The Lady Killer (Novel Online) – chapter 9

Comments 10 Standard

image

                  The Lady Killer
Nb : aku tidak menyangka dari rating di blog ini ternyata lumayan juga yg baca storyku ini wAlau hanya satu dua yg nyempetin koment.. bahkan ada sbagian yg inbox di fb untuk segera di lanjut… okehh walaupun laptopnya lagi ngambek aku usahain tetep ngepost… happu reading…

Chapter 9
Sebuah hukuman..

Aku masuk kedalam mobil itu, terasa sangat dingin di dalam, bukan karena AC mobil, tapi karena penumpangnya, entah kenapa aku melihat Kak Dhanni sangat menyeramkan saat ini. Apa yang akan dia lakukan terhadapku..? yah.. aku akui aku salah. Tak seharusnya aku menerima Ciuman kak Renno, bahkan membalasnya. Astaga… apa yang akan dilakukan Kak Dhanni..?

Aku meliriknya, kulihat dia sedang menegang, rahangnya mengeras, dia marah, aku tau itu. Sesekali tangannya mengepal, bahkan memukul setir mobil. Dan apa yang dia lakukan, aku baru menyadari kalau dia tak memakai Cincin pertunangan kami..? sangat tidak adil,bagaimana bisa aku mengenakannya sedangkan ia tidak. Sialan. Akupun kembali cemberut dan memalingkan mukaku kearah jendela. Kecawa, sudah pasti. Arrgghhhh… benar-benar bikin jengkel.

“Kenapa..?” tanyanya dingin.

“Nggak..” jawabku Cuek.

“Gimana Ciumannya tadi..?” dia menanyakan pertanyaan itu dengan nada sinis. Astaga… apa dia sedang menyindirku atau bagaimana..? tentu saja ciuman itu sangat hebat dan lembut, tidak seperti yang Kau lakukan.  Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.

“Biasa saja.” Lagi-lagi aku berusaha secuek mungkin.

Emang dia fikir dia saja yang bisa bersikap dingin terhadapku..Tiba-tiba aku merasakan mobil berhenti dengan mendadak. Aku melihatnya dan dia sudah memandangku dengan tajam. Ohh astaga.. tatapannya benar-benar mematikan. Apa aku harus mati disini sekarang juga hanya karena berciuman dengan temannya…? Ohh ayolah… aku tak separah itu… aku tidak seperti dia yang dengan gampangnya berciuman dengan semua wanita menarik di belakangku. Kesalahannku tidak sefatal kesalahannya. Lagi pula bukankah kita terikat hanya karena perjodohan bodoh itu, bukan karena CINTA.

Lalu aku merasakan dia mengangkat daguku dengan jemarinya, memandangi bibirku secara intens, sebenarnya apa sihh yang akan dia lakukan,,? Lalu dia mengusap bibirku dengan ibu jarinya, seakan-akan menghapus sisa ciuman yang diberikan Kak Renno tadi.

“Jangan lakukan itu lagi.” Katanya dingin, dan jujur saja aku merasa merinding saat dia mengatakan itu dengan penuh penekannan. Dan entah kenapa aku merasa aku harus menentangnya.

“Kak Dhanni Nggak berhak…”

“Aku berhak..” dan diapun memotong kalimatku. Dan tanpa ku sangka dia langsung melumat habis bibirku, kali ini dengan perasaan menggebu. Astaga… apa yang dilakukan lelaki ini… aku merasakan sakit sekali di ujung bibir bagian bawahku, bercampur dengan rasa yang aneh, dan benar saja, ternyata dia menggigit bibir bawahku hingga berdarah.

“Ehhhmmmpptt…” kataku sambil mendorongnya menjauh. Aku melihat bibirnya penuh dengan darah, dan aku tau itu darahku. Astaga.. ini benar-benar sakit dan pedih. Aku masih menutupi bibirku dengan tanganku. Aku benar-benar tak menyangka jika Kak Dhanni akan melakukan ini terhadapku. Sialan.!

“Pakek ini.” Katanya sambil memberikan sebuah sapu tangannya dan menekannya di bibirku yang terluka. “Sorry.. ini hukuman buat kamu.” Lanjutnya lagi masih dengan menekan sapu tangannya di bibirku.Aku memandangnya dengan tatapan tanda Tanya, sepertinya dia tau apa yang ada dalam fikirannku. “Dengan begini Si Renno nggak akan Cium kamu lagi.” Jawabnya santai.

Jadi… jadi dia nggak suka liat aku ciuman dengan cowok lain..? apa dia cemburu,,? Apa dia marah..? apa dia… ohh ayolah… katakan sesuatu yang lebih jelas lagi. Dan… hening. Sudah tidak ada apa-apa lagi. Dia tak mengatakan apa-apa lagi. Sial.!

Kamipun saling berdiam diri, dia kembali menjalankan mobilnya. Aku tak tau dia akan melaju kemana karena jujur aku tak tau arah jalan yang sedang dia ambil saat ini.Setelah tiga puluh menit didalam mobil rasanya benar-benar sesak, kami tak berbicara sedikitpun satu sama lain. Aku tau dia masih marah denganku, begitupun sebaliknya, aku masih marah dengannya karena dia sudah menggigit bibirku hingga berdarah, belum lagi kekecewaan karena dia tidak memakai cincin tunangan kami. Huuuhhh benar-benar menyebalkan.

Kamipun berhenti di depan sebuh studio foto besar yang aku fikir ini adalah studio foto tempat para artis-artis berpose, studio foto ini terlihat begitu mewah dan elegan dari luar. Di dalam parkirannya aku melihat Motor Sport yang aku tau adalah Motor Kak Dhanni, tapi kenapa di sini..?

“Kita masuk dulu,” katanya mengagetkanku.

Akupun mengikuti Kak Dhanni masuk, dan benar saja setelah sampai di dalam studio foto itu akupun ternganga, berbagai macam foto artis dan model terkenal Indonesia terbingkai di dinding-dinding studio itu lengkap dengan pose-pose menawannya. Apa tempat ini milik Kak Dhanni..? kurasa tidak, tapi aku kan belum terlalu mengenal Kak Dhanni.

Kamipun menuju kesebuah ruangan yang pintunya tertutup, Kak Dhanni tidak mengetuk dan dia langsung membuka dan masuk begitu saja kedalam ruangan tersebut, Dasar, tidak tau Sopan santun, akupun mengikutinya dari belakang. Dan betapa terkejutnya ketikan aku melihat seorang lelaki yang sedang menindih seorang wanita di atas Sofa panjang, mereka saling menautkan ciumannya bahkan baju si wanita sudah melorot sampai kemana-mana.

“Hei.. mendingan  lakuin itu di kamar hotel sana..” Kata Kak Dhanni santai namun cukup untuk mengagetkan pasangan yang sedang terbuai asmara itu. Mereka lalu memandang kearahku dan Kak Dhanni, sontak aku menundukkan kepalaku, Malu, tentu saja. Ini pertama kalinya aku memergoki sepasang kekasih yang sedang memadu kasih dan hampir Making love. Oh.. sialan.. benar-benar memalukan.

Sang lelaki langsung bangkit dan berdiri sedangkan si perempuan langsung memperbaiki pakaiannnya. “Sejak kapan lo di situ..?” Tanya lelaki itu yang aku baru sadar bahwa tampangnya benar-benar sangat ganteng bahkan mendekati cantik. Hampir mirip dengan actor korea, berbeda dengan Kak Dhanni dan Kak Renno yang gantengnya terlihat Macho.

“Dari tadi.” Jawab Kak Dhanni cuek sambil melompat duduk di sebuah bangku.

“Emm.. jadi ini yang namanya Nessa… manis juga..” katanya sambil memandangi dari ujung kaki sampai ujung rambutku.

“Brengsek Lo!. Awas aja kalo sampek lo deketin dia.” Kata kak Dhanni Sewot.

“Hahahah dia memang seperti anak kecil, iyakan sayang..?” kata lelaki itu padaku dengan nada menggoda.

“Ehhemm..” Si wanita itu berdehem. Aku baru sadar jika dia masih di ruangan yang sama.

“Sialan Lo Ramm..”  Umpat Kak Dhanni.

Dan aku bau tau jika lelaki yang berada di hadapanku ini adalah Kak Ramma, Sahabat dekat dari kak Renno dan Kak Dhanni.  Karena Kak Renno sebelumnya pernah bercerita jika dia mempunyai dua sahabat yaitu Kak Dhanni dan Kak Ramma. Apakah pergaulan Kak Dhanni juga sebebas ini..?

“Sayang aku balik dulu deh… nanti kita lanjutin lagi.” Kata wanita itu sambil menghampiri kak Ramma dan menciumnya dihadapanku dan kak Dhanni tanpa rasa canggung sedikitpun. Astaga… itu membuatku mual.

Apalagi ketika melihat tampangnya, Cantik sih… tapi kurasa itu tidak Cocok dengan Kak Ramma, wanita itu mungkin saja lebih tua dari Kak Ramma. Seleranya benar-benar aneh.

“Hati-hati di jalan Bebbh..” Kata kak Ramma setelah mencium dan memeluknya balik. Mereka sudah seperti suami istri saja.Setelah perempuan itu keluar Kak Ramma menghampiriku.

“Kenalin aku Ramma Aditya, Sohibnya Dhanni sama Renno.” Kata Kak Ramma sambil mengulurkan tangannya.

“Nessa, Nessa arriana..” jawabku sambil menjabat tangan Kak Ramma.

“Tangan Tuh di jaga.. dia udah ada yang punya Ramm.” Lagi-lagi Kak Dhanni berbicara dengan nada yang tak enak di dengar. Dia kenapa sih,,? Cemburu..? astaga.. Cuma salaman doang juga. “Kamu juga… apa kamu mau ku hukum lagi kayak tadi..?” Tanyanya kali ini sambil menatapku tajam.Sontak aku langsung melepaskan uluran tanganku. Aku masih merasakan sakit pada bibir bagian bawahku yang dia gigit tadi, jadi aku tak mau menambahnya lagi. Sialan! Berani-beraninya dia mengancamku.

Aku melihat Kak Ramma hanya tersenyum. “Elo ngapain lagi kesini..? mau pinjam studioku buat  ML..?” Aku membelalakkan mata ketika mendengat kata-kata Kak Ramma yang bagiku tak sopan itu, secara tidak langsung dia menganggapku sering melakukan itu dengan Kak Dhanni.

“Sialan Lo Ramm, Lo kira dia kayak para Wanita jalang Lo itu.?” Kak Dhanni terlihat sedikit marah.Kak Ramma hanya tertawa mendengar umpatan Kak Dhanni. “Gue Cuma mau bawa mobil Lo pulang, dan ini kunci motor gue, bawa aja, Nanti malam Gue nggak ikut balapan.” Lanjut Kak Dhanni.

“Ok.. Ok… Gimana dengan Renno..?”

“Persetan Dengan Renno.” Dan pada detik itu aku tau jika Kak Dhanni masih marah denganku dan Kak Renno. Astaga,,, apa yang sudah aku lakukan..? aku sudah buat hubungan dua sahabat jadi renggang..

***

Kak Dhanni masih terdiam sambil menjalankan Mobil sedan yang kami tumpangi tadi sore, mobil yang aku tau adalah mobil Kak Ramma.Setelah kami keluar dari Studio foto Kak Ramma, kami menuju ke rumahku. Kak Dhanni memaksaku untuk mengganti baju. Katanya dia akan mengajakku makan malam. Apa makan malam yang romantis..? seperti sebuah kencan atau apalah itu…? Dan aku hanya menurutinya walau sebenarnya aku tak tau kemana tujuannya.

“Kenapa diam Saja..? apa bibirmu masih sakit..?” tanyanya memecah keheningan.Aku hanya menggeleng walau ebenarnya masih sedikit perih.

“Sorry.” Katanya lagi tanpa memandangku. Aku hanya terenyum simpul mendengarkan dia minta maaf.

“Kita mau kemana Kak..? aku kan ada janji sama Kak Renno.” Kataku kemudian.Aku melihatnya menggenggam Setir mobil dengan Erat sampai buku-buku jarinya memutih. Dia KeSal dengan perkataanku.

“Nggak akan ada janjian.” Katanya dingin.

“Tapi…”

“Nggak ada tapi Nessa… kamu tau betapa bahayanya balapan itu hahh..? Dia mulai berteriak, aku tau dia menghawatirkanku. Dan aku senang karena itu. “Kita akan makan malam di rumahku. Aku nggak mau makan malam sendiri.”

“Memangnya tante Dian sama Oom Ari kemana kak..?”

“Mereka keluar Kota.” Jawabnya singkat.

“Emmm… kenapa Kak Dhanni nggak pakai Cincinnya..?” tanyaku lagi setengah berbisik, aku tidak berani menanyakan itu padanya, aku takut, aku takut jika jawabanya tak sesuai dengan harapanku.

Dia memandangku dan mengangkat sebelah alisnya. “Cincin…? Cincin tunangan maksud kamu..?” dan aku hanya mengangguk. “Kamu nggak lihat ini..?” katanya sambil mengeluarkan kalung yang tersembunyi di balik kemejanya dan kalung itu berandul cincin tunangan kami. Ak tak menyangka jika dia juga mengenakannnya. Aku hanya berpaling darinya menghadap kejendela dan tersenyum bahagia… oh astaga.. Lelaki Ini bisa-bisa membuatku gila.

***

Kamipun makan malam bersama di dalam rumah Kak Dhanni, di ruang makannya. Rumahnya begitu Wooww… Sebuah Mansion di pinggiran Kota. Gerbangnya sangat besar, butuh bermenit-menit waktu dari gerbang menuju ke bangunan utamanya. Dan juga ada beberapa bangunan kecil diantara bangunan utama rumah ini. Astaga.. aku benar-benar ternganga melihatnya. Bahkan dia juga mempunyai lapangan Golf pribadi di halaman belakag rumahnya yan mungkin lebarnya berhektar-hektar. Kufikir ini tadi istana negara atau sejenisnya. Bahkan interior rumah ini pun membuat Kak Dhanni mengucapkan “Tutup mulutmu jika kamu tak mau air liurmu keluar” kata-kata itu tadi. Sialan!

Satu hal yang baru aku sadari saat kami makan bersama ‘Dia Tak suka Sayur’ betapa jelinya dia memilih sayuran di Nasi gorengnya. Kayak anak kecil aja.

“Sial!. Apa kamu mau milihin ini untukku..? Astaga…. Si bibi makin pikun aja, udah berkali-kali aku bilang aku nggak suka bawang bombai sama wortel tapi masih aja di campur-campur, mana kecil-kecil lagi potongannya.”Aku hanya tersenyum, walau lengkap dengan Umpatan Khasnya aku senang kartena itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kudengar darinya.

Akupun mengambil piringnya dan mulai memilih bawang bombai dan wortel tersebut.Aku meliriknya dan dia memandangiku dengan salah satu tangannya yang menyangga Dagunya.

“Apa..?” tanyaku kemudian karena merasa gugup ketika dia memandangku seperti itu.Dia hanya tersenyum.

“Nggak.. nanti setelah kamu jadi istriku, kuharap kamu mau milihin sayur untukku tiap hari.”Dan Akupun hanya tersenyum dan menggeleng.

“Kalo aku jadi istri Kak Dhanni, aku nggak akan masak sayur tiap hari.” Kataku kemudian dan kamipun langsung tertawa bersama. Ini pertama kalinya dia tertawa lepas di hadapanku.

Tiba-tiba seorang pembantu Kak Dhanni menghampiri kami.

“Ada apa.?” Tanya Kak Dhanni kemudian.

“Ada  mas Renno diluar den,,” Kata pembantu itu Sontak membuat kami berdua Kager. Wajahnya memucat, dan aku tau wajahkupun sama. Kami saling pandang satu sama lain.

___TBC___

 

Previous Chapter  –  Next Chapter

Special Cast yaa…

image

Advertisements

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 8

Comments 6 Standard

lady killer cover

The Lady killer

NB ; Untuk Chapter ini sengaja Author kasih POVnya Dhanni… semoga dengan ini menjawab semua pertanyaan kenapa sih Dhanni begini.. begitu… hehhehe dan juga semoga dengan adanya Chapter ini bisa semakin sayang sama Tokoh Dhanni di Coretan ini.. Okeh,, happy Reading aja dehh kalo gitu..

 

 

Chapter 8

-Dhanni-

Nessa Arrianna… sejak 10 tahun terakhir nama itu sudah menggangguku, menjungkir balikkan hidupku. Bagaimana tidak, saat itu aku masih duduk di bangku SMA, masih nakal-nakalnya, bandel-bandelnya. Gonta-ganti cewek bagiku sudah biasa saat aku berumur segitu. Hingga pada suatu hari mami memberi tahuku jika aku sudah terikat perjodohan Sialan dengan seorang gadis bernama Nessa Arrianna..

Aku marah, aku murka. Ini bukan lagi jamannya siti Nurbaya, berkali-kali mami menjelaskan alasan kenapa aku dijodohkan tapi tetap saja aku tak bisa menerimannya. Aku lelaki bebas, seperti Halnya kedua sahabatku Renno dan Ramma. Bisa kalian bayangkan, saat itu usiaku baru 17 tahun, dan aku menyadari bahwa masa mudaku akan berakhir hanya karena perjanjian Sialan itu.

Lalu tiba-tiba mami memberiku sebuah foto. Seorang gadis kecil, mungkin usianya sekitar 12tahun, sedang tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya. Rambut panjangnya tergerai indah dengan sebuah bando berbentuk pita di kepalanya, dia terlihat begitu manis dan… Cantik untuk anak seusiannya. Tiba-tiba jangtungku berdetak lebih cepat dari pada biasanya, perasaan apa ini..? jujur saja aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini. Gadis manis di dalam foto itu terlihat seperti peri bagiku. Aku pernah membaca sebuah buku, jika seorang lelaki mencintai seorang wanita, lelaki itu akan mempunyai fantasi tersendiri terhadap wanita tersebut. Dan aku menganggap Nessa adalah seorang Peri di dalam fantasiku. Aku baru menyadari, apakah sejak saat itu juga aku sudah mulai mencintai Nessa..? di usia semuda itu..? hanya dengan melihat fotonya..? hahaha kurasa tidak, aku bukan Type orang yang terlalu memuja Cinta.

Itu adalah Foto pertama Nessa yang kupunyai, yang sampai saat inipun masih kusimpan rapi di laci meja kerjaku. Tahun demi tahun mami selalu memberikan foto-foto Nessa untukku, saat itu aku masih memungkiri perasaanku sendiri. Jujur, aku mulai tertarik dengannya, Nessa kecil yang sudah beranjak remaja. Tapi aku hanya pura-pura cuek dengan mami, hingga saat  usiaku  23 tahun –mungkin Nessa 18tahun- mami memberiku dua buah foto, yang pertama foto Nessa mengenakan baju kebayak dengan bawahan Celana Jeans, mungkin dia sedang menghadiri sebuah acara di sekolahan. Dia terlihat begitu mempesona, sederhana namun entah kenapa mampu menggetarkan hatiku. Yang kedua adalah foto saat Nessa mengenakan T-shirt Barcelona ketat dengan bawahan Jeans pendek yang panjangnya jauh di atas lutut yang ketat pula lengkap dengan sepatu Boots sialannya itu Membuatnya terasa begitu nikmat untuk di santap. Sexy.. tentu saja.. dia memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya di dalam foto itu.

Untuk pertama kalinya pangkal pahaku menegang hanya karena melihat fotonya. Aku bukan orang yang Culun ataupun cupu. Pergaulanku sangat bebas sejak aku masih SMA oleh karena itu mami memberi tahuku masalah perjodohan sejak SMA supaya aku tak terlalu dekat dengan wanita lain. Seperti halnya para BadBoys lainya, Aku, Renno, Dan Ramma juga suka mengoleksi majalah-majalah nakal seperti Playboy dan lain-lain, Video porno..? jangan Tanya, puluhan koleksiku sudah lebih dari cukup untuk membuat kalian terangsang. Melihat wanita telanjang bulat,..?  itu sudah menjadi makanan sehari-hari kami. Namun melihat foto Nessa saat itu kufikir ada yang berbeda. Dia masih berpakaian lengkap, dia juga tak berpose menggoda seperti halnya model-model di majalah-majalah tersebut. Hanya saja aku tak tau kenapa bisa menegang seperti ini.. sialan..

Malam itu juga aku mulai memimpikan Nessa, Mimpi Erotis, hingga membuatku basah. Sialan.. aku benar-benar bisa gila. Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun bahkan sahabatku sendiri Renno dan Ramma. Beberapa hari kemudian aku bersikeras menemuinya, saat itu ia masih tinggal di Jogja. Aku menemuinya secara diam-diam.memperhatikannya. dan… Si Brengsek inipun mulai menegang Kembali saat aku melihanya secara langsung untuk pertama kalinya. Sialan.! Kutukanku belum cukup sampai di situ. Entah sudah berapa kali aku menegang hanya karena teringat oleh dia, teringat wajah dan senyumannya, dan semuanya berujung di kamar mandi, apalagi kalau bukan Masturbasi. Shit !.

Tak jarang jika aku bercinta dengan pacar-pacarku aku membayangkan bahwa itu Nessa, dan aku benar-benar sangat menunggu hari itu. Apa kalian fikir aku seorang maniak Seks..? kupikir aku memang seperti itu, Ohh ayolah… apa yang akan kalian lakukan jika kalian sangat mendambakan seseorang hingga terasa nyeri dan sakit, kupikir kalian akan melakukan hal yang sama denganku, yaitu Mencari Pelampiasan atau Pelarian. Apakah ini hanyalah nafsu saja..? aku tak tau dan aku tak akan pernah mau mencari tau. Karna aku takut, aku takut  jika ini bukan hanya nafsu, bagaimana aku akan menghadapi perasaan sialan ini jika ini bukan sekedar nafsu. Kalian bisa menyebut jika aku takut Jatuh Cinta, tentu saja, bagiku jatuh cinta itu sebuah bencana.

Tahun demi tahun berlalu, aku selalu menyibukkan diri dengan bekerja di salahsatu anak perusahaan papi, dan tentunya masih dengan berganti-ganti pasangan, itu membuatku sedikit melupakan Nessa,  setelah dua Foto Sialan itu, mami kularang lagi mengirimiku fotonya. Akupun sudah tak menemuinya lagi setelah kunjungan terakhirku ke jogja, semuanya mulai terasa tenang, hingga beberapa bulan yang lalu mami bilang  jika Nessa akan segera pindah ke Jakarta dan kami akan segera menikah. Kabar itu lagi-lagi membuatku menggila.

Sejak saat itu aku sangat rajin main kerumah Ramma, karena setauku rumah Nessa ada di satu kompleks perumahan yang sama dengan Rumah Ramma hanya berbeda dua blog saja. Bermacam-macam alasan aku paparkan untuk si Ramma karena dia sudah mulai curiga dengan gelagatku. Dan akhirnya Si Ramma pun tau jika aku kerumahnya hanya karena ingin menemui seorang gadis. Semoga saja si Ramma tak menyebarkan kabar itu kemana-mana.

Sore itu entah kenapa aku ingin sekali main Basket di taman Kompleks perumahan Ramma, kipikir dengan begitu aku bisa sedikit melupakan Nessa, kami main rame-rame dengan tetangga Ramma. Setelah setengah permainan kamipun istirahat, Capek,, Tentu saja.  Hingga pandanganku tertuju ke satu arah, kearah seorang gadis yang sedang duduk dengan santainya, memakai Headset dan membaca sebuah buku tak memperdulikan orang-orang di sekitarnya sama sekali.

Mulutku masih ternganga saat aku memandangnya, mataku tak mau berhenti memandangnya walau itu hanya untuk berkedip, bola yang tadi ku pegang jatuh menggelinding entah kemana, jantungku semakin keras dan cepat saat memompa membuat detakannya terdengar entah sampai kemana, bahkan sampai terasa sakit, apa aku akan terkena serangan jantung..? tidak. Ini bukan jenis serangan jantung, ada sebuah rasa yang aku tak tau itu apa yang  membuat dadaku nyeri seperti ini, bahkan tanpa kusadari aku sudah memegang dadaku.

“Apa dia Orangnya..?” pertanyaan Ramma mengagetkanku.

Aku hanya mengangguk. Dan tanpa kusangka dia malah tertawa terbahak-bahak. “Hahahhaha muka Lo bener-bener lucu Dhan… hahhhaha.”

“Lo udah Sinting Ram..?” tanyaku padanya tapi  dia makin tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

“Lo yang sinting Dhan… hahhahhah Gue rasa Lo emang udah masuk dalam Zona Bahaya.” What..? Zona Bahaya..? apa Si Rama udah gila,,? Aku nggak mungkin masuk kedalam Zona itu. Kami –Aku, Renno, Ramma- menyebut jatuh Cinta adalah Zona bahaya, karena Jatuh cinta bagi kami adalah kemungkinan yang paling kecil. Kami lebih mengenal lekuk tubuh wanita daripada cinta, hubungan tanpa perasaan akan selalu lebih asyik dibandingkan dengan perasaan. Tentu saja semua itu berbeda terhadap Nessa, Dia calon istriku, dan kukira mau tidak mau aku harus melibatkan perasaan di dalamnya,, apa aku melakukannya karena terpaksa..? kurasa tidak, bahkan aku sangat bahagia jika mengingat akan menikah dengannya. Apa… yang di bilang Ramma benar bahwa aku sebenarnya sudah dalam Zona bahaya..? Tidak.. tidak.. ini salah, ini tak boleh terjadi, aku tak mungkin masuk kedalam Zona sialan itu, terlebih lagi aku tak mungkin sudah terjerat dalam Satu kata Sialan yang aku hindari selama hidupku, Cinta.

Ramma menyadarkanku dengan menyikut lenganku. “mendingan lo samperin dia, daripada lo bisa gila hanya karena memikirkannya, gue nggak pernah liat Lo linglung hanya karena ngeliat cewek kayak gini Dhann..”

Benar kata Ramma, aku harus menemuinya, aku ingin tau reaksi pertamanya saat bertemu denganku. Apa aku harus bilang ‘Hai aku Dhanni calon suamimu,’ itu tidak mungkin, dan tiba-tiba saja aku adaa ide, mungkin ini agak terlalu jahat, tapi mau gimana lagi.

Aku dengan sengaja melempar Bola itu tepat mengenai kepalanya, Maafkan aku sayang, aku harus melakukan ini. Dan pertemuan pertama kamipun terjadi. Sungguh, dia amat sangat jauh lebih cantik dan mempesona di bandingkan terakhir aku melihatnya. Dan baru pertama kalinya aku terasa kikuk saat berada di hadapan cewek. Menyebutkan namaku..? kenalan..? tentu saja tidak, aku lebih sibuk mengatur detak jantungku yg lebih cepat dari sebelumnya, mengatur nafasku yang mulai sesak karena melihat senyumannya, dan pastinya mengatur ketegangan sialan di pangkal pahaku saat aku melihat kecantikannya. Aku benar-benar sudah Gila, Gila dan Bodoh karena perempuan ini. Sialan!.

Beberapa hari berlalu aku mendengar gossip di kampus tentang anak baru yang cantik. Apa dia itu gadisku..? peri impianku..? semoga saja tidak, karena sumpah kalau saja yang mereka bicarakan adalah Nessa, aku akan mengurungnya di dalam kamar. Aku tak suka di menjadi bahan pembicaraan bagi semua lelaki hidung belang di kampus.

Dan tentu saja apa yang aku fikirkan benar, sialan!. Pertemuan kedua kami di Kantin. Saat aku selesai main basket dengan Renno dan anak-anak lainnya. Kelihat semua mata memandangnya, yaa aku tau jika bukan hanya aku yang menyadari kecantikannya. Dan lebih sialannya lagi Si Renno, sahabatku itu juga terlihat tertarik dengannya. Brengsek!.

“Lo kenal sama dia?” Tanya Renno saat menyadari bahwa sejak tadi aku memandang gadis itu.

“Nggak”

“Lo Tertarik sama dia.” Si Renno apaan sihh pake Tanya gituan, aku kan nggak mungkin suka sama seseorang sebelum orang itu suka padaku.

“Nggak.” Jawabku lagi.

“Oke,, kalo gitu Gue yang maju, Gue tertarik sama dia.” Dan sejak Renno menyatakan kata-kata sialan itu, untuk pertama kalinya aku menyesali apa yang sudak kukatakan beberapa detik yang lalu. Sialan!.

Beberapa hari berlalu, suasana kampus bagiku mulai tidak enak, Renno selalu menempel pada Nessa, bahkan gossip yang beredar mengatakan bahwa mereka sudah pacaran karena beberapa anak di kampus sempat memergoki mereka jalan bersama, Sialan!. Dan itu membuatku semakin jauh dengannya, mau tidak mau aku harus bersikap sedingin mungkin di hadapannnya karena Renno merasa ada yang tidak beres denganku saat aku bertemu dengan Nessa. Ayolah… aku tidak mungkin berebut seorang Cewek dengan sahabatku sendiri, kali ini aku mengalah karena aku tau Renno adalah type orang yang gampang Bosan, dan tak pernah melewati hubungan jangka panjang, paling lama Renno akan bertahan selama satu bulan, berbeda denganku, aku lebih suka mengencani beberapa wanita sekaligus untuk memblokir perasaan yang akan tumbuh kepada salah satunya. Sedangkan Ramma, dia lebih suka mengencani wanita-wanita tua di atas umur nya. Kadang aku bingung dengannya, dia ingin mencari teman kencan atau ingin mencari ibu..?

Tiba-tiba aku memiliki inisiatif tersendiri untuk menemuinya. Malam itu dimana malam aku tak bisa menahan diri, aku menciumnya secara membabi buta, dan ternyata dia juga bisa membalas ciumanku, Sialan! Siapa lelaki brengsek yang sudah mengajarinya berciuman seperti ini..? di satu sisi aku marah di sisi lain aku senang mendapatkan ciuman yang benar-benar nikmat seperti ini. Kami berciuman hingga kehabisan Nafas. Gila ini benar-benar gila, bukannya berhenti penasaran aku malah dibuat tak karuan dengannya, hingga aku mengucapkan kata-kata sialan itu. Membuatnya Menangis. Sial. Dia menangis karenaku..? dan untuk pertama kalinya juga aku mendapatkan hadiah sebuah tamparan keras dipipi setelah aku mencium seseorang.

Esoknya Renno mengajakku Double Date, dan aku mengajak Maria, pacarku. Aku tak tau jika Renno akan mengajak Nessa. Bodoh, Harusnya aku sudah tau Rencana Renno. Dan aku menjadi seorang bajingan yang tak punya hati ketika aku membiarkan Maria menciumku tepat di sebelah Nessa, dan saat aku memegang tangannya.benar-benar bodoh.

Esoknya aku membuat pertemuan kami dipercepat, aku ingin menjelaskan semuanya kepada Nessa sebelum dia semakin membenciku. Tapi di kampus, aku merasa dia sudah menghindariku, dingin terhadapku, apa dia benar-benar cemburu saat itu…?.

Malamnya Renno mengajakku dan Ramma Ngumpul di Club biasa kita nongkrong, dia bilang kalau dia sudah jadian dengan Nessa, Sialan! Aku tertinggal satu langkah dengannya. Kata Ramma sepertinya Renno benar-benar mencintai Nessa, bagaimana jika yang di ucapkan Ramma benar adanya,,? Apa aku harus mundur demi sahabatku..? tapi aku… aku juga sangat membutuhkan Nessa, baiklah. Aku akan membuat satu keputusan, jika mereka berdua saling mencintai, aku akan mundur untuk kebahagiaan mereka, tapi jika Nessa juga mencintaiku, aku akan memperjuangkannya meskipun itu harus berhadapan dengan sahabatku sendiri.

Dua hari kemudian, kami –Aku, Mami, Papi- bertemu dengannya, tepatnya aku akan melamarnya di hadapan kedua orang tua kami, dia kaget, Tentu saja. Aku melihat wajahnya pucat, tapi tuhan…. Itu tak sedikitpun mengurangi kecantikannya malam itu. Cantik dan Sexy. Dua kata itu cocok untuknya pada malam itu. Dan aku benar-benar ingin melahapnya habis-habisan. Sungguh, aku sama sekali tidak ingin dia memakai-pakaian seperti itu di depan umum, aku hanya ingin dia memakainya untukku. Hanya untukku, apa aku terlihat seperti seorang psycopat..? terserah kalian yang jelas aku tak ingin dia menjadi konsumsi publik.

Tapi Sialan! Sepertinya dia memang sengaja menguji kesabaranku, Pagi ini dia mengenakan Rok dan sepatu Boots sialannya itu. Membuat perhatian para laki-laki hidung belang di kampus ini tertuju padanya. Dan aku melihat Renno pun sama, aku melihat Renno saat melihat Nessa seperti makanan untuknya, Sial!. Dan lagi-lagi aku menyakitinya dengan bertindak kasar dan mengucapkan kata-kata sialan yang menyakiti hatinya. Aku melihat matanya berkaca-kaca, untuk kesekian kalinya aku membuatnya menangis dan aku tak bisa. segera kutinggalkan dia sendiri. Tapi kakiku berhenti melangkah dengan sendirinya, aku ingin minta maaf. Tapi tak bisa.

Diam-diam aku mengikuti Nessa dan Renno kencan, lebih tepatnya makan siang. Sialan! Baru kali ini aku menjadi seorang penguntit. Aku menggunakan Mobil kantor Ramma, kebetulan Si Renno tak tau jika Ramma mempunyai mobil dinas seperti ini, jadi aku lebih leluasa mengikuti mereka. Dan apa yang aku lihat benar-benar menyulut Amarahku. Bisa-bisanya si Renno menciumnya, mencium tunanganku, Calon istriku,, Aku benar-benar akan membunuhnya. Tapi setelah kupikir-pikir, ini tak sepenuhnya salah Renno. Bukankah Renno tak tau hubunganku dengan Nessa, dan bukankah aku sendiri yang ingin hubungan ini di rahasiakan terlebih dahulu,. Sial, Sial, Sial. Aku melakukannya karena aku tau jika nessa hanya cinta sesaat untuk Renno, jika nanti Renno akan ninggalin Nessa jadi aku tak mau ambil Resiko untuk bertengkar dengan Renno saat ini. Tapi.. bagaimana Jika Nessa benar-benar menjadi Cinta Terakhir Renno, bagaimana jika si Brengsek itu serius dengan calon istriku..? Aaarrrgggghh…. Bodoh.. benar-benar Bodoh.. aku akan membuat perhitungan dengan mereka, Untuk Nessa, Lihat saja sayang… aku akan menghukummu karena berani-beraninya kau berciuman dengan lelaki lain selain aku, terlebih lagi jika lelaki itu sahabaku sendiri.

___TBC___

Previous Chapter  –  Next Chapter