My everything (Novel online) – Chapter 6

Comments 13 Standard

mE coverMy Everything

NB ; Maaf lama banget yaa postnya.. hehehhe lagi suka-sukanya ama Revan sih.. hahahah,,, Ooiyaa yang punya Playstore jangan lupa yaaa.. Download App Novel The Lady Killerku yaa… caranya gampang, Buka Playstore => Cari app dengan nama Novel dewasa The Lady Killer dengan nama penulis Zenny Arieffka => lalu Klik Pasang. hehhehe trus jangan lupa kasih bintang 5 yaa… hahhaha Maaf numpang promo.. hehehhe langsung aja deh,,, silahkan di baca… 🙂

Chapter 6

 

“Sha.. Ayo kita Pacaran.”
Pacaran…??? Astaga… kata itu adalah kata yang menggelikan yang pernah kuucapkan. Kata yang cocok untuk digunakan anak-anak SMA yang sedang dimabuk cinta Monyet, Bukan Lelaki dewasa yang penuh gairah seperti aku. Seharusnya aku berkata ‘Sha Ayo bercinta,’ Atau ‘Sha Jadilah kekasihku.’ Atau juga ‘Menikahlah denganku.’ Bukan malah mngajaknya pacaran sepetrti anak kecil. Ada apa denganku…???
Dan juga, Apa aku terlalu Gila hingga dengan sadar aku menarik Shasha kedalam suatu hubungan…??? Aku tau betul Resikonya jika hubungan kami gagal. Aku masih merasakan bagaimana Dinginnya Renno menghadapiku tadi pagi.

“Lo sudah di sini Dhan..?” Tanyaku Pada Dhanni saat aku baru masuk kedalam ruangan Renno tanpa mempedulikan tatapan mereka yang terlihat Aneh.
“Gue sudah dari tadi.” Jawab Dhanni singkat.
Aku merasa suasana sudah mulai tak Enak, mau tak mau aku harus menanyakan kepada mereka. “Ada apa..?? Kalian terlihat aneh.” Tanyaku dengan santai.
Renno yang sejak tadi duduk dan menatapku tajam, Sontak berdiri dan berjalan menghampiriku. Dia berhnti tepat dihadapanku. Dan dengan dingin dia berkata.
“Jauhi Shasha.”
Hanya Dua kata, tapi tentu saja itu bisa mempengaruhiku. Wajahku menegang, tanganku mengepal. Siapa dia berani-beraninya mengatur hidupku.
“Lo nggak berhak Ngatur hidup Gue.” Jawabku tak kalah dinginnya.
“Gue berhak lindungi adek Gue.”
“Lo Gila, Lo bertindak seakan-akan Gue Penjahat yang akan melukainya.”
“Lo Sudah melukainya Ramm.. Dan Gue Nggak akan ngebiarkan itu terjadi lagi.” Jawabnya penuh penekanan. Lalu dia pergi begitu saja meninggalkanku dan Dhanni.
Dhanni datang menghampiriku dengan tatapan Anehnya. “Jauhi Shasha Ramm.” Kata Dhanni sambil menepuk Bahuku.
“Lo sama Gilanya sama si Renno.”
“Gue juga nggak akan ngebiarin adik perempuan Gue deket sama Lo Ramm.”
“Lo nggak punya adik perempuan.”
“Shasha seperti adik Gue sendiri.” Jawabnya kemudian. “Gue akan berada di belakang Lo, Ndukung Lo, Jika Lo serius dengan Shasha dan meninggalkan semua kebiasaan buruk Lo, tapi Gue akan mendukung Renno jika Lo hanya main-main dengan Shasha. Persahabatan kita jadi taruhannya Ramm.”
“Persetan dengan Kalian Berdua.” Kataku kemudian sambil bergegas meninggalkan Dhanni begitu saja.

Aku hanya melihat gadis di hadapanku ini ternganga, mungkin tak percaya dengan apa yang kubicarakan. Ku goncang-goncangkan tubuhnya supaya dia sadar jika ini nyata.
“Sha.. kamu nggak apa-apa kan.??” Tanya ku kemudian. Dan tanpa kusangka dia menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya sendiri.
“Astaga.. apa ini Mimpi..??” Tanyanya kemudian.
“Ini Nyata..” jawabku kemudian.
“Kenapa Mas Ramma tiba-tiba mengatakan itu..? Kenapa sekarang..?? dan kenapa tiba-tiba….” dia tak bisa melanjutkan kalimatnya karena aku sudah membungkamnya dengan bibirku.
Itu karena aku ingin sembuh…
Alasan utama aku mengajaknya masuk dalam suatu hubungan adalah karena aku ingin sembuh. Aku tak ingin menjadi seorang yang Gila dengan Wanita apa lagi wanita itu Shasha. Aku tak ingin terlalu memuja wanita apalagi bertekuk lutut dihadapannya. Aku tak ingin terlalu penasaran dengan wanita seperti aku amat sangat penasaran dengan Shasha. Semuanya harus diakhiri dan inilah caranya supaya aku bisa sembuh dari kegilaan ini.
Yaa… aku akui.. aku memang sudah gila karena dia. Gila dalam arti yang sebenarnya. Orang waras mana yang membuatkan satu ruangan khusus untuk menyimpan foto-foto seseorang..? Orang waras mana yang setiap malam minggu selalu ketaman hiburan dan memakan arum manis sendirian ditengah-tengah Ramainya Taman hiburan tersebut..?? Aku melakukan semua itu, dan itu tandanya jika aku sudah tidak Waras.
Aku memang memiliki sebuah ruangan khusus disalam studio fotoku. Ruangan yang sangat privat. Dan apa kalian tau apa isinya..?? isinya adalah Foto-foto Shasha yang kuambil sembunyi-sembunyi sejak dia SMA hingga kini. Aku bahkan tak sadar kapan aku memmotretnya. Entah aku memang tak sadar atau aku memang tak mau menyadarinya.
Zoya menjadi wanita yang sangat Cemburu dengan kehadiran Shasha setelah dia tak sengaja melihat ruanga tersebut. Shasha memiliki ruangan tersendiri di studio fotoku, itu tandanya dia juga memiliki Ruang tersendiri di hatiku. Mau tak mau aku harus mengakui itu.
Kenyataan itu membuatku tak nyaman, membuatku semakin marah… Aku tak suka menginginkan Wanita. Aku tak suka jika diriku membutuhkannya. Aku ingin sembuh.. Dan kata Rio jika aku ingin sembuh, Maka aku Harus mendekati Shasha.. memperlakukannya seperti aku memperlakukan wanita-wanita di sekitarku pada umumnya. Jika ini hanya penyakit sesaat maka tubuhku sedikit demi sedikit tak akan lagi penasaran ataupun menginginkannya. Ini seperti Terapi bagiku.
Namun sebaliknya. Jika aku semakin menginginkannya. Tandanya aku tak tertolong lagi. Aku memang harus menghentikan semua petualangan asmaraku dan hanya berlabuh padanya. Lalu bagaimana dengan Zoya..??? Sialan…!!! aku tak bisa memikirkan apapun tentangnya. Dia sudah banyak mengorbankan diri untukku, aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja.
Ciuman kami inipun terputus setelah bayangan Zoya muncul dalam ingatanku. Zoya calon ibu dari anak-anakku.. Sialan…!!!! kenapa bisa seperti ini..?? Dan ya tuhann… dia sama sekali belum menghubungiku sejak kemarin. Apa terjadi sesuatu dengannya..??
“Kenapa..?” Tanya Shasha yang langsung membuyarkan lamunanku dari Zoya.
Aku menggeleng. “Enggak.. Kamu cantik.” Kataku kemudian. “Mau berkeliling..?” tanyaku lagi dan dia hanya mengangguk. Sisa malam itu kuhabiskan dengan berkeliling taman hiburan. Walau ada sedikit kecanggungan diantara kami tapi bagiku itu wajar, kami sudah tak sedekat ini dalam waktu yang lama.
***
Aku mengantar Shasha tepat di depan Gerbang Mansionnya. Tentu saja aku tak akan masuk. Jika tau Aku yang mengantar Shasha mungkin Renno akan menguburku hidup-hidup.
Sebelum dia keluar, kugenggam tangan Shasha. Kuberikan dia seuatu. Kunci Apartemen pribadiku yang kemaren hampir saja menjadi tempat pertama kami bercinta.
“Apa ini..?” Tanyanya polos.
“Kunci Apartemenku yang kemarin. Kuharap kamu mau kesana jika ada waktu luang.”
Dia tersenyum bahagia. “Jadi.. kita benar-benar pacaran..?” Tanyanya polos. Dan aku tersenyum sambil mengacak-acak poninya.
“Tentu saja.” Jawabku kemudian. “Tapi aku mohon, hanya kita yang tau. Jangan beri tau siapapun. Renno belum setuju denganku. Bahkan saat ini hubungan kami sedang renggang.”
. “Aku tau Mas.. Aku juga ingin hubungan kita tak diketahui siapapun terlebuh dahulu.” Jawabnya kemudian. Dia menangkup pipiku dengan telapak tangannya. Hangat.. terasa sangat hangat dan lembut.
‘deg.. deg.. deg.. degg…’ Perasaan apa ini..?? Aku memandangnya dengan tatapan tanda tanya. Ada apa ini..?? Sentuhannya benar-benar mengacaukan detak jantungku. Wajahnya sangat manja namun sentuhan tangannya benar-benar terasa sangat dewasa sakan-akan hanya dialah yang sanggup menenangkanku.
Dan tanpa kusangka, Shasha memberukan kecupan singkat di pipiku. Lalu dia keluar dari dalam mobilku begitu saja dan meninggalkanku yang ternganga sambil memegangi bekas kecupannya.
Apa ini…??? Kenapa kecupan di pipi terasa begitu nikmat untukku..?? Kenapa kecupan ini seakan-akan terasa begiitu menggairahkan dibandingkan Lumatan dibibir..??? Sialan…!!! sepertinya aku memang harus mandi air dingin nanti malam.
***
Malam ini aku kembali tidur di rumah. Mama sudah diperbolehkan pulang kerumah sore ini, tentu saja aku harus menemaninya. Aku tak mungkin meninggalkannya dulu beberapa hari ini.
Kulemparkan tubuhku di Ranjang King Sizeku. Memejamkan mata dan lagi-lagi bayangan Shasha menyeruak begitu saja dalam otakku. Astaga.. apa yang kuinginkan darinya…?? Bisa-bisanya aku dibuat menjadi seperti ini karenanya. Sialan….!!!
Tak mau berlama-lama membayangkan tentang Shasha akupun bangun dan duduk di pinggiran ranjang. Kuambil Ponselku dan lagi-lagi tak ada pesan ataupun MissedCall dari Zoya. Dimana wanita itu..?? Sungguh, baru kali ini aku menghawatirkannya.
Akhirnya akupun memiliki inisiatif untuk menghubunginya terlebih dahulu.pada deringan ke empat dia baru mengangkatnya.
“Halo..!!” suaranya terengah-engah, terdengar aneh, Seperti… Sialan…!!! dia tak mungkin sedang bercinta dengan seseorang.
“Halo.. Kamu dimana..? Sama siapa..?? sedang ngapain..?”
“Astaga sayang… Ada apa denganmu..?” Dia berbalik bertanya.
“Sialan..!!! seharusnya aku yang bertanya. Ada apa denganmu..?? kamu nggak ngasih kabar aku dua hari ini dan sekarang kamu terengah-engah seperti sedang bercinta.” Kataku dengan emosi yang sudah terkumpul di ubun-ubun. Aku tak tau kenapa bisa semarah ini. Cemburu..?? Baiklah,,, kuakui aku cemburu, bagaimanapun juga dia kekasihku, Wanitaku.
“Kamu cemburu sayang..?”
“Yaa.. aku cemburu dan khawatir.” Jawabku tanpa malu. Yaa aku memang tak punya malu.
Dia terdengar tertawa disana. Dia menertawakanku..?? Sialan..!!! “Aku hanya terlalu sibuk sayang.. kamu juga tak meneleponku. Jadi kita sama-ssama impas.” Jawabnya kemudian. “Sudah dulu yaa sayang.. besok aku hubungi lagi. Aku benar-benar sibuk.” Ktanya lagi diikuti dengan bunyi ‘tutt.. tuttt… tut..’ tanda sambungan telepon terputus. Sialan…!!!
“Sialann…!!!” umpatku sambil melempar ponsel milikku. Zoya pasti sedang bersama lelaki lain, aku tau itu. Aku mengacak-acak Rambutku. Siall!! Kalaupun dia dengan lelaki lain memangnya kenaapa..???
***
Aku bangun dalam keadaan berantakan. Bangun siang.. sangat siang.. karena ini hari minggu. Aku bangun, mandi dan mengganti pakaianku lalu bergegas turun kelantai dasar menemui Mama di kamarnya.
“Pagi ma..” sapaku pada Mama dan langsung memeluknya, mama masih terduduk di rannjangnya dengan lemahnya.
“Pagi sayang.. Kamu nggak kerja..?” tanya Mama kemudian.
“Enggak, Ma.. ini kan minggu.. paling nanti siang saja ada pemotretan.”
Mama tersenyum sambil mengacak rambutku. “Kamu itu yaa masih kayak anak kecil tau nggak.” Katanya kemudian. Yaa.. kuakui aku memang seperti anak kecil saat di hadapan Mama. “Ramm… Kapan kamu bawa pacar kamu kesini..?” tanya Mama kemudian.
“Pacar apa sih Ma.. Ramma nggak punya pacar.”
“Kamu jangan Bohong, lalu ada apa Kamu dengan adiknya Renno.?”
“Astaga.. dia seperti adikku sendiri Ma..”
“Cara Kalian memandang tidak seperti itu. Dan Mama tau kamu menyukainya.”
“Enggak Ma.. enggak.. itu dulu, sekarang berbeda.”
“Apa yang membuatnya berbeda..?” tanya Mama dengan antusias. Dan aku tak dapat menjawab pertanyaan Mama karena ternyata tak ada bedanya dulu dengan sekarang. Aku masih menginginkannya.. penasaran dengannya…
Aku langsung berdiri dan bergegas pergi, “Sudah yaa Ma.. Ramma mau siap-siap dulu, sebentar lagi ada pemotretan.” Kaataku kemudian.
Mama tersenyum. “Kamu menghindari pertanyaan Mama.”
“Ayolah Ma.. lupakan semuanya..”
“Mama akan melupakannya.” Kata Mama kemudian. “Tapi kamu harus janji nggak akan menyakitinya, bagaimana..??”
Nggak akan menyakitinya..?? Bagaimana mungkin..?? Aku menjalin hubungan dengannya karena aku ingin lepas dari rasa penasaran ini.. tentu saja setelah lepas aku akan meninggalkannya, dan aku tau jika itu akan menyakitinya. Aku bahkan mempertaruhkan persahabatanku dengan Renno dan Dhanni demi kesembuhanku ini. Sial…!!!
“Aku nggak janji Ma…” jawabku sambil meninggalkan Mama.
Yaaa… aku memang tak bisa berjanji jika aku tak akan menyakiti Shasha.. bagaimanapun juga Shasha bukan wanita yang tepat untukku. Seberapa besar aku menginginkannya, aku akan selalu melawan rasa itu…
***
Aku Memarkirkan Mobilku di studio foto milikku. Kali ini Rio membawa beberapa Modelnya untuk foto disini, lebih tepatnya untuk foto yang akan di pajang di majalah dewasa. Dan tentunya aku sudah menyiapkan tempat untuk bercinta dengan salah satu modelnya nanti.
Siapa yang akan menyia-nyiakan kesempatan ini..?? Sanga model berpose dengan baju minimnya dan bergaya sesensual mungkin. Membayangkannya saja membuatku mengeras. Sial…!!!
Aku masuk kedalam studio fotoku, disana sudah ada pegawaiku, dan juga beberapa Model Rio yang menunggu di lobi. Sedangkan Rio sendiri mungkin sudah melakukan Sesi pemotretan dengan salah satu modelnya.
Aku masuk kedalam dan betapa terkejut dan marahnya diriku ketika mengetahui siapa yang sedang di potret Rio.
Shasha.. hanya mengenakan juba Mandi dia berpose dengan gaya yang sangat Sensual. Duduk diatas Ranjang putihku yang memang kugunakan sebagai properti pemotretan, Kulit putih mulus dari pahanya di pertontonkan. Dadanya sedikit menyembul keluar, Dia mengenakan Make Up Gothik khas Vampire, kulit putih wajahnya sangat kontras dengan eye shadow serta lisptik yang semuanya berwarna hitam, menampilkan efek pucat khas Vampire. dan dia memainkan rambutnya serta sedikit menggigit bibir bawahnya seperti wanita nakal pada umumnya.
Sialan…!!!! Kejantananku berdiri tegak saat melihatnya seperti itu, dan aku tau si Rio yang juga lelaki normal pasti sejak tadi dia juga sudah Mengeras. Itu membuatku marah, amat sangat marah..
“Apa-apaan ini..?” emosiku sudah memuncak, pertanyaan itu kukeluarkan dengan nada tinggi.
Rio dan Shasha menatap kedatanganku. Aku menatap Rio dengan tatapan membunuh, dan aku menatap Shasha dengan tatapan marah berapi-api.
“Ramm.. Lo sudah datang..?” Tanpa merasa bersalah si Rio menyapaku. “Kenalin, dia Nattasha Model baru Gue.”
Dan aku mendekat tepat beberapa inci di hadapan Rio. “Dia Pacar Gue.” Desisku tajam. Rio membelalakkan matanya tak percaya. “Tinggalkan kami.” Kataku lagi.
Rio tau jika aku sudah marah, tanpa banya bicara lagi dia meninggalkanku dan Shasha dalam ruangan ini. Shasha masih diam membatu, dia terlihat sedikit takut. Aku mengambil beberapa lembar tissue yang ada di sebelah Ranjang. Kudekati dirinya, kuangkat dagunya, dan kupandangi setiap inci dari wajahnya. Lalu kuhapus sedikit demi sedikit Make Upnya.
“Kenapa kamu melakukan ini..? Aku sudah bilang, aku nggak suka lihat kamu jadi model, dunia ini nggak bagus untuk kamu.” Kataku penuh dengan penekanan.
“Aku.. Aku.. hanya ingin masuk dalam dunia yang sama dengan Mas Ramma..” Katanya Polos.
“Kamu gila.”
“Aku gila karena Kamu Mas..”
Dan setelah kata-kata itu kudaratkan bibirku dengan kasar pada bibirnya. Kulumat, kuhisap kugigit, semuanya kulakukan untuk memberinya hukuman. Kudorong dia kebelakang hingga terlentang sepenuhnya diatas ranjang. Aku memposisikan tubuhku di tengah-tengah pahanya. Kupenjarakan tangannya singga dia tak bisa berbuat apapun. Aku menciuminya secara kasar penuh dengan gairah. Satu tanganku sudah mendarat sempurna di payudara dibalik juba yang ia kenakan. Kuremas dan kumainkan putingnya membuatnya menggelinjang nikmat.
Lalu entah kenaapa ada sedikit rasa untuk menghentikan semua ini.. satu sisi pikiranku berkata jika ini salah, tapi sisi lain berkata jika aku harus melakukannya supaya penderitaanku berakhir.
Kuhentikan seketika semua yang kulakukan terhadapnya. Dia menatapku degan tatapan tanda tanyanya. Akupun langsung beranjak duduk, membenarkan kembali letak jubanya yang sudah berantakan karena ulahku.
“Kenapa..?” tanyanya kemudian saat sudah duduk kembali di sebelahku.
Tanpa sadar, aku langsung memeluknya. “Ini tidak benar Sha… Aku tak bisa melakukan ini terhadapmu..” kataku kemudian.
“Tapi kenapa Mas..? Aku juga wanita dewasa, Aku sudah menjadi pacarmu, dan aku.. Aku.. sudah nggak perawan.. Apa yang kamu takutkan..?” tanyanya kemudian.
Yaaa… apa yang kutakutkan..? Apa yang kutunggu..?? Aku sendiri tak tau.. aku tak tau jawabannya kenapa aku membedakan Shasha dengan wanita lainnya. Bagiku dia lebih spesial bahkan dibandingkan Zoya.. aku tak bisa melakukannya…
“Aku tidak takut.” Jawabku sambil melepaskan pelukan dan menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Lalu kenapa Mas Ramma….”
“Aku menghormatimu Sha.. Kamu berbeda dengan wanita-wanita yang pernah tidur denganku.” Jawabku tulus.
“Aku nggak ingin berbeda, aku ingin sama.” Jawabnya polos.
Aku tersenyum dan memeluknya kembali. “Lain kali kita akan melakukannya, tapi tidak sekarang. Aku belum siap.” Jawabku kemudian.
Sejak kapan aku menjadi lelaki banci seperti ini..? Sejak kapan Seekor singan menolak saat dilempari spotong daging segar..?? Apa aku semakin parah..??? Yaa.. tentu saja.. Tujuanku memacarinya adalah supaya aku bisa menyetarakannya dengan wanita-wanita yang pernah kutiduri, tapi kenyataannya aku masih membedakan Shasha. Tempat Shahsa masih terpisah dengan tempat wanita-wanita jalang tersebut. Aku bahkan sama sekali tak berniat untuk menidurinya. Gila.. aku benar-benar Gila. Aku tak pernah memperlakukan wanita seistimewa ini.
Aku mlepaskan pelukanku, kukecup kembali bibirnya dengan singkat. “Pakai bajumu, Kita ke Apartemenku saja.” Kataku kemudian.
“Tapi setelah ini aku harus kerja.”
“Berhentilah bekerja.”
“Apa..??”
“Berhentilah bekerja, dan datanglah keApartemen Mas Ramma setiap harinya sebagai ganti pekerjaanmu, dengan begitu Renno nggak akan tau kalau kita menjalin hubungan.” Jawabku sambil membelai lembut rambutnya.dan diapun mengangguk.
***
Kami keluar dari dalam kamar pemotretan dengan tatapan aneh dari semua orang yang menunggu di luar ruangan. Rio lalu datang menghampiriku.
“Apa yang terjadi..?”
“Dia keluar, dan dia bukan Model Lo lagi.” Jawabku santai.
“Sialan..!!! tapi kenapa..?”
“Gue nggak ngijinin Lo memotret tubuh Cewek Gue.”
“Lo bener-bener pacaran sama dia..?”
“Dia Gadis yang membuat Gue Gila, yang pernah Gue ceritain Ke Elo.” Jawabku santai, dan Rio hanya melongo menanggapi pernyataanku.
Lalu Rio mendekatkan bibirnya ketelingaku. “Terus Gimana dengan Zoya..?” bisiknya kemudian.
Dan dengan santai aku menjawab. “Nggak tau.” Sambil meninggalkannya. Yaa… aku memang tak tau bagaimana kelanjutan hubungan kami nanti.
***
Setelah sampai di Apartemen, aku menggiring Shahsa masuk dan menuju kekamar kami. Kamar Kami…?? Astaga… apa yang sedag kupikirkan..??
“Mas Ramma tidur disini..?” tanyanya kemudian.
“Enggak, ini Cuma tempat santai saja.” Kataku sambil mendekatinya. Akupun memeluknya, menghirup dalam-dalam aroma rambutnya. Sialan…!!! ini benar-benar memabukkan. “Tidurlah sini… Nanti malam kuantar pulang.” Kataku kemudian.
Dia melepaskan pelukannya, dan menatapku dengan wajah berbinar. “Benarkah..? aku boleh tidur disini..?”
“Hahahah bukannya aku sudah ngasih kamu kunci Apartemen ini..?? Itu tandanya Apartemen ini juga milik kamu.” Jawabku sambil mencubit hidung mancungnya.
“Jadi… kita.. hanya tidur..?”
“Ya… Hanya tidur.” Jawabku dengan pasti.
“Mas Ramma yakin..??” tanyanya menggodaku.
Dan akupun langsung tertawa sambil memeluk pinggangnya dan menjatuhkannya di atas Ranjang. Menindihnya menggelitiknya, menggigitnya dan masih banyak lagi yang kulakukan padanya hingga dia berteriak minta ampun…
***
Aku terbangun ketika hari sudah gelap. Berapa lama aku tertidur tadi..??? dan aku baru sadar jika aku tidur dengan memeluk tubuh seorang gadis. Kami masih mengenakan pakaian lengkap. Dan tak ada Seks. Ini pertama kalinya aku tidur dengan seseorang secara intim tapi tak melakukan Seks.
Aku menatap ke langit-langit kamarku. Apa yang kulakukan ini benar…??? aku merasa bersalah dengan Zoya karena aku sudah menghianatinya. Sejauh ini rasa penasaranku terhadap Shasha bukannya hilang, tapi makin bertambah.
Apa aku memang harus melakukan itu dulu supaya rasa ini cepat-cepat hilang…???
Tidak… aku tidak boleh sampai lepas kendali, aku tak boleh meniduri Shasha. Bagaimanapun juga kami tak akan bersatu, jadi aku tak boleh tidur dengannya. Mungkin beberapa hari lagi setelah aku bersamanya, aku akan merasa bosan. Semoga saja seperti itu.
Aku marasakan dia bergerak-gerak dalaam tidurnya, dia menggeliat, dan membuatku keras seutuhnya. Sialan…!!! kenapa dia begitu menggoda untukku..?? akhirnya akupun membaangunkannya.
“Sha… bangun sayang..” aku membangunkan dia dengan menggodanya, memberikan kecupan-kecupan kecil untuknya.
“Egghhh… Geli..”
“Makanya… Ayoo cepat bangun, ini sudah malam.” Kataku kemudian.
Dan dia langsung terduduk saat mendengar kata malam. “apa..???? aku harus cepaat-cepat pulang, Mas Renn akan curiga nanti.” Katanya sambil gelagapan mengumpulkan barang-barangnya. Aku hanya tertawa saat melihatnya. Lucu.. sangat lucu…
“Hahhaah Sha… ini masih jam 7.. aku bangunin kamu karena aku ingin mengajakmu untuk Dinner.”
Dan dia menghela nafas leganya. “Astaga.. kukira..”
“Yaa… sudah.. mendingan kamu mandi dulu, Mas Ramma mandi di kamar mandi sebelah saja..” kataku kemudian, sebelum meninggalkannya lagi-lagi aku menyempatkan diri untuk mengecup keningnya. Entah kenapa aku senang sekali mengecup keningnya. Seperti ada perasaan tenang yang merayapi sekujur tubuhku.
***
Malam ini aku mengajak Shasha makan malam di Restoran prancis terkenal di kota ini. Tempatnya sangat romantis. Jujur saja, aku tak pernah memperlakukan wanita seperti ini. Zoya yang selama 4 tahun hidup denganku saja hanya sekali dua kali kuajak ketempat romantis, itupun hanya karena ajakan teman. Aku bukan pria Romantis. Aku hanya Pria yang pandai merayu hanya untuk tidur semalam dengan wanita yang kurayu.
Kami duduk di ujung ruangan. Tempatnya seperti rumahkaca. Luas dan penerangannya sangat minim, sehingga kesan romantisnya sangat kental, belum lagi musik klasik yang sedang di putar, benar-benar menambah kesan romantis dari reestoran ini.
“Mas Ramma sering kesini..?” tanyanya kemudian.
“Enggak… ngapain aku kesini..?”
“Siapa tau mengajak pacarnya kencan atau apa gitu..”
“Nggak pernah, kamu satu-satunya wanita yang peenah kuajak dinner ketempat yang membosankan seperti ini.”
“Ini tidak membosankan tau… ini romantis.”
“Yaa… baiklah.. terserah kamu saja.” Jawabku sambil tersenyum dan melihat sekitar untuk memanggil seorang pelayan. Tapi sebelum aku melihat pelayan, mataku terpaku saat meelihat seorang wanita berdiri dengan gaun warna putih Elegannya.
Dia Zoya..
Dia sedang menggandeng seorang lelaki bersamanya. Sialan..!! jadi apa yang kupikirkan tadi malam benar..??? aku berdiri menatapnya dengan tajam. Seaakan merasa di perhatikan, tanpa sengaja tatapan mata Zoya tepat kearah mataku. Zoya bahkan melihat Shasha yang masih duduk di hadapanku.
“Ada apa Mas..? tanya Shasha sambil menoleh kebelakang, melihat apa yang sedang kupandang.
“Kita pergi dari sini.” Jawabku dengan nada dingin. Lalu tanpa basa-basi lagi ku sambar tangan Shasha dan menyeretnya keluar. Melewati Zoya yang menatap kami dengan tatapan sendunya.
Ini kacau.. ini sangat kacau…. aku harus menemuinya malam ini juga.
***
Aku mengatar Shasha pulang, Tak ada makan malam Romantis diantara kami. Shasha diam hingga sampai di rumah. Akupun sama. Entah kenapa fikiranku tertuju pada Zoya. Sialan…!!!! aku harus segera menemuinya.
Aku segera masuk ketika sampai di Apartemen Zoya. Dia sudah menunguku di dalam.
“Siapa Dia.?” tanyaku dingin terhadapnya. Sungguh aku tak pernah bersikap seperti ini terhadapnya sebelumnya. Kenapa ini..? seakan-akan aku menjadi lelaki pencemburu sedunia, padahal aku tau apa yang sudah kulakukan di belakangnya.
“Bukan siapa-siapa, hanya Klien.” Jawabnya santai.
“Klien..? Kalian makan malam bersama dan itu terlihat seperti sepasang kekasih.” Aku mulai berteriak.
“Lalu apa bedanya denganmu.?? Kamu keluar dengan dia dan kalian terlihat seperti sepasang kekasih..” jawabnya, dia tak mau mengalah.
“Jangan lempar kesalahan padaku.. Aku tidak tidur dengannya. Sedangkan kamu..?”
Dia melangkah mendekatiku dan berdiri tepat di hadapanku. “Kamu tau apa yang membuatku sangat Cemburu..? Karena kamu tidak menidurinya, karena kamu membedakan tempatnya dan tempatku, karena kamu membuatnya terlihat istimewa dibandingkan aku…”
Dia tak dapat melanjutkan kalimatnya lagi ketika tubuhku meraihnya dan memeluknya erat. “Lepaskan aku.. Aku benci padamu…” katanya sambil meronta, tapi aku tak mempedulikannya, aku tetap memeluknya. “Kamu jahat.. kamu keterlalulan, Aku hanya kencan dengan lelaki biasa sedangkan kamu kencan dengan gadis istimewamu, tapi kenapa hanya aku yang salah..??” katanya masih dengan menangis dan meronta di pelukanku.
“Maafkan aku.. aku.. aku hanya terlalu cemburu..” kataku masih dengan memeluknya.
Dia masih meronta.. “Aku nggak peduli.. kamu pikir aku tak pernah cemburu saat melihatmu dengan wanita lain..??”
Dan aku baru sadar jika selama ini aku terlalu egois terhadapnya. “Aku tau.. Maafkan aku..” kataku lagi. Aku harus mengalah.
Dia terdiam, berhenti meronta. Lalu berkata dengan tajam. “Aku akan memaafkanmu, Asalkan kamu janji akan menjauhinya.”
Tubuhku menegang saat mendengar permintaannya. Menjauhi Shasha..?? tidak, itu tidak mungkin. Aku memang keterlaluan, Egois, dan aku memang Berengsek. Tapi untuk menjauh dengan seorang Shasha itu tak mungkin kulakukan saat ini.
“Maafkan aku.. aku nggak bisa.”
Dan setelah kata-kata tersebut aku Sadar. Jika ternyata Shasha memang lebih berarti untukku dibandingkan Zoya. Aku tidak bisa meninggalkannya meski itu Zoya yang menyuruhku. Kenapa ini..? Kenapa seperti ini..? kenapa dua wanita ini membuatku semakin Gila..??

 

___TBC__

 

Sampek sini dulu yaa.. authornya ngantk bgt nih,,, hehheheh met malem menjelang pagi.. 🙂

Advertisements

My Brown Eye – Prolog

Comments 10 Standard

mbeMy Brown Eye

NB; Cerita baru nih…. heheheh Prequel dari ‘Please stay With Me’ yaaa…… terjadi sebelum Revan dan Dara menikah. ok… langsung saja….

My Brown Eye….

*Prolog…

Hana keluar dari sebuah klinik dengan wajah bahagianya. Sesekali dia mengusap perut datarnya yang didalamnya kini sudah ada sang buah cintanya bersama lelaki yang amat sangat di cintainya. Mike. Dia tak sabar ingin memberitahukan Mike kabar gembira tersebut kepada Mike. Akhirnya diambilnya ponsel yang berada di dalam tasnya. Di carinya Kontak telepon yang bernama ‘My Brown Eye’. Dan ditekannya tombol panggilan.
“Halo Sayang..?” suara berat di seberang membuat jantung Hana berpacu lebih cepat lagi dari semenit yang lalu.
“Emm.. Hai..” hanya itu yang dapat di katakannya.
“Ada apa sayang..? Tumben sekali Kau menghubungiku saat jam-jam seperti ini.”
“Apa Kau sedang sibuk..?”
“Aku selalu sibuk, tapi tidak jika itu tentangmu.”
Hana tersenyum bahagia, Mike memang orang yang selalu membuatnya berbunga-bunga. “Mike, Aku ingin makan siang bersamamu.. apa Kau ada waktu..?”
“Tentu saja Sayang, di tempat biasa ya..” dan Hanapun mengiyakan permintaan Mike.
***
Hana kini sudah berada didalam sebuah Restoran Itali biasa dia makan siang dengan Mike. Astagaa… wajahnya merona-rona bahagia saat membayangkan bagaimana Ekspresi Mike saat tau jika dirinya kini sedang hamil anaknya. Bayi ini akan menyatukan mereka, Dan Mike benar-benar sangat mengharapkan Bayi ini.. pikir Hana kemudian.
Tak lama, Hana melihat Sosok tinggi tegap itu datang menghampirinya, sosok yang amat sangat tampan dengan mata Coklatnya. Tanpa sungkan Mike langsung memeluk Hana yang sudah berdiri dan tanpa malu lagi dia mendaratkan ciumannya pada Bibir Hana.
Mike lalu duduk di hadapan Hana. “Emm.. Maaf, aku yang memesankanmu makan siang.” Kata Hana kemudian ketika seorang pelayang mengantarkan pesanan Hana.
“Tidak apa sayang, Kau tau seleraku.” Jawab Mike dengan lembut. “Lalu… sekarang ada apa..? Aku tau Kau tak hanya mengajakku makan siang saja Kan..??” tanya Mike sambil menyantap pasta yang berada di hadapannya setelah pelayan tersebut pergi.
Hana menelan Ludahnya dengan susah payah. Dia sudah menunggu momen ini. Momen dimana dia memberitahukan kehamilannya dan Mike akan segera menikahinya seperti yang mereka rencanakan sebelumnya.
“Aku hamil.”
Dua kata itu mampu membekukan tubuh Mike, Mike tanpa sadar telah menjatuhkan Garpunya. Mike menatap Hana dengan tatapan tak terbacanya.
“Mike, Apa Kau mendengarku..?? Aku Hamil. Kita berhasil, Kita akan…”
Hana Menghentikan kalimatnya ketika melihat perubahan ekspresi dari wajah Mike. Ekspresinya mengeraas, tatapan matanya menajam. Ada apa ini..?? pikir Hana kemudian.
“Kenapa Mike..? Kau terlihat tak suka dengan kabar ini.” Kata Hana sedikit lirih.
Mike meminum air putih yang ada di hadapannya lalu menyeka bibirnya dengan tissue. Dan dengan arogannya dia berkata. “Maaf Hana, Sepertinya hubungan kita sampai disini saja.”
“A.. Apa maksudmu..?” Tanya Hana dengan terpatah-patah.
“Aku sudah berhasil membuatmu Hamil, dan aku tak tertarik untuk menikahimu. Kita sudahi saja hubungan ini. Aku tak pernah mencintaimu.” Kata Mike dengan dingin. Sangat berbeda dengan kelembutan yang selama ini Mike berikan.
Hana hanya diam membatu, danya buliran airmatanya saja yang menetes dengan sendirinya. Benarkah Lelaki dihadapannya ini Mike..?? Lelaki yang dicintainya dengan tulus..??
Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun Hana berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Mike yang masih duduk tenang di tempat duduknya.
‘Kenapa Reaksimu seperti itu Hana..?? Kau tidak menamparku..?? Kau tidak mengguyurku dengan air..?? Kau tidak berkata kasar padaku..?? Apa aku masih kurang untuk meyakitimu..??’ Pikir Mike dalam hati….

 

__TBC__

gimana ama Prolognya..??? jika biasanya aku bikin prolog itu kejadian sebelum Chapter 1.. maka prolog kali ini kutulis saat mereka berada dalam puncak konflik.. ok nggak banyak cerita lagi.. dibawah ini adalah Cast Hana dan Mike yaa….

Emma-Stone-Hot-HD-Wallpaper-1100x618 Rihanna Puteri (Hana).

 

Chace-Crawford-and-Leighton-Meester-Film-Gossip-Girl-4-2395x3600  Mike Handerson

Please Stay With Me – Chapter 5

Comments 6 Standard
PswmpostrPlease Stay With Me

 

Chapter 5

–Revan-
Hari ini berlangsung membosankan untukku. Rapat menjadi berantakan karena aku tak konsentrasi pada rapat tersebut. Entaah apa yang ada dalam otakku aku tak tau, yang pasti aku selalu mendengar tangisnya dalam telingaku. Ini sedikit gila, aku tak pernah mengalami hal yang seperti ini. Apa tadi pagi aku sedikit keterlaluan..???
Aku hanya tak suka dia menghindariku. Bekerja tanpa meminta izin denganku. Aku tak suka itu. Apalagi setelah tau dia bekerja hanya untuk dekat dengan lelaki itu, lelaki yang katanya adalah kekasihnya. Apa dia sudah Gila..?? Apa dia terlalu bodoh..? Dia sudah memiliki suami dan baru beberapa hari yang lalu mengucapkan kata Cinta, tapi hari ini dia berkata jika dia memiliki kekasih. Sial…!!!
Akhirnya aku mengatakan kata-kata itu. Kata-kata yang lagi-lagi membuatnya menangis. ‘Baik.. Pergilah… Berbahagialah dengan dia, dengan begitu kita bisa cepat-cepat berpisah.’ Dan aku pergi meninggalkanya begitu saja. Aku sempat mendengar tangisnya, isakannya. Dan entah kenapa sekarang itu terngiang-ngiang di telingaku.
Apa aku sedah keterlaluan..?? Apa aku harus meminta maaf..?? Ayolah… aku sudah enyakitika semenjak dua tahun terakhir. Apa hanya karena kata-kata itu aku harus meminta maaf..?? tentu saja tidak.
Aku melihat kearah Jam tangan, Waktu sudah menunjukkan pukul 3 Sore. Sedangkan aku mempunyai janji temu dengan Amanda jam 5 nanti. Manda dalah satu-satunya teman atau sahabat terdekatku. Dia sahabat dari Lita. Dia menyayangi Lita. Dan tentunya aku harus menyayanginya juga.
Aku bergegas pergi, tapi sebelumnya aku akan kemakam Lita terlebih dahulu. Aku merindukannya….
***
Banyak bercerita dengan Lita membuat hatiku semakin tenang. Apa yang kuceritakan..?? Tentu saja tentang istri bodohku itu. Dan aku baru menyadari jika selama ini Hanya Daralah topik yang kubicarakan dengan Lita. Seakan-akan Lita sebagai teman curhatku untuk menghadapi Dara.
Yaaa… kuakui, Dara memang sedikit banyak menyita pikiranku. Aku berusaha sedingin mungkin terhadapnya dan juga memberi jarak untuknya karena aku memang tak ingin terlalu dekat dengannya. Kenapa…??? Aku sendiri tak tau. Aku hanya tak ingin hatiku perpaling kepadanya karena bagaimanapun bagiku hanya Lita yang pantas memiliki hati ini.
Aku mempercepat Laju Mobilku ketika memasuki jalan tol, walau ini masih jam 4, tapi aku ingin pulang dulu sebelum menemui Manda. Tanpa kusangka tiba-tiba ada seekor hewan berlari menyebrang tepat di depan Mobilku. Entah itu Kucing, musang atau anjing Liar. Yang kuataau saat itu adalah dengan paniknya aku membanting setir kekiri. Laju Mobilku yang di atas rata-rata semakin memperburuk keadaan, belum lagi kepanikan yang melandaku, bukannya menginjak Rem aku malah menginjak Pedal Gas. Alhasil Mobilku menerobos pembatas jalan. Dan masuk kedalam jurang.
Aku terguling-guling didalam Mobilku.menggunakan sabuk pengaman sedikit mengurangi resiko parahnya keadaanku, tapi tentu saja aku tetap terluka. Aku merasakan sengatan yang amat sangat menyakitkan di lengan kananku. Dia Patah… Masih terguling-guling aku meringis kesakitan… kapan ini akan berakhir…?? Apa aku akan selamat..?? dan setelah pertanyaan itu ada sedikit kebimbangan melandaku.
Aku ingin mati… karena mati akan membawaku kepada Lita, kekasihku… Tapi tuhan… Berikan aku sedikit waktu supaya Dara bisa menemukanku. Saat itu terjadi, aku hanya ingin minta maaf kepadanya karena sudah menyakitinya selama ini… Satu orang yang ingin kutemui saat aku sekarat hanyalah Dara… aku ingin meminta maaf padanya…
Lalu tiba-tiba… ‘Buuuuummmmbbb’
Mungkin Bodi depan Mobil ini sudah menabrak Dasar jurang, aku tak tau karena setelah benturan itu tak ada lagi apapun yang dapat kuingat.. semuanya gelap.. gelap… sepi… dan aku merasa sendiri… apa Tuhan mengabulkan Do’a pertamaku untuk mati dan bertemu dengan Lita..?? Jika benar, itu tandanya Do’a keduaku tak terkabul. Aku tak akan bisa meminta maaf kembali pada Dara.. aku tak akan melihat Wajah cantiknya lagi… dan entah kenapa itu membuatku sedikit nyeri…
***
“Mas… ini hari pertama aku masuk Kantor.. Disana tidak Nyaman.. Aku membutuhkanmu Mas… Kembalikah….”
Aku mendengar suara Dara. Dia terdengar begitu tersiksa. Tapi aku tak bisa melihatnya, ada apa ini..??
“Sudah satu bulan Kau meninggalkanku, Apa memang ini keinginanmu..? Kembalilah..”
Lagi-lagi aku mendengar suaranya yang Pilu..
“Apa Kau tau jika aku yang mencukur kumismu..? menyeka seluruh tubuhmu..? dan aku sendiri pula yang menggantikan pakaian untukmu..?? Kau sudah seperti Bayi besarku Mas.. Kembalilah… Bangunlah…”
Dan selalu sepeti itu… sesekali aku dapat mendengarnya, tapi aku tak bisa melakuan apapun. Aku lemah.. sangat lemah.. tak ada semangat untuk sembuh kembali..
***
Aku berjalan dengan langkah gontai. Dimana ini..?? melihat kearah tubuhku, aku masih utuh. Tanganku yang patah bahkan seperti tak terluka sedikitpun, Kecelakaan tadi bagaikan mimpi sedangkan disini bagaikan kenyataan.Saat ini aku mengenaakan kemeja putih dan celana putih. Kemeja ini terlihat sedikit kebesaran, tak seperti kemejaku pada umumnya yang selalu terlihat pas Bodi dan modis. Sedangkan celana putih inipun sedikit aneh. Aku tak pernah memiliki celana putih sebelumnya. Aku juga bertelanjang kaki, tak ada sepatu yang mengiasi kakiku seperti biasanya.
Aku menginjak rumput hijau nan indah. Hawanya terasa sangat sejuk,banyaknya kabut memperindah suasana dan membuatnya terasa semakin sejuk. Aku melihat seorang gadis datang menghampiriku, gadis yang selama ini kurindukan. Kekasihku, Lita…
Dia terlihat begitu nyata, tak samar seperti pada mimpi-mimpiku sebelumnya.
“Bagaimana kabarmu Kak..?” Tanyanya Lembut.
“Aku baik… bahkan lebih baik dari sebelum-ebelumnya.” Jawabu sedikit semangat.
“Mau ikut denganku..?” tanyanya sambil mengulurkan tangan, Aku menatapnya dengan tatapan tanda tanya. “Kita jalan-jalan sebentar disini.” Jawabnya lagi.
Dan akupun mengangguk. Kuterima uluran tangannya dan aku benar-benar terkjut dibuatnya. Jika selama ini dalam mimpiku aku sama sekali tak bisa menyentuh dan merasakannya, maka kali ini dia benar-benar begitu nyata untukku. Tangannya nyata… bahkan akupun merasakan kelembutannya.
“Kak Revan kenapa bisa sampai disini..?” tanyanya masih dengan mengajakku berkeliling.
“Aku juga tak tau.”
“Apa Kak Revan melihat dia..?” tanyanya yang kali ini sudah menunjuk kepada seorang anak perempuan kecil yang sedang naik ayunan.
“Dia siapa..?”
“Dia anak kita Kak.. kami sangat bahagia disini.” Katanya sambil menatapku sungguh-sungguh.
Akupun kembali menatapnya, benarka ini nyata..?? Ya tuhan.. aku bahkan merasakan kebahagiaan yang sangat mendalam saat mengetahui ini nyata. Kupeluk erat-erat tubuhnya sesekali mencium ubun-ubunnya. Astaga.. ssungguh.. aku sangat bahagia dengan semua ini.
“Apa Kak Revan tak menyesal berasa disini..?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja tidak, Aku sangat bahagia..”
“Tapi sepertinya ada yang mengganjal fikiranmu Kak..”
“Aku… Aku… sepertinya harus menemui Dara..” dan entah kenapa aku bisa mengucapkan kalimat tersebut. “Emm.. maksudku, aku harus meminta maaf padanya dulu sebelum aku pergi.” kataku lagi.
“Ohh.. Dara.. Gadis yang selalu Kau ceritakan padaku, sepertinya dia gadis baik.” Katanya kemudian sambil tersenyum.
Dan entah kenapa bayangan Dara seketika muncul dalam benakku. “Yaa… dia gadis baik tapi bodoh. Dia mengabdi padaku layaknya seorang pelayan pribadi, padahal aku selalu mengacuhkannya.” Kataku mulai bercerita. Dan cerita-cerita tentang Dara langsung meluncur begitu saja dari bibirku.
“Kau merindukannya Kak..?” Tanya Lita lembut.
“Tidak… hanya saja, aku belum sempat meminta maaf dengannya.” Jawabku dengan nada lemah.
“Kembalilah Kak…” Katanya kemudian yang sontak membuatku terkejut.
“Apa yang Kau katakan..?? Tidak.. aku tak ingin kembali.” Jawabku dengan sedikit merajuk.
Lita menatapku dengan tersenyum, dia menangkup kedua pipiku.dan mulai berbicara.
“Lihatlah dirimu Kak… Kau terlihat kesakitan..” katanya kemudian.
“Aku kesakitan karenamu..” jawabku cepat.
“Tidak, dengarkan aku dulu.” Katanya kini sambil menutup mulutku dengan jari telunjuknya. “Kau terlihat Kasakitan karena menahan perasaanmu sendiri Kak.. Kau menyukainya, menginginkannya tapi Kau masih merasa bersalah padaku. Kau menyakitinya supaya dia menjauh darimu tapi Kau tak sadar jika saat kau Menyakitinya secara tak langsung Kau juga merasa tersakiti.”
“Tidak.. itu tidak seperti itu Lita..”
“Kak… lihatlah jauh kedalam dirimu.. Kau selalu membicarakannya saat mengunjungiku… kau Selalu bercerita tentangnya.. Kau bahkan tak sadar jika sedikit demi sedikit dia sudah merebut perhatianmu,. Kau tak sadar jika secara tak sengaja dia masuk kedalam hatimu. Itu sebabnya kenapa wajahku selalu terlihat samar saat berada dalam mimpimu, karena dengan tak sengaja Kau menggantikan Posisiku dengan dirinya.”
“Tidak.. bukan itu yang terjadi..”
“Kembalilah Kak… berbahagialah… Aku masih akan tetap menunggumu disini dengan anak kita, tapi waktumu bukan sekarang… dia lebih membutuhkanmu…”
“Tapi Aku membutuhkanmu..”
“Tidak… yang kau butuhkan adalah dia… bukan aku… dia yang selalu merawatmu selama ini… Kembalilah…..”
Bayangan diri lita menghilang sedikit demi sedikit.. taman yang kuinjakpun sekarang juga menghilang sedikit demi sedikit. Aku seperti berdiri di ruang Hampa, Hitam, Gelap, Pekat, dan aku hanya seorang diri. Tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi… Suara Dara…

“Kumismu sudah tumbuh lagi Mas..”
“Apa Kau tau kalau hari ini ada seorang Klien yang sangat menjengkelkan..?? Dia Gila, Dia bahkan berani memegang Bokongku. Astaga… Dan aku langsung menginjak kakinya keras-keras dengan Heels ku.”
“Mas.. Apa Kau tak Lelah menutup mata..?? Bangunlah Mas.. Aku masih disini menuggumu.”
“Apa disana sangat indah..?? jika iya kenapa Kau tak mengajakku..? Aku lelah disini sendiri tanpamu.. Bangunlah…”
“Apa Kau ingin menjauh dariku..?? Jika Iya maka bangunlah… Aku berjanji akan menyerah dan meninggalkanmu jika Kau Bangun Mas… Bangunlah….”
Dia menangis lagi… menangis tersedu-sedu, terisak-isak… Tuhan… jika memang belum saatnya aku menghadapmu, Kembalikan aku padanya… beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya… jika memang apa yang dikatakan Lita itu benar, maka aku akan memulai semuanya dari awal kembali… setidaknya aku akan memperlakukannya dengan baik…. dan mungkin aku akan belajar untuk menerimanya… Bantu aku tuhan… bantu aku… Aku ingin hidup kembali bersamanya….
Dan tiba-tiba saja ada setitik cahaya putih dihadapanku. Ruangan yang semualanya gelap gulita seperti ruang hampa yang menyesakkan akhirnya sedikit diterangi oleh cahaya tersebut. Cahaya itu semakin lama semakin membesar.. semakin membesar hingga silau dan membuatku mengedipkan mata berkali-kali… mengedipkan mata…??? Tunggu… berarti aku sudah….
Dan aku tak dapat berkata-kata lagi ketika Rasa nyeri menghantam kepala dan tangan kananku. Rasa yang sepertinya sudah sangat lama tak kurasakan. Aku mengernyit, tak tahan dengan Rasa ini. Sedikit demi sedikit akhirnya mataku terbuka.. lampu terang rumah sakit, bau obat-obatan, cat ruangan yang warnanya putih, selimut dan gorden biru.. serta bunyi monitor di sebelahku menyambut kesadaranku. Kulihat tangan kananku yang masih di perban, tangan kiriku yang ber infus, serta tubuh dan wajahku yang penuh dengan kabel-kabel dan selang-selang Aneh.. Astaga… aku benar-benar mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang sangat parah.
Aku menoleh kekiri dan mendapati dia sudah tertidur dengan pulasnya. Air matanya bahkan mengering di pipinya.
Cantik… sangat cantik…. kadang aku berfikir, bagaimana mungki Gadis secantik dia tak pernah memiliki kekasih sekalipun dalam hidupnya…??
Aku ingin bicara, tapi tak bisa. Suaraku tertahan. Akhirnya aku hanya memencet tombol darurat untuk memanggil suster keruanganku.
Suster tersebut datang, dan dia benar-benar sangat terkejut saat melihatku. Dia ingin membangunkan Dara, tapi aku menggelengkan kepalaku untuk melarangnya. Biarlah ini menjadi kejutan kecil untuknya besok pagi. Suster tersebut memanggil seorang dokter jaga untukku. Dokter tersebut sama terkejutnya.
“Pak Revan.. Sungguh, saya benar-benar tak percaya jika anda bisa melewati semua ini.” Katanya sedikit memujiku sambil melepaskan beberapa peralatan yang sudah tak digunakan di tubuhku. “Ini juga berkat istri anda yang setia menemani anda selama ini. Anda beruntung memilikinya.” Katanya lagi sambil melirik kearah Dara yang masih tertidur pulas.
“Apa.. Ada.. yang.. salahh.. saya.. susah.. bicara..” kataku terpatah-patah, dan itu benra-benar sangat sulit di ucapkan.
“Tidak Pak… Kami sudah melakukan banyak pemeriksaan. Organ-organ anda semuanya masih berfungsi dengan normal. Hanya tangan kanan anda saja yang patah, dan benturan keras di kepala Bapak menyebabkan bapak tak sadarkan diri selama hampir setahun lamanya. Kami fikir memang bapaklah yang tak memiliki semangat hidup hingga Pak Revan sendirilah yang menolak untuk sadar.”
Perkataan Dokter memang benar, aku memang menolak hidup karena aku ingin bersama dengan Lita. Tapi ketika mengingat Dara, semangat untuk hidup itu muncul kembali. Dan nyatanya aku bisa sadar lagi setelah mengingat semua tentang Dara…
“Pak revan akan susah berbicara itu wajar, mungkin nanti atau Besok Pak Revan akan lebih baik lagi.” Tambahnya lagi. Dan akupun hanya mengangguk. Setelah itu Dokter dan suster tersebutpun pergi meninggalkanku sendiri, hanya berdua dengan Dara dalam ruangan ini.
Aku memposisikan tubuhku agar miring kekiri, kearahnya… melihatnya tidur begitu damai membuat jantungku berpacu lebih cepat. Apa ini..?? akupun memposisikan tangan kananku yang masih di perban untuk melingkari pinggangnya, memeluknya. Bertahun-tahun lamanya baru kini aku memeluknya… merasakan rasa yang sangat dekat dan nyaman… kenapa seperti ini..???
***
Aku membuka mataku kembali ketika merasakan dia bergerak-gerak gelisah dalam pelukanku, dia akan bangun. Aku penasaran dengan reaksinya saat melihatku nanti. Dan tentu saja.. saat aku bersuara.. kulihat dia menatapku dengan tatapan anehnya.. ekspresinya sangat aneh, membuatku menahan tawa.
“Apa yang Kau lakukan..?” Tanyaku mengagetkannya. Matanya membulat saat pertama kali melihatku, bibirnya terbuka, ternganga seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Kau cantik, walau baru bangun tidur.” Tanpa sengaja kata-kata itu meluncur begitu saja, yaa… dia memang cantik saat bangun tidur. Ini pertama kalinya aku melihatnya bangun tidur karena biasanya dia dululah yang bangun.
“Terimakasih sudah menungguku.” Kataku dengan tulus.. ya… aku benar-benar tulus berterimakasih terhadapnya.
Tapi tanpa Kusangka dia langsung melompat berdiri dari Ranjang, menatapku masih dengan tatapan anehnya. Lalu berlari keluar begitu saja. Apa yang terjadi..?? apa ada yang salah dengan wajahku…???
Tak berapa lama dia kembali dengan waja paniknya dan juga membawa seorang dokter dan seorang Suster.
“Kau sedang apa..?” tanyaku lagi dan dia masih tak menjawab pertanyaanku, sepertinya dia masih syokh atau tak percaya dengan sadanya aku.
“Bu.. Pak revan memang sudah sadar sejak tadi malam, hanya saja Pak Revan tak ingin membangunkan Bu Dara.” Kata dokter tersebut menjelaskan.
“Jadi… jadi…” hanya itu yang bisa di suarakannya… dia menangis lagi. Dan tiba-tiba memelukku erat-erat…
‘deg.. deg.. deg..’ lagi-lagi perasaan aneh ini muncul kembali.. Adaa apa denganku..?? apa ini efek dari kecelakaan..??
***
Seminggu setelah sadarnya aku semua terasa membosankan. Dara sangat jarang kesini, menemuiku. Dia seperti sedang menghindariku. Suster bahakan pernah berkata, ketika aku masih koma, setiap saat Dara bersamaku, dia hanya pulang ketika kekantor menggantikan posisiku, setelah itu dia kembali lagi bahkan tidur di sebelahku. Tapi setelah aku sadar, Dia menjadi satu-satunya orang yang sangat sulit di temui. Tak pernah lagi tidur di rumah sakit. Ada apa dengannya..??
Pada akhirnya aku bersikeras untuk pulang. Padahal tanganku belum sembuh, tubuhkupun masih lemah. Tapi aku sungguh sudah sangat bosan berada disini.
Sore ini, akupun pulang. Dara tak menjemputku. Hanya ibu dan Ayah. Hana sedang sakit karena hamil anak keduanya. Dia tak bisa ikut menjemputku. Sedangkan Dara.. Kata Ibu Dara sedang sibuk membereskan kamar untuk kutempati nanti.
Sampai dirumah, dia menyambutku. Wajahnya terlihat lelah. Dan aku baru sadar jika dia benar-benar cantik. Kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari keberadaannya..???
Dia memapahku berjalan melewati tangga demi tangga menuju kekamar kami. Seteelah sampai di kamar, ibu meninggalkan kami berdua. Dia membaringkanku di ranjang. Lalu membuka satu persatu kancing kemejaku. Akupun menggenggam tangannya.
“Kau mau apa..??” Suaraku masih terdengar dingin seperti biasanya.
“Kau harus ganti baju Mas, aku akan membantumu.” Katanya kemudian lalu melanjutkan membuka bajuku kembali.
“Aku ingin mandi.. tubuhku lengket..”
“Tapi Kau belum bisa mandi seendiri Mas..”
“Kau bisa memandikanku.” Jawabku cepat. Dan dia memalingkan wajahnya. Malu..?? astaga.. tentu saja.. apa yang sudah kubicarakan tadi…?
Dan akhirnya disinilah kami, di dalam Kamar mandi aku sudah masuk kedalam Bathup dengan hanay mengenakan celana Boxer saja. Sedangkan dia masih mengenakan pakaian lengkapnya yang hampir basah kuyup karena terkena cipratan-cipratan Air.
Aku menegang saat melihat lekuk tubuhnya yang terlihat jelas bagaikan Selulit Erotis. Pakaiannya menempel seutuhnya pada tubuhnya karena basah. Wajah seriusnya saat membersihkanku.. tangan kecil dan halusnya saat dengan lembut mengusapkan sabun ketubuhku.. semuanya membuatku menggila.
Saat dia terduduk dihadapanku dan membersihkan bagian depat tubuhku, aku tak dapat menahannya lagi. Kugenggam telapak tangannya. Dan dia menatapku dengan tatapan tanda tanyanya. Melihatnya basah dan ternganga membuatku tak bisa menahan diri lagi. Kudekatkan tubuhku hingga semakin dekat dengannya dan… ciuman pertama kamipun tak terelakkan lagi.
Bibirnya terasa dingin dan lembut, sesekali aku menggigitnya dan melumatnya. Ya tuhan… apa yang sedang kulakukan..?? aku menginginkannya sangat menginginkannya… apa aku sudah gila..??? Apa kesadaranku sedikit tertinggal saat aku masih Koma…??
Kulepaskan tangannya dan mulai menekan tengkuknya, aku tak ingin kenikmatan ini berakhir begitu saja. Diapun menikmatinya, tangannya sudah meraba dadaku membuatku menginginkan lebih… Astaga… apa yang akan terjadi nanti..???

 

_TBC_

Heii… ternyata aku balik lebih cepat yaa… hehhehehehe gbagai mana chapter ini…??? tinggalkan komentarmu yaa… semoga besok mas Ramma sudah bisa di update kelanjutannya.. hehhehehe ooo iyaa dan ada yang mau baca nggak nii kisah cinta Hana Dan Mike…??? niii aku kasih posternya… kalo ada secepatnya prolog akan diluncurkan kalo enggak yaa nggak papa.


mbe    Ini untuk poster My Brown eye.. kisah cinta Hana (Adik Revan) dengan Mike (Kakak Lita mantan kekasih Revan yang sudah meninggal). kisahnya terjadi sebelum Dara dan Revan Menikah yaa,,, 🙂 😉

Please Stay With Me – Chapter 4

Comments 4 Standard
PswmpostrPlease Stay With Me

 

NB : ini special untuk yang sedang mantengin akunku saat ini hhahahaha… okk happy Reading.. makin kesini akan semakin seru.. jadi silahkan di baca… klo bisa kasih komen yaaa.. hhahahah

 

Chapter 4

 
Tadi malam aku tidur Sendiri. Tak tau kenapa Mas Revan tak kembali kekamar, mungkin kini dia sudah mulai jengah denganku, dengan keberadaanku. Dan sepertinya aku memang harus lebih menghindarinya.
Kulangkahkan kakiku menuju kedapur, membantu para pelayan menyiapkan sarapan. Mereka baik terhadapku, jadi tentu saja aku harus baik terhadap mereka. Tiba-tiba ibu menepuk pundakku dari belakang, membuatku sedikit terkejut.
“Revan ada di ruang kerjanya, Kau tak membuatkan Kopi untuknya..?”
“Emm.. aku akan membuatkan Bu.. tapi tolong Ibu yang mengantarkan saja yaa..”
“Kenapa seperti itu..?”
“Kumohon Bu.. Aku.. Aku hanya..”
“Hanya Apa..?” Suara dingin itu mengagetkanku. Dan aku melihatnya sedang berdiri tegap dengan tangan di lipat didada. Tatapannya tajam seakan-akan bisa menggoresku.
Aku menelan ludah dengan susah payah, tenggorokanku tercekat, sakit.. sakit karena perlakuan dinginnya. Sakit dengan keadaan ini. “Bu.. Sepertinya aku harus bersiap-siap berangkat kerja.” Pungkasku kemudian tanpa mengindahkan pertanyaannya tadi.
“Ini kan baru jam tujuh Dara, lagi pula bukannya kamu Sift malam hari ini..?” Aku hanya tersenyum manis terhadap Ibu lalu bergegas pergi melewatinya.
“Jangan pergi.” Katanya dingin. Aku menghentikan langkahku tak menyangka jika tiba-tiba dia mengatakan itu terhadapku. Tiba-tiba aku merasakan tangan besarnya menyambar tanganku dan menyeretku kelantai dua, kekamar kami.
“Apa yang Kau inginkan..? Kenapa tiba-tiba Kau kerja tanpa meminta izin padaaku.?”
“Aku butuh pekerjaan.”
“Aku bisa memberimu uang. Berapa yang Kau inginkan..?”
Aku menatapnya dengan tatapan sendu. Tidak.. aku tak menginginkan uangmu. Aku hanya tak suka jika aku berstatus sebagai istrimu namun sebenarnya aku hanya boneka pajangan untukmu.
“Katakan berapa yang Kau inginkan..?” tanyanya lagi.
“Aku tak ingin Uang.”
“Lalu apa yang Kau cari dengan pekerjaan seperti itu..? Apa Lelaki yang mengantarmu tadi malam..? Apa dia kekasihmu..?” tanyanya lagi.
Kekasih..?? Astaga… bahkan sampai saat inipun aku tak pernah mempunyai kekasih Mas. Aku selalu mencintaimu. Dari dulu hingga sekarang, dan mungkin akan selalu mencintaimu hingga aku mati.
“Iyaa..” Tak tau apa yang terjadi padaku hingga aku mengucapkan kata ‘Iya’ padanya. Aku hanya terlalu sakit, terlalu sakit dengan perasaan ini.
Aku melihatnya diam, Diam ternganga karena jawabanku.
“Baik.. Pergilah…” Kataya kemudian sambil menjauhiku. “Berbahagialah dengan dia, dengan begitu kita bisa cepat-cepat berpisah.”katanya sambil pegi meninggalkanku.
Aku terduduk lemas karena perkataannya. Dan sekali lagi aku menangis untuknya. Ya tuhan… kenapa selalu seperti ini..??? kenapa orang yang mencitai yang akan selalu kalah..? kenapa Kau buat aku mencintainya begitu dalam..?
***
Aku berjalan tergesa-gesa diatas trotoar jalan, takut jika terlambat masuk kerja. Tadi pagi waktu kuhabiskan hanya untuk menangis hingga aku ketiduran, dan ibu baru membangunkanku tadi satu jam sebelum jadwalku berangkat kerja.
Mas Revan sudah tak ada di rumah. Memang selalu seperti itu. Pergi kerja tanpa pamit denganku. Sekalipun aku tak pernah memasangkan dasi untuknya layaknya seorang istri pada suami-suami pada umumnya, dia juga tak pernah mencium keningku apalagi memberiku Morning Kiss. Astaga…. aku bahkan tak pernah memikirkannya. Tapi aku selalu membukakan sepatunya saat dia pulang, menyiapkan airhangat untuknya. Membuatkannya bekal setiap pagi walau aku tak tau apa dia memakannya atau tidak. Dan beberapa hari ini aku meninggalkan semua kebiasaanku selama dua tahun tersebut.
Apa dia merasa kehilangan…???
Astaga.. apa yang kufikirkan… tentu saja tidak. Bahkan tadi pagi perkataannya masih terngiang ditelingaku. ‘Baik.. pergilah… Berbahagialah dengan dia, dengan begitu kita bisa cepat-cepat berpisah.’ Dia benar-benar ingin secepatnya berpisah denganku.
Tak terasa aku sudah sampai di tempat kerja. Mengganti pakaian dengan seragam kerja dan mulai bekerja. Membersihkan sisa-sisa makanan dari para pelanggan adalah pekerjaanku. Jika ibuku tau mungkin dia akan melarangku bekerja di tempat seperti ini.
Aku memang tak sekaya Mas Revan, Namun kehidupanku tercukupi. Aku juga bukan wanita biasa sederhana seperti dalam sebuah novel-novel klasik. Aku juga mengetahui Mode, banyak yang berkata jika aku cantik, tapi tetap saja, secantik apapun jika tak bisa menaklukkan hati orang yang dicintainya semua itu akan terasa hambar.
Aku hambar karena Rasaku sudah terbawa dengan dinginnya sikap Mas Revan.
Aku membersihkan sebuah Meja dengan sedikit kikuk ketika sebuah suara yang terdengar familiar di belakangku. Mencoba untuk melihat siapa si pemilik suara tersebut, dan ternyata itu adalah Wanita beberapa hari yang lalu yang tak sengaja kutemui di rumah, dia teman Mas Revan. Bersama teman-teman wanitanya sedang memakan makan siang di restoran kami.
Sebenarnya aku tak tertarik dengan percakapan mereka, Namun tiba-tiba si wanita tersebut menyebut nama suamiku.
“Astaga… Apa kalian tak percaya..? Revan sudah berada dalam genggamanku sekarang.”
“Tapi Manda, aku pernah mendengar dia sudah menikah.”
“Menikah..?? Kau percaya dengan kabar itu..?? Nyatanya Revan masih sering menginap dalam Apartemenku. Lalu dimana istrinya..?? Apa kalian pernah melihatnya kepesta dengan wanita lain selain aku..??” Kata Wanita yang bernama Manda itu dengan Congkaknya.
Dan itu mampu merobek-robek Hatiku. Selama ini aku berdiri di tempat yang sama untuk menunggunya, kukira setelah dia melupakan kekasihnya yang telah meninggal dia akan berpaling denganku. Tapi kenyataannya sangat pahit. Dia bahkan sudah memiliki kekasih lain. Lalu apa gunanya aku selama ini mengabdi untuknya…???
Mataku berkaca-kaca. Tidak… Aku tak boleh menangis sekarang.. tapi tubuhku menghianatiku. Tanpa mempedulikan sekitarku, aku berlari menuju kamar Kecil dan menangis sepuas-puasnya disana. Ya tuhann…. kenapa seperti ini…???
Tak lama pintu kamar kecil ini di ketuk, semakin lama semakin keras. Diiringi dengan panggilan namaku.
“Dara.. Dara… Kau kah disana..?? Buka pintunya Dara.” Itu suara Andre.
“Iyaa aku akan segera keluar.” Kataku kemudian smbil membenarkan penampilanku dan bersiap-siap keluar. Dia luar aku sudah melihat Andre engan wajah paniknya.
“Ada apa..?” Tanyau kemudian.
“Ada telepon untukmu. Katanya.. katanya…” dia terlihat ragu untuk mengatakannya.
“Ada apa Andre..??”
“Lebih baik Kau sendiri saja yang mengangkatnya.” Kata Andre sambil menarikku ketempat Telepon tersbut.
“Halo..” Aku mulai mengangkat telepon tersebut dengan takut-takut. Perasaanku tak enak, menerka-nerka apa yang terjadi. Dan setelah aku mendengar suara tersebut, tubuhku sontak jatuh tersungkur, dan aku tak ingat apa-apa lagi.

 
***

 
Masih dengan menangis, aku berlari di sepanjang koridor rumah sakit dengan Andre di sebelahku. Tubuhku masih sedikit lemas karena sempat pingsan tadi saat mendengar kabar tersebut.
Mas Revan kecelakaan, keadaannya Parah dan diaa Kritis. Kondisinya semakin menurun, dan aku tak mendengar apapun lagi yang dikatakan Hana pada saat itu, sesekali aku hanya mendengar tangisan histeris dari Ibu di belakang Hana.
Setelah berlari cukup lama, akhirnya sampailah aku di ujung lorong tersebut. Semua keluarga ada di luar ruangan, aku tak melihat Ibu, mungkin dia ada di dalam. Hana berlari kearahku dan memelukku masih dengan menangis.
“Tunggu… jangan menangis Hana.. Kau tak boleh menangis..” kataku kemudian.
“Mas Revan parah.. hanya kecil kemungkinannya untuk dia..”
“Tidak… Dia tak akan meninggalkanku sendiri.” Kataku kemudian. Tuhan… kenapa kau siksa aku seperti ini. Belum sekalipun aku melihat senyumannya lagi tapi kenapa Kau ingin ambil dia dariku…??? Apa kau ingin menyatukannya dengan kekasihnya disana..?? lalu bagaimana denganku…??
Aku masuk kedalam ruangan tersebut. Dan disana sudah ada Ibu yang masih menangis menjadi-jadi. Semua terasa kosong untukku. Aku bahkan tak mendengar dan merasakan ibu yang menangis sambil memelukku. Yang ada di dalam pandanganku saat ini hanya dia… lelaki yang terbujur lemah dengan banyak perban dan peralatan di tubuhnya.
“Kata polisi dia berniat bunuh diri Dara… Dia menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan hingga masuk kedalam jurang… dia ingin bunuh diri Dara…”
Airmataku jatuh dengan sendirinya, aku menagis tanpa mengeluaran suara, aku terpukul.. Mas… kenapa Kau tega melakukan ini terhadapku..?? Kenapa Kau ingin meninggalkanku dalam keadaan seperti ini..?? Jika Kau mati, apa Kau pikir aku bisa hidup tanpamu…?? Aku juga akan Mati Mas… Kau jahat… Kau sangat jahat… Kenapa memilih jalan ini untukmu sendiri..?? setelaah itu, aku tak ingat apa-apa lagi. Mungkin aku sudah pingsan untuk kedua kalinya.
***
Satu hari..

 
Satu Minggu…

 
Satu bulan…

 
Dua bulan….

 
Dan entah sudah berapa bulan aku tak menghitungnya lagi. Yang aku tau saat ini hanyalah memandikannya, membacakan cerita untuknya, mengajaknya berbicara. Bernyanyi untuknya… tanpa tau sampai kapan aku harus melakukan itu…
“Kumismu sudah tumbuh lagi Mas..” Kataku sambil tersenyum dan meraba kumis tipisnya.
“Apa Kau tau kalau hari ini ada seorang Klien yang sangat menjengkelkan..?? Dia Gila, Dia bahkan berani memegang Bokongku. Astaga… Dan aku langsung menginjak kakinya keras-keras dengan Heels ku.” Kataku mulai bercerita.
Setelah Mas Revan kecelakaan dan Koma hampir setahun yang lalu, Akulah yang memegang kendali Posisi Mas Revan dengan bantuan Ayah mertuaku dan Mike suami Hana tentunya. Semuanya berjalan dengan baik, dan teratur. Aku menjadi wanita yang berbeda. Jika dua tahun yang lalu aku jadi gadis yang cengeng, maka satu tahun terakhir dengan kecelakaannya Mas Revan aku berubah menjadi wanita yang kuat dan tegar.
Ibu dan Hana sempat khawatir karena tak pernah melihatku menangis lagi. Mereka hanya tak tau jika aku hanya akan menangis di hadapan Mas Revan. Aku tidur disini, setiap hari. Atas permintaanku, rumah sakit Menyediakan Ranjang yang lebih besar lagi untuk Mas Revan, jadi aku bisa tidur disebelahnya. Tentu saja itu dengan persetujuan Mike, Suami Hana sekaligus pemilik dari rumahsakit ini.. Aku bahkan sudah mengenal seluruh pegawai rumah sakit disini.
“Mas.. Apa kamu tak Lelah menutup mata..?? Bangunlah Mas.. Aku masih disini menuggumu.” Kataku lagi yang kini sudah disertai dengan tetesan air mata.
“Apa disana sangat indah..?? jika iya kenapa Kau tak mengajakku..? Aku lelah disini sendiri tanpamu.. Bangunlah…” kataku lagi sambil sesenggukan.
“Apa Kau ingin menjauh dariku..?? Jika Iya maka bangunlah… Aku berjanji akan menyerah dan meninggalkanmu jika Kau Bangun Mas… Bangunlah….” kataku lagi sambil menangis tersedu-sedu. Aku sudah tak tahan lagi jika seperti ini. Aku sudah lelah.. aku sudah tak memiliki kekuatan untuk bertahan.. tidak… aku tak ingin meninggalkannya, tapi aku ingin menyusulnya…
***
Entah berapa lama tadi malam aku menagis hingga aku tak sadar jika sudah tertidur pulas di sebelah Mas Revan. Aku membuka mataku ketika sinar matahari mulai menembus kaca ruangan ini. Ternyata tadi malam aku benar-benar ketiduran hingga lupa belum membenarkan letak Gorden di jndela ruangan ini..
Ketika aku akan bangun. Betapa terkejutnya aku mendapati suatu keanehan yang ada di sekitarku. Posisiku yang tadi menghadap jendela membelakangi Mas Revan benar-benar tak menyadarkanku jika ada Lengan kekar yang sudah melingkari pinggangku.
Jantungku berdegup kencang. Ya tuhan… apa ini Lengan Mas Revan…?? Aku menoleh kebelakang dan benar saja, aku sudah mendapati wajahnya miring kearahku, bukan menghadap keatas seperti biasanya. Dan aku memukuli kepalaku sendiri. Astaga… apa yang sedang kulakukan..??? tadi malam mungkin saking aku merindukannya aku membawa tangannya hingga memelukku.
Gila… aku benar-benar sudah gila.
Akhirnya aku sedikit bangun dan membenarkan letak tangannya kembali, padahal itu adalah tangan kananya yang patah.
“Apa yang Kau lakukan..?”
Dan suara serak tersebut menghentikan semua gerakanku. Tunggu dulu. Apa itu suaranya..??? Aku benar-benar mendengar suaranya, suara yang sudah sangat lama sekali tak terdengar di telingaku. Ya tuhann… apa aku memang sudah mulai gila…???
Aku sedikit melirik kearah Mas Revan. Dan benar saja. Dia menatapku dengan tatapan Anehnya. Dia bangun… Astaga… Apa ini nyata…??? Apa dia benar-benar bangun…??
“Kau cantik, walau baru bangun tidur.” Katanya kemudian, dan aku mesih belum bisa bereaksi. Tuhan… apa ini nyata..?? sepertinya tidak. Mas Revan tak akan berbicara seperti itu jika melihatku.
“Terimakasih sudah menungguku.” Katanya lagi sambil tersenyum. ini kali pertama dia tersenyum padaku setelah hampir tiga tahun kami menikah. Tapi aku masih tak bereaksi. Sepertinya aku memang sudah Gila. Aku bahkan membayangkan hal-hal yang tak mungkin terjadi.

 

__TBC__

 

Hayoo.. hayooo apa yang terjadi yaa… emmm ada yang enasaran nggak sihh,,,???? Chapter selanjutnya adalah POV Revan, dan akan selalu di gilir seperti itu yaaa… hohohohoho

My Everything (Novel Online) – Chapter 5

Comments 11 Standard

Me New..My Everything

NB : Hoammzzz… malam2 gini kubela2in Post yaa…. padahal aku baru tutup jualan dan belum bersih2 ataupun cuci piring.. hehhehe untung aja mas Suami pengertian.. heheh.. -lah kok malah Curhat-.. ok.. untuk Chapter 5 akan kukasih Special POV Shasha yaa… Happy reading… 🙂

 

Chapter 5
-Shasha POV-

 

 

“Aku sudah Nggak Perawan.”
Ya Tuhan…. Apa yang sedang kukatakan..? Bisa-bisanya aku mengatakan kata-kata tersebut seakan-akan aku ini wanita Murahan yang dengan gampangnya tidur dengan semua lelaki yang ada didekatku. Aku Masih Polos.. Amat sangat Polos. Teman-temanku sering menjulukiku sebagai Wanita Abad pertengahan. Aku tak pernah pacaran, Ciuman apalagi sampai bercinta. Itu tak Mungkin. Jika aku melakukan hal itu, Mas Renn bisa membunuh Lelaki yang mencumbuku tersebut.
Tapi entah kenapa di depan Lelaki Ini aku ingin terlihat Liar, Jalang dan nakal. Aku ingin dia memandangku sebagai seorang wanita, bukan seorang Perawan kecil seperti yang dikatakanya tadi.
Satu-satunya orang yang pernah menciumku adalah Dia. satu-satunya orang yang pernah Mencumbuku adalah Dia. dan satu-satunya orang yang ada di hatiku Adalah Dia.. Dari dulu hingga kini Adalah Dia, Mas Ramma.
Lelaki yang amat sangat tampan dan juga sangat Pandai.. tak heran, walau dia dua tahun lebih muda dari pada Mas Renn, tapi dia bisa seangkatan dengan Mas Renn karena dia pernah lompat kelas. Awalnya aku hanya kagum, Mas Ramma dengan ketampanan dan kepandaiannya tak menjadikannya sosok yang sombong. Dia baik. Amat sangat baik. Dia selalu melindungiku seperti Mas Renn. Dia seperti kakak Untukku. Tentunya itu juga berlaku dengan Mas Dhanni. Mereka bertiga memang menyayangiku seperti adiknya sendiri.
Tapi aku tak tau sejak kapan peasaan ini berubah. Kami saat itu sering main bersama ke taman hiburan. Mas Renn dengan pacarnya, Mas Dhanni juga dengan pacarnya. Sedangkan Mas Ramma yang terkenal memiliki pacar paling banyak malah mengajakku. Katanya sangat membosankan jika selalu mengajak pacar, itu membuatnya tak bebas. Akhirnya diapun mengajakku.
Sedikit demi sedikit semuanya terasa berbeda. Tiap malam minggu mas Ramma mengajakku ketaman Hiburan. Hanya berdua, Tanpa Mas Renn ataupun Mas Dhanni. Dia juga dengan suka rela mengantar jemputku sekolah. Kami dekat, dan semakin dekat. Hingga saat ulang tahunku menjadi puncaknya.
Dia menciumku….
Tubuhku gemetar, perutku menegang, pikiranku melayang-layang, dadaku seakan ingin meledak karena debaran jantungku. Aku menyukainya.. aku tau itu. Perasaan ini lebih besar dari sekedar perasaan suka.
Cinta..
Kata itulah yang cocok digambarkan untukku.. aku mencintainya.. Mencintai Mas Ramma.. Sosok yang berada jauh tinggi yang tak mungkin bisa kugapai. Akhirnya aku hanya bisa memendam perasaan ini dalam-dalam. Aku mencintainya dalam diam.
Seringnya dia mengantar jemputku kesekolah membuat teman-teman sekolahku kepincut dengan ketampanan dan pesonanya. Apalagi Mas Ramma murah senyum dan sangat supel dengan semua orang yang ditemuinya. Sangat berbeda dengan Mas Dhanni yang terkesan Cuek atau Mas Renn yang kadang terkesan dingin dan pendiam. Teman-temanku akhirnya ingin berkenalan dengannya. Tentu saja aku marah, Aku tak suka. Akhirnya kuumumkan saja jika Mas Ramma itu pacarku.
Mas Ramma tau dan dia sangat marah terhadapku. Mas Ramma bahkan bilang jika aku bukan Typenya, Typenya adalah gadis Cantik dan seksi, bukan gadis manja sepertiku. Astaga…. Duniaku hancur begitu saja. Sejak saat itu hubungan kami renggang, dia menghindariku, dingin terhadapku. Tapi bodohnya aku masih mencintainya hingga kini.
Sebut saja aku gila atau bodoh, karena memang itulah yang terjadi padaku. Aku berusaha sekuat tenaga menjadi gadis impian Mas Ramma. Gadis Cantik dan Seksi. Aku menghilangkan kesan manjaku dengan bekerja supaya terlihat lebih mandiri. Tapi Mas Ramma masih tak memandangku. Dia malah menyuruhku menjauh dan mencari lelaki lain untuk dijadikan pacar.
Kecewa.. sakit.. sedih.. itulah yang kurasakan. Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin tak ada salahnya aku berpacaran, asalkan aku bisa menjaga diri. Dan beginilah sekang, aku berpacaran dengan Ricky, teman sekampusku. Dia baik, tampan, tapi tetap saja tak bisa mengalihkan perhatianku dari Mas Ramma. Dari Ricky aku mengenal Rio, Fotografer yang sudah beberapa kali memfotoku. Aku bahkan dijadikan Model Lotion SunBlock. Tentu saja Mas Renn atau keluargaku tak ada yang tau jika aku menjadi Model di salah satu majalah.
Aku menerima tawaran itu dengan pemikiran panjang. Ya… tentu saja alasan utamanya adalah Mas Ramma. Kupikir dengan menjadi Model akan membuat Mas Ramma sedikit tertarik denganku. Dan itu terbukti tadi ketika dia menyambar bibirku dengan bibirnya, Mencium dengan panasnya. Aku senang… Aku senang walau aku harus bertindak seperti wanita murahan di hadapannya. Setidaknya dia memandangku sebagai wanita, bukan Gadis kecil yang harus di lindungi.
Dia mencumbuku, mencumbu seluruh tubuhku, meninggalkan jejak-jejaknya disana, membuat tanda kepemilikan bahwa aku miliknya, Aku suka, Aku senang., dan aku menikmati semuanya. Aku akan menyerahkan semua yang kupunya demi mendapatkan Mas Ramma. Tapi semuanya berakhir sebelum dia memulainya. Beranikah aku melakukan hal ini lagi nanti terhadapnya..???
Aku merasa hangat, merasa tenang, karena dia tak sedingin dulu lagi ketika bersamaku. Tapi kemudian dia membuatku sakit lagi.. Dia berkata jika semua ini tak seharusnya terjadi.
Dia menyesal melakukannya….

Ya Tuhan.. Sampai kapan dia menganggapku tak pantas untuknya..??? Sampai kapan aku harus menjadi gadik kecil dihadapannya..???lagi-lagi aku menangis, menangisi diriku, mengasihani diriku sendiri. Hingga aku tak sadar jika sejak tadi Mas Renn mengajakku bicara.
“Sha.. kamu sebenarnya kenapa..? Ramma ngapain kamu..?” tanya Mas Renn yang saat ini masih mengemudikan mobilnya.
“Dia nggak ngapa-ngapain Aku Mas.”
“Kamu bohong.” Kata Mas Renn dengan dingin.
“Aku terlalu menyukainya Mas.. Aku cinta sama dia..” kataku kemudian yang sontak membuat Mas Renn menghentikan laju mobilnya.
“Sha.. Berapa kali Mas Renn bilang sama Kamu, Lupakan Ramma. Dia bukan lelaki yang baik untukmu Sha.. Mas Renn hanya nggak mau kamu Sakit hati nantinya.”
“Aku ingin melupakannya Mas. Tapi nggak bisa. Perasaan ini selalu ada.”
“Belajar Sha.. belajar melupakannya dan belajarlah mencintai orang-orang didekatmu. Mas Renn yakin kamu bisa.” Kata Mas Renno sambil memelukku. “Ramma bukan orang yang baik untukmu Sha.. Dia tak punya cinta dihatinya. Bertahun-tahun Mas Renn berteman dengannya dan hanya tubuh wanitalah yang ada didalam pikirannya.” Kata Mas Renn lembut sambil mengusap-usap punggungku. “Carilah yang lebih baik dari Ramma Sha.. Mas Renn akan merestuinya, akan mendukung kamu jika lelaki itu bukan Ramma.” Lanjutnya lagi.
Dan saat ini aku sadar, jika tak akan ada kesempatan lagi untukku supaya bisa bersama Mas Ramma. Aku hanya bisa memandangnya dari jauh dan hanya bisa mencintainya dalam hati.
***
Sampai di rumah, Mbak Allea sudah menunggu kami. Aku senang memiliki Mbak Allea sebagai kakak iparku. Dia bagaikan malaikat yang bisa membuatku tenang dan sejuk. Mas Renn beruntung mendapatkannya. Mas Renno langsung memeluk dan mengecup kening Mbak Allea, lalu Mbak Allea bergegas kearahku.. perutnya yang sudah besar itu tak menghalanginya untuk memelukku. Sekali lagi aku menangis didalam pelukan Mbak Allea.
“Kamu ajak dia masuk yaa.. tidurlah dikamarnya.” Kata Mas Renn kepada Mbak Allea. Aku senang Mas Renn pengertian. Aku memang sedang butuh teman saat ini.
Kamipun akhirnya masuk kedalam kamarku. Aku menangis sepuasnya dihadapan Mbak Allea. Menceritakan semuanya , semua tentang perasaanku terhadap Mas Ramma. Tentang apa yang sudah kami lakukan bersama. Mbak Allea baik, dia mendengar semua ceritaku, mendengar semua keluh kesahku dengan tenang. Aku merasa nyaman didekatnya.
“Sha.. Kamu nggak perlu jadi orang lain untuk mendapatkan cintanya.. biarkan dia mencintaimu dengan apa adanya. Biarkan semuanya mengalir seperti air Sha..” kata mbak Allea kemudian setelah aku bercerita.
Yaa.. mbak Allea memang benar, aku terlalu memaksakan kehendakku. Sampai kapanpun aku tak akan menjadi salah satu type gadis impian Mas Ramma.
“Mbak yakin, tanpa kamu berubahpun jika Mas Ramma menyayangimu, dia pasti kembali padamu.” Katanya lagi dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
“Mbak Yakin..?” Dan mbak Allea hanya mengangguk. “Mbak setuju kalau misalnya aku dan Mas Ramma saling suka..?” tanyaku lagi.
“Tak ada larangan untuk orang yang saling suka Sha.. kita tak bisa memilih dengan siapa kita bisa mencintai.” Kata mbak Allea lagi.
“Tapi Mas Renn.. dia nggak suka…”
Mbak Allea tersenyum. “Masalah Mas Renno, Mbak yang urus..” jawabnya lagi sambil mengerlingkan matanya.
Yaa tentu saja. Hanya Mbak Allea yang bisa membuat Mas Renn takhluk dan bertekuk lutut. Mas Renn bahkan hampir gila saat Mbak Allea meninggalkannya. Dan aku benar-benar tak menyangka jika Mas Renn bisa seperti itu hanya dengan wanita biasa-biasa saja seperti Mbak Allea…
***
Aku bangun dengan mata sembab karena menangis semalaman. Mbak Allea sudah tak ada di sampingku, mungkin dia sudah menyiapkan sarapan untuk kami. Aku bergegas kekamar mandi, mengguyur badanku supaya lebih segar. Setelah mandi dan berpakaian aku bergegas kedapur untuk bergabung sarapan. Tak lupa aku mengnakan Kacamata besarku untuk menyembunyikan mata sembabku.
Di dalam dapur tentu saja aku disuguhi pemandangan yang membuat hati cemburu. Seperti biasanya Mbak Allea sedang memasak sedangkan Mas Renn mengganggunya dari belakang sambil memeluknya. Astaga…. mereka benar-benar membuat iri semua yang memandang.
“Ehhemm…” Aku memberi intruksi jika aku sudah berada di dalam ruangan tersebut.
“Pagi Sha… Sudah bangun..??” Seperti biasa Mbak Allea dengan ramahnya menyapaku.
“Sudah Mbak… Emm… Mas Renn bikin mataku sakit tau nggak..”
“Memangnya aku kenapa..?” Tanya Mas Renn dengan santainya.
“Nggak apa-apa sih.. Cuma tau tempat dong kalau mau mesra-mesraan.” Gerutuku.
“Mereka pengantin baru Sha..” Kata Mama yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang.
“Dia hanya iri dan Cemburu Ma..” Tambah Mas Renno lagi. Lalu dengan santainya dia mengecup pipi Mbak Allea. Astaga…. benar-benar bisa mual aku melihatnya. Mas Renn terlihat sangat bahagia begitupun dengan Mbak Allea. Bisakah aku nanti sebahagia mereka dengan pasanganku..??
Tiba-tiba aku merasa Mas Renn mengacak-acak Poniku. “Kamu sudah baikan..?” tanyanya sambil duduk disebelahku dan memakan sepotong roti isi. Aku hanya mengangguk. “Ingat kata-kata Mas Renn ya… jauhi Ramma. Mas Renn sayang sama Kamu, Mas Renn nggak mau kamu terluka karena sahabat Mas Renn sendiri.” Kata Mas Renn lagi kali ini dengan sedikit berbisik dan menatapku dengan intens.
“Kamu nggak usah ikut campur masalah mereka Mas..” Kata mbak Allea sambil memberikan begelas susu kepadaku.
“Sayang.. aku hanya terlalu sayang dengan dia.. aku ingin melindungnya.”
“Shasha sudah besar. Dia tau mana yang terbaik untuknya.” Jawab Mbak Allea sambil mengusap pipi Mas Renn.
“Ok.. Ok… aku nggak akan ngurusi masalah mereka, tapi aku tetap pada pendirianku, aku nggak suka Lihat Shasha bersama Ramma.” Kata Mas Renno kemudian.
“Kalian ngomongin apa sih..?” tanya Mama yang sejak tadi tak tau arah membicaraan kami.
“Nggak ada Ma.. Cuma ngomongin masalah kerjaan.” Jawab Mas Renn santai.
Dan tak lama setelah itu Papa muncul. Kami tak lagi membicarakan masalahku dengan Mas Ramma. Aku memang tak mau dan tak suka jika persaanku ini ketahuan oleh Papa dan Mama. Astaga.. tentu saja itu sangat memalukan. Mencintai seorang lelaki bertahun-tahun lamanya tanpa ada balasannya.
***
Sore ini Cafe sedikit lebih Ramai. Mungkin karena malam minggu atau apapun itu aku tak peduli, yang jelas Kakiku sedikit pegal karena berjalan bolak-balik. Tapi aku tetap menikmatinya karena ini pekerjaan yang kuinginkan bahkan setelah wisudah sebulan yang lalu. Tak terasa hari mulai beranjak gelap. Aku membersihkan setiap sudut Cafe karena sebentar lagi waktunya untuk tutup. Saat aku membersihkan sebuah meja, tak sengaja kulihat keluar jendela, aku mendapati Mas Ramma sedang menatapku dengan tatapan sendu. Dia berada didalam Mobil. Akupun kembali menatapnya. Ada apa..? Apa yang terjadi..???
Karena tak enak dengan manager Cafe ini, akupun akhirnya tak menghiraukannya. Aku melanjutkan membersihkan semua sudut-sudut Cafe. Sesekali melihat kearahnya dan dia masih saja menatapku dengan tatapan anehnya.
Tak berapa lama Cafepun tutup. Aku keluar untuk pulang. Kebetulan Malam ini Ricky tak bisa menjemputku. Begitu pula dengan Mas Renn, dia masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Kamu sendirian Nat..? Ayo kuantar kalau kamu nggak ada teman.” Kata Manager Cafeku yang bernama Dion. Pak Dion aku memanggilnya. Dia mungkin seumuran dengan Mas Ramma.
“Ohh.. terimakasih pak. Saya naik Taxi saja.”
“Tidak perlu sungkan, Lebih irit jika saya yang mengantar.” Katanya Lagi.
“Saya yang menjemputnya.” Kata suara dingin disebelahku, dan aku baru sadar jika ada sebuah lengan yang sudah melingkari pinggangku dengan posesif. Itu Mas Rama. Dia masih disini.
“Ohh.. saya baru tau jika kamu sudah punya pacar.” Kata Pak Dion kemudian, “Baiklah, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu.” Tambahnya lagi.
Pak Dionpun akhirnya pergi. Dan tinggalah aku hanya berdua dengan Mas Ramma.
“Ayoo ikut aku..” Katanya dingin sambil menyeret tanganku. Sangat berbeda sekali dengan kehangatan yang kudapatkan tadi malam.
Akupun menurutinya. Dia mengemudi dalam diam. Dan akupun ikut berdiam diri, tak tau harus bicara apa. Aku mencintainya, sangat mencintainya, tapi aku masih kecewa dengan perkataannya tdi malam, seakan-akan dia menyesal melakukannya.
Tak lama sampailah kita pada tempat tujuan. Taman Hiburan. Tentu saja saat ini Taman hiburan ini sudah tutup. Tapi jangan sebut dia Seorang Ramma Aditya jika tak bisa membuatnya terbuka kembali. Entah dengan cara apa dia bisa membuat kami memasuukinya. Apa taman ini miliknya..??? Bisa jadi. Orang tuanya benar-benar sangat kaya Raya.
Kami memasukinya, seketika itu juga bayangan akan kenangan kami muncul begitu saja dalam ingatanku.

“Kenap Mas Ramma mengajakku kesini..?”
“Pengen aja..”
“Mas Ramma kan bisa ajak pacar Mas Ramma.”
“Aku nggak punya pacar.”
“Alaaah.. Bohong.” Ucapku tak percaya.
“Ayoo kesini.. Kita naik itu.” Katanya sambil menarik tanganku ke area Bom-bom car.
Kamipun akhirnya memainkan permainan tersebut. Bahagia.. sangat bahagia.. dia tertawa lepas seperti tak ada beban apapun dibenaknya, begitupun denganku. Aku juga sama.. sangat bahagia… kami menaiki banyak permainan saat itu.

“Kamu masih ingat tempat ini..?” Tanyanya menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya mengangguk. “Apa kamu sering kesini..?” dan kali ini aku menggeleng dengan pertanyaan keduanya. Tentu saja aku tak pernah kesini. Ketaman hiburan seakan-akan membuatku sesak, Aku akan teringat asa-masa itu, masa-masa dimana kami bahagia tanpa beban perasaan ini.
“Aku masih sering kesini tiap malam minggu…” Katanya kemudian mengagetkanku.
Apa dia bercanda..?? Aku memandangnya dengan seksama, siapa tau dia hanya bercanda mengatakan kata-kata tersebut.
Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, itu dompetnya. Lalu dia mengeluarkan sesuatu yang tersimpan sangat tersembunyi dari dompetnya tersebut. Itu sebuah Foto kecil yang dilipat-lipat hingga tak terlihat saat disimpat di dalam dompet. Dan saat dia memperlihatkannya padaku, aku ternganga.
Itu foto kami…
Diambil di taman hiburan ini sekitar enam tahun yang lalu….
“Kamu ingat Foto ini..?” tanyanya, tapi aku tak menanggapi aku masih tak menyangka jika dia akan menyimpan foto kami di dompetnya hingga kini. “Foto Ini masih tersimpan disini Sha.. dan akan selalu tersimpan disini… seperti kenangan kita pada masa-masa itu.. semuanya masih tersimpan di sini, di taman hiburan ini.. dan di hati kita..”
Ya tuhann… kata-katanya mampu meluluhkan hatiku. Apa yang dia maksud dengan berkata seperti itu..??? tanpa kusadari tubuhku sudah ada dalam pelukannya, dia memelukku sangat erat.
“Aku merindukanmu Sha..” Katanya Lagi. Dan aku masih tak dapat berkata apa-apa. Apa ini mimpi..? Apa aku berada dalam sebuah adegan drama Korea..? karena jujur saja, ini sudah seperti dalam adegan-adegan drama Romantis yang pernah ku tonton. Kami hanya berdua di dalam sebuah taman hiburan yang sangat besar dan sunyi, dengan semua lampu taman ini menyala. Romantis, sungguh sangat Romantis…
Mas Ramma melepaskan pelukannya, lalu menatapku dengan tajam. “Sha… Ayo kita pacaran..” katanya kemudian yang sontak membuatku ternganga. Seperti ada sebuah sengatan listrik yang menjalari disekujur tubuhku. Benarkah ini yang terjadi..? Apa ini nyata..??? Atau apakah ini hanya Mimpi indahku saja…???

 

__TBC__

mario-maurer-baifernIni Foto Ramma dan Shasha yang disimpan didalam dompet Ramma yaa,,, hehheheh

 

 

 

 

 

 

 

 

Selamat menunggu Chapter selanjutnya… semoga ceritanya nggak membosankan bagi yang membaca yaa,,, heheh :* 🙂 😉

My Everything (Novel Online) – Chapter 4

Comments 7 Standard
MeiiMy Everything

 

NB: WARNING…!!! sekali lagi yaa kuingatkan jika Ramma Story ini Genrenya Roman Erotis, jadi mohon dimaklumi jika ada adegan-adegan dewasanya, kata-kata kurang sopan dan sejenisnya… Author mah sebenarnya sudah memilihkan kata-kata yang lebih sopan lagi, jadi kisahnya biar nggak terkesan mesum atau jorok.. hehhehe tapi tetep… walau genrenya Erotis namun masih standar lahh erotisnya hehhee. ok.. happy reading aja yaa..

 

Chapter 4

 

“Aku sudah nggak perawan.”
Sial..!!! aku menghentikan tawaku seketika saat mendengar pernyataannya. jawabannya kali ini benar-benar membuatku menegang, Raut wajahku mengeras, Darahku mendidih. Nggak perawan..?? Siapa yang sudah menyentuhnya..?? Sialan…!!!!

Aku mencengkeram erat kemudi mobil yang ada di hadapanku, Hingga buku-buku jariku memutih. Marah, Kesal, Murka dan merasa dihianati, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Benarkah Shasha semurahan itu..?? benarkah dia sudah melakukannya dengan bajingan Brengsek lainnya..?? dan ada apa ini..?? Kenapa aku tak Rela jika Shasha pernah tidur dengan Lelaki lain..??
“Kamu Bohong.” Ucapku dingin.
“Aku bisa membuktikannya.” Katanyaa tenang dan santai.
Sialan..!!! Aku benar-benar tak tau apa yang kini sedang berada dalam otakku. Kujalankan kembali mobilku dengan kecepatan penuh. Tak lama, sampailah aku pada Apartemen pribadiku yang dulu sempat di pinjam Renno untuk ditinggali.
Kubuka pintu mobil dan keluar sambil menyeret Shasha. Sedikit kasar aku tau itu, tapi aku tak bisa menahan amarahku lagi. Amarah bercampur dengan Gairah. Dan baru kali ini aku mengakui jika aku menginginkan tubuh Shasha.
Masuk kedalam Lift, kami saling berdiam diri. Shasha tak bertanya kenapa kuajak kemari. Hahaha mungkin dia memang sering keluar masuk Apartemen Lelaki lain. Dan entah kenapa memikirkan hal itu kembali menyulut Emosi di dalam diriku.
Tanpa sepatah katapun Kudorong tubuhnya hingga punggungnya menempel pada dinding Lift. Kukurung tubuhnya dengan kedua lengan kekarku, dan tanpa pemanasan lagi kusambar bibir itu. Bibir penuh menggoda milik Shasha. Sialan..!!! dia begitu nikmat. Jauh lebih nikmat daripada ciuman yang biasanya diberikan Zoya.
Tangan kanankupun saat ini telah mendarat sempurna di dadanya. Ohh Shiitt… !!! sejak kapan dada rata itu menjadi sepasang payudara besar milik seorang wanita dewasa..?? Lembut dan padat.. Aku suka.. Sangat berbeda dengan dada model-model yang pernah kutiduri yang kebanyakan dari mereka adalah hasil karya Dokter bedah plastik dengan tambahan Implan di dalamnya.
Aku mendengar samar-samar Shasha mengerang, Mendesah diantara ciuman kami. Siall..!! tentu saja itu membuatku semakin menggila, semakin menegang, dan semakin Keras.
‘Dingg’
Bunyi Lift menghentikan Aksiku. Ketika aku berbalik dan bersiap keluar dari dalam lift, aku mendapati sepasang lelaki dan perempuan yang akan masuk kedalam Lift memandang kami dengan tatapan terkejutnya. Kedua-duanya sama-sama ternganga.
“Apa tidak apa-apa jika kami masuk..?” tanya di lelaki tersebut.
“Silahkan.” Jawabku sesantai mungkin. Lalu aku menggenggam tangan Shasha dan menariknya keluar tak mempedulikan tatapan aneh dari lelaki dan perempuan tersebut.
Kubuka pintu Apartemenku dan menarik Shasha supaya masuk. Mengunci pintu lalu menghadap Shasha kembali. Kulihat wajahnya memerah. Mungkin karena malu atau gugup. Kulit putihnya memerah hingga permukaan leher dan telinganya. Membuatku geli dan semakin menginginkannya.
Kudekati dirinya seperti seekor singa yang mendekati seekor Rusa betina sebagai mangsanya. Dia gugup, aku tau itu.
“Sekarang mari kita buktikan Jika kamu sudah nggak perawan lagi.” Kataku yang kemudian langsung menyambar lagi bibir seksinya itu.
Sambil sedikit demi sedikit mendorongnya kebelakang menuju ke ranjangku, aku melucuti pakaiannya tanpa sedikitpun melepaskan cumbuan panasku. Sial…!!! ini benar-benar di luar duagaan. Shasha sangat menggoda dengan kulit putih mulusnya dan tubuh padatnya. Belum lagi Aroma wangi Khas dari tubuhnya. Percampuran antara wangi segar Strawberry dengan bunga lili, seperti wangi bayi. Namun entah mengapa itu membuatku semakin bergairah.
Masuk kedalam kamar Kini baju dan Roknya sudah kulucuti hingga hanya meninggalkan Bra hitam berenda beserta panty berwarna senada yang berada pada tubuhnya. Sangat kontras dengan kulit putihnya. Kulepaskan cumbuanku dan kupandangi tubuh Shasha dengan tatapan mata orang yang sedang kelaparan.
Sangat Seksi..
Lagi-lagi kulihat semburat warna merah di permukaan leher hingga pipinya. Dia malu.. tanpa pikir panjang lagi kubuka kemeja dan celana serta sepatu yang kukenakan, dan hanya meninggalkanku bersama Boxer yang kini sudah mengetat dan memperlihatkan bagaimana kerasnya yang dibawah sana. Mendekatinya kembali kini bibirku sudah berada pada leher jenjangnya dan tanganku sudah mendarat sempurna pada perut datarnya. Kuraba dan Astaga… mungkin aku bisa klimaks hanya dengan mencumbu lehernya beserta meraba perut datarnya. Datar tapi empuk dan padat, sungguh sangat berbeda dengan perut ramping Wanita yang kukencani yang didapatkan dari diet dan tak makan berhari-hari.
“Bagaimana kamu melakukannya..?” Tanyaku kemudian dengan nada sensual.
“Apa..?” Dia menjawab dengan sedikit mendesah.
“Tubuhmu sempurna Sialan…!!!” jawabku kemudian. “Bagaimana mereka tumbuh menjadi seperti ini..?” Tanyaku lagi.
“Aku.. ehhh… Olah raga dan banyak gerak..” jawabnya dengan menggigit bibir bawahnya.
“Aku ingin masuk kedalammu sekarang.” Kataku kemudian yang kini sudah melumat bibirnya kembali, membuatnya kewalahan dengan cumbuan dan kenikmatan yang kuberikan.
Masih mencium dan sedikit mendorongnya kebelakang hingga dia jatuh terlentang di ranjangku. Aku merangkak naik keatasnya. Dengan lihai kubuka Bra hitam miliknya, dan aku benar-benar terpesona dengan apa yang kulihat saat ini. Dia berwarna merah dan sedikit lebih gelap. kuusap-usap dan memilin putingnya, Puting yang sudah tegak dan mengeras tanda jika dia dia sudah sangat terangsang.
“Sialan.. !!!! Mereka milikku, Hanya milikku..” kataku sambil mendaratkan bibirku pada dadanya, menghisapnya memainkannya membuat sanga pemilik mengerang Nikmat. Benar-benar sangat terkejut saat melihat Shsha seperti ini. Dia bukan gadis manja yang kukenal dulu. Dia wanita dewasa yang benar-benar memiliki tubuh sebagai wanita dewasa sempurna yang akan membuat para lelaki meneteskan air liurnya ketika melihatnya seperti ini.
Shasha menggeliat gelisah, kini satu tanganku sudah berjalan di sekujur tubuhnya, sesekali meraba perutnya yang membuatku tergoda, lalu turun lagi hingga menemukan pusat dirinya.
“Apa kamu menyukainya..?” tanyaku disela-sela cumbuanku terhadap payudaranya. Kulihat matanya tertutup menikmati kenikmatan ini dan dia menggeleng pasrah, aku hanya tersenyum geli melihat ekspresinya. “Sekarang mari kita lihat apa yag ada didalam sana..? Apa kamu sudah basah dan siap merimaku atau tidak.” Lalu tangankupun sampailah pada pusat tersebut.
Shasha tersentak dan sedikit merintih saat tanganku membelainya. “Kamu basah sayang.. Kamu sudah basah karenaku.” Gumamku lagi. Akupun kemudian kembali mencumbui sekujur tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kakinya.. kuberikan tada pada kedua payudaranya, turun keperut kuberikan tanda basah dan merah juga disana. Turun lagi hingga aku mendapatkan harta karunku. Ku kecup berkali-kali sebelum lidahku membelainya. Dia milikku.. hanya milikku..
Shasha mengerang, merintih nikmat saat aku mencumbu pusat dirinya. Sialan..!!! aku tak bernah sebergairah ini saat dengan wanita yang kukencani bahkan saat dengan zoya, bergairah hingga terasa sakit saat aku menahannya.
“Masss….” Tubuh Shasha mengejang, Otot-ototnya menegang disertai dengan jeritan kenikmatannya, dia sudah sampai pada puncak kenikmatan karena permainan lidahku. Kuhentikan permainan ini karena akupun tak sanggup menahannya lebih lama lagi. Bersiap-siap memasukinya namun tiba-tiba…
‘Titt.. titt.. tit.. titt..’ ‘tit.. titt.. titt.. tit…’
Ponsel sialanku berbunyi. Aku tak menghiraukannya. Aku malah mengambil sebuah bungkusan foil yang ada didalam laci disebelah ranjangku. Merobeknya dan bersiap-siap memasangnya di kejantananku. Namun lagi-lagi Ponsel sialan itu berbunyi.
“Brengsek..!!!” umpatku dengan keras. Kuambil ponselku dan sedikit terkejut saat melihat nama sang Pemanggil. Mama. Kenapa Mama meneleponku malam-malam seperti ini..?
Aku kembali kearah Shasha yang sudah lemas karena permainanku, kukecup singkat keningnya. “Sebentar ya Sayang…. Mama meneleponku.” Kataku dengan lembut.
Aku bergegas kearah jendela tak mempedulika keteelanjanganku. Kutelepon Nomer mama kembali.
“Halo..” itu suara Papa.
“Ada apa Pa..?”
“Mama kamu Kambuh, sekarang di IGD.”
“Apa..?” teriakku ang sontak membangunkan Shasha. “Ok Aku kesana Pa… kirimkan alamat rumahsakitnya.” Kataku lagi. Lalu akupun menutup teleponku. Menghampiri Shasha yang sudah terduduk dan menatapku dengan tatapan tanda tanyanya.
“Ada apa Mas..?” tanyanya kemudian.
Aku duduk di pinggiran ranjang, kuusap lembut pipinya dengan ibu jariku. “Kuantar pulang ya.. Mamaku masuk rumah sakit.” Kataku kemudian.
“Memangnya Mama kenapa Mas..?” Aku menegang saat dia menyebut Mamaku dengan panggilan Mama.
“Mama punya Asmah Akut, dan sekarang sedang kambuh, dia di IGD sekarang.” Kataku sedikit menceritakan, entah kenapa setelah hal intim yang kulakukan dengannya tadi membuat caraku menghadapi Shasha berbeda dari biasanya.
“Aku ikut kerumah sakit Mas.” Aku sedikit terkejut dengan Pernyataannya.
“Ini malam Sha.. Aku antar pulang yaa..”
“Aku mau bersama Mas Ramma malam ini.” Dan perkataannya itu mempengaruhiku. Kudekatkan wajahku terhadap wajahnya lalu kulumat sekali lagi bibirnya. Dia menikmatinya. Kulepaskan ciumanku dan mulai tersenyum dengan diriku sendiri. “Sialan..!! sejak kapan bibirmu tumbuh menjadi bibir terseksi dan sangat nikmat untuk dihisap..?” gumamku penuh canda. Diapun ikut tersenyum terhadapku.
Setelah bertahun-tahun perang dingin. Baru kali inilah kami saling melempar senyuman. Sangat manis. Dan aku merasa sangat bahagia seakan-akan aku mengulang masa-masa saat kita bersama dulu. Kamipun akhirnya saling mengenakan pakaian masing-masing dan bergegas menuju kerumah sakit.
***
Kulihat dia sedikit canggung karena sejak tadi aku tak pernah melepaskan genggaman tanganku terhadap tangannya. Kami setengah berlari menuju IGD. Setelah masuk aku mendapati Mama masih terbaring lemah dengan Serangkaian peralatan rumah sakit di tubuhnya. Namun Mama terlihat sudah sadar.
“Mama..” kataku sambil bergegas kearahnya.
Mama terlihat tersenyum kepadaku, Ya tuhan… untung saja tak ada apa-apa dengannya. Aku sangat menyayanginya meski Dia bukan ibu kandungku.
Mama Tersenyum kepadaku. “Kamu datang sayang..” kata Mama sambil meraih tanganku. “Sama Pacar kamu..” lanjutnya lagi sambil tersenyum kearah Shasha.
“Dia Shasha Ma.. Adik Renno. Sudah seperti adikku juga.” Jelasku, dan Mama masih saja tersenyum sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Sepertinya Mama tak percaya dengan apa yang kukatakan. Astaga.. tentu saja… Kami hampir saja bercinta tadi. Mana mungkin aku menganggapnya sebagai adikku sendiri..?
Kamipun akhirnya tenggelam dalam beberapa percakapan, Papa bercerita kenapa Asmah Mama bisa kambuh. Sedangkan Mama sendiri lebih tertarik untuk mengajak Shasha bicara berdua. Tak lama Ponsel Shasha berbunyi. Yaa.. mungkin itu keluarganya yang khawatir, mengingat ini sudah hampir tengah malam.
“Halo..” Shasha mulai mengangkat Teleponnya.
“….”
“Aku dirumah Sakit Mas..” Kelihatannya itu Renno jika dilihat dari panggilan yang diberikan Shasha.
“…”
“Enggak Mas.. Aku nggak apa-apa. Cuma…” Shasha melihat kearahku dia terlihat sedikit ragu untuk menjawabnya. Dan akupun langsung bergegas kearahnya dan meminta Ponselnya.
“Halo Renn..”
“Ramm… Loh kok Ada Elo..? Elo sama Shasha..? Ngapain kalian bersama di rumahsakit..?” Tanya Renno sedikit terkejut. Aku tau dia sedikit tak suka dengan kedekatanku dengan Shasha.
“Kami nggak sengaja ketemu di jalan tadi, Gue mau nganterin dia pulang tapi Mama Masuk rumah sakit, akhirnya Gue ajak dia kesini.” Jelasku sedikit berbohong.
“Tunggu disana. Gue akan jemput dia.” Kata Renno yang nada bicaranya berubah menjadi tak enak di dengar. Diapun lalu memutuskan telepon begitu saja.
Shasha menatapku dengan tatapan anehnya, aku tau dia takut, takut dengan Kakaknya. Kugenggam Erat tanganya seakan-akan menyatakan jika semuanya akan baik-baik saja,
“Kalian ada masalah..?” Tanya ppa yang sedikit heran dengan tingkah laku kami.
“Enggak Pa.. kami nggak apa-apa. Kami akan keluar menunggu Renno, dia akan jemput Shasha.” Kataku lagi. Akhirnya Shasha berpamitan dengan kedua orang tuaku. Dan kamipun keluar menunggu Renno.
***
Sedikit lebih lama menunggu kedatangan Renno karena mungkin Mansionnya sedikit lebih jauh dengan Rumah sakit ini. Aku masih menggenggam tangan Shasha yang kurasakan dingin dan basah karena berkeringat. Dia takut, aku tau itu. Renno memang selalu sensitif dengan hubunganku dan Shasha. Renno tau jika Shasha menyukaiku, maka Dari itu Renno selalu mengingatkanku agar jangan terlalu dekat dengan Shasha.
Aku tak tau bagaimana perasanku saat ini terhadap Shasha. Jujur saja, aku merasa lebih intim dengannya, setelah apa yang kulakukan tadi terhadapnya, padahal kami belum bercinta. Zoya…??? Ayolah.. selama beberapa jam yang lalu aku sama sekali tak memikirkannya, sebut saja aku brengsek dan sudah berapa kali kukatakan jika aku memang lelaki terbrengsek senegri ini. Aku tak peduli.
“Gimana kalo Mas Renn marah Mas..?” tanya Shasha kemudian.
“Kita nggak melakukan kesalahan apapun terhadapnya kenapa kamu takut dia marah..?”
“Perasaanku nggak enak saja Mas.”
“Tenang saja, disini ada Aku.” Jawabku menenangkannya sambil kukecup singkat keningnya.
“Mas… Gimana hubungan kita..”
Dan aku menelan ludahku dengan susah payah karena pertanyaannya itu. “Jangan pikirkan itu dulu, Aku sendiri tak tau Apa yang terjadi denganku. Dan aku.. Astaga.. aku sama sekali tak menyangka jika akan melakukan itu terhadapmu tadi.”
“Mas Ramma menyesal..?” tanyanya sambil sedikit menjauh dariku.
“Enggak.. bukan itu yang kumaksud.. aku hanya..” dan belum sempat kulanjutkan kalimatku dia sudah menjauh dan menangis. Sialan…!!! apa inii..??? apa yang sudah kulakukan..?
“Sha…” panggilku sambil mendekat dengannya. Tapi belum juga aku menjelaskan sesuatu Si Renno sudah datang. Sial..!!!
“Sha… kamu nggak apa-apa kan sayang..?” tanya Renno yang langsung memeluk tubuh adiknya itu. Kenapa..?? memangnya aku ngapain dia..?? Sialan Si Renno.
“Aku nggak apa-apa Kok Mas..” Jawab Shasha.
“Kamu nagis.” Kata Renno sambil menelusuri wajah Shasha.
“Aku nggak apa-apa Mas..” jawab Shasha sambil memalingkan wajahnya.
“Enggak, kamu bohong.” Kata Renno lagi yang kini sudah mendongakkan wajah Shasha kearahnya. Dan Siall..!!! Rennopun melihat bekas Cumbuanku di leher Shasha.
“Sialan..!!! Lo apain Adek Gue..?” Kata Renno meniggikan nada bicaranya sambil membusungkan dada kearahku. Aku yang dihadapannya hanya diam. Tapi sedikitpun tak takut dengan tatapan membunuh Renno.
“Mas.. aku nggak apa-apa.”
“Nggak Apa-apa bagaimana, Kamu Nangis dan lihat leher kamu.. Sialan..!!” Renno masih saja mengumpat-umpat.
“Kita pulang ya Mas.. nanti kujelaskan di Rumah.” Ajak Shasha.
“Awas Lo yaa Ramm..” Kata Renno sambil menunjuk kearahku. Akhirnya merekapun pergi.
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Sialan..!!! Apa yang terjadi denganku malam ini..?? bisa-bisanya aku hampir Making Love dengan Shasha yang selama ini harus kuanggap sebagai adikku sendiri..?? Dan Renno..? Sial..!!! Renno pasti tak akan melepaskanku begitu saja. Belum lagi tentang Zoya.. dimana wanita itu..? seharian tak bertemu tapi dia juga tak menghubungiku, bayangannyapun sudah menghilang dalam ingatanku, semuanya hanya tentang Shasha. Sial..!!! kenapa semuanya memburuk seperti ini..??
Kulangkahkan kakiku keruangan Mama. Kulihat Papa sudah tertidur pulas di kursi tunggu, sedangkan Mama masih terjaga.
“Kamu ada masalah Sayang..?” Tanyanya saat aku duduk di kursi sebelah ranjangnya. Mama memang yang terbaik, dia sangat menyayangiku.
Aku hanya mengangguk lemah. “Boleh aku pulang Ma..? Aku butuh melakukan sesuatu untuk melupakan semuanya.”
“Apa tentang gadis tadi..?”
“Ma… Dia Adik Renno Ma..”
“Apa yang salah dengan adik Renno.?”
“Aku nggak bisa punya hubungan lebih dengan Adik temanku sendiri Ma..”
Mama tersenyum dan menggenggam tanganku. “Mama nggak tau apa maksud Kamu sayang.. yang Mama tau kamu sangat menginginkan Gadis itu, terlihat jelas dari kamu memandangnya. Mama juga sempat beberapa kali menemukan Fotonya saat membersihkan kamarmu.”
“Apa..?? Aaiiissshh Ma… Mama nggak hormatin Privasiku.” Aku sedikit merajuk. Sial..!!! saat aku pindah, aku belum sempat membereskan foto-foto Shasha yang ada di kamar rumahku.
Lagi-lagi Mama tersenyum. “Kamu sudah 28 tahun. Tak salaah jika kamu menginginkan atau mengagumi seorang wanita, yang harus kamu lakukan adalah mengatakannya. Dan tentunya kalau bisa menikah dengannya, Mama sudah pengen gendong Cucu.”
Aku ikut tersenyum denannya. “Sudahlah Ma.. Mama terlalu jauh tau tentangku.” Aku mengecup kening Mama, “aku pulang sebentar Ma.. nanti aku balik lagi.”
“Hati-hati sayang.” Pesannya. Dan akupun mengangguk.
***
‘Buugghhh..’ ‘Buugghhh..’ ‘Buughh..’
Suara-suara dentuman sangat terdengar jelas memantul disegala penjuru ruangan pelatihanku. Aku memukuk samsak itu sekali.. dua kali.. dan berkali-kali, hingga keringatku tak berhenti menetes. Ini sudah lebih dari jam satu malam, tapi aku masih belum mau berhenti melakukan oleh raga ini.
Ku pukul lagi da Lagi.. aku membayangkan jika itu Renno, orang yang menjadi tembok penghalang untukku. Kubayangkan itu Zoya… Orang yang membuat ini menjadi Sulit.. Dan aku bayangkan itu Shasha.. Orang yang selama ini menjadi dalang atas Kacaunya pikiran dan hidupku…
Sialan…!!!!
Mengingat wajah Shasha entah kenapa itu membuatku lemas. Berhenti memukul dan mulai duduk dilantai dengan nafas terputus-putus. Shasha Sialan…!!! kenapa hari ini aku mendatanginya..??? tidak… Aku harus menghindariya kembali.. Aku harus menjauh darinya kembali.. pikirku kemudian.
***
Bangun pagi aku merasakan tubuhku lebih bugar, mungkin karena olah raga yang kulakukan semalam. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 7. Sepertinya masih sempat kerumah skit terlebih dahulu sebelum meluncur kekantor Renno melakukan Rapat.
Mengingat itu, aku kembali menegang. Bagaimana sikap Renno nanti terhadapku..?? Bisakah kami profesional tanpa melibatkan hal pribadi..??
Melupakan hal tentang Renno, kini aku memeriksa ponselku. Hanya ada berapa Email dari sekertaris pribadiku. Tak ada satu pesan atau satu panggilanpun dari Zoya. Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Dan baru kusadari jika Zoya memang tak pernah meneleponku terlebih dahulu selama ini. Walau aku sedang tidur dengan wanita lain dia tak pernah mempermasalahkannya. Dan entah kenapa aku merasa seperti diabaikan.
Tak Ada kabar tentang Shasha… Sialan…!!!
Sebelum memikirkan banyak hal tentang gadis itu lebih baik aku bergegas mandi dan pergi kerumah sakit. Aku tak mau berakhir dengan kepala pusing atau Mastrubasi didalam kamar mandi hanya karena memikirkan Shasha.
***
Sedikit menyunggingkan senyuman mempesonaku saat melewati Resepsionis Lobi kantor Renno. Saat ini aku memang sudah didalam kantor Renno setelah tadi dari rumahsakit. Aku berjalan sesantai mungkin seakan-akan tak pernah ada masalah apapun yang terjadi.
Aku memang sangat mudah untuk menyembunyikan masalah ataupun ekspresi wajahku dihadapan semua orang. Tentu saja tidak jika di hadapan Shasha, Jika aku dihadapan Shasha, semuanya luntur begitu saja. Sosok yang kubangun, tembok penghalang yang kubangun, semuanya Ambruk hanya karena memandang wajahnya. Sialan..!!! aku benar-benar sudah parah.
Akhirnya sampailah aku tepat di depan ruangan Renno. Tak ada Chikka sekertarisnya, mungkin sedang keluar atau aapun, aku tak peduli. Kubuka ruangan tersebut. Dan aku mendapati Dhanni dan Renno menatapku dengan tatapan masing-masing.
Dhanni yang saat itu sedang berdiri menatapku dengan tatapan tak percayanya, Apa yang membuatnya menatapku seperti itu..?? Sedangkan Renno menatapku dengan tatapan Tajam berapi-apinya, seakan-akan ia ingin mengulitiku atau membakarku hidup-hidup. Dan saat ini aku baru sadar jika sekarang aku ada dalam sebuah masalah.. Sialan..!!!

 

_TBC_

Bagaimana pmanasannya..?? Hahhaha… oooiya.. Next Chapter aku akan hadirkan POV Shasha. Bagaimana sihh isi dikepala cantiknya itu… ok.. selamat menunggu chapter selanjutnya.. 😉 🙂

Please Stay With Me – Chapter 3

Comments 6 Standard
PSWMPlease Stay With Me

 

NB ; Chapter ini POV Revan yaa.. 🙂

 

Chapter 3

 
-Revan POV-
Hujan di sore ini tak menyurutkan niatku untuk menemuinya. Tak lupa aku membelikannya seikat bunga mawar merah untuknya, melambangkan perasaan cintaku yang masih membara untuknya. Sang penjual Bunga bahkan hafal dengan bunga pesananku. 8 tangkai bunga mawar merah yang di ikat menjadi satu. Kenapa 8..? aku sendiri juga tak tau. Aku hanya sedikit mengingat perkataannya jika angka delapan melambangkan angka keabadian, angka yang tak ada titik putusnya seperti angka-angka yang lain.
Dan aku berharap Cintaku padanya juga seperti angka 8. Yang abadi dan tak akan pernah putus.
Dengan meengenakan payung hitam dan juga setelan Hitam, seperti biasa aku menghadapnya dengan tenang. Menghadap batu nisannya….
Aku tak mempedulikan hujan yang sedikit membasahi bajuku. Aku tak mempedulikan orang yang melihatku dan berkata jika aku gila. Yaa aku memang gila.. Tuhan… aku benar-benar tak bisa hidup tanpa wanita yang terbujur kaku di balik tanah yang kuinjak sekarang ini…
Aku menatap baatu nisannya seakan-akan aku menatap wajahnya.. wajah yang perlahan mulai memudar dalam ingatanku. Aku berusaha sekeras tenaga untuk mengingat masa-masa dimana kami bahagia bersama.
Aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu. Gadis yang ceria, Agresif dan Posesif. Itulah Talita… Lita kekasihku. Aku menyayanginya, sungguh sangat menyayanginya. Dialah wanita satu-satunya untukku. Tapi tentu saja Cinta kami tak berjalan mulus dan itu menyebabkan dia meninggalkanku untuk selama-lamanya…
Seseorang yang ingin memisahan kami membuat kekacauan dengan menfitnahnya berselingkuh dengan lelaki lain. Padahal saat itu dia sedang mengandung Anakku, dan dengan bodohnya aku mempercayai orang tersebut. Aku meningggalkannya, mencampakannya begitu saja. Mungkin karena itu dia bunuh diri dan meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Aku yang saat itu baru tau kebenarannya berusaha untuk mencarinya. Dan dua tahun yang lalu aku mendapati jika dia sudah meninggal karena bunuh diri.
Bodoh.. aku benar-benar lelaki bodoh. Segampang itukah aku mempercayai perkataan orang…??? Aku menggelap, duniaku menghitam. Tak ada lagi cahaya untukku berjalan. Aku hanya bisa berhenti ditempat dan menoleh kebelakang. Menoleh kepada masa-masa indahku dengan Lita, menoleh kepada kesalahanku.. dan menoleh pada penyesalan terdalamku.
Sungguh.. aku sangat menyesal. Aku tak memiliki tujuan hidup lagi. Dan aku tak memikirkannya lagii.. aku hanya ingin meninggalkan semuanya dan kembali bersama Lita.. tapi semuanya menjadi sulit ketika Gadis itu datang.. Gadis Bodoh yang memperlakukan dirinya sebagai pelayan pribadiku demi gelar seorang Istri. Aku tau dia menderita.. tapi aku juga lebih menderita..
“Hai… Bagaimana kabarmu..?” Sapaku pada Batu Nisan Lita.
“Apa Kau tau jika hariku semakin memburuk..?”
“Datanglah kemimpiku.. Aku merindukanmu..”
Aku tersenyum masam, memang seperti ini keseharianku. Saat makan siang atau ada waktu luang di sore hari, aku akan menyempatkan diri untuk mengunjunginya.
“Apa Kau tau, Dia Kacau.. Dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Apa yang harus kulakukan..?” tanyaku lagi.
“Akhir-akhir ini dia berbeda. Dia tak lagi menjadi pelayan pribadiku.” Kataku mulai bercerita.
Dara.. Istriku, Dia adalah Gadis baik tapi Bodoh. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman atau sahabat dari hana, adikku. Tapi aku tak menyangka jika ibu menyuruhku untuk menikahinya.
Saat itu aku hanya menuruti kemauan ibu yang sedang sakit keras. Ibu mau aku menikah dan melupakan semua masa laluku. Dan calonnya adalah Andara.. istri yang sampai kini tak pernah kusentuh karena aku memang tak memiliki perasaan lebih untuknya.
Kupikir Dara akan menolak lamaranku, tapi nyatanya dia menerimanya. Itu yang membuatku marah. Aku hanya ingin hidup sendiri tapi dia selalu menempel disekitarku dengan status seorang istri. Aku membuat hubungan kami sedingin mungkin hingga dia berhenti berharap, lelah dengan keadaan dan ingin berpisah denganku. Namun nyatanya.. dia bertahan hingga 2 tahun lamanya.
Sedikit Iba saat melihatnya. Dia mengabdi layaknya seorang pembantu pada majikannya. Tapi aku tak mengindahkan itu. Itu pilihan yang Dara pilih, itu bukan salahku.
Pertahananku kini sedikit demi sedikit mulai mencair. Wajah Lita mulai samar-samar dalam ingatanku. Dan anehnya wajah Dara lah yang teringat jelas dalam ingatanku. Apa karena hanya Dara yang sering kulihat..??
“Datanglah ke mimpiku… Sungguh, aku ingin melihat wajah manjamu sekali lagi.” Lanjutku kemudian.
“Aku takut Lita.. Aku takut jika Kau tak datang ke mimpiku, Aku akan melupakanmu.”
“Aku takut Tempatmu akan tergantikan dengan wanita lain.. Datanglah Lita.. kumohon.”
Aku berjongkok, mengusap-usap bahkan mencium batu nisannya. Aku merindukannya.. sungguh sangat merindukannya…
***
Saat ini aku sudah berada di halaman depan rumahku. Setelah mengunjungi Lita aku memutuskan untuk pulang. Aku merasa badanku sedikit tak enak. Entahlah… mungkin daya tahan tubuhku menurun.
Masuk kedalam, Aku merasa rumah sangat sepi. Aku memang tak pernah pulang sore seperti ini. Aku melihat kanan kiri dan yang kulihat hanya beberapa pelayan Rumah ini.
“Revan.. kamu kok sudah pulang..?” Tanya ibu yang bergegas keaarahku.
“Aku sedikit tak enak badan Bu.. Aku mau istirahat.”
“Baiklah.. Tidurlah dulu. Nanti ibu bangunkan saat tiba makan malam.”
Dan akupun mengangguk. Lalu bergegas pergi ke kamar. Tapi baru beberapa langkah aku berhenti. Sepertinya ada yang aneh.
“Ada apa Rev..?” tanya ibu lagi.
“Dimana Dara..?” Dan aku sedikit tak sadar ketika menanyakan keberadaan wanita itu.
“Dara Kerja, dia belum pulang. Biasanya jam 6 baru pulang.”
“Kerja..? Kerja apa..?”
“Dia kerja di salah satu restoran cepat saji.”
“Untuk apa dia kerja..?”
“Dia terlalu bosan dirumah sendirian tanpa ada yang di kerjakan.” Jwab ibu kemudian. “Tumben sekali Kau menanyakannya..?”
Dan akupun kembali bergegas menuju kamarku tak mempedulikan pertanyaan terakhir ibu. Yaa… Tumben sekali aku menanyakannya..? Ahh sudah lah…. bukankah itu bagus jika dia kerja berarti semakin kecil kemungkinanku berinteraksi dengannya.
Akupun masuk kedalam kamar. Menaruh tas dan Jasku pada tempatnya. Melonggarkan dasiku lalu duduk di tepian ranjang dan bergegas membuka sepatuku.
‘Degg…’
Aku merasakan ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang salah disini. Apa itu..?? tapi aku tak menghiraukannya. Akupun bergegas masuk kedalam kamar mandi. Dan lagi-lagi perasaan aneh itu datang kembali. Perasaan apa ini..??
Dan ketika aku mengingatnya aku beru menyadari jika aku kehilangan suatu perasaan yang selama dua tahun ini kurasakan. Perasaaan dilayani.
Jika biasanya ada seorang yang menyambutku saat aku pulang dari kantor, saat ini tak ada lagi. Tak ada yang menyiapkanku air hangat, tak ada yang memilihkanku baju bersih, tak ada yang membuka sepatuku, dan tak ada juga yang menyiapkan secangkir kopi saat aku sedang bekerja di ruang kerja.
Kenapa ini…?? Kenapa aku merasa kehilangan dia..??
Beberapa hari ini memang ada yang sedikit berbeda dengan Dara. Dia cenderung menghindariku. Walau selama ini aku berusaha bersikap dingin dan mendiaminya tapi dia selalu mencoba untuk mengajakku berbicara, tapi beberapa hari ini dia berbeda.
Apa karena pernyataan cintanya saat itu..?? Ahh… mungkin saat itu Dara hanya mengada-ada saja.
Apa Dara memiliki kekasih lain di luar rumah..? Dan entah kenapa aku sangat tak setuju dengan pemikiran terakhirku tersebut. Dara tak mungkin memiliki kekasih lain di luar rumah. Aku mengenyahkan semua pikiran-pikiranku dan mulai bergegas masuk kedalam Bathup. Mandi air dngin tentunya. Seusai mandi dan berganti pakaian dan melemparkan diri diatas ranjang empukku. Tak lama kesadarankupun terenggut bersama dengan datangnya mimpi indahku.

“Haii kak..” Walau sedikit samar dia terlihat cantik, sangat cantik. Wajahnya bercahaya, senyumnya mempesona bahkan kini dia terlihat mengenakan sepasang sayap. Sangat mirip dengan seorang bidadari.
“Talita…” ucapku tak percaya dengan apa yang kulihat.
“Apa Kak Revan bahagia..?” tanyanya dengan memberikan sebuah senyman manisnya.
“Aku sangat menderita. Ajak aku bersamamu..”
“Tidak Kak.. Kau akan lebih bahagia bersamanya.. jangan takut untuk bahaga Kak..” kata Lita yang mulai perlahan-lahan menjauh.
“Tidak sayang jangan tinggalkan aku..” tapi bayangan Lita tetap saja menjauh. Cahayanya memudar. Dan perlahan-lahan menghilang digantikan oleh sosok wanita yang selama ini berada di sisiku, Andhara…

Aku terbangun dengan keringat dingin. Tapi aku masih merasakan tubuhku demam. Ada apa ini..? apa arti dari mimpi itu..? kenapa bisa Dara menggantikan posisi Lita..?? aku melihat jam di nakas menunjukkan pukul 10 malam. Menolehkan kepalaku kekanan dan kekiri, dan aku tak mendapati apapun kecuali mampan yang berisi berbagai menu makan malam.
Apakah Dara yang menyiapkannya..??
Ahh kenapa aku memikirkannya. Mungkin ini ibu yang melakukannya. Lagi pula Dara kan belum pulang. Belum pulang..?? Apa yang diaa lakukan hingga malam sudah larut tapi dia belum pulang juga..?? Apa terjadi seuatu padanya..??
Aku lalu menyambar Kimono tidurku dan begegas keluar dari kamar. Sedikit teringat dengan mimpi anehku tadi. Apa artinya itu..?? Apa itu artinya aku harus memulai hidup baru dengan Dara..?? Tidak.. itu tak mungkin terjadi. Karena kesalahanku Lita meninggal. Jadi bagaimana mungkin aku bisa hidup bahagia dengan wanita lain..?? tidak… Aku harus setia dengan Lita hingga hatiku sendiri yang memutuskan untuk menyerah dan kalah….
Dengan sebuah kopi hangat di tanganku, Aku duduk diatas ayunan yang berada di halaman depan rumah. Malam ini sangat tanang dan terang, meski sedikit basah karena di guyur hujan tadi sore, namun aku tetap menikmatinya.
Hingga sebuah motor bebek berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahku. Seorang lelaki berseragam pengantar Pizza memberhentikan motornya didepan gerbang rumahku. Dia membonceng seseorang yang kini kuyakini adalah Dara, Istriku. Dara juga mengenakan pakaian yang sama. Mereka kerja di tempat yang sama.
“Terimakasih Ndre.. mau mengantarku.” Aku sedikit mendengar suara Dara yang terdengar tulus dan riang.
“Iya.. itu bukan masalah.”
“Baiklah, aku masuk dulu, kau berhati-hatilah.” Katanya lagi sambil melambaikan tangannya hingga motor itu mengilang dibalik tikungan jalan.
Aku melihatnya masuk tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya kearahku. Mungkin dia tak tau jika aku berada di sini.
“Dari mana saja Kau..?” Dan suara dinginku tersebut keluar memecah keheningan.
Sedikit terkejut dia menoleh kearahku. “Mas Revan…” Lirihnya.
Aku berjalan dengan langkah sangar kearahnya. Dia terlihat menciut. “Dari mana saja Kau..? Kau tau ini hampir tengah malam..?” Tanyaku lagi penuh dengan penekanan.
“Aku kerja.”
“Apa uangku masih kurang untuk membiayai hidupmu..?”
“Tidak, bukan seperti itu.”
“Lalu apa.?”
“Aku hanya ingin punya kegiatan dan punya banyak teman.”
“Teman yang bisa mengantar jemput sesuka hatinya maksudmu..?” Tanyaku dengan sedikit menyindir. Akupun tak tau kenapa aku ikut campur urusannya, Aku hanya tak suka diabaikan. Tanpa menunggu jawabannya, aku kembali masuk meninggalkannya bediri membatu di depan pintu.
***
Dengan kasar aku duduk dan bersandar di kursi Ruang kerjaku. Sepertinya malam ini dan seterusnya aku harus tidur disini. Kenapa..?? tentu saja semua itu ada hubungannya dengan istri bodohku itu.. sedikit banyak dia mulai mempeengaruhiku. Aku mulai ketagihan dengan kesetiaan dan pelayanannya hingga ketika dia tak melayaniku, aku merasa kehilangan.
Aku harus menghilangkan perasaan ini secepatnya…
Ditambah lagi Lita yang tak pernah masuk dalam mimpiku, kalaupun dia masuk, pasti seperti tadi, Wajahnya terlihat samar tak jelas. Hingga aku takut cepat atau lambat aku akan melupakannya. Tidak.. itu tak boleh terjadi…..
Lita kekasihku.. kekasih hatiku…

 

TBC

ada yang nungguin kelanjutanya nggak…??? Kalo nggak ada yaa nggak apa-apa.. hahhahah