Ugly Wife – Bab 3

Comments 2 Standard

 

Bab 3

 

Cumbuan dari Elang begitu kuat, seakan lelaki itu tak ingin melepaskan diri Shafa sedetikpun. Sedangkan Shafa, ia masih meronta sekuat tenaga. Shafa tahu bahwa secara fisik dan kekuatan, ia kalah telak dengan Elang, tapi setidaknya, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya akan memberikan lelaki itu perlawanan ketika Elang memperlakukannya dengan semena-mena.

Ketika keduanya masih bergulat dengan cumbuan mereka, pintu kamar mereka di buka begitu saja dari luar. Gadis yang tadi memeluk Elang berdiri di ambang pintu dan menatap keduanya dengan keterkejutan yang amat sangat.

“Maaf.” ucapnya dengan spontan.

Elang melepaskan cumbuannya pada bibir Shafa. Sedangkan Shafa segera menjauh dan membungkam bibirnya sendiri. suasana canggung menyeruak diantara mereka.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Elang pada gadis tersebut.

“Uum, Maaf, aku ganggu.” Gadis itu menggaruk tengkuknya.

Elang mendengus sebal. Ia lalu menatap ke arah Shafa, perempuan itu masih menundukkan kepalanya, mungkin malu karena baru saja kepergok berciuman dengannya.

“Lain kali, ketuk pintunya dulu.”

“Aku sudah ketuk, tahu. Dan kulihat pintunya nggak dikunci, jadi aku buka aja. Lain kali, kunci pintunya sebelum…”

“Bunga.” Elang memotong kalimat gadis itu. “Katakan, apa yang kamu mau?”

“Aku kan pengen kenal sama kakak iparku, masa nggak boleh.”

Shafa mengangkat wajahnya seketika. Ya Tuhan, bahkan Shafa baru ingat kalimat Elang tadi yang menyebutkan tentang dirinya yang ingin merebut hati adik Elang. Apa gadis ini adalah adik Elang? Kenapa ia sampai tidak tahu?

Jika dipikir-pikir, Shafa memang tak begitu mengenal dekat keluarga Elang. Padahal mereka sudah menikah hampir empat bulan lamanya. Ada beberapa foto keluarga yang tergantung di dinding-dinding rumah Elang. Di sana terlihat kedua orang tua Elang dan juga seorang gadis berkaca mata. Shafa tidak tahu siapa gadis itu, tapi Shafa sempat berpikir mungkin itu adalah Adik Elang.

Shafa tidak pernah menanyakan lebih, pada siapapun. Karena ia tahu, bahkan kehadirannya di rumah itu saja tidak diharapkan, jadi Shafa tidak berniat bertanya pada siapapun. Ia hanya berspekulai sendiri. dan jika di lihat-lihat, gadis di dalam foto tersebut memang sedikit mirip dengan gadis di hadapannya saat ini, hanya berbeda wana rambut serta gaya berpakaiannya saja, serta tampak lebih dewasa.

Elang mendekat pada Bunga dan berkata “Lebih baik kamu keluar.” ucapnya dingin.

“Kak El apaan sih.” Bunga tampak enggan menuruti permintaan Elang.

Pada saat itu, Shafa mendekat, dan berkata “Kita bisa ke kebun samping rumah.”

Hal itu membuat Elang menatap tajam ke arahnya. “Urusan kita belum selesai.” desisnya tajam.

“Setauku, kita tidak memiliki urusan yang lebih penting daripada urusan masing-masing.”

“Sial!” Elang mendesis tajam. Ia tidak percaya bahwa Shafa berani melawannya saat ini, di hadapan Bunga. Sedangkan diantara mereka, Bunga tampak tersenyum melihat reaksi keduanya. Bunga bertepuk tangan seketika hingga membuat Elang dan Shafa menatap ke arahnya.

“Apa yang kamu lakukan?” Elang bertanya dengan nada jengkel.

“Aku senang karena kulihat Kak El punya lawan yang sepadan.”

“Apa?” Elang tidak mengerti apa maksud adiknya tersebut.

Tanpa banyak bicara, Bunga mengapit lengan Shafa kemudian menariknya keluar dari kamar. “Pokoknya, aku mau ada perlu sama Kak Shafa.” Dan sebelum Elang menanggapi ucapan Bunga tersebut, Safa sudah diseret keluar oleh adiknya yang manja itu.

Sial!

***

“Jadi, kakak yang nanem bunga-bunga ini?” bunga bertanya pada Shafa ketika mereka sudah sampai di kebun bunga kecil yang tak jauh dari area kolam renang. Meyirami beberapa tanaman mawar yang sudah tampak bermekaran di sana.

“Iya, aku bawa dari toko bungaku.”

“Wah, keren. Jadi bikin aku betah di rumah.”

Shafa menatap ke arah Bunga. Sejauh ini, hanya Bungalah yang bersikap sangat baik dan ramah padanya. Berbeda dengan perlakuan Elang dan keluarga yang lainnya.

“Kamu, tinggal di mana?”

“Memangnya Kak El nggak ngasih tau ya? Aku kan kuliah di Inggris, Kak. Ini pun aku libur paling nggak sampek satu bulan.” Bunga tampak menggerutu.

Shafa hanya tersenyum menanggapi jawaban manja dari gadis di hadapannya tersebut. Andai saja Bunga tinggal di rumah ini, mungkin mereka bisa menjadi teman yang baik.

“Kak Shafa sendiri gimana? Betah tingga di sini?”

“Aku…”

“Kak El nggak jahat, kan?”

Shafa tersenyum. Jahat sih enggak, tapi bagi Shafa, Elang sudah seperti paket komplit pria biadab yang tak seharusnya bersinggungan dengan dirinya.

“Aku tuh ya, dulu sering dengar cerita tentang Kak Shafa loh.”

Shafa menatap Bunga seketika. “Benarkah?”

“Iya. Sebenarnya, Papa sih yang lebih sering ngingetin sama Kak El, kalo Kak El punya Kak Shafa. Awalnya aku nggak ngerti apa maksudnya, tapi aku tahu sejak Kak El jemput aku pulang sekolah. Dia ngajak mampir ke suatu tempat yang kuyakini adalah toko bunga milik Kak Shafa.”

Mata Shafa membulat seketika ke arah Bunga. “Kalian ke sana? Benarkah?”

“Iya, cuman numpang parkir doang. Nggak tau tuh, sampai sekarang aku nggak tau alasannya kenapa dulu Kak El suka banget parkir mobil di dekat toko Kak Shafa.”

“Suka?” lagi-lagi Shafa tampak tak percaya dengan ucapan Bunga.

“Loh, Kak Shafa memangnya nggak tau ya? Soalnya aku aja sudah beberapa kali nemani dia ke sana saat itu.”

Shafa hanya terpaku mendengar jawaban dari bunga. Pikirannya melayang entah kemana. Benarkah dulu Elang sering melakukan apa yang dikatakan Bunga? Untuk apa?

***

Di lain tempat, Elang mengamati interaksi antara Bunga dan Shafa dari jauh. Ia menatap keduanya dengan tatapan tak suka. Bunga tampak nyaman berada di sekitar Shafa bahkan keduanya tampak akrab satu sama lain. Hal itu membuat Elang tidak suka.

Entahlah, ia memang selalu tidak suka jika melihat Shafa dekat dengan siapapun bahkan dengan keluarganya sendiri. Saat tatapan mata Elang tak lepas dari dua orang wanita muda itu, saat itulah ibunya datang.

Virna menghampiri Elang dan bertnya “Apa yang kamu lakukan di sana?”

“Cuma lihat kolam.” Elang menjawab pendek tanpa mengalihkan pandangannya pada Shafa dan Bunga. Virna mengikuti arah pandang puteranya, dan ia berakhir berdecak.

“Kamu ngapain lihatin adikmu dan istrimu sampai seperti itu?”

“Dia perempuan yang berbahaya, Ma.”

“Maksudmu?”

“Lihat, Bunga dengan mudah terpengaruh padanya.”

“El. Mama mau kasih tau sesuatu sama kamu. Sepertinya, Shafa itu tulus, dia nggak seperti yang kita kira, dia baik, dia pernah nolong mama waktu nggak ada orang di rumah dan Asma mama kumat.”

“Kok mama jadi belain dia? Cuma karena itu? dia sudah mengancurkan masa depanku, Ma.”

“Tapi masa depan dia juga hancur karena semua ini, El. Dia juga terpaksa dengan pernikahan kalian.”

Elang mengepalkan kedua telapak tangannya. “Aku yang paling dirugikan di sini.” desisnya tajam.

“Mama nggak ngebelain dia, tapi dia hampir kehilangan kakinya, dia masih mau menerima kamu, dan bersikap baik sama kita.”

Elang kembali menatap Virna dengan mata tajamnya. “Terserah Mama kalau mau bersikap baik sama dia. Tapi aku, aku nggak akan pernah melakukannya.” Setelahnya, Elang pergi dan Virna hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian putera keras kepalanya tersebut.

Virna kembali menatap ke arah Shafa dan Bunga. Awalnya, ia memang tidak menyukai keberadaan Shafa. Tentu saja, siapa yang mau melihat puteranya terikat dengan perempuan seperti Shafa. Tapi semakin kesini, Virna sadar, ia melihat bagaimana perempuan itu menampilkan ketulusannya. Kekurangan Shafa seakan tertutupi dengan sikap baik yang selalu ditampilkan oleh perempuan itu. Padahal jelas-jelas Virna tahu, bahwa kekurangan yang menimpa Shafa adalah kekurangan yang diberikan oleh puteranya.

***

Makan malam dalam keadaan canggung. Biasanya, Shafa tidak akan ikut makan di meja makan jika Ayah mertuanya tak ada seperti sekarang ini. karena selama ini, hanya Tuan Abrahamlah yang cukup perhatian padanya dan memperlakukannya sebagai seorang menantu. Sayang sekali, pria paruh baya itu memang amat sangat jarang berada di rumah ini karena sibuk dengan pekerjaannya.

Kini, Shafa duduk di meja makan karena permintaan Bunga. Gadis itu tadi bahkan menyeret Shafa dan mengajaknya makan malam bersama.

“Jadi ini juga Kak Shafa yang masak?”

“Tadi cuma ikut bantu sedikit.”

“Wah, keren. Kakak serba bisa. Pantesan Kak El seneng.”

Elang memutar bola matanya ke arah Bunga. Tampak tak suka dengan kalimat terakhir yang keluar dari bibir adiknya tersebut.

Bunga mengabaikan reaksi dari Elang, dan ia memilih membahas masalah lain. “Ngomong-ngomong, besok kita belanja yuk Kak. Kan aku butuh gaun buat datang ke pestanya Bang Nanda. Kak Shafa sudah punya gaunnya?”

“Dia nggak ikut.” Elang menjawab cepat dan dengan nada dingin.

“Dih, apaan sih. Bang Nanda kan sepupu kita, dan salah satu orang terdekat Kak El. Masa dia tunangan, kak Shafa nggak ikut sih..”

Elang mendengsus sebal “Baru sehari kamu di rumah, dan kamu sudah buat pusing. Shafa nggak ikut, dia akan tetap berada di rumah dan tidak akan pergi ke manapun.” Elang berdiri kemudian meninggalkan meja makan.

“Apa-apaan dia? dih, jangan dengarin Kak El. Besok, aku akan ngajak Kak Shafa belanja.” Bunga bersikeras. Ia tidak akan mendengarkan larangan kakaknya. Baginya, tak ada yang bisa melarang Shafa untuk datang ke pesta keluarga mereka.

***

“Apapun yang terjadi, kamu nggak bisa datang ke pesta itu.” Elang berkata dengan lantang karena saat ini dirinya sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Sedangkan Shafa sedang berada di dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

Shafa keluar, wanita itu sudah mengenakan piyamanya, wajahnya sudah segar, sedangkan rambutnya masih dia gelung, menampilkan leher jenjangnya hingga mau tidak mau hal itu menarik perhatian Elang.

Bagaimanapun juga, Elang adalah pria dewasa yang memiliki kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Tak jarang, Elang menegang hanya karena melihat lekuk leher Sang istri, atau hanya karena melihat bibir ranum maupun kulit lembut istrinya tersebut.

Elang menelan ludah dengan susah payah saat melihat leher jenjang Shafa yang tampak menggodanya.

“Maaf, aku datang dengan Bunga. Jadi kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak perlu malu karena aku sebisa mungkin akan menghindar dari kamu agar kamu tidak malu berada di sekitar orang cacat sepertiku.”

“Sial.” Elang mengumpat pelan nyaris tak terdengar. Ia mendekat ke arah Shafa, sedangkan Shafa masih berdiri menatapnya seakan tak gentar dengan tatapan membunuh yang dilemparkan Elang.

“Aku tidak mengizinkan kamu datang.” ucap Elang penuh penekanan.

“Kenapa?”

“Karena kamu tidak pantas berada di sana.” Jawabnya dengan penuh penghinaan.

Shafa merasa sakit karena jawaban tersebut. “Bunga yang mengajakku datang.”

“Aku tidak mau tahu pokoknya kamu tidak boleh ikut.”

Shafa tak bisa lagi menjawab. Ya, apa gunanya juga ikut jika dirinya tidak pernah dianggap di sana. Shafa bisa memberi alasan pada Bunga bahwa ia tidak enak badan. Beres bukan?

Ketika Shafa masih sibuk dengan pikirannya sendiri, dia tidak sadar bahwa sejak tadi Elang sudah mengamatinya dengan mata laparnya. Elang bahkan sudah melangkah mendekat. Jemarinya terulur mengangkat dagu Shafa, membuat Shafa tersadar sepenuhnya dari lamunannya.

“Kamu, jangan terus-terusan menggodaku seperti ini.” Elang mendesis tajam.

“Aku nggak ngerti.”

“Apa kamu diciptakan untuk menggodaku?”

“Apa?”

“Buka bajumu, dan kita selesaikan apa yang tertunda tadi siang.” titahnya penuh keangkuhan. Belum sempat Shafa mencerna apa yang baru saja diucapkan suaminya, Elang sudah lebih dulu menundukkan kepalanya, meraup bibir ranumnya, menggodanya, hingga mau tidak mau Shafa kembali terjerumus pada godaan mematikan dari seorang Elang Abraham.

-TBC-

Advertisements

Affair – (short story)

Comment 1 Standard

 

1

 

Damian bergerak menghujam ke dalam diriku. Bergerak cepat. Sedangkan aku mengerang, mendesah karena kenikmatan yang dia berikan.

God… lagi… lagi.. teruskan.. Ohh…” Aku meracau dan dia semakin menggila.

Damian memang pria panas, dan dia selalu mampu membuatku puas dengan kejantanannya. Tubuhku membungkusnya dengan begitu pas, menghisapnya hingga dia tak berhenti mengumpat ketika menyatu denganku.

Kepalanya menunduk, meraup payudaraku, menggodanya, bermain di sana menggunakan lidahnya. Ya Tuhan! Dia membunuhku. Aku memejamkan mata, tak berhenti mengerang karena ulahnya, kemudian dia bergerak semakin cepat, semakin intens, dan tak lama, dia meledakkan diri di dalam tubuhku.

Napas kami memburu, menyatu dengan keringat dan juga gairah panas kami berdua. Damian menarik tubuhnya, mengecupku singkat kemudian dia bangkit dan menatapku dari tempatnya berdiri.

“Kau selalu terasa nikmat, Sayang.” ucapnya dengan nada menggoda.

Aku tahu bahwa dia akan selalu mengatakan kalimat itu padaku. Ya, aku menghabiskan banyak uang untuk memberinya service yang layak. Kulakukan semua itu untuknya, agar dia selalu terjerat denganku dan tidak main-main di luaran sana.

Well, kalian perlu tahu, bahwa dia, Damian Robinson merupakan pengusaha matang yang terkenal di kota ini –New York. Wajahnya sering kali keluar di majalah-majalah bisnis, bahkan sesekali media memberitakan tentangnya layaknya seorang selebriti. Semua itu tentu karena ketampanannya, aurahnya yang panas dan menggoda, serta hubungan asmaranya denganku yang merupakan salah seorang Aktris populer di negeri ini.

Ya, Aku Maureen Bright. Aktris sekaligus model populer di New York. Karirku berawal sejak aku masih berusia belasan tahun. Aku menjadi salah seorang pemain teater di Broadway.

Lalu semuanya terjadi begitu cepat setelah aku menerima beberapa tawaran iklan. Kemudian, kehadiranku di sebuah pesta amal menuntunku bertemu dengannya. Ya, Damian Robinson, kekasihku. Dan setelah menjadi kekasihnya, namaku semakin melambung.

Aku meninggalkan dunia teater, fokus degan dunia modelingku, dan juga dengan kekasihku, Damian. Dia pria posesif, dia tidak suka jika aku berada jauh dari dirinya, karena itulah aku memilih meninggalkan semuanya demi dia.

Tapi, dua tahun menjalani hidup seperti ini, aku merasa dikekang, aku merasa terkurung dalam sebuah senggkar emas. Aku mencintai Damian, tentu saja, tapi ada satu hal di dalam diriku yang seakan ingin menolak sikapnya yang kelewat posesif.

“Aku tahu kau akan berkata seperti itu.” aku menjawab dengan nada menggoda.

Damian meraih jam tangannya di nakas, melihat jarumnya, lalu ia mendengus sebal. “Sayang sekali, aku tidak bisa melanjutkan yang lebih panas lagi. Pesawatku menunggu.”

Aku menggulingkan tubuhku dengan gerakan menggoda. Terbaring miring dengan posisi yang seksi, kemudian aku bertanya “Kali ini berapa lama?”

Aku tahu, bahwa kepergian Damian kali ini bukan hanya sehari dua hari. Beberapa hari yang lalu aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang di seberang telepon. Sepertinya, dia memiliki sedikit masalah. Keningnya tak berhenti berkerut, dan sesekali dia menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia memiliki masalah, dengan pekerjaannya, aku tahu itu. Lalu setelahnya, dia memberiku banyak hadiah, mengajakku menonton theater beberapa kali, makan malam romantis, dan juga membelikanku barang-barang branded. Well, dia sedang menyogokku, aku tahu itu.

“Mungin satu atau dua bulan.”

“Dan selama itu, apa yang akan kulakukan? Apa aku harus terkurung di penthousemu ini?” tanyaku yang lebih cocok kusebut dengan sebuah sindiran.

Selama ini, jika Damian pergi karena urusan pekerjaan, dia akan menahanku di dalam penthousenya. Dia pernah berkataa, bahwa aku selalu menjadi wanita yang diinginkan oleh kebanyakan pria di New York. Karena itulah dia tak ingin mengambil resiko aku dilirik oleh pria lain. Tapi bagiku, mengurungku di dalam sini selama dia tidak ada sepertinya sangat keterlaluan.

“Sayang, kita sudah pernah membahasnya, bukan?”

“Tapi mengurungku di sini selama satu atau dua bulan terakhir benar-benar tidak masuk akal. Kau boleh pergi, tapi biarkan aku bersenang-senang sebentar.”

“Mou. Kau ingin melawanku?”

“Tidak, aku hanya menuntut sedkit keadilan.” Jawabku tegas sembari bangkit dan mulai memunguti pakaianku.

Tampak Damian menghela napas panjang. “Baiklah, kau boleh keluar, hanya rabu malam.”

“Apa? Kenapa harus rabu malam? Kenapa bukan sabtu atau minggu malam dan sejenisnya?”

“Sabtu atau minggu malam adalah tempat para buaya berkeliaran. Jadi tolong, hormati keinginanku.”

Aku mendesah panjang. “Baiklah, setidaknya aku bisa jalan-jalan sebentar tanpa pengawalanmu.”

“Mou, kau akan tetap pergi bersama dengan Hilton.” Hilton adalah pria sialan yang mengabdikan diri pada Damian. Dia pengawal pribadiku yang selalu setia mengawalku

“Ayolah…” aku merengek.

“Tidak ada bantahan lagi.”

Ya Tuhan! Aku merasa tercekik. “Terserah kau saja.” Pungkasku dengan wajah yang sudah kutekuk sembari bersiap pergi meninggalkannya. Tapi baru berapa langkah, Damian sudahmenarik tubuhku, hingga punggungku menempel pada tubuhnya.

“Aku tahu ini sulit untukmu. Tapi ketahuilah, aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

Aku tersenyum mendegar pernyataan cintanya. Dasar murahan, hanya dengan ucapan itu saja kau sudah luluh?

“Baiklah, jika kau belum juga menerima tawaranku, aku akan melonggarkannya lagi. Hilton akan tetaap ikut, dia akan menunggumu di dalam mobil.”

Jiwaku berteriak kegirangan. Dengan spontan kubalikkan tubuhku, kemudian kukalungkan lenganku pada lehernya. “Benarkah? Jika benar maka kau adalah orang yang paling murah hati yang pernah kutemui.”

Damian tersenyum, dia mencubit hidungku. “Jangan menggodaku lagi. Aku sudah hampir telat.”

Well, kau yang memelukku lebih dulu.”

“Karena kau merajuk.” Jawabnya cepat. Aku tertawa lebar, lalu Damian melepaskan pelukannya. “Jangan lupa, besok jadwalmu bertemu dengan Dokter Anna.”

Oh ya, Damian bahkan selalu ingat kapaan aku harus memasang kontrasepsiku.

“Ya, aku tak aakan lupa.” Jawabku dengan sungguh-sungguh.

“Aku akan sangat merindukanmu, Mou.”

Aku tersenyum. “Aku juga, aku pasti akan sangat merindukanmu…” bisikku dengan suara serak. Damian menundukkan kepalanya, lalu dalam sekejap mata, bibir kami sudah saling bertemu, saling mencumbu mesra….

-TBC-

CErita ini sudah tersedia di Google Playbook dg harga 10rbu…. 🙂

Ugly Wife – Bab 2

Comments 3 Standard

Yeaaayyy aku seneng bgt dehhh karena ada yang nunggu cerita ini. hohoho, so, selamat membaca… muwaaahhhhhhh

 

Bab 2

 

Sore itu, Shafa merasa tubuhnya sangat lelah. Mungkin karena sepanjang hari ramai pengunjung toko bunga miliknya. Shafa duduk di sebuah kursi, dekat dengan salah satu pot besar tanaman palm. Sesekali ia memijit kakinya sendiri, dan hal itu tak luput dari perhatian Leo.

Leo datang menghampiri Shafa, dan bertanya “Ada yang sakit, Mbak?” tanyanya dengan sopan.

Shafa tersenyum dan menggeleng. Padahal, Shafa sudah berkata pada Leo bahwa lelaki itu hanya perlu memanggil nama saja tanpa perlu embel-embel yang lainnnya. Tapi lelaki ini sangat baik hingga ia menolaknya dengan alasan bahwa Shafa adalah bossnya.

“Aku baik-baik saja. Kamu belum pulang?” tanyanya. Padahal, Shafa melihat pegawainya yang lain sudah pulang. Tinggallah ia hanya berdua dengan Leo di tempat tersebut. Dan mungkin beberapa orang yang ada di bagian pembuatan pot.

Toko bunga milik Shafa memang bukan toko bunga biasa. Tempatnya besar, dan sangat luas. Terdapat sebuah rumah kaca kecil di sana, kemudian ada juga sebuah bangunan bersih yang menghadap ke jalan raya. Disana, Shafa biasanya menyambut para pelanggannya dengan berbagai bunga yang kebanyakan sudah dirangkai. Di belakang bangunan itu ada beberapa bangunan lagi, seperti bangunan untuk membuat pot-pot, beberapa kebun kecil, dan yang lainnya.

Shafa dan keluarganya memanglah bukan dari kalangan orang tak punya, mereka hanya hidup sederhana dengan apa yang mereka sukai. Ayah dan ibu Shafa lebih suka berkebun, karena itulah mereka menghabiskan waktu mereka di toko bunga ini. Bahkan, Ayah Shafa sengaja menjual rumahnya untuk memperlebar area toko bunga dan tanaman miliknya ini.

Letak toko bunganya memang bukan ditengah-tengah kota, tapi untuk pelangan, tak perlu diragukan lagi. Toko bunga keluarga Shafa memang sudah memiliki banyak pelangggan sejak dulu. Dan kebanyakan mereka adalah pelanggan setia.

“Belum. Beberapa tanaman palm akan datang sore ini, dan mungkin sedikit telat.”

Shafa mengangguk. Sudah hampir satu bulan Leo bekerja dengannya, dan selama itu, Shafa benar-benar merasa terbantu. Ia memang kekurangan tenaga kerja, apalagi dibagian belakang, untuk mengurus tanaman dan yang lainnya. Dan beruntung ia mendapatkan pegawai seperti Leo.

Seseorang datang saat Shafa dan Leo sedang bercakap-cakap. Seseorang dengan tatapan mata tajamnya. Siapa lagi jika bukan Elang.

Shafa berdiri seketika, ia bahkan megabaikan nyeri di kakinya yang sejak tadi ia rasakan. Baginya saat ini yang terpenting adalah, Elang tidak mengetahui bahwa Leo sedang bekerja dengannya. Shafa tak munafik, Elang memiliki segalanya, lelaki itu bisa melakukan apa saja keinginannya, dan Shafa takut, bahwa salah satunya adalah menyingkirkan Leo dari hadapannya.

“Kenapa dia masih di sini?” tak ada basa-basi, Elang bertanya langsung pada intinya.

Dengan spontan, Shafa menarik Leo ke belakang tubuhnya, hingga ia menghadap suaminya secara langsung. Ada ketakutan dalam diri Shafa, tapi ia tak akan pernah menunjukkan hal itu pada suaminya.

“Dia bekerja denganku.”

“Ohh, bagus sekali. Jadi setelah dipecat dari rumah, kamu memperkerjakan dia?”

“Dia orang baik dan rajin, aku membutuhkan tenaganya.”

Tampak, rahang elang mengetat, tatapannya menajam membuat siapa saja bergidik ngeri ketik melihatnya. Elang amat sangat tidak suka dengan kalimat yang terlontar dari bibir istrinya. Shafa membela lelaki lain di hadapannya dan itu membuat Elang murka.

Tanpa banyak bicara, Elang meraih pergelangan tangan Shafa, menyeretnya keluar dari tempat tersebut dengan kasar.

Leo yang berada di sana tak bisa melihat Shafa diperlakukan seperti itu. ia segera menyusul Shafa dan Elang, kemudian meraih tangan Shafa yang lainnya, membuat Elang menghentikan langkahnya, menatap cekalan tangan Leo lalu menatap lelaki itu dengan mata marahnya.

“Berani kamu menyentuhnya?” desisnya tajam.

“Anda sudah bersikap sangat kasar, Tuan.”

Tanpa banyak bicara, Elang segera melepaskan cekalannya pada tangan Shafa kemudian mendaratkan pukulan kerasnya pada Leo hingga lelaki itu tersungkur ke tanah.

“Elang!” Shafa berteriak histeris ketika melihat kejadian tersebut.

Beberapa pegawai Shafa yang masih di gudang belakang akhirnya keluar. Melihat kejadian tersebut membuat mereka maju, tapi dengan spontan Shafa menghadangnya karena tak ingin mereka berakhir memukuli suaminya.

“Bu, ada apa?” tanya salah satunya.

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia akan membuka suaranya, tapi Elang seakan tidak mengizinkan hal itu terjadi. Secepat kilat dia kembali menyeret Shafa, menuju ke arah mobilnya, memaksa Shafa masuk dan dirinya juga ikut masuk sembari meninggalkan tatapan mata membunuhnya ke arah para pegawai Shafa.

Tanpa banyak bicara, Elang menginjak pedal gasnya, mobilnya melaju cepat meninggalkan area toko bunga milik Shafa.

***

“Bedebah!” Shafa tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Elang tidak berhenti mengumpat kasar di dalam mobilnya. Padahal seharusnya, disini dialah yang marah. Elang dengan seenaknya menyeret Shafa, memukuli Leo yang jelas-jelas tidak memiliki kesalahan apapun.

Meski begitu, Shafa hanya diam. Ia tidak tahu apa yang sedang ingin dilakukan Elang. Mungkin lelaki itu memiliki masalah di kantornya dan berakhir dengan melampiaskan kemarahan padanya. Ya, bukankah selama ini memang seperti itu?

Tanpa diduga, tiba-tiba saja Elang menghentikan mobilnya, membuat Shafa terkejut dengan apa yang telah dilakukan suaminya itu.

“Katakan padaku. Apa yang sudah kamu lakukan sama dia?” desisnya tajam.

“Aku masih tidak mengerti arah dari pembicaraanmu?”

“Oh, apa kurang jelas? Sudah berapa jauh hubungan kalian? Ciuman? Bercinta?”

“Jangan samakan aku dengan kamu. Meski pernikahan kita hanya sebuah ikatan tanpa perasaan apapun, tapi aku tetap menjaga kesetiaanku dengan orang yang menjadi suamiku.”

“Setia katamu? Begitukah bentuk kesetiaanmu pada suamimu? Berduaan dengan pria yang jelas-jelas sudah dipecat dan di usir dari rumah suamimu?”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengamu. Kenapa kamu jadi mengurus hal sepele ini?”

“Brengsek!” Elang mengumpat kasar. Ia marah karena sadar bahwa apa yang dipertanyakan Shafa memang benar. Kenapa dia jadi peduli dengan wanita cacat ini? “Cepat atau lambat, aku akan membuat toko bungamu ditutup.”

“Elang…”

“Aku nggak butuh rengekanmu.” Setelahnya, Elang kembali menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya kembali. Sedangkan Shafa, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Elang memiliki segalanya, Shafa tahu bahwa ketika Elang menginginkan sesuatu, maka pria itu dapat dengan mudah mendapatkannya, termasuk membuat toko bunganya tutup selamanya.

***

Sampai di rumah, Elang masih menekuk wajahnya. Ia keluar dari dalam mobilnya dan berjalan begitu saja meninggalkan Shafa. Shafa hanya menatap kepergian suaminya itu penuh tanya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan lelaki itu?

Shafa mengabaikan pertanyaannya, ia keluar dari dalam mobil, dan menyusul Elang masuk ke dalam rumah, tapi baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya saat mendapati seorang gadis muda menghambur memeluk suaminya.

Shafa hanya ternganga melihat pemandangan itu. memang, bukan sekali ini saja ia melihat kedekatan Elang dengan wanita lain. Sudah beberapa kali. Bahkan suaminya itu mengenalkan dirinya dengan kekasihnya sejak hari pertama mereka menikah. Keterlaluan bukan?

Belum lagi kenyataan bahwa setiap kali pesta, Elang selalu pergi sendiri, berkata padanya dengan kalimat menyakitkan, bahwa ia tidak mungkin membawa Shafa ikut serta pesta bersamanya dengan keadaannya yang memiliki kekurangan.

Shafa juga cukup tahu diri, ia juga tidak ingin bergaul dengan teman-teman maupun keluarga Elang yang lain. Ibaratnya, mereka memiliki dunia yang berbeda. Shafa hanya tidak ingin berakhir di hina oleh salah satunya.

Selama ini, Shafa merasa baik-baik saja dengan hal itu, hubungannya dengan Elang yang seakan memiliki dinding pembatas. Elang enggan menariknya lebih jauh ke dunia lelaki itu, dan Shafa juga enggan masuk ke dalamnya. Semuanya baik-baik saja ketika mereka hanya melakukan kewajiban masing-masing tanpa ikut campur urusan pribadi masing-masig. Tapi kini, kenapa Elang mencampuri urusan pribadinya? Shafa hanya merasa bahwa semua itu tak adil untuknya.

Mengabaikan hal itu, Shafa kembali melangkahkan kakinya, menuju ke dalam rumah. Mau tidak mau ia melewati Elang dengan gadis muda yang masih setia memeluk suaminya tersebut.

Saat melihat kedatangan Shafa, gadis itu lantas segera melepaskan pelukannya pada Elang. Menatap Shafa dengan tatapan menilai. Mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki Shafa.

Biasanya, jika yang melakukan itu adalah orang-orang terdekat Elang, seperti keluarga atau teman lelaki itu, Shafa harus mempersiapkan diri dengan ucapan sinis yang akan keluar dari bibir orang tersebut. Seperti, bahwa Shafa harus bersyukur karena sudah memiliki suami sempurna seperti Elang, yang dalam arti lain adalah bahwa Elang cukup sial karena sudah menikahinya. Biasanya juga, Shafa hanya tersenyum dan mengabaikannya. Toh, yang membuatnya cacat seperti ini adalah Elang, bukan? Jadi seharusnya, mereka berdua sama-sama impas, kan?

Shafa mencoba mengabaikan tatapan mata itu. Ia memilih tersenyum, mengangguk dan terus berjalan masuk ke dalam rumah. Saat ini, Shafa berada pada titik tak ingin mendengar komentar ataupun penghinaan untuk dirinya.

“Dia, Istri Kakak?” disisi lain, gadis itu bertanya pada Elang.

“Lupakan saja.” Elang menjawab enggan.

“Kok gitu. Kak El lagi marahan, ya?”

Elang memutar bola matanya jengah. “Jadi kamu pulang hanya untuk mengurus masalah kakak?” tanyanya dengan nada jengkel.

Gadis itu malah tertawa lebar. “Ternyata Kak El masih kayak dulu ya. Suka marah-marah. Awas cepat tua loh… Nanti kalau tua ditinggalin sama istrinya.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, gadis itu berlari masuk ke dalam rumah. Sedangkan Elang hanya bisa menyerukan nama gadis itu dengan nada kesal.

***

Setelah membersihkan diri, Shafa mengganti pakaiannya, lalu duduk di pinggiran ranjang. Sesekali ia memijit kakinya yang kembali terasa nyeri. Mungkin ia memang sedikit kelelahan, mungkin juga karena Elang yang tadi menyeretnya dengan kasar. Shafa tidak tahu, ia hanya merasa pegal hari ini.

Mencoba mengabaikan rasa pegalnya, Shafa bangkit, ia akan keluar dari dalam kamarnya dan menyambangi tanamannya yang ia tanam di kebun kecil tepat di samping rumah Elang. Memang, saat di rumah, hanya dengan tanaman-tanaman itulah Safa merasa lebih baik.

Dulu, saat pertama kali pindah ke rumah Elang dengan status seorang istri dan menantu di rumah ini, Shafa merasa tidak kerasan. Pertama, tentu karena perlakuan kurang bersahabat yang ia dapatkan dari keluarga Elang dan Elang sendiri, sisanya, karena Shafa tidak terbiasa jauh dari tanaman-tanamannya.

Karena itulah, saat Shafa melihat kebun kecil yang tak terawat di samping rumah Elang, di dekat area kola renang, Shafa berinisiatif membawa tanaman-tanaman bunga kesukaannya satu persatu ke sana.

Kini, kebun kecil itu menjadi tempat paling favorite di rumah ini untuk Shafa. Ya, hanya di kebun kecil itu Shafa bisa merasakan kebahagiaan di rumah ini.

Ketika Shafa membuka pintu kamarnya, pada saat bersamaan Elang masuk, hingga dengan spontan wajah Shafa membentur dada bidang suaminya tersebut.

Postur tinggi Elang mau tidak mau membuat Shafa mendongkakkan wajahnya, mendapati wajah Elang sedang menunduk menatapnya dengan begitu dekat. Secara sponta, Shafa kembali menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang tiba-tiba saja menyembul keluar tanpa tahu malu hanya karena tatapan mata dari Elang.

“Mau kemana?” Elang bertanya dengan nada dingin. Seperti biasa.

“Melihat tanamanku.”

“Berpikir untuk mencuri hati adikku?”

Shafa mengangkat wajahnya seketika menatap Elang penuh tanya. “Aku tidak mengerti apa maksud kamu.”

“Lagi-lagi kamu berpura-pura polos. Kamu pikir aku lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan pada Ibuku?”

“Aku nggak ngerti.”

Elang melangkah mendekat, sedangkan Shafa dengan spontan ia mundur.

“Sikapmu yang sok baik, sok polos, sok ramah, seperti malaikat itu membuatku muak.” Elang mendekat lagi, sedangkan Shafa masih mundur karena terintimidasi dengan ulah suaminya.

“Aku selalu bersikap seperti itu pada siapapun, dan itu bukan suatu kepura-puraan.”

Elang tersenyum menyeringai. “Itu senjatamu untuk membuat banyak orang tertarik. Tapi tidak denganku.”

“Aku tidak bermaksud membuat orang tertarik denganku.”

“Kalau begitu berhenti bersikap sok polos dan sok ramah.”

“Kamu tidak bisa melarang orang bersikap baik. Sikapku sudah seperti ini sejak dulu, jadi bukan kapasitasmu untuk merubahku.”

Tampak sebuah kemarahan di mata Elang. Shafa tidak tahu kenapa Elang tampak sangat marah padanya. Apa ia salah? Shafa tidak merasa bersalah sama sekali, karena itulah Shafa mencoba memasang wajah tak gentar di hadapan suaminya tersebut.

Lalu, tanpa diduga, dengan gerakan secepat kilat, Elang sudah menangkup kedua pipi Shafa, mengangkat ke arahnya, kemudian menyambar bibir ranum Shafa yang entah kenapa sejak tadi sudah menggodanya.

Shafa terkejut, matanya membulat seketika, meski begitu ia belum sempat menghindar dari Elang. Ketika Elang mencumbu habis bibirnya, yang bisa Shafa lakukan hanya meronta.

Bukannya Shafa menolak, tidak. Meski ia belum memiliki perasaan apapun dengan Elang, tapi sebisa mungkin Shafa memposisikan dirinya sebagai istri lelaki itu. Shafa selalu memenuhi kebutuhan biologis suaminya, tidak pernah menolaknya, meski mereka melakukan hal tersebut tanpa cinta. Tapi saat ini, Shafa hanya ingin bahwa Elang melakukannya dengan baik, bukan dengan kasar seperti ini. Hal itu membuat Shafa tidak suka.

Sekuat tenaga Shafa meronta, mendorong-dorong tubuh suaminya yang lebih tinggi dan lebih besar dari tubuhnya. Hingga kemudian tautan bibir mereka terlepas. Napas keduanya memburu. Shafa mengusap bibirnya bekas dari cumbuan panas Elang, sedangkan Elang, ia menatap Shafa masih dengan tatapan marahnya.

“Kamu menatapku seolah-olah apa yang kulakukan adalah hal yang menjijikkan.” desis Elang dengan marah.

“Kamu melakukannya dengan kasar dan tanpa permisi.”

“Oh, apa kamu cukup pantas kuperlakukan dengan sopan?”

Shafa kesal dengan pertanyaan tersebut. Tak ada gunanya lagi ia beradu argumen dengan Elang. Sembari bersiap pergi, Shafa berkata “Sepertinya, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”

Baru beberapa langkah ia melewati Elang, dan lelaki itu segera menyambar pergelangan tangannya, menariknya, kemudian berkata “Kita belum selesai, aku sedang menginginkan hakku.” Setelah ucapannya yang penuh penekanan tersebut, Elang kembali mencumbu paksa bibir Shafa, melumatnya dengan panas, mencecap rasanya dengan penuh paksaan. Rasa marah dan gairah sedang bercampur aduk menjadi satu di dalam diri Elang, dan ketika hal itu terjadi, maka tak ada penolakan yang bisa diterima oleh lelaki itu.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Epilog

Comments 2 Standard

 

Epilog

 

 

 

Ellie sedang sibuk menggendong puteranya, Cedric Devian Robberth, ketika sebuah rombongan yang terdiri dari Jason, Bianca, Ken dan juga Troy datang mengunjungi dirinya ke dalam ruang inapnya di sebuah rumah sakit.

Ya, ia baru saja melahirkan Cedric tadi malam, dan pagi ini teman-teman suaminya datang menjenguknya.

“Hai… ya ampun, lucu sekali.” Bianca menghambur ke arahnya. Wanita itu tapak berharap diperbolehkan menggendong bayi mungil yang ada atas pangkuan Ellie.

“Kamu mau menggendongnya?” tawar Ellie.

“Ya. Tentu saja.” Dan akhirnya Ellie memberikan puteranya untuk digendong oleh Bianca.

Bianca dan Jason sendiri sudah menikah beberapa minggu yang lalu, pernikahannya sangat meriah, dan Ellie cukup senang karena di sana mereka juga disuguhi oleh penampilan The Batman. Kini, kehamilan Bianca sudah semakin terlihat, dan Ellie juga senang karena pertemanan Jiro dengan Jason membuat Ellie dan Bianca ikut berteman baik dan semakin dekat seperti saat ini.

“Jiro mana?” tanya Jason kemudian.

“Kenapa nyari gue?” suara itu berasal dari kamar mandi yang baru saja dibuka. Jiro tampak segar karena baru saja selesai mandi. Sangat tidak adil, padahal kini, Ellie merasa tampak berantakan karena belum bisa beranjak dari tempat tidurnya.

Jiro menuju ke arah sofa panjanng yang tersedia di ujung ruangan. Jason, Ken dan Troy mengikuti lelaki tersebut sesekali saling menggoda satu sama lain.

“Sialan, elo sudah jadi bapak-bapak ya sekarang.” Goda Troy.

“Brengsek! Elo kapan nyusul?” Jiro balik menggoda.

“Gue? Yang bener aja. Tuh, si Jase yang bentar lagi nyusul. Lagian gue masih suka main-main.” Ucap Troy penuh canda.

Semua yang ada di sana tertawa, tapi Jiro sempat melihat bahwa tawa Ken tak sama seperti tawa mereka semua, seakan temannya itu tertawa karena sebuah keterpaksaan.

“Ken, elo sendiri gimana?” tanya Jiro kemudian.

“Gue? Kenapa sama gue?”

“Katanya elo mau keliling dunia dulu, ngabisin tabungan sebelum mulai solo karir?”

Ken mengangguk. “Ya, minggu depan gue berangkat.”

“Sendiri?” pancing Jiro.

“Iya lah, memangnya sama siapa lagi?” Ken mencoba tertawa tapi tawanya tampak hambar.

Jiro kemudian mendekat ke arah Ken. Ia lalu berbisik “Gue nggak sengaja ketemu Kesha kemarin, keadaannya menyedihkan.”

Ken tampak sedikit menegang. Kemudian lelaki itu mencoba mengendalikan dirinya dan membalas ucapan Jiro dengan sedikit tertawa. “Elo apaan sih, gue kan sudah putus sama dia, mau dia ngapain juga terserah.”

Jiro menghela napas panjang, kemudian ia menepuk bahu Ken. “gue hanya berharap, elo mendapatkan kebahagiaan elo, seperti gue, seperti Jase. Elo akan menemukan perempuan yang tepat, Ken.”

Ken hanya mengangguk dengan pasti.

“Elo nggak berharap gue bahagia gitu, kayak kalian?” tanya Troy kemudian.

Jiro tertawa lebar. “Kayaknya elo selalu bahagia, jadi gue nggak perlu berharap lebih tentang kehidupan elo.”

“Brengsek lo!” setelah umpatan Troy tersebut, semua yang ada di sana tertawa penuh dengan kebahagiaan.

Jiro bahagia dengan kehidupan barunya bersama dengan Ellie dan juga putera pertama mereka, Cedric. Jason bahagia dengan Bianca karena mereka juga sedang menantikan buah hati pertama mereka. Troy juga bahagia, karena melihat semua temannya berbahagia membuat Troy ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Begitupun dengan Ken, bedanya, meski Ken juga bahagia karena kebahagian yang didapatkan oleh teman-temannya, dalam hatinya yang paling dalam, Ken masih tak dapat mengobati luka patah hatinya.

Ya, siapa lagi dalangnya jika bukan Kesha.

Ketika Ken melihat ke arah Ellie dan juga Bianca, Ken mendapati bayangan Kesha di sana. Seharusnya, Kesha berada di antara mereka, bahagia bersamanya. Tapi, semuanya hancur dalam sekejap mata, menyisakan sebuah kesakitan yang amat sangat, menyisakan sebuah dendam yang tak akan pernah reda dahaganya, dan semua itu karena pengkhianatan kekasihnya, Kesha Kirana.

Ya Tuhan! Ken ingin melupakan wanita itu. Ken ingin merasakan kebahagiaan yang sempurna seperti yang dirasakan oleh Jiro dan juga Jason. Tapi bisakah ia merasakannya?

***

Ellie dan Jiro beruntung karena malam ini Cedric tidak rewel. Padahal seharusnya Cedric dikembalika ke ruang bayi tadi sore, tapi Ellie memohon pada suster agar Cedric tidur di kamar inapnya saja  malam ini, mengingat sepanjang sore tadi masih banyak tamu berdatangan untuk menjenguknya dan melihat bagaimana tampannya Cedric.

Mei bahkan berkata bahwa Cedric adalah perpaduan sempurna dari Jiro dan Ellie. Bayi itu, jika dewasa nanti pasti akan sangat tampan. Mei bahkan berseloroh bahwa dia akan menunggu Cedric hingga dewasa dan menikahinya sendiri. Ya Tuhan, perempuan itu ada-ada saja.

Tapi apa yang dikatakan Mei memang benar adanya, putera mereka memang sangat tampan, hingga Ellie seakan tak ingin mengalihkan pandangannya satu detikpun dari wajah putera kecilnya tersebut.

“Hemm, jadi, aku mulai diduakan, ya?”

Ellie kemudian menatapke arah Jiro. “Maksudnya?” Ellie tak mengerti apa yang dikatakan Jiro padanya.

“Dia.” Jiro mengusap lembut pipi Cedric. “Mulai mencuri hatimu, kan?”

Ellie lalu tertawa lebar. “Ya ampun, James. Jadi kamu cemburu pada puteramu sendiri?”

“Ya. Karena dia sudah merebut hati wanita yang kucintai.”

“Astaga…” Ellie tergelak tawanya. Dan akhirnya, Jiro juga ikut tertawa.

Cukup lama keduanya saling tertawa, hingga kemudian suasana kembali hening. Jiro menatap Ellie dengan intens. Wanita itu tampak lebih cantik dari sebelumnya, tampak bercahaya dan semakin memukaunya. Hingga kemudian, dengan spontan Jiro berkata “Ellie, terimakasih sudah memberiku semua ini. Aku mencintaimu.”

Ellie yang sejak tadi fokus dengan Cedric akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Jiro seketika. “Kupikir, aku tidak akan pernah mendengar kalimat itu lagi.”

Ya, sejak malam dimana Jiro menyatakan perasaannya, Ellie memang tak lagi mendengar kalimat seperti itu terucap dari bibir Jiro. Ellie tidak akan memaksa ataupun menuntut lebih, karena sebelumnya Jiro juga mengatakan bahwa ia hanya akan mengatakannya sekali. Tapi kini, lelaki itu mengatakannya lagi.

“Kamu akan mendengarnya, sesering mungkin.”

“Ohh, jadi suamiku sudah berubah, ya?” goda Ellie.

“Tidak. Aku hanya semakin mencintaimu lagi dan lagi, hingga rasa ini penuh dan membuncah, dan aku tak dapat menahan diri untuk mengungkapkannya.”

“Ya ampun, manis sekali.”

Jiro lalu tersenyum. “Jadi, apa yang kamu rasakan padaku?”

“Apa?” Ellie bersikap seolah-olah tak mengerti apa yang ditanyakan Jiro, padahal ia tahu pasti apa maksud lelaki itu.

“Perasaanmu.” Jiro mendesak. Ia ingin Ellie mengatakannya lagi, mengakui perasaannya sekali lagi, karena Jiro rindu sensasi yang terjadi akibat ungkapan cinta yang dilontarkan Ellie kepadanya.

Ellie tersenyum lembut, kemudian ia berkata “Aku mencintaimu, James, sampai kapanpun, aku akan mencintaimu.” Dan benar saja, sensasi yang dirasakan Jiro masih seluar biasa dulu, saat pertama kali Ellie menyatakan perasaan wanita itu padanya beberapa bulan yang lalu.

Jiro mendekatkan diri kemudian  mengecup lembut puncak kepala Ellie. “Terimakasih, Sayang.” Keduanya kemudian larut dalam sebuah keharuan, dalam sebuah kebahagiaan, dan juga dalam sebuah cinta yang abadi dan tak akan pernah mati….

 

 

-The End-

My Beautiful Mistress – Bab 20

Comments 2 Standard

 

Bab 20

 

 

 

Buuugghhh…

Jiro jatuh tersungkur setelah ayahnya, Mr. Robberth, mendaratkan pukulannya pada Jiro. Jiro tahu bahwa hal ini akan terjadi. Orang tuanya akan murka saat tahu bahwa ia sudah memperlakukan Ellie dengan begitu tak adil. Dan hal ini, benar-benar terjadi.

Selama ini, Jiro hampir tak pernah mengajak Ellie berkunjung ke rumah orang tuanya dengan alasan sibuk. Lagi pula kedua orang tuanya juga jarang berada di negeri ini. mereka lebih sering ke luar negeri mengurus bisnis dan lain sebagainya. Maka Jiro cukup tenang ketika ada beberapa gosip buruk dan keluarganya tak ada yang mengetahui tentang gosip-gosip tersebut. Tapi kini, semuanya terbuka, dan kemurkaan ayahnya menjadi tanggungannya.

Jiro mencoba bangkit, tapi kemudian ayahnya menghampirinya, mencengkeram kerah kaus yang ia kenakan.

“Aku menjodohkan kamu dengannya bukan dengan tujuan agar kamu bisa menyakiti hatinya!” seru Sang Ayah. “Dia adalah puteri dari sahabatku, dia sudah kuanggap sebagai puteri kandungku sendiri. bagaimana mungkin kamu memperlakukan dia sekejam itu?!”

Tadi, Jiro memang sempat bercerita kepada kedua orang tuanya tentang apa yang sedang terjadi. Dan mungkin sebelumnya Ellie juga sudah bercerita tentang masalah mereka hingga kini ayahnya menjadi murka terhadap Jiro. Meski begitu, Ellie tidak salah, selama ini memang dirinyalah yang salah, jadi ia memang pantas mendapatkan semua ini.

“Aku… aku hanya…”

“Kamu tidak suka menikah dengannya? jika karena alasan itu, maka aku bisa menceraikan dan memutuskan hubungan kalian berdua.”

“Tidak!” Jiro berkata dengan cepat. “Jangan. Sampai kapanpun aku tidak ingin menceraikan Ellie.”

“Lalu kenapa kamu melakukan ini? Ya Tuhan! Jika ayahnya tahu, mau ditaruh dimana muka ayahmu ini?!”

“Maaf.” Jiro melirih. Ia memang salah, satu-satunya cara untuk menebus semuanya adalah dengan memperbaiki hubungannya dengan Ellie, memperlakukan wanita itu sebaik mungkin sesuai dengan hak-haknya. Tapi, apakah ia masih berkesempatan untuk melakukan hal tersebut?

Mr. Robberth melepaskan cekalannya pada kerah kaus Jiro, kemudian ia bangkit dan memunggungi Jiro. “Kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Seharusnya kata itu kamu ucapkan pada Ellie.”

“Ayah…”

“Semoga saja dia masih mau memaafkanmu.” Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Jiro.

Jiro hanya tertunduk lesu. Ya, ia tidak tahu apa Ellie masih mau memaafkannya, atau minimal mendengarkan penjelasannya. Jiro tidak tahu bagaimana jadinya jika nanti tak ada lagi kesempatan untuk dirinya.

***

Ellie mendengar ketukan pintu ketika ia sedang asyik mengamati album foto masa kecil Jiro. Ia tidak tahu siapa yang datang, apa itu Mei atau Ibu Jiro, karena sepanjang sore, Ellie menghabiskan waktunya di dalam kamar Jiro.

Banyak sekali barang-barang berharga milik lelaki itu, foto-foto masa mudanya, dan lain sebagainya. Hingga detik ini, Ellie tidak mendapati sesuatu apapun yang special tentang seorang perempuan. Bahkan foto-foto Jiro di masa mudanya kebanyakan foto dengan teman laki-lakinya atau paling tidak sendiri. tak ada suatu yang patut dicemburui. Apa memang seperti itu karakter suaminya? Sulit dekat dengan lawan jenis?

Ellie menutup album tersebut dan beralan menuju ke arah pintu. Ellie sangat berharap bahwa yang datang adalah Jiro. Tapi sepertinya tidak mungkin, Jiro tak akan tahu bahwa ia sedang kabur ke rumah orang tua lelaki tersebut.

Jadi tadi siang, setelah melihat gosip yang beredar, Mei dan Ellie segera mencari tahu darimanakah asal mula foto tersebut. Rupanya foto itu berasal dari salah satu akun fansbase Vanesha yang hobby menjodohkan Vanesha dengan Jiro. Ditambah lagi caption yang dibuat seolah-olah keduanya memang sedang  memadu kasih bersama di sebuah hotel.

Sungguh, Ellie merasa panas dibuatnya. Tapi kemudian ia mencoba berpikir lebih positif lagi dari sebelumnya. Bukan hanya sekali ini Jiro terlibat skandal, bukan kali ini saja Jiro digosipkan yang tidak-tidak dengan seorang wanita. Sering kali Jiro digosipkan seperti itu. Tapi mungkin kali ini yang paling parah hingga memunculkan foto syur keduanya. Yang dengan mudah dikenali Ellie sebagai foto editan.

Bagaimana Ellie tahu jika itu adalah foto-foto editan? Ada sebuah foto yang tampak menunjukkan tubuh telanjang bagian atas si lelaki, dan Ellie tak mendapati ukiran namanya di sana.

Ya, Tatto Jiro dengan huruf yunani kuno yang disebut Jiro sebagai ukiran nama Ellie tersebut tak ada di sana. Padahal Jiro berkata jika tatto tersebut sudah cukup lama berada di sana, meski tempatnya sedikit tertutupi dengan tatto-tatto lainnya, dan Ellie baru mengetahui beberapa bulan terakhir.

Saat mengetahui tentang hal itu, Ellie tahu bahwa itu hanya foto hasil dari editan seorang yang jahil, kalaupun foto itu asli, Ellie tahu bahwa lelaki itu bukan Jiro.

Meski begitu, Mei tak ingin tinggal diam. Mei berkata bahwa Jiro harus diberi pelajaran karena hal ini. semua ini terjadi tentu karena ketidak tegasan Jiro dalam mengungkapkan status hubungannya dengan Ellie. Dan Ellie merasa bahwa hal itu ada benarnya juga. Lagi pula, Ellie ingin tahu bagaimana reaksi Jiro saat lelaki itu tahu bahwa dirinya pergi meninggalkan suaminya tersebut. Apa Jiro akan mencarinya? Atau, apa Jiro mengabaikannya? Ellie hanya ingin tahu, seberapa berarti dirinya untuk lelaki tersebut.

Ellie membuka pintu di hadapannya, dan alangkah terkejutnya ketika ia mendapati Jiro berdiri menjulang di hadapannya.

“James?”

Tanpa banyak bicara lagi, Jiro menghambur memeluknya. Erat, begitu erat seakan takut jika Ellie pergi meninggalkannya. Ellie bahkan merasakan napasnya sesak akibat pelukan erat dari Jiro tersebut.

“James! Lepaskan.” Ellie meronta, dan akhirnya Jiro melepaskan pelukannya pada tubuh Ellie.

“Ellie. Maafkan aku, sumpah, aku bisa menjelaskan semuanya. Tolong maafkan aku.” Jiro menggenggam erat kedua belah telapak tangan Ellie.

Ellie ingin tertawa tapi ia mencoba menahan dirinya. Ya Tuhan! Jiro tampak sangat lucu dan manis ketika memohon padanya seperti saat ini. Dengan berani, Ellie menghempaskan cekalan tangan Jiro, ia lalu bertanya dengan nada yang dibuat seketus mungkin.

“Apa yang ingin kamu jelaskan, James? Aku sudah tahu semuanya.”

“Tolong. Itu hanya skandal yang diciptakan oleh pihak management Vanesha untuk menaikkan namanya. Sama sekali tak berhubungan denganku. Aku memang pernah menciumnya, tapi demi Tuhan! Aku tidak pernah menidurinya.”

Ellie berkacak pinggang. “Kamu yakin dengan sumpahmu, James?”

“Ellie, aku memang berengsek, sikapku memang bajingan, tapi aku tak pernah tidur dengan perempuan manapun kecuali istriku sendiri.”

“Jadi, kalau Vanesha istrimu, kamu juga akan menidurinya?”

“Aku tidak menikah dengan sembarang orang. Aku hanya menikah satu kali, dan itu hanya denganmu, Ellisabeth Julia Williams.” Jiro menjawab penuh dengan penekanan. Sungguh, Jiro tak menyangka jika Ellie akan berpikir sejauh itu. Menikahi Vanesha? Yang benar saja. Selama ini ia tidak pernah intim dengan perempuan manapun kecuali dengan Ellie. Ya, hanya dengan wanita itu.

Karena tak dapat menahan senyumnya, Ellie memilih membalikkan tubuhnya memunggungi Jiro lalu berjalan menuju ke arah ranjang Jiro. Ellie meraih kembali album foto masa remaja Jiro dan membuka serta melihat-lihat kembali. Hal tersebut tak luput dari tatapan mata Jiro.

Jiro akhirnya mendekat, ia merasa aneh karena Ellie tampak mengabaikan permasalahan mereka, sebenarnya ada apa? Apa Ellie tidak ingin lagi memercayainya?

Jiro akhirnya memilih berjongkok dihadapan Ellie, ia menutup paksa dan menyingkirkan album foto yang ada di pangkuan Ellie, kemudian menggenggam erat kedua telapak tangan wanita tersebut.

“Tolong, jangan abaikan aku seperti ini.” lirih Jiro. Ia sungguh takut jika Ellie benar-benar mengabaikannya. Ia tidak ingin hal itu terjadi.

“Aku tidak mengabaikanmu, aku hanya fokus melihat foto-foto ini.” Ellie menjawab dengan ekspresi polosnya.

“Ellie…” Sungguh, Jiro merasa gila karena sikap Ellie. Jika Ellie harus marah, maka Jiro akan menerima kemarahan Ellie. Tapi jika perempuan ini bersikap seperti tak terjadi apapun, maka Jiro merasa semakin bersalah pada perempuan di hadapannya ini. “Kamu mau marah? Oke, marah saja. Mau mukulin aku? Ayo, pukul saja. Tapi jangan bersikap seperti ini. Jangan mengabaikanku.”

Ellie bersedekap. “Jadi aku boleh mukul kamu?”

“Ya. Jika itu membuatmu lebih lega.”

“Beneran?” pancing Ellie.

Jiro tidak menjawab, ia memilih mendekatkan wajahnya kemudian memejamkan matanya agar Ellie segera menjatuhi hukuman sebuah tamparan diwajahnya. Jiro memilih ditampar Ellie berkali-kali asalakan wanita itu mau memercayainya lagi. Tapi, tanpa diduga….

Cuppp…

Jiro merasakan bibir lembut Ellie menempel pada pipinya. Jiro membeku seketika, ia tidak menyangka jika Ellie akan mengecup lembut pipinya. Bukankah seharusnya wanita ini marah? Jiro membuka matanya dan mendapati wajah Ellie yang begitu cantik di hadapannya, cantik dengan senyuman lembut mempesonanya.

“Ellie?” sungguh, Jiro merasa tak mengerti apa yang sedang dirasakan perempuan di hadapannya ini.

“Aku percaya sama kamu, James. Aku percaya.”

“Tapi, aku belum cukup menjelaskan semuanya.”

“James.” Ellie menangkup pipi Jiro. “Aku hanya percaya bahwa itu bukan kamu.”

“Dari mana kamu bisa percaya? Maksudku… seharunya, kamu…”

Dengan paksa Ellie memberdirikan tubuh Jiro, sedangkan Jiro mengikuti saja apapun yang dilakukan istrinya tersebut. Ellie juga membuka paksa kaus yang dikenakan Jiro, menariknya keatas melewati kepala dan tangan Jiro hingga kemudian Jiro bertelanjang dada di hadapannya.

“Ini…” Ellie menyentuhkan jemarinya pada ukiran huruf yunani kuno, “Tidak ada ini di foto-foto itu, jadi aku tahu bahwa foto itu bukan kamu.”

“Kamu yakin?” Jiro tak percaya jika Ellie akan sejeli itu.

“Ya. Aku sudah melihat semua foto-fotonya.”

“Astaga Ellie…” Secepat kilat Jiro menngkup kedua pipi Ellie kemudian mencumbunya dengan panas. Kerinduannya seakan terobati, padahal belum Dua puluh empat jam Ellie meninggalkannya, tapi Jiro benar-benar merasa hampa.

Jiro lalu melepaskan tautan bibirnya kemudian bertanya dengan wajah bingungnya pada Ellie. “Lalu, kenapa kamu kabur ke sini?”

Pipi Ellie merona seketika. Ia menundukkan kepalanya dan menjawab, “Jadi, semua ini rencana Mei, dia hanya ingin melihat reaksi kamu, apa kamu merasa kehilangan atas kepergianku, apa kamu merasa gila karena hal itu.”

“Sialan Mei! Aku tidak bisa berpikir jernih lagi ketika aku mendapati kamar kosong tanpa kamu dan juga barang-barangmu di dalam saja. Aku merasa gila, aku ketakutan Ellie.”

Ellie tersenyum lembut. “Apa yang membuatmu takut?”

“Aku takut kamu benar-benar pergi meninggalkanku dan tak akan memaafkanku lagi. Itu menjadi hal yang paling mengerikan yang pernah terbayangkan dalam kepalaku.”

“Jangan berlebihan, James.” Ellie Mendorong dada Jiro.

“Aku tidak berlebihan.” Jiro mengecup lembut bibir Ellie. “Mungkin, aku terlambat mengatakannya, tapi aku akan mengatakannya sekarang. Aku mencintaimu, aku benar-benar takut kehilanganmu.”

Ellie ternganga mendengar pernyataan cinta dari suaminya tersebut.

“Aku tidak pandai dalam hal ini. aku bukan seorang pria yang romantis dan suka mengumbar kata cinta pada pasangannya. Jika kamu menginginkan hal itu, maka bukan aku orang yang kamu inginkan. Aku hanya akan mengatakan ini satu kali. Aku mencintaimu, Ellisabeth Julia Williams, entah sejak kapan aku tidak tahu. Yang kutahu bahwa saat ini, aku sudah jatuh hati padamu.”

Mata Ellie berkaca-kaca seketika. Ia tidak menyangka bahwa penantiannya selama ini akan berbuah manis. James Drew Robberth akhirnya jatuh cinta padanya, dan ia benar-benar keluar sebagai pemenangnya.

“Hei, kenapa menangis?” Jiro menangkup pipi Ellie, ia bahkan menghapus setetes air mata yang jatuh begitu saja dari pelupuk mata istrinya tersebut.

“Tidak. Aku hanya terlalu senang.” Jawab Ellie dengan senyuman mengembang di wajahnya.

“Benarkah?”

Ellie mengangguk dengan antusias. “Aku senang karena aku menang.”

“Menang?” Jiro tampak bingung dengan jawaban Ellie.

Tanpa diduga, Ellie malah memeluk erat tubuh Jiro. “James, aku sudah jatuh cinta denganmu sejak lama, tapi aku mencoba menguburnya. Selama ini, kupikir, jika kamu adalah milikku, maka itu sudah cukup. Tapi aku salah, aku salah karena jika hanya aku yang mencintaimu, maka itu tak akan ada bedanya. Aku hanya mencintai, bahkan banyak orang di luaran sana yang juga mencintaimu, tak ada bedanya aku dengan mereka. Akhirnya, aku memutuskan untuk berjuang, berjuang dan berperang agar kamu juga jatuh mencintaiku. Dan kini, aku keluar sebagai pemenangnya.”

Jiro tersenyum mendengar pernyataan Ellie tersebut. “Ya Tuhan! Darimana datangnya istriku ini? aku sudah mengabaikanmu, tak mempedulikan keberadaanmu, tapi kamu masih setia mencintaiku. Kamu benar-benar jelmaan malaikat.”

Ellie melepaskan pelukannya, ia tersenyum lembut penuh arti, sedangkan wajahnya tak berhenti merona merah karena pujian yang terlontar dari bibir suaminya tersebut.

“Ellie. Berjanjilah, kamu tidak akan meninggalkan aku lagi seperti ini, oke?”

Ellie mengangguk lembut. “Aku berjanji, dengan syarat, kamu juga harus janji padaku.”

“Janji apa?”

“Bahwa kamu akan selalu ada di sisiku, menemaniku, selamanya.”

“Ya Tuhan! Tentu saja. Aku berjanji padamu, Ellie.” Setelah itu, Jiro menggapai bibir Ellie, mencumbunya dengan lembut penuh cinta. Astaga, Jiro tak pernah merasa secinta ini dengan seseorang, ia tak pernah merasa sedalam ini mencintai seseorang hingga ia sendiri tidak sanggup mengukur kedalamannya.

***

Dua minggu kemudian…

Ini adalah pertama kalinya dan mungkin akan menjadi terakhir kalinya Ellie menemani Jiro tampil di sebuah acara. The Batman memang di undang di sebuah acara tersebut, dan ini akan menjadi penampilan terakhir dari The Batman karena sebelumnya mereka sudah memutuskan untuk vakum selamanya dan hanya akan melanjutkan kontrak yang memang tak dapat dibatalkan seperti acara pada siang ini.

Jika biasanya Ellie hanya menyaksikan penampilan Jiro dan The Batman dari Tv atau dari Youtube, maka siang ini Ellie memiliki kesempatan untuk menyaksikannya secara live perfome, dan menjadi salah satu official dari The Batman.

Sebenarnya, Ellie tak mengerti apa tujuan Jiro. Ia sempat tak percaya saat Jiro mengajaknya untuk menyaksikan penampilan lelaki itu secara langsung. Pasalnya, hingga kini, Jiro belum mendeklarasikan hubungan mereka dihadapan publik, dan Elliepun tak lagi menuntut hal itu. Ellie hanya khawatir jika nanti akan ada wartawan yang memergoki kebersamaan mereka. Meski Ellie tak peduli, tapi Ellie takut jika itu akan menimbulkan skandal baru pada akhir dari karir Jiro dan The Batman.

Ellie mencoba mengabaikan kerisauan hatinya, karena kini ia memilih menikmati penampilan Jiro dan juga The Batman. Rupanya, penampilan mereka begitu memukau. Banyak fans yang turut serta menyaksikan penampilan mereka secara langsung. Ellie merasa beruntung karena ia sempat menyaksikan penampilan Jiro secara langsung sebelum The Batman benar-benar vakum dari dunia hiburan. Ia merasa terharu, tersentuh, apalagi ketika The Batman menyanyikan salah satu lagu melankolis mereka.

Hingga tak terasa, penampilan mereka benar-benar telah usai. Jiro, Jason, Ken dan juga Troy sempat berpamitan pada semuanya. Saat itu, Ellie tak mampu lagi membendung air matanya. Ya, semuanya telah usai, The Batman benar-benar telah berakhir. Meski begitu Ellie tahu bahwa hubungannya dengan Jiro baru saja memasuki babak baru. Babak dimana mereka akan berperan sebagai suami istri yang sesungguhnya, tanpa takut diusik oleh media dan juga yang lainnya.

Ellie menuju ke sebuah ruangan tempat dimana Jiro dan yang lainnya berkumpul setelah selesai tampil. Dan saat Jiro datang, Jiro segera menuju ke hadapan Ellie.

“Bagaimana penampilanku tadi?” tanyanya.

“Kamu keren.” Ucap Ellie sembari mengusap keringat yang berada di dahi Jiro dengan handuk kecil.

“Sialan! Mentang-mentang bawa istri saat pentas, Si Jiro pamer kemesraan ama kita-kita.” Troy mengumpat sebal.

“Kalau gitu, elo bawa istri elo gih, biar impas.” Ken menyahut, dan semua yang ada di sana tertawa, sedangkan Troy hanya bisa mengumpat seperti biasanya.

***

Tak menunggu acara usai, semua personel dan official The Batman sudah diperbolehkan pulang karena mereka memang sudah selesai tampil saat itu. Saat mereka keluar dari area acara tersebut, banyak sekali fans yang menunggu mereka, memberikan banyak sekali hadiah sebagai penghormatan terakhir.

Ellie yang sejak tadi jemarinya digenggam erat oleh Jiro dan berjalan di sebelah lelaki tersebut akhirnya membiarkan Jiro menghampiri para fansnya. Tak ada rasa cemburu, yang ada hanya rasa haru, tak menyangka bahwa suaminya bisa disayangi begitu banyak orang.

Ya, setelah pernyataan cinta Jiro pada malam itu, Ellie semakin percaya dengan Jiro. Bahwa lelaki itu hanya mencintainya, jadi Ellie tidak akan membuang waktunya untuk bercemburu ria dengan para fans dari suaminya tersebut.

Setelah puas menyapa dan menghampiri para fansnya, Jiro akhirnya kembali pada Ellie. Ia menggenggam erat telapak tangan Ellie lalu mengajak istrinya itu berjalan menuju ke arah mobil mereka.

Ellie tersenyum,ia tampak senang dengan sikap Jiro yang perhatian dan padanya, seakan menunjukkan pada para fansnya bahwa ia adalah milik dari lelaki tersebut. Astaga, Jiro manis sekali.

Tapi kemudian, senyum Ellie lenyap ketika sekumpulan wartawan datang menghadang mereka. Ellie sempat panik dan meminta Jiro untuk berbalik arah lagi, tapi Jiro menenangkan Ellie dan berkata pada Ellie bahwa ia akan menghadapi semuanya saat ini.

“Jiro, bagaimana perasaanmu tentang penampilan terakhir The Batman?”

“Kamu datang dengan siapa?”

“Apakah benar ini adalah istrimu?’

“Sudah berapa lama kalian menikah?”

“Jiro, apa status hubungan kalian?”

“Apa ini istrimu?”

Bukannya segera menuju ke arah mobil, Jiro malah menghentikan langkahnya. Ia tersenyum pada semua yang ada di sana. Sangat Jarang Jiro bersikap ramah tamah seperti ini pada awak media. Lebih mengejutkan lagi ketika tiba-tiba Jiro mengangkat telapak tangan Ellie yang sedang ia genggam kemudian mengecupnya lembut dihadapan semua nya.

“Ya. Dia istriku.” Hanya tiga kata, cukup tiga kata, dan semuanya bungkam seakan terpana dengan apa yang baru saja dilakukan dan juga diucapkan oleh Jiro.

Begitupun dengan Ellie, iapun terpana dengan apa yang baru saja dilakukan dan juga diucapkan oleh Jiro. Hingga ketika Jiro melanjutkan langkahnya membelah para wartawan, yang dilakukan Ellie hanya ikut saja kemanapun kaki lelaki itu melangkah.

“Aku merasa puas.” Ucap Jiro saat setelah mereka berada di dalam mobil.

“Puas? Puas kenapa?” Ellie bingung dengan apa maksud Jiro.

Jiro tersenyum, ia menangkup pipi Ellie kemudian berkata “Aku puas setelah menunjukkan pada dunia, bahwa kamu milikku. Ellisabeth Julia Williams adalah istri dari Jiro, Bassis The Batman.”

Ellie tersenyum. “Seharusnya bukan seperti itu.”

Jiro mengangkat sebelah alisnya. “Lalu?”

“Beritanya akan menjadi seperti ini ‘Jiro, Bassis terkenal sudah beristri, atau sudah dimiliki oleh perempuan berambut merah bernama Ellisabeth Julia Williams.’ Itu yang lebih cocok.”

Jiro terkikik geli dengan ucapan Ellie. “Persetan dengan beritanya. Yang pentig aku sudah menunjukkan pada dunia bahwa kamu adalah milikku. Hanya itu yang ingin aku tegaskan.”

“Wooww, suamiku orang yang tegas ya sekarang.” Goda Ellie dengan nada menyindir. Dan hal tersebut sontak membuat Jiro mencubit gemas pipi Ellie.

Keduanya tertawa bahagia di dalam mobil, seakan tak menghiraukan kegaduhan yang ada di luar mobil akibat dari ucapan dan tindakan Jiro yang begitu mencengangkan tadi.

Jiro tak peduli, begitupun dengan Ellie, karena kini, yang mereka pedulikan hanya kebahagiaan mereka berdua tanpa memikirkan media ataupun yang lainnya.

-END-

My Beautiful Mistress – Bab 19

Comment 1 Standard

Bab 19

 

 

 

“Jiro, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” pertanyaan Ken menyadarkan Jiro dari lamunan. Bayangan manis yang terjadi tadi pagi sungguh membuat hati Jiro diliputi sebuah kepiluan.

Bagaimana jika Ellie benar-benar pergi meninggalkannya? Bagaimana jika wanita itu tak mau lagi memaafkan dirinya karena kesalahpahaman sialan ini? sungguh, Jiro sangat menyesal.

Selama ini, ia sudah sangat banyak berbuat salah. Meski yang terakhir ini hanya sebuah kesalah pahaman, dan Jiro bersumpah bahwa ia tidak tahu menahu tentang viralnya gosip yang beredar, tapi hal itu tak mengurangi ketakutan Jiro bahwa Ellie benar-benar meninggalkannya. Masalahnya adalah, bahwa selama ini, ia tidak cukup banyak meminta maaf pada Ellie, ia meremehkan bahkan cenderung tak memikirkan perasaan wanita itu. Yang Jiro tahu adalah bahwa Ellie seorang yang sangat sabar dan cukup pemaaf, dan kini, Jiro takut, tak akan ada lagi kata maaf untuknya.

“Jiro.” Ken memanggil nama Jiro lagi karena Jiro tampak tak fokus dengan dirinya.

“Mei bilang Ellie pergi, dia kembali ke inggris.”

“Tidak mungkin!” Troy menyahut cepat. “Mana ada penerbangan yang mau menerimanya. Maksud gue, dia sudah hamil besar, kalaupun ada penerbangan yang mau menerimanya, prosesnya tak akan semudah penerbangan biasa. Apalagi ini ke luar negeri.”

“Troy benar. Mei mungkin hanya menggertak. Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana mengakhiri gosip murahan ini.”

Ya, Ken dan Troy benar. Ellie tidak mungkin pergi jauh darinya. Meski ia kini tidak tahu kemana wanita itu pergi, tapi ia harus tetap berpikir realistis. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah menyelesaikan kerumitan ini.

“Jiro?” Ken kembali memanggil nama Jiro, seakan menunggu keputusan dari temannya tersebut.

“Kita akan ke tempat Vanesha.” Jiro berkata dengan sungguh-sungguh.

“Elo yakin? Maksud gue, dalam keadaan seperti ini, Vanesha juga mungkin sedang diteror oleh awak media. Kalau sampai  awak media tahu elo ketemu sama dia, itu hanya akan memperkeruh gosip.” Troy berpendapat.

“Kita ke kantor managementnya saja. Lebih formal kan?” Ken mengusulkan.

“Ya. Elo benar.” Jiro menjawab cepat. “Gosip ini, pasti berhubungan dengan orang-orang di management Vanesha.”

“Maksud lo?” Troy bingung.

“Beberapa minggu yang lalu, Fahri ingin gue dan Vanesha menciptakan skandal lagi, untuk mengangkat nama Vanesha lagi, meski saat itu gue menolak mentah-mentah, gue curiga kalau rencana itu tetap mereka lakukan tanpa persetujuan dari gue.”

“Brengsek! Kalau itu benar-benar terjadi, mungkin Fahri juga ikut campur. Apa kita ke tempat dia juga?” Troy merasa ikut marah, karena ia merasa jika mereka hanya dijadikan ladang bisnis untuk kepentingan pribadi beberapa orang.

“Menurut gue, kita memang harus menghubungi Fahri.” Ken kembali megusulkan.

“Ya. Kita akan kesana, sebelum ke tempat management Vanesha.” Itulah keputusan yang diambil Jiro. Ellie, mungkin ia akan berhenti mencari wanita itu sebentar. Jiro tahu Mei berbohong, Ellie pasti sedang bersama dengan Mei, dan ketika wanita itu bersama dengan Mei, maka tak ada yang perlu ia khawatitrkan. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana menyelesaikan masalahnya ini  agar tidak berlarut-larut.

***

Jiro semakin tak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia, Ken dan juga Troy sudah menemui Fahri, tapi lelaki itu menegaskan bahwa semua pemberitaan tak ada hubungannya dengan lelaki tersebut. Fahri sendiri tidak tahu bahwa akan timbul skandal lainnya tentang Jiro.  Ia sudah menolak tawaran dari management Vanesha jadi tak ada alasan pihak management Vanesha untuk membawa Jiro dalam drama skandal yang mereka ciptakan.

Fahri kini bahkan sudah ikut serta menuju ke tempat management Vanesha, meluruskan bahwa seharusnya hal ini tak terjadi.

Sudah hampir seperempat jam, kempatnya berada di ruang tunggu, hingga kemudian tak lama orang yang mereka tunggu akhirnya tiba juga. Toni, si Manager Vanesha menyambut mereka dengan ramah. Keempatnya bahkan sudah dipersilahkan masuk ke ruangan lelaki tersebut. Belum lama mereka masuk, Vanesha juga datang dan ikut bergabung di ruangan tersebut.

“Sepertinya ada hal serius hingga kalian semua datang kemari.” Toni membuka suara.

“Bukan tentang gosip yang beredar, kan?” Vanesha menambahi.

“Toni, kita berdua sudah sepakat, bahwa tak akan ada skandal lagi. Jiro dan The Batman sudah berada di penghujung karir mereka, bagaimana mungkin kalian menciptakan skandal baru hingga viral seperti ini?” Fahri yang menjelaskan karena lelaki itu yang mampu mengendalikan emosinya saat ini. sedangkan Jiro, Jiro tampak hanya diam, kedua telpak tangannya mengepal, saat ingat bahwa masalah ini membawa dampak buruk bagi kehidupan rumah tangannya dengan Ellie.

“Maaf, tapi kami tidak memiliki cara lain lagi agar nama Vanesha kembali terangkat.”

Jiro menggebrak meja di hadapannya seketika hingga membuat semua yang ada di sana menatapnya dengan penuh kengerian.

“Bajingan kalian semua! Apa kalian nggak mikir kalau gosip murahan ini sangat ngerugiin gue?!” Jiro berseru keras. Selama ini, Jiro dikenal sebagai orang yang dewasa, yang paling bisa mengendalikan dirinya, tapi kini, pandangan itu seakan lenyap seketika.

“Jiro, tenang.” Ken menenangkan temannya.

“Gue nggak bisa tenang jika ini menyangkut tentang masa depan gue dengan Ellie, Ken!” Jiro kembali berseru keras. “Hubungan gue dengan Ellie sangat rawan, banyak retakan-retakan kecil yang nggak sengaja gue ciptain sejak empat tahun yang lalu. Dan kini, semuanya seakan hancur karena masalah sialan ini. Dia Ninggalin Gue!” Jiro benar-benar tak dapat menahan dirinya lagi dari emosi yang meluap-luap didalam dirinya.

“Siapa Ellie?” Vanesha membuka suaranya.

“Istriku. Perempuan yang menyambutmu di apartmenku.” Bahkan Jiro sudah tak peduli jika nanti management Vanesha membocorkan hal ini didepan publik.

“Jadi, elo benar-benar sudah nikah?” Toni tak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Ya. Dan sekarang istri gue sedang kabur karena berita murakan yang elo buat.” Sungguh, Jiro benar-benar sangat marah dengan pihak management Vanesha.

“Jiro, maaf, kami nggak bermaksud membuat seperti iu, kami hanya…”

“Gue nggak perlu kata maaf dari kalian!” Jiro memotong kalimat Toni. “Yang gue perlukan adalah, agar kalian segera menyelesaikan kekacauan ini tanpa membawa nama gue terlalu jauh.”

“Tapi ini akan sulit. Maksudnya, foto itu sudah viral, meski itu ahanya sebuah editan, akan sulit untuk mengklarifikasinya.”

“Kita hanya perlu membuat preskon.” Troy membuka suaranya.

“Lagi?” Ken menatap Troy penuh tanya. Ken benar-benar muak dengan acara seperti itu. Acara dimana media akan mengorek tentang mereka.

“Bukan kita, tapi pihak Vanesha.” Jawab Troy.

“Lalu? Kita akan mengaku kalau itu hanya sebuah editan untuk menaikkan namaku? Yang benar saja.” Vanesha menyahut.

“Kalau begitu kalian hanya perlu mencari kambing hitamnya.” Lanjut Troy. “Siapa akun pertama yang mengunggah foto itu? Kalian hanya perlu bekerja sama dengannya.”

“Pengunggahnya adalah fansbase kami. Dan, memang kami yang meminta mengunggah foto tersebut dengan caption profokatif.”

“Sempurna.” Troy bertepuk tangan. “Kalian hanya perlu mengatakan pada media kalau itu hanya ulah iseng fans Vanesha, tidak ada kejadian dan juga skandal seperti itu. Selesai, kan?”

“Tidak akan semudah itu, Troy!” Vanesha tidak setuju. “Bagaimana dengan  imageku? Aku nggak mau disebut-sebut sebagai satu-satunya orang yang berharap adanya hubungan ini.”

“Ya. Apalagi jika suatu saat nanti Jiro mengumumkan tentang status pernikahannya, media dan publik akan mengusik atau bahkan menghujat Vanesha karena sudah menggoda suami orang.” Toni menambahi.

“Kalau begitu kalian hanya perlu menunjukkan bahwa Vanesha memiliki kekasih lain, dan itu bukan Jiro. Gosip tentang Vanesha dan Jiro hanya dari sebuah fansbase yang berkembang menjadi spekulasi publik. Gampang, bukan?”

“Masalahnya, aku nggak punya kekasih, Troy.”

“Punya.” Troy menjawab cepat. “Aku mau mendampingimu.” Lanjutnya lagi.

“Troy?” Jiro menatap Troy penuh tanya.

“Gue ngelakuin semua ini buat elo.” Ucap Troy pada Jiro. “Gue tahu, elo tulus dengan Ellie, elo hanya nggak tahu bagaimana cara nunjukinnya. Gue hanya bisa bantu dengan cara seperti ini, sisanya, elo harus berusaha sendiri.” ucap Troy sembari menepuk bahu Jiro.

“Tapi, elo akan terjerat dengan gosip-gosip ini kedepannya, Troy.”

“Gampang saja. Nanti, kita hanya perlu klarifikasi kalau kita sudah putus.” Troy menatap Vanesha seakan meminta dukungan. Sedangkan Vanesha hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia tidak bisa berbuat banyak. Lagi pula, apa bedanya Troy dengan Jiro? Tak ada. Keduanya sama-sama bersinar dengan The Batman, jadi, dalam keadaan seperti ini, ia masih diuntungkan.

“Oke, kalau begitu, kita sepakat untuk mengadakan klarifikasi malam ini juga.” Fahri membuka suaranya. “Dan elo.” Fahri menunjuk ke arah Toni. “Gue harap elo nggak ngelakuin hal seperti ini lagi. Kalau elo bukan temen gue, mungkin elo sudah gue tuntut karena pencemaran nama baik.”

Bukannya takut, Toni malah tertawa lebar. “Iya, iya, sorry. Ini yang terakhir kalinya.”

Semua merasa senang, karena menemukan solusi untuk permasalahan tersebut. Tapi tidak dengan Jiro, masalahnya dengan Ellie belum selesai. Ia tidak yakin bahwa Ellie mau mempercayainya lagi. Lagi pula, ia belum menemukan keberadaan wanita itu. Ya Tuhan! Dimana Ellie berada?

***

 

Tepat jam sebelas malam, Jiro sampai di kamarnya. Kamarnya yang sudah kosong tanpa Ellie di sana. Jiro meleparkan diri di atas ranjang. Kemudian menatap langit-langit kamarnya.

Klarifikasi tadi berjalan dengan lancar. Semua pertanyaan awak media sudah terjawab. Meski hingga kini, Jiro belum buka mulut tentang status pernikahannya dengan Ellie. Jiro tidak mau mengaku dalam keadaan terdesak seperti ini. jika ia kan mengaku, maka ia akan mengaku karena ia ingin, bukan karena terdesak.

Kebanyakan, tadi Troy yang membuka suara. Temannya itu mungkin bisa dianugrahi awards atas aktingnya yang cemerlang. Sedangkan Jiro hanya diam. Ia tidak berkata sepatah katapun. Banyak pertanyaan yang ditunjukkan padanya, tapi Jiro memilih bungkam.

Jiro menghela napas panjang. Ia duduk, mengusap wajahnya dengan kasar. Ellie… kemana perginya wanita itu? Astaga, Jiro bisa gila jika tidak segera menemukannya.

Kemudian Jiro berinisiatif menghubungi Mei lagi, semoga saja perempuan itu mau mengangkat teleponnya.

“Halo.” Jiro sangat bersyukur karena dalam deringan kedua, Mei mengangkat telepon darinya.

“Mei! Ya Tuhan!” Jiro benar-benar berharap bahwa Mei kembali bersikap baik padanya.

“Ada apa lagi? Kamu nggak tahu kalau ini sudah malam?”

“Mei. Kumohon. Tolong. Katakan dimana Ellie.”

“Maaf, Jiro.”

“Mei. Please…” Astaga, Jiro tak pernah memohon seperti ini pada seseorang. “Aku nggak bisa tenang saat aku belum tahu dimana dia berada. Tolong, katakan padaku dimana dia.”

“Jiro. Kamu sudah terlalu banyak…”

“Aku tahu.” Jiro memotong kalimat Mei. “Aku sudah terlalu banyak membuat salah. Aku hanya ingin tahu dimana dia berada. Tolong, aku ingin menebus semuanya, Mei. Tolong….” Jiro benar-benar merendahkan harga dirinya untuk memohon pada sosok Mei. Ya Tuhan, ia benar-benar tak pernah berbuat seperti ini sebelumnya.

Terdengar helaan napas dari seberang. “dia di rumahmu.” Ucap Mei kemudian.

Jiro mengerutkan keningnya. Ia bangkit seketika dan mencari keberadaan Ellie. “Jangan bercanda, Mei! Aku sudah mencari hingga ke sudut rumah ini, tapi aku tidak menemukan dimana dia berada.”

Mei mendengus sebal. “Dia di rumahmu yang lainnya, Jiro. Rumah orang tuamu.” Jiro membulatkan matanya seketika. Ia tidak percaya bahwa Ellie akan kabur ke rumah orang tuanya. Sial! Ini tak akan menjadi sesederhana yang ia pikirkan jika orang tuanya ikut campur didalam urusan rumah tangga mereka nantinya.

Jiro akan mati, ya, ia akan mati ditangan ayahnya.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 18

Comment 1 Standard

 

Bab 18

 

 

 

Siang itu, Ellie sedang bersantai di rumah dengan ditemani Mei. Jiro sedang keluar, karena ada acara dengan personel The Batman. Jika sebelumnya, Ellie merasa sebal karena alasan tersebut, maka kini, Ellie tidak merasakan perasaan tersebut.

Ellie hanya berpikir bahwa Jiro mungkin sedang melakukan kewajiban terakhirnya sebelum benar-benar vakum dari dunia hiburan. Dan hal itu bukanlah sebuah masalah untuk Ellie, mengingat Jiro sudah menepati janjinya untuk selalu berada di sisi Ellie.

Ya, selama beberapa hari terakhir, hubungan mereka berdua memang semakin dekat. Jiro selalu pulang ke rumah mereka, selalu memeluk Ellie ketika malam, perhatian dengan Ellie, dan seakan tidak mempedulikan jika mungkin saja ada media yang sedang menguntitnya atau mencari tahu tentangnya.

Jiro kembali memposisikan diri sebagai suami dan calon ayah yang perhatian, bagi Ellie, hal itu sudah cukup. Meski Jiro tak akan pernah mempublikasikan hubungan mereka di depan umum, Ellie tak akan menuntut lebih andai saja Jiro melakukan hal ini sejak dulu.

Ellie menyantap bubur gandum buatanya, ketika Mei mulai mengajaknya bergosip ria di ruang tengah didepan televisi.

“Jadi beneran ya kalau Bianca itu sedang hamil juga?”

“Iya.” Ellie menjawab cuek karena ia memilih fokus dengan bubur gandumnya.

“Gila, instagramnya penuh hujatan.” Ucap Mei setelah kemarin ia sempat berkunjung ke halaman akun sosial media milik Bianca.

“Itu sudah resikonya menjadi kekasih selebritis.”

“Kalau kamu ada di posisi Bianca, bagaimana?”

“Aku tidak punya sosial media. Bagaimana aku bisa ada di posisinya?”

“Ya Tuhan Ellie! Ini kan perumpamaan saja.” Sungguh, Mei merasa sebal dengan jawaban Ellie yang polos dan terkesan cuek.

“Ya, mau bagaimana lagi, mungkin aku akan menutup semua akun sosial mediaku.”

“Rupanya kamu tidak sekuat Bianca, ya?” Ejek Mei.

“Jangan salah, aku lebih kuat dari dia. Buktinya aku bisa bertahan selama ini dengan orang seperti James.”

Mei tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Ellie. Ellie memang benar, Ellie adalah perempuan terkuat versi dirinya. Kemudian, tawa Mei lenyap seketika saat ia melihat berita di Tv yang ada di hadapan mereka.

“Vanesha, apa komentar kamu tentang hal ini?”

“Bagaimana bisa foto-foto syur kalian tersebar?”

“Bagaimana komentar kamu tentang Jiro yang katanya sudah beristri?”

Pertanyaan tersebut dilontarkan lagi dan lagi oleh beberapa wartawan pada sosok cantik berkacamata hitam yang tampak fokus berjalan dan bungkam, seakan tak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Apa yang terjadi?” tanya Mei sembari menyaringkan volume Tv  di hadapannya.

“….. Foto-foto Syur seorang perempuan dan seorang lelaki di dalam hotel yang diduga mirip dengan Vanesha dan Jiro The Batman beredar luas di sosial media pagi ini. hal itu membuat gempar warga Net. Jiro sendiri belum dapat dihubungi untuk mengonfirmasi berita yang beredar. Pasalnya, sejak gosip tentang dirinya yang sudah menikah beredar luas, Bassis The Batman itu sudah sangat sulit untuk ditemui para awak media. Sedangkan Vanesha sendiri masih bungkam seribu bahasa dan memilih pergi ketika awak media berbondong-bondong menyerbunya ketika keluar dari gedung managementnya…”

 Kalimat tersebut menjadi backsoud dari kolase potongan foto-foto yang ditampilkan oleh acara gosip tersebut.

Mei segera menatap ke arah Ellie, dan Ellie sudah memucat dengan wajah ternganga ketika melihat berita di hadapannya tersebut.

“Ellie, jangan mudah percaya.” Mei berkata dengan cepat, padahal Mei sendiri tidak yakin, apa Jiro tidak melakukan semua itu.

“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka berfoto seperti itu?” Ellie bertanya-tanya. Matanya sudah berkaca-kaca, dan Mei tahu bahwa hal ini tak akan baik untuk kelanjutan hubungan Ellie dengan Jiro.

“Ellie Tolong.” Mei mendekat ke arah Ellie, menggenggam erat telapak tangan wanita tersebut. “Kita akan cari tahu dulu kebenarannya, oke? Jangan dipikirkan.”

“James, bagaimana mungkin dia melakukan hal itu….”

***

Jiro baru saja selesai kumpul dengan Troy dan Ken di sebuah kafe yang sangat privat, dan membicarakan penampilan terakhir mereka nanti di sebuah acara musik. Mereka ingin jika acara tersebut berjalan dengan sukses, dan tak ada kendala. Karena penampilan mereka di acara tersebut akan menjadi penampilan terakhir yang akan dilihat oleh publik.

Jason masih fokus dengan Bianca, dan rencana pernikahan mereka, tapi Jiro dan yang lain tak mempermasalahkannya. Bagaimanapun juga, mereka sudah memutuskan untuk berhenti, meski ada beberapa hal yang tetap harus mereka selesaikan.

Ketika Jiro, Ken dan Troy keluar dari dalam kafe tersebut, para awak media sudah menyerbu mereka. Sial! Pasti ada salah seorang pelayan kafe yang membocorkan keberadaan mereka di depan wartawan.

Lagi pula, apalagi yang mereka inginkan? Bukankah semua sudah dijelaskan saat jumpa pers beberapa hari yang lalu?

Jiro, Ken dan Troy memilih bungkam dan tetap berjalan menuju ke arah mobil mereka. Mereka memang bertemu di studio Jason dan ke kafe tersebut dengan satu mobil. Tapi kemudian, pertanyaan seorang wartawan mampu menghentikan langkah Jiro seketika.

“Bagaimana tanggapanmu tentang foto-foto syur yang diduga milikmu dan juga Vanesha tersebar dan viral di media sosial pagi ini?”

Jiro menghentikan langkahnya seketika dan menatap wartawan tersebut dengan keterkejutan yang amat-sangat. “Apa?”

“Apa kamu belum tahu tentang berita tersebut?”

“Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Jadi benarkah Vanesha adalah kekasihmu?”

“Bagaimana dengan perempuan yang dicurigai sebagai istrimu?”

Jiro masih membeku, ia bahkan tak mampu mencerna pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan media kepadanya, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, ia tidak mengerti kenapa beritanya jadi seperti ini. Dan tentang foto, foto apa maksudnya?

Saat Jiro tak mampu menggerakkan badannya karena keterkejutan tersebut, saat itulah ia merasakan Troy menggelandangnya dengan paksa untuk segera masuk ke dalam mobil mereka.

“Brengsek! Apa-apaan itu.” Troy mengumpat keras saat ketiganya sudah ada di dalam mobil tersebut.

“Jiro, apa yang sedang terjadi?” Ken menatap Jiro penuh tanya, sedangkan Jiro masih membatu, mencoba mencerna semuanya.

Foto-foto syur tersebut, bagaiamana rupanya? Sepanjang pagi ia memang tidak membuka sosial media. Jiro bukan orang atau artis yang diperbudak oleh sosial media, sangat jarang ia membuka akun sosial medianya. Dan kini, Jiro ingin membukanya.

Secepat kilat Jiro mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka sosial medianya, dan seketika itu juga matanya membulat mendapati feednya dipenuhi oleh berita-berita tentang dirinya dan juga Vanesha.

“Apa-apaan ini?” Jiro mendengus sebal. Ia masih membuka lagi dan lagi berita tentang dirinya dan juga Vanesha. Benar-benar menggemparkan Warga Net.

“Jiro, elo masih beneran berhubungan sama dia? Ya Ampun, setelah gue bilang kalau gue pernah nidurin dia?” Troy masih tak percaya jika Jiro mengiyakan pertanyaannya.

“Enggak.” Jiro menjawab cepat. “Gue nggak ada hubungan apapun sama Vanesha.”

“Kalau gitu, kenapa bisa ada foto-foto itu? Sial! Elo nggak mikirin perasaan Ellie apa?”

“Ellie?” Ya Tuhan! Jiro bahkan baru mengingat tentang istrinya tersebut. Jiro sangat berharap bahwa Ellie tidak melihat atau mendengar tentang berita murahan ini. hubungan mereka selama beberapa hari terakhir sudah sangat bagus, mereka sudah layaknya sepasang suami istri yang normal. Jiro tak ingin semuanya hancur dalam sekejap mata karena hal ini.

“Gue harus pulang.” Ucap Jiro kemudian.

Troy dan Ken setuju. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera mengantar Jiro pulang ke rumahnya.

***

Sampai di rumah, Jiro segera keluar dari dalam mobil dan melesat masuk ke dalam. Ia memanggil-manggil nama Ellie sembari mencari-cari keberadaan wanita itu. Tapi nihil, Ellie tidak ada di sana.

“Ellie…” lagi, Jiro memanggil-manggil nama Ellie. Jiro bahkan sudah mencari Ellie di kamar mereka. Tapi Ellie benar-benar tak ada di sana, rumah itu kosong.

Jiro membuka lemari pakaian yang ada di sana, dan tubuhnya bergetar hebat ketika mendapati lemari-lemari itu kosong. Ellie benar-benar pergi, wanita itu membawa semua pakaiannya. Tapi pergi kemana?

Jiro melesat keluar, menuju ke arah kedua pengawal yang ada di luar rumahnya. Dan bertanya pada mereka.

“Dimana Ellie?!” Jiro bahkan tak bisa menahan emosinya. Ia berseru keras karena masih tak percaya bahwa Ellie benar-benar meninggalkannya.

“Maaf, maksud Tuan?”

Jiro segera mencengkeram kerah Si Pengawal. “Dengar! Ellie pergi! istriku pergi dari rumah! Apa yang sudah kalian kerjakan sepanjang hari sampai kalian tidak tahu bahwa dia pergi dari rumah?!”

“Jiro. Apa yang terjadi?” Ken bertanya, ia dan Ken segera mendekat ke arah Jiro yang tampak tak dapat mengontrol emosinya.

“Nyonya memang keluar, tapi dengan Nona Mei.”

“Oh ya? Kemana mereka pergi? Apa kalian tahu?” tantang Jiro. Tapi kedua pengawalnya itu hanya menundukkan kepalanya saja.

“Jiro.” Ken masih mencoba menenangkan Jiro.

Jiro lalu melepaskan cengkeramannya pada kerah baju yang dikenakan Si pengawal. Lalu ia mengusap rambutnya sendiri dengan kasar. “Dia pergi, dia benar-benar pergi.”

“Apa maksud elo?” kali ini Troy yang bertanya.

“Ellie, dia pergi. Semua pakaiannya tidak ada di dalam lemari. Dia benar-benar pergi. Sial!” sungguh. Jiro tampak tak dapat menahan emosinya. Lelaki itu tampak sangat kacau. Padahal sebelum-sebelumnya, Troy dan Ken tak pernah melihat Jiro sekacai ini. Jiro selalu bersikap dewasa dan bisa mengendalikan dirinya. Tapi sekarang…

“Dia pergi dengan Mei. Apa nggak bisa kita hubungi Mei saja? Atau, kita langsung ke rumahnya.”

Tanpa banyak bicara, Jiro mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba menghubungi Mei, tapi Mei tidak mengangkatnya. Tentu saja Jiro tahu bahwa Mei akan selalu berada di kubu Ellie ketika ia bermasalah dengan Ellie seperti saat ini. satu-satunya cara untuk mengetahui dimana keberadaan Ellie adalah ia harus mendatangi rumah Mei. Semoga saja ia mendapati Ellie di sana.

Akhirnya, Jiro memutuskan untuk menuju ke rumah Mei ditemani dengan Troy dan juga Ken saat itu juga. Semoga saja Ellie ada di sana. Jika tidak, Jiro tidak tahu harus mencari Ellie kemana lagi.

***

Sampai di rumah Mei, tak ada tanda-tanda jika wanita itu ada di rumahnya. Rumah tersebut kosong, tak tampak juga mobil Mei di garasi rumahnya, pertanda jika memang Mei tak ada di sana. Jiro semakin bingung di buatnya.

Jiro kembali mencoba menghubungi Mei. Tapi berkali-kali ia menghubungi wanita itu, berkali-kali pula panggilannya ditolak.

“Brengsek Mei!” Sungguh, Jiro tak pernah merasa semarah ini. ia tak pernah merasa segila ini. ia harus segera menemukan Ellie, secepatnya.

“Tenang. Coba gue hubungi pakai nomor gue.” Ken mencoba menenangkan Jiro. Ia mulai menghubungi Mei. Satu kali, dua kali, dan pada panggilan ketiga, wanita itu akhirnya mengangkat teleponnya.

“Siapa?”

“Mei, ini…”

“Brengsek Mei!” belum sempat Ken melanjutkan kalimatnya, Jiro sudah merampas ponselnya kemudian mengumpat keras pada wanita di seberang. “Dimana Ellie? Katakan dimana istriku?!”

“Oohh…” dengan begitu menjengkelkan Mei hanya menjawab dengan nada enggan.

“Sial! Aku tidak sedang bercanda. Katakan, dimana dia?!”

“Dia pergi.” Lagi-lagi Mei menjawab dengan nada enggan.

“Sialan! Katakan! Kemana dia pergi?!”

“Dia pulang. Ke negaranya. Apa kamu puas?”

Jiro membeku seketika. “Apa? Enggak. Nggak mungkin!” Ya. Ellie tidak mungkin pergi meninggalkannya, meninggalkan negara ini dalam keadaan hamil besar. Logikanya, tak akan ada penerbangan yang mau menerimanya. “Kamu jangan mengada-ngada. Dimana dia?!”

“Yang pasti dia tidak sedang bersamaku.” Setelah itu panggilan ditutup.

“Mei! Mei! Sialan!” Jiro berseru keras. Sungguh, Emosinya tak dapat terbendung lagi. Ia menenggelamkan wajahnya pada kedua belah telapak tangannya kemudian menyesali apa yang sedang terjadi.

Ya Tuhan! Kenapa jadi seperti ini? Jiro ingat dengan jelas bagaimana hari-hari terakhir ia lalui dengan Ellie. Ellie begitu menyayanginya, wanita itu sangat mendukung apa yang akan ia lakukan karena wanita itu tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Mereka akan berakhir bersama sebagai suami istri yang sesungguhnya. Ia akan selalu menemani Ellie, merawat wanita itu dan juga anak mereka, mersama-sama. Tapi kini…..

Jiro ingat, bagaimana sikap manja Ellie tadi pagi, sebelum ia pergi meninggalkan wanita itu…

“James….” Jiro merasakan lengan Ellie melingkari perutnya dari belakang. Jiro menegang seketika. Beberapa hari terakhir, hubungan mereka memang sudah sangat dekat, lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, tapi ia tidak pernah merasakan Ellie semanja ini dengannya.

“Ada apa?” tanya Jiro sembari menahan diri. Saat ini, Jiro baru saja selesai mandi. Hanya mengenakan kaus dalam dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.

“Kamu mau pergi lagi, ya?” Ellie bertanya dengan nada manjanya.

“Iya. Ada janji sama Ken, sama Troy.”

Ellie terdiam, tapi wanita itu masih setia memeluknya dari belakang. Hal tersebut membuat Jiro melepas paksa pelukan Ellie, lalu berbalik menatap ke arah istrinya tersebut.

Jiro meraih dagu Ellie kemudian mengangkatnya hingga membuat Ellie mendongak ke arahnya. “Katakan, apa yang kamu inginkan?” tanyanya dengan suara yang entah kenapa sudah serak.

Jiro tahu bahwa saat ini dia sudah tersulut gairahnya karena sikap manja yang ditunjukkan Ellie padanya. Ellie tak pernah bermanja-manja ria dengannya seperti tadi, dan entah kenapa. Sikap manja yang ditampilkan wanita itu membuat Jiro tertarik, tersulut gairahnya hingga menegang dan ingin segera dipuaskan.

“James, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi denganku, tapi aku hanya tahu bahwa aku menginginkan kamu.” Ellie berkata dengan jujur, dengan ekspresi polosnya. Hal itu tak mampu membuat Jiro untuk menahan diri lagi.

Secepat kilat Jiro menundukkan kepalanya kemudian mencumbu lembut bibir Ellie. Bibir yang selalu menggodanya. Ellie membalas cumbuan tersebut, dengan berani ia bahkan sudah melepaskan handuk yang melilit di pinggul suaminya hingga kini Jiro sudah berdiri setengah telanjang hanya mengenakan kaus dalamnya saja.

Jiro melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap tubuh bagian bawahnya sendiri, lalu tersenyum dan menatap ke arah Ellie.

“Jadi, istriku sekarang mulai berani, ehh?”

Ellie terkikik geli, wajahnya merah padam. Ia sendiri juga tak menyangka bisa melakukan hal seberani itu. “Uuum, aku… aku….”

Ellie tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena secepat kilat Jiro meraih dagunya, mencumbunya kembali hingga keduanya kembali tersulut oleh gairah, tenggelam dalam kenikmatan yang mereka ciptakan.

-TBC-