My Everything (Novel Online) – Epilog

Comments 8 Standard

mecover1My Everything

#Epilog

 

 

Tiga bulan kemudian…
Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk dan Rambut yang masih basah, Shasha pasti akan mengomel jika melihatku saat ini karena aku sudah membasahi karpet Hello kittynya dengan rambut basahku. Hahha biarlah… aku sangat suka saat melihatnya mengomel.
Tiga bulan pernikahan kami benar-benar sangat membahagiakan, jika tau menikah akan seperti ini aku akan Menikah sejak dulu. Bagaimana tidak, Setiap saat Shasha selalu menghubungiku, menanyakan keadaanku, setiap pagi selalu mebantuku menyiapkan diri keekantor, setiap sore selalu menyambutku, dan Setiap malam selalu bercumbu mesrah layaknya pasangan muda yang di buai asmara –Walau tak setiap malam berakhir dengan bercinta-.
Kehidupanku benar-benar sangat berubah 180 derajat. Jika dulu dalam pikiranku hanya main, bercinta, main, dan Bercinta, maka kini dalam otakku hanya Kerja dan pulang menemui istri cantikku. Beginikah yang dirasakan Dhanni dan Renno..?? Ahhh sialan..!!! Mau tak mau aku harus mengakui jika aku saat ini sama Bodoh dan lembeknya dengan Mereka.
Mengingat nama Renno, aku jadi teringat tentang kejadian beberapa saat yang lalu. Ketika aku dan Shasha mengabarkan kehamilannya untuk pertama kali. Ekspresi Renno saat itu benar-benar sangat lucu, dia menatapku dengan tatapan ‘Sialan..!!! Gue Kecolongan’ dan aku benar-benar tak dapat menahan tawaku saat itu. Hubungan kami semaakin membaik, meski tak ada rasa canggung atau hormat sebagai Saudara, Aku suka itu. Renno sudah sepenuhnya percaya padaku, percaya jika aku benar-benar mencintai adiknya.
Zoya..? tak ada kabar lagi darinya, dan akupun tak mau lagi mendengar kabar darinya atau dari wanita lain mantan kekasihku dulu. Shasha saat ini menjadi wanita pencemburu dan sedikit Rewel, aku tau itu karena kehamilannya, makanya aku tak mau mengambil Resiko dia ngambek karena mengetahui aku masih berhubungan dengan wanita lain.
Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, sejak setahun yang lalu, Aku sudah berhenti menjadi Fotografer, tapi tentu saja aku masih sering membawa kamera meski itu hanya untuk Memotret Shasha yang masih tidur pulas atau memotret kemesraan kami untuk koleksi pribadi.
Perubahan sekarang juga terjadi pada Kamarku. Kamar yang saat ini kutinggali adalah kamarku di rumah Mama, yaa.. aku tinggal di rumah Mama. Keseluruhan warnanya menjadi warna Pink, mulai dari karpet, selimut, Sarung bantal, BedCover, hingga Gorden semuanya berwarna Pink. Aku tak bisa menolaknya karena entah kenapa jika Shasha yang meminta maka aku hanya akan mengangguk dan Takhluk dengan permohonannya. Sial..!!
Masalah Masakan.. Dia masih belum bisa memasak. Masakannya masih aneh. Tapi mama dengan sabar mau mengajarinya untuk memasak, dan aku tau suatu saat nanti dia akan menjadi Istri dan ibu yang sempurna untukku dan anak kami.
Aku meelihat pintu kamar kami di buka menampilkan sossok cantik dengan perut besarnya masuk membawa beberapa barang dari luar.
“Heii apa yang kamu lakukan..? kenapa nggak minta baantuan aku.?” Kataku menghampirinya sambil membawa barang tersebut.
“Kamu saja belum pakek baju Mas, mau bantuin dari mana..? dan ya tuhan… ini sudah jam delapan, kita akan telat nanti.” Dia mulai mengomel.
Saat dia hendak meninggalkanku, aku memeluknya dari belakang. “Kita nggak usah ikut yaa… dirumah saja.”
Dia melepas paksa pelukanku lalu menghadap kearahku. “Kita harus tetap ikut, aku mau piknik Mas.. Sumpek di rumah terus.”
“Tapi aku kasihan sama dia.” Kataku sambil mengusap perut buncitnya.
“Ini permintaan dia, pokoknya kita harus ikut Piknik, titik.” Katanya dengan bibir mengerucut.
Dan aku tak bisa menahannya lagi. Kusambar bibir itu, melumatnya hingga dia terengah-engah. Masalah gairah, jangan ditanya lagi. Kami akan selalu bergairah jika hanya berduaan meski lagi-lagi tak berakhir dengan bercinta. Sial..!!! namun kali ini sepertinya berbeda. Aku menginginkannya saat ini juga, dan dia tak boleh menolak.
Kulepaskan pangutanku dan berbisik di telinganya. “Aku ingin kamu menaikiku saat ini juga.” Dia terlihat sangat terkejut dengan ucapan sensualku, tapi sebelum dia berbicara dengan cerewet lagi aku kembali memangut bibir Seksinya, mencumbunya hingga dia tak mampu menolak permintaanku tersebut.
***
Siang ini kami berada di sebuah taman yang rindang dengan banyak pepohonan dan juga lengkap dengan Danau buatanya. Sejuk dan sangat sejuk. Apa lagi ditemani dengan orang-orang yang kita sayangi.
Disebelah kiri aku melihat Dhanni yang sedang sibuk bermain Bola dengan Jagoan pertamanya, Brandon Revaldi, sedangkan istrinya Nessa, sedang asying menggendong Jagoan kedua Mereka Aaron Revaldi.
Didepaanku, Di jalan setapak dekat Danau, aku melihat Renno sedang mengajari Jagoannya Reynald Handoyo untuk berlari-lari kecil. Reynald Memang sudah bisa berjalan tapi masih sedikit tertatih-tatih. Sedangkan Allea istrinya sibuk menyiapkan makan siang kami. Yaaa… Allea memang bisa diandalkan, dia pandai memasak.
Sedangkan aku sendiri, Ya tuhan… saat ini aku sudah menjadi seorang budak karena sedang memijat betis istriku yang berperut buncit. Dia berdalih, katanya Aktifitas kami tadi pagi sebelum Piknik membuat kakinya pegal. Dan aku hanya bisa menurutinya. Sungguh, aku benar-benar berubah menjadi lelaki Bodoh saat di hadapannya. Sesekali aku mengusap Perutnya, membuat putri kami menendang-nendang. Putri..?? Yaa.. ternyata Anak pertamaku kemungkinan besar adalah seorang Putri. Dan aku bertekat akan menjadikannya Putri terkuat melebihi jagoan-jagoan Dhanni dan Renno.
Aku Sangat bahagia….
Melihat Akhir seperti ini benar-benar membahagiakan untukku. Berkumpul dengan sahabat-sahabatku, berbahagia dengaan orang-orang yang kami sayangi, adalah Hal yang sangat harus di syukuri meski sebenarnya kami tak pernah bersyukur dengan keadaan kami.
Aku tau… Aku Dhanni dan Renno adalah lelaki Brengsek yang tak pantas bersanding dengan malaikat-malaikat kami saat ini. Kami masih banyak memiliki kekurangan mengingat kami bukan lelaki baik-baik. Tapi aku yakin jika Kami akan berubah, kekurangan kami akan tertutupi dengan kelebihan Wanita kami. Karena pada dasarnya tak ada manusia yang sempurna, kita hidup saling berpasangan untuk melengkapi dan menyempurnakan pasangan kita. Itulah yang terjadi denganku Dhanni dan Renno saat ini.
Cinta saat ini bukan menjadi ‘Zona Bahaya’ Bagi kami, kami sekarang menyebutnya sebagai ‘Zona Bahagia’ karena kami bahagia dengan Cinta yang berada di sisi kami saat ini.

 

******

 

Huaaa…. Akhirnya lunas juga nihhh janjiku untuk menyelesaikan Trilogi ini.. Hufft… #NgelapKeringat Cukup panjang yaa perjalanan Dhanni Renno daan Ramma.  Ooo iyaa untuk yang Nungguin My Everything di Playstore, maaf banget yaa… My Everything nggak akan ada Di Playstore karenaa Genrenya Erotis, dan aku akan membuat Versi buku novelnya mulai dari Dhanni Renno dan Ramma.. jadi yang berminat bisa Pesan di aku nanti yaaa (Add fbku atau Like Halaman Fb Dengan Nama Mamabelladraamalovers – Zenny Arieffka )…. hehehe

   10553363_1240602369289643_5792808083769134030_n  Nahhh untuk yang disebelah ini aku kan belum cerita siapa mereka, Merekaa adalah Brandon (Anak Dhanni) Reynald (Anak Renno) dan Aaron (Anak kedua Dhanni). Semogaa aku masih punya banyak waktu penjaang supaya bisa mnyelesaikan kisah mereka. OOppss untuk anak Ramma sendiri tenang.. pasti ada kok… hheheheh. Tapi tentunya nunggu PSWM sama MBE selesai dulu yaaa.. biar yang baca dn yang nulis nggaak pusing 7 keliling.. hahahahha okkk terima kasih banyakk udah mau mampir ke blog ini.. See You Next Story… #KissHugFromAuthor

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

Advertisements

My Everything (Novel Online) – Chapter 15 (End)

Comments 11 Standard

mecover1My Everything

NB : ye.. ye… ye… Congrulations… Akhirnya ME tamat juga yaa… Walau nggak sekeren atau semanis yang kalian bayangkan, tapi aku cukup senang karena bisa mengEksekusi ME ini dengan sebaik-baiknya (Setidaknya bagiku sendiri hahah). Aku mau ngucapin terimakasih bangett sama yang sudah mau Baca cerita-cerita nggak jelas ini, Yang sudah Rela ngasih Like Atau Coment buat Cerita ini, Yang sudah mau nunggu bahkan membuang tenaga untuk berbaper2an Ria dengan Cerita ini, yang sudah baca Dari Buku pertama hingga Buku terakhir Serial The Badboys ini (mulai dari Dhanni Renno dan Ramma), Yang mau ngasih masukan-masukan dan juga semangat-semangat untukku. terima kasihhhhh bangettt… tanpa kalian aku bukan apa-apa.. Hikksss… 😥 Okk Langsung saja kalau begitu… Ehhyaa… masih ada Epilognya yaa… jadi tunggu Epilognya juga yaaa.. heheheh

Chapter 15

 

“Saya ingin Melamar Shasha Oom.”
Setelah perkataanku itu semuanya tampak hening. Tak ada yaang bersuara satupun.Ada apa.. Apa tak ada yang mau menerimaku sebagai menantu di rumah ini..?
“Oom. Bagaimana..? Saya benar-benar ingin menikahi Shasha Oom.” Kataku lagi karena tak ada sedikitpun Respon dari semua orangyang berada di dalam ruangan ini.
“Nak Ramma yakin dengan ucapan Nak Ramma.?”
“Saya yakin Oom.” Kataku dengan pasti.
“Apa yang membuat nak Ramma yakin.?”
“Saya mencintainya.”
“Hanya itu.?”
“Saya tidak bisa hidup tanpanya.”
“Bagaimana denganmu Sha..?” Kali ini Oom Handoyo menatap Shasha yang kini sedang meremaas tanganku.
“Aku.. Aku sayang Mas Ramma Pa..”
“Pa.. Apa Cinta cukup untuk menjadi modal berumah tangga.?” Kali ini Renno mulai berbicara. Sialan.. dia pasti mengacaukan semuanya.
“Maksud kamu apa Renn.?”
“Aku nggak akan terima dia jika dia hanya melamar bermodalkan Cinta.”
“Lalu.. Apa mau kamu.?” Oom Handoyo masih tak mengerti arah pembicaraan Renno.
“Aku hanya butuh bukti dan kepercayaan.” Jawabnya tegas sambil menatapku dengan tatapan membunuhnya.
“Papa masih tak mengerti.”
“Shasha adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam keluarga ini. Aku nggak akan membiarkan seorangpun menyakitinya. Aku hanya butuh bukti bahwa dia berubah dan tak akan menyakiti Shasha lagi..” katanya dengan pasti.
“Saya akan membuktikannya Oom.” Kataku pada Oom Handoyo tapi tatapan mataku terarah pada Renno.
“Dengan Apa.?” Kali ini Renno menantang.
Aku berdiri tepat di hadapannya. “Lo Akan tau, tapi saat Gue sudah memenuhi Syarat Lo, Gue akan tagih Janji Lo ntuk merestui hubungan Kami.”
Renno mengangguk pasti. Aku tau dia tak akan ingkar janji.
Akhirnya malam menegangkan itu di tutup dengan kepergianku. Meski aku belum mendapat jawaban pasti, setidaknya aku senang karena Renno mau memberiku kesempataan untuk membuktikan padanya jika aku bisa berubah.
***
Siang ini aku berada di sebuah Butik langganan Mamaku untuk mengambil baju untuk resepsi pernikahanku besok. Resepsi pernikahan..? Yaaa… Akhirnya besok, hari yang kutunggu-tunggu itu tiba juga.
Ini Sudah setahun setelah kejadian dimalam Aku melamar Shasha di hadapan kedua orang tuanya. Apa kalian fikir aku mendapatkan Shasha dengan begitu mudah..? Seperti Dhanni yang hanya mengandalkan Perjodohan kunonya untuk mendapatkan Nessa..? Atau seperti Renno yang hanya mengandalkan Keadaan yang membuatnya harus bertanggung jawab terhadap Allea..? Ayolah… ini tak sesederhana itu. Bisa di bilang waktu setahun terakhir ini adalah Waktu dimana aku memasuki Neraka. Sialan..!!
Aku benar-benar berusaha sangat keras untuk mendapatkan kepercayaan dari keluarga Shasha terutama Kakak Sialannya itu. Dimulai dari berbenah diri, Aku memutuskan semua kontakku terhadap para wanita-wanita yang dekat denganku entah itu Model atau sekertaris-sekertaris Seksi yang sering kutemui. Aku berhenti menjadi Fotografer, mungkin ini terdengar lebih berani, tapi aku sudah bertekat akan melakukan apapun demi mendapatkan Shasha.
Belum lagi Kantor pribadiku yang saat ini sudah seperti Asrama Pria karena tak ada seorang wanitapun yang bekerja disana. Sialan…!!!
Tak hanya itu. Tak Jarang Renno memperburuk suasana dengan mengadakan Rapat santai disebuah Pub atau mengadakan acara-acara minum bersama disebuah Club dengan wanita bayaran untuk menemani minum disebelah kami. Aku tau dia hanya mengujiku, bahkan mungkin mengerjaiku. Dan aku berusaha sekuat tenaga jika aku tak akan tergoda meski sebenarnya tubuhku berkata lain. Yaa tentu saja aku tergoda dan berakhir Mastrubasi didalam kamar mandi. Sial…!!!
Renno juga membatasi pertemuanku dengan Shahsa, kami hanya bertemu seminggu duaa kali dan itupun harus di ruang tamu mereka.
Shiitt…!!! Dia benar-benar membunuhku.
Larangan Renno hanya berlaku beberapa bulan bagiku, sisanya tentu saja aku melanggarnya. Dengan diam-diam dan mengendap-endap seperti seorang pencuri, aku memasuki kamar Shasha yang berada di lanta dua. Tentu saja aku menyuap beberapa pelayan dan penjaga rumah mereka. Aku tak peduli lagi dengan Syarat Sialan Renno yang terakhir itu.
Pada akhirnya, Dua bulan yang lalu Renno menyerah dan menyetujui Lamaranku. Dia mengakui bahwa kini aku sudah berubah. Yahh tentu saja sudah berubah, berubah total malah. Tak ada kata wanita atau Seks lagi dalam hidupku setahun terakhir ini.
“Ramma..” Suara lembut itu mengalihhkan pikiranku. Jangan bilang kalau itu mantanku.
Aku menoleh kebelakang dan mendapati sosok wanita yang cukup lama tak kutemui. “Nadia.” Yah.. dia Dokter Nadia teman Zoya.
“Heii… lama Nggak ketemu, apa kabar.?” Sapanya.
“Aku baik, kamu sendiri.?”
“Seperti yang kamu lihat, Aku juga baik.” Jawabnya kemudian. “Ramma, apa kita bisa ngopi sebentar.? Ada yang pengen aku omongkan.” Kataanya kemudian.
Aku melihat jaam tanganku, sepertinya ada cukup waktu. “Baiklah, tapi aku tak bisa lama.” Kataku kemudian lalu kami menuju kesebuah Cofee shop dissebelah Butik langganan mamaku.
***
“Kamu ngapain kebutik itu sendirian.?” Tanyanya saat kami sudah duduk menikmati Cofee pesanan kami.
“Aku mengaambil baju pesanan Mama untuk resepsi pernikahanku besok.”
“Apa..? Kamu menikah.? Sama Shasha..?” Tanyanya dengan raut terkejut.
“Kamu tau dari mana tentang aku dan Shasha.?”
“Kamu kan pernah mengajaknya ketempatku untuk memasang kontrasepsi.” Dan aku mengangguk, sejujurnya aku sudaah lupa.
“Ramm, Bagaimana kabar Zoya.?”
Sontak aku menatap mta Nadia. “Harusnya kamu yang tau kabarnya, kamu kan sahabatnya. Aku nggaak tau apa kabarnya dan aku nggak mau tau.”
“Kamu pikir sejak kejadian itu dia mau mengaanggapku sebagai temannya lagi.?”
Aku mengangkat kedua bahuku. “Mungkin.”
Nadia menggeleng. “Dia sangat marah kepadaku karena secara tak langsung aku yang membuat hubungan kalian putus.”
Aku tersenyum hambar. “Sialan..!!! Harusnya dia sadar jika da sendiri yang menghancurkan hubungan kami.” Gerutuku.
“Kupikir dia sekarang berada di rumahnya di Singapore, Apa kamu nggak mau menemuinya..?”
“Untuk apa..? hubungan kita sudah selesai malam itu juga. Aku terlalu muak dengannya apa lagi saat mengingat jika selama ini dia sudah membohongiku.”
Nadia hanya terdiam dambil sesekali memainkan cangkir Cofeenya.
“Nad.. apa benar jika Zoya sebenarnya masih cinta dengan suaminya walau sudah hidup bersamaku saat itu.?”
Nadia menghembuskan nafas panjang. “Sejujurnya aku juga tak tau bagaimana perasaannya, aku hanya berpikir bahwa dia belum mau berpisah dengan Ardi karena setauku Dia masih sering menemui Ardi.”
Sial..!! Ternyata wanita itu benar-benar sudah menipuk selama ini.
“Ramma.. apa nggak sebaiknya kamu berbaikan dengannya, walau kalian nggak mungkin bersama tapi setidaknya hubungi dia, aku benar-benar merasa tak enak dengannya.”
“Maaf Nad.. Aku nggak bisa, aku nggak akan mau mengenalnya lagi.” Kataku dengan pasti. “Emm… Siapa tau kamu nggak ada acara besok, datangah ke resepsi pernikahanku.” Kataku mengalihkan pembicaraan.
Nadia tersenyum. “Aku minta maaf sebelumnya, besok aku juga ada acara lamaran adikku.”
Akupun tersenyum kepadanya. “Baiklah, Sepertinya memang kamu sangat sibuk. Kupikir kita masih tetap bisaberteman walau tanpa Zoya.”
“Tentu saja.” Jawabnya cepat. “Aku masih ingin melihat tampang bodohmu nanti saat kamu mengantar istrimu melahirkan.” Katanya sambil tertawa.
“hahhaha Kamu salah, aku nggak akan memperlihatkan tampang bodohku. Lihat saja nanti.”
Dan begitulah, kami mengobrol sepanjang siang itu… seperti menemukan teman baru. Nadia akan menjadi teman baikku dengan Shasha nantinya, tentunya teman untuk konsultasi masalah Seks dan sebagainya. Sial..!! kenapa aku sudah memikirkan hal itu..??
***
Aku keluar dari kamar Rias mendapati wanita yang sangat kucintai menatapku dengan berlinang air mata. Air mata bahagia tentunya, dia menghampiriku dan memelukku dengan sesenggukan.
“Mama nggak nyangka Kamu sudah gede seperti ini bahkan sudah memiliki istri.” Kata Mama dalam pelukanku. Yaaa wanita itu adalah Mama. Mama tek berhenti menangis haru sejak upacara pernikahan yang terasa sangat sakral tadi pagi. Kini Mama menghampiriku sebelum acara Resepsi dimulai.
“Mama udah Ahh… nanti jelek loh..” kataku menenangkannya.
Mama melepaskan pelukannya. “Ingat, Jadi suami yang baik, janganpernah sakitin istri kamu.”
“Tentu Ma… astaga.. aku bahkan bisa gila saat berusaha mendapatkannya. Aku nggak akan menyia-nyiakannya lagi.” Janjiku pada Mama.
“Permisi, Acara sudah akan dimulai.” Kata seorang yang kuyakini sebagai Wedding Organizer pernikahanku. Aku ngangguk dan mengikuti orang tersebut masuk kedalam Pesta.
Disana sudah ramai sekali orang. Aku melihat Dhanni dengan istrinya sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang yang kuyakini sebagai Klien perusahaan mereka. Dhanni lalu melihat kearahku, dia tersenyum sambil mengangkat Gelasnya. Tak jauh dari sana aku melihat Renno sedang berkumpul dengan keluarga besarnya, yang kini juga sudah menjadi keluarga besarku. Dia menatapku, tersenyum lalu mengangkat gelasnya juga untukku seperti yang dilakukan Dhanni. Aku tersenyum melihat tingkah Mereka.
Tiba-tiba kurasakan tanganku di genggam oleh sebuah tangan Mungil Nan lembut. Menoleh kesebelahku dan aku sudah mendapati Shasha berdiri dengan Anggun dan cantiknya. Sialan..!! dia benar-benar sangat cantik. Dan dia milikku.
Kami menuju ketengah-tengah pesta, Berbaur bersama, berdansa bersama, nuansa hitam menyelimuti ruangan ini karena tema dari resepsi kami adalah ‘Dark Heaven’ jadi seluruh tamu di wajibkan mengenakan pakaian Hitam.
Begitupun dengan aku Dan Shasha. Aku mengenakan Tuxedo hitamku yang kata Mama terlihat sangat gagah saat kukenakan, Dan Shahsa, Ya tuhan.. aku tak dapat berkata-kata lagi. Dia terlihat sempurna. Dan sepertinya aku tak bisa lama-lama berada di dalam Pesta ini.
***
Malam ini aku masih harus pulang kerumah Shasha, dan baru besok pagi kami akan pindah kerumahku. Shasha masih membersihkan diri di kamar mandi, sedangkan aku masih sibuk mengatur peralatan kami kedalam Koper. Tiba-tiba aku mendengar pintu diketuk. Kubuka dan mendapati Sosok itu, Sosok yang beberapa bulan terakhir ini menjadi Sosok yang menyebalkan untukku, Renno.
“Bisa keluar sebentar.?” Ajaknya kemudian, aku tak menjawab, aku hanya mengikutinya dari belakang.
Dia menuju kesebuah Balkon yang berada di tengah-tengaah antara kamarnya Dan kamar Shasha. Mau apa dia mengajakku kemari.? Apa dia ingin memberi Syarat sialannya lagi.?
“Gue nggak nyangka Kalo Lo yang bakalan jadi Adek ipar Gue.” Kata Renno tiba-tiba. Aku hanya Diam mendengarkan semua ocehannya. “Ramm, Shasha sangat berarti buat Gue, Gue Harap Lo….”
“Renn.” Aku memotong kalimatnya. “Shasha juga sangat berarti buat Gue, Gue nggak mungkin ngotot melakukan semuanya sampai saat ini jika Gue nggak benar-benar sayang sama Dia.”
“Gue Ngerti, Gue Cuma…”
“Renn… Gue tau Lo sayang sama Shasha, Lo nggak mau dia tersakiti, Tapi Please… Kali ini pegang janji Gue, Gue nggak akan nyakitin dia, Gue akan berusahaa sekeras mungkin untuk membahagiakanya. Gue janji.” Kataku dengan sungguh-sungguh.
Renno menepuk bahuku. “Gue percaya sama Lo.” Aku menghembuskan nafas lega. “Ramm.. gimana, Apa Lo menikmati siksaan Gue setahun belakang ini..??” Tanyanya yang kali ini disertai dengan senyuman mengejeknya.
“Sialan Lo..!! Gue sudah seperti masuk Neraka.” Dan kamipun lalu tertawa terbahak-bahak bersama. “Thanks Renn.. Lo mau kasih Gue kesempatan.” Kataku lagi dengan serius.
“Itu sebagai imbalan, jadi sekarang kita impas.”
“Imbalan apa maksud Lo..?”
“Imbalan karena Dulu Lo mau minjamin Apartemen Lo ke Gue, dan Akhirnya Gue Bertemu dengan Allea disana.” Aku mengangguk.
“Itu Takdir Renn yang mempertemukan Kalian, Sama seperti Dhanni dan Nessa, atau Gue Dan Shasha. Semua karena takdir.”
“Sialan..!!! Sejak Kapan Lo bisa bicara lebbay kayak gini..? Hhahaha”
“Brengsek Lo.” Umpatku kemudian. “Renn.. Apa Gue harus panggil Lo Kakak..?” Tanyaku dengan wajah sok serius. Kami saling pandang dan terdiam sebentar lalu mulai tertawa terbahak-bahak lagi.
“Hahhaha Brengsek Lo..!!” Kali ini Renno yang mengumpat kepadaku masih dengan tertawa.
“Heiii.. kalian Sedang apa.? Ini sudah malam, Mas… Reynald Nanti bangun kalau kamu teriak-teriak kayak gitu lagi.” Allea menegur kami.
“Ooo iya sayaang aku lupa.” Renno lalu Meninju bahuku. “Gue Balik dulu, istri Gue sudah marah-marah.”
“Ok… Gue juga harus balik, Karena ada Hal yang harus Gue lakuin dengan istri baru Gue.” Kataku sambil menyeringai.
“Sialan Lo..!!” Umpatnya.
***
Aku kembali kekamar, dan sudah mendapati Shasha yang sudah duduk manis dan masih mengenakan Juba mandinya. Dia terlihat segar. Dan Astaga… mengingat ini malam pengantin kami, Gairah langsung menyelimuti tubuhku.
Aku menuju kearahnya dan duduk disebelahnya. Aku menggenggam tangannya dan sesekali mengecupnya. Shiitt…!!! perasaan apa ini.? Kenapa aku jadi segugup ini..? tanpa kusangka tiba-tiba Shasha duduk diatas pangkuanku. Membuka dua kancing atasku. Sialan..!! ini terlihat begitu Erotis, dan dia terlihat begitu menggairahkan.
Aku menggenggam telapak tanganya. “Aku belum mandi sayang..”
“Tidak perlu mandi.”
“Kamu ingin aku melakukannya tanpa mandi..?”
Dia mengangkat sebelah alisnya, “Siapa bilang aku ingin melakukannya.?” Katanya dengan suara manja, “Aku hanya mau menggodamu saja.” Lanjutnya lagi.
“Beneran..?” Kali ini aku yang menggoda.
Dia mengangguk dengan pelan. Aku ingin menjawab namun dia menutup mulutku dengan telunjuknya. “Mas Ramma, Aku tau mungkin kamu akan bosan mendengarkan ini, Tapi aku hanya ingin bilang jika dari dulu aku mencintaimu, tak bisa berpaling darimu, dan kamu sudah seperti segalanya untukku, jadi aku mohon jangan pernah tinggalin aku.” Katanya dengan sungguh-sungguh.
Aku menangkup kedua pipinya. “Harusnya aku yang berkata dan memohon seperti itu. Aku mencintimu sejak dulu, kamu juga sudah seperti segalanya untukku. Jadi sebrengsek apapun aku nanti, aku mohon tetaplah bersamaku, jangan pernah tinggalin aku.”
“Jadi, ini sudah seperti janji kita berdua..?” tanyanya dengan polos.
“Tentu saja sayang.” Jawabku dengan mencubit pipinya. Lalu aku memeluknya, memeluknya dengan erat. “Makasih Sayang.. kamu sudah mau nunggu aku dan mau melalui semua kerumitan ini untukku.”
“Aku juga berterimakasih karena kamu mau kembali padaku Mas,.. Kembali mengakui bahwa kamu memang mencintaiku sejak dulu.”
“Dulu, sekarang dan seterusnya.” Ralatku.
“Baiklah-baiklah… terserah Mas Ramma saja. Tapi ngomong-ngomong, apa bisa pelukannya nggak seerat ini..? Kami nggak bisa bernafas.”
Dan aku tersenyum mendengar pernyataannya. Tapi tunggu dulu, Kami..? Apa maksudnya..? Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan tajam.
“Kami..?” Tanyaku dengan sedikit heran.
Dia meraih telapak tangan kananku lalu membawanya keperutnya. Aku menatapnya dengan ternganga. “Me And Her.”
“Her..?” tanyaku lagi kali ini dengan nada tak percaya.
Yes.. Kupikir dia seorang Princess.” Katanya dengan pasti.
“Princess.?” Aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dia tersenyum kearahku. “Kamu nggak Shock Kan Mas..?”
“Maksud Kamu.. Kamu.. Hamil..?”
Dia terkikik melihat ekspresi bodohku. “Yaa… Sudah Dua belas minggu.” Bisiknya ketelingaku.
“Apa..?” aku sedikit berteriak. Menatapnya masih dengan tatapan tak percaya. “Kamu nyembunyiin semua ini dariku..?”
“Aku hanya mau kasih kamu kejutan.”
“Bagaimana dengan yang lain.?”
Dia masih saja tersenyum melihat tingkahku. “Nggak ada yang tau, kamu orang pertama yang kukasih tau.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi kupeluk kembali tubuhnya, menciumi leher jenjangnya. “Kamu nakal.” Bisikku di telinganya. Aku melepaskan pelukanku, lalu manatap perut datarnya, mengusapnya dan menciumnya lembut.
Sialan..!!! Aku akan jadi ayah.. Aku akan jadi ayah… dan ini benar-benar sangat membuatku bahagia. Membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi.
Aku menatap Shasha penuh dengan kasih sayang, begitupun tatapannya terhadapku. “Terimakasih, Kamu sudah memberikan semuanya untukku. Aku nggak tau harus bilang apa lagi terhadapmu.”
Dia menangkup kedua pipiku. “Kamu cukup bilang mencintaiku setiap Harinya, dan aku akan sangat senang dan berterima kasih terhadapmu Mas..”
“Yaa.. aku akan mengatakannya, aku akan mengatakan itu setiap hari untuk kamu.” Kataku dengan semangat.
“Mengatakan Apa..?”
“Mengatakan Bahwa aku mencintaimu, Nattasha Handoyo.”
Kataku dengan pasti, kaami sama-sama tersenyum, lalu tanpa pikir panjang lagi aku mendekatkan bibirku kepada bibirnya, lebih dekat hingga ciuman ini tak terelakkan lagi. Ciuman Lembut dan manis, seperti kebahagiaan kami saat ini.

 

___END___

 

 

10553363_1240602369289643_5792808083769134030_n

Btw… Ada penampakan Cowok2 ganteng Nihhh… hahhahahah See You Next My Story… 😀 :*

 

My Brown Eye – Chapter 2

Comments 6 Standard

MBE1My Brown Eye

Chapter 2

-Ketika Cinta berawal dari sebuah Dendam..-

Siang ini Hana berencana untuk makan siang bersama Dara. Mereka juga akan membicarakan beberapa masalah tentang tinggal serumah. Yah.. sesungguhnya Hana dan Dara kini sudah tinggal bersama disebuah rumah kontrakan kecil sejak sebulan yang lalu.
Hana yang terlalu kesal dengan sikap kakaknya yang Overprotektif akhirnya mempunyai ide untuk tinggal hanya berdua dengan Dara di sebuah rumah atau Apartemen kecil yang bisa disewakan di dekat kantor mereka. Sedangkan Dara entah karena alasan apa dia sangat menyetujui ide hana Tersebut.
Awalnya Revan dan orang tua Hana sangat melarang keras, tapi karena merengek dan membujuk keduaa orang tuanya Akhirya orang tuanya mengijinkannya lagi pula Hana kan tidak sendiri, dia bersama Dara, pikir Orang tuanya kala itu. Sedangkan Revan tak bisa melarang Hana lagi karena sejak kedatangan Lelaki itu hubungannya dengan Hana menjadi dingin.
Yaa… Mike pernah datang kerumah Hana, dan itu mendapat penolakan keras dari Kakaknya, Revan. Itu yang membuat Hana kini sangat benci dengan Kakaknya tersebut. Hana bahkan ingin meminta Bantuan Dara untuk menyelidiki masa lalu Revan yang membuat Revan berubah menjadi lelaki Dingin dan super menyebalkan seperti saat ini.
Saat mereka berjalan menuju kantin Kantor mereka, tiba-tiba seorang satpam memberhentikan Hana.
“Mbak Rihana ya..” tanya satpam tersebut.
“Iya, ada apa ya pak.?”
“Ada titipan buat mbak.” Kata Satpam tersebut sambil memeberikan sebuah bungkusan dan juga setangkai mawar merah.
“Dari siapa ini Pak.?”
“Orannya masih diluar Mbak, didalam mobil. Itu…” kata Satpam tersebut sambil menunjuk sebuah Mobil sedan yang kaca penupangnya sudah di buka dan menamplkan sosok tampan didalamnya.
“Mike.. Astaga..” Kata Hana dengan sedikit tak percaya. Mike memang selalu memberikan kejutan-kejutan kecil untuknya dan itu membuat Hana semakin meleleh, namun mengirim bekal seperti ini baru dlakukan Mike hari ini.
Mike hanya melambaikan tangan sambil tersenyum, tak lama dia memberikan kode dengan tangannya seperti orang yang sedang ingin menelepon. Dan benar saja, tak berapa lama Ponsel Hana berbunyi dengan Call ID ‘My Brown Eye’ yang tak lain adalah nomer Mike.
“Hai..” Hanya mengangkat teleponnya dengan sedikit gugup.
“Siang Sayang.. habiskan makanannya ya..”
“Kau tak perlu melakukan ini Mike.”
“Masih akan ada banyak kejutan untukmu Sayang..” kata Mike dengan tatapan membaranya, Walau di dalam mobil, Hana cukup bisa melihat ekspresi wajah Mike. “Aku merindukanmu.”
“Aku juga Mike..” Jawab Hana Cepat.
“Nanti kujemput sepulang kerja ya..”
“Tidak Mike, Kau tau bukan jika aku berangkat dan pulang dengan Dara. Aku tak enak dengannya.” Tolak Hana yang kini sudah melirik Dara yang masih berdiri di sebelahnya.
“Dara Akan mengerti sayang..”
“Kau sudah meminta izin padanya terlebih dahulu..?” Tanya Hana sedikit curiga. Dan itu di jawab Mike dengan tawanya. Sedangkan Dara tersenyum sambil mengangguk di sebelahnya. “Astaga Mike.. Kau curang.”
“Aku tak peduli, Kau membuatku rindu dan tak bisa menahan diri.”
“Terus saja merayu Mike.” Kata Hana yang kini wajahnya sudah merah seperti tomat.
“Aku tidak merayumu sayaang, ini nyata. Baiklah, Sepertinya aku harus segeraa kembali ke kantor. Jam lima kujemput yaa.. kutunggu di parkiran.”
“Iyaa…” Hana tersenyum malu-malu.
“I Love You Sweety..”
I Love You Too.” Dan teleponpun ditutup . dengan perasaan bahagia dan berbunga-bunga Hana kembali menuju kantin dengan bekal makan siang pemberian Mike. Sedangkan Dara mengikutinya sambil menggelengkan kepalanya, tak menyangka jika temannya berubah menjadi seperti orang Gila hanya Karena Cinta.
***
Sore ini Hana pulang dengan penuh semangat karena dia tau jika ada seorang pangeran yang sedang menjemputnya.
“Kau benar-benar tak apa-apa dara pulang sendiri.?”
“tentu saja, Aku bukan anak kecil Hana.”
“Baiklah.. Aku berterimakasih sekali padamu Dara, aku tak tau jika tak ada dirimu mungkin saat ini aku masih tak bisa keluar dari genggaman keluargaku yang Overprotektif.”
Dara tersenyum. “Tak masalah, asal Kau dapat menjaga dirimu baik-baik.” Jawab Dara kemudian. “Baiklah, sepertinya kita harus segera keluar, Pangeranmu pasti sudah menunggu.”
Hana mengangguk dan keluar dari ruangannya penuh dengan raut bahagia. Saat keluar dari kantor, dia sudah melihat Mike berdiri menunggunya di sebelah Mobilnya. Astaga.. Dia tampan.. pikir Hana saat itu.
Mike lalu membukakan pintu Mobilnya untuk Hana. Hana masuk disusul dengan Mike di sebelahnya. Sebelum memasang sabuk pengaman, Mike terlebih dahulu mengecup singkat bibir Hana, Membuat Hana sedikit terkejut dengan kelakuan Mike.
“I Miss You Sweety..” Kata Mike dengan senyumannya. Sedangkan Hana hanya bisa memerah dan sedikit gugup dengan tingkah Mike. “Ready..?” Tanya Mike sesaat sebelum mereka berangkat. Hana hanya menganggukkan kepalanya.
***
Hana benar-benar terkejut dengan apa yang sudah dilakukan Mike. Malam ini mereka sedang berada di Atas Atap Apartemen Mike dengan meja yang sudah dihias dan juga beberapa makanan diatasnya.
“Apa ini Mike.?” Tanya Hana maasih dengan raut terkejutnya.
“Apa Kau lupa dengan hari ini..?” hana mencoba untuk mengingat-ingat namun dirinya sama skali tak mengingat hari apa ini. “Ini peringatan 100 hari pertemuan kita Hana.”
Dan Hana benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan Mike. peringatan 100 Hari.? Bahkan Hana sendiri saja tak tau hari apa mereka bertemu dulu.
“Kau berlebihan Mike.”
“Tidak Sayang,..” Kata Mike sambil terssenyum. “Duduklah sayang… Aku memiliki sesuatu yang Spesial Untukmu.” Kata Mike yang kaali ini sudah mempersilahkan Hana duduk,.
“Apa Itu.?”
Lalu tanpa disangka, Mike duduk berlutut dihadapaan Hana. “Hana, Mungkin ini terlalu Cepat, tapi sungguh, aku tak bisa sedikitpun berpaling Darimu.” Kali ini Mike Mengambil sesuatu di saku jasnya. “Hana… Will You Marry Me..?
Dan Hana terpaku melihat Mike mengeluarkan kotak beludru berwarna biru tua dengan sebuah Cincin didalamnya bersamaan dengan kata-kata lamaran Mike. Benarkah ini Nyata..? benarkah Mike melakukan ini semua untuknya..? Melamarnya..?
“Mike.. ini terlalu cepat.” Jawab hana Lirih.
“Aku tak peduli Hana, yang kutau aku mencintaimu, Aku bahkan ingin bersamamu saat itu juga ketika kita baru pertama kali bertemu, ini bukan tentang Waktu Hana, ini tentang perasaan.”
Dan tanpa pikir panjang lagi Hana Mengangguk menerimanya. Tuhan…. Dirinya benar-benar Gila, Lelaki ini baru dikenalnya tak lebih dari tiga bulan yang lalu, tapi Hari ini sudah melamarnnya dan dia menerimanya.? Dia benar-benar Gila.
Tanpa banyak kata lagi Mike menyambar Bibir Hana yang masih sedikit ternganga dengan lamarannya. Ciuman panas yang intens membuat keduanya saling terbakar oleh sesuatu yang disebut dengan Gairah.
Dengan terengah-engah Hana melepaskan Ciumannya lalu berkata. “Bagaimana dengan Mas Revan..?”
Singkat cerita, Satu bulan Yang lalu Mike nekat menjemput Hana untuk makan malam bersamanya. Kala itu Mike memperkenalkan diri terhadap kedua orang tua Hana yang terlihat Antusias dengan kedatangannya. Namun tidak dengan Kakak Hana, Revan. Revan Menatap Mike seolah-olah Mike memiliki tujuan buruk untuk adiknya. Belum lagi reputasi Mike di dunia Bisnis yang terkenal dengan Pengusaha berdarah Dingin. Itu sebabnya Revan tak pernah mau berkerja sama dengan perusahaan Mike, nyatanya saat itu adiknya malah terjerumus dengan pesona dari seorang Mike Handerson.
*FlashBack
“Darimana Kau mengenalnya Hana.?” Tanya Revan ketika Mike sudah Pergi.
“Mas Revan tidak perlu tau.”
“Aku harus tau Hana, Orang seperti Mike itu berbahaya, mana mungkin Kau bisa dengan mudah mendapatkannya.”
“Dia mencintaiku, dan aku mencintainya Mas, Apa itu belum Cukup.”
“Banyak orang yang dengan mudah mengatakan Cinta, nyatanya mereka tak tau Apa artinya dan berakhir dengan mengenaskan.”
“Aku tak tau apa yang terjadi dengan mas Revan, tapi Satu Hal yang perlu Mas Revan tau, Tak semua Kisah Cinta berakhir dengan tragis seperti yang Mas Revan katakan.”
Revan diam membatu. Meresapi kata-kata adiknya tersebut. “Matanya mengingatkanku dengan seseorang Hana, Kumohon, Jauhi dia.”
“Tidak Mas… aku mencintainya, aku akan memperjuangkannya.”
“Hana..” Saat ini revan sudah diatas puncak Emosinya hingga dia berani membentak Adik kesayangannya tersebut.
“Aku pergi.” Lalu Hanapun pergi tak menghiraukan kata-kata Revan yang terdengar sedikit aneh untuknya.

 

“Aku akan membuatnya untuk menyetujui hubungan kita.” Kata Mike sungguh-sungguh.
“Apa Maksudmu Mike.?” Hana sedikit tak mengerti dengan perkataan Mike.
Mike bukannya menjawab malah kini menggendong tubuh mungil Hana Masuk kembali kedalam Apartemennya dan membaringkan Hana di Ranjangnya.
“A…Apa yang akan Kau lakukan Mike..?” Hana sedikit takut dengan perubahan sikap Mike.
“Sayang, kita akan membuat Kakakmu mengerti jika kita tak bisa di pisahkan. Kita akan membuat Kakakmu Mau tak mau merestui hubungan kita.”
“Dengan Cara..?”
“Aku akan membuatmu Hamil.”
Hana terperanjat dengan ide gila yang diberikan Mike. “Tidak Mike, itu akan menykiti perasaan orang tuaku, mereka tak pernah mendidikku menjadi wanita seperti itu.”
“Aku akan tanggung jawab Hana.. ini hanyalah Cara supaya mereka mau menyetujuiku.”
“Apa Kau Yakin..? Apa tak ada cara lain.?”
Mike lalu duduk di pinggiran ranjang dan mengusap lembut Pipi Hana. “Hanya itu cara satu-satunya sayang.. Kau percaya Padaku kan..?”
Sejenak Hana sedikit Ragu, namun keraguan itu sirna sudah ketika Mike mulai mencumbunya sedikit demi sedikit, lalu Gairah itupun muncul dari dalam tubuh Hana. Hana juga menginginkannya. Hana tak pernah berfikir bisa berhubungan sejauh ini dengan lelaki, Dan itu tak membuat Hana Takut mengingat sang lelaki itu adalah lelaki yang amat sangat dicintainya.
***
Jam dua dini hari Hana terbangun karena perut yang keroncongan. Belum Lagi tubuhnya yang seakan Remuk karena pergulatan panasya dengan Mike beberapa Jam yang lalu. Mike..? mengingat nama itu Hana sontak mengalihkan pandangannya kesebelahnya, tapi Kosong. Tak ada Mike disana. Kemana Dia.?? Apa Mike meninggalkannya setelah apa yang tadi mereka lakukan.? Mengingat itu Hana mengangis terisak-isak.
“Mike….” Lirihnya masih dengan menangis.
Hana sontak menyelimuti tubuh polosnya hanya dengan selimut tebal di kamar Mike, berlari menuju kekamar mandi sambil memanggil nama Mike, siapa tau saja Mike masih didalam Rumah ini. Nyatanya tak Ada, hana mencari dimana-mana dan Mike tak ada. Namun ketika keluar, pandangannya tertuju pada Sosok yang sedang sibuk didapur. Sosok tinggi tegap yang membelakanginya, masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana piyama saja. Hana langsung berlari menuju sosok tersebut dan memeluknya dari belakang.
“Mike…” Panggil Hana dengan berlinang air mata.
Mike menegang seketika saat Hana tiba-tiba memeluknya. Tanpa sadar Mike sudah menggenggam tangan mungil hana, tangan yang bisa dengan mudahnya dia remukkan saking mungilnya. Pelukannya seperti pelukan seorang yang rapuh. Suaranya Lembut, dan tangisannya membuat Mike meremang.
‘Degggg..’
Perasaan apa ini.?
Mike segera menepisnya. Mike lalu membalikkan tubuhnya dan memeluk Hana. “Ada apa sayang..?”
“Aku… Aku takut Kau meninggalkanku Mike, setelah apa yang sudah kita lalui tadi.”
Mike kembali menegang saat mendengar kata-kata Hana. Tapi Mike mencoba untuk mengendalikan suasana, mengendalikan perasaannya.
“Tentu tidak sayang, aku tak akan meninggalkanmu.”
Hana mendongak melihat wajah tampan Mike. “Kenapa Kau sudah bangun..?”
“Tadi Dara meneleponmu. Aku mengangkatnya dan aku bilang jika Kau akan menginap disini malam ini.”
“Ya tuhan.. Dara.. Aku bahkan lupa dengannya.”
Mike lalu tersenyum. “Tenang sayang, aku sudah memberi tau keadaanmu, dia tak akan khawatir.”
“Lalu apa yang Kau lakukan sekarang.?”
“Aku lapar, Aku memasak untuk kita, Kau lapar juga kan.?”
Hana Mengangguk. “Tapi Mike, bukankah masih ada makan malam kita di atap tadi.”
Mike lalu tertawa. “Semuanya Hancur sayang.. Tadi hujan. Makanya sekarang aku memasak kembali untukmu.”
“Ahhhh sayang sekaali, padahal tadi terlihat sangat enak.”
“Bukankah makaanan pembuka kita lebih enak.?” Mike mulai menggodanya.
“Mike…” Teriak hana sambil memukul lengan Mike. Lalu keduanya sama-sama tertawa.
***
Saat ini Hana sedang menbantu Mike mencuci peralatan dapur Mike setelah makan bersama Mike. Hana kini sedang mengenakan Kaus kebesaran Milik Mike sedangkan Mike sendiri masih terlihat santai dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan ceelana Piyama.
“Mike… Apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu.?” Tanya hana Tiba-tiba.
“Yes.. Anything for You Sweety.” Jawab Mike tanpa memandag kearah Hana.
“Mike.. Apa Kau tak ingin mengenalkanku kepada orang tuamu.?”
Pertanyaan Hana tersebut ssontak membuat Mike diam membatu. Hana yang melihatnya merasa sedikit tak enak dengan pertanyaannya tadi.
“Maaf Mike, aku tak bermaksud.. Em…. Lupakan saja.” Kata Hana kemudian.
“Hana, Aku tak memiliki keluarga disini.” Hana menatap Mike dengan tatapan tanda tanyanya. “Orang tuaku ada di luar Negeri, Aku disini tinggal bersama dengan adikku. Dan dia sudah meninggal tiga tahun yang lalu.” Kata Mike mulai bercerita.
Hana menutup mulutnya tak percaya. “Astaga Mike.. Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk…”
“Tidak Hana, cepat ataau lambat kau pasti tau.”
“Kalau boleh tau.. kenapa….”
“Bunuh diri.” Mike memotong pertanyaan Hana. “Thalita adiku meninggal karena bunuh diri.” Lalu tanpa sadar Mike mulai memeluk Hana. “Kau tau Hana, itu membuatku sangat sakit dan tepukul.” Mike mulai menangis dalam pelukan Hana.
Astaga… Hana bahkan ikut menangis dengan Mike, dia tak menyangka jika Mike memiliki kesedihan sedalam ini.
“Dia meninggalkanku Hana.. dia meninggalkanku karena patah hati.” Mike terlihat seperti orang yang sedang terguncang jiwanya.
“Tenang Mike, Aku disini bersamamu. Kau masih memiliki aku.”
Dan ketika Mike mendengar perkataan Hana, Mike seperti disadarkan oleh sesuatu. Dilepaskannya pelukan kepada Hana itu secara tiba-tiba, membuat Hana sedikit terkejut dengan perubahan Sikap Mike.
“Aku pergi dulu.” Kata Mike yang kini masuk kedalam Kamar. Sial..!!! seharusnya dirinya tak terbawa oleh suasana kepada wanita itu. Seharusnya dirinya tak boleh memperlihatkan sisi lemahnya terhadap wanita itu. Ingat Mike, Dia hanya mangsamu.. Kau tak boleh memperlakukannya lebih. Pikir Mike kala itu.
Sedangkan Hana hanya ternganga melihat kepergian Mike, Ada apa dengan lelaki itu..? Ahh mungkin Mike sedang kacau karena teringat dengan Adiknya. Harusnya dirinya tadi tak bertanya jauh tentang kehidupan Mike. Pikirnya kemudian.
***
Mike Berdiri didepan sebuah Makam yang bertuliskan Thalita Handerson. Makam Adiknya. Ingin menagis tapi air matanya sudah habis tiga tahun yang lalu ketika mendapati adik kesayangannya itu meninggal secara mengenaskan didalam kamar mandinya.
Lita.. baginya adalah Gadis ceria, Agresif, polos, dan sangat cantik. Adik kesayangannya. Tapi semuanya seakan direnggut begitu saja oleh satu kata yaitu CINTA.
Cintanya kepada seorang lelaki membuat matanya seakan-akan buta, membuatnya memilih mati dari pada harus bertahan hidup karena patah hati. Lelaki itu lelaki bajingan, karena dengan mudahnya dia mencampakan adiknya yang sedang berbadan dua, membuat adiknya depresi berkepanjangan hingga membuatnya memilih bunuh diri daripada bertahan tanpa Cinta.
Lelaki itu…. Adalah Revan… Kakak dari kekasihnya saat ini.
“Sayang, aku sudah melakukan sejauh ini. Kau tau, Dia sangat memujaku.” Mike mulai berkata-kata didepan Makam Lita.
“Aku bersumpah padamu, akan membuat Lelaki bajingan itu bertekuk lutut meminta pengampunan dariku..”
“Aku bersumpah padamu jika Lelaki itu akan membayar dengan setimpal dan akan merasakan Hal yang sama dengan apa yang kurasakan saat ini.”
“Litaa… Beri aku kekuatan supaya aku tetap Fokus pada tujuanku.”
Mike mulai duduk berlutut didepan nisan Lita. “Kau Tau, dia… Dia mirip sepertimu.” Mike menelan ludahnya dengan Susah payah. “Kuharap… Kuharap aku tak ikut terjerumus dalam permainan ini.”
Mike lalu mengecup batu Nisan Lita. “Aku menyayangimu sayang… Bantu aku menyelesaikan semuanya dengan baik.” Kata Mike kemudian. Lalu pergi meninggalkan Makam Lita.

 

__TBC__

Maaf kalo terlalu pendek.. Gimana..?? udah dapet Fellnya dari cerita baru ini..?? hehehhe

My Everything (Novel online) – Chapter 14

Comments 10 Standard

MEposter1My Everything

Chapter 14

Renno sialan..!!!
Bisa-bisanya dia menarik Shasha begitu saja dari genggamanku, tak peduli dia menangis dan meringis kesakitan. Apa itu yang disebut dengan seorang Kakak..? Aku tau jika Renno melakukan itu untuk melindungi Shasha dariku yang Brengsek, tapi apa Renno tak bisa membuka mata jika aku juga bisa berubah seperti halnya dia dan Dhanni..?? ini tak adil untukku. Dia menghakimiku dengan apa yang sudah kuperbuat selama ini, padahal aku yakin jika aku bisa memperbaiki semuanya jika itu dengan Shasha..
Dan aku.? Apa aku benar-benar sudah berubah menjadi lelaki yang super bodoh karena aku diam saja saat melihat kekasihku diseret dengan paksa oleh Kakak sialannya..? ingin Rasanya saat itu juga aku menghadiahi Renno dengan Bogem Mentahku, tapi aku masih harus ingat, jika aku harus menghormatinya, Bagaimanapun juga aku ingin dia menjadi Kakak iparku kelak. Aku tak punya pilihan lain selain hanya diam dan mengikuti mereka dari belakang.
Aku mengikutinya hingga sampai di depan Mansionnya. Tentu saja aku tak dapat melihat Shasha dari sini. Aku berusaha menghubunginya tapi Ponselnya tak aktif. Ada apa dengannya..?? Aku benar-benar sangat khawatir terhadapnya. Dan pada Akhirnya aku ketiduran disini, didalam mobilku didepan Mansion Shasha hingga pagi.
***
Masih tak mendapat kabar dari Shasha akhirnya pagi ini aku memilih untuk pulang, mandi, ganti baju lalu bergegas menuju kekantor Renno. Sialan..!!! dia benar-benar mengacaukan semuanya. Aku harus menghampirinya dan menjelaskan semuanya terhadap Si Renno.
Lama aku menunggu Renno didalam ruangannya. Sial..!! dia pasti terlambat lagi hari ini. Tapi aku tetap setia menunggunya. Hingga saat inipun tiba, saat dimana Renno datang di hadapanku dan menatapku dengan tatapan membunuhnya.
“Sedang apa Lo disini.? Kita nggak ada Rapat.” Katanya dingin. Sialan..!!
“Ayolah Renn, Lo tau ngapain Gue kesini.”
“Jika itu menyangkut Shasha, Lupain. Mending Lo Keuar dari ruangan Gue.” Kali ini dia berkata sambil dengan santainya duduk di kursi kebesarannya.
“Sialan Lo..!! Gue pengen Ngomong Baik-baik.” Dan aku tak dapat menahan Emosiku lagi.
Dia Menatapku tajam. “Ramm, Lo lupain semua ini, Lo gila, Lo brengsek, Dan Shasha nggak pantes Buat Lo.”
Aku tersenyum mengejek saat mendengar ucapannya. “Apa Lo terlihat bener.? Apa Lo nggak Brengsek..? Apa Lo pantas bersanding dengan Allea.?”
Kini Renno Sudah terpancing oleh perkataanku. Dia menggebrak meja dihadapannya dengan kedua tangannya. “Sialan..!!! Jangan Samakan Hubugan Gue dan Allea dengan Lo, Bagaimanapun juga Gue sudah berubah.”
“Dan apa Lo tau Gue Bisa berubah atau tidak..?” Tanyaku lantang.
Tiba-tiba pintu di buka oleh seseorang. “Kalian kenapa.?” Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Dhanni.
“Bawa dia pergi, Gue Malas bicara dengannya.” Kata Renno dengan angkuhnya.
Aku tersenyum miring. “Lo nggak berani nyelesein ini kan..?” Renno hanya terdiam.
“Sebenernya kalian Kenapa.? Sialan..!! kalian sudah seperti anak gadis yang berebut boneka dengan temannya. Nggak malu kalian sama umur.?”
“Gue Cinta Shasha dan dia mempersulit kami.” Kataku terang-terangan.
Kali ini Renno tertawa mengejek. “Sejak kapan Lo kenal Cinta.?”
“Dan Sejak kapan juga Lo kenal Cinta.?” Aku balik bertanya padanya.
Dhanni menghembuskan nafas kasar. “Sialan..!!! Ramma, sejak awal Gue sudah bilang sama Lo, Tinggalin Shasha, dia nggak pantes untuk Lo, dia terlalu lugu.”
“Lalu apa Nessa pantes Untuk Lo..? Apa Allea pantes untuk Dia..? Kalian Nggak Ngaca, kita sama-sama Brengsek. Jika kalian bisa berubah, kenapa Gue enggak.”
“Oke.. Gue Akui, perkataan Lo memang bener, kita bertiga memang sama-sama brengsek, tapi setidaknya Gue Dan Renno bisa membuktikan kalau kami bisa berubah.”
“Dan Gue akan Buktikan pada kalian Kalau Gue juga akan berubah.” Jawabku cepat.
Dengan tersenyum Renno berkata “Gue masih nggak percaya.” Sialan..!! Nampaknya Renno benar-benar berniat untuk mempersulitku.
Aku sudah mengepalkan tanganku. Ingin Rasanya mendaratkan Pukulan kerasku ini tepat diwajahnya. Memukulinya habis-habisan hingga dia minta ampun. Sialann..!!!
“Renn, Lo juga nggak bisa gitu, Bagaimanapun juga kita harus Kasih Ramma kesempatan, Bukankah Allea pernah kasih kesempatan sama Lo saat Lo punya salah padanya..?” Pernyataan Dhanni terdengar sedikit membantuku. “Dan Lo Ramm. Kalo Lo benar-benar Cinta Shasha, Buktikan, Bagaimanapun juga Shasha seperti Adek Gue sendiri, Dan Gue nggak mau Shasha jatuh di tangan Orang yang salah.”
“Gue Akan Buktikan.” Kataku dingin dan tajam lalu meninggalkan mereka begitu saja. Sialan..!! bisa-bisanya mereka berdua Kompak memojokkanku.
Aku merogoh saku dan mengambil Ponselku, Semoga Saja Ponsel Shahsa sudah Aktif. Saat kulihat, aku mendapat pesan dari Shasha.
‘Mas.. Aku di Apartemen.’
Pesan singkat namun Mampu membuatku tersenyum di tengah-tengah emosi yang melandaku.
***
Masuk kedalam Apartemen aku mendapati Shasha sedang berkutat dengan peralatan dapur. Apa dia sedang memasak..? Tanpa banyak bicara lagi kuhampiri dirinya dan kupeluk tubuhnya dari belakang. Dia sedikit terkejut dengan tingkahku.
“Kamu nggak apa-apa Kan.? Apa dia nyakitin kamu.?” Tanyaku Khawatir.
Shasha menggeleng. “Aku hanya tak suka sikap Kasarnya Mas… Mas Renn bahkan tak saling tegur sapa dengan Mbak Allea pagi ini. Dan itu gara-gara aku..” dia menangis.
Aku membalik tubuhnya dan kembali memeluknya, kini dia terisak di dadaku. “Kita akan Menyelesaikan semuanya, kita pasti bisa melewati semua ini.”
“Aku takut.. Aku takut Mas Renn nggak akan membiarkan kita bersama.”
Aku menangkup Pipinya. “Lihat aku. Jika Dia tetap bersikeras tak mengijinkan hubungan kita, aku akan membawamu kabur, Kita kawin Lari.”
Dia terlihat terkejut. “Benarkah..?”
“Kamu Nggak mau.?” Aku bertanya balik.
Dia lalu tersenyum, “Sepertinya itu bukan ide buruk.”
Aku mencubit pipinya, “Nah.. gitu dong.. jangan nangis Lagi.” Lalu aku kembali memeluknya. “Aku akan berusaha semampuku Sha… Walaupun nanti aku Gagal, Aku nggak akan membawamu kawin lari. Aku menghormatimu sebagaimana aku menghormati Kakak sialanmu itu.”
Lalu dia terkikik di dadaku. “Mas Renn Nggak sialan.”
“Yaaa bagiku dia sialan. Dhannipun sama. Tak ada satupun orang yang mendukungku.”
“Aku mendukungmu Mas..”
Lalu aku mencubit hidung mancungnya. “Kamu nggak termasuk sayang..” lalu aku mengecup bibirnya, bibir yang kurindukan. “Ehhh… tunggu dulu, Ngomong-ngomong.. ini bau apa..?”
“Bau..?” Dia nampak berfikir. “Astaga… Ayamku…” Teriaknya sambil menuju kekompor yang tak jauh di belakangnya.
***
Kami kini sudah duduk berhadapan di meja makan dengan Ayam Rica yang sudah gosong di tengah-tengah Meja. Aku menatap wajahnya yang terlihat lucu bagiku. Raut sedih, menyesal, dan malu bercampur menjadi satu membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Aku tersenyum saat melihat gadis di hadapanku ini seakan terlihat merajuk.
“Kenapa malah Ketawa.?”
“Kamu lucu.” Kataku masih dengan tersenyum.
“Aku bodoh, masak ayam saja Gosong.” Runtuknya.
“Itu salahku sayang.. kalau aku nggak nggodain kamu pasti hasilnya nggak kayak gini.”
“Sama aja, kalau aku nggak tergoda juga nggak akan kayak gini.”
Aku menghembuskan nafas panjang. “Oke.. karena kita sama-sama salah, bagaimana kalau kita makan siang diluar saja..?”
“Tapi…”
“Aku yakin kamu pasti suka.”
***
Aku memarkirkan Mobilku dihalaman sebuah Rumah besar bercat putih.
“Rumah siapa Ini Mas..?” Tanya Shasha sedikit heran.
“Rumahku.” Kataku sambil tersenyum. Lalu membuka pintu mobil, keluar, dan membukakan pintu mobil untuk Shasha.
“Katanya tadi mau makan diluar, kok kesini..? Kita mau apa kesini.?”
“Kamu nggak mau kenal sama Orang tuaku.?” Seketika itu juga aku melihat raut gugup dari wajahnya. “Kamu tenang aja, mereka baik kok.”
Dia hanya mengangguk. Dia meremas telapak tanganku yang sedang menggenggamnya, tangannya basah penuh keringat. Astagaa.. aku tau kalau dia gugup. Sangat gugup malah.
“Aku… sepertinya aku..”
“Kenapa.?”
“Entahlah.. perutku terasa penuh.”
Dan aku tertawa mendengar ucapan polosnya. “Kamu gugup sayang. Ini bukan pertama kalinya kamu ketemu sama mereka, jadi santai saja.” Lagi-lagi dia hanya mengangguk.
Kami masuk kedalam Rumah, kukira mama masih terbaring di Kamar karena baru keluar dari rumah sakit. Nyatanya saat ini dia sedang membantu para pelayan menyiapkan makan siang.
“Mama..” Kataku sambil berjalan kearahnya dan Memeluknya.
“Hai sayang.. tumben kamu pulang jam segini.?”
“Aku pulang membawa Calon menantumu.” Kataku sambil menunjuk Shasha dibelakangku yang wajahnya sudah pucat karena perkataanku. Dia lucu..
“Halo sayang, lama tak bertemu. Pasti kamu susah sekali yaa menghadapi Ramma, dia memang begitu, kamu harus banyak sabar.” Celoteh Mama yang langsung memeluk Shasha dengan Akrab. Sedangkan Shasha terlihat sangat Kaku sekali. Sungguh, aku benar-benar ingin tertawa saat melihat Ekspresinya saat ini.
***
“Is My Room.” Kataku sambil mempersilahkan Shasha masuk kedalam kamarku. Dia masuk dan melihat-lihat semua perabotan didalam kamarku.
“Mas Ramma suka Kartun.?” tanyanya sambil melihat-lihat Miniatur Kartun koleksiku. Aku hanya mengangguk. Sambil mengekorinya. Lalu dia berjalan kearah Lemari yang penuh dengan Koleksi Kameraku. “Suka Kamera juga,?” Tanyanya lagi.
Kali ini aku mengangguk sambil tersenyum. “Aku Fotografer, pastinya suka dengan kamera.”
“Oww….” Dia terlihat salah tingkah.
Aku menggenggam tangannya. Mengajaknya kedepan sebuah lemari yang berada di ujung ruangan, membuka lemari tersebut dan mengeluarkan sebuah kardus besar yang ada didalamnya.
“Apa ini..?” Tanyanya tak mengerti.
“Bukalah.”
Dan ketika dia membuka Kardus tersebut, dia ternganga dengan apa yang di lihatnya. Sebuah Kardus besar yang penuh dengan Foto dirinya. Itu Koleksi foto Shasha yang kumiliki yang sudah kubersihkan dan kusimpan rapat-rapat. Dulu tanpa ia Sadari Shasha menjadi objek Fotoku. Aku memotretnya setiap hari setiap waktu, dan au baru sadar jika kebiasaan itulah yang membuatku tak memiliki perasaan ini dan tak bisa jauh dari dirinya.
“Astaga.. kenapa bisa..”
“Masih banyak lagi, sebagian ada di ruangan khusus di Studio fotoku.” Ujarku penuh dengan kejujura.
“Tapi… Mas Ramma kenapa bisa…”
Aku menggenggam tangannya. “Sha… ini salah satu bukti jika aku Mencintaimu dari dulu sekarang dan seterusnya, aku memang pernah menyakitimu dan memungkiri perasaan ini, tapi nyatanya perasaan ini masih sama seperti dulu. Aku tak bisa berpaling darimu Sha..” kataku menjelaskan. “Sha… Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku tadi saat makan malam.” Kataku kini sambil menatap tajam bola matanya.
Siang ini dia berada di rumahku, Mama mengajaknya makan siang lalu berbincang hingga Sore. Bahkan tadi Shasha membantu Mama menyiapkan makan malam. Tadi saat makan malam, aku kembali melamar Shasha di hadapan Orang tuaku. Aku ingin dia tau bahwa aku sungguh-sungguh. Mama terlihat sangat senang, begitupun Papa. Sedangkan Shasha masih diam membatu. Aku tak tau apa yang dia fikirkan. Apa kini dia Ragu terhadapku..? padahal aku hanya butuh jawabannya. Jika dia menjawab iya, aku Akan menjalankan Langkah selanjutnya.
“Mas… Hubungan kita Rumit, Mas Renn…”
“Sha… aku butuh jawaban kamu berupa sebuah dukungan.” Aku memotong kalimatya. Aku menatap wajahnya dengan intens. “Sungguh, Aku benar-benar Gila karena kamu, aku nggak bisa jauh darimu. Kamu masih mau kan meneria lamaranku.?” Tanyaku lagi.
“Tapi Mas Renn..”
“Aku akan urus dia, Aku hanya butuh kepastian dari kamu.”
Dia menunduk, lalu menjawab dengan pelan. “Aku mau Mas..”
Dan tanpa banyak bicara Lagi kusambar bibir mungilnya yang sejak tadi sudah menggodaku. Sedikit demi sedikit kudorong tubuhnya kebelakang hingga terjerembab diatas ranjangku. Dia menikmatinya, aku tau itu, dia membalas ciuman panasku sambil sesekali mengacak Rambutku.
“Sial.. Aku menginginkanmu sekarag juga.” Racauku sambil mengecupi rahang dan lehernya.
“Hemmbbb….” Hanya itu jawabannya. Dan tanpa banyak bicara lagi kulanjutkan apa yang sedang kulakukan, mulai melumatnya, menghisapnya dimana-mana. Lalu tiba-tiba aku tersadar jika ini salah. Bukan, Maksudku aku tak bisa bercinta dengannya disini.
Aku melepaskan Cumbuanku membuatnya menatapku dengan tatapan tanda tanya. “Emm… Maaf, Kita nggak bisa melakukannya disini.” Kataku masih dengan suara Parau penuh gairah.
Sial…!!! siapa Suruh tadi aku mencumbunya.? Aku bangun dan duduk di pinggiran ranjang. “Aku tak pernah bercinta di rumah ini, Mama bisa jantungan kalau melihatku ngapa-ngapain kamu disini.” Jelasku.
“iyaa.. aku mengerti.” Jawabnya denganmembenarkan letak bajunya yang berantakan karena ulahku. Sialan…!!!
***
Kali ini giliranku yang Gugup. Keringat dingin tak berhenti keluar dari dahiku. Perutku terasa mulas, tanganku bahkan sedikit gemetar. Kenapa seperti ini..? Malam ini aku mengantar Shasha pulang. Tentu saja aku memiliki tujuan saat mengantarnya.
“Ehh.. Kamu sudah pulang sayang.” Kata wanita paruh baya yang sedang membukakan pintu rumahnya, dia Tante Ria, Mama Renno dan Shasha.
“Lohh.. ada Nak Ramma.” Tante Ria sedikit terkejut saat melihat aku berada di sebelah Shasha, bahkan saat melihat telapak tangan kami saling bertautan satu sama lain.
Aku tersenyum seramah mungkin. “Malam Tante.. Oom nya ada.?”
“Ada.. kebetulan ada di rumah. Nak Ramma ada perlu.?”
“Iya Tante, saya ingin berbicara sesuatu dengan Oom.”
“Ayoo masuk, jangan diluar saja, biar Tante panggil Oom nya.”
Lalu akupun masuk, duduk di ruang tamu dan Shasha masih di sampingku. Dia duduk tak kalah gelisah dariku.
“Ada apa nihh Nak Ramma kok datang malam-malam gini.?” Tanya Oom Handoyo yang kini sudah berada di ruang tamu. Aku berdiri, bersalaman dengannya dan mulai berbicara ketika beliau sudah duduk.
“Ini Oom.. Saya….”
“Ngapain Lo kesini.?” Sial..!!! itu suara Sialannya si Renno. Harusya aku yang tanya, ngapain dia disini. Mengganggu orang saja.
Aku melihat Renno yang menatapku dengan tatapan penuh amarah, apalagi saat melihaat Shasha meremas tanganku seperti orang yang sedang ketakutan.
Tanpa menghiraukan Renno, Aku kembali menatap Oom Handoyo, berkata dengan tegas dan pasti dalam sekali tarikan Nafas. “Saya ingin Melamar Shasha Oom.”

_TBC_

Bagaimana..?? ada yang udah berhenti penasaran…?? heheheh ooiyaaa sedikit info bahwa Next Chapter adalah Chapter terakhir, tapi tenang saja.. masih ada Epilognya kok… jadi masih 2X Post yaa… hehheeheh selamat menunggu…!!! 🙂 😉

My Brown Eye – Chapter 1

Comments 9 Standard

mbeMy Brown Eye

NB : Haiii aku kembali dengan cerita baru nih…. ‘My Brown Eye’ (Hurt Love #1) Adalah serial pertama dari ‘Hurt Love’ Karyaku.  udah pernah Baca ‘Please stay With Me’ (PSWM)  Kan..?? Itu tuhh ceritanya Revan dan Dara… nahh ‘My Brown Eye’ ini adalah Prequel dari PSWM yaa… kisahnya Hana Dan Mike. sebenernya aku sedikit nggak nyangka ternyata PSWM banyak yang nunggu.. heheheh padahal dulu aku nggak PD buat Post. moga-moga Aja MBE (My Brown Eye) ini juga banyak peminatnya. kenapa aku kasih judul My Brown Eye..?? nggak tau yaa…. pengen aja kasih judul gitu hahhaha #Plaaakkkk abisnya beberapa kali judul coretanku sama dengan milik seseorang walau sebenernya isiya beda banget. jadi aku cari judul yang aneh aja. hahahahha okkkk langsung aja kalo gitu,,, happy reading… 🙂

Chapter 1

-Kadang Kebencian bisa menuntunmu kepada Cinta…-

Hana sangat senang karena ini malam pertama dirinya berkencan dengan Lelaki yang sangat di cintainya. Lelaki yang belum genap sebulan ia kenal karena pertemuan tak terduganya. Pertemuan di dalaam sebuah toko kaset, sangat klasik tapi entah kenapa membuat Hana benar-benar merasa jatuh cinta pada pandangan pertama kepada lelaki tersebut.
Namanya Mike, Mike Handerson. Lelaki keturunan Indo jerman dengan ketampanan diatas Rata-rata dan juga mata Coklat yang membuatnya semakin mempesona. Sebenanya Hana sedikit Haran, kenapa Lelaki yang mengenakan Setelan Jas Rapi tersebut masuk kedalam Toko Kaset kecil langganannya. Tapi tentu saja Hana tak mempedulikan hal itu. Nyatanya pertemuan mereka saat itu benar-benar memberikan hasil yang membahagiakan untuk Hana.
Tiga hari yang Lalu, Hana Resmi menerima Mike sebagai kekasihnya. Meski itu dilakukan diam-diam karena tak ada yang mengetahuinya kecuali Dara, sahabatnya. Hana tak mungkin memberi tau keluarganya, mereka kurang pergaulan dan sangat patuh pada aturan-aturan kuno. Apalagi Kakaknya. Revan. Revan benar-benar sangat Overprotektif terhadap Hana, entah apa alasaannya tapi semenjak tiga tahun yang Lalu Revan benar-benar berubah menjadi Sosok yang menyebalkan untuk Hana.
Hana benar-benar sangat menunggu hari ini. Hari dimana dirinya menjadi wanita yang berkencan untuk pertama kalinya. Tentu saja Hana tak bisa melewati semua ini tanpa Dara, Sahabatnya. Dara membantunya memilihkan pakaian, mendandaninya, dan juga membantunya memberikan alaasan kepada Revan dan kedua orang tuanya jika mereka saat ini sedang bekerja lembur. Hana dan Dara saat ini memang sedang bekerja bersama di sebuah perusahaan periklanan di kota ini.
Sebenarnya Hana sedikit Heran dengan Dara, dengan wajah cantiknya, keahliannya dalam mengenakan Make Up, Dara tak pernah sekalipun terlihat tertarik dengan Lelaki, apalagi mengingat banyak lelaki yang mendekatinya. Apa ada yang salah dengan Dara..?? tapi Hana tak mau mengambil pusing, dengan Adanya Dara dirinya benar-benar sangat terbantu.
Hana Menunggu kedatangan Mike di halte pertama setelah keluar dai kompleks perumahannya. Tentu saja saat ini Dara menemaninya.
“Hana, Apa Kau baik-baik saja..?” tanya Dara yang ternyata ikut merasakan kegugupan Hana.
“Yaa.. aku aik-baik saja, aku hanya sedikit Gugup.” Jawab Hana kemudian.
“Tenanglah.. Mike sepertinya orang baik. Aku tau dia benar-benar menyukaimu.” Kata Dara meyakinkan, Hana sudah mengenalkan Mike dengan Dara beberapa hari yang lalu. Kesan pertama yaang Dara dapatkan adalah Mike terlihat baik dan benar-benar terlihat tulus. Sejak saat itu Dara mendukung hubungan Hana dan Mike walau itu dengan membantu Hana berbohong kepada Kakak dan orang tuanya.
“Terimakasih Dara, aku benar-benar tak tau bagaimana jika bukan karena bantuanmu.”
“Kau tak perlu berlebihan.” Jawab Dara sambil tersenyum manis.
“Apa Kau tau Dara jika aku mengkhawatirkanmu, Kau tak pernah sekalipun terlihat berkencan dengan Lelaki. “
Dara lalu tersenyum manis. “Hana, Aku lebih senang menghabiskan waktuku dengan buku-buku novel atau Map-Map periklanan kita.”
“Tapi Kau juga harus bersenang-senang Dara.”
“Aku sudah senang, aku sudah bahagia..”
“Hanya dengan seperti ini..? Ayolah Dara, Kau haruss memiliki teman kencan.” Kata Hana lagi.
Dara Hanya tesenyum simpul. “Aku sudah memiliki teman kencan, dia ada dirumah.”
“Benarkah..? Siapa.?”
“Bantal dan gulingku, Hahahah.” Jawab Dara sambil tertawa terbahak-bahak.
“Sial…!!! kupikir Kau benar-benar sudah memiliki kekasih tanpa sepengetahuanku.” Gerutu Hana.
Tak lama, Mobil Sedan Hitam mengkilap yang terlihat sangat Mahal berhenti tepat dihadapan mereka. Hana dan Dara tau jika itu adalah Mike. Mike dimata mereka adalah seorang lelaki bersih dan Rapi khas peminpin-pemimpin perusahaan dalam drama-drama yang pernah mereka tonton. Tubuh tinggi tegap dan wajah tampannya benar-benar membuatnya sangat cocok untuk berperan sebagai tokoh utama dalam drama-drama tersebut. Maka jangan Heran jika wanita sepolos Hana akan berada dalam genggamannya hanya dalam sekali tepuk.
Mike keluar dari dalam mobil, masih mengenakan setelan hitamnya dengan kemeja putih di dalamnya, Mengenaakan kacamata hitam dan melemparkan sebuah senyuman mempesona dari bibir indahnya.
“Nona, pangeranmu sudah datang.” Goda Dara kepada Hana.
“Haisshh.. Kau benar-benar.” Gerutu hana, sedangkan Dara hanya bisa terkikik saat melihat kegugupan sahabatnya tersebut.
“Hai.. Maaf jika aku sedikit terlambat.” Sapa Mike saat berada di hadapan mereka.
“Bukan sedikit terlambat Mike, Kau Memang sangat terlambat.” Jawab Dara sambil tertawa dan menggoda Hana.
“Aku benar-benar minta Maaf.”
“Tidak, Kau tak perlu minta Maaf, Mike.” Jawab Hana kemudian.
“Baiklah, kalau begitu aku kembali dulu. Ingat, Jam sembilan aku sudah menunggumu di sini Hana.” Kata Dara sambil berpamitan.
“Baiklah, Terimakasih Dara.”
“Yaa.. berhati-hatilah, Dan Kau Mike, jangan sakiti dia.”
Mike hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Apa dia tidak berkencan..?” Tanya Mike ketika Dara Sudah menjauh dari mereka.
“Aku tidak tau, tapi kupikir Dara memiliki orang yang dia Cintai. Sungguh, Banyak lelaki yang mendekatinya, Tapi Dara tak pernah mau menghiraukannya.”
Mike lalu menatap Hana dengan Seksama, “Astaga Hana, Kau sangat Cantik malam ini.”
“Kau berlebihan Mike.”
“Tidak Sayang, Kau benar-benar sangat Cantik.” Kali ini Mike sudah mengusap lembut pipi Hana.
“Terimakasih.”
“Baiklah, sepertinya kita sudah terlambat, Ayo masuk.” Mike membukakan pintu depan untuk Hana.
Mike memutari mobilnya dan masuk lalu duduk di kursi kemudi sebelah Hana. “Kuharap ini menjadi kencan pertama yang menyenangkan untuk kita.” Kata Mike sambil menyalakan Mobilnya dan mulai menginjak pedal Gas. “Aku ada hadiah untukmu.” Kata Mike sambil menunjuk kebelakang.
Hana mengangkat sebelah alisnya lalu menoleh dearah Jok belakang kursinya. Seikat bunga Mawar berwarna Pink yang sangat besar , dengan Kotak berpita besar disebelahnya.
Hana menutup mulutnya dengan telapak tangannya, tak menyangka jika Mike adalah orang yang benar-benar Romantis.
“Astaga.. Kau tak perlu melakukan ini Mike..”
“Aku akan melakukan apapun untukmu sayang.” Kata Mike sambil mengecup telapak tangan Hana. “Dan Kau benar-benar Cantik hari ini.” Puji Mike lagi. Sedangkan Hana hanya bisa tersipu-sipu malu saat Mike tak henti-hentinya bersikap manis terhadapnya.
***
Tujuan pertama mereeka adalah Bioskop. Terlihat biasa-biasa saja untuk kencan pertama, tapi itu benar-benar sangat berarti untuk Hana. Sejak Dulu Hana menginginkan menonton film Romantis bersama dengan sang Pacar karena memang selama ini Hana belum pernah pacaran, tentu saja itu karena sikap Overprotektif Sang Kakak. Kini dirinya sangat bahagia memiliki seorang kekasih, Apalagi Kekasih itu baginya adalah kekasih yang diatas Rata-rata.
Ya tuhan.. Hana tak akan pernah berhenti memuji kesempurnaan Mike.
Saat ini Mike memberi kebebasan Hana untuk Memilih Film. Hana memilih sebuah Film Roman yang dibumbuhi dengan adegan Action, Semoga saja Mike suka dengan pilihannya. Sdangkan Mike sendiri kini sedang memesankan minuman dan juga Popcorn untuk menemani mereka saat film di putar nanti.
“Kau hanya membeli satu..?” Tanya Hana sedikit heran ketika melihat Mike haanya membawa sebuah gelas plastik ukuran besar dengan minuman di dalamnya dan juga sebungkus besar Popcorn.
“Yaa tentu saja.” Jawab Mike santai.
“Kau tidak makan nanti.?”
“Tentu saja aku memakannya.”
“Lalu bagaimana denganku.?”
Dan Mike hanya tersenyum. “Astaga Sayang… lihat ini.” Kata Mike menusukkan duaa buah sedotan kedalam gelas plastiknya tersebut. “Kita akan meminumnya bersama.” Lanjut Mike sambil mengerlingkan matanya.
Dan Hana hanya bisa tersenyum bahkan tersipu malu. “Kau aneh.”
“Ini tidak Aneh Sweety.. Semua pasangan melakukan ini saat menonton.”
Dan Hana lagi-lagi hanya bisa tersipu malu dengan perlakuan Mike, Mike ternyata orang yang sangat penyayang dan romantis, itu membuat Hana merasa sangat beruntung mengenal apalagi sampai mendapatkan hati Mike.
***
Setelah menonton Film Roman Action bersama, merekapun makan malam bersama. Makan malam yang menurut Hana sangat Romantis. Mike benar-benar membuatnya berbunga-bunga malam ini. Membuatnya menjadi seorang Ratu yang dilayani dengan sepenuh hati.
Tepat jam setengah sembilan malam Mike mengajak Hana pulang. Berhenti di depan Halte tempat mereka bertemu tadi.
“Sepertinya Cinderella sudah pulang lebih awal.” Goda Mike dengan melemparkan sebuah senyuman hangatnya.
“Kau tak perlu menggodaku Mike.”
Mike menggeleng. “Tidak Hana, Kau memang seperti Cinderellaku.” Kata Mike yang kali ini sudah mengecup punggung tangan Hana.
Mike turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Hana, Hana keluar dan Mike masih menemaninya.
“Sebaiknya Kau cepat pulang, ini sudah malam.” Kata Hana dengan sedikit gugup.
Mike menggeleng. “Aku tak akan membiarkanmu duduk disini sendiri, aku akan menemanimu hingga Dara kesini menjemputmu.”
“Mike, Apa kau tau jika Aku… emm.. sepertinya aku…”
“Katakan Hana.”
“Aku benar-benar jatuh hati padamu.” Kata Hana dengan menunduk karena Merona malu.
Mike tersenyum, lalu diaangkatnya dagu Hana, dan Mike pun mendaratkan Ciuman hangatnya kepada Hana. Ciuman pertama mereka. Hana merasa Aneh dengan sensasi ini, ini pertama kalinya dirinya berciuman dengan Lelaki dan Lelaki ini adalah Lelaki yang sangat di cintainya.
Sebisa mungkin Hana membalas Ciuman Mike, dengan tekhnik seadanya, dan itu membuat Mike tersenyum di sela-sela Ciumannya.
“Kenapa..?”
“Tidak..” mike Masih tersenyum. “Aku hanya ingin bertanya, apa Kau tak pernah berciuman..? Kau tak bisa berciuman..?” tanya Mike masih dengan tersenyum.
Hana Menunduk, dia benar-benar sangat Malu karena Mike menanyakan Hal itu. Tentu saja dirinya tak pernah berciuman. Selama 24 tahun dirinya tak pernah sekalipun pacaran, Orang tuanya memberi batasan Hana untuk mengenal lelaki, dan Hana sendiripun takut dan tak pernah berpikir untuk melanggar aturan orang tuanya tersebut. Belum lagi Kakaknya, Revan, yang sejak tiga tahun yang lalu berubah menjadi sosok yang over protektif dan menyebalkan. Tentunya dengan kehadiran Mike entah kenapa membuat Hana ingin melanggar semua aturan dari orang tuanya.
“Aku tak pernah memiliki kekasih Mike, wajar jika aku tak pernah berciuman.” Kata hana malu-malu.
“Hei.. kau tak perlu malu.” Kata Mike kali ini sambil mengangkat dagu Hana kembali. “Aku akan mengajarimu.” Kata Mike Kemudian.
Dan Hana semakin malu dengan perkataan Mike, diajari Berciuman adalah bukan hal yang petut dibanggakan mengingat Usianya yang sudah tak ABG lagi. Mike pasti menertawakannya, bagaimana mungkin Orang setua dirinya tak pernah berpacaran apalagi berciuman.
Mike memegang kedua bahu Hana. “Hana.. aku mencintaimu apa adanya, Dan aku sangat bahagia saat mendengar jika aku adalah Lelaki pertamamu. Jadi Kau tak perlu memikirkan Hal-hal aneh lainnya.” Kata Mike menenangkan Hana.
Dan bukannya tenang, Hana Malah semakin dibuat gugup. Gugup karena ssentuhan Mike, Perkataannya, pernyataan Cintanya. Dan gugup karena kedekatan Mereka.
“Ehhheeemm.” Suara seseorang mengagetkan mereka berdua.
“Kau sudaah datang.?” Dengan sedikit gugup Hana bertanya pada pemilik suara tersebut. Dia Dara.
“Yaa… tapi sepertinya aku melewatkan sesuatu yang harusnya kuihat.”
“Kau Ada-ada saja.” Kata Hana berpaling.
“Baiklah Sweety… Sepertinya aku memang harus pulang. Jaga dirmu baik-baik, dan jangan lupa hubugi aku.” Kata Mike kemudian. Lalu..
‘Cup’
Mike mencium Hana tepat dikeningnya. Ciuman sangat lembut tapi mempu membuat Kaki hana gemetaran, Membuat Perut Hana terasa dipenuhi puluhan kupu-kupu. Ya tuhan… perasaan apa ini..? pikir hana kemudian.
Hana Masih diam terpaku meski kini Mike sudah berada didalam mobilnya dan melambaikan tangan padanya.
“Heii.. Kau Kenapa..? Kuharap Kau baik-baik saja.” Kata Dara menyadarkan Hana yang sepertinya sudah linglung sedari tadi.
Hana yang kini membawa seikat besar bunga mawar Pink dan sebuah kotak besar berpita pemberian Mike hanya bisa tersenyum sendiri menertawai kegilaannya.
“Kau kenapa..?” Tanya Dara lagi.
“Dara..” Panggil Hana sambil menatap Dara dengan tatapan seriusnya. “Sepertinya.. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padanya.” Kata Hana yang kini sudah tersenyum lebar sambil sesekali meloncat-loncat layaknya anak kecil.
“Ya Tuhan… Kau akan Gila Hana.” Kata Dara sambil tertawa menyeringai.
“Yaaa… biarlah… aku senang Gila, jika itu karena Mike.. Hahhaha” Hana masih tertawa senang sambil meninggalkan Dara. Dara menyusulnya dan ikut tertawa bersama. Dirinya sangat senang mendapati Hana yang sangat bahagia saat menemukan tambatan hatinya. Bisakah dirinya sebahagia Hana nantinya…??
***
Mike Masih menyesap Anggur yang kini berada di dalam genggamannya. Matanya Beraapi-api tapi bibirnya tak berhenti mengulaskan sebuah senyuman, senyuman kemenangan. Yaa.. sebentar lagi…
“Mike… Kau kah itu..?” Tanya sebuah suara lembut yang lalu diikuti dengan Lampu yang menyala.
Mike manatap Wanita paruh baya itu dengan tatapan lembutnya. “Hai bu.. Ibu belum tidur..?”
“Ibu tak bisa tidur, Ibu menunggumu Mike. Apa yang kau Lakukan dengan bergelap-gelapan seperti tadi.?”
“Tak Ada Bu.”
“Kau tau, Ibu khawatir dengan keadaanmu, Kau menutup diri setelah Kepergian Thalita.”
“Aku hanya banyak pekerjaan Bu.”
“Carry menghubungiku terus, dia ingin menanyakan keadaanmu, tapi saat dia menghubungimu Kau tak mengangkatnya.” Mike hanya terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari ibunya tersebut. “Berhenti meminum itu Mike, Kau kacau.” Kata Ibunya saat melihat Mike ingin menyesap Anggurnya lagi.
“Aku istirahat dulu Bu.” Kata Mike sambil bergegas pergi.
“Kau ada masalah.?” Tanya ibunya yang langsung membuat Mike berhenti ditempatnya.
“Tidak.”
“Mike, Berjanjilah pada ibu kalau Kau tak akan melakukan Hal-hal nekat. Ibu hanya tak ingin kehilanganmu.”
Mike lalu beerjalan menuju ketempaat ibunya berdiri, Lalu memeluknya. “Aku janji Bu, Aku tak akan meninggalkan ibu Sendiri. Aku akan selalu menemanimu. Dan aku janji akan membalas dengan setimpal perbuatan orang yang membuat kita seperti ini Bu.”
Ibunya mengernyit mendengar perkataan Mike yang Sarat akan Emosi. “Apa maksudmu Mike.?”
“Ibu tak perlu tau, Ibu hanya boleh menonton dan menertawakan mereka nantinya.” Kata Mike penuh penekanan.
“Mereka siapa Mike.?”
Tapi Mike lebih memilih diam, Masih dengan memeluk ibunya, Mike sedikit menyunggingkan senyuman liciknya. Sebentar lagi.. sebentar lagi…

-TBC-

Bagaimana Chapter perdana ini menurutmu..?? Tinggalkan Comentarar yaa…. OOiyaa sapa tau ada yang lupa prolognya.. bisa di klik disini untuk Prolognya yaa… ‘PRolog’

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

My Everything (Novel Online) – Chapter 13

Comments 6 Standard

me12My Everything

Chapter 13
-Shasha-

 

 

Saat ini aku sedang mengobati luka yang ada di ujung bibirnya. Kami sama-sama diam sejak di dalam mobil tadi. Rasa canggung bercampur dengan gugup di tambah perasaan rindu yang menggebu-nggebu bercampur jadi satu didalam diriku. Aku ingin memeluknya, sungguh… aku benar-benar merindukannya.
Setelah berpisah, aku sama sekali tak tau harus berbuat Apa. Sedikit terkejut saat diaa kembali dan berkata jika dia tak bisa meninggalkan wanita itu. Tapi aku sadar, mungkin ada suatu alasan yang mendasarinya. Aku melepasnya dengan ikhlas meski sebenarnya hatiku sangat berat menerima kenyataan itu.
Aku mendengar kabar jika ternyata dia akan menikahi Wanita itu. Dia mencampakanku dan ingin menikahi wanita itu, Sungguh, hatiku sangat sakit, sakit yang berkali-kali lipat kurasakan dari pada sakit yang telah kupikul beberapa tahun belakangan ini. Tapi tetap saja, aku tak dapat membencinya, Dia membekas dihatiku, Rasa sakit itu seakan menjelma menjadi butiran-butiran cinta Kecil yang lalu menumpuk dalam hatiku, Pada Akhirnya bukan rasa benci yang kurasakan padanya, tapi rasa Cinta yang semakin membumbung tinggi hingga hatiku seakan-akan tak sanggup lagi menerimanya. Aku harus bagaimana..? Apa yang harus kulakukan dengan rasa Cinta sebanyak ini..??
Hari-hari yang kulalui berubah menjaadi Suram, tak ada harapan lagi untukku hidup apalagi mengenal cinta lagi. Separuh jiwanya kubawa pergi tapi dia juga tak sadar jika dirinya juga membawa separuh jiwaku pergi bersamanya. Aku hanya mencoba menjalani hari-hari dengan biasa walau sebenarnya aku sudah sangat putus asa.
Aku tau jika dia mengunjungiku setiap harinya. Kami sama-sama saling menatap, saling melempar senyum, seakan-akan saling mengatakan jika kami baik-baik saja walau sebenarnya kami sama-sama hancur, sama-sama terluka.
Aku tak sadar jika luka ini lama-lama mengikisku, Merubahku menjadi sosok yang berbeda, yang lebih dewasa hingga diriku sanggup menerima semuanya. Mbak Allea selalu bilang, jika Cinta memiliki jalannya masing-masing. Aku percaya, Sungguh aku percaya itu. Tapi bagaimana jika Cintaku menemui jalan Buntu..?? bagaimana jika aku tak sanggup dan aku memilih menyerah ketika aku menemui jalan yang sangat sulit..??
Menangis.. hanya menangis setiap malam yang bisa kulakukan.
Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar jika Dia membatalkan pernikahannya. Ada apa..?? Senang..? Ya.. tentu saja aku senang, itu tandanya aku masih memiliki kesempatan. Tapi nyatanya hingga saat ini dia tak kembali kepadaku, tak kembali mencariku. Ada apa dengannya..?
Aku sudah mengatakan jika sampai kapanpun aku akan menunggunya, aku akan menerimanya jika dia kembali, nyatanya dia tak kembali padaku walau sudah berpisah dengan Wanita itu. Hingga malam ini aku mendapatinya saling adu pukul Dengan Ricky. Mas Ramma benar-benar terlihat menakutkan, mungkin saja Ricky akan kehilangan nyawanya saat itu juga jika aaku tak menghentikannya.
Aku memeluknya dengan erat, menenangkannya. tubuhnya tegang, sangat tegang. Tatapan matanya tajam membunuh, suaranya sedingin salju. Ada apa dengannya..? Apa dia memiliki masalah dengan Ricky sebelumnya..?
“Ahhhhh..” Dia sedikit mengerang saat aku mengoles lukanya dengan sedikit Salep untuk memar-memar.
“Maafkan aku, tahan sebentar, ini akan sembuh.” Kataku dengan sedikit Canggung.
Saat ini kami sedang berada di dalam Apartemennya, Apartemen yang memiliki banyak kenangan tentang kami. Sedikit gugup karena jarak kami sekarang sangat dekat, mungkin hanya beberapa Inci.
“Kamu Cantik.” Katanya kemudian tanpa basa-basi.
Aku membatu seketika ketika mendengar ucapannya. Jantungku memompa lebih cepat, tubuhku menegang mendengar dua kata tersebut dari bibirnya. Ya tuhan.. kenapa dia memberiku Efek yang sangat serius seperti sekarang ini..?? Tanpa anyak bicara aku membereskan Kotak obat yang berada di sampingku, lalu bergegas pergi mengembalikan pada tempatnya. Tiba-tiba aku merasakan tangannya melingkari perutku. Memelukku dengan Posesif.
“Jangan pergi… Jangan tinggalin aku.” Katanya sambil menyandarkan wajahnya di punggungku.
“Aku tidak pernah pergi Mas… Kamu yang pergi ninggalin aku.” Jawabku lirih.
“Maafkan aku.. Aku bodoh, aku benar-benar sangat bodoh.”
Aku tersenyum. “Bodoh dan brengsek.”
“Yaa itulah Aku.” Jawabnya lagi masih dengan memelukku.
Aku lalu melepaskan pelukannya, dan memutar tubuhku hingga menghadapnya. “Aku harus pulang, ini sudah malam.”
“Enggak.. Kamu nggak boleh pulang Kerumah lelaki Brengsek itu.”
Aku mengernyit, “Lelaki btrengsek..?” tanyaku yang masih tak mengerti apa yang dibicarakannya.
“Iyaa.. selama ini kamu tinggal dengan Lelaki sialan itu kan..?”
Apa..? Apa dia nggak salah bicara..? Apa dia sedang demam atau kehabisan obat..? Seputus asanya aku saat berpisah dengannya aku tak mungkin tinggal dengan lelaki lain apalagi lelaki yang tak kucintai.
“Kamu ngomong apa sih Mas..? aku nggak ngerti.”
“Aku ngikutin kamu dan kamu tinggal di sebuah rumah kecil dengan Lelaki Brengsek itu kan..?” kali ini dia bertanya sambil memicingkan Matanya.
Aku sedikit tersenyum. “Astaga.. Aku memang tinggal disitu, tapi nggak sama Ricky mas..”
Dia sedikit terkejut dengan jawabanku. “Kamu serius..? Aku lihat dia sering antar jemput kamu, Kalian juga belanja bersama, belum lagi saat itu aku melihat kalian mematikan seluruh lampu di rumah itu saat kalian ada didalam.”
Dan akupun tak dapat menahan tawaku lagi. Dia Cemburu. Aku tau itu. “Jadi kamu selalu membuntutiku..?” Tanyaku masih dengan tertawa.
“Nggak sengaja.” Elaknya
“Kalau nggak Sengaja kok bisa tau semuanya..?” Godaku.
“Ah… Sudah, Jangan bohong, Aku sudah menyelidiki kamu.” Jawabnya dengan bersungut-sungut.
Aku tersenyum saat melihat tingkahnya yang seperti anak kecil. “Jadi karena itu Mas Ramma memukuli Ricky sampai Babak belur..?” Tanyaku kemudian.
“Dia Brengsek, Dia mencium teman kamu dibelakangmu. Aku hanya nggak mau Dia menyakitimu.”
“Mas Ramma juga Brengsek.”
“Yaa aku tau itu, tapi setidaknya aku tak berkencan atau mencium teman dari pacarku sendiri apalagi ketika kami sedang jalan bersama.”
Lagi-lagi aku tersenyum melihat tingkahnya. “Mas.. Ricky bukan Pacarku, Kami nggak sedang dalam suatu hubungan.” Aku menjelaskannya dengan lembut.
Dia membulatkan matanya seakan-akan tak percaya dengan pernyataanku.
“Baiklah, dulu kami memang pernah pacaran, tapi aku sudah memutuskannya karena aku tau aku tak pernah mencintainya. Dia teman yang baik, Dan dia ingin mendekati sahabatku, Devi. Gadis yang diciumnya tadi.”
“Apa..?” Dia terlihat terkejut dengan penjelasanku. “Nggak mungkin. Aku sudah melihat kebersamaan kalian beberapa hari ini.”
Dan lagi-lagi aku tersenyum. “Rumah itu adalah, kontrakan milik Devi. Dan aku menumpang tinggal dirumah kontrakannya karena aku tak mungkin pulang saat aku keluar dari Apartemen Mas Ramma, Mas Renno akan Curiga.”
“Lalu.. Kamu dan lelaaki itu.. kenapa bisa..”
“Ricky sedang PDKT dengan Devi Mas.. Devi yang kerjaannya sebagai perawat di salah satu rumah sakit tentu saja sangat sibuk, jadi mau nggak mau semua urusan Ricky dengan Devi aku yang ngatur. Lagian Ricky teman terbaikku Mas..”
“Kamu Yakin.?”
“Kamu masih nggak percaya..? Astaga..”
“Lalu saat kalian mematikan lampu itu.”
Dan akupun langsung tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, Saat itu Voucer listrik kami habis, dan aku lupa beli, akhirnya kami hanya bisa pasrah dengan lilin sebagai penerangan malam itu, lagian aku nggak hanya berdua Kok, Devi sudah pulang saat itu.”
Aku melihat dia memejamkan matanya, terlihat dengan jelas jika dia sangat lega saat mengetaahui apa yang terjadi denganku.
“Kamu benar-benar Cemburu.?” Tanyaku lagi.
“Kamu pikir Apa..? Aku bisa Gila karena memikirkan kamu. Bahkan aku berencana untuk mencincang kaki tangan Lelaki busuk tersebut.”
“Aku selalu disini Mas, Kapanpun kamu mencari, aku akan disini.”
“Dan apa kamu menerima jika aku kembali lagi kepadamu..?”
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Mungkin aku terlihat Bodoh, tapi sudahlah, dari dulu aku memang bodoh. Aku mencintainya tanpa Syarat. Memujanya walau dengan kesakitan. Aku membutuhkannya seperti aku membutuhkan udara untuk hidup. Aku rela merendahkan harga diriku sendiri hanya demi dia kembali padaku. Semua itu karena aku mencintainya, sungguh mencintainya dari dulu, sekarang dan seterusnya. Mencintai tanpa menggunakan Logika.
Dia lalu mendekatkan bibirnya kepada bibirku, munciumnya, menghisapnya penuh dengan kerinduan. Lalu mulai melumatnya sedikit demi sedikit hingga menjadi lumatan panas.
“Ahhh..” Katanya sambil meringis kesakitan pada bibirnya yang luka.
“Sepertinya kita tak bisa berciuman beberapa waktu dulu.” Kataku sambil tersenyum.
“Kata siapa..?” tanyanya sambil mndorongku hingga kedinding dan memenjarakan aku. “Apa Kamu tau betapa aku merindukan saat-saat seperti ini..? Aku tak peduli jika bibirku sakit atau berdarah, Yang kupedulikan hanyalah melepas rindu denganmu.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi dia mulai melumat bibirku dengan kasar menghisapnya seakan-akan menyesap rasanya. “Sialan Sha..!! aku sangat meindukan ini..” Katana di sela-sela ciumannya. Lida kami sudah bertautan menari-nari layaknya mengiringi sebuah lagu cinta, Aku terbuai, aku terlena oleh cumbuannya.
Tangannya mulai menjelajahi tubuhku, bergerilya didalam T-shirt yang kukenakan. Berhenti di perut datarku. “Astaga Sha.. Aku sangat suka saat meraba perutmu.” Aku sedikit tersenyum mendengar racauannya. Tangannya semakin kebawah hingga menyentuh pusatku sedangkan bibirnya kini sudah mencecap leher jenjangku.
“Heemmbbb..” Erangku tak bisa menahan kenikmatan ini.
Dia menghentikan semua aksinya membuatku sedikit kecewa, menatapku dengan tajam. “Kamarku.” Katanya kemudian. Dan tanpa banyak bicara lagi dia mengangkat tubuhku masuk kedalam kamarnya dan membaringkannya disana.
Melucuti pakaianku dan pakaiannya satu persatu hingga kini kami sama-sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Aku memalingkan wajahku. Sedikit malu karena sudah cukup lama kami berpisah, kami baru bertemu dan langsung melakukan hal panas ini. Dia mengangkat daguku hingga aku menatap wajahnya.
“Kenapa..?” tanyanya sedikit menyunggingkan sebuah senyuman.
Aku hanya menggeleng. “Aku.. Aku merasa seperti wanita murahan.”
Dia lalu tersenyum. “Apa aku membayarmu hingga kamu merasa murah..?”
“Mungkin…” Jawabku dengan nada sedikit menggoda.
Mas Ramma lalu sedikit tertawa. “Yaa.. aku memang membayarmu. Membayarmu sangat mahal.” Katanya kemudian.
Aku mengernyit. “Dengan apa..?”
“Dengan Cinta dan seluruh hidupku.” Katanya dengan tegas dan mantap lalu mulai menciumku kembali. Akupun menikmati cumbuannya walau dalam hati serasa ingin meledak karena pernyataannya.
Menciumi seluruh permukaan kulitku, seperti dia sedang memujaku. Menghisapku dimana-mana menbuatku semakin menggelinjang. Astaga… kapan siksaan ini akan berakhir..?
Tak lama aku merasakan dia menyentuh pusatku. Aku terkesiap ketika dirinya akan menyatukan diri.
“Ada apa..?” tanyanya sedikit heran.
“Mas Ramma nggak pakek pengaman..? Aku.. aku nggak KB lagi.” Kataku sedikit ragu.
“Memangnya kenapa..?”
“Aku takut hamil.”
Dia tersenyum lalu mengecup singkat bibirku. “Aku akan tanggung jawab, dan itu akan mengalahkan kakak sialanmu itu.”
“Maksudnya..?”
“Kalau Kamu Hamil, mau nggak mau dia merestui kita.”
“Tapi aku….”
Dia menutup bibirku dengan bibirnya. “Percaya padaku Sha..” Dan seperti itulah, dengan kelembutan dan bujuk rayunya sekali lagi aku terjatuh dalam pesonanya. Aku tak mampu mengelak atau menolak. Aku juga menginginkannya sebesar dia menginginkanku, kami sama-sama saling membutuhkan.
Akhirnya menyatulah tubuhnya dan tubuhku tanpa celah apapun, Saling mencumbu satu sama lain, saling memuja satu sama lain. Menikmati rasa satu sama lain. Astaga… aku tak pernah sebahagia ini… ini sangat berbeda dengan percintaan panas terakhir kami yang penuh dengan emosi dan air mata.
Sesekali kami terkikik walau masih penuh dengan gairah.
“Kamu menikmatinya sayang..?” tanyanya dengan lembut.
“Hembb..” aku tak dapat menjawab lagi karna tubuhku seakan penuh dengan sengatan kenikmatan yang diberikan olehnya.
“Aku juga… Kita akan menikmati ini bersama-sama hingga akhir. Percayalah padaku.” Katanya lalu mengecup keningku dengan lembut. Kata-kata itu menenangkanku. Yaa… aku percaya padanya, percaya seutuhnya, tak ada satu keraguan apapun untuk dirinya…
***
Aku terbangun ketika matahari sudah tinggi. Yaa… akhinya kami bangun kesiangan setelah pergulatan panas yang seakan-akan tak pernah berakhir tadi malam. Dia memeluk perutku dengan posesif. Saat aku bergerak ingin meninggalkannya, dia mengeratkan pelukannya.
“Pagi… Mau kemana..?” katanya serak khas orang bangun tidur.
“Pagi… Em.. aku mau pipis.” Jawabku dengan polos.
Dan dia sontak tertawa terbahak-bahak. “Mau pipis bareng..?” Godanya. Dan aku langsung membekap wajahnya dengan Bantalku. Tak berapa lama dia membalas dengan membalik tubuhku seketika hingga berada di bawahnya. “Kamu mau bermain nakal..?”
“Astaga.. aku mau kekamar mandi, Aku sudah gerah Mas..”
“Kita kekamar mandi bareng.”
“Enggak aku mau sendiri.”
“Kenapa..?” Dan aku hanya menggelengkan kepalaku. “Dasar manja.” Katanya lagi sambil menggulingkan tubuh polosnya kesebelahku.
Aku berdiri dengan mengenakan selimut dan bergegas pergi meninggalkannya kekamar mandi.
“Sha..” Panggilnya sebelum aku membuka pintu kamar mandi. Aku menatapnya dan dia menatapku dengan sungguh-sungguh. “Tinggalah disini bersamaku.” Katanya dengan sungguh-sungguh. Dan tanpa berfikir lagi aku menganggukkan kepalaku dengan antusias.
***
Saat ini aku sedang berusaha membuatkan Omlet untuknya. Astaga… Omlet apanya.. Ini lebih mirip dengan telur dadar biasa. Tadi aku sudah memanggangkan roti untuknya, maunya aku menyajikan Roti itu dengan isi sayuran, sosis, beberapa saus, dan juga telur setengah matang. Tapi aku menyerah. Berkali-kali aku memecahkan telur, tapi aku tak bisa memecahkannya dengan sempurna. Ya tuhan.. apa yang salah dengan tanganku..?? Akhirnya aku berakhir dengan mengkocok semua telur-telur tersebut dan membuatnya menjadi Omlet yang sekarang terlihat seperti telur dadar biasa. Astaga…
“Sedang bikin apa..?” tanya Mas Ramma yang kini sedang mengambil segelas air dari dalam kulkas.
“Telur dadar.” Jawabku sedikit kesal.
Dia menghampiriku dan sedikit tersenyum kepadaku. “Masih banyak kulitnya.” Ejeknya sambil tersenyum menyeringai.
“Aku tau, Mas Ramma sarapan diluar saja deh..” kataku ketus.
“Kok Gitu, aku kan mau sarapan telur dadar.”
“Yakin.. mau makan ini..?’
“Yakin lah… masakan kamu kan paling enak.” Katanya dengan sedikit tertawa, dan akupun ikut tertawa. Yaaa… aku tau jika dia hanya menggodaku. Enak dari mana…
Kamipun akhirnya berakhir dengan sarapan telur dadar yang ternyata sedikit lebih asin dari pada biasanya. Astaga…!!!
“Mas… Kita kunjungi Ricky yuk… kamu hutang maaf sama dia.” kataku kemudian. Yaa… tadi dengan khawatir Devi menghubungiku, dan aku mengatakan jika aku baik-baik saja, tapi tidak dengan Ricky. Hidung dan satu tulang rusuknya patah, belum lagi tampangnya yang sudah babak belur mengharuskannnya di rawat intensif d rumah sakit. Separah itukah..?? Astaga.. aku benar-benar harus minta maaf dengannya.
“Nggak, ngapain.”
“Kok gitu, bagaimanapun juga Kamu yang salah Mas, untung saja Ricky nggak lapor polisi.”
“Malas Ahh.. aku nggak pernah minta maaf sama orang.”
Aku datang menghampirinya, memelung lehernya dari belakang dan mengecup singkat pipinya. “Ayolah.. dmi aku, Mas Ramma kan sudah salah sama dia.” rengekku.
“Oke.. nanti siang kita kesana.” Dana kupun loncat-loncat kegirangan sambil sesekali mengecup pipinya. “Dasar Manja.”gerutunya kemudian.
***
Mas Ramma menepati janjinya. Jam tiga Sore dia mengajakku kerumah sakit, saat ini aku masih mengenakan Jeansku yang kupakai tadi malam, sedang atasannya aku megenakan T-shirt milik Mas Ramma lengkap dengan jaketnya.
Tadi kami banyak berbicara, yaa.. tentunya banyak yang harus di selesaikan diantara kami, bukan hanya Seks, tapi kerumitan-kerumitan yang selama ini menjadi kerikil kecil dalam hubungan kami. Aku bertanya tentan Wanita itu. Meski tak ingin membahasnya lebih jauh, Mas Ramma hanya bersumpah jika saat ini dia tak ada lagi hubungan bahkan tak ingin bertatap muka dengan wanita itu. Sebegitu bencinyakah dia dengan wanita tersebut.?
Tak berapa lama kamipun sampai di rumah sakit yang dimaksudkan. Aku langsung bergegas keruang inap Ricky, disana aku melihat Ricky masih terkapar dengan beberapa perban di wajah, kepala, dan aku tak tau dimana lagi. Dia parah. Aku juga melihat Devi yang setia menemaninya masih mengenakan seragam perawatnya, dia sedang mengupaskan apel untuk Ricky, dan entah kenapa sedikit senang melihat mereka bisa seakrab ini.
Aku menyeret masuk Mas Ramma untuk masuk. Ketika dia masuk, ada pandangan sedikit terkejut dari Ricky dan Devi.
“Sha.. ngapain kamu ajak dia kesini.?” Tanya Devi yang terlihat setengah takut dan setengah marah.
Aku hanya tersenyum lalu sedikit menyikut perut Mas Ramma karena sejak tadi dia terlihat cuek dan terkesan biasa-biasa saja saat melihat kondidi Ricky.
Dia mengaduh, Lalu berdehem sebentar dan mulai berkata-kata. “Gue minta Maaf.” Katanya datar dan cuek. Astaga.. apaan sih nih cowok.
Kini aku berakhir mencubit lengannya. “Aapa sih sayang..” Desisnya tajam kearahku.
“Itu bukan minta maaf, ayoo minta maaf yang bener.” Ketaku dengan sedikit kesal.
“Maaf, Gue nggak sengaja, Gue salah paham kemarin.” Dan meskipun terdengar sedikit angkuh dan cuek, tapi aku cukup senang karena Mas Ramma mau meminta maaf dengan tulus.
“Ky.. Maafin Mas Ramma ya… dia memang gitu orangnya.” Aku mendekati Ricky dan Ricky tersenyum padaku.
“Aku ngerti kok, Sha… aku malah berterimakasih, karena dengan ini, aku bisa jadian sama Devi.”
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. “Apa… yang bener.. astaga.. aku turut bahagia dengan kalian.”
“Sepertinya kamu juga sudah baikan.” Kata Devi kemudian dan aku hanya berakhir tersipu-sipu malu mendengar pernyataan Devi yang benar tersebut.
***
Tepat jam tujuh malam aku berpamitan pulang. Ya.. tadi cukup lama bercerita dengan Ricky dan Devi sedangkan Mas Ramma lebih memilih tidur di sofa daripada mendengarkan celotehan tak jelas dari kami.
“Kita makan malam diluar yaa..” Ajaknya masih dengan pandangan luruh kedepan., saat ini dirinya sedang mengemudi mobil di sebelahku.
“Mas Ramma memaangnya nggak capek, tadi aku lihat tidur terus.”
“Aku tidur bukan karena Capek, tapi Bosan.” Dan aku hanya terkikik geli saat melihat dia sedikit ketus dan merajuk.
“Maaf, aku memang suka menggosip dengan mereka hingga lupa waktu.”
“Bukan hanya lupa Waktu, aku sampek kelaparan saat nunggu kamu tadi.”
“Kenapa nggak ngajak pulang.?”
“Nggak enak.” Katanya cuek. Dan aku masih tersenyum dengan tingkah lakunya.
Dia berhenti di sebuah cafe yang teerbilang cukup ramai. Mengajakku masuk dan duduk di ujung ruangan.
“Mau pesan apa..?” tanyanya kemudian.
“Memangnya apa yang special disini..?”
Mas Ramma tersenyum. “Semuanya disini Special Sayang..” Dan mendengar panggilannya untukku membuatku merinding.
Dan belum sempat aku memesan, tubuhku menegang seketika saat melihat sosok tegap berdiri disebelah Mas Ramma. Dia Mas Renn.
“Sedang apa Kalian disini..?” tanyanya dingin.
Mas Ramma sontak berdiri dengan wajah terkejutnya menatap kearah Mas Renn. “Renn, Kok Lo disini..?” Tanyanya masih dengan nada tak percayanya.
“Gue yang tanya, Ngapain Lo ajak Adek Gue kesini..?” Kali ii tatapan Mata Mas Renn menajam, sakan-akan menusuk orang yang di tatapnya. Aku melihat Mas Ramma tak getar sedikitpun walau Mas Renn menatapnya dengan tatapan Membunuh.
“Gue Dinner Sama Shasha.” Jawab Mas Ramma yang kali ini Nadanya tak Kalah dingin dengan nada bicara Mas Renn.. Ya tuhan.. aku merasa jika saat ini aku berada diantara dua kutub.
Aku bergegas menengahi mereka berdua, betrdiri didepan Mas Ramma, menggenggam tangannya lalu menghadap kearah Mas Renn. Mungkin memang saat ini aku harus jujur padanya, aku bosan dan tak tenang jika harus kucing-kucingan terus dengan Mas Renn.
“Mas Renn.. Aku mohon jangan buat ini jadi sulit.” Kataku kemudian.
“Kita pulang.” Katanya dingin tapi tatapan matanya masih menjurus kearah Mas Ramma.
“Nggak mau, aku mau sama Mas Ramma.”
“Shasha..” Kali ini tatapan Mas Renn beralih padaku dan dia sedikit terkejut melihat pakaianku. “Ngapain kamu pakek bajunya..?” tanyanya dengan sedikit geram.
“Aku…. Aku..” Aku tak bisa menjawab.
“Dia tinggal di Apartemen Gue.” Jawab Mas Ramma terang-terangan, astaga… kenapa dia memperkeruh suasana..?
Aku melihat Rahang Mas Renn mengeras. Dia marah, aku tau itu, dan aku takut. Ya tuhan.. apa yang akan dilakukan Mas Renn terhadapku dan juga terhadap Mas Ramma..?
“Kita pulang.” Mas Renn menarik tanganku dengan Kasar lalu menyeretku begitu saja tanpa mempedulikan aku yang kesakitan. Sedangkan Mas Ramma hanya bisa menatap kepergianku dengan tatapan sendunya…
***
Mas Renn marah. Sangat Marah. Tak ada yang berani menghentikan kemarahannya untng saja dua hari ini Mama sama Papa keluar kota, jadi mereka tak tau apa yang terjadi saat ini.
“Kamu tau Sha.. Berkali-kali Mas Renn bilang, Jauhi Ramma. Dia Brengsek.” Lagi-lagi Mas Renn memaki-maki sambil terus mondar-mandir tak jelas. Sedangkan aku hanya bisa duduk pasrah berlinang air mata. Mbak Allea belum turun, mungkin dia sedang menidurkan Reynald, putera mereka yang lahir beberapa bulan yang lalu.
“Kamu bisa berkencan dengan siapa saja asal jangan Dengan Ramma, Dia Brengsek dan nggak punya hati apa kamu tau itu Haahh..?” Mas Renn benar-benar sudah seperti bom yang sudah meledak.
“Mas.. jangan sekasar itu dengannya.” Itu suara lembut Mbak Allea, aku tau dia akan menyelamatkanku.
“Tidak, aku tidak kasar, aku hanya terlalu sayang dengannya.. sayang…” Suara Mas Renn mulai melembut.
Aku melihat Mbak allea menangkup keduaa pipi Mas Renn dengan penuh kasih sayang. “Mas.. Bukankah Cinta tak bisa memilih..? mereka hanya merasakan perasaan yang disebut dengan Cinta tanpa bisa memilih mana yang boleh dicintai dan mana yang tak boleh dicintai.”
“Tapi itu bukan Cinta Sayang..”
“Lalu Apa..?”
“Mereka hanya main-main, mereka nggak tau Cinta, apalagi Ramma.”
“Lalu bagaimana dengan kita berdua..? Apa ini Cinta..? Apa yang kamu rasakan dan aku rasakan ini Cinta..?”
“Sayang.. jangan bandingkan mereka dengan Kita.”
“Aku tak membandingkannya Mas, aku hanya mencoba untuk membuka pikiran kamu jika Cinta memiliki jalan dan kisahnya tersendiri. Kasih merekaa kesempatan untuk membuktikan jika mereka tak main-main.”
“Aku tak bisa sayang.. itu terlalu beresiko untuk Shahsa, aku tak ingin dia disakiti oleh sahabatku sendiri.”
“Mas Ramma nggak mungkin menyakitinya Mas..”
“Astaga.. kenapa kamu keras kepala sekali sih.. Dari mana kamu tau jika Ramma nggak akan menyakitinya.?” Suara Mas Renn mulai meninggi lagi. Ini adalah pertama kali aku melihat Mas Renn bertengkar dengan Mbak Allea.
“Oke, Sekarang kita Akhiri semuanya, Sha.. Mas Renn tetap nggak suka lihat kamu dekat sama Ramma. Dan Kamu Sayang… Please… Aku nggak mau bertengkar sama kamu hanya karena masalah sepele ini.” Katanya kemudian lalu meninggalkan kami begitu saja, aku berlari kearah Mbak Allea dan memeluknya.
“Mbak akan membantumu sebisa Mbak Sha..” kata Mbak Allea menenangkanku. sambil mengusap rambutku.
***
Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing dan mata sembab karena bayak menangis.ya tuhan… bagaaimana mengaakhiri semua ini..?? Aku mandi, ganti baju, lalu bergegas keruang makan untuk sarapan bersama.
Di ruang makan ada pemandangan dan suasana yang berbeda. Mama dan Papa masiih belum kembali dari luar kota. Tak Ada Mas Renn yang menempel-nempel dengan Mbak Allea, mereka saling berdiam diri seperti orang yang sedang perang dingin. Dan aku tau jika semua itu karenaku. Astaga…
Dengan sedikit menyesal, aku memutar langkahku untuk kembali kedalam kamar dan menangis lagi. Astaga.. sampai kapan ini akan berakhir..??
Aku mengambil ponselku, menyalakanya karena sejak semalam kumatikan, Aku ingin menghubugi Mas Ramma. Tapi baru kunyalakan, berpuluh-puluh MissedCall masuk kedalam pemberitahuanku. Belum lagi beberapa pesan yang masuk didalamnya. Dan semua itu dari Mas Ramma.
‘Kamu nggak apa-apa kan sayang..?’
‘Renno Nggak nyakitin kamu kan sayang..?’
‘Kenapa telepon kamu mati..?’
‘Aku mau ngomong, Jangan diamkan aku..’
‘Tunggulah, aku akan segera menjemputmu’
Itu beberapa pesan yang masuk dari Mas Ramma. Dia terlihat sangat khawatir dengan keadaanku. Dan astaga.. bagaimana aku harus menghadapi semua ini..? haruskah aku membangkang dengan kakakku sendiri dan berlari kepada orang yang kucintai, Atau haruskah aku menuruti kemauan kakakku dan meninggalkan orang yang sangat kucintai..?? aku bingung, ini snagat rumit..

 

_TBC_

Aku hadir terlalu cepat yaa… hehhehe nggak apa-apa deh…. selamat menunggu chapter selanjutnya aja dehh kalo gitu…

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

My Everything (Novel Online) – Chapter 12

Comments 8 Standard

me12My Everything

NB : Nahh… tuhh lihat covernya… mereka udah tersenyum2 nggak jelas tuh…. wahh,,, semoga saja hubungan mereka semakin membaik ya… hehheheeh yang nunggu Revan dan Dara sabar yaaa…. heheheeh

Chapter 12

 

Memutari Kota adalah jalan satu-satunya untuk menenangkan fikiranku. Aku tak mungkin pergi minum karena saat ini Mama membutuhkanku. Mama..? Sialan, Aku baru sadar jika Mama sedang sakit dan mungkin saja saat ini sedang menungguku. Ketika ingin menghubungi Ponsel Papa tiba-tiba Ponselku berbunyi. Ternyata Papa lebih dulu menghubungiku.
“Halo Pa..”
“Ramma Kamu dimana.? Papa mencarimu di kantin rumah sakit, kata Mama tadi kamu kesana.”
“Aku diluar Pa.. tadi ketemu teman.”
“Kalau begitu kamu pulang saja, Kamu pasti capek, Biar Papa yang menunggu Mama disini.”
“Enggak Pa.. sebentar lagi aku balik, Aku nggak mau ninggalin Mama sendiri.”
“Anak Bandel, Ya sudah, hati-hati jangan ngebut.” Pungkas Papa lalu memutus sambungan telepon begitu saja. Yaa Papa memang seperti itu orangnya.
Lagi-lagi aku mengacak Rambutku. Sungguh, aku benar-benar tak habis fikir. Jadi selama ini aku sudah di bohongi mentah-mentah oleh seorang Zoya..? seharusnya aku tau jika Zoya bukanlah wanita polos biasa, aku cukup tau sejarahnya. Dia wanita sosialita yang berkelas. Gaya hidupnya bak selebriti belum lagi dunia malam yang selalu dijalaninya, Harusnya aku tau jika dia tak sebaik dan sepolos yang kukira.
Sialan…!!!!
Aku lalu memutar balikkan Mobilku, kembali menuju rumahsakit. Semoga saja Zoya sudah tak ada di sana. Aku benar-benar sudah terlalu muak untuk melihat wajahnya.
***
Pagi ini aku terbangun di sofa rumahsakit. Mama sudah bangun dan saat ini sedang sarapan makanan yang di siapkan oleh rumahsakit dengan Papa yang menyuapinya.
“Kamu sudah bangun sayang..?” tanya Mama yang melihatku bau terbangun dan masih mengcek-ucek mataku.
“Heemm.. Pagi Ma.. Pa..”
“Lebih baik kamu kembali pulang, Tidur. Kamu terlihat berantakan Ramm..” Kata Papa kemudian.
“Iya Pa.. sepertinya aku memang harus pulang.”
“Salam Buat Zoya yaa… jangan bilang kalau Mama sakit.” Kata Mama kemudian. Dan aku hanya mengangguk. Aku belum bisa menceritakan batalnya pernikahanku dengan Zoya saat ini terhadap Mama dan Papa. Bagaimanapun juga kesehatan Mama adalah yang paling utama.
Keluar Rumah sakit, aku kembali menuju kerumah. Sepertinya mandi air hangat akan menyegarkan otot-ototku. Menyegarkan pikiranku kembali. Tak sengaja aku mengingat kejadian tadi malam. Dimana aku memutuskan hubungank dengan Zoya.
Aku tersenyum…
Yaa…. setelah berhari-hari dan berminggu-minggu, Baru kali ini aku bisa tersenyum lepas, Aku merasa bebas… Aku merasa bisa bernafas kembali setelah akhir-akhir ini aku merasa sesak karena memaksakan hubunganku dengan Zoya.
Lalu bagaimana selanjutnya…?
Tiba-tiba pertanyaan itu datang di Otakku. Yaa.. bagaimana selanjutnya..? Haruskah aku kembali kepada Shasha dan mengajaknya kembali berhubungan denganku..?? Masihkah dia bersedia menerimaku..? yaa mungkin saja. Aku kan belum mencoba.
Akhirnya dengan semangat kulajukan mobilku supaya cepat sampai di rumah, Mandi lalu berangkat menemui Shasha. Aku tak peduli jika ini terlalu pagi atau apalah, yang jelas aku ingin semua kerumitan ini cepat berakhir dan aku kembali lagi dengan Shasha.
***
Sejak jam sepuluh siang aku sudah menunggu Shasha di depan Cafe tepat kerjanya. Tapi dia tak juga datang. Apa hari ini dia sedang Off..? tapi tak lama aku melihat sepasang lelaki dan Wanita sedang berboncengan Mesrah dan berhenti tepat didepan Cafe tersebut.
Wanita itu adalah Shasha.. dan lelaki sialan itu Adalah Ricky…
Brengsek..!!!
Apa Shasha kembali menjalin hubungan dengan Lelaki sialan itu..? Kenapa mereka mesrah sekali.? Aku bahkan melihat si Ricky sedang melepaskan Helm yang sedang di kenakan Shasha. Sialan..!!! apa aku sudah terlambat.? Tidak.. tidak mungkin. Aku bahkan masih melihat Shasha masih mengenakan Kalung pemberianku.
Saat aku sedang sibuk memperhatikan mereka, tiba-tiba Ponselku berbunyi. Sialan..!! ternyata Dhanni yang menelepon.
“Lo Dimana.?”
“Ada Apa..?” tanyaku ketus tanpa menghiraukan pertanyaannya.
“Sialan.. ita ada Meeting mendadak. Gue tunggu di ruangan Renno.” Dan Dhanni langsung menutup teleponnya begitu saja.
Sial..!! Aku benar-benar Malas jika harus berhadapan dengan Wajah dingin Renno hari ini..? Apa Metting sialan ini tak bisa di batalkan..?
Yaaa.. hingga sekarang, Si Renno sialan itu masih bersikap dingin terhadapku. Bahkan tak jarang dia menganggapku tak ada di ruangannya saat aku jelas-jelas berada disana. Sial..!!
Aku memutar balikan Mobilku dan mengemudikannya menuju kekantor Renno. Semoga saja hari ini tak bertambah berat dengan Sikap sialannya si Renno.
***
Tak ada masalah serius di kantor. Dan itu membuatku cukup lega. Apalagi mengingat tadi Renno sudah bersikap cukup baik terhadapku. Mungkin Dhanni sedikit menasehatinya hingga dia sedikit berubah terhadapku.
Sore ini aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Aku ingin menemui Shasha kembali. Ingin mengajaknya bicaraa, apa aku masih memiliki kesempatan atau tidak. Jika aku masih memiliki kesempatan aku akan memperjuangkannya, jika tidak.. kita lihat saja nanti, apa aku sanggup melepaskannya atau aku akan berubah menjadi lelaki brengsek yang merebutnya paksa dari genggaman kekasihnya.
Mengingat hubungan ini lagi-lagi aku mengutuk diriku sendiri. Sialaan….!!! aku masih tak percaya jika aku sudah menjadi Lelaki terbodoh yang pernah ada di dunia ini. Di tipu mentah-mentah dan ya tuhan…. aku melepaskan orang yang kucintai..??? Mengingat itu aku bersumpah jika aku tak akan pernah memaafkan Zoya lagi.
Aku sudah membuat gadisku menangis semalaman hanya karena aku lebih memilih bersama wanita penipu itu, Sial..!! Aku bahkan masih ingat saat aku dan Shasha menghabiskan malam terakhir kami. Malam yang benar-benar penuh dengan gairah, Perasaan, serta Emosi. Aku tak pernah bercinta hingga seperti itu. Bercinta sambil terisak seakan-akan sesuatu yang kumiliki akan pergi jauh dan itu benar-benar menyakitkan.
Sungguh… Aku tak akan pernah bisa melepaskan Shasha sampai kapanpun juga. Aku sadar.. aku sadar jika aku sangat membutuhkannya. Aku sangat menginginkannya..
Dia segalanya untukku… Dan aku tak bisa lepas dari kenyataan itu..
Memarkirkan mobilku di tempat biasa aku mengamati Shasha, aku berharap jika saat ini dia keluar dan melihatku. Ini masih jam 5 sore. Tapi aku bersikeras untuk menunggunya. Tapi tentu saja aku tak berani menghampiriya begitu saja saat ini juga, aku takut, aku takut jika dia akan menolakku dan aku tak bisa menerima hal itu.
Lama aku menunggunya hingga beberapa kali aku menguap bahkan tertidur di dalam mobil. Aku terbangun ketika hari sudah mulai gelap. Aku melihat jika Cafe tempat Shasha bekerja sudah tutup, Sial..!! apa Shasha sudah pulang..?
Ketika aku memperbaiki letak dudukku di dalam mobil, tak sengaja mataku menatap ke arah depan, seorang laki-laki dengan motor sialannya itu berhenti tepat di depan Cafe tempat Shasha bekerja. Siapa lagi, tentunya dia adalah Lelaki Brengsek yang beberapa hari ini mengantar jemput Shasha sesuka hatinya.
Sepertinya Emosiku sudah tak terbendung lagi. Aku ingin menemuinya dan merebut Shasha kembali. Tapi ketika aku akan membuka pintu Mobilku, aku melihat Shasha keluar dengan wajah sumringahnya, senyum bahagianya jelas terpancar dari wajah Cantiknya. Sebahagia itukah dirinya dengan lelaki tersebut..?? Aku mengurungkan niatku dan berakhir membuntuti mereka seperti seorang pengecut yang tak memiliki keberanian.
***
Memata-matai orang layaknya seorang Agen rahasia adalah satu-satnya hal terakhir yang pernah kupikirkan, nyatanya saat ini aku melakukannya, Sial..!!
Aku memata-matai Shasha, membuntuti kemanapun mereka pergi. Mereka tadi sempat makan malam bersama, meski makan malam itu tak terkesan romantis, tapi tetap saja itu bisa membakar api cemburu dalam hatiku. Api cemburu..??? Ayolah.. apa sekarang aku berubah menjadi seorang lelaki pencemburu bahkan ketika aku sama sekali tak memiliki hubungan apapun dengan wanita tersebut..?? Aku tak peduli. Nyatanya sekarang aku benar-benar merasa cemburu.
Shasha disana sedang tersenyum bahagia disebelah Lelaki brengsek yang bertampang Sok imut dihadapnnya. Sedangkan aku..? Sungguh aku sangat menyedihkan. Pernikahanku batal, meski aku bahagia dengan batalnya pernikahan tersebut tapi tentu saja itu tak mengurangi kesedihanku karena sudah meninggalkan Shasha demi wanita penipu itu. Bahkan sekarang aku tak sudi untuk menyebut namanya. Aku kesal.. aku marah… karena dia aku kehilangan Shasha, bahkan mungkin kini aku sudah terlambat untuk kembali padanya.
Aku masih mengikuti Shasha dan juga lelaki itu, Mereka kini berhenti disebuah Rumah kontrakan. Aku memicingkan mataku, untuk apa mereka berhenti disitu.? Lelaki itu bahkan memasukkan motornya kehalaman rumah kontrakan tersebut, mereka berdua sama-sama masuk kedalam rumah tersebut. Dan itu membuatku murka.
Apa Shasha tinggal disana..? Dengan Lelaki itu..? Sialan..!! Apa mereka sedekat itu..? ingin rasanya aku masuk kedalam rumah tersebut, memukuli bahkan mungkin mencincang lelaki itu, tapi sekali lagi aku harus ingat, Aku siapa..?
Mungkin jikka Renno memukuliku karena aku memiliki hubungan dengan Shasha itu masih dibenarkan, karena Renno adalah kakaknya, Dia tak ingin adiknya memiliki hubungan dengan lelaki Brengsek sepertiku, tapi Aku..? Apa aku punya Hak untuk memukuli pacar Shasha saat ini..? harusnya aku tau diri jika aku hanya Mantan pacar Brengseknya yang dengan mudah mencampakkannya.
Sial.. siall…!! kenapa hidpku kini begitu sial.. tak lama aku melihat Lampu rumah tersebut padam seketika. Sialan..!! Apa yang mereka lakukan dengan keadaan gelap seperti itu..?
Emosiku benar-benar tak terbendung lagi, Daripada malam ini aku berakhir menghilangkan nyawa seseorang, lebih baik aku pergi. Aku akan kembali besok. Yaaa aku akan kembali menyelidiki mereka besok.
***
Aku menjatuhkan diri di Sofa ruang inap mama. Lelah.. sangat lelah. Hari ini pikianku sangat penuh dengan Shasha, aku bahkan Lupa jika ada wanita yang paling kucintai di dunia ini yang sedang sakit di hadapanku saat ini.
“Ada apa sayang.. kamu sepertinya ada beban..?” Tanyanya mengagetkanku, kupikir Mama sudah tidur.
“Mama belum tidur..?”
“Mama sudah tidur seharian, jadi sepertinya malam ini Mama nggak akan bisa tidur. Ada apa..?” laagi-lagi Mama bertanya, apa aku harus memberitahukan semuanya..??
“Maa… Sepertinya aku sudah telat.” Kataku sambil berjalan menuju keranjang Mama, duduk di kursi di sebelah ranjangnya, menggenggam tangan rapuhnya dan menciuminya.
“Telat kenapa Sayang..? Zoya mana..? Kenapa Mama nggak melihatnya..?”
“Jangan sebut namanya lagi Ma.”
“Kamu marahan sama dia..? Ramma kamu harus mengontrol emosi Kamu Nak.. kalian akan menikah, jadi harus meredam ego masing-masing.”
“Nggak akan ada pernikahan antara aku dan dia Ma.”
“Apa yang kamu bicarakan..??” tanya Mama dengan wajah terkejutnya.
“Aku sudah membatalkan pernikahan kami.” Jawabku kemudian, lalu aku mulai bercerita tentang semua yang terjadi, jika Zoya menipuku, bahkan mungkin memanfaatkanku karenya nyatanya sampai saat ini dirinya masih mencintai mantan suaminya tersebut.
“Ya tuhan. Kamu yakin itu yang terjadi..?”
“Jika aku mendengarnya dari orang lain mungkin aku akan sedikit tak percaya Ma, Tapi aku mendengar darinya secara langsung ketika dia tak menyadarai keberadaanku. Sungguh, aku sangat membencinya Ma..”
“Apa kamu mencintainya..?” Tanya Mama kemudian.
“Tidak.” Jawabku dengan tegas.
“Lalu kenapa kamu sangat membencinya..? Bukankah lepas dari tangannya saja sudah Cukup..?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Secara tidak langsung dia yang bembuatku meninggalkan Wanita yang kucintai Ma.. dan sekarang, Aku sepertinya sudah terlambat untuk mendapatkannya kembali.” Kataku sambil menunduk lesu.
“Apa wanita itu Shasha..?”
Aku mengangguk lemah.
Mama lalu tersenyum. “Apa kamu belum makan seharian..? Kenapa kamu selemah dan selembek ini..? ini bukan seperti Ramma yang Mama kenal. Ramma yang Mama kenal adalah Ramma yang giat berusaha, bahkan dia mampu membangun perusahaannya sendiri dari Nol, jadi kenapa sekarang dia menjadi tak bergairah seperti ini ketika dia menginginkan Sesuatu untuk dimilikinya..?”
“Dia sudah memiliki orang yang bisa membahagiakannya Ma..”
“Apa Kamu tak dapat membahagiakannya juga..?”
“Aku tak Yakin Ma.. Yang kutau, Aku selalu membuatnya menangis.”
“Ramma… Orang yang sering membuat kita menangis adalah orang yang kita Cintai.”
Aku mengernyit dengan perkataan Mama. “Kenapa seperti itu..?”
“Karena Kamu tidak akan sakit hati begitu dalam dan menangis terisak-isak jika Kamu tak mencintai orang itu.” Jawab Mama dengan pasti.
“Jadi.. dengan kata lain dia menangis karena dia mencintaiku..?”
“Yaa seperti itulah. Ramma… Kejar dia jika kamu benar-benar yakin bahwa dia yang terbaik untukmu.” Nasehat Mama.
“Dia bukan hanya yang terbaik untukku Ma.. Dia bahkan sudah membuatku gila, menjungkir balikkan perasaanku, dan dia juga yang membuatku ingin merasakan bahagianya mempunyai seorang istri.” Kataku jujur dengan Mama.
“Lalu.. kamu tunggu Apa lagi.?”
Aku tersenyum kearah Mama. “Sepertinya Mama sudah ngebet banget ingin melihatku Menikah.”
“Mama kepengen punya menantu Ramma, Menantu yang tiap pagi memasakkan masakan enak untuk Mama.”
Dan mendengar kata-kata Mama aku langsung tertawa terbahak-bahak. “Ma… jika Shasha benar-benar menjadi Istriku nanti, Aku Mohon, jangan menyuruhnya memasak, masakannya Aneh, aku tak Mau Mama dan papa keracunan karena memakan masakannya.. hahaha” kataku masih dengan tertawa.
“Tapi kamu menyukainya Kan..? Mama Bahkan pernah dengar kalau kamu kangen sama masakannya.”
Aku mendelik mendengar ucapan Mama. “Mama dengar dari mana.?”
“Saat kamu Mabuk berat, kamu ngelantur ngomongnya, Sayurnya Aneh, Telur yang masih banyak kulitnya, ikannya Gosong, Astaga… sejak saat itu Mama tau Kalau perasaan Kamu kepada Shahsa bukan perasaan yang biasa.”
Aku menggaruk tengkukku, memerah karena Malu. “Tapi Mama nggak masalah kan kalau punya menantu yang nggak bisa masak..?”
Mama menggeleng sambil tersenyum. “Asal dia bisa membuat putra Mama bahagia, Apapun itu akan Mama terima.”
Aku memeluk Mama dengan sangat erat. “Aku sayang Mama.” Bisikku kemudian. Oh tuhan.. Aku benar-benar menyayangi Wanita ini. Meski bukan dia yang mengandung dan melahirkanku, nyatanya aku menyayanginya lebih dari apapun di bumi ini. Mama bahkan bisa membuat hari yang melelahkan bagiku berubah menjadi hari yang membuatku penuh dengan semangat. Mama menyemangatiku untuk mendapatkan kebahagiaanku seperti dia menyemangatiku saat aku berusaha membangun perusahaanku sendiri Dari Nol. Aku menyayanginya.. sungguh sangat menyayanginya..
***
Entah ini sudah hari keberapa aku mebuntuti Shasha dan Lelaki sialan itu. Oke, Aku memang pengecut. Malam itu dengan penuh semangat dihadapan Mama aku bertekat untuk merebut Shasha. Nyatanya… Sampai sekarang Aku masih tak berani menghampirinya, bahkan aku lebih memilih mengintainya seperti seorang Banci sejati. Sialan..!!!
Mereka sering jalan Bersama, Sejauh ini mereka memang terlihat sangat dekat. Mereka belanja bersama, Nonton bersama, Nongkrong bersama, dan yang kutau mereka tinggal bersama.. Sialan..!! Aku benar-benar tak bisa terima kenyataan terakhir tentang mereka tinggal bersama. Shahsa hanya boleh tinggal bersamaku. God… Mau tak mau malam ini aku harus merebut Shasha entah itu dengan sukarela atau dengan paksaan.
Aku mengikuti mereka seperti biasanya. Ternyata mereka berhenti di Taman Hiburan, Taman hiburan yang penuh dengan kenanganku dan Shasha. Sialan..!! untuk Apa mereka kemari..? Apa Shasha ingin menghapus semua kenangan Kami dan menggantinya dengan kenangan bersama Lelaki busuk itu..? tidak.. Kenangan kami tak akan pernah terhapuskan.
Aku turun dari Mobil dan mengikuti mereka sedekat mungkin. Aku tak mau kehilangan jejak mereka diantara Ratusan orang yang berada di taman hiburan ini. Ini Malam minggu dan masih jam 7 malam. Pantas saja sangat Ramai.
Aku melihat mereka berdua menghampiri seorang gadis yang tengah melambaikan tangan kepada mereka. Siapa lagi gadis ini..? Mereka lalu berjalan bersama. Mencoba beberapa Wahana. Kumohon Sha… Jangan sampai kamu menaiki Kincir Ria bersama Lelaki itu. Itu akan menyakiti hatiku. Kamu hanya boleh menaiki wahana itu denganku, Karena hanya Kincir Ria itu satu-satunya saksi betapa aku sangat tulus ingin melamarmu dan menjadikanmu sebagai istriku.
Dan terimakasih tuhan.. Do’aku terjawab Sudah. Shasha lebih Memilih duduk di tempat tunggu dari pada harus ikut naik di wahana tersebut. Aku memperhatikannya dari jauh. Wajahnya terlihat sendu, tangannya menggenggam kalung yang melingkari lehernya. Kalung pemberianku. Dan pada saat ini aku tau jika dia sedang mengingatku. Apa dia rindu terhadapku..?? Aku memejamkan Mata, merasakan sakit yang sangat menusuk di dadaku.
Astaga… bahkan hanya dengan melihat wajah sendunya saja aku sudah merasa sakit. Melihatnya sedih membuatku turut sedih, melihatnya menangis membuatku sangat marah hingga aku ingin menangis juga. Apa ini..? Perasaan apa ini..? Aku Parah.. Benar-benar sangat parah hingga tak ada yang dapat menolongku jika itu bukan Shasha sendiri.
Aku melihat mereka sudah berkumpul bersama lagi setelah Lelaki dan teman wanitanya itu turun dari wahana Kincir Ria. Mereka lantas bergegas menuju ke Danau buatan. Manaiki perahu kecil. Lagi-lagi aku melihat Shahsa hanya duduk menunggu di Gazebo yang disediakan disebelah danau sedangkan Lelaki sialan itu tetap naik perahu-perahu kecil yang disiapkan dengan Teman wanita Shasha. Sial..!! Sebenarnya Mereka sedang pacaran atau sedang apa..? jika Shasha tak mau naik harusnya lelaki sialan itu juga tak naik, bukan malah meninggalkan Shahsa sendirian.
Lagi-lagi aku memperhatikan wajah sendu Shahsa. Wajahnya terlihat sangat sedih. Ya tuhan.. Aku benar-benar tak tega melihatnya seperti itu..?? Apa itu karena aku..? Atau karena Cemburu pada Lelaki sialan itu karena terlihat mesrah dengan teman Wanitanya..? Sungguh, jika aku jadi Renno, aku akan memukuli Lelaki bajingan itu habuis-habisan. Bisa-bisanya dia membuat Shasha sedih seperti itu.
Tak lama aku melihat mereka berkumpul kembali. Duduk bersila bertiga di dalam Gazebo tersebut. Aku iri. Aku ingin berada di sana dengan Shahsa, tertawa bersamanya dan mengatakan jika semua masalah ini sudah berakhir, Aku ingin mengatakan jika aku kini sepenuhnya hanya miliknya. Tapi…. Ahhh lupakan Saja. Itu tak akan mungkin.
Aku melihat Shasha bergegas meninggalakan lelaki dan teman wanitanya itu. Mau kemana dia..? Bisa-bisanya dia meninggalkan pacarnya dengan teman wanitanya, Ketika aku akan mengikuti Shahsa, Langkahku terhenti ketika melihat Lelaki busuk itu tiba-tiba mendekati teman Wanita Shahsa. Sangat dekat. Aku bahakan melihat dia menggenggam tangan wanita itu dengan mesrahnya. Sialan…!!!
Tanganku mengepal saat tau jika Lelaki yang bersama Shahsa tersebut tak ada bedanya dengan Lelaki Brengsek yang hanya mempermainkan perasaan Shasha. Emosiku semakin menjadi-jadi ketika melihat Lelaki itu… sialan… Mereka berciuman.. Berciuman dengan panas Di belakang Shasha..??
Tanpa pikir panjang lagi aku melangkahkan kakiku dengan Cepat kearah mereka. Menarik lelaki brengsek itu dengan sekali tarikan dan memukulnya hingga tersungkur di tanah. Aku memberikan berkali-kali pukulan kearah Wajahnya. Biar saja, biar dia babak belur dan tak ada wanita yang mau dengannya lagi. Aku mendengar teriakan-teriakan histeris dari wanita teman Shasha tersebut, tapi aku tak mempedulikannya.
Tapi ketika aku sedikit lengah, dia memberiku sebuah pukulan yang tepat mengenai ujung bibir kananku. Aku berhenti sejenak, Rasa pedih langsung menghampiri tepat di bibirku, Aku tau saat itu jika bibir Seksiku Robek dan berdarah, Sialan..!! Aku tak akan dapat melakukan Ciuman panas dengan bibir terluka seperti ini. Amarahku semakin memuncak Mataku Berapi-api. Aku menerjangnya memberinya beberapa jurus Taekwondo yang kupelajari. Saat dia jatuh ketanah, bukan berhenti aku malah menguncinya dan ‘Bugghh…’ ‘bugghh..’ kudaratkan berkali-kali pukulan kerasku tepat di wajahnya, tanganku kini penuh dengan darahnya, mungkin hidungnya patah, aku tak peduli. Dia sudah memukulku dan yang terpenting dia Sudah menyakiti Shashaku….
Tak lama setelah itu aku merasakan tangan halus memeluk tubuhku dari belakang. Aku masih tak menghentikan Aksiku hingga aku mendengar suaranya. Suara lembut yang sudah sangat lama kurindukan.
“Mas.. Hentikan Mas.. aku mohon hentikan…”
Aku berhenti seketika, aku tau jika itu suara Shasha. Aku berdiri meninggalkan Tubuh lelaki sialan itu tergolek lemah penuh darah. Wanita teman Shasha itu langsung menghampiri lelaki itu dan menangisinya, sedangkan Shasha masih memelukku dari belakang, menenangkanku. Banyak orang yang berkumpul melihat kejadian tadi bahkan petugas keamana Taman hiburan inipun hanya melihat kami. Yaaa tentu saja, mereka tak akan berani melerai jika itu aku yang berkelahi. Mereka tau jika Ayahku yang memiliki tempat ini, maka jangan Heran jika aku bisa masuk sesuka hatiku bahkan mengosongkan tempat ini saat aku melamar Shasha dulu.
“Mas Ramma Kenapa..? Aku takut melihatmu seperti itu..” Kata Shasha yang masih memelukku dari belakang.
Aku menggenggam tangannya, lalu berbalik dan memeluknya erat. “Dia Brengsek, Tinggalkan dia.” Kataku dingin sambil sesekali menghirup aromanya, Astaga.. Aroma yang sangat kurindukan.
Aku lalu melepaskan pelukan kami. Masih dengan menggenggam erat Tangan Shasha dengan posesif. Aku lalu menatap lelaki itu dengan tatapan membunuhku. “Kalo Lo berani deketin Shasha lagi, Gue Bunuh Lo.” Ancamku dengan nada dingin.
Lalu aku pergi begitu Saja dengan menggenggam tangan Shasha meninggalkan semua orang yang sedang ternganga menatap kepergian kami.