The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 17

Comments 6 Standard

dhannesss-1_Tlk Cover new

The Lady Killer

Nb ; Sebenernya rencananya aku mau bikin 3 chapter lagi… tapi kayaknya ceritanya nggak memungkinkan dan takutnya yang baca terlalu bosan karena berputar-putar ceritanya.. heheheh jadi ini the lady killer cuma sampai Chapter 18 aja yaa… niat hatiku akan memposting 2 chapter terakhir sekaligus tpi ada beberapa temen yang udah penasaran, jadi aku posting yang chapter 17 dulu yaa… untuk Chapter 18 (End) ingsya alloh akan aku posting bareng dengan Prolog Dan Epilog nya The Lady killer,, jadi sabar yaa,,, 😉 😉 Happy reading… :* :*

 

Chapter  17

Apa yang sebenarnya terjadi…???

 

Aku masih saja mondar-mandir di dalam kamarku. Sesekali menengok ke arah jendela, Kak Dhanni belum pulang. Ini sudah jam 11 malam. Entah kenapa pikiranku jadi tak enak. Aku masih terpikirkan tentang wanita yang digandenganya tadi siang. Sepertinya aku pernah melihat wanita tersebut, tapi dimana? Aku berusaha mengingat-ingat tapi kosong, tak ada yang bisa kuingat.

Saat aku menengok lagi ke arah jendela, aku melihat sebuah mobil baru saja datang. Aku tahu itu mobil Kak Dhanni, haruskah aku menanyakan tentang wanita itu terhadapnya? Aku pun semakin gelisah saat menunggunya.

Tak lama pintu kamar pun terbuka. Kak Dhanni masuk dan sedikit terkejut melihatku yang masih terjaga. “Kamu belum tidur?” sapanya.

Dan astaga, aku tahu kalau saat ini dia baru pulang dari minum. Baunya menyeruak sampai ke seluruh ruangan membuatku mual hanya karena mencium aromanya. Sial!

Aku berlari ke arah kamar mandi memuntahkan seluruh makan malamku tadi. Aku merasakan dia mengikutiku dari belakang. “Sayang, kamu kenapa?” tanyanya dengan lembut dengan mengusap-usap punggungku. Dia bertanya dengan sangat lembut, berbeda dari biasa-biasanya. Ada apa?

Aku pernah dengar dari seseorang, jika tiba-tiba pasanganmu berbuat baik terhadapmu (padahal biasanya tidak) itu hanya karena dua alasan, pertama, mungkin karena dia merencanakan sesuatu terhadapmu atau yang kedua mungkin karena dia merasa bersalah terhadapmu. Dan entah kenapa pikiranku jatuh kepada alasan yang nomer dua, dia merasa bersalah kepadaku. Dan pikiran itu entah mengapa membuatku ingin meledak-ledak.

“Kak Dhanni pergi deh, ngapain sih ke sini,” kataku sambil sedikit mendorong-dorong tubuhnya.

“Aku mau bantuin kamu,” jawabnya kemudian.

“Bantuin apa, aku nggak perlu.”

“Nes….”

“Kak Dhanni sadar nggak sih kalo Kak Dhanni yang bikin aku mual.”

“Apa? Tapi…”

“Kak Dhanni itu abis minum tahu nggak, sudah sana,” usirku kemudian. Entahlah aku juga bingung kenapa aku semarah ini dengannya.

“Ok. Aku keluar, tapi aku akan balik lagi.”

“Nggak ada balik lagi, tidur di kamar sebelah sana.”

“Astaga, Sayang, kamu kenapa sih?” tanyanya sambil memegang kedua bahuku.

“Aku nggak apa-apa, sudah deh, Kak Dhanni pergi sana.” Lagi-lagi aku mendorongnya. Aku ingin bertanya tentang wanita tadi siang, tapi sepertinya nggak usah. Aku malu, nanti aku disangkanya cemburu dan lain-lain lagi, malu dong, mau di taruh di mana muka ini..

Kak Dhanni pun pergi dengan langkah lunglainya. Aku menatap punggungnya sambil menggelengkan kepala. Kenapa dia sekarang begitu menurut terhadapku?

Walau Kak Dhanni sudah pergi, perutku masih saja terasa mual. Aku kembali memuntahkan seluruh isi dalam perutku hingga habis, sampai kurasakan kaku di dalam perutku. Kakiku pun sampai lemas, ada apa denganku? Aku tak pernah merasakan sesakit ini. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu, sesuatu yang sudah lebih dari satu bulan ini tak mendatangiku, yaaa apa lagi jika bukan tamu bulanan. Aku memang tidak kaget, karena aku memang tidak pernah tepat waktu, kadang satu bulan sekali, kadang tidak sama sekali.

Tapi, sepertinya jika mengingat emosiku akhir-akhir ini, dan kecintaanku terhadap batagor yang tiba-tiba, aku harus curiga dengan keadaanku.

Entah sudah berapa lama aku terduduk lemas di kamar mandi, hingga aku merasakan seorang masuk ke dalam kamar mandi, Kak Dhanni. Dia sudah ganteng seperti biasanya karena selesai mandi, aroma alkohol pun sudah menghilang dari tubuhnya. “Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?” tanyanya lembut.

Aku hanya menggeleng. “Jangan pulang kayak gitu lagi, aku nggak suka,” kataku ketus. Astaga, bahkan sekarang aku bisa berbicara dengan nada ketus terhadapnya? Benar-benar aneh, Aku harus memeriksakan keadaanku besok.

“Kita ke dokter ya, kamu sepertinya sakit lagi.”

“Nggak usah. Aku mau tidur.” Dan lagi-lagi suaraku masih terdengar ketus.

Akhirnya aku pun berbaring miring di ranjang dengan posisi membelakangi Kak Dhanni. Entah kenapa aku masih merasa kesel aja sama dia.

“Kamu marah ya sama aku?” tanyanya kemudian.

Helloooo… siapa yang nggak marah saat memergoki suaminya jalan mesra dengan seorang wanita? rasanya aku ingin meneriakkan kata-kata itu, tapi… tentu saja gengsi ini masih lebih besar dari pada keberanianku menanggung malu karena ketahuan cemburu. Oopps.. memangnya aku cemburu yaa?

“Nggak,” jawabku cuek secuek dia. Rasain.. emangnya enak di cuekin kayak gini..

“Kamu bohong, kamu pasti marah,” lanjutnya lagi.

“Udah deh, Kak. Aku capek, aku mau tidur.”

“Nggak ada yang boleh tidur sebelum kamu jelasin kenapa marah sama aku.”

“Aku nggak marah.”

“Kamu marah, aku tahu itu,” jawabnya kemudian. “Maafin aku, tadi Ramma ada acara, jadi kita minum bareng,” lanjutnya kemudian.

FffuuiiihhAku marah bukan karena kamu minum, Kak, tapi karena kamu jalan bareng sama wanita sialan itu. Aku marah karena aku terlalu jadi pengecut untuk menanyakan itu semua kepadamu.

“Aku janji nggak akan lakuin itu lagi,” lanjutnya lagi.

Apa kamu akan janji nggak akan jalan bareng wanita lain lagi selain aku? Enggak kan? Sudah menjadi kodratmu jika kamu selalu dikelilingi wanita-wanita cantik bahkan meskipun kamu sudah beristri. Harusnya kamu mikirin bagaimana perasaanku, harusnya kamu tahu apa yang kurasakan karena kamu pernah merasakannya saat aku berduaan dengan Kak Renno.

Sial! Lagi-lagi nama itu yang kubawa. Ok. Aku memang sudah gila, aku ingin menumpahkan semua unek-unek kekesalanku kepada Kak Dhanni, tapi tidak bisa. Aku hanya bisa marah dalam hati. Aku hanya terdiam tak menanggapi omongan Kak Dhanni tadi.

“Nes,” panggilnya lagi.

“Iya aku maafin,” jawabku ketus.

“Kalo dimaafin tidurnya hadap sini dong,” katanya dengan nada menggoda.

Aku tahu apa yang dia inginkan, tapi maaf saja, walaupun aku juga menginginkannya tapi untuk malam ini aku nggak akan membiarkan dia menyentuhku. Enak saja, tapi omongan hanya sekadar omongan. Setelah aku membalikkan tubuhku untuk menghadapnya tiba-tiba saja bibirnya bertemu dengan bibirku, menggodaku, seaka-akan tak ingin melepaskanku. Dan aku merutuki diriku sendiri karena dengan mudahnya aku terperosok ke dalam pesonanya. Siall…..!!!

***

Pagi ini aku lagi-lagi muntah hebat, entah apa yang membuatku muntah seperti ini, Kak Dhanni pun khawatir. Padahal tadi malam aku belum sempat memakan apapun. Kak Dhanni hanya membuatkanku susu cokelat panas setelah kami selesai bercinta. Yah, akhirnya dia berhasil juga menggodaku, meluluhkan hatiku, dan menghancurkan benteng pertahananku dengan cumbuan-cumbuannya. Aku bahkan sama sekali tak mengingat kejadian saat Kak Dhanni menggandeng mesra teman wanitanya tersebut. Shitt!

“Kita ke dokter ya. Sepertinya kamu parah,” katanya khawatir.

Aku hanya menggeleng, jika tadi malam keyakinanku hanya 50%, maka saat ini aku yakin 80% jika aku sedang hamil. Entah apa yang membuatku seyakin itu, tapi aku memang merasa jika aku tak sendiri lagi sekarang ini.

“Ok, sekarang kamu mau apa? Aku akan cari’in buat kamu,” katanya kemudian.

Saat ini aku sedang duduk lemas di atas closet, dengan Kak Dhanni berjongkok di lantai di hadapanku sambil memegang tanganku. Astaga, aku merasa sangat diperhatikan jika dia seperti ini. Dan entah kenapa rasanya aku ingin mengerjainya. Biar saja, hitung-hitung sebagai hukuman karena berani selingkuh di belakangku.

“Aku pengen batagor yang ada di sebelah kampus kita,” jawabku asal dan datar.

“Apa? Kamu ngarang ya, ini masih jam 7 pagi, mana ada orang jual batagor, lagian kan dia bukanya jam 1 siang, yang lain aja ya.”

“Pokoknya aku mau batagor itu titik.” Aku masih tak mau mengalah.

Aku mendengar dia mendesah lama. “Kamu kenapa sih, kayaknya kamu sengaja ngerjain aku. Apa aku ada salah sama kamu?” tanyanya kemudian.

“Aku cuma pengen makan batagor.”

“Beri aku alasan yang jelas kenapa aku harus nuruti mau kamu.”

“Ya udah kalau gitu nggak usah,” kataku sambil meninggalkannya menuju ke lemari mencari baju ganti.

“Nes….”

“Hemmbb..”

“Kamu mau ke mana? Kamu kan sakit.”

“Ya ke kampus, Kak. Emangnya mau ke mana lagi?”

“Jangan masuk hari ini, kamu sakit,” larangnya.

“Aku akan tetap masuk,” kataku sambil menuju ke kamar mandi. Mood-ku sangat buruk pagi ini. Dan aku beruntung jika Kak Dhanni menghadapiku lebih sabar, kupikir dia sekarang lebih sedikit dewasa. Tapi, tetap saja penyakit playboy-nya belum saja hilang.

***

“Surat lagi?” tanya Dewi padaku. Dan aku pun hanya mengangguk.

Yah, setelah pengumuman aku jadi istri seorang Dhanni Revaldi itu beberapa anak kampus berubah. Kukira mereka akan bertindak jahat padaku, tapi nyatanya tidak. Beberapa dari mereka malah memberikanku surat cinta yang ditaruh di lokerku. Hahahaha aneh-aneh saja mereka. Kebanyakan mereka kagum terhadapku. Tentu saja itu sebagian dari anak cowok di kampus ini. Berbeda dengan yang cewek. Astaga, mereka selalu berpandangan sinis terhadapku. Meskipun tak ada yang menyakitiku tapi tetap saja jika aku agak tak nyaman dengan pandangan mereka.

“Ayoo coba, kita buka bareng, siapa tahu dari cowok yang lebih ganteng dari pada Kak Dhanni,” kata Dewi sambil mengerlingkan matanya. Dasar genit.

Aku tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kamu gila, mana ada cowok yang lebih ganteng dari pada Kak Dhanni.”

“Iyaaa, iya, aku tahu yang lagi kena Penyakit SDL.”

Aku mengernyit. “SDL? Apa itu SDL?”

“Syndrome Dhanny Lovers. Hahahaa,jawabnya sambil tertawa.

“Gila!” umpatku sambil ikut tertawa.

Tapi ketika aku membuka amplop surat itu, tawaku langsung hilang seketika, itu bukan Surat cinta. Tapi sebuah surat yang penuh dengan foto-foto Kak Dhanni bersama wanita lain. Wanita yang sama saat di parkiran cafe kemarin, karena bajunya pun sama. Dan ketika aku melihat sebuah foto yang memperlihatkan wajah wanita tersebut, aku baru sadar jika aku mengenalnya.

Itu Farah. Si wanita ular yang dulu pernah tak sengaja bertemu denganku dan Kak Dhanni saat di Bandung. Wanita yang kata Kak Dhanni adalah sahabatnya.

Bulshiiiitt…!!!

Mereka bahkan tak seperti sedang sahabatan. Jadi tadi malam Kak Dhanni minum bersama si wanita ular itu? Ya meskipun Kak Dhanni tak sepenuhnya bohong tentang kak Ramma, karena di foto tersebut aku juga melihat Kak Ramma dengan wanita jalangnya. Siall..! Jadi mereka tadi malam berpesta bersama?

Dewi yang melihat perubahan ekspresiku langsung menyambar surat yang ada di tanganku. Dan Ekspresinya pun sekarang sama dengan Ekspresiku, ekspresi tak percaya.

“Nes, jangan mudah percaya sama yang ginian ya. Kak Dhanni belum tentu….”

“Kita nggak tahu apa yang dia lakuin di luar sana.” Aku memotong kata-kata Dewi dengan lirih.

“Tapi ini juga belum tentu benar, Nes.”

Aku hanya terdiam, aku tahu jika sebenarnya Dewi hanya ingin menengahiku tapi tetap saja perasaan ini tak bisa dibohongi. Aku pun bergegas pergi keluar dari kantin. Entah kenapa bagiku semua terasa semakin sesak. Aku tak bisa menerima kenyataan jika memang Kak Dhanni ada wanita lain selain aku. Aku benci itu.

Aku berjalan keluar tanpa menghiraukan Dewi yang sudah berteriak-teriak memanggilku. Hingga aku tersadar saat kakiku berhenti dengan sendirinya ketika aku melihat sosok di hadapanku. Sosok yang selama ini kurindukan. Saat ini dia memunggungiku, tapi aku sangat mengenalnya, aku tahu itu dia, Kak Renno.

Aku berjalan lebih cepat untuk menghampirinya.

“Kak,” panggilku lirih.

Dia menghentikan langkahnya tapi tetap tak berbalik ke arahku. Dia masih mengenali suaraku, aku tahu itu.

“Kak, aku mau ngomong.”

“Sepertinya sudah tak ada yang perlu diomongkan lagi.” Suaranya dingin, sangat dingin, berbeda dengan suaranya dulu yang terdengar hangat di telingaku. Bahkan saat ini dia tak sudi memandangku berbeda dengan dulu yang sepertinya enggan berpaling dariku.

Dia berubah…!!!

Lalu dia pergi meninggalkan aku begitu saja, tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Dia benar-benar membenciku. Seketika itu juga kurasakan dunia di sekitarku berputar, kepalaku sakit, pandanganku mengabur, dan. Aku tak bisa melihat dan mengingat apa-apa lagi.

***

“Ness, Nesa, Nes.” Aku tahu itu suara Dewi, tapi aku masih belum bisa melihatnya. Aku mengerjapkan mataku, mencoba mencari-cari kesadaran saat mataku terbuka sepenuhnya aku melihat raut wajah khawatir dari Dewi.

“Aku kenapa, Wi?” Aku bahkan mendengar suaraku yang sangat lemah. Apa yang terjadi denganku?

“Kau sudah sadar? Astaga, kamu bikin aku takut tahu nggak.”

“Aku di mana?”

“Kita di klinik kampus, untung aja tadi Kak Renno tolongin kamu.”

Aku langsung terduduk saat mendengar nama itu. “Kak Renno? Mana dia?” tanyaku sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.

“Dia sudah pergi, dia cuma nitipin kamu ke aku.”

Dan saat itu juga tangisku pecah. “Dia membenciku. Tapi dia masih menyayangiku. Aku mesti gimana, Wi,” tanyaku sambil menangis. Dewi lalu memelukku.

“Nes, biarlah waktu yang mengobati semuanya. Kamu harus sabar, kamu harus kuat demi bayi yang sedang kamu kandung.”

“Apa?” Aku mengerjap kaget.

“Iya, kamu hamil. Apa kamu nggak sadar kalau kamu sudah hamil?”

Aku hanya menggeleng.

“Astaga, Nes, kata dokter ini mungkin sudah lebih dari 6 minggu.” Aku hanya tertunduk lesu.

Ini memang kabar bahagia, tapi kenapa pada saat seperti ini? Saat hubunganku dan Kak Dhanni belum jelas karena kedatangan si wanita ular tersebut. Saat aku masih belum sepenuhnya merelakan Kak Renno.

“Wi, kamu mau bantu aku nggak?” tanyaku kemudian.

“Bantu apa?”

“Kita selidiki Kak Dhanni bareng-bareng ya,” pintaku.

“Enggak, kamu ngarang ya. Lebih baik kamu langsung bertanya sama Kak Dhanni, bukan malah diam-diam menyelidikinya.”

“Aku belum siap mendengar jawabanya jika itu benar-benar kenyataan.”

“Astaga, Nes, tapi kadang apa yang kita lihat itu tidak seperti apa yang sedang terjadi, bisa saja itu suatu kebetulan atau apalah.” Dewi memang benar, tapi feelling-ku berkata jika aku harus menyelidiki Kak Dhanni saat di belakangku.

“Ayoolah, Wi.. Pliss..” Aku pun memohon padanya.

Dewi mengembuskan napasnya, aku tahu dia kalah. “Ok. Aku bantu kamu, tapi aku nggak mau diikut-ikutkan kalau misalnya kalian berantem nanti.”

“Ok, siipp,” kataku kemudian.

“Nes, kamu musti banyak makan dan minum, kata dokter tadi kamu dehidrasi.”

Aku mengangguk. “Iya, aku memang susah makan akhir-akhir ini.”

***

Beberapa hari kemudian keadaanku semakin parah. Aku tak tahu jika orang hamil akan mengalami ini. setahuku di TV-TV mereka hanya mual muntah, tapi berbeda denganku. Aku bahkan panas demam juga. Kak Dhanni benar-benar khawatir. Itu terlihat jelas di raut wajahnya. Berkali-kali dia mengajakku ke dokter, tapi aku menolaknya, aku belum mau dia tahu keadaanku yang sedang hamil anaknya.

“Sayang aku pergi dulu ya.” Lalu dia mengecup lembut bibirku. “Kamu baik-baik di rumah ya,” katanya dengan lemah lembut, aku pun hanya mengangguk.

Kak Dhanni memang sedikit berubah, dia jadi lebih lembut dan perhatian. Dan itu membuatku semakin mencurigainya. Pasti ada yang dia sembunyikan dariku.

Aku mengantarnya hingga garasi tempat mobil-mobil mewahnya berjejer rapi. Dia masuk ke salah satu mobil sport-nya, membuka kaca kemudinya dan melambaikan tangan kepadaku. Lalu dia meluncur pergi. Setelah ditinggalkan, bukannya masuk dan istirahat, aku malah mengambil sebuah kunci mobil yang berada di lemari di pojok garasi. Mobil sport Porsche New Cayenne yang menjadi pilihanku. Astaga, sejak kapan aku bisa mengendarai mobil mewah sejenis Porsche ini? Aku tak peduli, yang aku pedulikan hanyalah membuntuti Kak Dhanni ke mana pun dia pergi.

Sudah dua hari ini aku membuntutinya dengan Dewi, dan hasilnya nol besar. Kami tak menemukan hal-hal mencurigakan apapun. Dewi bahkan tak henti-hentinya marah dan mengumpat padaku karena menyia-nyiakan waktunya seperti ini. Tapi untuk pagi ini aku yakin Kak Dhanni bukan hanya bekerja. Pakaiannya lebih seperti orang yang akan berkencan dibandingkan dengan orang yang akan rapat.

Saat Kak Dhanni berhenti di sebuah apartemen mewah, aku juga ikut berhenti. Kutekan nomer telepon Dewi di HP-ku, aku menyuruhnya mengikutiku. Setelah selesai, aku hanya berdiam diri menunggu apa yang akan terjadi dengan jantung yang berdetak semakin keras. Tiba-tiba wanita itu muncul. Farah Si wanita ular. Kak Dhanni tadi memang tak turun dari mobilnya, dan si Farah ini pun langsung masuk begitu saja ke dalam mobil Kak Dhanni, seperti sudah terbiasa. Sialann…!!! Sebenarnya apa hubungan mereka?

Mobil Kak Dhanni melaju lagi, aku mengikutinya dari belakang. Sambil memasang headset untuk menghubungi Dewi di mana posisiku saat ini. Ternyata tujuannya tak jauh. Sebuah rumah sakit yang hanya berjarak beberapa blok dari kompleks apartemen mewah milik wanita sialan itu.

Rumah sakit? Kenapa mereka ke sini? Apa mereka sedang berkencan di sini? Atau, Apa Kak Dhanni sakit dan menyembunyikan semuanya dariku? Enggak, itu nggak mungkin. Kak Dhanni nggak mungkin sakit. Tapi bisa saja kan Kak Dhanni divonis penyakit mematikan terus menyembunyikannya dariku seperti yang ada di novel-novel yang biasa aku baca..

Stop it.

Aku nggak boleh berpikir yang tidak-tidak. Kak Dhanni sehat, dia nggak mungkin sakit. Entah kenapa tiba-tiba saja air mataku menetes. Aku takut menghadapi kenyataan itu jika itu yang benar-benar terjadi. Aku takut kehilangan Kak Dhanni, Aku lebih suka kenyataan pertama yaitu mereka kencan bercinta dan lain sebagainya daripada kenyataan kedua jika Kak Dhanni sakit dan divonis akan mati, yang tandanya adalah meninggalkanku….

Aku tak mau itu terjadi. Aku lebih rela menjadi istri pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya asalkan dia hidup di dunia yang sama, di langit yang sama, menghirup udara yang sama dan menginjakkan kaki di bumi yang sama denganku, daripada aku harus menerima kenyataan jika aku akan hidup sendiri di dunia ini tanpa ada dia di dalamnya.

Aku sangat mencintainya. Aku sangat membutuhkannya.

-TBC-

Advertisements

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 16

Comments 9 Standard

dhannesss-1_Tlk Cover new

The Lady killer

NB; tambahan Konflik nihh… jangan bosen2 bacanya yaa…. heheheh

 

Chapter 16

Siapa Dia..??

 

 

Aku masih syok, masih kaget dengan apa yang dia lakukan tadi. Apa sebenarnya yang berada dalam pikirannya tersebut. Bukankah tadi malam dia baru saja bilang jika teman-temannya nggak harus tahu tentang hubungan kami? Tapi kali ini dia sendiri yang menyatakan di depan umum jika aku istrinya lengkap dengan panggilan sayangnya.

“Eh, selamat ya, Bro. Gue nggak nyangka.” Satu lagi teman Kak Dhanni ngasih selamat untuk kami, entah sudah berapa orang yang menyalamiku tadi, mereka semua teman-teman Kak Dhanni yang memberikan ucapan selamat.

Jujur saja, lama-lama aku bisa mati bosan di sini, acara wisuda sudah selesai tapi Kak Dhanni masih saja belum mau pulang. Dia masih asyik ngobrol dengan temannya. Mami dan Papi sudah pulang terlebih dahulu. Bukannya apa-apa, aku hanya tak begitu mengenal mereka. Lagian aku juga mulai was-was dengan tatapan beberapa wanita di sini terhadapku.

“Kak, kita pulang yuk,” rengekku sambil sedikit menarik lengannya.

“Bentar ya, nggak enak sama yang lain, lagian ini terakhir kalinya aku ketemu sama mereka.”

Ahh lebay sekali, nanti juga bisa ketemu lagi, rutukku dalam hati.

Dan aku pun hanya menghentakkan kakiku dan memajukan bibirku, apalagi jika bukan ngambek. “Kamu kenapa?” Hufftt, pake nanya lagi.

“Tau ah,” jawabku jengkel.

“Jangan gitu dong.”

“Aku lapar, Kak. Aku cuma pengen makan,” kataku dengan nada ketus.

“Itu kan ada makanan, kamu bisa makan di situ.”

“Aku nggak mau, Kak. Aku pengen makan batagor,” jawabku asal.

“Apa? Kamu ngaco, mana ada orang jual batagor pagi-pagi gini,” katanya kemudian.

“Ini sudah siang.”

“Ayolah, Nes, jangan jadi menjengkelkan seperti ini,” katanya kemudian.

“Pokoknya aku pengen pulang titik. Kalo Kak Dhanni nggak mau antar, aku akan pulang sendiri.” Lagi-lagi aku menjawab dengan asal. Pulang sendiri? yang benar aja, emangnya aku mau pulang jalan kaki? Aku kan tadi sama sekali nggak bawa uang.

“Ya sudah kita pulang, tapi aku pamitan dulu ama yang lainnya,” katanya kemudian. Aku pun tersenyum simpul, lagi-lagi dia mengalah untukku.

***

“Emmm… emangnya Kak Renno ke mana, Kak?” Aku bertanya kepada Kak Dhanni. Pertanyaanku ini benar-benar membuatnya menegang.

“Ngapain kamu nanyain dia lagi?” suaranya berubah mendingin.

“Aku khawatir, Kak. Dia seperti itu karena kita.”

“Dia akan baik-baik aja,” jawabnya cuek.

“Kok Kak Dhanni bisa yakin sih kalo Kak Renno akan baik-baik aja?”

“Karena dia pernah mengalami seperti ini sebelumnya.” Apa? Astaga, jadi Kak Renno pernah patah hati sebelumnya? Dan sekarang aku membuatnya patah hati untuk yang kedua kalinya? Aku tak pantas untuk mendapatkan maafnya.

“Dia jatuh cinta dengan sepupunya sendiri. Dalam keluarga mereka itu sama sekali tak dibolehkan, karena tidak sesuai dengan adat yang mereka yakini,” lanjut Kak Dhanni.

“Apa?” teriakku tak percaya.

“Astaga! Nggak usah berteriak kayak gitu.”

“Terus gimana kisah mereka?” tanyaku penasaran.

“Gimana apanya. Kalo nggak boleh ya nggak boleh.” Aku pun terdiam sejenak, melamunkan kisah Kak Renno. Aku benar-benar kasihan terhadapnya. Dia lelaki yang baik. “Kenapa diem aja? Kamu nyesel putus sama dia?” tanya Kak Dhanni dengan sinis.

“Aku nggak putus kok sama Kak Renno,” jawabku asal.

“Apa kamu bilang?” teriak Kak Dhanni. Aku sedikit tertawa melihat reaksinya yang sedikit berlebihan itu. Akhirnya aku melanjutkan makan siangku dengan tatapan tajam dari Kak Dhanni.

***

Pagi ini jantungku benar-benar berdetak lebih cepat, perasaanku gelisah tak menentu. Aku gugup dan takut. Astaga, apa yang akan dilakukan anak-anak di kampus nanti terhadapku ya? Aku benar-benar tak bisa membayangkannya.

“Kamu kenapa?” tanya Kak Dhanni yang saat ini duduk di sebelahku.

Dia sedang menyetir mobilnya, mengantarku ke kampus. Dan ini pertama kalinya kami ke kampus bersama dan juga menunjukkan hubungan kami terhadap semua orang di kampus.

“Ah, enggak,” jawabku kemudian.

Sebenarnya aku tak mau dia mengantarku ke kampus, tapi dia bilang jika dia memiliki urusan dengan rektor makanya dia sekalian mengantarku. Ah, aku benar-benar gelisah. Ini sudah seperti hari pertama aku masuk dalam sekolah baru, rasanya aku ingin ada gempa bumi dan menelanku hingga hilang begitu saja. Aku benar-benar gugup.

“Kamu nggak usah takut, aku akan selalu melindungimu,” kata Kak Dhanni datar tanpa ekspresi. Aku menatapnya dengan ternganga, tak menyangka jika dia bisa mengucapkan-kata-kata yang membuat hatiku tenang. Apa pagi ini dia kehabisan obatnya? Aku merasa dia menjadi pelindungku, sama seperti Kak Renno. Ah… nama itu lagi. “Nah, akhirnya sudah sampai,” katanya kemudian.

Kak Dhanni lalu memarkirkan mobilnya, dia merapikan penampilannnya dulu sebelum turun dari mobil. Dan astaga… pagi ini dia benar-benar Cool. Aku tak akan pernah bosan memuji kesempurnaan suamiku ini. Aku akui aku benar-benar beruntung memiliki suami seperti dia, ya walaupun kadang dia menjengkelkan karena suka seenaknya sendiri dan menjadi dua kali lipat lebih menjengkelkan ketika penyakit cueknya kambuh.

Pagi ini dia mengenakan T-shirt hitam, celana jeans plus jaket kulit yang menempel pas di badan tegapnya, dia sudah seperti aparat polisi saking tegapnya. Belum lagi kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuatnya menjadi lelaki yang paling cool dan paling hot yang pernah aku temui. Hahaahaha, oke anggap saja aku terlalu berlebihan karena mengagung-agungkan suamiku sendiri, tapi faktanya mengatakan jika memang dia adalah lelaki terkeren di kampus ini. Wajar saja dia menjadi seorang playboy, seorang Lady Killer yang kerjaannya membunuh hati para wanita, entah aku harus bangga atau malah cemburu dengan itu.

Kak Dhanni pun keluar dari mobil, lalu dia berlari memutari mobilnya, dan tanpa kusangka dia membukakan pintu mobil untukku. Astaga, kenapa pagi ini dia begitu Sweet? Aku pun keluar dari mobil. Setelah menutup pintu mobilnya dia lalu menggenggam erat tanganku, “Aku antar ke kelas kamu dulu ya,” katanya kemudian, aku terpesona dengan kelembutannya kali ini, dan aku hanya bisa mengangguk pasrah.

Dia masih saja mencengkeram erat telapak tanganku menuju ke kelasku, melewati kelas-demi kelas, lorong demi lorong. Dan hampir semua orang yang berpapasan dengan kami memandang kami dengan tatapan terkejut tak percayanya. Segitu tak pantasnyakah aku dengan Kak Dhanni hingga mereka tak bisa mempercayai kenyataan bahwa aku adalah istri sah Kak Dhanni?

Sedangkan Kak Dhanni sendiri terlihat tak mau ambil pusing dengan tatapan-tatapan aneh mereka. Dia masih saja mencengkeram erat telapak tanganku seakan akan menunjukkan pada semua orang jika aku ini miliknya. Oh God, mengingat hal itu aku jadi tersenyum-senyum sendiri, aku sangat suka jika dia mengklaim aku sebagai miliknya.

“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Ah, enggak,” jawabku masih dengan tersenyum.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan di dalam otak kamu itu.”

“Apa emangnya?” tantangku kemudian.

“Pastinya kamu sedang mikirin hal-hal panas yang akan kita lakukan nanti malam,” jawabnya datar.

“Apa? Hal-hal panas?” Aku masih belum mencerna apa yang di katakan Kak Dhanni.

Kak Dhanni lalu tersenyum simpul. “Singkirkan pikiran kotormu itu yang membuatmu terlihat seperti orang bodoh,” katanya kemudian, dan setelah dia mengucapkan kata-kata itu aku tahu jika dia sedang mengejekku karena kelakuanku pagi itu yang menggodanya, astaga, tenggelamkan saja aku di dasar laut dari pada aku harus selalu mendapatkan tatapan seakan-akan aku wanita paling mesum yang pernah dia temui. Sialann!

***

“Jadi kamu benar-benar nikah ama Kak Dhanni?” tanya Dewi padaku saat kami berada di kantin. Dan ya ampun, mungkin ini sudah kesepuluh kalinya dia menanyakan pertanyaan yang sama.

“Iya Wi, kamu mau sampe kapan sih nanyain itu melulu sama aku, lagian apa cincin ini masih kurang sebagai bukti?” jawabku dengan nada jengkel.

“Iya, aku tahu, tapi, bagaimana bisa? Bukannya kamu pacaran sama Kak Renno?” Nama itu lagi yang disebutkan, entah kenapa setiap kali aku ingat atau ada yang menyebut nama itu, rasanya ada yang mengganjal di hatiku, tentu saja karena aku belum sempat meminta maaf dengan Kak Renno.

“Ceritanya panjang, Wi, kamu nggak bakalan ngerti,” jawabku cuek, apa aku sudah tertular penyakit cuek Kak Dhanni?

Ok. Fine, tapi Kak Renno ke mana ya? Aku dengar dia nggak datang di hari wisuda kemarin.” Aku hanya terdiam menanggapi pertanyaan Dewi karena sesungguhnya aku juga tak tahu di mana keberadaan Renno saat ini. “Aku dengar dia pindah keluar negeri,” lanjutnya lagi dan kali ini perkataannya benar-benar mendapatkan perhatiannku seutuhnya.

“Ahh, yang benar, Wi, emangya dia ke mana?” tanyaku penasaran.

“Iya, menurut gosip yang beredar jika dia mengurusi urusan perusahaan keluarganya yang berada di Inggris. Eh, tapi tunggu dulu, kenapa kamu sampe nggak tahu?” tanya Dewi lagi. “Jangan bilang kalau dia pergi gara-gara kamu dan Kak Dhanni?”

Bingo… Ternyata nggak enak ya punya teman yang terlalu pintar. Secepat itu Dewi mencerna permasalahan yang sedang kualami.

“Udah deh, Wi. Mendingan sekarang yuk temenin aku beli pakaian ke mall, oke.” Aku mencoba untuk mengalihkan perhatiannya.

Dewi menatapku dengan tatapan anehnya. “Ok, asal aku dapet jatah,” jawabnya kemudian. Hahahaha Dewi emang paling bisa jika disogok.

“Oke,” kataku kemudian.

***

Akhirnya kami pun saat ini berada di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Aku ingin belanja baju, entah kenapa rasanya pengen aja beli baju berenda-renda.

“Nes, kayaknya ini bukan style kamu deh,” komentar Dewi.

“Tapi aku suka, aku ambil ini, Mbak,” kataku kemudian kepada seorang penjaga toko tersebut.

“Apa kamu nggak berlebihan? Apa Kak Dhanni nggak marah kalau kamu belanja kayak gini?” tanya Dewi kemudian. Ya emang sih kayaknya hari ini aku agak berlebihan. Belanja sebanyak ini, tapi entah kenapa aku pengen aja. Lagian Kak Dhanni nggak akan mungkin marah kalau hanya karena belanja.

“Enggak dia nggak akan marah,” jawabku sedikit cuek.

“Eh, eh, Nes, emangnya dia gimana?” tanya Dewi lagi sambil mendekatiku.

“Gimana apanya?” aku tak mengerti arah percakapannya.

“Astagaaa, maksudku gimana dia saat di ranjang?” Aku melotot saat mendengar pertanyaan Dewi. Sangat tak menyangka jika dia akan bertanya tentang hal itu.

“Wii, pikiran kamu benar-benar jorok,” pekikku.

“Ehh kenapa? Wajar kali, bertanya hal itu pada pengantin baru,” jawabnya santai.

“Aku nggak mau jawab,” kataku sambil menutup telinga.

“Eh, kenapa kamu merah gitu?” katanya saat menyadari wajahku yang sudah merah seperti kepiting rebus. “Apa dia hot?”

“Dewiiiiiiiiiii!” teriakku.

***

Saat ini aku baru saja keluar dari kafe langganan Dewi. Setelah puas berbelanja akhirnya aku kembali tekor karena harus memberi jatah Dewi berupa traktiran di kafe langganannya. Sebuah kafe yang lebih mirip dengan restoran mewah. Dewi benar-benar tak tanggung-tanggung saat meminta jatah. Tentu saja harga makanan di sini jauh di atas rata-rata. Sial.

Saat aku menuju ke parkiran, aku melihat seorang dengan badan tinggi tegap sedang menuju ke arah mobilnya. Badan yang sangat kukenali mengingat baru tadi pagi aku memujinya, mobilnya pun sama, mobil yang sangat kukenali karena baru tadi pagi aku menaikinya.

Dia Kak Dhanni. Suamiku.

Dan Saat ini aku melihatnya sedang keluar bersama dengan seorang wanita, menggandengnya dengan mesra. Astaga, kenapa selalu pemandangan seperti ini yang kuterima?

Tadi pagi aku memang sempat heran saat Kak Dhanni bilang akan menemui klien-nya. Jika dia menemui klien-nya, kenapa dia hanya mengenakan T-shirt bukan kemeja rapi? Dan sekarang aku baru tahu jika klien yang dimaksud Kak Dhanni adalah seorang perempuan seksi. Sial.

Apa aku masih kurang untuknya? Kenapa dia melakukan ini terhadapku? Kenapa dia masih tak bisa berubah?

-TBC-

Because It’s You (Novel Online) – Prolog

Comments 14 Standard

rennoallea

Because It’s You

Nb : Sebenernya aku nggak ada niat untuk ngepost Prolog Dari coretan ini saat ini. aku maunya ngepost pas The lady killer udah End.. tapi karena aku masih bingung apa ada yg tertarik dengan kisah Renno atau Nggak jadi aku coba Post Prolognya dulu yaa…. semoga ada yang tertarik dengan kisah Renno ini. karena ini Cuma Prolog jadi maklumi aja yaa jika ini cuma sedikit cuplikan kejadian saja..

 

Because It’s You..

 

*Prolog

 

“Ness… nes… astaga.. sayang… Agghhrr…” Erangan Renno membangkitkan gairah setiap orang yang mendengarnya tidak terkecuali gadis yang saat ini sedang ditindihnya.

Masih dengan mencumbui gadis yang ada dibawahnya sesekali Renno tersenyum mendengar desahan gadis tersebut, “Astaga.. Suara kamu indah sekali..” kata Renno sambil memejamkan matanya menikmati detik demi detik percintaan panasnya.

“Astaga Sayang.. aku akan sampai…” Lagi-lagi Renno berggumam menikmati kenikmatan yang dirasakannya bersama orang yang selama ini sangat ia cintai. Akhirnya sampailah Renno di puncak kenikmatan tersebut.

Sambil terengah-engah dia tersungkur di sebelah wanita tersebut. Tanpa pikir panjang lagi Renno memeluk wanita tersebut, lalu menciumnya kembali. “Aku Sayang kamu Ness..” bisiknya penuh dengan kebahagiaan. Lalu diapun tertidur.

Tak menyadari betapa gadis yang dipeluknya tersebut menahan tangisnya sejak tadi karena kecewa dengan apa yang dilakukan Renno, akhirnya gadis tersebut hanya bisa meneteskan air matanya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dibiarkannya Renno merengkuh tubuhnya, karena entah mengapa sejujurnya ia juga merasa nyaman Jika Renno Memeluknya….

[Because It’s You Cast ]  –  Go To Chapter 1 

*Nantikan kelanjutan Kisahnya yaa…

 

 

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 15

Comments 5 Standard

dhannesss-1_Tlk Cover new

The Lady Killer

Nb : Ok.. sebenernya aku nggak ada niat bikin Chapter 15 seperti ini.. heheheh chapter ini Khusus POV Dhanni dan sangat pendek karena cuma 3 Page aja (Inipun aku ngetiknya cuma stengah hari)… kayaknya nggak adil aja selalu liat permasalahan dari POV Nessa, jdi untuk chapter 15 ini Special POV Dhanni. kira-kira apa sihhh yang di rasain pangeran ganteng kita kali ini..??? heheheheh

 

 

Chapter  15

-Dhanni 2-

Jika saat ini kalian mencari seorang lelaki bajingan, kalian sudah menemukannya. Yah, itulah aku. Aku adalah seorang lelaki bajingan dan berengsek karena sudah menyakiti hati seorang yang kucintai.

Rasa cintaku kepada Nesa sungguh sangat besar hingga aku tak mampu mengontrol emosiku saat melihatnya bersama dengan lelaki lain, bahkan ketika lelaki itu adalah sahabatku sendiri. Aku murka, Aku marah, dan aku menjadi buta karena rasa yang selama ini tak pernah kurasakan, cemburu.

Kata itu tepat melukiskan apa yang sedang kurasakan saat melihat Nesa bersama lelaki lain. Sebenarnya aku sangat tak ingin kembali ke Jakarta. Aku suka masa-masa di mana aku hanya berdua saja dengan Nesadi Bandung. Tapi tentu itu tak mungkin. Aku harus menyelesaikan semuanya, memberi tahu Renno yang sebenarnya terjadi antara kami.

Dari awal semua memang salahku. Aku yang menginginkan supaya hubungan kami disembunyikan terlebih dahulu dari anak-anak di kampus termasuk Renno. Seharusnya aku tahu jika itu bukan ide yang bagus. Mengingat semakin hari Renno selalu saja menempel mesra pada Nesa. Hingga aku merasa jika Nesa sudah mulai terpengaruh dengan Keberadaan Renno.

Renno pun demikian. Aku merasa Renno benar-benar mencintai Nesa dengan tulus. Renno tak pernah sesayang itu ketika dengan mantannya yang lain. Dia sepertiku. Selalu membatasi diri terhadap wanita, bedanya, aku membatasi diri karena aku tak mau jatuh cinta dengan wanita lain karena aku tahu jika aku sudah dijodohkan sejak kecil, sedangkan Renno membatasi diri karena dia tak mau jatuh cinta lagi dengan wanita, dia trauma jatuh cinta setengah mati dengan wanita, semua itu karena dia pernah cinta mati dengan wanita yang sebenarnya tak boleh dia cintai, sepupu kandungnya sendiri.

Aku merasa Renno memperlakukan Nesa sama ketika dia memperlakukan sepupunya waktu itu. Sejak saat itu aku tahu jika Renno benar-benar cinta dengan Nesa, istriku.

Apa aku harus diam saja? Tentu saja tidak. Beberapa kali aku berusaha memberitahu Renno tentang hubunganku dengan Nesa, tapi Nesa melarang. Aku tahu jika dia belum siap, karena aku tahu dia juga menyimpan perasaan yang sama untuk Renno sehingga dia tak tega melihat Renno yang marah dan kecewa. Apa dia menyimpan perasaan yang sama untukku? Entahlah, aku tak peduli.

Aku tak peduli entah itu Nesa cinta atau tidak denganku, faktanya Nesa sekarang sudah menjadi milikku. Jika dia tidak mencintaiku, aku bersumpah akan membuatnya mencintaiku seutuhnya dan hanya aku. Kalian pikir aku egois? Yah aku memang egois, oh ayolah… jika kalian berada di posisiku aku yakin kalian juga tak akan menyerahkan istri atau suami kalian untuk pria atau wanita lain. Aku bukan manusia sempurna seperti tokoh utama di drama-drama lembek atau novel-novel melankolis yang rela mengalah untuk orang dicintainya. Itu benar-benar bukan diriku.

Aku yang sebenarnya adalah aku yang akan berjuang untuk mendapatkan apa yang kumau, meskipun awalnya itu akan menyakiti banyak orang. Aku tak peduli. Seperti saat ini. Aku berdiri di sini melihat wanita yang kucintai menangisi lelaki lain karena ulah sialanku. Aku tak bisa menenangkannya, jangankan menenangkannya, melihat wajahku pun dia tak ingin.

Dia membenciku.

Aku memberanikan diriku untuk bertanya apakah dia mencintai Renno? Dan jawabanya bisa kutebak. Dia mencintainya. Meski jawabannya sudah kuduga namun mendengarnya sendiri keluar dari mulut manisnya membuatku sangat sakit. Sakit yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku sudah kalah. Aku bahkan sudah mati ditangan istriku sendiri.

Tak banyak yang bisa kulakukan selanjutnya. Dia mendiamiku selama 3 minggu. Aku pun tak ingin mengganggunya, melihatnya seperti itu benar-benar membuatku marah, marah dan sakit. Akhirnya aku mencari Renno. Aku ingin mengalah, memberikan istri yang kucintai kepada sahabatku sendiri.

Tapi aku terlambat. Renno sudah pergi. Aku yakin, dia pun sama sakitnya seperti yang kurasakan dan yang dirasakan Nesa. Dan semua itu karena ulah bodohku. Karena aku yang tak bisa menahan diriku karena perasaan cemburu. Sial.

Akhirnya Nesa ingin pulang. Dia ingin meninggal­kanku sendiri. Mungkin dia terlalu membenciku. Aku ingin meminta maaf, tapi bagaimana bisa meminta maaf jika setiap kali berhadapan denganku dia selalu meledak-ledak. Akhirnya dengan berat aku menuruti keinginannya.

Setiap hari aku ke rumah Mama hanya untuk mengetahui keadaannya yang menurutku semakin hari semakin memburuk.

Dia sakit.

Dan aku semakin sakit saat melihatnya sakit. Aku ingin menyerah, aku ingin mengalah, tapi Mama bilang jika Nesa seperti ini karena dia mencintaiku. Dia membenciku karena dia juga mencintaiku. Dia marah kepadaku karena dia kecewa.

Perkataan Mama sedikit banyak membuatku semangat kembali, membuatku memperjuangkan Nesa kembali. Aku menginginkannya kembali seperti dulu. Malam itu aku memberanikan diri memasuki kamarnya. Dia terlihat pucat. Tiba-tiba saja dia berlari memelukku.

Dia minta maaf.

Astaga, seharusnya aku yang minta maaf, Sayang. Aku adalah lelaki dewasa yang bodoh dan berengsek karena baru pertama kali merasakan perasaan cemburu. Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku sudah membuatmu kecewa dengan tingkahku yang seperti anak kecil. Maafkan aku.

Malam itu juga dia ikut pulang ke rumah. Tapi akhirnya aku membuatnya marah sekali lagi dengan melarangnya ikut ke acara wisudaku. Sebenarnya aku tak melarang, hanya saja aku tak mau hubungan kami di ketahui mereka. Aku hanya takut jika ada beberapa anak di kampus mem-bully Nesa karena hubungannya denganku. Terlebih lagi jika mereka itu adalah gengnya Maria ‘mantan’ pacarku.

Yah, aku memang sudah putus dengan Maria. Tapi dia masih tetap menempel denganku. Aku sudah memberi tahunya jika aku sudah menikah, tapi dia sama sekali tak percaya. Sebenarnya aku khawatir jika dia berbuat sesuatu yang nekat kepada Nesa, makanya aku tak memberitahu siapa pun tentang statusku dan Nesa.

Tapi Nesa salah menangkap semuanya, dia mengira jika aku tak mau memberitahu anak-anak kampus karena aku tak mau putus dengan pacar-pacarku. Astaga, apa dia sudah gila? Untuk apa punya pacar lagi jika sudah mempunyai istri seperti Nesa? Mereka sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan Nesa. Aku bahkan rela menyakiti hati Renno sahabatku sendiri hanya untuk bersama dengan Nesa, apa Nesa masih tak bisa melihat betapa besarnya perasaan ini untuknya?

Akhirnya di sinilah aku, di atas panggung dan mengumumkan hubunganku dengan Nesa pada seluruh orang yang hadir di acara ini. Mungkin dengan seperti ini Nesa akan mengerti jika aku tak hanya main-main dengannya. Aku benar-benar menyayanginya.

-TBC-

The Lady killer (Novel Online) – Chapter 14

Comments 6 Standard

TLK Cover

The Lady Killer

NB ; diriku kembali lagi nihh… ooiiyaa… untuk Chapter ini dan seterusnya nggak akan ada lagi Renno yaa kecuali di Chapter akhir sama Epilog nanti…  nggak tau tuhh mungkin dia lagi semedi atau cari dukun buat guna-guna nessa…(hahhaha #Plakk #Abaikan). dan lagi aku mau ijin yaa… mungkin next chapter agak lama karena aku masih ngurusin TPOL yang mau kujadikan versi buku novel, jadi sabar yaa,,,, untuk yang udah tanya-tanya tengtang kisah Renno dan Ramma (Di buku kedua dan ketiga) sabar juga yaa… aku baru posting kisah mereka setelah The Lady Killernya End… Okk… gk banyak omong lagi… Happy Readding ajja buat yang sudah mau mampir ke Blog Lebbay ini.. 😀 😀

 

Chapter  14

Marah Dan Kecewa……

 

“Dialah istri gue. Nesa Arriana.” Suara Kak Dhanni menggema di dalam ruangan tersebut. Bagaikan vonis mati untukku dan Kak Renno.

“Enggak, tunggu dulu, ini nggak benar.” Kak Renno terlihat tak percaya.

“Lo mau bukti tertulis? Gue ada surat nikah.”

“Kak….” Aku meminta Kak Dhanni menghentikan semuanya.

“Kenapa, Nes? Kita harus memberitahu Renno semuanya.”

“Tapi nggak seperti ini caranya, Kak!” teriakku kepada Kak Dhanni.

“Aku, aku benar-benar nggak nyangka,” kata Kak Renno sedikit linglung.

Lalu aku melihat dia melangkah pergi meninggalkan aku dan Kak Dhanni.

Aku akan mengejarnya tapi Kak Dhanni mencengkeram erat telapak tanganku. “Lepasin,” kataku dingin.

“Nes….”

“Aku bilang lepasin!” teriakku pada Kak Dhanni. Dan Kak Dhanni langsung melepaskan genggaman tangannya. Aku tak peduli apa yang akan dia lakukan, yang ada di dalam otakku hanyalah Kak Renno, Aku sudah menyakitinya. Aku ingin memperbaiki semuanya.

Aku mengejar Kak Renno hingga tempat dia memarkir mobilnya.

“Kak aku bisa jelasin semuanya,” rengekku sambil memeluk lengannya.

“Mau jelasin apa lagi?!” Suaranya berbeda menjadi lebih dingin. Aku tak suka itu.

“Kak….”

Tiba-tiba Kak Renno menghadap ke arahku, menatapku dengan tajam. “Kamu sudah mengkhianatiku, Kamu tahu, kalau aku sudah cinta mati sama kamu, tapi kamu…, kamu malah….” Kak Renno tak bisa menyelesaikan kata-katanya.

Kak….” Aku sudah tak bisa mengontrol emosiku lagi. Tangisku sudah benar-benar pecah, aku tak peduli jika ada yang bilang aku keterlaluan karena menangisi lelaki lain yang bukan suamiku sendiri.

“Lepaskan, aku, Nes. Aku nggak mau ketemu kamu lagi,” kata Kak Renno dingin sambil melepas paksa pelukanku pada lengannya.

Dia lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkanku begitu saja. Aku terjatuh lemas di tengah-tengah parkiran rumah Kak Dhanni. Menangis sejadi-jadinya merutuki kebodohan dan kelemahanku.

Aku mencintainya. Tapi aku selalu menepis perasaan itu. Apa salah jika aku mencintai dua orang lelaki sekaligus? Aku terlalu serakah untuk mendapatkan mereka berdua di sisiku hingga saat ini Tuhan menghukumku. Kenapa takdir cintaku harus seperti ini? Kenapa Aku harus menyakiti orang-orang yang kusayangi?

Aku merasakan sepasang kaki berjalan mendekatiku, “Apa kamu mencintainya?” kata Kak Dhanni dengan nada lemah. Ini baru pertama kalinya aku mendengar suara Kak Dhanni seperti ini.

Aku berdiri dan menatapnya dengan tajam, penuh dengan amarah. “Ya, aku mencintainya,” jawabku tegas. Lalu aku bergegas pergi meninggalkan Kak Dhanni yang masih berdiri membatu di tengah-tengah parkiran rumahnya. Sekilas aku melihat raut wajahnya memucat karena jawabanku, tapi aku tak peduli. Saat ini aku membencinya, aku kecewa terhadapnya.

Kututup pintu kamar hingga berbunyi keras, malam ini aku ingin tidur sendiri, tak mau diganggu siapa pun. Aku memang mencintai Kak Dhanni, tapi apa salah jika aku juga mencintai Kak Renno? Perasaan ini datang begitu saja, aku tak pernah berpikir jika akan berakhir seperti ini, berakhir dengan kita bertiga saling menyakiti. Aku menyakiti perasaan mereka berdua, orang yang sama-sama kucintai.

***

Tiga minggu berlalu sejak malam itu, aku belum sama sekali bertegur sapa dengan Kak Dhanni, aku terlalu malas. Dia juga sama, tak akan menegurku jika itu bukan sesuatu yang sangat penting. Hubungan kami tak berjalan baik, kami saling berdiam diri dan suasana menjadi dingin di antara kami.

Tak ada kabar dari Kak Renno. Lelaki itu menghilang entah ke mana, Di kampus pun sama. Semua terasa sangat menyebalkan.

“Aku ingin pulang,” kataku pagi itu tanpa sedikit pun memandang ke arah Kak Dhanni.

Kami saat ini sedang sarapan bersama.

“Kenapa pulang? Ini kan rumahmu juga.”

“Aku kangen Mama,” jawabku seadanya.

“Nanti sore kita ke sana, kita nginep di sana,” jawabnya tanpa memandangku.

“Aku ingin menenangkan diri sendiri,” kataku lagi dan masih tak memperhatikan raut wajahnya.

“Nggak, bisa, Nes. Mama akan mengira kita sedang bertengkar jika kita ke sana tak bersama,” jawab Kak Dhanni tenang.

“Kita memang sedang bertengkar, Kak!” Entah kenapa tiba-tiba emosiku ingin meledak hingga aku berani meneriakinya seperti itu.

“Nes, kita bisa perbaiki semuanya tanpa harus saling—”

“Aku nggak peduli.” Aku memotong kata-kata Kak Dhanni yang lembut itu dengan teriakanku. “Aku hanya ingin pergi dari sini. Aku benci sama Kak Dhanni.” Aku mulai menangis.

“Nes….”

“Aku ingin sendiri. Aku nggak mau ketemu sama Kak Dhanni,” rengekku.

Aku melihat wajah frustrasi dari Kak Dhanni. Dia seperti orang yang kalah dalam pertarungan. Tapi aku tak peduli, yang aku inginkan saat ini adalah menata kembali hatiku, aku ingin menjauh terlebih dahulu darinya.

Dia menghela napas panjang, “Baiklah, nanti sore aku antar kamu pulang,” katanya lirih, dia mengalah untukku.

***

Kak Dhanni pun mengantarku ke rumah Mama, sesampainya di rumah Mama, aku langsung memeluk Mama sambil menangis tersedu-sedu. Mama menatap Kak Dhanni dengan tatapan tanda tanyanya. Aku tahu kelakuanku ini tak baik dan tak patut dicontoh siapa pun. Membawa masalah rumah tangga yang sepele kepada orang tua itu bukan hal yang bagus. Tapi saat ini aku butuh sebuah pundak yang dapat meringankan bebanku. Dan aku tahu, seberat apapun masalah yang sedang kualami, pundak Mama akan selalu setia menerimaku kapan pun juga.

“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Mama saat masuk ke dalam kamarku.

“Apa Kak Dhanni sudah pergi?” Aku berbalik bertanya.

“Iya dia sudah pergi, apa kamu ada masalah sama dia?” tanya Mama lagi.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku dan mulai menangis lagi. Astaga…, aku benci menjadi cengeng seperti ini. Tapi mood-ku benar-benar sangat buruk. Aku sama sekali tak ingin melihat wajah Kak Dhanni dulu. Aku benci dia.

***

Hari demi hari berlalu. Semua semakin terasa membosankan di rumah Mama, karena aku sendiri pun tak pernah keluar dari kamar. Oh, seperti inikah rasanya patah hati? Aku patah hati dengan lelaki lain selain suamiku, sangat tidak masuk akal.

Kak Dhanni selalu datang ke rumah Mama meskipun dia sama sekali tak pernah melihatku secara langsung. Kata Mama, Kak Dhanni hanya menanyakan kabarku, lalu dia pulang begitu saja. Mungkin dia tahu jika aku masih marah dengannya.

“Kamu nggak bisa seperti ini terus, Nes.” Mama mulai menasehatiku. Aku hanya diam membatu. “Nes, kasihan Dhanni. Kamu sudah dewasa, nggak seharusnya kamu seperti ini terus.”

“Mama nggak ngerti. Aku benci dia, Ma. Aku benci dia…” Aku mulai menangis lagi.

“Tapi dia juga sama, Nes. Dia juga tersakiti karena ini.” Perkataan Mama ada benarnya juga. “Selesaikan ini dengan kepala dingin, Sayang. Kalian sudah sama-sama dewasa,” lanjut Mama lagi.

Dan aku pun hanya mengangguk.

Malamnya Kak Dhanni datang lagi ke rumah. Seperti biasa dia cuma duduk-duduk saja di ruang tamu rumahku. Mama bilang jika aku harus menemuinya. Dan aku pun turun menemuinya.

“Kamu kurusan, apa kamu sakit?” tanyanya perhatian padaku.

Aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Nes, kita pulang ya. Mami nyari’in kamu terus,” bujuknya lembut.

Aku merasa Kak Dhanni benar-benar berubah menjadi sosok yang lembut.

“Aku belum bisa pulang, Kak,” jawabku kemudian.

“Mau sampai kapan?”

“Sampai hatiku sembuh,” potongku kemudian.

Aku melihatnya menghela napas, aku tahu dia lelah dan juga tersiksa, tapi bukankah ini yang dia mau? Dia membuat kami bertiga saling tersakiti.

“Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu,” katanya sambil berdiri bergegas pergi.

“Jangan lupa makan, Kak. Kak Dhanni juga terlihat kurus,” kataku mengingatkan.

Aku khawatir dengannya. Bagaimanapun juga aku mencintainya walau aku membenci sikapnya.

Dia lalu mengangguk dan tanpa kusangka-sangka dia berjalan ke arahku dan memelukku. Jujur, aku sangat merindukan pelukannya. Aku kangen, Kak Dhanni, “Jaga dirimu baik-baik ya,” bisiknya lalu mencium keningku dan pergi meninggalkanku.

Ya ampun. Apakah aku sudah berdosa karena menganiaya suamiku sendiri? Menyiksa batinnya? Membuatnya bersedih? Astaga, hukum aku Tuhan, hukumlah aku.

***

Beberapa hari kemudian…

Aku sakit. Badanku demam, sakit kepala, mual, nafsu makanku menurun dan terkadang dadaku terasa sesak. Mama menyuruhku ke dokter tapi aku menolaknya. Begitu pun dengan obat, aku sama sekali tak mau meminumnya karena sejak kecil aku tak suka minum obat. Jadi aku hanya bisa meringkuk di atas ranjang kamarku.

Astaga, inikah hukuman untukku? Patah hatiku belum sembuh ditambah lagi sakit secara fisikku. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis.

Aku mendengar pintu kamarku dibuka lalu di tutup kembali, aku terkesiap ketika melihat sosok yang berdiri di hadapanku. Kak Dhanni.

Sosok yang beberapa hari ini sangat kurindukan. Setelah pertemuan kami waktu itu, Kak Dhanni tak pernah lagi mengunjungiku. Itu membuatku semakin merindukannya. Aku selalu merenung, kupikir aku tak seharusnya menyalahkan Kak Dhanni. Aku yang salah. Karena aku terlalu plin-plan, sejak awal aku yang salah karena aku menerima Kak Renno begitu saja padahal aku tak mencintainya. Aku membiarkan diriku belajar mencintai Kak Renno ketika kami sering bersama, aku yang membiarkan Kak Renno memasuki hatiku ketika Kak Dhanni tak bersamaku. Semua salahku. Kak Dhanni hanyalah korban, sama dengan Kak Renno. Aku pantas mendapatkan hukuman seperti ini.

Aku langsung menghambur ke dalam pelukan Kak Dhanni saat kusadari dia sudah berada di hadapanku. Aku menangis. Aku merindukannya lebih dari apapun. Aku mencintainya lebih dari yang kutahu. Aku menyayanginya lebih dari rasa sayangku kepada Kak Renno. Tapi aku terlalu bodoh, aku terlalu munafik untuk melimpahkan kesalahanku dan kemarahanku kepadanya.

“Maafin aku, Kak.” Akhirnya kata-kata itu terucap walau di sela-sela isakanku.

“Tidak. Kamu nggak salah. Aku yang salah.” Suaranya terdengar bergetar.

“Terima kasih, Kak Dhanni mau menungguku selama ini.”

Dia melepaskan pelukannya lalu menangkup pipiku dengan kedua telapak tangannya. “Kita pulang ya. Kamu sakit, aku akan merawat kamu,” katanya kemudian.

Aku hanya mengangguk. Lalu dia menciumku dengan lembut, oh ciuman ini, aku sangat merindukannya.

***

Baiklah, sebut saja aku lebay karena sejak tadi aku selalu memeluk lengan Kak Dhanni, aku tak peduli. Aku hanya terlalu merindukan dekapannya.

“Kamu cuma mau makan itu? Apa nggak ada lagi?” tanyanya kemudian.

Aku hanya menggeleng. Saat ini aku memang sedang menikmati sebungkus batagor. Nggak tahu kenapa pengen aja makan batagor.

“Kamu suka batagor ya, Sayang, nanti Mami buatin deh spesial buat kamu,” kata Tante Dian yang tiba-tiba sudah berada di dapur dekat meja makan.

“Iya, Mi,” jawabku seadanya.

“Sayang, besok kamu ikut ya ke acara wisudanya Dhanni,” kata Tante Dian yang saat ini duduk di sebelahku. Jadi Kak Dhanni besok diwisuda? Kenapa aku nggak tau?

“Mi, anak-anak kan belum tahu kalau Nesa istriku, lagian Nesa masih sakit jadi.”

“Aku nggak ikut, Mi.” Aku memotong perkataan Kak Dhanni dengan ketus.

Ya.. ya… ya. .. Aku tahu, Kak Dhanni cuma nggak mau anak-anak kampus terutama para pacarnya itu tahu kalau dia sudah menikah denganku, makanya dia melarangku ikut dengan alasan yang dibuat-buat. Menyadari itu emosiku kembali naik, mood-ku kembali memburuk, hingga nafsu makanku saja kembali hilang. Membuatku mual hanya karena membayangkannya.

“Sayang, kamu tahu kan itu bukan maksudku.” Kak Dhanni mulai merayu saat dia tahu jika aku mulai memburuk kembali. Dasar perayu ulung.

“Aku tahu apa maksud Kak Dhanni.”

“Bukan gitu, Sayang, aku hanya….”

“Sudahlah, Kak. Aku capek, aku mau tidur,” kataku sambil bergegas meninggalkan Kak Dhanni dan maminya.

Aku tak tahu apa yang sedang terjadi denganku, emosiku tersulut begitu saja. Membuatku ingin meledak-ledak hanya karena masalah sepele.

***

Aku terbangun karena mencium aroma yang sangat menusuk indra penciumanku, aroma yang seksi, aroma yang hanya membayangkannya saja membuatku terbakar oleh gairah. Aroma Kak Dhanni.

Aku terduduk di ranjang melihatnya sedang berkaca. Dia sudah rapi mengenakan kemeja putih yang di mataku terlihat sangat HOT saat dikenakannya. Dia masih sibuk membenarkan rambutnya, tak menyadari jika aku sudah terduduk di sini menatapnya dengan tatapan ingin melahapnya habis sekaligus. Lagi-lagi aku tak tahu apa yang terjadi denganku, aku tak pernah begitu menginginkannya seperti saat ini. Aku ingin disentuh… dimana-mana…….

“Kamu sudah bangun.” Sapaannya menyadarkanku dari lamunan.

Namun bukannya aku membalas sapaannya, aku malah menghambur ke dalam pelukannya, membuatnya terperanjat kaget. Astaga, bahkan aku sendiri pun tak sadar dengan apa yang sudah kulakukan. Baru saja tadi malam aku meledak-ledak, Kak Dhanni juga belum sempat minta maaf, tapi pagi ini aku malah ingin menempel terus bersamanya hanya karena mencium aromanya yang seksinya. Ada apa sebenarnya denganku?

“Sayang, kamu kenapa? Mimpi buruk?” tanya Kak Dhanni kemudian.

Aku lalu menatap matanya dan menggeleng. Aku menggigit bibir bawahku sambil menjalankan jari telunjukku ke dada bidangnya, dan mulai membuka dasinya kembali.

“Nes, kamu, kamu kenapa, Sayang?” Kak Dhanni mungkin heran dengan apa yang sudah kulakukan, aku saja tak mengerti apa yang saat ini sedang kulakukan. “Aku ‘mau’ Kak,” kataku pelan.

Sontak Kak Dhanni langsung membelalakkan matanya sambil berteriak “Apa?” Sial… Sial… Aku sudah seperti wanita jalang yang sedang menjajakan diri saja. “Aduh, Nes. Aku nggak bisa, ini sudah jam 8, nanti aku telat wisudanya,” kata Kak Dhanni sambil melihat arlojinya.

Dia menolakku.

Aku melepaskan pelukanku dan dengan menghentakkan kaki aku menuju ke kamar mandi. Astaga, rasanya aku ingin menenggelamkan diriku di dalam Bak mandi. Apa yang sudah terjadi denganku? Aku malu, bagaimana aku harus menghadapi Kak Dhanni nanti?

***

Akhirnya Mami sukses memaksaku ikut ke acara wisuda Kak Dhanni. Meski sejak tadi Kak Dhanni nggak ada henti-hentinya tertawa saat melihatku. Yaaa… Aku sekarang jadi bahan tertawaan karena pikiran mesumku yang tak tahu sejak kapan bersarang di otakku. Sial.

Acara wisuda itu pun berada di sebuah ballroom mewah di salah satu hotel termewah di negeri ini. Kampusku ini memang tak tanggung-tanggung. Acaranya ramai, aku melihat kanan kiriku, mencari-cari seseorang, tapi tetap saja aku tak menemukan orang itu.

“Kamu cari dia?” Suara Kak Dhanni mengagetkanku.

Aku tahu siapa yang Kak Dhanni maksud dengan ‘Dia’. Itu Kak Renno. Yah, sejak tadi aku mencari Kak Renno. Sudah sejak malam itu aku tak pernah bertemu dengannya. Aku kangen….

“Dia nggak akan datang,” kata Kak Dhanni lagi setelah menyadari kediamanku.

“Apa maksud Kak Dhanni dengan dia nggak akan datang?”

“Dia sudah pergi.” Setelah kata-kata itu terucap dari Kak Dhanni aku merasa ada sesuatu yang menusuk tepat di dadaku, perasaan itu seperti rasa nyeri yang tak akan bisa sembuh, ada apa denganku? Apa aku masih mengharapkan kehadiran Kak Renno? Apa aku masih belum bisa menerima kenyataan jika aku tak bisa memiliki mereka berdua? Bahkan tadi pagi aku sudah memohon untuk bercinta dengan Kak Dhanni tapi kenapa perasaan ini dengan Kak Renno masih saja sama? Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu serakah untuk mendapatkan mereka berdua.

“Kamu nggak apa-apa kan? Wajah kamu pucat,” kata Kak Dhanni sambil memegang kedua pipiku.

“Ah… enggak, Kak,” jawabku.

Sebenarnya aku sedikit risih karena sejak tadi banyak teman-teman seangkatan Kak Dhanni yang memandangiku. Yah tentu saja mereka heran kenapa aku berada di sini di tengah-tengah keluarga besar Kak Dhanni. Apalagi tadi saat bertemu dengan Kak Maria, dia menatapku seakan-akan tatapannya bisa membunuhku. Yang benar saja, seharusnya aku yang melakukan itu.

Acara demi acara dimulai. Ini benar-benar sangat membosankan, bahkan aku sampai tertidur dalam dudukku saking bosannya. Akhir-akhir ini aku memang suka sekali tidur sembarangan. Mami membangunkanku ketika Kak Dhanni disuruh maju ke panggung untuk mewakili teman-temannya. Aku melihatnya sangat gagah, wajar saja dia banyak yang suka bahkan rela diduakan olehnya. Dia benar-benar sangat gagah. Setelah serah terima ijazah, Kak Dhanni juga dipersilahkan untuk memberikan pidato—lebih tepatnya ucapan terima kasih kepada teman-teman dan seluruh dosennya.

Dari beberapa kata yang dia ucapkan, aku pikir dia cocok jadi pemimpin. Tak heran jika dia ditunjuk untuk mewakili teman-temannya. Tanpa kusadari tiba-tiba seluruh mata di ruangan ini pun tertuju ke arahku, apa yang terjadi? Aku hanya menatap mereka dengan tatapan kebingungan.

Lalu samar-samar kudengar suara Kak Dhanni “Yaah.. dialah istriku, Nesa Arriana, terima kasih, Sayang karena kamu mau mendukungku selama ini,” katanya dengan lembut dengan sedikit senyuman licik khasnya yang menghiasi wajah tampannya.

Whattt?? Tunggu dulu. Aku baru tersadar ketika melihat senyuman licik itu. Jadi dia saat ini sedang mengumumkan hubungan kami kepada semua orang? Aku nggak tahu jika suamiku bisa bertindak seberani ini. Aku menatap mereka yang sedang memandangku, ada beberapa yang memandang dengan tatapan tak percaya dan terkejutnya, ada yang dengan tatapan kagumnya, bahkan tak sedikit yang memandangku dengan tatapan tak suka atau bencinya –yang ternyata tatapan benci itu adalah dari kebanyakan cewek di dalam ruangan ini.

Astaga, haruskah aku menghadapi mereka semua besok? Memikirkannya saja aku lelah, sungguh sangat lelah dengan apa yang akan terjadi padaku besok.

-TBC-

The Lady killer (Novel Online) – Chapter 13

Comments 5 Standard

TLK Cover

The Lady killer

Nb ; Hay….. konflik udah di mulai nihh… jangan bosen-bosen yaaa bacanya,,, hehehheehhe

 

Chapter 13

Berakhirlah sudah….

 

Akhirnya kami pun kembali Ke Jakarta. Kak Dhanni kembali menjadi pendiam sejak di perjalanan, aku tahu apa yang sedang dia pikirkan, karena pastinya pikiran kami sama. Bagaimana cara menghadapi Kak Renno nantinya.

Kak Dhanni mengantarku pulang ke rumahku terlebih dahulu, katanya dia akan kembali ke kantor karena ada urusan penting. Dia bilang dia akan kembali nanti sore untuk menjemputku, aku akan pindah ke rumahnya.

Dia mencium keningku lalu beranjak pergi. Aku melihat ada sebuah kilatan di tangannya. “Kak Dhanni memakainya?” tanyaku ketika melihat sebuah cincin melingkar di jari maninya. Cincin pernikahan kami.

“Apa kamu melarangku memakainya?” tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.

“Ehh enggak, tapi bukannya nanti ada yang curiga sama hubungan kita?”

“Itu lebih baik,” katanya kemudian. “Dan aku akan memberitahu Renno tentang hubungan kita,” lanjutnya lagi membuat tubuhku menegang.

“Kak, emm izinkan aku sendiri yang memberitahu Kak Renno.”

“Kamu yakin kamu bisa memberitahu ini padanya?”

Dan aku hanya mengangguk lemah. Jujur saja aku tak yakin. Aku tak yakin bisa memberitahu masalah ini pada Kak Renno karena aku tahu ini akan menyakiti perasaannya, akan membuatnya kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus mengatakannya.

“Ya sudah, aku pergi dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik, nanti jam lima aku jemput,” kata Kak Dhanni lalu dia mengecup singkat bibirku. Dan aku hanya diam dan mengangguk.

***

Aku membuka mata mendapati diriku terbangun di sebuah kamar yang berbeda. Oh, aku hampir saja melupakan jika aku sudah pindah ke rumah Kak Dhanni, di kamar Kak Dhanni. Entah kenapa kamar ini begitu mempengaruhiku, membuatku membayangkan kejadian-kejadian erotis yang nantinya akan aku lakukan dengan Kak Dhanni di sini. Aku sudah gila. Aku bahkan sudah merasakan pipiku yang memanas karena mengingat kejadian panas yang aku lakukan dengan Kak Dhanni pagi ini sebelum aku tertidur kembali dan baru bangun siang ini.

Siang? Aku langsung terduduk ketika aku menyadari jika ini bukan padi lagi. Sial! Jam 1 Aku ada kelas di kampus.

“Kamu kenapa?” tanya suara berat yang tanpa aku sadar sudah berada di hadapanku sejak tadi. Dia Kak Dhanni, suamiku yang saat ini sudah ganteng dan rapi mengenakan Kemeja Putihnya.

“Aku lupa, jam 1 nanti aku ada kelas, Kak,” jawabku sambil bergegas berdiri. Aku mengernyit ketika mendapati diriku yang sudah mengenakan kemeja lengan panjang kebesaran yang aku yakini adalah milik Kak Dhanni. Tanpa sehelai pakaian dalam pun. Aku merasa saat ini aku sedang berperan sebagai tokoh utama di sebuah film erotis.

Tapi, siapa yang memakaikan kemeja ini di tubuhku? Pertanyaan ini tak berlaku lama ketika aku melihat seringaian licik yang berada di wajah Kak Dhanni. “Kamu seksi saat menggunakan itu,” katanya sambil melangkah pelan menuju ke arahku. Dia sudah seperti singa yang sedang mengitari mangsanya saja.

“Kak sudah deh, jangan mulai lagi, aku sedang buru-buru.”

“Hanya lima menit.”

“Enggak,” jawabku dengan tegas.

“Ok. Ok. Tapi bantu aku pakaikan dasi ya,” katanya manja, dan astaga. Aku benar-benar geli saat melihatnya manja-manjaan gini denganku.

“Gimana caranya? Aku nggak bisa,” kataku polos, karena jujur saja aku memang tak tahu bagaimana caranya memakaikan dasi.

“Sini aku ajari.” Dan Kak Dhanni pun mengajariku dengan memegang lembut kedua tanganku, membuat sampulan-sampulan aneh. Dan jadilah dasi Rapi ala kami berdua yang melingkar dengan gagah di lehernya. “Gimana, kamu sudah tahu caranya kan?”

Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Astaga, jujur saja aku sama sekali tak tahu karena tadi aku sama sekali tak memperhatikannya ketika dia sedang mengajariku, aku lebih sibuk mengatur detak jantungku yang semakin menggila. Aku gugup, gugup setengah mati bahkan di hadapan suamiku sendiri. Ini benar-benar tidak masuk akal. Kak Dhanni benar-benar membuatku semakin gila.

***

Aku sampai di kampus jam setengah satu karena harus naik taksi dan terjebak macetnya Jakarta yang memang membuatku ingin berteriak sekencang-kencangnya karena frustrasi.

Kak Dhanni menawariku untuk mengantarku ke kampus dengan motornya tapi tentu saja aku menolaknya mentah-mentah. Gimana pandangan anak-anak nanti ketika mereka tahu aku ke kampus dengan diantar oleh Kak Dhanni? Bisa-bisa aku dimusuhi oleh seluruh populasi wanita di kampus ini, aku belum siap dengan kejadian itu. Lagian aku juga belum memberi tahu Kak Renno tentang keadaanku yang sebenarnya. Setidaknya aku harus memberi tahunya terlebih dahulu sebelum dia mengetahui itu dari orang lain.

“Sayang, kamu ke mana aja?” Dan orang yang sedang berada di dalam pikiranku ini pun sukses mengagetkanku dengan kemunculannya secara tiba-tiba. “Kamu tahu nggak selama seminggu ini aku gila karena nyari’in kamu?” katanya lagi kali ini sambil memelukku. Aku merinding karena pelukannya.

“Kak, nggak enak dilihat yang lainnya,” kataku kemudian.

“Biar aja, mereka kan tahu kalau kita sudah pacaran,” jawab Kak Renno masih dengan memelukku. Ok. Aku kalah. Hari ini aku berniat memberitahu Kak Renno, tapi, nyaliku menciut ketika memandang wajahnya, Aku tak bisa membuatnya kecewa.

Menit demi menit, jam demi jam pun berlalu dengan Kak Renno yang selalu setia berada di sebelahku ketika kelas selesai. Bahkan saat ini dia sedang mengantarku pulang. Oh God, aku harus mengakhiri semua ini secepatnya sebelum perasan ini semakin aneh.

“Kamu telihat berbeda, ” katanya kemudian.

“Berbeda gimana, Kak?”

“Kamu lebih pendiam, ada apa? Apa ada masalah?”

Kamu masalahnya, rutukku dalam hati. “Ahh enggak kok, Kak.”

“Dari seminggu yang lalu Dhanni juga ngilang, kenapa bisa kebetulan banget ya.” Dan setelah pernyataan itu aku yakin jika saat ini wajahku memucat, Apa Kak Renno sudah curiga dengan aku dan Kak Dhanni?

Dan pada saat itu juga aku mendengar HP-ku berbunyi, aku melihat ID Callnya, dan terpampang jelas nama ‘My Hubby’ sedang meneleponku. Aku mematikannya, tentu saja aku tak mungkin mengangkatnya di hadapan Kak Renno.

“Siapa? Kenapa nggak diangkat?” tanya Kak Renno penasaran.

“Bukan siapa-siapa, Kak, cuma orang jail aja,” kataku meyakinkan.

Tapi sialnya HP-ku kembali berbunyi. “Siapa tahu penting, Nes,” kata Kak Renno lagi.

“Nomernya aja unkown, pasti cuma orang jail.” Lagi-lagi aku berbohong.

Lalu tanpa pikir panjang lagi aku mematikan HP-ku. Maaf Kak, Kalau aku terima telepon Kak Dhanni akan aku pastikan jika Kak Renno akan mengetahui semuanya, dan aku belum siap dengan kenyataan itu, kataku dalam hati.

Aku pun sampai di rumahku dengan selamat. Kak Renno lagi-lagi menciumku di kening. Walau hanya di kening tapi tetap saja aku merasa berdosa, aku sudah memiliki suami. Aku menunggu Kak Renno hingga hilang di balik tikungan blok perumahanku. Lalu aku berbalik dan beranjak masuk. Belum sempat aku membuka gerbang rumahku aku merasakan ada mobil yang berhenti tepat di belakangku.

Aku membalikkan badan kembali dan alangkah terjkejutnya aku ketika mendapati mobil Kak Dhanni yang terparkir di hadapanku. Kak Dhanni keluar dengan wajah sangarnya.

Dia sedang marah.

“Dari mana saja kamu?” tanyanya dingin.

“Aku dari….”

“Kamu tahu kalau aku mengkhawatirkanmu? Kutelepon berkali-kali tapi nggak diangkat. Aku cari di kampus tapi satpam kampus bilang semuanya sudah pulang, kamu dari mana aja?” omel Kak Dhanni panjang lebar terhadapku.

“Aku…, aku tadi makan sama Kak Renno.”

“Apa?” Dia membentakku.

“Maaf.”

“Apa dia yang nganterin kamu pulang?”

Aku hanya mengangguk.

“Apa dia cium kamu lagi?”

Lagi-lagi aku mengagguk.

“Apa kamu sudah mengatakan yang sebenarnya dengannya?” Kak Dhanni bertanya sambil menatapku tajam.

Kali ini aku menggeleng. Dan aku melihat Kak Dhanni memejamkan matanya lalu mengusap wajahnya dengan frustrasi.

“Ayoo ikut aku. Kita jelaskan sekarang juga di hadapan Renno,” katanya kemudian.

“Enggak.. enggakk Kak, Aku belum siap.”

“Apa lagi yang kamu tunggu?” kali ini Kak Dhanni berteriak dengan frustrasi.

Dia terlihat menyeramkan ketika sedang marah seperti ini. Aku takut.

“Maafin aku, aku cuma terlalu emosi, tapi kita harus segera memberi tahunya,” kata Kak Dhanni melembut. Dia mungkin tahu jika aku sudah ketakutan.

“Beri Nesa waktu, Kak. Aku janji aku sendiri yang akan memberi tahunya,” rengekku padanya. Aku melihat Kak Dhanni memejamkan matanya sambil menghela napas panjang.

“Ok. Baiklah, tapi aku nggak mau ada ciuman-ciuman lagi,” kata Kak Dhanni kemudian.

“Aku janji,” kataku sambil mengangguk.

Dan akhirnya berakhirlah pertengkaran rumah tangga kami yang terjadi di depan gerbang rumahku. Astaga, aku baru sadar jika tadi kami saling berteriak di pinggir jalan. Apa ada orang yang melihatnya? Semoga saja tidak.

***

Walau kami sudah tidak marahan lagi tapi aku tahu jika Kak Dhanni masih kesel denganku. Buktinya aja malam ini dia tidur sambil memunggungi aku. Hufftt, aku memang salah, tapi aku nggak suka didiamkan seperti ini.

Paginya…

“Kita berangkat ke kampus bareng,” kata Kak Dhanni saat sarapan dan itu sukses membuatku bengong.

“Kak, tapi aku belum….”

“Kalau kamu belom siap, aku akan nurunin kamu di jalan nanti.” Dia memotong kalimatku dengantegas, dan aku tahu jika saat ini aku tak bisa menolaknya.

Sial!

Dan sisa waktu sarapan itu kami habiskan dengan cara saling berdiam diri. Untung saja Mami sama Papi Kak Dhanni lagi di luar kota, jadi mereka nggak tahu kalau kami sedang perang dingin seperti ini.

***

Kak Dhanni nggak bohong. Benar saja, dengan dinginnya dia menurunkan aku di halte bus dekat kampus kami. Bahkan tanpa sedikit pun basa-basi dia langsung menancap gas untuk meninggalkanku. Sialan! Suami berengsek..!

Yaaa, kutuk aku karena aku sudah mengatai suamiku. Tapi mood-ku kali ini benar-benar buruk. Aku memang salah, tapi aku nggak suka cara dia perlakukan aku seperti itu. Lagian bukannya Kak Dhanni juga masih punya cewek lain selain aku?

Aku memutuskan untuk berjalan kaki saja dari halte bus, tapi baru beberapa langkah kaki aku mendengar sebuah mobil yang berjalan pelan di sebelahku mengklaksonku. Saat aku menoleh, entah mengapa senyumku pun langsung mengembang. Yapp, dia Kak Renno, pangeran penolongku.

Terlalu lebay jika aku menyebutnya sebagai pangeran penolong, tapi aku tak peduli. Toh dia memang menolongku karena sekarang aku sudah duduk manis di jok penumpang mobilnya.

“Kok kamu jalan kaki, Sayang?” Dia selalu memperlakukanku lembut. Nggak kayak Kak Dhanni yang perlakuannya musiman kayak pedagang buah aja.

“Tadi dianter Papa sampek halte aja, soalnya Papa ada meeting penting.” Aku berbohong lagi.

“Lain kali kalau Papa kamu sibuk hubungi aku aja, aku pasti jemput kamu,” kata Kak Renno sambil memasangkan sabuk pengaman untukku. Oh astaga, aku sampai menahan napas agar tak mencium aromanya yang menggoda. “Ok. Kita jalan ya,” katanya kali ini sambil mengusap-usap poniku.

Astaga, jika suatu saat nanti hubunganku dan Kak Renno memburuk, aku akan sangat merindukan saat-saat seperti ini.

Kami pun sampai di parkiran kampus. Dan sepertinya kesialanku hari ini belum berakhir karena aku melihat Kak Dhanni yang menatapku saat turun dari mobil Kak Renno. Dia menatapku sangat tajam seakan-akan tatapannya mampu membunuhku. Pagi ini dia mengenakan celana jeans hitamnya, jaket kulit serta T-shirt putih di dalamnya, bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di mobil dengan tatapan sangarnya itu. Dia sudah mirip seperti bos-bos mafia yang akan membunuh lawannya.

“Dhan, Lo ke mana aja, baru muncul,” sapa Kak Renno sambil menggandengku ke arah Kak Dhanni. Kak Dhanni menatapku dengan tajam, dan aku hanya bisa menunduk. Rasanya aku ingin tenggelam saja ke dasar laut dari pada mendapatkan tatapan membunuh dari suamiku sendiri.

“Gue baru nikah,” jawaban Kak Dhanni dingin tapi benar-benar mampu membuat kakiku lemas. Astaga, aku mohon, Kak, jangan katakan itu saat ini.

“Omong kosong Lo Dhann. Mana mungkin Lo nikah. Hahahaha” Kak Renno nggak percaya. Semoga saja Kak Dhanni nggak menjatuhkan bom atom itu saat ini juga.

Kak Dhanni menatap Kak Renno dengan tajam. “Lo nggak liat ini, Gue benar-benar sudah nikah,” kata Kak Dhanni sambil menunjukkan jari manisnya yang dilingkari oleh cincin pernikahan kami. Kak Renno menatapnya dengan ternganga, seakan-akan tak percaya, aku juga sama, aku nggak nyangka Kak Dhanni akan melakukan hal senekat ini.

Lalu Kak Dhanni pergi begitu saja meninggalkan kebingungan kepada kami. Kak Renno memandangku. “Sayang, apa dia serius?” tanya Kak Renno yang masih dengan raut kebingungan.

“A…, aku, aku nggak tahu.” Aku tergagap dan sedikit gemetaran menanggapi pertanyaan Kak Renno.

“Kita masuk aja yuk, nanti biar aku tanya lagi sama Dhanni.”

Aku hanya mengangguk. Badanku benar-benar sudah gemetar karena membayangkan apa yang akan dilakukan Kak Dhanni selanjutnya. Aku takut, di dalam kelas pun sama, aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran-pelajaran, pikiranku selalu tertuju pada kedua lelaki yang memporak-porandakan perasaanku.

Kelas pun selesai, aku langsung berlari menuju ke kantin tempat yang aku tahu biasa Kak Renno dan Kak Dhanni nongkrong, tanpa mempedulikan Dewi yang teriak-teriak nggak jelas karena ingin bergosip ria denganku. Tapi ketika kakiku sampai pada area kantin, betapa terkejutnya aku melihat pemandangan di hadapanku, langkahku langsung terhenti ketika melihat suamiku saling bergandeng mesra bahkan mengecup satu sama lain dengan selingkuhannya yang cantik dan seksi itu, Kak Maria.

Mataku berkaca-kaca, seperti itukah kelakuan Kak Dhanni di belakangku? Aku membalikkan badanku ingin rasanya aku menghilang dari hadapannya tapi aku mendengar langkah kaki berlari mendekatiku. Aku berharap itu kaki suamiku, tapi bukan, itu adalah kaki penolongku, Kak Renno. Tanpa pikir panjang lagi aku memeluknya erat-erat. Aku butuh sebuah dada bidang untuk meringankan tangisku. Aku butuh sebuah pundak untuk tumpuan kesedihannya. Dan dialah orangnya, Kak Renno.

Kak Renno mengajakku keluar dari area kantin sambil menggandengku. Sekilas aku melirik Kak Dhanni matanya menyala penuh dengan amarah, tapi aku tak peduli. Dia sudah menyakiti perasaanku.

***

Aku membuka mataku mendapati hari yang sudah gelap. Aku melihat jam di nakas menunjukkan pukul 8 malam, astaga, aku sudah ketiduran selama itu. Tadi siang setelah pulang dari kampus aku menangis di dalam kamar Kak Dhanni sampai ketiduran hingga baru bangun saat ini.

Aku bergegas mandi. Setelah selesai, aku mengganti bajuku dengan piama, aku ingin turun, makan dan bergegas tidur kembali, aku tak peduli apa Kak Dhanni sudah pulang atau belum. Aku masih marah dan kesal dengannya.

Tapi ketika kakiku menuruni tangga terakhir, betapa terkejutnya aku mendapati pemandangan di hadapanku. Dua orang lelaki sedang menatapku dengan tatapan masing-masing. Yang satu suamiku, sedang menatapku dengan seringaian liciknya, yang satu lagi Kak Renno, menatapku dengan tatapan terkejut dan tatapan tanda tanyanya.

“Sayang…. Kenapa, kenapa kamu di sini?” tanya Kak Renno sambil tergagap.

Aku masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Lalu Kak Dhanni pun melangkah ke arahku, merengkuh pinggangku dengan mesra. “Tadi Lo pengen tahukan siapa istri gue?” Kata Kak Dhanni kemudian. “Dialah istri gue, Nesa Arriana,” katanya dingin namun sedikit menyunggingkan senyuman liciknya.

Selesai…. Semuanya sudah selesai. Berakhir sangat buruk. Aku melihat keterkejutan yang sangat tampak di wajah Kak Renno. Wajahnya memucat, mungkin sama pucatnya dengan wajahku. Apa ini rencana Kak Dhanni? Kenapa dia tega melakukan ini semua terhadapku?

-TBC-