Mas Ramma bukan bajingan..”
“Yaa… Aku bajingan, Aku berharap jika kita melakukan ini kita sudah dalam posisi suami istri Sha.. bukan seperti ini..”
“Tapi Mas Ramma nggak akan menikahiku.”
“Setidakya aku memiliki keinginan untuk menikahimu..” pernyataan itu meluncur begitu saja dari bibirku.
“Apa..??” dia terlihat terkejut dengan perkataanku.
Sialan..!!! Lagi-lagi aku keceplosan. Aku tak pernah bercerita ini kepada siapapun termasuk Mamaku sendiri. Satu-satunya Wanita yang membuatku memikirkan Pernikahan Adalah Shasha.. satu-satunya wanita yang ingin kuajak Menikah adalah Shasha.. Satu-satunya wanita yang menjadi istri dalam Mimpiku adalah Shasha… meski Zoya pernah dua kali mengandung anakku.. meski aku pernah berkali-kali bercinta dengan model-model cantik, nyatanya yang membangkitkan gairahku untuk menikah hanyalah Shasha… tapi selama ini aku memungkirinya, karena aku tau jika semua itu tak akan terjadi…

__TBC__

Semoga puas dengan Chapter ini yaa… eheheh