Because It’s You (Novl Online) – Chapte 5

Comments 16 Standard

BiyCover2

Because It’s You

 

Chapter 5

 

Ini sudah yang kesekian kalinya Renno ingin menyatukan diri dengan Maya.. tapi semua usahanya sia-sia.. ketika wajah Allea tiba-tiba terbayang di benaknya entah kenapa gairahnya seakan-akan mati seketika… hal ini sudah terjadi semenjak seminggu terakhir ini setelah dia makan malam dengan Allea. Bahkan Renno juga sudah mencobanya dengan wanita lain tapi semuanya tetap sama.

Dia tak bisa lagi bercinta dengan sembarang wanita….

Ada apa ini..?? kenapa jadi seperti ini..?? apa ini hukuman buat dirinya karena sudah menghamili wanita baik-baik..?? tapi ia kan sudah bertanggung jawab, meski tak menikahinya tapi setidaknya dia sudah perhatian dengan wanita itu..
“Kamu kenapa sihh sayang… jangan bilang kalau kamu… kamu mulai impoten..” gerutu maya dengan kesal.
“Sialan.. bisa-bisanya kamu bilang aku Impoten..” Renno benar-benar tersinggung dengan perkataan Maya.
“Abisnya kamu selalu seperti itu… kamu Cuma bisa Foreplay aja, tapi ketika akan mulai kamu…”
“Cukup.” Potong Renno dengan dingin. “Keluar dari Apartemenku sekarang juga..” Desis Renno dengan Dingin.
“Kamu ngusir aku..?”
“KELUAR.” Kali ini Emosi Renno benar-benar sudah sampai di ubun-ubun. Dia kesal dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Dia bingung kenapa wanita itu bisa sangat mempengaruhinya..??
Akhrirnya setelah selesai berpakaian Mayapun keluar dengan bibir manyunnya dari Apartemen Renno. Renno mengusap wajahnya dengan frustasi. Sialann..!! apa yang sedang terjadi dengannya..?? dia alu bergegas menelepon seseorang.
“Halo..??” kata suaara di seberang.
“Lo dimana..?”
“Dirumah lah… dimana lagi malam-malam gini.”
“Temenin Gue Keluar Dhann.. Gue butuh teman ngobrol.”
“Sialan Lo.. Apa nggak bisa besok aja..??”
“Gue butuh sekarang.” Dan Rennopun menutup teleponnya tanpa menghiraukan Dhanni yang mengumpat.
***
Sudah lebih dari 5 menit Renno menunggu Dhanni Di Cafe langganan tempat mereka ngumpul bareng. Sialan..!!! apa mungkin Dhanni nggak akan datang kesini..? apa aku harus kerumah Allea saja..?? Allea..?? kenapa bisa aku memikirkan wanita itu..?? gerutunya dalam hati.
Akhirnya dilihatnya Dhanni datang menghampirinya, dengan celana Jeans pendek santainya dan kaos oblong yang bembuatnya tetap keren walau sudah berkepala 3 dan hampir memiliki 2 orang anak.
“Lo ngapain sih malem-malem gini ganggu orang aja..” Semprot Dhanni saat sampai di hadapan Renno.
“Gue Cuma pengen ngobrol aja..” Jawab Renno cuek.
“Sialan Lo.. kenapa nggak ngajak Ramma..?”
“Si Ramma pastinya udah ngumpul sama pacar-pacarnya malem-malem kayak gini..” Jawab Renno kemudian. “Dhann… Lo kan udah cinta sama Nessa sejak lama, Gimana caranya Lo bisa bercinta dengan wanita lain sedangkan fikiran Lo penuh dengan Nessa..??”
“Kenapa Lo tanya tentang hal itu..??”
“Gue… Sepertinya Gue sudah gila..” kali ini Renno berkata dengan nada Frustasi.
“Renn.. Lo kenapa Sih… Lo berantakan banget tau nggak..??”
“Shiitt…!!! Gue nggak bisa bercinta dengan wanita lain saat Pikiran Gue penuh dengan wanita sialan itu Dhann..??”
“Wanita itu..?” tanya Dhanni bingung. “Ahhh.. Wanita yang Lo hamili itu..?? hahahha jangan bilang kalo Lo sudah mulai Cinta ama wanita itu..” lanjut Dhanni.
“Gue nggak Cinta… Tapi… Dia selalu muncul di fikiran Gue dan itu benar-benar membuat Gue Frustasi.”
“Itu langkah Awal Renn..”
“Langkah Awal apa maksud Lo..?”
“Langkah Awal menuju Zona Bahaya..” Jawab Dhanni dengan sungguh-sungguh.
“Sialan..!! Nggak.. Nggak… Gue nggak mungkin ngalamin itu lagi.. ini Cuma Rasa bersalah aja Dhann.. bukan perasaan Sialan itu..” Renno mencoba mengelak.
Dhanni megangkat kedua bahunya. “Semua yang ngrasain Lo Renn… Gue Cuma ngasih pendapat sesuai pengalaman Gue..”
Renno lalu termenung. Dia memikirkan perasaannya yang tak menentu. Tidak.. ini bukan Cinta… mana mungin dia jatuh cinta dengan seorang yang biasa-biasa saja seperti Allea. Mungkin ini hanya rasa bersalah kepadanya.. Rasa Kasihan kepada wanita itu… Tidak… ini sama sekali bukan perasaan sialan itu.. Renno masih saja sibuk dengan fikirannya sendiri.
“Dhann… Apa jadi ayah itu sulit..?” Tanya Renno tiba-tiba.
Dhanni hanya tersenyum. “Nggak Renn… Lo akan tau bagaimana bahagianya jadi ayah setelah anak Lo lahir kedunia..” jawab Dhanni dengan pasti.
“Emm… apa jadi suami itu merepotkan..?” Tanya Renno lagi dengan nada Ragu.
“Hahhaha kenapa Lo nanyain itu..?? Jangan bilang kalo Lo berfikir mau nikahin wanita itu..?” tanya Dhanni dengan tawa mengejeknya.
“Sialan Lo.. Gue serius..”
“Ok.. Ok… karena Gue nikahin Nessa karena Cinta maka Gue Jawab Kalo Nikah itu sangat menyenangkan.. Gue seneng karena setiap kali Gue pulang dengan keadaan Lelah ada seorang yang Gue Cintai menyambut dengan senyumannya. Itu bener-bener nggak akan tergantikan dengan apapun Renn..” Jawab Dhanni dengan nada sungguh-sungguh. “Tentunya itu akan berbeda jika Gue nikahnya karena terpaksa..” tambahnya.
Renno menghela nafas panjang.. dia bingung apa yang harus ia lakukan..
Cukup lama mereka berbincang-bincang di Cafe tempat mereka nongkrong tersebut. Dhannipun akhirnya pamit pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Renno akhirnya sendiri lagi. Ingin dia menghubungi Ramma tapi di urungkannya niatnya. Si Ramma pasti masih asyik dengan para wanita-wanitanya..
Renno Akhirnya menjalankan mobilnya kembali… mengelilingi kota jakarta.. dan entah kenapa dia menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.. rumah sederhana itu… yang beberapa hari ini sering dia kunjungi… Sialan….!!! bagaimana bisa dia menghentikan mobilnya disini..? apa yang dia cari??
Diketuknya pintu rumah itu berkali-kali.. tapi tak ada yang membuka pintunya. Ada apa..? apa ada sesuatu yang terjadi dengannya..?? kenapa dia tak membuaka pintunya..?? pikir Renno panik, akhirnya Rennopun mengetuk pintunya semakin keras lagi.
“All… buka pintunya,.. ini aku..” Renno mulai bersuara karena pintu tak kunjung di buka. “All….”
Dan akhirnya terbukalah pintu itu, menampilkan sosok Allea dengan rambut di ikat seadanya khas orang bangun tidur. “Mas Renno.. kenapa di sini..?” Tanya nya sedikit terkejut.
Bukannya menjawab Renno malah menyerobot masuk kedalam.
“Mas Renno ngapain…?” tanya Allea heran dengan tingkah Renno yang ternyata sudah masuk kedalam dan melihat-lihat semua ruangan yang ada di dalam rumahnya tersebut.
“Aku mau nginep sini..” Dan perkataan Renno itupun sontak membuat Allea Membelalakkan matanya tak percaya. Ada apa dengan lelaki ini..???
***
Allea benar-benar tak menyangka jika dirinya akan berada diatas Ranjang mungilnya dengan Renno di sebelahnya. Dia masih tak habis fikir.. kenapa bisa lelaki seperti Renno ingin menginap di rumahnya yang sangat sederhana ini. Dikamar yang sama.. ranjang yang sama…
Sebenarnya tadi Allea sudah bilang jika tak ada kamar dan ranjang lain di rumahnya. Namun Renno masih saja ngotot ingin menginap. Allea sudah mengalah, dia mau tidur di sofa ruang tamu, tapi Renno melaranganya. Renno bilang dia akan nyaman jika sama-sama tidur di atas ranjang yang sama dengan Allea. Apa maksud dari perkataan lelaki itu..???
Dan akhirnya seperti inilah… Mereka tidur di ranjang mungil Allea dengan saling memunggungi, ranjang yang ukurannya hanya separuh dari ukuran ranjang King Size nya Renno membuat punggung mereka saling menempel, dan itu membuat keduanya sama-sama saling gelisah. Debaran jantung keduanyapun seakan terdengar di segala penjuru ruangan. Allea tak berani bergerak, sesekali dia menghela nafasnya panjang, tanda jika dia tak nyaman dengan posisi seperti ini. Begitupun dengan Renno, dia merasakan suasanan di sekitarnya menjadi memanas, ia merasa sangat gugup hingga tak berani bergerak, padahal ia tak pernah segugup ini ketika berada di atas ranjang dengan seorang wanita.
“Kamu… Nggak bisa tidur..??” Akhirnya dengan susah payah Renno mulai berbicara.
“Emm…” Allea tidak tau harus menjawab apa.
Tiba-tiba Renno membalikkan badannya, lalu memeluk Allea dari belakang. Seketika itu juga membuat tubuh Allea kaku karena terkejut. Renno memposisikan kepala Allea supaya berbantalkan lengan kanannya. Sedangkan tangan kirinya sudah memeluk perut Allea dari belakang, dan sesekali mengelusnya. Ini pertama kalinya Renno mengelus perut Allea yang didalamnya ada darah dagingnya. Dia merasakan perasaan aneh.. seperti senang bercampur dengan takjub… dia masih tak menyangka jika sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.
Alleapun demikian, tubuhnya semakin menegang karena sentuhan Renno. Perasaannya semakin aneh dan tak menentu. Apa yang terjadi dengan lelaki ini..?? tapi disisi lain dia merasa sangat nyaman dan tenang. Mungkinkah ini karena bayinya yang selalu ingin dekat dengan ayahnya..???
“Apa ini nyaman..?” tanya Renno lagi memecah keheningan masih dengan mengelus perut buncit Allea. Sedangkan Allea tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya mengangguk. “Tidurlah… kamu harus banyak istirahat..” kata Renno lagi.
Tanpa disuruhpun Allea sedikit demi sedikit mulai menutup matanya. Mungkin karena lelah.. mungkin karena mengantuk.. atau mungkin juga karena kenyamanan yang diberikan Renno sehingga membuat Allea tertidur seketika dengan pulasnya. Rennopun demikian.. dirinya merasakan perasaan yang sangat nyaman hingga membuatnya tertidur lengkap dengan mimpi indahnya….
***
Renno terbangun dengan badan yang pegal-pegal. Bagaimana tidak, semalaman dia susah bergerak di ranjang mungil Allea yang mereka tiduri berdua. Allea..?? mengingat nama itu Renno langsung terbangun seketika melihat di sebelahnya sudah kosong. Kemana wanita itu..??? Renno mencari jam tangannya yag di taruh di meja sebelah ranjang Allea tadi malam, dan alangkah terkejutnya ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 siang. Sial..!! pagi ini dia ada rapat penting, bisa-bisanya dia tidur hingga siang.
Renno lalu bergegas memakai pakaiannya kembali. Yah.. karena dia tak bisa tidur jika tidak telanjang dada makanya tadi malam suka tak suka dia tetap tidur dengan bertelanjang dada tanpa menghiraukan Allea yang memandangnya dengan tatapan gugupnya..
Ketika Renno keluar dari kamar, Aroma menngiurkan itu tercium oleh indera penciumannya. Aroma masakan.. Apa Allea sedang memasak..?? Renno lalu bergegas mengikuti aroma masakan itu yang ternyata menuju kearah dapur. Dan benar saja, disana sudah ada Allea yang sibuk memasak sesuatu, Renno memandangnya dengan tatapan tak terbacanya.
“Ehhhmmm..” Renno mencoba mengalihkan pehatian Allea dengan berdehem. Allea akhirnya menoleh kearah Renno. “Emmm aku pamit pulang, Ada Rapat penting pagi ini.” Dengan nada sedikit canggung Renno berpamitan.
“Emm.. tapi aku sudah memasak..”
“Makanlah… Aku sudah telat.”
“Tunggu…” Kata Allea sambil mempersiapkan sesuatu, beberapa menit kemudian. “Aku tadi masak terlalu banyak, sayang kalau di buang. Mungkin Mas Renno mau makan ini nanti siang, jadi Mas Renno bawa aja..” Allea berkata sedikit lebih panjang dari biasanya sambil menyodorkan sebuah kotak bekal kepada Renno.
Renno memandangnya dengan tatapan tak percayanya. Bekal..?? Astaga.. bahkan saat TK pun dirinya tak pernah membawa bekal dari rumah. Dan sekarang, ada orang yang menurutnya masih ‘asing’ memberinya Bekal saat umurnya sudah menginjak kepala tiga…?? Apa dia akan menerimanya..??
“Kenapa..? Mas Renno nggak mau..? memang ini Cuma nasi goreng biasa, tapi..”
“Sini aku bawa.” Kata Renno singkat sambil menyambar Bekal pemberian Allea.
Alleapun tersenyum senang. Sedangkan Renno masih bingung dengan apa yang sudah dia lakukan.. Astaga… hanya dengan memandang wajah sendu wanita dihadapannya ini saja ia tak akan bisa menolak permintaannya. Benar-benar sudah gila…
***
Lagi-lagi Renno melamun dengan memandang kotak bekal yang ada dihadapannya. Tutupnya sudah di buka, menampilkan Nasi goreng yang terlihat sederhana dan biasa-biasa saja. Jika dia biasanya memakan Goreng dengan toping aneka macam Seafood, Sayuran seperti kacang polong dan lain-lain, maka berbeda dengan Nasi Goreng ala Allea yang berada di hadapannya saat ini. Terlihat benar-benar biasa, hanya ada beberapa potong sosis, sawi, dan telur orak-arik yang menghiasi Nasi goreng tersebut. Astaga… bahkan mungkin orang yang melihatnya tak akan tertarik memakannya, tapi entah kenapa itu sangat berbeda dengan Renno.
Dia semakin penasaran….
Di cobanya sesuap Nasi goreng tersebut, dan…. ‘Tenyata dia pintar masak’ Kata itu yang terlintas di pikirannya. Ini bahkan lebih enak dari pada masakan koki-koki yang biasa memasakkannya. Ini bahkan lebih menggiurkan daripada tampilan luarnya saja…
Apa Allea juga seperti itu…??
Sialan…!!! kenapa tiba-tiba dia menyangkut pautkan makanan dengan Allea..?? tapi masakan ini benar-benar enak.. Sepertinya… Sepertinya ia akan ketagihan..
Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka oleh seseorang. “Lo telat lagi yaa pagi ini..” Tanpa basa-basi Ramma langsung mengkeritiknya.
“Lo sudah seperti Satpam perusahaan Gue aja.. mau gue telat juga terserah Gue.” Jawab Renno cuek.
“Sialan Lo… ini bukan masalah telat atau enggak Renn.. ini masalah Lo…”
“Kenapa dengan Gue.”
“Lo udah mulai terpengaruh dengan wanita itu..” Jawab Ramma dengan nada sungguh-sungguh.
Renno hanya terdiam terpaku..? Apa benar yang dikatakan oleh Ramma..? apa mungkin dirinya sudah mulai tertarik dengan wanita itu..?? tidak.. tidak mungkin… ini hanya rasa bersalah dan rasa kasihan saja.. pikirnya kemudian.
“Gue tau kalau ternyata tadi malem Lo nginep dirumahnya.” Kata Ramma lagi.
“Lo ngikutin Gue..??”
“Ini bukan masalah Gue ngikutin Lo atau nggak Renn.. Ini masalahnya ada pada diri Lo.. Kalo Lo benar-benar serius ingin tanggung jawab, Nikahin dia. Kalo nggak, Lupakan dan tinggalkan saja. Dia tidak seperti wanita-wanita yang ada di dekat kita selama ini..”
“Kenapa Lo perhatian sekali sama dia..??” Tanya Renno dengan menyipitkan matanya.
“Gue hanya peduli.” Jawab Ramma tegas.
“Dan atas dasar apa Lo peduli..?” Tanya Renno lagi masih dengan nada menyelidik.
Ramma membelalakkan matanya. “Lo Cemburu..?”
“Shitt..!! mana mungkin wanita seperti dia membuat Gue cemburu..?” Kata Renno dengan santai berusaha menutupi perasaannya yang masih bergemuruh. Sialan…!! kenapa bisa dia kehilangan Kontrol di hadapan Ramma.
“Ekspresi dan tingkah laku Lo sangat menunjukkan kalau Lo sedang Cemburu..” Kata Ramma yang mulai tersenyum dengan senyuman mengejeknya. “Dan ini… Apa ini…??? Sebuah bekal..??? Seorang Renno Handoyo memakan sebuah bekal Rumahan..??? hahahah Apa Gue nggak salah lihat..?? Sepertinya Dhanni benar kalo ternyata Lo sudah mulai masuk dalam ‘Zona Bahaya’..” lanjut Ramma lagi masih dengan senyuman mengejeknya.
“Sialan Lo..” Renno hanya bisa mengumpat.
“Jadi… sebenernya apa masalah Lo..? kenapa Lo bisa berakhir di rumahnya tadi malam..?” tanya Ramma penasaran.
“Gue nggak bisa bercinta dengan wanita lain.” Jawab Renno dengan nada cueknya.
“Apa..? kenapa bisa..?”
“Gairah gue mati seketika saat ingat wajah wanita sialan itu.” Kali ini Renno mengatakan itu dengan nada kesalnya. “Bahkan si Maya bilang kalo gue mungkin sudah Impoten.” Tambah Renno lagi dengan nada tak kalah kesalnya.
Ramma yang mendengarnyapun tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Astaga.. pengakuan Renno benar-benar membuatnya tak berhenti tertawa.
“Sialan Lo.” Renno mengumpat saat Ramma belum juga berhenti tertawa.
“Renn… Lo ternyata lebih parah dari pada Dhanni. Dhanni emang Cinta sama Nessa sejak 10tahun sebelum pertemuan mereka, tapi setidaknya Dhanni masih bisa bercinta dengan wanita lain saat itu. Sedangkan Elo… hahhahaha Lo udah parah Renn.” Kata Ramma masih saja dengan tertawa.
”Terus.. Menurut Lo Gue mesti gimana..?”
“Ajak dia bercinta.” Jawab Ramma dengan cepat.
“Brengsek Lo.. mana mungkin Gue bercinta dengan dia lagi..”
“Kalo Lo masih bisa bercinta dengan dia setidaknya itu membuktikan jika fisik Lo masih Normal dan hanya otak Lo yang sudah kacau.” Jawab Ramma menjelaskan.
“Tapi Gue nggak mungkin bercinta dengan dia lagi Ramm..”
“Itu saran mutlak dari Gue Renn..” jawab Ramma.
“Sialan..!! Lo bener-bener mau membuat Gue terjerumus kayak Lo..?”
“Hahahah Setidaknya Gue nggak jadi Lelaki Bodoh seperti Lo dan Dhanni yang hanya terobsesi dengan satu wanita.” Jawab Ramma dengan mengejek.
“Gue nggak terobsesi dengan dia..” bantah Renno. “Tapi apa Lo yakin Lo nggak pernah ngalamin seperti yang gue alami saat ini..?? nggak ada satupun wanita yang bikin Lo gagal bercinta..??” Kali ini Renno bertanya dengan nada penasaran. Yahh… Ramma sebenarnya cukup tertutup dengan perasaannya. Dia lebih suka di kenal sebagai Playboy yang nggak punya hati bahkan dengan sahabatnya sendiri.
“Pernah.” Jawaban Ramma benar-benar membuat Renno terkejut. “Karena Adek Lo.” Dan setelah kalimat kedua Ramma Wajah Renno langsung menegang. Ekspresinya tak terbaca.
“Sialan Lo..!” desis Renno.
“Hahhahaa Gue balik.” Kata Ramma tiba-tiba sambil meninggalkan Renno yang masih termenung sendiri.
Ramma dan Shasha..??? ahh nggakk.. nggak boleh… Ramma nggak mungkin menganggap Shasha sebagai mangsanya. Ramma sudah janji kepadanya dulu.. Ramma nggak mungkin menghianatinya… pikir Renno kemudian.
Sedangkan Ramma sendiri keluar dengan wajah muramnya, sangat berbeda saat berada di hadapan Renno tadi. Entah kenapa ketika membahas tentang Shasha semuanya akan menjadi kacau untuknya. Dia butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya kembali.. Diambilnya Smartphone di balik Jasnya. Lalu dia mulai menghubungi seseorang.
“Halo..” kata suara di sebrang dengan lembut.
“Sayang.. Aku butuh kamu.”
“Aku tunggu di studiomu yaa sayang..”
“Jangan.. aku kebutikmu saja..”
“Ok.. See you..” Dan teleponpun di tutup.. Rammapun menghela nafas leganya kembali.

****
Malam ini Allea pulang sendiri, dia memang tak berniat untuk menunggu Renno. Sudah seminggu ini Renno memang selalu menjemputnya tapi sepertinya malam ini lebih baik dia pulang sendiri karena dia ingin berbelanja kebutuhannya di supermarket terdekat.
Memikirkan tentang Renno membuat pipinya merona. Astaga… apa yang terjadi dengan lelaki itu..?? selalu saja pertanyaan ini yang muncul di benaknya. Allea menghentikan langkahnya di supermarket langgananya. Dia mulai masuk dan memilih-milih barang yang akan di belinya.
“Kenapa nggak nungguin aku..?” Tanya suara dingin yang sontak mengagetkannya.
“Emm Aku fikir.. Mas Renno..”
“Jangan pernah pulang sendiri.” Potong Renno masih dengan nada dingin.
“Iyaa.. maaf..”
“Kamu belanja apa..?”
“Cuma kebutuhan sehari-hari.”
“Masakkan aku malam ini.” Kata Renno tiba-tiba.
“Apa..?” Allea sedikit terkejut mendengarnya.
“Masakanmu enak, masakkan aku lagi malam ini.”
Dan Alleapun hanya mengangguk, dia tak bisa menjawab apa-apa karena sibuk mengatur debaran jantungnya yang entah kenapa seperti bom yang akan meledak.
Selesai berbelanja Akhirnya mereka bergegas untuk pulang kerumah Allea, tapi ketika sampai di parkiran supermarket tersebut langkah Renno terhenti ketika melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang berjalan mendekati mereka sambil bergandeng mesrah. Mereka adalah Dhanni dan Nessa. Tubuh Renno langsung menegang ketika melihat pemandangan itu Allea pun merasakan ketegangan yang dialami Renno.
“Lo Ngapain disini..?” tanya Dhanni yang sudah berada di hadapan Renno dan Allea.
“Nemenin dia belanja.” Jawab Renno cuek.
“Udah mulai Belanja bareng eehh..” Ejek Dhanni.
“Sialan Lo..” Umpat Ramma.
“Siapa Kak..? kenapa nggak di kenalin sama kita..?” Tanya Nessa kepada Renno yang sejak tadi sudah mempehatikan Allea.
“Emm bukan siapa-siapa. Lebih baik kalian cepat belanja sebelum Supemarketnya tutup.” Jawab Renno dengan santai. Dan entah kenapa Allea measa sedih saat mendengar perkataan Renno tersebut. Ternyata Renno tak pernah menganggapnya lebih. Lalu apa arti perhatiah-perhatiannya selama ini..???
“Ayoo sayang, mungkin Renno belum siap ngenalin sama kita.” Kata Dhanni kemudian.
“Kak.. kapan-kapan ajak main kerumah ya..” Kata Nessa sambil tesenyum kearah Allea. Alleapun ikut tesenyum kepada Nessa. Sedangkan Renno hanya diam tak menjawab. Akhirnya Nessa dan Dhannipun masuk kedalam supermarket. Sedangkan Renno dan Allea masuk kedalam mobil untuk bergegas pulang.
“Emm… tadi itu.. siapa..?” Dengan ragu-ragu Allea bertanya. Allea masih melihat ketegangan pada ekspresi wajah Renno, dan Allea fikir itu ada hubungannya dengan pasangan Tadi.
“Dhanni dan Nessa. Sahabatku.” Jawab Renno singkat dan dingin.
Dhanni..? Nessa..? astaga.. Nessa..?? jadi itu wanita yang di cintai lelaki ini yang menikah dengan sahabatnya sendiri seperti yang di ceritakan Shasha..?? Dan Nessa… nama itu… Astaga… itu adalah nama yang berkali-kali di sebut lelaki ini saat bercinta dengan dirinya dulu.. Jadi wanita itu adalah wanita yang sangat di cintai lelaki ini hingga melupakannyapun tak sanggup… pantas saja Lelaki ini tadi tak mau mengenalkan dirinya kepada mereka.. memangnya siapa dia..?? dia hanya wanita tak tau diri yang mengambil keuntungan dari lelaki ini dengan keadaannya.. wanita tak tau malu yang ternyata mengharapkan sesuatu yang lebih dari yang bisa di berikan lelaki ini… Astaga… Ia harus menghentikan semua ini.. sebelum semuanya semakin parah… Pikir Allea dalam hati.


___TBC___
Author : Apa ceritanya makin lebbay..??? hahhaha mian yaa.. aku hanya pengen bikin perasaan Renno jungkir balik aja… heheheh  ok… mksih udah membaca… jngan lupa tinggalkan kometar yaa…
Advertisements

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 4

Comments 7 Standard

BiyCover2

Because it’s You

 

 

“Lepaskan semuanya.. batalkan semuanya..” Teriak Renno kepada Dokter Nadia yang akan melakukan Operasi tersebut.

Rennopun Akhirnya berlari menghampiri Allea. Tanpa disangka-sangka Renno langsung memeluk Allea dengan sangat erat.. “Maafkan aku… Maafkan aku….” kata Renno kemudian sambil meneteskan Airmata. Allea yang masih setengah sadar sedikit mendengarnya, dia pun sedikit menyunggingkan senyumannya.

*** 

 

Chapter  4 

Allea terbangun dan mendapati seseorang sedang memandanginya. Seorang wanita yang amat sangat Cantik.

“Hai.. gimana keadaanmu..?” Sapa wanita itu dengan lembut.

“Anda.. anda siapa..?” Tanya Allea kebingungan. Dia mengedarkan pandanganya keseluruh penjuru ruangan, dia mencari Sosok yang sudah menyelamatkan bayinya, Siapa lagi jika bukan Renno.

Wanita itu tersenyum melihat Allea yang sedikit kebingungan. “Renno masih keluar makan, Kenalin, aku Zoya, Temannya Renno.”  Kata wanita itu dengan mengulurkan telapak tangannya.

“Allea..” jawab Allea sambil membalas uluran tangan wanita itu.

“Lebih baik kamu istirahat dulu saja sambil menunggu Renno balik.”

“Saya.. Saya ingin pulang..”

“Renno yang akan mengantarmu pulang, jadi istirahat dulu saja.”

Dan tak lama setelah itu Renno kembali keruang Rawat Allea, dia bersama dengan Ramma. Zoya yang mengetahui kedatangan Renno langsung berdiri dan pindah ke sofa yang berada di ujung Ruang Rawat itu. Sedangkan Renno langsung menghampiri Allea.

“Bagaimana keadaanmu..?” tanya Renno sambil duduk di tepi ranjang tempat Allea berbarig.

Entah mengapa Allea merasa di perhatikan oleh Renno dan itu membuatnya sedikit gugup. “Saya.. Saya hanya ingin pulang..” Jawaban Allea sungguh tidak nyambung dengan pertanyaan Renno dan itu sedikit membuat Renno tersenyum, hanya sedikit saja.

“Besok aku antar kamu pulang.”

“Besok..??”  tanya Allea tak percaya.

“Iyaa.. kenapa..??”

“Saya ingin pulang sekarang.” Dan Rennopun hanya menghela nafasnya panjang. Bagaimanapun juga dia tak berhak mengatur hidup Allea.

“Renn, Gue pergi dulu yaa.. Zoya mau ada acara.” Ramma pamit dengan Renno.

“Ok..” Jawab Renno sambil mengangguk.

“All.. aku balik dulu yaa… kapan-kapan kita ketemu lagi..” Kali ini Zoya berpamitan dengan Allea.

“Iya.. Terimakasih.” Jawab Allea sedikit Lemah.

Akhirnya Ramma dan Zoyapun pergi meninggalkan Renno dan Allea sendiri. Suasana canggung langsung menyelimuti diantara mereka. “Aku akan ngurus kepulangan kamu dulu sama Suster.” Kata Renno sambil bergegas pergi.

“Terimakasih..” Kata Allea lirih membuat Renno menghentikan langkahnya. “Terimakasih karena Mas Renno mau membatalkan semuanya.” Lanjut Allea lagi.

“Lupakan saja.. aku melakukannnya bukan untuk kamu.” Jawab Renno masih dengan membelakangi Allea. Lalu dia melanjutkan langkahnya meninggalkan Allea sendiri.

*** 

Allea benar-benar tak menyangka jika saat ini dia akan berada dalam gendongan Seorang Renno. Astaga.. bisa-bisanya Renno menggendongnya, membuat mata semua orang yang berada di klinik tersebut tak berhenti memandang mereka. Bahkan Dokter nadiapun tersenyum senang melihat mereka bersama…

Rennopun mendudukkan Allea di atas Jok mobilnya, memasangkan sabuk pengaman dan dan merendahkan sandaran kursi yan diduduk Allea, semua itu Renno lakukan supaya Allea merasa nyaman, tapi bukannya nyaman Allea malah dibuat gelisah. Gelisah karena perasaan aneh yang merayapi dirinya. Astaga.. apa yang terjadi dengan lelaki di hadapannya saat ini..?? Dia benar-benar menjadi sosok lelaki yang berbeda dari pada tadi pagi. Wajah dingin dan sikap acuh tak acuhnya masih sama hanya saja… Allea merasakan ada sedikit rasa perhatian yang entah mengapa membuat Jantung Allea terasa ingin meledak.

“Tidurlah..” Kata Renno kemudian. Dan Alleapun menuruti perkataan Renno. Dia memejamkan matanya karena entah kenapa Rasa kantuk akhir-akhir ini sangat gampang menyerangnya.

Sesampainya di tempat tujuan, Renno kembali menggendong Allea turun dari mobilnya, Sedangkan Allea yang masih tertidur tak menghiraukan dimana dia saat ini berada. Renno membawanya ke apartemen Ramma yang di tinggalinya beberapa bulan ini, sesekali Renno merutuki dirinya sendiri entah kenapa dirinya membawa wanita ini ke apartemennya, bukankah lebih baik jika dia menjauh dari wanita ini..?? wanita ini bisa menghancurkan hidup dan masa depannya.. sialan…!! tapi Renno tetap saja menggendong Allea bahkan menidurkannya di dalam kamarnya.

Renno menatapi tubuh Allea yang saat ini sudah terbaring nyaman di atas ranjangnya. Wanita ini terlihat sangat Rapuh… dan entah  kenapa Membuat Renno ingin sekali melindunginya.. Apa karena bayinya..?? Atau karena sedikit banyak wanita ini mirip denga Nessa..?? Entahlah… yang jelas Renno merasa bahwa dia tak ingin melihat wanita ini sendiri menghadapi semuanya….

*** 

Pagi ini Allea terbangun dengan wajah terkejutnya, karena ia terbangun di kamar yang sama dengan Kamar pada saat itu…. kenapa dirinya bisa berada disini lagi..???

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka membuat Allea terperanjat kaget. Menampilkan Seorang Renno yang berbalut Kaus Dalamnya yang berwarna putih dengan Celana piamanya yang entah mengapa membuat Renno terlihat sangat tampan di mata Allea. Dia membawa sebuah nampan berisi segelas susu semangkuk bubur ayam dan beberapa buah yang bahkan sudah di kupasnya.

“Sudah bangun..??  makanlah…” hanya itu yang dapat di katakan Renno. Renno juga bingung dengan dirinya sendiri, entah kenapa Allea begitu mempengaruhinya, membuatnya tak bisa banyak bicara, apa karena Allea yang pendiam hingga membuat suasana diantara mereka jadi canggung…?? sepertinya bukan karena itu.

“Saya… saya ingin pulang..” lagi-lagi hanya itu yang bisa dikatakan Allea.

“Sarapan dulu, setelah itu kuantar pulang.” Kali ini Renno berkata dengan tegas seakan-akan tak ingin di bantah. Dan Alleapun hanya bisa menurutinya.

Allea merasa sangat gugup karena makan dibawah tatapan tajam Renno. Baru beberapa suap tiba-tiba rasa mual menghampirinya. Membuatnya membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.

“Kenapa..?” tanya Renno sedikit khawatir.

Allea tak sempat menjawab karena saat ini dia sudah berlari masuk kedalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi didalam perutnya. Renno yang mengikutinya dari belakang hanya bisa memandangnya dengan perasaan bersalah.

“Apa kita kembali kedokter..?” Tanya Renno sambil menghampiri Allea.

Allea hanya menggeleng. “Saya.. Saya hanya ingin cepat-cepat pulang.”

“Kamu nggak nyaman ada disini..?” tanya Renno lagi.

Disini sangat nyaman.. hanya saja berada didekatmu membuatku merasa kurang nyaman,, Gerutu Allea dalam hati. “Enggak.. saya Cuma..”

“Nggak usah terlalu Formal, kamu membuat suasana semakin canggung.” Kata Renno memotong kalimat Allea.

“Emmm.. aku.. aku Cuma lebih nyaman di rumah saja..” kata Allea kemudian.

“Rumahmu sangat kecil,.. Tinggallah disini..” kata Renno cuek tanpa sedikitpun memperhatikan raut wajah Allea yang terkejut. Tentu saja Allea sangat terkejut dengan perkataan Renno tersebut. Bahkan Renno yang mengucapkannya sendiripun merasa terkejut. Bisa-bisanya dia mengajak seorang wanita tinggal seatap dengannya.. Apa dia
benar-benar tertular semua penyakit Ramma..?? yang Sudah tinggal Seatap dengan Zoya tanpa ikatan pernikahan…?? Sial..!!! Ramma benar-benar memberi dampak buruk baginya.

Allea lalu menggeleng, “Aku lebh suka tinggal di rumah yang kecil.” Katanya kemudian.

“Yaa sudah terserahmu saja,, bersiap-siaplah, aku akan mengantarmu.” Kata Renno kemudian, sejujurnya dia ingin memaksa Allea, tapi bagaimana mungkin, sedangkan kenal saja baru.

****  

“Renno mana Ramm..?” tanya Dhanni kepada Ramma Siang itu. Di kantin kantor Renno.

“Nggak tau, dia telat lagi.” Jawab Ramma cuek.. “Haii..”kali ini Ramma menyapa seorang wanita yang sedang mengerlingkan mata terhadapnya. Dhanni hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu.

“Kapan Lo nyusul Gue..?” tanya Dhanni kemudian.

“Nyusul..?? nyusul kemana..??”

“Nikah lah.. kemana lagi..”

“Hahahha nikah..? kata itu nggak ada di kamus kami.. lebih baik Lo tanya Pertanyaan itu sama Renno..” jawab Ramma Kemudian.

“Renno..??”  tanya Dhanni masih bingung.

“Yah.. Renno, bentar lagi dia mau punya anak dan sepertinya akan nikah..” Lanjut Ramma lagi.

“Serius Lo..?” Tanya Dhanni tak percaya.

“Tuu orangnya, Mending kita tanya bareng-bareng.”kata Ramma sambil menunjuk seseorang yang tengah mendekat kearah mereka.

“Ngapain kalian Ada disini..?” Tanya Renno sambil duduk di meja yang sama dengan Dhanni dan Ramma. Dhanni menunjukkan beberapa Map yang dibawanya, sedangkan Ramma hanya nyengir seperti biasanya.. yaah… perusahaan mereka bertiga memang selalu bekerja sama, meski Ramma yang paling terlihat tak serius tapi jangan salah.. Dhanni dan Renno memang meneruskan perusahaan keluarga masing-masing, Tapi Ramma memulai perusahaannya sendiri dari Nol. Sebuah nilai Plus untuk Ramma.

“Lo telat lagi..” Kata Ramma kemudian. “Dan mungkin akan selalu telat nantinya.” Lanjutnya lagi.

“Bukan urusan Lo.” Jawab Renno cuek.

“Renn apa bener kata Ramma kalo Lo mau nikah..?” tanya Dhanni kemudian.

“Sialan Lo Ramm, nyebarin kabar yang nggak bener.” Umpat Renno. Dan Ramma hanya menyeringai dengan Senyuman miringnya.

“Siapa Wanita itu Renn..” tanya Dhanni lagi.

“Yang ketemu sama kita di apotek waktu itu.” Jawab Renno dengan nada malas.

“Jadi wanita itu bener-bener hamil anak Lo..?” tanya Dhanni lagi dengan nada tak percaya, dan Renno hanya mengangguk.

“Apa langkah Lo selanjutnya..?” tanya Dhanni lagi.

“Gue akan tanggung jawab.” Jawab Renno dengan sungguh-sungguh. Dan Dhanni hanya tersenyum sambil mengangguk, sedangkan Ramma entah sejak kapan sudah pindah ke meja sebelah brsama dengan wanita-wanita cantik karyawan Renno.

*** 

Entah ini perasaan Shasha saja atau memang benar Bahwa sejak tadi Allea senyum-senyum sendiri tak jelas. “Mbak Allea kenapa sih.. kok senyum senyum sendiri dari tadi.”

“Ahhh enggak.. masak sih,,,??” allea malah berbalik bertanya.

“Tuhh kan.. pipinya merah.. hayoo kenapa..??” tanya Shasha lagi dengan nada menggoda.

“Enggak.. aku nggak kenapa-kenapa kok Nat.. perasaan kamu aja mungkin.” Kata Allea dengan malu-malu sambil menangkup kedua pipinya.

Sebenarnya Saat ini Allea entah kenapa sedang terbayang-bayang dengan Renno. Astaga.. Lelaki itu benar-benar mempengaruhinya. Dia bersikap dingin namun perhatiannya sangat kentara. Apalagi tadi pagi saat mengantarnya, ‘Jaga dia.. Jangan terlalu kecapek’an..’ meski dikatakan dengan nada dingin, pesan Renno itu entah kenapa selalu terngiang-ngiang di telinganya, membuatnya tak berhenti untuk tersenyum bahagia..

“Mbak… Aisshhh.. Mbak jangan ngelamun aja dong..” perkataan Shasha lagi-lagi menyadarkan Allea. “Mbak kenal yaa.. Ama Mas Renno..? kok aku merasa kalian ada sesuatu gitu sih..” pertanyaan Shasha sontak membuat Allea gelagapan. Dia tak mungkinmenceritakan yang sebenarnya kepada Shasha, akan lebih baik jika Renno sendiri yang menceritakan semuanya nanti.

“Enggak.. Aku nggak kenal kok sama Kakak kamu..” Allea mencoba untuk mengelak.

“Yakin mbak..? aku kira Mas Renn tadi malam ninggalin aku hanya karena ingin nyusul Mbak Allea.” Shasha masih saja tak percaya.

“Iyaa Nat.. aku nggak ada apa-apa sama Kakak kamu.” Allea meminta maaf dalam hati karena sudah membohongi Shasha.

“Ok.. kalau gitu.. ohh iya mbak.. nanti malam pulang sama aku lagi yukk..” Ajak Shasha kemudian.

Allea tak tau harus menjawab apa. Dia takut jika sebenarnya Renno tak mau mengajaknya pulang bersama Shasha. “Aku nggak yakin Nat bisa pulang bareng kamu lagi.” Akhirnya Allea menjawab seperti itu.

“Yahh… kok gitu sihh Mbak.. Padahal Mas Robby udah pesen sama aku lohh kalo aku musti ngajak Mbak Allea pulang bareng..” Rengek Shasha.

“Ohh.. jadi Mas Robby yang jemput nanti malam..?”

“Iyaa lahh mbak… Emangnya Mbak kira siapa..? Mas Renno..?? Nggak mungkin Mas Renno mau jemput aku lagi, dia manusia yang super sibuk sejak patah hati..”

“Benarkah..?” dan entah kenapa pernyataan Shasha itu membuat Allea penasaran tentang Renno.

“Iyaa mbak.. dia lebih suka menyibukkan diri dengan kertas-kertas di kantor daripada ngumpul sama Aku..”

“Sabar yaa… mungkin suatu saat nanti Mas Renno akan berubah jadi Mas Renno yang dulu lagi..”

“Semoga saja…” kata Shasha Lirih..

— 

Malamnya…

“Haii cewek-cewek cantik..” goda Robby kepada Shasha dan Allea yang sudah menunggunya di bangku depan Cafe tempat mereka bekerja.

“Hadewwhh.. Mas Robby kebiasaan deh..” Gerutu Shasha sambil memutar bola matanya kearah Robby.

“hahhaha kamu kenapa sih.. kayaknya nggak suka kalo Mas Roby deketin Mbak Allea,.”

“Bukannya nggak suka, tapi Mas Robby terlalu Lebbay tau nggak.. hemmbb..”

“Emangnya Aku terlalu lebbay..?” kali ini Robby bertanya kepada Allea, dan Allea hanya tersenyum dan menggeleng. “Tuh.. yang di godain aja nggak keberatan, kok kamu yang sewot.”

“Udah ahh Mas.. ayoo pulang, aku udah capek nih..” gerutu Shasha.

“Ok boss..” kata Robby sambil membukakan pintu belakang mobil untuk Shasha, tapi ketika Allea akan masuk tiba-tiba Robby menghadangnya. “Kamu disini seperti biasa..” kali ini Robby berkata sambil membuka pintu depan untuk Allea. Allea hanya tersenyum melihat tingkah Robby yang baginya lucu. Sedangkan Shasha hanya menghela nafas panjang melihat Kelakuan Lebbay kakak sepupunya itu.

Robbypun akhirnya menjalankan mobilnya tak menyadari jika gerak-geriknya tadi diperhatikan oleh seseorang di seberang jalan..

*** 

Renno tak henti-hentinya mengumpat bahkan Menyumpahi Robby saat mengendarai mobil. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu terhadap Allea. Tapi…. apa yang membuatnya kesal..? bukankah Hak Robby mau mendekati siapapun juga termasuk Allea..??

Hari ini Renno sengaja pulang cepat, entah kenapa sejak siang tadi fikirannya hanya tertuju kepada wanita itu… Allea… Apa yang dilakukan wanita itu terhadapnya hingga ia tak mampu memikirkan apa-apa lagi selain wanita itu…???

Maksud hati ingin menjemput dan mengajak Allea makan malam, dia Khawatir jika Allea tak makan dengan baik, tapi sesampainya di Cafe diurungkannya niatnya itu karena melihat Shasha bersama dengan Allea. Bagaimanapun juga dia belum siap memberi tau Shasha tentang semuanya. Akhirnya Renno hanya bisa menunggu, semoga saja si Robby cepat-cepat menjemput Shasha agar dia bisa menjemput Allea. Tapi yang terjadi di luar dugaannya. Robby memang menjemput Shasha, tapi…. dia juga menjemput Allea, dan mereka terlihat sangat akrab, apa selama ini Selalu seperti itu ketika Robby menjemput Shasha…?? apa selalu dengan Allea seperti itu..?? Arrgghhh… lagi pula itu kan bukan urusannya.. kenapa juga dirinya repot-repot mengurusi urusan orang.

Tiba-tiba Hpnya pun berbunyi. ‘Maya’ ID Call yang terlihat dalam layar Hpnya.  Dengan malas Renno mengangkat telepon itu.

“Hallo..?”

“Sayang.. kamu ngapain..? kenapa nggak pernah hubungin aku..??” kata maya dengan manja.

“Aku sibuk May..”

“Sibuk dengan wanita lain maksudnya..??”

“Terserah apa katamu..” Renno yang sejak tadi sudah uring-uringan makin dibuat uring-uringan oleh Maya.

“Aku Kangen sayang..”

“Sorry May.. aku sibuk..” Dan setelah itu Rennopun menutup teleponnya dan mematikan Hpnya seketika. Entah kenapa dia mulai merasa Enggan berbicara dengan Maya dan wanita-wanita lain yang dia dekati akhir-akhir ini.

Akhirnya sampailah Renno di depan rumah Allea. Renno sudah melihat Allea masuk kedalam rumahnya dengan selamat. Lalu apa lagi yang sedang ia tunggu..??? Entah kenapa tiba-tiba saja dia keluar dari mobilnya dan melangkah menuju kerumah Allea. Sialan..!! sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya…???

‘Tok.. tok.. tok…’ Renno mulai mengetuk pintu. Tak lama Pintupun di buka menampilkan sosok Allea dengan wajah terkejutnya.

“Mas Renno..??” kata Allea seperti tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sedangkan Renno hanya diam membatu tanpa sedikitpun Ekspresi tersirat di wajahnya.

“Ayo temani aku..” Susah payah Renno mengucapkan kata-kata itu.

“Kemana..?”

“Makan malam.”

“Tapi aku sudah makan..”

“Temani aku saja.”

Dan Alleapun hanya menurut. Apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki ini..?? kenapa dia mengajaknya makan malam bersama..?? Dirinya tidak sedang bermimpi kan..?? Apa ini karena bayi ini..?? tapi.. bukankah kemaren dia tak menginginkan bayi ini..?? Ahhh… semuanya jadi semakin membingungkan saat difikirkan.

Lagi-lagi semua berakhir dengan diam dan Canggung saat di dalam mobil. Tak ada yang mereka bicarakan. Semuanya terasa kaku sampai di restoran tempat Renno menghentikan mobilnya.

“Pesanlah..” kata Renno saat mereka sudah duduk di ujung Restoran tersebut.

“Aku sudah makan..”

“Pesanlah minuman”

Dan Alleapun hanya mengangguk. Sedangkan Renno sendiri sudah memesan beberapa makanan yang ingin dia makan malam ini. Mereka menunggu makannan datang lagi-lagi dengan saling berdiam diri. Ohh astaga… Renno sudah seperti lelaki yang paling Kaku sedunia, padahal dia tak pernah bersikap seperti itu dengan wanita manapun. Sedangkan Allea.. dia malah sibuk dengan fikirannya sendiri, ingin sekali diaa mulai pembicaraan tapi di urungkannya karena tak tau apa yang harus di bahas dengan Lelaki seperti Renno.

Akhirnya menit demi menit yang hening itupun berakhir dengan kedatangan seorang pelayan yang membawa berbagai macam hidangan yang menggiurkan. Allea hanya melihatnya dengan ternganga, ternyata Renno memesan banyak makanan dan beberapa diantaranya membuat Allea serasa ingin meneteskan liurnya.

“Kenapa..?” tanya Renno saat melihat Allea tak berhenti memandangi Steak yang sedang ia potong-potong.

“Ahh enggak..”

“Kamu mau..?” tanya Renno sambil menyodorkan piring berisi Steak kepada Allea.

Allea hanya menggeleng. Dan itu membuat Renno tersenyum. Astaga.. senyuman yang sama dengan malam itu… senyuman yang mampu membuat Allea terpesona… Renno masih saja memotong-motong Steak itu, tak memperhatikan Allea yang sedang memandangnya dengan tatapan terpesonanya…

“Ini.. makanlah..” kata Renno sambil memberikan piring berisi Steak yang sudah di potong-potong olehnya.dan itu membuat Allea terkejut.

“Tapi…”

“Tak ada tapi.. Makanlah..” lanjut Renno tanpa bisa dibantah. Dan dengan senang hati Allea menerimanya karena memang sejak tadi Steak itu yang menggugah seleranya. Akhirnya mereka berduapun makan malam bersama. Walau dalam keadaan hening tapi entah Kenapa Allea merasa sangat nyaman. Walau Renno tak banyak bicara tapi entah kenapa Allea tetap suka dengan kehadirannya… Walau Renno masih bersikap dingin terhadapnya, tapi entah Kenapa Allea begitu merasakan perhatian yang Renno berikan untuknya….

*** 

Akhirnya Renno mengantar Allea kembali pulang kerumahnya. “Emm.. aku masuk dulu yaa..” kata Allea canggung. Sejujurnya dia sangat tak nyaman dengan kecanggungan yang menyelimuti mereka berdua.

“Tinggalah bersamaku..” dan tanpa disangka-sangka kata-kata itupun meluncur sempurna dari bibir Renno. Astaga… apa dia sudah gila,, mengajak Wanita yang tidak dinikahinya untuk tinggal bersama..??? apa dia benar-benar tertular semua penyakit Ramma..?? sialan…!!

Allea merasa terkejut dengan perkataan Renno. Apa yang terjadi dengan lelaki ini…??? “Tapi… kita kan…”

“Pikirkanlah.. aku Cuma nggak suka kamu tinggak di tempat seperti ini..” potong Renno lagi. Lalu alleapun hanya mengangguk. “Jangan ikut Robby lagi kalau dia jemput kamu..” lanjut Renno lagi.

“Tapi….”

“Aku yang akan jemput kamu mulai dari sekarang..” entah kenapa meski kata-kata itu dikatakan dengan nada dingin dan penuh penekanan, tapi tetap saja hati Allea bergetar ketika mendengarnya… ada apa ini…??? ada apa dengan lelaki ini..?? dan ada apa dengan dirinya..??

___TBC___

Author: Hai… maaf aku ingkar janji… sbenernya aku mau update ini setelah update my wife.. tapi ternyata lagi2 my wife chap 12 belom selesai.. jadi aku update ini dulu yaa.. hehhehehe  Oooiyaa.. disini Renno cukup manis yaa… gimana..?? apa menurut kalian Renno udah berubah..?? hahhaha tunggu dulu… konfliknya belum di mulai… jdi nantikan kisah selanjutnya yaa… hehhhehe

 

 

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 3

Comments 6 Standard

allrenn3

Because It’s You

NB :  Aku permisi posting ini lagi ya… hehehehhe yg nunggu my wife mian… hehehehe ooiyaaa di chapter ini ada beberapa Scene Ramma loh…. dan maklumi aja kalo kelakuan Ramma Seperti itu yaa… Ramma Mahh gitu orangnya… heheheheh #Abaikan. author sempet sedikit Emosional saat ngetik Chapter ini,,, hembb… semoga nggak bikin bosen yaa….

 

 

 

Sedangkan Allea yang melihat lelaki tersebut Langsung menegang. Astaga… itu… itu.. lelaki waktu itu… Lelaki yang sama… yang saat ini berada di hadpannya dan memandangnya dengan tatapan yang sama, tatapan yang tajam seakan-akan bisa membunuh. Seketika itu juga Tubuh Allea gemetar, tangannya berusaha menutupi perutnya yang sedikit membuncit. Lelaki itu tak boleh tau jika dirinya sudah hamil anak lelaki tersebut…

Sedangkan Renno sendiri juga menegang saat mengetahui siapa wanita di hadapannya. Wanita sialan yang beberapa minggu ini mengganggu pikirannya… wanita yang… yang mungkin saja sedang mengandung anaknya… Sialan..!!! Siapa dia..?? berani dan Lancang sekali dia mengandung Keturunan Keluarga Handoyo..?

 

*** 

 

Chapter  3

Shasha merasakan tubuh kakaknya menegang saat ia peluk, ada apa..? fikirnya dalam hati. Lalu Shasha pun melepaskan pelukannya pada kakaknya itu. “Mas Renn kenapa..?” tanya Shasha sambil melepaskan pelukannya.

Sedangkan Renno masih ternganga melihat wanita yang berada di hadapannya dan  tak menghiraukan pertanyaan dari adiknya tersebut. Shashapun terlihat bingung melihat tingkah laku Renno dan Allea yang sudah saling pandang dengan tatapan anehnya masing-masing.

“Oooiyaa Mas.. kenalin, ini teman kerjaku Mbak Allea. dan Mbak, inilah Mas Renno kakakku yang pernah aku ceritakan.” Shasha mencoba mencairkan suasana hening dengan mengenalkan mereka berdua.

“Emm… Nat.. sebaiknya aku pulang dulu yaa.. ini sudah sangat malam.” Allea mencoba mengendalikan perasaannya yang tak menentu untuk berpamitan dengan Shasha, dia harus segera pergi dari hadapan lelaki itu. Sedangkan Renno sendiri masih diam membatu tak bereaksi.

“Lohh Mbak.. ayoo bareng sama aku aja..” Ajak Shasha.

“Nggak usah Nat.. aku jalan kaki aja..”

“Tapi Mbak, aku sama Mas Renno bisa kok antar mbak..”

Allea lalu tersenyum dan menggelang. “Aku pulang dulu Nat..” Allea lalu berbalik dan mulai melangkah pergi menjauh.

“Mas.. Ayoo ajak Mbak Allea pulang bareng kita..” Rengek Shasha pada Renno.

“Dia bisa pulang sendiri.” Jawab Renno dingin. Lalu Rennopun berbalik dan menuju mobilnya. Shashapun mengikuti dari belakang dengan bibir manyunnya.

“Kenapa.?” Tanya Renno memecah keheningan didalam Mobil.

“Mas Renn keterlaluan Banget tau nggak sih.. Aku malas ngomong sama Mas Renno.”

“Terserah kamu.” Jawab Renno Cuek.

“Mas.. Kalo Mas Renn nggak suka sama Mbak Allea setidaknya kita bisa antar dia pulang aja Mas.. bukan malah biarin dia pulang sendiri.”

“Itu bukan urusan kita.”

“Dia baik sama Shasha Mas… Dan dia sedang hamil dan berjalan kaki sendiri tengah malam pada malam minggu pula.. Dan aku berharap semoga…”

“Kenapa dia nggak minta di antar Suami atau pacarnya.” Renno memotong kalimat Shasha.

“Kalo dia punya suami atau pacar mungkin dia nggak akan capek-capek kerja di Cafe itu.”

“Sial…!!” Umpat Renno sambil membanting Setir kekiri dan menginjak rem secara mendadak hingga kepala Shasha sedikit membentur Dashbor mobil.

“Aww,,, Mas Renn apa’an Sih..” Kata Shasha sedikit kesal dengan tingkah Renno. Tapi bukannya minta maaf Renno malah mengeluarkan hpnya lalu menelepon seseorang.

“Sialan.. Cepat kesini sekarang juga..” kata Renno kepada seseorang yang di teleponnya.

*** 

Desahan demi desahan sangat terdengar jelas di seluruh  penjuru ruangan tersebut. Decapan demi decapan menghasilkan jejak-jejak merah basah pada dua sejoli yang sedang memadu kasih dengan mesrahnya…

“Sialan sayang.. Rasamu masih sama..” Bisik Ramma pada wanita yang berada di bawahnya dengan nada yang sensual dan suara yang serak.

Sedangkan Zoya, wanita tersebut hanya menikmati sentuhan demi sentuhan Ramma, lelaki yang 5 tahun lebih muda dari pada dirinya, lelaki yang selama 4 tahun ini dipacarinya, dan mungkin saja lelaki yang sudah membuatnya mengenal cinta…

Shiit.. Babbe.. aku akan sampai..” kata Ramma sedikit mengerang. Dan tiba-tiba…

‘Tit.. tit.. tit… tit.. tit… tit…. tit.. tit…’ Smarthphone Ramma yang berada di meja sebelah ranjangpun berbunyi.. Rammapun tak menghiraukannya, dia pastinya lebih suka melakukan olahraga malamnya daripada harus mengangkat telepon yang belum tentu penting.

Tapi telepon itu berbunyi lagi. Ramma masih saja tak menghiraukannya. Dan.. bunyi lagi.. “Egghhh… Sayang, Sebaiknya kamu angkat, siapa tau.. Egghh… itu penting..” Dan Akhirnya Zoyapun angkat bicara dengan susah payah diantara desahannya.

“Sialan..!! Aku akan mengangkatnya sebentar..” kata Ramma lengkap dengan umpatan-umpatan Khasnya. Rammapun menarik diri dan berjalan menuju meja tanpa memperdulikan tubuhnya yang Full Naked.

“Sialan.. Cepat kesini sekarang juga..” Kata Suara di sebrang yang di yakini Ramma adalah Renno.

“Brengsek Lo… Gue nggak bisa.”

“Emangnya Lo lagi ngapain..?”

“Sialan..!!! Lo pikir Gue biksu yang menghabiskan malam minggu tanpa bercinta…?? Brengsek..” umpat Rama dengan kesal.

“Gue nggak peduli, jemput Shasha sekarang juga di jembatan pertama dekat Cafe tempat kerjanya.”

“Tunggu dulu… Lo tinggalin Shasha di sana..?” Tanya Ramma sedikit tak percaya.

“Iyaa.. Gue tinggalin dia disini sendiri, jadi cepat kesini atau Gue bunuh Lo kalo sampek terjadi sesuatu sama adek Gue.”

“Brengsek Lo… Gue Nggak…”

‘Tut.. tut… tutt…’ Ramma belum selesai melanjutkan kata-katanya tapi Renno sudah menutup teleponnya. “Brengsek si Renno..” lagi-lagi Ramma mengumpat. Tapi bukannnya bersiap-siap, Ramma malah melompat kembali keatas ranjang dan mulai mencumbui Zoya kembali.

“Siapa sayang..?” Tanya Zoya disela-sela desahannya.

“Renno sialan.” Jawab Ramma masih dengan mencumbui leher Zoya..

Dan ketika dia akan memasukkan dirinya kembali entah kenapa bayangan wajah Shasha muncul di dalam benaknya.. Shasha dengan raut wajah yang manja, polos namun tatapannya sendu seperti saat itu…

“Shiiitt…!!!!” Ramma tak henti-hentinya mengumpat bahkan menyumpahi Renno.. “Babbe.. Aku tinggal sebentar yaa… aku akan kembali dalam waktu 30 menit.. ingat jangan tidur dulu..” kata Ramma kepada Zoya sambil menciumi bibir Zoya..

Lalu Rammapun melompat turun dan mengenakan pakaiannya kembali, tak menghiraukan Zoya yang masih terbaring Naked dengan tatapan Curiganya.

“Apa karena gadis itu lagi..??” Tanya Zoya sambi duduk yang kemudian sukses membuat Ramma Diam membatu tak melanjutkan aktifitasnya..

“Ramm…”

“Sayang.. Please… Jangan mulai lagi..” kata Ramma kemudian.

“Ramm.. aku nggak apa-apa jika kamu bercinta atau apalah dengan wanita lain, tapi aku nggak suka dengan gadis itu Ramm..” Dan Zoyapun mulai terisak.

“Sial…!!” umpat Ramma sambi melompat kembali ke ranjang dan memeluk Zoya. “Sayang… dia sudah seperti adikku sendiri, hanya kamu.. kamu yang ada di sini..” kata Ramma kali ini sambil membawa tangan Zoya ke dadanya. “Oke. Sepertinya aku udah terlalu lama… aku akan pergi dulu, aku janji nggak akan lama..” Lanjut Ramma lagi sambil mengecup bibir Zoya.

Akhirnya Rammapun pergi dengan mengendarai mobilnya dan mengebut sepeti orang kesetanan. 10 menit kemudian sampailah dia di jembatan seperti yang di bilang Renno. Renno Sialan, bisa-bisanya dia meninggalkan Adiknya di sini sendirian. Gerutunya dalam hati.

Dilihatnya Shasha yang saat itu mengenakan Rok levis pendek dengan sepatu Catsnya.. dan jaket yang melekat di tubuh mungilnya. Dia terlihat mungil dan imut seperti gadis remaja padahal saat ini usianya sudah 22 tahun dan hampir meraih gelar S1 nya.

Ramma memarkirkan mobilnya tepat di hadapan Shasha. Shasha melihat dengan tatapan terkejutnya. Ramma membuka kaca pada pintu kemudinya,.

“Mas Ramma..?!” kata Shasha heran.

“Masuk.” Ucap Ramma dingin.

Dan tanpa banyak omong lagi Shashapun masuk kedalam mobil Ramma. Astaga.. Gadis ini masih sama seperti dulu, penurut dan polos, apa sifat manjanya masih ada…?? ahh kenapa aku memikirkan  hal itu..?? pikir Ramma dalam hati.

Tapi bagi Ramma Shasha sedikit lebih pendiam, tak seceria dulu jika terhdapnya.. apa karena kejadian saat itu..?? Apa Shasha masih membencinya..?? haruskah ia meminta maaf kepada Shasha..?? tapi bagaimana Caranya.?? Kejadian itu Sudah terjadi sejak lima tahun yang lalu.. Arrgghh.. sial… kenapa dia jadi memikirkan gadis yang baginya masih di bawah umur ini..?? Ramma tak henti-hentinya menggerutu dalam hati. Akhirnya dijalankannya mobilnya tanpa sedikitpun mengucapkan sepatah katapun…

*** 

Sialan…!!! apa yang terjadi denganku..? bisa-bisanya aku meninggalkan adik kesayanganku sedirian tengah malam hanya demi mengejar wanita sialan itu…?? dan Ramma.. bisa-bisanya aku mempercayakan Shasha kepada makhluk seperti Ramma.. Arrgghh….. Renno tak henti-hentinya menggerutu dalam hati sambil mengemudikan mobilnya.

Tatapannya fokus kedepan, siapa tau wanita itu berada masih berada di jalanan. Dan benar saja, tak lama akhirnya terlihat wanita yang sedang berjalan di atas trotoar. Mengenakan jaket yang dirapatkan di tubuhnya. Apa dia kedinginan..?? Arrgghhh,, persetan, itu bukan urusanku. Pikir Renno kemudian.

Rennopun menghentikan mobilnya, dia keluar dan berlari mengejar wanita tersebut. Diraihnya tangan wanita tersebut hingga membuatnya sedikit terkejut.

Dingin… telapak tangan itu terasa dingin… dan rapuh..

“Ayoo ikut aku..” kata Renno sambil menarik tangan Allea.

Alleapun hanya menurut, sejujurnya dia sedikit terkejut dengan perlakuan Renno terhadanya. Allea akhirnya duduk di kursi penumpang sebelah Renno.

“Saya harus pulang..” kata Allea.

Suara itu terdengar merdu dan lembut di telinga Renno. Dan entah kenapa untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun belakangan ini hatinya menjadi hangat dan tenang.. wanita ini mirip dengan Nessa, mengingatkan akan kelembutan dan kepolosan Nessa..  Nessa istri sahabatnya yang saat ini mungkin saja masih ia cintai dalam diam.. Aggrhh…. kenapa dirinya jadi memikirkan Nessa kembali..??

“Aku akan mengantarmu..” Renno tak bisa menghilangkan nada dinginnya dari setiap perkataan yang dia ucapkan. Dia sudah seperti Dhanni saat berhadapan dengan Nessa dulu, dan juga seperti Ramma saat menghadapi Shasha… Astaga… ada apa dengan mereka bertiga..???

Allea hanya mengangguk dan diam. Sunyi.. di dalam mobil terasa sangat sunyi karena tak ada satu orangpun yang mau memulai pembicaraan. Sesekali Renno melirik kearah Allea, Wanita ini mungkin memang sedang hamil, terlihat jelas dari perutnya yang buncit walau sejak tadi tangan wanita itu tak berhenti menutupinya.

“Apa itu anakku..?” pertanyaan Renno Sontak membuat Allea terkejut.

“Emm…”

“Anakku atau bukan..?” kali ini Renno bertanya dingin dan penuh dengan penekanan. Nada yang sama saat Renno mengetakan kata-kata menyakitkan pagi itu.

“Iya..” kata Allea sambil mengangguk.

Renno menghela nafasnya panjang. “Sial..!!” umpatnya sambil memukul kemudi. Setelah itu mereka sama-sama terdiam kembali, cukup lama hingga Renno mulai berbicara lagi.

“Aku akan bertanggung jawab, Aku akan menemanimu menggugurkan ‘itu’..” kata Renno dengan dingin tanpa sedikitpun menoleh kearah Allea.

“itu..??” Allea terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakan Renno. Bisa-bisanya Renno dengan mudah bicara tentang meggugurkan kandungannya. Dan dia menyebut bayinya dengan sebutan ‘itu’ seakan-akan dia tak berarti sama sekali.

Allea semakin mengeratkan pelukannya kepada perutnya. Tidak.. dia tak ingin kehilangan bayi ini… air matanyapun mulai menetes.

“Saya.. Saya ingin membesarkannya.” Dan setelah kata-kata itu Renno menghentikan mobilnya dengan mendadak. Untung saja Allea mengenakan Safety Belt hingga Allea tak terbentur Dashbor mobil.

“Apa kamu gila..? enggak aku nggak mau Kamu mengandung darah dagingku.” Teriak Renno kepada Allea, emosinya seakan-akan sudah memuncak. Darahnya bagaikan air yantg sudah mendidih.

“Saya mohon.. saya janji nggak akan..”

“Nggak… Saat ini kamu memang akan janji nggak akan minta pertanggung jawaban dariku, tapi kita tak akan tau beberapa tahun kemudian. Kita akan tetap menggugurkan ‘itu’..” kata Renno telak.

Dan Alleapun hanya bisa menangis. Astaga.. kenapa jadi seperti ini..? jika tau akan begini Allea tak akan mau bertemu kembali dengan Lelaki dingin ini..

— 

Renno mengantar Allea tepat di depan rumah kontrakan Allea, Rumah Allea memang di dalam gang tapi gang yang cukup besar hingga bisa di lewati Mobil. Renno melihat Rumah itu, Rumah yang sangat sederhana, Sesulit inikah hidup wanita ini..?? pikirnya kemudian.

“Saya permisi..” kata Allea sambil membuka pintu mobil Renno dan turun.

Renno melihat Allea dengan tatapan tak terbacanya. Wanita itu terlihat Rapuh dimatanya. Sedikit terbesit rasa kasihan terhadapnya, tapi Renno langsung menepis semua perasaan itu. Tidak, semua wanita sama saja, aku tak boleh lemah, Pikirnya kemudian. Tanpa menunggu lagi Renno langsung menancap Gas pada mobilnya, dia harus segera pergi dari hadapan wanita itu, karena entah kenapa dia merasa sesak saat berada di dekat wanita itu.

*** 

“Lo Gila..?” Teriak Ramma pada Renno siang itu.

“Gue pikir ini urusan Gue, jadi Lo cukup kasih tau dimana tempatnya.” Jawab Renno dengan nada acuh tak acuh.

Saat ini Renno meminta Ramma untuk memberi tau tentang klinik Aborsi tmpat Ramma dan Zoya pernah menggugurkan anak mereka.

“Sialan Lo Renn, Gue tau Lo nggak Seberengsek Gue, Lo nggak akan ngelakuin itu.” Tegas Ramma.

Renno mendekat pada Ramma. “Lo pikir Cuma Lo yang boleh nggugurin anak lo sendiri..?”

“Brengseek Lo..!! Lo pikir Gue mau nglakuin itu..?” Kali ini Ramma mulai terpancing emosinya. “Renn.. Gue emang nggak bisa ngurus Bayi dan Gue nggak pernah berpikir untuk ngurus bayi, tapi sumpah demi apapun juga Gue Nyesel seumur hidup gue Karena Gue ngebiarin Zoya nggugurin mereka.” Jelas Ramma lagi.

“Mereka..?”  tanya Renno tak percaya.

“ Dua kali Gue lakuin itu.” Jawab Ramma lirih.

“Sialan Lo.” Umpat Renno.

“Jadi Gue harap Lo berfikir dulu sebelum bertindak. Jangan Gegabah Renn.. Gue nggak mau Lo nyesel dan merasa bersalah seumur hidup Lo dengan wanita itu.” Nasehat Ramma.

“Gue sudah berfikir, Dan keputusan Gue tetap sama, Gue akan gugurin ‘itu’.. jadi cepat kasih tau dimana tempatnya..”

“Brengsek Lo..” umpat Ramma kemudian.

**** 

Allea masih saja belum berhenti menangis sambil mengelus perutnya. Astaga.. haruskah dirinya kehilangan bayinya.? Haruskah ia pergi dari sini menjauh dari lelaki itu..? tapi  pergi kemana, dia tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa lagi..

Tiba-tiba dia mendengar suara pintu diketuk. Itu pasti Renno, Lelaki yang akan merenggut kehidupan bayinya. Dibukanya pintu itu. Dan benar saja, Renno sudah berdiri dengan tampan dan gagah di tegah pintu.

“Sudah siap..?” tanyanya dingin.

Dan Alleapun hanya mengangguk. Yah.. mau tak mau dia memang harus siap. Dia mengang tak punya hak untuk mengandung bayi lelaki ini, dia merasa tak pantas…

Akhirnya merekapun melaju menuju ke Klinik aborsi langganan Zoya. Didalam mobil keduanya sama-sama diam. Lagi-lagi sesekali Renno melirik kearah Allea. Allea terlihat sama sekali tak ingin melihat wajahnya, Allea lebih memilih melihat pemandangan di luar jendela sambil mengelus-elus perutnya. Astaga… apa yang di lakukannya ini benar..??? Renno bertanya-tanya dalam hati.

30 menit kemudian sampailah mereka di Klinik Aborsi tersebut. Tempatnya lumayan besar dan pastinya bersih seperti klinik-klinik bersalin pada umumnya karena sebenarnya klinik ini adalah klinik bersalin biasa, hanya saja beberapa teman dokter kandungan disini menyalahgunakan tempat ini sebegai praktek Aborsi secara sembunyi-sembunyi karena Aborsi di negri ini masih ilegal.

Renno dan Allea akhirnya keluar, Allea sedikit gemetar saat memasuki klinik tersebut. “Saya ada janji dengan Dokter Nadia, Saya Renno teman Zoya.” Kata Renno pada seorang perawat yang berjaga di ruang informasi.

“Ohh.. pak Renno, mari silahkan.” Kata suster itu mempersilahkan Renno masuk kedalam suatu ruangan.

Didalam Ruangan tersebut sudah ada seorang Dokter cantik yang diyakini Renno sebagai Dokter Nadia. “Hei.. mari silahkan masuk.” Sapa Dokter Nadia dengan ramah. “Jadi.. kalian ingin…”

Dan Renno hanya mengangguk sedangkan Allea haanya diam menunduk.

“Kenapa kalian melakukan itu, emm.. maksud saya usia kalian sudah cukup pantas memiliki bayi, Kalian bukan anak SMA atau sejenisnya.” Dokter Nadia menanyakan alasannya.

“Saya pikir ini hanya urusan pribadi saya Dokter..” jawab Renno dengan menyunggingkan Senyumannya.

“Dan saya pikir saya harus tau alasan kenapa saya harus membunuh sebuah nyawa yang tak berdosa.” Lanjut Dokter Nadia.

“Kami tak saling Cinta, Tak saling kenal, dan semua ini hanya sebuah kesalahan. Apa anda puas…?” Jawab renno dengan nada penuh penekanan.

Dokter Nadia tersenyum. “Ya… saya cukup puas,tapi sebelum saya melakukan tugas saya, izinkan saya memperlihatkan seperti apa dia di dalam sana..”

“Terserah Dokter.” Renno menjawabnya dengaan cuek.

Akhirnya mereka saat ini berada didalam Ruang USG. Allea tak berhenti menangis bahkan sampai sesenggukan saat melihat bayi yang ada di dalam perutnya dari layar Monitor. Detak jantung bayi itupun menggema di dalam Ruangan tersebut. Renno yang melihatnya hanya Ternganga tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tanpa sadar dia sudah menggenggam telapak tangan Allea.

“Dia sangat sehat, dan mungkin akan menjadi byi yang lucu, Apa kalian benar-benar yakin akan melakukan ini..?” tanya Dokter Nadia lagi. Dan Renno hanya diam membatu. Tak ada kata-kata tegas lagi seperti tadi.  “Baiklah, jika ini memang keputusan Akhir kalian.” Lanjut Dokter Nadia sambil meninggalkan Allea yang masih menangis dan Renno yang diam membatu. “Suster.. bantu saya menyiapkan ruangan seperti biasa.” Pinta Dokter Nadia kepada seorang suster.

Allea kini sudah berada dalam suatu ruangan yang sudah mirip dengan ruang operasi dan sudah ada infus yang berada di punggung tangan kananya dan beberapa kabel yang menghubungkannya dengan monitor yanga berada di meja sebelahnya. dia masih saja menangis.. memohon dan merengek kepada Renno yang saat ini masih berada di sebelahnya dan menggenggam tangannya. Renno terlihat Linglung. Dia diam membatu, bungkam seribu bahasa sejak di ruangan USG tadi.

“Mas.. saya mohon.. lepaskan saya.. saya janjia akan pergi dari sini, saya nggak akan muncul dihadapan Mas Renno lagi…” Allea masih saja merengek pada Renno sedangkan Renno masih diam membatu pandangannya masih terarah pada perut Allea, dia menatapnya dengan tatapan kosongnya.

“Pak.. lebih baik pak Renno tunggu di luar..” Seorang suster menyuruh Renno keluar ruangan operasi tersebut. Renno yang linglung hanya menurutinya, tak menghiraukan Allea yang mulai berteriak histeris kearahnya.

“Mas… jangan lakukan ini… aku mohon.. Mass…..” teriakan Allea samar-samar terdengar di telinganya.

Akhirnya Rennopun terduduk lemas di kursi tunggu. Entah kenapa perasaannya jadi kacau balau seerti ini..? apa Dulu Ramma juga merasakan seperti ini..??

*** 

“Papa jahat… kenapa papa lakuin ini sama aku…” kata Anak Lelaki yng mengaku bernama Reynald yang pernah ditemui Renno dalam mimpinya.

“Aku nggak nglakuin apa-apa..” kata Renno kemudian.

“Papa udah bunuh aku..” kata Anak lelaki itu sambil menangis. Lalu Renno menatap kedua tangannya dan benar saja, tangan kedua tangannya penuh dengan darah.

“Kenapa Kak Renno nglakuin hal ini..? Aku nggak nyangka Kak Renno akan sejahat ini.. Aku benci Kak Renno, aku nggak mau ketemu sama Kak Renno lagi..” Renno menoleh pada pemilik suara itu, dan itu adalah Nessa, yang sudah dianggapnya sebagai belahan jiwanya selama ini.

“Tidak Ness.. jangan lakuin itu..”

“Kak Renno jahat..”

“Enggak Ness…”

“Semua ini karena Mas Renno..” kata seorang gadis yang berada di belakang Nessa. Dia Shasha, adik kesayangannya yang entah kenapa saat ini perutnnya membesar seperti sedang hamil.

“Shasha sayang.. kamu kenapa..??” tanya Renno dengan Raut khawatir.

“Aku terkena Karma karena kelakuan Mas Renno… Aku hamil dan tak ada yang mau bertanggung jawab.. Aku ingin mati saja Mas…” Kata Shasha sambil bersiap-siap mengiris nadinya dengan sebuah pisau tajam.

“Tidak Sha.. Tidak.. jangan lakukan itu… Mas Renn sayang sama kamu…” wajah Rennopun mulai memucat. Tapi Shasha tetap mengiris Nadinya membuat Renno berteriak.

“Semua ini hukuman untukmu Mas..” suara itu membuat Renno menoleh. Dia Allea… “Kamu sudah membunuh bayi kita… Dan aku bersumpah kalau kamu nggak akan pernah bahagia dengan semua orang yang kamu sayangi..”

Renno menggelengkan kepalanya. “Jangan.. jangan bicara seperti itu..”

“Kamu nggak akan bisa memiliki bayi lagi..”

“Enggak..”

“Kamu nggak akan pernah menemukan wanita lain selain aku..”

“Enggak…”

“Kamu nggak akan pernah lupain aku…”

“Tidak..”

“Dan aku.. aku tak akan pernah mau menemuimu lagi.. semuanya akan membuatmu gila.. kamu akan gila hanya karena menginginkanku Mas… Kamu akan menyesal seumur hidupmu…”

“Tidak… tidak…”

 

“TIDAAAKKK….” Renno berteriak sekencang-kencangnya ketika kesadaran mulai menghampirinya. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Matanya merah seperti orang yang selesai menangis. Mimpi itu terasa begitu nyata… Mimpi..?? astaga.. jadi semua itu hanya mimpi..??

Renno sadar jika dirinya masih berada di bangku ruang tunggu depan ruang operasi. “Operasi..??? astaga.. Allea…” gumamnya saat sepenuhnya sadar.

Renno berlari kearah pintu ruang Operasi. Dia mulai menggedor dan berteriak seperti orang kesetanan.

“Buka… buka pintunya… Cepat buka pintunya Sialan..!!!” Teriak Renno masih sambil menggedor-nggedor pintu Ruang Operasi tersebut.

“Sialan..!!! buka pintunya..” Renno berteriak lagi.

Akhirnya pintupun  dibuka dari dalam. “Maaf pak.. bapak tidak boleh..”

“Persetan dengan semuanya..” kata Renno memotong kalimat Suster yang membuka pintu tersebut. Lalu tanpa permisi Rennopun masuk kedalam ruang Operasi tersebut. Dia mendapati Allea yang sudah dibius dan setengah sadar. Sedangkan Dokter dan suster yang berada didalam ruangan tersebut terlihat terkejut dengan kedatangan Renno.

“Lepaskan semuanya.. batalkan semuanya..” Teriak Renno kepada Dokter Nadia yang akan melakukan Operasi tersebut. Rennopun Akhirnya berlari menghampiri Allea. Tanpa disangka-sangka Renno langsung memeluk Allea dengan sangat erat.. “Maafkan aku… Maafkan aku….” kata Renno kemudian sambil meneteskan Airmata. Allea yang masih setengah sadar sedikit mendengarnya, dia pun sedikit menyunggingkan senyumannya.

___TBC___

Previous Chapter  –  Next Chapter

Ps. Oiiyaa setelah ini aku mau ijin untuk gak nge post BIY dulu ya… soalnya udah banyak temen2 yang nunggu my wife.. hehheheh see you Next time….

 

 

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 2

Comments 8 Standard

BiycoverBecause It’s You

Nb : Haii… ktemu lagi nihh sama Aku.. hehheeh karena suasana hatiku yang masih tak menentu akhirnya aku putuskan untuk ngepost BIY chapter 2 ini yaa… untuk yang menunggu My Wife sabar yaa,,, suasana hatiku bener2 masih kacau jadi radak sulit dapet Feel buat nulis Genre Roman Comedy… sedikit bercerita nih.. entah kenapa yaa makin kesini aku kok kayaknya jatuh hati gitu ama Renno.. hehheehe #Abaikan. Dulu saat nulis Dhanni aku jatuh hati ama Dhanni… Saat Nulis Ramma juga jatuh hati sama Ramma, saat nulis Renno sebenernya awalnya agak nggak dapet Feel sama Renno tapi makin kesini kok jadi makin jatuh hati juga yaa ama Renno.. hadeh… apa karena sifat Babboys dia yang mulai tumbuh di story ini..? entahlah… kalo untuk para Raders sendiri gimana..? Apa ada yang mulai Readers sukai dari tokoh2 di story ini..???

 

Chapter  2

 

“Tulis.. berapapun yang kamu mau… tapi setelah itu angkat kaki Dari sini dan Jangan pernah muncul dihadapanku lagi…” Kata Lelaki itu dengan dingin Hingga Allea merasakan tubuhnya menggigil….

“Maaf.. tapi….”

“Jangan membuatku semakin marah..” kata- kata lelaki itu tajam dan penuh dengan penekanan.

Akhirnya Allea bergegas memunguti kertas-kertas itu dan pakaiannya lalu masuk kedalam kamar mandi lelaki itu, Setelah itu Allea pergi tanpa pamit karena saat ingin berpamitan Allea melihat lelaki itu berdiri di dekat jendela dengan menghadap kearah luar jendela seakan-akan dia sudah tak ingin lagi melihat wajah Allea… sebegitu hinakah dirinya…???

 

“Mbak.. Kok malah ngelamun sih… tuhh Mas Robby udah datang ayoo..” Ajakan Natasha kemudian menyadarkan Allea dari lamunannya. Akhir-akhir ini dia Sering melamunkan lelaki itu… Dia bahagia.. bahagia dan sakit… dia bahagia karena dia masih mampu mengingat setiap detail dari wajah lelaki itu.. Dia merindukannya…. tapi… dia juga sakit.. sakit karena perlakuan kasar Lelaki itu pada pagi itu.. sakit karena dia terlalu berharap banyak  tapi ternyata semua itu tak munkin terjadi.

“Haii wanita-wanita cantik..” Sapa Robby dengan lembut dan menyunggingkan senyuman Khasnya.

“Mas Robby mulai dehh ngegombalnya..” Gerutu Natasha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Allea hanya tersenyum melhat kelakuan Natasha dan Robby.

“Shasha.. kamu dibelakang aja yaa.. biar Mbak Allea di depan. Mas mau ngobrol ama Mbak Allea..”

“Halahh alasan.. bilang aja kalo mau kenal lebih dekat..”

Dan Robbypun hanya nyengir sambil mengacak rambut Natasha. Akhirnya malam itu Allea duduk di depan. Merekapun asyik mengobrol bersama..

*** 

“Papa…”

Renno menoleh ketika seorang anak lelaki memangilnya sambil menarik-narik lengannya. Anak itu terlihat sangat tampan dan menggemaskan, Renno versi mini, Rennopun tersenyum melihat anak tersebut. Dia duduk berjongkok di hadapan anak tersebut.

“Heii,,, siapa namamu.?” Tanya Renno Kemudian.

“Reynald..” Jawab anak tersebut.

“Dimana orang tuamu..? kenapa kamu bisa di sini sendiri..?”

“Mama disana Pa..” Jawab anak itu sambil menunjuk kearah sebuah pohon.

“Aku bukan Papamu,, ayoo Oom antar ketempat Mamamu..”

“Oom adalah Papaku..”

Renno mengernyitkan sebelah alisnya ingin bertanya lagi pada anak lelaki itu, tapi anak itu sudah berlari sambil memanggil-manggil mamanya.

“Mama.. ayoo… kita ketemu Papa..” kata anak tersebut sambil menyeret seorang wanita kearah Renno. Dan betapa terkejutnya Renno saat melihat wajah wanita tersebut.. Wajah yang sama… tatapan mata yang sama…

 

Seketika itu juga Renno terbangun dari tidurnya… dia lalu terduduk dan memandangi sekelilingnya. Dia baru sadar ternyata dia masih berada di dalam kamar apartemennya.. Rennopun mengusap wajahnya dengan frustasi. Astaga… bahkan di mimpipun wanita Sialan itu mengganggunya… Wajah polos itu… Tatapan sendu itu… benar-benar membuat Renno Marah dan ingin meledak-ledak. Tapi marah karena apa..? Apa karena Rasa bersalah pada Wanita itu yang membuat Renno ingin marah..?? Entah lah…. yang jelas Renno harus segera menemukan Wanita tersebut, memastikan keadaannya, apa dia benar-benar Hamil anaknya atau tidak.

“Sayang.. kamu kenapa..? Kamu kok Keringetan dingin..?”

Renno memandang wanita di sebelahnya yang sedang memeluknya dengan Khawatir. Dia Maya, sekertarisnya. “Kamu ngapain disini..?” bukannya menjawab Renno malah bertanya dengan sedikit dingin.

“Ngapain gimana..? tadi kan kita habis bercinta.”

“Aku tau.. tapi bukannya kamu harus pulang..?”

“Mana mungkin aku pulang sayang… ini kan udah jam 3 pagi..” Rengek Maya.

“Cepat pakai Bajumu, aku antar pulang.”

“Renn kamu tega ngusir Aku..?” Maya bertanya dengan Sedikit meninggikan nadanya.

“May.. jangan buat aku marah, Bagaimanapun juga aku tetap atasanmu.” Jawab Renno dengan sedikit mengancam.

“Brengsekk Kamu Renn.” Umpat maya Sambil menuju kekamar mandi.

Renno lagi-lagi mengusap wajahnya dengan Frustasi.. “Yaa.. aku memang Brengsek,, aku Bahkan tak bisa melihat wanita lain selain wanita sialan itu..” Bisik Renno pada dirinya sendiri.

 

*** 

 

Kali ini Renno terbangun dengan badan yang pegal-pegal. Dia tidak berada di dalam Kamarnya yang nyaman melainkan berada di dalam mobilnya. Tadi malam setelah mengantar Maya pulang Renno tidak langsung kembali ke Apartemennya. Dia malah mengelilingi Kota jakarta untuk mencari-cari seseorang. Yaa siapa lagi jika bukan wanita itu.. wanita yang akhir-akhir ini membuatnya frustasi dan ingin meledak-ledak.bahkan pagi ini dia berakhir tidur di dalam mobilnya tepat di depan Apotek tempat dia terakhir kali bertemu dengan Dhanni Nessa dan wanita itu…

Renno sedikit berharap dia akan bertemu dengan Wanita itu disini lagi.. Tapi sebenarnya untuk apa dia ingin menemuinya..? Apa yang akan ia lakukan jika wanita tersebut benar-benar mengandung anaknya..?? bukankah itu akan semakin menyusahkannya..? Entahlah… mungkin ini semua hanya rasa bersalahnya saja..

‘Bodoh.. Sebenarnya apa yang kulakukan disini..???’ Renno merutuki kebodohannya dalam hati. Tiba-tiba hpnya berbunyi. ‘Ramma’ ID Call yang sedang muncul di layar Hpnya.

“Halo..”  Jawab Renno sedikit malas khas orang yang baru bangun tidur. “Sialan.. Lo dimana..? Lo lupa kalo pagi ini ada rapat penting..?” Semprot Ramma dan itu membuat Renno gelagapan. Astaga.. bahkan dia sudah melupakan Rapat yang sangat penting hanya karena Wanita sialan itu…??

“Brengsek.” Umpat Renno pada dirinya sendiri.

“Cepat kesini kalo Lo nggak mau Klien pada kabur gara-gara CEOnya suka telat.” Dan Rennopun langsung menancap Gas mobilnya setelah menutup telepon dari Ramma.

*** 

 

Allea saat ini sedang bersih-bersih di rumah kontrakannya. Dia saat ini mengenakan daster kebesaran khas ibu-ibu seperti hari-hari biasa. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke empat dan itu sedikit mempengaruhi bentuk tubuhnya. Perut buncitnya sudah sedikit terlihat ketika dia mengenakan Daster kebesaran itu dan semakin terlihat saat dia mengenakan pakaian kerjanya di Cafe.

Bagaimana dia bisa menyembunyikan kehamilannya dari para tetangganya..???  kalau mereka tau pasti mereka akan menghakimi dirinya sebagai wanita murahan karena hamil tanpa suami. Haruskah dia kembali tinggal ke panti asuhan tempatnya dibesarkan dulu..? tidak.. dia tidak bisa, bagaimanapun juga ibu panti akan sangat kecewa ketika melihat keadaannya saat ini. Lebih baik dia dihakimi para tetangga dari pada harus membuat ibu pantinya kecewa.

“Haii…” suara itu membuat Allea mendongakkan kepalanya dan memandang ke depan gerbang kontrakannya. Seorang Lelaki tampan sudah menunggunya dengan senyuman. Itu Robby…

Allea ternganga saat melihat Robby sedang memandangnya dengan tatapan anehnya. Kenapa mas Robby bisa ada disini..? tanyanya dalam hati.

“Mas Robby.. kenapa Mas Robby bisa disini..?” Tanya Allea dengan tatapan tak percayanya.

“aku mau jemput kamu kerja.” Jawab Robby dengan santai.

“Tapi.. aku bisa berangkat sendiri, lagian ini kan masih jam 9..”

“Shasha menyuruhku untuk jemput kamu..”

“Shasha..?” tanya Allea lagi.

“Aaahh.. kamu pasti biasa panggil dia Natasha..” kata Robby membenarkan.

“Ooohhh Natasha..” Allea mengangguk-angguk. “Gadis itu memang baik..” lanjut Allea lagi sambil tersenyum.

“Apa kamu akan membiarkan aku berdiri disini lebih lama lagi..?” tanya Rooby kemudian.

“Ohhh iyaa.. mari masuk Mas…” Alleapun akhirnya mempersilahkan Robby masuk. “Silahkan duduk, Mas Robby mau minum apa..?” lanjut Allea lagi..

“Ahh nggak usah repot-repot.. Rumah kamu sederhana yaa.. mirip sama Orangnya.” Dan Alleapun hanya tersenyum simpul.

“Aku hanya bisa ngontrak yang seperti ini Mas..” Jawab Allea seadanya.

Tiba-tiba Hp Robby berbunyi, Robbypun mengeluarkan Hpnya dari saku celananya, saat melihat siapa yang menelepon Robby mengernyitkan alisnya. “Renno…?? Tumben dia hubungi aku Sepagi ini..?” Robbypun bertanya-tanya sendiri.

“Siapa Mas..?” Allea yang tadi sempat mendengar Gumaman Robby akhirnya bertanya.

“Renno, Kakaknya Shasha, nggak biasanya dia telepon sepagi ini. Tunggu dulu yaa..” Jawa Robby yang akhirnya menjawab Panggilan dari Renno.

“Hallo..”

“Dimana Lo..?”

“Gue lagi jemput seseorang..”

“Siapa..? Cewek Lo..?”

“Bukan urusan Lo.. Ada apa..? tumben telepon pagi-pagi.”

“Kekantor Gue sekarang juga, Gue butuh Elo..”

“Nanti setelah jam 11..” jawab Robby santai.

“Sialan, Gue butuh Lo sekarang Robb.. Kalo Lo sampek telat semenit Aja Gue bakal nyuruh Lo Lembur malam ini.”

“Gue nggak peduli.” Dan setelah kata-kata itupun Robby langsung menutup teleponnya tanpa mempedulukan Sumpah serapah Renno yang sempat sedikit terdengar di telinganya.

“Kenapa Mas..?” tanya Allea kemudian ketika melihat raut wajah Robby yang kesal.

“Nggak apa-apa, dia emang suka seenaknya sendiri..” jawab Robby kemudian.

“Kalian Nggak akur..?”

Robby mengangkat kedua bahunya. “Dia memang nggak suka dengan keluargaku.” Jawabnya kemudian.

“Lohh kok bisa..”

“ahh udah,, nggak usah di bahas, mendingan sekarang kamu mandi terus ayoo kuantar ke Cafe.”

Dan alleapun mengangguk  lalu meninggalkan Robby untuk bersiap-siap ke Cafe. Setengah jam kemudian Allea sudah kembali dengan seragam kerjanya yang rapi. Robby sedikit tersenyum saat melihat Allea. “Kenapa..?” tanya Allea saat Robby menatapnya dengan tatapan Anehnya.

“Itu…” kata Robby sambil menunjuk perut Allea yang terlihat membuncit.

“Apa..? Kenapa..?” tanya Allea lagi masih tak mengerti.

“Kamu terlihat aneh dan sedikit menggemaskan dengan perut buncit itu..” jawab Robby tanpa meninggalkan senyuman manisnya.

“Hehheeh iyaa… aku juga masih merasa aneh dengan ini..”

“Berapa usianya..?’

“Emmm.. sudah sekitar 15 minggu..”

Robby lalu mengangguk “Hampir 4 bulan.. gimana dengan ayahnya..?” dan setelah pertanyaan itu wajah Allea berubah muram. Robby mengerti apa yang dia rasakan Allea karena Robby sudah mengetahuinya dari Shasha, “Kamu nggak usah Khawatir,, setelah dia lahir nanti dia boleh menganggapku sebagai ayahnya kok..” Kata Robby kemudian sambil memegang kedua bahu Allea.

Kata-kata itu membuat Allea ternganga.. “Ayoo cepat, nanti kamu terlambat.” Lanjut Robby yang kali in sudah menggandeng Allea dan sedikit menyeretnya. Allea merasa Robby benar-benar sedikit berbeda dari pada biasa-biasanya.

*** 

“Lo gila ya… mana mungkin Gue nyelesein semua ini dalam waktu semalam..?” kata Robby sedikit meninggi kepada Renno.

“Lo harus terima Konsekuensinya,” Jawab Renno dingin.

“Tapi Renn.. nanti malam Gue sibuk..”

“Apa belum cukup pagi ini aja Lo sibuk..? Ingat Robb ini bukan Perusahaan keluarga Lo yang bisa seenaknya Lo tinggalin kapanpun Lo mau..”

“Gue tau.. tapi Shasha..”

“Ada apa dengan Adek Gue..?” tanya Renno menajam.

“Gue kan biasanya antar jemput dia.. trus malam ini..”

“Gue yang jemput.” Renno memotong kalimat Robby dengan dingin. Dan Robbypun hanya bisa menghela nafasnya penjang, pasrah dengan apa yang dilakukan Renno terhadapnya.

Akhirnya Robbypun keluar dari ruangan Renno lengkap dengan Beberapa berkas-berkas menumpuk di tangannya.

“Dia kenapa..?” tanya Ramma yang saat itu tiba-tiba masuk ruangan Renno, dia bersama Dhanni.

“Gue suruh lembur.” Jawab Renno cuek.

“Gue heran deh Renn sama Lo.. Lo sebenernya kenapa sih..?” tanya Ramma Lagi.

“Gue Cuma lagi Capek Ramm.”

“Nggak mungkin, tadi pagi aja Kita hampir saja kehilangan Klien besar hanya karena ulah cerobohmu, belum lagi mukamu yang selalu di tekuk bikin semua orang yang lihat pada ketakutan.”

Renno hanya terdiam tak menanggapi ocehan Ramma.

“Apa karena Wanita itu..?” Akhirnya Dhanni yang sejak tadi diam ikutan nimbrung. Renno menegang saat Dhanni mengucapkan Kata ‘Wanita itu’..

“Wanita..? wanita apaan..?” tanya Ramma yang masih tak nyambung dengan perkataan Dhanni.

“Beberapa minggu yang lalu kami sempat ketemu di depan apotek, ada seorang wanita yang lari terbirit-birit gara-gara melihat Renno, dan Si Rennopun langsung mengejar wanita itu. Gue pikir mereka ada dalam suatu hubungan.” Papar Dhanni.

“Sialan..!! sebenarnya kalian mau ngapain kemari..? Kalo kalian mau nggossip lebih baik pergi dari ruanganku sekarang juga.” Umpat Renno pada kedua sahabatnya itu, dan dibalas  dengan tawa dari kedua Sahabatnya itu.

“Slow.. Man.. Slow… Elo bener-bener ada masalah sama wanita itu..? Jangan bilang kalo wanita itu adalah Wanita tukang bersih-bersih Apartemen Gue… hahhahaha” Kata Ramma Sambil tertawa.

“Tukang bersih-bersih…?” kali ini Dhanni yang bertanya dengan bingung.

“Iya Dhann…  Lo nggak tau kalo si Renno pernah bercinta dengan tukang bersih-bersih di apartemen Gue..?” kata Ramma dengan menyungginkan tawa mengejeknya.

“Apa..??” Dhanni terlihat kaget dan tak percaya.

“Brengsek Kalian.” Kali ini Renno mengumpat sambil berdiri dan bergegas pergi meninggalkan kedua sahabatnya di dalam ruangannya.

Ramma masih saja menertawakan kelakuan Renno. “Dia memang selalu sensitif saat membahas wanita itu..”  lanjut Ramma lagi.

Dhanni hanya terdiam tak menyangka Renno melakukan hal itu. Baginya diantara mereka bertiga Renno lah yang paling lebih baik. Renno sudah pernah mencintai wanita dengan tulus, dia juga selalu menyayangi pacar-pacarnya dulu. Sangat berbeda dengannya yang suka memacari banyak wanita sekaligus tanpa perasaan Atau dengan Ramma yang hanya Suka One Night Stand saja dengan wanita-wanita menarik yang ditemuinya.

Tapi Renno yang sekarang bagi Dhanni sudah berubah. Dia dingin, pendiam, dan cenderung sering kasar atau meledak-ledak. Dia juga memiliki banyak kekasih bahkan di dalam kantornya sendiri. Penyakit Ramma yang suka mengantongi alat Kontrasepsipun sekarang menular pada Renno.

Dia juga suka bercinta dengan sembarang wanita….

“Dhann.. nanti malam Clubbing yokkk..” ajakan Ramma membuyarkan angan-angan Dhanni.

Dhanni hanya tersenyum. “Berapa kali Gue bilang, Gue nggak Clubbing lagi, Gue musti ngurus anak Gue..”

“Sial.. Lo… Sejak kapan Lo jadi banci begini..?”

“Hahhaa Gue nggak Banci, Gue hanya terlalu Cinta sama Istri dan anak Gue.” Jawab Dhanni kemudian.

“Omong kosong.. Gue Juga cinta Sama Zoya, tapi Gue masih bisa bercinta dengan wanita lain..” jawab Ramma Enteng.

“Ramm.. Itu bukan Cinta.. Kalo Elo bener-bener Cinta sama Zoya, Elo nggak akan bisa mikirin wanita lain selain dia. Mata, Hati dan fikiran Elo semua hanya Tertuju pada Wanita itu, nggak akan ada tempat untuk wanita lain, itulah Cinta Ramm yang dulu biasa kita sebut ‘Zona Bahaya’…”  kata Dhanni sambil tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Ramma. “Dan Gue Fikir Renno sudah mulai masuk dalam ‘Zona Bahaya’ tersebut..” lanjut Dhanni masih dengan terseyum.

“Elo pikir Renno mulai suka sama wanita itu..?” Ramma bertanya dengan nada  tak percaya.

Dhanni hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Sama tukang bersih-bersih yang pernah bercinta dengannya..???” Ramma masih bertanya dengan nada tak percaya.

“Mungkin aja.. Cinta nggak mandang bulu kan..”

“Dhann.. Elo udah parah yaa.. Sampai kapanpun Gue nggak akan pernah mau masuk dalam Zona sialan itu jika itu akan merubah Gue menjadi Lelaki yang Lembek dan Bodoh kayak Elo sekarang ini..”

“Gue udah pernah bilang seperti itu dulu, dan nyatanya sekarang Gue senang berada dalam Zona bahaya Tersebut bahkan seumur hidup.”

Ramma menggelengkan kepalanya. “Gue bersumpah itu nggak akan terjadi dengan Gue, Gue nggak akan pernah bertekuk lutut dihadapan wanita manapun.”

“Dan jika saat itu terjadi, Gue bersumpah akan menjadi penonton Pertama yang bertepuk tangan dan menertawakan kebodohan Lo…” kata Dhanni sambil berlalu pergi dengan menyunggingkan senyuman bahagianya.

“Sialan Lo..” umpat Ramma sambil mengejar Dhanni.

*** 

Allea merapatkan Jaket yang ia kenakan untuk melindungi perutnya, Malam ini cukup dingin dan ia takut jika bayi yang dikandungnya ikut merasa kedinginan didalam sana. Entah kenapa dia amat sangat menyayangi bayinya tersebut, mungkin ini yang di sebut naluri ibu.

“Mbak.. Mbak Allea udah mau pulang..?” tanya Shasha yang sudah berada di sebelah pintu keluar Cafe.

“Iya.. kamu sendiri kok masih disini,,?” tanya Allea balik.

“Nggak tau nihh mbak… Mas Robby nggak bisa dihubungi. Mana ini kan malam minggu pasti banyak anak Balapan dan anak-anak iseng yang berkeliaran, aku takut pulang sendiri mbak..”

“Ya udah.. gimana kalo aku antar..?” Tawar Allea..

“Enggak ahh mbak.. kita kan sama-sama wanita, lagi pula aku kasian sama Mbak Allea pasti juga udah kecapek’an..”

“Trus kamu maunya gimana..? Apa kamu mau nunggu sini aja..?” tanya Allea lagi, dan Shasha hanya mengangguk. “Ya udah kalo gitu mbak temanin kamu nunggu deh..”

Dan Shashapun melompat-lompat bahagia seperti anak SD yang baru saja dapat hadiah permen gulali. Tiba-tiba ada sebuah mobil sport  yang berhenti dia jalan di hadapan mereka. Shasha mengernyitkan alisnya saat dia melihat mobil tersebut, Sepertinya dia tau siapa pemilik mobil tersebut. Dan benar saja, setelah pengemudi mobil tersebut keluar, Shasha langsung menghambur kedalam pelukan orang itu.

“Mas Renno…..” Teriak Shasha sambil memeluk lelaki tersebut ketika dia sudah dekat.

Sedangkan Allea yang melihat lelaki tersebut Langsung menegang. Astaga… itu… itu.. lelaki waktu itu… Lelaki yang sama… yang saat ini berada di hadpannya dan memandangnya dengan tatapan yang sama, tatapan yang tajam seakan-akan bisa membunuh. Seketika itu juga Tubuh Allea gemetar, tangannya berusaha menutupi perutnya yang sedikit membuncit. Lelaki itu tak boleh tau jika dirinya sudah hamil anak lelaki tersebut…

Sedangkan Renno sendiri juga menegang saat mengetahui siapa wanita di hadapannya. Wanita sialan yang beberapa minggu ini mengganggu pikirannya… wanita yang… yang mungkin saja sedang mengandung anaknya… Sialan..!!! Siapa dia..?? berani dan Lancang sekali dia mengandung Keturunan Keluarga Handoyo..?

___TBC___

Previous Chapter  –  Next Chapter

 

 

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 1

Comments 20 Standard

rennoallea

Because It’s You

NB ; Hanya ingin tau ada yang tertarik nggak sihh dengan kisah ini…?? heheheh Karena ini Chapter pertama.. Author gk bisa ngomong apa2… untuk komentar terserah pembaca aja dehh…  Happy Reading…

 

 

Chapter  1

“Lo kayaknya sibuk banget,” Kata Ramma yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam Ruangan Renno.

“Sejak kapan Lo disitu..?”

“Dari tadi, Lo aja yang nggak pehatiin.” Jawab Ramma Cuek. “Renn, nanti malem ngumpul bareng yokk..” Ajak Ramma.

“Gue banyak kerjaan..”

“Astaga, Lo Kan Boss, lagian nanti gue bantu, Lo tenang aja..”

“Nggak, gue males keluar ama Lo lagi. Terakhir Gue keluar sama Lo Gue malah bangun di sebelah pembantu gue sendiri.”

“Brengsek  Lo Renn.. bisa-bisanya lo sebut dia pembantu.”

“Dia emang pembantu gue.” Jawab Renno dingin Dan Cuek.

“Sialan Lo..” Umpat Ramma, dia memang nggak suka dengan sifat Renno yang sekarang ini. Renno yang sekarang adalah Renno yang dingin dan pendiam. Kata-katanyapun selalu tajam. Semua itu dikarenakan patah hati yang ia alami 3 tahun yang lalu. Membuatnya menjadi sosok yang berbeda. Akhirnya Rammapun pergi meninggakan Renno.

“Lo mau kemana.?” Tanya Renno yang melihat Ramma sedang bergegas pergi.

“Gue pergi, males ngomong sama lo.” Jawab Ramma sambil meninggalkan Renno pergi begitu saja.

“Sial..!” Renno mengumpat ketika Ramma sudah meninggalkan ruangannya.

Renno memijit-mijit keningnya, kepalanya pusing. Akhir-akhir ini fikirannya sangat kacau. Jika 3 tahun belakangan ini fikirannya sangat kacau karena seorang Nessa Arriana, maka berbeda dengan 3 minggu terakhir ini.

Tiga minggu yang lalu Renno tak sengaja bertemu dengan Dhanni dan Nessa di depan sebuah Apotek. Mereka asyik berbincang seperti teman lama yang tak pernah bertemu, hingga pada akhirnya seorang wanita muda menabrak Nessa dari belakang hingga wanita tersebut jatuh dan obatnyapun berserahkan.

Renno ternganga ketika mendapati siapa yang tak sengaja menabrak Nessa tersebut. Dia adalah wanita itu… wanita yang tak sengaja dia tiduri malam itu ketika dia mabuk berat hingga tak sadar bahwa dia sedang bercinta dengan seorang perawan dan tanpa pengaman.

Renno benar-benar Merutuki kebodohannya saat itu, yanga paling dia hindari selama in adalah bercinta dengan perawan dan bercinta tanpa pengaman. Tapi karena keteledoranya dia melanggar semua pentangan itu. Apalagi dengan wanita yang diluar dugaannya, seorang wanita yang bekerja membersihkan Apartemen milik Ramma yang sedang ia pinjam.

Sekali lagi Renno memijit-mijit keningnya. Saat itu Wanita tersebut begitu terburu-buru apalagi ketika melihat Renno dihadapannya. Nessa yang saat itu membantu memunguti obat wanita tersebut bahkan sempat bertanya apakah wanita itu hamil atau tidak, karena wanita itu hanya membeli beberapa Vitamin Prenatal-Vitamin untuk ibu hamil- tapi bukannya menjawab wanita itu malah lari terbirit-birit.

“Astaga… apa benar wanita itu sedang hamil..? Apa itu anaku..? Shiit…!!! Bodoh.. Bodoh…” lagi-lagi renno menyumpahi dirinya sendiri.

**** 

 

Lagi-lagi Allea muntah ditengah-tengah pekerjaannya.

“Mbak… embak nggak apa-apa kan..? Aku bantu yaa mbak..” Tawar Nathasha, Gadis muda yang sangat baik terhadapnya saat bekerja.

Saat ini Allea sedang bekerja di sebuah Cafe, lagi-lagi dirinya hanya sebagai tukang bersih-bersih di Cafe tersebut. Karena memang dirinya tak mempunyai ijazah apapun kecuali ijazah SD dan SMP.

Allea besar di sebuah panti asuhan. Ketika umurnya mencapai 20 tahun dia sudah memutuskan untuk keluar dari panti asuhan dan belajar hidup mandiri. Sesekali dia mengunjungi ibu panti dan adik-adiknya. Berbekal pendidikan seadanya Alleapun bekerja seadanya, dari buruh cuci, pelayan di rumah makan, hingga yang terakhir dia harus menggantikan temannya untuk menjadi tukang bersih-bersih disebuah apartemen mewah. Tempatnya bertemu dengan Lelaki itu.

Allea sangat terluka saat mengingat kejadian itu, kejadian diamana mimpi buruknya baru dimulai ketika dengan tidak sadar majikannya bercinta dengannya karena mabuk berat.  Merenggut keperawanannya. Yaa meskipun lelaki itu melakukannya dengan sangat lembut namun hati allea tak bisa di pungkiri ketika tanpa sadar lelaki itu menyebut nama wanita lain saat bercinta dengannya.

 

FlashBack

Sudah hampir sebulan Allea menggantikan Tami -temannya- bekerja membersihkan sebuah apartemen mewah milik seseorang. Namun sekalipun Allea tak pernah bertemu dengan orang yang menempati apartemen tersebut, dia hanya tau jika apartemen tersebut adalah milik  Ramma Aditya, seorang CEO muda yang sukses membangun perusahaannya sendiri dari Nol, ditambah lagi hobbynya sebagai Fotografer membuatnya terkenal di kalangan artis. Dia tau karena dia pernah membaca kabar itu di koran.

Namun kata Tami, saat ini Mas Ramma –panggilan tami keada majikannya- tidak menempati apartemen tersebut karena Apartemen tersebut di pinjam oleh temannya. Yang sampai sekarangpun Allea tak tau siapa temannya Mas Ramma tersebut. Jika dilihat dari beberapa perabotan di kamar majikannya itu, terlihat jika yang menempati Apartemen tersebut adalah seorang Lelaki.

Allea tak pernah bertemu karena dia hanya membersihkan Apartemen itu pada siang hari, ketika Si pemilik Apartemen sedang di luar rumah. Namun mungkin hari itu adalah hari yang Sial baginya.

Ketika sedang membersihkan kamar Utama, Allea tak sadar jika dia sudah menjatuhkan hpnya. Dia baru tersadar jika kehilangan Hp saat dia sudah berada di dalam Cafe tempatnya bekerja paruh waktu saat ini sebagai tukang bersih-bersih. Akhirnya malam itu setelah pulang dari Cafe dia berniat mengambil Hpnya kembali, dia berdo’a Supaya teman Mas Ramma belum pulang supaya dia bisa leluasa untuk mencari hpnya tersebut.

Tapi Do’a tinggallah Do’a.. Saat Allea memeriksa kamar utama tiba-tiba sebuah lengan Kekar menarik pinggangnya, memeluknya dengan erat. Allea bergetar karena baru pertama kali ia di peluk oleh seorang lelaki apalagi seintim ini.

“Mas.. Maaf.. saya…”

“Biarkan aku memeluk kamu Ness… Aku kangen sama kamu…” racau lelaki tersebut. Allea baru tau jika lelaki tersebut sedang mabuk.

“Maaf  Mas.. saya Cuma..”

Allea belum sempat melanjutkan kata-katanya karena bibirnya sudah di bungkam oleh sesuatu yang lembut, basah dan panas.. Astaga.. apakah ini yang namanya berciuman..? tanya Allea dalam hati karena untuk ukuran wanita dewasa (27tahun) Allea benar-benar polos. Dia sama sekali belum pernah berpacaran apalagi berciuman, hidupnya hanya untuk bekerja, bekerja dan bekerja.

Allea memejamkan matanya, menikmati sentuhan dari lelaki tersebut, entah kenapa lelaki ini begitu memabukkan hingga Allea tak mampu untuk menolaknya. Sesekali Allea membuka matanya melihat ketampanan dari lelaki yang berada di hadapannya… amat sangat tampan… Wajahnya bagaikan pahatan-pahatan sempurna untuk seorang lelaki, Rahangnya begitu kokoh hingga terlihat sangat maskulin, sesekali Allea melihat lelaki itu tersenyum, senyum yang amat sangat mempesona. jantungnya berdegup tak menentu.. Perasaan apa ini..? Allea bertanya-tanya dalam hati. Tapi ia tak sempat memikirkan apa-apa lagi ketika Lelaki itu membawanya ketempat yang amat sangat indah.. tempat yang tak pernah Allea bayangkan selama ini…… Dia menikmatinya… menikmati bersama lelaki yang sama sekali tak di kenalnya… hingga menuju puncak kenikmatan tersebut…

 

“Mbak.. embak kenapa..? kok malah melamun..?” Tanya Natasha mengagetkan Allea.

“Ah.. enggak… aku Cuma kecapekan aja.” Jawab Allea..

“Mbak nanti biar di antar kakaku lagi yaa.. aku kasihan sama mbak..”

“Nggak usah Nat.. aku takut ngrepotin kamu.”

“enggak Mbak.. Mas Robby malah seneng kalau jemputin aku sama Mbak..”

Allea lalu menghela nafasnya. “Ya sudah, aku ikut kamu aja..”

 

*** 

 

Renno baru saja menyelesaikan Rapatnya. Dia mengehempaskan tubuhnya dengan kasar ke Sofa yang berada di dalam ruang kerjanya. Melonggarkan letak dasinya, ada raut frustasi di wajahnya. Sial.. bahkan ketika rapatpun dirinya masih saja memikirkan wanita itu.. wanita yang ditidurinya saat ia tak sadar.. Wanita yang menyita pikirannya beberapa minggu ini.. wanita yang secara tak sengaja membantunya melupakan Nessa… melupakan Nessa..? tidak, Dia tidak akan pernah melupakan Nessa…..

Tiba-tiba Renno merasa pintu Ruangannya dibuka tanpa permisi, siapa yang berani-beraninya membuka pintu Ruangan sang CEO tanpa mengetuknya terlebih dahulu..? dan pertanyaan itupun terjawab dengan kemunculan seorang wanita dengan pakaian rapi namun Sexy, dan tanpa permsi wanita itupun langsung melemparkan diri kedalam pangkuan Renno. Dia Maya, Sekertaris pribadi Renno yang sudah 2 bulan di pacarinya.

“Sayang,, kenapa Wajah kamu selalu kusut seperti ini..?”  tanya maya dengan nada lembut dan menggoda.

“Aku capek sayang..” Jawab Renno lembut juga.

“Emmm.. kalo gitu nanti malem aku nginep apartemen kamu yaa..”

“Tapi aku capek, Aku Cuma pengen istirahat..” jawab Renno malas-malas.

“Aku akan  merawat kamu..”

“Terserah kamu saja..” jawab Renno cuek.

Tiba-tiba hpnya berbunyi. Renno melihat ID Callnya ternyata itu Shasha… adik tersayangnya.

“Ada apa sayang..?” Tanya Renno lembut, membuat Maya yang berada di dalam pangkuannya menatapnya dengan tatapan tak sukanya. Yah… dengan reputasi buruk yang di dengar tentang Renno tentu saja Maya Tak Suka jika kenyataannya yang menelepon Renno saat ini adalah seorang wanita.

“Mas Renn Kapan pulang kerumah..?”

“Mas masih banyak kerjaan.. nanti juga pulang.”

“Aku kan pengen Mas Renn nganter jemput aku saat kerja..”

“Mas masih sibuk sayang.. nanti kalo udah nggak sibuk Mas pasti nganter jemput kamu.”  Dan setelah perkataan Renno itupun Maya langsung berdiri dengan Gusar. Dia sudah tak dapat lagi menahan rasa cemburunya. Rennopun menariknya kembali hingga duduk dipangkuannya lagi, lalu di cumbuinya Leher Maya membuat Maya luluh…

“Mas lagi ngapain sih..?? kok berisik amat..”

“Udah dulu ya Sha… Nanti mas hubungi kamu lagi..” Dan tanpa permisipun Renno langsung memutus sambungan teleponnya. “Kenapa sayang..? apa kamu cemburu..?” kali ini Renno bertanya kepada Maya tanpa menghentikan Cumbuannya.

“Jelas aku cemburu..” Maya mulai merajuk.

“Itu adikku sayang..” Jawab Renno santai. Dan Mayapun langsung di buat malu olehnya. “Kamu sudah memancingku, Aku menginginkannya sekarang.” Maya bukannya menolak dia malah tersenyum dengan bahagia.

Dan Merekapun akhirnya melakukannya di Sofa ruangan Kerja Renno. Bukan hal aneh atau baru buat mereka, karena mereka memang sering melakukannya di situ. Renno yang sekarang memang benar-benar berbeda, dia sudah hampir seperti Ramma yang kemana-mana selalu sedia Kondom Didalam Saku celananya. Bedanya, Renno hanya akan meniduri Wanita yang sudah menjadi pacar atau kekasihnya, sedangkan Ramma,, Hampir seluruh populasi wanita di jakarta pernah di tidurinya.

 

*** 

“Kenapa Nat..? kok kamu kelihatan murung..?” tanya Allea saat menghampiri Natasha yang sedang duduk murung di depan Cafe tempat mereka bekerja. Saat ini memang sudah jam pulang dan mereka sedang menunggu jemputan dari Robby.

“Kakakku mbak… Dia nggak pernah pulang kerumah..” Natasha bercerita dengan galau.

“Loh… yang penting kan kamu ketemu terus sama dia, lagian ini nanti dia kan mau jemput kamu.” Jawab allea yang masih nggak nyambung.

“Bukan Mas Robby Mbak… Mas Robby emang Kakakku, tapi Cuma kakak Sepupu. Ini Kakak Kandungku, Mas Renno..”

“Ohhh.. jadi kamu punya kakak lain selain Mas Robby..?”

Natasha Hanya menganguk. “Aku pengen dia antar jemput aku mbak… aku pengen dia tau kalo aku sudah nggak manja lagi kayak dulu, dan sudah bisa cari uang sendiri.”

“Mungkin Mas Renno sedang sibuk..”

“Dia memang sedang menghindari kami mbak…” Jawab Natasha Lirih.

“Lohh kok bisa..?”

“Dia menjadi Lelaki brengsek saat putus dengan sepupu kami, dan sekarang dia jadi lelaki yang super Brengsek setelah putus dengan Wanita yang dinikahi sahhabat karibnya sendiri..”

“Astaga… kenapa bisa seperti itu..?”

“Aku juga nggak tau mbak.. Padahal sebenernya Mas Renno orangnya baik… tapi sekarang jadi jauhin Kami gara-gara Sikap buruknya yang membuat Papa pengen jodohin dia, Akhirnya dia lebih memilih hidup bebas sendiri.”

Allea hanya mengangguk-angguk mencoba memaahami masalah Keluarga Natasha. “Mbak Sendiri gimana..? Apa Ayahnya si Babby udah pulang..? tubuh mbak makin lemah, harusnya mbak jangan kerja dulu..”

Allea menghangat saat mendapatkan perhatian dari Natasha,,, Andai saja ayah bayi ini yang memperhatikannya. Tak bisa di pungkiri jika Allea sangat mengharapkan Ayah dari bayi yang di kandungnya, Namun bagi allea semuanya hanya mimpi, bagaikan pungguk yang merindukan bulan.. lagi pula sudah jelas jika si ayah tak pernah menginginkan hubungan itu terjadi apalagi sampai menghasilkan seorang bayi.. Allea masih ingat dengan Jelas bagaimana pagi itu ia lalui.. pagi yang benar-benar membuatnya hancur berkeping-keping setelah semalaman terbang keawan…

 

Allea membuka matanya namun belum berani meenggerakkan tubuhnya yang sedang dipeluk erat oleh lelaki yang berada di hadapannya… Takut kalau-kalau membangunkan lelaki tersebut. Akhirnya Allea hanya bisa diam membatu sambil mengagumi ketampanan dari lelaki yang berada di hadapannya. Amat sangat tampan.. Alisnya tebal, hidungnya mancung.. kulitnya putih bersih… dan bibirnya.. ohh bibir yang mencumbuinya semalaman… benar-benar menggoda..

Allea memerah hanya karena mengingat percintaan panas pertamanya dengan lelaki yang sampai detik ini pun belum diketahui siapa namanya… Allea menggosok-nggosok pipinya dengan kedua tangannya karena merasakan pipinya mulai memanas karena gugup. Tiba-tiba lelaki dihadapannya menggeliat dan mulai sedikit demi sedikit membuka matanya…

Yang Allea lihat dari ekspresi lelaki itu adalah kesannya yang sangat terkejut. “Kamu… Kamu siapa.. Kenapa kamu bisa…” tanya lelaki itu sedikit terpatah-patah dan sedikit menjauhkan diri.

“Emmm saya… Saya yang membersihkan Apartemen ini setiap siang, tadi malam saya kembali lagi untuk mencari hp saya yang tertinggal.. tapi… sebelum saya menemukan… Mas sudah….”

“APA..???” teriakan lelaki itu sontak membuat Allea sedikit kaget. “Jadi kamu pembantu disini..? Dan aku.. Aku bercinta sama Pembantu…???”perkataan Lelaki itu sedikit mengiris perasaan Allea. “Siall…!!!” Lelaki itu lanjut mengumpat.

Allea hanya diam menunduk… dia benar-benar merasa sangat hina seakan-akan dirinyalah yang bersalah. Sedangkan lelaki itu Langsung mengenakan Celana Boxernya. Lalu bergegas mengelilingi ruangan mencari cari sesuatu, dan itu sedikit membuat Allea bingung.

“Siall…!!! Pengaman… Apa tadi malam aku pakek Pengaman..?” Tanya Lelaki itu pada Allea dengan sedikit kesal.

Dengan polosnya Allea hanya menggeleng tak tau.. Allea benar-benar tak tau apa yang dimaksud lelaki tersebut. Tapi jika yang di maksud lelaki tersebut adalah Kondom harusnya allea tau jika Lelaki tersebut tak menggunakannya tadi malam.

“Shiiittt…!!! Stupidd… Shiitt.. Shiitt…!!!” Lelaki itu terdengar sangat marah, Sangat Frustasi hingga mengucapkan Sumpah serapahnya berkali-kali sambil mengacak-acak rambutnya.Tiba-tiba Lelaki  tersebut bergegas kearah Meja Kerja yang berada di ujung Kamar tersebut. Dia mengambil sebuah Bolpoin dan beberapa lembar Kertas Kecil lalu melemparnya dengan kasar kearah Allea…

“Tulis.. berapapun yang kamu mau… tapi setelah itu angkat kaki Dari sini dan Jangan pernah muncul dihadapanku lagi…” Kata Lelaki itu dengan dingin Hingga Allea merasakan tubuhnya menggigil….

___TBC___

Next Chapter

Ps. Hehehhehe gimana..?? serasa nonton sinetron kan..?? hahhaa yang suka silahkan tinggalkan koment atau Vote, yang nggak suka klik Back aja.. hehehehhe

 

 

All About “Because It’s You”

Comments 5 Standard

allrenn3

Because It’s You

Cinta… Cinta… Cinta…

mungkinkah ini cinta…?

Kurasa bukan… aku tak mungkin mencintai wanita yang baru kutemui…

Wanita yang tanpa sengaja merebut seluruh perhatianku….

Wanita yang dengan mudah membantuku melupakannya…..

Rasa ini hanya rasa kasihan… rasa tanggung jawab…. dan aku harap ini bukan perasaan lebih…

Aku lelah… aku lelah jika harus mencintai lagi…. aku lelah jika harus menenggelamkan diri di lubang yang sama….

–Renno Handoyo–

 

Cinta… Cinta… Cinta…

mungkinkah ini cinta…?

Kurasa bukan… aku tak mungkin mencintai Lelaki yang baru kutemui…

Lelaki yang hanya dengan melihat senyumannya akan mampu menggetarkan hatiku…

Lelaki pertama yang membuatku ingin merasakan indahnya cinta….

Lelaki yang sudah menyakiti dan menghancurrkan hidupku…

Jika ini benar-benar cinta… mungkinkah sesakit ini…?? mampukah aku bertahan untukknya…??

Bersediakah aku bersabar menunggunya…??

–Allea Ananta–

 

Hhahahhaha ok…. kembali lagi bersama saiyaa Author yang gk bangettt…. pasti setelah membaca  kata-kata diatas para readers jadi mikir-mikir lagi untuk baca cerita ini… heheheeh ok saya sedikit bercerita.. di coretan Becouse it’s You ini memang Genrenya sedikit melenceng dari Coretan sebelumnya (The Lady Killer). ini akan sedikit lebih Mellow,, belum lagi genre yang diusung adalah Married Life. jdi sepertinya berasa seoperti nonton sinetron.. hahhaha -Pasti membosankan sekali- tapi nggak papa lah yaa… aku cuma berusaha untuk nulis apa yang ada di imajinasiku… yang pengen baca yaa silahkan baca.. yang nggak mau baca yaa sudah… heheheheheh ok… di bawah ini aku akan ngasih beberapa Cast untuk coretan ini… semoga dengan adanya Cast ini bisa sedikit membuat coretan ini lebih hidup…

 

1.) Renno Handoyo

p302-841x1024600full-saran-sirilak198746-502b85f1bfe121375341410219mag_scan_sudsapda_porsche202752353icon10

Oooopppss.. sorry… untuk kali ini aku pasang foto2 Renno yang Cool2 aja yaa…. soalnya do’i disini nanti jadi cowok yang Dingin sejak putus dengan Nessa -Di Coretan sebelumnya the lady Killer- tapi jangan benci dia dulu…. meskipun Do’i berubah jadi dingin tapi itu tak mengurangi rasa lembut dan sikap perhatiannya kokkk karena sebenarnya seperti itulah sosok renno yang asli…

 

2.) Allea Ananta

unnamed (3)unnamed126886-16-8606Yaya3Yayasperbundyaya-urassaya-sperbun-and-uniqlo-premium-down-light-parka-black-gallery

Ok… jika kalian fikir Sosok Allea ini biasa-biasa saja berarti kalian salah…. aku hanya mengambil foto si Do’i yang biasa-biasa saja, supaya kesan polos yang ada dalam sosok allea menempel pada Cast tersebut.. yah… sosok Allea nanti akan menjadi sosok yang amat sangat polos.. saking polosnya author bahkan jengkel sendiri pas nulis.. hahhaah #Abaikan

 

3.) Robby Hermawan

1362643141-1688685968 687474703a2f2f7069632e6b616978696e3030312e636f6d2e636e2f7069632f6170702f39322f32382f313139345f3135333932323831345f726174696e672d373830783530302e6a706567384045_203684313046351_203682923046490_458584_607687198_nKen

Robby disini sebagai Saudara Sepupu Renno.. yaa seperti biasa… si dia nanti yang bikin Renno cemburu-cemburu nggak jelas gitu deh…. hehehehehehhe sosoknya baik, Ramah, yang jelas nggak kayak 3 badboys kita (Dhanni Renno dan Ramma).

 

4.) Tannia Hermawan

894c3c3fcaba1925002de9701f0bd8acNozomi-Sasaki-20Nozomi-Sasakiddnozomi-sasaki

Tannia disini sebagai adik dari Robby… yang juga sepupu Renno yang pernah di cintainya -yang pernah di ceritakan Dhanni di buku sebelumnya The Lady Killer-  cantik, periang, namun… kalian tau sendiri kan bagaimana sosok antagonis… aku pilih dia karena Cantik (pastinya) karena kebanyakan antagonis kan lebih cantik dan urahnya lebih kuat daripada PU… nahh aku pikir dia lbih cocok sebagai tannnia di coretanku kali ini…

 

 

Okkehhh Gaeezzz…. cukup sampai sini dulu perkenalannya… sbenernya aku pengen juga Upload foto dan karakter tentang Ramma, Shasha (Adek Renno) dan juga Zoya (Pacar Ramma) -Mengingat mereka juga ada di beberapa Scene di tulisan Because It’s You ini- tapi… kayaknya terlalu gimanaaa gitu.. hehehheheh jdi cukup ini dulu… okk… makasih udah sempetin liat post aku yang nggak berguna kali ini… hehehehhe semoga sdikit mengobati rasa penasaran (Bagi yang penasaran). Yang nggak penasaran yaaa Yo wesst… hahahhahahaha Bye.. Byee…..